Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Hujan lebat dan kabut tebal menutupi keseluruhan Gunung Merapi mulai dari puncak hingga ke kaki. Dinginnya udara tiada terkirakan. Dari malam tadi hujan mencurah lebat dan sampai dinihari itu masih juga terus turun. Suaranya menderu menegakkan bulu roma. Halilintar bergelegaran. Kilat sabung menyabung. Dunia laksana hendak kiamat layaknya.

Untuk kesekian puluh kalinya kilat menyambar dan untuk kesekian puluh kalinya pada suasana di kaki sebelah Timur Gunung Merapi menjadi terang benderang beberapa detik lamanya. Dalam keterangan yang singkat itu maka kelihatanlah satu pemandangan yang mengerikan tetapi juga sangat aneh.

Pada sebelah Timur kaki Gunung Merapi itu terdapat sebuah lembah tak bertuan yang tak pernah dijejaki kaki manusia. Tapi disaat hujan deras kabut tebal dan udara dingin luar biasa itu, di tengah-tengah lembah kelihatanlah empat sosok tubuh manusia! Keempatnya berdiri dengan tidak bergerak-gerak seakan-akan tiada mau perduli dengan buruknya cuaca saat itu. Bahkan mungkin juga tidak merasakan sama sekali suasana disaat itu.

Keempatnya menghadap ke satu arah yaitu mulut sebuah goa yang terletak sekitar sepuluh tombak di hadapan mereka. Meski kabut tebal dan hujan lebat, namun mata mereka yang berpemandangan tajam dapat melihat mulut goa itu dengan jelas.

Keempat manusia ini nyatanya adalah gadis-gadis berparas jelita rupawan. Yang pertama mengenakan pakaian ringkas warna merah darah.

Yang kedua biru, yang ketiga hitam pekat dan yang terakhir berpakaian putih.

Di seluruh permukaan lembah berhamparan tulang belulang dan tengkorak-tengkorak kepala manusia yang memutih laksana salju! Keempat gadis-gadis itu sendiri berdiri di atas tumpukan tulang belulang dan tumpukan tengkorak-tengkorak kepala manusia.

Dan sikap mereka berdiri itu juga sama sekali tidak acuh dan tak ambil perduli. Sepasang mata mereka masing-masing terus saja memandangi mulut goa tanpa berkedip!

Tiba-tiba dari mulut goa selarik sinar hijau menyambar ke arah keempat gadis itu. Kemudian menyusul puluhan kalajengking hijau beracun dengan japit-japit terbuka menyerang keempatnya. Satu jengkal lagi binatang-binatang pembawa maut itu mencapai sasarannya tiba-tiba dengan serentak keempat gadis menghembus ke muka. Puluhan kalajenking hijau mental dan jatuh bergelepakan di antara tulang belulang serta tengkorak-tengkorak manusia!

Pada saat sinar hijau dari mulut goa lenyap maka secepat kilat keempat gadis itu memasang sebuah kedok tipis ke muka masing-masing! Dan kini berubahlah muka yang cantik rupawan itu menjadi muka tengkorak yang ngeri menegakkan bulu roma!

Dan dari mulut goa melesatlah sesosok bayangan hijau! Keempat gadis muka tengkorak serentak menjura dan serentak pula berseru: "Guru!"

Manusia yang ke luar dari goa ini nyatanya adalah juga seorang gadis bermuka tengkorak dan berpakaian ringkas hijau. Dia berdiri di atas setumpuk tulang belulang manusia. Sesudah menyapu keempat paras dan sosok tubuh di hadapannya maka perempuan berpakaian hijau ini menengadah ke langit dan tertawa mengekeh panjang sekali!

"Sepuluh tahun mendidik kalian! Sepuluh tahun memendam cita-cita. Nyatanya kalian tidak mengecewakan!" Si Muka Tengkorak berpakaian hijau kembali mengekeh lama-lama. Lalu melanjutkan

"Hari ini adalah merupakan ambang pintu ke arah mencapai cita-cita bersama! Hari ini kita berpisah! berpisah untuk kelak membangun cita-cita yaitu cita-cita besar mendirikan Partai Lembah Tengkorak yang bakal dan musti menguasai dunia persilatan! Sekarang kalian pergilah! Tapi apa kalian ingat semua pesanku. ..?"

"Tentu guru!" jawab keempat gadis muka tengkorak berbarengan.

"Bagus! Laksanakan tugas kalian dengan baik! Nah pergilah ... !"

"Guru ..." berkata gadis berpakaian merah.

"Ada sesuatu yang kau hendak tanyakan Kala Merah?!"

"Murid dan saudara-saudara seperguruan sebelum pergi menghatur-kan terima kasih kepada guru yang telah mendidik kami selama sepuluh tahun, Sepuluh tahun bersama guru, satu kalipun kami belum pernah melihat paras guru! Sudilah, sebelum kami pergi, guru suka memperlihatkan paras guru yang asli ...."

Manusia muka tengkorak berpakaian hijau tertawa gelak-gelak.

"Belum saatnya, muridku. Belum saatnya! Kelak di satu ketika kau akan melihatnya juga. Sekarang ayo pergi, cepat!" Keempat gadis itu menjura hormat. Sekali mereka berkelebat maka lenyaplah keempatnya dari pemandangan, lenyap dengan diiringi suara kekehan memanjang dari guru mereka, Dewi Kala Hijau!.

Dua bulan kemudian maka dunia persilatan dibikin gegerlah oleh munculnya empat dara ganas bermuka tengkorak yang teramat saki! Dengan hanya bersenjatakan ilmu "Kala Hijau" keempatnya telah memusnahkan dua partai persilatan yang dianggap kuat dan membunuh hampir selusin tokoh-

tokoh persilatan dari kalangan putih! Bahkan tokoh-tokoh silat golongan hitam pun merasa gentar dengan munculnya empat gadis iblis ini! Selama beberapa bulan sejak munculnya keempat murid Dewi Kala Hijau itu maka dunia persilatan diselimuti ketegangan.

Jika empat dara ganas itu sanggup memusnahkan dua partai persilatan kuat dan membunuh selusin tokoh silat lihay maka sukar dijajaki kehebatan dan sampai dimana ketinggian ilmu keempat manusia itu!

* * *Pada suatu hari di tanggal 1 bulan 2 terlihatlah satu pemandangan baru di tepi Telaga Wangi yang terletak di sebelah Selatan Gunung Ungaran. Di tepi telaga saat itu ada sebuah panggung besar yang diberi bergaba-gaba aneka wama.

Di depan panggung berderet-deret puluhan buah kursi yang diduduki oleh tamu-tamu yang kesemuanya adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang tak dapat disangsikan lagi kelihayannya.

Hari itu adalah menjadi satu hari penting dalam catatan lembaran dunia persilatan karena saat dan di tempat itulah akan diresmikan berdirinya satu partai baru di dunia persilatan yang telah mengambil nama Partai Telaga Wangi.

Partai yang baru muncul ini banyak mendapat perhatian dan sorotan partai-partai serta tokoh-tokoh persilatan lainnya karena Ketua Partai Telaga Wangi ini adalah seorang tokoh silat termashur di Jawa Tengah yang memegang gelar sebagai Dewa Pedang. Dewa Pedang atau yang nama aslinya Brajaguna adalah tokoh silat aliran putih dan mempunyai kelihayan

mengagumkan dalam permainan pedang sehingga tak percuma dunia persilatan meletakkan gelar "Dewa Pedang" kepadanya!

Beberapa saat kemudian terdengarlah suara tiupan terompet. Puluhan pasang mata dari para tamu yang hadir dilayangkan ke atas panggung. Ketua Partai Telaga Wangi memunculkan diri diiringi oleh isteri, tiga orang anak laki-lakinya dan keseluruhan anak-anak murid Partai yang membawa panji-panji serta lambang partai yaitu sebuah bendera yang disulam dengan gambar sebuah pedang serta bunga mawar putih.

Dewa Pedang seorang Iaki-laki separuh baya bertampang gagah. Sikapnya tenang, langkahnya enteng sedang pedangnya tergantung di pinggang kiri. Keseluruhan sikap dan gerak geriknya membayangkan wibawa yang besar.

Isteri Dewa Pedang yang berpakaian ringkas dan bemama Suwita adalah juga seorang yang berpengetahuan silat tinggi. Meskipun tidak selihay suaminya tapi dalam ilmu pedang perempuan ini tidak bisa dianggap remeh. Pada parasnya yang cantik jelita itu kelihatan bayangan kejantanan, keras hati dan berani.

Di belakang menyusul tiga pemuda berparas keren. Ketiganya adalah anak-anak Dewa Pedang yang dengan sendirinya tentu pula memiliki kepandaian silat yang tinggi. Anak yang tertua bemama Indrajaya, yang tengah Jayengrana dan yang bungsu yang menjadi kesayangan Dewa Pedang dan isteri ialah Brajasastra.

Dewa Pedang dan isteri serta ketiga putera mereka duduk di belakang panggung di kursi yang sudah disediakan. Sedangkan anggota Partai berdiri berderet di belakang mereka. Sementara suara terompet masih terus menggema maka sepasang mata Ketua Partai Telaga Wangi menyapu ke arah puluhan tamu.

Brajaguna seorang yang berpemandangan tajam. Sekali saja matanya menyapu ke arah para hadirin maka segeralah dia dapat menyimpulkan bahwa para tamunya itu terbagi dalam tiga golongan.

Pertama ialah golongan atau aliran putih yang berhati polos dan menjadi sahabat-sahabat terbaik dari Partai yang hendak didirikannya.

Golongan kedua yakni tokoh-tokoh silat yang dulunya pernah menjadi musuhnya dan tentu saja kehadiran mereka dalam peresmian berdirinya Partai Telaga Wangi saat itu diragukan itikat baiknya.

Golongan yang ketiga ialah tokoh-tokoh silat baru tapi yang sudah agak dapat nama dalam kalangan persilatan namun tak dapat dipastikan digolongan mana mereka berdiri sebenamya.

Suara terompet berhenti.

Begitu suara tiupan terompet berhenti maka Ketua Partai baru diikuti oleh keseluruhan anggota partai yang ada di atas panggung mendongak ke atas. Tangan kiri lurus-lurus ke bawah sedang tangan kanan dimelintangkan di dada. Maka serentak dengan itu mereka pun berseru dengan suara gegap gempita.

Hari satu bulan doa

Peristiwa besar dan penting di tepi telaga

Partai baru membuka lembaran sejarah

Partai Telaga Wangi ialah namanya!

Keempat baris kalimat itu diserukan sampai tiga kali berturut-turut. Sesudah itu maka bangkitlah Ketua Partai dari kursinya dan melangkah ke muka panggung. Dengan muka berseri-seri Dewa Pedang memandang pada para hadirin lalu menjura memberi hormat.

"Saudara-saudara sekalian yang kami muliakan. Pertama sekali saya selaku Ketua dari Partai yang baru muncul ini, atas nama keseluruhan anggota Partai mengucapkan banyak terima kasih dan rasa hormat yang setinggi-tingginya karena saudara-saudara sekalian telah sudi meringankan langkah untuk datang ke mari."

Suara Ketua Partai Telaga Wangi ini keras dan lantang penuh wibawa dan nadanya teratur demikian rupa enak didengar sehingga seluruh mata yang hadir ditujukan kepadanya. Setelah menyapu sekilas paras tamunya dengan sepasang matanya yang tajam maka Dewa Pedang pun meneruskan bicaranya.

"Dalam pasang surutnya dunia persilatan dewasa ini, kami bersama telah memberanikan diri untuk mendirikan sebuah partai baru yang kami namakan Partai Telaga Wangi. Sesuai dengan namanya maka kami benar-benar berusaha dan menginginkan agar kelak Partai kami ini menjadi harum dalam merintis segala sesuatu yang baik di dunia persilatan. Kami percaya bahwa hanya dengan usaha yang betul-betul, dengan segala kesungguhan hati dan ditambah pula dengan bantuan saudara-saudara sekalian disini terutama dari saudara-saudara golongan putih, maka pastilah dunia persilatan akan diliputi ketentraman dan perdamaian abadi ...."

Sesudah mengakhiri pidatonya itu maka Ketua Partai Telaga Wangi memperkenalkan istri dan ketiga puteranya pada para hadirin. Empat anggota partai yang menduduki jabatan penting juga diperkenalkan. Keempatnya ialah Jambakrogo, Pengurus Partai untuk daerah Utara, Klabangsongo, Pengurus Partai daerah Selatan lalu Rah Gundala Pengurus Partai daerah Barat dan yang keempat Suralangi, Pengurus Partai Daerah Timur.

Dewa Pedang mengakhiri perkenalan tokoh-tokoh Partai Talaga Wangi itu dengan kata-kata penutup

"Akhirul kalam, sekedar untuk pelepas dahaga dan penangsal perut saudara-saudara sekalian, maka kami persilahkan saudara-saudara untuk menikmati minuman serta hidangan selayaknya. Disamping itu jika ada kekurangan atau kekhilafan dalam bentuk apapun sudi kiranya saudara-saudara memberi maaf."

Dewa Pedang menjura lalu memutar tubuh Namun sudut matanya menangkap acungan tangan seorang tamu yang duduk di sebelah Timur panggung

"Ketua Partai Telaga Wangi! Sebagai Partai baru aku Si Bayangan Setan ingin menjajaki sampai dimana kehebatan kalian! Jangan-jangan Partaimu ini hanya bagus nama saja tapi tak ada isi! Jangan-jangan Partaimu yang memakai nama Telaga Wangi hanya merupakan Telaga Busuk yang tak mampu menghadapi pasang surut dunia persilatan! Sebagai Ketua Partai apakah kau bisa sedikit memberikan bukti di hadapan para hadirin bahwa Partaimu adalah satu Partai yang memang patut diberojotkan ... ?!"

Semua kepala para hadirin yang ada segera dipalingkan ke arah Timur. Dewa Pedang sendiri juga memandang ke jurusan itu. Yang telah buka suara tadi ternyata adalah seorang tokoh silat berjubah hitam berbadan tinggi langsing, berkepala lonjong dan kedua pipinya sangat cekung. Dialah tokoh yang digelari Si Bayangan Setan. Dan dari gelamya ini saja sudah dapat diketahui bahwa dia adalah tokoh dari kalangan hitam.

Dewa Pedang yang tajam pemandangan diam-diam sudah maklum bahwa maksud kedatangan serta ucapan Si Bayangan Setan tadi adalah satu tantangan atau penghinaan atau sekurang-kurangnya menganggap remeh Partainya dan dirinya selaku Ketua!

Namun dengan tenang dan bijaksana Dewa Pedang buka mulut hendak menjawab. Tapi dari panggung sebelah Barat tiba-tiba terdengar seseorang berseru. Suaranya keras menggeledek!

"Bayangan Setan! Apakah kau buta atau masih belum membuka mata lebih lebar sehingga kau berbicara begitu terhadap Partai Telaga Wangi? Jika kau kenal julukan Ketuanya tak bakal kau anggap remeh!"

Kini semua kepala serentak diputar ke panggung sebelah Barat. Namun tak seorangpun, termasuk Dewa Pedang yang mengetahui siapa adanya manusia yang telah bicara tadi. Ini memberi kenyataan bahwa siapa pun adanya orang itu maka dia pastilah memiliki tenaga dalam yang tinggi dan ilmu memindahkan suara yang lihai.

Meskipun orang itu berada di sebelah Selatan atau Utara namun suaranya bisa dipindahkan sehingga kedengarannya dari arah Barat atau Timur!. Karena tak mengetahui siapa yang bicara maka Si Bayangan Setan dengan penasaran berseru.

"Nama Dewa Pedang memang cukup dikenal karena permainan pedangnya yang yah boleh juga! Tapi aku bertanya dan bicara tadi bukan ditujukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk keseluruhan Partai Telaga Wangi! Atau mungkin semua anggota Partai baru ini sekaligus memiliki gelar sebagai Dewa Pedang;:.?!"

Terdengar suara mengekeh yang mengandung ejekan. Lagi-lagi suara ini datangnya dari jurusan Baraf dan lagi-lagi tak satu orang pun yang tahu siapa yang mengeluarkan suara tertawa itu.

"Kau terlalu sembrono dalam bicara Bayangan Setan. Apa kau tak tahu bahwa ucapanmu itu menghina langsung nama Ketua serta seluruh anggota Partai Telaga Wangi? Tak satu tokoh silat dan Partai persilatan pun

yang bisa menelan kata-katamu itu! Entah Dewa Pedang dan Partai barunya!"

Diam-diam Ketua Paitai Telaga Wangi segera maklum bahwa di antara para hadirin ada yang mulai memasukkan jarum-jarum perangsang untuk menghangat dan mengacaukan suasana.

Dengan sikap tenang dan bijaksana dia menjawab. Waktu bicara ini dia sama sekali tidak menghadap kepada Si Bayangan Setan secara langsung namun memandang ke tengah-tengah hadirin. Sekaligus ini merupakan satu balasan yang cukup menyakiti Si Bayangan Setan meskipun datangnya secara halus.

"Saudara-saudara sekalian! Tadi kami sudah menyatakan bahwa maksud dari didirikannya Partai Telaga Wangi ini ialah untuk berusaha menenterakan dan mendamaikan dunia persilatan. Sebagai Partai baru kami memang belum punya nama. Tetapi justru bukan namalah yang ingin.dikejar oleh Partai kami. Apa perlu nama hebat kalau kehebatan itu artinya hanya untuk merusak belaka ... ?!"

Untuk kedua kalinya maka Si Bayangan Setan merasa disakitkan hatinya oleh kata-kata Dewa Pedang itu. Dia berprasangka bahwa gelarnyalah (Si Bayangan Setan) yang dimaksudkan oleh Ketua Partai Telaga Wangi sebagai sesuatu nama yang hanya untuk merusak! Mulut Si Bayangan Setan komat kamit. Dan dia angkat bicara kembali.

"Dunia sejuta arah, ucapan seribu kalimat lidah bersilat kata namun dunia persilatan tetap dunia persilatan yang tiada mengenal adanya Satu Partai baru tanpa diketahui partai yang macam mana kelasnya! Apakah kelas keroco saja, atau bunglon, atau kadal, atau kunyuk? Setiap Partai baru wajib menghadapi batu ujian!"

"Betul ... betul ... betul!" menyambung suara yang dari panggung sebelah Barat.

"Partai baru musti diuji. Tapi apakah kau sanggup melakukan ujian itu, Bayangan Setan? Jangan kau hanya bicara besar saja tak tahu isinya cuma gemblong!" Marahlah Si Bayangan Setan mendengar kata-kata itu.

"Siapa takut melakukan ujian?!" katanya membentak, sekali tubuhnya berkelebat maka melesatlah ia ke atas panggung! Sedikit pun gerakannya ini tiada menimbulkan suara! Salah seorang tokoh silat dari aliran putih yang ada di antara para tamu berbisik pada seorang kawan di sebelahnya.

"Bayangan Setan memang dikenal kehebatannya. Tapi kalau untuk menghadapi Dewa Pedang dia akan sia-sia saja. .. !" kawan yang diajak bicara mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Mari kita saksikan saja," katanya sambil memandang kembali ke atas panggung Sementara itu dalam suasana yang hangat itu. mulai terdengar suitan-suitan dan sorak sorai sebagian Yang hadir untuk memberi semangat pada Si Bayangan Setan. Dan Si Bayangan Setan menjadi pongah. Sambil memandang kepada para tamu dia. berkata:

"Kalian semua silahkan buka mata lebar-lebar. Hari ini aku Si Bayangan Setan akan menguji satu Partai baru!"

Tiga Putera Ketua Partai Telaga Wangi menggertakkan geraham dan mengepalkan tinju. Bahkan putera tertua yaitu Indrajaya segera berdiri dari kursinya!.



* * * Melihat bangkit berdirinya putera Ketua Partai Telaga Wangi ini maka sorak dari suara-suara membakar semangat berbagai rupa semakin santar kedengaran di kalangan para hadirin, Dewa Pedang menyipitkan mata kepada lndrajaya putera tertua yang melihat isyarat ini segera hentikan gerakannya. Kemudian dengan segala kegeraman yang ada terpaksa duduk ke kursinya kembali.

"Ha ha ha!" terdengar suara tertawa bergelak Si Bayangan Setan.

"Apakah aku datang ke panggung ini hanya untuk dianggurkan saja?" ujarnya mengejek. Dengan tenang Ketua Partai Telaga Wangi memutar kepalanya ke ujung paling kanan di mana berdiri seorang pemuda berpakaian ringkas berbadan tegap dan berkumis kecil. Dia adalah Candra Masa seorang murid atau anggota Partai tingkat muda yang paling pandai.

Tahu bahwa Si Bayangan Setan adalah seorang tokoh yang lihai dan banyak pengalaman maka Dewa Pedang sengaja anggukkan kepala memberi isyarat pada Candra Masa. Melihat anggukan ini, Candra Masa segera melangkah ke muka. Dia menjura terlebih dahulu di hadapan Dewa Pedang lalu memutar tubuh menghadapi Si Bayangan Setan.

"Bayangan Setan, atas izin Ketua kami, kuharap kau yang tua sudi memberi sedikit pelajaran pada yang lebih muda...."

Si Bayangan Setan memandang dengan kerenyit kulit kening pada Candra Masa lalu tertawa gelak-gelak sampai ke luar air mata.

"Ketua Partai Telaga Wangi" katanya pada Dewa Pedang sambil mengucak-ucak matanya.

"Kau ini mau main badut-badutan atau apa sampai menyuruh bocah yang masih bau air tetek ini menghadapi aku?!" Semua pihak Partai Telaga Wangi gusar sekali menerima penghinaan dan perendahan begini rupa, terlebih-lebih Candra Masa. Kedua rahangnya kelihatan bertonjolan. Sebaliknya sang Ketua sendiri dengan tenang dan suara sabar menjawab;

"Bayangan Setan justru. Karena dia bau air teteklah maka kusuruh menghadapi kau! Bukankah maksudmu hendak menguji Partai kami? Dan bukankah yang lebih pandai itu biasanya menguji yang lebih bodoh? Nah silahkan dimulai "

Ucapan yang sabar serta tenang tapi berwibawa itu sekaligus merupakan satu tempelak bagi Si Bayangan Setan. Mukanya merah sedang para hadirin kedengaran lagi bersorak-sorak membakar semangat!

"Kalau memang tak ada muridmu yang lebih pandai dari yang satu ini tak apalah ... !" kata Si Bayangan Setan pula. Kemudian dengan congkaknya dia menambahkan.

"Untuknya kuberi kesempatan bertahan sampai tiga jurus! Kalau dalam tiga jurus tubuhnya tidak terpelanting ke luar panggung jangan panggil aku Si Bayangan Setan dan aku akan mengaku kalah padanya!" Si Bayangan Setan tepukkan kedua telapak tangannya.

"Ayo, mulailah!" katanya.

"Ah, aku yang muda mana berani mulai lebih dahulu. Menurut aturan yang lebih tua dan yang mengujilah yang musti maju lebih dahulu ...." jawab Candra masa. Si Bayangan Setan menyeringai buruk.

"Baik, bila kau punya senjata keluarkanlah!" Candra Masa tersenyum.

"Selama lawan bertangan kosong, aku murid Partai Telaga Wangi tetap akan menghadapinya juga dengan tangan kosong!"

"Kalau begitu terimalah jurus pertama ini?" kata Si Bayangan Setan gusar. Sekali tubuhnya berkelebat maka diapun lenyap dan kini yang kelihatan hanyalah sesosok bayangan hitam menyambar laksana kilat ke arah Candra Masa sedang angin bersiuran turut menyerangnya dengan pesat!

Dengan maksud hendak memamerkan kehebatannya dan hasrah hendak merubuhkan lawan dalam satu jurus saja, maka dijurus pertama itu Si Bayangan Setan sudah mengeluarkan ilmu silatnya yang hebat yaitu ciptaannya sendiri yang bemama: "Bayangan Hitam Menjulang Langit"!

Candra Masa terkejut melihat lenyapnya tubuh lawan dan kini hanya bayangan hitam serta angin pesat menyambar ke arahnya!

Namun dalam terkejutnya murid yang sudah terdidik ini tetap berlaku tenang dan tidak kehilangan akal. Dengan cepat dijatuhkannya dirinya ke lantai. Begitu tubuh lawan dilihatnya lewat di atasnya, pemuda ini segera lancarkan pukulan tangan kosong!

Tapi pada detik itu pula Si Bayangan Setan bergerak memutar dan laksana badai kaki kanannya menyambar kearah tangan yang memukul.!

Walau bagaimanapun kehebatannya tangan tak akan menang melawan kaki! Sambil tarik pulang tangannya Candra Masa bergulingan di lantai. Tendangan lawan menghantam angin kosong! Jurus pertama yang cukup mendebarkan berlalu sudah!

Dan dari panggung arah sebelah Barat terdengar suara tertawa manusia yang tadi:

"Ah .... Bayangan Setan.. nyatanya namamu kosong belaka! Bocah yang katamu masih bau air tetek itu tak sanggup kau hadapi!" Hati Si Bayangan Setan laksana dibakar

"Pemuda . . .! " Suaranya bergetar tanda amarah.

"Giliran kau sekarang untuk memulai ... !" Candra Masa tersenyum jumawa.

"Terima kasih katanya. Tangan kanannya diacungkan ke muka seperti sikap seseorang yang tengah memegang pedang.

"Lihat perut!" teriak Candra Masa tiba-tiba dan pada kejapan itu pula tubuhnya melesat ke muka. Tangan menyambar ke perut Si Bayangan Setan.

Tanpa banyak cerita si Bayangan Setansegera menyongsong serangan lawan ini dengan pukulan tangan kanan karena dia tahu bahwa tenaga dalamnya jauh lebih tinggi dari si pemuda! .. . .

Sedetik lagi kedua lengan meieka akan beradu maka pada saat itu pula terdengar kembali seruan Candra Masa.

"Lihat dada!" Dan laksana pedang lengan kanan anak murid Partai Telaga Wangi itu menusuk ke arah dada Si Bayangan Setan!

Geram serta penasaran sekali maka Bayangan Setan menggerakkan kedua tangannya sekaligus dalam ilmu pukulan yang disebut "Menabas Gunung Mengepit Sungai".

Dengan ilmu silat ini Si Bayangan Setan bermaksud menjapit lengan kanan lawan kemudian mematahkannya!

Tapi lagi-lagi Si Bayangan Setan tertipu karena begitu dia merasa ilmu silatnya tadi akan berhasil mencelakai lawan tiba-tiba Candra Masa berseru keras.

"Awas leher!" Dan laksana pedang lengan kanannya berkiblat menyaput dan menderu ke batang leher Si Bayangan Setan.

"Heyyah!" Si Bayangan Setan membentak nyaring sehingga lantai panggung yang terbuat dari papan menjadi bergetar sedang tubuhnya sendiri lenyap dari pemandangan. Dengan ilmu meringankan tubuh. Candra Masa

meskipun kalah pengalaman masih dapat melayani lawan dalam jurus kedua yang hampir tamat dan mencapai puncaknya itu.

"Jaga kepala!" seru murid Partai Telaga Wangi itu. Sewaktu lengan lawan menebas ke arah leher Si Bayangan Setan berhasil mengelakkan dan kini begitu terdengar seruan lawan maka tak ayal lagi dia segera merunduk cepat dan laksana kilat menyodokkan ke muka dua jotosan sekaligus. Satu menyerang dada satu menyerang ulu hati!

Namun cara mengelak dan menyerang yang dilancarkan oleh Si Bayangan Setan ini terlalu kesusu dan sembrono sekali. Lengan lawan yang ,memang disangkanya hendak menetak kepalanya tiba-tiba dengan kecepatan yang luar biasa berputar ke bawah dan naik lagi ke atas di antara kedua lengannya dan.....

"Buk!"

Tubuh Si Bayangan Setan terjajar ke belakang. Tangan kanannya mengusap-usap dada yang kena terpukul. Sorak sorai para hadirin tiada terlukiskan. Banyak di antara mereka yang benar-benar mengagumi kegesitan dan kecepatan serta kehebatan permainan silat Candra Masa.

Meski muda belia dan baru muncul di dunia persilatan namun telah berhasil melayani nama besar Si Bayangan Setan, bahkan mengalahkannya dalam dua jurus pertandingan!

Candra Masa menjura kepada para hadirin. Dan karena merasa bahwa pertandingan tersebut sudah selesai dimana dia berhasil memukul lawan dalam jurus kedua tadi maka Candra Masa memutar tubuh dan siap-siap untuk menjura ke hadapan guru atau Ketua Partai Telaga Wangi untuk kemudian kembali ke tempatnya. Namun di saat itu pula terdengar Sentakan Si Bayangan Setan.

"Orang muda, tunggu dulu! Aku masih belum kalah!" Pihak Partai Telaga Wangi lebih-lebih Candra masa sendiri jadi terkejut dan heran. Demikian pula para hadirin.

"Bayangan Setan, apakah maksudmu. ..? " tanya Candra Masa pula.

"Aku belum kalah! Aku sama sekali tidak mengaku kalah!" Candra Masa hendak menyahuti namun dari deretan hadirin sebelah Barat lagi-lagi terdengar suara manusia yang tak dikenal tadi.

"Bayangan Setan, apakah kau betul-betul punya hati setan dan bermuka tembok? Sudah kena Digebuk dalam dua jurus masih mau menantang? Sesuai dengan janjimu mustinya kau sudah minggat dari atas panggung dan tak perlu memakai gelar Si Bayannan Setan lagi!"

"Keparat bangsat rendah!" hardik Si Bayangan Setan sambil memutar badannya ke arah Barat. Pandangan matanya liar dan memancarkan amarah yang meluap.

"Jika punya nyali harap unjukkan diri dan naik ke atas panggung!" Jawaban dari panggung sebelah Barat adalah suara tertawa mengekeh yang membuat. Semakin meluapnya amarah Si Bayangan Setan.

"Pemuda yang katamu masih bau air tetek itu saja belum sanggup kau hadapi, apalagi mau menantang aku!" Si Bayangan Setan benar-benar kehilangan muka diejek demikian rupa di hadapan sekian banyak tokoh-tokoh persilatan.

"Bocah bau air tetek ini masih mending dari kau yang tak punya nyali untuk naik ke atas panggung!" Kemudian dengan cepat Si Bayangan Setan memutar tubuh menghadapi Candra Masa kembali. Tangan kanannya bergerak ke balik jubah dan sesaat kemudian dia sudah memegang sebuah senjata berbentuk pendayung yang terbuat dari besi hitam legam!

"Orang muda harap keluarkan kau punya senjata dan mari hadapi lagi aku barang satu dua jurus!" kata Si Bayangan Setan pula.

Melihat gelagat yang tidak baik ini sedang dipihak hadirin ada yang terus bersorak membakar semangat Si Bayangan Setan dan ada pula yang memaki manusia ini maka Ketua Partai Telaga Wangi segera berkata:

"Saudara Bayangan Setan, kuharap kau sudah menuruti segala aturan yang kau buat sendiri tadi dan mohon supaya meninggalkan panggung. Bukankah maksudmu untuk menguji terhadap Partaiku sudah kesampaian... Dan kami berterima kasih atas kesediaanmu untuk mau melakukan ujian itu tadi ".

"Jika aku bisa buat aturan, aku bisa pula melanggamya!" jawab Si Bayangan Setan dengan suara keras lantang.

"Betul!" ujar Dewa Pedang dengan suara mengandung kesabaran. Diusahakannya agar dalam suasana panas ini tidak sampai terjadi kerincuhan dan kekeruhan.

"Tapi karena saat ini kau berada di tempat kami maka kau juga wajib mengikuti segala aturan kami, sekurang-kurangnya kau harus menghormat kepada aturan kalangan persilatan ...."

"Aku datang ke sini bukan untuk mengikuti dan menghormat kepada segala macam aturan apapun! Kalau muridmu tidak punya nyali, kau sendiri pun maju akan lebih baik Kelamlah paras keseluruhan anggota Partai Telaga Wangi, lebih-lebih ketiga putera Dewa Pedang serta Suwita isteri Dewa Pedang mendengar ucapan Si Bayangan Setan yang mengandung penghinaan itu. Namun Dewa Pedang sendiri anehnya masih tetap bisa berlaku tenang-tenang duduk di kursinya.

"Ketua!" seru Candra Masa pula.

"Harap kau memberi izin padaku untuk menghadapi lagi manusia yang tidak tahu aturan dan tak tahu peradatan serta tak tahu diri ini!"

"Baik Candra, tapi kali ini hati-hatilah ...." jawab Ketua Partai Telaga Wangi pula.

Mendengar ini maka tak menunggu lebih lama Candra Masa segera cabut pedangnya yang terbuat dari perak mumi sehingga sinar matahari membuat senjata itu berkilauan!* * * Begitu melihat lawan memegang senjata maka Si Bayangan Setan dengan penuh bemafsu segera melancarkan serangan ganas diiringi bentakan dahsyat:

"Terima jurus kematianmu ini orang muda!" Besi hitam yang berbentuk pendayung itu menderu ke arah Candra Masa dengan dahsyatnya. Si pemuda dengan gesit melompat ke samping dan dari samping kemudian dengan cepat mengirimkan serangan pedang.

Maka kelihatanlah sinar hitam dari senjata Si Bayangan Setan saling gulung bergulung dengan sinar putih pedang Candra Masa!

Hampir berakhir jurus yang sangat hebat itu tiba-tiba terdengarlah jeritan Candra Masa. Pedangnya mental tapi lekas disambat kembali dengan tangan kiri. Pemuda ini kemudian melompat mundur ke belakang. Lengan kanannya kelihatan terkulai dan mengucurkan darah. Senjata lawan telah mematahkan tulang lengan itu!

"Bayangan Setan!" seru Dewa Pedang. "Pertandingan ini diadakan bukan untuk saling mencelakai satu sama lain ... tapi hanya untuk menguji tingkat kepandaian dalam ilmu silat ...." Si Bayangan Setan mendengus dan tertawa buruk.

"Kalau pihakmu kalah, kau banyak bicara. Silahkan suruh maju anggotamu yang lain!" Semantara itu Candra Masa setelah menjura terlebih dahulu kepada Ketua Partainya segera kembali ke tempat dan beberapa

anggota Partai turun memberi bantuan mengobati tangan Candra Masa yang patah.

Dari samping kanan tiba-tiba melompat sesosok tubuh. Ternyata dia adalah Suralangi, Pengurus Partai Telaga Wangi daerah Selatan. Sambil menjura di hadapan Dewa Pedang berkatalah laki-laki berbadan pendek tapi tegap kekar ini:

"Ketua, mohon izinmu untuk menghadapi manusia ini!" Dewa Pedang menjawabcdengan anggukkan kepala. Suralangi cabut pedangnya dan melangkah ke hadapan Si Bayangan Setan.

"Harap kau sudi memberi sedikit pelajaran padaku," kata Pengurus Partai Daerah Selatan ini. Bayangan Setan menyeringai.

"Silahkan kau memulai lebih dahulu," katanya. Maka tidak sungkan-sungkan lagi Suralangi segera kiblatkan pedang peraknya. Dengan mengeluarkan jurus terhebat dari ilmu pedang ciptaan Dewa Pedang yang dinamai "Seribu Pedang Mengamuk" maka Suralangi dalam sekejapan mata sudah mengurung lawan dengan sambaran-sambaran pedang yang dahsyat!

Jubah hitam Si Bayangan Setan sampai berkibar-kibar oleh siuran angin pedang Diam-diam Si Bayangan Setan terkejut juga melihat permainan pedang lawan. Segera diputamya senjatanya dengan sebat. Beberapa kali senjata kedua orang itu saling beradu keras dan nyaring serta memercikkan bunga api. Lima jurus berlalu dengan cepat. Sampai sekian lama keduanya kelihatan seimbang. Lima jurus lagi berlalu di bawah penyaksian puluhan pasang mata para hadirin.

"Suralangi, lekas disudahi saja!" terdengar seruan Ketua Partai Telaga Wangi. Mendengar ini maka Suralangi dengan gesitnya bergerak ke samping satu langkah. Ketika lawan memburu dengan sambaran besi hitam berbentuk pendayung maka Suralangi kembali ke posisinya semula dan dari sini

menggempur dengan jurus yang dinamai "Ular Sanca ke Luar Sarang Mematuk Gunung".

"Buk!"

Besi hitam di tangan Si Bayangan Setan mental ke udara. Dari mulut manusia berjubah hitam ini keluar keluhan kesakitan Ketika diperhatikannya ternyata tulang belakang telapak tangannya remuk!.

Suralangi telah mempergunakan hulu pedangnya untuk menghantam belakang telapak tangan Si Bayangan Setan!

Sementara Si Bayangan Setan masih merintih kesakitan maka Suralangi menyarungkan pedang dan berkata:

"Terima kasih, kau telah memberi banyak pelajaran padaku, Bayangan Setan!" Kali ini Si Bayangan Setan benar-benar kehilangan muka. Di bawah sorak sorai para hadirin dia membungkuk mengambil senjata besi hitamnya dan melompat meninggalkan panggung, menghilang di jurusan Timur.

Suralangi menjura di hadapan Ketua Partainya lalu melangkah kembali ke tempatnya namun disaat inilah satu sosok tubuh melesat ke atas panggung dari kelompok hadrrin sebelah Barat.

Ternyata manusia ini adalah seorang nenek-nenek bongkok bermuka keriput cekung, bermata besar dan lebar seperti jengkol. Tubuhnya yang bongkok itu ditutupi oleh sehelai kain merah sedang pada pinggangnya tergantung sebuah kelewang yang juga berwama merah.

"Saudara," menegur si nenek terhadap Suralangi.

"Kepandaianmu memang patut dipuji. Jurus Ular Sanca Ke Luar Sarang Mematuk Gunung tadi patut dikagumi. Aku percaya tentu kau masih banyak mempunyai simpanan jurus-jurus silat Partaimu yang hebat! Bersedialah memperlihatkannya kepadaku ... ?!" Kaget sekali Suralangi melaat kemunculan nenek-nenek ini. Dan tebih kaget lagi karena si nenek

mengetahui betul nama jurus permainan pedang yang telah dikeluarkannya ketika mempecundangi Si Bayangan Setan tadi! Suralangi melirik ke sebelah kanan di mana Ketua Partai Telaga Wangi duduk. Dan dilihatnya Dewa Pedang merangkapkan kedua tangan di muka dada, sedang kulit kening mengerenyit.

Munculnya nenek-nenek berkain merah ini yang bukan lain adalah Nenek Kelewang Merah juga mengejutkan Dewa Pedang, lima tahun berselang dia pernah bentrokan dengan perempuan tua ini ketika Nenek Kelewang Merah berusaha membantu satu gerombolan jahat yang mengacau di Kotaraja Demak. Karena pihaknya lebih kuat dan banyak maka Nenek Kelewang Merah dan kawan-kawannya berhasil dikalahkan oleh Dewa Pedang dan rekan-rekannya. Itu terjadi lima tahun yang lalu.

Jika Nenek Kelewang Merah di saat ini muncul kembali, pastilah ada sangkut pautnya dengan peristiwa lama itu! Menurut pertimbangan Dewa Pedang. Suralangi akan sukar untuk menghadapi perempuan tua ini kalau tak mau dikatakan akan dapat dikalahkan.

Namun untuk menyuruhnya mundur tidak pula mungkin karena ini akan membuat lunturnya nama Partai.Ketika melihat Ketuanya menganggukkan kepala maka Suralangi maju selangkah.

"Terima kasih, rupanya masih ada di antara para hadirin yang ingin menguji terhadap Partai kami. Tapi sebelumnya bolehkah aku mengenal nama dan gelarmu, Nenek?" Perempuan tua itu tertawa terkempot-kempot.

"Namaku tidak penting. Orang-orang memanggil aku Nenek Kelewang Merah!" Dugaan Suralangi bahwa perempuan ini adalah Nenek Kelewang Merah ternyata tidak meleset. Tergetar juga hatinya begitu mengetahui siapa lawan yang dihadapinya.

"Nah, kuharap kita tak perlu banyak tutur kata lagi, silahkan mulai." ujar Nenek Kelewang Merah pula, lalu mengambil kelewangnya.

"Keluarkan semua ilmu simpananmu yang hebat-hebat! Terhadapku yang tua tak usah sungkan-sungkan" Seperti berhadapan dengan Si Bayangan Setan Tadi maka pada jurus permulaan suralangi segera meng-gempur lawannya dengan ilmu pedang " Seribu Pedang Mengamuk"!

"Ah, kalau cuma Jurus Seribu Pedang Mengamuk, ini namanya bukan ilmu,simpanan!" mengejek Nenek Kelewang Merah. Kelihatannya memang dia acuh tak acuh saja terhadap sinar senjata lawan yang membungkusnya dengan ketat.

"Ayo! Keluarkan jurus Partaimu yang paling lihai, kalau tidak aku tak tanggung jawab!" Penasaran sekali maka Suralangi percepat putaran pedangnya sehingga senjata itu benar-benar laksana ribuan banyaknya!

"Manusia tolol! Disuruh keluarkan ilmu simpanan malah meneruskan jurus gila ini!"

"Wut ... wut ... wut ... !"

Nenek Ke!ewang Merah kiblatkan kelewangnya tiga kali berturut-turut. Tiga larik sinar merah menderu membentuk silang enam. Angin yang diterbitkan senjata ini deras sekali dan hebatnya, sinar putih dari pedang Suralangi yang mengurungnya dengan serta merta menjadi tertindih lalu buyar! Suralangi terkejut sekali! Dewa Pedang menghela nafas dalam.

"Nyatanya manusia ini jauh lebih hebat dari lima tahun yang silam ..." Ketua Partai Telaga Wangi membathin. Kemudian dengan ilmu menyusup-kan suara dia memberi peringatan:

"Hati-hati Sura, manusia ini lihai sekali. Gempur dia dengan jurus-jurus terhebat!" Di hadapannya Nenek Kelewang Merah berdiri terbongkok-bongkok dan menyeringai.

"Apa kau masih belum mau perlihatkan ilmu simpananmu? Jangan menyesal kalau terlambat ... !"

"Nenek Kelewang Merah ... lihat pedang!" seru Suralangi. Pedang perak mumi itu berkelebat deras, memapas sekaligus keenam bagian tubuh si nenek. Namun dengan gesitnya Nenek Kelewang Merah berhasil menghindarkan serangan ganas itu dan malahan berbalik melancarkan serangan balasan yang betul-betul menyirapkan darah!

"Trang!" ;

Suralangi terpaksa pergunakan pedangnya untuk menangkis sambaran kelewang lawan ke arah leher yang tak mungkin untuk dielakkan lagi! Tangannya terasa pedas dan pegal ngilu sedang mata pedangnya kelihatan gompal dihantam senjata lawan!

Menyaksikan hal ini maka tak ayal lagi Suralangi segera putar pedangnya, demikian rupa dan lancarkan tiga serangan ilmu pedang yang terlihai dari ilmu pedang Partai Telaga Wangi. Ketiganya ialah jurus "Garuda Menukik Minum Air Telaga" disusul oleh jurus "Naga Sakti Sabatkan Ekor" dan diakhiri dengan jurus "Halilintar Membelah Bumi".

Pedang perak itu yang kelihatan hanya merupakan sinar putih belaka menyambar ke arah kepala Nenek Kelewang Merah, membalik memapas pinggang kemudian naik lagi ke atas dan menetak dari atas ke bawah! Jika jurus ini berhasil maka kalau tidak kepala Nenek Kelewang Merah terbabat putus, mungkin akan kutung pinggangnya, atau mungkin juga akan terbetah kepalanya sampai ke dada! Namun Nenek Kelewang Merah tidak cidera.

Tangannya bergerak. Sinar merah dari kelewang menggebubu. Tiga jurus terhebat tadi dengan serta merta buyar! Si nenek tertawa melengking dan mengejek.

"Kiranya Partai Telaga Wangi hanya memiliki jurus-jurus butut!" Geram sekali Suralangi susul serangannya yang tadi buyar dengan dua serangan berantai serta pukulan tangan kiri dan tendangan kaki kanan! Si nenek putar kelewangnya dua kali dan lagi-lagi serangan Suralangi dibikin, lumpuh!

"Sekarang terima jurusku ini! Jurus yang kunamakan Naga Sakti Keluar dari Laut" Ucapannya itu ditutup dengan mengiblatkan kelewangnya sebat sekali, betul-betul Iaksana seekor naga yang keluar dari dalam laut, karena meskipun sebat tapi sambaran kelewang itu berliku-liku sukar diduga bagian mana sebenarnya yang menjadi sasarannya!

"Sura, cepat keluar dari kalangan! Serang lawan dari samping!" memperingatkan Dewa Pedang dengan ilmu menyusupkan suara. Suralangi segera melompat ke belakang dan bergeser ke samping namun gerakannya selanjutnya tak mampu dilakukannya. Kelewang lawan menderu menyambar ke mukanya! Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah mempergunakan pedang untuk menangkis! Dan laksana sebuah pisau tajam memutus wortel, demikianlah kelewang merah si nenek membabat putus pedang perak Suralangi tepat di batas muka hulunyal Dan gerakan Nenek Kelewang Merah tidak sampai di situ saja. Tubuhnya melesat kemuka.

"Sura, awas!" teriak beberapa orang anggota Partai Telaga Wangi. Namun terlambat, kaki kanan Nenek Kelewang Merah lebih dahulu menghantam dada Suralangi. Tak ampun lagi Suralangi tubuhnya mencelat mental, terus masuk ke dalam telaga!* * * Telaga yang aimya tadi bening kini kelihatan merah oleh darah. Dua orang anggota Partai segera menghambur masuk ke dalam telaga dan membawa Suralangi ke tepian. Sampai di tepi telaga Suralangi muntah darah lalu roboh pingsan! Ketua Partai Telaga Wangi menghela nafas dan rangkapkan kedua tangannya di muka dada.

"Nenek Kelewang Merah," kata Dewa Pedang.

"llmu silatmu bagus dan patut dipuji. Tapi ketahuilah maksud menguji bukan berarti mencelakai ... !" Nenek Kelewang Merah tertawa mengikik.

"Sekarang kau bisa bicara begitu Brajaguna." kata si nenek pula dengan menyebut nama asli Dewa Pedang.

"Apa kau juga membuka mulut sewaktu anggota Partaimu tadi mencelakai Si Bayangan Setan...?!"

"Bukan anggota Partaiku yang mencelakainya, Nenek Kelewang Merah, tapi Si Bayangan Setan sendiri yang mencari celaka!" menyahuti Dewa Pedang. Si nenek tertawa lagi mengikik lebih panjang dari tadi. Suara tertawanya ini menusuk-nusuk gendang-gendang telinga. Maklumlah semua orang bagaimana tingginya tenaga dalam si nenek. Ketika dia berhenti tertawa maka ia pun berkata:

"Pintar bicaramu masih seperti dulu saja, Brajaguna. Tapi kalau ilmu silatmu tingkatnya juga seperti dulu, kurasa belum saatnya kau memangku jabatan Ketua dan mendirikan Partai baru di dunia persilatan!" Marahlah sekalian orang dari Partai Telaga Wangi atas penghinaan ini. Dari samping

melesat sesosok tubuh dan berdiri enam langkah di hadapan Nenek Kelewang Merah.

Ternyata dia adalah Indrajaya, putera tertua dari Dewa Pedang sendiri!

"Nenek Kelewang Merah, aku tak dapat menerima penghinaanmu tadi!" kata Indrajaya. Si nenek kernyitkan kening. Matanya yang lebih besar macam jengkol disipitkannya sedikit. Lalu dengan senyum-senyum dia, berkata:

"Melihat kepada tampangmu, pastilah kau anaknya si Dewa Pedang! Ah ... nyalimu memang besar anak muda, sebesar bapakmu dulu! Tapi lucunya bapaknya yang dihina kenapa anaknya yang maju?!"

"Kuharap kau bisa menjaga mulut dan tahu di mana berada orang tua!" bentak Indrajaya. Nenek Kelewang Merah masih senyum-senyum seperti tadi.

"Soal mulutku soalku sendiri orang muda. Mulutku mau bicara dan keluarkan apa saja siapa mau perduli?!" Jengkel sekali lndrajaya maju satu langkah.

"Memang sekalipun kau berak dari mulut tak ada yang mau perduli!" tukas lndrajaya sehingga semua yang hadir tertawa terbahak-bahak. Kelamlah muka si nenek.

"Tujuh puluh tahun hidup baru hari ini aku Nenek Kelewang Merah menerima hinaan dari seorang bocak setan alas!" Mulut perempuan tua itu komat kamit -sebentar lalu:

"Semustinya sudah kupecahkan kepalanya tapi melihat tampangmu begitu gagah aku masih punya rasa belas kasihan! Cepat berlutut dan minta ampun!" lndrajaya mendengus.

"Jangan anggap remeh semua orang nenek tua! Terima dulu bekas tanganku pada mukamu yang kriput itu baru aku sudi berlutut!"

"Keparat betul!" bentak Nenek Kelewang Merah,

"Dikasih ampun minta dikeremus! Apa kau punya selusin tangan enam kepala berani menantang aku?! Bapakmu juga belum tentu menang melawanku!" Mendidih darah lndrajaya mendengar lagi-lagi nama bapaknya dihina si nenek.

"Lihat pedang!" bentak Indrajaya. Si nenek bongkok di samping tertawa mencemooh juga agak heran karena ancaman yang dilakukan oleh pemuda itu di saat sama sekali tangannya masih belum memegang pedang namun sekejapan mata kemudian terkejutlah Nenek Kelewang Merah ini ketika melihat selarik sinar putih yang menyilaukan berkiblat membabat dari kanan ke kiri persis di depan hidungnya!

Nenek Kelewang Merah berseru tertahan dan melompat dua langkah ke belakang. Ketika melihat ke muka ternyata si pemuda sudah memegang sebilah pedang dari perak mumi! diam-diam hati perempan tua ini menjadi tergetar juga. Jurus apakah yang telah dikeluarkan oleh si pemuda hingga demikian hebatnya? Kalau anaknya sudah begini tinggi kepandaiannva, tentu Dewa Pedang sendiri lebih lihai lagi!

Sementara itu di antara para hadirin mulai terdengar kerasak kerisik yang menyatakan rasa kagum terhadap serangan kilat yang dilancarkan oleh lndrajaya tadi. Untuk tidak keliwat kehilangan muka maka dengan nada masih menganggap rendah lawan, si nenek berkata:

"Orang muda, kalau kau bermaksud hendak mencoba kepandaianku, sebaiknya kau ajak dua saudaramu yang lain. Bapak sama ibumu kalau mau juga boleh!"

"Kalau kau tak punya nyali menghadapiku sendirian, angkat kain burukmu tinggi-tinggi dan larilah dari sini!" balas mengejek Indrajaya.

"Penghinaanmu sudah liwat takaran, bocah setan!" teriak Nenek Kelewang Merah. Tangan kanannya bergerak.

"Wutt!"

Selarik sinar merah melanda ke kepala Indrajaya! Hebat dan cepat tiada terkirakan. lnilah jurus yang dinamakan perempuan tua itu dengan "Kelewang Melanglang Jagat"!

Beberapa lawan tangguh dan utama telah menemui kematiannya dalam jurus yang hebat ini. Dan di saat itu Nenek Kelewang Merah sudah membayangkan bahwa kelewangnya kali ini pun akan memapas licin kepala si pemuda yang kurang ajar dan telah berani menantangnya!

Namun si nenek jadi terkesiap dan berubah parasnya ketika menyaksikan bahwa serangan kelewangnya hanya mengenai udara kosong bahkan lndrajaya sendiri lenyap dari pandangannya.

"Ah.. gelarmu sebagai Nenek Kelewang Merah nyatanya hanya kosong belaka!" Mendengar suara lndrajaya di belakangnya si nenek segera membalik dan ....

"Wut ... wut!"

Dua kali lagi kelewangnya mengelebatkan angin deras dan sinar merah yang dahsyat. Namun lagi-lagi dia hanya menyerang tempat kosong.

"Apa kau bertempur sendirian melawan tempat kosong, orang tua?!" terdengar lagi suara mengejek lndrajaya dari samping belakang! Sekali lagi Si nenek putar dengan cepat tubuhnya yang bongkok dan lancarkan tiga kali serangan berantai, bahkan kali ini juga disertai pukulan tangan kosong dari tangan kirinya.

Namun hasilnya tetap seperti tadi! Suara riuh rendah semakin bising. Banyak para tamu yang hadir mengagumi ketinggian ilmu meringankan tubuh Indrajaya.

"Pemuda setan! Apa kau cuma berani menghindar dan lari mengelit begitu saja!" bentak Nenek Kelewang Merah dengan geram.

"Siapa bilang aku tak berani melabrakmu, perempuan sombong!"sahut Indrajaya. Sesaat kemudian maka larikan-larikan sinar putih menyilaukan yang tiada terkirakan banyaknya telah menggempur dan membungkus tubuh sang nenek.

Tanpa membuang waktu Nenek Kelewang Merah putar kelewangnya laksana kitiran. Maka sinar putih dan merah kini saling bergumut berpalun-palun. Deru angin tiada terkirakan derasnya sedang tubuh kedua manusia yang bertempur itu lenyap menjadi bayang-bayang Cepat sekali sepuluh jurus sudah lewat.

Permainan ilmu pedang "Seribu Pedang Mengamuk" yang sebelumnya telah dikeluarkan oleh Suralangi kini dimainkan oleh lndrajaya hebatnya bukan main. Sebagai anak sulung dari Ketua Partai Telaga Wangi, lndrajaya meskipun belum sempuma betul tapi boleh dikatakan tiga perempat ilmu Dewa Pedang telah diwarisinya!

Selewat jurus kedua belas maka kelihatanlah bagaimana si nenek menjadi terdesak hebat. Beberapa ilmu simpanannya yang lihai-lihai telah dikeluarkannya untuk menghancurkan serangan dan kurungan pedang lawan namun sia-sia belaka! Maka perempuan tua ini jadi keluarkan keringat dingin! Lebih-lebih ketika dia dibikin kepepet ke panggung sebelah Utara!

"Apa mulut besarmu kini sudah jadi bisu, perempuan tua?!" ejek lndrajaya. Nenek Kelewang Merah menyahuti dengan satu bentakan keras. Kelewangnya menderu dahsyat. Indrajaya tak tinggal diam. Tubuhnya

berkelebat lenyap. Hanya sinar putih yang kelihatan bergulung-gulung melabrak dan menindih sinar merah dari kelewang si nenek tua! Tiba-tiba.

"Tjrasss!"

Nenek Kelewang Merah berseru keras. Rambutnya yang kelabu dan disanggul kuncir di atas kepala terbabat putus disambar pedang perak Indrajaya!

Sebelum dia punya kesempatan untuk melompat mundur tahu-tahu sudah terdengar pula jeritannya. Daging lengannya tergores panjang sedalam seperempat senti disambar ujung pedang Indrajaya. Darah berlelehan!

Senjata perempuan tua itu terlepas dan jatuh di panggung! Gemparlah para hadirin menyaksikan hal ini! Perempuan tua berumur tujuh puluh tahun yang dikenal di dunia persilatan dengan julukan Nenek Kelewang Merah hari itu telah dipecundangi oleh seorang pemuda belia!

Dengan muka merah laksana saga karena malu dengan terbongkok-bongkok Nenek Kelewang Merah mengambil kelewangnya lalu dengan geramnya berkata pada lndrajaya:

"Apa yang terjadi hari ini tidak bakal kulupakan! Kelak aku datang kembali untuk mengorek kau punya jantung dari balik tulang dadamu!"

Habis berkata demikian, diiringi oleh sorak sorai mereka yang hadir maka tanpa menoleh lagi sinenek tua itu segera meninggalkan tempat tersebut. Belum lagi habis sorak sorai para hadirin tahu-tahu seorang resi berpakaian ungu sudah melesat naik ke atas panggung! Munculnya resi ini dengan serta merta menghentikan segala kehiruk pikukan. Semua mata ditujukan kepadanya.

Sikapnya yang tenang dan mimik air mukanya yang polos menyatakan bahwa dia mempunyai wibawa serta berilmu tinggi. Pada punggung dan dada jubahnya yang berwama ungu itu kelihatan gambar

tombak bermata tiga yang disulam dengan benang emas! Melihat jubah dan sulaman tombak emas kepala tiga itu maka segenap yang hadir serta tuan. rumah segera mengenali siapa adanya resi tersebut.

Di dunia persilatan dia dikenal dengan julukan Tiga Tombak Emas Trisula dan berdiam di Pulau Wuwutan di Pantai Selatan Jawa Tengah. Bersama dua orang resi lainnya dia membentuk satu perkumpulan silat yang akan melakukan tugas apa saja dan dari manapun datangnya asal dibayar dengan uang atau barang-barang berharga.

Dikabarkan komplotan Tiga Tombak Emas Trisula dulunya juga turut menjadi kaki tangan pengkhianat yang hendak meruntuhkan Demak.

Mengapa sampai salah satu anggota perkumpulan Tiga Tombak Emas Trisula itu bisa sampai di tempatnya belum dapat dijajak oleh Ketua Partai Telaga Wangi karena memang dia merasa tak pernah memberikan undangan pada mereka.

Apakah manusia ini Cuma datang sendirian atau bersama dua rekannya lainnya ?

Mungkin pula kedatangannya atas bayaran seseorang atau satu perkumpulan lain dengan tugas membuat kekacauan pada saat peresmian pendirian Partai Telaga Wangi?

Resi itu setelah memandang ke seluruh anggota Partai, melirik sekilas pada lndrajaya kemudian menganggukkan kepalanya pada Dewa Pedang.

"Aku adalah Godapati, salah seorang yang termuda dari Tiga Tombak Emas Trisula. Meski tak diundang telah memberanikan diri untuk datang ke mari ...."

"Ah ...." Dewa Pedang balas mengangguk.

"Sudah barang tentu ini satu kehormatan bagi kami menerima kunjungan seorang tokoh silat macam saudara ... ." Godapati batuk-batuk beberapa kali lalu berkata pula

"sudah lama aku mendengar nama besar Dewa Pedang. Ketika mendengar kabar yang dibawa oleh angin bahwa Dewa Pedang hendak membangun satu Partai baru dalam dunia persilatan maka itu mendorong aku untuk datang dan menyaksikannya sendiri ...."

"Terima kasih ... terima kasih ...." kata Dewa Pedang.

Jika Ketua Partai Telaga Wangi memberi izin, aku berkehendak sekali untuk melihat dari dekat kehebatan permainan pedang Ketua Partai ...." Dewa Pedang tertawa jumawa. .

Putera kedua dari sang Ketua tiba-tiba berdiri. Ayah perkenankan aku mewakilimu dalam memenuhi kehendak tamu kita ini ...." Dewa Pedang merenung sejenak lalu menganggukkan kepalanya. Namun dengan ilmu menyusupkan suara dia berkata pada anaknya

" Hati-hati Jayengrana, dia lihai sekali, senjatanya sebuah tombak emas bermata tiga. Ingat baik-baik jangan sampai pedangmu beradu atau bertempelan dengan senjatanya!". Godapati meneliti Jayengrana dengan matanya yang tajam. Kemudian pemuda itu melangkah ke hadapannya.

"Tombak Emas Trisula," kata Jayengrana,

"Atas izin ayahku selaku Ketua Partai Telaga Wangi kuharap kau tak keberatan kalau niatmu terhadap ayahku, aku yang mewakilinya."

Jika saja tidak menyaksikan sendiri kelihayan lndrajaya tadi maka pastilah Godapati akan menganggap remeh terhadap si pemuda. Tapi untuk menjaga nama besar dirinya dan nama gagah perkumpulannya maka Godapati berkata:

"Ah, dari jauh datang hendak bertemu dan bertutur ilmu dengan Dewa Pedang, sampai di sini hanya diberi kesempatan untuk berhadapan dengan puteranya ...." Godapati berpaling pada Ketua Partai Telaga Wangi dan berkata:

"Dewa Pedang, kuharap kau jangan arah bila terhadap puteramu nanti aku kesalahan tangan...!" Meski tahu bahwa tutur kata yang sopan itu adalah dibuat-buat saja namun Dewa Pedang tersenyum dan mengangguk ramah.

Maka dari balik jubah ungunya, Resi Godapati segera mengeluarkan sebuah tombak yang terbuat dari emas dan bermata tiga!

"Sebagai tamu, apakah kau keberatan bila aku yang mulai menyerang lebih dahulu, orang muda?"

"Silahkan Tombak Emas Trisula ...." jawab Jayengrana. Dengan mengeluarkan bentakan yang teramat dahsyat Resi Godapati menyerang. Senjatanya berkelebat dan menimbulkan tiga larik sinar kuning emas namun anehnya senjata yang berbentuk tombak kepala tiga itu bergerak agak lamban.

Melihat ini Jayengrana segera hendak menabas senjata lawan dengan pedangnya namun ketika dia ingat pesan ayahnya bahwa sekali-kali jangan sampai beradu senjata atau menempelkan pedang dengan senjata lawan maka pemuda itu mengurungkan niatnya! Seandainya Jayengrana meneruskan niatnya tadi hendak memapas senjata lawan maka dalam jurus pertama itu pastilah Resi Godapati akan menjepit badan pedangnya antara salah satu legukan dua mata tombak, kemudian akan mematahkan pedang itu!

Godapati sendiri merasa heran mengapa si bemuda tak meneruskan niatnya dan dia membathin mungkin sekali Jayengrana mengetahui rahasia kehebatan senjatanya! Maka tanpa menunggu lebih lama dia segera

menyerang kembali Jayengrana berkelebat dan bergerak gesit! Kegesitan inilah yang banyak menolongnya dari serangan senjata lawan yang hebat itu.

Ketika Godapati mempercepat gerakannya maka Jayengrana juga mempercepat kelebatannya sehingga kedua orang itu hanya merupakan bayang-bayang saja kini dan dalam waktu yang singkat keduanya sudah bertempur lima belasan jurus!

Para tamu yang hadir dan pihak tuan rumah sendiri menyaksikan pertempuran itu dengan mata hampir tak berkedip!

Sudah beberapa kali Jayengrana mengeluarkan jurus-jurus terlihai dari permainan pedang Partai Telaga Wangi namun sampai begitu jauh tak berhasil membuat kemajuan!

Resi Godapati sendiri tidak pula mampu melakukan sesuatu dari pada seperti keadaannya disaat itu! Sukar baginya untuk menerobos pertahanan lawan.

Berkali-kali dia berusaha untuk menjepit pedang Jayengrana, tapi si pemuda senantiasa menjauhkan pedangnya dari ujung tombak kepala tiga itu.

Ketika pertempuran sudah berjalan dua puluh lima jurus, Resi Godapati mulai menjadi penasaran. Di samping itu telinganya mulai mendengar ejekan-ejekan para tamu di sekitar panggung yang membuat dia jadi kehilangan muka.

"He ... he .... Jika tiga jurus lagi kau tak mampu mengalahkan pemuda itu sebaiknya kembali saja ke Pulau Wuwutan dan tak usah munculkan diri lagi di dunia persilatan!" terdengar suara mengejek dari panggung sebelah Barat. Suara ini adalah suara manusia yang tadi pertama kali juga telah mengejek Si Bayangan Setan.

Godapati kertakkan rahangnya. Tangan kirinya dengan cepat masuk lalu ke luar lagi dari saku jubah.

"Awas jarum!'. seru Resi Godapati. Jayengrana membentak keras dan melompat ke udara setinggi lima tombak. Puluhan jarum emas yang menjadi senjata rahasia Resi Godapati lewat di bawahnya. Dan pada detik itu pula laksana seekor burung garuda menyambar mangsanya maka menukiklah Jayengrana. Pedangnya menyambar deras ke arah leher lawan. Resi Godapati cepat menangkis dengan senjatanya.

Disamping Jayengrana tak mau bentrokan senjata maka dengan cepat dan tak terduga sama sekali pemuda itu gerakkan pedang membuat satu tusukan kilat ke arah dada! Demikianlah cepatnya sehingga Godapati tak punya kesempatan untuk penangkis kembali.

Terpaksa Resi lihai itu memaki dalam hati dan cepat-cepat melompat ke belakang. Pada lompatan ke belakang ini sang Resi membuat lagi satu gerakan yang hebat luar biasa. Tubuhnya jungkir balik di udara. Tombak Emas Trisula di tangannya menyapu dari samping dan tahu-tahu salah satu legukannya telah berhasil menjapit pedang perak di tangan Jayengrana! Begitu berhasil menjapit segera Godapati memutar tombaknya!

Di lain pihak karena tidak ingin senjatanya menjadi patah dua, Jayengrana terpaksa dengan cepat melepaskan pedangnya! Namun dia tak mau terima kalah begitu saja. Begitu pedangnya dirampas lawan. cepat laksana kilat pemuda itu jatuhkan diri ke lantai dan ....

"Bret!" Sekali Jayengrana gerakkan tangannya maka robeklah jubah ungu Resi Godapati! Penasaran sekali karena jubah kebesarannya dirusak lawan, Resi Godapati hantamkan tombaknya ke tubuh Jayengrana. Yang diserang menggulingkan dirinya dengan cepat dan sekejapan mata kemudian

tombak kepala tiga itu menancap di lantai papan panggung sampai setengahnya!

Para tamu yang hadir bersorak gegap gempita melihat pertempuran yang hebat seru itu. Jayengrana berdiri dengan cepat sementara Resi Godapati mencabut senjatanya yang amblas ke dalam lantai lalu menyimpannya kembali ke balik jubah ungunya!

Dia memandang pada Ketua Partai Telaga Wangi. menganggukkan kepala lalu berkata: "Dewa Pedang, ternyata puteramu telah sanggup menyuguhkan satu permainan yang berharga kepadaku! memang tidak percuma kalau kau berhasrat mendirikan satu partai besar dengan anggota-anggota yang berkepandaian tinggi macam anakmu!". Dewa Pedang tertawa cerah. Siapa yang akan menyangka kalau seorang tokoh silat golongan hitam Godapati mau bicara dan bersikap jujur seperti itu?

"Terima kasih, Resi Godapati. Jikalau penyambutan kami terhadapmu kurang baik mohon dimaafkan" kata Dewa Pedang pula. Secara nyata memang puteranya telah dikalahkan oleh resi kosen itu meskipun Jayengrana tidak begitu kehilangan muka karena dia juga berhasil merobek jubah lawannya.

Sekali lagi Resi Godapati menganggukkan kepalanya. Dia memutar tubuh hendak meninggalkan sanggung namun langkahnya tertahan ketika di lembah di mana telaga itu terletak tiba-tiba sekali terdengar suara mengumandang yang dahsyat dan menggidikkan. Lalu tahu-tahu sebuah benda jatuh menggelinding di hadapan kaki Dewa Pedang.

Ketika Dewa Pedang dan semua anggota partai serta para hadirin memandang ke benda yang menggelinding itu maka terkejut dan gemparlah semuanya karena benda itu bukan lain daripada kepala manusia!* * * Kepala manusia itu berambut gondrong awut-awutan. Mukanya berkerinyut, kening sangat lebar, kedua mata membeliak besar, mulut menganga. Pada lehernya yang bekas terbabat putus kelihatan darah yang telah membeku coklat kehitaman.

Sungguh satu pemandangan yang mengerikan untuk disaksikan. Melihat kepada keadaan muka dan kepala itu serta baunya yang busuk sekali nyatalah bahwa manusia pemilik kepala itu telah menemui ajalnya beberapa hari yang lewat.

Mungkin satu minggu bahkan mungkin pula lebih dari itu!

Dewa Pedang sendiri yang menyaksikan kepala manusia itu jadi mengerenyitkan kening. Dia rasa-rasa kenal atau pernah melihat manusia tersebut. Pada detik dia coba mengingat-ingat maka pada saat itu pula sesosok tubuh manusia berkelebat dan berdiri di atas panggung sambil tertawa tiada hentinya.

Manusia yang datang ini adalah seorang kakek- kakek tua renta berbadan kurus kering Tulang-tulang tangan serta kakinya kecil sekali sedang tulang dada dan keseluruhan tulang-tulang iganya kelihatan dengan jelas. Mukanya sangat cekung, mata sipit. Keanehan manusia ini selain hanya mengenakan cawat saja untuk menutupi tubuhnya maka rambutnya yang panjang putih dijalin satu ke belakang macam perempuan!

Melihat kedatangan manusia ini, untuk kesekian kalinya keadaan di tempat itu menjadi gempar! Karena siapakah yang tak kenal dengan seorang tokoh silat yang bergelar "Si Cawat Gila"?!

Tokoh ini bukan saja termasyhur karena ketinggian ilmunya tapi juga karena otaknya yang miring. Buktinya begitu datang dia telah menggemparkan suasana dengan sebutir kepala manusia!. Sampai selama satu kali sepeminum teh Si Cawat Gila masih juga berdiri di panggung itu dengan tertawa panjang gelak-gelak!

Dewa Pedang selaku tuan rumah dan sebagai seorang tokoh silat yang telah memaklumi manusia bagaimana adanya tamu yang ada di atas panggung itu tetap duduk di tempatnya dan menunggu sampai Si Cawat Gila menghentikan tertawanya. Ketika Si Cawat Gila mulai reda tertawanya maka bertanyalah Dewa Pedang:

"Kakek Cawat Gila, gerangan apakah yang telah membawamu datang ke sini dengan cara begini rupa ..?" Si Cawat Gila sekaligus menghentikan tertawanya. Dikucak-kucaknya kedua matanya lalu memandang lekat-lekat pada Dewa Pedang setelah itu memandang berkeliling pada para hadirin yang ada. Pandangannya begitu angker menggetarkan!

Kemudian tokoh silat berotak miring ini memanggut-manggutkan kepalanya beberapa kali, mendongak sebentar kelangit lalu berkata:

"Ah ... jadi betul rupanya aku telah sampai di kaki Gunung Merapi. Betul rupanya aku telah sampai di tepi telaga tempat peresmian berdirinya Partai Telaga Wangi ...." Orang tua ini memandang lurus-lurus pada Dewa Pedang lalu dengan seenaknya tudingkan jari telunjuknya tepat-tepat ke hidung Ketua Partai Telaga Wangi itu dan berkata setengah membentak:

"Kau ya manusianya yang bernama Brajaguna bergelar Dewa Pedang?!"

"Ya" menjawab Dewa Pedang. Dan Si Cawat Gila tertawa lagi gelak-gelak.

"Tampangmu macam manusia biasa, bahkan mirip kunyuk! Kenapa pakai gelar Dewa segala? Apa kau keturunan atau titisan Dewa, huh?!" Mendengar ejek penghinaan ini maka melompatlah ke muka dua orang Pengurus Partai yaitu Klabangsongo den Rah Gundala!

"Kerempeng tua bangka! Kuharap cepat minta maaf atas mulutmu yang bicara seenaknya itu!" membentak Rah Gundala. Suaranya parau garang. Manusia ini berbadan gemuk pendek dan berkepala sulah.

"Monyet gundul yang tak tahu tingginya gunung dalamnya laut, kau minggirlah! Aku tak cari urusan denganmu!" Habis berkata begini Si Cawat Gila lambaikan tangan kanannya.

"Wuut!"

Gelombang angin laksana badai melanda tubuh Rah Gundala! Demikian hebatnya sehingga Rah Gundala mental dari panggung, jatuh di antara para hadirin dan muntah darah lalu pingsan!

"lblis tua keparat!" maki Klabangsongo. Pengurus Partai dari Selatan segera cabut pedangnya dan melancarkan serangan dahsyatl Namun dengan mudah Si Cawat Gila mengelak ke samping.

Sekali tangan kanannya dihantamkan ke muka maka seperti Rah Gundala tadi, Klabangsongo pun mencelat ke luar panggung, tenggelam ke dalam telaga. Untuk kedua kalinya air telaga itu kelihatan merah oleh darah yang keluar dari mulut Klabangsongo! Dua orang anggota Partai segera pula terjun untuk menolong Klabangsongo.

"Orang tua, lihat pedang!" Tiba-tiba terdengar seruan dan selarik sinar putih menderu di muka hidung Si Cawat Gila!

Si Cawat Gila terkejut dan buru-buru melompat ke belakang. Yang menyerangnya ternyata adalah Jayengrana! Tentu saja Si Cawat Gila terkejut diserang demikian rupa. Namun ketika melihat siapa penyerangnya maka dia terlebih dahulu tertawa gelak-gelak.

"Bagus ... bagus! Anaknya juga ingin mencari mampus! Bagus! Datang mencari biangnya, anak-anaknya unjukkan diri! Ha ... ha ... ha .... Jika masih ada anak-anaknya Dewa Pedang yang lain segeralah maju, biar kubikin kojor sekaligus!" Geram sekali Jayengrana kembali menyerbu dengan pedangnya sementara semua orang yang hadir menyaksikan dengan menahan nafas penuh tegang! Jika dua tokoh Partai Telaga Wangi dapat dirobohkan oleh Si Cawat Gila, sungguh sukar diduga sampai di mana ketinggian ilmu manusia aneh itu!

Semua mata memandang tak berkedip ke atas panggung sedang hati masing-masing bertanya-tanya gerangan apakah yang membuat Si Cawat Gila munculkan diri di situ dan turun tangan sedemikian ganasnya! Sinar putih dari pedang Jayengrana bergulung-gulung mengurung Si Cawat Gila dari delapan penjuru! Suaranya menderu sedang tubuh Jayengrana hanya tinggal bayangannya saja yang kelihatan. Lima jurus berlalu cepat. Si Cawat Gila hanya sekali dua saja menggeserkan kaki mengelakkan serangan itu! Bahkan dengan masih tertawa-tawa dia bertanya:

"Ayo, mana itu anak-anak tahi-tahinya Dewa Pedang? Apa cuma yang seorang ini saja?!"

"Tak usah jual bacot di sini, Cawat Gila! Terima ini!" membentak Jayengrana. Pedang peraknya berkiblat membuat tiga rantaian ilmu pedang Partai Telaga Wangi yang sangat ampuh yaitu "Tujuh Naga Menyambar Rembulan" disusul dengan "Naga Sakti Sabatkan Ekor" lalu "Ular Sanca Keluar Sarang Mematuk Gunung".

"Jurus-jurus tak berguna? Buat apa dikeluarkan!" ejek Si Cawat Gila, lalu digesernya kaki-kakinya yang kurus kering itu, tubuh miring ke kiri, miring lagi ke kanan kemudian laksana harimau mendekam dan menyambarkan kuku-kuku kakinya, maka seperti itulah kedua tangan Si Cawat Gila menyambar ke depan dan tahu-tahu pedang Jayengrana sudah kena dirampas! Belum lagi habis terkejutnya pemuda ini tangan yang lain dari si orang tua sudah menghantam kepala Jayengrana! Pemuda Ini terpelanting delapan tombak di luar panggung, kepalanya hancur nyawanya lepas! Maka gemparlah keadaan di atas dan di bawah panggung !

"Orang tua dajal!" terdengar bentakan perempuan.

"Kau harus bayar kematian anakku dengan nyawa anjingmu!" Sinar putih bertabur ke arah kepala, pinggang dan kaki Si Cawat Gila. Dikejapan lainnya dari kiri kanan berkelebat pula dua sosok tubuh manusia. Salah seorang dari padanya membentak:

"Nyawamu harus lepas di sini juga bangsat kerempeng! Tubuhmu musti lumat oleh pedangku" Perempuan yang membentak tadi bukan lain dari pada Suwita, isteri Dewa Pedang yang menjadi kalap melihat kematian anaknya. Sedang dua orang berikutnya ialah Indrajaya dan Bradjasastra, putera sulung dan putera bungsu Dewa Pedang!

Kurang dari sekejapan mata maka tubuh Si Cawat Gila sudah terbungkus rapat oleh larikan-larikan dahsyat sinar ketiga pedang lawannya. Serangan-serangan ini hebatnya bukan olah-olah. Indrajaya dan Bradjasastra meski belum sempurna betul tapi sudah menguasai setiap ilmu silat yang diwariskan bapaknya sedang Suwita sendiri di samping ilmu silat yang didapatnya dari Dewa Pedang, dia adalah seorang murid dari tokoh sakti di Pulau Klabat yang nama tokoh itu mengandung rahasia besar dan sukar dipecahkan oleh kalangan persilatan!

Menurut dugaan para hadirin yang bermata tajam dan luas pengalaman, paling lambat dalam dua jurus akan tamatlah riwayatnya Si Cawat Gila itu!. Tapi keliru Di luar dugaan malah terdengarlah kekehan Si Cawat Gila tiada hentinya sedang tubuh nya sendiri lenyap!

"Ha ... ha ... ha .... Apa inikah peraturan Partai Telaga Wangi dalam dunia persilatan?! Mengeroyok tiga lawan satu?! Sungguh keji dan memalukanl" terdengar suara lantang Si Cawat Gila!

"Untuk manusia anjing sedeng macammu tak usah pakai aturan persilatan segala!" balas membentak Indrajaya. Pedangnya diputar makin cepat dalam jurus-jurus yang benar-benar mematikan!

Dewa Pedang adalah seorang tokoh silat berjiwa kesatria dan memegang teguh adat serta aturan persilatan. Meski hatinya sendiri panas serta geram bukan main melihat kematian puteranya namun perasaannya itu bisa ditekannya sehingga dia tidak menjadi kalap seperti tiga orang lainnya itu. Dewa Pedang berdiri dari kursinya. Tangan kiri menekan ujung gagang pedang yang tergantung di sisi kirinya.

"Suwita, Indra, Braja! Kalian bertiga mundurlah!" perintah Dewa Pedang. Suaranya keras dan penuh wibawa.

Namun kali ini agaknya kewibawaan itu tidak mempengaruhi diri ketiga orang yang tengah menyerang ganas Si Cawat Gila. Bahkan lndrajaya menyahuti:

"Ayah, jangan banyak bicara tak karuan! Bangsat tua ini membunuh adikku! Apa aku sebagai kakaknya akan lepas tangan begitu saja?!"

"Kataku kalian mundur!" teriak Dewa Pedang lebih keras dari tadi.

"Kanda.. .." kata Suwita. Tapi ucapannya itu dipotong oleh Dewa Pedang:

"Walau bagaimanapun kita harus pegang teguh aturan persilatan! Mundurlah!" Dengan hati gemas penuh dendam membara namun dibentak dan diperintah sampai tiga kali begitu rupa, Suwita dan anak-anaknya akhirnya keluar juga dari kalangan pertempuran. Si Cawat Gila kelihatan berdiri di tengah-tengah panggung sambil tertawa-tawa.

"Bagus kau perintahkan demikian Dewa Pedang. Seperempat jurus saja terlambat, ketiganya sudah jadi bangkai!"

"Cawat Gila, antara kita tiada permusuhan! Karenanya aku tak melihat adanya alasan mengapa sampai kau membunuh puteraku!" Si Cawat Gila hentikan tertawanya. Matanya yang sipit dibesarkan sedikit, dikedip-kedipkannya lalu tertawa lagi mengakak!

"Kau katakan tak ada permusuhan? Huh ... apa otakmu sudah sinting?! Kau bilang tak ada alasan, huh! Apa kau sudah lupa apa yang kau lakukan sekitar satu minggu yang lalu di Kertoragen?! Sialan betul! Kau telah membunuh, menebas batang leher Si Kuku lblis! Itu kepalanya kubawa sebagai bukti!" Terkejutlah Dewa Pedang. Matanya melirik pada kepala manusia yang terhampar di lantai punggung dekat kakinya.

Selewat satu minggu yang lalu Dewa Pedang memang pernah membunuh seorang kepala rampok yang berjulukan Si Kuku Iblis. Hal ini terjadi di satu rimba belantara yaitu ketika Si Kuku lblis dan lima anak buahnya hendak merampok sebuah kereta barang yang lewat dalam hutan!

Sewaktu kepala itu tadi dilemparkan oleh Si Cawat Gila di hadapannya memang dia rasa-rasa kenal dengan paras itu, namun karena keadaannya yang sangat rusak serta berselimutan darah maka sukar lagi Dewa Pedang untuk mengenali siapa adanya kepala manusia itu!

Mendengar ucapan Si Cawat Gila, Dewa Pedang segera maklum bahwa antara Si Kuku lblis dengan si Cawat Gila pasti ada hubungan apa-apa. Maka menjawablah Ketua Partai Telagra Wangi itu

"Apa yang dikerjakan oleh Si Kuku lblis yaitu kejahatannya yang telah membunuhnya, Cawat Gila. Bukan aku! Setiap manusia macam dia akan menerima ganjaran seperti itu!"

"He ... he ... he! Kau pandai bicara! Tapi apakah kau sudah tahu jalan ke neraka?! Kalau belum aku Si Cawat Gila akan tunjukkan jalannya!" Manusia sakti kurus kering itu maju dua iangkah. Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi ke atas!

"Terima jurus kematianmu ini, Dewa Pedang! He ... he...!"

"Cawat Gila!" seru Dewa Pedang sambil alirkan tenaga dalamnya ke tangan kanan.

"Apa hubunganmu dengan Si Kuku Iblis?!"

"Oh, kau tanya itu?! Tak susah untuk menjawabnya, Si Kuku lblis adalah adikku! Sekarang kau tahu bagaimana aku inginkan kau punya nyawa, bahkan nyawa keluarga serta anggota-anggota Partaimu!" Dewa Pedang bahkan hampir semua dari tamu yana hadir barulah hari itu mengetahui bahwa Si Kuku Iblis adalah adik Si Cawat Gila.

"Cawat Gila," kata Dewa pedang,

"Siapa pun adanya Si Kuku lblis itu bukan soal! Yang penting ialah bahwa dia telah melakukan kejahatan. Dan kebenaran tidak sudi melihat dia malang melintang menyebar kejahatan itu ...."

"Ah di sini bukan tempat dan waktunya untuk bicara bahasa tinggi begitu rupa! Bicaralah nanti pada setan-setan neraka ... !" Sudut mata Si Cawat Gila menangkap seseorang melangkah ke arah di mana dia berdiri berhadap-hadapan dengan Dewa Pedang. Ketika dia menoleh sedikit ke

samping ternyata orang ini adalah Resi Godapati atau Tiga Tombak Emas Trisula yang sejak tadi masih berdiri di atas panggung itu! Suasana hening menegangkan.

"Cawat Gila, dengan memperhatikan sedikit suasana serta tempat di mana kita berada, serta memandang muka para tokoh-tokoh persilatan yang hadir di sini, kuharap kau jangan meneruskan maksud-maksud yang terkandung di hatimu...!"

"Eh, kunyuk jubah ungu! Apakah kau bicara mengigau atau memang otakmu sudah miring...?!" tukas Si Cawat Gila. Diajak bicara baik-baik tapi dijawab sedemikian rupa maka panaslah hati Resi Godapati.

"Otakku mungkin sudah miring, tapi belum lagi semiringmu!" jawabnya.

"Hem .... Ini lagi contohnya manusia yang tidak tahu tingginya gunung dalamnya laut. Kalau sudah bosan hidup bilang saja, biar lekas-lekas kukirim roh busukmu ke neraka!"

"Bicaramu terlalu besar, Cawat Gila!"

"Nyalimu juga keliwat besar Godapati!"

"Kau masih belum punya enam kepala selusin tangan, Cawat Gila...!"

"Oh ... apakah kau punya nyawa rangkap?!" menukasi Si Cawat Gila.

"Aku memang tak punya nyawa rangkap. Tapi untuk menghadapimu, sampai seribu jurus pun akan kujalani!"

"Bagus sekali! Tapi biar kutanya dulu, apakah dalam hal ini kau membela Dewa Pedang?"

"Aku tak membela siapa-siapa!"

"Lantas kenapa jual mulut?! Jangan coba menunjukkan kebesaran budi serta kebaikanmu dimuka orang banyak! Semua orang tahu, perkumpulan yang bagaimana adanya perkumpulan yang kau dirikan di

Pulau Wuwutan! Semua orang di sini tahu bahwa kau adalah resi sesat bau tengik yang melakukan apa saja asal disumpal pantatnya dengan uang dan mulutnya dengan harta!" Habis berkata begitu Si Cawat Gila tertawa terkekeh-kekeh.

"Tak ada jalan lain," kata Resi Godapati sambil mengeluarkan senjatanya yaitu tombak berkepala tiga yang terbuat dari emas.

"Rupanya kau betul-betul ingin cepat-cepat menghadap hantu neraka.... !" Si Cawat Gila tertawa bergelak. Tiba-tiba dia melengking nyaring. Kedua tangannya dipukulkan ke muka. Angin laksana topan menggebubu! Resi Godapati melompat enam tombak dan ayunkan tombak kepala tiganya ke arah lawan lalu susul dengan tendangan kaki kiri kanan.

Hebatnya sebelum tombak dan dua tendangan mencapai sasaran yang diarah, tahu-tahu ketiga serangan tersebut sudah berubah arah ke bagian tubuh yang lain dari Si Cawat Gila! Geram dan kaget juga Si Cawat Gila melihat serangan lawan ini. Tubuhnya yang kurus kering itu berkelebat ganas, kedua tangan sambar menyambar menimbulkan angin deras.

Di lain pihak Resi Godapati tiada henti mengirimkan serangan tombak

emasnya yang sekaligus juga merupakan senjata pembenteng tubuhnya!

Setelah lima jurus berlalu dan dia masih belum dapat membuat suatu apa terhadap lawannya maka marahlah Si Cawat Gila.

"Manusia sontoloyo! Terima ini!" bentak Cawat Gila Tubuhnya lenyap. Dua tangan dan dua kakinya bergerak tak kelihatan.

Kemudian terdengarlah jeritan Resi Godapati. Tombak emasnya kelihatan mental ke udara sedang tubuhnya sendiri terlempar ke bawah panggung. Resi ini coba duduk bersila untuk mengalirkan tenaga dalam dan mengobati luka hebatnya. Namun tulang dadanya sudah hancur. iga-iganya

telah patah. Hanya sesaat tubuhnya duduk bersila, sesudah itu Godapati rebah ke tanah tanpa nyawa! Semua yang hadir sama terkatup mulutnya.

Suasana sehening di pekuburan. Si Cawat Gila tertawa membahak. Kemudian diputarnya tubuhnya menghadapi Dewa Pedang yang berdiri sembilan tombak di depannya. Dia menyeringai dan berkata:

"Kematianmu lebih buruk dari Resi keparat itu, Dewa Pedang!" Perkataannya itu langsung saja ditutup dengan satu serangan dahsyat! Ta-ngan kanan mencengkeram ke muka sedang tendangan kaki kiri menyeruak ke bawah selangkangan!

Dewa Pedang yang memang sudah hampir hilang kesabarannya serta dendam terhadap kematian puteranya kini tidak tinggal diam. Tubuhnya merunduk, kedua tangan dipukulkan ke muka. Inilah satu pukulan jarak jauh yang hebat yang hendak dilepaskan nya!

Ketika kedua tangan Dewa Pedang kelihatan bergerak ke muka maka Si Cawat Gila merasakan tubuhnya yang melesat di udara itu menerima tekanan yang hebat! Tubuhnya terhuyung-huyung dan serangannya buyar. Kaget sekali dia jadinya. Tak salah kalau adiknya Si Kuku lblis menemui ajal di tangan Ketua Partai Telaga Wangi yang nyatanya memiliki ilmu pukulan tangan kosong demikian lihainya!

Didahului dengan bentakan menggeledek maka kelihatanlah tubuh Si Cawat Gila menukik ke bawah laksana seorang perenang yang tengah menyelam dan tahu-tahu kedua tinjunya sudah menjotos ke perut dan dada Dewa Pedang! Dewa Pedang dengan beringas sambuti tinju lawan dengan tinju pula.

"Bukk!"

"Bukk!"

Dua tinju yang mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi sama-sama beradu dan mengeluarkan suara keras. Akibatnya juga hebat. Tubuh Dewa Pedang terbanting ke belakang! Kalau saja ilmu meringankan tubuhnya tidak sempurna pastilah dia akan terus jatuh duduk atau terjerongkang di lantai panggung.

Sebaliknya Si Cawat Gila sendiri kelihatan terpelanting ke belakang sampai satu tombak! Untuk kedua kalinya tokoh silat berotak miring ini jadi terkejut.

Yang sudah-sudah bila seorang lawan berani menyambuti dua jotos-annya. kalau tidak hancur kedua tangannya pasti akan-terluka tubuhnya di sebelah dalam. Tapi di saat itu dilihatnya Dewa Pedang masih berdiri dan dalam keadaan segar bugar. Hanya kedua tangannya saja yang kelihatan kemerah-merahan!. Mulut Si Cawat Gila berkemak kemik.

"Rupanya kau memang ada isi juga huh...!" ujarnya menyeringai buas. Kedua tangannya saling digosok-gosok satu sama lain. Dan sesaat kemudian kedua tangan itu terkepal membentuk tinju dan berwarna biru!,

Dewa Pedang maklum kalau lawan hendak mengeluarkan ilmu pukulannya yang dahsyat Karenanya segera dia bersiap-siap! Para penonton keseluruhannya menahan nafas melihat pertempuran yang bukan main hebatnya ini.

Cawat Gila mengangkat kedua tangannya keatas, sejajar dan sama tingginya dengan kepalanya yang bermuka cekung itu. Tampangnya kelihat-an semakin angker.

"Selama aku memiliki llmu Pukulan Siluman Biru tak satu manusia pun yang sanggup menahannya! Telah dua ratus empat puluh tokoh-tokoh silat yang mampus di tanganku, kau adalah korban yang ke dua ratus empat puluh, Dewa Pedang!" Mendengar nama pukulan yang bakal dilancarkan

oleh lawannya maka Dewa Pedang lipat gandakan tenaga dalamnya. Dan disaat itulah Si Cawat Gila dengan suara tertawa melengking-lengking menyerbu ke muka! Dua larik sinar biru melesat dan menukik ke bawah ke arah kepala Dewa Pedang.

Ketua Partai Telaga Wangi ini cepat berkelit dan balas mengirimkan sodokan siku ke arah tulang iga lawan namun dengan lipatkan lututnya Si Cawat Gila berhasil membuyarkan sodokan siku Dewa Pedang sedang kedua tinjunya kiri dan kanan masih terus menderu deras ke batok kepala Dewa Pedang!

Dewa Pedang ragu-ragu untuk menangkis pukulan lawan, karenanya dengan cepat membuang diri ke samping. Dua pukulan Si Cawat Gila lewat menderu di sisinya.

"Braaak ... braak!"

Lantai panggung yang terbuat dari papan tebal patah dan pecah kena dihantam angin Pukulan Siluman Biru yang dilancarkan oleh Si Cawat Gila Semua orang meleletkan lidah. Dapatlah dibayangkan bagaimana hebatnya ilmu pukulan itu. Dewa Pedang sendiri terkejutnya bukan main.

Dua tokoh silat yang duduk di antara jejeran para tamu saling berbisik.

"Naga-naganya Ketua Partai Telaga Wangi tak bakal sanggup menghadapi lawannya sampai dua puluh jurus ...."

"Sukar di jajaki memang tingginya ilmu Si Cawat Gila! Tapi Dewa Pedang sendiri agaknya belum mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya. Meski umur muda tapi jangan terlalu memandang remeh Dewa Pedang ...." balas membisik tokoh silat lainnya.

Pada saat itu di atas panggung terjadi pertempuran sangat seru antara Si Cawat Gila dan Dewa Pedang. Sinar biru dan sinar putih gulung

bergulung. Agaknya Dewa Pedang pun sudah mengeluarkan ilmu pukulan yang diandalkannya!

Di saat pertempuran berjalan seru-serunya itu, di saat semua mata hampir tak berkedip memandang ke atas panggung maka terdengarlah pekikan-pekikan dahsyat itu. Dan didetik itu pula mata semuanya menangkap bayangan empat sosok tubuh manusia!

"Hentikan pertempuran!" membentak salah seorang dari keempat pendatang itu. Suaranya menggetarkan lembah! Menyirapkan dada setiap yang hadir! Kemudian kelihatanlah empat sosok tubuh gadis berbadan ramping bagus berdiri di atas panggung.

Ketika diperhatikan parasnya maka gemparlah suasana mereka yang hadir! Bagaimana tidak! Keempat gadis berbadan langsing bagus dan berkulit kuning mulus itu memiliki paras-paras yang mengerikan. Paras tengkorak!* * * Dewa Pedang dan Si Cawat Gila juga dibuat terkeiut oleh suara pekikan serta suara membentak memerintah yang menggetarkan lembah itu. Keduanya sama-sama bersurut mundur dan memandang ke samping kanan! Ternyata empat gadis bermuka Tengkorak berdiri di atas panggung. Paras yang menggidikkan itu jelas membayangkan maut.

"Setan kesasar! Apa urusanmu, apa pangkatmu menyuruh kami menghentikan pertempuran, huh?!" kertak Si Cawat Gila pada gadis muka tengkorak yang berdiri paling muka dan berpakaian merah ringkas.

"Monyet ceking kerempeng! Mulutmu terlalu murah menghina! Nyawamu tak aku lepaskan ... !" Dan ucapan si muka tengkorak baju merah terpotong oleh suara tertawa membahak dari Si Cawat Gila.

"Berani menghina berani mampus!" katanya.

"Hem. .. rupanya kau.juga kelewat tekebur, monyet ceking!" Si Cawat Gila tertawa lagi gelak-gelak.

"Jika saja kau tahu berhadapan dengan siapa saat ini, pastilah kau akan lari terbirit-birit!"

"Kentut!" maki si pakaian merah marah sekali. Tangan kirinya bergerak mengebutkan lengan bajunya.

"WUTTT!"

Angin laksana badai menggebu ke arah Si Cawat Gila. Mula-mula Si Cawat Gila menganggap enteng dan tertawa-tawa saja menerima pukulan itu. Dengan acuh tak acuh dilambaikannya tangan kirinya untuk melebur

serangan lawan. Namun alangkah terkejutnya dia! Lambaian tangannya tak sanggup memusnahkan serangan lawan. Sebaliknya sambaran angin lawan itu membuat tubuhnya tergontai-gontai! Dan jika detik itu dia tidak cepat-cepat melompat ke samping, pastilah tubuhnya akan mencelat ke luar panggung!

Si Cawat Gila keluarkan keringat dingin. Parasnya mengkerut. Tenaga dalam si muka tengkorak hebatnya bukan main, pikir laki-laki tua kerempeng itu.

"Muka tengkorak, kau siapakah?!" tanya Si Cawat Gila dengan membentak garang. Yang ditanya tertawa mengekeh:

"Kami adalah iblis-iblis pencabut sukmat! Kau dengar itu ... ?! Sekarang terimalah kematianmu!"

"Manusia buruk hina dina! Jangan mimpi di siang bolong!" tukas Si Cawat Gila. Kedua tangannya digosok-gosok dan dengan serta merta menjadi biru!

"lblis betina, in! makan pencarianmu!" teriaknya. Si Cawat Gila lancarkan Pukulan Siluman Biru yang dahsyat!

Gadis berpakaian merah memekik nyaring. Tubuhnya melompat enam tombak dan ketika menukik lagi maka dari tangan kanannya melesat selarik sinar hijau yang disusul dengan menyambarnya tiga ekor binatang kala hijau! .

"Kala Hijau!" seru Si Cawat Gila terkejut. Hatinya tergetar. Dewa Pedang dan seluruh manusia yang hadir di situ juga kaget bukan main. Beberapa tokoh silat yang menyadari bahwa ilmu kepandaiannya masih belum sempurna menjadi pucat paras mereka. Sejak dua bulan belakangan ini "Kala Hijau" telah muncul di dunia persilatan! Kini muncul di hadapan mereka tentu saja semuanya menjadi cemas serta tegang.

Cawat Gila memukul ke muka. Sinar biru Pukulan Siluman Biru menderu. Tapi sudah kasib tiada guna. Salah seekor dari kala hijau telah lebih dahulu menancap dan amblas ke dalam kepalanya. Menyusul kedua dan ketiga! Cawat Gila memekik penuh keseraman. Sebelum tubuhnya rebah Cawat Gila masih berusaha melancarkan serangan "Cengkeraman Naga Atas Langit". Tapi percuma. Tubuhnya terbanting ke lantai panggung, kelojotan seketika :alu diam kaku tak bergerak lagi!

Seruan terkejut dan kegemparan sepe.rti mau merobohkan langit di atas lembah sekitar telaga itu! Namun suasana segera menghening ketika si muka tengkorak pakaian merah membentak buas:

"Manusia-manusia hina dina! Diam semua!" Meskipun semua yang hadir berdiam diri dan menahan nafas melihat munculnya empat gadis muka tengkorak, namun banyak di antara tokoh-tokoh silat yang punya nama besar merasa sangat direndahkan dan dihina.

Apalagi mereka dari golongan putih yang memang sudah tak bersenang hati mendengar kemunculan dan kekejaman yang dilakukan oleh keempat manusia itu sejak dua bulan belakangan ini!

Salah seorang dari mereka ialah Brahmana Wingajara yang bergelar "Sepasang Tangan Putih", seorang tokoh silat yang memiliki lengan dan tangan berwarna putih sekali dan justru pada kedua tangan yang putih inilah terletak kehebatannya. Tanpa menunggu lebih lama sang Brahmana melompat ke atas panggung.

"Babi botak gendut!" bentak si muka tengkorak berpakaian merah. Wingajara memang berbadan gemuk buncit, berkepala botak dgn pendek kontet. Apakah kau juga ingin cepat-cepat mampus berani naik ke atas panggung ini?!" Brahmana Wingajara tertawa tawar. Jawabnya.

" Panggung ini bukan kau yang bikin, bukan pula milikmu! Tuan rumah sendiri tidak melarang aku naik ke sini, manusia muka setan!" Sebenarnya sebagai Brahmana, Wingajara jarang dan hampir tak pernah memaki orang atau bicara kasar. Tapi saat itu, karena dihina demikian rupa, apalagi di hadapan puluhan tokoh-tokoh silat, kalaplah Brahmana Wingajara sehingga terlepas semprotannya!

Si pakaian merah tertawa mengikik. "Lantas apa maumu datang ke sini?!"

Brahmana Wingajara tak menjawab melainkan berpaling pada para hadirin dan berkata: "Saudara-saudara sekalian, dari apa yang pernah kalian dengar sejak dua bulan belakangan ini! Dari apa yang kita semua saksikan pada hari ini, maka sudah dapat kita bayangkan bersama apa yang bakal menimpa dunia persilatan di masa mendatang, terutama bagi kita golongan putih jika gadis-gadis muka tengkorak setan dajal berhati iblis ini dibiarkan hidup lebih lama ...."

"Tutup mulutmu Brahma tahi kucing! Terima ini!" Si muka tengkorak berpakaian merah menendang ke muka. Angin tendangan ini bukan main dahsyatnya. Sambil berkelit Wingajara pukulkan kedua tangannya ke muka. Asap putih panas menderu menyambar si baju merah! Gadis muka tengkorak ini tersurut mundur lalu dari samping lancarkan serangan ganas! Sinar hijau menderu, tiga kala hijau melesat dan terdengarlah jerit kematian Brahmana Wingajara. Dua dari kala hijau menancap di keningnya Yang ketiga amblas masuk ke dalam mata sebelah kiri!

Sekali lagi suasana diselimuti kengerian dan kegemparan. Dan sekali lagi si merah membentak garang: "Manusia-manusia keparat, diam semua!"

Para hadirin terpaku kecut di kursi masing-masing. Melihat naga-naga yang kurang baik rni beberapa di antara mereka berdiri dari kursi. Cepat-cepat muka tengkorak pakaian merah berseru

"Tak satu orang pun diizinkan meninggalkan tempat ini! Siapa yang berani melakukannya berarti mampus!" Menyaksikan pembunuhan yang bertentangan dengan hati nurani serta jiwa satrianya ditambah lagi dendam kesumatnya terhadap Si Cawat Gila belum lenyap meski manusia itu sudah menjadi bangkai kini, maka Ketua Partai Telaga Wangi maju selangkah ke arah si muka tengkorak.

"Telah dua bulan kudengar kehebatan nama kalian dalam kejahatan dunia persilatan. Sebagai orang-orang dunia persilatan aku menghormati kalian, tapi sebagai golongan hitam jahat yang berhati iblis, aku tidak sudi melihat kalian! Karena itu aku harap segera meninggalkan tempat ini! Aku tak ingin melihat kejahatan dan pembunuhan lebih banyak!"

Si baju merah berpaling pada tiga kawan-kawannya. Keempatnya kemudian tertawa gelak-gelak.

"Ketua Partai Telaga Wangi, kau tak ingin melihat pembunuhan lebih banyak katamu. ..? Tapi apa kau tahu bahwa kau juga bakai mampus di tangan kami, kecuali ...."

"Kecuali apa ... ?!" potong Dewa Pedang.

"Kecuali jika kau dan seluruh anggota Partaimu mau berlutut dan masuk ke dalam Partai yang bakal kami dirikan yaitu Partai Lembah Tengkorak!" Dewa pedang mendengus dan menjawab:

"Manusia-manusia macam aku sampai mati sekali pun tiada sudi berlutut terhadap kalian! Apalagi masuk Partai durjana kalian! Kalau mau cari anggota Partai, carilah ke liang neraka! Di sana pasti banyak manusia-manusia bertampang macam kalian dan bersedia masuk Partai kalian!"

Keempat gadis muka tengkorak itu tertawa gelak-gelak.

"Ketua Partai Telaga Wangi," kata muka tengkorak yang berpakaian hitam,

"Kau andalkan apakah berani bicara demikian?!"

"Mungkin dia punya nyawa rangkap!" kata yang berbaju biru.

"Betul, satu nyawa manusia, satu lagi nyawa anjing!" menimpali si baju merah. Dan keempat manusia itu kemudian tertawa lagi gelak-gelak! Dihina demikian, Dewa Pedang masih bisa menahan luapan amarahnya. Namun tidak demikian dengan isterinya.

"Perempuan setan! Bicaramu terlalu menghina dan terlalu tekabur! Jaga kepalamu!" Satu sambaran pedang menderu di muka hidung si baju merah, membuat gadis muka tengkorak ini terkejut dan tersusur lima tindak!

"Akh perempuan cantik ... kau tentu isteri Ketua Partai Telaga Wangi." kata si muka tengkorak baju merah.

"Terhadapku tak usah bersikap garang! Bagusnya ajak lakimu dan anggota-anggota Partai untuk masuk ke dalam Partai kami dan kalian semua

pasti selamat dari kematian"

"Batang lehermu yang harus diselamatkan lebih dahulu, perempuan durjana!" teriak Suwita. Pedang peraknya menyambar ganas ke arah si baju merah. Yang diserang menyambuti dengan suara tertawa mengikik.

"Perempuan tak tahu diri!" maki si baju merah seraya mengelak ke samping dan berseru pada kawannya:

"Kala Biru cepat selesaikan perempuan tolol ini!" Gadis muka tengkorak yang berpakaian biru melompat ke muka menghadang Suwita. Namun dari belakang isteri Dewa Pedang melompat pula seseorang menghadapi Kala Biru. Orang ini bukan lain daripada lndrajaya putera tertua Dewa Pedang!

"Aku lawanmu, gadis muka setan hati iblis!" bentak Indrajaya. Bola mata Kala Biru berputar dan berkilat melihat kegagahan paras pemuda yang berdiri di hadapannya. Diam-diam hatinya tertarik. Kala Merah yaitu gadis muka tengkorak yang berpakaian merah, mengetahui hal ini dan cepat membentak.

"Kala Biru, lekas laksanakan apa yang aku bilang! Pemuda itu harus mampus dalam satu jurus!" Dalam malang melintang di dunia persilatan guna mencapai rencana yang ditugaskan gurunya yaitu hendak mendirikan Partai Lembah Tengkorak maka Kala Merah yang memang lebih tinggi setingkat ilmunya dari tiga kawan-kawannya yang lain, bertindak sebagai pimpinan. Kala Biru mengeluh dalam hati.

Hatinya iba juga melihat pemuda segagah lndrajaya harus menemui kematian di tangannya. Tapi bila dia ingat bentakan Kala Merah serta ingat pesan orang yang tidak sudi memasuki Partainya atau coba membangkang, maka rasa iba itu dengan serta merta menjadi lenyap.

Dengan memekik keras Kala Biru menyerang Indrajaya. Si pemuda kiblatkan pedangnya menyambuti serangan itu. Tapi Kala Biru bukanlah tandingan Indrajaya. Sebelumnya sudah disaksikan oleh semua mata bagaimana Kala Merah yang ilmunya satu tingkat saja lebih tinggi berhasil merubuhkan Si Cawat Gila serta Brahmana Wingajara dalam satu jurus maka dapatlah diramalkan bahwa lndrajaya betul-betul akan menemui ajalnya dalam satu jurus pula!

Demikianlah, meski dalam setengah jurus pertama itu Indrajaya dapat mengurung serta menekan lawan dengan permainan pedangnya yang cepat dan sebat, namun ketika Kala Biru mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke atas dan memukulkannya ke depan, ketika kala-kala hijau menghambur ke arah kepala pemuda itu, maka lndrajaya menjadi gugup.

Dalam kegugupannya ini dicobanya merambas tiga ekor kalajengking yang menyerangnya dengan tebasan pedang, namun terlambat sudah! Dua ekor kala hijau menancap di keningnya. Yang ketiga di pipi kiri! lndrajaya meraung keras. Tubuhnya rebah ke lantai papan. Sebelum meregang, nyawanya pemuda ini masih sanggup melemparkan pedang ke arah Kala Biru tapi dengan satu lambaian tangan kiri saja maka pedang itupun mental!

Dendam kesumat yang bergejolak serta amarah murka yang membakar hati akibat kematian puteranya Jayengrana belum lagi putus, kini puteranya yang tertua menemui ajalnya pula dengan cara yang mengenaskan begitu rupa maka kalaplah Dewa Pedang.

"Sreeet!"

Ketua Partai Telaga Wangi itu mencabut pedangnya. Sinar putih pedang bertabur menyilaukan mata.

"Jangan harap kau bisa meninggalkan tempat ini hidup-hidup, Kala Biru!" bentak Dewa Pedang. Di belakang Dewa Pedang, Suwita, Bradjasastra dan Pengurus Partai Klabangsongo melompat ke muka, tanpa banyak cerita mereka segera menerjang tiga gadis muka tengkorak lainnya yaitu Kala Merah, Kala Putih dan Kala Hitam. Maka terjadilah pertempuran yang seru di atas panggung. Namun keseruan itu tidak berjalan lama. Segera

digantikan dengan kengerian! Tiga larik sinar hijau melesat maka terdengarlah jeritan maut Suwita, Indrajaya serta Brajasastra! Ketiga orang ini terkapar di lantai panggung. Masing-masing kepala mereka ditancapi kala hijau beracun!

Dewa Pedang yang saat itu dengan ilmu pedang serta jurus-jurus yang lihai mematikan dan tengah mendesak hebat Kala Biru dalam permulaan jurus kedua, melihat kematian isteri serta putera bungsu yang paling disayanginya menjadi kalap luar biasa! Kekalapan ini membuat dia lupa diri

dan mengamuk membabi buta. Pedangnya berkiblat ganas kian kemari tapi tanpa perhitungan sama sekali!

Ketika taburan sinar hijau dan tiga ekor kelabang hijau beracun menderu ke arahnya, hanya satu saja dari binatang elmaut itu yang sanggup

dielakkannya. Dua ekor lainnya menyambar dan menancap di kepalanya!

Ketua Partai Telaga Wangi terhuyung-huyung. Matanya mendelik menahan sakit yang luar biasa. Tiba-tiba dia meraung dan menyerbu ke muka! Pedangnya berkelebat! Serangannya yang tiba-tiba sungguh tidak diduga oleh Kala Biru. Gadis muka tengkorak ini melompat dengan cepat namun tak urung bajunya kena juga tersambar sehingga robek!

"Setan alas!" rutuk Kala Biru. Pada saat tubuh Dewa Pedang meliuk dalam meregang nyawa, Kala Siru hantamkan tendangannya ke perut Dewa Pedang. Tak ampun lagi Ketua Partai yang belum lagi satu hari didirikan itu mencelat mental, masuk ke dalam telaga!

Pengurus Partai Telaga Wangi daerah Utara berseru memerintah pada dua orang anggota Partai:

"Lekas ambil jenazah Ketua dan selamatkan ke hutan!" Dua anggota Partai segera hendak melompat ke dalam telaga tapi terhalang oleh bentakan Kala Merah: "Siapa yang berani bergerak akan mampus!"

Pengurus Partai tadi yaitu Jambakrogo melompat ke hadapan Kala Merah. "Kekejamanmu melewati takaran manusia iblis! Kupasrahkan selembar nyawaku untuk mencincang kau ... !" Habis berkata begitu Jambakrogo lancarkan serangan pedang, dua tendangan serta satu jotosan! Kehebatan se-

rangan ini tak bisa dianggap remeh! Namun justru Kala Merah tidak pandang sebelah mata. Sekali tangan kanannya bergerak, sekali larikan sinar hijau melesat maka terdengarlah jeritan Jambakrogo, nyawanya putus!

Tiga pengurus Partai yaitu yang tadi sudah sama-sama kena terpukul pingsan oleh Si Cawat Gila dan Nenek Kelewang Merah dan saat itu masih berada dalam keadaan terluka tiada ambil perduli lagi keadaan diri masing-masing. Ketiganya menyerbu ke muka.

Klabangsongo berseru: "Seluruh anggota Partai lekas bentuk barisan -telaga maut!" Mendengar ini anggota Partai Telaga Wangi yang memang sudah sejak tadi menahan kegeramannya dan ingin lekas-lekas turun tangan, segera bergerak membentuk barisan yang dinamakan Telaga Maut. Barisan ini berbentuk lingkaran dan terdiri dari lima lapis. Karena Partai Telaga Wangi belum lagi dikenal maka semua yang hadir di situ tak mengetahui sampai di mana kehebatan barisan "Telaga Maut" itu!

Di samping itu sebagian besar dari para tamu tidak lagi memperdulikan apa yang terjadi dan bakal terjadi di atas panggung. Dalam kekacaubalauan di atas panggung itu mereka mencari kesempatan untuk meninggalkan tempat itu. Namun begitu mereka berdiri dan bergerak, terdengarlah bentakan Kala Hitam.

"Berani meninggalkan tempat ini, berani mampus!" Orang-orang yang hendak berlalu itu tertegun seketika. Tapi sekelompok di antaranya tiba-tiba

berhamburan dan kabur. Kala Hitam dan Kala Merah yang berada di ujung panggung dan paling dekat dengan orang-orang itu membentak nyaring.

"Mampuslah!" teriak mereka. Dua gelombang sinar hijau menyambar. Maka terdengarlah pekik-pekik maut. Keseluruhan kelompok hendak melarikan diri itu terkapar di tanah, tak satu pun yang hidup! Yang menyaksikan berdiri dengan lutut gontai!

"Siapa yang mau kabur lagi, silahkan!" berseru Kala Merah. Tak ada yang berani bergerak. Namun ini bukan berarti bahwa semua tamu yang hadir itu merasa jerih terhadap Kala Merah dan kawan-kawannya.

Beberapa tokoh sengaja, menahan kegeraman mereka sampai saat di mana mereka merasa tepat untuk maju!

Tiba-tiba di atas panggung terdengar teriakan-teriakan keras! Ternyata barisan "Telaga Maut" sudah mulai bergerak. Lingkaran sinar putih kelihatan bergulung-gulung mengurung keempat gadis bermuka tengkorak itu dengan sangat dahsyatnya!

Keempatnya mula-mula sama menganggap remeh barisan itu. Sekali mereka menggerakkan tangan maka mampuslah semua pengurung itu, pikir

mereka. Namun ketika mereka terdesak hebat dan hendak melancarkan serangan "Kala Hijau" segera mereka ketahui bahwa dikurung demikian rupa, tak mungkin bagi mereka untuk mengangkat tangan tinggi-tinggi dan menghantamkannya ke muka!

Keempatnya kaget dan hanya ketinggian ilmu mengentengi tubuh mereka sajalah yang dapat menyelamatkan mereka dari arus pedang yang dahsyat laksana gelombang melanda karang itu! Meskipun dapat bertahan namun lama-lama keempatnya merasa khawatir juga. Keempatnya diam- diam mencari siasat dan begitu mereka berhasil mengetahui kelemahan barisan "Telaga Maut" itu maka dengan cepat keempatnya melancarkan serangan terpusat pada dua orang anggota barisan!

Dua pekikan terdengar merobek langit. Dua sosok tubuh anggota barisan "Telaga Maut" mencelat ke udara, jatuh di tanah tanpa nyawa. Dengan demikian maka bobollah kehebatan barisan yang sangat diandalkan oleh Partai Telaga Wangi itu. Sekelompok demi sekelompok mereka terguling tanpa nyawa! Pada saat Kala Merah dan kawan-kawannya terkurung rapat oleh barisan "Telaga Maut" maka sebagian besar dari para tamu yang merasa tidak aman dan tak punya harapan bila melakukan perlawanan terhadap Kala Merah serta kawan-kawannya segera

meninggalkan tempat itu. Namun tokoh-tokoh utama lainnya tetap duduk di tempat mereka,

Terutama tokoh-tokoh silat kalangan putih yang bersahabat baik dengan Dewa Pedang almarhum. Kini di atas panggung kelihatan pemandangan yang betul-betul mengerikan. Puluhan tubuh manusia terkapar tanpa nyawa. Ada yang hancur kepalanya, ada yang robek perutnya atau melesak dadanya tapi yang paling banyak ialah yang mati akibat "Kala Hijau" beracun yang dilepas oleh keempat gadis bermuka tengkorak yang haus jiwa manusia itu!* * * Di atas panggung Partai Telaga Wangi yang kini Cuma tinggal nama saja Kala Merah berdiri bertolak pinggang menghadapi para hadirin yang kini hanya tinggal separoh saja lagi.

"Mana yang lain-lainnya?!" tanya Kala Merah membentak. Sepasang matanya membeliak. Tapi tak ada satu pun dari yang hadir yang mem-berikan jawaban. Kala Merah menyapu rnereka dengan Pandangannya yang tajam. Melihat kepada sikap Orang-orang itu dan melihat bagaimana mereka masih punya nyali untuk mendiamkan Pertanyaannya, Kala Merah maklum bahwa orang-orang itu tentulah tokoh-tokoh silat berkepandaian tinggi. Namun ini tidak mengejutkan hatinya. Malah sebaliknya Kala Merah menjadi gembira dapat berhadapan dengan tokoh-tokoh kawakan dunla persllatan itul

"Kerbau-kerbau dogol, apa kalian tidak Punya mulut?! Orang ber-tanya didiamkan saja? Atau mungkin tuli semua?!"

Mendadak terdengar suara tertawa rnengekeh dari panggung sebelah Barat. "Kala Merah, jika kau punya nyali, turunlah!"

Kala Merah dan kawan-kawannya tentu saja kaget sekali dan memandang ke jurusan Barat tapi tak dapat mengetahui siapa adanya orang yang bicara itu karena dia mempergunakan ilmu memindahkan suara!

"Keparat pengecut, berani menantang berani unjukkan diril" bentak Kala Merah penasaran.

Terdengar lagi suara tertawa mengekeh.

"aku akan unjukkan diri bila kau bersedia bertempur dengan membuka kedok tengkorakmu!"

Mata Kala Merah membeliak. Darahnya tersirap. Demikian juga dengan Kala Hitam. Kala Putih dan Kala Biru. Rupanya Manusia yang bersuara itu selain sakti juga mengetahui rahasia kedok tipis yang mereka pakai! Karena geramnya Kala Merah hantamkan pukulan "Kala Hijau" ke bagian panggung sebelah Barat itu! Jerit kematian terdengar di bagian situ! Enam tokoh silat golongan putih dan dua golongan hitam roboh terjerongkang dari kursi masing-masing.

Jika belum juga unjukkan diri, semua yang ada di sini akan kubikin minggat ke akhiratl" ancam Kala Merah.

"He... he ... enaknya kalau bicara!" terdengar jawaban Orang yang tak kelihatan dan tak diketahui di mana beradanya itu. "Kesaktianmu memang patut dikagumi perempuan-perempuan iblis Kejahatan mu melewati batas! Dunia persilatan akan bersatu menghancurkanmu! Sekalipun kalian punya sepuluh nyawa, kalian tak bakal dapat hidup lama!"

"Kentut!" bentak Kala Merah gusar sekali.

"Kalau aku kentut, kalian adalah tahinya!" terdengar Suara tertawa mengekeh. Kedua tinju Kala Merah dan kawan-kawannya sama terkepal erat, tapi kepada siapakah mereka akan turun tangan?

Tak sedikit pun mereka tahu dari mana sebenarnya datang suara itu dan siapa adanya orang yang bicara!

Kala Biru mendekati Kala Merah dan berbisik:

" Kakak Kala Merah tak usah perdulikan manusia keblinger itu. Sebaiknya kita mulai saja urusan dengan semua yang hadir di sini."

Kala Merah mengangguk. Dia berdiri di tepi Panggung sebelah muka dengan bertolak pinggang. Setelah menyapu paras semua yang hadir dengan

sepasang matanya yang tajam menyorot itu maka dia pun membuka mulut. Suaranya nyaring lantang dan mengumandang ke seluruh pelosok lembah.

"Semua Yang hadir, dengar baik-baik! Pada hari dua belas bulan dua belas yang akan datang di Lembah Tengkorak kami akan mendirikan Partai baru yang dinamakan Partai Lembah Tengkorak! Semua kalian yang ada di sini musti masuk menjadi anggota Partai! Siapa berani menolak berarti mati!"

Suasana sehening di pekuburan beberapa lamanya. Tiba-tiba terdengar lagi suara mengekeh tadi. "Perempuan iblis! Kalian kira kami ini semua domba-domba tolol yang mau digiring seenaknya saja?! Persetan dengan Partaimu! Siapa sudi masuk anggota Partaimu! Kalau mau cari anggota, pergilah naik ke puncak Gunung Merapi lalu buang dirimu ke dalam kawahnya! Mengerti...?! He ... he ... he....!"

Empat murid Dewi Kala Hijau itu kertakkan rahang masing-masing. Kegeraman mereka sudah tak bisa dikendalikan lagi Tapi kepada siapa mereka musti turun tangan?!

"Kakak Kala Merah, teruskan saja bicaramu. Nanti bangsat bermulut besar itu akan kita ketahui juga siapa adanya!" Lagi-lagi Kala Biru memberi nasihat pada saudara-saudara seperguruannya itu. Maka Kala Merah pun meneruskan ucapannya.

"Kalian sudah saksikan sendiri apa akibat bagi manusia-manusia yang tidak mau mematuhi kehendak kami! Karenanya kalian semua lekas naik ke atas panggung, berlutut dan bersumpah sedia memasuki Partai Lembah Tengkorak!"

Sampai setengah menit lamanya, tak satu pun daripada yang hadir melakukan apa yang diperintahkan itu. Maka marahlah Kala Merah.

"Kalau begitu kalian minta mampus semua!" bentak Kala Merah. Dia memberi isyarat pada ketiga saudara seperguruannya. Maka keempatnya kemudian serentak menaikkan tangan kanan tinggi-tinggi ke udara.

Tiba-tiba dari tengah-tengah bawah panggung berdirilah dua manusia berjubah putih. Melihat kepada tampang-tampang mereka nyatalah bahwa keduanya beradik kakak. Yang di sebelah kanan mengangkat tangannya.

"Kalian berdua mau apa?" tanya Kala Merah.

"Malang tak dapat dihindar, untung tak dapat diraih! Kami berdua hanya inginkan nyawamu dan nyawa tiga gadis-gadis iblis lainnya itu!" menjawab laki-laki berjubah putih yang mengangkat tangan tadi. Suaranya menggetarkan lembah tanda tenaga dalamnya tinggi sekali. Kala Merah kerenyitkan keningnya lalu tertawa gelak-gelak.

"Kalau kau tidak buta tentu otakmu miring! Apa masih belum melihat bangkai-bangkai yang berkaparan di tempat ini?!"

"Tentu:.. tentu saja kami lihat! Justru kami inginkan nyawa kalian adalah karena roh-roh busuk kalian tengah ditunggu-tunggu oleh roh sekian banyaknya manusia yang telah kalian binasakan ... !"

Meledaklah kemarahan Kala Merah. "Cepat katakan siapa kalian berdua supaya cepat pula kuberi jalan,kematian!"

Kedua orang berjubah putih itu tertawa dingin. Sementara itu Kala Merah sudah mengangkat kembali tangan kanannya tinggi-tinggi, sedang tokoh-tokoh silat yang lain bersiap-siap menunggu segala kemungkinan.

"Cepat terangkan nama kalian! Atau kalian akan mampus percuma!" membentak lagi Kala Merah. Kedua orang berjubah putih tiba-tiba sama menggerakkan tangan kanannya ke balik jubah. Sesaat kemudian keduanya telah memegang masing-masing sebuah rujung emas.

"Akh ... kiranya kalian adalah Sepasang Ruyung Emas Dari Banyuwangi! Nama besar kalian memang ada kudengar. Tapi hari ini kau tak bakal lagi dapat kembali ke Banyuwangi! Takdir sudah menentukan bahwa ajalmu lepas di sini!"

"Jangan kelewat tekebur, Kala Merah! Mungkin kepalamu yang akan kuhancurkan lebih dahulu dengan Ruyung ini!" kata Sepasang Ruyung Emas yang berdiri di sebelah kanan. Namanya Teggil Tantra. Rekannya yang berdiri di sebelah kiri bernama Situwara. Untuk daerah JawaTimur nama dan julukan sepasang pendekar golongan putih ini memang sudah tidak asing lagi!

Kala Merah bersuit keras. Tubuhnya melayang ke bawah panggung. "Kalian maju sendiri-sendiri atau berdua sekaligus?!" bentaknya begitu sampai di hadapan Sepasang Rujung Emas. Sepasang Eujung Emas memberikan jawaban dengan serhuan yang dahsyat. Tubuh mereka tak kelihatan bergerak tapi tahu-tahu dua sebetan ruyung yang memancarkan sinar kuning emas telah menyambar ke muka hidung Kala Merah! Gadis muka tengkorak ini sampai tersurut lima langkah ke belakang. Tapi sepasang Ruyung Emas di tangan Situwara dan Teggil Tantra berkelebat pula memburunya!

Dalam waktu yang singkat dua jurus telah dilancarkan oleh tokoh-tokoh silat Jawa Timur itu. Permainan silat serta jurus-jurus serangan Ruyung mereka merupakan ilmu yang aneh dan banyak sekali pecahan-pecahannya. Angin menderu, dan tubuh ketiga orang yang bertempur itu hanya merupakan bayang-bayang saja!

Jika saja Kala Merah mempunyai kesempatan untuk mempergunakan tangan kanannya mengeluarkan ilmu "Kala Hijau" yang sangat diandalkan, maka dalam satu jurus kedua jago silat itu mungkin sudah kojorl

Tapi setiap dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, maka setiap kali itu pula salah satu dari Ruyung menyambar ke arah tangannya sehingga sebelum maksudnya kesampaian, dia terpaksa tarik pulang kembali serangannya!

Jurus ketiga dan keempat Kala Merah dibikin sangat repot Memasuki jurus yang kelima tiba-tiba terdengarlah suitannyal Tubuhnya lenyap. Dua jurus dia bergerak cepat mengirimkan serangan-serangan kilat, namun hasilnya sia-sia belaka saja!

"Manusia-manusia keparat!" maki Kala Merah dalam hati. Sekali lagi dia memekik. Tubuhnya Ienyap lagi dan tahu-tahu sudah ke luar lima tombak dari kalangan pertempuran!

Situwara dan Teggil Tantra memburu tapi kali ini jarak mereka dengan sasaran terlalu jauh sehingga Kala Merah yang sengaja mencari kesempatan ini mempunyai peluang untuk melancarkan serangan "Kala Hijau".

Teggil Tantra yang berada agak ke muka membabat dengan Ruyung emasnya ketika melihat selarik sinar hijau menyambar ke arahnya! Seekor dari tiga kala hijau yang menyerangnya hancur lebur dihantam Ruyung emas.

Kala Hijau yang kedua berhasil dielakkannya. Tapi menghadapi

kala yang ketiga, tokoh silat ini menjadi gugup! Teggil Tantra menjerit! Ruyung emasnya terlepas dan kedua tangannya menutupi mukanya yang bermandikan darah akibat tancapan kala hijau pada kening antara kedua matanya! Begitu racun binatang maut itu masuk ke dalam darahnya maka tergelimpanglah dia! Nyawanya putus pada detik tubuhnya mencium tanah!

"Kakak Kala Merah awas!" terdengar seruan Kala Hitam.

"Sreeet!" Lengan pakaian Kala Merah robek tersambar Ruyung Emas Situwara yang saat itu menjadi kalap beringas melihat kematian saudara kandungnya.

Satu jurus dia menggempur hebat Kala Merah. Tapi pada ujung jurus itu nasibnya tiada beda dengan Teggil Tantra. Dua kala hijau menancap di mukanya, satu di tenggorokan! Maka tamatlah riwayat Sepasang Ruyung Emas Dari Banyuwangi!

Tokoh-tokoh silat golongan hitam yang menyadari bahwa ilmu kesaktian mereka masih berada di bawah kedua tokoh silat itu menjadi ngeri dan gelisah di kursi masing-masing. Tiba-tiba dua di antaranya melompat dan melarikan diri!

"Kurang ajar! Berani kabur ya?!" bentak Kala Hitam, Tangan kanannya bergerak! Sinar hijau melesat. Maka tergelimpanglah kedua tokoh golongan hitam itu!

"Siapa lagi yang mau coba-coba ambil langkah seribu, silahkan!" bentak Kala Hitam.

"Perempuan-perempuan iblis! Dosa kalian tidak berampun! Hadapi golok panjangku!" Mendadak terdengar satu bentakan. Suara bentakan itu belum lagi habis tahu-tahu telah berkilat sinar biru melanda Kala Merah!

"Edan betull Siapa lagi ini yang mau minta mampus"" hardik Kala Merah. Dipukulkannya tangan kirinya ke depan Serangkum angin deras menyambar penyerangnya, membuat yang menyerang itu tergontai-gontai seketika dan agak lamban gencaran goloknya!

Namun dengan robah ilmu goloknya dengan jurus-jurus aneh maka kembali si penyerang yang masih tak kelihatan jelas tampangnya karena cepat sekali gerakannya itu, dapat mendesak Kala Merah ke ujung panggung!

"Setan betul!" maki Kala Merah. Kedua tangannya terkembang ke muka. Jari-jari menekuk membentuk cengkeraman.* * * "Cengkeram Kala Hijau!" seru si penyerang lalu menabas dengan golok panjangnya. Kala Merah tertawa meringkik.

"Akh ... !"

Terdengarlah erangan si penyerang. Ketika dia melompat ke luar dari kalangan pertempuran maka baru bisa dikenali siapa dia adanya!

Manusia ini adalah tokoh silat dari Utara yang berjuluk "Si Golok Sakti". Mukanya kelihatan bergurat-gurat dan berlelehan darah akibat cakaran kala hijau yang dilancarkan oleh Kala Merah. Sakitnya

bukan main. Seluruh mukanya sampai ke leher seperti dibakar!

"Sebaiknya kau segera bunuh diri saja, Golok Sakti!" ejek Kata Merah. Si Golok Sakti tidak menjawab. Mulutnya kelihatan komat kamit. Tiba-tiba dia berseru nyaring!

"Lihat golok!"

Dan semua orang termasuk tiga gadis muka tengkorak saudara seperguruan Kala Merah menjadi keheranan melihat Kala Merah mencak-mencak sendirian, memukul dan mencakar kian kemari sedang Si Golok Sakti tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak dan mulutnya terus juga komat kamit!

Di samping lihai dalam ilmu silat maka Si Golok Sakti juga mendalami ilmu sihir. Dengan ilmu sihirnya itu dia telah menipu pandangan mata Kala Merah. Kala Merah seakan-akan melihat bahwa lawannya tengah

menyerangnya lalu bergerak cepat kian kemari, memukul dan mengelak! Melihat hal ini saudara seperguruannya yaitu Kala Hitam cepat berseru:

"Kakak Kala Merah, awas jangan tertipu! Bangsat itu mempergunakan ilmu sihir!" Mendengar ini Kala Merah beringas setengah mati. Dihentikannya gerakannya. Tiba-tiba Si Golok Sakti menerjang ke muka. Golok panjang menyambar, angin deras melesat dari telapak tangan kiri! Kala Biru kini yang berteriak memberi peringatan! Pada saat itu sudah terlalu singkat bagi Kala Merah untuk mengelak! Tanpa pikir panjang Kala Biru naikkan tangan kanan dan memukul ke depan.

"Curang ... !" teriak Si Golok Sakti. Goloknya diputar laksana titiran tapi dua ekor kala hijau telah melesat melewati putaran golok dan menghantam mukanya! Si Golok Sakti terhuyung-huyung lalu roboh ke tanah tanpa nyawa!

"Siapa lagi yang ingin mampus cepatlah majukan diri!" seru Kala Merah. Dia melangkah ke muka. Dengan geram ditendangnya tubuh Si Golok Sakti hingga mental ke atas panggung, terhampar di antara mayat-mayat anggota Partai Telaga Wangi! Mendadak terdengar suara tarikan nafas aneh!

"Kejahatan kalian sudah punya! Dosa sebesar gunung kalian sudah pikul. Tapi rupanya juga kalian memiliki kecurangan! Manusia-manusia dajal! Sudah tiba saatnya kalian harus mampus!" Suara itu adalah suara manusia yang tidak kelihatan tadi. Tapi kali ini rupanya dia tidak menyembunyikan diri lebih lama karena begitu ucapannya berakhir maka yang punya diri sudah melompat ke hadapan Kala Merah dan gadis-gadis muka tengkorak lainnya!

Melihat siapa adanya manusia ini yang bukan lain si tua renta berjuluk "Sepuluh Jari Malaikat", maka besarlah kembali nyali para hadirin yang

masih ada di tempat itu! Siapa yang tak akan kenal dengan "Sepuluh Jari Malaikat"?

Selama dua puluh tahun kakek-kakek tua renta itu telah merajai dunia persilatan di JawaTimur. Dan bila hari ini dia muncul pastilah keempat bergundal-bergundal pencabut nyawa itu akan dibikin ludas musnah!

Tapi rupanya keempat gadis muka tengkorak itu masih belum tahu dengan siapa mereka berhadapan. Kala Merah memperhatikan paras kakek-kakek tua yang agak bungkuk di hadapannya itu. Sepuluh Jari Malaikat berparas licin polos, rambutnya putih panjang sampai ke bahu seperti rambut perempuan, alis mata, kumis serta janggutnya juga putih! Bahkan sepasang bola matanya juga putih laksana marmer!

Tergetar juga hati Kala Merah melihat pandangan mata si kakek tua!

"Hemmm m... akhirnya kau munculkan diri juga, huh?'" decah Kala Merah. Sepuluh Jari Malaikat tertawa rawan.

"Kebenaran akan selalu muncul untuk memusnahkan kejahatan....."

"Tak usah bicara bahasa tinggi. Sebutkan cara mati yang bagaimana yang kau inginkan tua renta?!" Sepuluh Jari Malaikat tertawa mengekeh. Mulutnya hanya sedikit yang terbuka tapi suara kekehannya mengumandang dan menggetari seluruh lembah!

"Kakak Kala Merah ...." Kala Hitam berkata dengan ilmu menyusupkan suara..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.198.245.233
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia