Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : DENDAM DI PUNCAK SINGGALANG

SATU

DUA gunung tinggi menjulang menyapu awan, terlihat jelas dari kejauhan di bawah langit yang biru bersih.
Kehadiran gunung Singgalang dan Merapi di daratan tengah pulau Andalas seperti yang selalu diperumpamakan oleh penduduk memang benar yaitu seolah dua raksasa penjaga negeri.
Saat itu menjelang tengah hari. Dari arah danau Maninjau di jurusan kaki gunung Singgalang tampak seorang penunggang kuda memacu tunggangannya menuju ke timur.

Orang ini berusia sekitar setengah abad, berkumis tipis rapi, mengenakan destar tinggi berwarna hitam yang pinggirannya dirajut dengan benang emas. Pakaiannya terbuat dari kain bludru warna hijau yang juga ada renda benang emasnya. Di pinggangnya, di balik ikat pinggang besar terselip sebilah keris. Baik gagang maupun sarung senjata ini terbuat dari emas sedang badannya terbuat dari sejenis besi putih yang dilapisi emas. Setiap sinar matahari jatuh pada gagang dan sarung senjata itu, kelihatan cahaya kuning memantul menyilaukan.

Pada waktu yang hampir bersamaan dari arah kaki gunung Merapi meluncur cepat sebuah kereta terbuka ditarik dua ekor kuda besar. Di sebelah kanan duduk sais kereta, seorang lelaki, bertampang seram.

Wajahnya tertutup oleh kumis dan cambang bawuk lebat. Rambutnya yang gondrong di ikat menjulai ke belakang. Matanya yang sebelah kiri picak sedang telinganya sebelah kanan sumplung. Di lehernya yang mengenakan pakaian serba hitam ini melingkar sebuah kalung terbuat dari akar bahar. Pada kedua lengannya juga kelihatan melingkar dua gelang hitam dari akar bahar.

"Kenapa Datuk tidak membawa senjata?" bertanya sais kereta pada orang yang duduk di sampingnya.

Orang ini mengenakan pakaian bagus berwarna merah penuh dengan sulaman-sulaman benang emas.

Destarnya juga merah. Wajahnya klimis pucat dan agak cekung di bagian pipi. Dagunya nyaris berbentuk empat persegi sedang bibirnya tipis dan selalu terkancing rapat. Sekali lihat saja wajah orang yang dipanggil dengan sebutan Datuk ini membayangkan sifat angkuh dingin kalau tidak mau dikatakan kejam. Orang ini mempunyai kebiasaan aneh. Yaitu sebentar-sebentar menyentak-nyentakan lehernya ke kiri atau ke kanan seperti ayam tertelan karet.

"Mengapa kita tidak membawa senjata katamu, Daud?" orang berpakaian merah membuka mulutnya yang sejak tadi tertutup. Lalu terdengar dia mendengus. Menyusul kemudian suara tawanya bergelak.

Sais kereta sesaat jadi terdiam. Lalu dia ikut-ikutan tertawa.

"Setan! Kenapa kau tertawa?!" sang Datuk membentak.

Sais kereta bernama Daud itu cepat tutup mulutnya. "Maafkan saya Datuk," katanya. "Saya cuma ikut-ikutan saja. Bukankah Datuk sering berkata agar saya lebih banyak mengikuti sifat dan kebiasaan Datuk?"

"Aku tidak suka kau tertawa lebar-lebar di hadapanku! Mulutmu bau! Tahu?"

"Maafkan saya Datuk," kata Daud sekali lagi. Lalu dengan suara perlahan dia menyambung. "Saya masih ingin tahu mengapa Datuk tidak membawa senjata."

"Kau takut?"

"Tentu saja tidak Datuk," jawab Daud.

"Mulutmu berkata tidak tapi suaramu bergetar. Percuma kau dijuluki orang Daud si Hantu Mata Picak! Momok nomor satu di seluruh nagari!"

"Maafkan saya. Kalau begitu saya tidak akan bertanya lagi!" Lelaki bermuka angker yang mata kirinya buta picak itu mencambuk kuda-kuda penarik kereta keras-keras seolah melampiaskan rasa kesalnya pada kedua binatang itu. Dicambuk bertubi-tubi demikian rupa, kedua kuda berlari kencang seperti kesetanan.

"Bangsat kau Daud!" bentak lelaki bermuka cekung. Kalau bicara sang Datuk biasa memaki dan menyebut orang dengan kata-kata kasar seperti setan atau bangsat.

"Apa lagi salah saya Datuk?"

"Kau melarikan kereta seperti dikejar iblis! Kau hendak membuat aku celaka huh?!"

Daud menahan tali kekang dua ekor kuda.

Binatang-binatang itu mengangkat kepalanya ke atas dan serta merta memperlambat larinya.

"Nah sekencang begini saja sudah cukup. Kenapa harus terburu-buru....?"

"Bukankah kita hendak menemui...."

Sang Datuk cepat memotong kata-kata Daud. "Kita tidak menemui siapapun. Tapi justru dia yang mendatangi kita untuk mengantar nyawa anjingnya!" Untuk pertama kalinya orang ini berpaling pada sais kereta. "Aku melihat bayangan rasa takut di wajahmu yang buruk. Kalau betul begitu hentikan kereta. Biar aku melanjutkan perjalanan seorang diri. Dan kau boleh kembali ke Silungkang! Jalan kaki!"

"Saya bersumpah saya tidak takut Datuk. Tapi apa yang hendak kita lakukan ini bukan pekerjaan main-main. Datuk Bandaro Sati sudah dikenal di tujuh penjuru angin nagari sebagai Pandekar kelas wahid!"

"Dia boleh punya nama besar. Tapi usianya pendek. Lagi pula ilmu kepandaian apa yang dimilikinya?

Apa setinggi gunung Merapi sedalam danau Maninjau? Kau khawatir aku akan kalah olehnya? Kalau seandainya aku terdesak, lalu apakah kau akan berpangku tangan saja? Duduk di atas kereta sambil mencungkil hidungmu?!"

"Tentu saja saya tidak akan tinggal diam Datuk. Saya pasti akan membantu Datuk. Kalau tidak apa perlunya kita pergi bersama-sama," jawab Daud si Hantu Mata Picak. "Cuma saya ada sedikit rasa waswas Datuk. Bukankah Datuk Bandaro Sati memiliki Tuanku Ameh Nan Sabatang,... ?"

Orang di sebelah Daud si Hantu Mata Picak menyeringai. Setelah mengusap dagunya yang licin dan menyentakkan lehernya dua kali ke kiri dia berkata.

"Tuanku Ameh Nan Sabatang memang merupakan sebilah keris langka. Mengandung kesaktian dan tuah luar biasa. Kata orang kalau sudah keluar dari sarungnya harus ada nyawa yang melayang! Itu kata orang!

Sampai dimana kehebatan keris itu perlu kita saksikan sendiri Daud!"

"Seorang pandekar sesat di Bukit Siguntang yang kabarnya kebal segala macam senjata, dua bulan lalu menemui ajalnya di ujung keris itu ketika coba menantang Datuk Bandaro Sati. Kejadiannya di pesisir Pariaman."

"Aku memang mendengar cerita itu. Lalu apakah aku manusia yang bergelar Datuk Gampo Alam harus menjadi ciut nyalinya menghadapi seorang calon bangkai bergerak Datuk Bandaro Sati itu?!" Habis bicara begitu orang ini meludah ke tanah. "Setan!"

"Saya yakin bagaimanapun juga Datuk lebih hebat dari Bandaro Sati..."

"Yakin bukan hanya sekedar yakin, Daud. Tapi yakin yang hakkul yakin!" kata Datuk Gampo Alam pula. Lehernya disentakkannya ke kanan.

Kereta itu meluncur terus menempuh kawasan sunyi berbukit-bukit. Setelah melewati sebuah desa kecil, dari jalan yang kini menurun, di kejauhan kelihatan sebuah lembah yang keindahan merupakan seolah satu keajaiban dipandang mata.

"Ngarai Sianok sudah kelihatan di bawah sana Datuk," memberi tahu Daud alias Hantu Mata Picak.

Datuk Gampo Alam yang sejak tadi terkantuk-kantuk membuka kedua matanya lebar-lebar. Sepasang mata orang ini kelihatan nyalang besar dan ada kilatan menggidikkan.

"Kita sampai lebih cepat Daud. Berarti apa yang akan kita lakukan akan lebih cepat pula selesainya."

"Kalau Datuk Bandaro Sati benar-benar datang memenuhi janjinya," sahut Daud.

"Setan! Sialan kau Daud!" bentak Datuk Gampo Alam tiba-tiba.

"Astaga! Apa lagi salah saya kali ini?" tanya Daud. Nada suaranya menyatakan rasa takut namun ketakutan itu tidak terbayang di tampangnya yang angker.

"Pada saat-saat tegang kau selalu mengeluarkan ucapan yang membuat aku tidak enak! Keparat itu pasti datang Daud! Pasti! Jangan kau berani berucap yang membuat aku jadi ikut was-was!"

Hantu Mata Picak tidak menyahut. Dalam hatinya timbul rasa jengkel terhadap Datuk Gampo Alam.

"Manusia satu ini begitu bernafsu agar cepat bisa melaksanakan niatnya. Tapi segala kemungkinan tidak diperhitungnkannya!"

Ngarai Sianok terbentang dengan segala keindahannya. Di langit sebelah timur sekawanan burung terbang di langit biru.

Mata kanan Hantu Mata Picak memandang jauh ke depan. Lalu dia berdiri di atas kereta. "Datuk, saya melihat ada penunggang kuda datang dari arah barat!" katanya lalu kembali duduk.

Datuk Gampo Alam menyeringai. "Calon bangkai itu datang memenuhi janjinya! Coba perhatikan.

Apa memang betul dia yang datang?!"

Hantu Mata Picak kembali berdiri lalu duduk lagi dan berpaling pada Datuk Gampo Alam. "Kudanya kuda coklat. Destarnya hitam dan pakaiannya hijau. Siapa lagi kalau bukan Datuk Bandaro Sati!"

"Hentikan kereta!" perintah Datuk Gampo Alam. "Aku berbaik hati memberi kesempatan padanya untuk meregang nyawa di tempat yang indah ini."

Hantu Mata Picak hentikan kereta.

Sementara itu dari arah barat penunggang kuda coklat berpakaian hijau datang semakin dekat. Tak lama kemudian orang inipun sampai di hadapan kereta. Dia membawa kudanya ke samping hingga bersisi-sisian dengan bagian depan dimana Datuk Gampo Alam duduk.

"Datuk Gampo Alam, kau datang tepat pada waktunya. Malah lebih dulu dari aku!" Orang di atas kuda coklat menyapa.

Datuk Gampo Alam menyeringai. "Aku Datuk Gampo Alam selalu tepat waktu. Apalagi untuk urusan penting seperti ini!"

"Urusan penting katamu. Apakah tidak bisa kita bicarakan di rumah gadang? Mengapa harus memilih tempat ini seperti orang menagih hutang piutang saja?!"

Mendengar kata-kata Datuk Bandaro Sati itu, Datuk Gampo Alam tertawa mengekeh. Disentakkannya lehernya beberapa kali lalu dia berkata. "Coba kau lihat berkeliling. Bukankah tempat ini sangat indah pemandangannya? Jadi tak ada buruknya kita bicara di sini!"

Datuk Bandaro Sati memandang berkeliling lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku setuju dengan ucapanmu. Ngarai Sianok memang indah. Lalu urusan penting apakah yang kau maksudkan itu, Datuk Gampo Alam?"

"Ah! Setan ini berpura-pura tidak tahu rupanya!" Maki Datuk Gampo Alam dalam hati. Lalu dia menjawab. "Ini menyangkut urusan rumah gadang warisan nenek moyang kita. Jangan kau berpura-pura Datuk Bandaro Sati!"

Wajah Datuk di atas kuda coklat itu sesaat tampak berubah. "Kalau itu masalahnya aku tak akan mau membicarakan. Bukankah hal ini sudah aku tegaskan berulang kali padamu? Soal rumah gadang tidak ada tawar-menawar!"

Datuk Gampo Alam menyeringai lalu menyetakkan lehernya. "Kau selalu bersikap seperti ini Datuk.

Keras kepala dan tolol!"

"Terserah padamu! Terserah kau mau mengatakan apa diriku! Banyak urusan penting lain menungguku di Batusangkar! Aku harus pergi sekarang!"

"Tunggu!" seru Datuk Gampo Alam lalu berdiri di atas kereta. Kedua tangannya berkacak pinggang sedang sepasang matanya memandang berapi-api pada orang yang duduk di atas kuda di hadapannya.

"Apapun alasanmu aku tidak mau tahu. Urusan rumah gadang harus selesai saat ini juga, di tempat ini juga!"

"Kau sudah gila Datuk Gampo Alam!" bentak Datuk Bandaro Sati.

"Kau membuat aku marah Datuk Bandaro Sati!" bafas membentak Datuk Gampo Alam.

"Kau rupanya sengaja mencari lantai terjungkat!"

"Setan kau!" teriak Datuk Gampo Alam.

"Eh, iblis apa yang masuk ke dalam tubuhmu hingga kau berani berucap sekasar itu pada kakak kandungmu sendiri? Aku ingatkan padamu! Sekali lagi kau bicara kotor dihadapanku kupatahkan batang lehermu!"* * *

DUADI ATAS kereta Datuk Gampo Alam yang masih tegak bertolak pinggang tertawa bergelak. "Soal patah mematahkan batang leher bisa nanti kita lakukan!" katanya. "Aku hanya ingin memberi kesempatan padamu sekali lagi. Apakah kau tetap tidak mau menjual rumah gadang berikut isinya pada Tumenggung Rajo Langit?!"

"Satu kali kubilang tidak, sampai matipun tetap tidak!" jawab Datuk Bandaro Sati tegas dan dengan mimik wajah menjadi garang.

Datuk Gampo Alam menyeringai. Lehernya disentakkan dua kali berturut-turut. Dari balik pakaian merahnya dikeluarkannya segulung kertas. Perlahan-lahan gulungan kertas itu dibukanya lalu disodorkannya pada kakaknya.

"Aku telah menandatangani persetujuan penjualan rumah gadang itu. Kau juga harus menyetujui dan menandatanganinya.

Tak usah sekarang. Kuberi waktu dua hari. Antarkan sendiri kerumahku! Atau kau kirimkan saja orang suruhanmu!"

Datuk Bandaro Sati jadi mengkelap. Kertas yang disodorkan adiknya diambilnya dengan sebat lalu tanpa membaca apa yang tertulis di atas kertas itu langsung saja dirobek-robeknya.

"Rumah gadang adalah rumah pusaka nenek moyang turun-temurun. Tidak boleh dijual sekalipun dunia ini akan terbalik!" kata Datuk Bandaro Sati dengan rahang menggembung dan pelipis bergerak-gerak.

"Setan jahanam!" teriak Datuk Gampo Alam marah bukan main. Setelah menyentakkan lehernya, didahului oleh suara menggembor seperti harimau lapar tubuh Datuk ini melesat ke depan. Kaki kanannya berkelebat menendang ke arah dada kakaknya.

Datuk Bandaro Sati balas berteriak marah. Dengan satu gerakan cepat luar biasa dia melompat turun dari punggung kuda. Bersamaan dengan itu tangan kanannya dipukulkan ke atas.

Wuuuttt!

Gagal menyerang dada kakaknya, Datuk Gampo Alam menyambar tangan kanan yang berusaha memukul ke arah selangkangannya. Tapi luput karena Datuk Bandaro Sati cepat merunduk sambil tarik pulang serangannya.

"Datuk Bandaro Sati pandekar tujuh nagari! Kau memilih mati dari pada mendapatkan rejeki. Otakmu yang konon cerdik bijaksana ternyata kosong melompong! Kau kemari hanya mencari mati!"

"Hemm, rupanya niat jahat itu sudah ada dalam hati dan darahmu sejak lama! Aku tahu kau yang memfitnah anakku. Kini kau hendak bersutan di mata beraja di hati terhadapku huh! Dengar, bukan aku yang akan mati tapi kau yang akan berkubur di Ngarai Sianok ini! Itupun kalau masih ada orang yang mau menguburmu. Kalau tidak bangkaimu akan jadi santapan anjing-anjing ngarai!"

"Datuk setan! Bicaramu sombong sekali. Boleh kau berkata begitu kalau kau punya dua nyawa!" kata Datuk Gampo Alam dengan pandangan mata berkilat-kilat. "Nama besarmu bagiku hanya kentut busuk belaka! Atau kau mengandalkan keberanianmu pada keris Tuanku Ameh Nan Sabatang yang tersepi di pinggangmu itu? Ha... ha... ha...! Keris itu sendiri yang akan kupakai menghabisi dirimu!"

"Datuk keparat manusia jahat!" bentak Datuk Bandaro Sati. "Hari ini putus hubungan darah antara kita! Aku tidak akan berdosa membunuh manusia sepertimu!"

"Bagus! Kalau begitu kau makanlah bekas tanganku ini!" kata Datuk Gampo Alam. Dia menyergap dengan satu lompatan garang. Tinju kirinya menghunjam ke dada sedang dua jari tangan kirinya laksana dua potong besi menusuk ke arah sepasang mata Datuk Bandaro Sati.

"Ilmu silat picisan tidak laku di hadapanku Datuk!" ejek Datuk Bandaro Sati. Tangannya kiri kanan bergerak laksana silangan gunting.

Bukkk!

Dukkk!

Tubuh Datuk Bandaro Sati tergontai-gontai sesaat ketika lengan kirinya beradu dengan lengan kanan Datuk Gampo Alam. Di saat yang sama, sambil memiringkan kepalanya untuk menghindari tusukan dua jari lawan pada kedua matanya sang Datuk susupkan tinju kanannya ke dada Datuk Gampo Alam. Orang ini cepat mengelak namun jotosan kakaknya masih sempat mampir di bahu kirinya hingga Datuk Gampo Alam terpelanting dan pasti jatuh kalau tubuhnya tidak tertahan gerobak.

"Setan alas setan keparat!" rutuk Datuk Gampo Alam menahan sakit dan marah. Kepala dan lehernya digoyang-goyangkan beberapa kali. Mukanya yang pucat tampak semakin tidak berdarah. Tapi dia cepat tegak memasang kuda-kuda.

Di atas kereta, Daud alias Hantu Mata Picak berseru. "Datuk Gampo Alam, biar saya yang menghajar manusia keparat itu!" Habis berseru begitu dengan satu gerakan enteng dia melompat turun dan tahu-tahu sudah berada di samping kiri Datuk Bandaro Sati.

"Aku masih sanggup mempersiangi setan alas ini Daud! Tetap di tempatmu!" bentak Datuk Gampo Alam. Lalu dia menerjang. Kini terjadi perkelahian seru antara kakak dan adik sedarah sekandung itu.

Masing-masing bukan saja mengeluarkan kekuatan luar tetapi juga mengandalkan tenaga dalam mengandung hawa sakti yang mengeluarkan siuran angin dan sesekali sinar menggidikkan.

Meskipun Datuk Gampo Alam memiliki kegesitan luar biasa namun karena dirinya diselimuti nafsu membunuh yang tidak terkendalikan maka beberapa kali serangan mautnya luput. Sebaliknya dua kali serangan Datuk Bandaro Sati berhasil menemui sasarannya. Yang pertama berupa satu jotosan yang mendarat dengan telak di ulu hati lawannya hingga Datuk Gampo Alam terlipat ke depan dan mengeluarkan suara seperti orang mau muntah. Serangan kedua berupa hantaman telapak tangan pada pangkal lengan yang mendarat keras di dagunya.

Inilah ilmu Pukulan Sterlak yang sanggup membuat hidung tanggal atau daging muka terkelupas.

Pukulan Sterlak yang menghantam dagunya terasa seperti menanggalkan kepalanya dari leher. Datuk Gampo Alam terpelanting keras lalu terjengkang di tanah. Pemandangannya sesaat berkunang-kunang.

"Datuk Gampo Alam, pulanglah! Saat ini dengan ikhlas aku bersedia mengampuni segala kesalahan dan perbuatanmu!" kata Datuk Bandaro Sati yang jadi tidak tega dan hiba melihat keadaan adiknya menjepelok di tanah seperti itu.

Perlahan-lahan Datuk Gampo Alam berdiri. Mulutnya dibuka dan dikatupkannya beberapa kali. Rahangnya seperti tanggal akibat Pukulan Sterlak tadi.

"Terima kasih, kau berbaik hati menyuruh aku pulang. Ketahuilah aku akan pulang setelah kau jadi bangkai di tempat ini! Setan!" Datuk Gempo Alam menutup kata-katanya dengan makian. Kedua kakinya dikembang. Kedua lutut menekuk. Sepasang tangannya diacungkan ke atas dengan jari-jari tangan menekuk seperti hendak meremas. Dari tenggorokannya keluar suara mencicit halus.

Datuk Bandaro Sati terkejut, Ilmu Silat Tupai Pesisir. Dari mana dan kapan dia mempelajarinya?

Begitu Datuk Bandaro Sati membatin dalam hati. Baru saja dia bersiap-siap menghadapi serangan lawan tubuh Datuk Gampo Alam melompat ke depan. Selanjutnya tubuhnya tampak bergerak sebat kian kemari, melenting-lenting seperti bola. Tangan dan kakinya berkelebat aneh dalam gerakan-gerakan yang tidak terduga. Inilah ilmu silat "tupai pesisir" yang kabarnya diciptakan seorang sakti puluhan tahun silam kemudian lenyap tanpa bekas. Kalau kini ilmu itu muncul dan dapat dikenali oleh Datuk Bandaro Sati, tidak heran dia merasa terkejut.

Untuk mengimbangi serangan lawan yang datang bertubi-tubi, Datuk Bandaro Sati terpaksa membuat gerakan-gerakan cepat. Dengan pengalamannya yang segudang dia bertahan dan sesekali memotong serangan lawan lalu melancarkan serangan balasan. Setelah menghadapi lawannya lebih dari sepuluh jurus ternyata ilmu silat tupai pesisir itu tak bisa ditembus. Tekanan-tekanan dahsyat mulai dialami Datuk Bandaro Sati. Orang ini mulai kacau pertahanannya ketika destar hitam dikepalanya berhasil disambar tangan lawan. Kalau tidak cepat

dia membungkuk pasti rambutnya kena dijambak Datuk Gampo Alam.

"Agaknya aku terpaksa mengeluarkan pukulan sakti andalanku. Tuhan, ampuni diriku kalau pukulan ini akan membunuh adikku sendiri!" Datuk Bandaro Sati angkat tangan kanannya lurus-lurus ke atas. Jari telunjuk menunjuk ke atas lagit.

"Telunjuk penembus raga!" teriak Datuk Gampo Alam ketika dia mengenali ilmu pukulan sakti yang hendak dikeluarkan kakaknya. Parasnya menjadi tambah pucat. Dia memberi isyarat dengan gerakan tangan pada Hantu Mata Picak yang saat itu berada tepat di belakang Datuk Bandaro Sati.

Melihat isyarat ini Hantu Mata Picak segera melompat. Lengan kirinya yang kokoh memiting leher Datuk Bandaro Sati dengan keras sedang tangan kanannya mencekal pergelangan tangan sang Datuk.

"Pengecut kurang ajar! Menyerang dari belakang!" teriak Datuk Bandaro Sati marah. Siku tangan kirinya dihantamkan ke belakang sekuat yang biasa dilakukannya.

Kraaakkk!

Terdengar suara tulang iga patah.

Si Hantu Mata Picak menjerit keras. Walau sakit setengah mati tapi orang bertubuh tinggi besar dan bertampang angker ini tidak melepaskan cekalannya dari leher Datuk Bandaro Sati malah seperti dibantu setan kekuatannya jadi berlipat ganda hingga Datuk Bandaro Sati sulit bernafas sementara tangan kanannya yang hendak melepas pukulan telunjuk penembus raga tak dapat dibebaskannya. Dengan tersengal-sengal Datuk Bandaro Sati mengerahkan seluruh kekuatannya. Justru pada saat itu dari depan datang Datuk Gampo Alam menyergap. Dengan gerakan kilat dia menyambar keris Tuanku Ameh Nan Sabatang yang tersisip di pinggang Datuk Bandaro Sati.

Begitu senjata itu berada di tangannya segera dicabut lalu seperti kesetanan keris bertuah itu dihunjamkannya keperut dan dada Datuk Bandaro Sati berulang-ulang. Setiap keris itu menusuk tubuh Datuk

Bandaro Sati kelihatan asap mengepul. Darah membasahi pakaian hijaunya.

Datuk Bandaro Sati meraung keras. Dengan sisa kekuatan yang ada dia kerahkan tenaga dalam.

Tangan kanannya bergetar keras. Satu sinar biru melesat menjulang ke langit. Hantu Mata Picak berteriak dan lepaskan cekalannya pada lengan kanan sang Datuk. Tangannya terasa panas. Ketika dilihatnya ternyata tangan itu menjadi hitam laksana hangus. Sakitnya bukan kepalang.

Di sebelah depan Datuk Gampo Alam masih terus menghujani tubuh kakak kandungnya dengan tusukan-tusukan keris Tuanku Ameh Nan Sabatang. Terakhir sekati keris itu ditusukkannya dan dibiarkannya menancap dipertengahan dada Datuk Bandaro Sati.

Hantu Mata Picak lepaskan pitingannya di leher Datuk Bandaro Sati. Tak ampun lagi Datuk ini segera jatuh tertelentang di tepi Ngarai Sianok.

"Biar saya tendang bangsat ini ke dalam ngarai!" kata Hantu Mata Picak, sambil meringis menahan sakit pada tulang iganya.

"Tak usah Daud! Biarkan saja! Lekas tinggalkan tempat ini sebelum ada orang datang dan melihat kita disini!" kata Datuk Gampo Alam sambil membuang sarung keris emas ke tanah.

Mendengar hal itu Daud alias Hantu Mata Picak segera naik ke atas kereta. Datuk Gampo Alam melompat pula ke atas kereta dan sesaat kemudian kereta itu berputar lalu meluncur kencang ke arah kaki gunung Merapi tanpa satupun dari kedua penumpangnya mengetahui kalau saat itu, di balik sebuah batu besar di antara kerapatan semak belukar sepasang mata menyaksikan apa yang telah terjadi di tempat itu dengan tubuh menggigil. Karena tak sanggup menahan takut, orang ini segera hendak melarikan diri namun satu keajaiban yang hampir tak dapat dipercayanya membuat kedua kakinya seolah dipaku ke tanah. Mulutnya terkancing, wajahnya pucat. Hanya kedua matanya saja membeliak menyaksikan apa yang terjadi.

Dari dasar Ngarai Sianok tiba-tiba melesat satu bayangan putih ke arah tubuh Datuk Bandaro Sati yang tergeletak di tanah. Sulit dipastikan apakah sosok tubuh ini sosok manusia atau setan. Sosok itu lebih merupakan satu bayangan orang berjubah tembus pandang. Sosok ini sesaat tegak di samping tubuh Datuk Bandaro Sati lalu membungkuk. Tangannya bergerak mencabut keris yang menancap di dada Datuk Bandaro Sati. Kemudian bayangan ini memungut sarung keris yang tercampak di tanah. Sesaat setelah itu bayangan ini melesat ke udara. Seolah terbang ke arah matahari. Silaunya cahaya matahari membuat orang di balik batu tak dapat lagi melihat bagaimana lenyapnya bayangan aneh itu. Rasa takut yang tak dapat ditahannya lagi menyebabkan orang ini segera menghambur lari meninggalkan tempat itu.

* * *

TIGAHANYA beberapa saat setelah orang yang tadi lari lenyap di kejauhan, seorang penunggang kuda berpakaian dan berikat kepala putih-putih tampak mendatangi dari arah barat. Rambutnya gondrong menjela bahu melambai-lambai ditiup angin. Sambil memacu kuda tunggangannya orang ini yang ternyata masih muda dan bertubuh kekar memperhatikan pemandangan yang sangat indah di sekitarnya.

"Luar biasa, belum pernah aku melihat lembah seindah ini," kata pemuda ini dalam hati. Baru saja dia membatin begitu tiba-tiba kuda tunggangannya meringkik keras, menaikkan kedua kaki depannya tinggi-tinggi dan tak mau lagi berlari.

"Heh... ada apa sobatku? Ada sesuatu yang mengganggumu?" Pemuda itu mengusap-usap leher kudanya sambil kedua matanya memandang berkeliling. Di kejauhan, di tepi Ngarai Sianok sebelah timur di lihatnya ada seekor kuda melangkah mondar-mandir. Tiba-tiba binatang di kejauhan itu meringkik keras seolah membalas ringkikan kuda yang ditunggangi si pemuda.

"Hemmm... Kau menemukan seorang sahabat. Baik, larilah ke arah sahabatmu disebelah sana!"

Seperti mengerti kuda tunggangan si pemuda berlari cepat ke arah kuda coklat di tepi ngarai.

"Ada kuda tak ada penunggang adalah mustahil!" kata pemuda gondrong begitu sampai di samping kuda coklat. Kepala binatang itu dibelainya beberapa kali. Gerakan tangannya terhenti ketika kedua matanya melihat sesosok tubuh bergelimang darah tergeletak di tanah. Pemuda ini serta merta melompat turun dan mendekati sosok tubuh itu. Dengan sangat hati-hati tubuh itu dibalikannya. Wajah si pemuda mengerenyit melihat begitu banyak luka di sekujur tubuh orang berpakaian hijau itu. Kedua mata orang ini terpejam. Si pemuda memegang lengannya. Masih terasa hangat.

"Tubuhnya masih hangat. Berarti kejadiannya belum lama...." Pemuda itu lalu membungkuk, meletakkan telinganya di dada orang "Ada detakan jantung. Perlahan sekali. Semoga Tuhan mengizinkan aku menolongnya...." Lalu si pemuda menempelkan kedua telapak tangannya di atas dada orang yang sekarat itu. Perlahan-lahan dia mengalirkan tenaga dalam yang mengandung hawa sakti dingin. Orang yang ditolong tidak memberikan reaksi apa-apa. Kedua matanya masih terpejam sedang tubuhnya tidak bergerak sedikitpun.

Pemuda itu mencoba sekali lagi. Kali ini dia mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya.

Tenggorokan orang yang sekarat tampak bergerak turun naik. Lalu perlahan-lahan kedua matanya yang sejak tadi tertutup membuka. Tiba-tiba seperti mendapat satu kekuatan, dalam keadaan seperti itu orang ini berusaha bangkit namun hal itu tak mampu dilakukannya. Punggungnya terbanting ke tanah. Kedua matanya kembali terpejam namun sebelumnya dia sempat melihat wajah orang yang menolongnya itu.

"Andana.... Tuhan Maha Besar. Syukur kau datang nak. Sebelum ajal datang menjemput... bawa aku ke puncak Singgalang. Aku... aku ingin mati di sana. Di hadapan kakakku.... Uning Ramalah...."

"Andana, siapa yang dimaksudkannya dengan Andana? Diriku? Kasihan, Pandangan matanya pasti sudah kabur. Umurnya tak akan lama." Pemuda berambut gondrong itu berdiri, memandang ke arah kejauhan dimana tampak berdiri gunung Singgalang.

"Andana... Jangan kau tinggalkan aku di sini. Jangan biarkan aku menemui ajal di tempat ini. Bawa aku ke puncak Singgalang. Andana anakku...." Suara orang yang tubuhnya penuh tusukan dan gelimang darah itu terputus. Si pemuda cepat memeriksa. Lalu gelengkan kepala. "Nyawanya putus sudah. Kini aku menyandang kewajiban yang tak bisa kutolak." Sesaat si pemuda menatap wajah orang yang malang itu lalu menghela nafas panjang dan garuk-garuk kepala.SEPERTI biasanya keadaan di setiap gunung, jalan mencapai puncaknya tidak mudah untuk dicapai.

Demikian juga dengan gunung Singgalang. Demikian yang dialami oleh pemuda berambut gondrong itu.

Hanya saja dia merasa beruntung karena kuda coklat yang membawa mayat lelaki berpakaian hijau seolah sudah mengetahui seluk beluk gunung itu. Binatang ini berjalan di sebelah depan, bergerak dengan cepat menuju puncak gunung. Si pemuda hanya tinggal mengikuti dari belakang.

Ketika sang surya tenggelam puncak gunung Singgalang masih jauh di atas sana. Waktu malam turun keadaan jadi gelap gulita, tangan di depan mata pun tidak kelihatan. Pemuda berambut gondrong memutuskan untuk menghentikan perjalanan. Dia mencari tempat yang haik lalu bermalam di situ dalam dinginnya udara yang bukan olah-olah.

Tengah malam dalam keadaan susah memicingkan mata pemuda ini tiba-tiba melihat ada sesosok bayangan berkelebat dalam gelap. Dia cepat berdiri dan bertanya. "Siapa di sana?!"

Tak ada jawaban. Tak ada gerakan. Dan bayangan yang tadi terlihat mendadak sontak lenyap ditelan kegelapan. Pemuda itu menggosok-gosok kedua matanya. "Aneh, tangan di depan mata tidak kelihatan tapi mengapa bayangan tadi biasa terlihat? Jangan-jangan aku bermimpi! Tapi tidurpun aku belum masakan bisa mimpi?!" Diam-diam pemuda itu merasa merinding. Dengan perasaan tidak enak dia kembali ke tempatnya semula.

Kicau burung dan sinar matahari pagi yang menembus lewat kerimbunan daun-daun pepohonan membuat pemuda yang baru bisa lelap menjelang dini hari itu terbangun. Begitu bangun yang dilakukannya pertama kali adalah memandang berkeliling, Astaga. Terkejutlah pemuda ini. Sosok mayat orang berpakaian hijau yang sebelumnya berada di atas kuda coklat kini tak kelihatan lagi. Pemuda itu memeriksa kian kemari.

Tetap saja dia tak berhasil menemukan mayat itu.

"Jangan-jangan dilarikan binatang buas." Berpikir si pemuda. "Tapi tak mungkin aku tidak mengetahuinya. Lagi puia tak ada tanda-tanda bekas seretan di tanah. Tak ada semak belukar yang rambas."

Pemuda ini berpikir keras. Tetap saja dia tidak dapat menduga apa yang telah terjadi dengan mayat itu. Pemuda ini akhirnya duduk di akar pohon. Tiba-tiba dia ingat kejadian malam tadi. Ada satu bayangan yang muncul secara mendadak dan lenyap secara aneh. "Jangan-jangan tempat ini banyak dedemitnya!" Katanya dalam hati. Memikir sampai di situ dia segera berdiri. Tapi sesaat dia termangu. Apakah akan meneruskan perjalan menuju puncak Singgalang atau berbalik menuju kaki gunung. Setelah menimbang-nimbang dalam hati beberapa lama akhirnya pemuda ini mengambil keputusan untuk meneruskan perjalanan menuju puncak gunung.

"Aku ketitipan kewajiban untuk membawa mayat itu kepuncak gunung dan menyerahkannya pada seorang bernama Uning Ramalah. Jika ada seseorang tinggal di puncak gunung pastilah dia bukan orang sembarangan. Ada baiknya aku menemui orang itu. Siapa tahu dia bisa memberi petunjuk tentang lenyapnya

mayat itu. Juga siapa tahu dia kenal dengan Tua Gila yang tengah kucari-cari dan belum bertemu sampai saat ini."

Maka dengan menunggangi kuda coklat pemuda gondrong itu melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung Singgalang. Kudanya sendiri mengikuti dari belakang.* * *

EMPATPEMUDA berambut gondrong itu hentikan kudanya di bawah sebatang pohon besar di puncak Singgalang. Di hadapannya ada sebuah gubuk kayu beratap rumbia. Di halaman gubuk terhampar halaman luas yang sebagiannya tertutup oleh batu-batu merah. Di tengah halaman inilah, di bawah siraman sinar matahari pagi, di atas sehelai tikar kulit berbentuk bulat duduk seorang berjubah putih. Kepalanya yang tertutup selendang kain sutera putih menunduk hingga si pemuda tidak dapat melihat wajahnya. Rambutnya yang tersembul keluar tampak putih semua.

Di hadapan orang berselendang, di atas sehelai tikar jerami tebal terbujur tubuh manusia yang ditutupi dengan kain putih mulai dari kepala sampai ke kaki hingga pemuda itu tidak dapat mengetahui siapa adanya manusia yang berada di bawah kain itu. Namun hatinya menaruh syak wasangka bahwa itu adalah mayat orang berbaju hijau yang ditolongnya yang lenyap secara aneh tadi malam.

Bau kemenyan memenuhi tempat itu yang keluar dari sebuah perasapan tanah dan terletak di samping kiri orang berjubah putih.

Perlahan-lahan pemuda di atas kuda turun ke tanah. Dia tidak segera melangkah mendekati halaman berbatu merah namun tetap berdiri di situ karena tidak berani menganggu orang berselendang yang diduganya mungkin tengah melakukan semedi.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya perlahan-lahan kelihatan orang berjubah dan berselendang putih mengangkat kepalanya. Si pemuda melihat satu wajah perempuan tua berkulit putih keriputan.

Pandangan mata yang dingin dan seperti menembus dari perempuan tua itu membuat pemuda berambut gondrong tercekat. Dia hendak menegur namun entah mengapa mulutnya seolah terkancing.

"Wajah pemuda ini mirip-mirip wajah murid saudaraku." Perempuan tua itu membatin. Lalu dia menegur.

"Siapa kau? Apa keperluanmu berada di tempat ini?" Tiba-tiba perempuan itu bertanya. Suaranya perlahan dan penuh kelembutan tetapi mengandung wibawa yang sangat tinggi.

"Maafkan saya. Saya tidak bermaksud menganggu...."

"Jawab saja pertanyaanku!" memotong perempuan tua itu.

Sorotan mata dan ucapan orang membuat si gondrong menjawab seperti yang tidak dimintakan.

"Saya... saya kehilangan sesuatu," katanya.

"Uang, harta benda....?" tanya perempuan yang duduk bersimpuh di atas tikar kulit.

"Bukan, bukan uang atau harta benda. Saya kehilangan sesosok mayat. Saya rasa...."

"Itu sebabnya kau datang kemari karena menyangka mayat itu ada di sini?"

"Tidak sepenuhnya seperti itu. Saya punya kewajiban untuk mengantarkan jenazah itu ke puncak Singgalang. Untuk diserahkan pada seorang...."

"Siapa yang meminta kau melakukan itu?!"

"Mayat itu...." jawab si gondrong.

Kedua mata perempuan yang duduk di atas tikar kulit tampak mengeluarkan kilatan aneh, membuat si gondrong jadi kembali tercekat!"

"Mayat mana bisa bicara. Apalagi memberikan perintah!"

Si gondrong garuk-garuk kepalanya. "Maksud saya, orang itu meminta saya menolongnya sebelum dia menghembuskan nafas terakhir. Malam tadi dia lenyap begitu saja. Tanggung jawab saya untuk menemukannya dan menyerahkannya pada orang yang disebutnya."

Kedua mata perempuan itu bergerak aneh. Tiba-tiba saja pandangan matanya dapat menembus pakaian yang dikenakan pemuda di hadapannya. Dia bisa melihat semua benda yang terlindung di balik pakaian itu. Dia mampu melihat sebuah kapak bermata dua di pinggang kiri. Lalu sebuah batu hitam di pinggang kanan dan sekuntum bunga kering pada saku baju sebelah kiri. "Dia bersenjatakan kapak. Jadi bukan dia yang membunuh saudaraku." Kata perempuan tua berwajah putih itu.

"Jadi sebelum mati orang itu meminta kau mengantarkan dirinya pada seseorang di puncak gunung ini?"

"Betul sekali."

"Orang itu menyebutkan nama?"

"Benar. Dia menyebut nama Uning Ramalah...."

"Aku Uning Ramalah!" kata perempuan berselendang putih dengan sepasang mata tak berkesip.

Si gondrong cepat membungkuk. "Maafkan saya. Saya tidak tahu kalau Uning Ramalah adalah seorang perempuan."

"Kau bukan orang sini?!" perempuan tua itu bertanya penuh selidik.

"Saya datang dari tanah Jawa," jawab si gondrong.

"Siapa namamu?"

"Saya Wiro. Wiro Sableng...."

"Apa tujuanmu datang kemari?"

"Saya dalam perjalanan mencari seorang tua bernama Tua Gila...."

"Apa hubunganmu dengan orang itu?"

"Dia... dia sudah menganggap diri saya seperti anak sendiri. Saya pernah mendapatkan pelajaran silat sejurus dua jurus dari dia...."

"Kalau kau mencari orang bernama Tua Gila itu, lalu bagaimana kemudian kau bilang punya kewajiban untuk mengantarkan sesosok mayat ke puncak Singgalang?"

"Saya menemukan orang itu di tepi Ngarai Sianok. Dalam keadaan sekarat dia meminta saya mengantarkannya ke sini. Hanya saja malam tadi mayat itu lenyap. Saya tidak dapat memastikan apakah dicuri setan atau dilarikan binatang buas."

Perempuan tua bernama Uning Ramatah itu memandang ke arah sosok tubuh yang terbujur di bawah kain putih. Lalu dia berpaling pada Wiro. "Coba kau singkapkan kain putih itu. Apa dia orang yang kau maksudkan?"

Wiro melangkah mendekati sosok yang tertutup kain putih. Dia berjongkok lalu perlahan-lahan menyingkapkan kain putih di bagian kepala. Wiro mengenali wajah itu lalu memandang pada Uning Ramalah seraya berkata. "Memang dia orangnya."

"Dia adalah Datuk Bandaro Sati. Adik kandungku. Dia mati dibunuh orang. Kau tahu siapa pembunuhnya?"

Wiro menggeleng. "Ketika saya menemukannya dia hanya sendirian dalam keadaan sekarat. Tapi di tanah saya melihat jejak-jejak kaki kuda banyak sekali dan bekas gilasan roda kereta."

"Setahuku adikku memiliki sebilah keris sakti bertuah. Senjata itu tidak ada padanya. Kau melihat keris itu? Terbuat dari emas...."

Wiro menggeleng.

Mata perempuan tua itu mengeluarkan kilatan aneh. Kembali dia mampu melihat menembus ke balik pakaian Wiro. Dia tidak melihat benda yang dimaksudkannya. "Pemuda ini tidak berdusta. Dia tidak

mengambil dan menyembunyikan keris itu."

"Malam tadi, aku sengaja menjemput jenazah adikku. Aku tak ingin dia lama-lama tersiksa...."

"Ah. jadi dia rupanya yang membawa lari mayat orang ini," kata Wiro dalam hati.

"Jenazah itu harus dikubur. Saya bersedia menolong menggalikan kuburnya," kata Wiro kemudian.

"Tidak sekarang anak muda. Paling cepat dua hari lagi. Ada seseorang yang harus melihatnya sebelum dimakamkan."

"Tapi kalau menunggu sampai dua hari, jenazah ini bisa busuk."

"Aku sudah mengawetkannya dengan sejenis bubuk."

Wiro hanya bisa mengangguk-angguk mendengar ucapan orang. "Saya rasa, kewajiban saya sudah saya jalankan walau tidak dengan baik. Saya mohon diri meninggalkan tempat ini."

"Aku belum sepenuhnya yakin kalau kau tidak ada sangkut pautnya dengan kematian adikku. Karena itu kau tidak boleh meninggalkan tempat ini sampai orang yang kutunggu datang."

Pendekar 212 Wiro Sableng tentu saja jadi terkejut mendengar kata-kata itu. Tentu saja dia merasa keberatan. Namun pandangan mata perempuan di hadapannya membuat hatinya tergetar. Maka murid Eyang Sinto Gendeng dari gunung Gede inipun berkata. "Menunggu dua hari rasanya tidak mungkin bagi saya.

Apalagi kalau orang itu ternyata datang seminggu atau dua minggu kemudian...."

"Aku lebih tahu dirimu anak muda...!"

"Saya menyesalkan mengapa kau seperti mencurigai diriku!" kata Wiro. "Semula saya hanya punya maksud menolong semata. Mengapa kini seolah hendak dijadikan kambing hitam?"

Perempuan tua bernama Uning Ramalah itu tidak menyahut apa-apa. Wajahnyapun tampak tidak berubah. Perlahan-lahan kepalanya ditundukkan kembali. Melihat hal ini Wiro Sableng segera putar tubuhnya dan melangkah meninggalkan tempat itu. Namun dia hanya mampu bergerak satu langkah.* * *

LIMAPENDEKAR 212 Wiro Sableng merasakan kedua kakinya seperti dipantek ke tanah. Bagaimanapun dia mengerahkan tenaga luarnya dia tak mampu menggerakkan kakinya. Wiro menoleh ke belakang.

Dilihatnya perempuan bernama Uning Ramalah itu masih tetap duduk di tempatnya dengan mendudukkan kepala.

"Apa sebenarnya maunya orang ini? Aku tidak mengharapkan dia berterima kasih. Tapi kalau begini balas budinya kurasa keterlaluan!" Wiro lalu salurkan tenaga dalam pada kedua kakinya. Lututnya sampai bergetar karena dia sengaja mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam yang ada. Tanah gunung yang dipijaknya ikut bergetar lalu tampak tanah di sekitar situ retak merengkah. Bahkan tiba-tiba ada kepulan asap keluar dari celah tanah yang retak itu.

Wiro kembali berpaling. Dilihatnya Uning Ramalah masih bersimpuh di atas tikar kulit itu. Kepalanya masih tertunduk namun kini kelihatan ada getaran-getaran yang menjalari tubuhnya. Ini satu pertanda adanya kekuatan yang mencoba menerobos memasuki tubuhnya untuk menantang kekuatan tenaga dalamnya.

Menyadari apa yang terjadi perempuan tua itu perlahan-lahan gerakkan tangan kanannya ke samping.

Jari telunjuk dan jari tengah diluruskan. Lalu kedua jari itu ditusukannya ke dalam tanah hingga amblas sampai ke pangkalnya. Bersamaan dengan itu Wiro merasakan seolah ada benda panas menusuk kedua telapak kakinya dengan keras hingga dia berteriak akibat kejut dan kesakitan.

"Orang tua! Aku tidak mengira kau berhati culas!" kata Wiro dengan suara keras mulai kasar.

Uning Ramalah yang ditegur tetap saja diam membisu.

Wiro sendiri meski kedua kakinya terpaku ke tanah namun dia masih bisa menggerakkan auratnya yang lain. Murid Sinto Gendeng ini keluarkan Kapak Maut Naga Geni 212-nya. Sinar menyilaukan menghampar di tempat itu. Uning Ramalah tetap saja tidak bergerak. Perlahan-lahan Wiro membungkuk.

Dengan salah satu mata kapak dia menggurat tanah di sekitar kakinya dalam bentuk lingkaran. Senjata mustika itu kemudian disimpannya kembali.

Di tempatnya bersimpuh Uning Ramalah cabut kedua jarinya yang menancap di tanah. Lalu kedua jari itu dihujamkannya kembali ke bagian tanah yang lain. Di tempatnya terpaku Pendekar 212 tidak merasakan apa-apa.

Guratan Kapak Maut Naga Geni 212 ternyata mampu melindunginya, tidak bisa ditembus lagi oleh ilmu kesaktian Uning Ramalah. Perlahan-lahan perempuan berwajah putih itu cabut kedua jarinya dari dalam tanah. Dia terkejut ketika melihat dua jarinya itu berwarna kemerahan dan mengepulkan asap. Dalam hatinya perempuan ini membatin. "Ilmunya ternyata tinggi sekali, pasti dia mampu membantu anak adikku. Itu sebabnya aku ingin dia berada di sini sampai anak itu datang. Sayangnya dia salah sangka."

Di atas tikar kulit di halaman berbatu-batu merah itu kembali Uning Ramalah duduk menundukkan kepala seperti orang tengah merenung. Tiba-tiba dia mendengar pemuda di seberang sana berseru.

"Orang tua, saya mohon sekali lagi agar kau melepaskkan kedua kakiku!"

Uning Ramalah diam saja.

Wiro menggerendeng dalam hati.

"Kau tak mau menjawab baik! Kau tak mau membebaskan kedua kakiku bagus! Jangan salahkan kalau aku terpaksa berlaku kurang ajar! Lihat saja apa yang akan kulakukan!"

"Eh, apa yang hendak dilakukan pemuda Jawa ini?" Tanya Uning Ramalah dalam hati. Kepalanya diangkat sedikit. Kedua matanya memperhatikan apa yang hendak diperbuat pemuda bernama Wiro Sableng itu. Mendadak sontak kedua mata perempuan tua itu jadi mendelik. Wajahnya yang putih berubah merah laksana saga.

Di tempatnya terpantek ke tanah, Pendekar 212 membuka tali pengikat pinggang celananya. Lalu enak saja celana itu dimerosotkannya ke bawah hingga jatuh tergulung di tanah di kedua kakinya. Kini dia berdiri membelakangi Uning Ramalah dengan tubuh sebatas pinggang ke bawah melompong bugil.

Sambil menyeringai Pendekar 212 berkata. "Rasakan olehmu sekarang!" Lalu tidak tanggung-tanggung dia membalikkan badannya. Berarti auratnya sebelah bawah yang telanjang itu akan menghadap Uning Ramalah.

Tetapi ketika dia berpaling, ternyata dilihatnya perempuan tua itu tak ada lagi ditempatnya semula.

Wiro memandang ke arah pintu gubuk. Dia masih sempat melihat Uning Ramalah membantingkan pintu gubuk dengan keras.

"Sialan dia malah pergi. Tapi apa tadi dia sempat melihat bokongku?" Wiro bertanya dalam hati. Wiro mengomel dalam hati. Kalau mengikuti amarahnya mau saja dia saat itu menghantam gubuk itu dengan pukulan "sinar matahari".

Di dalam gubuk Uning Ramalah tertegun beberapa saat. Dia coba menenteramkan degup jantung dan aliran darahnya. Bagaimanapun tadi dia cepat-cepat memalingkan kepala dan berdiri pergi namun kedua matanya masih sempat melihat apa yang dilakukan pemuda bernama Wiro Sableng itu.

Untuk lebih menenangkan hatinya Uning Ramalah mengambil mukenah lalu membentang selembar tikar di lantai gubuk yang terbuat dari papan dan sangat bersih itu.

Dengan kekhusukan penuh perempuan ini lalu melakukan sembahyang hajat. Selesai sembahyang dia tetap duduk di tikar itu, memejamkan kedua matanya, mengambil sikap seperti orang tengah mengheningkan cipta rasa. Sesaat kemudian, perlahan-lahan dalam pelupuk matanya muncul bayangan dari suatu tempat yang terletak jauh di sebelah utara pulau Andalas. Dia melihat sebuah bangunan kecil. Lalu sebuah air terjun. Lalu muncul satu wajah lelaki tua bersorban hitam yang memiliki sepasang alis berwarna merah.

Dari mulut Uning Ramalah kemudian terdengar suara perlahan. "Sahabatku Datuk Alis Merah masuklah ke dalam alamku. Aku perlu bertemu denganmu...."* * *

ENAMSANG SURYA belum lama menyembul di ufuk timur. Udara masih terasa dingin. Angin pagi berhembus kencang. Namun desaunya dan suara daun-daun pepohonan yang bergemerisik terkena sapuannya tidak terdengar karena lenyap ditelan oleh suara air terjun yang mencurah pada ketinggian dua puluh kaki. Air terjun ini terletak di dasar sebuah lembah batu cadas, tak berapa jauh dari aliran anak sungai Asahan.

Di atas batu cadas hitam, di bawah curahan air terjun tampak sesosok tubuh tinggi kekar bergerak bergerak gesit-gesit kian kemari. Sepasang tangan dan kedua kakinya melesat membuat pukulan dan tendangan yang sesaat mampu menyibak curahan air terjun. Dari gerakan yang dibuat pemuda ini jelas dia tengah melakukan gerak jurus-jurus ilmu silat.

Tak jauh dari situ, di lamping sebuah bukit batu, tanpa diketahui oleh pemuda tadi, berdiri seorang tua berjubah putih mengenakan sorban berwarna hitam. Kedua alis matanya berwarna sangat merah laksana darah.

Janggutnya yang putih panjang melambai-lambai ditiup angin pagi. Di tangan kanannya orang bersorban hitam ini memegang sebatang tongkat kayu yang ujungnya dilapisi besi tajam hampir menyerupai sebuah lembing.

Sesekali tampak kening orang tua ini berkerut. Di lain saat ada sesungging senyum muncul di bibirnya. Tak jarang pula dia menggangguk-anggukkan kepala sambil mengusap janggut putihnya. Di bawah air terjun pemuda yang berlatih silat kelihatan membuat gerakan memukul dan menendang. Gerakannya demikian cepat hingga tubuhnya seolah-olah satu bayangan yang berkelebat di bawah curahan air terjun.

Tiba-tiba gerakan itu berubah lambat seperti gerakan orang menari. Di pertengahan batu cadas hitam yang dipijaknya pemuda itu hentikan gerakan lalu kedua kakinya membentuk kuda-kuda yang kokoh. Rahangnya mengembung, mulutnya terkatup rapat. Perlahan-lahan perutnya yang berotot tampak mengempis. Sebaliknya dadanya membusung. Otot-ototnya bertonjolan. Bersamaan dengan itu pemuda ini angkat kedua tangannya ke atas. Masing-masing telapak tangan dikembangkan. Tubuhnya bergetar tanda dia mengerahkan tenaga dalam yang hebat. Hawa panas membungkus seluruh permukaan kulitnya, membuat keluarnya asap tipis ketika tubuhnya tersentuh air terjun.

Ketika dua telapak tangan yang diangkat melewati bahu tiba-tiba terjadilah satu hal yang sulit dipercaya. Air terjun yang jatuh ke bawah dengan deras itu mendadak terhenti curahnya laksana ditahan oleh satu tembok batu yang tidak kelihatan. Keanehan ini bukan sampai di situ saja. Ketika si pemuda membuat gerakan mendorong ke atas, curahan air terjun kelihatan ikut naik, terdorong ke atas sampai sejauh satu tombak lebih.

Di lamping bukit orang tua bersorban hitam sesaat tampak tercekat menyaksikan kejadian itu. Hatinya berkata. "Selama dunia terkembang baru ada dua orang yang sanggup menahan dan mendorong curahan air terjun seperti itu. Guruku dan aku. Kini dia menjadi orang ke tiga yang sanggup melakukannya!"

Di bawah curahan air terjun, si pemuda keluarkan teriakan keras lalu perlahan-lahan turunkan kedua tangannya. Air terjun kembali mencurah ke bawah. Diam-diam si pemuda merasa puas. Sebelumnya dia telah mencoba beberapa kali melakukan hal itu. Baru sekarang dia sanggup membuat gerakan sempurna hingga mampu menahan bahkan mendorong curahan air terjun ke atas.

Penuh rasa bangga dan percaya diri si pemuda kembali melanjutkan gerakan-gerakan silatnya di bawah curahan air terjun. Pada saat itulah mendadak tampak melayang sebuah lembing. Benda ini melesat ke arah belakang kepala si pemuda. Sekali lembing itu menancap di batok kepalanya sebelah belakang jangan harap dia bisa lolos dari maut.

Si pemuda memang sama sekali tidak melihat datangnya lembing maut tersebut. Namun sepasang telinganya yang tajam tidak bisa ditipu walau curahan air terjun begitu keras. Hanya dua jengkal ujung lembing akan menembus batok kepalanya, pemuda ini tiba-tiba sekali merunduk sambil membuat gerakan berputar. Bersamaan dengan itu dari mulutnya keluar bentakan keras. Tangan kanannya menghantam ke atas.

Kraakk!

Lembing yang lewat di atas kepalanya mental setelah terlebih dulu patah dua dihantam pukulannya.

Baru saja dia lolos dari bokongan tadi tiba-tiba satu bayangan putih berkelebat. Satu tendangan menderu ke arah perutnya.

Si pemuda berteriak keras. Dia cepat menyingkir ke samping sambil menepis kaki yang menendang.

Namun saat itu pula satu gebukan menghantam ke arah kepalanya. Mau tak mau terpaksa pemuda ini batalkan niat memukul kaki lawan lalu dengan cepat jatuhkan diri ke bawah. Begitu serangan lawan gelap itu lewat dia cepat menghantam ke atas dengan tangan kanan. Inilah jurus yang dinamakan "membantai matahari".

Selain gerakan memukul dilakukan secara kilat, pukulan itu juga disertai aliran tenaga dalam. Tapi ternyata tidak mudah untuk menghajar si penyerang yang rupanya juga memiliki gerakan cepat laksana berkelebatnya setan. Malah satu jotosan balasan tiba-tiba menderu lagi ke arah kepala si pemuda. Meski agak terperangah namun pemuda ini masih sempat mengelak. Jotosan lawan menghantam dinding batu di belakangnya. Dinding ini retak besar bahkan bagian yang kena hantaman langsung kelihatan hancur berlobang.

Belum sempat pemuda ini menarik nafas lega mendadak datang lagi satu serangan. Lima jari tangan kanan yang ditekuk ke dalam mencari sasaran di batang lehernya. Si pemuda berteriak keras. Kedua lututnya menekuk tajam. Kedua tangan laksana kilat menyambar lengan yang melancarkan pukulan. Si penyerang berseru kaget ketika lengannya kena dicekal. Selagi dia berusaha melepaskan cekalan itu, si pemuda telah lebih dulu menarik lengan itu kuat-kuat ke bawah hingga lawan ikut terseret dengan keras. Pada saat tubuh lawan terjerembab si pemuda susupkan kaki kanannya ke perut orang lalu dibarengi bentakan keras tubuh lawan dilemparkan ke dinding batu cadas di belakangnya.

Saat itulah terdengar suara tawa bergelak. Tubuh yang dilempar mental tadi sesaat mengapung di udara lalu membalik turun dengan cepat. Sambil melayang ke bawah orang ini gerakkan tangan kanannya.

Dari tangan yang dimiringkan itu tiba-tiba berkiblat sinar merah laksana sambaran lidah api disertai suara deru yang menggidikkan.

"Pukulan Inti Api!" teriak si pemuda begitu dia mengenali pukulan sakti itu. Si penyerang masih tampak samar-samar dalam gerakannya yang laksana kilat, namun kini si pemuda sudah dapat menduga siapa adanya orang itu. Dengan cepat dia menjatuhkan diri, bergulingan di atas batu cadas terus menceburkan diri ke dalam air. Ujung lidah api menyambar batu cadas sejarak lima langkah di depan pemuda itu. Batu itu hancur berantakan. Si pemuda merasakan kuduknya sedingin es. Kalau terlambat sedikit saja tadi dia menyelamatkan

diri, pasti nyawanya tidak tertolong.

Dengan cepat si pemuda keluar dari dalam air. Begitu sampai di hadapan si penyerang dia langsung jatuhkan diri, berlutut seraya berseru. "Guru!"

Si penyerang tanpa ampun tadi ternyata adalah orang tua bersorban hitam berjubah putih yang punya sepasang alis mata berwarna semerah darah. Orang tua ini pegang rambut gondrong muridnya yang basah kuyup lalu berkata. "Kepandaianmu telah maju pesat muridku. Aku gembira. Berarti kalau aku mati sudah ada seseorang yang mewarisi seluruh kepandaianku. Sekarang kembalilah ke pondok. Tukar pakaianmu. Tunggu aku di sana. Ada sesuatu yang akan kubicarakan denganmu Andana."

Sang murid yang bernama Andana itu anggukkan kepala. Ketika dia baru bergerak satu langkah tiba-tiba terdengar seruan sang guru. "Andana, tunggu! Aku melihat satu keanehan di tempat ini!"

Andana cepat berpaling. "Apa maksud Datuk Alis Merah?"

"Lihat ke depan sana," jawab orang tua yang dipanggil dengan nama Datuk Alis Merah seraya menunjuk ke arah ketinggian dimana terletak sebuah batu cadas besar rata sejarak dua puluh langkah di depan mereka. "Puluhan tahun aku hidup di tempat ini. Tak pernah kejadian ada kabut di sini!"

Andana memandang ke jurusan yang ditunjuk gurunya. Memang benar. Di depan sana dia melihat kabut menutupi bagian lembah seluas seratus kaki persegi, tetapi di atas batu cadas besar dan rata itu.

"Agaknya itu bukan kabut biasa Datuk. Coba perhatikan," kata Andana pula.

"Demi Tuhan kau benar muridku! Itu memang bukan kabut biasa!" kata Datuk Alis Merah dengan air muka berubah. Baru saja orang tua ini berkata begitu tiba-tiba terdengar suara mengaum yang dahsyat. Batu yang mereka injak terasa bergerak. Air yang tergenang di antara bebatuan tampak bergelombang. Memandang ke depan tanpa berkesip guru dan murid melihat samar-samar munculnya satu sosok seekor harimau besar di balik ketebalan kabut. Binatang ini memandang lurus-lurus ke arah Datuk Alis Merah dan Andana. Ekornya bergerak-gerak. Binatang ini mengaum sekali lagi, membuat lembah batu itu kembali bergetar.

"Hemmmm. Tunggangannya telah muncul. Tapi tamunya sendiri belum kelihatan." Terdengar Datuk Alis Merah berkata perlahan seolah-olah pada dirinya sendiri.

"Datuk, siapa gerangan tamu yang Datuk maksudkan?" bertanya Ananda.

"Yang aku tahu hanya ada satu orang yang memiliki tunggangan seekor harimau. Ayahmu, Datuk Bandaro Sati."

Paras Andana berubah. "Ayah saya Datuk ...? Tak biasanya, bahkan tak pernah beliau muncul seperti ini. Kecuali kalau beliau...." Andana tidak meneruskan ucapannya. Hatinya berdetak tidak enak.

"Aku tidak tahu keajaiban apa yang tengah terjadi di hadapan kita saat ini Andana. Kita harus bersiap-siap. Agaknya ada satu hal luar biasa telah atau akan terjadi di luar kemampuan kita untuk mencegahnya...."

Samar-samar di dalam kabut tiba-tiba tampak menyeruak sosok tubuh lelaki berwajah gagah dihiasi kumis tipis, berusia sekitar setengah abad. Dia mengenakan destar hitam dan pakaian hijau. Pakaiannya ini tampak penuh dengan lobang-lobang bekas tusukan dan darah membasahi hampir sekujur pakaian itu. Di pinggangnya tersisip sebilah keris terbuat dari emas.

Datuk Alis Merah ternganga melihat kemunculan sosok tubuh yang laksana bayang-bayang itu.

Bibirnya bergetar ketika dia berkata. "Sahabatku Datuk Bandoro Sati. Kau muncul seperti ini.... Apakah yang telah terjadi?"

Andana sendiri yang tegak di samping Datuk Alis Merah sudah sejak tadi terkesiap dengan mata melotot. Sosok samar-samar di dalam kabut itu dikenalinya memang sosok ayahnya. Tapi mengapa dia bisa muncul seperti ini dan dengan pakaian berlumuran darah begitu rupa? Dipenuhi oleh rasa tidak percaya dia menjatuhkan diri berlutut. Lidahnya kelu ketika dia memanggil. "Ayah...."

Lelaki di dalam kabut yang merupakan penjelmaan Datuk Bandoro Sati menyapu wajah kedua orang di depan air terjun itu dengan pandangan matanya yang aneh. Lalu terdengar suaranya berucap seolah datang dari dasar lobang yang jauh namun jelas dan bergema.

"Sahabatku Datuk Alis Merah, anakku Andana. Hanya kuasa Tuhan yang membuat hal ini bisa terjadi.

Aku datang hanya sebentar. Untuk menyampaikan pesan. Andana, kembalilah segera ke Pagaralam tanah kelahiranmu di Pagaruyung. Selamatkan rumah gadang milik kita yang hendak dirampas oleh manusia culas berotak kotor serakah. Selamatkan semua harta pusaka yang ada di situ. Harta pusaka itu adalah warisan leluhur kita sejak zaman Yang Dipertuan Sri Baginda Adityawarman. Selamatkan tanah kelahiranmu dari manusia tamak serakah yang hendak menguasai negeri, menghancurkan budaya kita.... Namun sebelum kau pergi ke Pagaralam, naiklah dulu ke puncak Singgalang. Temui adikku Uning Ramalah. Aku juga akan menunggumu di sana."

Habis berkata begitu bayangan orang di balik kabut menggerakkan tangannya ke pinggang. Lalu tampak dia membungkuk meletakkan sesuatu di atas batu cadas. Benda itu memancarkan sinar kuning berkilauan terkena sinar matahari pagi.

"Aku pergi sekarang. Selamat tinggal anakku. Selamat tinggal sahabatku Datuk Alis Merah. Tuhan Maha Besar. Kalian akan mendapatkan perlindungan dari-Nya."

"Ayah!" seru Andana seraya berdiri dan hendak mengejar. Namun auman harimau di atas batu sana membuat dia terperangah dan seolah terpaku di tempatnya.

Perlahan-lahan sosok binatang buas ini, disusul sosok Datuk Bandoro Sati menjadi pudar dan samar.

Akhirnya keduanya lenyap sama sekali. Tapi lama kemudian kabut yang tadi muncul secara aneh juga ikut sirna.

"Datuk, apakah kita tidak bermimpi?" bertanya Andana pada Datuk Alis Merah.

"Kita tidak bermimpi muridku. Yang datang tadi benar-benar bayangan ayahmu. Hanya saja ada keanehan yang tidak bisa kupecahkan. Dia datang dengan pakaian berlumuran darah. Sekujur tubuhnya penuh lobang-lobang bekas tusukan."

"Lalu apakah saya harus mengikuti apa yang tadi dikatakan beliau?" tanya Andana. "Kembali ke Pa-garalam di Pagaruyung?"

"Mari kita kembali ke pondok. Kita bicara di sana. Tapi kita periksa dulu apa yang tadi diletakkan Ayahmu di atas batu sana."

Datuk Alis Merah berkelebat ke atas batu cadas. Andana mengikuti. Guru dan murid itu sampai di atas batu cadas hitam di tempat ketinggian. Di sini mereka menemukan sebilah keris berhulu dan bersarung emas.

"Tuhan Maha Besar!" seru Datuk Alis Merah. "Andana, ambillah keris itu. Itu adalah senjata sakti

bertuah, bernama Tuanku Ameh Nan Sabatang. Keris itu adalah salah satu senjata dari sekian banyak pusaka warisan nenek moyangmu. Ayahmu sengaja meninggalkannya untukmu...."

"Aneh guru. Kalau Ayah memang hendak memberikannya pada saya mengapa harus dengan cara ini?

Mengapa tidak menunggu sampai saya berada di Pagaruyung?"

Datuk Alis Merah tidak menjawab. Di balik semua keanehan ini, si orang tua yang arif telah punya firasat bahwa sesuatu telah terjadi dengan diri Datuk Bandaro Sati. Namun takut kesalahan dia tak mau mengatakan apa-apa pada muridnya selain berucap. "Ambil keris itu Andana. Pelihara baik-baik...."

Sesaat Andana tampak meragu. Dia memandang pada Datuk Alis Merah. Orang tua ini anggukkan kepala. Akhirnya Andana membungkuk mengambil keris emas itu dengan tangan gemetar. Begitu dia menyentuh senjata bertuah ini ada hawa aneh keluar dari keris, mengalir masuk ke dalam lengannya terus ke sekujur tubuhnya. Saat itu juga dia merasa satu kelainan terjadi pada dirinya. Tubuhnya terasa jadi lebih ringan. Andana mengulurkan keris itu pada gurunya. Datuk Alis Merah menyambuti. Sesaat ditimbang-timbangnya keris itu sambil memperhatikan dengan seksama. "Keris bagus ukiran indah," kata sang Datuk. Lalu dia menggerakkan tangan hendak mencabutnya. Ketika ditarik hulu dan badan keris ternyata tidak bisa dipisahkan dari sarungnya. Datuk Alis Merah kerahkan tenaganya dan mencoba sekali lagi. Tetap saja keris itu tidak bisa tercabut dari sarungnya. Penasaran orang tua ini kerahkan tenaga dalam lalu kembali berusaha mencabut senjata itu dari sarungnya. Sampai sekujur tubuhnya gemetaran dan keringat memericik di wajahnya Datuk Alis Merah masih tidak dapat mencabut keris sakti bertuah itu.

"Aneh," kata Datuk Alis Merah sambil mengembalikan keris Tuanku Ameh Nan Sabatang pada Andana. "Muridku, coba kau yang mencabutnya."

Andana mengambil senjata itu kembali. Tangan kiri memegang sarung dan tangan kanan memegang hulu. Mulutnya mengucapkan Bismillahir rohma nir-rohim. Dua tangan bergerak ke arah yang berlawanan.

Sret! Keris Tuanku Ameh Nan Sabatang tercabut dari sarungnya. Sinar kuning menyilaukan memancar dari badan senjata yang juga terbuat dari lapisan emas berukir huruf-huruf Arab.

"Tuhan Maha Besar. Senjata itu memang berjodoh denganmu Andana. Rupanya hanya orang-orang yang bertali darah dengan nenek moyangmu yang bisa mencabut senjata sakti ini dari sarungnya."

Andana memperhatikan senjata itu dengan penuh kagum lalu dengan hati-hati dimasukkannya kembali ke dalam sarungnya.* * *

TUJUHDI PINTU pondok Datuk Alis Merah memegang bahu muridnya. "Kau pergi bersama doaku, Andana.

Jaga dirimu baik-baik. Ingat segala pelajaran yang telah kau terima dariku walau hanya kau dapat seumur jagung. Ilmu kepandaian bukan untuk menyusahkan orang lain. Apalagi kalau sampai digunakan untuk mencelakai dan bunuh membunuh."

"Terima kasih atas petuah itu Datuk. Sebenarnya kalau tidak menimbang pesan Ayah, saya tidak akan meninggalkan Datuk. Datuk memang sahabat Ayah saya. Tapi bagi saya Datuk sudah saya anggap sebagai orang tua sendiri." Andana membungkuk lalu menyalami tangan orang tua itu dan menciumnya.

"Ingat baik-baik Andana. Perjalanan ke kampung halamanmu di Pagaruyung mungkin bukan satu perjalanan pulang kampung yang menyenangkan. Pasti banyak orang yang suka padamu, tetapi banyak pula yang dengki dan jahat. Masih banyak orang yang akan terus melancarkan fitnah keji padamu. Apalagi kau telah dicap sebagai pelarian. Buronan dari penjara Batusangkar. Karenanya hati-hatilah dalam setiap tindak dan langkahmu. Walau kau asli orang Minang namun tetap harus kau ingat pada kata-kata bertubah. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung."

Dengan tangan kirinya orang tua itu mengusap kepala Andana lalu berkata. "Jika kau sampai di puncak Singgalang sampaikan salamku pada adik ayahmu Uning Ramalah. Katakan bahwa aku ada baik-baik saja. Aku berharap dia begitu juga."

"Salam dan kata-kata guru akan saya sampaikan."

Datuk Alis Merah mengangguk. "Sebelum kau pergi temui dulu adikmu. Hibur hatinya. Dia tampak gelisah sejak dia tahu kau akan meninggalkan tanah Asahan ini."

"Saya memang akan menemuinya guru," kata Andana pula.

Tak berapa jauh dari pondok ada sebuah jalan menurun di antara semak belukar dan pepohonan.

Andana melangkah mengikuti jalan ini yang pada akhirnya membawanya pada sebuah telaga kecil. Begitu jernihnya air telaga hingga dasar telaga yang dangkal dan penuh dengan batu-batu dapat terlihat dengan jelas.

Di sebelah kiri telaga ada sebuah pancuran. Di bagian kanan terdapat saluran yang mengalirkan air telaga ke pedataran rendah.

Sejarak enam langkah dari telaga itu terdapat sebuah batu rata. Di atas batu inilah duduk membelakangi sosok seorang dara berbaju kurung. Sehelai selendang putih tergulung di atas kepalanya.

Di atas batu di samping sang dara terletak satu bungkusan kecil. Tangannya memegang beberapa batu kecil. Satu demi satu batu itu dilemparkannya ke dalam telaga. Ketika dia hendak melemparkan batu terakhir, dari belakang seseorang tiba-tiba memegang lengannya. Gadis ini tergagu dan cepat berpaling. Dia melihat satu wajah gagah yang tersenyum padanya.

"Kau terkejut Halidah?"

"Abang rupanya. Saya kira siapa...." kata gadis itu sambil balas tersenyum. Namun di balik senyum itu tersembunyi rasa pedih. Kedua matanya dengan sayu menatap wajah Andana, memperhatikan kain mereka yang dikenakan pemuda itu.

"Gagah sekali Abang berpakaian seperti ini. Rupanya jadi juga Abang pergi meninggalkan Asahan,

kembali ke Pagaruyung?"

"Kalau diturut kata hati mana mau Abang pergi dari sini. Datuk sudah Abang anggap sebagai Ayah sendiri. Kau saya sayangi sebagai Adik sendiri. Namun saya terpaksa pergi Halidah...."

Gadis di atas batu itu menundukkan kepalanya. Jari-jari tangannya mempermainkan batu kecil yang dipegangnya. Angin bertiup lembut. Dalam hatinya gadis ini berkata. "Dia menyayangiku sebagai adik sendiri.

Ya Tuhan. Apakah dia tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaanku terhadapnya?"

"Kenapa kau diam saja Halidah? Tak senang rupanya melihat Abang pergi?"

"Gadis mana yang tidak sedih ditinggal pemuda yang dicintainya?" Kata-kata itu hanya menggema dalam hati Halidah.

"Abang tahu perasaanmu terhadap Abang. Tapi Abang sangat menghormati Ayahmu. Dia guru Abang. Dia menolong Abang di kala susah. Banyak budi yang sudah Abang terima dari beliau. Abang tidak mau dianggap sebagai seorang yang menggunting dalam lipatan...."

"Kalau Abang tahu perasaan saya mengapa Abang..." Halidah tidak meneruskan ucapannya itu. Dia mengalihkan pembicaraan dengan bertanya. "Akan lamakah Abang di Pagaruyung? Apakah akan kembali ke sini?"

"Abang tidak tahu berapa lama Abang di sana. Sebelum Abang harus menjenguk adik perempuan Abang di Singgalang. Perihal kembali ke sini tentu saja dengan izin Tuhan Abang akan kembali lagi kemari."

"Saya dengar gadis-gadis di tanah Minang cantik-cantik. Berkulit halus, bagus tutur katanya, elok budi perangainya...."

Andana tertawa lebar mendengar kata-kata si gadis. Dipegangnya bahu Halidah lalu berkata. "Di negeri Asahan ini tak kalah banyak gadis yang cantik-cantik, elok budi perangainya. Salah seorang yang Abang kenal adalah Adik sendiri..."

"Ah, Abang terlalu memuji," paras Halidah kelihatan kemerahan. "Jadi benar Abang nanti akan kembali lagi kesini?"

"Abang berjanji. Selama gunung masih biru, selama air sungai masih mengalir ke laut Abang pasti akan kembali."

"Senang saya mendengar kata-kata bersajak itu. Ingatlah selalu, ada seorang gadis buruk di negeri Asahan ini yang mengharapkan Abang cepat kembali."

"Abang akan selalu ingat padamu Halidah. Selama Abang pergi jaga dirimu baik-baik...." Andana membungkuk lalu mencium kening Halidah.

"Doa saya akan ikut kemana Abang pergi..." bisik Halidah seraya mengusap pipi pemuda itu dengan penuh cinta kasih. Lalu diambilnya bungkusan kecil di atas batu. "Ini saya bungkuskan nasi dan sedikit lauk untuk bekal Abang di jalan."

Andana menerima pemberian itu dengan hati terharu biru. "Saya tidak tahu harus mengatakan apa lagi Halidah. Kau baik sekali...."

Si gadis melepas selendang putih yang menutupi kepalanya lalu diserahkannya pada Andana. "Hanya ini yang bisa saya berikan sebagai pengganti diri saya."

Andana bimbang sesaat. Akhirnya diambilnya juga selendang putih itu. Dari dalam sakunya dikeluarkannya sehelai sapu tangan lalu diserahkannya pada Halidah seraya berkata. "Jika kau rindu pada Abang, letakkan sapu tangan ini di dadamu. Kalau malam kau tidur, letakkan di bawah bantalmu. Abang pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik...."

Halidah memegang wajah pemuda itu dengan kedua tangannya. Lalu dia berjingkat untuk dapat mengecup Andana. Sepasang matanya berkaca-kaca. Andana merangkul gadis itu erat-erat ke tubuhnya seolah tidak akan dilepaskannya lagi.* * *

DELAPANDUA HARI dua malam diazab berdiri seperti itu membuat bagaimanapun sabarnya seseorang lama-lama akan meledak kemarahannya. Demikian juga dengan Pendekar 212 Wiro Sableng. Walaupun setiap malam ketika dia tak dapat lagi menahan kantuk Uning Ramalah selalu meletakkan bungkusan makanan secara diam-diam di dekatnya namun kejengkelannya tidak dapat dikendalikan lagi. Anehnya selama dua hari ini perempuan tua itu tidak pernah keluar dari dalam gubuknya.

Pagi hari ke tiga ketika sang surya mulai naik, Wiro sudah siap untuk mengambil keputusan.

Bagaimana kalau aku pura-pura mengancam hendak menghantam hancur jenazah Datuk Bandaro Sati kakaknya itu. Mungkin dia mau membebaskan diriku. Tapi mayat itu tidak berdosa. Lebih baik aku hantam saja gubuknya hingga hancur berantakan. Gila seumur hidup baru kali ini aku disiksa orang begini rupa.

Tidak tanggung-tanggung murid Sinto Gendeng ini siapkan pukulan "Sinar matahari" pada kedua tangannya kiri kanan. Cahaya putih berkilauan seolah memapas sinar matahari pagi memancar dari kedua tangan sang pendekar. Tepat pada saat dia menggerakkan kedua tangan untuk menghantam ke arah gubuk, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda. Seorang pemuda berpakaian merah bercelana hitam dan ada sapu tangan merah terikat di keningnya muncul menunggang kuda. Dia sama sekali tidak memperdulikan Wiro ataupun sesuatu yang terbujur tertutup kain putih di halaman gubuk. Kudanya dipacu ke arah gubuk seraya berseru.

"Uning Ramalah, saya datang!"

Pintu gubuk terbuka. Perempuan tua berselendang kain putih itu keluar menyongsong si pemuda.

Pemuda ini cepat turun dari kudanya lalu menyalami dan mencium tangan perempuan itu.

"Tuhan Maha Besar. Syukur kau datang anakku. Terlambat sedikit saja mungkin keadaan sudah berubah!" Diam-diam rupanya Uning Ramalah sudah mengetahui maksud Pendekar 212 yang hendak

menghancur leburkan gubuknya.

"Uning, sepanjang perjalanan dari Asahan saya merasa tidak enak. Ada firasat buruk yang saya tidak tahu artinya. Menurut Datuk Alis Merah, dua kali dia bermimpi bertemu dengan Uning. Apakah Uning ada baik-baik saja?"

"Andana, aku memang baik-baik saja anakku. Tapi...."

Perempuan tua ini segera saja berubah air mukanya. Wajah keriputan itu mendadak menjadi kuyu sedih. Dan kedua matanya tampak berkaca-kaca.

"Uning, ada apakah?" tanya Andana. Pemuda ini memandang ke halaman. Dilihatnya seorang pemuda berdiri di ujung sana. Agaknya dia tidak bisa beranjak sama sekali dari tempatnya berdiri. Memandang pada wajah pemuda berambut gondrong itu Andana seolah melihat bayangannya di dalam kaca. "Pemuda tak dikenal itu. Mengapa wajahnya mirip wajahku. Apa yang dilakukannya di tempat ini?" Lalu mata Andana berpindah pada sosok yang terbujur di halaman berbatu merah.

"Uning, saya melihat pemandangan aneh. Siapa pemuda itu. Lalu apa pula yang terbujur di halaman sana?"

"Itu jenazah ayahmu Andana. Ayahmu mati dibunuh orang...." Kalau ada petir menyambar di depan hidungnya saat itu tidak demikian terkejutnya Andana mendengar kata-kata Uning Ramalah.

"Ayah mati dibunuh orang?" suara Andana menyentak. Matanya memandang membeliak pada sosok tubuh yang terbujur dan tertutup kain putih itu. Dari mulut pemuda ini kemudian keluar suara teriakan dahsyat.

Lalu dia melompat ke halaman berbatu merah. Sekali tarik saja disingkapkannya kain putih penutup jenazah Datuk Bandaro Sati.

"Ayah!" teriak Andana lalu menubruk dan memeluki jenazah ayahnya. Di tempatnya berdiri di depan gubuk Uning Ramalah tegak tertunduk dengan mata berkaca-kaca.

"Ya Tuhan! Jadi ini arti firasat itu! Ini arti hatiku yang tidak enak itu! Ayahhh!" Seperti anak kecil Andana menggerung menangisi jenazah ayahnya. Sampai satu tangan memegang bahunya dan terdengar suara Uning Ramalah.

"Siapa yang melakukan ini Uning? Siapa yang membunuh Ayah?!" tanya Andana pada Uning Ramalah.

Perempuan tua itu hanya menjawab dengan gelengan kepala dan air mata yang jatuh meleleh ke pipinya.

"Pasti dia!" teriak Andana seraya menunjuk ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng yang memperhatikan dirinya. "Jahanam! Kuhabisi kau sekarang juga!"

Pemuda murid Datuk Alis Merah itu melompat ke arah Wiro. Beberapa langkah dari hadapan Pendekar 212 Andana angkat tangan kanannya. Tangan ini dimiringkan sedikit lalu dihantamkannya ke arah Wiro.

Satu lidah api yang dahsyat menderu ke arah Pendekar 212. Inilah pukulan "inti api" yang dipelajari selama dua tahun dari Datuk Alis Merah. Kehebatannya luar biasa. Jangankan manusia, batu karang pun akan hangus dan hancur berantakan kena hantamannya.

Murid Eyang Sinto Gendeng yang sejak tadi memang sudah mengkal malah sudah siap-siap untuk melepas pukulan "sinar matahari" melihat pemuda di hadapannya menyerangnya dengan pukulan maut begitu rupa, tanpa banyak pikir lagi serta merta hantamkan tangan kanannya menyambuti pukulan lawan.

Lidah api yang merah legam dan panas saling beradu dengan sinar putih perak menyilaukan.

Bummm!

Satu ledakan keras seperti hendak meruntuhkan puncak gunung Singgalang dan merobek langit.

Tubuh Pendekar 212 Wiro Sableng terguncang hebat tapi kedua kakinya tetap saja terpaku ke tanah. Mukanya tampak pucat dan di sela bibirnya ada sebersit darah keluar.

Di pihak lain Andana terpental satu tombak lalu terbanting keras ke halaman berbatu merah. Dia merasakan dadanya seperti remuk dan kepalanya seperti tanggal. Kedua matanya untuk beberapa saat lamanya seperti buta. Darah mengucur dari mulutnya. Menyangka pemuda itu telah menemui ajalnya Uning Ramalah menjerit keras lalu memburu dan menubruk tubuh Andana.

"Saya masih hidup Uning...." kata Andana perlahan.

"Siapa pemuda yang punya tampang sama dengan saya itu? Ilmunya tinggi sekali...." Ternyata dalam keadaan seperti itu Andana masih bisa bicara polos dan jujur. "Saya mengira dia pembunuh ayah. Mungkin saya kurang menyelidik dan ketelepasan tangan!"

"Dia bukan pembunuh Ayahmu Andana. Justru dia yang membawa jenazah ayahmu ke mari. Hanya saja aku belum sepenuhnya yakin bahwa dia tidak terlibat dalam kematian Ayahmu. Dia mengaku bernama Wiro Sableng. Berasal dari tanah Jawa...."'

"Jauh-jauh datang kemari apa keperluannya? Agaknya dia patut dicurigai."

"Katanya dia mencari seorang bernama Tua Gila...."

"Tua Gila....? Bukankah itu kakek sakti mandraguna yang masih sahabat para sesepuh kita?" Ujar Andana pula.

"Dia berkata begitu tapi bagaimana bisa mempercayainya?" jawab Uning Ramalah. "Waktu jenazah ayahmu sampai di sini, keris sakti bertuah Tuanku Ameh Nan Sabatang tidak ada pada Ayahmu. Aku coba menyelidik dengan ilmu "tembus pandang". Ternyata dia memang tidak menyembunyikan keris itu...."

"Tuanku Ameh Nan Sabatang ada pada saya Uning," menerangkan Andana. Lalu diceritakannya kejadian aneh di tempat kediaman Datuk Alis Merah.

Uning Ramalah jadi terperangah. "Kalau bukan kau yang mengatakan mana mungkin aku bisa percaya ada kejadian seaneh itu." Lalu dia memandang Wiro. "Walaupun kini kecurigaanku pada pemuda itu semakin berkurang namun tetap saja aku belum bisa mempercayainya sepenuhnya. Itu sebabnya aku menjeratnya dengan ilmu "paku bumi" hingga dia tidak bisa lari kemana-mana sebelum kau datang.

"Sebaiknya kita bebaskan saja dia Uning. Saya punya dugaan dia tidak bersalah. Dia bukan orang jahat...."

"Kau meminta aku melepaskan ilmu paku bumi itu Andana?" tanya Uning Ramalah.

"Kalau Uning tidak keberatan...."

"Baiklah. Kalau nanti dia ternyata memang manusia jahat, aku tidak akan memberinya ampun!"

Perlahan-lahan perempuan tua itu berdiri. Kedua matanya memandang tepat-tepat ke arah Wiro. Kaki kanannya diajukan satu langkah.

"Apa lagi yang hendak dilakukan perempuan tua ini?" Pikir Wiro seraya balas memperhatikan Uning Ramalah.

"Mau mengajak aku menari?" Memikir sampai di situ Wiro jadi senyum-senyum sendiri. Tentu saja sikapnya ini menimbulkan rasa heran dan tanda tanya pada Uning Ramalah dan Andana. Lalu tanpa perdulikan lagi sikap Wiro Uning Ramalah membuat guratan tanda x di atas tanah dengan ujung ibu jari kaki kanannya.

Begitu tanda silang itu diinjaknya maka Wiro serta merta merasakan kekuatan yang selama ini memaku kedua kakinya ke tanah menjadi punah. Dia sanggup menggerakkan kakinya kiri dan kanan.

"Orang tua, terima kasih kau bersedia membebaskan diriku!" kata Wiro. Dari dalam sakunya dikeluarkannya sebuah benda berbentuk bulat sebesar kuku ibu jari. Benda ini dipotesnya hingga patah dua.

Sepotong segera ditelannya, sisanya dilemparkannya ke arah Andana.

"Apa ini?!" tanya murid Datuk Alis Merah dengan curiga walaupun dia menyambuti juga benda yang dilemparkan Wiro itu.

"Obat untuk luka dalam. Bentrokan tadi telah membuat kita sama-sama cidera. Terserah kau mau menelannya atau tidak. Yang jelas aku tidak punya kepentingan apa-apa lagi di sini...."

"Tunggu! Jangan pergi dulu!" kata Andana seraya bangkit berdiri. Obat yang dalam tangannya dimasukkannya ke dalam mulut. Dikunyahnya lalu ditelannya. Dia merasakan ada hawa hangat menjalar di dadanya sampai ke perut.

"Mungkin ada sedikit salah paham di antara kita. Kurasa itu wajar saja karena kita tidak saling mengenal. Uning Ramalah mengatakan kau yang membawa jenazah ayahku ke sini...... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · admin@nomor1&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.145.16.43
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia