Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

KAPILATU DUDUK MENCANGKUNG di depan Kiai Talang Bungsu sambil mengipas kayu api penjarang air. Sang Kiai sendiri duduk bersila di atas selembar tikar butut yang terletak di langkan sebuah gubuk terbuat dari bambu. Kedua matanya terpejam, mulutnya berkemik menggumam sementara jari-jari tangannya meluncur satu persatu di atas seuntai tasbih berwarna putih kehijauan.

Saat itu hampir menjelang tengah hari. Di puncak bukit yang tinggi itu teriknya sinar matahari dikalahkan oleh sejuknya udara segar. Justru saat itulah Kapilatu si pembantu melihat sesuatu yang tidak dimengertinya. Sambil terus mengipasi kayu api dan matanya memandang ke arah kanan, mulutnya berucap, "Aneh, siang-siang begini ada kabut di bukit..."

Sepasang mata Kiai Tawang Bungsu bergerak, tapi tidak membuka. Jari-jarinya yang menyelusuri untaian tasbih berhenti bergerak.

"Kau melihat kabut katamu, Latu...?" bertanya Kiai Talang Bungsu.

"Benar sekali Kiai," jawab si pembantu.

"Di jurusan mana?" bertanya lagi sang Kiai.

"Kira-kira dua puluh langkah di sebelah kanan gubuk kita, Kiai. Searah matahari terbit. Paras Kiai Talang Bungsu berubah.

"Yang kau lihat bukan kabut Latu. Ada seorang besar datang berkunjung..." kata Kiai Talang Bungsu. Kedua matanya perlahan-lahan dibuka. Tasbih dimasukkannya ke dalam saku jubah putihnya, lalu orang tua ini bangkit berdiri dan melangkah turun dari langkan ke tanah. Dia berjalan tujuh langkah ke arah timur diikuti pandangan mata Kapilatu yang terheran-heran. Dalam hatinya pembantu ini berkata: "Makin lanjut usia orang tua ini, semakin banyak keanehan yang diperlihatkannya. Aku menampak kabut di seberang sana. Eh, dia bilang ada orang besar datang! Orang besar siapa...?"

Tepat pada langkah ke tujuh Kiai Talang Bungsu hentikan langkahnya. Dia memandang tak berkesip ke arah kabut putih yang menyelubung semakin banyak sejarak lebih sepuluh langkah di hadapannya.

Makin lama selubung kabut itu semakin tebal dan mendadak saja udara di bukit itu menjadi lebih dingin dari biasanya. Selebung kabut bergerak dan berubah aneh pada bagian tengah sampai ke atas. Lalu membentuk seperti bayang-bayang manusia. Dari bayangbayang berubah lebih jelas membentuk satu sosok tubuh yang hanya terdiri dari bagian pinggang ke atas. Bagian bawah tenggelam dalam selubung kabut aneh. Orang itu laksana melayang di awan.

Kapilatu terkesiap dan ternganga saking tidak percaya akan apa yang disaksikannya. Di-antara selubung kabut itu dia melihat satu sosok tubuh seorang tua berwajah gagah dan kelimis meskipun rambutnya yang disanggul kecil dan juga alis matanya berwarna putih keseluruhannya. Pada tangan kanannya dia memegang sebuah tombak emas bermata tiga yang memancarkan sinar kuning berkilauan.

"Manusia atau mahluk jejadiankah ini...?" ujar Kapilatu dan tengkuknya terasa bergeming dingin. Perlahan-lahan dia beringsut ke belakang.

Ketika sosok tubuh yang muncul dari dalam kabut itu semakin jelas terlihat hingga hampir tidak beda dengan keadaan manusia biasa, Kiai Talang Bungsu menjura dalamdalam lalu berucap: "Sang Prabu, salam sejahtera untukmu. Ada gerangan apakah Sang Prabu berkenan berkunjung ke tempat saya yang buruk ini...?"

Orang tua berselempang kain putih menggerakkan tangan kanannya yang memegang tombak emas bermata tiga. Sinar kuning menyambar ke arah wajah Kapilatu. Langsung saja pembantu ini rebah ke tanah dan terbujur seperti orang tidur!

"Kiai Talang Bungsu, aku datang tidak lama. Di alam arwah aku merasa tidak tenang karena ada orang-orang titisan darahku dalam menjalani masa kutukan telah menambah dosa mereka dengan melakukan kejahatan keji. Membunuh dan menyiksa orang-orang tidak berdaya dan tidak berdosa. Semua terjadi karena keserakahan menuruti kata hati, hendak menguasai manusia lainnya demi kepentingan sendiri, diatas kepentingan saudara bahkan di atas kepentingan orang tua! Mereka telah mencorengkan arang busuk ke mukaku, yang tak mungkin dipupus oleh tabib manapun, tak mungkin hilang sampai aku masuk liang kubur sekalipun! Mereka telah terlanjur hidup dalam kutukan, menjadi insan-insan separuh manusia separuh iblis. Keputusasaan membuat mereka melakukan perbuatan-perbuatan lebih jahat dari setan, lebih ganas dari iblis, lebih mengerikan dari pada hantu! Aku merasa tidak tenteram sebelum mereka dihancurkan sampai keakar-akarnya!"

"Sang Prabu, apa yang jadi perintahmu akan saya laksanakan. Hanya saja, kalau saya boleh bertanya apakah insan separuh manusia separuh iblis yang sang Prabu maksudkan itu adalah manusia-manusia srigala yang banyak gentayangan di rimba belantara Rekso Pratolo?" bertanya Kiai Talang Bungsu.

"Betul Kiai. Hancurkan mereka. Cuma, jangan samaratakan mereka. Ada beberapa gelintir yang menjadi mahluk iblis karena kemurkaan dan kutukanku. Tapi mereka tidak melakukan kejahatan. Untuk mereka hari-hari mendatang menjadi saat-saat pengampunan..."

"Saya mohon petunjuk lebih lanjut, Sang Prabu..." kata Kiai Talang Bungsu pula.

"Dengar baik-baik Kiai. Saat ini juga kau harus pergi ke hutan Rekso Pratolo. Pergi ke bekas gubuk peristirahatanku. Gubuk itu berusia lebih dari dua ratus tahun. Masih untung kalau kau dapat menemukan bekas-bekasnya saja! Kau tunggu di gubuk itu. Menjelang matahari menggelincir ke barat besok, akan muncul seorang pemuda. Dia akan datang dalam keadaan kehausan. Berikan buah kelapa ini padanya. Setelah kau lihat dia meminumnya kau baru boleh meninggalkannya. Hanya itu saja yang jadi tugasmu!"

Orang tua yang dipanggil sebutan Sang Prabu itu gerakkan tangan kirinya. Tahu-tahu di tangan itu ada sebutir kelapa hijau. Buah kelapa ini diserahkannya pada Kiai Talang Bungsu.

Sambil menerima buah kelapa itu sang Kiai bertanya: "Sang Prabu, pemuda yang kau sebutkan itu bagaimanakah ciri-cirinya?"

"Kau bertanya begitu karena takut kesalahan, bukan? Kau tak usah khawatir Kiai.

Hanya dia satu-satunya pemuda yang berani masuk ke dalam rimba Rekso Pratolo. Akan ciri-cirinya dia berambut gondrong, berbaju dan bercelana putih. Begitu yang aku lihat dalam petunjuk para Dewa. Tapi siapa namanya itulah yang tak sempat aku tanyakan atau diberitahukan para Dewa. Semua sudah jelas, aku pergi sekarang, Kiai..."

Kiai Talang Bungsu mengangguk dan men-jura dalam. Ketika dia mengangkat kepalanya kembali Sang Prabu sudah lenyap. Kabut yang tadi menyungkupi tempat itu perlahan-lahan lenyap. Ketika keadaan terang kembali, disam-pingnya Kiai Talang Bungsu mendengar suara pembantunya Kapilatu yang tiba-tiba saja terbangun. Entah bangun dari tidur entah bangun dari pingsan.

Pembantu ini mengucak-ucak kedua matanya dan memandang berkeliling. "Eh, tertidurkah aku barusan...?" tanyanya ketika matanya membentur Kiai Talang Bungsu yang tegak memegang buah kelapa.

"Ya, kau memang barusan tertidur Kapilatu," jawab sang Kiai.

Sang pembantu garuk-garuk kepalanya. "Aneh, tak habis pikir jadinya. Bagaimana aku bisa tertidur. Padahal..." Dia berpaling ketika mendengar suara air mendidih. "Ah! Padahal jelas tadi aku tengah menjerang air. Kini air itu sudah masak mendidih!" Kapilatu berpikir keras. Lalu dia ingat. "Kiai, tadi aku melihat sosok tubuh seorang lelaki tua di antara kabut. Dia mengenakan selempang kain putih. Memegang sebatang tombak emas bermata tiga. Kau menyebutnya sebagai seorang besar. Sekarang kemanakah dia?"

"Orang besar itu sudah pergi, Kapilatu..." sahut Kiai Talang Bungsu.

"Pergi... Benar-benar aneh. Siapakah dia Kiai, kalau aku boleh bertanya?" Pembantu itu bertanya lagi.

"Dia adalah sosok Sang Prabu Raja Blambangan yang muncul menjelma dari alam arwahnya."

Sulit bagi Kapilatu mencerna penjelasan Kiai Talang Bungsu itu. Bagaimana mungkin orang yang sudah lama mati hampir dua ratus tahun lalu tiba-tiba saja bisa muncul begitu rupa. Kapilatu geleng-geleng kepala. Kemudian dilihatnya buah kelapa yang ada di tangan kanan sang Kiai...

"Ribuan tombak di seantero bukit ini, tak ada pohon kelapa. Dari mana kau mendapatkan buah itu Kiai?" tanya si pembantu yang kembali jadi heran.

"Sang Prabu yang memberikannya padaku," jawab Kiai Talang Bungsu polos.

"Sang Prabu! Benar-benar luar biasa... Dia membawanya dari alam arwah! Pasti itu buah kelapa ajaib! Buah kelapa jejadian...Bolehkah aku melihat dan memegangnya Kiai?" Kiai Talang Bungsu gelengkan kepala.

"Kita harus pergi sekarang juga Kapilatu..."

"Kita harus pergi katamu Kiai? Pergi kemana...?"

"Antarkan aku ke hutan Rekso Pratolo."

"Hutan Rekso Pratolo!" mengulang Kapilatu dengan wajah berubah dan suara terkejut.

"Itu hutan tempat sarang segala mahluk halus jejadian yang menakutkan! Mulai dari dedemit bermuka raksasa setinggi pohon sampai tuyul sebesar jempol. Mulai dari mahluk jejadian bertaring besar bermata merah dan berlidah yang selalu mengucurkan darah sampai jin perempuan bermuka sepucat mayat. Mahluk-mahluk itu akan mencekik kita sampai mati! jangankan manusia, setan sungguhanpun tak akan berani memasuki hutan seribu keangkeran itu!"

Kiai Talang Bungsu tersenyum. Walau dalam hati dia membenarkan ucapan pembantunya, namun tetap saja dia berkata, "Itu hanya omongan orang saja Kapilatu. Hutan itu tak ada apa-apanya. Nah, kita berangkat sekarang supaya menjelang siang besok bisa sampai kesana..."

"Lalu bagaimana dengan air panas ini. Aku masih belum membuatkan kopi untukmu Kiai."

"Lupakan saja kopi itu. Urusan kita lebih penting!" sahut Kiai Talang Bungsu.

"Ini bukan urusan penting Kiai. Tapi urusan mencari penyakit!' kata Kapilatu pula.

Tapi dia terus saja bangkit sambil tepuk-tepuk pantat celananya. Dari dalam saku pakaiannya dikeluarkannya sebuah topi beludru hitam. Lalu topi ini dikenakannya ke kepalanya. Karena kebesaran maka topi itu jadi kupluk sampai ke batas alisnya.

Kiai dan pembantunya itu menuruni bukit ke arah timur. Satu hari perjalanan baru mereka akan sampai di hutan Rekso Pratolo. Kiai Talang Bungsu tak mau datang terlambat di tempat tujuan. Dia sadar tugas besar yang harus dijalankannya demi menyelamatkan manusia dari kehidupan alam sesat yang penuh kengerian.

***



"KIAI, SUDAH LAMA SEKALI kita berada di tempat ini. Tengkukku sudah sejak tadi terasa beku dan dingin. Perutku keroncongan. Siapa sebenarnya yang kita tunggu disini...?" begitu Kapilatu bertanya.

Saat itu mereka berada dalam hutan Rekso Pratolo yang redup karena sinar matahari tak sanggup menembus lebat dan rimbunnya pohon-pohon besar. Keduanya duduk di tanah, di depan sebuah bangunan kayu yang hanya tinggal tiang-tiang lapuk serta dinding yang sudah hancur dimakan usia bahkan nyaris jadi bubuk. Konon itulah dulu bangunan tempat istirahat Prabu Blambangan pada saat dia melakukan perburuan dalam rimba belantara.

Saat itu menjelang tengah hari. Kiai Talang Bungsu diam-diam merasa cemas. Apakah pemuda yang dikatakan Sang Prabu dalam penjelmaannya siang kemarin akan benar-benar muncul di tempat itu? Pertanyaan pembantunya membuat dia menjadi tidak enak. Karena sang Kiai tidak menjawab pertanyaannya Kapilatu tidak mau mengulang. Dalam hatinya dia tetap tak habis pikir, apa sebenarnya tujuan Kiai Talang Bungsu datang ke tempat itu, untuk apa pula dia membawa buah kelapa hijau yang katanya didapat dari Sang Prabu Blambangan. Lalu siapa sebenarnya yang tengah ditunggu sang Kiai?

"Kiai..." Karena tak tahan membisu Kapilatu kembali membuka mulut. Tapi Kiai Talang Bungsu cepat menukas.

"Diam Kapilatu! Aku mendengar suara orang bersiul di hutan ini. Bukan suara siulan biasa. Gendang-gendang telingaku terasa bergetar. Jangan-jangan inilah orang yang dikatakan Sang Prabu..."

Kalau sang Kiai berkata begitu maka Kapilatu saat itu sama sekali tidak mendengar suara siulan. Ini cukup memberi pertanda bahwa Kiai Talang Bungsu memiliki ketajaman pendengaran dan ilmu yang tinggi. Beberapa saat kemudian ketika pembantu itu akhirnya bisa mendengar suara siulan tersebut, telinganya terasa laksana ditusuk dan mendenyut sakit. Cepat-cepat Kapilatu tekap kedua telinganya dengan telapak tangan. Kiai Talang Bungsu bangkit berdiri. Matanya memandang ke arah kanan, dari jurusan mana datangnya suara siulan itu. Tak selang berapa lama dia melihat kepala orang yang bersiul itu, lalu dadanya. Ternyata dia seorang pemuda berikat kepala kain putih. Dibawah ikat kepala, tampak rambutnya yang gondrong menjulai bahu. Bajunya berwarna putih. Ketika pemuda ini melihat Kiai Talang Bungsu dan Kapilatu serta merta dia hentikan siulannya, memandang sesaat lalu melangkah mendekati kedua orang itu.

"Salam untuk kalian berdua..." Si pemuda menegur. "Setengah harian tersesat dalam rimba belantara tidak sangka bertemu orang." Pemuda ini tersenyum lebar pada Kiai Talang Bungsu dan Kapilatu. "Orang tua, sedang apakah kau di tempat ini? Tampaknya seperti sedang menunggu seseorang..."

Kiai Talang Bungsu perhatikan pemuda di-hadapannya dengan seksama beberapa saat lalu menjawab, "Aku memang tengah menunggu seseorang. Aku Kiai Talang Bungsu. Siapakah engkau adanya, anak muda?"

"Namaku Wiro Sableng." jawab si pemuda yang ternyata adalah Pendekar 212 dari Gunung Gede.

Dalam hati Kiai Talang Bungsu berkata: "Tampangnya tidak meyakinkan. Namanya malah lebih tidak meyakinkan. Jangan jangan bukan manusia satu ini yang dimaksudkan oleh Sang Prabu. Tapi melihat keadaan hari, saat ini sang surya telah condong ke barat. Kemunculannya tepat waktunya seperti yang dikatakan Prabu. Bagaimana ini? Lebih baik aku langsung bertanya saja..."

"Anak muda, katamu tadi kau tersesat masuk ke dalam hutan ini. Bagaimana bisa terjadi begitu?" bertanya Kiai Talang Bungsu.

"Pagi tadi ada dua ekor anak rusa lucu-lucu di tepi hutan ini. Keduanya jinak sekali. Mereka mengikuti ke mana aku pergi. Menjilati betisku. Melompat-lompat di hadapanku lalu berlari-lari masuk ke hutan. Ketika ku-ikuti, dalam hutan keduanya lenyap begitu saja. Aku kembali ke tempat semula tapi ada hal yang aneh. Aku tak mampu keluar dari hutan ini! Makin kucoba mencari jalan keluar, makin jauh aku tersesat masuk ke dalam rimba belantara ini. Gila betul!"

"Tersesat berarti berada dalam kesulitan. Tapi mengapa tadi kudengar kau bersiul-siul seperti orang gembira saja?" tanya Kiai Talang Bungsu.

Wiro garuk kepala. "Pikiranku sedang kalut. Dengan bersiul mungkin aku bisa tenang dan mampu mencari jalan keluar. Tahu-tahu aku bertemu kau dan kawanmu ini disini..."

"Tahukah engkau kalau hutan ini merupakan hutan paling angker, penuh dengan segala mahluk halus dan jejadian yang setiap saat bisa muncul mencekikmu sampai mati?" Yang berkata adalah Kapilatu.

"Eh... Apa betul begitu orang tua?" tanya Wiro.

Kiai Talang Bungsu mengangguk.

Wiro kini perhatikan kedua orang di hadapannya itu. "Kalau begitu... Jangan-jangan kalian berdua ini adalah mahluk jejadian itu..."

Sang Kiai tersenyum tapi Kapilatu mendamprat. "Enak dan lancang amat mulutmu! Apa kau lihat muka kami seperti dedemit dan kedua kaki kami tidak menginjak tanah?!"

"Aku hanya bergurau," berkata Wiro. "Perutku lapar. Tapi rasa haus membuat tenggorokanku seperti terbakar. Aneh, padahal hutan ini redup dan tidak panas..." Kedua mata Wiro mengerling pada buah kelapa yang ada di tangan kanan Kiai Talang Bungsu.

"Jika kuberikan buah kelapa ini padamu, apakah kau mau meminumnya?" tanya Kiai Talang Bungsu sambil mengangkat buah kelapa itu dekat-dekat ke hadapan Wiro.

"Ah, kau baik sekali orang tua. Aku memang haus. Tapi aku tak akan menghabiskannya seorang diri. Kita bagi tiga air kelapa itu..."

"Tak usah berbasa-basi. Kami sudah minum sebelumnya. Kelapa satu ini silahkan kau habiskan sendirian." kata Kiai Talang Bungsu pula. Lalu dia berpaling pada pembantunya dan berkata: "Buatlah lobang untuk minum sahabat kita ini..."

"Kiai, bagaimana kau ini..." Kapilatu berkata terheran-heran. "Kau hendak memberikan kelapa ini padanya. Padahal kita berdua saat ini juga tengah keha..."

"Lakukan saja apa yang aku perintahkan Kapilatu!" Kiai Talang Bungsu memotong ucapan pembantunya dengan keras.

Meski dalam hati Kapilatu menggerendeng tapi pembantu ini mengerjakan juga apa yang dikatakan sang Kiai. Dari balik pakaiannya Kapilatu keluarkan sebuah golok kecil. Dengan golok ini dipapasnya ujung kelapa pada bagian tangkainya lalu dibuatnya lobang. Air kelapa tampak bening dan segar. Kiai Talang Bungsu lalu menyerahkan kelapa itu pada Wiro.

"Terima kasih, kau benar-benar baik Kiai," kata Wiro menerima kelapa. Lalu tanpa menunggu lebih lama air kelapa segar itu langsung diminumnya sampai setengahnya. "Manis sekali!" kata Wiro sambil menyeka mulut dengan belakang tangannya.

"Kenapa tidak kau habiskan sekaligus?" ujar Kiai Talang Bungsu pula.

"Jangan kawatir. Air kelapa seenak ini pasti akan kuhabiskan!" sahut Wiro. Lalu kembali dia meneguk air kelapa itu. Saking asyiknya minum,

Wiro tak sempat lagi melihat gerakkan yang dibuat Kiai Talang Bungsu bersama pembantunya. Ketika air kelapa yang diminumnya habis dan buah kelapa itu diturunkannya dari mulutnya, terkejutlah pendekar ini. Baik sang Kiai maupun pembantunya yang berpeci kupluk itu, tak ada lagi di situ. Dia memandang berkeliling bahkan melangkah menyibak semak belukar. Kedua orang tadi lenyap seperti ditelan hutan!

Wiro Sableng bantingkan kepala di tangan kanannya ke tanah. "Heran...kemana lenyapnya kedua orang itu. Kalaupun pergi mengapa pergi begitu saja! Jangan-jangan keduanya betul-betul mahluk jejadian seperti yang kubilang tadi. Dan air kelapa yang kuminum itu, jangan-jangan air kencing setan!" Memikir disitu Wiro pungut kembali kelapa yang tadi dicampakkanya lalu dihantamnya dengan tangan kanan hingga terbelah dua. Tampak bagian daging kelapa yang putih. Ketika daging kelapa itu dikorek dan digigitnya, terasa manis dan legit.

"Ini kelapa betulan..." ujar Wiro. Tambah bingung murid Eyang Sinto Gendeng ini.

Dia menyeruak lagi beberapa kelompok semak belukar bahkan mencoba naik ke atas sebatang pohon dan meninjau berkeliling. Tapi Kiai Talang Bungsu dan Kapilatu tetap tidak kelihatan.

Wiro melompat turun ke tanah. Pada saat ke dua kakinya baru menginjak tanah itulah murid Sinto Gendeng ini melengak kaget. Karena di depan bangunan gubuk yang hanya tinggal reruntuhan itu tiba-tiba saja dilihatnya ada seorang lelaki duduk bersila di tanah membelakanginya. Orang ini hanya mengenakan sehelai celana berwarna biru gelap, punggungnya telanjang. Rambutnya digulung dan diikat di atas kepala. Karena membelakangi Wiro tak dapat melihat wajahnya. Apa yang membuat Wiro jadi lebih tercekat ialah adanya seekor ular hitam berbelang hijau yang melingkar dan meliuk-liuk membelit lehernya!

"Orang itu..." kata Wiro dalam hati. "Tadi dia tak ada di situ. Mengapa tahu-tahu muncul...?!" Sambil menjaga jarak agar jangan terlalu dekat Wiro melangkah ke sebelah kanan, terus maju ke bagian depan orang yang bersila agar dia dapat melihat wajahnya.

***

WIRO SAMPAI DI HADAPAN orang yang duduk bersila itu. Ternyata dia seorang pemuda berwajah cukup tampan. Kumis dan janggutnya meranggas kasar dan lebat. Kedua matanya terbuka tetapi memandang kosong seperti buta. Kedua tangannya terletak di paha. Sikapnya seperti orang bersamadi. Tubuhnya tak bergerak sedikitpun. Kedua matanya tak pernah berkesip.

"Ki sanak... Siapakah kau? Apakah tengah bersamadi?" Wiro berseru.

Ssssssssssssh!!!

Yang ditanya tidak menjawab. Yang terdengar adalah desisan ular hitam belang hijau. Binatang ini menegakkan kepala, mulutnya membuka, sikapnya siap hendak menerkam Wiro!

"Ki sanak!" Wiro berseru kembali.

Ular yang melingkar di leher pemuda yang duduk bersila mendesis keras. Kepalanya terpentang, gelungannya membuka dan tiba-tiba sekali binatang ini melesat terbang laksana sebatang anak panah menderu ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng! Untung saja murid Sinto Gendeng ini sudah bersikap hati-hati sejak tadi. Begitu dilihatnya ular hitam hijau membuka libatannya di leher orang dan melesat ke arahnya, Wiro langsung menghantam dengan pukulan kosong tangan kanan mengandung tenaga dalam. Pukulan yang dilepaskannya adalah pukulan "kunyuk melempar buah"

Begitu pukulan sakti itu menghantam kepala dan tubuhnya, tak ampun lagi ular hitam belang hijau itu mental di udara dalam keadaan cerai berai. Tetapi begitu hancuran tubuh jatuh menyentuh tanah, satu persatu hancuran itu lenyap seperti ditelan tanah belantara! Di saat itu pula di dalam rimba terdengar suara orok menangis, melengking keras dan panjang.

Wiro merasakan bulu romanya berdiri, "Ular itu... Binatang jejadian..." katanya dalam hati. "Begitu jatuh di tanah terus lenyap. Dan suara bayi menangis itu...Keanehan apa yang tengah kuhadapi ini!" Wiro memandang ber keliling sampai akhirnya pandangannya kembali membentur pemuda yang duduk bersila tak bergerak, bermata nyalang tapi tak pernah berkesip.

Perlahan-lahan Wiro melangkah mendekati tubuh yang seperti tengah bersamadi itu. Satu langkah dari orang itu Wiro mendadak tersentak kaget. Kedua kakinya laksana ditancap ke dalam tanah. Kedua matanya terpentang lebar, hampir tak percaya akan apa yang dilihatnya. Diulurkannya tangan kanannya-memegang bahu si pemuda. Dipegangnya dengan keras, lebih keras. Dari hanya memegang kini Wiro mengetuk-ngetuk bahu itu, memukulnya. Keras! Dengan tangan gemetar Wiro meraba naik ke wajah yang penuh ditumbuhi kumis serta cambang bawuk yang lebat. Juga terasa keras. Dan dua mata yang terbuka itu bukan seperti mata semula. Seluruhnya telah berubah keras. Tubuh, anggota badan, kepala termasuk rambut dan mata telah berubah keras!

"Batu...! Manusia ini telah berubah jadi patung batu! Ya Tuhan! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi...!" ujar Wiro sambil menyurut satu langkah. Selain rasa aneh dan heran, Pendekar 212 merasa ada hawa yang menakutkan merasuki dirinya. "Hai!" Wiro seperti terlonjak. Dari sepasang mata yang telah berubah menjadi batu keras itu dia melihat ada tetesan air mata jatuh berderai, menggelinding diatas pipi yang juga telah berubah jadi batu!

Wiro ulurkan tangan kirinya yang gemetaran untuk menyentuh air mata yang berderai di pipi. Terasa jari-jari tangannya basah.

"Manusia batu ini benar-benar menangis..." bisik Wiro. Saat itulah dia mendengar suara seperti anjing melolong dikejauhan. Panjang dan menggidikkan. "Lolongan anjing.

Bukan! Bukan lolongan anjing. Itu lolongan srigala..." Murid Sinto Gendeng memandang berkeliling. Tiba-tiba saja dia merasa seperti ada puluhan pasang mata yang memperhatikannya. Puluhan pasang mata yang tidak terlihat oleh mata biasa, oleh matanya sendiri! Rasa ngeri membuat keringat dingin mengucuri tubuhnya. Menghadapi musuh yang bagaimanapun seramnya selagi masih bisa dilihat mata telanjang, Pendekar 212 tidak pernah merasa takut. Tetapi menghadapi mahluk-mahluk yang tidak terlihat, benar-benar membuat Wiro merasa lebih baik dia segera meninggalkan tempat itu. Dia menyurut beberapa langkah lalu balikkan diri dan tinggalkan tempat itu setengah berlari. Berlari beberapa jauh Wiro berpaling ke belakang. Astaga! Larinya terhenti sesaat. Manusia yang berubah jadi patung itu, tak ada lagi di tempatnya semula. Bahkan bekas reruntuhan gubuk itupun tak tampak Segi di tempat itu!

Pendekar 212 Wiro Sableng tidak tahu berapa lama dia berlari, dalam lari itu dia merasa seolah-olah ada yang mengikutinya. Namun setiap dia menoleh kebelakang sama sekali tidak kelihatan ada orang yang menguntit!

"Orangnya tak kelihatan. Tapi aku yakin ada yang mengikutiku. Bukan cuma satu orang..." kata Wiro dalam hati lalu mempercepat larinya.

Di hadapan sebuah pohon besar murid Sinto Gendeng ini akhirnya hentikan larinya. Nafasnya mengengah dan keringat membasahi tubuh serta pakaiannya.

Di atas pohon dua mahluk yang tidak kelihatan perwujudannya di mata manusia biasa termasuk Wiro saling berbisik satu sama lain.

"Dayang, kita mengikuti dan mengamati pemuda itu sejak tadi. Aku yakin memang dialah orang yang kulihat dalam alam luar pandangku. Dialah orang yang akan menyelamatkan kita ke dalam perwujudan semula..."

"Aku memang berpendapat dan berharap sepertimu Dewi. Menyelamatkan kita tapi juga menghancurkan mahluk-mahluk iblis itu! Selama mereka masih ada di muka bumi, dunia ini tidak akan pernah aman. Orang-orang sesat akan bertambah berlipat ganda. Sudah saatnya kita melakukan sesuatu Dewi!"

Mahluk tanpa wujud yang dipanggil Dewi mengiyakan.

"Saatnya kita memperlihatkan diri pada pemuda itu dan bicara padanya." Dayang merasakan tangannya ditarik. Ketika melayang turun dari atas pohon dimana dia berada, Dayang memandang ke bawah lalu berseru terkejut seraya menunjuk.

"Dewi! Lihat apa yang dilakukan pemuda itu!"

Dewi berpaling ke arah yang ditunjuk dan ikut kaget. "Astaga! Dia...! Ah! Mengapa dia melakukan hal itu disini! Celaka!"

"Kita harus mencegahnya Dewi!"

"Percuma! Sudah terlambat! Dia telah melakukannya!" ujar Dewi dengan suara tercekat.

"Nasib kita tak akan berubah. Kita akan tetap hidup di alam gelap ini..." Terdengar suara Dayang sesenggukan, lalu dia memeluk Dewi kencang-kencang. Dua mahluk ini saling berangkulan dan teteskan air mata dalam alam mereka.

Di bawah pohon saat itu Pendekar 212 Wiro Sableng tampak tengah membuang air kecil. Minum air kelapa begitu banyak ditambah berlari cukup jauh membuat tubuhnya sebelah bawah terasa berat dan tidak dapat lagi menahan kencing. Lalu pemuda ini membuang hajatnya di bawah pohon besar itu!

"Apa yang harus kita lakukan sekarang Dewi?" bertanya Dayang. "Pemuda itu telah melanggar pantangan! Mengotori pohon besar dengan air kencingnya. Sebentar lagi Srigalasrigala iblis pasti akan muncul disini...!"

"Mereka sudah datang, Dayang. Aku sudah melihat mereka muncul dari arah kanan sana. Mari tinggalkan tempat ini..."

"Tapi Dewi, bagaimana dengan pemuda itu. Bagaimanapun juga dia harapan kita satusatunya. Kita harus menolongnya...!"

"Tidak Dayang. Kita tak mungkin menolongnya. Kau tahu hal itu. Saat ini tak satu kekuatan pun sanggup melawan srigala-srigala iblis itu. Kita harus pergi..."

Dayang tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia mengikuti sang Dewi masih dalam keadaan menangis sesenggukan.

Di bawah pohon selesai membuang hajat Wiro Sableng rapikan celananya lalu memutar tubuh. Pada saat itulah suasan sunyi dalam hutan Rekso Pratolo dirobek oleh suara lolongan riuh, panjang dan keras. Wiro merasakan tubuhnya bergetar keras. Suara lolongan itu bukan lolongan biasa. Ada satu kekuatan aneh tapi juga terasa mengerikan menyertai lolongan itu.

"Lolongan srigala..." ujar Wiro dalam hati.

"Bukan hanya seekor... Mungkin puluhan. Tapi dimana binatang-binatang itu..."

Wiro memandang berkeliling. Suara lolongan semakin keras tanda semakin dekat. Tapi mahluk yang melolong tetap saja tidak kelihatan. Murid Sinto Gendeng gerakkan tangan kanan memegang hulu senjata mustikanya, Kapak Maut Naga Geni 212. Bersiap-siap menjaga segala kemungkinan.

Suara lolongan riuh srigala yang mengerikan mendadak lenyap. Dalam kesunyian yang mencekam tiba-tiba membahana suara tanpa rupa.

"Anak manusia! Kau telah lancang dan kurang ajar mengotori istanaku! Bersiaplah meninggalkan alam kasarmu! Bersiaplah menerima hukuman berat!"

***

PENDEKAR 212 WIRO SABLENG memandang berkeliling. Suara yang barusan membertak garang telah lenyap tapi gaungannya masih terdengar membahana menggetarkan seantero hutan Rekso Pratolo. Wiro merasakan daun-daun pepohonan bergemerisik aneh. "Suara tanpa rupa!" Wiro balas berseru. "Kepada siapa ucapanmu tadi kau tujukan?!"

Terdengar suara mendengus lalu bentakan keras, "Manusia tolol! Apa ada manusia lain di sampingmu saat ini?!"

"Aku memang sendirian di sini!" sahut Wiro. Kembali terdengar suara mendengus.

"Berarti memang kaulah manusianya yang kurang ajar itu. Lancang mengotori istanaku! Hukuman berat bagimu anak manusia!"

Wiro garuk-garuk kepalanya. Dalam hati dia membatin. "Suara itu aneh, menegakkan bulu roma. Tapi masih mirip-mirip suara perempuan. Setelah berpikir sejenak, Wiro kembali membuka mulut. "Aku tidak melihat istana di tempat ini. Apalagi mengotorinya! Aku juga tidak mengerti soal hukuman berat itu!"

Terdengar suara menggereng banyak sekali.

"Kau mengencingi istana kami bangsat!!" terdengar suara teriakan.

Lalu terdengar suara tadi, "Kepalamu kulihat cukup keras! Cukup baik untuk jadi ganjalan tiang istanaku! Hik... hik... hik!" Lalu menyusul suara lolongan tunggal. Suara lolongan srigala! Dan lolongan tunggal ini kemudian ditimpali oleh suara lolongan srigala banyak menggemuruh. Wiro usap-usap kepalanya.

"Mahluk yang hendak menjadikan kepalaku ganjalan tiang istana! Siapa kau ini sebenarnya! Mengapa tidak mau tampakkan muka?!" berteriak Pendekar 212.

"Kau akan lihat... Kau akan lihat!" menjawab suara itu. Lalu terdengar suara keras laksana guntur menggelegar. Begitu suara gelegar ini sirna, asap putih mengepul membumbung ke udara setinggi lutut. Asap itu membentuk satu lingkaran besar dan Pendekar 212 Wiro Sableng berada tepat di tengah lingkaran.

"Eh, kemana lenyapnya pohon-pohon besar itu!" Wiro terkejut ketika dia tidak melihat lagi pohon-pohon ataupun semak belukar hutan Rekso Pratolo. Yang dilihatnya kini hanyalah kepulan asap putih mengurungnya. Tapi tidak! Bukan hanya kepulan asap putih setinggi lutut itu yang saja yang kelihatan! Ada lagi benda lain yang tampak! Dan Pendekar 212 merasa lututnya seperti goyah ketika menyadari mahluk apa yang mengelilinginya!

Mahluk-mahluk itu memiliki kepala berupa binatang yaitu kepala srigala, bertelinga runcing ke atas, bermulut panjang yang selalu menganga memperlihatkan taring-taring runcing dan lidah yang basah. Sepasang mata merah laksana menyala. Anehnya mahluk yang berkepala srigala hitam ini memiliki tubuh sebatas leher kebawah sama dengan tubuh manusia, kecuali sepasang tangan yang memiliki jari-jari berkuku runcing mengerikan!

Seperti manusia adanya mereka mengenakan celana hitam sebatas lutut. Dari keadaan dada mereka yang telanjang Wiro segera tahu kalau mahluk-mahluk setengah binatang setengah manusia itu adaiah mahluk-mahluk jantan.

Menurut dugaan Pendekar 212 paling tidak ada sekitar tiga puluh mahluk berkepala srigala mengurungnya saat itu. Semua memandang dengan buas ke arahnya.

"Yang tadi mengeluarkan suara jelas suara perempuan. Tapi aku tidak melihat mahluk betina di antara mereka..." kata Wiro dalam hati sambil matanya mencari-cari.

"Berikan jalan pada Ratu!" tiba-tiba terdengar seruan sementara kepulan asap putih masih terus mengambang setinggi lutut.

Kelompok mahluk manusia srigala di sebelah kanan menyibak.Bau harum semerbak memenuhi tempat itu. Disaat itu pula Wiro melihat satu sosok manusia srigala bertubuh tinggi melangkah mendatangi. Pada bagian atas kepalanya ada sebentuk mahkota kecil dihiasi batu-batu permata yang-memancarkan sinar berkilauan.

Mahluk satu ini ternyata adalah manusia srigala betina. Dia mengenakan pakaian sebentuk kemben di sebelah atas sedang di sebelah bawah memakai celana hitam yang bagian atasnya lebih pendek hingga sebagian perutnya yang putih tampak tersembul. Mahluk ini miliki payudara yang luar biasa besarnya, putih menyembul diatas kemben. Di belakangnya mengiring tiga manusia srigala betina yang tampaknya adalah pengiring-pengiringnya. Semua manusia srigala jantan menjura dalam begitu srigala betina bermahkota ini muncul.

"Hem... Yang betina ini agaknya pemimpin mereka!" ujar Wiro dalam hati. "Dadanya tampak montok, sayang kepalanya kepala seekor srigala!" Dalam keadaan seperti itu Wiro masih saja sempat berpikir yang bukan-bukan.

"Berlutut di hadapan Ratu kami!" satu suara membentak memerintah pada Wiro. Tapi sang pendekar tetap saja berdiri sambil pandangi dada montok di bawah kepala berbentuk srigala hitam itu!

Melihat orang tak mau berlutut, sang Ratu tampak marah. Dia berpaling pada salah seorang pembantu betinanya dan memerintahkan. "Hajar dan paksa dia berlutut!"

Yang diperintah melangkah maju tapi berbalik kembali dan berbisik. "Jika dia melawan, apakah harus dibunuh?"

Sang Ratu tampak bimbang sesaat. Lalu menjawab, "Kita sudah tahu bencana apa yang bisa dilakukannya terhadap kita dengan kemunculannya. Tapi kau tak usah kawatir Sari Gali Satu. Kau akan sanggup menguasainya. Lakukan apa yang kuperintah!"

Srigala betina yang dipanggil dengan nama Sari Gaii Satu anggukkan kepala lalu melompat ke hadapan Wiro. Pendekar 212 melihat bagaimana lompatan yang dibuat mahluk itu bukan seperti manusia biasa melompat, tapi lebih menyerupai lompatan seekor binatang. Lompatan srigala! Dua tangan yang memiliki jari-jari berkuku panjang mengerikan berkelebat ke arah kepala Wiro. Murid Eyang Sinto Gendeng cepat membuat gerakan mengelak sambil satu tangannya menangkis sekaligus memukul lengan Sari Gali Satu. Tapi dia jadi terperangah karena begitu pukulannya mengena dia seolah-oleh hanya menghantam angin atau udara kosong atau seperti melabrak air saja! Dan justru selagi dia terkejut begitu rupa dirasakannya kedua betisnya dihantam keras sehingga lututnya tertekuk dan tak ampun lagi tubuhnya roboh ke tanah dalam keadaan berlutut. Ketika dicobanya untuk berdiri ternyata sekujur badannya tak bisa lagi digerakkan. Tangan dan kakinya tegang kaku!

"Celaka! Ilmu apa yang dipergunakan srigala betina ini membuat aku berlutut kaku seperti ini?!" keluh Wiro.

Sari Gali Satu berpaling pada sang Ratu dan berkata, "Tugas sudah dilaksanakan, mohon petunjukmu lebih lanjut, Ratu!"

Sepasang mata srigala sang Ratu memandang tak berkesip ke arah Pendekar 212. Lalu terdengar dia berucap, "Geledah pakaiannya. Aku yakin dia membawa senjata. Begitu kau temui ambil senjata itu dan serahkan padaku!"

Sari Gali Satu memeriksa pakaian Pendekar 212. Begitu melihat sebilah senjata berupa kapak bermata dua segera diambilnya lalu diserahkannya pada sang Ratu.

"Kembalikan senjataku!" teriak Wiro dengan keras.

Ratu srigala membuka mulutnya lebar-lebar seolah menyeringai. "Aku mau lihat kau mampu berbuat apa kalau ini tidak kukembalikan!"

Wiro kertakkan rahang, kumpulkan seluruh tenaga dan kerahkan tenaga dalam. Tapi tidak ada otot-otot yang bisa digerakkan, tak ada hawa tenaga dalam yang bisa dialirkan.

Ratu srigala keluarkan suara melolong panjang. Begitu lolongannya lenyap dia memerintah. "Bawa dia ke istana! Aku akan menentukan hukuman apa yang pantas baginya! Dan Sari Gali Dua, simpan senjata ini di ruang benda-benda mustika!" Sang Ratu lalu menyerahkan Kapak Maut Naga Geni 212 pada pengiringnya yang berdiri di sampingnya.

Setelah itu sang Ratu memandang sekilas pada Wiro, balikkan tubuh dan tinggalkan tempat itu diikuti oleh dua pengiringnya.

Wiro merasa ada yang menepuk punggungnya. Lalu tubuhnya tertarik ke atas hingga dia tertegak lurus. Kedua kakinya kini bisa digerakkan tapi sebatas pinggang ke atas termasuk kedua tangannya tetap saja kaku tak bisa digerakkan.

"Jalan!" Sari Gali Satu memerintah.

Seperti kerbau dicucuk hidung Pendekar 212 Wiro Sableng melangkah mengikuti sang Ratu bersama dua pengiringnya. Di sebelah belakang, sekitar tiga puluh manusia srigala jantan mengikuti bergerak, berjalan dalam bentuk setengah lingkaran seperti ladam kuda. Jelas mereka sengaja membentuk barisan seperti itu untuk menjaga segala kemungkinan agar tawanan satu itu tidak bisa melarikan diri.

***

SETIAP LANGKAH YANG DIBUATNYA dirasakan seperti tambah menyesakkan dada bagi murid Sinto Gendeng. Bulu tengkuknya merinding, keringat dingin membungkus badannya. Berulang kali dicobanya untuk membebaskan diri dari rasa kaku yang menghimpit tubuhnya sebelah atas. Tapi sia-sia belaka. Dia tetap saja melangkah seperti orang berjalan dalam mimpi atau seperti mayat hidup! Gerak kedua kakinya hanya mampu untuk sekedar berjalan saja, ketika dicoba berlari kedua kaki itu seperti diganduli batu besar hingga dia :ak mampu melakukannya. Kalaupun dia bisa lari, kecil pula kemungkinan untuk dapat menembus kepungan manusia-manusia srigala hitam yang bergerak dalam bentuk ladam kuda itu Lalu apa yang membuat Wiro Sableng semakin merinding ialah ketika menyaksikan bagaimana semua mahluk setengah manusia setengah srigala itu melangkah dengan kedua kaki tidak menyentuh tanah sama sekali! Telapak kaki mereka tampak putih pucat, seperti kaki mayat!

Wiro melangkah dengan kedua mata jelalatan kian kemari. Bagaimanapun juga keadaannya yang tidak berdaya saat itu dia harus terus berlaku hati-hati, paling tidak melihat apa yang ada di sekitarnya. Dia yakin sekali saat itu masih berada dalam hutan Rekso Pratolo. Tetapi yang terasa aneh ialah dia sama sekali tidak melihat pohon-pohon ataupun semak belukar. Dia sama sekali tidak melihat tanaman apapun. Yang dilihatnya adalah tanah yang dilangkahinya, berupa tanah merah kecoklatan. Lalu bagian kiri kanan dan atas yang seperti sebuah terowongan panjang berlapis kabut tipis tak tembus pandang. Sepanjang perjalanan yang penuh ketegangan itu Wiro tiada hentinya mendengar suara aneh. Mulai dari lolongan srigala yang mencekam, suara tangis orok, suara mahluk aneh tertawa mengerikan, suara erangan orang-orang yang seperti berada dalam keadaan tersiksa atau sekarat. Sesekali lapat-lapat terdengar gema gamelan!

"Gusti Allah dimana aku ini berada. Kemana aku ini mau dibawa..." ujar Wiro dalam hati menyebut nama Tuhan. Baru saja dia berkata begitu mendadak terdengar suara keras seperti guntur menggelegar. Wiro merasakan kakinya yang menginjak tanah merah kecoklatan bergetar keras. Ada hawa aneh menjalar masuk ke dalam tubuhnya. Tapi hanya sesaat. Di sekitarnya manusia-manusia srigala tampak mendongakkan kepala ke atas, meraung melolong panjang. Wajah mereka tampak cemas.

"Ya Tuhan, apa pula ini!" Seru Wiro kembali dalam hati. Untuk kedua kalinya menggelegar suara guntur di tempat itu. Lalu kembali ada hawa aneh yang mengalir masuk dari dalam tanah ke tubuh Wiro lewat kedua kakinya. Rasa sesak yang menghimpit dadanya berkurang sedikit. Begitu juga rasa berat yang mengganduli kakinya juga berkurang, namun masih belum cukup untuk membuatnya mampu berlari.

Tiba-tiba saja Wiro mencium bau harum semerbak dan tiba-tiba saja Ratu srigala telah berada di hadapannya. Mahluk aneh ini memandang dan berkata: "Jangan kau berani mempunyai pikiran dan mengucap yang bukan dalam hatimu! Atau kucabut lidahmu saat ini juga dan kutambah hukuman beratmu!"

Murid Sinto Gendeng hendak balas memaki tapi sang Ratu telah membalikkan diri dan tinggalkan tempat itu, hanya bau harum tubuhnya saja yang masih tertinggal di tempat itu! Hanya bisa memaki panjang pendek dalam hati, Wiro lanjutkan langkahnya.

Berjalan kira-kira selama sepeminuman teh, di sebelah depan terdengar suara orang berseru. "Rombongan telah sampai di gerbang Istana!"

Seruan itu disambut oleh suara lolongan semua manusia srigala yang ada ditempat itu. Karena jengkel dan juga sekadar untuk mengurangi rasa takutnya murid Sinto Gendeng ikut-ikutan keluarkan suara meniru lolongan itu. Hanya saja suara lolongannya terdengar berbeda dan agak terlambat. Ketika semua manusia srigala telah berhenti melolong, suara lolongan Wiro tertinggal sendirian.

Plaaakkkk!

Satu tamparan keras menghantam pipi kanan Pendekar 212. Demikian kerasnya tamparan itu hingga tubuhnya terbanting ke tanah. Sudut bibirnya pecah, pipinya bengkak membiru!

"Keparat! Kupecahkan kepalamu!" teriak Wiro geram. Dia bangkit berdiri dan gerakkan tangan kanannya untuk memukul. Tapi bukan saja dia tidak mampu menggerakkan tangannya yang kaku, dia juga tidak tahu siapa yang telah menamparnya tadi.

Wiro memandang berkeliling. Saat itulah dia mendengar satu suara berucap, "Anak manusia! Jangan kau berani lagi meniru melolong! Itu penghinaan besar bagi kami orang-orang Kerajaan Srigala!"

"Setan alas! Kalian semua srigala iblis!" Makian itu hanya bisa diucapkan Wiro dalam hati karena kawatir kalau diucapkan keras-keras tamparan atau pukulan akan mendera dirinya kembali! Dalam keadaan tak berdaya seperti itu adalah konyol kalau dirinya akhirnya babak be-lur dihantami mahluk-mahluk srigala bertubuh manusia itu.

Wiro melangkah terus. Darah dari pecahan bibirnya jatuh ke dagu lalu menetes ke pakaian putihnya. Belasan manusia srigala tampak beringas melihat darah itu. Salah satu diantaranya tiba-tiba menerkam Wiro. Pendekar ini berteriak menyangka kepalanya akan digerogot, ternyata mahluk itu hanya ingin menjilat darah di dagu dan di bajunya!

"Edan!" maki Wiro dengan tubuh tambah merinding. "Mahluk-mahluk ini ternyata pelahap darah!"

Rombongan bergerak maju sampai akhirnya Wiro melihat apa yang disebut pintu gerbang istana itu! Pintu gerbang ini ternyata adalah sebuah ukiran raksasa berbentuk kepala seekor srigala hitam yang mengangakan mulutnya lebar-lebar. Gigi dan taring-taringnya membentuk pagar pintu sedang lidahnya merupakan tangga pendek jalan masuk. Wiro melangkah masuk, mengikuti mahluk-mahluk yang melewati pintu gerbang itu. Begitu sampai di sebelah dalam, pemuda ini kembali tercekat. Dia sama sekali tidak menemukan atau melihat sebuah bangunan istana menjulang megah, tapi yang disaksikannya adalah sebuah pedataran luas, ditumbuhi sekitar seratus pohon pohon besar.

Di sebelah tengah terdapat pohon paling besar dan paling tinggi. Rata-rata pepohonan ini bercabang banyak, memiliki dedaunan yang rimbun hingga pedataran itu tampak suram menggidikan. Paling tidak pohon-pohon itu berusia rata-rata seratus tahunan! Terdengar suara tawa mengekeh. Lalu menyusul lolongan panjang. Itu adalah tawa dan lolongan sang Ratu.

"Anak manusia! Kau pasti kecele! Kau pasti menyangka akan melihat gedung besar megah sebagai bangunan Istana! Yang kau saksikan justru hanya pohon-pohon besar! Hik...hik... hik. Buka matamu lebih lebar! Kau belum melihat apa yang ada di keseluruhan tempat ini! Saksikan sendiri kehebatan istanaku!"

Wiro kedip-kedipkan matanya lalu memandang berkeliling. Begitu matanya terbiasa dengan keredupan di tempat itu maka mulutnya pun berseru tegang, matanya mendelik. Apa yang dilihatnya benar-benar mengerikan. Berada di nerakakah dia saat ini?!"

Di bawah pohon, terjepit antara batang dan akar besar-besar tampak kepala-kepala manusia dibuat sebagai ganjalan. Setiap kepala tampak bergelimang darah mata mendelik dan ada erangan keluar dari mulut mereka. Bagian leher hanya merupakan kutungan mengerikan karena urat-uratnya tampak jelas berserabutan, melentik-lentik memercikkan darah! Setiap pohon ada dua sampai tiga kepala yang berada dalam keadaan seperti itu. Yang paling banyak adalah kutungan kepala di bawah pohon paling besar. Di situ terdapat lebih dari lima kepala! Jika di tempat itu terdapat seratus pohon berarti paling tidak ada dua ratus lima puluh kepala yang dibuat jadi ganjalan seperti itu!

Kengerian itu bukan hanya sampai disitu. Di atas pepohonan Wiro menyaksikan kengerian lain lagi. Disitu tampak beberapa sosok tubuh digantung berbagai cara. Ada yang dengan kaki ke atas kepala ke bawah. Ada yang lehernya diikat langsung ke cabang pohon.

Yang paling mengerikan ialah manusia-manusia yang digantung ke cabang pohon dengan lidahnya sendiri! Kelihatannya lidah mereka ditarik keluar lalu lidah itu dikatikan ke cabang pohon! Banyak diantara mayat yang tergantung itu berada dalam keadaan perut terbuai hingga isi perutnya kelihatan jelas memberojot keluar. Soal darah jangan disebut lagi. Ratarata semua tubuh penuh gelimangan darah!

"Gila! Apakah saat ini aku masih berada di dunia atau di neraka?!" membatin Wiro.

Dia memandang berkeliling lalu kembali melengak. Di bawah salah satu pohon dia melihat satu sosok tubuh lelaki duduk bersila membelakanginya. Di lehernya melilit seekor ular hitam belang hijau.

Walau tidak melihat wajah orang itu tapi Wiro yakin itu adalah pemuda yang ditemuinya di hutan Rekso Pratolo, di depan reruntuhan gubuk tua. Pemuda yang kemudian secara aneh berubah menjadi arca batu!

"Anak manusia! Akhirnya kau lihat juga pemuda itu! Juga ular itu! Binatang itulah yang telah kau bunuh lima hari lalu...!" terdengar suara sang Ra'tu. Sosoknya tidak kelihatan entah dimana.

"Lima hari...?!" Wiro mengulang terheran. Dia merasa yakin peristiwa itu baru berlangsung siang tadi. Mengapa sang Ratu celaka itu menyebutnya lima hari lalu?

Terdengar tawa mengikik lalu suara lolongan srigala. "Kau tentu heran anak manusia! Di tempat ini waktu berjalan lebih cepat dari waktu di alam kasarmu! Satu hari di sana, lima hari disini. Dan ketahuilah di sini tidak ada siang ataupun malam...! "Tidak ada siang tidak ada malam! Lalu bagaimana kalian tidur...?!" Terdengar tawa dan lolongan riuh.

"Kami manusia-manusia Kerajaan Srigala tidak pernah mengenal apa yang dikatakan tidur! Dan kaupun seumur-umur di sini tak akan bisa tidur anak manusia!" terdengar sahutan sang Ratu.

"Seumur-umur?! Aku tak akan seumur-umur berada di tempat celaka ini! Aku akan keluar dari sini dan dengar...Apa yang kalian lakukan padaku akan kubalas setimpal berikut bunganya!" teriak Wiro pula.

Suara lolongan srigala yang riuh dan panjang menyambut ucapan Pendekar 212 itu.

Lalu terdengar suara Ratu srigala. "Mengangkat tanganmupun kau tidak sanggup, bagaimana mungkin keluar dari tempat ini dan melakukan pembalasan?! Anak manusia, apakah kau masih belum sadar bahwa kau saat ini tidak lagi berada dalam alam kasarmu? Kau sudah berada dalam alam mahluk halus! Dan kau adalah satu orang tawanan kami. Lihat, saksikan berkeliling. Dua hari di muka nasibmu akan sama seperti tawanan-tawanan lainnya, mungkin lebih buruk karena kau lebih berbahaya dari mereka!"

"Mengapa kau menawanku?! Aku yakin bukan soal kencing di bawah pohon itu saja yang jadi alasan!" Ratu srigala tertawa lalu melolong.

"Tampangmu tolol tapi otakmu cerdik juga! Memang kencing di pohon lima hari lalu hanya pangkal sebab kesalahanmu. Justru memang ada yang lebih penting dan lebih berbahaya dari itu. Kau hendak menghancurkan, meruntuhkan Kerajaanku!"

"Mahluk jejadian. Ternyata kau juga tolol...!"

Satu bayangan melompat ke arah Wiro. Terdengar suara sang Ratu. "Jangan hajar dia. Biarkan dia terus berbicara! Anak manusia, lanjutkan ucapanmu!"

Bayangan yang tadi hendak menghantam mundur dengan cepat.

"Ayo lanjutkan kata-katamu. Mengapa kau katakan aku tolol?" terdengar suara Ratu srigala.

"Aku datang dari alam lain, sesuai ucapanmu! Mana aku tahu menahu tentang Kerajaanmu! Apalagi berniat menghancurkannya! Apa itu tidak tolol?!"

"Anak manusia, kau tahu apa tentang alam halus dimana kau sekarang berada. Kau sama sekali tidak tahu kalau dijadikan perkakas. Dijadikan alat orang-orang di alam sana untuk menghancurkan kami. Sudahlah, apapun yang aku jelaskan kau tak akan mengerti. Para prajurit, siapkan hidangan kelas satu untuk tawanan satu ini! Dia pasti lapar dan haus!"

Hanya sekejapan mata saja tahu-tahu dihadapan Wiro sudah terhidang di atas daun setumpuk nasi putih yang masih mengepul hangat, setumpuk sayur kangkung yang ditumis dan menebar bau sedap, lalu sebuah bumbung bambu berisi tuak yang harum sekali! Tenggorokan Pendekar 212 turun naik. Air liurnya terbit membasahi mulutnya yang masih berdarah. Tapi ada rasa jijik dalam dirinya melihat hidangan itu.

"Anak manusia, silahkan makan. Anak buahku akan menolongmu. Sari Gali Dua, suapi dia!'

Sementara itu bersernbunyi di salah satu pohon yang jauh dari tempat itu, dua mahluk yang tak kelihatan berbisik satu sama lain.

"Dewi, apa yang bisa kita lakukan. Kalau makanan dan minuman itu sampai disantap pemuda itu, makin parah keadaannya dan makin sulit kita menolongnya!"

"Aku tahu Dayang, aku tahu. Kita memang berada dalam kesulitan. Kita tak mungkin menolongnya. Kita harus menunggu sambil mencari akal. Apakah kau ada membawa potongan kemenyan itu...?"

"Ada Dewi, tapi bagaimana kita bisa memberikan padanya, apalagi menyuruhnya menelannya?"

Dewi berpikir keras. Lalu dia berbisik, "Kau pergilah ke bagian timur. Timbulkan keributan di sana pada saat mereka lengah, akan kucoba melemparkan sepotong kecil kemenyan ke dalam sayur kangkung itu..."

Dayang mengangguk. Dia menyerahkan sepotong kemenyan pada sang Dewi lalu tinggalkan tempat itu.

Tak lama kemudian... Puluhan mahluk srigala berbadan manusia yang berjaga-jaga di bagian timur apa yang disebutkan Istana itu tiba-tiba berseru dan melolong kaget ketika salah satu pohon tiba-tiba bergoyang keras mengeluarkan suara berkereketan. Enam mayat yang digantung di cabang pohon itu berpelantingan kian kemari lalu jatuh bergedebukan ke tanah.

Mendengar ribut-ribut itu sang Ratu melolong keras dan memerintahkan anak buahnya untuk menyelidik. Di saat itulah, tanpa ada satu pun yang tahu, sebuah benda sebesar ujung jari kelingking melayang di udara dan jatuh tepat di atas sayur kangkung yang terletak di atas daun di hadapan Wiro. Seorang manusia srigala datang menghadap.

"Apa yang terjadi prajurit?!" tanya Ratu srigala.

"Pohon di sebelah sana tiba-tiba saja bergoyang keras seperti mau tumbang. Enam mayat yang digantung jatuh ke tanah. Dua kepala yang jadi ganjalan mencelat mental! Tapi keadaan sudah kita kuasai Ratu walau kami tidak dapat mengetahui apa penyebab kejadian itu..."

"Perintahkan semua prajurit untuk lebih berjaga-jaga. Aku yakin itu pekerjaan mahluk putus asa srigala putih dan pembantunya!"

Sementara itu di bawah sana... Ada rasa tidak enak membuat Wiro tak mau memakan hidangan yang disediakan. Tapi dalam ketidakberdayaannya dia tidak mampu menolak. Nasi dan sayur disuapkan dengan paksa kedalam mulutnya. Ketika dia hendak meludahkan makanan itu tenggorokannya dicekik hingga akhirnya mau tak mau sayur dan nasi itu lewat juga dirangkungannya.

Ternyata hidangan yang disantapnya itu sedap sekali rasanya. Hingga kalau tadi Wiro merasa tidak suka, kini nasi dan sayur itu disantapnya dengan lahap sampai habis termasuk secuil kemenyan yang ada di dalam sayur. Lalu tuak dalam bumbung bambupun diteguknya sampai habis.

"Ratu, tawanan selesai bersantap. Menunggu perintahmu selanjutnya!" Sari Gali Dua melapor.

"Bawa dia ke ruang penantian. Dua hari di muka akan aku putuskan hukuman apa yang bakal dijatuhkan. Jadi ganjalan tiang istana atau jadi kembang gantung penghias langitlangit Istana!"

Sari Gali Dua menarik tengkuk pakaian putih Wiro. Dua orang prajurit manusia srigala memegang lengannya. Terdengar suara lolongan panjang. Wiro merasakan tubuhnya seperti dibawa terbang. Dia melayang ke atas sebatang pohon. Tubuhnya disandarkan ke batang pohon sebelah atas, lalu segulung tali aneh dilibatkan ke tubuhnya mulai dari kaki sampai ke dada, membuatnya laksana dipantek jadi satu dengan batang pohon. Hanya satu jangkauan dari hadapannya, dua mayat tergantung bergoyang-goyang. Satu digantung kaki ke atas kepala ke-bawah, lainnya digantung pada lehernya dan mukanya dengan mata mendelik dan lidah mencelet menghadap ke arah Wiro!

Wiro hendak mengucap menyebut nama Tuhan, tapi aneh lidahnya terasa seperti kelu. Ini bukan lain disebabkan oleh nasi dan sayur serta tuak yang disantapnya barusan. Masih untung ada secuil kemenyan yang ikut tertelan, kalau tidak keadaannya akan lebih parah. Bukan saja dia akan lupa pada Yang Maha Kuasa, tapi dia juga bisa lupa terhadap dirinya sendiri. Berada dalam keadaan terikat di atas pohon setinggi itu dalam keadaan tubuh lemah lunglai, Pendekar 212 Wiro Sableng berusaha menguatkan diri. Tapi sia-sia saja. Tak berapa lama kemudian kelihatan kepalanya terkulai ke bawah. Pendekar ini jatuh pingsan.

***

"DEWI, KULIHAT KEADAAN DI ISTANA srigala iblis sunyi. Sebagian dari mereka berburu tawanan baru di rimba Rekso Pratolo sebelah selatan. Sang Ratu keparat itu tengah berbincang-bincang dengan tiga pembantunya. Mungkin tengah menetapkan hukuman apa yang bakal dijatuhkan terhadap tawanan baru itu. Kurasa inilah saatnya kita berusaha menyelinap menolong tawanan itu..."

Sang Dewi terdiam beberapa ketika, lalu berkata: "Aku kawatir jangan-jangan ini adalah satu perangkap yang sengaja dibuat oleh Ratu celaka itu. Kita harus berhati-hati Dayang. Ingat luka di punggungmu masih belum sembuh ketika anak buah srigala iblis itu memergoki penyelinapan kita tiga minggu lalu dan sempat mencakar punggungmu?!"

"Apa yang telah kualami tidak membuatku takut, Dewi. Aku bersedia melakukan dan mengorbankan apa saja, bahkan nyawa sekalipun. Asal bisa terlepas dan keluar dari alam mahluk halus ini!"

"Aku terharu mendengar ucapanmu dan menyaksikan kesetiaanmu Dayang. Mudahmudahan para Dewa akan menolong kita. Mari kita melakukan pengintaian. Ingat, jika kita sampai ketahuan, kita harus lari berpencar agar mereka lebih susah mengejar kita."

Dayang mengangguk. Lalu kedua mahluk tanpa wujud itu berkelebat menuju kelompok pepohonan yang menjadi kawasan Istana Ratu srigala hitam.

"Kita tak bisa menembus lapisan kabut di kiri kanan dan atas belakang kawasan Istana. Kita harus lewat pintu gerbang kepala srigala. Hati-hatilah Dayang..." bisik Dewi.

Saat itu ada dua penjaga berdiri di mulut pintu gerbang. Keduanya adalah manusiamanusia srigala berkepandaian tinggi dalam ilmu hitam. Ketika Dewi dan Dayang mendekati pintu gerbang itu, keduanya segera mencium bau para pendatang ini.

"Aku mencium bau semerbak. Tapi ini bukan harumnya bau tubuh Ratu kita." kata salah seorang dari manusia srigala itu. Dia mendongak ke atas tapi tak melihat apa-apa. Lalu dia memberi isyarat pada temannya. Kedua manusia srigala ini segera melangkah ke pertengahan pintu gerbang, mengangkat kedua tangan ke atas menutup jalan masuk.

"Dayang, kita tak bisa melewati kedua pengawal itu. Kita harus melakukan sesuatu untuk membuat mereka beranjak dari pintu gerbang itu!"

Dayang menghela nafas dalam. "Inilah nasib buruk kita. Kena sumpah jadi mahluk halus, tak terlihat oleh mata siapapun tapi tetap saja tubuh kasar kita tak bisa menyelinap seperti hembusan angin..."

"Kau tak usah putus asa Dayang. Keadaan itu membedakan kita dengan mahlukmahluk halus seperti srigala-srigala iblis itu. Berarti walau entah kapan sekalipun kita masih bisa kembali ke alam dunia kita semula," kata sang Dewi pula.

"Dewi, aku akan menyalakan api di depan pintu gerbang lalu mengerang seperti orang sekarat minta tolong. Begitu mereka bergerak meninggalkan pintu gerbang, kita harus cepatcepat menyelinap..."

"Otakmu cerdik. Lekas lakukan hal itu. Aku menunggu di samping pintu gerbang, menjaga segala kemungkinan!"

Dayang tinggalkan sang Dewi. Sejarak lima tombak dari pintu gerbang berbentuk kepala srigala raksasa itu dia membakar semak belukar lalu keluarkan suara minta tolong sambil mengerang.

Apa yang terjadi di depan pintu gerbang itu serta merta menarik perhatian dua pengawal.

"Ada api di sebelah sana...!"

"Aku mendengar suara perempuan mengerang..."

"Aku juga! Mari kita menyelidik!"

Dua prajurit penjaga pintu gerbang melompat. Pada saat itulah Dewi dan Dayang masuk menyelinap.

"Kurang.ajar! Kita tertipu!" seru salah seorang manusia srigala ketika api yang tadi terlihat dari jauh tiba-tiba saja lenyap begitu juga suara erangan minta tolong! "Lekas kembali ke pintu gerbang!" Kedua manusia srigala itu cepat kembali ke pintu gerbang, tapi mereka menyadari kalau sudah kebobolan. Keduanya mencium bau harum di sekitar pintu gerbang itu.

"Lekas lapor pada Ratu!" kata salah seorang diantara mereka dengan suara bergetar karena takut. Dia tahu hukuman apa yang bakal dijatuhkan terhadapnya dan kawannya.

Ketika peristiwa itu disampaikan pada Ratu srigala, marahlah manusia srigala bertubuh perempuan ini.

"Ganti penjagaan di pintu gerbang. Seret dua pengawal ceroboh itu ke tiang gantungan!" perintah Ratu.

Dua pengawal jatuhkan diri berlutut minta ampun. Tapi sang Ratu tidak perdulikan. Dia memberi isyarat. Lima prajurit segera bergerak jalankan perintah di bawah pimpinan Sari Gali Tiga. Dua puluh prajurit disebar ke berbagai penjuru untuk melakukan penyelidikan dan pengawasan. Sang Ratu sendiri melayang ke atas pohon besar yang menjadi tempat ketidurannya. Dari sini dia memandang tajam dan kerahkan penciumannya. Ada bau harum masuk ke dalam jalan pernafasannya. Pertanda Istananya memang telah kemasukan musuh!

"Lipat gandakan penjagaan di pintu gerbang! Penyusup sudah masuk ke tempat kita! Jangan sampai lolos keluar!" teriak Ratu srigala lalu laksana terbang tubuhnya melesat ke arah pohon dimana Pendekar 212 berada. Di pohon itu dilihatnya Wiro Sableng masih berada dalam keadaan terikat dan pingsan. Dia memandang berkeliling. Tak tampak mahluk lain di sekitar situ. Tapi dia yakin ada yang telah menyusup!

Maka Ratu srigala ini lantas berteriak: "Dewi! Dayang! Jangan kalian kira aku tidak tahu kehadiranmu disini! Kalian terlalu pengecut untuk memperlihatkan diri! Apakah kalian sangka bias lolos keluar dari sini?! Sampai kiamat kalian tidak akan mampu kembali ke ujud semula! Ha... ha...ha...!"

Tak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara sitiran angin bergemerisik di daun pepohonan. Saat itu Pendekar 212 Wiro Sableng yang tadi pingsan mulai sadarkan diri. Dia mampu melihat sosok tubuh berupa kepala srigala bertubuh perempuan di hadapannya walau dalam keadaan samar-samar. Ketika Ratu srigala memandang ke jurusannya pendekar ini kembali berpura-pura pingsan.

Ratu srigala mendengus. "Jangan berpura-pura. Kau kira aku tidak tahu kalau kau sudah siuman!" bentak sang Ratu lalu jambak rambut Wiro hingga pemuda ini menyeringai kesakitan.

"Besok hukuman atas dirimu dijatuhkan! Tamat sudah riwayatmu, anak manusia! Kau tak bakal dapat kembali ke duniamu! Seumur-umur tubuhmu akan tersiksa, mati tidak hiduppun tidak!"

Wiro buka kedua matanya. Lalu menjawab. "Bagiku hidup atau mati sama saja. Yang aku kawatirkan justru keadaan dirimu, Ratu srigala..."

Mulut Ratu sengaja membuka lebar, lidahnya menjulur dan sepasang matanya mendelik ke arah Wiro yang terikat dan terpentang di batang pohon.

"Anak manusia, apa maksudmu?!" sentak Ratu srigala.

"Menyiksa atau membunuh diriku tak ada artinya... Itu tidak akan membuat dirimu bisa kembali ke bentukmu semula! Seumur-umur kau tetap akan jadi perempuan srigala!"

"Manusia keparat, jangan kau berani berkata lancang padaku!"

"Aku tidak lancang! Justru aku ingin menolongmu!" sahut Wiro.

Ratu srigala mendengus lalu tertawa panjang dan diakhiri dengan lolongan menggidikkan.

"Apa yang bisa kau tolong anak manusia? Apa kemampuanmu?! Saat ini membebaskan dirimu saja kau tidak sanggup!"

"Memang aku tidak sanggup. Tapi kau sendiri yang akan menolong melepaskan diriku. Lihat saja nanti!"

"Apa maksudmu?!"

Wiro tertawa lebar walaupun untuk tertawa begitu bibirnya yang pecah terasa sakit.

"Kau hidup di Istana megah ini sebagai seorang Ratu. Tapi apa yang kau dapat? Apakah kau mendapat kebahagiaan dan kesenangan?!"

"Aku Ratu srigala tidak butuh kesenangan atau kebahagiaan!"

"Jangan membohongi diri sendiri. Yang namanya mahluk, biar manusia atau setan dan jin, ataupun mahluk jejadian tetap membutuhkan kesenangan dan kebahagiaan! Dan sebagai seorang perempuan apakah kau tidak pernah memikirkan seorang lelaki pendamping? Seorang suami?!"

Ratu srigala tertawa panjang.

"Dalam dunia kami tidak ada yang dinamakan suami itu. Semua srigala lelaki di sini bisa jadi suami setiap saat aku ataupun pembantu-pembantuku maui" ujar Ratu srigala pula.

"Seorang Ratu secantikmu, bersuamikan lelaki berkepala srigala, apa itu lucu...?"

"Kurobek mulutmu!"

"Dengar Ratu, jika kau mau membebaskan aku, aku bersedia menjadi pendampinmu di Kerajaan ini..."

"Manusia tidak tahu diri!" sentak Ratu srigala. Tangan kanannya bergerak.

Plaak!

Satu tamparan mendarat di muka Pendekar 212 Wiro Sableng. Pemuda ini mengeluh pendek lalu jatuh pingsan. Ratu srigala pandangi Wiro sesaat kemudian tinggalkan tempat itu.

***"RATU KEPARAT ITU SUDAH PERGI, DAYANG...mari kita dekati pemuda itu..." Dewi berbisik pada pembantunya. Kedua mahluk tanpa wujud ini keluar dari balik pohon besar, melayang ke atas cabang pohon di mana Pendekar 212 berada dalam keadaan terikat.

"Dia masih pingsan Dewi. Tamparan Ratu srigala tadi keras sekali! Biar kutolong agar dia sadar..." berkata Dayang. Lalu dia mengurut beberapa bagian di kepala Pendekar 212, juga urat besar pada pangkal lehernya. Dari balik kembennya Dayang kemudian keluarkan sehelai sapu tangan yang menebar bau harum. Sapu tangan ini diusapkannya ke hidung Wiro. Sesaat kemudian Pendekar 212 terbatuk-batuk. Dayang cepat tekap mulut pemuda itu agar suara batuknya tidak terdengar.

Merasa ada yang memegang kepalanya Wiro buka kedua mata. Dia sama sekali tidak melihat siapapun. Tapi jelas terasa ada yang menekap mulutnya!

"Hantu atau jin apa pula ini?!" ujar Wiro. Dibukanya mulutnya lalu digigitnya tangan yang menekap. Terdengar suara jeritan. Suara jerit perempuan!

"Pemuda nakal! Orang hendak menolong mengapa kau gigit tanganku?!" ujar Dayang lalu lepaskan tekapannya.

"Siapa kau? Aku tidak melihat siapa-siapa!" ujar Wiro.

"Ssst...Bicara lebih perlahan. Jangan sampai terdengar srigala-srigala iblis!" yang berbisik Dewi.

"Hemm... Ada dua perempuan di dekatku! Tampang dan sosoknya tidak kulihat. Kalian pasti mahluk-mahluk halus yang kesasar ke pohon ini...!"

"Dengar, kami berdua bermaksud menolongmu. Dengan perjanjian bahwa kau juga bersedia menolong kami!" berkata Dayang.

"Kami... Kami! Siapa kalian berdua ini?" tanya Wiro tambah heran. "Aku mencium bau harum semerbak. Kalian bukan anak buahnya Ratu srigala itu?"

"Justru mereka adalah musuh-musuh kami!" jawab Dewi.

"Kalian belum menerangkan siapa diri kalian."

"Aku Dewi..."

"Aku Dayang, pembantu Dewi..."

"Aku Wiro Sableng. Tawanan Ratu srigala. Soal tolong menolong apa yang kalian bicarakan ini?"

"Jika kita bergabung, kita pasti bisa keiuar dari Kerajaan iblis ini..."

"Eh, baiknya kalian perlihatkan dulu tampang-tampang kalian. Aku tidak sudi bicara dengan angin!"

"Kami bukan angin," sahut Dayang. "Kami tidak bisa memperlihatkan diri karena sekali terlihat oleh Ratu srigala atau anak buahnya bisa celaka!"

"Penderitaanku saat ini bukan olah-olah. Jangan tambah dengan segala macam keanehan edan! Aku tidak bersedia berurusan dengan segala macam setan!"

"Mulutmu lancang sekali. Pantas Ratu srigala menamparmu tadi!" kata sang Dewi.

"Dengar, jika kita tidak saling kerja sama, sampai kiamat kita akan berada dalam alam gelap hitam dan sesat ini. Dan besok kau bakal dijatuhi hukaman. Berarti sampai kiamat kau akan tersiksa. Mati tidak hiduppun tidak. Mungkin kepalamu akan dijadikan ganjalan pohon besar kediaman Ratu srigala. Mungkin juga digantung kaki ke atas kepala ke bawah! Apa kau suka dibuat seperti itu?!"

"Jangan-jangan kalian kaki tangan Ratu srigala yang hendak menjebakku!" kata Wiro.

"Akalmu pendek amat. Kau tahu, kalau Dewiku tidak menolongmu keadaanmu saat ini pasti jauh lebih parah. Daging tubuhmu akan mengkerut dan otakmu tak bisa bekerja wajar lagi..."

"Begitu...? Pertolongan apa yang sudah dilakukan Dewimu itu?" tanya Wiro.

"Dia telah melemparkan sepotong kemenyan mujizat ke dalam sayur yang tadi kau santap. Tanpa kemenyan itu ikut tertelan olehmu nasibmu seperti yang aku bilang tadi!"

"Bagaiman aku bisa percaya apa yang kau katakana itu tidak dusta?!" ujar Wiro pula.

"Kau masih saja tidak percaya pada kami." Kata Dayang hampir putus asa.

"Katakan saja apa sebenarnya yang tadi disantap dan diminumnya itu!" terdengar suara sang Dewi.

"Memangnya apa yang sudah kumakan dan kuminum?!" tanya Wiro.

Maka Dayangpun menjawan, "Apa yang kau lihat sebagai nasi putih mengepul bukan lain adalah kotoran mahluk-mahluk srigala."

"Apa?!" Kedua mata Wiro membelalak.

"Sayur yang kau lahap adalah cacing-cacing tanah!"

"Ah! Tidak mungkin!" seru Wiro. Perutnya jadi mual.

"Sstttt! Jangan membuka mulut keras-keras!" memperingatkan Dewi.

Lagi Dayang menyambung, "Dan tuak dalam bumbung yang kau teguk habis itu adalah air kencing manusia-manusia srigala itu!"

Wiro ternganga. "Aku tidak percaya..." katanya. "Aku jelas-jelas melihat nasi putih, sayur kangkung dan tuak harum!"

Sang Dewi tertawa lalu berkata: "Dalam dunia halus, mata orang biasa menjadi terbalik. Apa yang dilihatnya bisa tidak sama dengan yang sebenarnya. Dan itu yang terjadi dengan dirimu..."

"Kalau memang begitu, dan kau punya niat menolongku, mengapa kau tidak mencegah aku menyantap kotoran, cacing dan air kencing itu....?"

"Kami berdua tidak punya kemampuan untuk melakukannya!"

"Kalau begitu berarti kau bohong besar mengatakan hendak bergabung dan saling menolong! Kau tidak mampu!"

"Kami berdua memang tidak mungkin. Tapi bersamamu kami bisa! Kau mempunyai kesaktian luar biasa untuk bisa menghancurkan Kerajaan srigala iblis..."

"Dalam keadaan tidak berdaya begini apa yang bisa kulakukan selain menerima nasib...!"

"Jangan buru-buru putus asa! Bukankah sudah kami katakan kami akan menolongmu?" ujar Dayang.

"Selama aku tidak melihat ujud kalian berdua, aku tak akan percaya. Apalagi saling tolong menolong!"

Dayang dan Dewi saling pandang, lalu saling berbisik. Kemudian terdengar suara Dewi. "Jika kami perlihatkan wujud kami, apakah kau tidak akan menyesal dan membatalkan perjanjian saling menolong?"

"Aku akan memegang janji!" jawab Wiro.

"Kalau begitu lihatlah baik-baik. Kami hanya bisa memperlihatkan diri dalam sekejapan mata saja!" kata Dewi.

Wiro buka matanya besar-besar. Ada angin bersiur di hadapannya. Sesaat kemudian dua sosok tubuh muncul di depannya. Keduanya berupa sosok perempuan berkepala srigala. Bedanya dengan manusia-manusia srigala sebelumnya dua srigala ini berbulu putih. Yang satu memiliki tubuh dan kulit serta pakaian bagus. Seperti Ratu srigala, srigala putih yang satu ini juga memiliki mahkota kecil di kepalanya. Tubuhnya memancarkan bau harum semerbak.

Ketika dua sosok itu lenyap, Pendekar 212 Wiro Sableng masih ternganga bengong.

"Kalian berbulu putih, siapa kalian ini sebenarnya ...?" ujar Wiro.

"Aku adalah puteri Prabu Blambangan. Terkena kutukan karena berbuat kesalahan besar, memberi malu sang Prabu. Dayang adalah pembantuku yang setia..."

"Sulit kupercaya! Kerajaan Blambangan hadir dua ratus tahun silam. Bagaimana mungkin kini kalian masih gentayangan...?"

"Memang sulit dipercaya, tapi itulah kenyataannya. Selama dua ratus tahun kami hidup dalam keadaan seperti ini. Menurut mimpi yang kualami, engkaulah satu-satunya orang yang bisa mengeluarkan kami dari malapetaka ini, kembali ke alam yang Jebih sempurna..."

"Kesalahan apakah maka sang Prabu sampai mengutuk kalian begini rupa?"

Dayang dan Dewi saling pandang. Akhirnya sang Dewi menjelaskan dalam alam tanpa wujudnya. "Sebagai anak dan puteri bungsu, aku menjalin cinta dengan seorang pemuda bernama Dharmasala. Celakanya pemuda itu sudah dijodohkan dengan puteri sulung, yakni kakak perempuanku sendiri. Karena Dharmasala tidak mencintai kakakku, maka kami berdua menempuh jalan sesat untuk membatalkan perkawinan kakakku dengan Dharmasala. Kami sengaja melakukan hubungan badan sampai aku melahirkan seorang anak perempuan.

Di Kerajaan kami memang ada semacam adat kebiasaan. Bila lahir seorang bayi dari hubungan tidak syah, maka kedua orang tuanya wajib dikawinkan. Ternyata perkawinan itu tidak terjadi.

Sang Prabu sangat marah. Beliau mengutuk aku dan Dayang menjadi srigala putih sedang Dharmasala dikutuk menjadi batu..."

"Tunggu dulu!" ujar Wiro memotong. "Aku menemui seorang pemuda di hutan Rekso. Lehernya digelungi ular. Tapi dia kemudian berubah jadi patung batu. Anehnya patung itu bisa menangis! Itukah kekasihmu Dharmasala?!"

"Betul sekali. Saat ini dia berada di bawah pohon sana, tak jauh dari pohon kediaman Ratu srigala. Ular yang selalu bergelung dilehernya adalah ular penjaganya hingga dia tak mungkin melarikan diri..."

"Aku sudah membunuh binatang itu. Meng-hancurkannya sampai berkepingkeping..."

"Binatang itu tak bisa dibunuh, kecuali oleh kami. Tapi kami tidak berdaya. Selama masih dalam wujud kutukan ini, kami tak bakal dapat melakukannya."

"Aku seperti mendengar orang bercerita tentang mimpinya..."

"Ini bukan mimpi. Ini adalah kenyataan yang sudah terjadi sejak dua ratus tahun lalu!" sahut Dayang.

"Setelah kalian berdua dimakan kutuk, lalu apa yang terjadi dengan kakak perempuanmu?" bertanya Wiro kemudian.

"Diapun terkena kutuk. Termasuk tiga pembantu dan puluhan pengikutnya. Dialah yang kau lihat sebagai Ratu penguasa Kerajaan Iblis ini!"

"Astaga! Dia rupanya!" ujar Wiro sampai le-letkan lidah.

"Waktu di hutan beberapa hari lalu, adakah kau mendengar suara bayi menangis...?!" bertanya Dewi.

"Ya, memang kudengar. Apakah ....?"

"Itu adalah suara tangis orokku. Bayi malang itu dibunuh oleh kakak perempuanku. Tujuannya adalah untuk mencegah agar aku kawin dengan Dharmasala. Tanpa bayi sebagai bukti aku tak akan bisa kawin, Tapi ayah kemudian mengutuknya. Dia bersama pembantu dan pengikutnya menjadi srigala-srigala hitam. Hidup dalam alam sesat, melakukan pembunuhan dan penganiayaan keji tiada taranya!" Wiro jadi termangu mendengar semua penuturan itu.

Lalu dia berkata, "Sekarang, apa yang bisa kulakukan dalam keadaan tak berdaya ini?!"

"Kami tahu kau hilang kekuatan karena mantera jahat Ratu srigala. Kau tak mampu menggerakkan bagian tubuhmu sebelah atas. Kau tidak mampu mengerahkan tenaga dalam.

Dewi akan menolongmu agar kekuatanmu pulih kembali...... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.81.110.114
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia