Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DINEGERI SAKURA/JEPANG

ANGIN dari danau Biwa bertiup dingin. Permukaan air danau tampak bergelombang lembut. Desa Hikone yang terletak di tepi danau di selimuti kesunyian walau malam belum sepenuhnya datang karena di timur masih kelihatan sembulan sang surya memancarkan sinar kuning kemerah-merahan.
Sejak beberapa waktu belakangan ini suasana di desa itu memang kurang tenang. Penduduk merasa takut oleh kemunculan sekelompok penjahat pimpinan Numazu yang kabarnya kini berada di sekitar desa.

Karena itu, ketika terdengar derap kaki kuda menebus kesunyian dari arah selatan, penduduk desa yang sedang dilanda ketakutan itu serta mereka mengunci pintu dan memeriksa jendela rumah.

Orang-orang lelaki bersiap-siap dengan senjata masing-masing. Menunggu penuh waspada. Para istri dan anak-anak disembunyikan di tempat yang aman. Lalu beberapa orang lelaki coba mengintai lewat lobang-lobang kecil yang mereka buat di dinding.

Di bawah paduan sinar kuning kemerahan matahari yang hampir tenggelam dan kegelapan malam yang segera datang membawa suasana serba hitam, beberapa penduduk melihat ada tiga orang penunggang kuda bergerak cepat ke arah danau sebelah utara. Di sini terletak sebuah gedung besar milik saudagar muda terkenal dengan nama Yamada. Ketiga orang tadi ternyata bukan rombongan penjahat yang ditakuti itu. Dari pakaian serta topi yang mereka kenakan ketiganya mudah dikenali sebagai prajurit-prajurit shogun.

Begitu ketiga penunggang sampai di pintu gerbang. Empat Orang pengawal cepat bergerak dan menunggu waspada. Karena pintu gerbang tertutup, mereka belum tahu siapa yang datang. Sesaat kemudian terdengar pintu kayu setinggi dua tombak itu diketuk orang dengan gagang senjata.

"Buka pintu! kami utusan keluarga shogun datang untuk menemui saudagar kano Yamada!".

Setelah tahu siapa yang datang dua orang pengawal segera membuka palang pintu gerbang. Dua lainnya cepat membukakan pintu. Karena pihak yang datang lebih tinggi kedudukannya dari pada pengawal yang ada di gedung itu maka ke empat pengawal menjura dalam-dalam memberi hormat.

"Para tamu silahkan turun dari kuda. Kami akan memberitahukan majikan kami." Berkata salah seorang pengawal lalu cepat-cepat dia masuk ke dalam gedung sementara tiga kawannya sibuk mencari tambatan bagi ketiga ekor kuda para prajurit shogun itu.

Tak lama kemudian kelihatan lampu terang dinyalakan di salah satu bagian gedung. Setelah itu tampak pengawal yang tadi masuk bergegas keluar lalu memberitahu bahwa saudagar Kano Yamada segera siap menerima mereka.

"Ikuti kami ke ruang tamu," kata si pengawal. Tiga Prajurit shogun melangkah mengikuti pengawal tadi tanpa bicara barang sepatah pun. Lagak gaya mereka berjalan seolah gedung besar itu milik mereka bertiga.

Mereka harus menunggu cukup lama di ruangan tamu itu. Ini menyebabkan ketiganya menjadi jengkel. Wajah jengkel itu jelas terbaca oleh tuan rumah. Karenanya, begitu berada di ruangan tamu, hartawan Kano Yamada segera meminta maaf.

"Aku kurang enak badan. Mungkin masuk angin, barusan saja selesai di pijat. Harap maklum kalau kalian menunggu agak lama.....".

"Yamada-san tentu sudah tahu maksud kedatangan kami. Jadi kami merasa tidak perlu banyak bicara." Yang membuka mulut adalah prajurit berbadan gemuk dan gempal, bermata tak bisa diam, selalu bergerak liar kian ke mari. Dia meneruskan ucapannya.

"Perlu kami beritahu Kiuchi-san saat ini benar-benar habis kesabarannya. Kalau tidak memandang persahabatan antara orang-orang tua kedua belah pihak di masa lalu, bisa-bisa dia berbuat sesuatu yang tidak enak bagi keluarga di sini."

"Aku tahu, aku tahu ...." jawab Kano Yamada, saudagar muda baru berusia tiga puluhan tahun itu.

Seorang perempuan masuk ke dalam ruangan. Kano Yamada segera berkata, "Chieko, masuklah! Orang perempuan tidak pantas ikut mendengarkan pembicaraan orang laki-laki. Lagi pula ini...."

"Yamada-san, tidak usah menyuruh istrimu pergi. Biarkan dia di ruangan ini agar bisa mendengar semua pembicaraan...."

Saudagar Kano Yamada walaupun tidak senang terpaksa anggukkan kepala.

"Yamada-san, katakan kabar apa yang bisa kami sampaikan pada orang yang mengutus kami?".

"Kau dan kawan-kawanmu menjalankan tugas dengan baik," memuji Kano Yamada, sekadar untuk melunakkan hati para prajurit yang ada di hadapannya.

"Sayang sekali aku belum mendapat jalan keluar bagaimana bisa dengan segera membayar semua uang tuan Kiuchi..... Orang-orang dari perusahaan pelayaran tidak bersedia membayar ganti kerugian. Puluhan bal kain sutera serta ratusan barang-barang porselen yang kubeli di Cina tenggelam dalam pelayaran sebelum mencapai pelabuhan Osaka hanya akan jadi barang-barang tak berguna... Padahal dengan hasil penjualan barang-barang itu aku berniat melunasi semua pinjamanku pada Kiuchi-san....."

"Cerita seperti itu sudah kami dengar dua minggu lalu. Kami datang ke sini bukan untuk mendengar cerita yang sama. Tapi untuk meminta uang majikan kami yang kau pinjam untuk modal dagangan bulan lalu. Sesuai perjanjian kau akan mengembalikan pada awal bulan keempat. Sekarang sudah dua bulan lewat..."

"Apakah sudah kalian sampaikan pada majikan kalian bahwa aku bersedia membayar bunga tinggi untuk keterlambatan pembayaran hutang itu?"

"Tentu saja sudah!".

"Apa jawab Kiuchi-san?" tanya Kano Yamada. "Dia tidak perlu segala macam bunga. Tapi minta uangnya! Seluruhnya! Kalau tidak, ia akan menyeretmu ke penjara!"

Mendengar ancaman itu, Chieko istri Kano Yamada segera membuka mulut. "Jangan lakukan itu, Saya mohon disampaikan pada majikan kalian agar berbelas hati pada suami Saya. Kami akan meminjam uang dan membayar semua hutang itu......."

Kano Yamada membalikkan tubuhnya, memandang dengan mata membelalak pada istrinya.

"Chieko! Kau tahu kita sudah mencoba dan tak ada orang mau memberi pinjaman....." Pada perajurit yang ada di hadapannya Kano Yamada segera berkata. "Maafkan kata-kata istriku tadi....."

"Jadi kau sudah siap untuk masuk penjara?" tanya si prajurit pula. "Aku sudah meminta waktu untuk menghadap tuan Yasuaki Kiuchi......"

"Dia tidak sudi menerimamu. Kecuali..... ini satu-satunya jalan keluar bagimu. Kau menyerahkan anak perempuanmu yang masih bayi itu untuk di jodohkan dengan puteranya yang juga saat ini masih bayi."

"Aku tidak bisa melakukan hal itu. Aku sudah katakan alasanku padamu."

Prajurit di hadapan Kano Yamada menyeringai lalu berkata, "Kau sudah diberi bukan saja kesempatan tapi juga kehormatan! Kurasa tidak ada manusia setololmu di atas dunia ini......"

Mendengar kata-kata itu Kano Yamada menjadi merah mukanya. Dengan suara bergetar menahan marah dia berkata. "Kau kemari untuk menjalankan tugas, bukan untuk menghinaku! Keluar dari gedung ini! Sampaikan pada Kiuchi-san. Aku akan membayar hutangku, kalau perlu dengan darah dan nyawaku! Katakan padanya aku tidak takut dijebloskan dalam penjara atau dikirim ke utara sebagai pekerja paksa tambang di pegunungan Kitami. Apapun yang terjadi aku tidak mungkin menyerahkan puteriku untuk jadi jodoh puteranya!"

"Aku tetap menganggap kau orang paling tolol Yamada-san!" kata si prajurit tadi dengan beraninya lalu memutar tubuh sambil memberi isyarat pada dua kawannya untuk meninggalkan tempat itu.

Namun sebelum dia sempat melangkah Kano Yamada telah menghadang jalannya dan "plak!" satu tamparan mendarat di pipi prajurit itu. Membuatnya terjajar nanar dan ada darah keluar dari sudut bibirnya yang pecah!.

Si prajurit berteriak keras dalam sakit dan marahnya. Dua kawannya ikut membentak. Prajurit yang kena tampar menghunus pedang yang tersisip di pinggangnya. Namun baru saja senjata itu keluar dari sarungnya, Kano Yamada mendahului menyerang. Tangan kanannya melesat ke depan. Pada saat jotosannya mendarat di dada si prajurit dengan telak, tangan kirinya cepat menyambar ke arah pergelangan tangan lawan.

Dalam satu gerakan kilat Kano Yamada yang kidal itu berhasil merampas pedang lalu ujung senjata ini ditekankannya ke bawah dagu orang. Melihat kawan mereka dipreteli begitu rupa, dua perajurit lainnya berteriak marah dan berusaha menyergap.

"Berani kalian mendekat kutembus tenggorokan manusia satu ini!" ancam Kano Yamada.

"Kano! Jangan lakukan itu!" seru Chieko. Tapi sang suami tidak peduli. Dengan tangan kanannya dicampakannya topi yang ada di kepala si prajurit, lalu dijambaknya rambutnya. Ujung pedang di tekankan sedikit hingga prajurit ini meringis kesakitan.

"Jatuhkan senjata kalian!" perintah Kano Yamada pada dua prajurit di hadapannya. Dua prajurit ini tampaknya ragu-ragu. Malah mereka melirik ke arah Chieko. Kano Yamada segera dapat membaca apa yang ada di dalam benak kedua prajurit shogun itu. Maka dia berkata dengan suara keras.

"Berani kalian mendekati istriku, kubunuh kawan kalian ini, aku tidak main-main!"

Kano Yamada kembali tekankan ujung pedang. Kini sedikit lebih keras. Prajurit yang dijambaknya mengeluh tinggi. Kulit dagunya terluka, darah mengalir turun membasahi pedang.

"Turut apa yang dikatakannya! Buang senjata kalian!" teriak si prajurit. Dua kawannya yang sadar tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya campakkan pedang masing-masing ke lantai.

"Putar tubuh kalian. Keluar dari ruangan ini!" perintah Kano Yamada selanjutnya. Ketika dua prajurit itu melakukan apa yang dikatakannya, Kano Yamada kemudian menyuruh prajurit di bawah ancamannya untuk melangkah ke arah pintu.

Keluar dari ruangan tamu Kano Yamada terus membawa prajurit itu sampai ke halaman depan gedung. "Naik ke atas kuda masing-masing! Jangan berani berbuat yang aku tidak senang!" Lalu dengan sekuat tenaga Kano Yamada mendorong prajurit itu hingga tersungkur ke tanah.

Malangnya, muka jatuh lebih dulu hingga lecet berkelukur. Beberapa orang pengawal gedung yang ada di situ hanya terkesima menyaksikan apa yang terjadi.

"Kano Yamada! Kau berani menjatuhkan tangan pada prajurit Shogun! Kau akan rasakan pembalasan dari kami!" gertak prajurit yang mukanya babak belur.

Kano Yamada masih tetap di tempatnya sampai tiga perajurit itu lenyap di kejauhan. Setelah mencampakkan pedang di tangan kirinya ke tanah, saudagar ini segera masuk ke dalam gedung.

Chieko Yamada mendatangi. Kedua suami istri ini segera masuk ke dalam kamar.

"Saya mau bicara dengan Kano...." Kata sang istri begitu masuk ke dalam kamar.

"Aku juga! Aku tak suka kau mencampuri urusan ini! Biar aku sendiri yang menyelesaikan urusan hutang piutang dengan Yasuaki Kiuchi."

"Mana bisa begitu. Kau suamiku. Apa yang menjadi persoalanmu menjadi urusan saya juga.

Kenyataannya sekarang bukan cuma menyangkut urusan hutang piutang. Tapi kini malah merembet pada diri anak kita Hatsuko. Kita harus menemui orang itu."

"Aku sudah berusaha tapi dia menolak!"

"Kalau begitu biar saya yang menemuinya...." kata Chieko Yamada pula.

Lama Kano Yamada memandangi istrinya itu. Lalu terdengar suaranya bertanya. "Apa yang ada dalam benakmu, Chieko? Aku tak bisa melupakan bagaimana hubunganmu dulu dengan Yasuaki Kiuchi!"

"Kau jangan terlalu bercemburu Kano. Dulu kami memang pernah menjalin hubungan cinta...."

"Dan pernah merencanakan untuk kawin...." sambung Kano Yamada.

"Betul, tapi itu dulu. Kenyataanya lain. Saya tidak kawin dengan dia. Kau kini menjadi suamiku..." potong Chieko.

"Kau menyesal menjadi istriku? Hemmmm.... Yasuaki Kiuchi. Manusia terpandang di negeri ini karena keluarga sangat dekat dengan Shogun yang berkuasa....."

"Saya tidak suka kau berkata begitu Kano. Sejak saya menjadi istrimu hanya kau satu-satunya laki-laki di hati saya."

"Mulutmu berucap begitu. Namun hatimu tak pernah bisa melupakan laki-laki itu........."

Chieko Yamada gelengkan kepalanya berulang-ulang. Perempuan ini seperti mau sesenggukan ketika berkata, "Dengar Kano. Saya berharap ada maksud bersih dan baik dari Yasuaki mau menjodohkan anak kita dengan putranya....."

"Mungkin saja. Karena dia tidak mendapatkan dirimu, lalu hubungan yang terputus disambung kembali dengan menjodohkan Hatsuko dengan putranya...."

"Saya tidak melihat ada yang salahnya hal itu. Hanya saja Hatsuko sudah kita jodohkan dengan putra keluarga Hideo Yukawa........"

"Seandainya tali perjodohan itu tidak ada, Kau tentu bersedia menjodohkan Hatsuko dengan anak lelaki Kiuchi."

"Saya tidak mengatakan begitu" Sahut Chieko.

"Lalu apa maksudmu menemui laki-laki itu?"

"Untuk menjernihkan suasana. Siapa tahu dia bisa mengerti keadaan kita yang belum mampu melunasi pinjaman dalam waktu dekat ini. Lalu sekaligus menerangkan bahwa Hatsuko telah kita jodohkan dengan Toshiro, anak keluarga Yukawa."

Kano Yamada menggeleng. "Tidak," Katanya. "Aku tidak mengizinkan kau menemui laki-laki itu.

Aku memilih penjara untuk masalah hutang itu. Dan aku memilih mati jika ada orang lain menyentuh anakku, apabila mengambilnya!"

"Kano, kau tahu saat malapetaka telah terjadi atas diri Yasuaki. Pikirannya terganggu, tingkah lakunya tampak aneh sejak dia menderita sakit panas selama dua minggu akibat patukan ular berbisa di hutan Kiso beberapa bulan lalu....."

"Dia memang tampak aneh. Katakanlah tidak waras. Tapi apakah dia tidak memandang hormat padamu hingga mengancam hendak memenjarakanku dan memaksa mengambil Hatsuko sebagai jodoh puteranya?"

"Itulah sebab saya harus menemuinya. Saya yakin jika saya bisa bicara dengan dia, semua persoalan bisa diselesaikan dengan baik. Saya tidak ingin kehilangan kalian berdua. kau dan Hatsuko....."

Chieko lalu memeluk suaminya dengan erat-erat. Kano Yamada balas merangkul. Di kamar sebelah terdengar suara bayi menangis. Dua suami istri ini lepaskan pelukannya masing-masing lalu bergegas menuju ke kamar itu. Seorang pelayan tampak mendukung bayi kecil berpipi merah sambil menepuk-nepuk halus punggungnya hingga bayi terdiam dan tidur kembali.

"Biar saya mendukungnya sebentar...." Kata Chieko sambil mengulurkan tangan untuk mengendong puteri kecil anak pertamanya itu. Si bayi segera saja tertidur lelap dalam dukungan sang ibu. Setelah yakin bayinya tidak akan bangun dan menangis lagi, Chieko Yamada membaringkan anak itu di dalam sebuah tempat tidur kecil yang hangat.

Kano Yamada tertegun di ujung tebing. Puluhan kaki di bawahnya membentang laut Jepang yang ganas. Ujung-ujung runcing batu karang menyembul di permukaan laut. Mengerikan. Dia tak bisa lari lagi. Tak mungkin terjun ke laut karena sama saja bunuh diri. Tapi dia juga tidak bisa mencari jalan lain.

Di hadapannya saat itu sepasang harimau kumbang hitam mengerang keras. Gigi-gigi bintang ini menggidikkan. Harimau kumbang yang betina kelihatan berselemotan darah mulutnya. Itu adalah darahnya sendiri. Binatang ini sempat mencakar dadanya dan menerkam bahunya. Si betina ini lebih garang dari si jantan. Pakaian Kano Yamada basah oleh keringat dan darah!

Dada Kano Yamada naik turun. Dia tahu dia tak bakal lolos dari kematian. Tangan kanannya yang basah oleh darah dan keringat terasa licin digagang samurai yang digenggamnya. Pedang itu! Ini satu-satunya tuan penyelamatnya. Kalau dia mampu membunuh dua ekor harimau kumbang itu, sangggupkah dia?

Harimau kumbang betina mengaum keras. Dia sudah mencium darah calon mangsanya. Ini agaknya yang membuatnya jadi lebih beringas. Tiba-tiba binatang ini melompat menerkam. Kano Yamada berteriak keras. Samurai di tangannya menderu ke atas, menyongsong terkaman harimau betina.

Tapi celakanya harimau jantan telah menyergap pula. Walau Kano Yamada berhasil membabatkan senjatanya di pertengahan dada harimau kumbang betina sehingga bintang ini meraung keras dan darah memancur dari dadanya yang terkoyak, serangan harimau kumbang jantan tak dapat dihindari.

Dua cakar kaki depan mengoyak perut dan dadanya. Kano Yamada menjerit setinggi langit. Dalam keadaan mandi darah tubuhnya terpental dari ujung tebing batu, melayang jatuh ke bawah. Ombak laut Jepang berdebur dengan dahsyat. Batu-batu runcing siap menyambut tubuh Kano Yamada.

Lelaki ini berteriak sekali lagi. Lebih keras dan lebih menggidikkan dari teriakan pertamanya tadi.

Kano Yamada terduduk di atas ranjang. Pakaian tidurnya basah oleh keringat. Dadanya terasa sesak dan nafasnya memburu.

"Mengerikan sekali mimpiku...." kata lelaki ini sampai menyeka wajahnya yang basah dengan ujung baju. Dia memandang ke samping. Sesaat dia merasa heran. Chieko tak ada di sampingnya.

Mungkin dia keluar kamar, membuang hajat kecil atau mengambil air minum. Atau ke kamar putri mereka di sebelah. Kano Yamada menunggu sebentar.

"Chieko...." Lelaki ini memanggil, satu kali. Dua kali, Kali yang ketiga dia melompat turun dari atas ranjang rendah itu. Seluruh ruangan diperiksanya. Chieko tidak diketemukan, Kano Yamada masuk ke kamar tidur puterinya. Anak itu dilihatnya tertidur nyenyak dalam ranjang kecilnya sementara pelayan tidur di atas tatami (alas lantai berbentuk kotak-kotak).

"Aneh, ke mana perginya perempuan itu....?" Pikir Kano Yamada sambil melangkah masuk ke dalam kamar tidur kembali. Dia memandang seputar kamar. Baju tebal milik istrinya yang sebelumnya tergantung di sudut kamar ini tidak ada lagi. Hati Kano Yamada berdetak.

"Jangan-jangan...." Setengah berlari lelaki ini keluar dari kamar, terus ke bagian belakang gedung.

Di sini ada sebuah kandang kuda. Ketika kandang diperiksanya, debaran di hati Kano Yamada menjadi semakin keras. Detak jantungnya seolah menggemuruh.

"Chieko...." desisnya. "Dia pasti ke otsu! pasti! Nekad sekali perempuan itu!" Di kandang itu seharusnya ada dua ekor kuda. Miliknya dan milik istrinya. Kuda milik istrinya ternyata tidak ada.

Kano Yamada berteriak memanggil pengawal. Setengah lusin pengawal gedung segera menghambur datang.

"Istriku tak ada dalam gedung! Kudanya juga tidak ada di kandang! Siapa di antara kalian tahu di mana istriku berada?! Atau pergi ke mana dia?! Jangan ada yang berani dusta!"

Pegawal paling depan kelihatan takut-takut mau bicara. Tapi salah seorang kawannya mendorong-dorong punggungnya sambil berbisik. "Lekas katakan saja sebelum Tuan Yamada marah...."

"Hmm... benar rupanya ada yang tidak beres," kata Kano Yamada dalam hati. Lalu diapun berteriak marah. "Kalau tidak ada yang berani bicara satu persatu aku robek mulut kalian!"

"Tuan," pengawal paling depan akhirnya berkata juga. "Beberapa waktu lalu nyonya meninggalkan gedung. Dia memerintahkan kami membuka pintu gerbang. Sebelum dia pergi kami sempat bertanya mau ke mana malam-malam begini. Sendirian pula. Istri tuan tidak menjawab, malah memerintahkan agar kami cepat menutup pintu. Dia juga menolak untuk kami kawal. Ketika kami katakan hendak memberitahukan tuan, dia marah besar, Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami melihat sikap nyonya aneh sekali malam ini."

"Kalian pengawal tidak becus! Tolol! Walau dia melarang tapi kalian punya kewajiban memberitahu!" teriak Kano Yamada. Kaki kanannya dihentakkan hingga tanah yang dipijaknya melesat ke bawah.

Habis membanting kaki begitu, Kano Yamada berkata. "Salah seorang dari kalian lekas siapkan kudaku! Aku harus mencari dan mengejarnya sekarang juga!"

"Kalau begitu biar kami ikut!"

"Aku tidak perlu manusia-manusia tolol seperti kalian!" damprat Kano Yamada, lalu masuk ke dalam untuk berganti pakaian.

Ketika keluar dia telah mengenakan pakaian ringkas. Sebilah Katana (pedang panjang khas Jepang) tergantung di belakang punggungnya. Sesaat kedua kakinya menuruni tangga gedung tiba-tiba udara yang tadinya sunyi tenang berubah. Suara tiupan angin mula-mula terdengar seperti suara seruling lalu berubah menjadi gemuruh yang menakutkan. Pohon-pohon besar yang tumbuh di sekeliling gedung berderik-derik seperti mau tumbang. Daun-daunnya gugur berhamburan.

"Badai!" teriak seorang pengawal sambil berpegangan pada sebuah pilar batu.

"Tuan Yamada sebaiknya jangan pergi dulu!" menasihatkan seorang pengawal.

Kano Yamada mana mau perduli. Terseok-seok karena tubuhnya diterpa angin, lelaki ini melangkah mendekati kudanya yang dipegang dua orang pengawal. Binatang ini meringkik keras beberapa kali. Belum sempat Kano Yamada naik ke punggungnya, tiba-tiba kuda ini menghambur lari.

"Binatang jahanam!" teriak Kano Yamada marah. Dia coba mengejar tapi tubuhnya limbung. Satu putaran angin menghantamnya dengan keras hingga dia tak kuasa bertahan dan terhampar ke tanah.

Dua orang pengawal segera menolongnya dan membawanya masuk ke dalam rumah.

"Tangkap kuda itu. Atau carikan kuda lain!" perintah Kano Yamada pada para pengawal yang ada di sekelilingnya.

Seorang pengawal berusia agak lanjut berkata. "Tuan Yamada lebih baik suka bersabar sedikit. Kuda itu telah menjadi liar Tak mungkin ditangkap. Kalaupun bisa sangat berbahaya bagi tuan menungganginya. Mencari kuda lain sama sulitnya dengan menangkap kuda itu..."

Kano Yamada hendak membentak. Namun akhirnya dia hanya bisa menghenyakkan tubuhnya di atas sebuah kursi kayu. Di luar tiupan angin semakin dahsyat. Badai tambah menggila.

"Chieko! Kamu manusia nekad! Mengapa kau melakukan semua ini!" kata Kano Yamada sambil menutup kedua telapak tangannya ke wajahnya. Terbayang wajah istrinya. Terbayang pula wajah merah Hatsuko putrinya. Lalu muncul tampang Yasuaki Kiuchi. Dengan tangan kanannya entah sadar entah tidak, Kano Yamada tiba-tiba menghantam lengan kursi. "Krakkk!" Lengan kursi itu hancur berantakan. Wajahnya tampak beringas. "Aku harus pergi! Persetan dengan badai! Persetan dengan kuda itu! Aku bisa jalan kaki!"

Kano Yamada melompat ke pintu. "Tuan!" seru dua orang pengawal. Kawannya yang tegak dekat pintu berusaha menghalangi tapi serta merta kena sikut Kano Yamada hingga orang ini mengeluh tinggi dan terbanting ke dinding ruangan.

Dalam gelapnya malam, di bawah badai besar itu Kano Yamada melangkah terhuyung-huyung menahan kencangnya angin yang menyambar dari depan, menghantam dari samping atau dari belakang. Para pengawal yang melihat kejadian itu sesaat hanya bisa berdiri melongo. Namun tiga orang diantara mereka akhirnya memutuskan untuk mengikuti tuan mereka. Salah seorang dari ketiganya berteriak tiada henti, berusaha membujuk sambil mengingatkan.

"Tuan Yamada! Kembali! Terlalu berbahaya menempuh badai seperti ini! Kembali tuan Yamada!"

Kano Yamada tidak perduli. Dia melangkah terus. Badai bertambah dahsyat ketika hujan mulai turun.

"Tuan Yamada! Ingat putrimu Hatsuko," teriak pengawal satunya. Sesaat langkah Kano Yamada tertahan. Tetapi di lain saat lelaki ini lanjutkan perjalanannya. Kedua tangannya dikepalkan kencang-kencang.

Di dalam gedung kediamannya yang besar dan mewah di kota Otsu, Yasuaki Kiuchi duduk di atas kasur tebal empuk didampingi oleh dua selirnya yang masih muda-muda dan cantik. Kepalanya diletakkan di pangkuan salah satu selir, sementara selir satunya memegang sebuah piala perak berisi sake. Di dekat pembaringan terhidang berbagai macam makanan dan buah-buahan. Lalu sepuluh langkah di hadapannya duduk seorang gadis memetik koto (harpa), sebuah peralatan musik memiliki 13 jalur senar dan diletakkan di lantai.

Antara gadis pemetik koto dengan Yasuaki Kiuchi ada seorang gadis penari yang menari mengikuti irama koto dengan gerakan lemah gemulai. Kimono yang melilit ditubuhnya terbuat dari jenis kain yang demikian tipisnya hingga lekuk tubuh gadis ini membayang dengan jelas. Keadaan Yasuaki Kiuchi yang konon masih saudara sepupu Shogun yang berkuasa pada masa itu tidak beda seperti kaisar kecil saja.

Saat itu dia sudah setengah mabuk karena terlalu banyak meneguk sake. Mukanya yang bulat dan selalu berkeringat kelihatan merah. Sekali-sekali dia menyeringai sambil salah satu tangannya mengusap paha selir yang duduk di sebelahnya. Di luar gedung hujan turun dengan lebat. Badai masih bersabung di wilayah utara. Deru angin terdengar menggidikan.

Ketika sedang asyiknya Yasuaki Kiuchi menikmati tarian masuklah seorang pembantu. Merasa terganggu Yasuaki Kiuchi berteriak marah. Selagi pembantu itu menjura, dia mengambil piala perak berisi sake dari tangan selirnya lalu melemparkannya ke arah si pembantu.

Si pembantu yang tahu gelagat, walau bisa mengelak tapi tak berani melakukan. Kalau dia mengelakkan lemparan piala perak itu sang majikan akan meradang seperti beruang terluka! Maka dia diam saja menunggu sampai terdengar suara "buk!" Piala menghantam dadanya. Dia mengernyit menahan sakit, tak berani berteriak. Diam-diam dia merasa beruntung karena mengetahui bahwa Yasuaki Kiuchi melemparkan tempat minum perak itu tanpa menggunakan tenaga dalam. Kalau sampai dia mengisi piala dengan menggunakan tenaga dalam, niscaya saat itu dia sudah muntah darah dan sekarat!

"Maafkan saya Tuan Kiuchi! Kesalahan dan dosa yang besar mengganggumu. Tapi ada seorang tamu datang dari jauh..."

"Heh.....?" amarah Yasuaki Kiuchi agak mereda oleh rasa heran. Dia mendongak pada selir yang memangku kepalanya lalu membelai pipi perempuan ini.

"Di luar hujan turun lebat. Di utara aku yakin ada badai mengamuk. Lalu tiba-tiba saja di malam buta buruk cuaca begini ada tamu mencariku! Kuharap saja bukan bangsa setan atau roh halus dari gunung hantu!" habis berkata begitu Yasuaki Kiuchi tertawa gelak-gelak lalu meneguk sake langsung dari sebuah guci kecil. Sambil menyeka mulutnya dengan belakang tangan, mata merahnya memandang pada si pembantu. "Kau sudah tahu siapa adanya tamu itu?!"

"Dia seorang perempuan...."

"Apa?!" Yasuaki Kiuchi bangkit dari berbaringannya, duduk di atas kasur, memandang tak berkedip pada si pembantu.

"Tamunya seorang perempuan. Katanya dari desa Hikone. Namanya Nyonya Muda Chieko Yamada......."

Mendengar keterangan si pembantu langsung saja Yasuaki Kiuchi melompat dari duduknya. "Di mana dia sekarang?"

"Menunggu di ruangan tamu tuan Kiuchi. Sekujur tubuh dan pakaiannya basah kuyup....."

Yasuaki Kiuchi tidak menunggu sampai si pembantu selesai berucap. Dia bergegas menuju ruangan tamu. Dua selir dan si pembantu mengikuti dari belakang. Gadis pemain koto hentikan petikan dan gadis penari juga ikut berhenti menari.

Begitu membuka pintu dorongan ruangan tamu, Yasuaki Kiuchi tertegun melihat sosok yang ada didalam sana. "Jadi benar kau rupanya Chieko ....." desis Yasuaki Kiuchi. Dia berpaling ke belakang. Pada dua selirnya dia segera berkata "Kalian lekas pergi masuk ke kamar masing-masing!"

Setelah memperhatikan sejenak perempuan muda yang basah kuyup di ruangan itu, salah satu dari dua selir menjadi iri dan cemburu lalu bertanya "Siapakah perempuan itu yang rupanya sangat penting hingga kami berdua disuruh masuk dilupakan begitu saja?"

"Perempuan lancang tidak tahu diri!" bercarut Yasuaki Kiuchi dengan mata membelalak. "Berani kau berkata seperti itu?!" Melihat sikap Yasuaki Kiuchi, dua selir jadi takut dan cepat-cepat mengundurkan diri. Yasuaki berpaling pada si pembantu. "Lekas kau temui pelayan perempuan. Suruh Dia membawa kain pengering dan pakaian penyalin...."

Setelah si pembantu berlalu, Yasuaki Kiuchi masuk ke dalam ruangan. Untuk beberapa lamanya dia melangkah perputar mengelilingi Chieko Yamada yang tegak ditengah ruangan dalam keadaan basah kuyup.

"Chieko, ini bukan mimpi! Kau datang di malam buta ketika cuaca sangat buruk. Berbasah-basah datang dari jauh. Kau perlu mengeringkan badan, berganti pakaian dan berhangat-hangat dengan makanan panas dan minuman keras..."

"Saya berterima kasih atas kebaikanmu itu Kiuchi-San..."

"Panggil aku Yasuaki!"

"Waktu saya hanya sebentar. Saya akan segera pulang jika selesai bicara denganmu...."

"Ini rumahku! Siapa yang berada di dalamnya harus ikut apa yang aku punya mau!" kata Yasuaki Kiuchi pula dengan muka sesaat jadi galak.

Tak lama kemudian seorang pelayan perempuan datang membawa sehelai kain pengering dan pakaian untuk bersalin. "Bantu nyonya Yamada mengeringkan tubuh dan berganti pakaian," kata Yasuaki Kiuchi pada si pelayan lalu keluar kamar sambil menutup pintu.

Tapi begitu berada di luar kamar, dengan ujung jari kelingkingnya, lelaki ini menusuk dinding yang terbuat dari kertas hingga berlobang. Lewat lobang itu, dia mengintip saat-saat Chieko Yamada membuka pakaiannya yang basah, mengeringkan tubuhnya lalu mengenakan pakaian yang diberikan. Tenggorokan lelaki ini turun naik. Nafasnya memburu. Lidahnya berulang kali dijulurkan untuk membasahi bibirnya.

"Sudah selesai tuan Kiuchi," kata pelayan begitu keluar dari dalam kamar membawa pakaian basah.

"Kau boleh pergi. Beritahu semua orang agar tidak berada di sekitar sini..." kata Yasuaki Kiuchi pula pada pelayan perempuan itu, lalu masuk ke dalam ruangan di mana Chieko Yamada berada.

Sambil rangkapkan kedua tangannya di depan dada, Yasuaki Kiuchi menatap wajah dan tubuh Chieko tanpa berkedip sampai beberapa lamanya. "Kau datang di malam buta. Dalam cuaca buruk. Seorang diri. Jarang ada perempuan Jepang punya keberanian sepertimu. Apa kau datang mewakili suamimu untuk minta maaf karena telah berani menciderai perajurit Shogun yang aku kirimkan ke tempat kediamanmu? Mengapa dia berlaku pengecut tidak datang sendiri...?"

"Saya datang tidak setahu dia," menjelaskan Chieko.

"Oh, jadi maumu sendiri? Ini sungguh satu hal luar biasa! Mungkin kau tiba-tiba saja teringat masa mudamu dulu? Ketika kau menjalin cinta denganku. Lalu kau lenyap dan tahu-tahu kawin dengan Kano Yamada. Kau datang untuk minta maaf...?"

"Ada yang lebih penting dari masa lalu Yasuaki," kata Chieko pula. "Menyangkut hutang suami saya dan maksud hendak menjodohkan puteriku Hatsuko dengan puteramu."

"Soal hutang suamimu sudah jelas. Dia tidak sanggup membayar. Aku sudah mengatur orang untuk memperkarakannya dan menjebloskannya ke dalam penjara..."

"Jangan lakukan itu Yasuaki. Saya mohon kau suka memberi waktu..."

"Aku tak punya waktu lagi Chieko. Aku merasa suamimu sengaja menipu..."

"Usahanya benar-benar sedang ambruk. Mohon kau mau mengerti..."

"Bagaimana dengan urusan jodoh?" Yasuaki Kiuchi mengalihkan pembicaraan.

Dari dalam saku kimononya dia mengeluarkan sebuah botol pipih berisi minuman keras. Beberapa kali teguk saja minumannya itu ludas masuk ke dalam tenggorokan.

"Terus terang saja aku suka menjadi besan denganmu Yasuaki. Tapi Hatsuko sudah terlanjur diikat jodoh dengan Toshiro, putera keluarga Yukawa..."

Sepasang mata Yasuaki Kiuchi membeliak. Botol pipih yang dipegangnya dibantingkan ke lantai hingga pecah berkeping-keping. "Aku tahu keluarga Yukawa. Keluarga nelayan miskin yang hanya mampu mencari nafkah di danau Biwa! Dengan anak mereka puterimu kau jodohkan! Sungguh memalukan! Menolak ikatan jodoh dengan puteraku sama saja menghina diriku!"

"Yasuaki, harap kau mau mengerti. Kami telah terlanjur menjodohkan Hatsuko dan Toshiro. Kalau saja ikatan itu belum ada tentu saya dan suami merasa senang untuk menjodohkan Hatsuko dengan puteramu..."

"Chieko! Dua kali dengan ini kau menghinaku! Pertama waktu kau meninggalkan aku dan kawin dengan Kano! Kedua sekarang ini. Menolak ikatan jodoh! Padahal kau datang untuk mengemis untuk minta agar aku memberi kelonggaran atas hutang suamimu..."

"Saya tidak mengemis Yasuaki. Kalau kau tidak mau mempertimbangkan, Kano bersedia masuk penjara. Kalau perlu saya sekalian kau jebloskan!"

Yasuaki pandangi wajah Chieko beberapa saat lalu dia tertawa gelak-gelak sampai keluar air mata.

Namun sesaat kemudian dia berubah. Kalau tidak tertawa kini dia mulai sesenggukkan. Mula-mula perlahan lalu meraung keras.

"Yasuaki..." Panggil Chieko. Perempuan ini mulai merasa takut "Penyakit gilanya kumat... Aku harus segera meninggalkan tempat ini. Yang penting aku sudah bicara padanya..."

Pintu ruangan terbuka. Seorang pembantu dan dua orang perajurit Shogun masuk. "Kami mendengar tuan Kiuchi berteriak. Ada apakah? Apakah tuan baik-baik saja?" tanya salah seorang perajurit.

"Keluar!" teriak Yasuaki Kiuchi marah sekali sehingga ketiga orang itu putar tubuh dan tinggalkan ruangan ketakutan. Yasuaki bantingkan pintu dorong dengan keras.

"Aku minta diri..." ujar Chieko.

"Kau mau ke mana?" tanya Yasuaki sambil bersandar ke pintu. "Hikone jauh dari sini anakku menunggu." Yasuaki Kiuchi menyeringai aneh. Tiba-tiba kimono yang melekat di tubuhnya ditanggalkan. Chieko membuang muka kejurusan lain. "Tanggalkan pakaianmu Chieko..."

Chieko Yamada sepertinya mendengar petir menyambar di telinganya. "Yasuaki, kau sadar apa yang barusan kau katakan?"

"Aku bilang tanggalkan pakaianmu! Layani diriku malam ini! Hanya itu satu-satunya jalan menebus pengkhianatanmu dulu dan pengkhianatanmu kali ini!"

"Kau sakit Yasuaki...! Yasuaki yang aku kenal dulu tidak akan berlaku sekeji ini!"

Yasuaki Kiuchi tertawa mengekeh. "Aku memang sakit! Otakku! Hatiku! Jiwaku! Semua ini kau penyebabnya! Ditambah racun ular yang tidak bisa dikuras bersih dari otakku! Lengkap sudah derita sakitku! Malam ini derita sengsara itu akan kita bagi dua Chieko!"

Seperti seekor singa kelaparan Yasuaki Kiuchi menyergap perempuan itu. Chieko berusaha melawan tapi sia-sia belaka. Menjerit minta tolong pun tak ada gunanya karena tak ada yang berani datang ke tempat itu. "Aku lebih suka kau membunuhku dari pada menerima noda!" kata Chieko dalam keadaan terlentang tak berdaya di lantai, ditindih tubuh berat Yasuaki Kiuchi.

Yasuaki Kiuchi menyeringai. Dua tangannya bergerak merenggut tali kimono Chieko Yamada.

Perempuan itu kembali menjerit tapi suara jeritan semakin lemah lalu dia tak tahu lagi apa yang terjadi dengan dirinya. Di luar hujan menderu tambah lebat. Badai masih terus berkecamuk.

Hujan yang lebat dan badai yang masih menggila, ditambah malam begitu gelap membuat pemandangan mata hanya mampu menembus belasan langkah saja. Seorang pengawal yang berjalan di samping Kano Yamada tiba-tiba berteriak dengan mata melotot memandang ke depan.

"Tuan Yamada! Ada sesuatu mendatangi dari sebelah depan!"

"Aku sudah tahu," jawab Yamada datar. Dia memang sudah melihat ada sebuah benda mendatangi.

Karena hujan dan badai, dia masih belum dapat memastikan benda apa itu adanya. Namun dua telinganya mulai menangkap suara benda bergerak itu. Air hujan yang membasahi alisnya disekanya dan kedua matanya dibuka lebih lebar.

"Seekor kuda..." desis Kano. Dia mempercepat langkahnya. Mendadak saja hatinya yang sejak meninggalkan Hikone memang sudah gelisah kini menjadi tidak enak berlipat ganda. Sosok yang datang dari depan semakin dekat. Ternyata memang seekor kuda. Kelihatannya tidak berpenunggang.

Kuda sampai di hadapan Kano Yamada. Saudagar muda ini mengangkat tangannya memegang kepala kuda. Binatang ini hentikan langkahnya dan menjilati tangan lelaki itu seolah kenal. "Heh, ini kuda Chieko..." kata Kano dalam hati, ketika dia mengenali binatang itu. Justru pada saat itu pulalah dia melihat sesosok tubuh terbujur melintang diatas pelana. Kimono yang melekat di tubuh itu robek-robek tidak karuan rupa. Agaknya hanya ditutupkan begitu saja. Lalu Kano Yamada melihat rambut tergerai panjang basah kuyup mengucurkan air hujan di bagian bawahnya yang terjuntai. Kano Yamada membungkuk untuk memastikan agar dia bisa melihat wajah perempuan yang terbujur di pelana kuda itu. Lalu terdengar raungannya. "Chieko!!!"

Tiga orang yang menyertai Kano Yamada ikut berseru kaget. "Nyonya muda, apa yang terjadi denganmu?" salah seorang di antara mereka berucap dengan suara gemetar.

Di bawah hujan lebat dan badai yang masih mendera, Kano Yamada dibantu oleh tiga orang tadi turunkan sosok Chieko dari atas kuda. Mereka mencari tempat yang agak terlindung lalu membaringkan perempuan itu di sana.

"Chieko...! Chieko!" teriak Kano Yamada berulang kali. Ditepuknya wajah istrinya itu. Lalu diletakkannya telinga kirinya di atas dada. Deru hujan dan badai keras sekali. Dia tak dapat mendengar apakah jantung istrinya masih berdetak atau tidak.

Kano Yamada masih meletakkan telinganya di dada istrinya. Tiba-tiba matanya membesar. Dia melihat ada cairan merah di bagian perut Chieko yang mengalir ke tanah bersama air hujan. Darah!

Darah itu mengucur keluar dari bagian perut yang ditancapi sebilah tanto!

Raungan Kano Yamada seperti mengalahkan deru hujan dan badai. "Chieko! Apa yang terjadi denganmu?! Chieko!" Kano Yamada peluk tubuh istrinya erat-erat hingga pakaiannya ikut bersimbah darah. Tiga orang pengawal hanya bisa tertegun tak tahu mau berbuat apa.

"Chieko kau barusan dari mana? Siapa yang melakukan ini?! Chieko! Chiekoooooooo...! Jawab Chieko! Jangan diam saja!" Kano Yamada angkat kepalanya ketika dia merasa ada hembusan hawa keluar dari hidung istrinya. "Chieko...kau dengar aku Chieko..."

Dua mata Chieko terbuka. Tapi hanya sedikit lalu tertutup kembali. "Chieko katakan apa yang terjadi! Kau barusan pergi ke mana? Siapa yang melakukan kekejian ini?!"

"Ka... Kano. Bi... biar saya me... menerima nasib buruk ini..." keluar suara Chieko tersendat dan terputus-putus.

"Tidak! Aku harus tahu siapa yang menghinamu! Siapa yang membunuhmu! Bilang Chieko! Kau harus bilang!" Kano Yamada dekap tubuh istrinya erat-erat. Diciuminya wajah yang putih pucat dan basah oleh air hujan itu. "Chieko! Katakan Chieko..." bisik lelaki ini ke telinga istrinya.

"Kiuchi..." bisik Chieko antara terdengar dan tidak. "Yasuaki Kiuchi... Dia memperhinakan diri dan keluarga kita. Dia menodai saya..."

Sekujur tubuh Kano Yamada bergeletar. Darahnya seperti mendidih. Tulang-belulangnya laksana di panggang bara api. "Dia juga yang menusukmu dengan pisau ini...?"

"Tidak ...Se setelah dia menodai saya..., sa... saya merasa... tidak ada gu... gunanya lagi hidup ini. Sa... saya merampas senjata itu dari... se... seorang pengawalnya. Saya berusaha melakukan harakiri... Saya... Kano suamiku... Saya mohon kau jaga anak kita Hatsuko baik-baik..."

"Chieko! Chieko...!" Raungan Kano Yamada kembali menggelegar. Diguncangnya tubuh istrinya.

Tubuh itu tak bergerak lagi. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tak ada hawa hangat keluar dari saluran pernafasannya. "Chieko! Jangan mati Chieko! Jangan mati!" teriak Kano Yamada.

Lelaki ini tidak tahu berapa lama dia meratapi jenazah istrinya itu sampai suaranya menjadi serak.

Tiba-tiba seolah sadar dia hentikan ratapannya. Wajahnya kelihatan bengis. Perlahan-lahan dilepaskannya rangkulannya pada tubuh Chieko lalu berdiri. Ketika dia bergerak melangkah, salah seorang pengawal cepat bertanya.

"Tuan Yamada, kau mau kemana...?"

"Otsu! Aku akan membuat perhitungan dengan Yasuaki Kiuchi..." jawab Kano Yamada seraya menekan hulu pedang samurai yang tergantung di pinggangnya.

"Kami ikut dengan tuan!"

Kano Yamada gelengkan kepala. "Kalian kembali ke Hikone. Urus jenazah istriku! Jika dua hari aku tidak kembali, perabukan jenazah itu. Sebagian tebarkan di danau Biwa, sebagian lagi disimpan dalam cupu, letakkan di meja sembahyang rumahku..."

"Tapi tuan Yamada..."

"Srett!" Kano Yamada cabut samurainya. "Aku pergi. Jika aku tidak kembali bawa Hatsuko ke Nara. Dia punya seorang bibi keluarga istriku..." habis berkata begitu Kano Yamada putar tubuhnya lalu melangkah pergi. Sebentar saja bayangannya lenyap dalam kegelapan. Tiga orang pengawal tak bisa mencegah. Dengan hati-hati mereka mengangkat tubuh Chieko lalu meletakkannya di atas pelana.

Hujan telah berhenti. Badai sudah reda. Di antara tiupan angin yang masih bersisa keheningan pagi menyapu kota Otsu. Yasuaki Kiuchi tersentak dari tidurnya ketika sepasang telinganya mendengar suara dentrangan senjata di luar sana. Seorang selir yang menemani Yasuaki Kiuchi malam itu berusaha merangkulnya ketika dia hendak bangkit dan turun dari atas ranjang.

"Pagi masih dingin. Saya masih ingin melayani dan menghangati dirimu..."

"Ada sesuatu terjadi di luar..." jawab Yasuaki Kiuchi seraya menangkap dan menurunkan tangan perempuan yang hendak mengusap bagian bawah perutnya. Lelaki ini cepat-cepat mengenakan kimononya. Dia melangkah ke kamar sebelah. Lewat sebuah jendela yang disibakkan tirainya dia dapat melihat sebagian halaman depan. Dalam keremangan pagi disaksikannya seorang lelaki muda mengenakan kimono kuning bernoda darah dan basah kuyup mengamuk menghajar setengah lusin prajurit yang mengeroyoknya.

Keenam perajurit penjaga gedung itu tak kuasa membendung amukan lawan. Dalam beberapa kali gebrakan saja lima di antara mereka roboh bersimbah darah. Agaknya tamu berkepandaian tinggi itu sengaja tidak mau membunuh prajurit yang keenam. Sambil menekankan ujung samurainya ke dada si perajurit dia berkata. "Suruh keluar Yasuaki Kiuchi! Katakan aku Kano Yamada dari Hikone datang untuk mengambil nyawanya!"

Meskipun diancam kematian tapi orang berseragam prajurit Shogun itu menyeringai buruk dan mengejek. "Yamada, apa kau kira bisa lolos dari sini hidup-hidup?"

"Aku tidak minta kau bicara banyak! Lakukan apa yang aku perintah!" bentak Yamada.

Tapi prajurit di hadapannya malah meludah dan berkata. "Kalau kau punya nyali silahkan cari sendiri majikanku!"

"Kau memang manusia tidak berguna!" bentak Kano Yamada. Samurai di tangan kanannya menusuk ke depan. Prajurit itu hanya keluarkan seruan pendek. Ketika Kano Yamada menarik pedangnya si prajurit langsung roboh. Darah mancur dari perutnya yang ditembus pedang.

Dari balik jendela ruangan di tingkat atas Yasuaki Kiuchi menutupkan tirai kembali. "Kano Yamada..." desis lelaki ini. "Dia pasti sudah mengetahui apa yang terjadi dengan istrinya." Yasuaki keluar dari dalam ruangan yang terletak di tingkat dua bangunan itu. Dia masuk ke sebuah kamar di mana tersimpan berbagai macam senjata. Dia mengambil sebilah katana. Sebelum menuju ke halaman lebih dulu dia menarik sebuah genta tiga kali berturut-turut. Serta merta dari berbagai jurusan bangunan berhamburan keluar hampir dua puluh orang prajurit.

Pemimpin mereka seorang bertubuh besar, berkumis dan berjanggut meranggas melompat ke hadapan Yasuaki Kiuchi yang tegak di pintu dalam. "Gapo! Ada penjahat di pintu gerbang utara. Tangkap dia hidup-hidup!"

"Kalau memang penjahat mengapa dibiarkan hidup, tuan Kiuchi?" tanya Gapo seraya melintangkan golok besar di tangan kanannya. Pada masa itu rata-rata katana atau pedang samurai adalah senjata yang banyak dipergunakan orang. Namun manusia satu ini agaknya lebih suka mengandalkan golok besar yang dirampasnya dari seorang jago silat Cina yang pernah dipencundanginya.

"Keparat! Lakukan saja apa yang aku perintah! Jangan banyak tanya!" hardik Yasuaki Kiuchi mendelik. Si tinggi besar menjura lalu berkelebat pergi. Yasuaki Kiuchi dorong daun pintu di hadapannya lalu keluar menuju ke depan. Ketika dia sampai di luar, belasan prajurit di bawah pimpinan si tinggi besar tadi telah mengurung dan mengeroyok Kano Yamada.

Walaupun dia seorang pedagang, di masa mudanya Kano Yamada pernah belajar ilmu pedang dari seorang pandai. Samurai di tangan laki-laki yang kalap ini berkesiuran kian kemari. Empat orang perajurit Shogun terkapar di tanah. Dua lagi menjerit lalu roboh. Ketika samurai di tangan Kano Yamada merobohkan prajurit yang ketujuh, dari samping berkelebat sebilah golok besar memukul badan pedang samurai di tangan Kano Yamada. Daya pukul golok itu berat dan terasa sekali sehingga tangan Kano Yamada bergetar keras. Dia cepat membalik dan menghantam dengan senjatanya. Namun kuda-kudanya goyah.

"Tranggg!" Samurai di tangan Kano Yamada terlepas mental. Golok besar tadi datang membalik.

"Brettt!" Pakaian Kano Yamada robek besar di bagian perut. Dagingnya ikut tergores, membentuk luka memanjang. Walau tidak terlalu dalam namun tetap saja mengucurkan darah. Sambil menahan sakit penuh amarah dan nekad Kano Yamada melompati Gapo dengan tangan kosong. Yang diserang balikkan goloknya lalu dengan satu gerakan cepat hantamkan gagang golok ke kening lawan.

Kano Yamada merasa seperti melihat gunung meletus di depan matanya. Pemandangannya serta merta gelap dan kedua kakinya goyah. Tubuhnya tak ampuh lagi jatuh tergelimpangan. Dia berusaha tidak jatuh pingsan. Dia melihat belasan kaki di sekelilingnya. Ujung-ujung senjata. Lalu ada sepasang kaki berkasut bagus melangkah ke arahnya. Dia coba mengangkat kepala.

Pemandangannya berkunang. Dia tak dapat melihat jelas siapa adanya orang itu. Lalu dia mendengar suara-suara bicara di dekatnya.

"Tuan Kiuchi, saya menunggu perintah. Akan diapakan orang ini?!" bertanya Gapo.

"Jebloskan dia ke dalam penjara! Dua hari lagi ada kapal ke utara ke pulau Hokkaido! Angkut dia bersama penjahat dan orang-orang hukuman lainnya! Dia pantas menjadi penghuni tempat kerja paksa di pertambangan Kitami!" Kano Yamada buka kedua matanya. Pemandangannya masih kabur. Tapi dia telah mengenali suara yang barusan bicara. Seperti mendapat satu kekuatan lelaki ini melompat dan berteriak.

"Yasuaki Kiuchi!" Kepala perajurit Shogun angkat tangan kanannya. Siap untuk menghantam muka Kano Yamada dengan gagang goloknya. Tapi Yasuaki Kiuchi angkat tangannya seraya berkata.

"Jangan! Biarkan dia bicara!"

Perlahan-lahan Kano Yamada putar tubuhnya. Dia melihat bayangan orang berdiri di anak tangga.

Dia tak bisa melihat jelas namun dapat memastikan orang itu adalah Yasuaki Kiuchi, orang yang telah dicapnya sebagai manusia iblis!

"Yasuaki keparat! Manusia iblis laknat! Ternyata bukan hanya otakmu saja yang tidak waras! Jiwa dan hatimu juga bejat!"

"Bangsat tidak bermalu!" balas memaki Yasuaki Kiuchi. "Tadinya kehormatan yang diberikan istrimu kuanggap sudah menyelesaikan urusan hutang piutang di antara kita! Tapi detik ini aku mengubah keputusanku..."

"Iblis bajingan! Kau nodai istriku! Dia kembali sudah jadi mayat!"

"Salah sendiri! Dia berlaku tolol! Melakukan harakiri!" jawab Yasuaki Kiuchi lalu tertawa mengekeh.

"Jahanam! Pergilah menghadap Dewa penjaga neraka!" teriak Kano Yamada. Tangan kanannya bergerak sangat cepat hingga tak ada yang sempat berbuat sesuatu. Sebuah senjata rahasia berbentuk bintang melesat ke arah Yasuaki Kiuchi. Karena tidak menyangka Yasuaki tak keburu mengelak. "Tuan Kiuchi! Awas shuriken! (senjata rahasia berbentuk bintang)" Gapo berteriak memberi peringatan.

Tapi tak ada gunanya. Senjata rahasia yang biasa dipergunakan oleh para Ninja itu melesat deras ke arah kepalanya. Yang dituju Kano Yamada adalah tenggorokan orang tapi karena pemandangannya kabur senjata itu hanya menancap di mata kiri Yasuaki Kiuchi!

Jerit saudara sepupu Shogun yang berkuasa ini menggelegar mengerikan. Dua orang prajurit segera melompat berusaha menolongnya. "Yamada jahanam! Seharusnya sudah tadi-tadi kupenggal batang lehermu!" teriak Gapo. Kepala prajurit ini bacokkan golok besarnya ke arah tangan kanan Kano Yamada. "Crassss!" Tangan itu putus tepat di sambungan siku. Untuk kedua kalinya di tempat itu terdengar raungan manusia!

Setelah ditunggu sampai tiga hari Kano Yamada tidak kunjung kembali ke Hikone, sesuai dengan pesan saudagar muda itu pada para pengawalnya di malam penuh bencana, maka keluarga Yukawa memutuskan utuk memperabukan jenazah Chieko Yamada. Sebagian abu jenasah disimpan di dalam gedung kediaman keluarga Yamada dan sebagiannya lagi, seperti yang dimintakan Kano Yamada, ditebarkan di permukaan danau Biwa.

Siang itu Hideo Yukawa tampak berkemas-kemas. Dia membawa serta sebilah samurai yang selama bertahun-tahun hanya tergantung di dinding dalam kamar tidurnya. Kemudian dia masuk ke dalam kamar. Di atas pembaringan dua sosok bayi tergolek pulas. Satu lelaki satunya perempuan.

Yang perempuan adalah Hatsuko Yamada, puteri Kano dan Chieko Yamada yang malang itu. Bayi lelaki adalah putera Hideo Yukawa sendiri. Sejak jenazah Chieko Yamada dibawa pulang oleh tiga orang pengawal, keluarga Yukawa telah membawanya ke tempat kediaman mereka di tepi danau.

Unari, istri Yukawa menjaga dan merawat bayi lelaki yang telah dijodohkan dengan puterinya itu sebaik-baiknya seperti dia merawat anaknya sendiri.

Di samping pembaringan duduk seorang perempuan muda berwajah pucat murung. Kedua matanya tampak merah karena banyak menangis. Dialah Unari, istri Hideo Yukawa. "Aku berangkat ke Otsu sekarang juga. Harap kau menjaga dua anak itu baik-baik." Kata Hideo Yukawa.

Unari Yukawa mengangguk. "Kalau kau sudah tahu apa yang terjadi dengan Kano Yamada lekas kembali. Sejak beberapa hari ini pasti hati saya selalu tidak enak. Saya sering bermimpi buruk setiap saya memicingkan mata..."

Hideo Yukawa mengangguk. "Aku akan lekas kembali. Kau tak usah kawatir. Aku sudah minta para pengawal di gedung keluarga Yamada untuk melihat-lihat keadaan di sini."

Unari mengantarkan suaminya sampai di pintu lalu masuk kembali untuk menjaga dua bayi mungil yang masih tertidur pulas itu.

Meninggalnya Chieko Yamada menyebabkan suasana berkabung terasa di seluruh desa Hikone.

Penduduk merasa kehilangan seorang warga mereka yang selama hidupnya banyak memberikan berbagai bantuan. Nelayan yang tinggal di sepanjang tepi danau Biwa telah dibantu pinjaman untuk membeli perahu. Sedang para petani di pedalaman mendapat bantuan uang untuk membeli alat-alat pertanian serta ternak.

Malam itu banyak penduduk desa terutama kaum ibu datang ke rumah keluarga Yukawa. Mereka menemani Unari sampai larut malam. Semuanya merasa pilu melihat bayi Hatsuko dan berganti-ganti mereka mendukung bayi itu sampai akhirnya tertidur nyenyak.

Tak lama setelah satu persatu penduduk desa meninggalkan rumah Unari Yukawa, keadaan di tempat itu menjadi sunyi senyap. Di dalam rumah hanya tinggal satu lampu minyak yang menyala, yaitu di kamar tidur Unari dan dua bayi itu. Di luar rumah tiga orang pengawal kelihatan duduk di bangku kayu, mengobrol sambil berjaga-jaga. Mereka adalah para pengawal yang bekerja di gedung keluarga Yamada. Malam itu, seperti yang diminta Hideo Yukawa, ketiganya berjaga-jaga di rumah itu.

"Majikan kita tuan Yamada tak ada kabar beritanya. Yukawa-san pergi ke Otsu untuk menyelidik.

Bagaimana kalau diapun tidak kembali pula?" Seorang pengawal bicara sambil bersandar dan meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal.

"Aku memang punya firasat buruk tuan kita tak akan kembali. Sia-sia melawan kekuasaan Yasuaki Kiuchi..." menyahut kawannya. "Manusia satu itu, mentang-mentang saudaranya Shogun bertindak sewenang-wenang. Malah lebih gila dari Shogun!"

Pengawal ketiga menimpali. "Aku ingin sekali..." Tiba-tiba dia hentikan ucapannya.

"Ada apa?" tanya dua temannya hampir berbarengan. "Aku melihat ada seseorang menyelinap di belakang rumah..." Tiga pengawal itu serta merta bangkit berdiri. Mereka bergegas menuju bagian belakang rumah. Tiba-tiba pengawal di sebelah depan keluarkan keluhan tinggi. Tubuhnya terlipat ke depan. Kedua tangannya memegangi dada di mana menancap sebilah tanto (pisau pendek). Dua kawannya segera memegangi tubuh pengawal itu lalu membaringkannya di tanah. Keduanya segera mencabut senjata.

"Hati-hati, kita menghadapi penyerang gelap berkepandaian tinggi..." kata salah seorang pengawal berbisik pada kawannya. "Pisau pendek itu..." menjawab kawannya. "Aku mengenalinya. Itu pisau prajurit-prajurit Shogun!"

"Aneh, ada apa mereka muncul di sini?" tanya pengawal pertama. Dia memandang ke arah rumah.

Darahnya berdesir. "Jangan-jangan ada yang bermaksud jahat terhadap dua bayi itu! Kau lekas berjaga-jaga di pintu rumah. Aku akan menyelidik ke bagian gelap sebelah sana. Si pembokong pasti bersembunyi di tempat itu!"

Kawan yang disuruh segera berkelebat ke arah rumah. Yang satu lagi bergerak ke tempat gelap di bawah bayang-bayang hitam sebuah pohon besar. Lima langkah lagi dia akan sampai ke semak belukar yang mengitari pohon, tiba-tiba tiga sosok berkelebat keluar dari tempat gelap. Yang dua langsung menyerang si pengawal. Dua pedang berkelebat dalam kegelapan malam. Satu pedang lagi membabat ke atas menangkis. Selagi terdengar suara berdentarangan, sosok ketiga yang tadi keluar dari kegelapan bergerak cepat menuju pintu rumah di mana pengawal kedua berjaga dengan pedang di tangan.

Pengawal ini terkejut sewaktu melihat ada satu sosok manusia tinggi besar tahu-tahu sudah berada di hadapannya. Dia seperti pernah melihat orang ini sebelumnya. Tapi dia tak bisa berpikir lebih lama karena saat itu senjata berupa sebilah golok besar di tangan si tinggi besar membabat dengan deras ke arah tenggorokkannya. Dia cepat menangkis dengan pedangnya.

"Tranggg!" Dua senjata beradu keras di udara. Si pengawal merasa seolah digebuk satu balok besar dan berat hingga lututnya tertekuk dan hampir terhenyak jatuh. Sambil jatuhkan diri dan berguling, pengawal ini berhasil selamatkan diri dari tendangan si tinggi besar. Namun begitu dia berdiri, serangan berikutnya datang menyusul. Tahu bahwa lawan memiliki senjata ampuh dan kekuatan luar biasa, pengawal tadi tak berani menangkis. Maka dia cepat melompat ke samping untuk menghindar sambaran senjata lawan. Namun belum sempat kedua kakinya menginjak tanah kembali, golok si tinggi besar melesat ke depan, menembus telak di lambungnya. Jeritan pengawal ini terdengar jauh sampai ke pelosok desa dan ke tengah danau Biwa. Tubuhnya sesaat tersandar ke pintu.

Dari dalam rumah tiba-tiba terdengar suara perempuan berseru. "Siapa di luar?! Hideo? Kaukah itu?!" Pintu rumah lalu terbuka. Sosok tubuh pengawal yang tengah meregang nyawa dan tersandar di situ langsung roboh tergelimpang. Unari Yukawa menjerit keras. Dia segera menutupkan pintu kembali tapi terhalang oleh sosok mayat si pengawal. Di saat bersamaan si tinggi besar melompat masuk ke dalam rumah.

"Rampok! Rampok!" teriak Unari Yukawa. Orang di hadapannya menyeringai. Tangannya bergerak menjambak rambut perempuan itu. Lalu sekali banting saja Unari Yukawa terkapar jatuh pingsan. Si tinggi besar lalu berkelebat ke arah ruangan yang ada cahaya terang lampu minyak di mana bayi Hatsuko dan bayi Thosiro berada.

Ketika di kejauhan kelihatan nyala lampu-lampu lampion mendatangi, si tinggi besar sudah berkelebat cepat meninggalkan rumah sambil mendukung dua tubuh bayi yang masih merah-merah itu.

Dari pedataran tinggi di tepi danau, Hideo Yukawa siang itu merasa aneh melihat banyak sekali penduduk desa Hikone berada di sekitar rumahnya. Penuh rasa tidak enak lelaki ini memacu kudanya lebih kencang. Begitu sampai di depan rumah dia melihat wajah-wajah penduduk yang memandang rawan sayu ke arahnya. Sesuatu telah terjadi. Dia tidak melihat istrinya. Mungkin berada di dalam rumah.

"Ada apa ramai-ramai di sini?" tanya Hideo Yukawa, begitu melompat turun dari kuda. Dia memandang berkeliling. Matanya membentur sosok pengawal yang terkapar tak jauh dari pintu.

"Mereka? Mereka siapa?"

"Kami tidak tahu. Pagi-pagi buta kami mendengar suara beradunya senjatanya. Lalu suara-suara jeritan. Ketika kami mendatangi dan sampai ke sini kami melihat ada tiga mayat tergelimpang. Istrimu..."

"Unari! Mana istriku?" teriak Hideo Yukawa. "Istrimu selamat. Dia ada di dalam ditemani istri-istri kami. Hanya...."

"Hanya apa...?!" tanya Hideo Yukawa. Karena tak ada yang menjawab, Hideo Yukawa langsung saja menghambur masuk ke dalam rumah. Di satu ruangan di dalam rumah, Unari tampak terbaring di atas kasur tipis dikelilingi oleh beberapa perempuan tetangga. Dua di antaranya tengah merawat luka di keningnya yang membengkak.

"Unari..." Hideo Yukawa jatuhkan diri di samping kasur. Mendengar suara suaminya Unari Yukawa buka kedua matanya. Perempuan ini menjerit menangis keras. Hideo cepat memeluk istrinya. "Tenang Unari... katakan apa yang terjadi...!" bisik Hideo seraya mengelus belakang kepala Unari. "Bayi kita Hideo... Toshiro...... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.80.148.252
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia