Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : MALAM JAHANAM DI MATARAM

PADA MALAM menjelang dini hari itu beberapa orang mendatangi Bukit Batu Hangus dimana Sri Maharaja Mataram berada bersama ratusan orang pengungsi, menyelamatkan diri dari Kotaraja yang tengah dilanda malapetaka.
Selagi Raja menunggu kedatangan Pendekar 212 Wiro Sableng yang di kalangan orang-orang Kerajaan disebut dengan nama Kesatria Panggilan, ternyata Sinuhun Muda Ghama Karadipa sampai lebih dulu. Dia datang dengan menyamar sebagai Pendekar 212 Wiro Sableng, membawa batu segi tiga putih palsu dengan niat sebenarnya bukan lain adalah untuk dapat menghabisi Raja Mataram secepat mungkin.

Namun niat jahat tersebut gagal dilaksanakan karena dihalangi oleh Sri Padmi Kameswari yang muncul dalam bentuk seekor anjing betina, bersama anaknya seekor anjing jantan. Kalau sang ibu berhasil menyelamatkan Raja Mataram dari serangan delapan sinar merah yang keluar dari batu segi tiga Putih di tangan Sinuhun Muda, maka anaknya, seekor anjing kecil jantan mampu pula menyelamatkan Ni Gatri.

Seperti diceritakan dalam "Rob Jemputan", meski Sri Padmi Kameswari berniat jahat terhadapnya, Raja Mataram bukan saja tidak membunuh perempuan itu, malah sewaktu sosok Sri Padmi Kameswari berubah menjadi seekor anjing betina yang bunting besar dan kesulitan dalam melahirkan anaknya, Raja bertindak menolong. Ada ubi ada talas. Ada budi ada balas.

Ternyata kini Sri Padmi Kameswari muncul kembali dalam ujud anjing betina dan menyelamatkan Raja Mataram dari serangan maut Sinuhun Muda walau dia sendiri menderita cidera cukup parah. Sekujur tubuh melepuh merah dan mengepulkan asap panas.

Sementara itu anaknya, anjing kecil jantan menolong Ni Gatri.

Sinuhun Muda juga batal menghabisi Sri Padmi Kameswari dengan Pukulan Delapan Sukma Merah. Ini terjadi setelah mendapat peringatan dan seorang anak lelaki yang tidak terlihat ujudnya karena muncul dalam bayangan cahaya kuning kemerahan, yang oleh Sinuhun Muda dipanggil dengan nama Sang Junjungan.

Setelah diperingatkan Sinuhun Muda baru menyadari kalau saat itu di leher anjing betina yang hendak dibunuhnya melingkar seuntai kalung emas besar. Emas merupakan benda pantangan bagi Sinuhun Muda Ghama Karadipa, juga bagi nyawa kembarannya yaitu Sinuhun Merah Penghisap Arwah. Sebenarnya hanya sangat sedikit orang yang mengetahui kelemahan dua mahluk bernyawa kembar itu. Ini yang membuat Sinuhun Muda tersentak heran. Bagaimana mungkin Sri Padmi Kameswari yang kini berujud seekor anjing betina itu bisa mengetahui kelemahannya tersebut! Namun Sinuhun Muda saat itu tidak bisa berpikir panjang. Meski dia tidak merasa gentar tapi karena masih banyak urusan besar yang harus diselesaikan maka dia segera harus meninggalkan Bukit Batu Hangus. Dia bermaksud hendak menemui Sang Junjungan. Dia juga berharap nyawa kembarannya yaitu Sinuhun Merah Penghisap Arwah telah bertemu dengan Kesatria Roh Jemputan dan siap dengan rencana semula yaitu membunuh Pendekar 212 Wiro Sableng.

Pada saat Sinuhun Muda hendak bertindak pergi terjadilah satu kegemparan. Dari dalam gelap seorang perempuan melempar mayat Swara Pancala ke atas sebuah batu besar.

* * *SRI MAHARAJA Mataram Rakai Kayuwangi melompat ke arah batu di atas mana mayat Swara Pancala tergeletak. Sekujur tubuh penuh puluhan lubang luka dan bergelimang darah.

"Swara Pancala! Hyang Jagat Bathara, mengapa satu lagi orang kepercayaanku harus menemui ajal!"

Baru saja Raja Mataram keluarkan ucapan tiba-tiba ada suara perempuan berteriak.

"Yang Mulia Raja Mataram! Manusia satu itu memang pantas mati! Ketahuilah, dia telah berkhianat terhadap diri Yang Mulia! Dia adalah kaki tangan Sinuhun Muda Gharna Karadipa. Manusia keji penimbul malapetaka Malam Jahanam di Bhumi Mataram! Pemuda berpakaian dan berikat kepala hijau itu!"

Kegemparan di lereng Bukit Batu Hangus jadi semakin bertambah setelah terdengarnya suara teriakan perempuan tadi. Sinuhun Muda maupun Raja Mataram sama-sama tercekat.

Yang jelas perempuan yang barusan berteriak bukanlah perempuan yang tadi melemparkan mayat Swara Pancala. Berarti ada dua orang perempuan di tempat itu. Dan keduanya sama-sama belum memperlihatkan diri!

Selagi Raja Mataram mengalihkan pandangan ke arah pemuda berpakaian dan berikat kepala hijau yang tadi menyaru sebagai Kesatria Panggilan Pendekar 212 Wiro Sableng, tiba-tiba di dalam gelap ada satu bayangan hijau berkelebat sangat cepat. Bau harum menebar.

Sinuhun Muda merasakan satu tepukan di punggungnya disertai suara perempuan berkata.

"Sinuhun, cepat tinggalkantempat ini! Sebentar lagi keadaan akan sangat tidak menguntungkan bagimu!"

Sinuhun Muda yang sedang terkesiap dan juga marah melihat kematian Swara Pancala tersentak.

"Dewi Ular! Pasti dia yang barusan menepuk punggungku! Jahanam! Aku punya dugaan dia yang membunuh Swara Pancala! Sekarang mengapa dia berbaik-baik terhadapku! Perempuan keparat! Aku akan memecahkan kepalamu Jilka terbukti memang kau yang telah membunuh anak buahku itu!" Sinuhun Muda menggeram marah dalam hati. Lalu dia ingat.

"Perempuan kedua yang tadi berteriak, suaranya seperti suara Ratu Randang Sinuhun Muda membatin.

Walau sebenarnya dia ingin membuktikan dugaan namun tidak menunggu lebih lama lagi Sinuhun Muda segera berkelebat tinggalkan tempat itu ke arah lenyapnya bayangan perempuan yang tadi menepuk punggungnya.

Tak lama setelah berada di kaki bukit sebelah selatan, Sinuhun Muda melihat ada seorang perempuan duduk di atas batu sambil bernyanyi-nyanyi perlahan.2RAHANG Sinuhun Muda menggembung. Sepuluh jari tangan diremas hingga mengeluarkan suara bergemeletakan.

"Benar-benar mahluk jahanam!

Habis membunuh masih bisa bernyanyi nyanyi!" Sinuhun Muda menyumpah.

Sekejapan saja dia sudah berada di depan perempuan yang duduk di atas batu. Dan ternyata perempuan ini memang Dewi Ular!

Berpakaian sutera hijau, lengkap dengan mahkota perak di atas kepala!

"Perempuan iblis!" Sinuhun Muda langsung mendamprat.

Orang yang dibentak hentikan nyanyian, berpaling ke arah Sinuhun Muda lalu tersenyum. Dia menunjuk ke langit.

"Malam begini indah. Di langit ada rembulan walau setengah lingkaran. Rasanya kurang pantas merusak keindahan dan dengan ucapan kotor bentakan kasar.

Apakah..."

"Tutup mulutmu!" Hardik Sinuhun Muda. Delapan benjolan di kepalanya memancarkan cahaya terang. "Apa matamu buta tidak melihat Bhumi Mataram dilanda malapetaka? Dan aku yang menciptakan malapetaka itu!"

Delapan cahaya merah mulai memancar keluar dari delapan benjolan di kening.

Di atas batu Dewi Ular kembali mengulum senyum.

"Sinuhun, kau kelihatan begitu bangga dan merasa hebat karena telah menimbulkan bencana di Bhumi Mataram. Apa yang sesungguhnya kau cari? Hik ... hik.

Sekarang aku melihat kau hendak membunuhku dengan ilmu Delapan Arwah Sesat Menembus Langit ... Apa salahku?!"

"Kurang ajar! Bagaimana perempuan iblis ini tahu nama ilmu yang aku miliki?!" Sinuhun Muda menggeram dalam hati.

"Sinuhun, membunuhku tidak ada untungnya bagi dirimu. Bukankah aku pernah berucap. Kalau kita berdua bisa sating berbagi ilmu atau berbagi cinta.

Bagaimanapun juga bersahabat adalah jauh lebih baik dari saling bermusuhan."

"Aku tidak tertarik pada ilmu kepandaianmu! Kau tidak punya kemampuan apa-apa. Buktinya kau tidak sanggup membunuh pemuda bernama Wiro Sableng itu!"

"Hari selalu berubah. Hari kemarintidak sama dengan hari ini. Hari ini tidak sama dengan hari besok. Besok tidak sama dengan lusa...."

"Perempuan setan! Mengaku kalau kau yang telah membunuh anak buahku Swara Pancala!" Sinuhun Muda menghardik keras.

Dewi Ular dongakkan kepala ke langit malam yang diterangi bulan setengah lingkaran lalu berkata. "Kalau Sinuhun sudah tahu mengapa mesti bertanya lagi? Lagi pula sebenarnya lelaki itu yang minta dibunuh dan memang harus dibunuh. Seharusnya Sinuhun berterima kasih karena aku telah membunuh seorang musuh dalam selimut. Lebih baik Sinuhun menanyakan bagaimana cara aku membunuhnya!"

Sinuhun Muda tidak dapat lagi menahan amarahnya.

Kaki kanan menendang ke depan, Lima jari kaki memancarkan cahaya merah.

"Braaakkk!"

Batu yang diduduki Dewi Ular hancur membentuk keping-keping menyala merah. Sosok Dewi Ular sendiri telah lebih dulu melesat ke udara selamatkan diri.

Perempuan ini pindah berdiri ke atas batu lain. Lalu tanpa perdulikan kemarahan Sinuhun Muda dia tertawa panjang. Puas tertawa perempuan ini berkata.

"Di dalam gua dibelakang air terjun. Hik...hik... hik.

Sinuhun, dengar ceritaku. Mula-mula Swara Pancala menanggalkan pakaian yang melekat di tubuhku. Seperti ini..." Dewi Ular memperagakan dengan membuka baju hijaunya di bagian dada. "Lalu dia memeluk menghangatkan tubuhku. Setelah itu dia membuka pakaiannya pula. Lalu dia membuyarkan ilmu penyirap tubuh milik Sinuhun yang membuat diriku kaku tak bisa bergerak. Ketika kami bercumbu dia bicara banyak tentang dirimu. Perihal dua nyawa kembar yang kau miliki. Perihal pantangan Sinuhun yang tidak boleh bersentuhan dengan emas. Ah .... aku ingat. Itu sebabnya Sinuhun meminta mahkota emas kepala ular milikku lalu ditukar dengan mahkota perak bertabur batu permata yang ada di kepalaku saat ini. Sayang Swara Pancala tidak berumur panjang. Takdir menentukan dia mati di tanganku. Oh bukan .... bukan tanganku yang membunuhnya. Tapi Nyi Jeneng Inten, ular hitam kepala putih yang ada dalam perutku. Apa Sinuhun sempat melihat puluhan lubang luka bekas patukan ular di tubuh lelaki itu? Hik ... hik! Sinuhun, ini dia ular yang membunuh Swara Pancala. Sinuhun pernah melihat sebelumnya.

Pada pertemuan kita yang pertama ..."

Dewi Ular menahan nafas sambil perut digembungkan. Saat itu juga dari perut yang tersingkap, dari arah pusar melesat keluar seekor ular besar hitam berkepala putih. Binatang ini tegakkan kepala lalu mendesis panjang. Dewi Ular usap-usap kepala binatang itu beberapa kali. Setelah mendesis sekali lagi ular hitam kepala putih masuk lenyap ke dalam perut Dewi Ular.

Walau saat itu boleh dikatakan sosok Dewi Ular sebelah depan tersingkap polos namun Sinuhun Muda sama sekali tidak menaruh perhatian. Yang jadi ingatan serta kekawatirannya adalah apa yang tadi dikatakan perempuan dari alam roh delapan ratus tahun mendatang itu.

Terutama perihal Swara Pancala memberi tahu kelemahannya terhadap emas.

"Aku harus segera menemui nyawa kembaranku Sinuhun Merah Penghisap Arwah. Jika orang luar sudah mengetahui perihal pantangan emas itu, aku berdua harus segera menerapkan ilmu penangkal. Tapi apakah masih ada waktu untuk meminta bantuan Sang Junjungan dan pergi ke Gunung Mahameru?"

Sinuhun Muda menatap ke arah Dewi Ular.

"Aku harus mengambil keputusan! Perempuan iblis ini harus dihabisi sekarang juga! Kalau tidak bisa dibunuh aku harus mampu melemparnya kembali ke alam roh asal kedatangannya!"

"Sinuhun! Apa yang ada di benakmu?" Tiba-tiba Dewi Ular berseru. "Kau hendak membuat tubuhku kaku lagi hingga tidak berdaya? Hik ... hik! Kau tidak mampu lagi melakukan. Swara Pancala telah memberi tahu cara menangkal ilmu murahanmu itu! Kalau tidak percaya silahkan mencoba! Hik ... hik ... hik!"

Tampang Sinuhun Muda tampak berubah. Terlebih ketika dilihatnya Dewi Ular menusukkan telunjuk tangan kiri dan kanan di atas pelipis. Ini memang adalah salah satu cara menangkal ilmu kesaktian yang dimiliki Sinuhun Muda. Dalam keadaan seseorang bersikap seperti itu ilmu kesaktiannya memang tidak akan mampu membuat orang itu menjadi kaku tak berdaya.

"Kurang ajar! Perempuan iblis ini benar-benar telah mengetahui penangkal ilmu Hawa Bumi Menutup Jalan Darah Mencekal Urat. Swara Pancala! Syukur kau sudah mampus! Kalau tidak aku yang akan membongkar otak dalam batok kepalamu! Tapi aku tidak mau percaya kalau tidak membuktikan sendiri! Bisa saja perempuan celaka ini tahu sedikit lalu membual selangit!"

Sinuhun Muda Ghama Karadipa lalu bantingkan kaki kanan. Satu getaran hebat menggerus tanah, menjalar ke arah sepasang kaki Dewi Ular. Namun tinggal dua jengkal hawa aneh itu akan memasuki tubuh Dewi Ular tiba-tiba dess.... desss! Hawa sakti berbalik, menyerang ke arah Sinuhun Muda.

"Jahanam Kurang ajar! Perempuan celaka ini ternyata benar menguasai ilmu penangkal!. Sinuhun Muda, memaki keras. Tubuhnya terpental ke udara sampai satu tombak. Ada hawa aneh membuat pori-pori di sekujur permukaan kulit tubuhnya menguap. Celaka! ilmu yang dilepaskannya untuk membuat Dewi Ular tak berdaya kini menyerang dirinya sendiri! Karenanya begitu melayang turun dia cepat lepaskan dua pukulan tangan kosong ke arah tanah. Dua dentuman keras menggelegar. Tanah terbongkar membentuk dua lobang besar. Sinuhun Muda melayang turun. Jejakkan kaki di tepi lobang. Memang hanya dengan dua pukulan mengandung tenaga dalam tinggi tadi itulah satu satunya cara dia bisa menyelamatkan diri dari serangan ilmu miliknya sendiri!

Ketika Sinuhun Muda berpaling ke arah batu tempat Dewi Ular tadi berdiri dalam keadaan setengah telanjang, ternyata perempuan itu tidak ada lagi di tempat itu.

"Perempuan iblis jahanam! Apa kau kira aku tidak bisa mengejar kemana kau pergi?!"

Sinuhun Muda melompat ke atas batu. Dua telapak tangan di letakkan di bekas Dewi Ular menjejakkan dua kakinya. Mulut komat kamit merapal mantera. Lalu dia berteriak keras.

"Arwah Menebar Racun Kelumpuhan! Lumpuh! Lumpuh"

Bekas injakan kaki Dewi Ular di atas batu yang ditempeli telapak tangan kepulkan asap merah. Asap ini kemudian bergulung dan siap melesat di udara ke arah lenyapnya Dewi Ular. Jika asap merah sampai menyentuh tubuh yang jadi sasaran maka kejap itu juga Dewi Ular akan menjadi lumpuh seperti yang dialami orang-orang di Bhumi Mataram! Namun apa yang dilakukan Sinuhun Muda jadi terganggu dan terhenti ketika dari arah kegelapan di sebelah kiri kaki bukit batu tiba-tiba terdengar suara tiupan seruling ditimpali tabuhan tambur yang luar biasa keras hingga Sinuhun Muda merasa kedua liang telinganya seperti hendak pecah meledak! Cepat-cepat dia kerahkan tenaga dalam. Begitu rasa sakit di telinga, hilang Sinuhun Muda segera berkelebat ke balik sebuah batu besar, memandang ke lereng bukit. Sepasang mata terpentang lebar. Tak berkesip, tak percaya apa yang disaksikan!

"Kakek ... Nenek, mengapa menyiksa diri? Bukannya Eyang berdua telah tentram di alam arwah? Dewa Bathara Agung, saya mohon ..."

Suara tambur ditabuh dan suling ditiup semakin menjadi-jadi. Namun sampai saat itu Sinuhun Muda masih belum melihat siapa adanya orang-orang yang menabuh tambur dan meniup suling itu.

"Kalau bukan orang-orang berkepandaian tinggi mustahil suara tambur dan tiupan suling bisa seperti hendak membongkar bumi menembus langit! Aku punya dugaan. Tapi bukankah mereka...."

Merasa tidak enak Sinuhun Muda berniat hendak tinggalkan Bukit Batu Hangus. Namun sepasang mahluk yang melayang di lereng bukit menatap dengan pandangan mata menyorotkan amarah. Lalu dua mahluk ini secara bergantian menggoyang-goyang dua tangan, jari-jemari digerak-gerakkan membentuk isyarat atau tanda-tanda yang hanya bisa dimengerti oleh orang yang mengetahui. Melihat gerakan dua tangan dan sepuluh jari-jemari Itu Sinuhun Muda jadi berubah tampangnya.

Muka yang ditumbuhi kumis, janggut dan cambang bawuk meranggas diusap berulang kali.

"Aku harus segera menemui Sang Junjungan! Dua orang tua ini agaknya tidak berpihak padaku! Eyang berdua kalau kalian sampai mencelakai cucumu ini, aku bersumpah bersama nyawa kembarku akan membongkar dan menghancurkan makam kalian! Mengapa dulu ketika mati kalian dikubur di tanah, tidak dibakar saja! Sekarang kalian muncul hendak mencelakai diriku!"3Pendekar 212 Wiro Sableng, hentikan lari dan duduk di atas tumbangan batang kayu.

Kepala digaruk-garuk lalu memandang ke arah Ratu Randang yang masih berlari berputar-putar.

"Ratu Randang, bagaimana ini. Dari tadi sudah tiga kali kita berputar-putar di sini-sini juga!"

"Aku tahu ... aku tahu!" Jawab Ratu Randang sambil mengusap dagunya yang keringatan. "Aku rasa sebenarnya kita sudah dekat ke tujuan. Bukit Batu Hangus pasti ada disekitar sini. Tapi ada orang yang menghalangi langkah dan pandangan kita. Pasti Sinuhun Muda sialan itu! Ilmunya dan ilmu nyawa kembarannya memang tinggi dan aneh-aneh. Itu sebabnya orang-orang pandai di Istana tidak berdaya. Itu pula sebabnya aku menyusup pura-pura bercinta dengannya agar bisa mengetahui kelemahannya..."

"Aku mendengar suara orang-orang berteriak. Ado suara perempuan. Sepertinya ada satu kejadian hebat di sekitar sini ..." Berkata Wiro.

"Kita memang tidak bisa melihat, mereka, tapi masih mampu mendengar suara. Walau sayup-sayup tadi aku mendengar suara Raja Mataram. Sesuatu telah terjadi dengan Swara Pancala. Orang itu telah menemui ajal. Itu sebabnya tadi aku berteriak. Pengkhianat itu memang pantas mati. Ilmu kesaktian Sinuhun Muda membendung perasaan, menghambat penglihatan serta langkah kita tapi tidak menutup keseluruhan Pendengaran. Satu hal yang aku yakini, sebenarnya kita sudah berada dekat dengan Bukit Batu Hangus."

Ratu Rundang meneruskan lari satu kali lagi lalu mendudukkan diri di atas batang kayu di samping Wiro.

"Sinuhun Muda. Dia punya ilmu yang disebut Langit Turun Ke Bumi. Pengaruh ilmu itu membuat kita tidak mengetahui jalan yang ditempuh. Itu sebabnya kita hanya berputar putar disini. Aku bisa membuyarkan kekuatan ilmu itu. Tapi aku merasa saat ini Sinuhun Muda tidak hanya menerapkan ilmu kesaktian itu, agaknya dia juga menerapkan ilmu lain yang kalau aku tidak salah bernama Di Bumi Ada Enam Kesesatan. Di Langit Ada Tujuh Kesesatan. Dalam Air Ada Delapan Kesesatan..."

"Panjang amat nama ilmunya. Aku jadi keburu pingin kencing mendengarnya!" Kata Pendekar 212 pula. Lalu dia menambahkan. "Namanya saja ilmu sesat-sesatan.

Jelas sesat. Padahal kesesatan terbanyak ada dalam diri manusta! Bukan cuma enam, tujuh atau delapan. Mungkin ribuan!"

Ratu Randang tertawa mendengar kata-kata sang pendekar.

"Aku pernah membujuk Sinuhun untuk memberikan ilmu penyesat itu padaku. ilmu itu lebih hebat dari yang kumiliki yaitu ilmu bernama Sang Pencipta Berbuat Penuh Kuasa..."

"Ilmu yang tadi bisa menciptakan telaga penyesat itu?" Tanya Wiro.

Ratu Randang mengangguk.

"Kau akhirnya berhasil mendapatkan ilmu sesatsesatan itu dari Sinuhun Muda?"

Ratu Randang mencibir lalu menggeleng, "Kalau begitu kau harus mencoba pada, Sinuhun yang satunya..."

"Mereka sama cerdiknya. Sinuhun Muda menjanjikan ilmu itu baru akan diberikan padaku asal aku bisa mencari tahu dimana letak kelemahan Sri Maharaja Mataram Rakai Kayuwangi. Aku berpura-pura akan melakukan apa yang dimintanya. Tentu saja aku tidak mau mengkhianati Rajaku. Sementara itu dalam waktu singkat segala sesuatunya berubah.

Terutama sejak kau dan dua orang lainnya itu berada di Bhumi Mataram ini..."

"Kurasa saat berduaan dengan Sinuhun Muda kau kurang hebat mencumbunya hingga dia tidak mau memberikan ilmu sesat-sesat itu. Menurutku dengan kecantikan dan kebagusan tubuhmu kau bisa membuat dia menyembah kakimu..."

"Oh, jadi aku ini cantik dan tubuhku bogus? Hik ... hik ... hik. Rupanya kau memperhatikan juga. Hik ... hik ... hik. Aku merasa, kau pasti cemburu kalau aku bilang bercumbu dengan Sinuhun Muda. Nanti aku jelaskan siapa yang sebenarnya bercumbu dengan pemuda keparat itu...."

"Ketika di telaga kau berteriak pada Sinuhun Muda kalau waktu bercinta yang kau berikan padanya bukan tubuhmu tapi tubuh bangkai anjing. Bagaimana kejadiannya?"

"Aku punya ilmu bisa merubah benda hidup atau setengah hidup menyerupai diriku ..."

Wiro tertegun lalu cepat-cepat berdiri. Dia memperhatikan bagian belakang tubuh Ratu Randang.

"Saat ini, apakah kau ujud beneran atau jejadian ... ?" Bertanya Pendekar 212.

Ratu Randang tertawa.

"Ada apa kau memperhatikan punggungku? Biasanya lelaki lebih suka memperhatikan dada perempuan. Kau terbalik! Hik...hik"

"Aku mau tahu apakah punggungmu ada bolongnya atau tidak. Di negeriku jika perempuan cantik punggungnya geroak berarti dia adalah hantu perempuan yang di sebut Kuntil Anak ..."

"Apakah kau lihat punggungku bolong?" Tanya Ratu Randang sambil kedipkan sepasang matanya yang juling bagus.

"Tidak, mungkin belum," jawab Wiro sambi1 tertawa.

"Mengenai tubuh anjing yang kau berikan pada Sinuhun Muda..."

"Nanti saja aku ceritakan." Kata Ratu Randang. "Aku ingat sesuatu. Ketika di telaga kau lebih dulu mampu melihat Sinuhun Muda dan Swara Pancala. Katamu kau punya sedikit ilmu. Coba kau pergunakan ilmu itu untuk memperhatikan keadaan sekitar sini. Siapa tahu kau bisa membuat buyar ilmu Sinuhun Muda."

Wiro mengikuti ape yang dikatakan Ratu Randang.

Tenaga dalam dialirkan ke arah sepasang mata. Ilmu Menembus Pandang diterapkan. Namun sampai tiga kali dicoba dia tidak mampu menembus kegelapan, tidak bisa melihat apa-apa.

"Tidak bisa kutembus..." Wiro memberi tahu.

"Kalau begitu ya sudah. Sekarang ayo duduk lagi di sebelahku..."

Begitu Wiro duduk kembali di atas batang kayu di sampingnya Ratu Randang bertanya. "Sudah, sekarang katakan tinggal berapa?"

"Apanya yang tinggal berapa?" Balik bertanya Wiro.

Ratu Randang menggeser duduknya lebih dekat.

Tiba-tiba perempuan ini merangkul leher song pendekar.

Sesaat kemudian cuuppp .... cuuppp! Dia sudah mengecup bibir Wiro sampai due kali.

Habis mencium Ratu Randang melompat berdiri dan tertawa-tawa geli. "Tinggal empat ratus sembilan puluh enam .... Empat ratus sembilan puluh enam kecupan!

Masih banyak! Hik ... hik ... hik...."

Wiro geleng-geleng kepala. Belakang telapak tangan kiri di dekatkan ke bibir yang barusan dikecup.

"Hai! Awas kau hapus! Awas kalau kau usap bekas kecupanku!" Kata Ratu Randang pula.

Murid Sinto Gendeng garuk-garuk kepala. Hanya bisa tertawa cengengesan.

"Aku rasa kau berpura pura sesat. Sebenarnya memang sengaja membawaku ke tempat sunyi ini.

Maksudmu mau..."

Ratu Randang cubit paha Pendekar 212. Tiba-tiba perempuan ini berkata. "Astaga ..."

"Eh, ada apa? Mau menciumku lagi?" Tanya Wiro sambil buru-buru menekap mulutnya.

"Tadi kau menyebut-nyebut soal kencing. Aku jadi ingat. Aku pernah mendengar cerita Eyang Dukun Umbut Watukara. Kurasa Eyang Dukun kini berada di Bukit Batu Hangus dalam keadaan lumpuh. Konon ilmu sesat-sesat Sinuhun Muda itu memiliki satu pantangan. Kawasan, yang dilindungi oleh ilmu tidak boleh sampai terkena air kencing manusia. Kalau sampai ada yang kencing ilmu itu akan buyar..."

"Hemm .... Kencing laki-laki atau perempuan?" Tanya Wiro yang mencurigai kalau Ratu Randang hendak mengerjainya.

"Itu tidak aku ketahui. Tapi mengapa tidak kau coba saja? Agar kita bisa sampai ke bukit itu. Aku kawatir kalau terlambat..."

"Bagusnya kau saja yang kencing. Kencing perempuan mancurnya lebih lebar dan baunya lebih mantap!" Kata Wiro pula dengan senyum-senyum.

Ratu Randang terdiam lalu ikutan tersenyum.

"Kau pasti mau melakukannya."

"Nanti kau mengintip."

"Husss! Jangan berpikir seperti itu. Ayo kencing saja.

Aku akan berpaling ke tempat gelap sana..." Kata Wiro.

Ratu Randang tampak ragu-ragu.

"Sudah belum?" Tanya Wiro.

"Kau belum membalikkan badan!"

"Ah!" Wiro menahan tawa. Lalu balikkan tubuh, memandang ke arah kegelapan.

Ratu Randang melangkah mendekati satu pohon besar sambil menyingsingkan ke atas bagian bawah pakaiannya. Betisnya yang putih bagus tersingkap.

"Kencingnya biar banyak Ratu!"

Di depan pohon besar Ratu Randang berhenti.

"Kencingnya jongkok! Jangan berdiri seperti laki-laki!"

Wiro kembali keluarkan ucapan sambil senyum-senyum.

Tak lama kemudian terdengar langkah Ratu Randang mendekati.

Wiro berpaling.

"Sudah?" Wiro bertanya sambil tertawa. "Banyak kencingnya? Mengapa aku tidak mendengar suara merdu semburannya?"

Ratu Randang turunkan pakaian yang disingsingkan.

Dengan wajah cemberut dia gelengkan kepala.

"Aku tidak jadi kencing ..."

"Wah, kenapa?"

"Tidak mau saja...

"Tidak mau karena apa?"

"Aku takut..."

"Takut sama apa? Takut sama siapa? Apa di dekat pohon besar itu banyak semut rangrang? Atau ada ular atau mungkin kalajengking? Kau takut diantuk?"

Ratu Randang goyangkan bahu. "Aku mendengar kabar. Di kawasan ini banyak gentayangan mahluk halus.

Siapa yang berbuat ulah yang tidak disenangi bisa celaka. Aku kawatir kalau kencing dianggap mengotori tempat kediaman mahluk halus gentayangan. Lalu anuku disumbat dipangpet. Celaka kalau aku tidak bisa kencing seumur umur..."

Wiro tercengang mendengar ucapan Ratu Randang namun kemudian tertawa gelak-gelak.

"Jangan tertawa! Kau saja yang kencing agar kita bisa segera menemui Raja Mataram."

Wiro menggeliat, senyum-senyum.

"Aku .... Maksudku anuku...."

"Kenapa anumu? Sebelumnya kau menantang mau memperlihatkan cara kencing di depanku. Ayo lakukan sekarang, Atau mungkin kau minta aku yang membuka celanamu? Begitu ... ?"

Ratu Randang lalu melangkah mendekati Wiro sambil dua tangan diulurkan ke arah pinggang sang pendekar.

"Eehhh...."

Wiro goyangkan tangan sambil mundur.

"Anu, maksudku bagaimana kalau mahluk halus juga memencet anuku hingga medel dan aku tidak bisa kencing seumur-umur seperti yang tadi kau bilang!" Ratu Randang mencibir.

"Mahluk halus hanya mengincar perempuan. Bukan laki-laki. Ayo kencing cepat!"

"Aduh, bagaimana ini? Aku mana bisa kencing kalau dipaksa!"

Selagi murid Sinto Gendeng kebingungan tiba-tiba terdengar suara orang menabuh tambur dan suara tiupan suling luar biasa keras. Tanah bergetar dan kuping mengiang sakit seperti mau pecah! Wiro dan Ratu Randang cepat menutupkan tangan masing-masing ke telinga.

"Ratu, jangan-jangan kau membawaku ke tempat yang salah. Ada orang pesta hajatan di sekitar sini. Kalau tidak mengapa ada segala suara tambur dan suling...?"

"Mana mungkin! Kalau orang hajatan yang kedengaran pasti suara sinden dan gamelan!" Jawab Ratu Randang. Lalu perempuan ini memberi isyarat dengan gerakan tangan agar Wiro jangan bicara dulu.

Ketika Ratu Randang memandang ke depan, perempuan ini berseru. "Wiro lihat!"4DALAM kegelapan malam Ratu Randang dan Wiro dapatkan diri mereka berada di lereng sebuah bukit batu. Udara dingin mencucuk jangat, tembus sampai ke tulang, Perlahan-lahan mereka mulai mencium bau busuk.

Memandang berkeliling Ratu Randang berbisik.

"Wiro, apa kataku! Kita sudah berada di Bukit Batu Hangus. Ada satu kekuatan yang membuyarkan sirapan Sinuhun Muda. Lihat ke sana..."

Wiro menatap ke arah yang ditunjuk Ratu Randang. Samar-samar dia melihat bagian lereng yang lain dari bukit dimana mereka berada. Dalam gelap tampak ratusan orang berkaparan. Di samping sebuah batu besar dimana tergeletak sosok manusia berdiri seorang lelaki. Di tanah di sampingnya berbaring seekor anjing betina yang tubuhnya tampak hangus kemerahan, lidah terjulur basah oleh lelehan darah. Lelaki tadi berulang kali membungkuk mengusap kepala anjing betina.

Semakin keras suara tambur dan suling, semakin jelas terlihat pemandangan di lereng bukit. Sepertinya kekuatan hentakan suara tambur dan tiupan suling itulah yang mengendurkan kekuatan ilmu Sinuhun Muda yang membungkus kawasan Bukit Batu Hangus.

Wiro kerahkan ilmu Menembus Pandang. Memperhatikan ke arah batu besar.

"Ratu, aku mengenali orang yang terkapar di atas batu. Seperti yang kau teriaki tadi dia memang Swara Pancala. Lelaki gagah tapi kelihatan letih yang berdiri di samping batu, siapakah dia?"

"Dia Rakai Kayuwangi, Sri Maharaja Mataram. Yang Maha Kuasa melindungi hingga Raja tidak terserang ilmu jahat dua Sinuhun yang melumpuhkan."

"Seperti yang lain-lain aku lihat ada empat benjolan merah di kening Raja."

"Tadinya ada delapan benjolan! Itu perbuatan keji Sinuhun Muda dan Sinuhun Merah. Aku pernah menerangkan padamu. Beberapa waktu lalu ada satu kejadian hebat. Atas kehendak Para Dewa delapan benjolan berkurang menjadi empat." (Peristiwa yang dimaksudkan Ratu Randang adalah kejadian sewaktu Sri Maharaja Mataram menolong anjing betina perujudan Sri Padmi Kameswari melahirkan anaknya. Atas budi kebajikan sang Raja yang luar biasa besar itu Sri Padmi Kameswari dengan pertolongan Yang Maha Kuasa berhasil menghancurkan empat dari delapan benjolan merah yang ada di kening mereka. Baca serial sebelumnya berjudul "Roh Jemputan")



"Ratusan orang yang berkaparan di bukit sana. Mereka lumpuh semua. Orang- orang tua, anak-anak. Sungguh mengerikan. Aku tidak tega melihat mereka..."

"Selain lumpuh mereka diserang demam panas. Kelaparan, pasti juga kehausan. Lalu hawa dingin dikala malam seperti ini dan panas terik diwaktu siang. Jika tidak ada pertolongan, begitu siang datang akan banyak yang menemui ajal ..."

Wiro meraba tengkuknya yang mendadak terasa dingin. "Seumur hidup baru kali ini aku melihat kejadian seperti ini. Aku tidak habis pikir mengapa ada orangorang jahat yang tega berbuat sekejam dan sekeji ini?

Apa yang mereka inginkan?"

"Setelah melihat beberapa kejadian, walauaku tidak berhasil mencari tahu dari Sinuhun Muda, aku hanya punya satu dugaan. Sinuhun Muda dan nyawa kembarnya Sinuhun Merah Penghisap Arwah menginginkan tahta Kerajaan. Dia ingin berkuasa dan menjadi Raja "

"Kalau cuma tahta dan kekuasaan mengapa sampai menyengsarakan seluruh rakyat Mataram? Mengapa tidak berlaku jantan. Melakukan perang atau bertarung satu lawan satu?"

"Wiro, kau berpikir menurut asal alammu. Delapan ratus tahun mendatang. Orang-orang di sini berpikir delapan ratus tahun terbelakang. Mereka lebih mengandalkan ilmu kesaktian hitam dari pada kejantanan..."

Wiro hanya bisa mengangguk perlahan Lalu bertanya.

"Siapa sebenarnya dua Sinuhun bernyawa kembar itu?"

"Itulah yang sampai saat ini menjadi satu teka-teki besar. Namun cepat atau lambat kami orang-orang Kerajaan akan mengetahui siapa adanya mereka."

Wiro memandang ke arah timur Bukit Batu Hangus.

"Aku melihat seorang anak perempuan. Berjalan diantara sekelompok orang tua dan anak-anak yang terbujur di depan cegukan batu bukit. Ada seekor anjing kecil mengikuti kemana dia pergi. Astaga! Ni Gatri! Anak itu yang datang bersamaku. Aku tidak melihat guruku Eyang Sinto Gendeng. Mungkin dia juga berada di sini..."

"Aku meragukan kalau gurumu ada di sini," menyahuti Ratu Randang.

Wiro meraba batu putih segi tiga yang ada dibalik dada pakaiannya.

"Ratu, saatnya kita segera menemui Raja. Bukankah aku harus memperlihatkan batu segi tiga putih pada beliau. Lalu seperti yang pernah diterangkan oleh Swara Pancala sewaktu datang ke alam asalku, Raja akan bicara denganku melalui anak perempuan bernama Ni Gatri itu," kata Wiro pula.

"Kita akan segera menemui Raja. Tapi aku ingin kau lebih dulu melihat sesuatu," jawab Ratu Randang. Lalu dia menunjuk ke arah selatan.

"Perempuan di dalam gelap sana. Lelaki yang bicara membentak-bentak di hadapannya ..."

"Dewi Ular dan Sinuhun Muda!"

"Benar sekali. Lihat, mereka berkelahi! Sinuhun Muda agaknya marah besar atas kematian Swara Pancala. Aku mendengar teriakan Dewi Ular, mungkin sewaktu melempar mayat lelaki itu. Berarti Sinuhun tahu kalau Dewi Ular yang telah membunuh anak buahnya."

Dari tempatnya berada Wiro dan Ratu Randang melihat bagaimana Dewi Ular akhirnya berkelebat pergi.

Sinuhun Muda hendak mengejar tapi tidak jadi. Dia sembunyi di balik batu besar. Menatap ke atas bukit.

"Aku lihat tampang Sinuhun Muda seperti ketakutan,"

Wiro memberi tahu Ratu Randang. "Apa yang dilihatnya?!"

"Suara tambur dan suling agaknya mempengaruhi manusia jahanam itu."

"Ada sesuatu yang lain," menyahuti Ratu Randang.

Lalu dia memegang bahu Pendekar 212 dan berkata. "Lihat ke lereng, bukit sebelah kanan."

Wiro alihkan pandangan ke arah yang dikataken Ratu Randang.

Di lereng bukit tampak satu pemandangan menakjubkan bercampur aneh. Seorang lelaki gemuk pendek bermuka bopeng berjalan mendaki bukit. Di tangan kiri orang ini memegang sebuah tambur. Tangan kanan memukul tambur tiada henti dalam irama yang teratur. Suara tambur yang dipukul bukan saja membahana di udara malam, tapi menggetarkan lereng Bukit Batu Hangus.

Semua orang yang ada di atas bukit termasuk Sri Maharaja Rakai Kayuwangi sama palingkan kepala dan bertanya-tanya dalam hati, ada apa. Apa yang terjadi.

Mereka semua tengah menunggu kedatangan Kesatria Panggilan yang katanya akan menolong menyelamatkan Raja dan rakyat Mataram. Kenapa kini yang muncul suara tambur. Rasa heran itu masih belum berakhir.

Di belakang si gemuk pendek bopeng yang memukul tambur berjalan mengikuti seorang lelaki berbadan tinggi kurus. Wajah penuh dengan bintik-bintik putih. Dia memegang suling dan meniup suling begitu asyik dengan mata sesekali terpejam pejam. Suara suling yang ditiup melengking keras di udara malam yang dingin, mencucuk ke bumi dan menggetar bukit batu. Semua orang yang ada di bukit batu untuk beberapa lama terpaksa menekap telinga masing-masing. Untung saja tangan mereka bebas dari kelumpuhan. Kalau tidak berarti akan bertambah pula penderitaan orang-orang itu. Namun belasan orang yang tidak tahan oleh hebatnya suara tambur dan suling merasakan kepala mereka pening.

Lalu satu demi satu mereka terbaring jatuh dalam keadaan setengah sadar.

Siapakah adanya dua orang aneh itu. Seperti diceritakan dalam serial Mimba Purana Satria Lonceng Dewa (baca "Perawan Sumur Api", "Arwah Candi Miring", "Pangeran Bunga Bangkai", "Dewi Tangan Jarangkong" dst. karangan Bastian Tito) kedua orang ini dikenal dengan name Si Tambur Bopeng dan Si Suling Burik.

Walau mereka sebenarnya adalah orang-orang berkepandaian tinggi namun berpenampilan lugu polos, terkadang lucu dan sesekali bisa konyol menjengkelkan orang.

Hebatnya di depan Si Tambur Bopeng dan Si Suling Burik, saat itu di udara malam yang dingin, tampak seorang kakek dan seorang nenek yang sama-sama mengenakan pakaian selempang kain putih. Mereka melangkah melayang seolah mengikuti alun suara tambur dan suling. Rambut putih disanggul di atas kepala. Si Tambur Bopeng dan Si Suling Burik di sebelah belakang bertindak seperti dua orang pengiring. Di satu tempat hanya beberapa tombak dari beradanya Raja Mataram Rakai Kayuwangi, due kakek nenek berhenti berjalan tapi tubuh masih tetap mengambang di udara malam.

Sepasang mate menatap menyorotkan amarah ke lereng bukit sebelah bawah tempat Sinuhun Muda mengintai di balik batu. Bergantian sepasang kakek nenek aneh ini menggerakkan tangan, membuat Isyarat bahasa yang hanya dimengerti oleh orang yang mengetahui.

Walau Sinuhun Muda tidak mengetahui isyarat apa yang dimaksudkan oleh sepasang kakek nenek yang dipangglinya Eyang itu, namun dia maklum kalau keduanya tengah melontarkan hawa amarah besar.

Karenanya setelah menyumpah-nyumpah sendiri Sinuhun Muda tinggalkan tempat itu. Memutuskan untuk menemui nyawa kembarannya yaitu Sinuhun Merah Penghisap Arwah.

Sesaat setelah Sinuhun Muda meninggalkan Bukit Batu Hangus, Sri Maharaja Mataram menjadi terkesiap ketika sepasang kakek nenek berselempang kain putih yang masih melayang di udara memalingkan dirt ke arahnya lalu sama-sama membungkuk memberikan penghormatan. Sementara itu Si Tambur Bopeng hentikan menabuh tambur dan Si Suling Burik turunkan suling yang ditiup.

Rakai Kayuwangi segera pula membungkuk membalas penghormatan orang. Raja Mataram berusaha mendekat namun gerakannya seperti terhalang tembok yang tidak kelihatan. Akhirnya Raja menyapa dari tempatnya berdiri.

"Orang tua berdua, saya yakin kedatangan kalian merupakan rahmat Para Dewa atas diri saya dan rakyat Mataram. Kalau saya boleh tahu siapakah gerangan orang tua berdua adanya?"

Atas pertanyaan Raja, kakek berselempang kain putih segera gerakkan dua tangan dan jari-jarinya!. Setelah itu nenek di sebelahnya bergantian melakukan hal yang sama.

Melihat hat ini semua orang yang ada di situ termasuk Raja Mataram segera maklum kalau sepasang kakek nenek itu tidak bisa bicara alias bisu. Raja mendekati beberapa orang tokoh Istana, bicara dengan Garung Parawata lalu Panglima Pasukan Kerajaan ini berseru menanyakan siapa diantara semua orang yang ada di Bukit Batu Hangus tahu bahasa tangan dan isyarat orang bisu. Tidak ada seorangpun yang menjawab.

"Yang Mulia, kita harus mencari seorang bisu. Hanya orang bisu Mau gagu yang tahu bahasa isyarat tangan itu..." Berkata Soka Kandawa sambil batuk-batuk. Orang tua ini dialah salah seorang tokoh Istana yang dikenal dengan gelaran Tabib Sakti Sepuluh Jari Dewa yang seperti semua orang yang ada di situ berada dalam keadaan lumpuh serta menderita demam panas.

"Tidak mungkin kita menemukan orang bisu dalam keadaan seperti ini," jawab Raja Mataram.

Eyang Dukun Umbut Watukura setengah berbisik berkata pada Raja Mataram. "Yang Mulia, saya menduga dua kakek nenek itu bukan dari alam kita. Mereka datang dari alam arwah, alam roh. Lihat, sampai saat ini dua kaki mereka tidak menginjak tanah atau batu bukit..."5RAKAI KAYUWANGI DYAH LOKAPALA terperangah menyadari kebenaran ucapan Eyang Dukun.

"Saya sependapat dengan Eyang Dukun. Mereka tidak mungkin muncul begitu saja. Ini semua pasti kehendak Para Dewa yang hendak menyelamatkan Mataram," ucap Raja Mataram. Lalu dia mengangkat tangan ke arah dua kakek nenek. "Orang tua berdua, saya tahu kalian datang dengan membawa maksud baik, hendak menyampaikan sesuatu yang baik.

Namun sayang sekali antara kita tidak bisa bertutur kata. Bahasa gerakan tangan orang tua berdua tidak kami ketahui artinya. Kami mohon maaf. Kami mohon petunjuk bagaimana caranya .."

Belum habis Raja berucap tiba-tiba si nenek berselempang kain putih membalikkan tubuh dan meluruskan jari telunjuk tangan kanannya ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng.

Ditunjuk begitu rupa Wiro yang baru saja datang bersama Ratu Randang tentu saja terkejut. Sementara Raja dan semua orang yang ada di Bukit Batu Hangus bertanya-tanya siapakah pemuda berambut panjang disamping Ratu Randang, dari atas bukit Ni Gatri berlari mendatangi Wiro sambil berseru, "Kakak!"

Raja dan orang-orang yang ada di Bukit Batu Hangus segera maklum kalau pemuda yang datang bersama Ratu Randang adalah Pendekar 212 Wiro Sableng yang mereka sebut sebagai Kesatria Panggilan. Walau dalam keadaan lemah dan sakit hampir semua orang bersorak girang. Banyak pula yang menampungkan tangan mengucapkan doa terima kasih pada Yang Maha Kuasa.

Harapan mereka atas datangnya pertolongan sungguh sangat besar.

Saat itu Sri Maharaja Mataram Ingin segera menemui sang pendekar namun Raja merasa tidak enak kalau meninggalkan kedua orang tua dari alam arwah itu begitu saja. Apa lagi saat itu si nenek tengah menunjuk-nunjuk ke arah Wiro. Sekali menunjuk dia usapkan tangan ke kening, tangan dikepretkan lalu menunjuk lagi dan mengusap lagi, mengepret lagi. Melihat ini Wiro sendiri jadi ikut ikutan mengusap keningnya sambil berpikir pikir apa yang dimaksud si nenek.

"Aku ditunjuk-tunjuk. Memangnya ada apa di jidatku..." pikir Wiro.

Ketika Ni Gatri berdiri di hadapannya Wiro mengusap kepala anak perempuan ini. Di belakang Ni Gatri, anjing jantan kecil yang selalu mengikuti anak perempuan ini, tidak berhenti menyalak. Ni Gatri mendukung binatang ini, membelai tengkuknya agar tidak menyalak lagi. Namun anak anjing ini hanya diam dan tenang sebentar lalu kembali menyalak.

"Wiro, anak anjing terus menyalak. Ada pertanda yang tidak baik," bisik Ratu Randang.

Pendekar 212 maklum dan anggukkan kepala. "Kita harus waspada. Awasi semua orang yang ada di sini termasuk pemukul tambur dan meniup suling. Juga kakek nenek aneh itu." Wiro lalu bertanya pada Ni Gatri.

"Kau baik-baik saja Ni Gatri?"

Si anak perempuan mengangguk. Lalu dia menunjuk ke arah nenek berjubah biru, bermuka bundar tak memiliki alis yang duduk di tanah, tersandar pada sebuah batu. Nenek ini bukan lain adalah Rauh Kalidathi.

"Nenek itu yang telah menyelamatkan Gatri ketika ada orang jahat hendak menculik Gatri..." Si anak perempuan memberi tahu.

Wiro hendak bertanya perihal gurunya, Eyang Sinto Gendeng. Namun Ni Gatri mendahului berkata "Kakak, sewaktu tadi ada orang bertanya siapa yang tahu bahasa gerak tangan Isyarat orang bisu sebenarnya Gatri mau menjawab kalau Gatri tahu sedikit bahasa orang bisu. Dulu Gatri punya teman anak lelaki gagu.

Kalau bicara dia memakai bahasa gerakan tangan..."

Mendengar ucapan Ni Gatri Ratu Randang berkata.

"Kalau begitu lekas kita menemui Raja. Aku akan beritahu kalau kau mengerti bahasa gerakan tangan orang bisu.

Nanti kau bisa bicara dalam bahasa isyarat langsung pada sepasang kakek nenek itu..." Ratu Randang cepat pegang lengan Ni Gatri.

Namun Wiro berkata.

"Gatri, kau tadi melihat nenek yang melayang itu menunjuk-nunjuk ke arahku. Lalu dia membuat gerakan tangan mengusap kening dan mengepret beberapa kali.

Kau tahu apa yang dikatakannnya..."

"Kalau tidak salah Gatri mengira, nenek itu hendak memberi tahu bahwa Kakak ..."

Belum sempat Ni Gatri menyelesaikan ucapan tibatiba terjadi dua hal hebat. Yang pertama dari lereng bukit sebelah selatan muncul getaran aneh. Ketika dengan cepat getaran menyentuh tubuh Ni Gatri, tak ampun lagi anak ini langsung terhuyung dan rubuh di atas bebatuan.

Wajah pucat, mata nyalang tapi pandangan kosong.

Hal kedua sebelum tubuh Ni Gatri jatuh menyentuh bebatuan, dari langit kelam berkelebat selarik sinar hijau.

Sinar menyapu bagian alas kepala Ni Gatri. Saat itu juga tubuh Ni Gatri yang berada dalam keadaan kaku tak bisa bergerak tak bisa bersuara kini seolah berubah menjadi batu, kulit berubah kehijau-hijauan! Anjing kecil yang ada dalam gendongannya meraung keras lalu melompat.

Turun ke tanah dan berlari berputar putar mengelilingi sosok Ni Gatri.

"Celaka! Apa yang terjadi! Ni Gatri!" Wiro berteriak.

Raja Mataram cepat mendatangi. Namun saat itu anjing betina yang cidera berat perujudan dari Sri Padmi Kameswari berteriak.

"Tahan! Jangan sentuh tubuh anak itu sebelum memiliki benda penangkal. Dia terkena ilmu pembungkam tubuh yang dilepas Sinuhun Muda! Yang Mulia cepat tanggalkan kalung emas di leher saya. Patahkan jadi dua.

Yang pertama Yang Mulia simpan di saku pakaian.

Patahan kedua berikan pada pemuda berambut gondrong yang barusan datang bersama Ratu Randang...."

Sri Maharaja Mataram terkesiap. Ratu Randang tercengang. Anjing betina telah membuka rahasia penangkal atau kelemahan Sinuhun Muda! Wiro sendiri delikkan mata dan nekad hendak memegang tubuh Ni Gatri. Namun begitu tangan diulurkan hendak menyentuh Ni Gatri tiba-tiba dari tubuh anak perempuan itu melesat keluar selarik sinar merah, menyambar ke arah Pendekar 212.Wiro kertakkan rahang, melompat mundur sambil lepaskan pukulan Kincir Padi Berputar. Sambaran sinar merah yang menyerang dalam bentuk garis lurus bukan saja berhasil di tahan namun kemudian dibuntal bergelung membentuk lingkaran berputar seperti kincir padi. Begitu Wiro pukulkan tangannya ke bawah maka ujung lingkaran merah ikut menghunjam ke tanah, amblas masuk ke dalam celah-celah batu bukit dan buummm!

Satu letusan keras menggelegar. Sebagian batu-batu besar yang ada di tempat itu hancur berkeping-keping.

Wiro sendiri jatuh terduduk di tanah. Mukanya tampak pucat. Tubuh bergetar tergontai-gontai. Lengan baju sebelah kanan dikobari api!

Ratu Randang berteriak. Dengan cepat perempuan ini pergunakan ke dua tangannya untuk memadamkan api!

"Wiro .... !"

"Aku tak apa-apa..." Berkata Pendekar 212 sambil berdiri. Tapi keningnya mengernyit tanda dia tengah menahan sakit. Ratu Randang yang masih kawatir robek salah satu bagian lengan baju yang terbakar. Di balik robekan tampak kulit lengan mengelupas kehitamhitaman.

"Sinuhun Muda. Tadi aku lihat dia sudah pergi. Pasti mahluk jahanam itu kembali lagi. Dia menyerang anak perempuan itu dengan ilmu pembungkam Hawa Bumi Menutup Jalan Darah Mencekal Urat. Celaka! Aku tidak mampu memusnahkan ilmu itu. Tapi ... Ni Gatri tidak hanya diserang ilmu Sinuhun Muda. Ada ilmu lain yang tadi memancarkan cahaya kehijauan menyerang anak itu hingga tubuhnya berubah sekeras batu!" Berkata Ratu Randang.

"Aku tahu," jawab Wiro. Dia menatap ke arah Ni Gatri.

Wiro lebih mengawatirkan anak perempuan itu dari dirinya sendiri. Di tanah tempat tubuhnya terkapar anjing betina perujudan Sri Padmi Kameswari kembali berteriak.

"Yang Mulia! Cepat tanggalkan kalung di leher saya!"

Kali ini, tidak menunggu lebih lama Raja Mataram Rakai Kayuwangi segera mendatangi, membuka kalung emas besar yang melingkar di leher anjing betina. Lalu kraakk! Kalung emas yang berbentuk lempengan cukup tebal itu patah dua. Raja Mataram menyimpan satu patahan di dalam saku celananya. Patahan yang lain diberikan kepada Wiro. Begitu Wiro memegang patahan kalung emas saat itu juga cidera di lengan kanannya pupus lenyap!

Sesaat setelah kalung emas besar tanggal dari lehernya tiba-tiba anjing betina yang tergeletak di tanah meraung perlahan. Kepala diangkat, sepasang mata menatap ke arah Raja Mataram lalu jatuh terkulai. Secara aneh tubuh anjing betina ini berubah jadi kepulan asap lalu lenyap dari pemandangan.

"Sri Padmi Kameswari!" Raja berseru. Dia mengusap kepala binatang itu namun si anjing betina sudah tidak bernafas lagi. Anjing kecil tahu kalau ibunya sudah mati menyalak panjang berhiba-hiba lalu menjilati tanah bekas tubuh induknya tadi tergeletak.

Wiro cepat menggendong tubuh Ni Gatri, dibaringkan di atas sebuah batu rata. Raja Mataram keluarkan potongan kalung yang ada padanya. Benda itu kemudian diusapkan di tubuh Ni Gatri, mulai dari kepala, kening, wajah terus turun ke dada dan sampai ke ujung kaki.

Melihat hal ini Wiro keluarkan pula patahan kalung emas yang ada padanya dan melakukan hal yang sama.

"Desss! Desss! Desss!"

Asap merah mengepul keluar dari delapan bagian tubuh Ni Gatri namun anak perempuan ini tetap dalam keadaan diam kaku tidak bergerak tidak bersuara.

"Ilmu Sinuhun Muda sudah musnah..." bisik Ratu Randang pada Wiro. Ilmu satunya masih membungkam anak perempuan itu. Siapa gerangan yang telah menyerangnya..."

Tiba-tiba suara tambur dan tiupan suling kembali terdengar di Bukit Batu Hangus. Si Tambur Bopeng dan Si Suling Burik mulai berjalan menuruni lereng bukit.

Sepasang kakek nenek ikut pula bergerak. Seperti tadi keduanya melangkah melayang dalam udara malam yang dingin. Si nenek kembali menunjuk-nunjuk ke arah Wiro.

Usapkan tangan kanan di atas kening lalu dikepretkan.

Di samping si nenek, kakek arwah bisu berulang kali menggerakkan tangan dari pinggang ke atas Seperti gerakan orang mencabut senjata yang tersisip di pinggang. Lalu kakek ini menunjuk-nunjuk ke arah Si Tambur Bopeng dan Si Suling Burik.

Wiro cepat mengejar. Dia menghampiri si gemuk pendek si Tambur Bopeng.

"Sababat! Nenek alam arwah itu berulang kali menunjuk ke arahku. Mengusap kening lalu tangan dikibaskan. Jika kau tahu apa arti tanda gerakan tangan yang dilakukan nenek itu harap kau mau mengatakan!"

"Tam! Tam! Tam!"

Si Tambur Bopeng lalu membuka mulut.

"Aku Si Tambur Bopeng. Bersama temanku Si Suling Burik kami hanya berlaku sebagai pengantar. Kami tidak tahu apa arti gerakan tangan..."

"Kalian mau memberi tahu siapa adanya dua kakek nenek itu?" Wiro bertanya.

"Sepasang Arwah Bisu!" Berkata Si Tambur Bopeng.

"Sepasang Arwah Bisu!" Menirukan temannya Si Suling Burik.

"Kalian membawa Sepasang Arwah Bisu dari mana, mau di antar dipulangkan kemana? Kalau kami ingin menemui mereka harus mencari dimana?!" Ratu Randang kini yang mengajukan pertanyaan.

Si Tambur Bopeng dan Si Suling Burik hentikan langkah sebentar. Keduanya memandang pada Ratu Randang. Lalu kedip kedipkan mata.

"Cantik sekali ... Cantik sekali! Ha...ha...ha!" Si Tambur Bopeng lalu kembali tabuh tamburnya dan mulai melangkah lagi menuruni lereng bukit.

"Dadanya bagus ... Dadanya montok. Aku bisa melihat celah putihnya. Ha ... ha ... ha!" Si Suling Burik kini yang bicara lalu tertawa gelak-gelak.

"Matanya juling bagus! Sungguh mempesona!" Si Tambur Bopeng kembali keluarkan ucapan.

"Bukan mempesona. Tapi menggairahkan!" Menyahuti Si Suling Burik. Lalu kedua orang aneh ini tertawa gelakgelak.

"Sialan!" maki Ratu Randang. "Kalian belum menjawab pertanyaanku!"

"Memaki saja suaranya begitu merdu. Apa lagi merayu! Ha ... ha ... ha!" Si Tambur Bopeng berucap lalu pukul tamburnya.

"Tam! Tam! Tam!"

Si Suling Burik tiup sulingnya kencang. kencang hingga Wiro dan Ratu Randang terpaksa hentikan langkah dan tekap telinga musing-masing.

"Hai jangan pergi! Jawab dulu pertanyaanku! Di mana kami bisa menemui Sepasang Arwah Bisu. Kami butuh keterangannya!"

"Alam arwah begitu luas. Datang dan pergi sulit diketuhui. Sepasang, Arwah Bisu laksana dua buah jarum di tengah padang pasir. Bagaimana kami bisa tahu.

Bagaimana kami bisa menjawab!"

"Kalau begitu kalian saja memberi tahu dimana kami bisa menemui kalian!" Ratu Randang masih berusaha, "Tam! Tam! Tam!"

Si Tambur Bopeng lalu menjawab.

"Kami dua sahabat yang tidak punya juntrungan, berarti tidak punya rumah kediaman. Kalau mau mencari kami dimana banyak mayat disitu kami biasa berkeliaran.

Dunia mayat sejuk dan rukun tenteram tidak seperti dunia manusia yang selalu hidup dalam pertengkaran dan permusuhan, keserakahan, iri dengki, sombong dan kebencian serta kejahatan penuh tipu muslihat!"

Wiro dan Ratu Randang sating berpandangan mendengar ucapan kedua orang itu. Ratu Randang pegang tangan Wiro.

"Sudah, tidak perlu diikuti lagi. Percuma saja. Hidup di Bhumi Mataram tapi tidak mau menolong. Sudah buruk rupa bertingkah pula!"

"Oala! Kita dibilang buruk rupa. Berarti kita ini orangorang jelek ya?" Si Suling Burik berkata.

"Kasihan kita berdua! Ha... ha... ha!" Si Tambur Bopeng menyahuti lalu tertawa mengekeh.

"Ratu, Kau tabu siapa sebenarnya dua kakek nenek dari alam arwah tadi itu?"

Ratu Randang menggeleng.

"Kita akan tanyakan pada para tokoh di Bukit Batu Hangus. Mungkin diantara mereka ada yang bisa memberi jawaban..."

"Aku sempat melihat wajah Sinuhun Muda yang ketakutan ketika menatap ke arah sepasang kakek nenek."

"Aku juga memperhatikan," jawab Ratu Randang.

"Kita harus menolong Ni Gatri. Kalau anak itu bisa di sadarkan pasti dia akan memberi tahu apa arti semua gerak tangan Sepasang Arwah Bisu."

Baru saja Wiro selesai berkata tiba-tiba di lereng bukit sebelah kanan terdengar suara tawa cekikikan.

"Tidak ada yang mampu menolong anak perempuan itu! Kecuali Sinuhun Merah Penghisap Arwah! Kepadanya semua orang di muka Bhumi Mataram ini harus tunduk!"

"Dewi Ular ...!" Bisik Ratu Randang.

"Bukan, bukan Dewi Ular," jawab Pendekar 212 Wiro Sableng.6BEGITU pandangan mata Pendekar 212 Wiro Sableng membentur sosok tinggi kurus hitam yang kepalanya ditancapi empat tusuk konde perak, dia langsung berteriak.

"Nek! Eyang Sinto"

Sinto Gendeng berdiri di atas sebuah batu besar, berkacak pinggang. Wajah yang hanya ditutupi kulit tipis dan sorotan mata tampak galak. Mendadak sang murid tersentak heran ketika lebih memperhatikan ternyata Eyang Sinto Gendeng muncul dengan beberapa keanehan.

Di kening nenek kelihatan ada delapan benjolan merah. Lalu tidak tampak tongkat kayu butut yang selalu dibawa kemanamana.

Keanehan ke tiga Wiro tidak mencium bau pesing.

Malah kini dia mencium bau harum begitu santar keluar dari tubuh dan pakaian sang guru!

"Nek!"

Ratu Randang mendekati Pendekar 212 lalu berbisik.

"Aku dengar kau menyebut memanggil Nenek. Nenek siapa?"

"Nenek guruku. Eyang Sinto Gendeng. Dia berdiri di atas batu sana. Bukankah aku pernah bercerita ketika dalang ke Bhumi Mataram aku ditemani guruku dan anak perempuan bernama Ni Gatri."

Ratu Randang kerenyitkan kening. Mata julingnya menatap ke arah batu besar di seberang sana. Mata diusap beberapa kali lalu sambil geleng kepala perempuan ini berkata.

"Aku belum buta.Yang berdiri di atas batu besar itu bukan seorang nenek. Tapi seorang gadis. Di kepalanya memang ada empat tusuk konde perak. Ngeri juga karena tusuk konde itu sepertinya ditancap. Gadis ini berkulit hitam manis. Wajahnya memang cantik tapi dandanannya seronok. Pupur tebal, alis mata mencong dan bibir berselomotan cairan warna merah!"

"Ratu, kau jangan bergurau. Aku juga tidak buta! Aku sudah bilang guruku seorang nenek-nenek jelek seram.

Dan saat ini sosoknya aku lihat berdiri di atas batu sana.

Cuma satu kelainan yang aku lihat pada dirinya. Biasanya tubuh dan pakaiannya bau pesing. Kini dia wangi sekali..."

"Aku juga mencium bau wangi itu!" menyahuti Ratu Randang. "Kau ingat sewaktu aku bersama si katai Jambal Ungu alias Raja Dukun Batu Berlumut bertemu dirimu pertama kali di tepi telaga? Waktu itu Raja Dukun mengatakan tidak ada nenek-nenek muncul di Bhumi Mataram. Yang ada seorang gadis cantik berkulit hitam manis yang tubuh serta pakaiannya harum selangit. Di kepalanya ada empat tusuk kundai! Nah, gadis di atas batu itulah orangnya!"

Wiro menggaruk kepala. Mulut melongo.

"Bagaimana ini? Tidak mungkin! Mana mungkin aku punya guru seorang gadis yang mungkin seusiaku. Aku melihat nenek-nenek. Kau melihat gadis. Ada yang tidak beres! Ada yang tidak nyambung! Lalu mengapa ada delapan benjolan aneh di kepalanya...."

"Wiro, aku punya dugaan siapapun perempuan yang berdiri di atas batu dia sudah berada di bawah kekuasaan Sinuhun Merah Penghisap Arwah! Delapan benjolan itu tanda yang tidak bisa disangsikan lagi! Jangan-jangan gurumu sudah kena disirap benaknya dengan ilmu yang disebut Delapan Jalur Arwah, Pencuci Otak!"

"Celaka guruku! Celaka Eyang Sinto Gendeng...."

"Eyang Sinto Gendeng ... ? Itu berati Sinto gila atau sinting. Hik ... hik. Nama aneh. Setahu kabar yang aku dengar dia mengaku bernama Sinto Weni..."

"Itu nama aslinya." Jawab Wiro.

Sementara itu semua orang yang ada di Bukit Batu Hangus termasuk Raja Mataram bertanya tanya siapa gerangan adanya gadis cantik berdandan celemongan yang berdiri di atas batu. Kelihatannya gadis itu mengenal Kesatria Panggilan Wiro Sableng. Namun sikapnya jelas kurang bersahabat.

Selagi Wiro kebingungan tiba-tiba terdengar bentakan.

"Anak Setan! Lekas datang ke sini! Siapa perempuan di sampingmu? Rupanya kau sudah punya kekasih baru di negeri ini? Dasar pemuda mata bongsang!"

"Wiro, kau dengar gadis di atas batu itu bicara padamu? Mengapa kau dipanggilnya dengan sebutan Anak Setan? Kau juga disebut pemuda mata bongsang!

Aku dikatakannya kekasih barumu. Aku sih mau-mau dan senang saja. Hik ... hik ... hik!" Ratu Randang tertawa cekikikan.

"Anak Setan! Apa telingamu tuli tidak mendengar aku menyuruhmu datang ke sini?!"

"Wiro, kalau gadis di atas batu memang gurumu, sebaiknya kau lekas mendatangi. Jangan perdulikan perbedaan penglihatanmu dengan apa yang aku lihat.

Mulut gadis itu seperti ember! Kita berdua bisa dibikin malu!"

Mendengar ucapan Ratu Randang Wiro akhirnya beranjak. Namun sebelum melompat ke atas batu dimana gurunya berdiri diam-diam Wiro selipkan batu segi tiga pipih.

"Ratu, kalau terjadi apa-apa dengan diriku, berikan batu itu pada Raja."

Ratu Randang jadi merasa tidak enak. Batu cepatcepat dimasukkan ke balik pakaian.

Wiro melompat ke atas batu besar, berdiri di samping sang guru. Sambil membungkuk Wiro menyapa.

"Nek, aku sudah di sini. Anu, bajumu baru, bagus Nek. Kau dapat dari mana? Bau tubuh dan pakaianmu harum sekali Nek, seperti wangi bidadari turun dari kahyangan. Aku ..."

Sinto Gendeng delikkan mata.

"Apa?! Semua orang memanggil aku anak gadis cantik! Kau menyebut aku Nenek! Kau mau memberi malu diriku! Dasar murid kurang ajar!"

"Plaakk!"

Satu tamparan melanda keras pipi Wiro hingga sudut bibirnya luka berdarah. Semua orang yang menyaksikan terutama Ratu Randang tentu saja jadi terkejut.

Sambil usap darah di pinggir mulut sementara telinganya masih berdenging saking kerasnya tamparan Wiro bertanya.

"Nek, eh Eyang Sinto, kenapa kau jadi galak begini.

Aku melihat ada delapan benjolan di keningmu. Aku kawatir..."

"Diami" Hardik Sinto Gendeng. "Mau delapan mau seratus benjolan di keningku bukan urusanmu! Sinuhun Merah Penghisap Darah telah memberi ilmu kesaktian padaku! Dan aku tahu kau menempatkan dirimu sebagai musuh Sinuhun Merah Penghisap Darah! Kau bersekutu dengan Raja Mataram."

"Eyang, sewaktu kita masih berada di alam delapan ratus tahun mendatang kau sudah tahu kalau kita datang ke sini memang untuk menolong serta membela Raja dan rakyat Mataram. Aku heran kalau Eyang tiba-tiba berubah. Apa yang terjadi dengan diri Eyang?"

Sinto Gendeng yang dimata Wiro ujudnya tetap terlihat seperti nenek tiba-tiba ulurkan tangan jambak rambut gondrong sang murid.

"Anak Setan! Kau dengar baik-baik! Yang pantas dibela adalah Sinuhun Merah Penghisap Arwah! Bukan Raja Mataram! Kau dengar?!"

Hardikan keras Sinto Gendeng terdengar oleh semua orang yang ada di Bukit Batu Hangus. Membuat mereka jadi terkejut.

"Eyang, mahluk yang namanya Sinuhun Penghisap Arwah justru biang racun semua malapetaka di negeri ini.

Dia pasti telah menyirapmu dengan ilmu hitam. Otakmu sudah dicuci. Eyang harus segera sadar..."

Sinto Gendeng tertawa panjang.

"Kau dari dulu memang anak badung! Tidak mau mendengar apa yang aku bilang! Sekarang mewakili Sinuhun Marah Penghisap Arwah sebaiknya otakmu aku cuci juga!"

Habis berkata begitu Sinto Gendeng arahkan keningnya ke kepala sang murid. Delapan benjolan merah pancarkan cahaya terang.

"Delapan jalur Arwah Pencuci Otak!"

Ratu Randang berteriak begitu menyadari serangan ilmu apa yang hendak dilancarkan Sinto Gendeng terhadap Wiro.

"Wiro! Lekas melompat dari atas batu! Selamatkan dirimu!" Teriak Ratu Randang.

Sementara itu di telinga Sinto Gendeng tiba-tiba mengiang suara memperingatkan.

"Sinto Weni! Jangan kau serang pemuda itu! Dia membekal emas pantangan!"

Namun terlambat. Wiro terlambat melompat selamatkan diri. Sinto Gendeng terlambat mendengar suara ngiangan. Delapan benjolan merah telah keburu menyemburkan delapan larik sinar merah yang langsung menyambar ke arah kening Pendekar 212!7DARI balik pakaian di bagian mana Wiro menyimpan sebagian patahan kalung emas yang diberikan Sri Padmi Kameswari menderu sinar kuning bergemerlap yang dengan cepat membungkus seluruh kepala sang pendekar. Dari bagian bawah dada di atas perut memancar cahaya putih menyilaukan. ltulah cahaya hawa sakti yang keluar dari senjata sakti mandraguna Kapak Maut Naga Geni 212!

"Blaaarrr!"

Delapan larik cahaya merah menghantam kening sang pendekar!

Wiro berteriak keras. Kepalanya laksana meledak. Tubuh terpental dari atas batu lalu jatuh terkapar di atas batu yang lain. Tubuhnya mulai dari dada sampai kepala tidak kelihatan karena tertutup buntalan asap merah.

Ratu Randang terpekik. Lalu menghambur memeluk tubuh Pendekar 212. Kedua tangan mengusap ke dada, terus ke atas ke arah kepala. Perempuan ini merasa lega karena dia masih meraba dada dan kepala Wiro utuh walau ada hawa panas seperti bara. Tadinya dia menyangka tubuh Wiro sudah hancur hanya tinggal bagian perut ke bawah! Semua orang di Bukit Batu Hangus termasuk Sri Maharaja Mataram keluarkan seruan tertahan. Mereka sepertinya tidak memperdulikan apa yang terjadi dengan gadis cantik bertusuk konde empat tapi lebih menaruh kawatir pada Wiro.

Ketika kepulan asap hitam membuntal ke atas dan lenyap dalam kegelapan udara malam menjelang dini hari yang dingin Ratu Randang melihat kepala Pendekar 212 merah seperti saga!

"Dewa Agung, Jagat Bathara!" Teriak Ratu Randang setengah meratap. Dua tangan ditekapkan ke pipi Wiro.

"Aku tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa..." Wiro keluarkan ucapan.

"Jangan bicara! Ada racun jahat dalam tubuhmu!"

"Tidak, tidak ada racun. Kalaupun ada semoga Yang Maha Kuasa melindungi diriku..." Wiro mencoba bangun.

Dibantu oleh Ratu Randang. Saat itu warna merah di kepala dan wajahnya perlahan-lahan mulai memudar dan akhirnya lenyap.

"Guruku .... Eyang Sinto Gendeng, aku kawatir.

Bagaimana keadaannya?"

Ratu Randang jadi marah besar mendengar ucapan Wiro. "Guru atau siapapun iblis perempuan itu! Dia hendak membunuhmu! Paling tidak hendak mencelakaimu hingga menjadi budak Sinuhun Merah Penghisap Arwah seumurumur!

Dan kau masih menanyakan bagaimana keadaannya! Oala betapa setia dan berbaktinya murid yang teraniaya!"

"Guruku tidak sejahat itu! Dia berbuat karena otaknya sudah keracunan. Dia tidak sadar apa yang dilakukannya.

Aku harus menolongnya."

"Gurumu edan! Kau gila! Sama saja!" teriak Ratu Randang. Lalu dia ambil tangan Wiro dan tempatkan di bagian mana terletak patahan kalung emas. Wiro merasa denyutan sakit di kepalanya perlahan-lahan lenyap.

Penglihatannya yang tadi agak buram kini mulai jelas kembali. Hawa panas jauh berkurang.

Raja Mataram berlari menghampiri Wiro bermaksud hendak menolong. Wiro sendiri saat itu sudah berdiri. Dia memandang ke arah batu besar di atas mana tadi Sinto Gendeng berada. Dia melihat gurunya duduk terjengkang di atas batu. Seluruh tubuh dan pakaian tampak diselimuti jelaga hitam!

Mata mendelik besar. Kepala menggembung dan berdenyut-denyut seperti mau meledak. Dari telinga dan sela bibir darah mengucur.

"Nek! Eyang!" Teriak Wiro begitu melihat keadaan gurunya. "Eyang, maafkan aku!"

"Edan! Kenapa minta maaf segala?!" teriak Ratu Randang. Bukan kau yang menyerang gurumu! Dia dihantam balik oleh serangannya sendiri yang tadi ditujukan padamu karena di tubuhmu ada lempengan kalung emas!"

Wiro tidak perdulikan ucapan Ratu Randang. Dia melompat hendak menolong sang guru. Tapi tiba-tiba si nenek meraung dahsyat lalu kaki kanannya melesat ke atas. "Duukk!"

Tendangan keras berkekuatan tenaga dalam tinggi menghantam dada Pendekar 212 hingga terpental. Selagi Wiro masih melayang di udara dilanda kesakitan luar biasa, dada serasa jebol dan darah mengucur dari sela bibir, Sinto Gendeng bangkit berdiri. Dua tangan dipentang ke atas. Kepala digoyang. Mata dikedipi "Wuuutt! Wuuutt!"

Dari mata Sinto Gendeng berkiblat dua larik cahaya biru menyilaukan hingga seluruh lereng Bukit Batu Hangus menjadi terang benderang. Dua larik sinar ini menyambar laksana kilat ke arah Pendekar 212. Suara derunya menggidikkan bulu roma! Dalam penguasaan dan kendali ilmu hitam Sinuhun Merah Penghisap Darah, diluar sadarnya si nenek benar-benar hendak menghabisi sang murid!

Bukannya bergerak selamatkan diri, Wiro malah tegak tak bergerak. Sikap seperti orang terkesima, mulut berucap menyebut nama ilmu yang dipergunakan Sinto Gendeng untuk menghabisinya! "Sepasang Sinar Inti Roh. Eyang Sinto tidak pernah mau memberikan ilmu itu padaku. Dia hendak membunuhku. Apa salahku ...."

Ketika Sinto Gendeng menyerang pertama kali, dia mempergunakan ilmu dahsyat yang didapat dari Sinuhun Merah Penghisap Arwah. Tapi ketika menendang dan menghantamkan serangan Sepasang Sinar Inti Roh, dia mengandalkan ilmu kesaktian yang dimilikinya sendiri!

ilmu kesaktian ini memang tidak diwariskannya kepada sang murid walau Wiro pernah menanyakan. Dan ilmu kesaktian ini tidak bisa ditangkal oleh patahan kalung emas besar masih yang ada pada Wiro!

Ratu Randang cepat dorong Pendekar 212 hingga jatuh ke tanah dan menggelinding di lereng bukit batu.

Sementara dua larik sinar biru menderu di udara malam dengan cepat Ratu Randang selamatkan diri dengan melompat ke kiri sambil lepaskan pukulan bernama Di Dalam Gelap Tangan Penghukum Membelah Jagat guna menangkis sambaran dua larik cahaya biru yang luar biasa ganas. Dengan pukulan inilah dalam jarak dekat Ratu Randang memecahkan kepala si katai Raja Dukun Batu Berlumut, dukun kepercayaan Sinuhun Muda dan Sinuhun Merah.

Ternyata Ratu Randang tidak bertindak sendirian.

Dari jurusan lain Sri Maharaja Mataram, Eyang Dukun Umbut Watukura, Garung Parawata dan Soka Kandawa alias Tabib Sakti Sepuluh Jari Dewa serta beberapa tokoh silat Istana lainnya yang ada di Bukit Batu Hangus ikut melancarkan serangan ke arah dua larik cahaya biru yang keluar dari sepasang mata Sinto Gendeng dan saat itu siap membelah tubuh Kesatria Panggilan alias Wiro Sableng yang adalah muridnya sendiri!

Gabungan pukulan sakti orang-orang di Bukit Batu Hangus yang memancarkan berbagai warna cahaya serta bermacam deru menggidikkan membuat bukit batu bergetar hebat. Meski terluka parah namun Wiro yang melihat apa yang terjadi dan maklum kalau gurunya tidak akan sanggup menghadapi sekian banyak serangan balasan serta merta berteriak.

"Tidak! Jangan! Tahan serangan! Eyang Sinto lekas nienyingkir!"

Namun apa yang sudah diduga akan terjadi tidak dapat dihindarkan. Dentuman dahsyat menggelegar ketika dua cahaya biru bentrokan di udara dengan gabungan cahaya pukulan beberapa orang sakti! Bukit Batu Hangus laksana dilanda gempa. Bebatuan besar longsor menggelinding dari lereng ke kaki bukit menimbulkan suara bergemuruh. Dua larik sinar biru serangan Sinto Gendeng bukan saja musnah berantakan, tapi taburan cahaya berbalik ke arahnya begitu gabungan cahaya pukulan sakti lawan datang menghantam!

"Eyang!"

Wiro kembali berteriak. Dibawah kecamuk pukulan sakti yang laksana badai dia hendak menghambur menolong sang guru namun Ratu Randang lebih cepat memegang lengannya. Perempuan ini lalu menarik Wiro kuat-kuat hingga keduanya jatuh ke tanah dan bergulingan di antara bebatuan.

Hanya sekejapan mata lagi Sinto Gendeng akan dihajar oleh ilmu kesaktiannya sendiri dan cahaya gabungan pukulan sakti orang-orang di Bukit Batu Hangus, tiba-tiba dari atas langit yang diterangi rembulan setengah lingkaran ada cahaya kuning memancar terang dan melayang ke bawah. Jauh di atas langit terdengar genta lonceng membahana tiga kali berturut turut.

Dari dalam cahaya kuning terdengar suara anak kecil.

Kematian bagian semua insan. Nyawa manusia adalah semata milik Yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa yang patut dihormati. Mengapa manusia terkadang bertindak mendahului-Nya, membunuh manusia lain seolah dia yang menciptakan dan menghidupkannya?

Jangan membuat sejuta alasan untuk menghalalkan kematian seorang insan. Sungguh besar tanggung jawabnya di dunia dan juga di akhirat."

Suara anak kecil lenyap. Cahaya kuning melesat ke langit.

Pada saat yang hampir bersamaan satu dentuman dahsyat menggelegar. Separuh lereng Bukit Batu Hangus amblas. Ratusan keping batu sebesar-besar kepala mencelat ke udara yang berubah gelap pekat. Ketika keadaan kembali terang, Wiro berteriak keras.

"Nek! Eyang Sinto!"

Batu di atas mana tadi Sinto Gendeng terkapar tak kelihatan lagi, sudah hancur bertabur ke udara. Di bekas batu besar itu kini menganga sebuah lobang besar.

Tanah berwarna merah tidak beda seperti kubangan tapi isinya bukan air atau lumpur melainkan tanah yang telah berubah menjadi bara panas!

Pendekar 212 menjerit sekali lagi. Melompat dan jatuh berlutut di tepi lobang.

"Eyang, kau sudah mati atau bagaimana?! Eyang Sinto!"

Tangan kanan ditutupkan ke wajah, tangan kiri menggaruk kepala.

Suara Wiro setengah sesenggukan. Ketika ada satu tangan memegang bahunya, perasaan sedih itu berubah menjadi ledakan amarah. Mulut berteriak. Tangan kanan dipentang ke atas. Tangan itu mulai dari ujung jari sampai ke siku serta merta kelihatan berubah seperti perak menyilaukan! Pukulan Sinar Matahari!8WIRO balikkan tubuh.

Tangan kanan yang sudah dialiri tenaga dalam dan hawa sakti Pukulan Sinar Matahari siap dihantamkan ke arah orang yang barusan memegang bahunya.

"Wiro! Ini aku! Kau mau membunuhku?!"

Ratu Randang berteriak sambil cepat pergunakan ke dua tangan mencekal lengan kanan Wiro. Namun begitu menyentuh lengan sang pendekar perempuan ini menjerit keras sambil kibas-kibaskan kedua tangannya. Dia laksana memegang sepotong besi panas! Kawatir Wiro akan tetap melepas pukulan sakti, dalam menahan sakit Ratu Randang ganti merangkul pinggang sang pendekar lalu jatuhkan diri ke tanah. Keduanya bergulingan sebentar di lereng bukit sebelum tertahan oleh satu gundukan batu besar.

Wiro berusaha lepaskan diri dari rangkulan Ratu Randang.

"Wiro! Kau mau melakukan apa?!"

"Kalian orang-orang Mataram telah membunuh guruku Eyang Sinto Gendeng!"

Sepasang mata Pendekar 212 membeliak tak berkesip, berkilat kilat laksana dikobari api. Rahang menggembung. Wiro jadi tambah beringas ketika Sri Maharaja Mataram mendatangi dan berdiri di sampingnya.

"Wiro, dengar aku!" Kata Ratu Randang pula sambil menyeka noda darah di sudut bibir dan dagu Wiro. "Tidak ada yang membunuh gurumu! Gurumu tidak mati!"

"Tidak mati?! Mayatnya memang tidak ada! Karena pasti sudah hancur lebur jadi bubuk dihajar sekian banyak pukulan sakti ditambah dua larik cahaya biru yang berbalik menghantam dirinya sendiri."

"Tidak Wiro. Percaya apa yang aku katakan. Gurumu sekarang pasti berada di satu tempat aman.

Telah diselamatkan oleh Satria Lonceng Dewa Mimba Purana, anak keramat pilihan Para Dewa." (Mengenai siapa adanya Mimba Purana harap baca serial Satria Lonceng Dewa, Pendekar Bhumi Mataram karangan Bastian Tito)

Pendekar 212 menyeringai.

"Anak keramat pilihan Para Dewa? Aneh kedengarannya. Apakah anak itu yang pernah masuk ke dalam tubuh Ni Gatri dan bicara padaku sewaktu aku tidak mau mengambil batu putih segi tiga dari tangan Mayat Aneh Keempat ... ?" (Baca serial sebelumnya Roh Jemputan")

"Aku mendengar kejadian itu dari Raja Dukun .... " kata Ratu Randang pula. Diam-diam dia merasa lega karena amarah Wiro kini tampak mengendur dan cahaya putih perak yang membungkus tangan kanan sang pendekar perlahan lahan sirna.

"Kalau di Bhumi Mataram ini memang ada anak keramat yang punya kesaktian hebat, mengapa aku jauhjauh harus didatangkan ke sini? Suruh saja anak keramat itu menghabisi semua mahluk jahat terkutuk yang ada di Bhumi Mataram ini! Yang katanya telah menimbulkan bencana Malam Jahanam! Air banjir merah busuk!

Demam panas! Benjolan .... apa lagi?!"

Sri Maharaja Mataram dan Ratu Randang saling pandang mendengar ucapan Wiro.

"Kesatria Panggilan. Ketahuilah, Satria Lonceng Dewa punya pantangan. Anak keramat itu tidak boleh membunuh mahluk bernyawa. Binatang ataupun manusia...!"

Wiro berdiri, memandang Raja Mataram dan Ratu Randang sejenak lalu sambil tertawa dia berkata.

"Di negeri ini rupanya ada hukum aneh. Seseorang boleh mencelakai bahkan membunuh puluhan sampai ratusan rakyat Mataram. Tapi yang namanya anak keramat yang konon sakti hanya berpangku tangan membiarkan semua itu terjadi dengan berucap : Jangan membuat sejuta alasan untuk menghalalkan kematian seorang insan! Jika itu hukum yang berlaku di negeri ini sampai kiamat mahluk- mahluk jahat akan terus menebar malapetaka seenaknya! Tak ada rasa takut. Soalnya pembunuhan sudah seperti dihalalkan!"

Ratu Randang sampai pucat wajahnya mendengar kata-kata Wiro. Raja Mataram cepat-cepat berkata.

"Kesatria Panggilan. Jangan kau salah menduga.

Tanggung jawab semua kejadian yang ada di Bhumi Mataram tidak di tangan Satria Lonceng Dewa yang bernama Mimba Purana itu. Tapi berada di atas pundakku. Aku tidak malu mengatakan bahwa aku dan semua orang pandai di negeri ini tidak sanggup menumpas mahluk-mahluk jahat itu. Sesuai petunjuk Para Dewa itu sebabnya kami mendatangkanmu ke sini guna dimintakan bantuan. Kuharap kau tidak merasa menyesal atas semua kejadian yang tidak terduga ini.

Kami minta maaf..."

"Yang Mulia, saat ini saya lebih mementingkan mencari guru saya lebih dulu! Jika memang beliau masih hidup bagaimana dan dimana keberadaannya. Kalau sudah menemui ajal maka kewajiban bagi saya mengubur jenazahnya secara layak. Guru saya sebagai manusia bisa saja bersifat dan bertindak jahat. Tapi sebagai seorang murid saya tetap punya kewajiban untuk mengurus jenazahnya. Kalau memang dia masih hidup..."

Habis berkata begitu Wiro melompat ke tempat Ni Gatri tergeletak. Dengan mendukung anak perempuan ini di bahu kirinya dia tinggalkan tempat itu.

Anjing kecil yang kelahirannya ditolong oleh Raja Mataram menyalak panjang lalu melompat ke bahu kanan Pendekar 212,

Raja Mataram terkesiap.

Ratu Randang berteriak sambil coba mengejar.

"Wirol Tunggu!"

Namun sekali berkelebat sang pendekar sudah lenyap di kegelapan lereng timur Bukit Batu Hangus bersama Ni Gatri dan anjing kecil berbulu hitam anak Sri Padmi Kameswari!

"Dewa Agung, bagaimana ini?!" Ratu Randang tampak bingung. Rakai Kayuwangi masih tertegun di tempatnya berdiri.

Ratu Randang lalu keluarkan batu putih segi tiga yang diberikan Wiro padanya. Maksudnya segera hendak diserahkan pada Raja Mataram. Namun Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala berkata.

"Aku tidak memerlukan batu itu lagi. Simpan saja.

Mungkin lebih berarti jika kau yang Memiliki..."

Paras Ratu Randang agak berubah. Dalam hati dia menduga-duga jangan- jangan sang Raja sudah maklum bagaimana hubungannya dengan Pendekar 212 walau baru mengenal belum satu harian!

"Aku yakin pemuda tadi adalah Kesatria Panggilan yang asli. Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng yang berasal dari negeri delapan ratus tahun mendatang.

Sekarang tugasmu adalah mengejar pendekar itu sampai dapat. Jangan berani kembali sebelum kau berhasil mendapatkannya! Dari sikap dan gerak-gerik kalian berdua aku bisa menduga kalau kalian saling menyukai satu sama lain..."

Paras Ratu Randang tampak bersemu merah. Dia tidak ingin Raja Mataram ini bicara lebih banyak lagi tentang dirinya dan Wiro. Maka buru-buru dia berkata.

"Yang Mulia, sesuai perintah saya pergi sekarang."

"Tunggu. Ada satu hal yang aku ingin tanyakan.

Waktu meninggalkan Kotaraja sebelum bencana Malam Jahanam terjadi, kau mengatakan akan pergi menemui Arwah Ketua di Candi Miring. Apakah kau telah menemuinya?"

"Saya mohon maafmu Yang Mulia. Saya memang belum menemui Arwah Ketua. Saya melakukan satu hal lain yang menurut hemat saya lebih penting. Maafkan kalau saya melangkahi Yang Mulia dan bertindak seorang diri. Saya menjalin hubungan dengan Sinuhun Merah Penghisap Arwah.

Saya berhasil membuat dia tertarik dan berpura pura berkhianat pada Yang Mulia. Bersama Raja Dukun Batu Berlumut saya ditugaskan untuk menghadang dan membunuh Kesatria Panggilan. Kemudian tidak terduga saya menemui Kesatria Panggilan selagi dikeroyok oleh Seratus Jin Perut Bumi. Kalau tidak salah saya menghitung dia berhasil membunuh sekitar dua puluh Jin Perut Bumi. Saat saya datang Kesatria Panggilan telah dililit Jin Ketua dengan lidah panjangnya..."

"Ketika aku tersentuh lidah itu, tubuhku seperti terpanggang. Cairan yang di lidah mengandung racun.

Nyawaku hampir melayang kalau tidak ditolong oleh Satria Lonceng Dewa Mimba Purana. Kesatria Panggilan sendiri tidak mengalami cidera? Tidak keracunan?"

"Tidak Yang Mulia. Saya rasa dia memiliki darah kebal racun atau ada ilmu kesaktian yang membendung hawa panas serta racun lidah..."

"Senjata mustika sakti yang konon ada di dalam tubuhnya. Aku rasa senjata itu yang menyelamatkan dirinya." Kata Raja Mataram pula, Raru Randang lanjutkan ceritanya.

"Saya memerintahkan Jin Ketua untuk tidak membunuh Kesatria Panggilan. Jin Ketua menurut dan tampak takut. Mungkin karena mengetahui kalau saya adalah kekasih Sinuhun Merah. Hik...hik ... hik! Saya sendiri kemudian berhasil menghabisi Raja Dukun Batu Berlumut."

"Aku akan menceritakan pada para tokoh yang ada di sini kalau Raja Dukun Batu Berlumut telah terbunuh.

Mudah-mudahan kematiannya akan mengurangi kekuatan sirap ilmu hitamnya. Sekarang pergilah. Waktu kita semakin sempit. Tak lama lagi fajar akan menyingsing."

Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala melangkah mendekati Ratu Randang. Dia memperhatikan sejenak noda darah di lari-jari perempuan ini. Yaitu darah Pendekar 212 Wiro Sableng yang menempel di tangannya ketika dia menyeka darah itu dari wajah Wiro.

"Ratu, tidak sulit bagimu untuk mencari dan mengejar Kesatria Panggilan. Darahnya masih melekat di tanganmu. Lebih mudah bagimu menjajagi kemana dia pergi. Bukankah kau memiliki ilmu pencari jejak bernama Kaki Mengejar tangan Mencekal"

"Saya tidak akan mempergunakan ilmu itu Yang Mulia." Menyahuti RatuRandang.

Raja Mataram kerenyitkan kening, tampak heran.

"Lalu? Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Rakai Kayuwangi pula.

"Saya akan pergunakan ilmu Tanpa Mata Mengandalkan Penciuman." Jawab Ratu Randang.

"Astaga! Bukankah itu ilmu kesaktian yang dimiliki mahluk Sinuhun Merah Penghisap Arwah?" Raja bertanya heran dari tidak percaya.

Ratu Randang tersenyum.

"Saya berhasil menyiasati Sinuhun goblok itu. Dia memberikan ilmu itu pada saya."

Raja pegang keningnya, Dia ingat sesuatu.

"Kalau begitu, sewaktu masih di Istana kau memperlihatkan tanda dun telapak tangan berjari empat di dadamu. Berarti ..."

"Itu pertanda dari Sinuhun Merah bahwa dia sangat menantikan kedatanganku"

"Ratu, kau benar-benar luar biasa. Tapi kalau Sinuhun memberikan ilmu kesaktiannya padamu lalu kau memberikan apa padanya?"

"Bangkai anjing! Hik ... hik ... hik!" Jawab Ratu Randang lalu tertawa panjang cekikikan. Perempuan ini dekatkan tanganya yang bernoda darah Pendekar 212 ke hidung lalu pejamkan mata dan mencium dalam-dalam.

Sekali berkelebat sosok Ratu Randang lenyap kearah Pendekar 212 Wiro Sableng.

Raja Mataram menarik nafas Panjang. Dia menatap ke arah rembulan setengah lingkaran di langit malam yang semakin mendekati ujungnya. Perlahan-lahan mulutnya berucap.

"Ananda Kesatria Lonceng Dewa, saya merasa sangat perlu bertemu dengan Ananda. Rencana yang tengah dijalankan mendadak menyimpang dari yang diharapkan. Saya benar-benar kawatir ......"

Baru saja Raja Mataram selesai berucap tiba-tiba ada suara mengiang di kedua telinganya. Suara anak kecil laki-laki.

"Yang Mulia Raja Mataram. Jangan ada kekawatiran dalam diri Yang Mulia. Berdoalah bersama semua orang yang ada di Bukit Batu Hangus. Yang Maha Kuasa pasti akan menolong kita semua."

"Terima kasih Ananda. Ada satu hal yang terasa mengganjal di hati saya,.."

"Hal apakah itu Yang Mulia?" Tanya suara mengiang.

"Apakah ... apakah Ananda mendengar semua ucapan Kesatria Panggilan yang tadi berada di bukit ini?"

"Saya mendengar semua Yang Mulia."

"Saya mohon maafmu. Mungkin pemuda itu bicara terlalu lancang mengenai diri Ananda. Saya harap Ananda tidak marah."

Suara mengiang terdengar tertawa.

"Kemarahan jauh dari dalam diri saya wahai Yang Mulia. Mudah-mudahan begitu seterusnya. Justru saya suka pada pemuda itu. Dia bicara polos pertanda hatinya putih. Dia bicara apa adanya, tidak ada yang dikarang tidak ada pula yang disembunyikan. Kita tidak salah memilihnya untuk datang ke Bhumi Mataram. Saya akan menemui Kesatria Panggilan melalui seseorang. Kalau kelak nanti Yang Mulia bertemu lagi dengan Kesatria Panggilan, Yang Mulia tidak perlu meminta pertolongan Kakek Kumara Gandamayana sebagai perantara untuk masuk ke dalam tubuh anak perempuan bernama Ni Gatri."

"Ananda Mimba Purana, saya merasa sangat lega mendengar semua kata-kata Ananda."

"Yang Maha Kuasa menciptakan langit, daratan dan lautan begitu luas. Penuh kelegaan. Mengapa kita umat manusia yang diciptakannya tidak bisa berhati lega?"

"Terima kasih Ananda. Terima kasih... Mengenai Kakek Kumara Gandamayana, apakah Ananda mengetahui dimana keberadaannya?"

"Orang yang ditanyakan telah berada di samping Yang Mulia", Jawab suara mengiang.

Ada suara terpaan angin. Raja Mataram berpaling ke kiri. Betul seperti yang dikatakan suara mengiang. Saat itu di samping Rakai Kayuwangi telah berdiri kakek bersorban dan berjubah kelabu Kumara Gandamayana.

Orang tua ini tersenyum sedikit lalu membungkuk.

"Maafkan kalau saya datang terlambat wahai Yang Mulia. Satria Lonceng Dewa meminta saya mengantarkan gadis dari alam delapan ratus tahun itu ke satu tempat." Raja terkejut.

"Maksud Kakek gadis bernama Sinto Weni itu?"

"Betul sekali Yang Mulia."

"Berarti waktu tadi cahaya kuning turun dari langit, Kakek menyertai Satria Lonceng Dewa?"

Kumara Gandamayana mengangguk.

"Kalau begitu sekarang berada dimana gadis itu?" Tanya Raja Mataram pula.

"Mohon maafmu Yang Mulia. Satria Lonceng Dewa berpesan untuk sementara jangan memberi tahu kepada siapapun."

Rakai Kayuwangi terdiam. Meski hatinya kurang enak mendengar ucapan Kumara Gandamayana namun dengan tersenyum dia berkata.

"Saya Raja Mataram, apa Kakek tidak menaruh rasa percaya, pada, diriku? Kita menghadapi malapetaka ini secara bersama, Mengapa ada sesuatu yang disembunyikan ... ?"

Si kakek membungkuk dalam-dalam.

"Mohon maaf Yang Mulia beribu maaf. Saya hanya melakukan apa yang dipesankan Satria Lonceng Dewa.

Tapi terhadap Sri Maharaja mana saya berani menolak permintaan. Gadis cantik bernama Sinto Weni, guru Kesatria panggilan itu berada di..." Lalu Kumara Gandamayana menyebutkan nama satu tempat.

Raja Mataram anggukkan kepala. "Kakek Kumara, mari kita temui para sahabat di atas bukit sana."

Ketika hendak melangkah pergi Raja Mataram mencium sesuatu. Dia bertanya pada kakek di sebelahnya.

"Kakek Kumara, apa kau barusan mencium bau harum .... ?"

Kumara Gandamayana dongakkan kepala, hirup udara malam dalam-dalam lalu gelengkan kepala.

"Saya tidak mencium bau apa-apa, Yang Mulia." Raja Mataram memandang berkeliling.

Memperhatikan terutama bagian-bagian lereng bukit yang gelap. Kedua orang itu kemudian melanjutkan melangkah mendaki lereng bukit.

Di balik satu batu besar tak jauh dari tempat dimana Raja dan pembantunya tadi bercakap-cakap, seseorang yang sejak tadi mendekam bersembunyi sunggingkan senyum. Mulut berucap perlahan.

"Mahluk dun nyawa kembar Sinuhun Muda Sinuhun Merah. Aku tahu dimana nenek perot yang kalian lihat sebagai gadis cantik itu berada. Jika kalian mau bersahabat dan menurut apa mauku, aku akan beritahu tempatnya. Tapi kalau tidak silahkan cari sendiri. Dan sampai kiamat kalian tidak bakal menemukan!" Lalu dengan gerakan cepat tanpa suara orang ini segera berkelebat pergi.9SETELAH cukup lama berlari Wiro menyadari kalau dia lari tanpa tujuan mau pergi kemana.

Sang pendekar hentikan langkah.

Anjing kecil di bahu kanan menyalak perlahan. Sosok Ni Gatri di bahu kiri terasa hangat tapi diam tak bergerak.

Memandang berkeliling Wiro dapatkan dirinya berada dalam satu rimba belantara kecil yang cukup rapat pepohonannya. Hampir semua kulit pohon di sekitar situ tampak berwarna hijau, diselimuti lumut. Di sebelah kanan, tanah hutan kelihatan mendaki membentuk bukit dan dipenuhi batu-batu besar yang juga berwarna hijau karena tertutup lumut.

"Agaknya hutan ini jarang dimasuki orang. Perasaanku tidak enak. Janganjangan aku sudah kesasar. Aku harus segera keluar dari sini."

Agar tidak tersesat Wiro balik ke arah jalan yang ditempuh sebelumnya. Namun sampai tiga kali dicoba kembali lagi ke tempat semula, di bawah bukit kecil yang banyak batunya.

"Celaka, aku benar-benar tersesat. Hutan aneh...."

Tiba-tiba anak anjing di bahu kanan Wiro menyalak keras berulang kali. Wiro Usap punggung binatang ini.

Tapi anjing berbulu hitam masih terus menyalak.

"Sobat kecil. Kau mau-mauan ikut bersamaku. Ada apa, kau melihat sesuatu saat ini?"

Anjing kecil menggereng halus, jilat bahu pakaian Wiro lalu melompat turun ke tanah. Saat itulah Wiro melihat kalau sebagian dari tanah digenangi cairan merah.

"Malapetaka Malam Jahanam rupanya sampai juga ke sini. Tapi tidak seperti di tempat lain, cairan merah di sini tidak menebar bau busuk."

Anjing kecil menyalak sekali lagi lalu lari ke arah bukit berbatu-batu.

"Hai! Kau mau kemana! Kalau kau tersesat aku tidak akan mencarimu!"

Seperti tahu kalau orang bicara padanya, anak anjing berhenti berlari. Dia memandang pada Wiro, menyalak sebentar lalu lari lag1 ke atas bukit.

"Mungkin binatang itu tahu jalan keluar dari hutan ini.

Baiknya aku ikuti saja." Kata Wiro dalam hati.

Ketika Wiro mencapai pertengahan bukit tiba-tiba telinganya menangkap suara perempuan menangis, tidak terlalu keras tapi cukup jelas dan berhiba-hiba. Wiro hentikan langkah. Perasaan yang sejak tadi tidak enak kini berkembang menjadi perasaan bargidik!.

"Perempuan menangis di dalam rimba belantara. Di malam buta menjelang pagi. Jangan-jangan hutan ini dihuni demit perempuan." Berpikir sampai di situ Wiro memutuskan untuk kembali turun ke kaki bukit. Namun anak anjing malah terus lari ke atas bukit yang bebatuannya semakin banyak dan tambah besar-besar.

Wiro keluarkan suara bersiul. Anjing hitam berhenti, menoleh sebentar, menatap ke arah sang pendekar. Wiro cepat lambaikan tangan memberi tanda agar binatang itu turun dari pertengahan bukit. Namun anjing hitam malah membalikkan badan dan kembali lari ke atas bukit.

"Anjing kecil! Kalau kau mau naik ke atas bukit silahkan saja. Aku memilih turun kembali! Aku harus mencari pertolongan untuk anak perempuan ini!" Wiro berkata lalu balikkan badan, siap menuruni bukit ke arah tadi dia datang. Mendadak di atas bukit, di antara suara tangisan perempuan kini terdengar suara ratapan sedih.

"Wahai insan kepada siapa aku berharap. Langkah lurusmu telah benar. Mengapa mendadak berbalik arah?

Dua Puluh satu hari tersiksa di atas bukit dalam hutan larangan. Ketika sebutir harapan dan setetes budi muncul berharap akan datangnya cahaya pertolongan, mengapa harapan kau pupus begitu saja? Padahal setiap budi ada balasannya. Setiap kebajikan ada pahalanya. Aku telah berkaul siapa saja yang menolong diriku. Jika dia seorang perempuan ...."

Anak anjing hitam tiba-tiba menyalak panjang. Begitu kerasnya hingga Wiro tidak mendengar kelanjutan suara perempuan yang meratap di antara tangisnya. Lalu suara itu kembali berulang. Wahai insan kepada siapa aku berharap ..."

Wiro usap punggung dan membelai rambut Ni Gatri.

Dia memandang ke atas bukit. Ke arah batu-batu besar berlapis lumut hijau. Anjing kecil hitam tak kelihatan lagi.

"Hutan larangan .... Perempuan yang menangis menyebut hutan ini hutan larangan. Jangan-jangan dia demit atau jin perempuan yang hendak menjebakku. Atau bisa saja kaki tangan atau ujud samaran mahluk celaka bernama Sinuhun Muda atau Sinuhun Merah Penghisap Arwah!"

Wiro merenung berpikir pikir sejenak. Lalu berbisik ke telinga Ni Gatri karena dia tahu walau dalam keadaan kaku tak mampu bergerak anak itu masih tetap bisa mendengar.

"Ni Gatri, kita tidak akan lama. Kita sudah kepalang tersesat. Ada baiknya kita naik ke atas bukit sebentar.

Melihat siapa perempuan yang barusan bicara. Yang jelas dari suaranya dia bukan guruku Eyang Sinto Gendeng yang menurut penglihatan orang di sini telah berubah menjadi seorang gadis cantik berdandan celemongan!"

Setelah berucap, Wiro tepuk-tepuk punggung Ni Gatri lalu lari ke atas bukit. Dia sengaja kerahkan ilmu lari serta terapkan ilmu meringankan tubuh. Laksana terbang dia melompat dari satu batu ke batu lainnya yang licin berlumut. Tak selang berapa lama Wiro telah berada di atas bukit, berdiri di atas satu batu besar yang paling tinggi dari batu-batu lain di sekitarnya.

Cahaya rembulan setengah lingkaran lumayan terang, Ketika dia memandang ke bawah Wiro melihat sepetak tanah rata. Di tengah tanah rata anjing kecil hitam tampak menggeser-geserkan tubuh pada sebuah batu besar sambil terus-terusan menyalak.

Wiro melompat turun. Begitu dua kaki menginjak tanah dan dia berdiri di sisi lain dari batu besar, kejut murid Sinto Gendeng bukan alang kepalang! Di samping batu, tergeletak sosok seorang gadis yang rambut panjang hitamnya tergerai lepas menutupi tanah.

Sepasang mata tertutup. Dua tangan terkembang ke samping tiada daya. Walau wajah pucat namun kecantikan yang dimilikinya jelas kentara dibawah temaram cahaya rembulan. Di pelipis dan pipi yang kotor terlihat alur air mata. Bibir tampak hijau. Yang membuat Wiro terkesiap adalah ketika menyaksikan bagaimana tubuh gadis itu mulai dari pinggang ke bawah tenggelam dan terhimpit di bawah sebuah batu sangat besar dan berlumut tebal!

Mengetahui ada seseorang berdiri di dekatnya, gadis yang tergeletak di tanah dan ternyata dalam keadaan siuman keluarkan ucapan.

"Terima kasih Yang Maha Kuasa. Terima kasih Dewa Bathara Agung. Setelah dua puluh satu hari tersiksa begini rupa, akhirnya Kau mengirimkan seorang insan ke tempat ini. Tempat yang tidak pernah didatangi dan dijamah manusia. Wahai insan yang datang. Aku juga sangat berterima kasih padamu. Juga pada anjing yang menuntun jalan dan datang bersamamu. Di atas semua kesengsaraan ini aku mohon, tolong singkirkan batu besar yang menghimpit tubuhku dari pinggang ke bawah.

Semoga Yang Maha Kuasa memberi kekuatan dan kemampuan serta berkat atas dirimu..."

Walau tak habis pikir bagaimana bisa ada kejadian yang seperti ini namun Wiro cepat turunkan tubuh Ni Gatri dari bahu dan dibaringkan di atas sebuah batu.

Meskipun kedua niatanya terpejam namun gadis yang terjepit di bawah batu seperti mengetahui lalu berkata.

"Wahai insan, kau membawa satu beban dalam perjalanan. Agaknya ada satu perkara besar yang tengah kau hadapi. Sungguh budimu luhur sekali, masih mau memberi perhatian pada nasib diriku."

Wire berdiri di depan batu besar, menggaruk kepala berulang kali, mengelilingi batu satu kali lalu kembali berdiri meneliti. Batu dipukul-pukul. Perkiraannya paling tidak batu besar berlumut itu memiliki bobot seribu kati.

Dia berpikir-pikir bagaimana cara menyingkirkan batu besar itu tanpa orang yang terjepit dibawahnya tambah mengalami cidera.

"Kalau aku dorong kawatir batu bergerak lamban.

Tubuh gadis yang terhimpit akan tambah hancur.

Kasihan, agaknya dia akan cacat seumur hidup."

Wiro perhatikan bagian bawah batu besar. Berpikir lagi. "Kalau dihantam dengan pukulan sakti, salah-salah gadis dibawah batu tubuhnya akan ikut tercabik-cabik."

Wiro garuk-garuk kepala lagi. Dia membungkuk, berusaha melihat bagian bawah batu. Dia tak dapat melihat tubuh sebelah bawah si gadis yang terhimpit karena sudah amblas masuk ke dalam tanah!10Pendekar 212 Wiro Sableng berpaling pada gadis yang terhimpit di bawah batu.

Sebenarnya dia merasa heran bagaimana hal ini bisa terjadi.

Namun dia menolong lebih cepat adalah lebih baik dari pada bertanya membuang waktu. Wiro lantas berkata.

"Gadis malang, bertahanlah..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.198.1.167
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia