Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Ketika perempuan tua pengurus jenazah memberitahu bahwa kain kafan siap untuk ditutupkan, Sri Surti Purwani meraung keras dan menubruk jenazah puterinya. Dipeluknya kuat-kuat seperti tak akan dilepaskan apapun yang terjadi.

Orang-orang perempuan yang ada di ruangan besar itu tak dapat menahan keharuan dan ikut mengucurkan air mata. Seorang lelaki bertubuh kurus, mengenakan blangkon coklat berbunga hitam dan baju lurik hitam bergaris kuning coklat, menyeruak di antara mereka yang hadir lalu memegang bahu Surti Purwani, berusaha menariknya seraya mengucapkan kata-kata membujuk.

"Sudah bune. Cukup..... Relakan anak kita pergi. Biar arwahnya tenang di alam baka..."

Setelah membujuk berulang kali dan menarik tubuh permpuan itu dengan susah payah, akhirnya lelaki tadi—Sumo Kabelan, suami Surti Purwani berhasil menjauhkan istrinya dari jenazah. Namun begitu terpisah perempuan ini langsung pingsan hingga terpaksa digotong ke kamar.

Sumo Kabelan Mengusap mukanya beberapa kali. Namun air mata tak kunjung terbendung. Sebelum kain kafan ditutup dia masih sempat mencium kedua pipi jenazah. Lalu dia tegak bersandar ke tiang besar ruangan dengan wajah yang ditutup dengan kedua tangan, menangis terisak-isak.

"Witri.... Witri... Malang nian nasibmu. Mengapa Gusti Allah datang menjemputmu dalam usia semuda ini..."

"Dimas Sumo...." Datang suara dari samping. Yang bicara adalah seorang lelaki pendek gemuk, berkumis tebal. Dia adalah kakak Sumo Kabelan yang hari itu menerima musibah, kematian puterinya – anak tunggalnya – yang baru saja menginjak usia delapan belas tahun. "Gusti Allah mengambil Witri tentu karena Dia saying. Gusti Allah pasti tahu apa yang diperbuatNya. Kita dan yang lain-lainnya kelak akan berkumpul lagi di akhirat..."

"Kasihan Witri... Kasihan anakku..." kata Sumo Kabelan berulang kali.

Begitu kain kafan ditutup dan diikat pada ujung kepala dan ujung kaki, beberapa orang masuk membawa usungan. Jenazah dimasukkan ke dalam usungan, ditutup dengan beberapa lapis kain batik, lalu di atas sekali kain hijau berumabirumbai benang kuning emas.

Seorang pemuda berkulit kuning yang sejak tadi tampak ikut mengucurkan air mata beberapa kali merapikan kain hijau penutup usungan. Dia adalah Jalatunda, pemuda yang seyogyanya menjadi calon jodoh atau calon suami Suwitri, gadis yang meninggal itu.

Tak lama kemudian jenazah di bawa ke mesjid besar untuk disembahyangkan.

Selesai disembahyangkan, sebelum diberangkakan menuju pemakaman, lelaki gemuk berkumis tadi – kakak Sumo Kabelan menyampaikan sambutan pendek, mengharap aga kedua orang tua dan sanak keluarga yang ditinggalkan bersikap tabah menghadapi musibah itu, memohon aga almarhumah dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya, lalu mendoakan agar almarhumah diberi tempat yang sebaik-baiknya di sisi Allah.

Selesai upacara pendek itu, jenazahpun diusung ke pemakaman yang terletak cukup jauh. Di depan sekali Jalatunda berjalan membawa paying besar untuk melindungi usungan dari teriknya sengatan matahari di siang itu.

Selewatnya tengah hari rombongan yang terdiri hampir seratus orang itu sampai di pintu gerbang pemakaman. Seorang pengemis tua tampak duduk menjelepok dekat pintu dan menadahkan tangannya minta dikasihani. Namun tak seorangpun mengacuhkan pengemis ini. Di saat para pengantar semua berada dalam kesedihan siapa pula yang akan tergerak untuk memberi uang pada tukang mintaminta itu.

Ketika rombongan pengantar yang panjang sampai di bagian tengah, pengemis tadi ulurkan tangan menarik pakaian seorang pengantar.

"Hai...siapakah yang meninggal?" pengemis itu bertanya. Suaranya halus hampir tak terdengar. Mungkin karena keletihan duduk di bawah terik matahari, mungkin juga dikarenakan usianya yang sudah lanjut.

"Ah pengemis tua, apa perlumu bertanya. Lepaskan bajuku!" kata lelaki yang bajunya ditarik lalu menyentakkan tangan si pengemis.

"Bertanya saja tidak boleh..." sang pengemis tampak jengkel.

Seorang pengantar yang mendengar gerutuan pengemis itu walau tak acuh mau juga menjawab.

"Yang meninggal adalah anak gadis Sumo Kabelan, tuan tanah dari desa Ambarwangi..."

"Ah kasihan...kasihan. Apakah dia sudah kawin...?" pengemis tadi bertanya.

Yang menjawab adalah pengantar lainnya, yang terpisah tiga orang di belakang pengantar yang memberi keterangan tadi.

"Pengemis tolol! Namanya saja masih gadis. Masakan kalau sudah kawin dikatakan gadis!"

"Ah, aku memang tolol! Kasihan gadis itu...."

Pengemis itu geleng-gelengkan kepala. Perlahan-lahan dia berdiri. Sesaat dia pandangi rombongan pengantar jenazah sambil tepok-tepok pantat pakaiannya yang kotor penuh debu. Ketika kepala rombongan sampai di liang lahat yang telah disiapkan untuk jenazah, dengan langkah terserok-serok pengemis tadi mendatangi.

Sambil melangkah mulutnya tiada henti mengucapkan kata-kata kasihan.

Usungan diturunkan, diletakkan di tepi liang lahat. Satu demi satu kain penutup usungan dibuka. Sambil tiada hentinya mwlafatkan doa-doa, jenazah kemudian dikeluarkan dari usungan, diangkat oleh empat orang sementara tiga orang lainnya sudah lebih dulu masuk ke dalam kuburan, menunggu dan menyambut jenazah.

Saat itulah, ketika jenazah hendak diterimakan dari tangan empat orang ke tangan tiga orang tadi mendadak orang banyak yang berkerumun mengelilingi liang lahat terkuak, terjerongkang jatuh bahkan ada yang terpental.

"Hai! Apa-apaan ini!" teriak Sumo Kabelan hampir saja jatuh terjerambab ke dalam liang lahat.

"Pengemis itu! Gila dia rupanya!"

"Usir pengemis itu!" Terdengar teriakan-teriakan.

Orang yang roboh berjatuhan dan terpental semakin banyak. Pengemis yang tadi duduk dekat pintu makam mendesak masuk. Seorang pengantar menarik lengannya. Tapi orang ini segera roboh kena sikut. Seorang lain yang jadi marah menarik leher pakaiannya. Tapi diapun terjerongkang kena tendangan. Setelah itu orang banyak yang menjadi marah cepat mengurung malah muali mengeroyok pengemis tersebut. Namun semuanya terpental dan berteriak kesakitan. Sebelum sesuatu dapat dilakukan, pengemis itu melompat ke muka langsung merangkul jenazah Suwitri di bagian pinggang lalu menaikkan ke bahu kirinya.

"Pengemis keparat! Apa yang hendak kau lakukan?!" teriak Sumo Kabelan.

Sementara kakaknya yang gemuk sudah menyambar sebuah pacul dan siap menghantamkannya. Namun hebat sekali gerakan pengemis itu. Meski bahunya diberati jenazah kaki kanannya melesat cepat menendang tangan sigemuk hingga patah dan pacul terlepas mental dari pegangannya. Sumo Kabelan sendiri langsung jatuh ketika satu pukulan melabrak dadanya. Dengan gerakan aneh pengemis itu melompat ke atas. Di lain kejap dia sudah ke luar dari kurungan orang ramai.

"Pneculik jenazah"

"Penculik mayat!"

"Hai! Hendak kau larikan ke mana jenazah gadis itu!"

Orang ramai mengejar. Sesaat pengemis itu balikkan diri, tegak menunggu dengan sikap menanang. Sambil menyeringai dia berkata "Kalian inginkan mayat ini? Ambillah kalau bisa!"

Jalatunda, pemuda yang tadinya adalah calon suami Suwitri lari mengejar paling depan. Dia sampai pertama sekali di hadapan pengemis itu. Begitu dekat pemuda ini langsung melayangkan tinjunya ke muka si pengemis. Ganda tertawa penemis tua itu tangkap tinju kanan Jalatunda denga telapak tangan kirinya lalu diputar kuat-kuat. Jalatunda terpekik. Tulang telapak tangannya remuk, pergelangan tangannya lepas.

"Anak muda! Aku tidak heran kau membela gadis ini walau sudah jadi mayat!

Tapi tidak kau atau siapapun boleh merampasnya dariku...!" berkata pengemis tua itu dengan tampang galak.

"Keparat penculik! Tinggalkan jenazah itu!" Si pengemis tertawa.

"Kalau kau memang sangat menginginkannya datanglah satu hari di muka ke hutan Roban sebelah timur! Kau akan mendapatkan mayat kekasihmu kembali!"

"Jahanam! Lebih baik kubunuh kau saat ini juga!" teriak Jalatunda. Lalu melompati pengemis itu.

Entah dai mana dapatnya, saat itu tampak pemuda ini telah memegang di tangan kirinya sebilah parang berkarat. Senjata ini dibacokkannya ke pinggang pengemis. Tapi dengan mudah dapat dielakkan. Penuh luapan amarah Jalatunda tusukkan ujung parang ke dada pengemis itu. Yang diserang gerakkan tangan kirinya, memukul badan parang dari samping. Senjata itu patah dua dan terlepas mental dari tangan Jalatunda. Si Pengemis tertawa panjang.

Ketika orang banyak sampai di tempat itu, penculik mayat itu telah lenyap.

Hanya suara tawanya yang masih tertinggal dalam bentuk gema menggidikkan.

Satu hari dimuka, ratusan penduduk desa Ambarwangi kelihatan berkelompok di ujung timur hutan Roban. Penduduk desa-desa sekitarnya, yang mendengar kejadian dilarikannya mayat Suwitri oleh seorang pengemis aneh, ikut pula mendatangi tempat itu. Keadaan di situ tidak bedanya seperti orang yang sedang mengungsi. Banyak yang mendirikan gubuk atau kemah sementara sambil menunggu apa yang akan terjadi.

Seperti kata pennculik sebelum lenyap bersama jenazah Suwitri, jika jenazah itu memang diinginkan kembali, maka satu hari dimuka orang-orang itu disuruh datang ke ujung timur hutan Roban. Jalatunda, calon suami Suwitri beserta Sumo Kabelan – ayah si gadis – lebih dulu datang ke tempat itu. Sejak Suwitri dilarikan dan setelah penculik mengeluarkan ucapan begitu keduanya langsung menuju tempat yang dikatakan. Menunggu dan bermalam di situ dengan hati berdebar, menantikan apa yang bakal terjadi.

Bersama beberapa orang kawannya Jalatunda coba menyelidik agak jauh ke dalam hutan sebelah timur. Namun mereka tidak menemukan apa-apa. Hutan Roban sejak lama terkenal keangkerannya. Bukan saja penduduk sekitar itu menganggap rimba belantar itu sarang segala macam makhluk halus, mulai dari jin sampai dedemit, mulai dari setan pelayangan sampai hantu iblis, tetapi deketahui pula bahwa di dalam hutan itu bercokol beberapa kelompok rampok ganas. Belum lagi binatang buas termasuk ular berbisa! Karena itu Jalatunda dan kawan-kawannya tidak berani masuk terlalu jauh ke dalam hutan.

Matahari telah jauh condong ke barat. Saat yang dikatakan si penculik yakni satu hari dimuka, sudah hampir mendekat. Namun tak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu.Orang ramai mulai gelisah, tegang dan tampak banyak pula yang merasa cemas. Jelatunda melangkah mundar mandir. Sebentar-sebentar tangannya meraba hulu golok besar yang diikatkannya ke pinggang. Dia sudah bertekad bulat. Jika pengemis penculik itu muncul, pemuda ini akan menyerangnya, membunuhnya sampai mati. Kalau perlu dia mau mengorbankan diri asal jenazah kekasihnya bisa didapat kembali.

Di bagian yang lain Sumo Kabelan tegak dengan wajah gelisah, tiada lepaslepas memandang kea rah hutan yang kini mulai kelihatan meredup gelap karena sang surya tidak lagi memancarkan cahayanya di bagian ujung timur itu.

Di udara sekelompok urung gagak hitam terbang berputar-putar sambil tidak henti-hentinya menguik.

"Burung-burung nazar itu...." kata Sumo Kabelan dengan paras berubah.

"Pertanda yang tidak baik...." Sambungnya kemudian perlahan.

Burung-burung itu masih terus berputar dan menguik. Tiba-tiba lebih keras dari kuik binatang-binatang itu dari dalam rimba belantara terdengar suara tawa melengking, menggetarkan serta membuat setiap mereka yang mendengar jadi mengkirik ketakutan.

"Orang-orang Ambarwangi!" ketika suara tertawa lenyap berganti terdengar suara orang berseru.

"Aku tahu kalian sudah lama menunggu! Ambillah kembali jenazah gadis ini...!"

Sebuah benda putih melayang di udara, melesat ke luar hutan Roban di mana ratusan orang menunggu. Benda ini sesaat kemudian terayun membalik masuk lagi ke dalam hutan. Ternyata bedna itu terikat di ujung seutas tali. Dan tali ini ditambatkan pada cabang sebatang pohon besar. Ketika diperhatikan benda yang terayun-ayun itu, ternyata adalah sosok tubuh yang terbungkus kain kafan!

"Astaga! Pasti itu jenazah Suwitri!" teriak seseorang.

"Darah!" seorang lain ikut bereriak.

Jalatunda telah lebih dahulu lari ke dalam hutan.

Dengan tangan kiri dia menahan pocong yang teryaun-ayun. Begitu derasnya ayunan pocong membuat pemuda itu hampir jatuh terseret. Namun cepat dia mencabut golok dan menebas tali pengikat ujung kain kafan. Jenazah yang jatuh cepat disambutnya dengan bahu kirinya lalu melarikannya ke luar hutan. Orang ramai segera menyongsong. Beramai-ramai jenazah diturunkan dari bahu Jalatunda, dibaringkan hati-hati di tanah.

"Kenapa kain kafan berdarah! Pasti terjadi sesuatu!" kata Sumo Kabelan. Lalu lelaki ini membungkuk untuk memeriksa.

Jalatunda bergerak lebih dulu. Tali kain pengikat ujung-ujung dan bagian tengah jenazah dibukanya.

Bau busuk menyebar santar begitu kain kafan tersingkap. Wajah Suwitri tampak utuh meski pucat dan membiru di beberapa bagian. Tetapi ketika kain kafan sebelah bawah dibuka lebih lebar, Jalatunda, Sumo Kabelan dan yang lain-lainnya terperangah mundur. Bagian dada serta perut mayat tampak berlubang besar. Darah membeku di mana-mana.

"Jantung dan hatinya lenyap!" teriak kakak Sumo Kabelan.

"Ya Tuhan! Apa yang terjadi dengan jenazah anakku!" seru Sumo Kabelan.

Tubuhnya bergetar keras. Lututnya goyah. Dia hampir roboh kalau tidak lekas ditahan.

"Sudah meninggal kenapa jenazahnya masih dirusak...? Anakku.... Suwitri anakku....!"

Jalatunda duduk pejamkan mata tak tega menyaksikan pemandangan yang mengerikan serta menusuk hati itu. Namun disaat yang sama kemarahannya juga menggelegak. Tiba-tiba seperti orang kemasukan setan dia berteriak keras. Melompat tegak. Kedua matanya mendadak menjadi merah. Wajahnya membesi. Dia cabut kembali golok yang tadi disarungkannya. Senjata ini ditabaskannya kian kemari. Dari mulutnya keluar suara menggerung berkepanjangan disertai ludah membusah di sela bibir.

Orang banyak serta merta mundur menjauh.

"Jalatunda kemasukan setan!" seseorang berteriak.

"Awas! Mungkin dia mau mengamuk!"

"Menjauh!" teriak seorang yang lainnya.

"Jala, tenang.... Kuatkan hatimu!" Sumo Kabelan mendekat sambil membujuk.

"Jala! Sarungkan golokmu kembali!" kata Sumo Kabelan. Kali ini dengan suara keras.

"Keparat! Bangsat!" teriak Jalatunda tiba-tiba.

"Kemanapun akan kucari! Akan kubunuh!"

Lalu pemuda ini balikkan tubuhnya, lari masuk ke dalam hutan Roban.

"Jala! Kembali!" teriak Sumo Kabelan. Yang lain-lain juga berseru memanggil. Namun pemuda itu lari terus sambil acung-acungkan golok dan berteriakteriak.

Sesaat kemudian diapun lenyap dalam kerapatan pepohonan.



Nyi Ageng Jeliteng memandang dengan kesal pada puterinya yang sampai saat ini masih saja menangis sambil menelungkup di atas tempat tidur.

"Rukmi tak ada gunanya kau menangis. Sekalipun sampai keluar air mata darah itu tidak akan merubah pendirian ibu. Apalagi ayahmu!"

Tejarukmi, gadis enam blas tahun yang menangis di atas ranjang itu membalik dan menutupi wajahnya dengan bantal besar. Tangisnya kini malah menjadi-jadi.

"Sikap tingkahmu hanya akan memberi malu orang tuamu Rukmi. Percayalah, kami ayah dan ibumu ingin melihat kau bahagia..."

Tejarukmi campakkan bantal dari mukanya, setengah duduk dia berkata dengan muka balut "Kalau ibu ingin melihat aku bahagia, mengapa memaksa saya harus kawin dengan lelaki yang tiga puluh tahun lebih tua dari saya itu!"

Nyi Ageng Jeliteng geleng-gelengkan kepala. "Kau masih belum mengerti nak..."

"Saya cukup mengerti iu. Lebih dari mengerti. Yang ibu dan ayah pikirkan adalah kepentingan kalian berdua, bukan kepentingan saya!"

"Lho, yang akan kawin itu kau, bukan kami Rukmi. Jadi kau sendiri yang kelak akan merasakan kebahagiaan itu..."

"Siapa orang tuanya yang bahagia kalau dikawin paksa! Dengan tua bangka beranak empat pula!"

Tejarukmi bantingkan kedua kakinya ke atas tempat tidur.

"Dengar Rukmi anakku. Kami tidak memasksa kau kawin saat ini juga. Tapi tahun depan. Di bulan Sura. Ketika usiamu genap mencapai tujuh belas tahun!"

"Saya tidak akan kawin dengan tua bangka itu!"

"Raden Jarot bukan orang sembarangan Rukmi. Dia termasuk kerabat Istana, keponakan Pangeran Dirjo Samekto...."

"Sekalipun dia raja diraja saya tidak suka! Saya tidak mau kawin dengan dia!"

"Ibu tahu mengapa kau menolak!" Nyi Ageng Jeliteng mulai tampak kesal. Ini kentara dari nada suaranya.

Dan perempuan itu lebih jengkel lagi ketika puterinya menukas "Kalau ibu sudah tahu saya menolak, mengapa masih memaksa?!"

"Orang tua mana! Bangsawan mana yang sudi anaknya bercinta dengan seorang anak petani miskin! Jangan lupa turunan kita! Ayahmu bengsawan kelas satu.

Orang tuaku juga turunan bangsawan terhormat. Dan keu hendak mengotori darah bangsawanmu dengan darah pemuda miskin yang hanya pandai mencangkul itu....?"

"Hanya kebetulan saja kakak Wiguno seorang anak petani miskin. Tapi apa bedanya dia dengan kita? Sama-sama manusia....?"

Nyi Ageng Jeliteng tertawa mendengar kata-kata puterinya itu.

"Kau sudah terlalu jatuh larut dalam dunia cinta. Ketahuilah bahwa dunia cinta itu adalah dunianya orang-orang gila dengan seribu angan-angan muluk. Aku kawin dengan ayahmu tanpa mengenal cinta. Tapi setelah kawin, apa yang kami rasakan jauh lebih bahagia dari cinta....."

"Kalau masa muda inbu tidak mengenal cinta, pantas saja ibu bisa berkata begitu!"

Hampir Nyi Ageng Jeliteng menampar mulut anaknya itu.

"Tak ada gunanya menasehatimu. Biar ayahmu yang nanti bicara. Dan kau tahu. Kalau ayahmu sempat naik pitam, tangan dan kakinya akan melayang ke tubuhmu. Itu rupanya yang kau kehendaki!"

"Dipukul sampai matipun saya tidak takut." Jawab Tejarukmi.

"Anak durhaka!" kata Nyi Ageng Jeliteng marah lalu berdiri dan tinggalkan kamar itu.

Keesokan harinya gedung besar kediaman bangsawan Mangun Sarabean heboh ketika seisi gedung mengetahui bahwa den ayu Tejarukmi lenyap. Beberapa potong pakaiannya berikut sejumlah perhiasan miliknya yang ada dalam lemari ikut lenyap.

"Anak itu pasti meinggat!" kata Raden Mas Mangun Sarabean sambil menggebrak meja. Dia lalu berteriak memanggil pembantunya. Kepada para pembantu itu diminta agar menghubungi Raden Jarot, meminta bantuan sejmulah pasukan untuk mencari anaknya yang lenyap.

"Periksa ke rumah pemuda petani itu!" kata Mangun Sarabean. "Aku yakin Tejarukmi kabur bersama pemuda keparat itu. Anakku harus kembali. Dan Wiguna kalau perlu dibikin mampus saja! Dia yang jadi pangkal bahala semua ini!"

Mangun Sarabean lalu masuk ke dalam menemui istrinya yang menangis menggerung-gerung.

Para pembantu yang disuruh segera berangkat ke tempat kediaman Raden Jarot, lelaki yang sudah dicalonkan untuk menjadi suami Tejarukmi. Sesuai dengan permintaan Mangun Sarabean maka Raden Jarot menghubungi pamannya yaitu pangeran Dirjo Samekto guna mendapatkan sejmulah pasukan untuk mencari Tejarukmi.

Pasukan yang dikerahkan pangeran Dirjo Samketo ternyata adalah dari kelompok yang berpengalaman dan merupakan andalan kerajaan. Karenanya tidak mengherankan Tejarukmi dan Wiguna di sebuah pondok tua di dalam lembah Gilimanuk yang terletak sekitar setengah hari perjalanan dari desa Ambarwangi.

Ketika ditemukan sepasang merpati yang saling mencinta ini berusaha melarikan diri dari kepungan.

Namun sia-sia. Wiguno, pemuda petani miskin itu berusaha mempertahankan Tejarukmi, tetapi apa dayanya menghadapi puluhan prjaurit tangkas bersenjata lengkap sedangkan dia hanya mengandalkan tangan kosong. Dalam keadaan luka parah, atas perintah Mangun Sarabean, Wiguno akhirnya tewas terbunuh! Mati di hadapan mata kepala Tejarukmi yang membuat gadis itu langsung menjerit dan jatuh pingsan.

Selama beberapa hari Tejarukmi mengunci diri dalam kamar. Tak mau makan, minumpun hanya sekedar membasahi bibir. Lambat lau tubuhnya jadi kurus lemas, parasnya semakin pucat.

Suatu pagi ketika Nyi Ageng Jeliteng bersama seorang pembantu membuka pintu kamar gadis itu dengan paksa sambil membawa makanan, mereka dapati Tejarukmi terbujur di lantai. Dekat kepalanya terletak sebuah mangkuk berisi warangan yang masih tersisa. Mulutnya mengeluarkan busa. Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Gadis ini mati bunuh diri dengan jalan minum racun keras.

Dalam suasana heboh kematian Tejarukmi itu, selagi gedung besar penuh didatangi penduduk sedesa serta kerabat dekat, belum lagi jenazah sempat dimandikan di tangga depan gedung tampak seorang pengemis tua yang anehnya muncul dengan menunggang seekor kuda jantan warna coklat. Diikuti pandangan mata sekian banyak orang yang terheran-heran, pengemis itu turun dari kudanya lalu berkata "Kedatanganku sebenarnya ingin minta sedekah. Tapi ada kejadian apakah di rumah besar ini hingga orang begini banyak dan kudengar ada suara orang meratap di dalam sana...."

"Pengemis berkuda," seseorang menjawab. "Bukan saatnya kau datang meminta-minta. Orang sedang ditimpa musibah. Pergilah dari sini...."

"Musibah....ah....ah....ah. sungguh kasihan. Rumah besar mentereng seperti ini seharusnya siisi dengan suasana meriah ceriah. Bukan tangisan. Musibah apakah yang datang menimpa penghuni gedung ini....?'

Meskipun kesal melihat pengemis yang banyak tanya ini namun orang itu kembali menjawab "Den Ayu Tejarukmi, puteri Nyi Ageng Jeliteng meninggal dunia."

"Aih sungguh kasihan. Masih mudakah dia? Saktikah dia hingga sempai ajal secepat itu...."

Seorang tinggi besar yaitu pembantu merangkap penjaga gedung kediaman Mangun Sarabean memegang bahu pengemis itu dan menyentakknnya ke belakang.

"Pengemis buruk! Bawa kudamu! Pergi dari sini!"

Pembantu itu terkejut ketika sentakannya tidak berhasil membuat pengemis tadi tertarik ke belakang. Malah dirasakannya tiba-tiba tangannya kesemutan dan kaku tak bisa digerakkan lagi. Dia berteriak memberitahu kawan-kawannya ketika pengems itu melangkah menaiki tangga depan gedung. Maka empat orang segera menghadang si pengemis.

"Kalian mengapa berlaku kasar padaku!" kata si pengemis. "Aku datang bukan untuk membuat keributan ataupun mengganggu!"

"Pengemis buruk! Tempatmu bukan di sini! Kau sengaja memaksa masuk.

Jika kau inginkan sedekah kami akan memberi. Tapi jika kau memaksa, kami terpaksa menggebukmu!" salah seorang dari empat lelaki yang menghadang berkata.

"Aku hanya ingin melihat Den Ayu Tejarukmi. Kudengar dia bunuh diri. Tapi apakah dia benar-benar sudah mati? Tak bernafas lagi? Jika aku diperbolehkan melihat, siapa tahu aku bisa mwnolong!"

"Menolong menghidupkannya?!" ejek lelaki tadi.

"Kau tentu bergurau. Hanya Gusti Allah yang bisa menghidupkan manusia dan mematikannya jika memang dikehendakiNya. Yang aku ingin katakana siapa tahu gadis itu hanya pingsan. Masih belum mati. Mungkin aku bisa menolongnya"

"Pengemis ngaco! Lekas pergi. Jangan membuat ulah yang bukan-bukan di tempat berkabung ini!" Satu suara membentak. Keras dan garang.

Si pengemis memalingkan kepalanya. Di sebelah kirinya berdiri seorang bertubuh tinggi ramping, mengenakan pakaian bagus dan mahal, lengkap dengan topi tinggi berwarna hitam.

Si pengemis manggut-manggut, lalu menjawab "Aku mengerti, aku mengerti...."katanya. "Kau pantas marah. Bukankah kau Raden Jarot, duda anak empat calon suami Den Ayu Tejarukmi yang gagal...?"

Orang tinggi ramping itu terkejut. Bagaimana pengemis yang tidak dia kenalnya tahu siapa dirinya adanya?

"Kalau kau sudah tahu siapa aku, maka lekas pergi dari sini!" kata Raden Jarot pula.

"Tapi aku ingin menolong calon istrimu itu!"

"Aku dan siapapun di sini tidak butuh pertolonganmu!" bentak Raden Jarot.

"Kalau begitu kau tidak cinta pada gais itu. Kau tak ingin melihat dia hidup kembali. Padahal sebelumnya kau secara halus memaksa kedua orang tuanya agar gadis itu bisa kau jadikan istrimu....!

Merah paras Raden Jarot mendengar kata-kata terakhir pengemis itu. Tentu saja dia ingin melihat Tejarukmi hidup kembali. Namun mana masuk akal kalau gadis yang sudah mati itu bisa ditolong. Maka dia memberi isyarat pada empat lelaki yang mengurung si pengemis agar menyeret orang tua itu. Selesai memberi isyarat maka diapun masuk ke dalam gedung. Tapi langkahnya tertahan ketika di belakangnya terdengar suara bak-buk-bak-buk disusul keluh kesakitan. Ketika dia menoleh kembali, empat lelaki tadi dilihatnya terkapar di tanggga gedung. Ada yang memegang perut, dada dan ada pula yang menutupi wajah dengan kedua tangan.

Semuanya masih meringis dan mengeluh kesakitan.

"Kurang ajar! Kau berani memukul orang-orangku!" teriak Raden Jarot marah.

Sekali tubuhnya berkelebat, tinju kanannya menderu ke muka pengemis tua itu.

Sebagai orang yang dekat dengan kalangan Istana, Raden Jarot memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi. Bahkan keris yang tersisip di pinggangnya diketahui adalah pemberian seorang petinggi Istana yang dekat dengan Sri Baginda.

Melihat pukulan yan dihantamkan Raen Jarot, semua orang yang hadir di tempat itu sama menduga si pengemis tua akan terpental dengan kepala remuk, paling tidak bengkak berdarah mukanya. Tetapi alangkah herannya mereka ketika dengan acuh tak acuh pengemis itu angkat tangan kirinya, telapak tangan dikembangkan.

Buk!

Tinju Raden Jarot menghantam telapak tangan yang dipakai untuk melindungi muka dari pukulan.

Lelaki ini merasakan tangannya seperti menghantam tembok. Jika tidak malu pastilah dia akan menjerit kesakitan. Tangannya tampak merah dan lecet-lecet.

Melihat kenyataan ini Raden Jarot segera maklum, siapapun adanya pengemis tua itu, dia adalah seorang yang memliki kepandaian tinggi. Dan dengan memperlakukannya seperti itu jelas dia membawa maksud yang tidak baik. Sambil menghunus kerisnya Raden Jarot berteriak.

"Semua lelaki yang ada di sini, Bantu aku meringkus pengemis keparat ini!

Dia datang dengan maksud jahat!"

Lebih dari selusin lelaki segera melompat mengurung. Dua di antaranya adalah anggota pasukan yang sebelumnya ikut melakukan pencarian ketika Tejarukmi minggat bersama Wiguno.

Melihat dirinya dikurung begitu rupa, pengemis itu berkacak pinggang dan tertawa aneh.

"Usir kudanya! Jangan sampai pengemis tua bangka keparat ini lolos!" teriak Raden Jarot.

Seseorang kemudian dengan cepat menggebrak tubuh kuda coklat yang tadi ditunggangi di pengemis. Binatang ini meringkik lalu lari kencang dan menghilang di kejauhan.

"Aku hanya memberi nasehat pada kalian!" katanya kemudian pada orangorang yang mengurungnya.

"Menyingkirlah jika ingin selamat!"

"Serbu! Ringkus pengemis keparat ini! Bunuh jika perlu!" teriak Raden Jarot.

Pada saat itu tuan rumah yang sedang berduka yakni Mangun Sarabean ke luar ruangan dalam. Melihat seorang ttua berpakaian kotor penuh tambalan dikurung demikian rupa maka diapun menegur.

"Apa yang terjadi di sini?!"

Raden Jarot menerangkan dengan cepat. Mangun Sarabean sesaat memperhatikan tangan kanan calon mantunya yang lecet akibat tangkisan pengemis aneh itu. Lalu dengan suara perlahan tapi tegas dia berkata "Berikan pakaian bekas, dua kaleng beras dan sejumlah uang padanya. Lalu biarkan dia pergi....!"

Habis berkata begitu Mangun Sarabean melangkah masuk ke dalam kembali.

Tapi kata-kata si pengemis membuatnya hentikan gerakan dan berpaling "Tuan rumah, sampeyan ternyata baik sekali. Pakaianku memang kotor penuh tambalan. Tubuhku kurus tak terurus. Tapi aku datang ke mari bukan untuk minta belas kasihan.... Apalagi minta pakaian, uang dan beras.....!"

"Lalu apa maumu....?" Tanya Mangun Sarabean. Ucapan si pengemis yang memanggilnya dengan sebutan sampeyan serta nadanya yang kasar membuat Mangun Sarabean tersinggung. Hatinya kesal. Apalagi dia ditimpa musibah besar kematian puterinya.

"Aku datang untuk melihat jenazah Den Ayu Tejarukmi," menjawab si pengemis.

"He, dia bukan sanak bukan kerabatmu. Mengapa ingi melihat?" tanya Mangun Sarabean. Sebelum dia membuka mulut membentak, Raden Jarot sudah mendahului.

"Pengemis edan! Jangan kau bicara segala macam aturan. Di sini berlaku aturan yang dibuat tuan rumah! Tubuhmu yan gbabak belur akan kami lempatkan ke jalan sana!"

"Kalau memang begitu, biar kau yang kugebuk lebih dulu!"

Tubuh pengemis kurus itu berkelebat.



Raden Jarot melihat gerakan pengemis itu begitu cepat hingga sulit mengetahui dengan apa dan baian mana dari tubuhnya yan gmenjadi sasaran serangan.

Untuk melindungi diri dia babat keris di tangan kanannya lurus rata dari kiri ke kanan.

Demikian derasnya hingga badan keris mengeluarkan suara menderu. Tidak dapat tidak salah satu bagian tubuh lawan pasti akan tersayat. Namun sesaat kemudian terdengar pekik Raden Jarot. Keris di tangan kanannya mental ke atas dan menancap di langit-langit serambi depan. Kemudain tubuhnya tampak terjerongkang ke belakang, hampir jatuh duduk. Satu pukulan melabrak dadanya di sebelah tengah!

Mangun Sarabean kaget bukan main. Dia tahu betul calon menantunya itu memiliki kepandaian silat tinggi. Tapi bagaimana pengemis tua bertubuh kecil itu dapat menghantamnya dalam satu kali gebrakan.

Sambil menahan sakit dan megap-megap karena nafasnya sesak Raden Jarot mencoba berdiri lalu berteriak pada orang-orang di sekelilingnya.

"Tunggu apa lagi?! Bunuh bangsat pengacau itu!"

Kini lebih dari selusin orang menyerbu. Termasuk Mangun Sarabean yang tidak dapat lagi menahan amarahnya. ORang ini tanggalkan ikat peinggang besat yang terbuat dari kulit. Mangun Sarabean diketahui bukanlah seorang yang memiliki ilmu silat atau kesaktian. Namun ada yang mempercayai bahwa dalam salah satu kantong ikat pinggang kulit itu tersimpan sebuah jimat yang konon didapat Mangun Sarabean dari seorang empu di puncak gunung Merapi. Ada jimat ataupun tidak si pengemis sama sekali tidak memandang sebelah mata pada ikat pinggang itu. Dan nyatanya demikian. Dalam beberapa kali gerakan kilat si pengemis itu menggebrak ke kiri dank e kanan. Terdengar pekik susul menyusul. Empat pengeroyok tergelimpang di lantai serambi. Dua lainnya terguling sambil pegangi perut. Lalu ada yang terhempas ke dinding, melorot tak berkutik. Mangun Sarabean sendiri tampak tagak terhuyung-huyung. Ikat pinggang besarnya tampak telah putus jadi dua. Yang lain-lain, termasuk Raden Jarot tegak terkesiap. Tak tahu mau berbuat apa. Bukan saja karena merasa ragu-ragu untuk menyerang kembali tapi lebih banyak jadi merasa takut.

Pengemis itu tegak berkacak pinggang dan tertawa panjang. Lalu tubuhnya lenyap, berkelebat kea rah pintu dalam. Sesaat kemudian di sebelah dalam terdengar pekik orang-orang perempuan.

"Tolong! Penculik!"

"Jenazah den ayu diculik!"

"Jenazah anakku dilarikan! Tolong!"

Apakah yang terjadi?

Pengemis aneh itu tadi ternyata masuk ke ruangan pembaringan jenazah.

Mayat Tejarukmi uang terbujur di atas kasur berseperai hijau berbunga emas, yang masih belum dimandikan atau dikafani, dan hanya ditutup dengan sehelai kain batik dan sutera, disambar oleh pengemis tadi dan dipanggulnya di bahu kiri. Sesaat dia memandang berkeliling sambil menyeringai memperhatikan orang-orang perempuan yang menjerit-jerit.

Nyi Ageng Jeliteng berteriak sambil melompat.

"Penculik busuk! Kembalikan anakku!" perempuan ini lalu mendorong si pengemis dengan tangan kiri sementara tangan kanannya berusaha memegang pinggang jenazah puterinya. Tapi sekali balas mendorong pengemis itu membuat Nyi Ageng Jeliteng terjatuh roboh dan terpekik. Sebelum pengemis itu berkelebat pergi bersama mayat Tejarukmi, seorang perempuan tua yang akan bertindak sebagai pemandi dan pengurus jenazh berusaha menghalangi mencakar kedua tangannya ke tubuh penculik.

Bret!

Pakaian kotor bertambal-tambal di bagian punggung pengemis itu robek. Hal ini membuat di pengemis marah sekali. Dengan tumit kirinya ditendangnya perempuan tua itu hingga terjengkang pingsan!

"Jangan coba-coba menghalangiku!" si pengemis berteriak memberi peringatan. "Jika kalian masih butuhkan jenazah ini, silahkan ambil besok sore di hutan Roban sebelah tenggara!"

Habis berkata begitu si pengemis tertawa panjang. Seperti melaynga, tubuhnya melesat ke jendela samping. Jenazah Tejatukmi lenyap bersama lenyapnya pengemis itu.

Rumah besar keidaman Mangun Sarabean menjadi gempar. Beberapa orang coba mengejar. Ada yang manunggang kuda dan membawa senjata. Namun mau dikejar ke mana? Pengemis itu lenyap laksana ditelan bumi!

"Tak mungkin kita meneruskan pengejaran!" kata Mangun Sarabean di atas punggung kuda hitam. Tangan kirinya terkepal tanda hatinya geram sekali.

Raden Jarot yang juga berkuda dan berada di sebelahnya mengangguk perlahan tanda maklum.

"Pengemis itu!" katanya. "Siapa dia sebenarnya!"

"Dan mengapa dia menculik mayat Tejarukmi? Kalau Wiguno masih hidup mungkin kita bisa menuduhnya yang melakukan penculikan. Tapi pemuda itu sudah mati...." Sesaat Mangun Sarabean termangu duduk di atas punggung kuda sementara rombongan pengejar yang berjumlah hampir dua puluh orang itu berada di belakang menunggu perintah selanjutnya. "Mungkin ini dosa kita karena pemuda itu sampai terbunuh....?" Ujar Mangun Sarabean kemudian.

Kata-kata itu membuat paras Raden Jarot berubah.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Mangun Sarabean kemudian.

"Saya memutuskan pergi ke hutan Roban sebelah tenggara! Pengemis keparat itu menyebut tempat tersebut sebelum kabur!" kata Raden Jarot.

"Jangan, terlalu berkhayal!" kata Mangun Sarabean. "Kau pasti tahu hutan itu bukan saja angker tapi penuh binatang buas dan segala macam rampok!"

"Saya tahu betul hal itu. Karenanya saya akan minta bantuan pasukan dari paaman Dirjo Samekto...."

"Kalau begitu aku kembali ke Ambarwangi. Kau meneruskan ke tempat kediaman pamanmu itu..."

Raden Jarot memberi hormat lalu bersama beberapa orang pengiringnya dia meninggalkan tempat itu sedang Mangun Sarabean kembali ke rumahnya di Ambarwangi.

LEpas lohor hari itu tampak serombongan pasukan berjumlah hampir tiga puluh orang, bergerak menuju hutan Roban sebelah tenggara. Di sebelah muka menunggang kuda Raden Jarot didampingi seorang perwira muda bernama Rangga Pangestu. Di dalam jajaran pengawal Pangeran Dirjo Samekto perwira itu memegang tampuk pimpinan dan memiliki kepandaian yang sudah dikenal kehebatannya di mana-mana. Di samping itu pengalamannya juga cukup luas. Atas perintahnya seluruh anggota pasukan termasuk dia dan Raden Jarot diharuskan membawa perisai.

Dia tahu betul, memasuki hutan Roban berarti menantang maut. Serangan kaum perampok bisa terjadi secara mendadak. Dan itu bisa berupa hujan panah atau lemparan tombak. Karenanya perisai sangat diperlukan.

Rembang petang rombongan sampai di tepi hutan Roban sebelah tenggara.

Mereka masuk ke dalam hutan sejauh beberapa ratus tomabak, lalu membuat perkemahan. Di sini Rangga Pangestu mengatur rencana gerakan selanjutnya.

Pertama sekali harus diingat, mereka memasuki rimba belantara itu untuk mencari jenazah Tejarukmi, menangkap hidup-hidup atau membunuh pengemis yang telah menculiknya. Berarti sepanjang yang mereka bisa lakukan ialah menghindarai bentrokan dengan para perampok. Kecuali jika mereka diserang, maka tak ada jalan lain mereka harus menumpas penjahat itu.

Sore itu mereka akan menyelidik bagian hutan di sebelah tenggara. Sebelum hari gelap mereka harus sudak kembali ke kemah. Lalu keesokan paginya baru penyelidikan diteruskan. Rombongan dibagi tiga kelompok. Masing-masing kelompok berjumlah sekitar sepuluh orang. Namun sampai hari menjadi gelap mereka tak menemukan apa-apa. Jangankan jenazah Tejarukmi, tanda-tanda sedikitpun tak berhasil mereka dapatkan. Menduga si penculik asal saja menyebut bagian tenggara hutan Roban atau sengaja menyiasati, ditambah hari mulai gelap maka ketiga kelompok penyelidik itu sesuai perjanjian kembali ke perkemahan. Ketika sampai di perkemahan mereka dikejutkan mendapatkan puluhan orang berpakaian dan berikat kepala serba hitam menduduki dan mengurung perkemahan. Bahkan sampai di atasatas pohon sekitar kemah tampak sosok-sosok tubuh yang sama.

"Geromblan rampok...." Bisik Raden Jarot.

Rangga Pangestu mengangguk. Dia meneliti keadaa kemah dengan cepat. Tak ada tanda-tanda kerusakan atau kekerasan. Ini satu tanda baik. Tanpa turun dari kudanya perwira itu berseru.

"Tamu dari mana yang datang menyambangi perkemahan kami?!"

Seorang lelaki berpakaian hitam, bertubuh kekar maju dua langkah. Dia masih muda, tetapi wajahnya penuh cambang bawuk dan berkumis tebal.

"Kami anak buah Warok Kunto Rekso! Ingin tahu apa yang dibuat sekelompok pasukan kerajaan di hutan Roban ini!"

"Aku perwira muda wilayah timur bernama Rangga Pangestu. Di sebelahku ini adalah Raden Jarot. Keponakan Pangeran Dirjo Samekto. Mana pimpinan kalian?. Aku ingin bicara dengannya!"

Rangga Pangestu sengaja menerangkan dirinya dan siapa pula Raden Jarot untuk membuat para perompok tidak berlaku sembarangan. Dia kenal betul keganasan perampok hutan Roban. Nyawa manusia sama saja dengan nyawa seekor nyamuk!

Anggota perampok yang tadi bicara memang tampak sedikit terkesiap begitu mendengar ucapan Rangga Pangestu itu. Namun hanya seketika karena kemudian dengan suara lantang dia berkata "Katakan apa maksud kalian berada di sini!"

"Aku hanya bicara kalau pimpinanmu ada di sini!" balas Rangga Pangestu.

Dia sudah dapat membaca situai kalau para permpok itu tidak akan bertindak gegabah.

"Aku ada di sini perwira muda!" Satu keras tapi serak datang dari arah pohon besar di samping kanan.

Rangga Pangestu dan semua rombongan mendongak ke atas. Pada sebuah cabang besar duduk seorang lelaki berpakaian dan berikat kepala hitam sambil menyedot sebuah pipa berbentuk aneh. Rambutnya panjang sebatas bahu. Mukanya tertutup kumis dan cambang bawuk lebat. Tampangnya menggetarkan, ditambah dengan barisan gigi-giginya yan gbesar nyaris membentuk taring pada kedua sudut depan, maka tampangnya hampir menyerupai seorang raksasa.

"Sekarang apakah kau ma menerangkan tujuan kalian berada dalam hutan kekuasaanku?" Warok Kunto Rekso buka suara lalu hembuskan asap pipanya ke udara.

Rangga Pangestu tahu betul di dalam hutan Roban yang membentang dri barat sampai ke timur itu terdapat beberapa kelompok rampok ganas. Seluruh kelompok berada di bawah pimpinan Kunto Rekso. Bukan saja karena kepala rampok yang satu ini memiliki jumlah anggota paling besar, tetapi juga karena mempunyai kepandaian tinggi setingkat perwira madya.

Sebenarnya baik Rangga Pangestu maupun Raden Jarot merasa tersinggung dengan sikap kepala rampok yang bicara duduk di atas pohon sambil menghisap pipa seenaknya. Tapi mereka juga menyadari, bangsa rampok hutan seperti itu mana mengenal segala macam peradatan. Maka perwira muda itu membuka mulut memberi keterangan.

"Kami tengah mengejar seorang penculik!"

Kunto Rekso cabut pipanya. Menatap sesaat pada Rangga Pangestu lalu berkata "Mengejar seorang penculik? Adalah aneh! Orang lua mana yang berani masuk ke hutan Roban?!"

"Kami tidak tahu jelas siapa penculik itu adanya. Dia berpakaian seperti pengemis!" Yang bicara Raden Jarot.

"Apalagi seorang pengemis!" ujar Kunto Rekso lalu tetawa sember. "Sulit bagiku mempercayai keteranganmu, perwira muda!"

"Kami tidak berdusta. Seorang pengemis tua menculik jenazah puteri bangsawan Mangun Sarabean dari Ambarwangi...." Lalu Rangga Pangestu memberikan keterangan singkat aas apa yang telah terjadi.

Sesaat kepala rampok di atas pohon itu terdiam sambil usap-usap dagunya.

Dia ingat kejadian hampir satu bulan lalu. Ketika seorang pemuda bernama Jalatunda memasuki hutan Roban dalam keadaan seperti gila sambil mengacung-acungkan golok. Pemuda itu kini berada di markasnya menjadi pembantu juru masak.Ketika hampir dibunuh Jalatunda menerangkan apa yang telah terjadi. Jenazah kekasihnya diculik seorang pengemis tua. Jenazah ini kemudian ditemukan di hutan Roban sebelah timur tanpa jantung dan hati. Apakah penculik jenazah puteri Mangun Sarabean itu pengemis yang sama?

Melihat orang terdiam, Rangga Pangestu berkata "Agaknya kau mengetahui sesuatu Warok....!"

"Jika daerah kekuasaanku dikotori seseorang, aku harus mencari dan membunuh orang itu. Tapi jika kalian mempunyai maksud terselubung, kalian tak akan keluar hidup-hidup dari hutan ini!"

"Maksud terselubung apa?" tanya Rangga Pangestu.

"Sebelumnya aku mengetahui telah terjadi satu peristiwa penculikan. Bukan mustahil kajadian itu kalian pergunakan sebagai topeng untuk melakukan penyerbuan terhadap kami orang-orang Roban!"

"Jangan berprasangka terlalu jauh. Jika maksud kami hendak membasmi kalian, sudad tadi-tadi hal itu kami lakukan!" ujar perwira muda itu.

Warok Kunto Rekso tertawa sember.

"Malah kalau kau suka, kami ingin minta bantuan kerja samamu!" Raden Jarot berkata.

"Bantuan maccam mana....?" Tanya si kepala rampok acuh tak acuh.

"Ikut mencari pengemis penculik itu. Dan menemukan kembali jenazah puteri Mangun Sarabean.

Kembali Warok Kunto Rekso tertawa.

"Selama ini tak pernah kejadian ada kerja sama antara kami orang-orang hutan Roban dengan orang-orang kerajaan. Malah kalian selalu mengejar hendak membasmi kami. Sampai kejadian sebelum bulan Maulud tahun lalu yaitu ketika hampir lima puluh perajurit kerajaan menemui ajal dan tiga puluh anggota kami tewas.

Aku tetap menaruh syakwasangka kalian memanfaatkan situasi untuk melakukan sesuatu terhadap kami!"

"Jika kau berpikir seperti itu adalah salah!" ujar Rangga Pangestu.

"Warok!" kata Raden Jarot. "Jika kau dan orang-orangmu mau membantu kau boleh ambil cincinku ini!" lalu Raden Jarot loloskan cincin emas bermata jambrut besar dari jari manis tangan kanannya.

Benda itu dilemparkannya ke atas pohon yang segera ditangkap oleh si kepala rampok.

"Cincin bagus....!" Kata Warok Kunto Rekso sambil memperhatikan cincin itu dalam kegelapan di atas pohon. Lalu cincin tersebut dimasukkannya ke jari manis tangan kirinya sambil menyeringai tiada henti. "Kua baik hati Raden Jarot. Terima kasih atas pemberianmu..."

Dari mulutnya kemudian terdengar suara suitan keras. Serentak dengan itu puluhan anggota rampok yang berada di sekitar perkemahan bergerak cepat dan lenyap masuk ke dlaam hutan. Warok Kunto Rekso sendiri sudah lebih dulu melayang turun.

"Kejar kepala rampok itu!" teriak Raden Jarot yang merasa tertipu oleh kesalahannya sendiri.

Tapi Rangga Pangestu cepat berseru. "Semua tetap di tempat!"

"Cincinku!" ujar Raden Jarot.

Rangga Pangetu hanya mengangkat bahu. Benda apapun yang telah dilarikan kepala rampok itu dan berapapun nilainya dia tak akan mau memerintahkan orangorangnya melakukan pengejaran. Seperti yang ditandaskannya semula, mereka memasuki hutan Roban yang penuh bahaya itu bukan untuk membuat bentrokan dengan para perampok. Tapi untuk mencari jenazah Tejarukmi yang diculik pengemis misterius!

Keesokan harinya ketika dia bangun pagi-pagi sekali, perwira muda Rangga Pangestu terkejut sewaktu seorang prajurit datang melapor bahwa Raden Jarot telah pergi.

"Pergi? Pergi ke mana?!" tanya Rangga Pangestu.

"Masuk ke dalam hutan sebelah sana. Dia membawa serta selusin anggota pasukan. Katanya hendak mencari Warok Kunto Rekso yang telah melarikan cincin jambrutnya!"

"Celaka! Manusia tolol!" ujar Rangga Pangestu.

"Dia lebih sayangkan cincin itu dari nyawanya. Bahkan melupakan tugas semula! Mencari jenazah Den Ayu Tejarukmi!"

Sisa pasukan yang ada disiapkan. Setelah diberi beberapa petunjuk kemah dibongkar lalu rombongan itu masuk ke dalam hutan Roban. Kini tugas yang dihadapi bertambah satu yakni mencari Raden Jarot. Mereka bergerak dengan hati-hati tanpa memecah rombongan. Dalam jumlah yang kini menjadi sedikit itu sebenarnya ke adaan mereka jadi sangat berbahaya. Sekali diserang gerombolan rampok sulit untuk bertahan. Jika saja bukan Raden Jarot yang lenyap, mungkin Raden Rangga Pangestu memilihlebih baik keluar dari hutan Roban dan kembali lagi jika sudah dapat tambahan pasukan. Mau tidak mau Pangeran Dirjo Samekto pasti akan membebankan tanggung jawab padanya jika terjadi apa-apa dengan Raden Jarot.

Menjelang tengah hari belum kelihatan jejak pasukan yang dibawa Raden Jarot. Rombongan terpaksa berhenti karena tak dapat menahan lapar. Selesai makan mereka istirahat sebentar. Kesempatan ini dipergunakan oleh dua orang anggota pasukan membuang hajat ke sebuah kali dangkal tak jauh dari tempa itu. Namun niat mereka untuk buang hajat menjadi batal. Keduanya lari tergopoh-gopoh ke induk pasukan, langsung menemui Rangga Pangestu.

"Ada apa.... Kalian seperti dikejar setan?!" tanya Rangga Pangestu. Diamdiam dia sudah maklum kalau sesuatu yang hebat telah dialami kedua anggota pasukan itu.

"Raden Jarot," kata salah seorang dari dua prajurit. Dia manrik nafas dalam dulu baru menyambung "Mayatnya kami temukan dekat kali dangkal sebelah sana.

Bersama anggota pasukan yang dibawanya!"

Rangga Pangestu melompat dari batang kayu yang didudukinya, langsung lari mendahului dua prajurit itu. Yang lainnya menyusul.

Di tepi kali dangkal berair kebiruan perwira muda itu merasakan kedua kakinya seperti dipantek. Tubuh Raden Jarot terbujur setengah menelungkup. Ada luka besar di pelipis kirinya lalu di pangkal leher. Tangan kanannya hampir putus.

Dan pada jari manis tangan kanan itu tampak cincin emas berbatu jambrut besar yang malam tadi diberikannya pada Warok Kunto Rekso . Rupanya kelompok pasukan yang dipimpin Raden Jarot berhasil menemui gerombolan rampok itu dan terjadi pertempuran. Warok Kunto Rakso mengembalikan cincin yang diambilnya tetapi sekaligus juga meminta nyawa Raden Jarot sebagai gantinya!

Dua belas orang prajurit juga tampak tergelimpang di sepanjang tapi kali.

Sebelas diantaranya sudah menemui ajal. Satu yang masih hidup berada dalam keadaan luka berat dan sekarat. Dua anggota rampok tampak terkapar tanpa nyawa di dekat situ.

Rangga Pangestu memerintahkan orang-orangnya mengurus mayat Raden Jarot. Mayat yang lain dikuburkan di tepi kali itu. Selesai penguburan jenazah Raden Jarot segera diusung menuju Ambarwangi. Perwira muda itu sudah dapat membayangkan apa yang akan dilakukan Pangeran Dirjo Samekto begitu mengetahui keponakannya menemui ajal di tangan rampok hutan Roban.

Menjelang sore rombongan yang kembali dengan membawa mayat Raden Jarot itu sampai di bagian tenggara hutan, di mana sebelumnya mereka berkemah.

Rangga Pangestu yang menunggang kuda di sebelah depan mangangkat tangan memberi tanda agar rombongan berhenti.

"Aku mencium bau tidak enak...." Katanya sambil memandang berkeliling.

Dia turun dari kudanya, melangkah ke sederetan semak belukar lebat. Entah mengapa dadanya berdebar. Bukankah daerah itu begian tenggara hutan Raoban, tempat yang dikatakan oleh pengemis penculik sebagai tempat jenazah Tejarukmi dapat diambil kembali? Dan bukankah saat itu sudah sore yakni saat yang dijanjikan oleh si penculik?

Semakin dekat ke semak-semak semakin sentar bau tidak enak itu. Rangga Pangestu menyibakkan ranting-ranting berdaun liar dengan tangan kanannya. Begitu semak belukar tersibak, tubuhnya lasana tersengat. Di sebelah sana dilihatnya sosok tubuh Tejarukmi dalam keadaan hampir tidak tertutup. Bagian dada kiri dan perutnya nampak robek besar. Darah membeku di bagian luka itu. Luka dan darah beku inilah yang menebar bau busuk!

"Gusti Allah!" sseru Rangga Pangestu. "Manusia biadab macam mana yang tega melakukan hal ini!" Perwira muda ini tahu sekali kalau luka besar pada bagian dada dan perut jenazah Tejarukmi bukanlah akibat dikoyak binatang buas. Tapi diobol oleh tangan manusia, mungkin memakai pisau besar yang tajam dan hatinya lenyap!

"Cari kain!" kata Rangga Pangestu dengan suara bergetar. "Tutup jenazah itu!"

Seorang kemudian menutupi tubuh Tejrukmi dengan kain tenda kemah karena memang hanya itulah yang ada. Lalu sebuah usungan kayu dibuat dengan cepat.

Dengan demikian kini ada dua jenazah yang diusung menuju Ambarwangi. Jenazah Raden Jarot dan jenazah Tejarukmi yang malang.

Seperti yang sudah dibayangkan Rangga Pangestu sebelumnya, kematian Raden Jarot menimbulkan kemarahan besar atas diri Pangeran Dirjo Samekto.

"Tak ada jalan lain! Rampok-rampok hutan Roban itu harus dibasmi, dimusnahkan. Kalau perlu hutan Roban dibumi hanguskan! Bagaimanapun mahal tantangannya!" Begitu kata-kata sang pangeran di hadapan para pembantunya.

Namun sebelum keputusan itu dijalankan dia berangakt dulu ke kotapraja guna mendapat persetujuan Sri Baginda. Ternyata jalan yang hendak ditempuhnya itu disetujui raja. Maka lebih dari tiga ratus perajurit yang kemudian dibagi dalam tiga kelompok besar di bawah pimpinan tiga sampai empat perwira muda dan perwira tingi, beberapa hari kemudian membanjir masuk ke dalam hutan Roban.

Empat perkampungan rampok dihancur leburkan. Seratue anggota rampok yang mengadakan perlawanan menemui kematian, sisanya yang masih hidup akhirnya melarikan diri. Namun ketika mereka menyerbu ke perkampungan yan jadi makas kelompok Warok Kunto Rekso, perkampungan itu ditemui dalam keadaan kosong.

Rupanya sang Warok tidak bodoh dan sudah dapat mencium apa yang bakal terjadi setelah kematian Raden Jarot. Maka sehari sebelum balatentara datang menyerbu mereka sudah meninggalakan perkampungan, mengungsi ke satu tempat yang tidak diketahui.

Sejak lima bulan terakhir kawasan sekitar hutan Roban, mulai di wilayah timur maupun di barat, di sebelah selatan ataupun bagian pantai utara dicekam oleh kegegeran yang menakutkan. Terutama bagi keluarga yang memiliki anak gadis dan berada dalam keadaan sakit. Jika gadis sakit itu akhirnya meninggal dunia bukan mustahil dia akan menjadi korban penculikan manusia jahat yang sering muncul sebagai pengemis.

Kegelisahan rakyat itu terasa juga sampai ke dalam tembok Istana. Setelah peristiwa penumpasan besar-besaran para perampok hutan Roban maka pihak Istana telah menurunkan perintah, meneliti setiap pengemis yang ada dipelbagai pelosok dan menahan mereka yang dicurigai. Namun usaha itu ternyata belum menampakkan hasil.

Malah dua minggu yan gsilam ketika seorang perawan di dukuh Jembar meninggal dunia mati tenggelam di kali yan gsedang banjir, mayatnya diculik sebelum sempat dibawa ke kubur. Dua hari kemudian mayat itu ditemukan di hutan Roban sebelah barat dalam keadaan persisi sama seperti mayat-mayat lainnya. Tanpa jantung dan tanpa hati! Ini adalah korban yang ke enam. Masih berapa korban lagi yang menunggu?!

Kita kembali dulu ke hutan Roban pada saat sehari sebelum balatentara kerajaan menyerbu.

Pagi itu Warok Kunto Rekso memanggil pembantu-pembantu kepercayaannya. Dia memerintahkan agar pagi itu juga merea segera meninggalkan perkampungan. Dia tidak mengatakan pengungsian itu. Sebelum berangkat terjadi cekcok yang membuat kepala rampok naik darah. Jalatunda, pemuda yang danggap kurang waras karena peristiwa penculikan Sueitri menolak untuk meninggalkan perkampungan.

Jalatunda coba membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Tapi dia tak mampu mengeluarkan sepotong suarapun. Maka dia hanya balas melambaikan tangan.

"Jala..." kembali terdengar suara gadis itu. "Jika kau ingin bertemu denganku teruskan perjalananmu menuju ke barat. Ikuti arah tiga pohon beringin besar sampai akhirnya kau mencapai sebuah bukit kecil. Di puncak bukit ini ada daerah berbatubatu.

Pada sebelah bawah akan kau temui sebuah telaga berair hijau biru. Kau akan malihatku di situ Jala...." Suwitri melambaikan tangannya. Tersenyum untuk terakhir kali lalu lenyap.

Jalatunda terbangun dari tidurnya.

"Witri...."desis pemuda ini. Dia duduk termenung dan mengingat-ingat apa yang barusan dimimpikannya. Tiba-tiba pemuda ini berdiri. Dalam tubuhnya yang letih dan lapar itu seolah-olah ada sau kekuatan baru. Sesuai dengan petunjuk mimpi, di malam gelap dalam rimba belantara lebat pekat itu dia berjalan menuju ke barat.

Dalam perjalanan memang dia menemukan tiga buah pohon beringin besar seperti yang dikatakn Suwitri dalam mimpi. Lalu tepat di ujung pohon beringin yang terakhir, sekitar seratur tombak di depan sana kelihatan bukit batu, menghitam dalam kegelapan. Batu-batu besar yang membentuk bukit itu tertutup lumut tebal. Licinnya luar biasa. Jalatunda berulang kali tergelincir sebelum akhirnya sampai di puncak bukit. Dia tak berani berdiri di atas batu yang licin itu. Merangkak dengan kedua lutut dan telapak tangan menjejak batu. Memandang ke bawah si pemuda melihat sebuah telaga berair hijau kebiruan. Telaga itu tak seberapa besar. Di bagian tengah terdapat sebuah batu rata hampir menyerupai meja besar dan di atas batu ini duduklah sesosok tubuh tanpa pakaian. Tampaknya seprti tengah berlangir, tengah mandi.

"Gila, Siapa malam buta begini mandi di tempat seperti ini!" pikir Jalatunda.

Meskipun orang itu berambut panjang namun tidak dipastikan oleh Jalatunda dia seorang perempuan atau seorang lelaki. Pada masa itu banyak kaum lelaki yang memelihara rambut cukup panjang menyerupai perempuan. Orang yang duduk di atas batu rata menggosok badannya dengan segumpal benda. Bagian tubuh dan muka yang digosok dengan gumpalan itu kelihatan menjadi merah. Sekilas ketika orang tersebut memalingkan mukanya ke kiri jelas kelihatan bagian mulutnya sangat merah. Selesai menggosoki badannya, benda tadi dibuangnya ke dalam telaga lalu dia mengambil lagi sebuah gumpalan merah yang sebelumnya terletak di atas ujung batu.

"Orang yang mandi itu jelas bukan Suwitri...." Kata Jalatunda dalam hati.

"Tapi dia mengatakan aku akan menemuinya di telaga ini..." Si pemuda meragu apakah dia akan berseru memanggil atau bagaimana. Saat itu tiba-tiba orang yang sedang mandi melihat sosok tubuh Jalatunda di ats batu yang ketinggian.

"Bangsat keparat! Berani mengintai orang mandi!" kutuknya marah sekali.

Dia terjun ke dalam telaga. Metika muncul di tangan kanannya tergenggam sebuah batu sebesar kepalan. Batu ini dilemparkannya kea rah Jalatunda, tepat mengenai kepala si pemuda. Keningnya pecah. Darah menyembur. Tubuh Jalatunda roboh terguling, jatuh menggelinding ke kaki bukit. Hantaman batu itu sebenarnya tidak akan membuat mati Jalatunda. Tapi waktu terguling tadi lehenya patah dihantam batu.

Dia megap-megap sesaat lalu diam tak berkutik lai! Mati!

Sebuah perahu kayu besar merapat di Tanjung Karangwelang. Meskipun hanya merupakan sebuah pelabuhan kecil tapi laut di sini tenang hingga banyak perahu dari pelbagai jurusan lebih suka merapat di sini. Di samping itu sarana

perhubungan berupa jalan dan jembatan terpelihara baik hingga lalu lintas ke barat, timur dan selatan berjalan lancar.

Kemunculan perahu besar ini menarik perhatian banyak orang di sekitar pelabuhan. Boleh dikatakan jarang sekali perahu besar berlabuh di Tanjung Karangwelang. Tersiar kabar yang bersumber dari para awak kapal bahwa perahu besar itu adalah milik seorang saudagar berlian di Martapura yang datang ke situ membawa salah seorang puterinya yang sedang sakit keras.

Setelah perahu merapat maka sebuah tandu besar diturunkan, diusung ke darat langsung dinaikkan ke atas sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda. Saudagar

berlian itu, seorang Cina she Wong, bersama istri dan anak lelakinya ikut naik kereta.

Beberapa orang lelaki tampaknya bertindak sebagai pengawal mengiringi kereta tersebut. Tujuan mereka adalah kediaman seorang tabib yang tinggal di Kaliwungu.

Karena jalan yang baik maka sebelum tengah hari rombongan itu telah sampai ke rumah sang tabib yang juga keturunan Cina she Chou bernama Ap Yang.

Tabib Chou memang sudah terkenal sampai jauh ke luar tanah Jawa akan keahliannya mengobati berbagai macam penyakit serta kemujaraban obatnya. Setelah hampir enam bulan mengobati penyakit puterinya keluarga Wong memutuskan untuk membawa puteri mereka Wong Cui Lan ke tanah Jawa, agar dapat diobati langsung oleh tabib Chou tadi.

Mengetahui tamu datang dari jauh maka tabib Chou memberikan sambutan yang sebaik-baiknya. Sementara para pembantunya menyiapkan minuman dan hidangan kecil maka dia meminta agar si sakit langsung dibawa masuk ke dalam kamar periksa, dibaringkan di atas sebuah ranjang tinggi.

Wong Cui Lan tampak pucat sekali, kurus dan tertidur pulas. Wong Tam Pie, ayah si sakit segera menuturkan sakit anaknya yang diderita sejak enam bulan lalu.

Berbagai obat telah diberikan. Bermacam-macam ahli pengobatan telah dimintakan bantuannya.

Namun sakitnya Cui Lan tidak berkurang, malah keadaan gadis anak ketiga keluarga Wong itu semakin parah. Setelah mendengar kemasyuran tabib Chou maka mereka memutuskan untuk membawa Cui Lan pada tabib itu.

Setelah menatap sesaat wajah si sakit, tabib Chou bertanya "Saudara Wong, para ahli pengobatan terdahulu apakah mereka ada mengatakan anakmu mengidap sakit apa...?"

Wong Tam Pie gelengkan kepala. "Tak ada seorangpun yang tahu. Mereka hanya menduga-duga. Malah ada yang bilang anakku ini penyakitnya aneh...."

"Ada yang menduga dia diguna-guna orang," nyonya Wong ikut bicara.

Tabib Chou memperhatikan bibir si sakit yang berwarna kebiru-biruan lalu berkata "Anak kalian tidak sakit karena guna-guna. Dia menderita kelainan jantung.

Hanya saja...."

"Hanya saja bagaimana?" tanya Wong Tam Pei ketika dilihatnya sang tabib tidak meneruskan ucapannya.

"Hanya saja kalian datang terlambat.... Mohon dimaafkan saudara Wong"

"Apa maksudmu saudara tabib...?"

"Puterimu sudah meninggal. Mungkin sekitar satu jam yang lalu."

Nyonya Wong langsung menjerit dan meraung. Wong Tam Pei dan puteranya berusaha berlaku tenang.

"Kau... Kau belum lagi memeriksanya, bagaimana bisa bilang puteriku sudah meninggal?"

"Bibirnya kering dan biru. Itu tanda yang sangat pasti. Tapi agar kau puas biarlah kuperiksa." Maka tabib Chou lalu memegang pergelangan tangan Cui Lan.

Dia mengambil beberapa peralatan dan melakukan beberapa kali pemeriksaan.

Kemudain dia berpaling kepada ayah, ibu dan anak itu sambil geleng-gelengkan kepala.

Wong Tam Pie terduduk meneteskan air mata. Begitu juga puteranya.

Sementara Nyonya Wong terus menangis keras dan sambil memeluki dan menciumi wajah anak gadisnya.

"Apa yang kami lakukan sekarang?" tanya anak lelaki Wong.

"Kalian beristirahat saja dulu. Aku akan memberikan obat pengawet agar jenazah tetap utuh sampai di Martapura. Cuma kalau aku boleh memberi nasehat, makin cepat kalian membawa jenazah ke perahu dan berlayar akan makin baik."

"Eh, kenapa begitu?" tanya Wong Tam Pie.

Tabib Chou menarik nafas panjang. "Kalian mungkin tak percaya..... Tapi inilah ceritanya" Lalu tabib Chou menuturkan peristiwa-peristiwa penculikan atas jenazah enam orang gadis yang menggemparkan dan mengerikan itu.

Tentu saja keluarga Wong cemas bukan main mendengar penuturan itu.

Mereka tak ingin Cui Lan mengalami nasib yang sama.

"Kami mohon petunjukmu saudara tabib. Kurasa kedatangan kami dengan perahu layar besar telah menarik perhatian orang. Tak mungkin membendung rahasia.

Kalau sang penculik sampai mengetahui kejadian ini celaka kita...."

Tabib Chou merenung sejenak. Sesaat kemudian dia berkata. "Ada baiknya kita menyimpan dua buah peti mati. Satu besar dan satu lagi kecil dan ringan. Peti mati yang besar dibawa dengan kereta terbuka hingga semua orang dapat melihat.

Tapi jenazah puterimu tidak dimasukkan dalam peti itu. Melainkan dalam peti mati yang kecil. Peti ini diangkut dengan gerobak barang, ditutupi dengan sayuran. Nah, kalau penculik muncul, pasti dia akan melarikan kereta yang membawa peti mati besar..."

Wong Pie segera dapat menangkap jalan pikiran tabib Chou. Maka segera apa yang dinasehatkan tabib itupun dituruti dan segera dilaksanakan.

Udara di pelabuhan terasa sangat panas. Angin mengandung garam bertiup gersang. Kecuali para pekerja, kebanyakan orang lebih suka berada dalam bangunan.

Sederetan kedai nasi dan minuman di sepanjang pelabuhan dipenuhi oleh para tamu.

Kebanyakan dari mereka duduk menikmati makanan atau secangkir kopi sambil ngobrol ngalor ngidul. Namun siang itu pembicaraan semua orang hampir tidak banyak berbeda di setiap kedai. Mereka membicarakan perahu besar milik saudagar berlian dari Martapura. Agaknya hampir semua orang mengetahui kalau perahu milik saudagar Wong itu membawa anak gadis yang sedang saki untuk diobati oleh tabib Chou.

Dalam salah satu kedai, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng nampak menyantap nasi rawonnya dengan lahap. Sesekali kedua matanya malirik pada seorang perempuan yang juga berada di kedai itu tengah bersantap. Kalau saja perempuan ini tidak muda dan cantik tidak nanti murid Sinto Gendeng itu melirik terus menerus. Yang dilirik tampaknya tahu benar kalau dirinya diperhatikan orang, namun dia seperti tak perduli. Dari pakaian biru ringkas yang dikenakan perempuan itu Wiro maklum kalau si jelita berkulit kuning langsat ini adalah seorang dari kalangan persilatan. Maka timbullah niatnya untuk ingin berkenalan. Apalagi wajah perempuan muda ini mengingatkannya pada wajah Anggini, murid Dewa Tuak yang pernah dikenalnya beberapa waktu yang lalu (Baca serial Wiro Sableng "Maut Bernyanyi di Pajajaran") Namun sebelum maksdunya kesampaian di luar kedai terdengar ada kehebohan. Banyak orang berbondong-bondong menuju dermaga.

"Apa yang terjadi...?" tanya pemilik kedai pada seseorang yang kebetulan lewat.

Orang itu menjawab "Puteri saudagar Cina yang datang dari seberang itu meninggal. Tabib Chou tak keburu menolongnya!"

"Ah kasihan....!" Terdengar desah perempuan berbaju biru tadi. Lalu seperti tamu lainnya dia berdiri dan melangkah keluar kedai untuk melihat rombongan pembawa jenazah. Wiropun segera tinggalkan tempat duduknya.

Sebuah kereta terbuka tampak ditarik oleh dua ekor kuda, bergerak menuju dermaga di mana perahu besar berada. Di belakangnya ada sebuah kereta lain ditumpangi keluarga Wong. Wong Tam Pie duduk dengan kepala tertunfuk, mengucurkan air mata, menangis tanpa suara. Di sebelahnya duduk istrinya yang sepanjang jalan menangis keras tiada henti. Lalu putera mereka duduk di sebelah kusir kereta dengan kepala tegak tapi mata merah.

Di kiri kanan kereta mengawal enam orang. Di sebelah belakang sekali, jauh tertinggal dari rombongan induk menyusul sebuah gerobak sarat berisi sayur. Orang banyak ikut mengiringi rombongan itu menuju tepi dermaga. Wiro tegak di samping perempuan cantik berbaju biru. Dia tengah berpikir-pikir bagaimana cara yang baik untuk menegur perempuan ini. Tiba-tiba si baju biru berpaling padanya, tersenyum.

Ah pucuk dicinta ulam tiba, pikir Wiro Sableng. Dia balas tersenyum. Perempuan itu mengulurkan tangannya menyerahkan sejumlah uang kecil.

"Sahabat, kau tentu mau menolongku."

"Tentu saja. Eh, apa ini?"

Si baju biru memasukkan uang receh itu ke dalam genggaman Wiro seraya berkata "Aku ada keperluan penting. Tolong berikan uang ini pada pemilik kedai pembayar makanan yang tadi kusantap!"

Senyum lebar penuh harapan yang tadi menyeruak di mulut Wiro serta merta lenyap ketika dia mengetahui apa maksud perempuan cantik itu. Sebelum dia sempat berbuat atau mengatakan sesuatu, si baju biru telah lenyap di antara orang banyak.

Dengan jengkel Wiro timang-timang uang itu dan akhirnya melangkah menuju kedai tempat dia makan tadi. Tetapi langkahnya belum jauh ketika mendadak dari arah dermaga terdengar suara keributan.

Saat itu Wiro melihat kusir kereta yang membawa peti mati mencelat mental dan terhempas di jalanan dihantam tendangan seorang lelaki yang pakaiannya tampak seperti pengemis. Orang ini kemudian menyambar tali kekang dua ekor kuda lalu menggebarak kedua binatang itu. Sebelum kereta mayat menghambur, dua orang tampak berusaha menghalangi. Keduanya adalah Wong Tam Pie dan puteranya.

Masing-masign membawa sebatang tongkat. Enam orang berkuda ikut pula mencegat. Tapi pengemis di atas keeta mayat hebat sekali. Dia pergunakan cambuk kuda untuk menghantam oran-orang itu. Tongkat di tangan Wong Tam Pie mental sedang tongkat di tangan puteranya patah daua. Lalu enam orang pengawal dihajar dengan cambukan hingga luka-luka melintir kesakitan.

Peristiwa itu berlangsung cepat sekali. Hingga ketika Wiro Sableng sampai di tempat itu si pengemis yang melarikan kereta mayat sudah lenyap di tikungan jalan.

"Kejar!" teriak salah seorang pengawal. Mukanya tampak luka bekas hantaman cambuk.

"Tidak usah!" Wong Tam Pie mencegah yang membuat pengawal itu serta kawan-kawannya keheranan.

"Orang itu melarikan peti mati jenazah puterimu seudagar Wong!" kata si pengawal.

"Biarkan dia mencuri peti dan jenazh anakku. Semua segera naik ke atas perahu! Dahulukan gerobak sayur itu...!"

Wogn Tam Pie, isterinya dan anak laki-lakinya segera naik keatas perahu besar. Para awak perahu dibantu oleh enam pengawal tadi menaikkan gerobak sayur ke dalam perahu. Tak lama kemudian perahu besar itu pun mulai merenggang meninggalkan dermaga.

Di atas anjungan Wong Tam Pie nemapak berdiri dengan wajah lega.

"Untung tabib Chou menyusun siasat jitu. Kalau tidak pasti jenazah Cui Lan sudah kena diculik penjahat!"

"Heran..." kata puteranya sang saudagar. "Siapa sebenarnya pencuri tadi.

Tampaknya seperti peminta-minta. Apa perlunya mencuri mayat orang?"

"Akupun tidak mengerti. Dunia ini semakin tua. Segala kejahatan dan keanehan bisa saja terjadi" kata saudagar Wong lalu dia masuk beranjak meninggalkan anjungan.

Kita kembali ke pelabuhan. Ada dua hal yang dirasa aneh oleh murid Sinto Gendeng. PErtama orang berpakaian pengemis itu melarikan peti mati berisi jenazah puteri saudagar Cina itu. Kedua mengapa sang saudagar sendiri mencegah para pengawalnya mengejar si pencuri dan memerintahkan cepat-cepat naik keatas perahu besar. Karena tidak mendapatkan jawabannya maka Wiro Sableng akhirnya memutuskan untuk mengejar sendiri kereta mayat yang dibawa kabur itu. Dia menyambar seekor kuda yang tertambat tak jauh dari situ lalu membedal binatang ini ke arah lenyapnya kereta tadi.

Kira-kira beberapa ratus tombak dari tikungan jalan Wiro menemukan kereta itu berhenti di tepi jalan. Penutup peti mati berada dalam keadaan terbuka. Ketika dia meneliti ke dalam peti ternyata peti itu kosong!

"Jenazh puteri saudagar itu dilarikan...." Membatin Wiro. Dia coba meneliti keadaan sekitarnya. Tak ada sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk kemana jenazah itu dibawa kabur. Berarti rasa ingintahunya menemui jalan buntu hanya sampai di situ.

Sementara itu selagi Wiro berusaha meneylidiki kejadian itu, di pelabuhan telah terjadi lagi kegemparan. Saat itu orang benyak masih berkumpul di sepanjang dermaga. Mereka membicarakan apa yang barusan terjadi sambil memandangi perahu besar semakin menjauh ke tengah laut. Saat itulah seseorang terdengar berteriak.

"Hai! Orang yang melarikan kereta mayat itu ada di sana! Lihat dia menendang pemilik perahu pukat!"

Semua orang memalingkan kepala ke jurusan yang ditunjuk. Benar, mereka menyaksikan seorang pemilik perahu kecil yang biasa dipakai untuk manangkap ikan terjatuh ke dalam air akibat tendangan lelaki berpakaian pengemis yang tadi diketahui melarikan kereta pembawa peti mati. Oang itu kemudian mendayung perahu menuju ke tangah laut, kea rah perahu besar milik saudagar Wong. Yang luar biasanya ialah dia menggunakan kedua tangannya sebagai pendayung.

Perahu pukat itu seperti melesat membelah air laut, meluncur cepat di atas air menuju perahu besar. Membuat semua orang hampir tak mempercayai pemandangan mata meeka sendiri!

"Tak ada manusia yang mampumendayung perahu dengan tangan seperti itu!" kata seseorang.

"Kalau bukan malaikat pasti dia seorang sakti luar biasa!" kata seorang lainnya.

Lalu ada seorarng lainnya lagi yang seprti bertanya "Eh, bukankah tadi dia melarikan peti mati berisi jenazah puteri Cina itu! Sekarang seperti hendak mengejar perahu besar! Apa yang hendak dilakukannya?!"

Orang banyak semakin berjejalan di sepanjangan dermaga. Tak lama kemudian pukat itu berhasil menyusul perahu besar, lalu tak selang berapa lama setelah itu tampak asap hitam mengepul di atas perahu besar.

"Perahu besar itu terbakar!" teriak orang banyak berbarengan.

Pada saat itulah Wiro sampai kembali ke pelabuhan, dan ikut menyaksikan perahu besar dimakan kobaran api. Perahu pukat tadi untuk beberapa lamanya tidak kelihatan lagi. Namun seseorang kemudian melihat dan berseru ketika pukat itu tampak seperti menyeruak di antara kepulan asap hitam, meluncur ke arah timur dan akhirya lenyap di titik batas pemadangan.

"Apakah kalian semua di sini hanya bisa menonton tanpa melakukan sesuatu untuk menolong?!" Satu suara terdengar di antara kerumunan orang banyak. Yang bicara ternyata adalah seorang kakek mengenakan kain dan selempang putih.

Mulutnya komat kamit. Kedua matanya yang kelabu menatap jau ke tengah lautan, kea rah perahu besar yang diamuk api.

"Ah, empu Tembikar tupanya...." Kata seseorang. Orang ini seperti sadar segera berteriak. "Yang memiliki perahu besar itu!" Lalu dia mendahului lebih dari selusin perahu kecil didayung cepat menuju perahu kayu yang terbakar. Namun nyala api besar sekali. Sebelum orang0orang itu berhasil mendekat, perahu telah hampir musnah. Di antara isinya, hanya dua orang awak kapal yang sempat menyelamatkan diri, terjun ke laut lalu berenang sambil berpegangan pada potongan papan. Keduanya segera ditolong dan dibawa ke darat. Sampai di darat mereka segera dihujani pertanyaan apa yang terjadi. Kenapa perahu itu sampai terbakar. Salah seorang dari awak perahu memberi keterangan tak jelas dari mana asalnya api. Ketika kebakaran itu diketahui, kobaran api telah mengamuk hebat. Dan ini terjadi pada tiga bagian perahu. Yakni buritan, bagian palka tengah lalu anjungan. Persediaan air di perahu itu ternyata tidak mencukupi karena sewaktu berlabuh di Tanjung Karangwelang belum sempat mengisi air.

Di dalam suasana kacau beberapa orang awak kapal sempat melihat kemunculan tiba-tiba pengemis yang sebelumnya diketahui telah melarikan kereta pembawa peti jenazah Cui Lan. Dia tampak mengobrak abrik beberapa bagian perahu tanpa seorangpun awak kapal atau keluarga saudagar Wong dan para pengawalnya dapat mencegah. Karena saat itu masing-masing berusaha memadamkan api bahkan lebih banyak ingin menyelamatkan diri dalam kebingungan. Pengemis tadi kemudian menemukan sebuha peti kayu yang tersembunyi di bawah tumpukan sayur mayur dalam gerobak. Dia langsung membukanya dan mengambil jenazah Cui Lan, puteri Saudagar Wong. Begitu dia mendapatkan jenazah itu pengemis tersebut segera meninggalkan perahu besar, melompat ke dalam perahu pukat, mengayuhnya menjauhi perahu besar dan lenyap!

Pendekar 212 Wiro Sableng garuk-garuk kepala mendengar keterangan awak perahu itu. Sejak beberapa bulan lalu dia memang pernah mendengar peristiwaperistiwa menggemparkan tentang dicuri atau diculiknya jenazah anak gadis atau perempuan muda yang belum kawin. Apakah artinya semua ini. Apa perlunya seseorang menculik mayat? Dan kabarnya penculik itu adalah seorang pengemis, seperti manusia yang tadi disaksikannya melairkan kereta mayat!

Di tengah laut perahu besar itu hanya tinggal tiang-tiangnya saja yang kelihatan. Baian lainnya sudah musnah dimakan api dan enggelam cerai berai ke dalam air laut. Asap hitam masih mengepul-ngepul. Wiro yang saat itu ikut memandang kea rah kapal yang hampir lenyap tiba-tiba dikagetkan oleh sesosok tubuh yang tahu-tahu sudah tegak tepat di depannya.

Ternyata yang berdiri di hadapannya saat itu adalah kakek berpakaian putih yang tadi didengarnya dipanggil dengan sebutan Empu Tembikar.

Orang tua ini memandang tak berkedip tepat ke wajah Wiro dengan sepasang matanya yang kelabu.

"Kau orang pandai. Tapi hanya berpangku tangan!" Orang tua ini berkata. Suaranya tandas seperti menghukum.

Wiro berkedip. Hendak menjawab. Tapi Empu Tembikar sudah meninggalkannya. Penasaran maka Wiro Sableng mengikuti orang tua itu. Jauh sekali dia berjalan mengikuti hingga akhirnya sampai di sebuah tambak ikan asin. Di sini Empu Tembikar membalikkan tubuhnya dan bertanya "Mengapa kau mengikutiku?!"

"Ingin tahu apa maksud ucapanmu tadi, orang tua?" balik bertanya murid Sinto Gendeng.

"Oh, jadi kau masih tidak tahu. Ternyata kau tolol melompong. Aku tak suka bicara dengan orang pandir. Apalagi orang pandir yang tidak tahu kebodohannya sendiri!"

"Kebodohan apa yang telah kuperbuat?!" tanya Wiro dengan menahan jengkel.

"Aku tahu kau mampu menolong orang-orang di kapal yang terbakar tadi itu.

Tapi mengapa kau tidak melakukan sesuatu....?"

Wiro garuk lagi kepalanya. Lalu menjawab "Mampu belum tentu bisa. Perahu besar itu terbakar cepat sekali. Ketika aku sampai di dermaga sudah hampir musnah.

Kulihat banyak yang mencoba turun ke laut untuk emnolong. Nyatanya mereka tidak dapat melakukan apa-apa. Aku sama saja dengan manusia-manusia itu. Bukan orang pandai atau dewa yang mempu malakukan pertolongan ajaib....!"

Si kakek bermata kelabu tiba-tiba tertawa.

"Kau pandai bicara mencari alas an. Ketika kereta pembawa peti mati dilarikan orang, kaupun bertindak lalai...."

"Aku mengejar. Tapi kutemui peti mati itu telah kosong," menerangkan Wiro.

"Itu karena kau bertindak terlambat. Apakah gurumu tak pernah mengajarkan bahwa soal waktu itu bisa sama harganya dengan selembar nyawa manusia....?"

"Kau menyebut-nyebut guruku. Apakah kau kenal dia?"

Si kakek angkat bahu lalu melangkah pergi. Tapi Wiro cepat pegang bahunya.

"Orang tua, tunggu dulu. Tadi kau menyebut aku berpangku tangan. Bodoh, pandir, lalai dan sebagainya. Aku mau tanya. Apa saja yang telah kau lakukan selama kejadian-kejadian yang menggemparkan di pelabuhan itu. Hanya bicara....?"

Paras orang tua itu sekilas berubah. Kemudian dia tampak tersenyum.

"Orang tua adalah tempat bertanya. Orang tua sumber petunjuk. Sebaliknya orang muda seperti kau adalah para pelaksana...."

"Kalau begitu alangkah enaknya jadi orang tua. Hanya tinggal bicara lalu menyalahkan orang muda....!"

"Terserah kalau kau berpendapat seperti itu..."

Wiro tak mengacuhkan kata-kata si mata kelabu itu. Dia berkata "Kalau katamu orang tua tempat bertanya, orang tua sumber petunjuk. Lalu petunjuk apa yang dapat kau berikan saat ini?!"

"Bagus kau bertanya begitu. Apakah kau ada mendengar peristiwa-peristiwa buruk yang dialami jenazah para gadis di kawasan ini?"

"Tidak," jawab Wiro sengaja berdusta. "Apa petunjukmu selanjutnya?"

"Kejahatan itu harus dihentikan!" jawab Empu Tembikar.

"Kenapa kau tidak menghentikan?"

"Karena ada seorang lain yang harus menghentikannya?"

"Siapa?" tanya Wiro.

"Kau....!"

Wiro melengak kaget.

"Mengapa musti aku?"

"Aku tidak tahu!"

"Kau tahu siapa pelaku kejahatan itu? Pendulik itu?"

"Aku tidak tahu" jawab Empu Tembikar.

"Kau mungkin tahu dimana kediamannya?" tanya Wiro lagi.

"Aku tidak tahu. Tapi ada petunjuk dia selalu membuang jenazah culikannya di arah timur, tenggara atau timur lautan utan Roban."

"Kalau dia menculik kemudian membuang jenazah begitu saja, apa perlunya dia melakukan itu?"

"Untuk mengambil jantung dan hati gadis yang mati itu!"

Wiro merasa tengkuknya jadi dingin.

"Apa guna jantung dan hati itu? Untuk disantap? Ih!"

Empu Tembikar mengeluarkan segulung kertas dari balik selempang kain putihnya.

"Seseorang memberikan kertas surat ini tiga tahun lalu padaku. Ambil dan bacalah isinya. Mungkin kau akan mendapat petunjuk lebih lanjut...."

Habis berkata begitu Empu Tembikar melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Wiro Sableng mencari pohon rindang dan duduk di bawahnya, pada pematang tambak ikan asin. Meskipun matahari sore bersinar terik tapi tiupan angin yang sepoi-sepoi membuat udara cukup nyaman. Pendekar ini membuka gulungan keras yang tadi diberikan Embpu Tembikar. Tulisan di kertas itu cukup panjang, ditulis dengan huruf-huruf yang membentuk tulisan bagus sekali. Wiro mulai membaca.

INTI SARI KEHIDUPAN INDAH KAUM PEREMPUAN

Sejak dunia terkembang, sejak perempuan dilahirkan di dunia, diciptakan dari tulang rusuk nabi Adam, ada satu kekuatan yang selalu menghantui kaum perempuan.

Mereka takut dimakan usia. Mereka takut menghadapi kenyataan bahwa mereka akan menjadi......Belum sampai Wiro menyelesaikan membaca kalimat terakhir itu tiba-tiba dia merasa ada angin yang menyambar dari belakang kiri. Pendekar ini cepat menghantam dengan tangan kirinya namun dia hanya memukul tempat kosong.

Bersamaan dengan itu hidungnya mencium bau harum. Sudut matanya menangkap gerakan sosok tubuh di samping kanan. Secepat kilat murid Sinto Gendeng lepaskan pukulan kunyuk melempar buah. Satu gelombang angin deras membuntal. Tapi lagi-lagi pendekar ini kecele. Ternyata kembali dia menghantam tempat kosong. Malah saat itu satu dorongan yang luar biasa hebatnya membuat terhuyung-huyung ke kiri.

"Setan alas keparat!" maki Wiro.

Selagi dia berusaha mengimbangi diri, kertas yang ada dalam pegangan tangan kirinya tahu-tahu disambar lepas. Dia kembali melihat gerakan orang sangat cepat dan berusaha menelikung dengan tangan kanann sambil memukul denagn tangan kiri.

Pess...!!!

Terdengar suara mendesis. Wiro Sableng masih belum sempat melihat siapa adanya orang yang menyerang dan merampas kertas tahu-tahu di sekelilingnya membuntal asap hitam berbau harum aneh. Pemuda ini bukan saja jadi tertutup pemandangannya namun juga merasakan sekujur tubuhnya menjadi lemas. Untung dia cepat sadar. Sambil tutup jalan pernafasan, tangan kanan cepat memegang hulu Kapak Naga Geni 212. Hawa panas segera menjalar dari hulu kapak. Tubuhnya yang kebal racun kini samakin terlindungi oleh hawa panas mujizat yang keluar dari senjata mustika itu. Perlahan-lahan kekuatannya pulih.

Asap hitam juga mulai lenyap. Pemandangannya terang kembali. Tapi orang yang tadi belum sempat dilihatnya dengan jelas, jangankan mukanya, sosok tubuhnya hampir tak terlihat, telah lenyap dari tempat itu. Wiro Sableng memaki panjang pendek. Bagaimana hal itu bisa terjadi. Bagaimana mungkin dia tidak bisa atau tidak punya kesempatan melihat siapa adanya orang yang muncul dengan tiba-tiba lalu merampas kertas yang sedang dibacanya. Wiro diam-diam menyadari.

Dan ini membuat tengkuknya dingin. Jika orang tadi siapa pun adanya mau mencelakainya atau membunuhnya, pasti halitu dapat dilakukannya.

Wiro memandang jauh ke depan, kea rah tambak ikan asin yang luas sementara matahari sore semakin redup. Pendekar ini geleng-geleng kepala.

"Guru sendiri tidak sehebat itu gerakannya. Belum pernah kujumpai manusia yang dapat bergerak demikina cepat seperti kilat. Heh, apa betul dia manusia....?

Bukan setan maghrib yang kesasar? Dan bau harum aneh itu....?"

Pendekar 212 Wiro Sableng cepat berdiri. Dia memandang berkeliling. Lalu dengan perasaan tetap tidak enak dia segera tinggalkan tempat itu.

Warok Kunto Rekso yang berjalan paling depan memimpin hampir lima puluh orang anak buahnya hentikan langkah, mendongak kea rah bukit di ujung pohon beringin. Hari itu adalah hari ketiga pengungsian yang mereka lakukan sejak pasukan kerajaan menyerbu hutan Roban, menghancurkan kelompok gerombolan rampok yang ada di situ. Jika saja dia tidak bertindak cepat pasti kelompok yang dipimpinnya juga akan mengalami bencana yang sama. Setelah masih jauh ke dalam hutan Roban, berputar-putar di pedalaman yang sebelumnya tak pernah dijejakinya akhirnya siang itu mereka sampai di tempat itu.

Kunto Rekso menyuruh anak buahnya beristirahat sementara dia sendiri mulai memanjat bukit batu untuk menyelisiki kadaan di atas sana. Namun tiba-tiba hidungnya mencium bau busuk. Kepala rampok yang sudah berpengalaman ini segera mengetahui bau busuk itu adalah bau bangkai manusia. Dia memandang berkeliling, lalu bergerak ke jurusan kiri dari arah mana bau busuk daang dengan santar. Kunto Rekso tak perlu mencari susah payah. Sosok tubuh itu segera ditemuinya. Terkapar melintang di bawah sebtanag pohon berlumut. Betapa kagetnya kepala rampok ini ketika mengeahui mayat busuk itu ternyata adalah mayat Jalatunda, pemuda pembantu juru masak yang dianggapnya gila dan membangkang untuk ikut bersamanya.

"Buang mayat ini jauh-jauh dari sini," kata Kunto Rekso pada anak buahnya.

"Aku akan menyelidiki ke atas bukit sana. Jika keadaan di sini cukup baik, aku memilih kita mendirikan perkampungan baru di sini." Lalu kepala rampok ini meneruskan maksudnya semula menyelidiki ke puncak bukit batu. Penciumannya merasakan di atas sana ada air. Dan betul memang. Ketika dia sampai di puncak bukit batu, di sebelah bawah seberang depannya dilihatnya sebuah telaga berair hijau membiru. Di tengah telaga tampak sebuah batu licin rat hampir berbentuk sebuah meja.

Kunto Rekso menarik nafas dalam-dalam. Udara di tempat itu ternyata sejuk dan segar sekali.

"Ini tempat yang baik! Sangat cocok untuk markas baruku!" Lalu kepala rampok ini mengeluarkan suara suitan nyaring, memberi isyarat pada anak buahnya untuk segera naik ke atas.

Siang itu juga Kunto Rekso memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan pembangunan perkampungan. Beberapa pohon besar ditebang untuk diambil kayunya. Menjelang malam tiba baru mereka berhenti bekerja. Besok pagi pekerjaan itu akan diteruskan.

Akan tetapi pada pagi harinya justru terjadi kegemparan di antara rombongan perampok pimpinan Warok Kunto Rekso. Sang pimpinan masih mengorok ketika seorang anak buahnya membangunkan.

"Keparat jaah! Mau kupecahkan kepalamu berani membangunkanku?!"

"Warok, ada kejadian hebat. Lima orang anggota kita kedapatan mati!" kata anggota rampok yang membangunkan lalu cepat-cepat melompat mundur karena takut dihantam jotosan pemimpinnya.

"Apa katamu?!" Waro Kunto Rekso melompat dari tidurnya. "Sipa yang mati...?!"

"Mereka dibunuh!" kata seorang anggota lainnya.Lalu membawa Kunto Rekso ke kaki bukit batu di ujung kanan. Di situ tergelimpang lima anak buahnya yang telah jadi mayat. Ketika diperiksa apa yang dilaporkan tadi memang betul. Lima anggota rampok itu mati dibunuh. Leher masing-masing tampak ketakutan tampak terkulai tanda patah!

"Keparta! Edan! Siapa yang melakukan....?!" Sentak Kunto Rekso. Kunto Rekso berpaling di batang pohon itu tampak tertempel sehelai kertas yang dibubuhi tulisan. Sambil menggereng menahan geram Kunto Rekso renggutkan kertas itu lalu membacanya dengan pelipis bergerak-gerak.

Lima mayat itu adalah peringatan pertama dan terakhir.

Daerah ini adalah daerah kekuasaanku.

Tak seorangpun boleh menginjakkan kaki di sini.

Apalagi hendak membangun perkampungan.

Sebelum matahari tinggi pagi ini, segera tinggalkan tempat!"Setan alas!" kutuk Kunto Rekso. "Siapa yang membuat surat ini pengecut!

Tak berani memberitahu nama!" Kepala rampok itu remas kertas itu sampai lumat.

Berkali-kali dia membuat gerakan seperti hendak mencabut golok besar di pinggangnya. Gerahamnya terdengar jelas bergemeletakan.

"Pemimpin, apa yang harus kita lakukan........ ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · admin@nomor1&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.82.79.109
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia