Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

SAAT ITU menjelang fajar menyingsing. Kesunyian dirobek oleh suara tawa bergelak seseorang. Orang ini tengah berlari cepat ke jurusan timur. Jelas suara tawanya bukan tawa sembarangan. Bukan saja mengejutkan burung-burung serta binatang-binatang lain yang tengah tertidur nyenyak dalam pelukan udara dingin, tetapi juga menggetarkan tanah pada tempat-tempat yang dilajuinya.

Begitu cepat manusia ini berlari hingga dalam waktu singkat dia sudah menempuh jarak ratusan tombak. Suara tawanya masih juga terus mengumandang. Di lain saat di ufuk timur merambas sinar terang tanda matahari telah terbit menyembulkan diri. Tanda malam telah berganti dengan siang.

Orang itu hentikan larinya. Dibasahinya mukanya dengan air embun yang menempel pada dedaunan di sekitarnya, Setelah merasakan kesegaran maka dia meneruskan perjalanan kembali. Seperti tadi lagi-lagi berlari sambil mengumbar tawa. Namun sekali ini suara tawanya tidak berlangsung lama.

Dua bayangan hijau berkelebat. Satu teguran yang hampir merupakan bentakan lantang terdengar.

"Singgar Manik! Gerangan apakah yang membuatmu pagi-pagi begini demikian gembiranya?!"

Orang yang lari sambil tertawa hentikan Jari dan memandang ke depan. Begitu melihat dua manusia berjubah hijau yang berdiri sepuluh langkah di hadapannya, bergetarlah hatinya. Perasaannya serta merta jadi tidak enak.

Dua orang berjubah hijau itu adalah dua brahmana kembar dari Bali yang dikenal dengan julukan Sepasang Kobra Dewata.

Jubah mereka yang hijau, kepala yang botak plontos ditambah muka yang lebar serta tampang-tampang yang tidak sedap untuk dipandang, membuat keduanya benar-benar hampir menyerupai dua ekor ular kobra yang angker. Siapa tokoh silat di Jawa Timur yang tidak kenal dengan dua manusia yang menguasai rimba persilatan di Pulau Dewata ini?

Mereka bukan dari golongan baik-baik. Inilah yang membuat orang tadi yakni Singgar Manik merasa tidak enak walau dia sendiri bukan pula tergolong manusia bersih dan baik!

Setelah berbasa basi dan menjura pada kedua orang itu Singgar Manik lantas berkata: "Di pagi begini bertemu dengan Sepasang Kobra Dewata sungguh merupakan hal yang tidak terduga. Satu kehormatan bagiku kalian mau menegur bertutur cakap. Hendak kemanakah kalian berdua?"

Nyoka Gandring, orang tertua dari Sepasang Kobra Dewata rangkapkan tangan di muka dada. Sambil mengulum senyum dia berkata: "Angin kegembiraanmu lah yang agaknya telah membawa kami ke mari. Coba kau terangkan apa. yang begitu menggembirakanmu hingga tertawa bergelak sepanjang jalan? "

"Ah, sebenarnya tidak ada apa-apa," menjawab Singgar Manik. Hatinya semakin tidak enak. "Aku tertawa karena menurutku hidup dengan tawa gembira bisa mendatangkan kebahagiaan."

"Betul sekali!" menyahuti orang kedua dari Sepasang Kora Dewata yaitu Nyoka Putubayan. "Tetapi kami mendapat firasat bahwa kegembiraanmu kali ini bukan kegembiraan biasa. Terangkanlah. Bagi sedikit kegembiraanmu itu pada kami berdua!"

Singgar Manik coba tersenyum.

"Jika kalian memang ingin bergembira, mari ikut ke tempat kediamanku biar kujamu makanan dan minuman yang enak enak! Dan kalau kalian butuh perempuan cantik untuk hiburan, tak usah kawatir. Katakan saja kalian mau yang bentuk bagaimana aku Singgar

Manik pasti menyediakannya!"

Nyoka Gand ring mendehem beberapa kali sedang Nyoka Putubayan hanya menyeringai.

" Aih, undanganmu sungguh patut untuk diterima, Hanya sayang kami tak punya waktu banyak. Karenanya kuharap kau sudi membagi kegembiraan mu di sini saja sobatku Singgar Manik!?

Singgar Manik coba sembunyikan rasa kagetnya sambil berkata: "Kegembiraan apakah yang musti kuberikan di sini. Kau ini ada-ada saja, sobatku Nyoka Gandring. Ah,

akupun tidak punya banyak waktu . . . "

Singgar Manik menjura dalam-dalam lalu siap untuk meninggalkan kedua orang itu.

Tetapi Nyoka Putubayan cepat bergerak menghadangnya seraya berkata: "Kenapa

musti terburu-buru Singgar Manik. Siang masih jauh. Lagi pula pembicaraan kita belum selesai"

"Harap maafkan aku sobat-sobatku. Aku musti cepat kembali ke tempat kediamanku. Ada seorang tamu yang bakal datang"

Nyoka Putubayan kembali menyeringai lalu bertanya: "Apakah tamumu itu pemilik tusuk kundai mustika yang kau curi dan sekarang berada di balik pakaianmu . . . . ?!"

Kini Singgar Manik tak dapat lagi menyembunyikan perubahan air mukanya. Meskipun demikian dia masih menjawab: "Nyoka Putubayan, aku tidak mengerti. Kau ini membicarakan soal apakah?"

Nyoka Putubayan tersenyum jumawa. Sambil rangkapkan sepasang tangan di depan dada dia lalu berkata: "Seminggu lalu kami ketahui kau berada di sekitar danau Jembangan. Kau telah mencuri sebentuk tusuk kundai dari tempat kediaman tokoh silat yang bergelar Si Pemusnah Iblis. Tusuk kundai itu bukan benda sembarangan. Merupakan satu senjata mustika. sakti. Sejak lama kami dengar kau adalah seorang pencuri lihay yang suka mencuri dan mengumpulkan barang-barang curian itu, terutama benda-benda mustika, apalagi berupa senjata pasti jadi incaranmu. Sekarang perlihatkan pada kami tusuk kundai itu!"

Singgar Manik geleng-geleng kepala sambil berdecak.

"Pendengaran dan penglihatan kalian benar-benar tajam luar biasa. Memang satu minggu lalu aku berada di danau Jembangan. Aku berniat hendak mencuri tusuk kundai yang kau katakan itu. Namun maksudku tidak kesampaian. Si Pemusnah Iblis terlalu tinggi ilmunya. Dia memergokiku. Untuk melawannya aku mana punya kemampuan? Daripada mendapat celaka lebih baik mengundurkan diri. Lain hari jika angin baik aku akan berusaha lagi mendapatkannya. Kalau kalian mau ikut sama-sama, hatiku akan senang sekali! Nah puaskah kalian atas keteranganku ini?!"

"Puas! Puas sekali! "sahut Nyoka Putubayan. Lalu saudaranya menimpali: "Juga

puas sekali melihat kecerdikanmu. Tapi jangan harap kau bisa menipu Sepasang Kora Dewata dengan kecerdikanmu itu Singgar Manik. Keluarkan tusuk kundai itu. Berikan padaku. Lekas! Jangan berani berbohong!" Habis berkata begitu Nyoka Gandring

ulurkan tangannya.

"Nyoka Gandring! Apakah aku harus bersumpah untuk meyakinkan bahwa aku betul-betul belum berhasil mendapatkan tusuk kundai mustika itu?"

"Bersumpah?! Bagus juga. Tapi jangan bersumpah pada Dewa atau Tuhan! Bersumpahlah pada setan! Ayo serahkan senjata mustika itu padaku sebelum aku kehilangan kesabaran!" Nada suara Nyoka Gandring mengandung hawa ancaman.

Singgar Manik terkesima sesaat. Dia menimbang-nimbang. Untuk mengikuti kemauan Sepasang Kobra. Dewasa itu terlalu berat baginya. Sebaliknya tidak mengikuti berarti melawan yang pasti disusul dengan terjadinya bentrokan. Menghadapi Sepasang Kobra Dewata yang terkenal hebat itu bukan satu hal yang mudah.

Tiba-tiba Nyoka Gandring mendengus. Matanya yang besar memandang garang pada Singgar Manik. Kedua kakinya merenggang sedang sepasang tangannya yang tadi mendekat di dada perlahan-lahan bergerak diturunkan.

"Kuhitung sampai tiga. Jika tusuk kundai itu tidak juga kau serahkan, maka bersiaplah untuk mampus!"

"Nyoka Gandring! Dengar dulu keteranganku..."

"Satu!"

Nyoka Gandring mulai menghitung;

"Benda itu benar-benar tak ada padaku!"

"Dua........ !"

"Aku bersumpah!"

"Tiga!"

Singgar Manik bersurut mundur.

NyokaGandring membentak buas lalu hantamkan tangan kanannya ke arah Singgar Manik. Serangkum angin deras datang menyambar. Singgar Manik cepat menyingkir seraya berseru:

"Antara aku dan kalian tak ada silang sengketa! Kenapa menyerang aku sejahat ini?! "

"Wus!"

Serangkum angin lagi menyapu ganas. Kali ini datang dari samping. Untuk, kedua kalinya Singgar Manik melompat dan berhasil selamatkan diri.

"Adikku mari kita beg pelajaran pada pencuri penipu ini!" seru Nyoka Gandring.

Bersama Nyoka Putubayan maka diapun kembali menyerbu Singgar Manik. Menghadapi satu saja dari Sepasang Kobra Dewata sudah merupakan hal yang sulit bagi Singgar Manik. Apalagi melawan keduanya sekaligus. Terpaksalah dia harus bertindak cepat dan hati-hati. Sekali salah gerakan atau salah langkah tak ampun lagi serangan lawan pasti akan mencelakakannya, bahkan mungkin membunuhnya!

Sambil berkelebat mengelak Singgar Manik tiada hentinya berteriak agar Sepasang Kobra Dewata menghentikan serangan. Namun dua brahmana berjubah hijau ini tidak ambil perduli. Malah mereka semakin memperhebat serangan masing-masing. Hingga

setelah bertahan susah payah selama delapan jurus Singgar Manik mulai tampak terdesak!

DUA KALI pukulan keras Nyoka Gandring bersarang di tubuh Singgar Manik. Lalu satu jotosan Nyoka Putubayan menghantam rusuknya pula. Singgar Manik tampak terhuyung-huyung. Keningnya mengerenyit menandakan dia tengah menahan rasa sakit yang amat sangat. Salah satu hantaman Nyoka Gandring tadi telah membuat tubuhnya terluka di bagian dalam.

Jika dia bertahan terus, cepat atau lambat maut pasti akan merenggut nyawanya. Karenanya Singgar Manik sedapat mungkin berusaha mengintai kelengahan lawan agar dapat menerobos keluar dari kurungan mereka lalu melarikan diri.

Singgar Manik lepas dua pukulan tangan kosong yang dahsyat ke arah kedua lawannya. Lalu susul dengan serangan senjata rahasia.

Sepasang Kobra Dewata melompat jauh untuk mengelakkan pukulan sedang untuk menangkis serangan senjata rahasia, mereka kebutkan lengan jubah hijau masing-masing hingga senjata rahasia itu mental berantakan.

Gerakan-gerakan lawan inilah yang memang ditunggu Singgar Manik. Melihat adanya kesempatan tanpa tunggu lebih lama pencuri kelas kakap ini segera putar tubuh dan kabur.

Namun Sepasang Kora Dewata bukan manusia-manusia kemarin. Dari gerakan yang dibuat lawan mereka sudah maklum apa yang sedang direncanakan Singgar Manik. Karenanya begitu lawan ambil ancang-ancang untuk larikan diri, Nyoka Gandring dan Putubayan cepat berkelebat menghadang.

Melihat dirinya dihadang begitu rupa hingga ga gal kabur, dengan penasaran Singgar Manik lepaskan satu pukulan ke batok kepala Nyoka Gandring. Sambil mendengus yang diserang menangkis dan balas menjotos. Dua kepalan beradu mengeluarkan suara keras. Singgar Manik terpekik. Tubuhnya terdorong sampai empat langkah dan ketika diperhatikan tiga jari, tangan kanannya telah hancur. Di depannya sebaliknya Nyoka Gandring tegak sambil tolak pinggang dan menyeringai mengejek.

"Masih juga kau belum mau menyerahkan tusuk kundai itu?" dengus Nyoka Gandring.

"Manusia keparat! Kalau kau mau k an benda itu, ini kau ambillah!"

Selesei berkata begitu Singgar Manik mengeruk ke balik pakaian. Sesaat kemudian sebuah benda, yakni sebuah tusuk kundai dari perak berbentuk sederhana berada dalam genggamannya. Dengan mengandalkan tusuk kundai ini sebagai senjata diapun menyerang Nyoka Putubayan.

Sinar putih yang disertai angin panas menyembur dari tusuk kundai! Nyatalah benda yang biasanya menjadi hiasan di kepala perempuan itu bukan benda biasa, tetapi sebentuk senjata mustika sakti. Karena kesaktiannya inilah Sepasang Kobra Dewata menginginkannya. Ingin merampas dari Singgar Manik yang mereka anggap sebagai pencuri dan penipu besar.

Nyoka Putubayan yang sudah maklum kehebatan tusuk kundai itu tak ayal lagi cepat menyingkir sambil kebutkan lengan jubahnya. Sebaliknya Singgar Manik tidak tinggal diam. Dia teruskan serangannya dengan membalikkan mata tusuk kundai ke arah tangan lawan.

Bret!

Lengan jubah hijau Nyoka Putubayan robek besar direnggut bagian runcing tusuk kundai! Nyoka Putubayan sendiri merasakan lengannya menjadi ngilu panas. Masih untung hanya lengan jubahnya saja yang robek. Jika daging tangannya sampai kena atau terluka oleh senjata itu yang kabarnya menyerap racun jahat, niscaya celakalah dirinya!

"Adikku hati-hati!"

Nyoka Gandring memberi ingat. "Bangsat pencuri senjata itu tak usah kita takutkan.

Tapi terhadap tusuk kundai itu kau harus waspada!"

Singgar Manik yang melihat kejerihan lawan tertawa mengejek.

"Jika kalian sudah tahu kehebatan tusuk kundai ini mengapa tidak lekas-lekas minggat dari sini? Apa kalian tunggu sampai benar-benar kena kucelakai!"

"Singgar Manik! Jangan keliwat sombong!" teriak Nyoka Putubayan. "Coba kau terima pukulan ku ini!" Habis berkata begitu Nyoka Putubayan hantamkan tangan kannya ke depan. Angin laksana badai menggebu bu ke arah Singgar Manik.

Ketika merasa tubuhnya tergetar hebat bahkan hampir roboh oleh angin pukulan lawan Singgar Manik serta merta sapukan tusuk kundai yang dipegangnya ke depan. Hebat! Angin pukulan orang kedua dari Sepasang Kobra Dewata itu musnah!

Kejut Nyoka Putubayan. bukan kepalang, juga kakaknya ketika menyaksikan kejadian itu. Pukulan yang barusan dilepaskannya adalah pukulan Kobra Sakti Mematuk. Merupakan salah satu pukulan simpanannya. Dia bersama kakaknya telah meyakini ilmu pukulan itu selama bertahun-tahun, ternyata sanggup dibikin punah oleh tusuk kundai kecil itu!

Menyadari kehebatan tusuk kundai perak itu, semakin keraslah hasrat Sepasang Kobra Dewata untuk memilikinya. Keduanya saling kedipkan mata memberi isyarat. Lalu didahului dengan bentakan-bentakan nyaring mereka menyerbu. Satu datang dari samping kiri, satunya lagi dari sebelah kanan.

Singgar Manik hantamkan tusuk kundainya pada Nyoka Putubayan yang menyerang lebih dulu dan lebih dekat di hadapannya. Sebelum serangannya sampai brahmana dari Bali ini tahu-tahu sudah lenyap dari pemandangan. Bersamaan dengan itu dari samping menderu angin pukulan kencang luar biasa.

Sekali ini kembali Singgar Manik rasakan tubuhnya tergoncang keras hendak roboh. Segera dia kiblatkan tusuk kundai perak ke samping. Namun satu pukulan telak menghantam per gel angan tangan kanannya hingga tulang lengannya patah dan tusuk kundai yang tadi dipegangnya terlepas mental! Singgar Manik menjerit kesakitan.

Dia melompat untuk menyambar tusuk kundai yang mental di udara dengan tangan kiri. Namun tubuhnya segera terbanting ke belakang begitu satu jotosan melanda dadanya dengan keras!

Lelaki ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Dengan mengandalkan kepandaiannya dia berjumpalitan dan cepat berdiri sambil pasang kuda-kuda baru. Namun dadanya sudah terlanjur sakit. Tenggorokannya terasa panas. Sesaat kemudian darah kental mengalir keluar dari sela bibirnya. Memandang ke depan dia lihat Nyoka Putubayan sudah berhasil menguasai tusuk kundai perak itu.

"Singgar Manik!" kata Nyoka Putubayan seraya acungkan tusuk kundai di tangan kanannya. "Kami Sepasang Kobra Dewata masih punya rasa kemanusiaan terhadapmu. Berlalulah dari hadapan kami sebelum kami berubah pikiran dan minta nyawamu.

Singgar Manik semburkan darah dan ludah dari mulutnya.

"Sialan! Kau tunggu apa lagi? Dikasih hidup malah menantang! "hardik Nyoka Gandring.

"Bangsat!" kertak Singgar Manik. "Aku mengadu jiwa dengan kalian!"

Lalu Singgar Manik menyerang ke depan.

"Manusia tolol!" teriak Nyoka Gandring.

"Benar-benar minta mampus!" berseru Nyoka Putubayan seraya tusukkan tusuk kundai di tangan kanannya. Tanpa bisa mengelak Singgar Manik keluarkan jeritan panjang. Tusuk kundai menghantam tepat di keningnya hingga berlubang dalam dan darah mengucur. Lelaki ini menjerit sekali lagi lalu tubuhnya terputar ke samping dan roboh tak berkutik lagi, mati dengan mata melotot!

Nyoka Putubayan seka tusuk kundai yang bernoda darah dengan ujung lengan jubahnya. Dia perhatikan Singgar Manik sebentar lalu meludah dan berkata: "Diberi ampun minta racun! Diberi hidup minta mampus!"

Orang kedua dari Sepasang Kobra Dewata ini memberi isyarat pada kakaknya. Kedua brahmana itu kemudian berkelebat tinggalkan tempat itu.



DI ATAS tempat tidur rotan itu duduk bersila seorang tua bermata buta. Kedua kakinya buntung sebatas lutut sedang kedua tangannya di rangkapkan di muka dada. Kepalanya menghadap lurus-lurus ke pintu pondok yang terbuka. Rambutnya yang putih melambai-lambai ditiup angin yang datang dari arah danau.

"Hentikan tangismu Lestari!" Tiba-tiba orang tua ini berkata dengan nada keras. "Sampai kiamat kau menangis benda yang hilang itu tak bakal bisa kembali!"

Dara berbaju putih yang duduk sesenggukan didepan si orang tua menyusut air matanya dengan tepi pakaian. Bibirnya bergetar dan tubuhnya bergoncang menahan tangis yang seperti hendak meledak.

"Tusuk kundai itu bukan benda biasa Lestari. Kau tahu hal itu !" berkata lagi si orang tua.

Sekali ini Lestari menyahuti dengan suara gemetar: "Saya tahu eyang. Saya tahu semua salah saya....Saya bersedia dihukum untuk kelalaian ini!"

"Benda itu bukan hanya merupakan senjata sakti, tapi juga sebagai tanda perjodohanmu-Kini ketika aku pergi tusuk kundai itu lenyap! Amblas dicuri orang. Dan kau tidak tahu siapa pencurinya!"

Orang tua berambut putih itu diam sesaat lalu meneruskan kata-katanya: "Bagaimana aku musti mempertanggung jawabkan nanti pada Sinto Gendeng!

Tusuk kundai perak itu diberikannya padaku dua tahun yang lalu sebagai tanda persetujuan ikatan jodoh antaramu dengan murid tunggalnya yaitu Wiro Sableng, pemuda sakti bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Ayo, coba kau katakan bagaimana aku musti mempertanggung jawabkannya! Jika saja kedua kakiku ini tidak buntung pasti sudah sejak lama aku meninggalkan pondok gua mengejar pencuri laknat itu!"

"Eyang, saya yang salah ini yang akan pergi mencari benda yang hilang itu," Lestari membuka mulut "Saya tak akan kembali sebelum dapat...."

Orang tua itu usap-usap dagunya. Dia tengah menimbang-nimbang. Akhirnya dia berkata: "Terserah padamu apapun yang bakal kau lakukan. Kau boleh pergi. Kuharap kau dapat menemukan tusuk kundai itu kembali. Kalau tidak, aku tak tahu lagi bagaimana menghadapi Sinto Gendeng nanti.

Gadis bernama Lestari berdiri. Dia masuk ke da-lam sebuah kamar. Ketika keluar sudah berganti pakaian. Kini dia mengenakan pakaian merah ringkas. Di pinggangnya tergantung sebilah pedang merah. Rambutnya yang tadi panjang tergerai kini diikat buntut kuda. Meski wajahnya murung dan kedua matanya merah habis menangis namun kecantikannya masih terlihat jelas.

"Eyang, saya sudah siap untuk berangkat," katanya pada si orang tua.

Orang tua itu mengangguk dan memberi isyarat agar gadis itu datang mendekat. Sambil menepuk-nepuk bahu Lestari dia berkata: "Pergilah. Lekas kembali jika tusuk kundai itu kau temukan."

"Baik eyang."

"Ada baiknya jika kau hubungi beberapa tokoh persilatan golongan putih. Mungkin kau dapat menyirap keterangan dari mereka. Jangan lupa meminta bantuan mereka jika sewaktu-waktu kau ditimpa mara-bahaya dan kau tak sanggup menghadapinya seorang diri."

"Semua nasihat eyang saya perhatikan.".

Setelah menjura tiga kali berturut-turut di hadapan gurunya Lestari tinggalkan pondok itu.

Ratusan tombak meninggalkan danau Jembangan, di satu tempat yang penuh dengan pepohonan rindang Lestari berhenti untuk istirahat. Dia duduk di bawah sebatang pohon sambil memikirkan kemana dia harus pergi dan bagaimana caranya dapat mengetahui siapa pencuri tusuk kundai pertanda jodohnya dengan Wiro Sableng.

Ingat soal jodoh wajah sang dara jadi kemerahan. Sebelum peristiwa besar penghancuran Istana Darah beberapa waktu yang lalu (baca serial Wiro Sableng Hancurnya Istana Darah) gadis itu tak pernah tahu kalau dirinya telah dijodohkan oleh gurunya dengan Wiro Sableng. Wiro sendiri agaknya begitu pula ketika secara kebetulan gurunya memberi tahu , mengenai urusan perjodohan itu. Bagi Lestari dia tak akan menolak hal apapun yang dilakukan gurunya karena dia percaya bahwa semua itu untuk kebaikan dirinya. Namun yang jadi pertanyaan apakah Pendekar 212 Wiro Sableng bersedia mematuhi ikatan jodoh yang tak pernah diketahuinya sebelumnya. Pemuda itu telah menyelamatkan diri dan kehormatannya dari Hulubalang Istana Darah. Hutang nyawa itu tak mungkin akan dibalasnya. Pembalasan hanya bisa dilakukan dengan bersedia menjadi istri Wiro, setia dan mengabdi pada suami. Tapi apakah dia mencintai pemuda itu?

Memandang ke langit Lestari melihat matahari telah tinggi. Hari telah bertambah siang. Akhirnya sang dara lanjutkan perjalanan. Belum sampai seratus tombak jauhnya murid silat dari danau Jembangan ini lanjutkan perjalanan, mendadak bau amat busuk menyambar hidungnya. Lestari hentikan langkah dan memandang berkeliling. Dia dapatkan bau busuk itu datang dari jurusan tenggara. Segera dia melangkah menuju sumber bau itu untuk mengetahui lebih jauh. Mula-mula dia melihat burung-burung gagak hitam pemakan bangkai, terbang berputar-putar lalu menukik turun, kemudian terbang kembali ke udara, demikian berulang kali. Berjalan lima puluh langkah lagi Lestari melihat benda yang menjadi sumber bau busuk itu. Yakni sesosok tubuh manusia yang terbakar di tanah dalam keadaan busuk dan rusak.

Lestari tak berani mendekat. Dari tempatnya berdiri dia melihat kedua mata mayat itu hanya tinggal merupakan dua lobang besar mengerikan. Hidung dan bibirnya, bahkan hampir keseluruhan daging pada wajahnya telah habis berlubang-lubang digerogoti burung-burung gagak. Demikian pula daging di bagian tubuh lainnya yakni dada, perut dan kedua kaki serta tangan.

Tak dapat Lestari menduga siapa adanya orang yang telah jadi mayat ini. Matanya yang tajam dapat melihat dua buah titik lobang pada kening mayat serta darah yang telah keras membeku.

Mayat busuk yang dijumpai sang dara bukan lain adalah mayat Singgar Manik yang dibunuh oleh Sepasang Kobra Dewata.

Karena tak tahan oleh bau busuk yang amat sangat Lestari segera hendak tinggalkan tempat itu. Namun matanya masih sempat melihat sepotong kain berwarna hijau. Lestari ambil potongan kain ini dan menelitinya. Mungkin sekali ini sobekan ujung lengan

pakaian. Lengan pakaian siapa? Dia memandang pada mayat. Mungkin lengan pakaian orang yang membunuh? Agaknya telah terjadi perkelahian sebelumnya di tempat itu. Tanda-tanda memang menyatakan demikian.

"Mungkin ada gunanya jika kusimpan," membatin Lestari. Robekan kain hijau itu lalu dimasukkannya ke balik pakaian merahnya.

Dia memandang lagi berkeliling. Karena tak ada lagi yang bisa ditemukannya di tempat itu sang dara segera berlalu.



SEBENARNYA TAMPANG pemuda itu cukup gagah asal kulit mukanya tidak amat pucat dan tubuhnya tidak tinggi kerempeng macam tiang bambu. Jika saja dia bukan putera seorang-bekas perwira kerajaan, niscaya mulut-mulut usil di kota Jember akan menggelarinya "Si Jangkung Kerempeng Muka Mayat" atau "Si Pucat Kerempeng" atau lain sebagainya. Namun karena dia putera bekas perwira tinggi kerajaan yang dulu dihormati rakyat maka tak ada penduduk yang tega memberi gelar ejekan itu pada si pemuda.

Di samping itu pemuda ini juga memiliki ilmu pedang yang hebat, yang dipelajarinya dari ayahnya; Sebagai seorang perwira tinggi yang pernah mengabdikan diri selama dua puluh lima tahun pada kerajaan, sang ayah memiliki ilmu pedang yang sangat tinggi hingga semasa jayanya dia mendapat julukan "Raja Pedang Kotaraja".

Meski sang anak belum mewarisi seluruh kepandaian ayahnya namun tingkat kepandaiannya cukup mengagumkan. Lima orang perwira muda kerajaan yang mengeroyoknya sekaligus belum tentu dapat mengalahkannya dalam perkelahian dua puluh lima jurus!

Kalaupun pemuda itu tidak sampai diberi julukan mengejek oleh penduduk, namun rata-rata banyak penduduk yang tidak suka padanya. Ini disebabkan kesombongannya. Dan kesombongan ini berpangkal pada kepandaiannya memainkan pedang. Menurut dia selain ayahnya maka dialah jago pedang kelas satu di tanah Jawa. Karenanya semua orang harus hormat dan tunduk padanya. Harus melakukan apa saja yang dimintanya!

Hari itu Ronggo Bogoseto, demikian nama putera bekas perwira kerajaan itu, berada di rumah makan paling besar di kota Jember. Dia duduk di meja besar bersama tiga orang kawan, asyik menyantap hidangan. Di luar rumah makan terdapat sebuah tong sampah yang telah dua hari tidak dibersihkan hingga isinya meluber dan bau busuk menebar serta lalat datang bergerombolan. Binatang ini ternyata tidak hanya mencari makanan pada tong sampah itu saja, tetapi juga masuk dalam rumah makan, hingga di atas makanan yang terhidang di meja.

Sejak tadi Ronggo Bogoseto dan kawan-kawannya terganggu dengan adanya puluhan lalat ini. Lama-lama pemuda muka pucat ini jadi jengkel. Sambil mengomel dia berteriak memanggil pelayan. Pelayan datang dengan cepat dan ketakutan. Dengan mata melotot dan mulut tersumpal makanan Ronggo Bogoseto membentak hingga sebagian makanan dalam mulutnya tersembur mengenai muka dan pakaian si pelayan.

"Lekas usir lalat-lalat celaka itu t Kalau tidak aku tak akan mau membayar makananmu yang jadi kotor dihinggapinya!"

Tentu saja pelayan segera melakukan apa yang diperintahkan si pemuda. Dia mempergunakan dua buah serbet sekaligus, mengusir lalat. Namun baru saja diusir binatang-binatang ini kembali datang, malah lebih banyak.

"Tolol! Coba kau pasang lampu di atas meja ini! Lalat takut dengan lampu!" bentak Ronggo Bogoseto seraya menggebrak meja.

Sebuah lampu minyak lalu dinyalakan. Apinya sengaja diperbesar. Tetapi lalat yang ada di atas dan sekitar meja terlalu banyak untuk dapat ditakuti dengan lampu itu.

"Binatang sialan!" makin salah seorang kawan Ronggo Bogoseto. Dia pergunakan kedua tangannya menepuki binatang itu. Dua kawannya melakukan hal yang sama. Banyak lalat yang mati, tapi tangan mereka jadi kotor sedang jumlah lalat tak banyak berkurang.

Ronggo Bogoseto jadi marah. Dia mendengus dan meludah seenaknya di lantai rumah makan. Sambil memandang berkeliling dengan mata mendelik dia berteriak.

"Kawan-kawan, melihat kalian menepuki binatang celaka itu aku jadi ingat pada cerita tentang seorang yang mampu membunuh tujuh lalat dengan sekali tepuk! Hai, apa kalian pernah dengar cerita itu?!" Ketiga pemuda kawannya itu sama mengatakan pernah.

Ronggo tersenyum. Jelas adanya bayangan kesombongan di balik senyumnya itu.

"Sekarang akan kuperlihatkan pada kalian bertiga. Juga pada semua yang ada di rumah makan jorok ini! Dengan pedangku aku sanggup membunuh lebih dari tujuh ekor lalat dalam sekali tebas saja!"

"Ah, ini bakalan hebat jadinya! "seru salah seorang pemuda kawan Ronggo. "Aku benar-benar ingin melihat! Ayo Ronggo, kau perlihatkan pada kami dan semua orang di sini!" menimpali kawannya yang seorang lagi. Sedang pemuda yang ketiga ikut berkata: "Aku percaya! Kau pasti mampu melakukan kehebatan itu Ronggo!" Ronggo berdiri dari kursinya. Dia memandang dulu berkeliling lalu sret! Pemuda ini cabut pedang yang selalu dibawanya. "Lihat! Kalian lihat semual" katanya. "Jangan ada yang mengedip. Gerakannya sangat cepat Kalau kalian mengedip, kalian tak akan sempat menyaksikan kehebatanku!" Lalu wut!

Pedang di tangan kanan Ronggo Bogoseto mencuit di udara. Sembilan ekor lalat terkaparan di lantai dan di meja. Semuanya mati dalam keadaan tubuh belah dua!

"Luar biasa!"

"Hebat!"

"Gila! Aku hampir tak percaya!"

Begitu tiga kawan si pemuda berseru seraya berdiri.

Ronggo Bogoseto menyeringai dan lagi-lagi meandang berkeliling. Memang mau tak mau semua yang ada dalam rumah makan itu dan menyaksikan apa yang barusan dilakukan si pemuda memuji kagum. Dan melihat semua orang mengaguminya bertambah sombonglah Ronggo. Dia ingin semua orang benar-benar meyakini bahwa dialah jago pedang nomor satu sesudah ayahnya di Jember dan seluruh Jawa. Maka dia kiblatkan pedangnya kembali.

"Lihat lagi!"

"Lihat!"

"Inilagi!"

Tiga kali Ronggo Bogoseto berteriak. Tiga kali pedangnya menderu. Masih belum puas dia susul lagi dengan lima kali gerakan. Ketika dia menghentikan gerakannya, tak seekor lalat hidup pun bersisa di atas meja makan itu,

Tiga kawan Ronggo Bogoseto tegak dari kursi masing-masing sambil leletkan lidah.

Seorang dari mereka berkata: "Gila Ronggo! Kurasa ilmu pedangmu jeuh lebih hebat dari ayahmu!"

Cuping hidung Ronggo tampak mengembang dan bergerak-gerak oleh pujian itu. Sambil duduk kembali ke kursinya Ronggo berkata: "Sekarang kalian saksikan sendiri kehebatanku! Mari kita teruskan makan!"

Keempat pemuda itu duduk kembali. Salah seorang yang duduk menghadap pintu meneguk minumannya, namun gelas minuman buru-buru diletakkan seraya berkata: "Astaga ronggo! Bidadari dari mana yang diutus dewa datang ke rumah makan ini?!"

Ronggo berpaling, memandang ke pintu. Semua orang kini ikut memandang ke jurusan itu.

Seorang dara bertubuh tinggi semampai, berpakaian ringkas merah, berambut hitam buntut kuda tampak memasuki rumah makan. Parasnya cantik sekali. Jangankan para pemuda itu, lelaki-lelaki tua yang ada di rumah makan itupun tak segan memandanginya dengan hati kagum.

"Amboi!" Ronggo sandarkan punggungnya ke kursi dan lunjurkan kedua kaki sedang sepasang mata menyipit. "Itu bukan bidadari sobatku," katanya. "Tapi sekuntum bunga mawar merah segar yang menebar harum semerbak, terbang dihembuskan angin untuk menemui kita di sini!"

Tiga kawan Ronggo tertawa. Sementara dera yang baru masuk yang bukan lain adalah Lestari mengambil tempat duduk tak jauh dari meja mereka.

"Gadis cantik, jika kau tak keberatan sudilah duduk bersama kami di sini. Jangan kawatir, kau tak usah membayar makanan dan minuman. Kau boleh makan dan minum sepuasmu!"

Lestari melirik sesaat pada Ronggo Bogoseto.

Dilirik begitu si pemuda merasa mendapat perhatian dan berkata pada ketiga temannya: "Lihat, dia melirik padaku. Ah, taksangka hari ini aku bakal melihat bunga yang begini cantik!"

Tetapi setelah melirik Lestari tidak perdulikan lagi pemuda bermuka pucat itu. Dia melambaikan tangan memanggil pelayan dan memesan makanan.

"Ronggo, rupanya gadis itu malu duduk semeja dengan kita. Baiknya kau saja yang pergi duduk ke mejanya!" berkata salah seorang kawan Ronggo.

Putera bekas perwira tinggi itu tersenyum lebar.

"Kau betul sobatku. Tentu saja dia malu duduk di sini. Kita berempat dia sendiri. Kalau sendiri lawan sendiri tentu lain lagi!" kata Ronggo pula seraya berdiri dan melangkah ke meja Lestari lalu duduk di kursi di hadapan sang dara. Setelah cengar cengir sebentar pemuda ini memanggil pelayan.

"Hidangkan makanan lezat dan minuman kelas satu untuk kami berdua! Lekas! "

Pelayan itu menjura lalu cepat-cepat masuk kedalam guna menyiapkan pesanan.

"Darah manis, kau datang dari mana dan siapa namamu?" Ronggo Bogoseto

bertanya sementara semua orang memperhatikan tanpa berani bicara apa-apa. Lestari palingkan wajahnya. Sesaat keduanya saling bertatapan.

"Aih, betapa bagusnya kedua matanya. Bening tapi berkilat seperti bintang timur. Pipinya kemerahan, keningnya licin, hidungnya kecil mancung. Bibirnya merah seperti delima merekah!" kata Ronggo dalam hati memuji. Namun sesaat kemudian dia merasa terkesima karena pandangan mata sang dara seperti menusuk.

"Kau sendiri siapa?" tiba-tiba Lestari balik bertanya. "Ah! Namaku Ronggo Bogoseto!" sahut Ronggo dengan dada agak dibusungkan. Dia merasa senang ditanya seperti itu. Baginya ini satu pertanda bahwa sang dara juga menaruh perhatian terhadapnya. "Namaku bagus bukan! Dan tampangku gagah! Ayahku adalah bekas perwira tinggi kerajaan. Jago pedang kelas satu berjuluk Raja Pedang Kotaraja. Tapi ada orang yang berpendapat sebenarnya kepandaianku memutar balik pedang lebih tinggi dari ayahku!" "Betul, betul!" salah seorang kawan Ronggo berkata sambil tegak dari kursinya. "Sayang kau terlambat datang.Kalau kau muncul lebih tadi-tadi pasti kau akan sempat menyaksikan kehebatannya membelah tubuh sembilan ekor lalat hanya sekali membabatkan pedangnya!" "Ah, dia keliwat memuji. Tapi apa yang dikatakannya memang benar!" ujar Ronggo Bogoseta senang dan cuping hidungnya kembali tampak mekar. Lalu dia berkata: "Kalau kau suka, di hadapan dara secantikmu ini aku bersedia memperlihatkan kehebatan permainan pedangku!"

"Oo begitu . . . ?" ujar Lestari sambil angguk-anggukkan kepala. Lalu dalam hati dia menambahkan: "Pemuda ini sombong sekali, Mungkin ada yang tidak beres dengan otaknya!"

Menyangka orang kagum padanya Ronggo lantas berkata: "Jadi kau mau melihat kehebatanku dengan mata kepala sendiri?!"

"Silahkan! Siapa yang tidak suka melihat tontonan gratis!" sahut Lestari lalu meneguk minuman yang dihidangkan pelayan.

"Kau akan lihat! Kau akan saksikan!" Ronggo Bogoseto tegak dari kursi sambil usap-usap dada.

Lestari hampir tak melihat kapan-tangan pemuda itu bergerak tahu-tahu dia merasakan ada sambaran angin di belakang kepalanya. Pita kecil yang mengikat rambutnya putus. Rambut sang dara yang hitam panjang terlepas dari ikatannya dan tergerai di bahunya. Di saat yang sama pedang yang tadi berkelebat kini sudah kembali berada dalam sarungnya. Sungguh satu gerakan ilmu pedang yang luar biasa cepatnya.

"Hebat! Hebat luar biasa!" seru tiga kawan Ronggo seraya bertepuk-tepuk memuji.

Meskipun jengkel melihat tingkah kesombongan pemuda bermuka pucat itu namun sebagai orang yang tahu seluk beluk ilmu silat Lestari harus mengakui bahwa ilmu pedang si pemuda memang luar biasa.

"Saudari kau belum memberikan pendapatmu mengenai gerakan ilmu pedangku tadi!" Ronggo berkata dan pandangi wajah Lestari dengan sepasang bola mata meliar.

"Pantas dikagumi!" jawab Lestari sepolosnya.

Ronggo mendongak ke atas dan tertawa gelak-gelak.

"Tapi!" katanya kemudian. "Itu belum seberapa. Aku akan lihatkan lagi kehebatan ilmu pedangku. Nah, kau duduklah tenang-tenang di kursimu!"

Habis berkata begitu Ronggo Bogoseto kembali gerakkan tangan kanannya ke pinggang. Sinar putih berkelebat di depan hidung Lestari dari atas ke bawah dan terdengarlah suara tring . . . tring . . . tring .... tiga kali berturut-turut.

Ketika Lestari memandang ke bawah ternyata tiga kancing pakaian merahnya telah putus tanggai hingga dadanya yang putih tersingkap lebar. Sepasang mata Ronggo Bogoseto dan juga semua mata lelaki yang ada di situ menyaksikan satu pemandangan yang membuat mata mereka mendelik dan dada bergetar. Lestari cepat-cepat tutupkan pakaiannya dan melompat dari kursi sementara Ronggo serta kawan-kawannya tertawa gelak-gelak.

"Pemuda keparat kurang ajar!" bentak Lestari.

"Benar! Pemuda kerempeng muka mayat! Kau manusia paling kurang ajar yang perlu diberi pelajaran!" Satu suara menyambungi bentakan Lestari tadi dan datang dari arah pintu rumah makan



BESIUR angin menderu keras. Meja tergeser tak karuan dan kursi bermentalan. Kalau Ronggo Bogoseto tak lekas berkelit pastilah tubuhnya akan kena disambar angin deras tersebut!

Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Lebih-lebih pemuda putera bekas perwira tinggi kerajaan yang sombong itu. Cepat dia berpaling dan memandang ke pintu. Di situ tegak seorang pemuda berpakaian serba putih. Tampangnya keren sikapnya gagah.

"Bangsat! Siapa kau!" Bentak Ronggo. Mukanya yang senantiasa pucat sesaat tampak membiru.

"Siapa aku bukan urusanmu! Aku paling tidak suka pada manusia-manusia kurang ajar yang pergunakan kepandaian untuk mempermainkan dan menghina perempuan! Angkat kakimu dari sini. Bawa kawan-kawanmu!"

"Ahoi! Ada pahlawan pembela hak-hak perempuan di tempat ini!" seru salah seorang pemuda kawan Ronggo. Pemuda lainnya langsung mendamprat. "Pemuda hina dina! Kau bicara keren amat! Apa tidak tahu kautengah berhadapan dengan siapa?!"

"Siapa kau dan dua kawanmu itu tak lebih dari monyet-monyet! Lalu kawanmu yang satu lagi, yang berpakaian mewah dan sesumbar sebagai jago pedang kelas satu di Jawa itu, di mataku tak lebih dari seekor kunyuk yang bertingkah aneh kalau melihat perempuan cantik!"

Tanpa perdutikan keempat pemuda itu yang jadi mendelik dan marah, si pemuda melangkah mendekati Lestari. Lestari sendiri yakin sebelumnya pernah melihat pemuda ini tapi tidak ingat entah di mana dan kapan.

"Lupa?" si pemuda menegur sambil tersenyum.

"Nggg . . . Bukankah kau Panji Kenanga? Murid brahmana Lokapala dari gunung Raung?" tanya Lestari.

"Ah, ssyukur kau masih ingat padaku!" kata si pemuda tertawa lega.

(Baca serial Wiro Sableng berjudul Hancurnya Istana Darah. Di situ dikisahkan bagaimana Panji Kenanga bersama gurunya serta Wiro dan Lestari juga tersama gurunya menghancurkan Istana Darah. Juga diceritakan Panji Kenangalah yang telah mengembalikan suling perak milik Lestari yang dicuri oleh seorang tokoh silat jahat bernama Tapak Biru).

Dimaki dan dihina begitu rupa membuat tiga pemuda kawan Ronggo sakit hati dan marah bukan main. Namun karena mereka tak satupun memiliki kepandaian silat maka mereka tak berani bergerak. Lain halnya dengan Ronggo Bogoseto. Pemuda ini menghardik.

. "Bangsat baju putih! Urusanmu dengan aku belum selesai. Jangan enak-enak bermesraan dengan gadis itu di depanku!" Dengan tersenyum Panji Kenanga menjawab. "Oh, rupanya kau masih di situ. Kukira sudah minggat bersama kawan-kawanmu!" "Keparat! Kau belum tahu siapa aku!"

"Aih, namamu Ronggo Bogoseto bukan? Kau putera bekas perwira tinggi kerajaan. Ayahmu berjuluk Raja Pedang Kotaraja. Mukamu pucat seperti kain kafan, tingkahmu pongah! Kau jadi lebih sombong jika melihat gadis cantik seperti kawanku ini!"

Oo . . . jadi gadis itu kawanmu! Bagus! Di depan kawanmu itu kau akan kuhajar sampai babak balur!"

"Seharusnya kau yang layak mendapat hajaran karena tadi telah menghina keji kawanku ini. Apa kau kira jika ayahmu bergelar Raja Pedang lalu kau merasa tentunya kau Pangeran? Hik. . . hik!"

"Setan alas!"

Amarah Ronggo Bogoseto meledak.

Sret!

Ronggo hunus pedangnya.

"Cincang dia Ronggo! Tak seorang pun boleh menghinamu!" salah seorang pemuda berteriak memberi semangat Ronggo luruskan pedangnya di depan hidung. Lalu berkata pada Panji Kenanga. "Kulihat kaupun membekal pedang. Lekas cabut jika tak ingin mampus percuma!"

Panji Kenanga memang sudah mengetahui kehebatan ilmu pedang pemuda muka pucat itu. Karenanya tidak sungkan-sungkan diapun segera cabut pedangnya"Gajah Biru", sebuah senjata mustika berwarna biru dan gagangnya terbuat dari gading gajah.

Ketika melihat badan pedang yang memancarkan sinar biru, diam-diam Ronggo Bogoseto agak bergeming juga. Namun karena dia terlalu yakin akan kepandaiannya maka dia menyimpan rasa takutnya dan berganti dengan sikap percaya diri yang keterlaluan dan menjadikannya pongah sombongi Dia melangkah mendekati Panji Kenanga. Tiba-tiba didahului bentakan keras pedang di tangannya menyambar. Demikian sebatnya hingga benda itu kini berubah menjadi sinar putih yang bersiur deras dan bertabur ke arah kepala Panji Kenanga.

Yang diserang cepat melompat ke belakang sambil tundukkan kepala, lalu berkelebat ke kanan sapukan pedang Gajah Biru. Melihat gerakan lawan seperti itu Ronggo Bogoseto tertawa mengejek.

"Pemuda yang mau jadi pahlawan! Keluarkan seluruh kepandaianmu! Dalam waktu tiga jurus kepalamu akan ku belah dua!"

"Sombongnya!" balas mengejek Panji Kenanga. "Coba kau terima dulu seranganku ini!" Lalu dia susupkan satu tusukan ke tenggorokan lawan.

"Puah! Hanya tusukan tipuan! Siapa takut!" seru Ronggo.

Panji Kenanga terkesiap. Serangan yang dilancarkannya tadi memang hanya merupakan satu tipuan. Bagaimana lawan bisa membaca? Ilmu pedang pemuda muka pucat itu benar-benar bukan sembarangan. Dari gerakan dan letak tangan musuh dia sudah mengetahui mana serangan sungguhan, mana yang palsu!

Setelah mementahkan serangan lawan, Ronggo menerjang ke muka. Pedangnya berkelebat bertubi-tubi. Ilmu pedangnya asing dan aneh di mata Panji Kenanga. Untung dia memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi hingga dapat mengelakkan semua serangan. Di sini tampaklah bahwa di satu pihak Ronggo Bogoseto memiliki ilmu pedang yang jauh lebih tinggi tetapi rendah dalam ilmu meringankan tubuh. Sebaliknya Panji Kenanga memiliki ilmu pedang yang lebih rendah namun tingkat ilmu meringankan tubuhnya jauh melampaui lawan.

Panji putar pedangnya dengan sebat hingga sinar biru tampak bertabur bergulung-gulung. Dia coba menerobos ke depan untuk membuyarkan serangan pedang lawan yang seolah-olah membuntal dirinya. Usahanya tak kunjung berhasil walaupun dia sudah mengerahkan seluruh kepandaian. Di jurus ke sembilan Panji Keanga mulai menyadari bahwa sambaran angin pedang lawan sama sekali tidak mengandung tenaga dalam yang berbahaya. Nyata Ronggo hanya mengandalkan tenaga luar atau tenaga kasar ditambah dengan kecepatan yang memang luar biasa. Maka di jurus ke sepuluh Panji ambil keputusan!

Ketika pedang Ronggo Bogoseto membacok laksana kilat ke arah bahu kirinya tepat di pangkal leher. Panji Kenanga kiblatkan pedang Gajah Biru menyongsong serangan.

Trang!

Dua pedang saling bentrokan mengeluarkan suara nyaring. Bunga api memercik.

Ronggo Bogoseto keluarkan seruan tertahan. Mata pedangnya gompal sedang pedang itu sendiri terlepas mental dari genggamannya, menancap dilangit-langit rumah makan. Dengan wajah yang tambah pucat pemuda ini melompat mundur. Matanya membeliak tak percaya memandang pada Panji Kenanga lalu pada pedangnya yang ada di langit-langit. Ketiga kawannya juga sama terkesiap kaget. Semua orang yang ada di situ tidak menyangka jago pedang kelas wahid putera Raja Pedang Kotaraja dapat dikalahkan oleh seorang lawan muda yang tidak dikenal!

"Muka pucat! Kenapa kau diam saja!" seru Panji.

"Jika kau anggap urusan kita belum selesai silahka ambil pedangmu di atas sana dan teruskan perkelahian!"

Mau rasanya Ronggo berteriak dan memukul kepalanya sendiri saking marah dan malu. Dan yang membuatnya benar-benar terpukul saat itu justru rasa malu dan seperti tak punya muka lagi saat itu!

"Keparat! Jika kau benar-benar punya nyali besar jangan lari! Tunggu di sini!" ujar Ronggo Bogoseto. Lalu pemuda ini putar tubuh diikuti ketiga kawannya. Mereka menuju; ke pintu. Namun satu bayangan merah berkelebat dan menghadang.

"Pangeran sombong! Sebelum pergi aku akan balas dulu kekurang ajaranmu tadi! "

"Betina sialan! Kau mau apa pula?!" bentak Ronggo begitu mengetahui yang menghadangnya adalah Lestari.

"Mauku ini!" sahut Lestari. Lalu cepat sekali tangan kanannya bergerak menampar muka pemuda itu. Bagaimanapun pucatnya wajah Ronggo, tetap saja tamparan Lestari membekas merah di wajahnya! Sudut bibirnya sebelah kiri pecah.

"Jahanam!" maki Ronggo. Lalu meninju dada Lestari. Namun pukulannya ini dengan mudah dapat dielakkan Lestari malah kini kembali tangan gadis itu bergerak ke atas. Kali ini menjambak rambut si pemuda lalu menyentakannya keras-keras. Tak ampun tubuh ronggo tertarik dan terlempar ke luar pintu rumah makan, jatuh tersungkur di tanah. Mukanya berkelukuran, lecet dan bercelemong tanah. Darah mengucur dari hidungnya.

Sambil mengerang kesakitan Ronggo berdiri dibantu oleh tiga temannya. Kedua tangannya terkepal. Matanya berkilat-kilat oleh hawa amarah.

"Gadis iblis! Kau tunggu pembalasanku!" mengancam Ronggo. Bersama tiga temannya dia bergerak pergi.

"Pangeran! Pedangmu ketinggalan!" seru Panji Kenanga. Tapi keempat pemuda itu tak menoleh lagi. Dari melangkah kini mereka malah mulai berlari.

Panji geleng-gelengkan kepala sedang Lestari hanya tersenyum. Pemuda itu kemudian dekati si gadis.

"Lestari, bagaimana kau sampai berada di Jember ini. Apakah gurumu si Pemusnah Iblis itu ada dalam keadaan baik-baik?"

Lestari mengangguk. Sesaat dia sibuk membetulkan pakaiannya.

"Sambil menunggu hidangan ceritakan apa yang membuatmu meninggalkan danau Jembangan.

"Panjang kisahnya. Tak dapat kuceritakan padamu di tempat ini " sahut Lestari.

"Memangnya kenapa?"

"Sebaiknya kita tinggalkan rumah makan ini. Aku yakin pemuda muka pucat itu akan datang bersama seseorang berkepandaian tinggi!"

"Lalu, apakah kau takut?" tanya Panji Kenanga pula.

"Jauh dari itu" sahut Lestari. "Yang aku kawatirkan adalah kalau-kalau semua yang terjadi di sini bakal mempersulit urusan atau tugas yang harus kujalani" .

"Hemm... tugas urusan apakah itu?"

"Aku sudah katakan, tak mungkin hal itu kuceritakan di sini. Hai Pangeran sedang itu datang kembali!" seru Lestari ketika dia melihat keluar pintu-rumah makan.



PANJI KENANGA memalingkan kepala ke arah pintu. Apa yang dikatakan Lestari betul. Ronggo Bogoseto bersama tiga kawannya muncul kembali, melangkah cepat ke arah rumah makan. Di depan mereka melangkah seorang lelaki berpakaian bagus dan rapi, berbadan tegap. Rambutnya yang tersembul di bawah blangkon berwarna memutih. Menurut taksiran Panji, lelaki ini berusia paling tidak sekitar enam puluh tahun. Dan pasti dia adalah ayah Ronggo, manusia yang bergelar Raja Pedang Kotaraja itu!

Kelima orang itu sampai di hadapan Panji dan Lestari. Lelaki berpakaian bagus sesaat menatap wajah kedua muda mudi itu lalu melirik ke langit-langit rumah makan dimana dilihatnya menancap sebilah pedang.

"Ayah!" Ronggo tiba-tiba maju dan buka suara. "Inilah monyet yang berani membuat keonaran. Membuat malu dan menghina kita!" Ronggo menunjuk tepat-tepat ke arah Panji Kenanga.

Panji Kenanga memutar duduknya sedikit lalu bertanya: "Apakah kami berhadapan dengan bekas perwira tinggi berjuluk Raja Pedang Kotaraja?"

‘Tepat! Tidak meleset dugaanmu anak muda!" jawab orang tua berambut putih.

Dari sikap dan nada bicaranya Panji maupun Lestari cepat menarik kesimpulan bahwa orang inipun memiliki sifat sombong walau tidak keterlaluan seperti puteranya.

Panji Kenanga tersenyum. Dia menoleh pada Ronggo dan berkata: "Kau sudah membawa ayahmu kemari. Mengapa tidak membawa ibumu sekalian?!" Merahlah paras Ronggo Bogoseto. Juga wajah sang ayah.

"Keparat!" maki Ronggo. Dengan adanya ayahnya di situ dia mendapat keberanian dan melompat untuk menendang Panji. Tapi ayahnya bergerak mencegah dan mendorongnya ke samping.

"Orang muda! Apa yang telah kau lakukan terhadap pu teraku merupakan penghinaan. Merupakan tindakan kejahatan dan kekerasan. Dan kini di hadapanku kau masih berani bicara kurang ajar! Apa kau punya segudang ilmu hingga berani berlaku begitu!"

"Orang tua, apa kau sudah menyelidik hingga menimpakan tuduhan seenak perutmu sendiri?!" Lestari buka mulut.

Raja Pedang berpaling pada si gadis dan memandangnya sesaat. "Wajahmu cantik, tapi rupanya kaupun bukan gadis baik-baik!"

Panaslah darah Lestari. Dia mengambil baskom kecil berisi air cuci tangan.

"Kau ayah dan anak coba berkaca dulu dalam air cuci tangan ini. Coba kalian lihat apakah kalian juga orang baik-baik?!"

Mendidih amarah Raja Pedang.

"Gadis lancang! Penghinaanmu melewati batas!" Secepat kilat orang tua ini layangkan tamparan ke muka si gadis. Namun baru setengah jalan sebuah benda keras membentur tangannya hingga tergetar sakit. Ternyata Panji telah menepis dan menangkis tamparannya itu!

Raja Pedang Kota raja kaget. Tidak disangkanya kalau pemuda itu memiliki kekuatan seperti itu. Dengan penasaran kini dia lancarkan satu pukulan kemuka Panji. Namun serangannya hanya mengenai tempat kosong karena si pemuda sudah berpindah tempat.

Di saat ayahnya menampar Panji, Ronggo pergunakan kesempatan untuk melompat mengambil pedangnya dari langit-langit rumah makan. Dengan senjata ini dia kemudian memburu ke arah Lestari.

"Gadis liar! Ayo keluarkan pedangmu! Jangan kira aku tidak tega mencincang tubuhmu!"

"Rupanya hajaran kawanku tadi tidak membuatmu kapok! Kau ingin aku ganti menghajarmu? Memang kalau tidak kuhajar kau sampai babak belur belum puas hatiku!"

Wut! Pedang di tangan Ronggo berkelebat. Lestari angkat sebuah kursi dan menangkis dengan benda ini. Dua kaki kursi putus dibabat pedang.

"Sebentar lagi tanganmu . . . . "

Ronggo tak sempat teruskan ucapannya karena tiba-tiba kursi yang masih dipegang oleh Lestari menusuk ke arah kepalanya. Kalau tidak cepat dia mengelak, pasti mukanya akan cidera berat Dengan sebat dia putar pedangnya. Sinar senjata itu bergulung-gulung menguning Lestari.

Sebelumnya Lestari sudah melihat kehebatan ilmu pedang pemuda itu. Namun dia juga mengetahui kalau Ronggo tidak memiliki ilmu silat tangan kosong yang tinggi, apalagi ilmu meringankan tubuh atau tenaga dalam. Maka Lestari memanfaatkan kelemahan lawan dengan bergerak cepat sambil keluarkan jurus-jurus silat andalan yang dipelajarinya dari gurunya Si Pemusnah Iblis. Setelah dua jurus menyerang tanpa hasil, Ronggo putar pedangnya lebih sebat. Rahangnya menggembung tanda marah. Namun kursi di tangan lawan merupakan senjata yang sulit untuk dihadapinya. Berkali-kali dia berusaha menghancurkan kursi itu terlebih dulu. Setiap kali serangannya tidak membawa hasil. Malah di jurus ketujuh tendangan Lestari tepat menghantam lengan kanannya.

Trak! Ronggo menjerit kesakitan. Tulang lengannya patah. Pedangnya mental jatuh bergrompyangan di lantai. Dengan sudut matanya Raja Pedang Kotaraja dapat menyaksikan apa yang terjadi atas diri puteranya tanpa dapat menolong. Karena saat itu dia sendiri tengah mengeluarkan seluruh kepandaian menghadapi Panji Kenanga. Orang tua ini memang lihay sekali memainkan pedangnya. Senjata yang berat dan besar itu seperti sebuah tongkat enteng yang dapat digerakkannya ke mana saja. Namun seperti anaknya, diapun kalah dalam kegesitan dan tenaga dalam. Cuma orang tua satu ini memiliki pengalaman luar biasa hingga dalam sepuluh jurus dia dapat mengunci Panji Kenanga di salah satu sudut rumah makan. Panji keluarkan keringan dingin. Kalau saja pedang Gajah Biru di tangannya bukan senjata mustika pasti sudah sejak tadi-tadi dia dapat dicelakai lawan. Selama sepuluh jurus lagi Panji bertahan mati-matian.

"Kalau tidak ku barengi dengan pukulan, sulit membuyarkan serangan yang mengurung ini!" kata Panji dalam hati. Karenanya memasuki jurus ketiga puluh empat pemuda ini keluarkan bentakan garang dan lepaskan satu pukulan tangan kosong dengan tangan kiri. Jago tua itu terkejut ketika merasakan ada angin yang menyambar dan membuatnya tergontai. Cepat dia sapukan pedang untuk melindungi diri. Namun gerakannya ini membuat tubuhnya di sebelah bawah jadi terbuka. Justru ke arah bagian tubuh inilah Panji membebatkan pedangnya disertai tenaga dalam hingga senjata itu menaburkan sinar biru.

"Celaka!" seru Raja Pedang Kotaraja. Buru-buru dia melompat menjauhi serangan lawan. Karena kawatir masih akan terkena sambaran Ujung pedang Panji, orang tua ini babatkan pedangnya ke bawah. Trang!

Dua pedang beradu keras.

Apa yang diduga bekas perwira tinggi kerajaan itu benar-benar terjadi. Pedangnya mental, tangannya terasa kaku seperti kesemutan. Kedua matanya melotot. Kembali dia menyurut beberapa langkah. Wajahnya gelap. Seumur hidup baru kali ini dia dipecundangi oleh seorang lawan yang jauh lebih muda darinya.

"Gila! Aku betul-betul tak punya muka lagi!" kata Raja Pedang dalam hati. Ketika dia berpaling ke kiri dilihatnya puteranya terduduk di lantai dengan muka penuh benjut, dikelilingi oleh ketiga kawannya. Panji Kenanga sarungkan pedang Gajah Biru kembali. Dia menoleh pada Lestari. Dilihatnya gadis itu memberi isyarat. Lalu keduanya melangkah ke pintu.

"Orang, muda tunggu dulu!" Tiba-tiba terdengar seruan Raja Pedang Kotaraja memanggil.

"Ada apa?!! tanya Panji.

"Sebelum pergi harap kalian suka memberi tahu nama masing-masing . . . . "

"Untuk apa?" Kini Lestari yang bertanya.

"Untuk sekedar jadi kenangan," jawab bekas perwira tinggi itu. Kalian berdua telah membuka mataku bahwa kesombongan itu hanyalah satu kepalsuan hidup yang bisa membawa bencana bagi diri sendiri!"

"Ah, aku yang tua ini benar-benar merasa mendapat pelajaran dari kalian orang-orang muda. Mulai saat ini aku tak mau lagi memakai gelar Raja Pedang Kotaraja!" Lalu orang tua itu memungut pedangnya. Ketika dia hendak tinggalkan rumah makan pu teranya yang mengalami patah tangan cepat menghadang seraya berseru.

"Ayah! Mereka mematahkan lenganku. Kau hendak pergi begitu saja tanpa memberi hukuman pada mereka?!"

"Kaulah yang patut diberi hukuman!" bentak sang ayah dan plak! Tamparannya melayang menghantam pipi Ronggo Bogoseto. Pemuda ini mengeluh kesakitan. Tak tahan menanggung malu.dia lari lebih dulu meninggalkan tempat itu. Tiga kawannya menyusul di belakang.



KUDA PUTIH polos bernama Angin Salju itu berlari cepat di kegelapan malam. Di atas punggungnya di sebelah depan duduk Lestari dan di belakangnya duduk Panji Kenanga. Semula sang dara menolak untuk menunggangi kuda besar itu bersama-sama. Tapi akhirnya mau juga. Di tepi sebuah telaga mereka berhenti.

"Kita bermalam di sini dan membuat perapian. Kau setuju?"

Lestari tak menjawab.

"Di samping itu kau bisa memberikan keterangan mengenai urusan dan tugas yang harus kau jalankan itu. . . "

Setelah berpikir beberapa lamanya akhirnya Lestari menyetujui usul Panji. Sementara Angin Salju merumput. Panji segera mencari kayu untuk perapian.

Setelah api menyala, keduanya duduk berhadap-hadapan. Panji menatap paras gadis di hadapannya itu. Paras yang tak pernah dilupakannya sejak perjumpaan pertama dahulu. Sebenarnya sudah sejak lama pemuda ini ingin mengunjungi Lestari di tempat kediaman gurunya di danau Jembangan. Namun sebelum kesampaian malah bertemu di Jember.

"Lestari........ "

Dara itu mengangkat kepalanya.

Sesaat pandangan mereka saling beradu.

"Kau kedinginan? Duduklah lebih dekat ke perapian

"Cukup hangat di sini. Panji"

"Sekarang coba ceritakan apa urusanmu itu. Jika ada yang bisa ku bantu, pasti akan kulakukan."

Lestari memandang nyala api yang melenggang-lenggok dipermainkan hembusan angin malam.

"Seseorang telah mencuri senjata mustika milik guru. Hal itu terjadi ketika guru tidak di rumah. Ini kelalaian ku sendiri. Guru amat marah. Aku tahu sekali hal itu walau dia tidak memperlihatkannya padaku. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain meninggalkan danau Jembangan dan mencari senjata mustika itu sampai dapat. Sebelum dapat aku tak akan kembali."

"Senjata apakah yang dicuri itu?" tanya Panji Kenanga.

"Sebuah tusuk kundai. Terbuat dari perak"

"Pencurinya pasti seorang berkepandaian tinggi."

"Pasti," membenarkan Lestari. "Guru menasihatkan agar aku menghubungi beberapa tokoh silat golongan putih untuk mencari keterangan. Sampai saat ini segala sesuatunya masih gelap bagiku "Jelas yang melakukannya seseorang atau beberapa orang dari golongan hitam. Kita akan menyelidikinya bersama-sama."

"Kita?" ulang Lestari.

"Ya ....... Kau tak suka aku bantu?"

"Terima kasih. Aku berterima kasih sekali. Tapi kau tahu. Ada puluhan tokoh silat golongan hitam. Bagaimana kita bisa menemukan pencurinya...."

"Itulah yang harus kita selidiki Lestari. . . . " Sang dara hanya mengangguk pelahan. Dia telah menceritakan hilangnya tusuk kundai sakti itu. Namun sama sekali tidak diberitahukannya kalau benda itu adalah pertanda ikatan tali perjodohannya dengan murid Eyang Kunti Kendil yang bernama Wiro Sableng.

Malam bertambah larut dan dingin. Panji Kenanga mengambil sehelai tikar kulit dan selimut tebal dari kantong perbekalan di punggung kudanya. Tikar itu lalu dibentangkannya dekat perapian.

"Kau tidurlah di sini. . . . " katanya pada Lestari.

"Aku belum mengantuk."

"Mengantuk atau tidak kau butuh istirahat Untuk mencari senjata yang hilang itu mungkin kita harus mengadakan perjalanan jauh yang menguras tenaga... ." Lestari menyadari bahwa apa yang. Dikatakan Panji itu benar. Perlahan-lahan direbahkannya dirinya di atas tikar kulit itu. Panji kemudian menyelimutinya.

‘Terima kasih. Kau baik sekali. . . ."kata Lestari polos..

Panji tersenyum. Dengan bergelung sehelai kain sarung pemuda ini membaringkan diri di seberang perapian. Sesekali dia melirik dan melihat Lestari masih belum memejamkan mata.Kesunyian malam kadang-kadang digemeretaki oleh suatu ranting kayu yang berderak dimakan api.

"Ingat peristiwa di Istana Darah dulu .. ?" tiba-tiba Panji bertanya.

"Ya, kenapa?"

"Sejak peristiwa itu apa kau pernah bertemu Wiro ? "

"Tidak. Memangnya kenapa?" Lestari bertanya lagi.

"Pemuda itu ilmunya tinggi sekali. Ingin sekali aku bertemu dengan dia. Selain bertukar pengalaman siapa tahu dia berbaik hati mau memberikan sejurus dua ilmu baru"

Yang dipikirkan Lestari saat itu justru bukan ketinggian ilmu Wiro Sableng melainkan hubungan jodohnya dengan pemuda itu, yang ikatannya diatur oleh guru mereka. Apakah Wiro mengetahui hal itu?

Lama kesunyian menggantung. Sayup-sayup terdengar riak air telaga terhembus angin.

"Lestari. . . "

"Hemm . . . Aku masih ingin ngobrol. Entah kalau kau sudah mau tidur. . . . "

‘Tubuhku memang agak letih. Tapi mata ini masih belum bisa dipicingkan "

"Dalam kehidupanmu yang mencapai usia sekarang ini, apakah kau pernah mencintai dan dicintai seseorang . . . . ? "

Pertanyaan Panji Kenanga ini membuat Lestari terkejut Dia sadar wajahnya saat itu pasti menjadi merah. "Ada-ada saja yang kau tanyakan. Kenapa kau bertanya begitu?"

"Hanya ingin tahu ...... " "Soal cinta belum terpikir olehku . . . . "

"Lalu soal seseorang yang mencintaimu?"

"Mana aku tahu? Kalau ada yang mencintaiku dia tak pernah bilang begitu Panji tertawa. "Bagaimana kalau andai kata kau kemudian mengetahui bahwa ada seseorang yang mencintaimu dengan sepenuh hati. . . . "

"Aku harus tahu yang jatuh cinta ini lelaki atau nenek-nenek. Atau seekor kucing . . . . Aih, malam-malam begini bicara soal cintai Siapa orangnya yang mau mencintaiku.....?"

"Ada!"

"Sudahlah. Aku tak mau membicarakan hal itu lagi . . . ." Kata Lestari. Namun diam-diam dia ingin tahu juga siapa orang yang kata Panji ada mencintainya itu. Wiro Sableng?

"Kau tak ingin tahu siapa orang yang mencintaimu itu Lestari?" tanya Panji.

"Kalau kau tahu katakanlah."

"Orangnya saat ini dekat sekali denganmu," kata Panji pula.

‘Tak ada orang lain di sini."

"Ada. Kau tak melihat? Atau lupa?"

"Siapa?"

"Akui" jawab Panji Kenanga.

Lestari palingkan kepalanya. Kedua matanya terbuka lebar dan memandang tak berkedip pada Panji Kenanga. Sesaat kemudian terdengar suara tawa dara itu.

"Kau tengah membanyol Panji!"

"Aku tidak melucu. Apa yang kukatakan adalah sebenarnya. Aku mencintaimu!"

Lestari merasakah dadanya berdebar.

"Kau bodoh Panji!"

"Bodoh? Bodoh bagaimana?"

"Bodoh karena mau-mauan mencintaiku. Me mangnya aku ini apa sih!"

"Cinta itu terkadang memang aneh Lestari. Kata orang cinta bisa membuat buta. Lalu bodoh seperti katamu itu. Lalu perasaan bahwa dunia ini hanya dia yang punya "

"Aih, pengalamanmu tentang cinta rupanya banyak juga "

"Seperti katamu, mungkin benar aku ini pemuda bodoh. Namun aku tak mau menyembunyikan sesuatu yang aku rasakan "

Sunyi. Lestari tak bisa berkata apa-apa lagi. Panji juga terdiam. Gadis itu akhirnya picingkan kedua matanya. Namun dia tidak tidur. Mendadak dirasakannya ada hawa panas menghembus wajahnya. Ketika kedua matanya dibuka dilihatnya sebuah wajah dekat sekali ke mukanya. Wajah Panji.

"Lestari. . . ."bisik Panji.

"Dengarlah ... " Sambil bicara dibelainya rambut gadis itu.

"Aku benar-benar mencintaimu . . . ." Lalu kepala si pemuda datang lebih dekat. Satu ciuman menyapu kening Lestari.Si gadis merasakan sekujur tubuhnya bergetar. Itulah pertama kali tubuhnya dibelai dan parasnya dicium lelaki.

"Panji . . . jangan . . . . " bisik Lestari ketika ciuman kedua melembut jatuh di pipinya.

"Jangan . . ." bisik Lestari lagi. Namun dia tak berusaha menjauhkan wajahnya. Ketika bibir pemuda itu menempel di bibirnya. Lestari merasakan nafasnya seperti terbang. Entah sadar entah tidak kecupan Panji pada bibirnya dibalasnya dengan hangat.

MENJELANG dinihari baru Lestari bisa memejamkan matanya dan tidur. Panji Kenanga masih duduk di sampingnya, memandang dan menjaganya dengan pe-rasaan penuh kasih sayang.

Ketika di timur kelihatan langit mulai terang barulah pemuda ini berdiri dan melangkah ke telaga. Semalam suntuk dia tidak memicingkan mata barang sekejappun. Namun tubuhnya sama sekali tidak terasa letih. Kebahagiaan kasih sayang yang dirasakannya laksana suatu kekuatan dalam dirinya. Dia maklum kalau sang dara menyukainya, mungkin juga mengasihinya. Walaupun semua itu tidak diucapkan dalam bentuk kata-kata.

Tak lama setelah Panji mandi di telaga Lestari terbangun. Dia duduk di samping perapian yang telah padam. Kepalanya terasa agak berat. Di telaga dilihatnya Panji berkecimpung di air telaga. Begitu melihat pemuda ini berdebarlah dada sang dara.

Serta merta dia ingat apa yang terjadi malam tadi. Dia telah dipeluk dan balas memeluk pemuda itu. Dia telah dicium dan balas mencium. Bagaimana semua itu bisa terjadi?

Teringat Lestari akan tugas yang masih harus dijalankannya. Yaitu menemukan kembali tusuk kundai perak yang telah dicuri orang. Benda yang merupakan tanda perjodohannya dengan Wiro Sableng. Guru Wiro dan gurunya telah mengadakan pengikatan jodoh bagi mereka. Tapi semalam dia telah bercumbu berkasih mesra dengan Panji Kenanga. Apakah ini berarti suatu dosa? Apakah ini merupakan satu pengkhianatan terhadap calon suaminya yakni Wiro? Ada rasa dosa dan malu dalam hati gadis ini. Lalu apakah dia akan meneruskan perjalanan bersama Panji Kenanga? Bagaimana kalau terulang lagi kejadian malam tadi. Terulang lagi malah mungkin lebih jauh dari itu.

Lestari merapikan rambut dan pakaiannya. Tekadnya sudah bulat Dia harus meninggalkan Panji Kenanga dan menempuh jalannya sendiri. Tanpa menunggu lebih lama dia segera lari meninggalkan tempat itu.

Pada saat matahari pagi muncul di ufuk timur maka Lestari telah berada jauh dari telaga. Dia sengaja memasuki rimba belantara karena dia tak mengharapkan agar Panji Kenanga dapat menyusulnya. Namun baru saja dia memasuki hutan itu beberapa belas tombak mendadak di belakang terdengar suara bergemeresik disusul satu teriakan keras.

"Randu Wongso! Lihat! Dara berbaju merah itulah yang tengah kita cari-cari!"



LESTARI terkejut dan cepat Wpaling ke belakang. Kira-kira lima tombak di belakangnya dilihatnya dua orang lelaki. Yang seorang bertubuh tinggi langsing tak dikenalnya. Sedang orang kedua bukan lain Ronggo Bogoseto, pemuda bermuka pucat sombong yang kemarin dihajarnya di rumah makan Jember.

Sadar kalau kedua orang itu mengejarnya dengan maksud yang tidak baik maka Lestari segera melarikan diri. Dia berhasil meninggalkan Ronggo Bogoseto jauh di belakang. Namun si tinggi langsing ternyata memiliki kepandaian lari. Karena dalam waktu dekat dia segera dapat mendekati Lestari.

"Kalau mereka berani berbuat sesuatu kubunuh keduanya!" kata Lestari dalam hati.

Sang dara tidak mengetahui kalau lelaki bertubuh tinggi langsing yang dibawa Ronggo Bogoseto itu adalah seorang berkepandaian tinggi. Siapakah adanya orang ini?

Mari kita ikuti apa yang dilakukan Ronggo setelah dia mendapat hajaran di rumah makan itu.

Meskipun ayahnya sudah menganggap selesai pertikaian dengan Panji Kenanga serta Lestari namun ronggo Bogoseto tak dapat melenyapkan rasa sakit hati dendam kesumatnya terhadap kedua muda mudi itu. Kini dia tak punya muka lagi di seluruh Jember. Semua orang seperti memandangnya dengan mengejek.

Sebenarnya di samping sakit hati diam-diam pemuda bermuka pucat sangat tertarik pada kecantikan Lestari. Telah banyak dia melihat gadis cantik, namun tak ada yang secantik dan begitu menggiurkan seperti yang satu ini

Setelah mengobati mukanya yang babak belur, dan tangannya yang patah, dengan menunggangi seekor kuda pemuda ini meninggalkan kota menuju ke arah timur. Tujuannya adalah sebuah candi tua yang di diami oleh seorang tokoh silat berilmu

tinggi. Tokoh silat ini bukanlah seorang baik-baik. Sering sekali dia mempergunakan kepandaiannya untuk maksud-maksud jahat Apalagi jika seseorang mau memberikan hadiah padanya maka apapun akan dilakukannya. Karena itu orang mencapnya sebagai tokoh silat golongan hitam.

Hari telah malam ketika Ronggo, sampai di candi tua itu. Semula dia kawatir kalau orang yang dicarinya tak ada di tempat. Tokoh silat itu memang jarang ada di candi tersebut. Namun begitu melihat ada nyala lampu, maka senanglah hati pemuda ini.

Di depan candi tua pemuda ini hentikan kuda, begitu turun langsung masuk ke dalam candi. Sebagian besar bangunan itu sudah sangat rusak dan kotor. Di salah satu sudut terletak sebuah lampu minyak. Apinya bergoyang-goyang dipermainkan angin hingga membentuk bayang-bayang yang mengerikan di dinding candi. Udara terasa dingin.

Ronggo memandang berkeliling. Orang yang dicarinya tidak nampak.

"Randu . . . ." panggil si pemuda. "Randu Wongso . . . . Apakah kau ada di sini. . . . ? "

Tak ada jawaban.

Tetapi telinga Ronggo tjba-tiba mendengar suara seseorang.

Suara perempuan merintih!

Dia memandang tak berkedip ke sudut kiri lalu melangkah ke arah tumpukan balok-balok tua yang seperti membatas bagian depan candi dengan bagian belakang. Ronggo sampai di susunan balok setinggi dada dan menjenguk ke balik susunan balok itu. Kedua matanya terpentang lebar ketika apa yang terpampang di depannya, di antara kesuraman sinar lampu minyak.

Di sana, di lantai candi yang hanya dialasi tikar jerami butut dilihatnya Randu Wongso dalam keadaan tanpa pakaian tengah menggagahi seorang perempuan!

Perempuan ini masih muda. Parasnya tidak cantik, berkulit agak hitam. Tetapi dia memiliki bagian-bagian tubuh yang kencang serta serba besar.

"Sialan!" rutuk Ronggo Bogoseto.

"Randu!" serunya kemudian.

"Lekaslah! Aku ada urusan amat penting perlu dibicarakan!"

"Sompret anjing kurap!"

Lelaki bernama Randu Wongso itu memaki.

"Anak setan! Siapa kau yang berani mengganggu kesenanganku! Apa mau kurengkahkan batok kepalamu?!"

"He . . . he . . . . Tenang Randu. Tenang. Aku Ronggo Bogoseto!"

Mendengar nama itu kemarahan Randu Wongso kontan lenyap. Tetapi tentu saja dia tidak mau meninggalkan apa yang tengah dilakukannya saat itu. Apa lagi dia menjelang akan sampai ke puncak kenikmatannya.

"Sobat muda! Apa pun urusanmu bisa menunggu! Malah kalau kau suka bisa kebagian! Eh, apakah kau membawa uang banyak?"

"Soal uang kau tak usah kawatir. Yang penting cepat sudahi pekerjaan dajalmu itu!" Ronggo benar-benar tidak sabaran. Yang dikawatirkannya adalah Panji dan Lestari jadi terlalu jauh untuk dikejar. "Sialan! Perempuan mana yang digagahinya itu!" Ronggo melangkah mundar-mandir di bangunan candi yang kecil sempit itu. Telinganya terus menerus menangkap suara rintihan perempuan itu, diseling oleh suara nafas Randu Wongso yang memburu.

Tiba-tiba terdengar suara Randu Wongso seperti mengerang.

"Bangsat!" maki Ronggo.

Beberapa saat kemudian baru Rando Wongso keluar dari balik tumpukan balok.

Tubuhnya penuh keringat dan dia hanya mengenakan sehelai cawat kumal.

"Kelakuan bejatmu masih belum berobah Randu! Perempuan mana puja kali ini yang kau rusak kehormatannya? Sudah berapa lama kau peram di tempat ini. Sudah berapa kali kau tiduri?!"

Randu Wongso tertawa gelak-gelak. Di sekanya keringat yang mengucuri dahinya.

"Yang satu ini lain, Ronggo. Dia mau ikut denganku ke sini. Dan . . . ha . . . ha . . . Sungguh luar biasa. Kau ada minat?"

"Gila! Aku kemari bukan untuk begituan!"

"Kau akan menyesal sobat. Yang satu ini benar-benar lain "

"Kentut! Kau selalu memberikan sisa padaku!"

"Sisa bukan sembarang sisa. Kau tahu, paling lama aku hanya memeram perempuan dua hari. Tak lebih. Tapi dia . . . . sudah lima hari berada di sini. . . "

Sekilas Ronggo melirik ke balik tumpukan balok. Perempuan muda itu masih terbaring tanpa pakaian. Melihat keadaan tubuhnya yang bagus memang Ronggo harus mengakui ucapan Randu tadi bahwa yang satu ini lain.

"Hai sobat! Jangan memandang terlalu lama! Nanti kau tergiur! Sekarang katakan apa urusan pentingmu itu!"

Dengan singkat Ronggo Bogoseto menuturkan apa yang telah dialami dia dan ayahnya di Jember. Tak lupa dia memperlihatkan bibirnya yang luka akibat tamparan Lestari, lalu tangannya yang dibalut.

"Lalu apa hubungan kejadian* jtu dengan kedatanganmu kemari?" bertanya Randu Wongso.

"Kita harus cari kedua orang itu. Hajar si pemuda dan sang dara itu urusanku...."

Ronggo tertawa gelak-gelak.

"Nyatanya kau sendiripun masih memiliki nafsu setan. Apakah gadis itu cantik sekali hingga kau ingin mencarinya?"

"Cantik luar biasa. Tak pernah sebelumnya aku melihat gadis secantik, itu. Ketika pedangku memutuskan kancing-kancing pakaiannya hingga dadanya tersingkap . . . . Mau mati rasanya aku ketika melihat dadanya. Putih dan kencang!"

"Ha . . . ha . . . hal Sifat kita tak jauh berbeda sobat! Aku suka hal itu!" ujar Randu Wongso pula. "Kau tak usah kawatir. Kita cari mereka sama-sama. Tapi..." Habis berkata begitu Randu kembangkan telapak tangan kirinya dan mengangsurkannya kepada Ronggo.

Tanpa banyak bicara Ronggo keluarkan sebuah kantong kecil berisi uang dan berikan pada Randu Wongso.

"Kita pergi sekarang?" tanya Randu. Ronggo mengangguk.

"Aku berpakaian dulu. Tunggu di sini. Tapi . .Heh, kau benar-benar tidak berhasrat terhadap perempuan itu?"

"Urusanku lebih penting. Kita harus cepat...."

‘ ‘Cepat . . . . cepat! Seperti waktu ini dikejar-kejar setan. Bersama Randu Wongso kau pasti akan menemukan gadis itu. Kau sungguh tak mau? Urusan beginian kan tidak lama Ronggo...."

Pemuda itu jadi bimbang. Dia melirik lagi ke balik tumpukan balok. Memandangi tubuh perempuan yang gempal kencang itu lambat laun terangsang juga nafsu Ronggo Bogoseto. Memang bukan satu. hal baru dia melakukan hal seperti itu bersama-sama Randu Wongso. Randu yang menculik lalu mereka gagahi bergantian.

Randu tepuk-tepuk bahu pemuda itu. Lalu mendorongnya ke balik tumpukan balok.

"Pergilah, aku akan menunggumu sampai selesai . . . ." bisik Randu Wongso. Akhirnya sambil melangkah ke balik susunan balok, Ronggo tanggalkan pakaiannya.

LESTARI berusaha mempercepat larinya. Namun Randu Wongso cepat sekali gerakannya. Menyadari bahwa dia tak mungkin lepas jika terus lari. Lestari akhirnya berbalik dan menunggu dengan sikap siap menyerang.

"Aha! Akhirnya kami temui juga kau!" kata Ronggo dengan nafas memburu sementara Randu Wongso tegak tolak pinggang, memandang tak berkedip pada gadis berbaju merah di hadapannya.

"Apa maumu?!" sentak Lestari. ‘ ‘Wah Ronggo! Gadismu ini galak sekali!" kata Randu Wongso. "Brengsek! Enak saja kau mengatakan aku gadisnya!" semprot Lestari dengan mata melotot. "Aih,melotot marahpun kau malah tambah cantik!" ujar Randu Wongso semakin menggoda. Diam-diam dia sudah terpikat pula pada kecantikan gadis ini dan otak kotornya mulai bekerja. Tangannya diulurkan hendak menjamah tubuh Lestari. "Berani kau menyentuh tubuhku akan kubunuh!" mengancam Lestari seraya tangan kanannya bergerak ke pinggang d i mana tersisip pedangnya. "Ah, mati di tanganmu pun aku senang! Ha . . . ha. . . ha " ujar Randu Wongso lalu tertawa gelak-gelak.

"Mana pemuda keparat kawanmu itu?!" bertanya Ronggo dengan nada garang.

"Sebentar lagi dia datang. kau akan dihajarnya seperti kemarin!"

Kata-kata Lestari itu membuat wajah pucat Ronggo Bogoseto sesaat jadi memerah.

"Gadis cantik, aku dan sobatku ini tidak tega melihat kau melakukan perjalanan seorang diri. Jika terjadi apa-apa denganmu ah, kami rasanya tak tega berlepas tangan. Kami bersedia menemanimu. Bahkan aku mau mendukungmu sampai ke manapun kau pergi"

"Manusia edan! Mulutmu kotor! Kurang ajar! damprat Lestari.

Randu Wongso kembali tertawa gelak-gelak dan kali ini sambil kedip-kedipkan matanya membuat Lestari tambah jijik melihatnya. Dengan cepat gadis ini putar tubuh.

"Hai! Kau mau kemana gadisku cantik?!" seru Randu Wongso.

"Randu sebaiknya cepat kau ringkus dia!" berkata Ronggo yang menjadi tidak sabaran.

"Meringkus burung molek ini perkara mudah sobatku. Lihat! Aku akan tangkap pinggangnya! Ah, betapa nikmatnya merangkul tubuhnya!"

Setelah berkata begitu dengan satu gerakan Randu Wongso berkelebat. Begitu cepatnya gerakan orang ini tahu-tahu tangan kirinya sudah meraih pinggang Lestari sedang tangan kanan menjamah dadanya!

"Bangsat kurang ajar!" teriak Lestari marah sekali.

Wut!



SINAR putih menyambar ke arah lambung Randu Wongso disertai suara bersuit. Kaget lelaki ini bukan olah-olah. Sambaran angin yang datang sangat berbahaya. Mau tak mau segera dia lepaskan pegangannya di pinggang si gadis dan melompat mundur. Di hadapannya kini Randu melihat Lestari berdiri memegang sebuah seruling terbuat dari perak. Benda ini berkilat-kilat tertimpa sinar matahari pagi. Randu berpaling pada Ronggo lalu bertanya. "Sobatku, sebenarnya siapakah si cantik berbaju merah ini? "Kulihat gerakan ilmu pedangnya boleh juga!" "Siapa dia nanti saja kita bicarakan. Aku tak mau kau membuang waktu. Lekas tangkap dia!"

"Baiklah sobatku. Rupanya kau sudah tidak sabaran! ‘Kembali Randu Wongo bergerak.

"Majulah kalau ingin mampus!" kata Lestari ketika dilihatnya Randu Wongo datang mendekat.

Sambil tertawa Randu Wongso melangkah menghampiri si gadis.

Tiba-tiba Randu menyergap ke depan. Lestari menghantamkan sulingnya ke arah dada lawan.

Namun kali ini dia tertipu.

Serangan Randu Wongso hanya pura-pura saja karena sedetik kemudian dia sudah berpindah kedudukan dan berkelebat ke jurusan lain. Lestari tak kalah cepat. Dia putar gerakan tangannya dan sulingnya kini justru menusuk ke muka lawan! Ketika Randu Wongso berkelit untuk menghindarkan mukanya. Lestari lepaskan satu pukulan tangan kosong dengan tangan kiri,

"Eh!"

Untuk kedua kalinya Randu Wongso dibuat terkejut. Dia benar-benar sadar kini kalau dara berbaju merah yang tadi dianggapnya sepele itu tak bisa dipandang enteng. Di balik wajahnya yang jelita, di belakang gerakan tubuhnya yang halus gemulai itu, tersembunyi satu ilmu silat tinggi!

"Kalau tak segera kuringkus gadis ini bisa berbahaya!' ‘kata Randu Wongso dalam hati. Dengan gerakan bernama pelangi menggelung langit dia me-nyambar dari samping, kiri. Gerakannya aneh, perlahan sekali, seperti acuh tak acuh dan sangat mudah untuk balas dihantam. Namun Lestari walau tidak banyak pengalaman telah digembleng oleh gurunya Si Pemusnah Iblis secara meyakinkan. Dia tegak menunggu dengan waspada. Ketika lawan sampai di hadapannya baru dia bersurut dua langkah: Betul saja apa yang diduganya. Lawan tiba-tiba membuat gerakan susulan. Baru serangan Randu bergerak setengah jalan Lestari sudah menyongsong mendahului dengan satu tendangan ke arah ulu hati lawan. Tapi serangan ini hanya mengenai tempat kosong karena Randu Wongso berhasil mengelakkannya

Dengan penasaran Lestari lepaskan pukulan tangan kosong dengan mengerahkan tenaga dalamnya.Randu Wongso juga tak kalah jengkelnya. Dia ingin tahu sampai di mana ketinggian ilmu lawan. Serangan Lestari disambutnya dengan pukulan tangan kosong pula.

Dua larik angin menderu, saling labrak satu sama lain.

Lestari rasakan tubuhnya bergoyang gontai. Serta merta dia lipat gandakan tenaga dalamnya. Namun ternyata tenaga dalam lawan jauh lebih tinggi. Sekali

mendorongkan tangan kanannya ke depan maka Lesta ri terjajar ke belakang. Selagi dia coba mengimbangi diri Randu Wongso menyergap.

"Celaka! "seru Lestari dalam hati ketika dilihatnya lawan berhasil merampas suling peraknya. Dengan senjata ini Randu Wongso kemudian berusaha menotok pundak sang dara. Sekali totokan itu mengena maka akan lumpuhlah sekujur tubuh Lestari. Masih untung gadis ini cepat mengelak hingga terhindar dari bahaya.

Ronggo Bogoseto yang sejak tadi menyaksikan perkelahian kedua orang itu dengan berdebar kini mulai was-was apakah Randu Wongso akan mampu menangkap sang dara. Sikapnya yang tertawa-tawa cengengesan membuat pemuda ini jadi jengkel.

‘ Randu! Lakukan pekerjaanmu dengan cepat! Kau berhasil merampas senjatanya. Masakan menangkapnya saja kau membutuhkan waktu begitu lama! "

"Aku tahu apa yang aku kerjakan Ronggo!" Randu Wongso kini ber balik nampak kesal. Lalu dia menghadapi Lestari kembali. "Gadisku cantik," katanya. "Jika kau mau serahkan diri secara baik-baik, aku berjanji tidak akan mencideraimu. Bagaimana . . . ? Kau tahu pemuda sobatku ini putera orang terpandang, memiliki kekayaan. Jika kau ikut dengan dia pasti kau bahagia. . . "

"Baiklah, aku akan menyerah saja . . ..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 172.68.65.57
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia