Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : MALAM JAHANAM DI MATARAM

PUNCAK Bukit Batu Hangus, dini hari menjelang pagi. Udara dingin luar biasa karena hujan lebat baru saja berhenti. Tiupan angin seperti sembilu menyayat jangat, menusuk tulang sumsum. Dalam cuaca yang masih gelap kelihatan jelas delapan benda bersinar mengapung di udara, mengelilingi puncak bukit. Itulah delapan jimat yang dilemparkan Eyang Dukun Umbut Watukura bersama Panglima Pasukan Kerajaan Garung Parawata, Soka Kandawa Tabib Sepuluh Jari Dewa, Klingkit Kuning dan empat tokoh silat Istana berkepandaian tinggi lainnya.

Di puncak bukit, dt atas batu datar berwarna hitam gosong, Sri Maharaja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Uskapala duduk tak bergerak tengah melakukan tapa. Mata terpejam, dua tangan disilang di atas dada. Tubuh yang dipalut hawa sakti panas pelindung raga mengeluarkan asap ketika bersentuhan dengan udara dingin. Delapan jimat melindungi dirinya dari segala kemungkinan datangnya marabahaya. Perlahan-lahan tubuh itu tampak memancarkan cahaya lalu mulai bergetar. Pertanda ada bahaya mengancam!

Tiba-tiba wutt!

Delapan larik cahaya merah entah dari mana datangnya secara bersamaan menyambar ke arah puncak Bukit Batu Hangus, tepat di jurusan beradanya sang Maharaja Mataram yang tengah duduk bertapa memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa, agar dapat menyelamatkan Kerajaan dan rakyat Mataram.

Delapan jimat melesat menghadang sambaran delapan cahaya merah. Delapan letusan keras disertai pijaran nyala api menggelegar di udara malam. Seantero kawasan Bukit Batu Hangus bergoncang hebat. Di lereng bukit terdengar jerit perempuan dan pekik tangis anak-anak. Orang-orang lelaki berseru tegang dan berulangkali menyebut nama Yang Maha Kuasa.

Sosok Raja Mataram tersungkur ke depan, seperti sujud tak bergerak di atas batu yang didudukinya. Mahkota emas bertabur batu permata yang ada di atas kepala terlepas tanggal, jatuh berguling ke lereng bukit. Rambut yang tadi disanggul kini terlepas menutupi wajah. Dalam keadaan seperti itu hebatnya Raja Mataram ini masih meneruskan tapa, seolah tidak melihat, tidak mendengar letusan dahsyat, tidak merasakan satu bahaya maut hampir melumat dirinya. Delapan jimat para tokoh sakti hancur bertaburan sementara delapan cahaya merah sesaat masih menggantung di udara lalu memudar dan akhirnya lenyap tak berbekas.

Di kejauhan lapat-lapat terdengar suara binatang meraung membuat bulu roma merinding. Mungkin anjing liar mungkin juga srigala rimba belantara yang kelaparan, atau mungkin pula mahluk halus yang tengah berkeliaran dan terpesat di sekitar kawasan Bukit Batu Hangus.

Tepat ketika fajar menyingsing dan langit di ufuk timur mulai terang dan ada cahaya sang surya menyentuh tubuhnya, perlahan-lahan Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala buka kedua matanya. Tubuh yang bersujud di atas batu hitam bergerak dan duduk lurus. Mata memandang jauh ke selatan, ke arah Kotaraja. Apa yang dilihat membuat air muka Sri Maharaja berubah.

"Dewa Jagat Bathara... Rata... Bhumi Mataram nyaris rata dengan tanah. Genangan air merah di mana-mana. Bau busuk, mayat manusia... bangkai binatang. Kerajaan... rakyatku... keluargaku..."

Raja Mataram pejamkan mata lalu berteriak keras. Tubuhnya seperti hendak meledak. Dia melompat turun dari batu. Lari menuruni puncak Bukit Batu Hangus.

Dalam waktu singkat Sri Maharaja Rakai Kayuwangi telah sampai di lereng bukit di mana sebelumnya dia meninggalkan keluarga dan semua orang yang ikut menyelamatkan diri. Kejut Raja Mataram ini bukan alang kepalang ketika dia menemui dan melihat keadaan orang-orang itu. Langsung saja dia jatuhkan diri, berlutut, dua tangan diangkat ke atas dan mulut berteriak.

"Wahai Para Dewa di Swargaloka! Jika memang ada dosa kesalahan setinggi langit sedalam lautan dan sepanas bara menyala yang telah saya lakukan, mohon segala hukuman dijatuhkan hanya pada diri saya. Jangan pada keluarga, para pengikut dan rakyat saya...!"

Setengah meratap Sri Maharaja Rakai Kayuwangi kemudian memeluki istri-istri serta putera puterinya yang bergulingan di tanah, tubuh panas menggigil, dua kaki lumpuh tak bisa digerakkan dan di kening mereka terdapat delapan benjolan merah mengepulkan asap. Hal ini ternyata terjadi juga pada ratusan orang yang ada di bukit termasuk tokoh-tokoh sakti berkepandaian tinggi seperti Eyang Dukun, Panglima Pasukan Kerajaan Garung Parawata, Tabib Sepuluh Jari Dewa, Klingkit Kuning dan banyak lagi yang lainnya.

Sri Maharaja menggigit bibir menahan gejolak di dalam dada. Melihat kening semua orang ditumbuhi delapan benjolan aneh itu Sri Maharaja meraba kening sendiri. Astagal Ternyata di keningnya juga ada delapan benjolan merah. Bedanya delapan benjolan merah di kening sang Raja tidak mengeluarkan asap dan tubuhnya tidak terserang hawa panas, dua kaki tidak mengalami kelumpuhan.

Terhuyung-huyung Sri Maharaja dekati kakek berjubah biru Umbut Watukura, yang tergolek di tanah berbantalkan batu hitam. Disampingnya tergeletak Panglima Pasukan Kerajaan Garung Parawata. Tak jauh dari situ terkapar sosok gemuk Tabib Soka Kandawa.

"Eyang Dukun, kau bisa bicara..." Sri Maharaja usap kepala Umbut Watukura.

Yang ditanya kedipkan mata.

"Yang Mulia Sri Maharaja Mataram, saya bersyukur kepada Dewa, Sri Maharaja berada dalam keadaan selamat. Sri Maharaja tidak sampai celaka seperti kami-kami ini..."

"Jangan pikirkan diriku! Eyang, Panglima katakan apa yang terjadi. Mengapa anak istriku, kalian semua, bergeletakan lumpuh, tubuh panas dan ada delapan benjolan aneh di kening kita semua. Apakah malapetaka ini juga melanda semua orang di Bhumi Mataram?"

Eyang Dukun Umbut Watukura batuk-batuk beberapa kali lalu menjawab. "Tak lama setelah Sri Maharaja naik ke puncak bukit, karena Sri Maharaja telah memberi izin, saya dan Panglima segera menunggangi kuda masing-masing untuk menyelidik turun ke Kotaraja. Namun entah apa sebabnya binatang-binatang itu meringkik roboh tak mampu menggerakkan kaki. Di kening mereka muncul delapan benjolan merah. Kami semua yang ada di sini mengalami hal yang sama. Lumpuh tak mampu berdiri dan di kening ada delapan benjolan berasap..."

"Dari puncak bukit tadi aku melihat Kotaraja. Keadaannya nyaris sama rata dengan tanah. Hanya satu dua pohon yang masih kelihatan menyembul. Satu-satunya bangunan yang masih tinggal adalah sisa-sisa reruntuhan Istana dan beberapa candi. Cairan merah menggenang di mana-mana. Malam Jahanam yang diceritakan Empu Semirang Biru benar-benar menjadi kenyataan. Bhumi Mataram musnah dilanda bencana. Di bukit ini kita semua mengalami kesengsaraan luar biasa. Menderita kelumpuhan dan diserang demam panas. Bilamana dalam waktu dua hari bencana ini tidak bisa dimusnahkan, kita akan menemui kematian 1 Kalaupun bisa bertahan maka kita akan mati kelaparan karena kita tidak sempat membawa persediaan makanan cukup banyak untuk ratusan orang yang ada di bukit ini. Masih bersyukur ada beberapa mata air kecil di sekitar sini. Tapi karena tak mampu bergerak kalian semua tidak bisa mendatangi air itu." Sepasang mata Sri Maharaja tampak berkaca-kaca. Dia menatap ke langit. "Wahai Para Dewa di Swargaloka, mengapa Kau turunkan cobaan begini berat yang tidak sanggup kami semua menghadapi..."

"Yang Mulia, dalam keadaan seperti ini tidak ada yang dapat kita lakukan selain berpasrah diri dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar diberi pertolongan..." Berkata Panglima Garung Parawata.

Sri Maharaja Rakai Kayuwangi menghela nafas dalam. "Kita nyaris tidak punya daya apa-apa. Memang hanya kepada Para Dewa kita bisa berharap. Kita sudah memanjatkan seribu doa. Kereta Putih, Kereta Kencana Ratu Adil yang diharapkan bisa menjadi penangkal malah hancur lebur. Apa lagi yang bisa kita lakukan..." Raja Mataram itu memandang ke arah Tabib Soka Kandawa. "Tabib Sepuluh Jari Dewa, di tempat ini hanya aku seorang yang masih bisa berdiri dan berjalan. Yang lain-lain termasuk dirimu lumpuh tak berdaya! Dengan kesaktian yang kau miliki, kau bisa melakukan sesuatu?"

Tabib gemuk bermata sipit itu unjukkan air muka redup, menarik nafas berulang kali lalu gelengkan kepala.

"Saya mohon maaf dan ampunan Yang Mulia. Sejak pertemuan di ruang rahasia di Istana beberapa waktu lalu saya sudah menyadari bahwa kemampuan saya tidak dapat menghadapi datangnya bencana..."

"Bencana ini bukan datang dari kemurkaan alam atau peringatan atau hukuman dari Para Dewa. Apa yang dinamakan Malam Jahanam adalah buatan manusia, yang bersekutu dengan roh dan arwah jahat! Kita pasti punya jalan untuk menghancurkannya! Kalau tidak dalam waktu dua hari, keluargaku, kalian semua akan menemui ajal! Aku sendiri tidak tahu berapa lama bisa bertahan. Cepat atau lambat aku merasa giliranku akan datang juga! Oh Dewa Jagat Bathara..."

"Sri Maharaja," berkata Panglima Garung Parawata. "Dari tapa Yang Mulia di puncak bukit tengah malam sampai pagi ini, apakah yang Mulia berhasil memasuki alam gaib dan bertemu dengan roh pertapa Sedayu Galiwardhana?"

"Aku berhasil masuk ke alam roh. Tapi ada satu kekuatan dahsyat luar biasa menghalangi dan memagari roh Sedayu Galiwardhana hingga aku tidak bisa menemui pertapa itu. Namun tapaku bukan satu kesia-siaan. Dalam tapaku aku mendengar suara genta lonceng. Lalu muncul satu cahaya kuning emas disusul suara berucap. Aku harus mencari seorang anak lelaki berusia dua belas tahun. Menurut petunjuk anak itu mampu memberi pertolongan dan mengeluarkan kita dari bala bencana ini. Paling tidak melenyapkan kelumpuhan yang kita alami..."

2MENDENGAR ucapan sang Maharaja, Eyang Dukun, Panglima Garung Parawata dan Tabib Sepuluh Jari Dewa jadi saling pandang. Untuk beberapa lama ketiganya hanya bisa berdiam diri. Panglima Garung Parawata kemudian memberanikan diri berkata.

"Yang Mulia, mudah-mudahan saya tidak salah mendengar. Seorang, anak lelaki berusia dua belas tahun apa kemampuan yang dimilikinya? Saya mohon maaf kalau saya berkata salah..."

"Kalian pernah mendengar nama Mimba Purana?" Bertanya Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapaja.

Tiga orang di hadapan sang Raja terkejut. "Maksud Yang Mulia, pendekar Satria Lonceng Dewa, Pendekar Bhumi Mataram yang terlahir di dalam Sumur Api, dari seorang perawan abadi pilihan Dewa..." berucap Panglima Garung Parawata.

"Yang pada awal pemerintahan Sri Maharaja telah menyelamatkan Bhumi Mataram dari angkara murka orang-orang jahat dari selatan?" Menyambung Eyang Dukun.

"Namun... bukankah pemuda belia tapi sakti itu kemudian lenyap begitu saja. Sampai hari ini tak ada kabar beritanya..." Berkata Tabib Soka Kandawa.

"Saya ingat," ikut bicara Tabib Sakti Sepuluh Jari Dewa Soka Kandawa. "Tak lama setelah lenyapnya Kesatria Lonceng Dewa Mimba Purana, kemudian muncul seorang pendekar belia yang konon masih saudara kembar Mimba Purana bernama Dirga Purana. Tapi kesatria yang satu ini agaknya bersilang jalan dengan Mimba Purana..."

"Kau benar Tabib Sakti," kata sang Raja. "Aku harus mencari dan mendatangi sumur tua yang dikenal dengan nama Sumur Api itu. Letaknya di kawasan rimba belantara antara Candi Prambanan dan Kali Dengkeng. Jika anak lelaki bernama Mimba Purana itu memiliki kesaktian yang dititiskan Para Dewa, maka aku sangat yakin Para Dewa akan mempertemukan aku dengan dia. Mudah-mudahan kita semua mendapat keselamatan..."

"Yang Mulia, petunjuk yang didapat dalam tapa Yang Mulia pastilah datang dari Swargaloka. Kalau saja saya tidak lumpuh, saya akan ikut bersama Yang Mulia mencari SumurApi itu." Kata Eyang Dukun.

"Saya juga," kata Tabib Soka Kandawa dan Panglima Garung Parawata hampir berbarangan.

"Aku pergi sekarang juga," ucap Sri Maharaja. Dia memandang berkeliling. Tiba-tiba saja dia ingat seseorang. "Dari tadi aku tidak melihat salah seorang pembantu kepercayaanku. Raden Ageng Daksa, di mana dia? Ada dari kalian yang melihat?"

Tiga orang di hadapan Raja baru menyadari. Mereka semua memandang berkeliling, mencari-cari lalu sama-sama menggelengkan kepala.

"Kalau dia memang meninggalkan bukit ini, dia pergi ke mana? Mengapa tidak memberi tahu?" Ujar Panglima Garung Parawata.

"Jika benar dia pergi, berarti dia pergi sebelum mala petaka demam panas dan kelumpuhan menimpa kita semua..." Kata Tabib Soka Kandawa pula. "Mudah-mudahan seperti Sri Maharaja, Raden Ageng Daksa juga tidak mengalami bencana seperti kami. Siapa tahu dia juga tengah berusaha mencari pertolongan..."

"Aku berharap begitu," kata Sri Maharaja Mataram walau hatinya agak meragu. "Raibnya Empu Semirang Biru masih belum jelas siapa penculiknya dan berada di mana orang tua itu sekarang. Apakah dalam keadaan selamat atau bagaimana. Di mana keberadaan Keris Kanjeng Sepuh Pelangi yang dicuri juga masih tidak jelas..." Sri Maharaja menarik nafas panjang.

Lalu lanjutkan ucapan. "Sambil mencari Sumur Api aku akan menyelidik ke mana raibnya Raden Ageng Daksa." Hati sang Raja benar tidak enak. Perasaan kawatir laksana dua batu besar yang menghimpit batok kepala dan dadanya.

Sebelum meninggalkan Bukit Batu Hangus Sri Maharaja memindahkan istri-istri dan putera puterinya ke dalam cegukan batu yang merupakan goa besar dan banyak terdapat di bukit batu itu. Dia juga melakukan hal yang sama pada orang-orang perempuan dan anak-anak serta lelaki-lelaki tua. Lalu Raja Mataram ini mengangkat puluhan bebatuan yang terdapat banyak di bukit. Batu disebar dan diletakkan di dekat orang banyak. Batu-batu ini di pukul dengan tangan yang mengandung kekuatan sakti hingga membentuk cegukan dalam. Ke dalam cegukan ini Sri Maharaja kemudian memasukkan air yang diambil dari sumber mata air yang ada di sekitar bukit. Makanan yang sempat dibawa ke bukit juga disebar. Dengan berbuat begitu Sri Maharaja berharap bisa menolong orang-orang lebih mudah menjangkau makanan dan mereguk air, paling tidak memperlambat datangnya kematian.

Setelah memeluk anak istrinya, Sri Maharaja Rakai Kayuwangi berkata pada Eyang Dukun Umbut Watukura dan para tokoh lainnya.

"Eyang, aku pergi sekarang. Bertahanlah dan selalu memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa agar kita semua bisa terlepas dari azab bencana ini..." Raja Mataram ini lalu angkat dua tangannya ke udara. Mulut berucap. "Wahai Para Dewa di Kahyangan. Saya bermohon, lindungi semua orang yang ada di bukit ini, juga mereka yang berada di seluruh Bhumi Mataram, yang saat ini mungkin jauh lebih menderita dari kami di sini. Tolong kami semua. Keluarkan kami dari kesengsaraan ini..." Suara ucapan lenyap. Sang Raja kini tampak berkomat kamit membaca mantera aji kesaktian. Sesaat kemudian dari ke dua tangannya memancar keluar sinar kuning, merebak membentuk kipas raksasa, menyapu

Bukit Batu Hangus mulai dari lereng sampai ke puncak. Itulah ilmu kesaktian yang berintikan doa suci bernama Antara Bumi Dan Langit Hanya Yang Maha Kuasa Yang Jadi Pelindung Dan Tempat Meminta Pertolongan Bagi Semua Insan.

Baru saja Sri Maharaja Rakai Kayuwangi menurunkan kedua tangan dan dua larik sinar kuning lenyap dari pemandangan mendadak dari arah kaki bukit sebelah timur terdengar suara jeritan orang. Semua yang ada di bukit batu terkesiap. Wajah berubah.

"Aku mengenali suara orang yang menjerit itu. Jangan-jangan..." Tanpa meneruskan kata-katanya Sri Maharaja Rakai Kayuwangi segera meninggalkan tempat itu, berlari menuruni bukit secepat yang bisa dilakukan.

Eyang Dukun Umbut Watukura ulurkan tangan memegang bahu Garung Parawata lalu berkata dengan suara perlahan agar tidak terdengar oleh orang lain.

"Panglima, aku kawatir. Apakah Raja kita mampu kembali ke bukit ini dengan selamat...?"

Panglima Pasukan Mataram terkesiap sejenak mendengar ucapan itu. Lalu dengan suara lirih dia berkata.

"Eyang, jangan bertanya seperti itu. Lebih baik kita doakan dan memohon pada Para Dewa agar Sri Maharaja selamat, berhasil menemui kesatria muda bernama Mimba Purana itu dan kembali tanpa kurang suatu apa menemui kita di bukit ini..."

Eyang Dukun usap-usap tongkat tembaga yang diletakkan di atas pangkuan dua kaki yang lumpuh. "Tadi malam kita masih bisa melindungi dirinya dengan delapan jimat sakti. Kini kita tidak punya daya apapun. Walau Sri Maharaja membekal segudang ilmu kesaktian namun aku tetap merasa kawatir. Ingat kejadian di ruang rahasia ketika kita mengadakan pertemuan. Kekuatan sakti dari luar mampu menembus masuk. Ruangan jebol, cairan merah dan busuk menggenang di mana-mana. Lalu saat itu aku berteriak. Delapan Sukma Merah! Mahluk itu ada di sinil Kau ingat semua kejadian itu Panglima? Apa pendapatmu?"

Panglima Garung Parawata memandang berkeliling. Dia tidak mau menjawab ucapan dan pertanyaan sang dukun lalu memicingkan mata. Sebenarnya kekuatiran juga memadati hati dan pikiran Panglima Pasukan Kerajaan ini.BELUM jauh Sri Maharaja Rakai Kayuwangi meninggalkan kaki Bukit Batu Hangus menuju ke arah timur tiba-tiba di satu pedataran kecil dia melihat ada semak belukar yang terbakar. Karena pedataran ini terletak di tempat yang agak ketinggian maka air banjir yang berwarna merah tidak sampai menggenang ke tempat itu.

Dengan cepat Raja Mataram ini berkelebat mendekati. Begitu sampai di balik semak belukar serta merta dia tersentak kaget dan keluarkan seruan tertahan.

"Dewa Jagat Bathara...!"

Di tanah tergeletak sosok Raden Ageng Daksa, orang kepercayaan Sri Maharaja. Pakaian lurik hitam yang melekat di tubuhnya mulai dari pinggang ke bawah tampak hangus mengepulkan asap. Empat kalung emas yang tergantung di leher dan menjulai di dada leleh gosong. Topi tinggi hitam yang selalu ada di atas kepala tercampak jauh, juga dalam keadaan hangus mengepulkan asap. Walau pakaian tampak hangus namun tubuh orang ini kelihatan tidak terluka sedikitpun. Ini satu pertanda bahwa dengan ilmu kesaktian yang dimiliki Raden Ageng Daksa masih mampu melindungi raga sebelah luar walau Sri Maharaja tahu kalau pembantunya ini mengalami luka parah di sebelah dalam!3"RADEN Ageng Daksa! Apa yang terjadi! Siapa yang mencelakaimu?!" suara Sri Maharaja setengah berteriak. Dia lalu duduk di tanah, memangku kepala orang kepercayaannya itu.

Megap-megap Raden Ageng Daksa membuka mulut. Berusaha menjawab. Namun yang keluar dari mulutnya bukan ucapan melainkan lelehan darah berwarna hitami Sri Maharaja cepat tempelkan tangan kiri di atas kening dan tangan kanan di dada orang lalu salurkan hawa sakti.

"Bicara Rad«fi, katakan siapa yang melakukan perbuatan keji ini atas dirimu..."

Bantuan tertata dalam dan aliran hawa sakti membuat Raden Ageng Daksa mampu mengangkat tangan fcirinya. Tergontai-gontai tangan ini ditunjukkan ke arah punggung. Lalu terdengar suaranya perlahan dan terputus-putus sementara sepasang mata kini kelihatan hanya tinggal putihnya saja.

"Ma... maafkan saya Yang Mul... Mulia..." Tangan kiri yang menunjuk dada lalu berputar menunjuk ke arah kejauhan, ke jurusan selatan.

Sri Maharaja tahu kalau umur Raden Ageng Daksa tidak akan lama lagi. Maka dia lipat gandakan tenaga dalam dan aliran hawa sakti lalu berbisik ke telinga orang itu.

"Jangan bicara banyak. Lekas beritahu siapa yang telah mencelakai Raden..."

Raden Ageng Daksa berusaha membuka mulut memberikan jawaban. Namun sebelum suara keluar, kepala sudah terkulai, nyawa keburu lepas.

Sri Maharaja Rakai Kayuwangi pejamkan mata. Dalam hati menyebut nama Yang Maha Kuasa. Perlahan-lahan dia baringkan tubuh Raden Ageng Daksa di tanah. Mata yang terbuka putih diusap hingga menutup. Raja Mataram berpaling ke arah selatan, arah yang tadi ditunjuk Raden Ageng Daksa. Dengan gerakannya tadi Raden Ageng Daksa ingin memberi tahu siapapun yang membunuhnya orang itu telah melarikan diri ke arah selatan. Raja Mataram kemudian ingat. Sebelum menunjuk ke arah selatan Raden Ageng Daksa terlebih dulu menunjuk ke arah bagian belakang tubuhnya sendiri. Raden Ageng rupanya hendak memberi tahu sesuatu. Perlahan-lahan Sri Maharaja balikkan badan pembantunya itu. Kejut sang Raja bukan alang kepalang ketika melihat pada punggung Raden Ageng Daksa terdapat tanda dua telapak tangan lengkap dengan jari-jari berwarna merah. Namun masing-masing tangan hanya memiliki empat jari, tanpa jari tengah I

"Hyang Jagat Bathara..." ucap Sri Maharaja Rakai Kayuwangi. Dia lalu ingat pada kejadian di ruang pertemuan rahasia di dalam Istana. Waktu itu Ratu Randang penasihatnya tiba-tiba berteriak bahwa ada orang meraba dadanya. Raden Ageng Daksa menjawab kalau tidak ada orang yang meraba dirinya. Lantas Ratu Randang merobek dada pakaian memperlihatkan aurat. Ternyata pada payu daranya kiri kanan terdapat tanda telapak tangan berjari empat.

"Tanda telapak tangan merah berjari empat yang sama." Ucap Raja Mataram perlahan. "Ini penyebab kematian Raden Ageng Daksa. Aneh... Mengapa Ratu Randang tidak menemui ajal. Padahal dia mengalami kejadian yang hampir tidak berbeda. Selain itu kesaktian Ratu Randang tidak lebih tinggi dari Raden Ageng Daksa." (Perihal kejadian aneh yang dialami Ratu Randang harap baca buku sebelumnya "Malam Jahanam Di Mataram")

Sri Maharaja balikkan kembali jenazah Raden Ageng Daksa hingga tertelentang. Lalu memandang berkeliling mencari tempat yang baik. Di bagian pedataran yang agak tinggi Raja Mataram ini terapkan ilmu kesaktiannya dengan melancarkan pukulan hingga tanah terbongkar membentuk liang lahat. Jenazah Raden Ageng Daksa dimasukkan ke dalam liang lalu ditimbun dan di atasnya ditancapi semak belukar sebagai tanda. Setelah memanjatkan doa untuk keselamatan arwah pembantunya itu Sri Maharaja segera tinggalkan pedataran.

***MATAHARI semakin tinggi. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi yang telah berada cukup lama dalam rimba belantara kecil antara Prambanan dan Kali Dengkeng masih berputar-putar tidak berhasil menemukan Sumur Api. Bahkan tanda-tandanyapun tidak kelihatan. Setiap melangkah sepasang kakinya terasa semakin berat. Bahu seperti dibebani batu besar dan kepala berdenyut sakit. Sesekali dia mendengar suara deru angin namun anehnya tidak ada hembusan angin terasa menyapu tubuhnya. Ranting dan daun-daun pepohonan sama sekali tidak bergerak, tidak mengeluarkan suara bergemerisik.

"Ada kekuatan gaib mencegah diriku menemukan Sumur Api," pikir Sri Maharaja.

Ketika sang surya mencapai titik tertingginya, dalam keadaan tubuh basah mandi keringat dan terasa sangat letih, dua lutut mendadak goyah, nyaris tak berdaya Raja Mataram itu akhirnya jatuh berlutut di tanah. Sambil letakkan dua tangan di dada dan membungkuk dalam dia berkata dengan suara lirih.

"Wahai Yang Maha Kuasa di Swargaloka. Setengah hari telah saya habiskan secara sia-sia. Saya masih belum menemukan petunjuk di mana beradanya Sumur Api. Apa lagi menemukan Mimba Purana, Kesatria Lonceng Dewa. Jika saya mengalami kegagalan berarti saya tidak mampu menolong semua orang yang ada di bukit, tidak bisa menyelamatkan rakyat yang berada di Kotaraja dan di seluruh pelosok Bhumi Mataram. Wahai Yang Maha Kuasa, jangan berhenti memberi saya petunjuk, berikan saya pertolongan. Jangan biarkan kami semua musnah, jangan biarkan Bhumi Mataram lenyap dari permukaan jagat..."

Tiba-tiba keadaan di tempat itu berubah luar biasa sunyi. Suara tiupan angin aneh lenyap. Saking sunyinya Sri Maharaja mampu mendengar detak jantungnya sendiri. Sri Maharaja luruskan tubuh, menunggu dengan hati berdebar. Dia maklum sesuatu akan terjadi.

Satu cahaya putih berkiblat. Sekejap kemudian di hadapan Sri Maharaja Rakai Kayuwangi berdiri seorang kakek berselempang kain putih. Rambut putih panjang menjulai punggung. Wajah yang jernih dihias kumis dan janggut putih. Di tangan kanannya orang tua ini membawa sebatang tongkat kayu, besar di sebelah gagang, mengecil di bagian ujung.

Sadar kalau doanya didengar Yang Maha Kuasa dan tahu kalau yang dihadapannya bukan mahluk biasa maka Sri Maharaja segera membungkuk dalam seraya berkata.

"Orang tua, saya Rakai Kayuwangi Lokapala menghatur sembah dan hormat untukmu..."

"Terima kasih untuk tutur sapa dan penghormatanmu. Tapi bukan dirimu, sayalah yang harus menghatur sembah dan penghormatan padamu. Karena kau adalah Sri Maharaja Mataram sementara saya hanya rakyat biasa..."

Selesai keluarkan ucapan si orang tua lalu berlutut dan membungkuk dalam-dalam hingga kepalanya hampir menyentuh tanah. Raja Mataram cepat memegang bahu orang tua ini, mengangkatnya hingga berdiri kembali.

"Orang tua, saya..."

"Sri Maharaja, saya tahu Yang Mulia tengah berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan keluarga, kerajaan dan rakyat Bhumi Mataram. Doa Yang Mulia telah didengar oleh Para Dewa di Swargaloka. Saya orang tua buruk ini diutus untuk menemui Yang Mulia..."

"Terima kasih Sang Hyang Bathara Agung, terima kasih orang tua... Saya mohon petunjukmu lebih lanjut."

"Nama saya Dhana Padmasutra. Dulu saya tinggal di Bhumi Mataram ini, tak jauh dari Prambanan. Takdir menentukan bahwa saya harus kembali ke alam baka. Saya datang dari alam roh..."

"Terpujilah Roh Agung..." Sri Maharaja membungkuk berulang kali.

"Para Dewa meminta saya menyerahkan tongkat kayu ini pada Yang Mulia. Tongkat ini selanjutnya akan menuntun Yang Mulia ke Sumur Api menemui orang yang dicari..."

Sebelum mengulurkan tangan mengambil tongkat kembali Sri Maharaja membungkuk hormat dan berulang kali menyebut nama Yang Maha Kuasa. Setelah tongkat kayu dipegang, orang tua mengaku bernama Dhana Padmasutra berkata.

"Ada satu hal perlu saya beritahukan. Bilamana Yang Mulia telah bertemu dengan Kesatria Lonceng Dewa Mimba Purana, berikan tongkat ini kepadanya. Walau dulu tongkat ini adalah milik saya, tapi telah saya berikan kepada ibunya. Jadi saya hanya meminjam. Wajib dikembalikan..."

"Saya mengerti. Apa yang Eyang katakan akan saya lakukan," kata Sri Maharaja pula. "Saya boleh memanggilmu dengan sebutan Eyang?"

"Itu merupakan satu kehormatan besar bagiku," jawab Dhana Padmasutra. "Ada satu hal lagi," sambung si orang tua. "Yang Mulia belum melihat tapi mungkin telah merasakan. Di dalam rimba belantara ini ada bahaya besar mengintai. Bilamana bahaya datang tidak terelakkan, robahlah cara memegang tongkat. Ujung yang menempel di tanah pegang sebagai gagang. Sebaliknya gagang ditukikkan ke bawah hingga menyentuh tanah. Maka Yang Maha Kuasa akan melindungi Yang Mulia... Apakah Yang Mulia sudah mengerti atau ada yang hendak ditanyakan?"

"Saya mengerti Eyang. Sekali lagi saya sangat berterima kasih. Kalau beberapa saat lagi kita akan berpisah, apakah saya akan dapat bertemu lagi dengan Eyang?"

Orang tua berwajah jernih berselempang kain putih tersenyum.

"Setiap perpisahan dan pertemuan diatur oleh Yang Maha Kuasa. Apa lagi kita hidup berlainan alam. Serahkan semua pada Yang Maha mengetahui. Jika ada niat baik di dalam dada, masakan Yang Maha Kuasa tidak akan memperhatikan? "

"Terima kasih Eyang."

Dhana Padmasutra mengangguk. "Kita berpisah sampai di sini. Semoga Yang Maha Kuasa melindungi Yang Mulia dan keluarga serta Bhumi Mataram bersama rakyatnya..."

"Tunggu Eyang, sebagai tanda saya tidak melupakan budi Eyang, terimalah kalung ini sebagai kenang-kenangan..." Raja Mataram tanggalkan kalung emas besar bertabur permata lalu diulurkan pada si orang tua.

Dhana Padmasutra tersenyum.

"Yang Mulia, niatmu ingin membalas budi sungguh sangat terpuji. Tapi bukan untuk imbalan itu saya datang menemui Yang Mulia. Selain itu, di alam saya, perhiasan luar biasa mahal seperti itu tidak ada kegunaannya. Maafkan kalau saya menolak..." Sambil bicara Dhana Padmasutra gerakkan tangan kanannya. Kalung yang berada dalam pegangan Sri Maharaja tahu-tahu sudah menggantung kembali di lehernya.

Wajah Rakai Kayuwangi tampak agak berubah. Namun cepat-cepat dia membungkuk hormat. Ketika dia meluruskan tubuh kembali orang tua berwajah jernih itu tidak ada lagi di hadapannya. Sang Raja menarik nafas dalam.

Tiba-tiba tongkat kayu yang dipegangnya bergetar lalu bergerak ke samping. Sesuai petunjuk si orang tua Raja Mataram mengikuti gerakan tongkat lalu melangkah ke arah mana tongkat kayu itu membawanya.

Gerakan ke dua kakinya terasa sangat ringan. Walau cuma melangkah biasa namun dalam waktu singkat dia sudah berjalan puluhan langkah. Tongkat kayu menuntunnya masuk kembali ke bagian barat rimba belantara yang sebelumnya telah didatangi dan diselidiki.

Getaran pada tongkat kayu semakin keras. Sepasang kaki Sri Maharaja Rakai Kayuwangi tidak lagi menginjak tanah. Dia seolah terbang. Pandangan mata membesar, dada berdebar ketika tidak berapa jauh di depan sana dia melihat tumpukan batu hitam bersusun rapi membentuk lingkaran mulut sumur setinggi pinggang.

"Aku yakin, inilah sumur keramat yang disebut Sumur Api. Tapi mengapa tidak ada apinya? Heran, aku yakin tadi telah berada di sekitar tempat ini. Tapi mengapa sama sekali tidak melihat sumur itu." Membatin Sri Maharaja.

Seperti diriwayatkan dalam serial Satria Lonceng Dewa buku pertama berjudul "Perawan Sumur Api", pada masa itu sumur batu ini diketahui memancarkan cahaya terang merah karena di dasar sumur ada api besar menyala. Saat itu nyala api tak ada lagi namun Sri Maharaja dapat merasakan hawa angker yang menjalar di udara datang dari arah sumur.

Hanya tinggal beberapa langkah lagi dari samping sumur batu mendadak tanah bergetar. Di langit siang terang benderang ada kilat menyambar lalu menyusul suara gemuruh seperti suara geluduk. Tiba-tiba dari dalam tanah mencuat delapan larik cahaya merah. Mula-mula melesat lurus ke udara lalu bergerak patah menyambar ke arah Sri Maharaja Mataram!4SRI MAHARAJA Mataram ingat akan ucapan Eyang Dhana Padmasutra. Bahaya besar yang dikatakan mengintai kini muncul sudah memperlihatkan ujudl Secepat kilat Rakai Kayuwangi jatuhkan diri ke tanah. Dia tidak berani menangkis atau balas menyerang. Delapan cahaya merah lewat dua jengkal di atas tubuhnya. Namun setengah jalan berbalik dan kembali menyambar ke arah sang Raja yang saat itu tengah berusaha berdiri.

Kali ini Rakai Kayuwangi tidak tinggal diam. Tangan kiri dihantamkan ke depan melepas pukulan sakti bernama Payung Dewa Mengguncang Badai. Seumur hidup ini adalah kali ke dua Raja Mataram mengeluarkan pukulan sakti tersebut. Yang pertama kali ketika dia menghadapi beberapa orang tokoh pemberontak dari selatan yang berhasil menyerbu masuk ke dalam Istana beberapa tahun lalu. Kehebatan ilmu pukulan ini memang bukan alang kepalang. Cahaya ungu berkiblat menyerupai payung raksasa mengembang. Delapan cahaya merah bermentalan ke udara namun hanya sesaat. Di lain kejap delapan cahaya itu menukik ke bawah, memancarkan pijaran sinar menyilaukan pertanda kekuatan yang ada di dalamnya kini berlipat ganda!

Kejut Sri Maharaja Mataram bukan olah-olah. Sulit dia mempercayai pukulan saktinya tadi tidak sanggup memusnahkan delapan cahaya merah. Namun sang Raja tidak bisa berpikir panjang karena saat itu delapan cahaya merah datang menyerbu ke arahnya. Sadar kalau saat itu dia memegang tongkat kayu pemberian Eyang Dhana Padmasutra maka Raja Mataram alirkan seluruh kekuatan tenaga dalam dan hawa sakti ke dalam tongkat hingga tongkat kayu memancarkan cahaya merah laksana bara menyala! Tidak tunggu lebih lama sang Raja segera sapukan tongkat di tangan kanannya ke udara, ke arah datangnya serangan delapan cahaya merah! Sinar merah raksasa berkelebat ke udara! Menghantam delapan larik sinar merah.

Delapan letusan dahsyat menggelegar dalam rimba belantara. Tumpukan bebatuan yang membentuk mulut sumur mental, banyak yang hancur berkeping-keping. Tanah terbelah di beberapa tempat. Langit seolah hendak runtuh. Beberapa pohon bertumbangan dengan ranting dan dedaunan hangus menghitam 1 Kabut kelabu entah dari mana datangnya menggantung di tempat itul

Sosok Raja Mataram jatuh terbanting di tanah. Walau tulang punggung serasa hancur dan dada laksana terpanggang namun dia masih mampu berdiri menyaksikan bagaimana delapan cahaya merah terpental memencar kian kemari lalu menyatu dan laksana tombak raksasa menghunjam lenyap masuk ke dalam tanah.

Rakai Kayuwangi menarik nafas lega. Dia menyangka serangan kekuatan jahat telah berhasil dimusnahkan.

"Blaarr!"

Mendadak suara letusan dahsyat kembali menggelegar di tempat itu. Rakai Kayuwangi tersentak kaget dan keluarkan seruan tertahan ketika didahului teriakan-teriakan menggidikkan dari dalam tanah mencuat keluar delapan mahluk dahsyat yang hanya mengenakan cawat hitam Kecil. Mahluk ini mulai dari ujung rambut sampai ke kaki berwarna merah. Sepasang mata membelalak putih semua. Di kening ada satu benjolan besar berwarna merah pekat mengepulkan asap menebar bau busuk. Rakai Kayuwangi memperhatikan mahluk ini hanya mempunyai empat jari tangan. Jari tengah tidak ada sama sekali. Sepuluh kuku jari kaki mencuat panjang merah seperti cakar burung elang.

"Dewa Maha Agungi Apakah ini mahluk yang bernama Delapan Sukma Merah..."

Tiba-tiba delapan mahluk merah keluarkan pekik keras. Lalu sambil tertawa haha-hihi mereka menebar membentuk lingkaran dan mengurung Rakai Kayuwangi di tengah-tengah.

"Rampas tongkat!"

Empat mahluk merah berteriak.

Empat mahluk lainnya berseru.

"Rampas nyawa!"

"Kreekkk!"

Enam belas kuku jari tangan merah keluarkan suara berkeretekan lalu mencuat panjang seperti clurit kecil, memancarkan cahaya merah pekat menggidikkan.

Delapan mahluk merah menerjang. Empat pasang tangan berjari empat berusaha merampas tongkat sedang empat pasang tangan lainnya menyambar ke mata, leher, dada dan perut.

Raja Mataram Rakai Kayuwangi sadar, dalam keadaan punggung dan dada masih mendenyut sakit, dia hanya memiliki satu pilihan. Jika ingin menyelamatkan diri maka kemungkinan tongkat kayu yang diberikan Eyang Dhana Padmasutra akan kena dirampas empat mahluk merah. Sebaliknya kalau dia harus menyelamatkan tongkat maka muka atau leher, mungkin juga dada atau perutnya akan jebol disambar cakaran jari-jari berkuku panjang merah.

Sang Raja memilih menyelamatkan tongkat kayu ketimbang selamatkan diri. Tongkat diputar di depan tubuh hingga mengeluarkan suara mengaung lalu set! Selagi delapan mahluk merah mundur dan menunda serangan, Rakai Kayuwangi selipkan tongkat di pinggang sebelah depan lalu dua tangan sekaligus melepas pukulan Dewa Kembar Membalik Gunung!. Dua cahaya hijau kebiruan berkiblat disertai suara menggemuruh seperti gunung runtuh. Delapan mahluk merah terkesiap kaget. Tubuh bergoncang keras. Mereka berteriak keras sambil tusukkan empat jari tangan kanan ke atas. Kabut kelabu yang sejak tadi menggantung di udara bergerak turun menghadang dua cahaya hijau biru dua pukulan sakti yang dilepaskan Raja Mataram.

"Tembus!"

Delapan mahluk berteriak berbarengan. "Blaarr! Blaarr!"

Ternyata dua pukulan Rakai Kayuwangi tidak sanggup menahan hantaman kabut kelabu yang dijadikan senjata oleh delapan mahluk aneh. Begitu dua larik cahaya hijau biru musnah delapan mahluk ini kembali berteriak.

"Rampas tongkat!"

"Rampas nyawa!"

"Breett!"

Empat jari tangan berkuku panjang salah satu mahluk merobek dada pakaian Rakai Kayuwangi, menimbulkan luka panjang, memutus kalung besar. Saat itu juga Raja Mataram ini merasakan tubuhnya menggigil diserang hawa luar biasa dingin. Sepasang lutut goyah. Dua kaki terjajar ke belakang.

"Rampas tongkat!"

"Rampas nyawa!"

Dua tangan menyambar ke pinggang sebelah depan di mana terselip tongkat kayu, tiga lainnya melesat ke kepala, wajah dan leher Sri Maharaja Mataram. Hanya beberapa ketika lagi tongkat kayu akan dapat dirampas dan muka serta leher akan hancur jebol mengerikan tiba-tiba di telinga Raja Mataram mengiang suara orang tua alam roh Dhana Padmasutra.

"Bilamana bahaya datang tidak terelakkan, robahlah cara memegang tongkat. Ujung yang menempel di tanah pegang sebagai gagang. Sebaliknya gagang ditukikkan ke bawah hingga menyentuh tanah. Maka Yang Maha Kuasa akan melindungi Yang Mulia..."

Rakai Kayu Wangi tersentak. Mengapa dia tidak ingat dari tadi petunjuk orang tua yang dikirimkan Para Dewa untuk menolongnya itu.

Secepat kilat Raja Mataram cabut tongkat yang terselip di pinggang. Ujung yang kecil dipegang sedang ujung yang biasa menjadi gagang pegangan ditusukkan ke tanah. Pada waktu yang bersamaan salah seorang dari empat mahluk merah yang berusaha merampas tongkat berhasil mencekal pertengahan tongkat. Namun di saat itu pula gagang tongkat telah menyentuh tanah.

"Blaarr!"

Letusan keras menggelegar. Sosok mahluk merah yang memegang tombak keluarkan jeritan menggidikkan, tubuh mencelat ke udara dalam keadaan tercabik-cabik lalu berubah jadi asap dan lenyap dari pemandangan. Dua temannya menggembor marah. Segera menyerang Rakai Kayuwangi. Raja Mataram dengan penuh percaya diri gebukkan tongkat. Sekali menghantam kepala mahluk merah di samping kanan. Pukulan kedua menghajar bahu mahluk merah di sebelah kanan. Seperti kawannya tadi dua mahluk merah menjerit setinggi langit. Yang kena gebuk kepalanya meledak dengan mengeluarkan suara menggelegar lalu hancur berkeping-keping, sirna setelah lebih dulu jadi asap. Yang dihantam bahunya meraung dahsyat lalu suara raungan lenyap begitu tubuhnya amblas masuk ke dalam tanahl

Lima mahluk merah yang masih hidup langsung jatuhkan diri duduk bersila di tanah. Lima pasang mata putih membusat keluar. Wajah berubah menjadi kuning. Tapi benjolan besar di kening tetap masih berwarna merah dan mengepulkan asap. Mereka tampak ketakutan begitu melihat Raja Mataram mendatangi sambil melintangkan tongkat kayu di atas kepala. Terjadi keanehan. Tubuh bagian atas masih bisa bergerak sementara pinggang ke bawah berubah lumpuh! Ke limanya membungkuk berulang kali tanda minta diampuni. Walau takut setengah mati tapi mereka tidak mampu melarikan diri!

"Aku akan ampuni kalian berlima. Asal memberi tahu kalian ini siapa sebenarnya. Siapa yang mengirim kalian untuk membunuhku dan merampas tongkatl Apa kalian ikut mendatangkan bencana di Mataram malam tadi!"

Tidak ada satupun dari kelima mahluk merah membuka mulut keluarkan jawaban. Mereka terus saja membungkuk-bungkukkan tubuh.

"Bicara! Atau aku gebuk kalian semua!" Hardik Raja Mataram mengancam. Tongkat di tangan kanan diangkat ke atas, siap mengemplang kepala lima mahluk yang duduk menjele-pok di tanah di hadapannya.

Tiba-tiba ke lima mahluk merah pukulkan tangan kanan ke kening masing-masing yang ada benjolan merah.

"Praakkk!"

Lima mahluk merah terkapar di tanah dengan kepala rengkah. Kabut kelabu lenyap. Raja Mataram berulang kali mengucap menyebut nama Yang Maha Kuasa. Dia bermaksud hendak memeriksa lima mayat mahluk aneh, namun tiba-tiba lima sosok merah itu terangkat ke atas lalu hancur berkeping-keping, berubah jadi asap dan lenyap!

Raja Mataram berulang kali menyeru nama Yang Maha Kuasa. Tiba-tiba tongkat kayu yang dipegang bergetar keras. Tubuh rtakai Kayuwangi terangkat ke udara, melayang sebentar lalu melesat masuk ke dalam sumur batu. Sumur yang pernah dikenal dengan sebutan Sumur Api di mana beberapa tahun silam Ananthawuri perawan suci pilihan Para Dewa ibunda dari Mimba Purana dan Dirga Purana pernah tercebur masuk ketika dikejar oleh anak buah Arwah Muka Hijau yaitu Setunggul Langit dan Setunggul Bumi. (Baca serial Kesatria Lonceng Dewa buku pertama berjudul "Perawan Sumur Api" karangan Bastian Tito)

Tanpa diketahui oleh Raja Mataram, begitu tubuhnya lenyap masuk ke dalam Sumur Api yang telah padam seratus jarum hitam melesat keluar dari dalam tanah lalu menyusul masuk ke dalam sumur!

Begitu seratus jarum hitam masuk ke dalam sumur, mendadak dari arah timur rimba belantara bertiup angin kencang. Pada saat angin dan tumpukan batu yang membentuk bibir sumur saling bersentuhan, cahaya putih berpijar. Saat itu juga sumur batu lenyap. Di tempat itu kini terlihat satu jurang sangat dalam. Di sekelilingnya muncul tujuh lobang sebesar kubangan kerbau. Begitulah keadaan akhir Sumur Api seperti yang diriwayatkan dalam Mimba Purana Serial Kesatria Lonceng Dewa buku ke empat berjudul "Dewi Tangan Jerangkong"5SRI MAHARAJA Rakai Kayuwangi Lokapala terheran-heran ketika dapatkan dirinya berada di ujung satu pedataran pasir berwarna kuning. Di kejauhan tampak sang surya memancarkan cahaya terang benderang namun tidak terasa hawa panas menyengat jangat, sebaliknya malah mengantar udara sejuk.

"Dewa Agung, bagaimana mungkin kalau bukan Kau yang punya kuasa..." Berkala Rakai Kayuwangi dalam hati. Dia sadar betul kalau saat itu berada di dasar sumur, mungkin Jaga d! dalam tanah entah pada lapisan ke berapa. Tap} mengapa ada pedataran pasir dan seumur hidup ban? sekali itu dia melihat pasir berwarna kuning laksana emas. Lalu bagaimana mungkin ada matahari yang sinarnya terang benderang namun menebar hawa sejuk? Lalu dia melihat lagi beberapa keanehan.

Di kejauhan, di tengah pedataran pasir kuning tampak sebuah pohon sangat tinggi, tidak berdaun tidak beranting dan hanya memiliki satu cabang menghadap ke timur yaitu ke arah sang surya. Angin bertiup ke arah Rakai Kayuwangi. Raja Mataram ini mencium bau harum semerbak berasal dari pohon tinggi bercabang tunggal. Dia menatap kembali ke arah pohon. Saat itulah sang Raja melengak terkejut.

"Tadi aku tidak melihat sosok itu. Bagaimana kini tahu-tahu muncul sejelas aku melihat tangan sendiri?"

Sambil memegang tongkat erat-erat Rakai Kayuwangi melangkah cepat ke arah pohon bercabang tunggal. Pada pertengahan cabang terlihat duduk bersila seorang anak lelaki berusia sekitar dua belas tahun. Anak ini mengenakan pakaian hitam terbuat dari kain kasar sederhana, berkasut kulit. Wajah tampan dihias alis tebal, mata bening dan bibir merah. Samar-samar tampak cahaya kuning aneh menyelubungi tubuh anak itu. Kalau saja Raja Mataram tidak memiliki ilmu kesaktian tinggi, dia tidak akan mampu melihat cahaya kuning ini. Maka sang Raja mempercepat langkah.

"Walau hanya bertemu satu kali beberapa tahun lalu, aku yakin anak di atas cabang pohon adalah Mimba Purana. Kesatria penyelamat Bhumi Mataram berjuluk Kesatria Lonceng Dewa. Terima kasih Dewa Agung. Kau akhirnya mempertemukan saya dengan anak itu. Terima kasih Eyang Dhana Padmasutra..."

Tiba-tiba anak lelaki di atas cabang pohon berdiri. Tangan kanan di angkat, telapak dikembang. Mulut berseru.

"Yang Muliai Berhentilah melangkahi Jangan beranjak sebelum saya memberi tanda. Maafkan saya karena telah berani memerintah Raja Mataram!"

Rakai Kayuwangi hentikan langkah. Saat itulah di atas kepalanya melesat puluhan benda hitam berpijar. Itulah seratus jarum hitam yang menyusul masuk ke dalam sumur. Seratus jarum kemudian berubah menjadi seratus tiang batu yang besarnya sepemeluk tangan dan tinggi mencapai empat tombak, menyamai ketinggian pohon bercabang tunggal. Seratus tiang batu menancap di pedataran mengelilingi pohon.

Saat itu Rakai Kayuwangi mendengar suara-suara pekik jerit riuh sekali, aneh menggidikkan. Pedataran pasir bergetar dan telinganya berdenging sakit. Namun dia sama sekali tidak melihat mahluk apa yang menjerit dan berada di mana.

Kalau di pedataran Raja Mataram melihat seratus batu tinggi hitam mengeliling pohon, maka di atas cabang pohon, anak lelaki berusia dua belas tahun bukannya melihat seratus tiang batu tetapi melihat seratus mahluk tinggi hitam bugil berperut buncit mengerikan. Semua berkepala botak, bermata merah besar, di kepala ada sebuah cula. Lidah panjang luar biasa, setiap dijulurkan bisa menyentuh pasir pedataran. Sepuluh jari tangan memiliki kuku berwarna merah.

"Puluhan tiang batu hitam... Apakah ini yang jadi penyebab Mimba Purana melarangku melanjutkan langkah?" pikir Raja Mataram.

Anak di atas cabang pohon gerakkan tangan kanan. Dari telapak yang terkembang keluar sinar kuning menyilaukan, menyambar berputar ke arah seratus tiang batu tinggi hitam.

"Seratus Jin Perut Bumi!" Anak di atas pohon beseru lantang. "Aku Mimba Purana tidak akan beranjak dari tempatku berdiri. Kalian tidak akan bergerak dari tempat kalian tegak! Tidak ada di antara kita yang akan mulai melakukan kekerasan!"

Rakai Kayuwangi merasa heran. Tidak tahu pada siapa anak di atas pohon bicara. Seratus Jin Perut Bumi?! Dia tidak melihat mahluk apapun kecuali seratus tiang batu tinggi hitam.

Rakai Kayuwangi dikejutkan oleh suara menggemuruh yang menggetarkan pedataran pasir. Lalu terdengar suara membahana diucap seratus mahluk yang tidak mampu dilihatnya.

"Mimba Puranal Kami akan memanggangmu sampai menjadi debu!"

"Seratus Jin Perut Bumi! Kalian tidak memandang sebelah mata pada maksud baikku! Aku tahu kalian diperalat! Aku masih memberi kesempatan!"

Jawaban yang terdengar adalah suara menggembor dahsyat.

Rakai Kayuwangi bersurut sampai beberapa langkah ketika melihat ratusan larik sinar merah menyembur dari seratus tiang batu lalu melesat ke arah pohon di mana anak lelaki berusia dua belas tahun berdiri di atas cabang tunggal.

"Wuss ! Wusss !"

Pohon tinggi besar tenggelam dalam kobaran api berwarna merah bercampur biru. Hawa panasnya membuat Rakai Kayuwangi terpaksa melompat menjauh.

"Satria Lonceng Dewa!" Raja Mataram berteriak karena saat itu dia tidak dapat lagi melihat anak di atas cabang pohon. Dia merasa sangat kawatir kalau terjadi sesuatu dengan anak lelaki bernama Mimba Purana itu. Karena sesuai petunjuk Eyang Dhana Padmasutra anak itu adalah kunci petunjuk selanjutnya bagi keselamatan Mataram.

Seratus Jin Perut Bumi! Di hadapannya ada seratus tiang batu. Apakah ini ujud mahluk gaib itu? Karena merasa punya kewajiban melindungi anak di atas pohon maka tidak pikir panjang lagi Rakai Kayuwangi segera sapukan tongkat di tangan kanan ke arah tiang-tiang batu.

"Wuttt!"

Cahaya merah bertabur menebar hawa panas.

"Dess! Dess!"

Raja Mataram menjerit keras ketika tubuhnya terpental oleh hantaman hawa panas yang berbaiik menyerangnya. Pakaian mengepulkan asap. Tongkat hampir terlepas. Tiba-tiba suara jerit pekik yang tadi mereda kini kembali menggelegar.

Rakai Kayuwangi melihat ratusan tiang batu hitam yang mengelilingi pohon di tengah pedataran berubah ujud menjadi mahluk mengerikan. Tubuh bugil buncit dan hitam. Kepala botak bercula. Seratus lidah menjulur melesat ke arahnya. Puluhan larik cahaya merah panas datang menggulung.

"Dewa Bathara Agung! Saya pasrah menerima kematian jika ini memang kehendakMu. Permohonan saya yang terakhir, selamatkan keluarga, kerajaan, para pengikut dan rakyat Mataram!"

Sri Maharaja Mataram berseru keras karena sadar tidak mampu menyelamatkan diri lagi. Tubuh terhuyung ke belakang lalu jatuh terduduk di tanah. Tangan kanan masih memegang tongkat namun keadaannya seperti lumpuh tak mampu digerakkan. Rakai Kayuwangi berusaha pergunakan tangan kiri untuk mencabut keris di belakang pinggang. Namun salah satu lidah mahluk hitam bugil menggebuk bahu kirinya hingga sang Raja terbanting ke tanah. Kulit bahu hangus melepuh! Di sebelah dalam daging dan tulang serasa remuk!

Sekejapan lagi sekujur tubuh Raja Mataram akan lumat dan gosong dilanda serangan puluhan lidah dan cahaya merah panas, tiba-tiba terdengar bahana suara lonceng yang agaknya bukan lonceng biasa tetapi merupakan satu lonceng raksasa yang seolah menggantung di udara. Langit di atas kepala sang Raja tertutup cahaya kuning. Lalu cahaya ini menerpa ke bawah.

Pedataran laksana disergap badai. Pasir kuning menggebubu ke udara. Ketika sesaat pandangan mata terhalang tiba-tiba ada seseorang merangkul pinggang Rakai Kayuwangi, lalu laksana terbang membawanya pergi dari tempat itu.

Sebelum pedataran lenyap dari pandangan matanya, Rakai Kayuwangi masih bisa melihat bagaimana seratus mahluk seram berubah menjadi tiang batu kembali lalu melesak masuk ke dalam pedataran pasir I Suara jerit pekik menggelegar di Seantero pedataran. Namun lenyap ditelan bahana suara lonceng raksasa yang tidak terlihat ujud dan entah berada di mana.

Raja Mataram berusaha melihat dan mencari tahu siapa orang yang menyelamatkan lalu melarikannya laksana terbang membelakangi sinar sang surya. Namun dia tidak melihat apa-apa kecuali cahaya kuning benderang. Selain itu pemandangan matanya perlahan-lahan berubah pudar. Lalu sang Raja terkulai tak sadarkan diri. Ini adalah akibat cairan dari lidah panjang mahluk hitam bugil yang melukai bahu kirinya. Ternyata cairan itu mengandung racun jahat.6SRI MAHARAJA Rakai Kayuwangi tidak tahu pasti apa yang telah terjadi atas dirinya. Yang masih diingatnya terakhir sekali adalah seseorang membawanya lari laksana terbang dan dia hanya melihat satu cahaya kuning. Ketika perlahan-lahan kesadarannya mulai pulih, memandang berkeliling dia melihat sosok anak lelaki itu, duduk bersila. Rambut hitam menjulai panjang setengkuk. Wajah tampan dan sepasang mata bening dibawah alis tebal hitam menatap ke arahnya. Walau agak tersuruk tapi Sri Maharaja dapat melihat kalau ada sebentuk anting emas mencantel di daun telinga kanan anak lelaki ini. Kemudian, jika dia menatap dan memusatkan perhatian agak lama maka dia melihat ada bayangan cahaya kuning menyelubungi tubuh si anak.

Rakai Kayuwangi merasa jaraknya dengan anak lelaki itu hanya terpaut sepejangkauan tangan, dekat sekali. Namun ketika dia mengulurkan tangan kanan berusaha hendak menjangkau, dia tidak berhasil menyentuh tubuh anak itu. Bocah luar biasa I

"Satria Lonceng Dewa..."

Anak yang disapa tersenyum lalu membungkuk tiga kali lalu berkata.

"Sri Maharaja, penghormatan saya untuk Yang Mulia. Nama saya Mimba Purana. Mohon memanggil saya dengan nama itu..."

Suara yang terdengar adalah suara anak lelaki usia dua belas tahun. Namun suara itu begitu jernih dan penuh wibawa.

Sadar kalau saat itu dia dalam keadaan tersandar ke dinding, Rakai Kayuwangi cepat luruskan tubuh, lipat kedua kaki dan duduk bersila. Saat itulah dia juga mengetahui kalau ada dua buah benda tergeletak di pangkuannya. Ketika menunduk memperhatikan dia melihat sebilah keris telanjang memancarkan cahaya putih keabu-abuan. Keris Widuri Bulan. Keris miliknya sendiri. Sesuai dengan namanya senjata bertuah itu konon terbuat dari gumpalan besar batu Widuri Bulan yang secara gaib melayang jatuh ke bumi setelah seorang kakek sakti melakukan tapa selama tujuh purnama. Si kakek kemudian menyerahkan batu itu kepada Sri Maharaja Mataram yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun. Lalu seorang tokoh istana meminta seorang sakti di Jawa sebelah timur untuk menempa batu menjadi sebilah keris setelah dicampur dengan beberapa jenis logam berkekuatan gaib.

Di samping keris, melintang sebatang tongkat kayu. Itulah tongkat pemberian Eyang Dhana Padmasutra. Dia merasa ada sesuatu di bahu kirinya. Ketika diperhatikan di bahu itu menempel sehelai daun keladi yang warna hijaunya telah berubah menjadi hitam.

Rakai Kayuwangi mengingat-ingat. Dia berkelahi melawan puluhan mahluk ganas hitam telanjang berkepala botak bercula di satu pedataran pasir. Dalam keadaan terdesak dia berusaha menyelamatkan diri dengan mencabut keris itu. Lalu lidah salah satu mahluk menggebuk bahu kirinya. Ketika hampir menemui ajal tiba-tiba ada seseorang menyelamatkan dan menerbangkan dirinya ke langit.

Sri Maharaja angkat daun keladi yang menempel di bahu kirinya. Kulit bahu itu tampak kemerah-merahan namun tidak lagi hangus melepuh. Sang Raja menatap ke arah anak lelaki di hadapannya. Dalam hati berkata. "Hanya selembar daun keladi hutan. Sungguh anak pilihan Para Dewa ini sakti luar biasa."

"Mimba Purana, saya percaya kaulah yang telah menyelamatkan diri saya dari puluhan mahluk seram itu. Saya percaya engkau pula yang membawa saya ke tempat ini dan mengobati luka parah di bahu kiri saya. Untuk itu saya berterima kasih..." Tanpa segan-segan Raja Mataram ini lalu rundukkan tubuh.

Anak lelaki bernama Mimba Purana yang tadi dipanggil dengan julukan Satria Lonceng Dewa tampak jadi kikuk dan beringsut ke belakang. Buru-buru dia berkata.

"Yang Mulia, saya tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Semua terjadi atas kehendak Yang Maha Kuasa. Mohon tidak menghormati saya secara berlebihan. Menurut usia, saya seharusnya seumur dengan putera Yang Mulia."

Raja Mataram anggukkan kepala berulang kali. Berdasarkan riwayat yang diketahuinya dari para cerdik pandai dan para tokoh di Istana, dia mengetahui kalau anak lelaki yang duduk bersila di hadapannya itu sebenarnya baru berusia dua belas bulan. Namun anak keramat yang terlahir dari seorang ibu yang tetap perawan ini, atas kehendak Para Dewa selain memiliki ilmu kesaktian juga memiliki usia yang satu bulan dirinya sama dengan usia satu tahun anak biasa. (Baca serial Mimba Purana "Satria Lonceng Dewa")

"Saya mengerti," kate Raja Mataram pula. "Mulai saat ini saya akan memanggilmu dengan sebutan Ananda."

"Yang Mulia, satu kehormatan yang terhingga kalau Yang Mulia memanggil saya sebagai anak..."

"Tapi saya tetap menghaturkan terima kasih pada Ananda. Beberapa tahun lalu kita pernah bertemu. Saat itu Ananda menyelamatkan Kerajaan dari perbuatan jahat orang-orang di selatan. Sekarang kembali Bhumi Mataram digoncang malapetaka. Jauh lebih hebat dari yang terjadi sebelumnya. Banjir besar yang airnya berwarna semerah darah dan menebar bau busuk membuat Bhumi Mataram porak poranda hampir sama rata dengan tanah. Ratusan bahkan ribuan rakyat tidak berdosa termasuk ternak menemui ajal. Yang masih hidup diserang penyakit aneh. Kaki lumpuh, di kepala ada delapan benjolan berwarna merah seperti yang Ananda bisa lihat sendiri di kening saya. Ketika saya bertapa di puncak Bukit Batu Hangus memohon keselamatan bagi para pengikut, keluarga saya dan seluruh rakyat Mataram, saya mendapat petunjuk dari Sang Hyang Bathara Agung bahwa saya harus mencari dan menemui Ananda. Saya tidak tahu di mana harus mencari. Namun saya tahu riwayat Sumur Api. Saya memasuki rimba belantara tak jauh dari Kali Dengkeng. Namun saya tersesat dan terputar-putar di dalam hutan. Ada satu kekuatan gaib menghalangi saya dalam mencari Ananda..."

"Kekuatan penghalang itu ditimbulkan oleh mahluk bernama Delapan Sukma Merah... Kekuatan itu pula yang hendak mencelakai Yang Mulia dengan mempergunakan delapan mahluk merah jejadian..." Berkata Mimba Purana.

"Ananda rupanya sudah tahu peristiwa itu," kata Sri Maharaja Mataram. Dia tidak merasa heran karena tahu Mimba Purana bukanlah anak sembarangan. "Ananda, saya ingat sekarang. Delapan Sukma Merah. Kata-kata itulah yang pernah diucapkan oleh mahluk roh Sedayu Galiwardhana. Delapan Sukma Merah penguasa tujuh samudera, tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Ananda, apakah kau tahu siapa adanya mahluk itu?"

"Yang Mulia, harap teruskan dulu cerita Yang Mulia," jawab Mimba Purana.

"Para Dewa Maha Pengasih. Seorang kakek bernama Dhana Padmasutra muncul dari alam roh..." Sri Maharaja meneruskan ucapan setelah terdiam sesaat.

Mimba Purana luruskan tubuhnya. Lalu berkata. "Orang tua itu adalah sahabat dan sudah dianggap kakek sendiri oleh Ibunda saya..."

"Sungguh besar rahmat Yang Maha Kuasa..." ucap Sri Maharaja dengan agak tercengang.

"Saya hanya mendengar cerita Ibunda. Saya sendiri belum pernah bertemu dengan kakek itu. Yang Mulia lebih beruntung dari saya, telah menemui kakek Ibunda saya..." Berkata anak lelaki bernama Mimba Purana.

Sri Maharaja terdiam sejurus mendengar ucapan Mimba Purana. Lalu meneruskan penuturan.

"Eyang Dhana memberikan tongkat kayu miliknya pada saya. Katanya tongkat ini akan menjadi penuntun untuk mencari dan menemui diri Ananda. Orang tua itu juga berpesan, setelah kita bertemu maka tongkat ini harus saya serahkan pada Ananda karena menurut Eyang Dhana tongkat ini sebenarnya adalah milik Ibunda Ananda yang dipinjam..."

Sri Maharaja beringsut mendekati anak lelaki di hadapannya untuk menyerahkan tongkat kayu. Si anak menatap tongkat itu sebentar lalu berkata.

"Yang Mulia, mungkin tongkat itu akan lebih banyak manfaatnya jika tetap berada di tangan Yang Mulia. Mengapa tidak dipegang saja untuk sementara?"

"Ananda Mimba, saya berterima kasih atas kepercayaan dan perhatian Ananda. Namun begitu pesan Eyang Dhana, begitu pula yang harus saya lakukan. Ananda Mimba, terimalah tongkat ini..."

Anak lelaki berusia dua belas tahun itu akhirnya ulurkan tangan menerima tongkat. Sri Maharaja sendiri cepat-cepat mengambil Keris Widuri Bulan dari pangkuannya dan memasukkan ke dalam sarung yang masih terselip di belakang pinggang. Tanpa diketahui, dilihat ataupun disadari oleh Raja Mataram ketika Mimba Purana menerima tongkat, anak ini dengan kesaktiannya menyusupkan tongkat itu ke dalam tubuh Rakai Kayuwangi melalui lengan kanannya sementara yang dilihat sang Raja, tongkat yang diletakkan si anak di lantai di sisi kanannya hanyalah bayangan semata.

"Ananda, saya bersyukur Para Dewa telah mempertemukan saya dengan diri Ananda. Selanjutnya saya mohon petunjuk, apa yang harus saya lakukan."

"Yang Mulia, apakah Yang Mulia telah menceritakan semua apa yang terjadi di Mataram?" Mimba Purana bertanya.

Sri Maharaja merenung sejenak sambil menatap wajah tampan anak lelaki di hadapannya.

"Mungkin saya perlu memberi tahu dari asal muasal kejadian." Berkata Sri Maharaja. Lalu dia menceritakan riwayat pembuatan Keris Kanjeng Sepuh Pelangi oleh Empu Semirang Biru. Keris lenyap dicuri mahluk jejadian yang menampilkan diri sebagai pertapa sakti dari Gunung Merbabu bernama Sedayu Galiwardhana. Raja Mataram juga menceritakan lenyapnya Empu Semirang beberapa waktu sebelum bencana melanda Kerajaan. Lalu perihal Raden Ageng Daksa yang ditemukan sudah menjadi mayat dengan tanda dua telapak tangan berjari empat di punggungnya.

"Ananda Mimba, itu semua yang bisa saya ceritakan padamu."

"Yang Mulia, saya menduga Yang Mulia belum menceritakan semua kejadian penting yang berlangsung di Mataram." Berkata Mimba Purana.

Raja Mataram berpikir-pikir. Dia merasa telah menuturkan semua kejadian. Namun tiba-tiba dia ingat satu hal.

"Ketika saya dan para tokoh Kerajaan mengadakan pertemuan di satu ruang rahasia di Istana, seorang penasehat saya yaitu perempuan berusia sekitar setengah abad bernama Ratu Randang telah kesusupan serangan aneh. Di dadanya tiba-tiba saja ada tanda dua telapak tangan berjari empat tanpa jari tengah..."

"Yang Mulia tahu, di mana sekarang beradanya Ratu Randang?"

"Dia minta izin untuk menemui Arwah Ketua. Mahluk alam gaib yang tinggal di sebuah Candi Miring untuk mencari keterangan serta petunjuk agar dapat menyelamatkan Kerajaan." Sri Maharaja diam sebentar lalu bertanya. "Ananda, ada apa Ananda menanyakan pembantu saya itu?"

"Saya hanya ingin tahu agar tidak ada yang tertinggal di pikiran dan benak saya," jawab si bocah yang dijuluki Satria Lonceng Dewa, Pendekar Bhumi Mataram.

"Yang Mulia, sekarang katakan apa yang bisa sama-sama kita lakukan untuk menyelamatkan Kerajaan dan rakyat Mataram."

"Dengan Kuasa Yang Maha Kuasa Saya ingin kami semua bisa keluar dari malapetaka yang mengerikan ini. Yang pertama sekali, bagaimana caranya rakyat dan semua mahluk hidup yang ada di Bhumi Mataram lepas dari kelumpuhan dan demam panas yang menyerang mereka. Lalu delapan benjolan merah agar bisa dilenyapkan dari kening mereka. Kemudian mohon sekali bantuan Ananda agar Keris Kanjeng Sepuh Pelangi bisa ditemukan kembali. Saya berharap Ananda bisa menolong..."

"Yang Mulia, saya bocah yang tidak punya kepandaian apa-apa. Apa lagi yang namanya kekuasaan. Tapi karena saya adalah anak Mataram, Ibunda saya juga orang Mataram maka saya merasa diri yang tidak berdaya ini ikut punya rasa pengabdian terhadap Yang Mulia dan Kerajaan. Jika Yang Mulia mengizinkan saya akan melakukan tapa untuk mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa..."

"Saya mengikut saja. Namun saat ini kita berpacu dengan waktu. Jika Ananda melakukan tapa sampai berhari-hari, semua orang, termasuk yang kini berada di Bukit Batu Hangus akan menemui ajal karena penyakit dan kelaparan..."

"Saya tahu apa Yang Mulia kawatirkan. Tapi satu tahun bagi kita manusia biasa, bisa saja hanya satu hari bagi Yang Maha Kuasa. Satu minggu bagi kita, bagi Yang Maha Kuasa bisa saja hanya sekejapan mata. Apakah Yang Mulia sudi menunggu sementara saya mulai bertapa?"

"Ananda, saya serahkan semuanya padamu. Saya akan membantu dengan doa," jawab Sri Maharaja Rakai Kayuwangi lalu tanpa memejamkan mata dia susun sepuluh jari di atas kepala dan mulai memanjatkan doa.

Di hadapan Raja Mataram anak lelaki berusia dua belas tahun duduk bersila dengan khidmat. Mata dipejam, dua tangan disilang di atas dada. Bayangan cahaya kuning yang samar-samar membungkus sekujur tubuh Mimba Purana tampak memancar lebih terang. Dari ubun-ubun di kepalanya memancar satu cahaya kuning berbentuk garis lurus, menembus langit-langit batu. Itu garis batin hati nurani yang paling suci yang tengah coba bersentuh dengan kekuatan gaib dari Yang Maha Kuasa.

Tiba-tiba Raja Mataram yang tengah berdoa melihat larikan garis kuning lenyap. Cahaya terang yang membungkus sosok Mimba Purana juga sirna. Anak itu turunkan dua tangan dari atas dada, diletakkan di atas pangkuan, perlahan-lahan mata dibuka.

"Yang Mulia, saya baru saja menyelesaikan tapa dua puluh satu hari." Berkata Mimba Purana Satria Lonceng Dewa.

"Ananda Mimba, sungguh luar biasa..." Ucap Raja Mataram sambil menurunkan kedua tangan yang tadi disusun di atas kepala.

"Di dalam tapa saya mendapat petunjuk bahwa pertolongan yang kita harapkan itu berada dalam sebuah ruangan keramat yang pintunya terkunci. Kunci pembuka pintu itu ada dua buah. Keduanya ada pada Yang Mulia..."

"Saya...? Saya merasa tidak pernah membawa atau memiliki dua buah kunci..." Kata Raja Mataram pula dengan heran sambil meraba-raba pakaiannya.

Untuk beberapa ketika si anak menatap wajah sang Raja. Air mukanya tampak meredup. Lalu dia berkata dengan suara perlahan.

"Kunci yang dimaksudkan itu adalah dua jari tengah kedua tangan Yang Mulia. Dua jari tangan itu harus dipotong tepat pada pangkalnya..."

Kejut Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Lokapala bukan alang kepalang. Wajah berubah. Namun dia cepat menguasai diri lalu bertanya.

"Ananda Mimba Purana. Tidak salahkah telinga saya mendengar?"

"Pertunjuk telah didapat. Kata telah diucapkan. Yang Mulia, saya minta maaf. Saya mohon Yang Mulia segera mencabut Keris Widuri Bulan. Yang Mulia harus memotong sendiri dua jari tengah Yang Mulia dengan keris itu..."7SRI MAHARAJA Rakai Kayuwangi terkesiap. Mata menatap lekat-lekat ke wajah anak lelaki dua belas tahun di hadapannya. Kalau tadi dia masih meragu dan bertanya apakah tidak salah mendengar ucapan maka kini keraguan itu serta merta lenyap malah berubah menjadi kecurigaan. Dia diminta si anak untuk memotong kedua jari tangan sebelah tengah dengan mempergunakan Keris Widuri Bula& Jari lengahi Tentu saja sang Raja ingat akan peristiwa yang sudah-sudah. Raden Ageng Daksa menemui kematian dengan tanda dua telapak tangan berjari empat-tanpa jari tengah-di panggungnya. Ratu Randang diserang secara gaib oleh mahluk yang tidak kelihatan dan meninggalkan tanda dua telapak tangan lengkap dengan jari-jari namun tanpa jari tengah. Delapan mahluk merah yang hendak membunuhnya juga tidak memiliki jari tengah. Delapan Sukma Merah.

"Punya hubungan apa bocah ini dengan mahluk bernama Delapan Sukma Merah. Jangan-jangan... Dewa Agung, apakah saat ini saya benar-benar berhadapan dengan anak bernama Mimba Purana, berjuluk Satria Lonceng Dewa? Atau hanya jejadiannya yang hendak mencelakai diri saya? Menjebak hingga saya berubah menjadi mahluk celaka yang tidak punya jari tengah?!"

Selagi sang Raja berpikir menduga-duga penuh curiga seperti itu tiba-tiba ada suara mengiang di telinga kanannya.

"Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Lokapala. Bocah jahat hendak menipumu. Dia bukan Satria Lonceng Dewa yang asli! Dialah mahluk biang racun penimbul bencana Malam Jahanam! Cabut keris sakti di pinggangmu sekarang jugal Bunuh dia dengan senjata itu! Jika dia mati maka dirimu, keluargamu, rakyat dan Kerajaan akan selamat dari malapetaka. Bunuh dia sekarang juga!"

"Pertunjuk Dewa Agungi Ini pasti petunjuk Yang Maha Kuasa!" ucap Rakai Kayuwangi dalam hati. Sekujur tubuh menggeletar dialiri hawa amarah. Tidak menunggu lebih lama Raja Mataram ini segera cabut Keris Widuri Bulan. Sambil melompat keris sakti ditusukkan ke dada anak lelaki yang duduk tak bergeming di hadapannya. Gerakan yang dipergunakan adalah jurus bernama Kilat Menyabung Di Langit Mataram. Gerakannya luar biasa cepat dan disertai tenaga dalam penuhi "Settt!"

Raja Mataram melengak kaget. Keris Widuri Bulan jelas dan telak menusuk masuk ke dalam dada si bocah. Namun dia seperti merasa menusuk kapas yang lembut. Ketika anak yang hendak dibunuhnya itu tampak tersenyum, bergetarlah sekujur tubuh Rakai Kayuwangi, tengkuk serta merta menjadi dingini

Dengan cepat Rakai Kayuwangi cabut keris yang menancap di dada si anak. Tidak ada lobang bekas tusukan, tidak ada darah yang mengucur. Badan keris sampai ke ujung bersih sama sekali, tidak ada noda darah! Cahaya benderang putihnya sama sekali tidak redup!

Tiba-tiba Raja Mataram melihat ada titik putih muncul di permukaan kening Mimba Purana. Dengan cepat titik ini berubah besar dan astaga! Titik itu dengan cepat membentuk mata berwarna kuning. Mata ketigal Mata Dewal Lalu.

"Wuss!"

Selarik sinar kuning melesat keluar dari mata di kening, menyambar ke arah Raja Mataram. Sinar menyilaukan itu lewat hanya satu jengkal di atas kepala. Sesaat kemudian terdengar suara jeritan, disusul suara gedebuk jatuhnya satu sosok ke lantai ruangan. Rakai Kayuwangi cepat memutar tubuh palingkan kepala.

Di lantai, sedikit tertutup oleh kepulan asap tipis hitam tergeletak sosok seorang tua berambut putih panjang mengenakan selempang kain putih. Di keningnya ada delapan benjolan merah. Raja Mataram ingat, dia pernah bertemu orang tua itu satu kali ketika masih berusia enam tahun. Namun dia masih bisa mengenali. Si orang tua adalah pertapa sakti dari Gunung Merbabu bernama Sedayu Galiwardhana yang diketahuinya telah tewas terbunuh beberapa tahun silam. Tentu saja yang terlihat saat itu bukanlah jazad asli sang pertapa, melainkan ujud roh yang menampakkan diri sebagai manusia biasa. (Mengenai siapa adanya Sedayu Galiwadhana. harap baca serial Mimba Purana "Satria Lonceng Mataram", karangan Bastian Tito)

"Eyang Sedayu Galiwardhana, saya tahu kau muncul dari alam roh. Berbuat kejahatan bukan maumu. Karenanya kembalilah ke alam sana dengan segala ketenteraman. Maafkan kalau saya telah berlaku kasar terhadap Eyang."

Baru saja Mimba Purana selesai mengeluarkan ucapan, kepulan asap hitam lenyap. Bersamaan dengan itu sosok orang tua yang tergeletak di lantai ruangan batu bergerak bangun, duduk di lantai lalu bangkit berdiri. Dia menatap ke arah Sri Maharaja Mataram lalu berpaling pada Mimba Purana. Sepertinya ada yang hendak diucapkan. Namun mulut tetap terkancing sampai akhirnya sosok gaibnya melesat ke atas, menembus atap batu dan lenyap dari pemandangan.

"Ananda Mimba Purana..." Berkata Rakai Kayuwangi. "Orang tua tadi... menurut keterangan yang saya dengar dari Empu Semirang Biru, dialah yang telah mencuri Keris Kanjeng Sepuh Pelangi. Seharusnya tadi kita tanyai dulu dia..."

"Saya tahu Yang Mulia. Seperti kata saya tadi, dia berbuat kejahatan bukan kehendaknya. Ada yang menguasai dan mengendalikan rohnya. Saya tidak bisa berbuat banyak selain membiarkannya kembali ke alamnya. Mungkin saja dia akan kembali muncul melakukan kejahatan. Tapi jika Yang Maha Kuasa berkehendak lain maka hal itu tidak akan terjadi. Yang Mulia perlu menemuinya..."

Raja Mataram sadar. Cepat-cepat dia membungkuk.

"Ananda, saya minta maaf. Saya telah tertipu. Ketika Ananda meminta saya memotong kedua jari tengah tangan saya, saya mendapat bisikan kalau..."

"Saya tahu Yang Mulia dan saya mengerti. Sekarang apakah Yang Mulia yakin bahwa diri saya bukan mahluk bocah jahat yang hendak menipu Yang Mulia? Apakah Yang Mulia masih merasa ragu untuk memotong kedua jari tengah Yang Mulia sebagaimana petunjuk yang saya dapat dalam tapa dua puluh satu hari tadi?"

Raja Mataram menatap Keris Widuri Bulan yang masih tergenggam di tangan kanannya.

"Ananda, saat ini tidak ada lagi keraguan dalam diri saya. Jangankan memotong jari, demi keselamatan rakyat dan Kerajaan Mataram memenggal leherpun akan saya lakukan. Karena saya tahu semua ini adalah kehendak Yang Maha Kuasa," jawab Rakai Kayuwangi. Lalu Raja Mataram ini letakkan tangan kiri di atas lantai batu. Lima jari dikembang. Keris Widuri Bulan pancarkan sinar terang ketika didekatkan ke pangkal jari tengah tangan kiri. Bibir digigit. Tangan kanan bergerak ke bawah dengan tekanan penuh.

"Crasss!"8DARAH menyembur begitu jari tengah tangan kiri putus habis di bagian pangkal! Potongan jari tengah tergeletak di lantai batu. Rakai Kayuwangi ingin berteriak akibat rasa sakit yang luar biasa. Namun dia kuatkan diri menahan sakit agar tidak sampai mengeluarkan jeritan hingga sekujur tubuh bergetar dan memercikkan keringat.

Dalam keadaan tangan kiri berlumuran dan masih mengucurkan darah dipindahkan Keris Widuri Bulan ke tangan kM. Kini tangan kanan diletakkan dan dikembangkan di lantai.

Keris sakti berpijar terang-Bagian ujung yang tajam ditetakkan ke bawah, ditekan ke pangkal jari tengah tangan kanan. "Crass!"

Seperti keadaannya jari tangan kiri, jari tengah tangan kanan putus buntung! Darah mengucur deras. Rakai Kayuwangi menggigit bibir sendiri menahan sakit dan berusaha untuk tidak menjerit. Walau mampu menahan sakit dan tidak menjerit namun sepasang mata Rakai Kayuwangi tampak berkaca-kaca. Inilah satu pertanda bahwa dia memotong putus kedua jari tengahnya dengan segala kepasrahan dan ketegaran.

Sambil membungkukkan tubuh Raja Mataram keluarkan ucapan.

"Wahai Yang Maha Kuasa, apa yang menjadi petunjukMu telah saya lakukan. Saya mohon selamatkan rakyat dan Kerajaan..."

"Yang Mulia, apa Yang Mulia ucapkan telah didengar oleh Yang Maha Kuasa. Sesungguhnya Yang Mulia telah berhasil melalui satu ujian yang sangat berat. Luruskan tubuh. Pandanglah baik-baik kedua tangan Yang Mulia. Tidak ada yang putus, tak ada yang berkurang pada diri Yang Mulia. Baik yang berupa daging, tulang ataupun cairan. Sesungguhnya Yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui dan juga Maha Pengasih. Yang Maha Kuasa tidak akan pernah mencelakai ummatNya sendiri. Kecuali jika itu memang maunya sang ummat sendiri..."

Raja Mataram terdiam sesaat mendengar kata-kata Mimba Purana. Dia merasa aneh. Rasa sakit pada kedua tangannya yang seperti hendak meledakkan kepala tiba-tiba lenyap. Malah kini dia merasakan kesejukan di sekujur tubuh.

Perlahan-lahan Rakai Kayuwangi luruskan tubuh dan angkat kepala. Pandangan mata diarahkan pada kedua tangan.

"Dewa Agungi Hyang Jagat Bathara!"

Di tangan itu tidak ada lagi noda darah. Tidak ada darah yang menyembur. Tidak ada jari yang putus buntungl Tidak ada daging dan tulang yang putusl Kedua jari tengah tangan kiri kanan masih utuh di tempatnya semula, diantara empat jari lainnyal

Lalu buntungan tangan yang tadi jelas-jelas dipotongnya sendiri? Rakai Kayuwangi memandang ke lantai batu. Astaga! Di lantai di mana seharusnya tergeletak dua buntungan jari tengah kedua tangannya kini

tergeletak dua potongan kayu!

"Dewa Maha Agung..."

Raja Mataram menatap ke arah anak lelaki yang duduk tenang di hadapannya malah tampak tersenyum.

"Yang Mulia, Yang Maha Kuasa menguji kita manusia dengan berbagai cara. Kadang-kadang tidak masuk akal. Yang Maha Kuasa telah mendengar permohonan Yang Mulia. Ketika memohon Yang Mulia tidak mengatakan minta keselamatan bagi diri Yang Mulia ataupun keluarga Yang Mulia. Tapi memohon dan mementingkan keselamatan rakyat dan Kerajaan. Yang Mulia telah membuka dua kunci pintu ruangan keramat. Sekarang baru saya berani mengatakan apa yang harus kita lakukan."

Raja Mataram rundukkan tubuh dan mengucapkan terima kasih berulang kali pada Yang Maha Kuasa dan pada anak lelaki di depannya.

"Yang Mulia, petunjuk dalam tapa mengatakan pada saya bahwa Yang Mulia harus mencari Empat Mayat Aneh yang terkubur dalam sebuah makam. Makam itu terletak di sekitar Candi Gedong Pitu yang dibangun oleh Sri Maharaja Mataram para pendahulu Yang Mulia. Dari Empat Mayat Aneh itulah kelak Yang Mulia akan mampu mengetahui dan mencari jalan bagaimana menyelamatkan rakyat dan Kerajaan. Tentu saja menyelamatkan pula keluarga serta para pengikut yang setia dan Yang Mulia sendiri."

"Terima kasih Ananda, saya tahu di mana letak Candi Gedong Pitu. Saya pernah satu kali diajak mendiang Ayahanda ke tempat itu. Mudah-mudahan saya masih ingat jalan ke situ." Rakai Kayuwangi terdiam sejurus. Lalu bertanya. "Ananda, saat ini sebenarnya kita berada di mana?" (Kawasan Candi Gedong Pitu terletak di desa Candi, kaki selatan Gunung Ungaran. Pada masa itu Raja-Raja Hindu di Jawa membangun tujuh candi agung. Itu sebabnya kawasan candi tersebut dinamakan Candi Gedong Pitu yang berarti Tujuh Bangunan Candi. Kemudian dibangun lagi dua buah candi baru dan sekarang kawasan tersebut dikenal dengan nama Candi Gedong Songo atau Sembilan Bangunan Candi-penulis)

"Yang Mulia, kita berada di bawah Pegunungan Oieng, pada lapisan tanah ke tiga..."

Sri Maharaja Mataram sampai ternganga mendengar ucapan Mimba Purana. Si anak tampak tenang-tenang saja.

"Yang Mulia, satu hal perlu saya beritahu. Makam Empat Mayat Aneh itu tidak terletak di tanah sekitar Candi Gedong Pitu, di kaki selatan Gunung Ungaran. Tapi tergantung di udara. Yang Mulia harus mampu menurunkannya ke tanah lalu baru bisa menggali. Satu hal lagi, ada kesulitan lain. Makam yang tergantung di udara itu tidak mampu dilihat dengan mata kasat biasa..."

"Ananda, kalau begitu penjelasan Ananda

apakah ada petunjuk lain yang bisa membantu saya menemukan makam empat mayat aneh itu. Ananda tahu, waktu yang ada sangat singkat..."

Mimba Purana mengangguk. Dua telapak tangan saling disatukan. Tak selang berapa lama dua tangan tampak memancarkan cahaya kuning. Lalu wuttl Sebuah benda melesat keluar diantara dua telapak tangan, berputar tiga kali di udara lalu melayang turun dan tersandar di dinding ruangan. Sri Maharaja memperhatikan keberadaan benda itu dengan mata tak berkesip. Seumur hidup baru sekali ini dia melihat benda seperti itu. Berbentuk kuda, lengkap dengan kepala dan buntut tapi tidak berkaki. Kuda-kuda ini terbuat dari kajang bambu yang dianyam halus, berwarna hitam dengan sepasang mata coklat besar. Pada bagian leher melingkar seutas tali kulit. Pada leher itu pula tergantung seuntai giring-giring atau kerincingan perak dan terselip satu cemeti kecil.

"Ananda, benda apa ini? Seumur hidup baru sekali ini saya melihat yang seperti ini. Apa kuda jejadian, tapi mengapa tidak berkaki..."

"Yang Mulia, benda yang tersandar di dinding itu disebut Kuda Lumping. Tidak berasal dari alam kita. Tapi berasal dari alam delapan ratus tahun dimuka kita..."

Rakai Kayuwangi bertambah heran.

"Keberadaan Kuda Lumping itu adalah atas kehendak Yang Maha Kuasa. Kuda Lumping itu akan menjadi tunggangan Yang Mulia menuju Gunung Ungaran dan selanjutnya menjadi penghubung antara Yang Mulia dengan beberapa mahluk tertentu, manusia, bangsa jin dan mahluk dalam alam roh lainnya..."

Kening Sri Maharaja mengerenyit. "Kuda mainan, kuda mati, tidak berkaki. Bagaimana mungkin..."

Mimba Purana si bocah sakti berjuluk Satria Lonceng Dewa tertawa. Lalu berkata.

"Bagi Yang Maha Kuasa tidak ada yang tidak mungkin. Tunggangi Kuda Lumping itu. Sangkutkan lingkaran tali di leher Yang Mulia. Dia tidak berkaki karena dia memang tidak berlari seperti kuda biasa. Pergunakan cemeti untuk memecut pinggulnya maka dia akan menerbangkan Yang Mulia secepat kilat menyambar. Bilamana Yang Mulia telah sampai di kawasan Candi Gedong Pitu, akan ada seseorang menemui Yang Mulia. Selanjutnya setelah Yang Mulia menemui Empat Mayat Aneh, tanggalkan giring-giring perak dari leher Kuda Lumping, digoyang-goyang sambil disapukan diatas wajah Empat Mayat Aneh. Maka dengan izin Yang Maha Kuasa ke empat mayat itu akan terbangun dari keleiapan tidur mereka di alam baka. Lalu dari merekalah Yang Mulia akan mendapat petunjuk lebih lanjut."

Mendengar ucapan Mimba Purana, Raja Mataram mengucap berulang kali menyebut Kebesaran Yang Maha Kuasa.

"Ananda, saya akan melakukan apa yang Ananda katakan.

Namun sebelum pergi ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Ketika saya dihadang oleh puluhan mahluk hitam bugil, Ananda telah menyelamatkan saya. Mengapa Ananda tidak terlebih dulu mengambil tindakan terhadap mereka? Bukankah mahluk seperti itu perlu dibasmi. Apa lagi saya yakin mereka ikut mengambil peranan jahat dalam bencana yang melanda Kerajaan dan rakyat Mataram. Siapa puluhan mahluk itu sebenarnya?"

"Mereka dikenal dengan nama Seratus Jin Perut Bumi. Mereka diam di hutan Mentaok. Walau mereka jahat ganas tapi saya punya kendala. Para Dewa tidak memberi izin saya untuk menghabisi mereka. Saya tidak menerima tanda berupa bunyi suara lonceng di dalam kepala saya. Karena sebenarnya mereka dahulu adalah yang termasuk jin putih dan pernah berbakti pada para sepuh Raja Raja Mataram. Sekarang mereka berada dibawah satu kekuasaan mahluk jahat.."

"Delapan Sukma Merah?" tanya Raja Mataram pula.

"Tidak bisa diduga," jawab Mimba Purana. "Namun Para Dewa menginginkan agar mereka disadarkan. Itu menjadi tugas saya. Mudah-mudahan Yang Mulia bisa membantu..."

"Ananda, menurutmu apakah Delapan Sukma Merah ini ada sangkut pautnya dengan orang yang menyebut dirinya sebagai Sri Maharaja Ke Delapan yang melakukan pemberontakan beberapa tahun silam?"

"Saya tidak bisa memastikan Yang Mulia. Tapi yang namanya dendam kesumat itu bisa saja muncul dalam berbagai bentuk ketika melakukan pembalasan. Karenanya kita harus waspada dan berhati-hati..."

Rakai Kayuwangi mengusap dagu lalu bertanya.

"Mengenai Keris Kanjeng Sepuh Pelangi, apakah saya akan mampu mendapatkannya kembali? Lalu siapa yang telah menculik Empu Semirang Biru dan bagaimana keadaannya...?"

"Saya berharap jika Yang Mulia telah bertemu dengan Empat Mayat Aneh, semua pertanyaan Yang Mulia akan terjawab."

"Terima kasih Ananda. Rasanya saya harus pergi sekarang juga." Kata Rakai Kayuwangi.

"Benar Yang Mulia, Yang Mulia harus segera pergi. Namun ada sesuatu yang akan saya berikan pada Yang Mulia."

Mimba Purana bangkit dari duduknya lalu melangkah mendekati Sri Maharaja Mataram. Tangan kanan menggenggam dan tangan itu tampak mengeluarkan cahaya putih. Ada sesuatu dalam genggaman si bocah sakti. Tangan diulurkan pada Rakai Kayuwangi yang cepat disambut oleh sang Raja dengan mengulurkan tangan kanan dan membuka telapak lebar-lebar. Mimba Purana buka genggaman tangan kanan, letakkan sebuah benda di atas telapak tangan kanan Sri Maharaja Mataram. Ketika sang Raja memperhatikan benda yang ada di telapak tangannya itu ternyata sebuah batu tipis berwarna putih berbentuk segi tiga. Pada ujung kiri segi tiga terdapat guratan angka 2 berwarna biru. Di ujung segi tiga sebelah atas tertera angka 1, juga berwarna biru. Lalu pada ujung segi tiga sebelah kanan ada lagi angka 2 berwarna biru.

"Batu putih berangka Dua Satu Dua. Apa artinya ini, Ananda? Apa kegunaannya?" tanya Raja Mataram.

"Yang Mulia, simpan batu itu baik-baik. Jangan sampai hilang. Kelak batu itu akan menjadi tanda pengenal bagi seseorang yang datang dari negeri delapan ratus tahun mendatang, yang akan menemui Yang Mulia. Yang dengan izin Yang Maha Kuasa akan menolong Yang Mulia, Kerajaan dan rakyat Mataram... Yang Mulia, kita berpisah sampai di sini. Semoga Yang Maha Kuasa melindungi kita semua..."

"Seseorang dari negeri delapan ratus tahun mendatang akan memberi pertolongan. Apakah tidak ada orang di Bhumi Mataram ini yang berkemampuan melakukan hal itu? Bagaimana mungkin orang yang masih belum ada dimintakan pertolongannya? Ananda, maafkan saya. Tapi saya benar-benar tidak mengerti."

"Yang Mulia," sahut Mimba Purana, "kekuasaan Yang Maha Kuasa terkadang tidak bisa diterima akal kita bangsa manusia. Tapi siapakah yang berani membantah? Selain Kuasa, Dia juga Maha Mengetahui apa-apa yang ada di dalam hati kita, apa-apa yang telah terjadi di masa lalu dan apa-apa yang akan terjadi sekalipun di masa ribuan tahun mendatang. Yang Mulia boleh merasa ragu akan kemampuan manusia termasuk diri saya. Tapi jangan sekali-kali meragukan kemampuan Yang Maha Agung, Yang Maha Kuasa..."

Seiring dengan berakhirnya ucapan, anak leiaki dua beias tahun itu lenyap dari pemandangan, meninggalkan selubung cahaya kuning yang menebar bau harum untuk beberapa lamanya. Rakai Kayuwangi menghela nafas panjang berulang kali sambil menyebut nama Yang Maha Kuasa. Lalu dia melangkah mendekati Kuda Lumping yang tersandar di dinding ruangan. Setelah memperhatikan dan mengusap-usap benda itu, punggung dan tubuh Kuda Lumping diletakkan di antara kedua kakinya. Lingkaran tali disangkutkan ke leher. Cemeti dicabut lalu dicambukkan ke pinggul Kuda Lumping sebelah kanan.

"Taarrr!"

Sri Maharaja Rakai Kayuwangi tercekat.

Suara menggeledek membahana dalam ruangan batu. Dikejauhan terdengar suara kuda meringkik. Giring-giring di leher Kuda Lumping berbunyi nyaring.

Wuttt! Saat itu juga Kuda Lumping melesat ke udara, menembus atap ruangan bersama Raja Mataram Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala yang da di atas punggungnya!9DALAM serial sebelumnya yang berjudul "Malam Jahanam Di Mataram" diceritakan Pendekar 212 Wiro Sableng bertemu dengan seorang gadis usia empat belas tahun, bernama Ni Gatri anggota pemain rombongan Kuda Lumping Cahaya Utara. Ketika tengah mengadakan pertunjukan di sebuah pasar di Demak Ni Gatri hampir celaka bahkan tewas akibat perbuatan jahat seseorang yang berada di antara para penonton. Wiro yang ikut berkerumun dEanfaraorafig banyak menyaksikan pertunjukan berhasil menyelamatkan si gadis.

Di balik kejadian Itu ternyata pembunuhan terhadap Ni Gatri memang sudah direncanakan oleh mahluk alamroh yang telah sejak lama mengikuti si gadis. Di saat yang bersamaan ada roh putih seorang kakek memasuki tubuh si gadis sehingga Ni Gatri berperi laku aneh dan bicara dengan suara mahluk yang ada dalam tubuhnya yaitu suara si kakek. Saat itu Ni Gatri mengeluarkan ucapan aneh menyangkut diri Wiro."Kau... Akhirnya kutemui juga dirimu... Ki Sugeng saya memang tidak mengenal pemuda ini. Tapi saya yakin dialah orangnya."

Di pasar itu ada seorang kakek berdestar merah yang dibentak oleh Ni Gatri dengan suara anehnya."Kaulah pembawa roh jahat itu! Kau yang hendak memasukkan angkara murka ke dalam tubuhku. Tapi Dewa Penguasa Jagat melindungi diriku, menghancurkan kejahatanmu! Sekarang tinggalkan tempat ini atau kau akan kujadikan mahluk paling hina di muka bumi ini!"

Sewaktu Wiro meninggalkan pasar, Ni Gatri melarikan diri dari rombongan dan pergi mengejar Wiro. Dalam usahanya mencari Wiro gadis ini dikejar oleh seekor anjing buduk jejadian yang memiliki delapan benjolan merah di kepala. Binatang ini jelas hendak membunuh si gadis. Kembali Wiro menyelamatkan Ni Gatri. Anjing hitam dihajar dengan pukulan Tangan Dewa Menghantam Matahari hingga kepalanya hancur. Sosok anjing berubah menjadi kepulan asap merah yang kemudian melesat lenyap ke udara. Di tempat itu lalu muncul samar sosok seorang lelaki tua berpakaian hitam. Di keningnya ada delapan benjolan merah. Sebelum lenyap orang tua ini berkata pada Wiro. "Anak. muda, jangan pernah mengira kalau aku sudah menemui ajal! Delapan Sukma Merah tidak pernah mati! Ha... ha... ha!"

Yang membuat murid Sinto Gendeng jadi bingung adalah ketika Ni Gatri menyatakan bahwa dia ingin ikut ke mana Wiro pergi. Dia tidak mau kembali ke rombongan pemain Kuda Lumping karena takut akan diperlakukan mesum oleh pimpinan rombongan yang bernama Ki Sugeng Jambul. Karena merasa ada sesuatu yang aneh dalam diri Ni Gatri yang berhubungan dengan dirinya Wiro akhirnya mengajak gadis belia itu ke Kotaraja untuk dititipkan pada seorang sahabat. Dia merasa hiba dan sekaligus bertanggung jawab kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk dengan Ni Gatri.

Mereka memasuki pinggiran Kotaraja sebelah barat menjelang senja. Sahabat yang dimaksudkan Wiro adalah sepasang kakek nenek yang dikenal dengan panggilan Kakek dan Nenek Pringkun. Kedua suami istri yang tidak punya anak ini bekerja sebagai abdi dalem di Keraton Sultan. Sekali seminggu mereka pulang ke rumah mereka di pinggiran Kotaraja.

Kakek-nenek Pringkun selain terkejut melihat kedatangan Wiro yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ditemui sekaligus merasa gembira mengetahui bahwa Pendekar 212 datang membawa seorang gadis belia ayu. Sambil membelai kepala Ni Gatri Kakek Pringkun berkata.

"Pendekar, kami berdua tentu saja sangat bahagia ketitipan Ni Gatri. Puluhan tahun kawin tidak punya keturunan. Hari ini Dewa Agung mengulurkan tangan Kasih memberikan seorang gadis pada kami. Namun mungkin Ni Gatri belum berjodoh dengan kami..."

"Apa maksud Ki Pringkun?" tanya Wiro yang biasa memanggil si kakek dengan sebutan Ki.

Kakek Pringkun menatap wajah istrinya yang tampak seperti sedih. Baru kemudian dia menjawab pertanyaan Wiro.

"Kedatangan Ni Gatri sudah diketahui Raden Mas Jonggrang Pringgo. Beliau sejak sore tadi sudah menunggu. Saat ini beliau berada di halaman belakang. Seperti kami berdua beliau juga tidak punya keturunan..."

Wiro merasa heran. Sementara mendengar kata-kata si kakek Ni Gatri langsung memegang lengan Wiro.

"Kakak, Gatri suka tinggal di sini bersama kakek-nenek ini. Tapi kalau ikut orang yang bernama Raden Mas Jonggrang Pringgo itu Gatri tidak mau. Gatri mau ikut Kakak saja."

"Ni Gatri, kau tentu saja belum tahu siapa adanya Raden Mas Jonggrang Pringgo. Nanti kau lihat sendiri. Orangnya baik, istrinya juga baik." Berkata nenek Pringkun.

Sebagai jawaban Ni Gatri menggelengkan kepala berulang kali sementara kedua matanya mulai merebak berkaca-kaca.

"Ki Pringkun, siapa adanya orang bernama Raden Mas Jonggrang Pringgo itu?" Bertanya murid Sinto Gendeng.

"Beliau seorang bangsawan, tinggal di Kotaraja, tak jauh dari kawasan Keraton. Masih punya pertalian darah dengan salah seorang istri Pangeran Kerajaan. Nasib anak ini benar-benar cemerlang. Dia akan bahagia tinggal bersama Raden Mas Jonggrang Pringgo..."

Wiro memandang pada Ni Gatri. Si anak kembali geleng-gelengkan kepala. Kakek Pringkun lantas berkata.

"Karena Raden Mas Jonggrang sudah ada sejak petang tadi berada di rumahku, dan kalian berdua sudah datang, tidak baik membiarkan

beliau menunggu berlama-lama. Baiknya aku perkenalkan kalian berdua dengan beliau."

"Ki Pringkun, tunggu dulu. Bagaimana Raden Mas Jonggrang tahu kalau gadis ini akan datang ke sini hari ini?" Murid Sinto Gendeng kembali ajukan pertanyaan.

"Pendekar, sudahlah. Simpan dulu pertanyaanmu. Mari kita menemui bangsawan yang baik hati itu." Kakek Pringkun lalu menarik tangan Wiro sementara istrinya menuntun Ni Gatri membawa mereka masuk ke dalam rumah terus menuju ke halaman belakang di mana terdapat sebuah taman kecil.

Di dalam taman kecil dan sederhana di atas sebuah tonggak batu yang dibentuk menyerupai bangku, duduk seorang lelaki berbadan gemuk, berperut buncit. Kumis dan janggut tebal menghias wajah yang berminyak. Pakaian mewah, kalung bersusun sampai tiga. Di atas kepala bertengger topi tinggi hitam bersulam benang emas. Sebilah keris bersarung perak terselip di pinggang.

Sambil setengah membungkuk Kakek Pringkun berkata. "Raden Mas Jonggrang, Raden Mas ternyata betul. Ini gadis bernama Ni Gatri yang Raden Mas katakan itu..."

Orang bernama Raden Mas Jonggrang berdiri dan tersenyum lebar. Namun Wiro melihat senyum itu menjadi berubah pencong ketika pandangan sepasang mata mereka saling beradu.

"Kakak, saya tidak mau ikut orang buncit itu..." Berkata Ni Gatri sambil memegang Wiro kuat-kuat.

"Ni Gatri, jangan bicara seperti itu." Berkata Nenek Pringkun.

Raden Mas Jonggrang Pringgo tertawa gelak-gelak. Wiro merasa suara tawa itu membuat tanah yang dipijak bergetar.

"Hemm... Raden Mas ini agaknya sengaja hendak memperlihatkan kehebatan tenaga dalamnya. Apa maksudnya...?" Membatin Pendekar 212 dalam hati.

"Anak ini takut melihat perut buncitku! Ha... ha... ha! Tak jadi apa. Ki Pringkun kereta yang akan menjemputku agaknya terlambat datang. Biar aku langsung saja membawa gadis ini..."

Sementara Raden Mas Jonggrong Pringgo bicara Wiro memperhatikan. Dalam hati dia berkata.

"Aku merasa ada yang aneh pada orang satu ini. Tapi aku tidak bisa memastikan apa. Topi dan pakaiannya bagus. Kasut juga bagus.

Dua kaki menginjak tanah pertanda dia memang manusia benaran adanya. Janggut dan kumis tebal melintang, terpelihara rapi. Tapi..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.166.174.48
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia