Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Mata manusia biasa akan melihatnya sebagai suatu hal yang tidak dapat dipercaya. Namun ini adalah kenyataan. Sebuah perahu kecil meluncur deras seolah membelah air laut di selat Sunda menuju ke arah Barat Laut. Saat itu tengah hari tepat. Sang surya memancarkan sinarnya yang paling panas pada puncak ketinggiannya.

Di atas perahu tampak duduk seorang nenek berwajah angker. Tubuhnya kurus kering. Mukanya seperti tengkorak karena hanya tinggal kulit pembalut tulang. Dia mengenakan pakaian warna hijau tua.

Perempuan tua ini memegang sebuah pendayung di tangan kirinya. Sikapnya mendayung acuh tak acuh saja. Tetapi kekuatan dayungannya membuat perahu yang ditumpanginya melesat deras di permukaan air laut yang bergelombang. Rambutnya yang putih panjang riap-riapan ditiup angin.

Sambil mendayung mulutnya yang perot terdengar menyanyi. Syair nyanyiannya terasa aneh.

Dosa muda salah kaprah

Jangan harap ampunan pasrah

Tujuh samudera akan kutempuh

Seribu badai akan kutantang

Yang berdosa berpura lupa

Berlagak bodoh seolah gagah

Kalau tak muncul perlihatkan dada

Anak turunan kujadikan mangsa

Sang istri sudah kudapat

Menyusul kini anak keempat

Satu persatu kubuat sekarat

Agar terkikis dendam berkarat





Ketika matahari mulai bergeser ke barat di kejauhan mulai kelihatan pantai Pulau Rakata. Lebih jauh lagi ke pedalaman menjulang Gunung Krakatau. Agaknya pulau inilah yang menjadi tujuan nenek angker itu. Si nenek menyeringai. Aneh! Meski sudah berusia hampir 70 tahun tapi dia memiliki deretan gigi yang masih lengkap atas bawah. Hanya saja dua taringnya sebelah atas tampak lebih panjang seperti taring srigala hutan dan membuat tampangnya tambah mengerikan.

Nenek itu kembali tampak menyeringai. Dia memandang ke lantai perahu.

Astaga! Ternyata di atas perahu itu dia tidak sendirian. Sesosok tubuh lelaki berusia sekitar 40 tahun tergeletak tak bergerak. Wajah dan dadanya yang tidak tertutup baju kelihatan penuh dengan guratan-guratan luka yang dalam dan mengerikan. Tidak dapat dipastikan apakah lelaki ini masih hidup atau sudah mati. Rupanya dia hanya pingsan.

Sesaat terdengar orang ini siuman dan mengerang.

"Air....tolong...." terdengar suaranya meminta, sangat perlahan.

"Apa? Kau haus? Minta minum? Baik! Akan kuberi minum!"

Dari lantai perahu nenek ini mengambil sebuah batok kelapa. Dengan batok ini diciduknya air laut. "Ini! Minumlah!" Lalu isi batok diguyurkan ke dalam mulut orang yang terbuka setengah mati menderita haus itu!

Air laut asin itu tentu saja tidak akan melepas dahaga orang yang meminta.

Sebaliknya orang ini malah keluarkan suara tercekik. Kedua matanya sejak tadi terpejam kini terbuka mendelik. Suara cekikan disusul dengan suara erangan tertahan.

Air asin seolah mencekik tenggorokannya. Lalu sepasang mata itu tidak bergerak lagi dan hanya bagian putihnya saja yang kelihatan. Mati! Orang yang menggeletak di lantai perahu itu telah menemui ajalnya!

Anehnya si nenek tertawa mengekeh mengetahui orang itu mati. Seolah dia sangat membenci orang tua itu dan sama sekali tidak perduli akan kematiannya.

"Kau akhirnya mampus juga Sampan! Aku sebenarnya kasihan padamu. Kau hanya anak yang menerima celaka karena dosa orang tuamu! Tapi tidak usah khawatir.

Masih ada lima orang manusia lagi yang punya pertalian darah sangat dekat denganmu yang bakal menerima kematiannya! Hik....hik....hik! Kau tak usah cemas Sampan. Bukankah kau bakal berkumpul dengan kau punya ibu walau tidak satu liang kubur?! Hik...hik...hik!"

Si nenek mengayuh lagi perahunya acuh tak acuh. Pantai Pulau Rakata semakin dekat. Dari mulutnya kembali terdengar suara nyanyian tadi.



Jangan harap ampunan pasrah

Tujuh samudera akan kutempuh

Seribu badai akan kutantang



Serombongan burung camar tampak terbang cerai berai ketika seekor elang besar tiba-tiba muncul dan menyerbu. Pada saat itulah perahu si nenek angker mencapai tepi pantai Pulau Rakata pada sebuah teluk yang sempit. Perempuan ini melompat turun ke darat. Masih sambil menyanyi-nyanyi dia menarik perahu ke bawah sebatang pohon kelapa di tepi pasir.

Beberapa lama sebelum nenek dan perahunya mendarat di Pulau Rakata, dua orang lelaki berpakaian serba merah berlari cepat dari arah gunung.

"Kita sudah memeriksa hampir seluruh tepian kawah!" berkata orang yang di sebelah kanan. Namanya Supit Jagal. Di pinggangnya ada sebuah golok besar berbentuk segi empat seperti golok tukang jagal. "Jangan-jangan cerita tentang batu mustika itu hanya tipuan belaka!"

Kawannya berhenti berlari. "Coba kita lihat lagi peta rahasia itu!" katanya lalu mengeluarkan satu lipatan kertas dari kantong baju merahnya. Lipatan kertas dibukanya kemudian dibentangkannya di atas pasir. Pada kertas yang terkembang itu terlihat gambar kasar Pulau Rakata lengkap dengan Gunung Krakatau. Di sekitar kawah ada tanda-tanda silang. Tanda silang itu juga terlihat pada beberapa bagian peta yang menghadap ke Selat Sunda. "Tanda silang di sebelah ujung kawah sini merupakan bagian pulau yang belum kita selidiki. Bagaimana kalau kita menyelidik ke bagian tanda silang sebelah kanan. Tempatnya tak berapa jauh dari sini...."

"Aku setuju Tubagus Singagarang. Agaknya kita tadi terlalu jauh mendarat ke sebelah utara. Ini gara-gara angin keras di selat tadi...."

Tubagus Singagarang melipat peta itu kembali dan menyimpannya di dalam saku. Bersama Supit Jagal dia bergerak ke arah tenggara Pulau Rakata. Angin laut bertiup kencang memapas arah lari mereka. Di satu tempat Tubagus Singagarang hentikan larinya. Dia menunjuk ke arah deretan bagian kawah paling gersang dan agak mendaki di bagian Timur.

"Supit, kau lihat benda-benda aneh yang bersusun di sebelah sana?"

"Ya, aku melihat. Aneh. Benda apa itu? Berbentuk seperti perahu-perahu kecil.

Tampaknya terbuat dari potongan pohon-pohon kelapa."

"Ada tujuh semuanya....." kata Supit pula.

"Bukan mustahil di sana tersembunyinya batu mustika yang kita cari. Mari kita periksa!"

"Mari!" sahut Supit Jagal.

Kedua orang ini segera lari ke arah deretan benda yang mereka lihat. Begitu sampai di tempat yang dituju ternyata yang mereka lihat dari kejauhan tadi adalah gabungan-gabungan dua batang kelapa yang tengahnya dilubang seperti perahu.

"Apa ini?" ujar Tubagus Singagarang. "Kotak bukan perahu bukan" Lalu dia melangkah mengikuti jejeran batang-batang kelapa itu sambil menghitung.

"Satu...dua...tiga...empat...lima...enam..." Memasuki hitungan ketujuh yaitu di hadapan batang kelapa yang ketujuh hitungan Tubagus Singagarang terhenti.

Langkahnya justru kini tersurut. Mukanya yang garang mendadak menjadi pucat.

Supit Jagal mendatangi dari belakang seraya bertanya.

"Ada apa Tubagus? Kau seperti melihat setan!"

"Lihat...." Suara Tubagus Singagarang agak bergetar dan jarinya menunjuk ke dalam lobang pada gabungan batang kelapa ke tujuh.

Supit Jagal maju mendekat beberapa langkah.

"Astaga!" Orang inipun tampak terkejut dan berubah air mukanya!Di dalam lubang batang kelapa yang terletak paling ujung itu terbaring satu sosok tubuh perempuan tua mengenakan baju kebaya putih dan kain panjang. Kedua matanya terpejam. Keadaannya demikian rupa hingga kalau tidak diperiksa tidak diketahui apakah dia dalam keadaan tidur nyenyak, pingsan atau sudah jadi mayat!

Sekujur tubuhnya mulai dari rambut sampai ke ujung kaki diselimuti oleh sejenis minyak. Batang kelapa dimana dia terbaring penuh dengan kerumunan semut. Tetapi binatang-binatang ini tidak satupun yang menyentuh tubuhnya. Kedua orang lelaki itu memperkirakan minyak pada tubuh perempuan tua itulah yang menyebabkan semut tidak berani menyentuhnya.

"Coba kau periksa denyut jantungnya," kata Tubagus Singagarang.

"Kau saja," jawab Supit Jagal menolak. Diam-diam dia merasa ngeri.

Dari kedua bersahabat itu Tubagus Singagarang memang lebih berani. Dia melangkah mendekati batang kelapa lalu mengulurkan tangan memegang lengan kiri perempuan tua di dalam lubang kelapa.

"Tak ada denyut nadi...." Berucap Tubagus Singagarang setelah memegang dan merasa-rasa beberapa ketika. Dilepaskannya pegangannya. Dia membungkuk lalu meletakkan telinga kanannya setengah kuku di atas dada orang dalam lubang. Kemudian dia menggeleng dan melirik pada Supit Jagal. "Detak jantungnyapun tidak kudengar"

"Berarti orang ini memang sudah mati!" kata Supit Jagal.

Tubagus Singagarang ingin memastikan. Diulurkannya tangan kanannya. Jari-jari tangannya membalikkan kelopak mata kiri orang dalam lubang. Tak ada hitamnya.

Keseluruhan matanya hanya putih belaka.

"Yang kita lihat memang mayat!" kata Tubagus Singagarang. Tangannya yang basah oleh minyak yang menyelimuti tubuh orang dalam lubang digosok-gosokkan pada pakaiannya. Lalu dia coba mencium tangannya itu. Dia mencium sesuatu.

"Minyak serai bercampur jelaga kayu besi," katanya. "Jelas mayat ini sengaja diberi minyak itu untuk diawetkan!"

Supit Jagal tentu saja heran mendengar ucapan kawannya itu. "Benar-benar aneh. Kita mencari batu mustika. Yang kita temui di Krakatau ini mayat perempuan tua yang diawetkan. Untuk apa? Siapa yang punya pekerjaan?" Dia bertanya sambil memandang ke bawah, ke arah kawah Gunung Krakatau yang mengepulkan asap berkepanjangan.

"Pertanyaan lain siapa adanya perempuan tua ini?" sambung Tubagus Singagarang. "Memang aneh..."

"Kau lihat sendiri Tubagus. Ada tujuh batang kelapa berlubang di tempat ini.

Satu berisi mayat. Berarti bakal ada enam mayat lagi yang akan dimasukkan pada enam batang kelapa ini!"

"Dugaanmu mungkin benar...." Sahut Tubagus Singagarang. Dua sahabat ini saling pandang. Di balik rasa heran mereka jelas ada bayangan rasa ngeri. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?"

"Lebih baik lekas-lekas meninggalkan kawasan kawah Gunung Krakatau ini..." jawab Supit Jagal.

"Lalu bagaimana dengan usaha kita mencari batu mustika itu?" tanya Tubagus Singagarang dan hendak mengeluarkan kembali peta yang ada dalam saku pakaiannya.

Tapi tak jadi ketika mendengar sahabatnya berkata.

"Lupakan saja hal itu. Aku merasa tidak enak. Ada yang tidak beres di tempat ini Tubagus. Aku mencium bahaya. Bahaya maut!"

"Aku juga merasakan begitu," sahut Tubagus Singagarang. "Tapi kau lihat sendiri. Pulau ini sepi-sepi saja. Tak ada orang selain kita. Kecuali mayat perempuan tua ini"

"Tidak mungkin Tubagus! Aku yakin sekali pasti ada orang lain di sini. Mayat itu tidak mungkin berjalan sendiri sampai kemari! Ada orang yang membawanya. Mengawetkannya dengan minyak serai bercampur jelaga...."

"Tapi untuk apa? Pekerjaan apa ini sebenarnya?" ujar Tubagus Singagarang pula. "Bagaimana kalau kita bersembunyi dan menginati?"

"Terus terang nyaliku mulai leleh. Kau silahkan saja mengintai, aku biar turun ke bawah terus ke pantai. Aku akan menunggumu di perahu. Jika sampai rembang petang kau tak muncul terpaksa aku meninggalkan kau dan menyeberang kembali ke Jawa seorang diri!"

Tubagus Singagarang jadi berpikir mendengar kata-kata kawannya itu. Lalu dia berkata "Kita sahabat dan saudara seperguruan. Jika senang sama senang. Kalau susah sama susah. Berarti matipun harus sama-sama! Aku mengalah. Aku ikut bersamamu. Memang sebaiknya kita pulang saja. Bukan mustahil cerita dan peta tentang batu mustika itu hanya dibuat-buat orang saja. Hendak mengacau dunia persilatan!"

Setelah memandang sekali ke arah sosok mayat dalam lubang pohon kelapa, Tubagus Singagarang dan Supit Jagal segera hendak berkelebat tinggalkan tepi kawah Gunung Krakatau itu. Tapi baru saja mereka bergerak tiba-tiba terdengar suara orang menyanyi di kejauhan.Dosa muda salah kaprah

Jangan harap ampunan pasrah

Tujuh samudera akan kutempuh

Seribu badai akan kutantang



Tubagus Singagarang dan Supit Jagal jadi terkesiap saling pandang.

"Ada orang menyanyi. Apa kataku. Ternyata memang ada orang lain di pulau ini!" berbisik Supit Jagal.

Lalu di kejauhan kembali terdengar suara nyanyian orang tadi



Berlagak bodoh seolah gagah

Kalau tak muncul perlihatkan dada

Anak turunan kujadikan mangsa

Sang istri sudah kudapat

Menyusul kini anak keempat

Satu persatu kubuat sekarat

Agar terkikis dendam berkarat



"Siapa yang menyanyi...?" bisik Supit Jagal. "Syair lagunya aneh mengerikan. Berbau maut!"

"Suaranya suara perempuan. Dari puncak sini kita belum dapat melihatnya. Kalau tidak memiliki tenaga dalam tinggi tidak mungkin suaranya terdengar sampai ke sini...."

"Mungkin sekali....Jangan-jangan orang itu tengah menuju ke sini...." Ujar Supit Jagal pula.

"Bagaimana kalau kita menyingkir saja dari sini?"

"Baik! Dari pada mencari urusan....!" Jawab Supit Jagal. Lalu saudara seperguruan itu segera hendak berkelebat. Namun dari bawah kaki gunung telah lebih dulu kelihatan seorang berpakaian hijau tua berlari sangat kencang menuju puncak Gunung Krakatau. Di bahu kirinya dia memanggul sesosok tubuh. Tidak mudah memanggul orang naik ke puncak kawah gunung. Apalagi berlari dan sambil membawa beban berat seperti itu.

"Kita berhadapan dengan orang pandai, Tubagus. Kita tak punya kesempatan untuk kabur. Ayo lekas sembunyi di balik batang kelapa di ujung kiri sana"

Baru saja kedua bersahabat itu menjatuhkan diri sama rata dengan tanah gunung hingga terlindung oleh batang kelapa berlubang, dari bawah gunung muncul orang berbaju hijau tadi. Tubagus dan Supit Jagal yang coba mengintai sama terkejut ketika menyaksikan bahwa yang muncul adalah seorang nenek berwajah angker seperti tengkorak dengan rambut putih panjang riap-riapan. Di bahu kirinya ada seorang lelaki yang menurut dugaan Tubagus dan Supit sudah tidak bernyawa lagi.

Mereka memperhatikan terus. Si nenek angker melangkah mendekati batangan berlubang di sebelah kiri batang kelapa yang ada mayatnya. Seperti melempar bungkusan atau kayu, nenek berambut putih lemparkan sosok tubuh lelaki yang dipanggulnya ke dalam lubang batang kelapa. Dipandangnya sosok tubuh itu sesaat lalu dia tertawa terkekeh-kekeh. Disusul dengan nyanyian.



Sang istri sudah kudapat

Menyusul kini anak keempat

Satu persatu kubuat sekarat

Agar terkikis dendam berkarat



Habis bernyanyi si nenek kembali tertawa panjang. "Anak dan ibu sudah kudapat. Hik...hik...hik. Masih ada lima nyawa lagi. Masih ada lima mayat lagi pengisi lobang neraka itu! Ha...ha...ha! Awas kalian! Awas kau jahanam Giri Arsana! Kau berada dalam daftar kematian yang terakhir. Agar kau bisa menyaksikan dan merasakan pahit perihnya melihat kematian orang-orang yang kau cintai! Bila sudah lengkap kau akan kuundang ke tempat ini! Hik...hik...hik! Lalu kau akan kujadikan korban terakhir pengisi liang neraka batang kelapa! Hik...hik...hik!"

Dari dalam sebuah kantong yang ada di pinggang dan selalu dibawanya kemana-mana nenek angker itu keluarkan sebuah tabung bambu. Dia membuka penutup tabung lalu melangkah lebih dekat ke batang kelapa tempat tadi dia melemparkan orang yang dipanggulnya. Dari tabung itu diguyurkannya sejenis cairan ke seluruh bagian tubuh dalam batang kelapa.

"Kau lihat," bisik Tubagus Singagarang. "Dia mengguyurkan minyak pengawet. Berarti orang yang barusan dicampakannya ke dalam lubang memang sudah tidak bernyawa lagi!"

"Hemmm...Apa yang harus kita lakukan sekarang?" bertanya Supit Jagal.

"Kita tunggu saja sampai nenek itu pergi," sahut Tubagus Singagarang.

"Kalau dia tidak pergi-pergi dan berada di sini samapi besok...?"

"Tidak mungkin. Dia tidak mungkin bermalam di sini. Tidak ada tempat untuk menginap...." jawab Tubagus Singagarang.

"Jangan terlalu yakin. Kita harus waspada. Kita bukan berhadapan dengan seorang tua bangka biasa. Sepertinya dia mendekam dendam kesumat yang amat besar. Turut nyanyiannya tadi, ada lima orang lagi yang bakal dibunuhnya!"

Tubagus Singagarang jadi gelisah. Bersama sahabatnya untuk beberapa lama dia hanya bisa berdiam diri. Di nenek rupanya sudah selesai menuangkan cairan pengawet di tubuh mayat. Tabung bambu disimpannya kembali. Tiba-tiba, tidak terduga oleh dua orang yang bersembunyi si nenek di ujung keluarkan bentakan menggeledek.

"Permainan kalian sudah selesai! Aku menunggu sudah cukup lama! Lekas keluar dari balik batang kelapa dan berlutut di hadapanku!"Tubagus Singagarang dan Supit Jagal sama-sama tersentak kaget.

"Dia sudah tahu kita di sini, bagaimana sekarang?" berbisik Supit Jagal.

"Tak ada jalan lain. Kita keluar saja," jawab Tubagus Singagarang. Lalu dia mendahului berdiri. Dengan hati agak kecut Supit Jagal mengikuti.

"Hemmm... Dua ekor monyet berpakaian merah yang tidak aku kenal! Lekas datang ke hadapanku dan berlutut!" bentak si nenek sambil tolak pinggang dan memandang mendelik ke arah dua orang saudara seperguruan itu.

Tubagus Singagarang dan Supit Jagal memang melangkah mendekati nenek angker itu. Tapi untuk berlutut mana mereka mau! Jelas si nenek menunjukkan tampang dan sosok angker. Namun sebagai orang-orang persilatan, dua lelaki berpakaian merah itu mampu menguasai diri, menekan perasaan takut dan akhirnya muncul keberanian.

"Eh! Mengapa masih belum berlutut?! Apa kalian tuli tidak mendengar perintahku?!"

"Nenek tua," kata Tubagus Singagarang. "Kami tidak kenal kau, kau tidak kenal kami. Mengapa bersikap begitu keras?!"

"Ah monyet jelek! Rupanya kau tidak tuli dan juga tidak bisu. Siapa aku kau tidak perlu tahu. Kalian telah melakukan kesalahan! Apa kalian masih tidak mengerti?!"

"Tentu saja! Kesalahan apa yang telah kami lakukan?!" sahut Tubagus Singagarang.

"Seluruh kawasan Gunung Krakatau ini adalah daerah kekuasaanku! Siapa saja yang berada di sini tanpa izinku berarti mampus! Dan kalian berdua jelas-jelas tadi mengintai apa yang telah aku lakukan! Dosa kalian tidak bisa diampunkan! Lekas berlutut untuk menerima kematian!"

Tubagus Singagarang dan Supit Jagal jadi saling pandang. Sambil menekan gagang golok empat persegi yang terselip di pinggangnya Supit Jagal membuka mulut untuk pertama kali.

"Kami berdua sudah lima puluh tahun hidup. Belum pernah mendengar bahwa Gunung Krakatau ini ada penguasanya. Turut yang kami tahu daerah ini daerah bebas yang bisa didatangi siapa saja!"

"Itu turut pengetahuanmu, monyet busuk! Tapi turut kekuasaanku kau yang akan mati lebih dulu!" membentak si nenek.

Dihina seperti itu Supit Jagal jadi kalap. Dia mendengus lalu menyahuti "Mati hidup di tangan Tuhan! Kalau ada makhluk yang hampir jadi bangkai hendak membunuh kami, masakan kami hanya bertumpang dagu?!"

Si nenek mendongak ke langit lalu tertawa panjang.

"Daerah ini harus bebas dari mayat siapapun. Kecuali tujuh mayat yang sudah ditakdirkan berkubur di sini. Kalian berdua hanya cukup pantas untuk jadi umpan kawah Krakatau!"

Si nenek turunkan kepalanya. Bersamaan dengan itu di ulurkan kedua tangannya ke depan. Tubagus Singagarang dan Supit Jagal tersirap darah mereka ketika menyaksikan bagaimana dari sepuluh jari tangan si nenek yang kurus kering itu mencuat keluar sepuluh kuku panjang hitam dan runcing!

"Sepuluh Kuku Iblis!" teriak dua lelaki berpakaian merah itu berbarengan. Keduanya sama tersurut mundur dengan paras berubah!

Si nenek tertawa mengekeh. "Sekarang kalian sudah tahu siapa aku!" katanya

"Hik...hik...hik!"

Suara tawa si nenek lenyap. Dari mulutnya keluar suara seperti lolongan srigala. Tubuhnya melesat ke arah Supit Jagal. Tangan kanannya berkelebat. Lima garis hitam berkiblat di udara. Supit Jagal berseru tegang. Dia melompat mundur dan cepat cabut golok besarnya. Dengan senjata itu dia memapaki serangan lima kuku.

Traakk....tarakk...traaakk!

Golok besar itu berhasil membabat tiga dari lima kuku tangan kanan si nenek.

Tapi apa yang terjadi? Si nenek hanya ganda tertawa. Mata golok yang dipegang

Supit Jagal tampak somplak besar di tiga bagian!

Selagi Supit Jagal tertegun ketakutan, tangan kiri si nenek menderu dari samping. Terdengar jeritan Supit Jagal. Mukanya sebelah kiri sampai leher koyak besar. Dari lehernya menyembur darah karena salah satu urat besarnya tersambar putus oleh cakaran kuku iblis si nenek! Nyawanya tak tertolong lagi. Belum puas si nenek lantas tendang tubuh Supit Jagal hingga terpental dan melayang jatuh ke dalam kawah!

Bagaimanapun ngerinya Tubagus Singagarang melihat kejadian itu namun apa yang terjadi dengan sahabatnya membuat dia kalap. Tubuhnya melayang di udara.

Kaki kanannya menderu ke tubuh si nenek dan dengan telak menghantam perutnya!

Si nenek terlempar empat langkah, tersandar pada batang kelapa yang keempat.

Tapi dia tidak tampak kesakitan malah tertawa-tawa dan usap-usap perutnya dengan sikap mengejek.

"Monyet jelek! Kau barusan menendangku atau cuma menggelitik!"

Kejut Tubagus Singagarang bukan kepalang. Orang lain pasti sudah hancur perutnya dihantam tendangannya tadi. Si nenek bukan saja tidak merasa apa-apa malah masih sanggup mempermainkannya!

"Dia bukan lawanku. Aku harus cari selamat!" membatin Tubagus Singagarang. Dia melirik ke arah Supit Jagal. Sahabatnya tampak menggeliat-geliat di tanah sambil pegangi mukanya yang koyak dan mengucurkan darah. Lukanya

kelihatan mulai menghitam tanda mengandung racun jahat. Nyawanya pasti tidak tertolong lagi.

Rupanya si nenek yang bergelar Sepuluh Kuku Iblis dapat membaca apa yang ada di pikiran Tubagus Singagarang. Karena baru saja dia bergerak hendak melarikan diri, perempuan tua ini sudah melompat menghadang langkahnya.

"Monyet jelek! Kau mau lari kemana?!" bentak si nenek. Kedua tangannya dihantamkan ke depan. Tubagus Singagarang cepat membungkuk. Sepuluh larik sinar hitam menderu di atas kepalanya. Dengan tenaga dalam penuh Tubagus lepaskan pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Satu sinar kemerahan menggebubu ke arah dada si nenek. Begitu dadanya terkena pukulan sakti tersebut, Sepuluh Kuku Iblis tertawa mengekeh. Dia melangkah maju. Dengan kesaktian yang dimilikinya dia mendorong sinar pukulan lawan, membuat Tubagus Singagarang merasa tangannya tergetar hebat dan tubuhnya kini terdorong.

Si nenek tiba-tiba membentak dan hentakkan kaki kanannya ke tanah.

Tanah tebing kawah Gunung Krakatau itu bergetar hebat. Tubuh Tubagus Singagarang terlempar dua kaki ke atas. Orang ini berteriak keras ketika menyadari dirinya jatuh tidak lagi di atas tebing yang sama, tetapi masuk ke bagian kawah. Dia berusaha membuat lompatan jungkir balik. Namun terlambat. Tubuhnya sudah keburu jatuh ke bawah, lalu berguling deras menuju kawah panas di bawah sana!

Si nenek tertawa melengking. Dia melangkah mendekati tubuh Supit Jagal.

"Susul temanmu sana!" bentak perempuan tua ini. Lalu ditendangnya tubuh yang sudah tak bernafas itu hingga mencelat mental dan terlempar jatuh ke dalam kawah Gunung Krakatau.Perguruan Silat Melati Putih pada masa itu merupakan salah satu perguruan yang besar di kawasan Barat Pulau Jawa. Sejak didirikan sekitar delapan tahun lalu perguruan ini diketuai oleh Sampan Gayana, putera seorang tokoh silat bernama Giri Arsana yang bergelar Dewa Berpayung Hitam berusia hampir 70 tahun. Sejak beberapa bulan belakangan ini Giri Arsana seolah lenyap dari rimba persilatan. Dimana dia berada atau apa yang dilakukannya tidak seorangpun tahu. Sampan Gayana sendiri tidak berusaha menyelidiki. Selain kesibukannya mengurus lebih dari dua ratus murid perguruan, dia juga tahu kalau ayahnya suka-suka berlaku aneh. Dan tingkah laku aneh seorang toko silat bukan merupakan hal yang luar biasa.

Malam itu udara terasa dingin, lebih dingin dari biasanya. Dua puluh orang anak murid perguruan kelas dua tengah berlatih silat di halaman. Tanah tempat latihan ini cukup luas dan dikelilingi oleh empat bangunan panjang yang menjadi tempat tinggal semua murid. Tak jauh dari empat bangunan panjang itu terdapat sebuah rumah papan. Di sinilah sang Ketua Perguruan tinggal seorang diri karena sampai saat itu usianya yang 45 tahun Sampan Gayana masih belum mempunyai istri.

Selagi dua puluh murid itu berlatih di bawah penerangan lampu-lampu minyak yang tergantung di bawah cucuran atap empat bangunan panjang, tiba-tiba terdengar suara nyanyian mengumandang di seantero lapangan latihan.



Dosa muda salah kaprah

Jangan harap ampunan pasrah

Tujuh samudera akan kutempuh

Seribu badai akan kutantang



Yang berdosa berpura lupa

Berlagak bodoh seolah gagah

Kalau tak muncul perlihatkan dada

Anak turunan kujadikan mangsa



Sang istri sudah kudapat

Menyusul kini anak keempat

Satu persatu kubuat sekarat

Agar terkikis dendam berkarat



Suara nyanyian sirap. Mendadak ada bayangan berkelebat. Lalu tahu-tahu di tengah kalangan latihan telah berdiri seorang nenek bertubuh tinggi kurus, berwajah seperti tengkorak, berambut putih riap-riapan.

Dua puluh murid perguruan sesaat tercekam, lalu mencium sesuatu yang tidak beres, mereka bergerak menyebar sehingga si nenek terkurung di tengah-tengah.

Si nenek memandang berkeliling. Wajah tengkoraknya tampak menyeringai.

"Apa benar ini Perguruan Silat Melati Putih?!" si nenek tiba-tiba ajukan pertanyaan.

Mula-mula tak ada yang mau menjawab. Namun salah seorang murid akhirnya menyahut membenarkan.

"Apa benar Ketua Perguruan seorang bernama Sampan Gayana?!" si nenek bertanya lagi.

"Betul. Ketua kami memang Sampan Gayana," jawab murid perguruan tadi.

Lalu seorang murid lain bertanya. "Orang tua harap beri tahu kau siapa dan ada keperluan apa datang kemari?!"

"Siapa aku bukan urusanmu budak jembel!" si muka tengkorak membentak yang membuat semua anak murid perguruan jadi terkejut. "Aku datang mencari Ketua kalian! Panggil dia! Suruh datang ke hadapanku!"

"Ketua kami sedang beristirahat. Jika memang ada keperluan besok pagi saja datang kemari"

"Hemmmm.... Jadi kalian tak mau turut perintahku. Tidak mau memanggil Sampan Gayana! Bagus! Aku mau lihat apa kalian benar-benar tidak perduli!"

Habis berkata begitu tubuh si nenek berkelebat. Empat pekikan terdengar serentak merobek kesunyian dan langit gelap. Empat anak murid perguruan terpental.

Begitu jatuh ke tanah keempatnya tidak berkutik lagi. Semua telah putus nyawa dengan kepala pecah!

Serta merta kegemparan melanda tempat itu. Beberapa orang murid perguruan yang menjadi marah melihat kematian empat teman mereka segera hendak menyerbu.

Tapi gerakan mereka terhenti ketika si nenek keluarkan suara tawa melengking.

"Hanya orang-orang bodoh yang ingin mampus lebih cepat!" ujar si nenek sambil tegak bertolak pinggang. Kedua matanya memandang angker. Membuat para murid yang tadi hendak nekad menyerang kini hanya bisa tertegun di tempat masing-masing.

Mereka sama maklum kalau tamu tidak diundang ini memiliki kepandaian sangat tinggi dan bukan tandingan mereka. Lalu terdengar seseorang berteriak.

"Lekas panggil Ketua!"

Dua orang murid berkelebat tinggalkan tempat itu.

Si nenek menyeringai. "Dasar manusia-manusia tolol!" katanya. "Kalau tadi-tadi saja kalian turuti perintahku tak akan ada nyawa melayang! Goblok!"

Sampan Gayana yang tengah tertidur lelap tersentak kaget ketika dibangunkan.

Ketua Perguruan ini tambah kaget sewaktu di beritahu apa yang terjadi. Cepat dia berganti pakaian lalu keluar dari rumah papan mendahului dua orang murid yang melapor. Sementara itu seluruh murid perguruan dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi kini telah terbangun dan mereka semua menghambur ke tanah lapang. Para murid memberi jalan begitu Ketua mereka muncul. Sesaat kemudian Sampan Gayana telah berada di tengah lapangan. Sesaat dia memperhatikan empat orang muridnya yang bergeletak mati di tanah. Lalu dia memandang ke arah si nenek.

"Nenek, aku tidak kenal dirimu. Pasal apa membuat kau membunuh empat murid Perguruan?"

Si nenek tidak segera menjawab. Dia memperhatikan lelaki di hadapannya mulai dari ujung rambut sampai ke kaki baru membuka mulut.

"Apa benar kau orangnya yang bernama Sampan Gayana, anak dari Giri Arsana?"

"Kau tidak salah. Aku memang Sampan Gayana, putera Giri Arsana. Sekarang harap kau memberitahu siapa dirimu."

Si nenek tidak menjawab. Dia mendongak lalu keluarkan suara tawa panjang.

Sampan Gayana yang merasa dianggap rendah maju satu langkah. "Nenek, kau muncul malam buta. Membunuh murid-muridku tanpa diketahui apa dosa dan kesalahannya. Tidak ada silang sengketa di antara kita...."

"Apa yang kau ucapkan itu benar! Tak ada dosa, tak ada kesalahan dan tidak ada silang sengketa. Tapi aku beri tahu padamu anak manusia. Kau menanggung dosa turunan! Dosa keji yang pernah dibuat ayahmu!"

Kening Ketua Perguruan Silat Melati Putih itu tampak berkerut. "Aku tidak mengerti maksud kata-katamu!"

"Aku kemari memang tidak membuat kau mengerti! Kau tidak perlu mengerti. Aku hanya ingin satu orang mengerti. Keluar dari sarang persembunyiannya untuk menerima pembalasan sakit hati. Selama dia masih bersembunyi secara pengecut, selama itu pula aku akan mengambil korban satu demi satu orang-orang yang terdekat dengan dia!"

"Siapa yang kau maksudkan dengan dia itu?!" bentak Sampan Gayana.

Si nenek menyeringai lalu menjawab. "Giri Arsana! Bapak moyangmu!"

"Aku makin tidak mengerti dengan juntrunganmu ini!" kata Sampan Gayana.

"Kesabaranku sudah hilang! Aku terpaksa menangkapmu karena telah membunuh empat murid perguruan!"

Si nenek tertawa. "Sebelum kau menangkapku lekas kau beri tahu dulu di mana bapak moyangmu itu bersembunyi! Enam bulan aku sudah mencarinya. Sampai saat ini dia berlaku pengecut tidak mau memunculkan diri dalam dunia persilatan."

"Ada urusan apa kau mencari ayahku?" tanya Sampan Gayana.

"Sudah aku bilang, kau punya dosa turunan. Berarti bapak moyangmu itu punya kesalahan besar. Sangat besar! Nah sekarang cepat beritahu di mana dia berada!"

"Kalaupun aku tahu, tidak akan kukatakan padamu!" jawab Sampan Gayana hilang kesabaran.

"Kalau begitu terpaksa aku membunuh anak ular untuk memancing keluar bapak ular. Rupanya sudah jadi takdir seluruh keluargamu harus kuhabisi lebih dulu baru giliran bapak moyangnu itu!" si nenek tertawa panjang.

Sampan Gayana tidak dapat mengendalikan amarahnya lagi. Kesabarannya habis. Didahului dengan bentakan keras dia menghantam ke arah muak si nenek.

Yang diserang ganda tertawa. Tangan kanannya diangkat.

Wuuuttt!

Sampan Gayana terkejut ketika merasakan angin dingin yang menyambar keluar dari tangan si nenek. Serta merta dia sadar bahwa lawan memiliki tenaga dalam yang jauh lebih tinggi. Maka cepat-cepat dia menghindarkan terjadinya bentrokan pukulan. Sampan berkelit ke samping. Dari samping dia kirimkan pukulan berupa sodokan ke leher si nenek. Rupanya Ketua Perguruan Silat Melati Putih ini sengaja mengeluarkan jurus-jurus andalan dan mengandung maut agar dapat menghantam lawannya dengan cepat.

Si nenek masih tampak tertawa-tawa. Lima jurus dia sengaja membiarkan dirinya diserang habis-habisan. Jurus keenam Sampan Gayana berhasil memukul bahu perempuan tua ini. Orang lain pasti akan terpental paling tidak akan melintir tubuhnya dihantam pukulan yang berkekuatan hampir lima puluh kati itu! Tapi si nenek sedikitpun tidak bergeming. Malah Sampan Gayana merasakan tangannya yang memukul menjadi pedas.

"Sudah saatnya kau menyusul ibumu Sampan Gayana!" berkata si nenek sambil mundur dan pentang tangan kanannya ke depan.

Ketua Perguruan Silat Melati Putih itu tentu saja terkejut mendengar ucapan si nenek. Tapi sekaligus dia juga tidak mengerti.

"Apa maksudmu?!" tanyanya membentak.

Si nenek tertawa. "Ibumu sudah lebih dulu mampus di tanganku! Kau korbanku yang kedua. Jika bapak moyangmu masih belum mau keluar dari persembunyiannya untuk mempertanggung jawabkan dosa, korban selanjutnya akan jatuh! Begitu seterusnya sampai bapak moyangmu muncul!"

"Manusia keparat! Jadi kau telah membunuh ibuku!" teriak Sampan Gayana.

Si nenek balas dengan tawa cekikikan. "Jangan kawatir. Aku akan bawa kau ke tempat maya ibumu tergeletak. Kalian masih bisa berjumpa dalam alam roh! Hik...hik...hik!"

"Perempuan iblis!" teriak Sampan Gayana. Tangan kanannya mengeruk ke saku pakaian. Dari dalam saku itu dia mengeluarkan segenggam benda putih. Benda ini bukan lain adalah bunga melati putih yang telah mengering. Bunga melati kering ini merupakan senjata rahasia andalan terakhir sang ketua perguruan. Sekali dia menggerakkan tangannya, dua belas bunga melati melesat mengeluarkan suara berdesing.

Nenek muka tengkorak angkat tangan kirinya. Delapan bunga melati kering mental dan hancur berantakan. Tapi empat lainnya masih sempat menyambar tubuhnya.

Des! Des! Des! Des!

Baju hijau tua yang dikenakan si nenek kelihatan berlubang di empat bagian.

Namun tubuhnya yang hanya tinggal kulit pembalut tulang itu sedikitpun tidak cidera!

Berubahlah paras Sampan Gayana. Puluhan murid perguruan yang menyaksikan kejadian itu juga ikut melengak kaget. Mereka semua tahu jangankan tubuh manusia, batang pohonpun akan tembus dihantam senjata rahasia ketua mereka.

Namun nyatanya si nenek tidak cidera sedikitpun!

Didahului suara tertawa melengking tinggi nenek muka tengkorak ajukan tangannya ke depan. Lima buah kuku panjang runcing berwarna hitam mencuat secara aneh dari kelima ujung jarinya yang kurus kering!

Sampan Gayana terkejut besar. Dia mundur satu langkah. Di depannya si nenek datang memburu cepat sekali. Dia tidak mampu menangkis ataupun mengelak ketika lima kuku jari itu berkelebat mencakar muka dan dadanya. Ketua Perguruan Silat Melati Putih ini menjerit mengerikan. Darah menyembur dari guratan luka yang sangat dalam di muka dan dadanya. Kedua tangannya ditekapkan ke wajahnya namun belum kesampaian lututnya telah goyah. Sebelum roboh ke tanah nyawanya sudah lepas. Dan sebelum dia jatuh teregelimpang si nenek sambut tubuhnya dengan bahunya. Di lain saat perempuan tua itu sudah memanggul mayat Sampan Gayana di bahu kirinya.

Puluhan anak murid perguruan tentu saja tidak tinggal diam. Mereka berteriak marah dan serempak maju. Ada yang hanya mengandalkan tangan kosong, ada pula yang menghunus berbagai senjata.

"Kalian murid-murid setia. Bersedia membela pimpinan. Tapi apa ada gunanya membela manusia yang sudah jadi mayat?! Apa kalian hendak membayar kebodohan kalian dengan nyawa?!"

"Perempuan iblis! Kami bersedia mengorbankan darah dan nyawa asal kau bisa kami bunuh!" teriak seorang murid dari tingkat paling tinggi.

"Bagus! Kalau begitu lekas maju agar cepat aku membereskan kalian" kata si nenek pula.

Puluhan murid perguruan yang tidak takut mati demi membela ketua mereka benar-benar maju. Si nenek tertawa keras. Tangan kanannya digerakkan. Lima larik sinar hitam berkelebat mengerikan. Lalu terdengar jeritan susul menyusul. Sembilan anak murid perguruan roboh dengan muka atau tubuh hangus seperti dipanggang. Puluhan murid lainnya jadi tercekat. Tapi hanya sebentar. Sesaat kemudian kembali mereka menyerbu dengan nekad. Namun si nenek sudah berkelebat. Tiga murid perguruan yang coba mengejar mental dihantam tendangan dan pukulannya. Si nenek lenyap. Hanya suara tawanya saja yang masih terdengar dalam gelapnya malam di kejauhan. Lapat-lapat kembali terdengar suara nyanyiannya di kejauhan



Sang istri sudah kudapat

Menyusul kini anak keempat

Satu persatu kubuat sekarat

Agar terkikis dendam berkarat



Si nenek lari laksana hantu malam. Seperti dituturkan sebelumnya mayat Sampan Gayana inilah yang dibawanya ke tepi kawah Gunung Krakatau lalu dimasukkan ke dalam lubang lebih dahulu dibunuh dan dibawa ke tempat itu.

Suasana gempar masih melanda Perguruan Silat Melati Putih ketika seorang pemuda berpakaian putih berambut gondrong menjela bahu muncul. Puluhan murid perguruan yang tidak mengenal dirinya dan menaruh curiga langsung mengurungnya.

"Mana Ketua kalian? Aku datang membawa pesan penting!" kata pemuda yang baru datang sambil menunjukkan sepucuk lipatan surat. Kedua matanya memandang berkeliling. Tadi dia sempat melihat beberapa mayat yang digotong ke arah rumah panjang.

Seorang murid dari tingkat atas yang mengenal pemuda itu menyeruak di antara para murid. "Pendekar 212. Kau datang terlambat....."

"Eh, apa yang terjadi?" tanya tamu muda yang datang yang bukan lain Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng dari Gunung Gede.

"Ketua dibunuh orang tak dikenal. Mayatnya diculik. Entah dilarikan kemana...."

"Astaga!" Wiro tentu saja terkejut dan garuk-garuk kepala. "Isi surat dari guruku ini justru hendak memberi tahu ada bahaya yang mengancam. Ternyata aku terlambat!" Wiro serahkan lipatan surat pada murid perguruan di depannya. Si murid membacanya sebentar lalu melipat surat itu kembali.

"Dalam surat Eyang Sinto Gendeng memberi peringatan ada bahaya bagi anak-anak dan keturunan Giri Arsana. Diminta agar berhati-hati. Tapi kini tak ada gunanya. Ketua kami sudah menemui kematian...."

"Coba kau terangkan ciri-ciri pembunuh itu," kata Wiro.

Murid perguruan menerangkan ciri-ciri nenek angker yang membunuh dan menculik mayat Sampan Gayana.

"Kuku hitam mencuat dari jari-jari tangan..... Hemmmmmmmmmm...." Wiro bergumam dan lagi-lagi hanya bisa garuk-garuk kepala. "Aku akan coba mencari tahu siapa adanya tua bangka itu," kata Pendekar 212 pula. "Namun saat ini aku perlu keterangan siapa dan dimana saja saudara-saudara kandung Ketua kalian berada..."

"Selama ini Ketua selalu tertutup. Dia tidak pernah menceritakan siapa kakak dan adiknya. Juga tidak pernah menerangkan dimana mereka berada. Kami hanya tahu beliau berayahkan orang sakti berjuluk Dewa Berpayung Hitam."

"Tapi orang itu pun tiba-tiba saja lenyap dari dunia persilatan!" kata Wiro. Dia diam sesaat akhirnya berkata "Aku harus pergi sekarang. Mungkin ada sesuatu yang hendak kalian sampaikan?"

"Kami hanya berharap agar kau bisa membantu mencari pembunuh Ketua kami. Kabarnya nenek angker itu juga telah membunuh ibunda Ketua kami..." jawab murid perguruan tadi.

"Akan aku lakukan sebisa dayaku. Karena istri Giri Arsana masih ada pertalian darah dengan guruku Eyang Sinto Gendeng. Hanya ada sesuatu yang mengherankan. Mayat istri Giri Arsana tidak pernah ditemukan. Kalau mayat Ketua kalian diculik si nenek, berarti dia juga yang menculik mayat si ibu. Untuk apa...?"

Wiro garuk-garuk kepala. "Kalian bisa memberi tahu ke arah mana larinya nenek pembunuh itu?"

Beberapa orang menunjuk ke arah kanan. Pendekar 212 tanpa menunggu lebih lama berkelebat ke arah itu.Rumah kecil itu terletak di pinggiran timur Kotaraja. Lima orang bertubuh kekar dan bersenjata tombak serta golok di pinggang berjaga-jaga di pintu masuk. Lalu di tempat gelap, tidak kelihatan oleh pandangan mata menebar lebih dari sepuluh orang yang juga berperawakan kekar dan menggenggam kelewang atau golok.

Seorang penunggang kuda yang mukanya ditutup kain hitam sebatas mata memasuki halaman rumah. Kudanya ditambatkan pada sebuah palang bambu. Lalu dia melangkah cepat menuju ke pintu. Di depan pintu lima lelaki yang berjaga-jaga cepat menghadang. Yang empat langsung mengangkat tangan dan mengarahkan tombak pada orang yang barusan datang ini. Yang satu lagi maju mendekat sambil menghunus golok.

"Harap sebutkan kata rahasia yang sudah ditentukan!"

Orang bercadar segera menjawab. "Malam gelap tak ada bintang tak ada bulan."

Empat tombak diturunkan. Golok dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.

Lima orang di depan pintu menjura. Salah seorang dari mereka cepat membuka pintu.

Orang bercadar segera masuk ke dalam rumah. Lima penjaga tadi kembali berjaga-jaga.

Mereka kini tinggal satu orang lagi yang harus ditunggu.

Tak selang berapa lama satu bayangan putih berkelebat. Belum sempat lima pengawal di pintu memperhatikan dengan jelas tahu-tahu orangnya sudah berdiri di depan mereka sambil garuk-garuk kepala.

Lima penjaga memperhatikan orang ini. Masih muda dan berambut gondrong.

Tidak seperti dua tamu terdahulu, yang satu ini datang tanpa memakai kain cadar dan sikapnya tampak konyol urakan.

Empat tombak segera diangkat dan siap menambus pemuda berpakaian putih yang barusan datang ini.

"Harap ucapkan kata rahasia yang sudah ditentukan!" kata pengawal yang tegak menghunus golok besar.

Tamu yang datang tidak segera menjawab. Dia perhatikan si tinggi kekar di depannya lalu melirik pada empat kawannya yang tegak sambil mementang tombak.

"Saya akan bertanya sekali lagi! Kalau tidak bisa menjawab kau akan kami bunuh!" kata pengawal di hadapan tamu muda yang barusan datang.

Pemuda itu garuk-garuk kepalanya. Dia mengingat-ingat.

"Ah, sialan benar. Aku lupa sandi yang harus dikatakan itu...."

"Kalau begitu bersiaplah untuk mati! Kau penyusup yang tidak diundang!"

Pengawal di sebelah depan angkat tangannya yang memegang golok. Dia juga memberi isyarat pada empat temannya. Maka empat tombak segera hendak dilemparkan ke arah tubuh pemuda itu.

"Tunggu dulu! Sabar sedikit. Aku sedang coba mengingat! Nah, aku ingat sekarang! Kata rahasia itu Malam gelap. Tak ada bintang tak ada bulan! Betul begitu?!"

Lima tangan yang mencekal senjata diturunkan. Si pemuda tertawa lebar lalu garuk-garuk lagi kepalanya. Ditepuk-tepuknya bahu pengawal di depannya seraya berkata. "Kau dan kawan-kawanmu bekerja baik. Aku akan beritahu pada atasanmu di dalam agar memberikan gaji tambahan."

"Terima kasih, terima kasih...." Kata lima pengawal sambil menjura lalu mereka menepi memberi jalan. Yang satu membuka pintu lalu mempersilahkan pemuda gondrong itu masuk. Yang dipersilahkan langsung saja nyelonong ke dalam rumah.

Di dalam rumah kecil, mengelilingi sebuah meja yang di atasnya ada sebuah lampu minyak nampak duduk tiga orang lelaki. Yang pertama bertubuh tinggi kurus dengan rambut putih keseluruhannya. Wajah dan sikapnya memancarkan wibawa yang tinggi. Orang ini adalah Ganda Ariawisesa, Patih Kerajaan. Di samping kirinya seorang lelaki berkumis tebal, berwajah agak garang. Dialah tadi yang datang dengan memakai cadar. Namanya Cemani Tanduwisoka. Dia dikenal sebagai orang penting dalam kerajaan dan menduduki jabatan Wakil Kepala Pasukan Kerajaan. Orang ketiga yang duduk di sebelah kanan Patih Ganda Ariawisesa adalah salah seorang tangan kanan sang Patih tanpa ada jabatan dalam Kerajaan. Usinya hampir setengah abad.

Dia mempunyai hubungan baik dengan semua pejabat Istana dan juga diketahui berhubungan dekat dengan para tokoh rimba persilatan di kawasan Barat pulau Jawa. Namanya Brambang Santika.

Ketiga orang itu tampak bebas dari rasa gelisah mereka ketika melihat orang terakhir yang mereka tunggu telah muncul dan seperti biasanya dengan sikap konyolnya. Setelah memberi hormat pada orang-orang yang duduk di sekeliling meja, tamu paling muda ini mengambil tempat duduk di depan Patih Ganda Ariawisesa.

"Kami gembira melihat kau datang, Pendekar 212."

Tamu yang terakhir datang mengangguk lalu menjawab. "Saya hanya mewakili guru Eyang Sinto Gendeng. Semua di sini sudah tahu bahwa beliau berhalangan datang dan minta disampaikan salam maaf."

Patih Ganda Ariawisesa balas mengangguk.

"Waktu kita tidak banyak. Karena kita sudah berkumpul semua maka saya kira kita bisa segera mulai pertemuan rahasia ini." Patih Kerajaan membuka pembicaraan. "Seperti diketahui sudah bocor rahasia bahwa Kepala Pasukan Kerajaan dibantu oleh beberapa orang culas tengah menyusun rencana keji hendak merampas tahta Kerajaan dari tangan Sang Prabu. Raja sendiri saat ini masih belum tahu. Kita, sebagai orang-orang yang setia pada Sang Prabu dan Kerajaan harus menggagalkan rencana busuk itu. Namun Kepala Pasukan yang hendak berkhianat itu memiliki kekuatan dan pendukung yang cukup kuat. Karenanya dalam bertindak kita harus sangat berhati-hati. Yang terutama harus dihindari ialah terjadinya pertumpahan darah sesama kita. Saya sudah menugaskan Cemani Tanduwisoka untuk terus memperhatikan gerak-gerik Kepala Pasukan Kerajaan. Kelompok-kelompok yang diketahui membantunya harus dipindah atau dipecah hingga keakuan mereka menjadi berkurang. Lalu sahabat saya Brambang Santika telah pula meminta bantuan beberapa tokoh silat, baik di dalam maupun di luar Istana untuk membantu menyelamatkan Sang Prabu dan Kerajaan. Kami bertiga disini sudah sama setuju untuk minta batuan Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede. Dan kami bersyukur bahwa orang sakti itu telah bersedia mengutus murid tunggalnya. Sahabat Brambang Santika dan kau Pendekar 212, kalian kebagian tugas paling berat. Yaitu mengawasi gerak-gerik para tokoh silat di dalam dan di luar Istana yang sudah diketahui jelas membantu gerakan Kepala Pasukan Kerajaan. Kalian berdua diberi wewenang untuk turun tangan sampai pada kewenangan untuk menangkap bahkan membunuh mereka. Saya yakin kita akan dapat menggagalkan kelompok orang-orang khianat itu. Namun saat ini terus terang ada satu hal yang mengganggu pikiran saya...."

"Coba dikatakan saja Patih. Siapa tahu kami dapat membantu," kata Brambang Santika.

"Seperti kalian tahu, putera tunggal saya kawin dengan Wini Kantili, putri dari Giri Arsana, tokoh silat Jawa Barat yang bergelar Dewa Berpayung Hitam. Besan saya ini sejak beberapa bulan lalu tiba-tiba saja lenyap. Tak seorangpun tahu dimana dia berada. Sesuatu pasti telah terjadi dengan dirinya. Kalau dia memang sudah meninggal tentu ada kuburnya. Saya dan atas permintaan anak menantu saya sudah menebar orang menyirap kabar dan menyelidiki. Namun dimana tokoh silat itu berada masih gelap. Kabar yang disirap oleh orang-orang saya ialah bahwa seorang nenek sakti juga tengah mencari-cari Giri Arsana. Tampaknya seperti ada silang sengketa besar antara besan saya dengan perempuan tua itu. Konon dia telah membunuh istri Giri Arsana dan menculiknya...."

"Tambahan berita buruk, Paman Patih," memotong Pendekar 212. "Orang yang sama belum lama ini telah membunuh dan menculik Ketua Perguruan Silat Melati Putih yaitu Sampan Gayana yang adalah putera ke empat Giri Arsana, kaka kandung menantu Paman Patih...."

Paras Patih Kerajaan jadi berubah. "Kalau begitu berarti seluruh keluarga dan turunan Giri Arsana berada dalam bahaya besar. Bahaya maut! Dari mana kau mendapat berita itu Pendekar 212?" tanya sang Patih.

Wiro lantas menuturkan kisah kedatangannya ke Perguruan Silat Melati Putih.

"Pembunuhnya seorang nenek berwajah tengkorak. Lima jari tangannya bisa mengeluarkan kuku hitam panjang...."

Patih Ganda Ariawisesa berdiri dari tempat duduknya. "Berarti nenek pembunuh itu adalah Sriti Gandini alias Sepuluh Kuku Iblis!" katanya hampir berteriak.

"Tapi bukankah perempuan itu sudah lama diketahui mati?" ujar Brambang Santika yang tahu banyak tentang dunia persilatan.

Cemani Tanduwisoka menyeling. "Jangan-jangan dia hanya melenyapkan diri untuk sementara. Mungkin membekal suatu maksud tertentu."

"Boleh jadi," kata Patih Kerajaan. "Namun yang saya tidak mengerti, ada sebab musabab apa Sepuluh Kuku Iblis membunuhi anak keturunan Giri Arsana?"

"Setahu saya di masa muda dulu antara Giri Arsana dan Sriti Gandini ada hubungan percintaan," kata Brambang Santika.

Pendekar 212 lantas ikut bicara. "Soal perempuan tua itu jika semua disini setuju biar saya dan Paman Brambang Santika yang mengurus. Hanya yang perlu dipikirkan ialah keselamatan menantu perempuan Paman Patih yaitu Wini Kantili."

"Kau betul Pendekar 212," kata Patih Kerajaan. "Saya akan menaruh pengawalan ketat atas dirinya...."

Wiro mengangguk. "Tapi harap jangan lupa ungkapan Belum dapat anak ular kandangnyapun kalau perlu dirusak"

"Apa maksudmu Pendekar 212?" tanya Patih Kerajaan pula.

"Jika pembunuh tidak dapat menembus tembok pengawalan puteri Paman

Patih, bukan mustahil dia akan membunuh putera Paman Patih lebih dulu...."

Patih Ganda Ariawisesa mengangguk-angguk "Terima kasih, kau mempunyai pikiran sedalam dan sejauh itu."

"Untuk saat sekarang ini saya usulkan agar anak dan menantu Paman Patih diungsikan ke satu tempat yang aman. Dan tentunya dalam penyamaran hingga sulit diketahui orang."

"Saya akan mengatur hal itu sebaik-baiknya dan secepat-cepatnya," kata Ganda Ariawisesa. "Sekarang mari kita kembali pada penanganan orang-orang khianat yang hendak memberontak.Suami istri petani muda itu duduk bercakap-cakap di bawah pohon di depan kebun sayur mereka yang luas. Saat itu menjelang sore. Keduanya tampak gembira karena sesekali pembicaraan diseling dengan gelak tawa.

"Lucu juga kita berpura-pura jadi petani begini," kata yang lelaki.

Sang istri menjawab. "Yang jadi pertanyaan sampai berapa lama kita harus menyamar seperti ini?"

"Mudah-mudahan saja nenek jahat itu lekas dibekuk," sahut sang suami. Kedua suami istri petani ini bukan lain adalah Wini Kantili puteri Patih Ganda Ariawisesa dengan suaminya Raden Sabrang Winata. Seperti telah direncanakan, guna menyelamatkan kedua orang ini dari Sepuluh Kuku Iblis maka mereka diungsikan ke pinggiran Kotaraja, menyamar sebagai suami istri petani. Selain itu tentu saja penjagaan tersamar dilakukan. Belasan prajurit Kepatihan serta beberapa tokoh silat siang malam bergantian menjaga keselamatan kedua orang itu. Brambang Santika sewaktu-waktu muncul untuk memeriksa keadaan. Sementara itu Patih Ganda Ariawisesa dan Wakil Kepala Pasukan Kerajaan Cemani Tanduwisoka telah berhasil memecah kekuatan mereka yang berniat melakukan pemberontakan. Beberapa kelompok besar pasukan yang dapat dipengaruhi kaum pemberontak dipindahkan jauh ke pinggiran Kotaraja lalu diganti dengan pasukan-pasukan yang setia pada Sang Prabu.

Tindakan ini rupanya tercium oleh Pagar Paregreg, Kepala Pasukan Kerajaan yang merencanakan perebutan tahta. Maka diam-diam dia segera mengatur siasat.

Satu demi satu direncanakannya untuk membunuh para pejabat dan tokoh Kerajaan yang setia pada Sang Prabu. Dalam daftar yang akan dibunuh tentu saja termasuk nama Patih Kerajaan, Wakil Kepala Istana.

Gerakan kaum pemberontak rupanya mulai berhasil. Dua hari kemudian Istana dilanda kegegeran karena dua orang tokoh silat ditemukan mati keracunan!

Kembali pada Raden Sabrang Winata dan Wini Kantili. Kedua suami istri ini bersiap-siap meninggalkan kebun ketika langit sebelah Timur kelihatan tertutup asap kelabu. Diantara warna kelabu itu kelihatan warna merah sesekali menjulang ke langit.

"Ada kebakaran di arah Kotaraja," kata Raden Sabrang dengan perasaan kawatir. Istrinya juga tampak gelisah. Pada saat itu dua orang pengawal muncul, disusul oleh seorang tua berpakaian berbentuk jubah hitam. Orang ini adalah salah satu dari tiga tokoh silat Istana yang ditugaskan untuk mengawal kedua suami istri itu.

"Raden Sabrang, saya mendapat kabar sedang terjadi kebakaran dekat istana. Saya dan beberapa pengawal akan segera menuju Kotaraja. Yang lain-lain tetap berjaga-jaga di sini. Harap Raden berdua jangan kemana-kemana. Masuk saja ke dalam."

"Pergilah dan kembali dengan cepat," jawab Raden Sabrang Winata. Dia membimbing istrinya menuju ke rumah. Namun baru beberapa langkah berjalan tiba-tiba terdengar suara tawa mengekeh, disusul dengan nyanyian



Yang berdosa berpura lupa

Berlagak bodoh seolah gagah

Kalau tak muncul perlihatkan dada

Anak turunan kujadikan mangsa

Sang istri sudah kudapat

Begitu juga anak ke empat

Hari ini menyusul anak yang bungsu

Kubur di Pulau sudah menunggu



Belum habis kejut Raden Sabrang dan Wini Kantili, tiba-tiba sesosok tubuh nenek berwajah angker sudah tegak di depan mereka.

"Hik...hik...hik! Kalian pandai menyamar. Tapi jangan kira aku bisa ditipu!

Sumpah sudah jatuh! Seluruh turunan Giri Arsana harus mati di tanganku! Kecuali manusia biang racun itu muncul unjukkan diri menerima kematian!"

Raden Sabrang cepat memegang bahu istrinya dan menyuruh Wini Kantili berdiri di depannya. Dia lalu menghadapi si nenek. Lelaki ini sudah dapat menduga siapa adanya nenek bermuka tengkorak di hadapannya itu.

"Kau pasti manusia yang berjuluk Sepuluh Kuku Iblis! Si pembunuh kejam orang-orang tak berdosa! Kau telah membunuh kakak Sampan Gayana dan ibu mertuaku! Sekarang kau menginginkan jiwa istriku! Sungguh keji! Apa salah kami semua?!"

Sriti Gandini alias Sepuluh Kuku Iblis kembali tertawa panjang. "Kalian memang tidak punya dosa. Tapi kalian menanggung dosa turunan! Dosa bapak moyangnya yang bernama Giri Arsana itu!"

Dua bayangan berkelebat. Disusul dengan gerakan-gerakan cepat. Lebih dari sepuluh orang pengawal mengurung si nenek dan di kiri kanannya tegak dua orang tokoh silat Istana. Salah seorang dari tokoh ini membentak.

"Perempuan sedeng! Lekas minggat dari sini atau kupatahkan batang lehermu saat ini juga!"

Sepuluh Kuku Iblis mendongak lalu kembali tertawa panjang. Perlahan-lahan bersamaan dengan sirapnya suara tawanya dia palingkan kepala pada orang yang barusan menghardiknya. Telunjuk kirinya ditudingkan tepat-tepat ke muka tokoh silat itu.

"Lelaki jelek! Aku tahu siapa dirimu! Bukankah kau kunyuk yang bernama Camar Wungu, manusia sombong bergelar Si Tangan Besi?! Hi...hik...hik. Aku mau lihat bagaimana sepasang tangan besimu hendak mematahkan batang leherku!"

Lalu si nenek melangkah ke hadapan tokoh silat Istana itu sambil sorongkan kepalanya. Camar Wungu jadi kaget sekaligus merasa marah ditantang begitu rupa.

Kedua tangannya seta merta tampak berubah menjadi kecoklat-coklatan dan keras laksana batang besi.

"Manusia keparat! Kau memang minta mampus!" Dua tangan Camar Wungu bergerak laksana kilat. Dalam sekejapan saja sepuluh jari tangannya sudah mencengkeram batang leher si nenek dan mematahkannya!

Yang terdengar kemudian bukan jeritan si nenek melainkan jeritan Camar Wungu. Cekikannya terlepas. Kedua matanya mendelik dan tubuhnya terhuyunghuyung.

Wini kantili menjerit sewaktu menyaksikan apa yang terjadi dengan tokoh silat Istana itu. Perutnya robek besar. Darah muncrat dan ususnya membusai mengerikan. Nyawanya tidak tertolong lagi!

"Manusia jahanam!" teriak tokoh silat yang satu lagi. Dia hunus senjatanya yaitu sebilah pedang pendek. Lalu menyerang. Beberapa orang pengawal ikut melompat dengan senjata di tangan.

Si nenek menyambut serangan itu dengan tawa melengking. Tubuhnya berkelebat. Lima jari tangannya melesat ke depan. Lalu pekik terdengar susul menyusul. Lima orang berkapar di tanah. Salah satu diantaranya tokoh silat tadi.

Mereka yang masih hidup menjadi leleh nyalinya dan tertegun tak berani bergerak.

Kesempatan ini dipergunakan Sriti Gandini alias Sepuluh Kuku Iblis berkelebat menyambar tubuh Wini Kantili. Suaminya coba menghalangi dengan berusaha menjambak rambut nenek itu. Tapi satu pukulan pada perutnya membuat dia terlipat lalu roboh ke tanah. Di lain saat terdengar jeritan Wini Kantili. Muka dan dadanya berlumuran darah oleh lima guratan luka yang dalam!

Raden Sabrang cepat bangkit dan berusaha mengejar ketika dilihatnya si nenek hendak melarikan istrinya. Tapi lagi-lagi hantaman si nenek membuatnya jatuh tergelimpang ke tanah. Kali ini tak bangkit lagi karena tulang dadanya melesat remuk dan dia mengalami kesulitan bernafas.

"Win.... Wini....!" Memanggil Raden Sabrang. Dia berusaha berdiri mengejar tapi roboh lagi.

Sepuluh Kuku Iblis tertawa melengking. Tubuh Wini Kantili yang berada dalam keadaan luka parah dan sekarat dipanggulnya di bahu kiri. Dia memandang berkeliling lalu melompat ke arah matahari tenggelam. Namun gerakannya tertahan.

Ada dorongan angin dahsyat datang dari depan yang membuat tubuhnya terhuyung-huyung.

Tubuh Wini Kantili yang ada di panggulannya hampir terlepas. Si nenek berseru marah sambil melompat ke kiri. Dia balas menghantam. Tapi ketika melihat wajah orang yang menghadangnya, kedua matanya jadi terbeliak, hatinya berdenyut penuh rasa tidak percaya. Dia membatin. "Apakah ini hanya satu kebetulan atau manusia keparat itu memang hidup kembali? Tapi bagaimana bisa semuda ini?!"

"Perempuan jahat! Jangan harap kali ini kau bisa membunuh dan kabur seenaknya! Turunkan puteri Patih itu cepat!" Pemuda di depan si nenek membentak.

"Siapa kau?!" si nenek balas menghardik.

"Aku utusan dari neraka yang datang untuk mengambil nyawa busukmu!" jawab si pemuda.

"Gila!" kata si nenek lagi dalam hati. "Ucap dan lagaknya persis sama dengan si keparat itu! Bagaimana ada dua manusia bisa mirip satu sama lain?!"

"Jangan kau berani bergurau di hadapan nenek moyangmu! Lekas menyingkir atau kau jadi korbanku berikutnya saat ini juga!"

Yang diancam garuk-garuk kepala dan menyeringai lalu maju selangkah. Si nenek angkat tangan kanannya siap untuk menghantam. Tapi entah mengapa tiba-tiba saja ada rasa tidak enak dalam hatinya. Tangannya diturunkan kembali. Kesempatan ini dipergunakan si pemuda untuk melompat coba merampas tubuh Wini Kantili. Kali ini si nenek tidak bisa berbuat lain. Dia cepat mengelak ke kiri lalu kirimkan tendangan kaki kanan. Tapi luput karena yang diserang sudah lebih dulu mengelak dan membalas dengan satu pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi.

Sepuluh Kuku Iblis keluarkan pekik melengking. Tubuhnya lenyap. Tangan kanannya mencakar ke depan. Namun aneh, sekali ini dia tidak keluarkan kuku-kuku iblisnya. Hanya saja serangannya ini kini mengerahkan lebih dari separuh tenaga dalamnya. Akibatnya si pemuda merasa seperti disambar angin topan. Tubuhnya terpental. Dada pakaiannya robek. Selagi dia mencoba mengimbangi diri agar tidak jatuh, nenek berwajah tengkorak itu kembali menyerbu dengan cakaran ke wajah lawan, tapi lagi-lagi dia tidak keluarkan kuku-kuku iblisnya.

Dalam keadaan terdesak si pemuda menghantam sambil kerahkan tenaga dalam. Terdengar suara angin menderu dahsyat. Si nenek terkejut dan berseru. "Jurus dibalik gunung memukul halilintar!" Lalu dia cepat batalkan serangannya dan menyingkir mundur dengan mata mendelik.

Si pemuda yang tentunya adalah Pendekar 212 Wiro Sableng jadi terkejut ketika mendengar lawan menyebut dengan tepat jurus pukulan yang dilancarkannya.

"Jadi kau..... Jadi kau manusia yang berjuluk Pendekar 212 itu!" kata si nenek dengan mata masih melotot. Dalam hati dia lagi-lagi membatin. "Ah, mengapa wajahnya begitu sama. Kepandaiannyapun tak kusangka begini hebat! Dia bisa berbahaya. Tapi bagaimana ini! Aku tidak tega mencelakainya! Lebih baik aku lekas pergi dari sini!"

Si nenek keruk saku pakaiannya mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam.

Murid Eyang Sinto Gendeng yang sudah punya banyak pengalaman segera tahu benda apa yang ada di tangan si nenek. Dia coba merampas tapi terlambat. Benda itu telah lebih dulu dibantingkan Sepuluh Kuku Iblis ke tanah. Terdengar letupan halus. Lalu asap tebal menggebubu menutup pemandangan sejarak tiga tombak persegi.

Wiro batuk-batuk dan cepat menyingkir. Ketika asap tebal lenyap, si nenek bersama sosok Wini Kantili yang dipanggulnya tidak kelihatan lagi di tempat itu!

Pendekar 212 cepat mendatangi sosok Raden Sabrang yang sedang sekarat terkapar di tanah.

"Raden...."

"Kejar..... Kejar perempuan iblis itu. Dia melarikan Wini. Tolong istriku....."

"Terlambat. Tak mungkin dikejar. Kecuali ada yang tahu kemana perempuan itu membawa istri Raden," jawab Wiro lalu dia menotok tubuh Raden Sabrang di beberapa tempat. Totokan ini tak mungkin menyelamatkan jiwa putra Patih Kerajaan itu. Namun paling tidak dapat mengurangi rasa sakit yang dideritanya.

"Aku...aku mendengar dia menyebut-nyebut Pulau....." kata Raden Sabrang.

Pemandangannya mulai berkunang dan gelap.

"Pulau apa...? Pulau apa Raden? Katakan cepat!"

"Dia hanya menyebut Pulau. Tidak tahu...." Ucapan Raden Sabrang terputus. Kepalanya terkulai. Nyawa lepas sudah.

Pendekar 212 garuk-garuk kepala. Dia memandang ke arah matahari yang akan segera tenggelam. "Pulau....? Pulau apa? Ada banyak pulau di pantai Utara. Satu yang terbesar Pulau Rakata. Mungkin nenek itu membawa korbannya ke sana? Tapi untuk apa...?

Selagi Pendekar 212 berpikir-pikir tiba-tiba dari arah Barat terdengar gemuruh suara derap kaki kuda banyak sekali. Murid Eyang Sinto Gendeng cepat palingkan kepala. Lalu dia melihat rombongan orang-orang itu. Di sebelah depan adalah Patih Ganda Ariawisesa. Di sebelahnya Cemani Tanduwisoka. Di sebelah belakang menyusul Brambang Santika bersama dua orang tokoh silat Istana. Lalu di sebelah belakang lagi puluhan perajurit Kerajaan.

Melihat Wiro berdiri di tempat itu Patih Kerajaan mengangkat tangan memberi tanda agar rombongan berhenti. Dia hendak mengatakan sesuatu pada Wiro namun berteriak keras ketika melihat mayat-mayat yang berkaparan, dua diantaranya adalah tokoh silat Istana yang ditugaskan untuk mengawal putera dan menantunya. Di sebelah sana malah tampak pula sosok tubuh Raden Sabrang terkapar tak bergerak lagi.

"Gusti Allah! Apa yang terjadi?!" teriak Patih Ganda Ariawisesa lalu melompat turun dari kuda.

Tubuh Patih Kerajaan ini bergetar keras menyaksikan kematian puteranya itu.

Dia duduk bersimpuh di tanah dan meletakkan kepala Raden Sabrang di atas pangkuannya sambil menangis terisak.

"Mana Wini menantuku?!" teriaknya Sang Patih kemudian.

"Perempuan berjuluk Sepuluh Kuku Iblis yang menculiknya," menerangkan Wiro.

"Ya Tuhan..." Patih Ganda Ariawisesa merasakan sekujur tubuhnya menjadi lemas. Tubuhnya terhuyung-huyung dan hampir jatuh kalau tidak lekas dipegang oleh Wiro.

"Wini... Ya Tuhan.... Tolong dia. Selamatkan dia..."

Brambang Santika saat itu telah pula turun dari kudanya. Sambil memegang bahu sang Patih dia berkata "Ada pengkhianat di antara kita. Kalau tidak bagaimana mungkin Sepuluh Kuku Iblis mengetahui menantu dan puteramu berada di tempat ini!"

Sang Patih turunkan kedua tangannya. Sepasang matanya tampak merah.

"Kau benar sahabatku. Ada pengkhianat di antara kita. Tapi siapa?!"

"Kelak musuh dalam selimut itu akan kita ketahui juga. Dia tidak bakalan lolos! Saya berjanji akan mengorek jantungnya dengan tangan saya sendiri!" kata Brambang Santika pula sambil mengepalkan tinju kanan.

Wakil Kepala Pasukan Kerajaan yang masih tetap berada di atas punggung kudanya berkata untuk pertama kali. "Paman Patih, kau harap di sini saja. Biar kami yang meneruskan pengejaran terhadap Pagar Paregreg selagi dia masih belum jauh."

"Tidak! Aku tetap akan mengejar si Pengkhianat itu!" jawab Patih Ganda Ariawisesa lalu berpaling pada Wiro. "Pendekar 212. Harap kau suka membantu mengurus jenazah puteraku dan yang lain-lainnya."

Wiro garuk-garuk kepala lalu mengangguk.Sriti Gandini alias Sepuluh Kuku Iblis duduk termenung di tepi kawah Gunung Krakatau. Di atasnya tujuh buah batang kelapa kini tiga di antaranya telah berisi mayat yang diawetkan. Yang pertama istri Giri Arsana. Yang kedua mayat anak lelakinya yaitu anak yang keempat dan yang ketiga anak bungsunya yaitu Wini Kantili.

Yang dipikirkan si nenek kini bukan meneruskan rencananya mencari turunan Giri Arsana yang lain guna memancing orang yang paling dibencinya itu keluar dari persembunyiannya. Pikiran dan ingatan serta kenangan si nenek kini justru pada murid Eyang Sinto Gendeng Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Sulit! Gila dan tidak dapat dipercaya!" katanya berulang kali dalam hati.

"Bagaimana ada kenyataan bahwa wajah pemuda itu persis sama dengan wajah Giri Arsana sewaktu dia masih muda? Bukan cuma wajah, lagak dan cara dia bicarapun begitu mirip. Kalau saja aku masih muda...." Sesaat wajah si nenek tampak menjadi merah. Dia mengusap muka tengkoraknya berulang kali. Menyadari keadaan dirinya kedua matanya tampak berkaca-kaca. "Gila!" dia memaki lagi dalam hati.

"Tak mungkin aku harus jatuh cinta pada pemuda itu! Usiaku paling tidak tiga kali usianya. Lalu wajahku yang begini angker! Tubuhku yang kurus kering rongsokan! Tapi gila! Mengapa aku terus teringat padanya! Ketinggian ilmu silat dan kesaktiannya membahayakan diriku! Bisa-bisa aku celaka di tangannya sebelum sempat menuntut balas terhadap Giri Arsana! Dan lebih celaka lagi mengapa aku seperti tidak tega menjatuhkan tangan keras terhadapnya. Apa lagi membunuhnya! Aku harus menghindari pemuda itu. Lain halnya kalau Giri Arsana sudah mampus di tanganku.

Mungkin aku bisa mencari seseorang yang bisa merubah raut wajah dan keadaan tubuhku. Lalu kucari pemuda itu. Akan kucintai dia seperti ketika aku mencintai Giri Arsana di waktu muda! Gila! Tidak! Aku tidak akan menyamakan dirinya dengan Giri Arsana. Pemuda ini pasti jauh lebih baik. Buktinya dia berusaha menyelamatkan anak dan menantu Giri Arsana. Ah, mengapa aku dilahirkan terlalu cepat ke dunia ini...."

Sepanjang malam itu si nenek duduk merenung di tepi kawah Gunung Krakatau. Dia bahkan tertidur di situ sampai pagi. Ketika sinar sang surya menghangati wajah dan tubuhnya baru dia terbangun. Begitu bangun ingatannya kembali tertuju pada Pendekar 212 Wiro Sableng. Perlahan-lahan si nenek melangkah mendaki lereng kawah, naik ke atas. Sinar matahari pagi tepat jatuh di kedua matanya sehingga pemandangannya silau terganggu. Namun ketika dia mencapai bagian atas kawah, meskipun dalam keadaan silau kedua matanya masih dapat melihat ada seseorang tegak di hadapan deretan tujuh batang kelapa berlubang. Si nenek lindungi matanya dengan telapak tangan menghindari silaunya sinar matahari. Kini dia dapat melihat siapa adanya orang itu dan dia jadi terkejut hingga berseru.

"Kau!"

Orang yang tegak di depan deretan batang kelapa itu tampak tenang-tenang saja. Sesaat kemudian baru dia menjawab.

"Akhirnya kutemui juga kau! Tidak meleset dugaanku kalau kau memang berada di Pulau Rakata ini. Yang aku cuma heran mengapa kau melakukan semua kegilaan ini?!"

"Pendekar 212, apapun yang kulakukan adalah urusanku sendiri. Bukan urusanmu ataupun urusan orang lain!"

Murid Eyang Sinto Gendeng gelengkan kepala. "Jika pembunuhan terjadi atas diri orang-orang tak berdosa, apalagi sampai menyangkut kematian menantu dan putera Patih Kerajaan maka urusan menjadi urusan semua orang. Menjadi urusan orang-orang rimba persilatan!"

"Kentut busuk!" teriak si nenek muka tengkorak. "Apakah kalian orang-orang persilatan juga mau tahu apa yang dilakukan orang terhadap diriku? Derita sengsara apa yang kualami selama hidupku!"

"Harap maafkan. Kalau kau menyebut hal itu aku mana tahu. Orang lain juga tidak mau tahu menyangkut urusan pribadimu..."

Si nenek tersenyum. "Pasti...Memang selalu begitu akan kudengar ucapan orang! Munafik! Semua munafik!"

"Nenek....Coba kau terangkan mengapa kau membunuh ke tiga orang ini, lalu menculiknya. Mengawetkan tubuh mereka lalu memasukkannya ke dalam lubang-lubang batang kelapa ini!" bertanya Wiro.

"apa perdulimu! Justru kau yang harus menjawab pertanyaanku! Ada perlu apa kau datang ke tempat ini? Menyelidik dan mengejarku?! Kau tahu Gunung Krakatau adalah daerah kekuasaanku. Neraka bagi siapa saja yang berani datang kemari. Menginjakkan kaki di sini berarti mati! Termasuk aku!"

Wiro menatap wajah tengkorak sesaat. Hal ini membuat dada si nenek jadi berdebar. Kenangan lama di masa muda membuat dirinya seolah terbakar. Perlahan-lahan dia alihkan pandangan matanya ke tempat lain. Seperti dia tidak kuasa balas menatap pandangan mata pemuda di hadapannya itu.

"Terus terang aku memang menyelidik dan mengejarmu. Penyelidikan dan pengejaranku berakhir sampai di tepi kawah ini. Sekarang aku meminta padamu agar menghentikan semua kegilaan ini! Jika kau punya dendam kesumat terhadap seseorang, bukan begini caranya membalas sakit hati!"

"Hemm... ucapanmu terdengarnya bagus sekali. Kau punya hati kemanusiaan yang tinggi! Tapi dengan caramu itu kau membela orang lain dan mencelakai diriku!"

"Aku tidak mencelakakan siapa-siapa. Aku akan segera meninggalkan tempat ini tapi dengan membawa ketiga mayat ini. Kau harus menolongku menggotongnya ke pantai dan memasukkannya ke dalam perahu."

Si nenek melongo lalu tertawa mengekek. "Aku bukan kacungmu! Jika kau inginkan ketiga mayat itu silahkan ambil! Tapi jangan lupa. Tinggalkan dulu nyawamu di Pulau Rakata ini!"

"Ini pembicaraan dan urusan gila tidak akan habis-habisnya!" kata Wiro masih bisa menyeringai. "Kau mau menolongku membawa mayat-mayat ini ke pantai? Cukup dengan menyeret batang kelapanya saja"

"Aku ingin membunuhmu!" jawab si nenek. Kata-kata itu diucapkannya dengan hati perih karena di lubuk hatinya dia tidak tega membunuh pemuda ini.

Wiro yang sadar bahwa perkelahian tak mungkin dihindari lagi segera memasang kuda-kuda. Begitu si nenek menyerbu dia menghantam dengan pukulan "segulung ombak menerpa karang"

Si nenek yang sudah tahu kehebatan lawannya tidak mau kalah. Dia dorongkan kedua tangannya ke arah Wiro. Dua gulung angin melesat didahului oleh suara keras. Sedang dari mulutnya nenek muka tengkorak itu keluarkan suara seperti lolongan srigala yang menggidikkan.

Pendekar 212 tersentak kaget ketika melihat bagaimana pukulan saktinya musnah dihantam dua gelombang angin serangan lawan. Pemuda ini cepat menghantam dengan dua serangan sekaligus. Tangan kiri melepas pukulan "kunyuk melempar buah" sedang tangan kanan menghantamkan pukulan "kilat menyambar puncak gunung!"

Sepuluh Kuku Iblis berteriak keras. Tubuhnya lenyap dari pemandangan. Di lain saat Wiro melihat ada lima larik sinar hitam membabat ke arahnya! Si nenek rupanya sudah keluarkan ilmu kesaktian yang paling diandalkannya yaitu kuku-kuku iblis!

Wiro cepat menyingkir. Tapi breeeettt! Baju putihnya masih sempat disambar hingga robek besar di bagian dadanya. Selagi dia terkesiap kaget begitu rupa si nenek kembali menyambar dengan lima kuku mautnya. Kali ini Wiro tidak berkesempatan untuk menghindar. Sesaat lagi lima kuku itu akan merobek muka Pendekar 212 si nenek tiba-tiba tarik pulang tangannya. Rasa cintanya yang aneh membuat dai tidak tega meneruskan serangannya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Wiro.

Murid Eyang Sinto Gendeng cepat melompat ke depan dan susupkan satu pukulan keras ke dada si nenek. Sepuluh Kuku Iblis menjerit setinggi langit. Salah satu tulang iganya remuk. Tubuhnya terpental ke tepi kawah. Darah kelihatan mengucur di sela bibirnya. Tapi hebatnya perempuan tua ini bangkit berdiri dengan cepat. Sepasang matanya seperti menyala.

"Bodoh! Terlalu bodoh aku menanamkan rasa suka terhadap pemuda ini! Aku menyukainya tapi dia inginkan nyawaku! Lebih baik mati sama-sama!" kata Sepuluh Kuku Iblis dalam hati. Dia ulurkan kedua tangannya. Sepuluh kuku ini tampak mencuat mengerikan ke arah Wiro. Perlahan-lahan si nenek melangkah mendekati Wiro. Mulutnya komat-kamit membaca mantera. Tiba-tiba dia menghantam ke depan.

Sepuluh larik cahaya hitam menyambar. Wiro yang sudah menunggu membalas serangan lawan dengan "pukulan sinar matahari." Cahaya putih panas dan menyilaukan berkiblat.

Si nenek terdengar melengking tinggi. Tubuhnya lenyap. Pukulan sinar matahari menghantam pinggiran kawah hingga tanah kawah hancur terbang sampai setinggi lima tombak. Wiro merasakan ada angin menyambar di belakangnya. Dia cepat berpaling. Tapi terlambat. Satu dorongan angin yang sangat deras menghantam dadanya. Tak ampun lagi tubuhnya terpental dan jatuh ke dalam kawah!

Si nenek berseru kaget. Menyesal menyaksikan bagaimana pukulan sakti yang dilepaskannya tadi dengan mengandalkan seluruh tenaga dalamnya itu membuat mental si pemuda begitu rupa. Dia melompat memburu sambil ulurkan tangan kanannya. Berusaha menangkap pergelangan kaki kiri Wiro. Namun terlambat tak ada gunanya. Tubuh murid Eyang Sinto Gendeng itu telah melayang jatuh menuju kawah Gunung Krakatau yang mendidih!

Si nenek hanya bisa tertegun di tepi kawah. Tubuhnya lemas. Kedua matanya dipejamkan. Perlahan-lahan dia terduduk di tepi kawah dengan sepasang mata berkaca-kaca.

"Aku begitu menyukainya. Tapi dia keliwat memaksa. Menyesal aku menurunkan tangan keras padanya. Lebih baik aku mati saja menysulnya!" Sriti Gandini alias Sepuluh Kuku Iblis tiba-tiba berdiri dan siap hendak melompat menghambur kawah Gunung Krakatau. Namun seperti ada suara yang mengiang di telinganya. "Tak ada gunanya mati bagimu! Kematianmu hanya akan memberi peluang bagi orang yang sangat kau benci itu bisa kembali hidup bebas di dunia ini! Jangan jadi orang tolol!"

"Keparat!" si nenek memaki. "Hampir aku tertipu oleh kebodohanku sendiri!"

Dia menatap ke arah kawah di kejauhan sana. Lalu perlahan-lahan diputarnya tubuhnya.

"Tiga nyawa sudah kukirim ke neraka. Menyusul kini nyawa ke empat, kelima dan ketujuh! Masakan keparat itu tidak akan keluar dari persembunyiannya! Manusia busuk! Lelaki pengecut!"Goa itu terletak di kaki timur Gunung Karang. Bagi orang yang tidak tahu seluk beluk daerah sunyi dan jarang didatangi manusia itu pasti tidak akan mengetahui kalau di situ terdapat sebuah goa. Apalagi goa ini terlindung oleh sederetan pohon jati tua dan mulutnya tertutup oleh semak belukar lebat.

Di kawasan kaki gunung yang sunyi senyap itu tiba-tiba menggelegar suara auman binatang buas. Seekor harimau raksasa berwarna kuning belang hitam, mendekam di tanah. Tengkuknya merunduk, mulutnya terbuka lebar memperlihatkan gigi dan taring-taringnya yang besar runcing mengerikan. Binatang ini siap melompati sesosok tubuh yang tegak di hadapannya. Orang yang bakal menjadi mangsa raja rimba itu adalah seorang nenek bertubuh kurus dan berkulit sangat hitam. Sekujur daging tubuhnya hanya tinggal kulit pembalut tulang. Termasuk kulit mukanya hingga wajahnya tidak beda seperti tengkorak hidup. Sepintas dia kelihatan seperti Sriti Gandini alias Sepuluh Kuku Iblis. Tapi jika diperhatikan banyak kelainannya.

Nenek satu yang ada di rimba belantara ini menghiasi kepalanya dengan lima buah tusuk kundai dari perak. Kelima tusuk kundai itu tidak mungkin disisipkan pada rambut putihnya yang sangat jarang. Karenanya benda-benda itu disusupkan pada kulit kepalanya! Sepasang alisnya berwarna putih. Rongga mata dan kedua pipinya sangat cekung hingga wajahnya jelas jauh lebih angker dari nenek yang bergelar Sepuluh Kuku Iblis!

Menghadapi harimau raksasa yang siap menerkamnya si nenek tegak tenang-tenang saja. Malah sambil menyeringai dia bolang-balingkan tongkat kayu di tangan kanannya. Gerakan tongkat ini diikuti dengan pandangan mata liar harimau besar di hadapannya. Binatang ini menggereng lalu mengaum keras membuat rimba belantara itu seperti bergetar.

Si nenek bukannya takut malah tertawa mengekeh.

"Raja rimba!" katanya berseru. "Apa untungnya menerkam diri tua bangka ini! Tubuhku tak berdaging lagi! Tulangku keras dan a lot! Kau cari saja mangsa yang lain!"

Raja hutan kembali mengaum seolah tahu apa yang diucapkan si nenek. Kedua kaki depannya dicakar-cakarkan ke tanah. Mulutnya dibuka lebar-lebar.

"Kalau kau tidak mau mendengar ucapanku, kau bakal menyesal!" seru si nenek lagi. Lalu tongkat yang dipegangnya dilemparkan ke arah binatang buas itu.

Aneh, begitu dilempar tongkat ini langsung memukul ke arah kepala harimau besar.

Pukulan yang cukup keras itu membuat sang harimau kesakitan dan mengaum marah.

Sesaat dia jadi bingung apakah akan terus menerkam si nenek atau menerkam tongkat.

Selagi dia kebingungan seperti itu tongkat kembali menghantam kepalanya berulang kali. Pinggiran matanya sebelah kiri robek dan mengucurkan darah. Tak tahan menderita sakit apalagi tidak mampu berbuat apa terhadap tongkat itu harimau besar ini akhirnya melarikan diri masuk ke dalam rimba belantara.

Si nenek ulurkan tangannya, tongkat melayang masuk ke dalam genggamannya. Sambil meneyeringai dia memandang berkeliling. Lama dia memperhatikan deretan pohon-pohon jati yang berusia puluhan tahun di sekelilingnya.

"Goa itu seharusnya berada di sekitar sini. Aneh....kenapa tidak kelihatan lagi? Tak mungkin lenyap begitu saja!" si nenek berkata dalam hati. Kesal mencari-cari dan apa yang dicari tidak bertemu akhirnya kembali perempuan tua ini pergunakan tongkatnya untuk melakukan hal yang mustahil mampu diperbuat oleh orang lain. Tongkat di tangannya perlahan-lahan berubah jadi lebih panjang. Dengan benda ini dia menerabas kian kemari. Dalam sekejapan mata saja semak belukar di sekitar itu habis rambas dibuatnya. Tak lama kemudian terdengar suaranya berseru.

"Ooooooo...ooo! Itu dia! Ternyata memang tidak lenyap!" Si nenek melompat kehadapan mulut goa yang kini kelihatan jelas setelah semak belukar yang menutupinya dibabat habis dengan tongkatnya tadi.

Sesaat si nenek tegak di depan mulut goa. Kepalanya didongakkan sedikit lalu dia menghirup dalam-dalam. Mulutnya menyeringai. Kemudian terdengar tawanya mengekeh.

"Aku mencium baumu tua bangka jelek!" si nenek berteriak. "Dewa Berpayung Hitam! Aku tahu kau ada di dalam!"

Suara teriakan si nenek bergema masuk ke dalam goa lalu muncul lagi di mulut goa secara aneh dan keras disertai deru angin membuat si nenek tersentak.

"Kau tak mau menjawab! Jangan coba menipuku! Kalau ku sulut api ke dalam goa kau bakal jadi tulang belulang gosong! Beginikah sambutanmu menerima tamu yang datang dari jauh?!"

Dari dalam goa tiba-tiba terdengar gema suara tawa mengekeh.

"Tamu yang banyak mulut! Aku belum melihat tampangmu, belum tahu siapa kamu! Tapi silahkan masuk! Sudah enam bulan lebih memang aku tidak pernah melihat manusia!"

Nenek di mulut goa batuk-batuk lalu menerobos masuk ke dalam. Goa ini ternyata cukup dalam dan berkelok-kelok. Tapi anehnya semakin ke dalam semakin terang. Akhirnya dia sampai di sebuah mata air.

"Aneh, bagaimana bisa ada mata air dalam goa ini!" kata si nenek. Dia menengadah ke atas. Di langit-langit goa ada sebuah celah kecil. Dari sinilah cahaya matahari masuk menerangi bagian dalam goa!

Nenek itu turunkan kepalanya kembali. Pandangannya langsung tertuju ke seberang mata air dimana kelihatan sebuah payung hitam lebar dan keadaan terbuka, terletak di lantai batu.

"Konyol!" si nenek memaki. "Sudah diketahui orang kau berada di sini masih saja coba sembunyi di balik payung! Kalau tidak lekas kau singkirkan payung itu jangan menyesal kalau kurobek-robek!" Si nenek lalu angkat tangannya yang memegang tongkat.

Dari balik payung terdengar suara tawa mengekeh. Payung hitam lebar itu perlahan-lahan menciut kuncup.Di balik payung itu kini tampak duduk bersila seorang kakek berwajah putih klimis, bermata cekung dan berpipi kempot. Dia mengenakan jubah putih dan di bahu serta dadanya diselempangkan sehelai kain hitam, sehitam warna payungnya.

Orang ini memandang tersenyum pada si nenek. Tangannya bergerak menyandarkan payung hitam yang baru ditutupnya ke dinding goa.

"Ternyata kau tidak kalah jelek dengan diriku!" kata si nenek lalu tertawa mengekeh. Kakek di seberang mata air ikut-ikutan tertawa hingga goa itu jadi bising dan bergetar oleh suara tertawa kakek nenek ini.

"Giri Arsana! Kau...."

"Tunggu dulu!" si kakek memotong ucapan si nenek. "Sebagai tuan rumah aku mungkin tidak bisa bersikap ramah. Jauh-jauh datang kemari kau tentu haus! Jika ingin minum silahkan ambil sendiri! Maksudku minum dari telaga itu!"

"Sialan kau!" memaki si nenek. "Nyawamu terancam dan kau masih saja bisa bicara ngacok!"

"Sinto Gendeng, ada apa kau datang jauh-jauh dari gunung gede ke goaku ini?!" bertanya si kakek.

Ternyata si nenek adalah Eyang Sinto Gendeng, guru Pendekar 212 Wiro Sableng sedang si kakek bukan lain adalah Giri Arsana alias Dewa Berpayung Hitam yang selama enam bulan terakhir ini melenyapkan diri dari dunia persilatan tak tahunya sembunyi di dalam goa di kaki Gunung Karang.

"Kau melakukan tindakan pengecut yang memalukan tokoh-tokoh silat seangkatan! Apa kau sadar melakukan hal itu!"

"Tentu saja aku sadar Sinto. Tapi tindakanku bukan pengecut!"

Sinto Gendeng tertawa membahak. "Kau bersembunyi di sini! Kau bilang bukan pengecut! Kau tahu apa yang terjadi di luar sana? Istrimu telah dibunuh oleh Sriti Gandini. Anak lelakimu yang keempat juga mati di tangannya. Belum lama berselang puterimu yang kawin dengan putera Patih Kerajaan juga telah dibunuh! Ketiga mayat mereka tidak ditemukan!"

Kakek berwajah klimis tundukkan kepala. Lalu terdengar dia menghela nafas panjang. "Aku tahu kemana Sriti Gandini membawa mayat-mayat anak istriku...."

"Kalau kau sudah tahu apa yang terjadi mengapa masih tega-teganya sembunyi di goa ini?!" sentak Sinto Gendeng. "Apa kau ingin melihat seluruh turunanmu dihabisi orang?!"

"Mungkin sudah saatnya aku keluar goa ini dan berhadapan dengan perempuan sesat itu!"

"Enak saja mulutmu berkata begitu! Lelaki selalu menuduh perempuan sesat! Aku tanya kau atau dia yang sesat?" bentak Sinto Gendeng sambil melototkan mata.

"Yah.... Mungkin aku yang sesat...."

"Bukan mungkin. Tapi jelas-jelas kau memang sesat!"

"Ya....ya! Kami berdua sama sesatnya!"

"Nah itu lebih baik dan lebih adil!" ujar Sinto Gendeng pula. "Lebih cepat kau keluar dari sini lebih baik! Lebih cepat kau membuat perhitungan dengan perempuan itu akan lebih baik hingga kami orang-orang di dunia persilatan bisa terhindar dari rasa memihak. Eh, kakek peot, apa yang menyebabkan kau sampai kabur dan mendekam ke tempat ini?"

Giri Arsana tak mau menjawab.

"Kau merahasiakan sesuatu?"

"Tadinya memang. Tapi biarlah aku katakan padamu. Aku tengah mengamalkan ilmu baru. Guna dapat menghadapi Sriti Gandini..."

"Ilmu apa? Sudah tua bangka dan hampir masuk liang kubur ini kau masih hendak menciptakan ilmu baru? Luar biasa! Aku kagum padamu. Tapi apa tidak terlambat?"

"Memang terlambat! Rasanya aku tidak siap. Ku tidak bakal mampu menghadapi perempuan itu. Dia telah mengetahui kelemahan dan cara mengalahkan diriku. Aku tengah berusaha mencari penangkalnya, tapi rasanya tidak bakalan dapat...." Wajah si kakek sesaat tampak sedih.

"Giri....Giri....Itulah akibat kalau diwaktu muda terlalu mengumbar nafsu. Perempuan mana yang tidak bakal jadi nekad dan ingin membunuhmu. Selagi muda kau jadikan Sriti Gandini sebagai kekasihmu. Pasti kau sudah tidur-tidur dengan dia!"

Sinto Gendeng melihat wajah si kakek merah sesaat. Lalu dia meneruskan ucapannya.

"Setelah kau berpuas-puas dengan dirinya lalu kau cari kekasih lain. Kau tinggalkan dia. Tapi kemudian tiba-tiba kau muncul lagi menemuinya. Merayunya dan berjanji akan mengawininya. Hal itu terjadi berulang kali. Yang paling menyakitkan hatinya adalah ketika akhirnya kau mengawini adiknya. Tapi selagi perempuan itu menghamili anaknya yang pertama kau tinggal kabur. Syukur si anak mati ketika lahir hingga dia tidak ikut menerima malu dan derita hidup karena kelakuan bapaknya yang gila sepertimu! Ketika istrimu itu meninggal karena sakit, kau kembali menemui Sriti Gandini. Perempuan itu karena cintanya padamu masih mau berbuat ketololan menerimamu. Tapi kemudian lagi-lagi kau tingalkan dirinya. Kau pergi ke seberang memboyong seorang perempuan lain yang kau jadikan istri hingga kau mendapatkan lima orang anak. Dua anakmu sudah mati di tangan Sriti Gandini. Juga istrimu! Sekarang kau rasakan sendiri pembalasan sakit hatinya."

"Yang aku sayangkan..." kata Giri Arsana pula. "mengapa dia melakukannya ketika kita sudah tua bangka begini rupa? Kenapa dia tidak membunuhku saja sejak dulu-dulu!"

Sinto Gendeng mendengus. "Dendam kesumat tidak mengenal waktu Giri. Aku yakin perempuan itu sengaja menunggu sampai mengetahui dimana letak kelemahanmu..."

"Kau benar," kata Giri Arsana. Dia tampak termenung. Lalu terdengar dia berucap. "Di usia setua ini seharusnya hidupku dalam ketentraman. Tapi apa mau dikata..."

"Apa mau dikata," menyambung Sinto Gendeng, "Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang silahkan kau makan sendiri buburnya." Sinto Gendeng lalu tertawa gelak-gelak.

Dia bolang-balingkan tongkatnya beberapa kali. "Aku pergi duluan Giri. Aku menyesal tidak dapat membantumu..... Hanya kau sendiri yang bisa menyelamatkan tiga orang anakmu yang masih hidup dan membersihkan dirimu dari lumpur dendam."

"Bagaimanapun kau telah melakukan sesuatu yang sangat berharga bagiku, Sinto. Mungkin kita tidak akan berjumpa lagi...."

Sinto Gendeng sesaat tampak terharu. Sebelum dia lebih jauh tenggelam dalam perasaannya cepat-cepat dia tinggalkan tempat itu. Tak lama setelah si nenek pergi, Giri Arsana yang bergelar Dewa Berpayung Hitam berkelebat pula meninggalkan goa. Dia tahu dia bakal menghadapi kematian cepat atau lambat. Dulu dia merasa takut memikirkan hal itu. Namun kini ada rasa tegar dalam dadanya untuk menghadapi kenyataan yang bakal terjadi dengan tabah.Patih Ganda Ariawisesa memimpin sendiri pengejaran terhadap gembong-gembong pemberontak yang dipimpin oleh Pager Paregreg, Kepala Pasukan Kerajaan.

Sebelumnya para pemberontak dengan sengaja telah menimbulkan kebakaran di Kotaraja dengan maksud mengalihkan perhatian orang-orang Istana. Namun gelagat yang tidak baik ini sudah tercium oleh Patih Ganda Ariawisesa. Sang Prabu bersama permaisuri dan putera-puteri mereka yang masih kecil-kecil segera diungsikan ke satu tempat rahasia. Di Istana terjadi pertempuran seru antara pemberontak dengan mereka yang setia pada Kerajaan. Pertempuran ini hanya berlangsung sebentar karena setelah diberi aba-aba oleh Pagar Paregreg, pihak pemberontak segera kabur meninggalkan Istana. Langsung saja Patih dan Wakil Kepala Pasukan serta Brambang Santika dan puluhan prajurit melakukan pengejaran. Dalam pengejaran inilah Patih Kerajaan mendapat pukulan berat atas kematian putera dan lenyapnya menantunya akibat ulah jahat Sriti Gandini alias Sepuluh Kuku Iblis.

Setelah mempercayakan jenazah pada Pendekar 212 Wiro Sableng, Patih Kerajaan bersama rombongannya meneruskan melanjutkan pengejaran.

Pihak yang dikejar melarikan diri ke arah Barat menyusuri rimba belantara di sebuah kaki bukit.

"Paman Patih," berkata Cemani Tanduwisoka yaitu Wakil Kepala Pasukan Kerajaan dengan suara keras-keras agar terdengar di antara derap kaki kuda yang bergemuruh. "Di depan sana adalah salah satu daerah pemusatan pasukan pemberontak. Jika kita terus mengejar jangan-jangan mereka sengaja menjebak kita!"

Patih Ganda Ariawisesa yang masih dipengaruhi hawa amarah akibat kematian putera yang kehilangan menantunya tanpa terpikir menjawab dengan suara lantang. "Percepat saja lari kudamu!" Sebentar lagi kita akan berhasil mengejar mereka!"

Saat itu memang jarak antara pihak yang melarikan diri dengan yang mengejar hanya terpisah sekitar dua puluh tombak. Di jalan yang agak mendaki Patih Kerajaan mengharapkan akan dapat mengejar Pagar Paregreg dan kawan-kawannya. Namun baru saja Patih Ganda Ariawisesa mengeluarkan ucapan tadi, tiba-tiba dua batang pohon di kiri kanan jalan tumbang bergemuruh. Bersamaan dengan itu dari mana-mana berlesatan berbagai macam senjata rahasia. Dalam keadaan seperti itu tanah di depan pihak pengejar mendadak bergerak secara aneh. Rupanya tanah ini sebelumnya ditutupi dengan papan-papan tebal yang bisa ditarik ke pinggir jalan dan kini terbentang sebuah lobang besar yang bagian dalamnya ditancapi bambu-bambu runcing sedang di dasarnya belasan ekor ular berbisa tampak bekeliaran kian kemari!

Terjadilah neraka bagi pihak pengejar.

Belasan prajurit menemui ajalnya. Ada yang tertimpa pohon yang sebelumnya telah ditebang dan sengaja ditumbangkan. Ada yang ditembus berbagai senjata rahasia dan banyak pula yang menemui kematian tertancap bambu-bambu runcing yang mencuat di dalam lobang! Pekik jerit kematian dan suara ringkikan kuda bergabung jadi satu terdengar mengerikan.

Dua tokoh silat Istana yang ikut melakukan pengejaran berhasil menyelamatkan diri dari hantaman tumbangan pohon, namun keduanya menderita luka-luka cukup parah disambar beberapa senjata rahasia. Salah seorang dari mereka berhasil melompat menghindar dari jatuh ke dalam lobang maut. Namun ketika dia berusaha menolong kawannya yang telah lebih dulu terbanting jatuh ke dalam lobang, satu tendangan menghantam punggungnya, membuat orang ini tak ampun lagi bersama kawan yang hendak ditolongnya jatuh masuk ke dalam lobang. Yang satu menemui ajal begitu perutnya ditembus batangan bambu runcing. Satunya lagi hanya bisa menjerit-jerit diserang dan dipatuki ular berbisa.

Siapakah yang tadi telah menendang tokoh silat Istana? Tidak seorangpun sempat memperhatikan.

Patih Ganda Ariawisesa dan Cemani Tanduwisoka dengan kepandaian masing-masing berhasil menghindar dan menangkis serangan belasan senjata rahasia.

Mereka juga selamat dari tertimpa tumbangan dua buah pohon besar. Akan tetapi tubuh mereka yang terpental dari atas kuda celakanya jatuh terlempar ke arah lobang jebakan yang penuh dengan tancapan bambu-bambu runcing serta ada belasan ular berbisanya!

Kuda tunggangan Cemani terjerumus jatuh masuk ke dalam lobang, meringkik keras kelojotan ketika bambu-bambu runcing menembus tubuhnya. Nasib baik bagi Wakil Kepala Pasukan Kerajaan ini karena dia bisa jatuh berdiri tepat di atas tubuh kuda yang tengah sekarat, tegak diantara tiga batang bambu.

Sebaliknya Patih Ganda Ariawisesa bernasib lebih malang. Dirinya terjerumus ke dasar lobang, terjepit di antara batang bambu. Begitu kakinya menempel di tanah lobang, belasan ular berbisa segera menyerbu. Patih ini keluarkan kesaktiannya, menghantam dengan pukulan-pukulan mengandung hawa panas. Beberapa ekor ular mati berkaparan seperti kena panggang. Namun lebih banyak lagi yang datang, membuat Sang Patih terpaksa memanjat bambu untuk selamatkan diri.

Selagi Ganda Ariawisesa berjuang selamatkan nyawanya dia melihat satu hal yang tidak bisa dipercaya dan membuatnya marah luar biasa!

Saat itu Cemani Tanduwisoka tengah berusaha mencapai tepi lobang untuk selamatkan diri. Ketika dilihatnya Brambang Santika berdiri di tepi lobang, dia segera mengulurkan tangan minta bantuan. Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh tidak terduga. Brambang Santika yang merupakan tangan kanan kepercayaan Patih Ganda Ariawisesa bukan menolong Wakil Kepala Pasukan Kerajaan itu melainkan malah menendang dadanya dengan keras sehingga Cemani terpental. Dia berusaha bergayut pada salah satu bambu namun pegangannya terlepas. Tak ampun lagi tubuhnya terjerumus masuk ke dasar lobang. Saat itu juga belasan ular menyerangnya. Suara jeritan Cemani Tanduwisoka sungguh menggidikkan!

"Dimas Brambang!" teriak Patih Ganda Ariawisesa melihat kejadian itu. Saat itu dia sampai terlupa meneruskan memanjat bambu untuk selamatkan diri. "Apa yang telah kau lakukan?!"

Tambah terkejut Sang Patih ketika dilihatnya pembantu yang sangat dipercayainya itu tertawa bergelak. "Patih Kerajaan! Kau terlalu picik untuk melihat kenyataan!"

"Apa maksudmu?!" bentak Sang Patih. Saat itu seekor ular menjalar di bambu dimana dia berada, berusaha mematuknya. Ganda Ariawisesa memukul ke bawah.

Ular itu terpental jatuh dan mati tetapi bambu tempat dia bergantung patah..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.158.198.97
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia