Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : WASIAT IBLIS

BAB I

WALAU saat itu masih sangat pagi dan sang surya belum muncul namun Lawunggeni merasa batu di atas mana dia duduk bersila tak ubahnya seperti bara. Untuk beberapa lamanya orang tua ini memandang dengan mata mendelik tak berkesip pada lelaki separuh baya yang duduk di depannya. Keadaan Lawunggeni baik pakaian maupun tubuhnya sungguh mengenaskan. Dulu pakaian yang dikenakannya adalah pakaian bagus terbuat dari bahan mahal. Kini pakaian itu hanya tinggal potongan-potongan kain compang-camping, kotor dan bau. Kulit muka dan tubuhnya hitam melepuh padahal dulu dia memiliki kulit kuning bersih. Keganasan laut telah merubah orang tua ini seperti jerangkong hidup. Orang yang dipandang bersikap tenang. Balas memandang seolah tanpa rasa. Hal ini membuat Lawunggeni menjadi geram. Pelipisnya bergerak-gerak dan rahangnya menggembung tanda dia berusaha menahan amarah.

"Pangeran Soma!" tegur Lawunggeni. Suaranya perlahan tapi tajam mendesis.

"Harap kau mau memakai pikiran dan perasaan. Hampir enam bulan aku mengarungi laut selatan untuk mencarimu. Kulitku melepuh hangus, pakaian di badan hancur luluh, kulitku hitam terbakar sengatan matahari. Tubuhku berubah seolah jerangkong hidup! Dan kau menyambut kedatanganku seolah aku ini cuma patung hidup atau batu tanpa nyawa! Padahal sudah kukatakan. Aku mengarung lautan menyabung nyawa untuk mencarimu demi kesembuhan adik perempuanmu satu ayah!"

Lelaki separuh baya yang dipanggil dengan sebutan Pangeran Soma sama sekali tidak bergerak bahkan wajahnya yang setengah putih setengah biru tidak bergeming menunjukkan perubahan. Sepasang matanya sama sekali tidak memantulkan perasaan apa-apa. Di dalam mulutnya gigi-giginya bergerak mengunyah sirih campur tembakau.

"Kau tahu aku datang tapi kau buta. Kau mendengar apa yang kusampaikan namun kau seperti tuli! Hatimu telah berubah menjadi batu! Mungkin kau sudah bukan manusia lagi Pangeran. Kau sama sekali tidak punya perasaan...!"

Perlahan-lahan lelaki separuh baya itu angkat kepalanya, menengadah memandang ke langit yang masih dibungkus kegelapan. Mulutnya bergerak menyunggingkan seringai lalu terbuka.

"Aku ingin tanya padamu wahai utusan Sri Baginda yang datang dari jauh dan katanya menyabung nyawa demi kesembuhan seorang gadis. Ketika Sri Baginda menyuruh orang membuang sosok bayiku dari istana karena malu mempunyai seorang putera yang cacat muka, apakah dia memakai pikiran dan punya perasaan?! Dia mendengar nasehat para abdi dalem tapi telinganya tertutup seolah tuli. Hatinya seolah batu! Ucapanmu barusan mengingatkan aku pada banyak hal di masa silam. Kau tahu dimana ibuku kini berada ki Lawunggeni? Mengalami nasib dibuang atau mungkin juga telah disingkirkan dari muka bumi?!! Atas perintah Sri Baginda yang mengutusmu datang kemari!"

"Pangeran Soma, apa yang telah terjadi tiga puluh tahun silam tak perlu diungkit. Lagi pula Sri Baginda telah memesan. Selain meminta obat padamu juga aku diminta membawamu ke Kotaraja. Hanya saja mengenai Ibumu... aku tidak tahu menahu. Perempuan itu melenyapkan diri sehari setelah dia tahu bahwa kau dibuang."

"Ki Lawunggeni, kau melakukan perjalanan percuma. Kau mengarungi laut selatan menyabung nyawa sia-sia. Pulanglah, aku tak bisa menolongmu!"

"Pangeran, aku taitu kemampuanmu. Semua tabib di Puri Agung mengatakan hanya kau yang bisa menolong adik perempuanmu dari sakit lumpuh yang dideritanya..."

"Aku tak bisa menolong apa-apa Ki Lawunggeni. Kembalilah ke Kotaraja dan berdoalah. Hanya Tuhan yang bisa menolong gadis itu..."

"Hatimu dicekam dendam Pangeran. Aku tahu hanya kau yang bisa mengobatinya. Kalau tidak aku tak akan bersusah payah datang ke sini. Kami semua yakin gelarmu Raja Obat Delapan Penjuru Angin bukan nama kosong belaka. Kalau orang lain kau tolong masa kau tidak mau menyelamatkan diri adikmu sendiri walau dia hanya adik satu ayah?!"

Perlahan-lahan Pangeran Soma turunkan kepalanya. Sepasang matanya menatap pada orang tua utusan Kerajaan itu. Dipandang begitu rupa Ki Lawunggeni menjadi gelisah.

"Ki Lawunggeni, apakah kau melihat topan mengamuk malam tadi di lautan?!"

Ki Lawunggeni menjadi heran. "Aneh," katanya dalam hati. "Lain yang dibicarakan lain yang ditanyakannya! Jangan-jangan manusia satu ini sudah tidak waras lagi pikirannya!"

"Aku bertanya Ki Lawunggeni!"

"Aku tidak mengerti maksud pertanyaanmu Pangeran. Tapi aku ingat betul malam tadi tidak ada topan mengamuk di tengah laut."

"Hemmm... itu berarti alam tidak menyukai kehadiranmu di tempat ini!" ujar Pangeran Soma. "Sekali lagi kukatakan kembalilah ke kora saja. Bawa kembali hadiah yang kau bawa ini! Pangeran Soma goyangkan kepala ke arah seperangkat poci-poci tempat sirih terbuat dari emas yang diletakkan di atas batu di hadapannya. "Aku hidup di alam, berteman dan menyatu dengan alam. Aku tidak butuh benda-benda itu."

Lama Ki Lawunggeni terdiam. Semakin ditatap wajah Pangeran Soma yang biru sebelah itu semakin berkobar rasa jengkelnya. Dengan sikap kasar perlengkapan tempat sirih itu dimasukkannya ke dalam kantong kain. Lalu dia berdiri. Sebelum memutar tubuh dia berkata. "Ternyata aku menemui seseorang yang tidak seperti aku perkirakan. Tugas sebagai seorang tabib penyembuh tidak mengenal kebencian. Sekalipun musuh wajib ditolong. Aku datang ke tempat yang salah. Kasih sayang sejati ternyata belum menjamah hati sanubarimu Pangeran. Selamat tinggal!"

"Tunggu dulu Ki Lawunggeni!" ujar Pangeran Soma alias Raja Obat Delapan Penjuru Angin tiba-tiba. Dua jari tangannya diluruskan lalu ditusukkan ke batu merah di hadapannya. Dua jari tembus ke dalam batu. Ketika ditarik, dua keping batu yang pecah ikut terangkat. Pangeran Soma cepat menggenggam dua keping batu merah yang lalu meremasnya.

"Ulurkan tanganmu Ki Lawunggeni!"

Walau terkesiap Ki Lawunggeni ulurkan tangan kanannya.

"Kembangkan telapak tanganmu."

Kembali Lawunggeni melakukan apa yang dikatakan orang. Telapak tangan kanannya dikembangkan lebar-lebar. Pangeran Soma buka tangan kanannya yang menggenggam. Dari tangan yang terbuka itu mengucur keluar batu merah yang tadi diremasnya dan telah berubah menjadi bubuk.

"Minumkan bubuk batu merah itu pada orang yang sakit. Ampasnya jadikan lulur untuk kedua kaki yang lumpuh."

"Bubuk batu..." ujar Ki Lawunggeni dalam hati. "Baru kali ini aku mengetahui bubuk batu dijadikan obat. Apakah bisa mujarab?" Ada keraguan dalam diri suruhan Sri Baginda dari Kotaraja ini.

"Aku dapat membaca apa yang ada dalam pikiranmu, Ki Lawunggeni," tiba-tiba Raja Obat Delapan Penjuru Angin berkata. "Jika ada keraguan dalam hatimu silahkan kau buang saja bubuk itu. Kembali ke Kotaraja dengan berhampa tangan!"

Ki Lawunggeni seperti disentakkan mendengar ucapan Pangeran Soma itu. "Luar biasa. Bagaimana dia bisa membaca apa yang ada dalam benakku!" Namun sadar kalau orang telah memberikan obat yang dimintanya, maka dia cepat-cepat membungkuk.

"Maafkan diriku. Aku telah salah menduga. Perjalananku ke sini ternyata tidak sia-sia. Terima kasih Pangeran. Terima kasih banyak..."

"Pergilah..."

Ki Lawunggeni kembali membungkuk. "Kalau begitu biar kutinggalkan benda ini..." Si orang tua letakkan kantong kain berisi seperangkat tempat sirih dari emas itu di atas batu.

Pangeran Soma menggeleng. "Aku tidak membutuhkan benda itu. Bawa saja..."

"Terima kasih... Aku pergi sekarang..."

Sesaat setelah Ki Lawunggenl meninggalkan tempat itu Pangeran Soma alias Raja Obat Delapan Penjuru Angin bangkit berdiri. Dia tegak tepat di atas batu merah yang tadi dicungkilnya hingga berlubang. Mulutnya komat-kamit beberapa kali. Ketika mulut itu dibukanya cairan merah meluncur jatuh. Sesaat kemudian lobang batu yang tadi pecah tertutup, rata utuh seperti semula.

Pangeran Soma menarik napas panjang. Dia menatap ke tengah laut sementara di kejauhan ada sinar kuning seolah mencuat keluar dari dasar samudera. Itulah sinar pertama sang surya yang mulai terbit. Mendadak Pangeran Soma pejamkan kedua matanya. Telinganya dihadapkan ke arah lautan lepas.

"Ada anak manusia tenggelam di dalam laut. Pusaran air tidak membuatnya mati. Arus dasar laut selatan menggiringnya ke dalam terowongan sebelah atas. Kalau saja aku bisa menghadangnya sebelum jatuh ke dalam terowongan sebelah bawah, mungkin aku bisa menyelamatkannya... Tiga mimpiku secara beruntun rupanya menjadi kenyataan. Aku melihat perahu besar dan perahu kecil. Aku mendengar suara jeritan seolah membelah langit. Agaknya aku akan mendapat kawan penghuni pulau batu merah ini. Samakah malang nasibnya dengan diriku?"

Manusia bermuka biru sebelah ini, yang punya kesaktian mengobati dengan remasan batu merah melangkah cepat menuju ke bagian selatan pulau batu itu.

***

BAB IISOSOK tubuh Ki Hok Kui tenggelam ke dasar laut. Empat jalur darah yang keluar dari dua tangan dan dua kakinya yang buntung kelihatan mengerikan. Adalah aneh belasan ikan hiu ganas yang ada di sekitar situ tak seekorpun memburu dan menjadikannya mangsa. Hanya beberapa saat lagi tubuh Ki Hok Kui akan sampai di dasar laut tiba-tiba satu pusaran air menyedotnya. Tubuh buntung itu tertarik ke atas lalu diseret ke arah pulau batu merah. Kejadiannya cepat sekali. Di lain kejap sosok Ki Hok Kui lenyap!

Apa yang telah terjadi?

Dalam keadaan tidak sadar diri Ki Hok Kui terseret masuk ke dalam sebuah terowongan batu. Di satu tempat ketika air laut tidak lagi menggenangi terowongan, kalau tadi tubuhnya seperti melayang dalam air laut maka kini tubuh itu berguling-guling seperti bola.

"Braaakk!"

Sosok Ki Hok Kui melabrak dinding batu. Ternyata terowongan itu buntu. Namun tepat di bagian yang buntu, sebelah atasnya terdapat satu lobang besar. Di sebelah atasnya lagi lobang itu dikelilingi oleh gundukan batu-batu merah tinggi dan runcing. Seseorang yang berada di luar sana tidak akan mudah mengetahui kalau di tempat itu ada sebuah lobang batu.

Sepasang kaki tersembul dari balik jubah putih yang berkibar-kibar ditiup angin laut. Itulah kaki Pangeran Soma alias Raja Obat Delapan Penjuru Angin. Dia berdiri di bagian datar yang sempit di tepi lobang batu. Sinar matahari yang baru terbit menerangi pinggiran lobang dan menyeruak ke bawah. Ketika Pangeran Soma memperhatikan ke dalam lobang berubahlah parasnya. Sesaat matanya terpejam dan mulutnya berucap. "Ini orang Cina yang aku lihat dalam mimpiku. Ternyata anak manusia ini bernasib jauh lebih malang dari diriku. Gusti Allah, mengapa malapetaka begitu berat kau timpakan pada dirinya? Tantangan apakah yang hendak kau berikan padaku ya Allah?"

Pangeran Soma membuka kembali kedua matanya dan memperhatikan ke dalam lobang batu merah. "Dua tangan dan dua kaki buntung. Seperti ditebas senjata tajam. Mukanya tak bisa kulihat jelas, bergelimang dengan darah. Ada sesuatu melekat... ada sesuatu terikat di dadanya..." Pangeran Soma merunduk. Kepalanya diturunkan sampai masuk sejauh dua jengkal ke datam lobang batu. "Sebuah kitab..." desis lelaki ini. Dia membuka matanya lebar-lebar. Berusaha membaca tulisan yang tertera di sampul kitab.

Hanya sebagian yang bisa dibacanya karena sebagian lagi tertutup oleh bayangan gelap batu goa yang tidak tersentuh sinar matahari. Namun Pangeran Soma sudah bisa menduga. "Kitab Putih Wasiat Dewa..." ucapnya dengan suara bergetar. Kembali dia teringat pada tiga kali mimpi yang dialaminya. "Tuhan Maha Benar. Petunjuk dalam mimpi jelas adanya. Gusti Allah... Apa yang harus aku lakukan? Beri aku petunjuk lebih lanjut."

Lama Pangeran Soma menatap sosok tubuh Ki Hok Kui yang terlentang di dasar lobang pada ujung terowongan buntu. "Lukanya akan membusuk... dia akan mati. Tuhan, dengan kuasaMu aku ingin menolongnya. Dengan kuasaMu selamatkan nyawa orang ini."

Tangan kanan Pangeran Soma bergerak ke arah satu gundukan batu merah runcing di samping kirinya.

"Traakkk!"

Ujung runcing itu dipatahkannya. Lalu tangannya meremas. Perlahan-lahan tangan itu diturunkan sedalam mungkin ke dalam lobang batu. Lalu lima kali berturutturut genggamannya dibuka. Pada genggaman pertama batu merah yang telah jadi bubuk jatuh bertabur dan masuk ke dalam mulut Ki Hok Kui. Taburan kedua dan ketiga jatuh pada buntungan luka di tangan kiri kanan. Bubuk-bubuk batu merah keempat dan kelima menyiram di atas luka buntung dua kaki Ki Hok Kui. Dari mulut dan empat bagian tubuh yang kejatuhan bubuk batu merah itu kelihatan keluar kepulan asap. Pangeran Soma menarik napas lega. "Tuhan, Kau tolong orang ini..."

Namun kelegaan Raja Obat Delapan Penjuru Angin ini hanya sesaat. Tiba-tiba dia merasakan batu merah tempatnya berpijak bergetar keras. Tubuhnya tergontai-gontai. Pemandangannya nanar. Sepasang lututnya bergoyang goyah. Makin lama getaran itu semakin keras.

"Gempa!" seru Pangeran Soma.

"Rrrrrkkkk... Kraaaakkkk!"

Pangeran Soma cepat membuang diri ke samping agar tidak terjerembab masuk ke dalam lobang batu. Untuk beberapa lamanya dia duduk terhenyak di antara dua gundukan batu merah. Ketika getaran lenyap tanda gempa berakhir perlahan-lahan dia berdiri. Yang diperhatikannya pertama kali adalah lubang batu itu. Begitu dia memandang ke dalam berubahlah paras sang Pangeran.

Sosok tubuh Ki Hok Kui tidak ada lagi di dasar lobang. Dasar lobang itu sendiri kini kelihatan terbelah rengkah.

"Tubuh orang itu pasti jatuh ke dalam terowongan sebelah bawah. Aku tak mungkin menolongnya. Hanya kuasa Tuhan yang mampu menyentuhnya..."

Perlahan-lahan Pangeran Soma bangkit berdiri. Sambil melangkah mundur melewati celah dua batu runcing kedua matanya masih terus memandangi lobang batu itu.

***

BAB IIIDUA kuda hitam berlari kencang menembus kabut dini hari. Kegelapan perlahanlahan sirna begitu sang surya muncul menyapu permukaan lereng gunung. Kabut pun menghilang. Butiran-butiran embun di dedaunan menguap pupus. Dua penunggang kuda seolah berpacu agar lebih dulu sampai di puncak gunung Merapi. Bau busuk aneh membersit mengikuti kemana mereka pergi. Bila seseorang tidak tahu siapa adanya mereka atau tidak pernah melihat tampang-tampang keduanya pastilah akan menduga bahwa jangan-jangan dua orang ini bukan manusia tetapi sebangsa setan atau jin yang gentayangan sejak pagi buta.

Penunggang kuda di sebelah kanan mengenakan jubah hitam. Mata kanannya besar mendelik sedang mata kiri kecil seolah terpejam. Kepalanya sulah licin di bagian kiri tapi berambut tebal awut-awutan di sebelah kanan. Pada keningnya orang ini memiliki tiga guratan aneh. Wajahnya yang garang seram menyerupai setan tertutup kumis dan cambang bawuk lebat.

Temannya yang memacu tunggangannya di sebelah kiri mengenakan pakaian terbuat dari kain tebal kotor dan rombeng. Mukanya tak kalah mengerikan dari kawannya karena penuh cacat seperti daging dicacah. Selain itu bagian bawah kelopak kedua matanya menggembung merah dan selalu basah. Antara dua mata yang seram tapi juga menjijikkan ini terpancang satu hidung tinggi bengkok seperti paruh burung elang. Kedua lengannya penuh bulu. Jari-jarinya bukan seperti jari manusia karena berbentuk cakar dengan kuku-kuku hitam panjang mengandung racun. Di punggungnya tergantung satu kantong kain yang tadinya berwarna putih tapi kini kelihatan merah oleh noda darah yang mulai mengering. Entah apa isinya bungkusan ini tapi yang jelas dari bungkusan itulah membersit sumber bau sangat busuk itu! Dari ciri-ciri dua orang ini jelas mereka bukan lain adalah dua bersaudara sumpah darah Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan.

Seperti dituturkan dalam Episode II (Wasiat Dewa) mereka ditipu oleh Pangeran Matahari sehingga menenggak racun yang akan membunuh mereka dalam tempo 300 hari. Sang Pangeran tidak percaya bahwa dua kaki tangannya itu telah benar-benar berhasil membunuh Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng kecuali jika mereka mampu membawa ke hadapannya kepala Pendekar 212. Selama hal itu tidak mereka laksanakan maka Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan tidak akan mendapatkan obat pemusnah racun. Jadi mereka hanya tinggal menunggu mati saja.

"Saudaraku Elang Setan!" berseru Tiga Bayangan Setan. "Bagaimana kalau Pangeran celaka itu tidak memberikan obat pemusnah racun tiga ratus hari yang mendekam dalam tubuh kita?!"

Elang Setan menyeringai. "Kali ini kurasa dia tidak punya alasan. Kalaupun dia mungkir aku sudah nekad untuk mengadu jiwa! Bagaimana dengan kau?!"

"Aku akan bertindak lebih cerdik darimu!" jawab Tiga Bayangan Setan.

"Hemmm... apa maksudmu?!"

"Aku akan berusaha mencuri Kitab Wasiat Iblis yang dimilikinya terlebih dulu. Selama kitab sakti itu berada di tangannya sulit bagi kita untuk membunuhnya. Ingat peristiwa di dekat sumur batu di bukit itu waktu dia membunuh Iblis Tua Ratu Pesolek? Kitab iblis itu tidak bisa dibuat main!"

"Kau betul," kata Elang Setan pula. "Kita harus memancingnya demikian rupa. Kalau dia sudah dibikin mampus pada salah satu kantong pakaiannya pasti akan kita temui obat pemusnah racun itu!"

Jalan menuju ke puncak gunung semakin mendaki tajam, penuh dengan batu-batu terjal. Di satu tempat kedua orang ini turun dari kuda masing-masing, melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Mereka sama sekali tidak memperdulikan indahnya pemandangan di kejauhan. Yang mereka pikirkan saat itu adalah secepatnya mencapai puncak gunung Merapi tempat kediaman Pangeran Matahari guna menyelesaikan urusan. Sementara itu di puncak gunung, tak berapa jauh dari sebuah bangunan dua orang gadis asyik bermain air di telaga dangkal berair jernih dan sejuk. Rambut mereka yang panjang basah riap-riapan di punggung mereka yang putih. Tiba-tiba gadis di sebelah kanan berbisik pada gadis satunya.

"Pangeran datang..."

"Hemmmm...Kalau begitu kau pergilah. Bukankah hari ini giliranku untuk bersenang-senang dengannya?"

"Jangan berkata begitu. Apa kau lupa sang Pangeran seorang lelaki kuat perkasa?!"

"Gila, aku tak suka bercumbu kalau ada gadis lain di dekatku!"

Gadis di sebelah kanan tertawa geli. "Apa kau lupa kita ini sebenarnya sudah bukan gadis lagi? Kita telah memberikan semua yang kita miliki pada pangeran itu!"

"Terserah kau mau bicara apa. Tapi aku tidak sudi dia mencumbu kita berdua sekaligus..."

"Jangan bodoh, mengapa kau sengaja melewatkan pengalaman yang sangat hebat ini?!"

Pemuda bertubuh kekar, berambut tebal hitam yang melangkah cepat menuju telaga sunggingkan senyum lalu berseru.

"Kekasih-kekasihku cantik! Mengapa kalian mendahului mandi di telaga?"

"Maafkan kami Pangeran." jawab gadis yang berada di tepi telaga. "Pangeran kami lihat masih tidur nyenyak. Mana kami berani membangunkan."

"Pangeran tampak letih. Kami sengaja membiarkan agar Pangeran bisa istirahat..." menambahkan gadis satunya.

"Aku Pangeran Matahari letih?" Lelaki itu tertawa gelak-gelak lalu buka mantel hitamnya. "Akan aku buktikan pada kalian berdua saat ini juga bahwa aku tidak pernah mengenal letih!"

Gadis di pinggir telaga tersenyum genit sedang kawannya tampak bersemu merah wajahnya.

Pangeran Matahari buka mantel hitamnya. Ketika bajunya ditanggalkan dua gadis melihat sebuah kitab hitam terikat di dadanya yang tegap berotot dan berbulu.

"Pangeran... Kau selalu membawa kitab itu kemana kau pergi. Rupanya kitab itu sangat penting bagimu..."

"Kitab ini merupakan nyawa kedua bagiku!" jawab Pangeran Matahari seraya meletakkan pakaiannya di tepi telaga. Kitab Wasiat Iblis diletakkannya hati-hati sekali di atas bajunya lalu dibungkusnya dengan baju itu.

Air telaga muncrat menyiprat ke atas ketika pemuda itu melompat masuk ke dalam telaga. Dua gadis berpekikan. Yang satu merasa gembira dan langsung mendekati sang Pangeran. Gadis kedua tertegun di tengah telaga dengan muka merah. Tiba-tiba dia melihat dua sosok mendatangi dari arah kiri telaga.

"Pangeran, ada yang datang..." Si gadis memberi tahu.

Pangeran Matahari palingkan kepala. "Jahanam-jahanam itu datang pada waktu yang salah!" rutuk Pangeran Matahari. Lalu hidungnya mencium bau busuk.

Elang Setan dan Tiga Bayangan Setan nampak terkejut ketika mendapatkan orang yang mereka cari ternyata tidak sendirian berada di telaga itu. Walau ada firasat sang Pangeran akan marah besar namun mereka tidak mau melepaskan pandangan mata dari dua sosok tubuh bagus dua gadis yang ada dalam telaga, yang satu malah berada dalam dekapan Pangeran Matahari.

"Bangsat! Siapa yang menyuruh kalian kemari?!" bentak Pangeran Matahari.

"Kami tidak menemuimu di rumah sana lalu datang ke sini. Mohon maafmu Pangeran karena tidak mengira kalau kau tidak sendirian di sini..." jawab Elang Setan.

"Jangan berani melangkah lebih dekat! Kembali ke rumah dan tunggu aku di sana!"

"Kami akan menunggu sesuai perintahmu Pangeran," jawab Elang Setan seraya membungkuk. Tiga Bayangan Setan juga ikut membungkuk memberi hormat.

"Tunggu dulu! Apa kalian datang membawa berita baik?!"

Elang Setan mengangguk. Dia angkat bungkusan kain yang dipanggulnya di bahu kiri. Bau busuk menyengat membuat dua gadis cepat menutup hidung.

"Hemmmmm..." Pangeran Matahari menyeringai. "Kalau begitu kalian lekas ke rumah. Aku segera menyusul!"

"Pangeran! Kita belum mandi bersama. Kita belum..." berkata gadis dalam rangkulan Pangeran Matahari.

Sang Pangeran lepaskan rangkulannya. Setelah membenamkan hidungnya di celah dada si gadis dia berbisik.

"Ada urusan sangat penting. Aku tak akan lama. Kalian berdua tetap di sini. Aku segera kembali!"

Si gadis mengikuti kepergian Pangeran Matahari dengan pandangan kecewa. Dia berpaling pada temannya di tengah telaga. Lalu dengan muka cemberut dia berkata. "Dua manusia bermuka setan dan bau busuk itu rupanya lebih penting daripada kita berdua."

"Aku punya firasat sesuatu yang mengerikan akan terjadi," jawab gadis di tengah telaga lalu berenang menuju ke tepian. "Bagaimana kalau kita tinggalkan saja tempat ini."

"Tinggalkan tempat ini? Jangan bertindak bodoh sahabatku. Kita belum sempat bersenang-senang. Belum menerima hadiah... Kalau Pangeran membatalkan janjinya malanglah nasib kita!"

"Terus terang aku tidak percaya pada janji pemuda itu. Selain kita dia punya beberapa perempuan peliharaan dan kekasih gelap. Salah satu diantaranya gadis cantik berbadan harum yang mengenakan pakaian tipis warna biru itu."

"Sebagian dari ucapanmu ada betulnya. Kalaupun kita tidak dikawini kurasa sudah kepalang tanggung untuk mundur. Sasaran kita sekarang adalah uang perhiasan dan harta lainnya. Dan dengar... Jangan sekali-kali kau berani meninggalkan tempat ini. Kalau Pangeran bilang tunggu di sini kita harus menunggu. Nyawa manusia baginya tidak lebih berharga dari nyawa seekor lalat..."

Ketika Pangeran Matahari sampai di bangunan di puncak gunung Merapi, Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan yang duduk di tangga depan segera berdiri. Sang Pangeran memperhatikan bungkusan yang dipanggul Elang Setan sesaat lalu bertanya.

"Berita baik apa yang kalian bisa sampaikan padaku? Kalian berhasil mendapatkan kepala musuh besarku Pendekar 212 Wiro Sableng?"

"Kami bernasib mujur Pangeran. Perintah Pangeran telah kami laksanakan dengan baik!" jawab Tiga Bayangan Setan lalu memberi isyarat pada Elang Setan dengan anggukkan kepala.

Elang Setan turunkan kantong kain yang dipanggulnya lalu meletakkannya di lantai bangunan. Bau busuk memancar santar. Perlahan-lahan Elang Setan membuka ikatan kantong, ketika kantong ditunggingkannya menggelindinglah potongan kepala manusia di atas lantai. Bau busuk menghampar bukan olah-olah.

"Pangeran saksikan sendiri...!" kata Elang Setan sambil menyeringai sementara Tiga Bayangan Setan lantas saja tegak sambil berkacak pinggang. Sepasang mata Pangeran Matahari membuka besar besar. Di lantai dua langkah di hadapannya tergeletak potongan kepala manusia berlumuran darah. Rambutnya panjang hitam awut-awutan. Pada keningnya ada ikatan kain putih. Sang Pangeran membungkuk sedikit agar dapat meneliti lebih jelas. Satu seringai tersungging di mulutnya. Perlahanlahan dia berpaling pada Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan.

"Kalian manusia-manusia hebat!" memuji Pangeran Matahari. Lalu tertawa bergelak.

Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan ikut-ikutan tertawa.

"Ini memang kepala si keparat Pendekar 212 itu!" ujar Pangeran Matahari pula dengan wajah berseri. "Sekarang siapa yang bisa menandingiku dalam rimba persilatan?!"

"Tak seorangpun Pangeran! Kau sekarang jadi raja di raja dunia persilatan!" kata Elang Setan.

Pangeran Matahari kembali memandang pada potongan kepala di lantai. "Aku percaya itu memang kepala pendekar bangsat itu! Aku kenal betul wajahnya!"

"Kami gembira kalau kini Pangeran bisa percaya bahwa Pendekar 212 sudah tamat riwayatnya! Mati di tangan kami dua bersaudara!"

"Ya... ya aku percaya!" kata Pangeran Matahari pula seraya mengusap-usap telapak tangannya satu sama lain.

Elang Setan melirik pada Tiga Bayangan Setan lalu mendehem beberapa kali.

"Pangeran, turut perjanjian saat ini tentunya kami akan menerima obat pemusnah racun tiga ratus hari itu..." kata Tiga Bayangan Setan pula.

Pangeran Matahari menyeringai. "Kalian rupanya benar-benar takut mati! Tak usah khawatir, janji akan kutepati. Malah kalian akan kuberi hadiah besar!"

"Terima kasih Pangeran! Terima kasih!" kata Elang Setan dan Tiga Bayangan Setan berbarengan sambil membungkuk berulang kali. Sang Pangeran meraba ke balik mantel hitamnya. Dari sebuah tabung kecil terbuat dari bambu dikeluarkannya dua butir obat berwarna merah lalu satu demi satu diserahkannya pada kedua orang bermuka setan di hadapannya itu. Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan cepat menyambut! Namun setelah memegang obat itu mereka tidak segera menelannya. Ada keraguan pada tampang masing-masing.

"Kalian tidak mempercayai diriku?!" Pangeran Matahari membentak.

"Ka... kami tidak bermaksud begitu Pangeran. Cuma mengingat telah dua kali kau menjalankan muslihat..."

"Keparat! Muslihat adalah permainan iblis! Aku bukan iblis! Kalau kalian mau mampus buang saja obat itu!" Pangeran Matahari membentak dengan mata membeliak.

Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan serta merta menelan obat yang ada dalam genggaman mereka. Keduanya tampak pucat ketika mendadak merasa ada hawa panas menjalar di saluran tenggorokan terus merambat ke perut. Namun perlahan-lahan hawa panas itu lenyap berganti dengan rasa sejuk.

"Terima kasih Pangeran..." kata Elang Setan.

"Mengenai hadiah yang tadi kau katakan itu..." berucap Tiga Bayangan Setan.

Pangeran Matahari menyeringai. "Hemmm....Ada dua gadis cantik bertelanjang dalam telaga. Kalian telah melihatnya, betul...?"

"Benar, kami telah melihatnya Pangeran!"

"Itu hadiah besar buat kalian! Kalian boleh memperlakukan apa saja terhadap mereka. Termasuk membunuhnya! Kalau kalian tega... Ha... ha... ha...!"

Habis berkata begitu Pangeran Matahari jambak rambut potongan kepala Pendekar 212 lalu melangkah menuruni tangga. Akan halnya Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan tidak tunggu lebih lama lagi segera menghambur lari menuju telaga. Dua gadis di dalam telaga tentu saja menjerit ketakutan begitu dua manusia bermuka setan ini muncul, membuka pakaian dengan cepat lalu menceburkan diri ke dalam air dan langsung menubruk mereka dan menyeretnya ke tepi telaga. Sekonyong-konyong ada bayang-bayang jatuh di sekitar mereka. Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan memandang ke langit.

"Dia!" teriak Elang Setan seraya menunjuk ke atas.

***

BAB IVTIGA Bayangan Setan tak kalah kagetnya. Di udara saat itu tampak tujuh buah payung melayang dalam keadaan terkembang. Pada gagang payung warna merah bergantung seorang gadis cantik berpakaian biru berkembang-kembang kuning. Payung merah melayang turun lebih cepat sementara enam payung lainnya menebar seolah melindungi payung merah dan si gadis.

"Dia berani muncul! Benar-benar minta mampus!" kata Tiga Bayangan Setan.

Rahangnya menggembung dan gerahamnya bergemeletakan. Sejak dirinya dibuat cidera pada perkelahian beberapa waktu lalu di muara Kali Opak dendam manusia setan ini terhadap gadis berpayung itu memang bukan main-main. Begitu juga sobatnya si Elang Setan. Tapi saat itu Elang Setan yang biasanya berangasan entah mengapa bisa berpikiran lebih jernih. Dia cepat memegang bahu sahabatnya seraya berbisik.

"Kalau mengikuti dendam kita berdua memang harus memperkosanya lalu menggebuknya sampai hancur luluh! Tapi lebih baik saat ini kita menghindari..."

"Jangan bicara ngaco Elang Setan!" hardik Tiga Bayangan Setan.

"Tenang sobatku! Pakai pikiran sehat! Dua gadis cantik yang sudah ada di tangan ini belum sempat kita nikmati. Mengapa merepotkan diri mencari urusan dengan gadis berpayung itu?! Jangan lupa Pangeran Matahari masih berada di puncak gunung ini. Mendadak dia tahu kita memuslihatinya urusan bisa kapiran!"

Pelipis Tiga Bayangan Setan bergerak-gerak.

"Kau betul. Baik, mari kita boyong gadis-gadis ini lalu tinggalkan tempat ini!"

Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan yang dalam keadaan bugil yang segera memanggul dua gadis yang juga tanpa pakaian sama sekali. Keduanya bergerak cepat meninggalkan telaga setelah terlebih dulu menyambar pakaian masing-masing. Dua gadis yang mereka panggul menjerit-jerit tiada hentinya.

"Dua setan telanjang! Jangan pergi dulu!" seru gadis yang bergelantungan di payung merah yang tentu saja adalah Puti Andini bergelar Dewi Payung Tujuh.

"Jahanam!" maki Tiga Bayangan Setan dan cepat menyusup di antara semak belukar.

"Hai! Aku hanya ingin bertanya!" teriak Puti Andini.

"Bertanyalah pada iblis telaga!" teriak Elang Setan.

"Apakah kalian telah menemukan mayat Pendekar 212?!"

"Hah! Itu yang hendak kau tanyakan!" jawab Tiga Bayangan Setan. "Ketahuilah kami bukan cuma menemukan mayat pemuda itu tapi juga telah menebas batang lehernya dan menyerahkan potongan kepalanya pada seseorang!"

Paras Puti Andini berubah, hatinya berguncang, tapi pikirannya tak lekas terpengaruh. "Mungkin dua bangat itu tidak berdusta. Ah, celaka kalau begini. Makin berat dan besar urusanku! Bagaimana caranya sekarang aku mencari jejak Kitab Putih Wasiat Dewa itu!" Si gadis memandang ke bawah. Sosok Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan masih terlihat di sela-sela pepohonan dan semak belukar. Maka dia berteriak kembali. "Kepada siapa kalian serahkan kepala Pendekar 212?!"

"Kau punya kepandaian tinggi! Silahkan menyelidik sendiri!" jawab Tiga Bayangan Setan.

"Atau tanya pada setan neraka!" teriak Elang Setan.

"Gadis sakti! Tolong kami!" Gadis yang berada di panggulan Elang Setan tibatiba berteriak minta tolong.

"Kalian gadis-gadis sesat! Memilih hidup jadi pelacur! Perlu apa aku merepotkan diri menolong kalian!" jawab Dewi Payung Tujuh yang jadi jengkel oleh jawaban dua bersaudara sumpah darah tadi. Lalu dia kembali berseru pada Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan. "Jika kalian tidak mau memberi tahu tentang Pendekar 212 tak jadi apa. Jawab pertanyaanku yang satu ini! Apakah puncak gunung int tempat kediaman orang sakti bergelar Pangeran Matahari?!"

"Ha... ha! Kau rupanya hendak bergendak dengan sang Pangeran!" berseru Elang Setan. "Kau memang cocok jadi peliharaannya!"

"Tapi hati-hati! Sekali dia sudah bosan padamu, kau akan dipesianginya mentahmentah!"

menimpali Tiga Bayangan Setan. "Walau kau punya tujuh nyawa dan kepandaian setinggi langit, jangan harap bisa menghadapi keganasan Kitab Wasiat Iblis yang dimilikinya!"

"Hemmm... jadi benar kabar yang kusirap. Kitab Wasiat Iblis itu telah jatuh ke tangan Pangeran Matahari," Kata Puti Andini dalam hati. "Aku punya dugaan mungkin sekali Pangeran Matahari yang memerintah mereka menebas kepala Pendekar 212 lalu diserahkan padanya. Dua manusia setan itu tidak punya daya karena mereka berada dalam kekuasaan sang Pangeran. Bukankah waktu di pantai tempo hari aku lihat ada tanda keracunan di bibir mereka?"

Tak lama kemudian Puti Andini melayang turun menjejakkan kedua kakinya yang berkasut kulit di tepian telaga. Enam payung sengaja dibiarkannya mengambang berputar-putar di udara. Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan tak kelihatan lagi. Sayupsayup masih terdengar jeritan-jeritan dua gadis yang mereka boyong namun Puti Andini tidak peduli.

Sambil memegangi payung merah di atas kepala dia memandang berkeliling.

"Sunyi... tenang, serba hijau dan segar..." katanya dalam hati. "Tapi di balik semua itu aku mencium sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang mengerikan di tempat ini... Hemm, jika keterangan dua manusia setan itu bahwa Pendekar 212 benar-benar sudah tewas dapat dipercaya, berarti aku akan kehilangan jejak penuntun. Sebenarnya dia bisa kujadikan sahabat untuk mendapatkan kitab sakti itu. Kini putus harapanku menyusuri jejak Kitab Putih Wasian Dewa, apalagi mendapatkannya. Guru pasti akan memarahiku setengah mati. Ah, mengapa dia memberi tugas begini berat padaku? Tuhan, cobaan apa lagi yang akan aku hadapi...?"

Selagi dia memandang berkeliling sekali lagi sekonyong-konyong terdengar suara bentakan-bentakan di kejauhan. "Ada orang lain di tempat ini. Pangeran Matahari...?"

desis Puti Andini dalam hati. Lalu dia mendongak. Seolah bicara pada manusia saja, dia berkata pada enam payung yang mengambang dan berputar-putar di udara. "Kalian jangan tertipu angin. Jangan berani kemana mana. Tunggu tanda atau tunggu sampai aku datang!" Habis berkata begitu gadis ini cepat berkelebat ke arah datangnya suara bentakan tadi. Dia hentikan langkahnya di balik serumpunan semak belukar lebat. Bau busuk menghampar menusuk hidung.

Memandang ke depan dilihatnya sebuah bangunan. Di hadapan bangunan ini terdapat halaman dan di tengah halaman terpampang satu pemandangan yang membuat Puti Andini mendelik, berubah pucat wajahnya dan dingin tengkuknya!

Sebatang tiang bambu menancap di tengah halaman. Pada ujung atas tiang ini menancap potongan kepala manusia. Inilah rupanya sumber bau busuk yang menyengat itu. Walau wajahnya tertutup rambut gondrong awut-awutan serta noda darah yang telah membeku namun Puti Andini masih bisa mengenali. Wajah itu adalah wajah Pendekar 212 Wiro Sableng!

Mendadak saja si gadis merasakan dadanya berdebar keras dan sesak. "Dua manusia setan itu tidak berdusta! Mereka memang benar-benar telah memenggal kepala Pendekar 212...!" Puti Andini terduduk terhenyak di tanah di balik semak belukar.

"Walau guru menyuruh aku membunuhnya, sebetulnya aku tidak ada permusuhan dengan pemuda itu Belakangan ini aku selalu ingat padanya. Wajahnya sering muncul dalam bayanganku..." Puti Andini menarik nafas dalam berulang kali. Tanpa disadarinya sepasang matanya berkaca-kaca. "Untuk terakhir kali aku ingin mengurus jenazahnya.

Aku hanya melihat kepalanya. Dimana gerangan badannya...? Mungkin di dalam bangunan? Milik siapa bangunan itu? Tempat kediaman Pangeran Matahari?"

Selagi berpikir seperti itu tiba-tiba bayangan hitam berkelebat keluar dari dalam bangunan. Sesaat kemudian Puti Andini melihat seorang pemuda gagah bertubuh tinggi kekar berdiri di tengah halaman. Tampangnya yang keras kelihatan merah mengelam, Pelipisnya bergerak-gerak dan sepasang matanya menyorotkan hawa amarah. Orang ini mengenakan mantel hitam. Pada baju hitamnya yang tersingkap di balik mantel terpampang gambar gunung biru dan matahari kuning.

"Pangeran Matahari... Pasti dia!" membatin Puti Andini.

"Bangsat! Jahanam keparat! Berani dia memuslihati diriku!" orang bermantel yang bukan lain Pangeran Matahari adanya membentak sambil hantamkan kaki kanannya ke tanah.

Puti Andini terkesiap ketika melihat bagaimana tanah yang terkena hempasan kaki melesak sampai setengah jengkal dan berwarna kehitaman.

"Manusia ini memiliki tenaga dalam tidak di bawah tingkat yang dimiliki guru..." kata Puti Andini dalam hati.

"Tiga Bayangan Setan! Elang Setan! Kalian bisa kabur dari puncak Merapi! Tapi kalian tidak bisa lolos dari kematian! Akan kukelupas kulit tubuhmu! Kucincang daging serta tulang kalian! Bangsat! Setan! Kurang ajar! Mengapa aku sampai berlaku bodoh! Seharusnya obat penawar racun tiga ratus hari itu tidak aku berikan pada mereka!"

Pada puncak kemarahannya Pangeran Matahari melompat ke atas. Tangan kanannya menyambar rambut potongan kepala yang menancap di ujung bambu. Dengan geram potongan kepala Pendeka 212 itu dibantingkan ke tanah.

"Praaakkk!"

Potongan kepala rengkah lalu menggelinding ka arah semak belukar di balik mana Puti Andini mendekam bersembunyi. Gadis ini merasakan tubuhnya menggigil berada sedekat itu dengan potongan kepala. Dia menekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Matanya membeliak memandangi potongan kepala Pendekar 212 itu.

Untuk beberapa lamanya Pangeran Matahari masih menyumpah sambil melangkah mundar mandir di halaman bangunan. Tiba-tiba dia ingat.

"Dua bangsat itu! Mereka pasti masih berada di telaga. Bersenang-senang dengan dua gadis yang kuhadiahkan! Jahanam! Kalian akan rasakan tanganku! Sekarang kalian dapat sorga, sebentar lagi akan kusumpalkan neraka ke pantat dan sekujur tubuh kalian!"

Dengan beringas Pangeran Matahari berkelebat menuju ke telaga. Sampai di telaga dia bukan saja tidak menemukan Tiga Bayangan Setan dan dua gadis itu tapi justru disambut oleh satu pemandangan. Sepasang alis mata Pangeran Matahari berjingkrak ke atas. Keningnya mengernyit dan dua matanya membeliak. Di atas tepian telaga enam buah payung berbagai warna melayang berputar-putar.

"Enam payung warna-warni..." desis sang Pangeran. Lalu satu persatu menyebut warna payung itu. "Hitam, hijau, kuning, biru, putih, ungu... Mana satu lagi yang berwarna merah..." Dia memandang berkeliling. "Jadi betul keterangan yang kudapat tempo hari. Dewi Payung Tujuh berada di tempat ini..."

Pangeran Matahari memandang berkeliling dengan mata membeliak tajam. Lalu dia berteriak. "Dewi Maling Tujuh! Aku tahu kau ada di tempat ini! Harap perlihatkan diri! Jadi tamu jangan menyelinap seperti tikus comberan!"

Tak ada jawaban. Pangeran Matahari berteriak sekali lagi. Tetap tak ada jawaban.

"Jahanam!" makinya. Lalu dia berlari kembali ke tempat kediamannya. Di halaman bangunan hanya kesunyian menyambutnya. Tak kelihatan siapapun. Namun dia merasakan suatu kelainan. Dekat potongan kepala Pendekar 212 yang tercampak di tanah tergeletak satu benda lain seperti kertas.

Begitu Pangeran Matahari tadi meninggalkan tempat itu, Puti Andini menyibak semak belukar agar lebih jelas melihat potongan kepala itu. Tidak syak lagi itu memang kepala Pendekar 212 Wiro Sableng. Namun! Matanya yang tajam melihat sesuatu. Dia teringat pada caci maki Pangeran Matahari yang menyumpahi Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan yang dituduh telah memuslihati menipunya.

"Ada keanehan pada bagian leher itu. Sepertinya kulit luar tidak menyatu dengan daging di sebelah dalam..." Puti Andini memandang ke jurusan lenyapnya Pangeran Matahari tadi lalu dengan cepat keluar dari semak-semak. Sambil menahan napas tangannya yang gemetaran diulurkannya. Matanya dipejamkan begitu jari-jarinya menyentuh kulit leher pada bagian yang terpotong. Tengkuknya terasa dingin dan jantungnya berdegup keras menahan rasa ngeri. Puti Andini sentakkan jari-jari tangannya dua kali.

"Sreettt! Srettt!"

Terdengar dua kali suara seperti benda robek. Ketika kemudian dia membuka matanya terbeliaklah gadis ini. Sebagian dari kulit leher dan kulit wajah potongan kepala yang tadi disentakkannya kini terkelupas. Kelupasannya berada dalam pegangannya! Dan wajah asli potongan kepala itu walau tidak tersibak keseluruhannya tapi cukup jelas terlihat.

"Bukan wajah Pendekar 212..." desis Puti Andini. Matanya lalu memandangi kelupasan kulit muka yang dirobeknya. "Topeng tipis. Dua manusia setan itu ternyata memang benar memuslihati Pangeran Matahari. Potongan kepala orang lain diberi topeng tipis menyerupai wajah Pendekar 212..."

Puti Andini campakkan robekan topeng tipis lalu secepat kilat menyelinap meninggalkan tempat itu. Hanya beberapa saat saja setelah dia berkelebat pergi Pangeran Matahari muncul kembali. Dia mengobrak abrik semak belukar di sekitar halaman. Berkelebat menyelidik kian kemari.

"Kurang ajar! Aku yakin tadi dia pasti ada di sini!" maki sang Pangeran.

Kemudian diperhatikannya potongan kepala yang menggeletak di tanah. Di dekat potongan kepala itu ada secarik benda seperti kertas atau kulit. Pangeran Matahari melangkah mendekati. "Dia merobek topeng tipis di potongan kepala. Hemm. Agaknya Dewi Payung Tujuh tengah melakukan satu penyelidikan. Mungkin dia tengah mencari Kitab Wasiat Iblis? Tapi mengapa tidak berani unjukkan diri. Malah kabur? Akan aku hancurkan enam payungnya yang ditinggal di tepi telaga!"

Pangeran Matahari cepat kembali ke telaga namun dia kecewa dan marah besar. Saat itu dia mendengar suara suitan keras enam kali berturut-turut. Datangnya dari udara. Ketika dia mendongak enam payung yang tadi mengambang di sekitar telaga kini kelihatan membubung cepat ke udara. Payung ke tujuh berwarna merah berada paling atas dan pada tangkai payung bergantung gadis cantik berpakaian biru berkembangkembang. Si gadis melambai-lambaikan tangannya sambil tertawa mengejek.

Dalam marahnya Pangeran Matahari hantamkan kedua tangannya ke udara lepaskan pukulan "Telapak Matahari". Terdengar dua suara mendesis berbarengan. Bersamaan dengan itu dua rangkum angin menebar hawa panas menderu ke udara. Sudah dapat dibayangkan oleh Pangeran Matahari bahwa enam payung akan hancur lebur dihantam pukulan saktinya dan si gadis akan cidera berat. Namun dugaannya meleset. Sang Pangeran lupa memperhitungkan jarak yang terpisah antara dia dengan sasaran. Saat itu tujuh payung dan Puti Andini sudah terlalu jauh di udara. Walaupun dua serangan saktinya masih sanggup mencapai sasaran namun daya kekuatannya tak mampu menciderai. Malah secara luar biasa enam buah payung tiba-tiba berputar lalu menukik ke bawah membentengi payung merah dan Puti Andini.

"Kurang ajar! Dewi Payung Tujuh! Apa kau kira bisa lolos dari kematian?!" teriak Pangeran Matahari.

Lalu dia busungkan dada dan kerahkan tenaga dalam ke tempat terletaknya Kitab Wasiat Iblis.

"Bunuh!" perintah Pangeran Matahari.

Dada dan Kitab Wasiat Iblis sesaat menjadi panas namun hawa panas itu cepat meredup dan lenyap. Dari kitab sakti di dadanya sama sekali tidak keluar sinar sakti yang diharapkan. Pangeran Matahari lipat gandakan tenaga dalamnya. Malah sambil menepuknepuk kitab itu dia berteriak berulang kali.

"Bunuh! Bunuh!"

Tidak terjadi apa-apa. Tak ada sinar maut mencuat keluar dari dada sang Pangeran.

"Kitab Wasiat Iblis!" desis Pangeran Matahari dengan suara bergetar. "Apa yang terjadi?! Apa kitab ini telah hilang kesaktiannya?" Saking geramnya disibakkannya mantel hitamnya lalu dirobeknya baju hitamnya. Kitab Wasiat Iblis yang diikatkannya di dada tersingkap. Sekali lagi dia mengerahkan tenaga dalam penuh dan berteriak.

"Bunuh!"

Tetap saja tidak terjadi apa-apa!

Tampang sang Pangeran menjadi gelap. Rahangnya menggembung. Kitab Wasiat Iblis direnggutkannya dari dadanya. Kalau mengikuti kemarahannya mau dia merobek dan membanting kitab sakti itu ke tanah. Dengan tubuh bergetar akhirnya dia terduduk di sebuah batu di tepian telaga. Kitab Wasiat Iblis diletakkannya di pangkuannya dan dipandanginya dengan mata melotot. Sebelumnya sang Pangeran telah beberapa kali menyaksikan bagaimana Kitab Wasiat Iblis itu secara luar biasa mengeluarkan sinar maut yang sanggup membunuh. Beberapa orang tokoh silat kawakan telah menjadi korbannya.

Diantaranya Iblis Tua Ratu Pesolek (Episode I: Wasiat Iblis) dan Datuk Sengkang Makale alias Hantu Tinggi Pelebur Jiwa (Episode II: Wasiat Dewa) tanpa dia berbuat suatu apapun. Sinar kematian itu keluar dari Kitab Wasiat Iblis begitu saja menghantam mati lawan-lawannya. Sekarang mengapa kesaktian kitab itu tidak keluar? Sang Pangeran tidak mengetahui bahwa walau kitab itu memiliki kesaktian dan kekuatan membunuh luar biasa namun jika dirinya tidak diserang maka kesaktian yang terkandung dalam kitab itu tidak akan keluar! Sekali seseorang menyerang dan siapa saja yang memegang Kitab Wasiat Iblis terancam keselamatannya maka barulah kekuatan sakti yang ada di dalam kitab dengan sendirinya akan keluar mendahului membunuh lawan! Penuh kecewa sang Pangeran duduk termenung sambil sekali-sekali menjambak rambutnya yang tebal.

"Mungkin ini disebabkan aku tidak melakukan puasa selama tiga kali malam Jum'at Kliwon seperti yang dikatakan dalam kitab..." pikir Pangeran Matahari. Namun hatinya meragu. "Pada saat kitab itu aku dapatkan, tanpa puasa kesaktiannya telah sanggup membunuh Iblis Tua Ratu Pesolek. Sekarang mengapa bisa jadi begini...?"

Inilah kali pertama dalam hidupnya Pangeran Matahari menjadi sangat bingung. Perlahan-lahan dia berdiri tinggalkan telaga. Kitab Wasiat Iblis dimasukkannya kembali ke balik baju hitamnya yang robek.

***

BAB VSUARA seorang bernyanyi itu datang dari salah satu bukit batu di sebelah timur pulau. Cukupi jauh dari tempat Wiro berada saat itu. Dia memasang telinga baik-baik, berusaha mendengar jelas setiap bait nyanyian yang dilantunkan.

Laut selatan tak pernah tenang

Gelombang selalu datang menantangRibuan pagi ribuan petang

Tubuh lapuk ini menunggu kedatangan

Yang menunggu tua renta malang

Yang ditunggu budak malang

Apakah saat ini petunjuk Yang Kuasa turun menjelang

Mungkinkah ini akhir penantian dan permulaan dari satu harapan

Hanya kepada Yang Kuasa tertambat seluruh harapan

Agar tubuh tua ini bisa lepas menempuh jalan abadi menghadap Sang Pencipta

Murid Eyang Sinto Gendeng garuk-garuk kepalanya. Dia coba mencerna arti nyanyian itu. "Menunggu ribuan pagi ribuan petang, berarti ada seorang tua bangka di puncak bukit sana. Yang ditunggu budak malang. Eh, apa aku yang ditunggunya? Apa dia kenal pada diriku. Yang jelas nasibku saat ini buka cuma malang tapi juga melintang! Ha... ha... ha!" Pendekar 212 tertawa sendiri. "Bait akhir nyanyian aneh itu seolah si penyanyi ingin buru-buru mati. Aneh!" Wiro percepat langkahnya.

Karena ingin cepat-cepat melihat siapa adanya orang yang menyanyi maka Wiro pergunakan ilmu "Menembus Pandang" yang didapatnya dari Ratu Buyung (baca Episode III: Wasiat Sang Ratu) Tenaga dalamnya dialirkan ke matanya kiri kanan. Dia mendongak memandang ke puncak bukit batu di sebelah Timur. Lalu mata itu dikedipkan dua kali.

Mula-mula Wiro melihat warna merah berkepanjangan pertanda dimana-mana di atas sana hawa batu-batu merah yang ada. Kemudian samar-samar dia melihat sesosok tubuh berjubah putih. Wajahnya tak terlihat jelas karena membelakangi. Kalau dia ingin melihat bagian depan orang itu berarti dia harus berputar setengah pulau. "Daripada menghabiskan waktu lebih baik aku terus saja menempuh jalan ini," pikir murid Sinto Gendeng.

Suara nyanyian itu diulang-ulang beberapa kali. Namun pada ulangan keempat mendadak suara nyanyian lenyap di bait pertengahan.

"Hemm... Orang tua di puncak bukit sana pasti sudah kecapaian menyanyi," pikir Wiro.

Tak lama kemudian dia sampai di kaki bukit batu merah di sebelah timur. Di sini Wiro baru menyadari satu keanehan. Pulau ini usianya pasti sudah ratusan bahkan ribuan tahun. Tapi tak satu bagianpun batu-batu di sini diselimuti lumut. Semua bersih, batu merah asli. Tak terpengaruh oleh cuaca. Karena batu merah itu tidak licin, meskipun bukit yang didakinya cukup terjal namun Wiro tidak mengalami kesulitan naik ke atas. Begitu sampai di puncak bukit batu merah Wiro segera melihat sosok orang berjubah putih itu, duduk di atas sebuah batu merah pada puncak bukit yang tak seberapa luasnya. Orang ini membungkus kepalanya dengan sehelai kain putih menyerupai selendang.

Mengira orang tengah bersemadi maka Wiro melangkah dengan hati-hati, berputar dan sesaat kemudian sampai di hadapan orang itu. Ternyata selendang putih di kepalanya menutupi hampir seluruh wajahnya. Hanya sepasang matanya saja yang kelihatan terpejam. Bagian selendang di bagian mulut kelihatan basah dan berwarna merah. Sepasang tangan dan kaki orang itu tersembunyi di balik jubahnya. Wiro mencium bau sirih dan tembakau. Tapi hidungnya yang tajam mencium bau lain. Karena tiba-tiba orang di hadapannya mengeluarkan suara maka Wiro tak berkesempatan untuk mengingat-ingat dimana sebelumnya dia pernah mencium bau itu.

"Ribuan pagi ribuan petang... Tubuh lapuk ini menunggu kedatangan... Yang menunggu tua renta malang... Yang ditunggu budak malang..."

Perlahan-lahan Wiro duduk bersila di hadapan orang berjubah dan berselendang putih itu.

"Orang tua, maaf kalau kehadiranku mengganggumu. Apakah kau yang dijuluki Raja Obat Delapan Penjuru Angin?"

Yang ditanya menghela napas panjang lalu menjawab. "Kau telah bertemu dengan orang yang kau cari. Giliran diriku yang bertanya ada keperluan apa kau mencariku anak manusia? Sebelum kau menjawab pertanyaan itu jawab dulu pertanyaan ini. Apa kau manusianya yang dijuluki Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212?"

"Aku belum menerangkan siapa diriku bagamana dia bisa menerka? Orang tua ini benar-benar berkepandaian sangat tinggi," kata Wiro dalam hati. Maka diapun menjawab.

"Aku memang yang oleh orang-orang tolol diberi gelar begitu padahal aku hanya anak manusia bernama Wiro Sableng!"

Si orang tua tertawa mengekeh. Bau aneh kembali menusuk hidung Wiro. Dalam hati dia membatin.

"Menurut keterangan orang tua ini memiliki wajah biru sebelah. Tapi wajahnya ditutup begitu rupa, sulit bagiku untuk melihat"

"Anak manusia, jika kau benar-benar Pendekar 212, perlihatkan padaku Kapak Maut Naga Geni 212!" tiba-tiba orang di hadapan Wiro berkata.

Wiro terkesiap. "Bertemu baru sekarang. Bagaimana orang tua ini tahu kalau aku Pendekar 212 dan punya senjata Kapak Maut Naga Geni 212! Ah, pengetahuannya tentu luas sekali padahal... Dari tadi dia tak pernah mengeluarkan kedua tangannya dari balik jubah. Jangan jangan si Raja Obat ini buntung!"

"Aku menunggu jawabanmu anak muda!"

Wiro garuk-garuk kepala lalu tersenyum. "Jangan cengengesan di hadapanku! Kalau kau berani memuslihati diriku berarti umurmu tidak bakal panjang. Kau tak akan pernah meninggalkan pulau ini..."

"Nasibku jelek. Senjata mustika itu dan pasangannya sebuah batu hitam sakti lenyap dicuri orang..."

Si orang tua geleng-gelengkan kepalanya. "Seperti dalam nyanyianku tadi, kau ternyata memang seorang budak malang. Apa kau tahu siapa yang telah mencuri dua senjata saktimu itu?'

"Dua orang berjuluk Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan..." jawab Wiro.

"Hemmm... Mereka memang iblis-iblis berkepandaian tinggi. Tapi aku tidak begitu saja percaya omonganmu. Setahuku Pendekar 212 tidak pernah mengenakan pakaian serba hitam seperti yang kau kenakan saat ini. Dia selalu pakai baju dan celana putih. Aku ingin melihat dadamu. Kabarnya di situ ada rajahan angka 212. Jika kau memang memiliki baru aku bisa percaya!"

"Sialan! Sulit juga rupanya membuat urusan dengan tua bangka ini!" rutuk Wiro dalam hati. Lalu dia buka baju hitam pemberian Ratu Duyung di bagian dada.

Sepasang mata Raja Obat Delapan Penjuru Angin melihat rajah angka 212 pada dada Wiro.

"Kau sudah saksikan sendiri?" tanya Wiro.

Orang tua itu anggukkan kepala.

"Nah sekarang giliranku bertanya..."

"Tunggu dulu!" memotong Raja Obat Delapan Penjuru Angin. "Ada hubungan apa antara kau dengan Ratu Duyung?!"

"Eh, orang ini benar-benar tahu banyak tentang diriku," pikir Wiro. "Aku berhutang budi dan nyawa pada penguasa laut itu. Itu saja..."

"Hemm... Sekarang aku masih ingin satu kepastian. Ulurkan kedua tanganmu. Telapak dibuka ke atas!"

"Ah orang tua. Kau rupanya menyuruh aku menirukan lagak pengemis. Tapi mengapa dua tangan sekaligus?" tanya Wiro sambil tertawa.

"Jangan berani bergurau padakul* menyentak orang tua. "Lekas ulurkan kedua tanganmu!"

Walau kini dia mulai jengkel dengan sikap orang tua itu namun Wiro ulurkan juga kedua tangannya ke depan. Telapak tangan dikembangkan ke atas.

Pada saat itulah tanpa diduga sepasang tangan si orang tua yang sejak tadi mendekam di balik jubah tiba-tiba melesat keluar dari balik jubah putih.

"Bukk!"

"Bukk!"

Dua jotosan laksana palu godam menghantam ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng.

***

BAB VIJERITAN keras meledak keluar dari mulut murid Sinto Gendeng ketika dua jotosan yang dihantamkan orang tua berjubah dan bertutup kepala putih itu mendarat di dada dan pipi kanannya. Kepalanya seolah terlempar pecah, dadanya laksana remuk. Tubuhnya mencelat sampai dua tombak, menggelinding ke lereng bukit, tertahan pada satu gundukan batu merah runcing! Darah menyembur dari mulutnya. Tubuh Wiro tergeletak tak berkutik lagi!

Di atas sana terdengar suara tawa mengekeh lalu satu bayangan putih berkelebat, melayang turun dan berdiri di hadapan sosok Pendekar 212. Dengan ujung kakinya orang ini membalikkan tubuh Wiro.

"Ha... ha... ha! Mampus juga kau akhirnya!" Habis berkata begitu orang ini buka jubah putih dan selendang penutup wajahnya. Di balik jubah itu ternyata orang ini mengenakan jubah lain yang kotor dekil serta bau. Tangannya yang tersembul dari balik jubah penuh dengan koreng bernanah dan menebar bau busuk. Wajahnya lebih mengerikan lagi karena hancur penuh oleh koreng cacar air busuk yang sama! Tiga jari kanannya yang tersembul di balik jubah tampak buntung kehitaman. Salah satu bagian bawah jubahnya hangus seperti pernah terbakar.

Pada punggungnya tergantung sebuah caping bambu. Dari mulutnya dia menyemburkan cairan merah sirih dan tembakau. Ketika caping itu dikenakannya di atas kepalanya dan sehelai kain ditutupkannya ke wajahnya jelaslah sudah orang tua ini bukan lain adalah si Makhluk Pembawa Bala! Makhluk iblis yang sebelumnya telah dua kali mencoba membunuh Wiro!

Sambil tertawa-tawa dia menjambak rambut gondrong Pendekar 212 lalu enak saja dia menyeret Wiro ke arah timur pulau. Hampir lima puluh tombak menyeret, Makhluk Pembawa Bala hentikan langkahnya di satu bagian pulau dimana terdapat satu batu rata berukuran dua kali dua tombak. Di atas batu warna merah ini tergeletak sesosok tubuh kurus kering seorang tua berambut, berkumis dan berjanggut putih. Wajahnya sebelah kanan berwarna biru. Saat itu boleh dikatakan orang tua ini nyaris telanjang karena hanya secarik kain putih kecil yang terselempang di aurat sebelah bawah perutnya. Melihat keadaannya saat itu yang tak bisa bergerak maupun bersuara kecuali hanya sepasang matanya saja yang bergerak-gerak nyatalah dirinya berada dalam keadaan tertotok. Orang tua yang malang ini bukan lain adalah si Raja Obat Delapan Penjuru Angin.

Makhluk Pembawa Bala hempaskan tubuh Wiro di samping sosok si orang tua. Pinggul mereka saling bersentuhan. Wajah Raja Obat Delapan Penjuru Angin berubah pucat ketika melihat pemuda yang tergeletak di sampingnya. Makhluk Pembawa Bala mendongak ke langit lalu tertawa gelak-gelak. Dengan kaki kanannya ditendangnya tulang kering Raja Obat.

"Ini anak manusia yang kau tunggu dalam nyanyianmu itu?! Ha... ha... ha..!

Nasibnya memang malang! Dia keburu mampus sebelum sempat melihat tampangmu!"

Makhluk Pembawa Bala kembali tertawa mengakak. "Eh, kau diam saja! Ah, biar aku berbaik hati sedikit membuka jalan suaramu agar aku bisa mendengar apa saja uneg-uneg yang hendak kau keluarkan!"

Makhluk Pembawa Bala membungkuk lalu menotok pangkal leher sebelah kiri Raja Obat. Saat itu juga punahlah totokan yang menutup jalan suaranya.

"Kau bukan manusia tapi iblis! Apa salah pemuda itu hingga kau membunuhnya?!" Begitu jalan suaranya terbuka Raja Obat langsung membentak.

"Ha... ha... ha! Mentang-mentang sudah bisa bicara omonganmu tidak sedap masuk ke telingaku. Kau tidak melihat kenyataan Raja Obat! Kalau aku tega membunuh kecoak satu ini apa kau kira aku tidak tega mencabut nyawamu?!"

"Tadipun aku sudah bilang agar kau segera membunuhku! Kau tak bakal mendapatkan keterangan apa-apa dariku!" jawab Raja Obat.

"Kita akan lihat! Kita akan lihat!" kata Makhluk Pembawa Bala pula.

"Silahkan kau mau membunuh aku cara bagaimana! Menghancurkan kepalaku! Mematahkan batang leherku atau menjebol isi perutku!"

"Ah! Rupanya kau tahu juga banyak cara mati yang enak! Ha... ha... ha! Tidak...semua cara yang kau sebutkan itu tidak akan kejadian. Aku punya cara lain yang lebih sedap... Pertama, satu persatu kuku jari tangan dan kakimu akan kubetot lepas. Lalu kulit kepalamu akan kukupas. Setelah itu lidahmu... Oh tidak... Lidah belakangan. Aku masih ingin mendengar jeritanmu. Salah satu matamu akan kukorek lebih dulu. Setelah itu...hik... hik... hik! Ini yang sedap dan lucu! Kau pasti akan menikmatinya. Bijimu akan kupencet, kulepas, kupencet. Lepas... pencet... lepas... pencet! Ha... ha... ha... Kalau suaramu sudah serak karena menjerit baru kuremas hancur bijimu itu! Ha... ha... ha... ha!"

Selagi Makhluk Pembawa Bala bicara sambil tiada hentinya tertawa Raja Obat Delapan Penjuru Angin diam-diam merasakan bahwa pinggul Wiro yang bersentuhan dengan pinggulnya terasa hangat. Lalu ada denyutan-denyutan halus pada sisi perut si pemuda. Dari tanda-tanda ini si Raja Obat segera maklum kalau pemuda itu sebenarnya belum menemui kematian tapi cuma pingsan dengan luka dalam teramat parah. Hati orang tua ini menjadi lega, Otaknya segera bekerja.

Saat itu Makhluk Pembawa Bala telah keluarkan sebuah catut besi dari balik jubah dekilnya. Benda ini ditimang-timangnya beberapa kali lalu dia berlutut di ujung kaki Raja Obat.

"Aku masih memberi kesempatan padamu. Memilih mati tersiksa atau kau lekas memberi tahu dimana beradanya Kitab Putih Wasiat Dewa itu!"

"Kalau hendak membunuhku mengapa tidak langsung saja? Mengapa masih bertanya-tanya?! Aku sudah bilang tidak tahu menahu soal segala kitab dewa itu! Kalaupun tahu tak bakal kukatakan pada makhluk durjana macammu."

Makhluk Pembawa Bala tertawa gelak-gelak.

"Rupanya kau memilih menyusul pemuda ini. Kupikir-pikir dalam usiamu yang seratus tahun ini apa perlunya kau hidup lebih lama! Baik! Jika kau ingin mampus aku tuan besarmu segera membuka pintu neraka untukmu!"

Makhluk Pembawa Bala lalu tempelkan ujung catut besi ke kuku ibu jari kaki kanan Raja Obat. Mulutnya yang korengan bernanah menyeringai, "Umur sudah bangkotan. Lobang neraka sudah menunggu! Masih tidak tahu diri! Rasakan siksaanku!"

Dua ujung catut menjepit kuku. Ketika siap untuk disentakkan tiba-tiba Raja Obat berseru. "Tunggu!"

"Hemmm. Apa kau mau bicara?!" tanya Makhluk Pembawa Bala pula.

"Ya... ya... Aku menyerah!" jawab Raja Obat.

"Kalau begitu lekas bicara! Katakan dimana beradanya Kitab Putih Wasiat Dewa itu!"

"Ba... baik... Tapi untuk mengetahuinya tak bisa diterangkan begitu saja. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus melihat di alam gaib baru bisa membaca dan mengatakan..."

"Jangan berani menipu!"

"Terserah padamu! Jika tidak percaya aku tak bisa melakukan apa yang kau minta..."

"Apa yang hendak kau lakukan? Apa kau tidak bisa langsung mengatakan?!"

"Tidak... Aku harus minta petunjuk dari alam gaib lewat asap batu merah..."

"Apa itu asap batu merah?"

"Jika dibacakan mantera dan ditebarkan bubuk batu merah ke udara maka akan kudapat petunjuk dimana beradanya kitab sakti itu. Petunjuk tak bisa didapat cepat, tergantung bagaimana alam gaib menerimanya..."

"Aku tidak percaya!" kata Makhluk Pembawa Bala seraya berdiri lalu melangkah mundar-mandir.

"Kalau begitu bunuh aku sekarang saja!" Raja Obat seolah benar-benar pasrah dan tidak takut sama sekali.

"Setan!" memaki Makhluk Pembawa Bala seraya tendang rusuk Raja Obat hingga orang tua ini mengeluh tinggi dan mengerenyit kesakitan. "Baik, aku akan lepaskan totokanmu. Tapi jika kau berani memuslihatiku kau akan mampus lebih cepat!" Ancam Makhluk Pembawa Bala lalu dia membungkuk dan lepaskan totokan di tubuh si orang tua.

Begitu totokan di tubuhnya lepas Raja Obat bangkit dan duduk bersila. Dengan sehelai kecil kain putih ditutupnya auratnya sebelah bawah lalu dia rangkapkan dua tangan di depan dada. Sebelum pejamkan matanya dia memberi tahu.

"Aku akan bersemadi sambil merapal mantera..."

"Cepat lakukan!" bentak Makhluk Pembawa Bala seraya berkacak pinggang dan mengawasi.

Raja Obat lalu pejamkan kedua matanya. Mulutnya yang berisi sirih dan tembakau berkomat-kamit tiada henti. Makhluk Pembawa Bala menunggu tidak sabaran. Tak selang berapa lama orang tua ini buka kedua matanya. Orang di depannya segera menghardik.

"Kau sudah tahu dimana letak kitab sakti itu?!"

"Harap bersabar..." jawab Raja Obat pendek. Lalu tangan kanannya diulurkan ke depan. Dengan dua jari tangannya dicungkilnya batu merah di hadapannya. Pecahan batu ini kemudian diremasnya hingga hancur menjadi bubuk. Selagi perhatian Makhluk Pembawa Bala tertuju pada tangan kanannya, perlahan-lahan Raja Obat turunkan tangan kirinya ke bawah. Dua jari mencungkil batu merah di ujung lututnya. Seperti dengan tangan kanan tadi, pecahan batu diremasnya hingga berubah jadi bubuk sementara mulutnya terus berkomat kamit.

"Pertunjukan apa yang hendak diperlihatkan jahanam ini padaku!" rutuk Makhluk Pembawa Bala semakin tidak sabar.

Mulut si orang tua tiba-tiba terbuka. Lalu terdengar suaranya berucap. "Alam gaib akan kusebar persembahan! Sebagai imbalan beri petunjuk padaku. Beri petunjuk padaku dimana letaknya Kitab Putih Wasiat Dewa. Persembahan harap dibalas dengan petunjuk agar seimbang budi di alam gaib..."

Perlahan-lahan Raja Obat angkat tangan kanannya. Bubuk batu merah yang ada dalam genggamannya disebarkan ke udara. Maka di tempat itu bertebarlah bubuk yang berubah menjadi asap merah. Untuk beberapa lamanya ada bau aneh yang menindih bau busuk tubuh Makhluk Pembawa Bala. Untuk beberapa lamanya pula pemandangan si makhluk tertutup oleh lapisan asap merah. Pada saat itulah dengan cepat Raja Obat gerakkan tangan kirinya ke samping. Begitu dia berhasil menyentuh mulut Pendekar 212, bubuk batu merah yang ada dalam genggamannya disumpalkannya ke dalam mulut sang pendekar. Lalu dengan dua ujung jarinya ditotoknya urat besar di leher si pemuda.

"Hekkk!"

Bubuk batu merah larut dan masuk ke dalam tenggorokan Wiro terus masuk ke dalam perutnya.

"Aku mendengar suara orang tercekik!" Tiba-tiba Makhluk Pembawa Bala berteriak. Dia mulai curiga.

"Itu suaraku batuk karena kemasukan debu batu merah. Jangan berani buka suara lagi dan jangan bergerak dari tempatmu. Kalau tidak semua bisa buyar dan aku tak dapat petunjuk dari alam gaib!"

Makhluk Pembawa Bala meskipun marah terpaksa menutup mulut dan tak bergerak dari tempatnya berdiri yakni sekitar lima langkah di hadapan Raja Obat yang duduk bersila di atas batu merah.

***

BAB VIIPADA saat bubuk batu merah masuk ke dalam tubuhnya terjadilah hal yang luar biasa. Tubuh Pendekar 212 yang saat itu menderita luka dalam yang amat parah dan keadaannya tak beda dengan orang yang sedang sekarat diserang oleh satu aliran sakti hawa sejuk. Setelah mengalir ke seluruh jalan darahnya hawa ini berkumpul di bagian dada yakni pada bagian yang kena hantaman Makhluk Pembawa Bala. Saat itulah Wiro perlahan-lahan kembali siuman. Pipi kanan dan dadanya mendenyut sakit. Lalu dirasakannya hawa sejuk aneh menyengat dadanya. Rasa sejuk mendadak berubah menjadi sengatan hawa panas luar biasa. Mulut Pendekar 212 terbuka lebar hendak berteriak karena kesakitan. Tapi tak ada suara yang keluar. Dia coba menggerakkan tangan untuk memegang dada. Tak bisa. Sadarlah murid Sinto Gendeng kalau saat itu dirinya berada dalam keadaan tertotok. Dia coba melirik ke samping. Di udara dilihatnya ada tebaran asap merah menutupi pemandangan. Lalu telinganya mendengar suara orang meracau seperti membaca mantera.

"Aku ingat betul. Makhluk Pembawa Bala menghantamku dengan tiba-tiba. Aku pingsan. Sekarang berada di mana diriku ini? Asap aneh apa di depanku itu. Siapa pula yang sedang membaca mantera?" Berbagai pertanyaan muncul dalam hati Pendekar 212. Perlahan-lahan sengatan hawa panas lenyap. Hawa sejuk kembali muncul di sekitar dada. Tapi tidak lama karena hawa sejuk ini bergerak mengalir menuju ke atas, naik ke kepala Wiro mengarah pipi kanannya yang saat itu bengkak besar hingga matanya hampir tertutup. Di sebelah dalam ada bagian tulang pipinya yang retak.

Wiro merasa kepalanya seperti dipanggang ketika tiba-tiba hawa sejuk lenyap berganti dengan hawa panas yang menghantam laksana sambaran petir. Kalau saja dirinya tidak tertotok saat itu niscaya jeritannya setinggi langit.

"Gila! Apa yang terjadi dengan diriku! Siapa yang punya pekerjaan ini?!" rutuk Pendekar 212 dalam hati.

Ketika hawa panas hilang berganti dengan hawa sejuk Wiro merasakan sakit di kepalanya lenyap, bengkak besar di mukanya sebelah kanan telah berkurang walau matanya masih agak menggembung.

"Ada seseorang mengobati diriku. Siapa...?" Wiro berusaha membalikkan badan dan memutar kepala tapi tidak mampu karena dirinya masih berada dalam keadaan tertotok.

Pada saat itulah tiba-tiba murid Sinto Gendeng mendengar suara halus seperti nyamuk mengiang di telinganya.

"Ada orang sakti menyampaikan sesuatu padaku..." ujar Wiro dalam hati.

"Anak muda... Sebentar lagi asap merah di depanmu akan pupus. Kau akan melihat seorang memakai caping di kepalanya, mengenakan jubah kotor tegak beberapa langkah di depanmu. Kau harus membunuh manusia itu. Pergunakan ilmu kesaktianmu yang paling hebat. Kau harus mampu membunuhnya dengan sekali menghantam. Kalau tidak kau dan juga aku akan celaka besar!"

Wiro hendak menjawab tapi tak mampu. Sesuai petunjuk yang didengarnya murid Sinto Gendeng ini segera salurkan tenaga dalamnya ke tangan kiri dan tangan kanan. Saat itu juga sepasang lengannya sampai ke ujung kuku berubah menjadi seputih perak. Ini satu pertanda bahwa Pendekar 212 siap melancarkan pukulan "Sinar Matahari" dengan tenaga dalam penuh!

"Tua bangka keparat!" tiba-tiba. Wiro mendengar suara orang membentak. "Apa kau sudah mendapat petunjuk?! Aku sudah tidak sabaran! Aku punya firasat kau hendak menipuku! Lebih baik kau kubunuh saat ini juga!"

"Kalau kau bersabar sedikit lagi, aku segera mendapat petunjuk. Di hadapanku sudah terlihat sesuatu. Aku akan mengatakan padamu apa yang aku lihat. Aku melihat seorang nenek dengan wajah seseram setan. Di kepalanya ada satu mahkota memancarkan sinar kehijauan. Di tangan kanannya dia memegang sebuah tongkat besi berwarna kuning. Aku lihat dia berucap mengatakan sesuatu. Aku dengar dia mengatakan... mengatakan..."

"Mengatakan apa?!" sentak Makhluk Pembawa Bala.

Saat itu asap merah bubuk batu merah perlahan-lahan mulai menipis. Seperti yang dikatakan ngiangan suara di telinganya, walau dengan sudut matanya Wiro dapat melihat sesosok tubuh berdiri beberapa langkah di hadapannya. Orang ini memakai caping di kepalanya, mengenakan sehelai jubah butut. Tangan dan mukanya mengerikan karena dipenuhi cacar air bernanah dan menebar bau busuk.

"Makhluk Pembawa Bala!" kata Wiro dalam hati.

Amarah langsung naik ke kepalanya. "Aku sudah menduga..." Maka Pendekar 212 segera kerahkan seluruh tenaga dalamnya pada tangan kanan kiri.

"Nenek bermuka setan mengatakan..." kembali terdengar suara Raja Obat sambil tangan kirinya dengan cepat bergerak ke arah punggung dan pangkal leher Pendekar 212. "Nenek itu mengatakan siapa yang ingin mengetahui dimana tersembunyinya Kitab Putih Wasiat Dewa maka dia harus mendengarkan dengan telinga terpentang dan mata terpejam. Makhluk Pembawa Bala harap kau buka telingamu baik-baik dan pejamkan kedua matamu!"

Makhluk Pembawa Bala yang tegak beberapa langkah dari hadapan si Raja Obat segera pasang telinga baik-baik. Ketika dia hendak memejamkan mata, di balik asap merah yang semakin menipis tiba-tiba dia melihat sosok tubuh Pendekar 212. Lalu pandangannya membentur wajah si pemuda dan samar-samar melihat sepasang mata Wiro yang terbuka.

"Eh... Pemuda itu bukankah dia tadi sudah mati...?!" Makhluk Pembawa Bala angkat tangan kanannya dan maju selangkah. "Jahanam! Tua bangka keparat! Kau menipuku!" teriak Makhluk Pembawa Bala marah. Tangan kanannya dihantamkan pada Raja Obat. Justru pada saat itu pula sosok Pendekar 212 melompat ke hadapannya. Dari jarak hanya tiga langkah murid Sinto Gendeng lepaskan pukulan "Sinar Matahari" dengan tangan kiri kanan. Dua larik sinar panas menyilaukan berkiblat.

Suara Jeritan Makhluk Pembawa Bala tenggelam oleh gemuruh dua pukulan "Sinar Matahari" yang menghantam dirinya. Tubuh orang ini mencelat ke udara dalam keadaan cerai berai, hangus dan mengepulkan bau menggidikkan!

Sepasang kaki yang hancur hangus melesat ke timur. Potongan badan dengan isi perut berbusaian mencelat ke barat. Dua tangan terlepas entah kemana. Bagian dada dan kepala yang hancur melesat ke utara ke arah lautan lepas!

Di tengah laut selatan yang saat itu ombaknya mulai besar akibat tiupan angin kencang dari utara, sebuah jukung kelihatan meluncur pesat membelah ombak. Perahu kecil ini ditumpangi oleh seorang nenek berdandan aneh yang mengingatkan kita pada Iblis Tua Ratu Pesolek. Meskipun sudah tua keriputan namun si nenek berdandan mencorong. Bibir dan pipi dicat merah. Bedak putih kekuningan hampir setebal dempul menutupi wajahnya. Sepasang alis hitam mencuat ke atas. Sanggulnya rapi dan bagus. Dia mengenakan sehelai baju panjang berwarna hitam dengan bunga-bunga putih. Selagi enak-enak di dalam perahu yang dihantam gelombang itu tiba-tiba dia melihat satu benda melayang di udara.

"Burung bukan, kampret juga bukan! Makhluk apa yang melayang itu...?" si nenek membatin seraya berdiri tegak di atas jukung dan terus mendongak memperhatikan benda yang melayang di udara. Alisnya yang mencuat mengernyit. Dia tidak dapat memastikan benda apa itu adanya. "Tak puas kalau aku tidak tahu benda apa yang melayang itu!" katanya dalam hati. Ketika benda di udara hampir lewat di atas kepalanya, si nenek angkat tangan kanannya. Terjadilah satu hal yang hebat. Benda yang melayang di udara seolah-olah tertahan. Ketika si nenek memutar-mutarkan tangannya benda itu ikut berputar.

Begitu si nenek gerakkan tangannya perlahan-lahan ke bawah, benda yang di udara seolah-olah tersedot ikut tertarik ke bawah. Sesaat kemudian "braakkk!" Benda itu jatuh bergedebuk di lantai perahu di hadapan si nenek. Bau busuk bercampur bau sangitnya daging yang terpanggang melanda hidungnya.

Sepasang mata perempuan tua berdandan mencorong itu mendelik besar. Yang dilihatnya saat itu adalah potongan tubuh manusia mulai dari dada sampai ke kepala dalam keadaan terpanggang hangus mengerikan!

"Oo ladalah! Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan pemandangan begini rupa! Manusia atau binatang yang menggeletak di hadapanku ini?" ujar si nenek. Sambil menekap hidungnya dia coba meneliti lalu geleng-gelengkan kepala. "Tak bisa kukenali..." katanya. "Aku tak mau ketumpangan makhluk busuk seperti ini. Pergilah!"

Sekali kaki kirinya menendang maka potongan tubuh dan kepala yang mengerikan itu, yang bukan lain adalah potongan tubuh dan kepala Makhluk Pembawa Bala mencelat mental sampai beberapa tombak dan jatuh ke dalam laut, dilamun ombak dan amblas tenggelam tak kelihatan lagi.

***

BAB VIIIPENDEKAR 212 jatuhkan diri ke atas batu datar merah. Berlutut dengan dada turun naik. Wajahnya yang masih bengkak tampak agak pucat. Perlahan-lahan dia duduk bersila, atur jalan napas, darah dan tenaga dalam. Ketika dia berpaling ke kiri pandangannya membentur orang tua bermuka biru itu. Wiro segera bangkit berdiri, melangkah mendekati lalu berlutut di hadapannya. Untuk beberapa lamanya dia memandangi wajah berbelang biru, rambut, janggut dan kumis panjang memutih itu.

"Orang tua, aku berterima kasih padamu. Kalau tidak dengan pertolonganmu aku pasti sudah menemui ajal di tangan Makhluk Pembawa Bala itu. Aku berhutang budi dan nyawa padamu dan tak tahu bagaimana harus membalasnya..." Wiro membungkuk hormat sampai tiga kali.

"Makhluk Pembawa Bala itu memang jahat busuk, ganas dan licik. Sejak satu tahun belakangan ini dia malang melintang di laut selatan. Pasti ada sesuatu yang dicarinya. Sekaligus menunggu seseorang untuk dibunuh... Mungkin sekali ada yang menyuruhnya."

"Pasti diriku yang diarahnya. Siapa yang menyuruhnya apakah kau tahu orangnya?" tanya Wiro. Yang ditanya menggeleng.

"Ada permusuhan apa antara kau dengan dirinya hingga dia inginkan nyawamu?!"

"Aku tidak tahu. Dua kali dia menghadangku di tengah lautan. Aku berhasil lolos. Kali yang ketiga dia memuslihati diriku dengan menyamar menjadi..."

Si orang tua tersenyum. "Dia menyamar menyerupaiku dan berhasil mengelabuimu..."

"Sekali lagi aku berterima kasih atas pertolonganmu," kata Wiro pula.

"Pertolonganku belum selesai. Putar dudukmu. Hadapkan punggungmu ke arahku..."

Walau tidak mengerti apa maksud orang tua itu namun Wiro memutar duduknya membelakangi. Pada saat itulah tanpa suara dan tanpa disadari oleh Wiro tiba-tiba orang tua di belakangnya mengangkat tangan kanan dan menghantam punggungnya.

"Bukkk!"

Wiro Sableng menjerit keras. Tubuhnya mencelat sampai satu tombak, terbanting menelungkup di atas batu merah. Punggungnya laksana hancur luluh. Bersamaan dengan teriakannya tadi dari mulutnya menyembur darah hitam berbuku-buku. Wiro mencoba bangkit..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.81.71.31
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia