Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : DI NEGERI TIONGKOK/CHINA

DI BAWAH pemerintahan Cu Goan Ciang yang berhasil mengusir kaum penjajah Mongol didirikanlah kerajaan Tiongkok baru yang diberi nama Kerajaan Beng. Sebagai raja Cu Goan Ciang lebih dikenal dengan sebutan Kaisar Thaycu.

Ibukota kerajaan yang dulu terletak di Peking (Ibukota Utara) dipindahkan ke Nanking (Ibukota Selatan). Hal ini dimaksudkan untuk mencegah segala kemungkinan serangan tak terduga dari bangsa Mongol.

Di samping itu sejumlah balatentara besar ditempatkan di Peking dan sebagai panglima tertinggi di Peking merangkap wakil langsung Kaisar di Nanking, oleh Kaisar Thaycu diangkatlah putera kandungnya yang bernama Cu Yung Lo.

Sebelum meninggal dunia Kaisar Thaycu yang bertahta di istana Nanking mengangkat Hui Ti sebagai penggantinya. Hui Ti adalah cucu yang amat disayangi Kaisar, merupakan putera dari anak sulungnya, jadi adalah keponakan langsung Pangeran Yung Lo.

Pengangkatan Hui Ti sebagai Kaisar baru inilah yang kemudian menjadi pangkal silang sengketa dan malapetaka dalam Kerajaan Beng. Sebagai anak kandung atau putera Kaisar Thaycu, Pangeran Yung Lo merasa lebih berhak untuk menjadi Kaisar dibanding dengan Hui Ti yang hanya seorang cucu. Hal ini kemudian berubah menjadi pertentangan dan perpecahan dan pada puncaknya mengakibatkan perang saudara yang hebat.

Pangeran Yung Lo dengan sejumlah balatentara besar menyerbu Nanking. Peperangan tak dapat dihindar dan peperangan ini bertambah dahsyat karena tidak saja melibatkan balatentara kedua belah pihak tetapi juga melibatkan banyak tokoh-tokoh dunia kangouw (persilatan)

Pihak Selatan dengan mati-matian berusaha mempertahankan diri dari serbuan yang hebat itu. Namun segala upaya sia-sia belaka. Balatentara Pangeran Yung Lo laksana air bah. Selatan kalah, Nanking jatuh dan Kaisar Hui Ti tertawan hidup-hidup. Dia dijebloskan ke dalam penjara, masih untung tidak dijatuhi hukuman gantung atau pancung.

Meskipun kemudian perang sudah lama berakhir, tetapi keamanan negeri tidak keseluruhannya dapat ditanggulangi. Di mana-mana sisa-sisa pasukan yang masih setia pada Kaisar Hui Ti mengadakan kekacauan, menimbulkan kerusuhan-kerusuhan, perampokan dan pembunuhan. Pospos tentara yang tak begitu kuat dan terutama yang terletak di tempat terpencil menjadi korban penyerbuan.

Dalam suasana Kerajaan Beng seperti scat itulah terjalinnya kisah silat ini.

***SUATU HARI, sebulan setelah Kaisar Hui Ti ditumbangkan, serombongan pasukan Kerajaan di bawah pimpinan seorang perwira muda berkepandaian tinggi tampak bergerak meninggalkan Nanking. Mereka tengah mengawal sebuah kereta berisi emas milik bekas Kaisar Hui Ti untuk di bawa ke Peking atas perintah Kaisar Yung Lo.

Dua hari berlalu. Rombongan telah jauh meninggalkan Nanking namun Peking yang menjadi tujuan masih amat jauh di sebelah Utara.

Karena matahari tidak bersinar terlalu terik dan angin sejuk bertiup sepanjang perjalanan, kusir kereta memegang tali les sambil bernyanyi kecil. Di sebelahnya duduk seorang, pengawal berusia agak lanjut tetapi memiliki ilmu silat bukan sembarangan, bahkan kepandaiannya setingkat lebih tinggi dari perwira muda yang menjadi pimpinan rombongan itu. Pengawal tua ini bernama Thian Gay dan dikenal dengan julukan Thian Gay Si Tangan Baja.

Di sebelah depan kereta yang membawa emas dan juga di sebelah belakang terdapat masingmasing enam orang pengawal hingga keseluruhan rombongan berjumlah 15 orang. Karena mereka membawa emas yang tak ternilai harganya maka keberangkatan rombongan ini sangat dirahasiakan.

Sampai hari ke tiga perjalanan berjalan lancar tanpa suatu halangan. Akan tetapi pada hari ke empat, sewaktu rombongan mengambil jalan memotong terdekat memasuki sebuah hutan di kaki bukit terjadilah hal yang mengejutkan. Jalan di hadapan perwira muda pemimpin rombongan tibatiba saja runtuh amblas! Ternyata di situ telah digali sebuah lobang besar yang diganjal dengan ranting-ranting kecil dan kemudian ditutup kembali baik-baik dengan tanah serta dedaunan.

Tak ampun lagi kuda yang ditunggangi sang perwira, termasuk enam pengawal di belakangnya terperosok dan terjebak masuk ke dalam lobang yang dalamnya hampir lima kaki. Jika enam pengawal berseru kaget kalang kabut maka perwira muda tadi masih dapat menguasai diri. Dengan sikap tenang tapi gesit danmengandalkan gingkangnya (ilmu meringankan tubuh) yang lihay dia melesat dari punggung kuda. Sebelum kedua kakinya menginjak tanah, tiba-tiba telinganya menangkap suara berdesing. Menyusul kemudian terdengar jerit kematian yang mengerikan!

Enam pengawal yang barusan berhamburan masuk lobang bersama beberapa ekor kuda tunggangan mereka, menggapai-gapai mencoba keluar dari lobang tersebut. Ada yang patah tulang bahu, tulang kaki atau tangan. Dalam keadaan seperti itu, belum mampu mereka keluar dari lobang, selusin golok terbang menderu, menancap di dada, ada yang di leher atau perut, bahkan ada yang menancap di kening, membuat ke enam pengawal itu roboh, mengerang sebentar lalu mati!

Kuda-kuda yang meringkik hingar bingar juga ikut menjadi korban golok-golok terbang yang ganas itu.

Akan keadaan kereta pembawa emas, bila saja kusir tidak cepat menahan tali kekang, pastilah kereta itu akan ikut menghambur terperosok masuk ke dalam lobang. Orang tua di samping kusir kelihatan kerenyitkan kulit kening. Lalu dia keluarkan seruan keras.

"Semua siap sedia! Ada tangan-tangan jahat yang menjebak kita di tempat ini!" Selesai berteriak tangan kanannya lalu dihantamkan ke atas, ke arah sebatang pohon besar.

"Bangsat yang berani berlaku kurang ajar tunjukkan tampang-tampang kalian!"

Serangkum angin menderu keluar dari tangan Thian Gay Si Tangan Baja dan krak! Batang pohon di sebelah atas patah. Cabang dan ranting-ranting serta dedaunan melayang gugur. Detik itu pula terdengar suara tertawa bekakakan yang menggetarkan seantero hutan dan membuat bergemetarnya mereka yang mendengar.

Lima sosok tubuh berkelebat dari atas pohon yang tumbang dan serentak dengan itu enam batang golok terbang bersiuran ke arah Thian Gay!

Karena tidak menduga akan mendapat serangan mendadak begitu rupa sedangkan dia baru saja melepas pukulan, Thian Gay menjadi cukup kaget. Dua golok terbang dihantamnya dengan tangan kanan. Begitu tangan kanannya beradu dengan golok-golok olah dua golok tadi melabrak baja dan patah. Tak percuma dia mendapat julukan Si Tangan Baja.

Dengan menjatuhkan diri ke samping dua buah golok lainnya berhasil dielakkan. Golok kelima dapat ditangkis dengan tendangan tepat pada gagang golok. Namun serangan golok ke enam agak terlambat dikelitnya. Bret! Bagian tajam golok merobek bahu pakaiannya, melukai daging tubuh di bagian itu. Paras Thian Gay berubah. Jika dia masih dapat dihantam oleh senjata lawan yang keenam sudah dapat dipastikannya bahwa penyerang bukan manusia tingkat rendahan.

Mengingat tanggung jawabnya dalam pengawalan kereta Thian Gay tak mau berlaku ayal. Dia melirik pada perwira muda di sampingnya yang saat itu sudah cabut pedang dan tengah menghadapi lima manusia yang baru saja melayang turun dari atas pohon. Kelimanya berjubah hitam. Empat berambut gondrong awut-awutan Sedang yang kelima berkepala botak berkilat. Tampang mereka buas seperti singa lapar, penuh berewok dan menyeramkan. Pandangan mata mereka membersitkan kegarangan, haus darah dan maut!

Lelaki gondrong yang tegak paling ujung sebelah kanan keluarkan suara tertawa. Tubuhnya tinggi kurus. Seputar pinggang jubahnya melilit belasan golok terbang. Bila dia bergerak senjatasenjata itu bergesekan dan mengeluarkan suara gemerisik menggidikkan. Manusia ini dikenal dengan panggilan Gui-kun Kui-to alias Gui Kun Si Golok Iblis. Dialah tadi yang telah melemparkan golokgolok terbang merenggut nyawa enam pengawal dan juga menyerang Thian Gay.

Di sebelah Gui-kun Kui-to berdiri kambratnya yang memiliki rambut merah gondrong paling panjang menyela sampai ke punggung. Rambut ini bukan sembarang rambut karena bisa dipergunakan sebagai senjata maut! Rambutnya inilah yang membuat dia mendapat julukan Iblis Rambut Merah atau Ang-mo It-kui.

Orang yang ketiga berdiri sambil rangkapkan tangan di depan dada. Kepalanya botak licin dan berkilat. Tubuhnya pendek gemuk. Dia terkenal dengan panggilan Tiat-thou-kui atau Iblis Kepala Besi. Kalau kawannya tadi mengandalkan rambut sebagai senjata maka yang satu ini mengandalkan kepalanya sebagai senjata maut. Boleh dikatakan sebagian besar musuhnya menemui kematian di tanduk atau disodok dengan kepalanya yang botak keras laksana bola besi itu!

Manusia berjubah hitam yang keempat tegak dengan sikap angker, lebih seram dari yang lainlainnya. Tubuhnya paling tinggi dan paling besar. Dialah yang dikenal dengan gelaran Nan-king Kuiong atau Raja Iblis dari Nanking. Dan dialah yang menjadi pimpinan dari semua manusia-manusia seram itu.

Orang terakhir berdiri di ujung kiri. Dia bertubuh katai. Sepuluh kuku tangannya panjangpanjang dan berwarna hitam. Inilah Tui-hun Hui-mo alias Iblis Pengejar Maut!

Thian Gay Si Tangan Baja memandang dengan mata terpentang lebar pada kelima manusia berjubah itu. Dia berusaha menekan debaran jantungnya.

"Nan-king Ngo-kui ... " desisnya membisiki perwira muda yang tegak di sebelahnya.

Mendengar bisikan itu berubahlan paras si perwira yang bernama Ex Cu Liong. Sedang enam pengawal lainnya begitu mendengar siapa manusia-manusia yang ada di depan mereka jadi bergetar lutut masing-masing dan paras mereka laksana kain kafan.

Siapa yang tidak kenal dengan Nan-king Ngo-kui atau Lima Iblis dari Nanking. Lima datuk iblis golongan hitam yang berkepandaian tinggi. Pada masa perang saudara dulu mereka dikenal sebagai pembantu utama Kaisar Hui Ti. Begitu perang berakhir dan Hui Ti ditawan, kelimanya melenyapkan diri. Tahu-tahu kini muncul dalam keadaan begitu rupa. Melihat cara mereka muncul dengan menyebar maut, jelas kelimanya mempunyai maksud jahat dan keji.

Diam-diam Thian Gay mengeluh. Meskipun perwira Cu Liong berkepandaian tidak rendah akan tetapi menghadapi lima manusia iblis itu sama saja dengan usaha hendak lolos dari lubang jarum. Jago tua Thian Gay sudah mencium maut kematiannya sendiri!



***



KALAU tadi perwira muda Cu Liong hendak naik pitam melihat kematian enam anak buahnya, kini setelah mengetahui siapa adanya lawan yang dihadapi mau tak mau dia harus menekan amarah dan tidak boleh bertindak gegabah. Cu Liong membuka mulut.

"Sungguh tidak disangka hari ini kami akan bertemu dengan Nan-king Ngo-Kui yang terkenal. Mengingat perang telah lama usai dan pihak Pemerintah juga tidak pernah mengutik-utik diri ngo-wi locianpwe sekalian meskipun dulu diketahui ngo-wi membantu pemberontak Hui Ti, maka adalah menjadi tanda tanya bagi kami mengapa hari ini begitu muncul ngo-wi langsung menjatuhkan tangan maut pada anak-anak buahku yang tidak berdosa?"

Gui-kun Kui-to, orang ke lima dalam urutan lima manusia iblis itu batuk-batuk beberapa kali lalu menyahuti.

"Perwira anjing peliharaan Yung Lo! Kau dengarlah baik-baik. Perang memang sudah lama selesai tetapi akibatnya masih tetap akan terasa, malah mungkin lebih hebat dari peperangan itu sendiri!

Kau menyebut Kaisar Hui Ti sebagai pemberontak. Kotor dan lancang sekali mulutmu. Kaisar Thaycu sendiri yang mengangkatnya untuk menduduki tahta kerajaan Beng. Dan si Yung Lo yang temahak busuk itulah yang telah melakukan pengkhianatan, memberontak! Sekarang kalian sebagai kaki tangan Yung Lo keparat itu boleh merasa menang. Tapi ingat, akan datang harinya kalian akan menerima pembalasan!"

Merah paras perwira Cu Liong yang dimaki anjing.

"Memandang nama besar ngo-wi sekalian aku masih mau memberi maaf atas kata-kata yang bersifat menghina diriku. Tapi penghinaan kurang ajar terhadap Kaisar Yung Lo benar-benar tak bisa diberi ampun!"

"Oh begitu?" ujar Gui-kun Kui-to.

Si botak Tiat-thou-kui menimpali. "Kalau tak bisa diberi ampun, lalu apakah kau akan menangkap kami berlima?" Habis bertanya begitu si botak lantas tertawa mengejek.

"Rasanya belum terlambat bagi kalian berlima untuk kembali ke jalan benar. Bila kalian bersedia ikut ke Kotaraja menghadap Kaisar Yung Lo, aku bersedia memintakan ampun bagi kalian dan bukan mustahil Kaisar mau mengambil kalian-kalian sebagai pembantu-pembantunya... "

"Dijadikan anjing peliharaannya seperti dirimu?" tukas Tiat-thou-kui pula dan bersama kawankawannya dia tertawa gelak-gelak.

Thian Gay Si Tangan Baja yang sejak tadi bungkam mendehem beberapa kali lalu berkata, "Memang tak mungkin bagi kami memaksa ngo-wi ikut ke Kotaraja. Sebaiknya lupakan saja apa yang barusan kita perbincangkan dan sekarang masing-masing kita sama meninggalkan tempat ini dengan aman."

Cu Liong hendak membuka mulut membantah ucapan Thian Gay itu. Mana mungkin kematian enam anak buahnya dapat dilupakan begitu saja. Bagaimana pertanggunganjawabnya nanti terhadap atasannya di Kotaraja? Namun ketika melihat isyarat mata yang diberikan Thian Gay terpaksalah perwira muda ini membatalkan niatnya.

"Tua bangka Thian Gay, kau memang pandai bicara," berkata Nan-king Kui-ong, pentolan kepala lima manusia iblis itu. "Tetapi kenapa kau dan orang-orangmu buru-buru hendak pergi?"

Saat itu Thian Gay sudah membalikkan diri melangkah mendekati kereta. Langkahnya tertahan.

Dalam batin dia bertanya apakah manusia-manusia iblis itu sudah mengetahui apa isi kereta? Di dengarnya suara Nan-king Kui-ong kembali, "Bagus kalau kau mau melupakan apa yang telah terjadi.

Sekarang bagaimana kalau kau dan perwira muda ini masuk saja ke pihak kami?!"

"Siapa sudi!" bentak Cu Liong dengan keras.

Sebaliknya Thian Gay menjawab dengan bijaksana. "Tawaranmu itu biarlah kupertimbangkan dulu. Nanti kukirim orang untuk menemui kalian berlima."

"Eh, mana bisa begitu aturannya," kata Ang-mo It-kui, orang keempat dari Lima Iblis. "Tanya sekarang harus jawab sekarang!"

Thian Gay jadi serba salah. "Maaf, kalau kalian keliwat memaksa, mana mungkin ... "

Ang-mo It-kui berpaling pada Nan-king Kui-ong. "Kalau begitu kita tak perlu bicara panjang lebar lagi dengan cecunguk-cecunguk ini!"

Nan-king Kui-ong menyeringai lalu mengangguk dan berkata: "Bunuh mereka. Semua!"

Maka Ang-mo It-kui lantas maju menerjang Cu Liong sedang Gui-kun Kui-to menyerbu ke arah Thian Gay Si Tangan Baja.

"Hai apakah kalian tidak akan membantu tuan-tuan besar kalian?" berteriak Tui hun Hui mo pada enam pengawal yang masih tegak tertegun di depan kereta.

Para pengawal mengerti kalau mereka tak bakal hidup lama. Memikir sampai di situ rasanya saat itu mereka mau ambil langkah seribu. Namun mengingat tugas dan pengabdian terhadap Kaisar, keenamnya memutuskan untuk cabut senjata dan bergerak maju membantu Cu Liong serta Thian Gay.

Sambil tertawa mengekeh Tui-hun Hui-mo jentikkan kuku-kuku jarinya yang panjang dan berwarna hitam. Lima pengawal menjerit lalu roboh bergelimpangan kena sambaran lima larik sinar hitam yang keluar dari ujung-ujung kuku Tui-hun Hui-mo alias Iblis Pengejar Maut. Pengawal yang keenam bernasib lebih buruk. Tubuhnya mencelat dimakan tendangan manusia iblis itu hingga dadanya hancur. Sementara itu perkelahian antara Gui-kun Kui-to Si Golok Iblis berkecamuk melawan Thian Gay dengan hebatnya. Satu kali lengan mereka saling beradu keras. Thian Gay Si Tangan Baja tersurut empat langkah sedang Gui-kun Kui-to terpental tiga langkah dan lengannya terasa seperti hancur. Daging lengan di bagian yang beradu kelihatan membengkak merah kebiruan.

Nyatanya julukan Si Tangan Baja yang dimiliki Thian Gay bukan julukan kosong. Pukulannya datang bertubi-tubi membuat Gui-kun Kui-to jago kelima dari Nan-king Ngo-kui harus mengeluarkan kegesitannya berkelebat kian kemari untuk mengelakkan serangan lawan. Menangkis kini dia tak berani. Sekali salah satu bagian tubuhnya kena dihantam tangan lawan pasti celaka.

Setelah dua puluh jurus masih saja dia menjadi bulan-bulanan serangan lawan, Gui-kun Kui-to jadi penasaran. Tanpa malu-malu dia menghunus golok besar yang terselip di pinggang kirinya. Sekali dia memutar senjata itu, anginnya saja membuat Thian Gay harus bertindak waspada. Dengan golok di tangan tampaknya Gui-kun Kui-to berhasil menahan serangan tangan kosong lawan. Merasa mulai berada di atas angin manusia iblis ini lancarkan serangan-serangan ganas.

Namun satu kali sewaktu tubuhnya kehilangan keseimbangan karena begitu bernafsu membacok dan ternyata hanya menghantam tempat kosong, dari samping Thian Gay memukul badan golok hingga senjata itu terlepas mental dan patah dua!

Gui-kun Kui-to bersurut mundur.

Melihat hal ini Nan-king Kui-ong segera berteriak, "Tiat-thou-kui! Kau bantulah Gui Kun!"

Tiat-thou-kui, orang ketiga dari Nan-king Ngo-kui yang berkepala botak itu menggerang. Dia usap-usap botaknya sambil bergerak memasuki kalangan perkelahian. Di saat yang sama Gui-kun Kui-to kembali maju. Dan kini terjadilah perkelahian dua lawan satu. Dikeroyok begitu rupa mulamula Thian Gay bisa bertahan beberapa jurus. Namun kemudian dia mulai tampak terdesak.

Selain memiliki pukulan-pukulan tangan kosong yang deras Iblis Kepala Besi itu ternyata amat berbahaya kepalanya yang botak. Thian Gay sudah pasang tekad. Kalaupun dia menemui ajal di tangan pengeroyok, paling tidak salah satu lawannya harus ikut mati bersamanya. Namun tekadnya itu sama sekali tidak menjadi kenyataan. Karena beberapa saat kemudian, dalam satu jurus yang hebat, selagi dia berusaha mengelakkan pukulan dan tendangan Gui-kun Kui-to, tahu-tahu dari samping Tiat-thou-kui kirimkan satu serangan ganas. Kepalanya yang lebih keras dari besi melesat ke dada Thian Gay. Jago Kaisar ini berusaha mengelak sambil memukul kepala lawan dengan tangan kanannya. Dia begitu yakin bahwa tangannya yang atos akan sanggup menghancurkan kepala lawan. Mana mungkin besi bisa menang lawan baja!

Tetapi sesaat lagi ubun-ubun Tiat-thou-kui akan kena digeprak, seperti seekor ular kobra tahutahu kepala manusia iblis itu melesat ke bawah, menyelusup menghantam perut Thian Gay.

Thian Gay Si Tangan Baja terdengar menjerit. Tubuhnya mencelat jauh. Terhampar di tanah tanpa bergerak dan tak bernyawa lagi. Mati dengan perut pecah!

Sambil bersihkan darah yang mengotori kepala botaknya Tiat thou kui tertawa gelak-gelak.

Sementara itu perkelahian antara Iblis Rambut Merah alias Ang-mo It-kui melawan perwira muda Cu Liong telah memasuki jurus ke 29. Meski sang perwira memegang pedang dan mengurung lawan dengan serangan menderu-deru namun sebegitu jauh pedangnya masih belum mampu menyentuh tubuh lawan. Sebaliknya setiap kali Ang-mo It-kui menggoyangkan rambutnya maka menghamburlah angin serangan yang berbahaya dan rambut panjang manusia iblis ini seolah-olah berubah menjadi pedang yang memapas atau menusuk dan membuat Cu Liong terkesiap.

"Ang-mo It-kui!" terdengar seruan Nan-king Kui-ong, pimpinan dari lima manusia iblis itu.

"Jangan beri malu nama besar Nan-king Ngo-kui. Masakan menghadapi cacing tanah yang masih ingusan begitu saja kau tak sanggup membereskannya dengan cepat?"

Mendengar teguran itu Ang-mo It-kui menjawab, "Harap maafkan pangcu. Bukan maksudku untuk main-main. Tapi tubuh ini sudah lama tidak bergerak badan. Aku ingin mencari sedikit kesegaran. Tapi baiklah. Kau lihatlah ini!" (pangcu = ketua/pemimpin)

Habis berkata begitu Ang-mo It-kui mengeluarkan suara tertawa aneh. Kepalanya digoyangkan. Sebagian rambutnya yang menyela bahu melesat ke depan membelit pedang Cu Liong yang datang menyambar. Perwira Kerajaan ini coba menarik pedangnya. Dia jadi terkejut. Karena semakin ditarik, semakin kuat libatan rambut merah itu!

Ang-mo It-kui menyentakkan rambutnya. Cu Liong berusaha mempertahankan pedang. Tapi dia kalah kuat. Tubuhnya terbetot ke depan. Detik itu pula gerombolan rambut yang lain dari Ang-mo It-kui menyambar ke depan, menghantam tepat kening perwira muda itu.

Cu Liong hanya dapat keluarkan rintihan pendek. Di keningnya kelihatan lobang besar yang mengeluarkan darah dari kepalanya yang rengkah!

***

BUKIT kecil itu terletak dua hari perjalanan kuda dari Hankouw. Di sebuah peladangan gandum yang subur seorang lelaki berusia 40 tahun sibuk menyiapkan hasil ladangnya karena dua hari di muka seorang pembeli dari Hankouw bakal datang memborong seluruh gandumnya.

Di tepi ladang seorang anak lelaki berumur 8 tahun asyik membuat puput dari gulungan daun kelapa. Dia adalah Sun Bi anak pemilik ladang gandum itu sedang sang ayah adalah Ki Hok Bun.

Tiba-tiba Hok Bun menghentikan pekerjaannya. Dia berdiri tenang-tenang. Sepasang telinganya yang tajam mendengar derap kaki kuda di kejauhan. Dia berpaling ke arah bukit. Di lereng tampak lima orang penunggang kuda bergerak menuruni bukit, diikuti oleh tiga ekor kuda yang membawa barang.

"Ada orang datang ayah," kata Sun Bi seraya berlari mendapatkan ayahnya.

Ki Hok Bun mengangguk. Hatinya tiba-tiba saja merasa tidak enak. Makin dekat rombongan ke lima orang itu makin tidak enak perasaannya. Kelima penunggang kuda berseragam jubah hitam. Di hadapan rumah Ki Hok Bun lima penunggang kuda berhenti dan turun dari kuda masingmasing.

Ingat akan istrinya yang ada di rumah. Ki Hok Bun cepat-cepat keluar dari balik kerimbunan pohon-pohon gandum. Sun Bi berlari kecil mengikutinya dari belakang.

Sepuluh langkah dari langkan rumah, orang berjubah hitam yang tubuhnya paling tinggi dan paling besar mengangkat kedua tangannya, tertawa bergelak dan berseru, "Hok Bun ciangkun!"

Sesaat Ki Hok Bun tertegun dan kaget. Sudah sekian lama tak seorang pun pernah lagi memanggilnya dengan sebutan ciangkun itu. Sebuah sebutan terhormat yang hanya diberikan pada perwira tinggi Kaisar. Dan kini ada orang yang memanggilnya dengan sebutan itu. Namun ketika dia mengenali siapa adanya si tinggi besar itu maka diapun berseru gembira.

"Bu ceng enghiong! Kukira siapa. Sungguh pertemuan yang tidak disangka!" Keduanya kemudian saling rangkul.

Ki Hok Bun lalu berpaling pada empat orang berjubah lainnya dansatu demi satu mereka merangkul pemilik ladang gandum itu.

"Lima sahabat lama berada di sini. Benar-benar membuat aku gembira."

Karena suara ribut-ribut di luar, The Cun Giok, istri Ki Hok Bun meninggalkan masakannya di dapur dan menjenguk keluar.

"Ini anak ciangkun ...?" orang berjubah tinggi besar yang bukan lain adalah Nan-king Kui-ong bertanya sambil memandang pada Sun Bi.

"Betul."

"Dan gadis itu ... ?" lelaki berambut merah Ang-mo It-kui menunjuk ke arah pintu. Mendengar disebutnya "gadis" yang lain-lain ikut berpaling.

"Dia istriku," menerangkan Ki Hok Bun. "Waktu perang ibunya Sun Bi meninggal dunia. Hidup sendirian di peladangan begini sepi sekali. Aku lalu mencari pengganti ibunya Sun Bi."

Bola mata lima manusia iblis itu bersinar-sinar seolah-olah hendak menelanjangi sekujur tubuh Cun Giok. Perempuan yang cantik jelita yang tadinya mereka sangka adalah seorang gadis itu ternyata adalah istrinya Hok Bun.

Nan-king Kui-ong basahi bibir dengan ujung lidah lalu berkata, "Ah, sungguh nasibmu jauh lebih beruntung dari kami, ciangkun. Kau kini hidup tenteram, punya anak, punya ladang luas dan punya istri muda cantik sekali!" Kui-ong basahi bibirnya kembali dengan uiung lidah dantenggorokannya tampak turun naik.

Diam-diam Hok Bun merasa tidak senang melihat sikap dan cara memandang kelima orang itu terhadap istrinya.

Cepat-cepat dia berkata, "Cun Giok masuklah. Hidangkan anggur harum. Lalu atur meja. Sahabatsahabatku ini tentu dahaga dan lapar."

Cun Giok segera masuk ke dalam sementara Hok Bun mempersilahkan kelima orang itu masuk ke rumah danmengambil tempat duduk. Sambil berkipas-kipas sesekali Nan-king Kui-ong yang nama aslinya adalah Bu Ceng melirik ke ruang dalam mengintai istri Hok Bun. "Kau beruntung sekali ciangkun. Beruntung sekali ... " ujar Nan-king Kui-ong.

Hok Bun tersenyum. "Antara kita tak ada lagi ikatan atau hubungan ketentaraan. Karenanya tak usah menyebutku dengan panggilan ciangkun itu ... "

"Ah, kau terlalu merendah. Kau tahu dalam waktu singkat kau akan dikembalikan pada jabatan lamamu sebagai perwira tinggi. Bahkan mungkin sebagai seorang jenderal. Dan orang-orang kembali akan memanggilmu dengan sebutan ciangkun. Kau tak usah sungkan-sungkan. Bukankah begitu sahabatku?"

Empat orang yang ditanyai sama mengangguk menanggapi ucapan Nan-king Kui-ong itu.

"Bu Ceng enghiong," kata Hok Bun, "kulihat kau habis mengadakan perjalanan jauh bersama teman-teman. Di luar sana ada tiga kuda membawa peti-peti besar. Apa isi peti-peti itu kalau aku boleh tahu?"

"Begini ciangkun. Eh, kalau kau tak sudi dengan sebutan itu bagaimana jika kami panggil dengan sebutan twako saja?" yang berkata adalah si gundul Tiat-thou-kui. Twako artinya kakak dan memang di antara mereka Hok Bun berusia paling tua. "Kami berlima beberapa hari lalu telah menghadang anjing-anjing Kaisar Yung Lo di luar kota Nanking. Memang sedang hoki, rombongan anjing Kaisar itu ternyata membawa sebuah kereta berisi tiga peti emas. Semua anggota rombongan kami bunuh. Dan kini tiga peti emas itu menjadi milik kita bersama!"

"Kita?" ujar Hok Bun tak mengerti. "Kita siapa maksudmu?"

"Ya kita! Kami dan kau twako!" yang menjawab adalah Ang-mo It-kui.

Hok Bun berpaling pada Bu Ceng alias Nan-king Kui-ong. Sesaat kemudian dia berkata, "Bu Ceng enghiong, sakit hati kita terhadap mereka yang kini berkuasa memang tak mungkin bisa dihapus lenyap untuk selama-lamanya. Namun adalah terlalu berbahaya bagi kau dan teman-teman melakukan perampokan. Apalagi disertai membunuh prajurit Kerajaan dan dua orang perwira. Tokoh-tokoh silat yang berpihak pada pemerintah sekarang, dibantu ratusan perajurit Kerajaan pasti akan mencari cuwi sekalian. Kita semua bisa celaka. Termasuk istri dan anakku."

"Siapa takutkan mereka?" tukas Gui-kun Kui-to seraya betulkan letak golok-golok terbangnya yang berisikan seputar pinggang.

"Memang aku tahu betul para enghiong di sini tidak menaruh takut terhadap mereka. Tetapi alat-alat Kerajaan bisa bikin susah kita semua dan membuat hidup jadi tidak tenterarn. Perlu diingat, keadaan sekarang sudah berbeda Bu Ceng enghiong."

"Berbeda bagaimana?" tanya Nanking Kui Ong.

Hok Bun tak menjawab. Setelah menghela nafas panjang dia kemudian bertanya, "Apa gunanya para enghiong di sini melakukan perampokan itu?"

"Karena perang sebenarnya belum berakhir twako dan kita perlu biaya untuk meneruskan peperangan," sahut Bu Ceng pula.

"Ah, lagi-lagi aku tidak mengerti jalan pikiranmu," ujar Hok Bun. "Perang sudah lama berakhir. Sejak lebih dari satu bulan lalu. Sejak jatuhnya Nanking ke tangan orang-orang Kaisar Yung Lo. Sejak Kaisar Hui Ti yang kita hormati dijebloskan dalam penjara. Apakah kau dan kawan-kawan tidak melihat kenyataan ini, sobatku?"

Bu Ceng memandang pada keempat kawannya. Sesaat kemudian kelimanya sama tertawa gelak-gelak. Bu Ceng geleng-gelengkan kepala.

"Kau salah twako. Salah besar. Apakah kau tidak melihat kenyataan bahwa di mana-mana sisasisa prajurit Kaisar Hui Ti kini tengah melakukan perang gerilya di bawah pimpinan perwira-perwira yang masih setia. Mereka berusaha menumbangkan kekuasaan Kasiar Yung Lo yang kini mengangkat diri sebagai Kaisar Kerajaan Beng, di atas darah dan nyawa, di atas pengkhianatan keji. Inilah yang disebut kenyataan, twako."

"Memang itu adalah kenyataan," jawab Hok Bun pula. "Tapi kenyataan yang tak mungkin bertahan lama. Jumlah mereka yang bergerilya terlalu sedikit dan kekuatan mereka terpencar-pencar, tak mungkin menghadapi balatentara Kerajaan, apalagi hendak menumbangkan Kaisar Yung Lo. Mereka semua akan mati konyol dan perjuangan akan sia-sia. Saat ini di mana musuh berada dalam puncak kekuatan, adalah bunuh diri kalau kita berani angkat senjata."

"Lantas apakah akan dibiarkan begitu saja anjing besar bernama Yung Lo itu bertahta sebagai Kaisar yang bukan haknya? Dirampas secara keji?" ujar orang kedua dari Nan-king Ngo-kui yakni Tui-hun Hui-mo.

"Sudah barang tentu tak dapat dibiarkan. Tetapi juga tidak mungkin untuk menumbangkan kekuasaannya pada saat sekarang ini. Mereka terlalu kuat. Perajurit-perajuritnya saja berjumlah jutaan, belum terhitung perwira-perwira tinggi dan pembantu-pembantu dari kalangan kangouw." (kangouw=dunia persilatan)

Bu Ceng kelihatan beringas. Dia bangkit dari kursinya danmelangkah mundar mandir. Cun Giok saat itu keluar membawa enam gelas berikut beberapa guci kecil anggur, lalu masuk kembali ke dalam diikuti sorot mata liar Nan-king Ngo-kui. Tiat-thou-kui menelan liurnya melihat telapak kaki nyonya rumah yang begitu putih.

"Apa yang aku katakan semuanya benar twako, "terdengar suara Bu Ceng. "Dan justru karena keadaan yang demikianlah membuat kami datang kemari. Orang-orang terlalu sedikit dan terpencar. Senjata kurang pula. Di samping itu rakyat kurang membantu karena takut terhadap pemerintah.

Namun walau bagaimanapun perjuangan ini harus dilanjutkan. Menumbangkan Yung Lo dan mengangkat kembali Kaisar Hui Ti. Perjuangan ini bukan saja memerlukan tenaga tetapi juga biaya.

Dan biaya itu rasanya sudah mulai kita dapatkan. Yakni dengan adanya tiga peti besar berisi emas yang tak ternilai harganya itu. Ini baru sebagian kecil saja dari modal kita untuk menghimpun orangorang yang masih setia terhadap Kaisar Hui Ti. Kita akan mempersenjatai mereka, melatih mereka untuk perang. Dengan kekayaan yang kita miliki bahkan kita dapat membeli orang-orang berkepandaian tinggi untuk menyingkirkan Yung Lo, kaki-kaki tangannya serta cecungukcecungguknya!"

"Semua rencanamu itu sama saja dengan mimpi siang bolong, Bu Ceng enghiong. Jika kau terbangun musnahlah mimpi itu. Jika kau nekad untuk meneruskannya maka celaka akan menghadang."

"Setiap perjuangan harus dengan pengorbanan. Kami berlima tidak takut mati, entah twako," tukas Ang- mo It-kui dengan nada pedas.

"Kau betul sekali," menyahuti Hok Bun. "Perjuangan harus dengan pengorbanan. Tapi pengorbanan yang sia-sia apa gunanya? Harap kalian merenungkan hal itu baik-baik."

Nanking Kui Ong menghentikan langkah mundar-mandir. Nadanya agak geram ketika berkata, "Aku dan kawan-kawan datang kernari bukan membawa persoalan untuk direnungkan. Kami datang membawa rencana guna dilaksanakan. Dan kau harus ikut bersama kami twako!" Hok Bun usap-usap dagunya.

"Maafkan aku. Itu tidak mungkin kulakukan. Aku tidak mau melibatkan diri dengan kalian. Aku sudah muak dengan peperangan."

Nan-king Kui-ong danempat kawannya terkejut mendengar ucapan Hok Bun itu dan saling pandang. Mereka tidak menyangka kalau kata-kata seperti itu bakal keluar dari mulut Ki Hok Bun. Seorang bekas perwira tinggi yang semasa perang dulu menjadi atasan dan pimpinan mereka.

"Ki Hok Bun twako," kata Nanking Kui Ong dengan suara bergetar. "Kau yang dulu dijuluki Kim-hong Kiam-khek atau Pendekar Pedang Pelangi, terkenal dimana-mana, ditakuti lawan di segala penjuru dandisegani serta dihormati teman seperjuangan, apakah kini telah berubah menjadi macan kertas yang paling pengecut di muka bumi ini? Tinggal nama belaka?"

Wajah Hok Bun tampak menjadi merah kelam mendengar kata-kata bekas anak buahnya itu. Lalu dengan menahan emosi dia berkata, "Aku tak akan bicara panjang lebar mengenai rencana ataupun perjuangan kalian. Jika kalian berlima masih menghormatiku sebagai bekas pimpinan maka dengarlah nasihatku. Untuk sementara lupakan segala sesuatu yang berbau perjuangan. Jauhkan keterlibatan dengan perang. Cobalah menempuh hidup yang damai tenteram. Dengan bermodalkan tiga peti emas itu kalian bisa memulai hidup baru yang bahagia bahkan mewah. Bukankah itu lebih baik dari harus mengorbankan diri menantang bahaya api peperangan?"

Ang-mo It-kui geleng-geleng kepala dan menoleh pada Nan-king Kui-Ong. "Pangcu, percuma saja. Ki Hok Bun yang di depan kita ini agaknya sudah bukan lagi manusia gagah yang berjuluk Kimhong Kiam-khek seperti dulu. Sekarang dia telah berubah menjadi manusia pengecut, banci bahkan mungkin sudah jadi tikus!"

"Tutup mulutmu Ang-mo It-kui! Jangan kurang ajar!" hardik Ki Hok Bun dan plak!

Tamparannya dengan keras mendarat di pipi Ang-mo It-Kui. Demikian kerasnya hingga orang keempat dari Nan-king Ngo-kui ini terjajar beberapa langkah, menyeringai kesakitan. Sebenarnya rasa sakit itu tidak begitu dirasakan oleh Ang-mo It-kui. Namun marah dan malu membuat dia jadi kalap mata gelap. Dia berteriak garang. Lalu sambil menggembor seperti harimau luka dia melompat ke depan, menyerang Ki Hok Bun bekas perwira tinggi Kerajaan itu dengan satu jotosan maut ke arah dada di bagian jantung!

***

SEBAGAI orang yang pernah menjadi atasan Ang-mo It-Kui dan empat manusia iblis lainnya itu Ki Hok Bun tahu betul sampai di mana tingkat kepandaian mereka. Namun saat itu dia jadi terkejut menyaksikan angin pukulan Ang-mo It-kui. Jelas mengandung satu kekuatan luar biasa. Yang berarti manusia ini telah jauh maju tenaga dalamnya dalam waktu singkat. Dan melihat Ang-mo It-kui dalam melancarkan serangan sengaja mengarah bagian yang berbahaya nyatalah bahwa orang ini tidak mainmain bahkan ingin membunuhnya!

Tanpa berlaku ayal Ki Hok Bun cepat berkelit ke samping. Namun sekonyong-konyong Angmo It-kui susul serangannya yang gagal itu dengan serangan baru berupa tendangan dan hantaman tangan kiri.

Ki Hok Bun berseru keras. Melompat ke udara. Pukulan tangan kiri lawan lewat di sampingnya sedangkan tendanyan yang juga berhasil dielakkannya menghantam meja kayu hingga berantakan. Kendi anggur serta gelas yang ada di atasnya berhamburan dan pecah berantakan.

"Ang-mo It-Kui!" hardik Ki Hok Bun. "Jangan kau berani kurang ajar di rumahku! Tinggalkan tempat ini atau kau akan menyesal!"

Habis berkata begitu Ki Hok Bun dorongkan tangan kanannya ke arah dada lawan. Ang-mo Itkui menjadi kaget ketika merasakan bagaimana dari telapak tangan itu keluar satu dorongan kuat laksana sebuah batu besar ratusan kati, mendorongnya dengan hebat. Ang-mo It-kui berusaha pertahankan diri dengan memperkuat kuda-kuda kedua kakinya. Namun ketika Ki Hok Bun datang lebih dekat tak ampun tubuhnya terjengkang dan jatuh terguling di halaman depan rumah. Dengan pelipis bergerak-gerak menahan amarah Ki Hok Bun berpaling pada Nan-king Kui-ong. "Bu Ceng enghiong," katanya. "Kau bawalah kawan-kawanmu dari sini sebelum aku jadi kalap dan menurunkan tangan salah!"

Nan-king Kui-ong tidak senang melihat kejadian ini. Sepasang matanya membeliak garang. "Terhadap Kerajaan dan Kaisar Yung Lo laknat itu kau menunjukkan kepengecutan. Tetapi terhadap kawan sendiri, bekas anak buahmu, kau memiliki nyali luar biasa besar bahkan tega memukulnya!"

"Aku telah menerima kalian dengan baik. Tapi kalau kalian berlaku memaksa dan kurang ajar, jangan salahkan kalau aku memberi sedikit peringatan..."

"Sedikit peringatan? Memukul Ang-mo It-kui sampai begitu rupa kau sebut sebagai sedikit peringatan...?" ujar Nan-king Kui-ong berang sementara Ang-mo It-kui bangkit dari tanah. "Sudahlah Bu Ceng, jangan banyak mulut. Lekas pergi dari sini. Bawa anak buahmu. Aku tak ingin melihat tampang-tampang kalian lagi!"

Iblis Kepala Besi Tiat-thou-kui yang sejak tadi sudah tidak sabaran maju ke hadapan Ki Hok Bun dan membuka mulut,

"Ki Hok Bun, lagakmu keren amat! Apa ilmumu sudah setinggi langit sedalam lautan hingga berani berkata dan bertindak seenaknya terhadap kami? Dulu kami memang anak-anak buahmu, tapi sekarang keadaan berbeda. Kau tidak lebih tinggi dari kami. Tadi-tadi kami sengaja untuk tetap menghormatimu, tapi nyatanya kau keras kepala ... "

"Diam!" sentak Ki Hok Bun. "Sekali aku bilang pergi dari sini ya pergi! Jangan banyak cingcong!"

"Oho ... hebatnya! Sombong, keras kepala tapi pengecut!" ejek Gui-Kun Si Golok Iblis sambil menggerakkan tangan seperti orang hendak bertolak pinggang. Tapi tiba-tiba tangan kanan itu mencabut golok besar yang ada di sisi kirinya. Begitu golok keluar dari sarung Gui Kun lantas kirimkan satu serangan ganas.

"Bagus Gui Kun! Kaupun minta digebuk!" teriak Ki Hok Bun marah. Cepat dia membebaskan diri dari serangan golok. Marah karena serangannya dapat dielak begitu mudah, Gui Kun putar senjatanya dan membabat membalik untuk membacok putus tangan Hok Bun. Tapi bekas perwira yang berpengalaman ini sudah dapat membaca maksud lawan. Sambil merunduk Hok Bun menghantamkan tangan kanarinya ke atas.

"Krak!"

Bersamaan dengan terdengarnya suara patahan lengan, terdengar pekik kesakitan Si Golok Iblis Gui Kun. Dia melompat menjauhi lawan dan masih lindungi diri sambil pergunakan tangan kiri untuk lemparkan golok terbang. Namun Hok Bun sudah lebih dulu melompat ke samping hingga tiga golok terbang hanya mengenai tempat kosong lalu menancap di dinding rumah.

Nan-king Kui-ong melengak marah. Dua anak buahnya telah dihajar. Tapi untuk maju sendiri melakukan pembalasan dia merasa bimbang. Bagaimanapun tingkat kepandaian Hok Bun tidak bisa dibuat main. Kalau tidak maju berbarengan sulit untuk menghadapi orang ini. Memikir sampai ke situ lalu diapun berteriak,

"Keroyok bangsat ini!"

Maka Tui-hun Hui-mo Iblis Pengejar Maut dan Ang-mo It-kui serta Tiat-thou-kui dan juga Gui Kun yang kini hanya mengandalkan tangan kiri memegang golok serentak menyerbu ke depan. Sedang Nan-king Kui-ong sendiri membantu dari belakang dengan kiriman pukulan-pukulan tangan kosong jarak jauh yang sangat berbahaya. Ki Hok Bun kertakkan rahang.

"Main keroyok! Nyatanya kalianlah yang pengecut! Majulah lebih dekat biar kucincang kalian lebih cepat!" teriak Hok Bun.

"Maut sudah di depan mata! Kau masih saja bicara sombong dan ngaco! Kawan-kawan mari kita jagal manusia ini cepat-cepat!" balas berteriak Nan-king Kui-ong.

Ki Hok Bun selain memiliki kepandaian silat yang tinggi jelas bukan seorang berjiwa kecil dan pengecut. Pengalamannya amat luas dalam perkelahian ataupun medan peperangan. Karenanya tidak salah dia mendapat julukan Pendekar Pedang Pelangi Kim-hong Kiam-khek, ditakuti lawan disegani kawan. Dibanding dengan kelima pengeroyoknya secara satu-satu lima orang itu bukan apa-apa baginya. Namun jika Nan-king Ngo-kui bergabung jadi satu dia harus bertindak hati-hati. Dia tahu betul orang-orang itu bukan saja rata-rata memiliki ilmu silat lihay tetapi juga licik penuh tipu muslihat. Kalaupun dia harus mati menghadapi mereka dia tidak takut, namun yang dicemaskannya ialah kalau-kalau terjadi sesuatu dengan anak istrinya.

Rambut merah Ang-mo It-kui berkelebat ganas kian kemari. Terkadang rambut ini laksana seutas cambuk. Namun terkadang dapat berubah seperti sebilah golok atau pedang yang datang membabat atau menusuk atau menotok. Sepuluh jari tangan Tui-hun Hui-mo yang berkuku-kuku panjang hitam laksana cakar burung garuda, berkelebat ganas kian kemari. Sekali bagian tubuh sempat kena digaruk pastilah akan berbusaian dagingnya. Ditambah dengan golok di tangan kiri Guikun Kui-to yang tak kalah berbahayanya serta kepala besi maut dari Tiat- thou-kui lalu serangan tangan kosong jarak jauh dari Nan-king Kui-ong yang datang bertubi-tubi, maka kedudukan Ki Hok Bun benar-benar berbahaya. Apalagi saat itu dia hanya bertangan kosong, hanya mengandalkan ginkang dan Iwekang belaka.

Lima belas jurus berlalu. Dalam keadaan cukup kepepet Ki Hok Bun masih berhasil menunjukkan kehebatannya yaitu memukul dada Gui-kun Kui-to hingga iblis satu ini muntah darah dan terpaksa keluar dari kalangan pertempuran. Namun sebaliknya Hok Bun juga mengalami cidera yang berbahaya.

Bahunya sebelah kiri telah terkena sambaran kuku tangan Tui-hun Hui-mo. Pelipisnya terluka dan mengucurkan darah akibat hantaman rambut Ang-mo It-kui sedang serudukan kepalaTiat-thoukui sempat satu kali melabrak sisinya hingga dua tulangnya menjadi patah.

Ki Hok Bun sadar kalau dirinya dalam bencana besar. Namun untuk menyerah tentu saja tak ada dalam kamus hidupnya. Dia keluarkan seluruh kepandaiannya namun sia-sia belaka. Tiga lawan mengurung dengan rapat hingga sulit baginya untuk mencapai Nan-king Kui-ong yang secara licik selalu melancarkan pukulan-pukulan jarak jauh dengan berlindung di belakang anak buahnya.

Setelah dua puluh jurus lebih bertahan mati-matian, Ki Hok Bun mulai terdesak. Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan, sodokan kepala besi, cakaran kuku dan hantaman rambut maut bertubi-ttibi melabraknya. Saat-saat terakhir sebelum roboh Hok Bun berhasil menjambak rambut Ang-mo It-kui dan siap untuk memuntir patah leher lawan yang satu ini. Namun sebelum hal itu dapat dilakukannya satu pukulan Nan-king Kui-ong melanda dari samping. Dia merasakan bahunya seperti remuk. Didahului satu jeritan keras Ki Hok Bun terlempar dan roboh. Tubuhnya penuh darah yang keluar dari bekas luka yang menguak di mana-mana. Dia sudah pasrah untuk mati. Karenanya dia berteriak, "Manusia-manusia iblis keparat! Aku tidak takut mati! Bahkan kalau kalian tidak membunuhku saat ini juga, kalian akan menyesal seumur hidup karena pembalasanku lebih mengerikan dari apa yang kalian lakukan hari ini terhadapku!"

Nan-king Kui-ong menyeringai. Dia melangkah mendekati Hok Bun yang tidak berdaya. Sambil injak kepala orang ini dia berkata,

"Mula-mula kami memang berpikiran bahwa manusia pengecut dan keras kepala sepertimu ini perlu disingkirkan dari muka bumi. Tapi mana kami puas kalau belum menyiksamu lebih dulu. Kau akan segera merasakannya dan..."

Belum habis kata-kata itu tiba-tiba terdengar suara berteriak, "Ayah...! Ayah ... apa yang terjadi. Manusia-manusia jahat itu...oh!"

Yang berteriak adalah Sun Bi, putera Hok Bun yang berusia 8 tahun. Anak ini datang berlari-lari dan menjatuhkan diri di tanah memeluk tubuh ayahnya.

Tiba-tiba satu tangan besar kasar dan keras menjambak rambutnya dan menyentakkannya hingga Sun Bi terpekik kesakitan dan tubuhnya terangkat ke atas. Dia coba meronta melepaskan diri bahkan menendang Nan-king Kui-ong yang menjambaknya namun mana anak kecil ini sanggup melawan kekuatan manusia iblis seperti Bu Ceng.

"Ki Hok Bun!" seru Bu Ceng. "Manusia pengecut dan pengkhianat teman sepertimu tak layak punya turunan. Karena pasti turunan itu akan menjadi manusia sepertimu pula!"

"Keparat Bu Ceng!" Hok Bun coba bangun tapi rebah kembali ke tanah. "Kau hendak apakan anakku. Lepaskan dia!" Nafas Hok Bun menyengal dan dari mulutnya keluar darah. "Kau lihat sendiri apa yang bakal terjadi dengan anakmu. Ini pelajaran bagus untukmu yang telah berani melawan Nan-king Ngo-kui." Lalu Bu Ceng angkat tinggi-tinggi tubuh Sun Bie.

"Jangan ganggu anakku!" satu jeritan perempuan terdengar. Yang berteriak adalah The Cun Giok, istri Hok Bun, ibu tiri Sun Bi. Bagi Cun Giok, meski Sun Bi hanya seorang anak tiri namun dia sangat mengasihi anak ini seperti putera k.andung sendiri.

Cun Giok coba menarik dan merampas Sun Bi dari tangan kepala gerombolan manusia iblis itu. Namun Ang-mo It-Ku memegang bahunya dan merangkulnya dan belakang. Nan-king Kui-ong sendiri kembali mengangkat tubuh Sun Bi tinggi-tinggi lalu dengan kekejaman luar biasa anak itu dibantingkannya keras-keras ke tanah. Terdengar suara mengerikan ketika kepala Sun Bi membentur tanah. Tanpa suara anak yang malang ini menghembuskan nafas penghabisan diiringi pekik Cun Giok dan seruan tanpa daya Hok Bun.

Nan-king Kui-ong alias Bu Ceng tertawa mengekeh, memandang pada Hok Bun yang hanya bisa mengutuk dan mengutuk. Tiba-tiba dia hentikan tawanya dan berpaling pada Ang-mo It-kui yang saat itu masih merangkuli tubuh Cun Giok. Ang-mo It-kui bukan hanya merangkul agar perempuan itu tidak lepas namun kini rangkulannya menjadi kurang ajar. Bahkan salah satu tangannya bergerak meraba bagian tubuh sebelah atas Cun G iok.

Sepasang mata Bu Ceng kelihatan membesar. Sambil menyeringai dia mendekati kedua orang itu.

"Ang-mo It-kui, enak benar kau mendekap tubuh bagus itu. Serahkan dia padaku!"' Ang-mo It-kui tertawa ha-ha-hehe dan mendorong tubuh Cun Giok ke hadapan Nan-king Kuiong.

***

SEJAK pertama kali melihat istri Hok Bun yang muda dan cantik jelita itu, nafsu kotor telah merasuk Bu Ceng. Namun karena saat itu Hok Bun masih dipandangnya sebagai atasan dan diperlukan tenaganya maka dia berusaha bersikap hormat. Namun kini setelah terjadi perkelahian maka rasa hormat itu dengan sendirinya lenyap. Nafsu kotor kembali bersarang dalam dirinya.

Tubuh Cun Giok yang terdorong ke hadapannya segera ditangkapnya. Ciuman beringas di daratkannya bertubi-tubi ke wajah perempuan itu. Cun Giok meronta dan menjerit coba melepaskan diri. Namun sambil tertawa-tawa disaksikan oleh kawan-kawannya Bu Ceng merobek pakaian Cun Giok hingga perempuan ini akhirnya berada dalam keadaan hampir telanjang. Cun Giok merasakan tubuhnya didukung.

"Bu Ceng manusia iblis! Kau hendak apakan istriku! Lepaskan dia! Cun Giok larilah. Selamatkan dirimu!" Hok Bun berteriak. Dia sudah dapat membayangkan apa yang bakal menimpa istrinya. Namun tidak mungkin bagi Cun Giok untuk melepaskan diri.

"Hok Bun, kau dapat melihat sendiri apa yang bakal kulakukan. Masakan hanya kau saja yang dapat menikmati perempuan secantik ini. Ha ... ha ... ha ...!" Bu Ceng gulingkan tubuh Cun Giok di atas lantai rumah. "Pegangi dia!" perintahnya pada anak buahnya. Ang-mo It-kui dan Tiat-thou-kui membungkuk memegangi tangan Cun Giok.

Bu Ceng kemudian tanpa malu-malu lepaskan pakaian dalamnya dan singsingkan jubahnya lalu jatuhkan diri di atas tubuh Cun Giok yang tak mampu membebaskan diri dan menolak penghinaan keji itu. Hok Bun pejamkan mata. Tak sanggup dia menyaksikan hal itu, darahnya menggelegak. Namun tak satupun yang bisa dilakukannya.

"Bu Ceng, jangan terlalu temahak! Berikan giliran padaku!" Tui-hun Hui-mo berteriak dan tegak di belakang Bu Ceng sambil menyingkapkan jubahnya.

Bu Ceng menyeringai. Dia berdiri sambil seka keringat dan rapikan pakaiannya. "Jangan takut sobat. Kau segera dapat giliran. Tapi jangan lupa pada kawan-kawan."

Begitulah, satu persatu kelima manusia iblis itu melakukan perbuatan terkutuk atas diri The Cun Giok hingga akhirnya perempuan ini pingsan tak sadarkan diri.

"Apa yang kita lakukan sekarang?" tanya Tiat-thou-kui sambil usap kepala botaknya yang basah oleh keringat.

"Bunuh saja perempuan itu. Juga lakinya!" jawab Golok Iblis Gui Kun.

"Ya, memang Hok Bun harus dibunuh. Kalau tidak bisa bikin urusan berabe di kemudian hari," menyetujui Ang-mo It-kui.

"Betul ... " sahut Nan-king Kui-ong manggut-manggut. "Tapi setahuku dia memiliki sebilah pedang mustika. Kim-hong-kiam. Aku harus dapatkan dulu senjata itu ...."

Bu Ceng alias Nan-king Kui-ong lantas melangkah mendekati Hok Bun. Dia membungkuk dan menjambak rambut bekas perwira tinggi itu.

"Hok Bun, mungkin aku bisa membatalkan niat untuk menghabisi nyawamu saat ini. Asal saja kau mau memberi tahu di mana kau simpan Kim hong kiam ... "

Sepasang mata Ki Hok Bun terbuka sedikit.

"Kau inginkan pedang itu ... ?" desisnya.

"Betul. Dan nyawamu kuampuni. Bahkan mungkin akan kuberi beberapa batang emas untukmu..."

"Kau ambillah pedang itu di neraka kelak ..." kata Ki Hok Bun lalu diludahinya muka Bu Ceng. Air ludah bercampur darah berlepotan di muka Bu Ceng.

"Bangsat haram jadah!" teriak Bu Ceng marah. Kepala Hok Bun dibantingkannya ke tanah hingga lelaki ini pingsan. "Seret dia ke dalam rumah dan bakar hidup-hidup bersama istri dan bangkai anaknya!"

Hok Bun di gotong ke langkan rumah, terpisah beberapa meter dari istri dananaknya. Ang-mo It-kui kemudian mencari minyak pembakar di dapur lalu menyulut api. Dalam keadaan api berkobar semakin besar kalima manusia iblis itu tinggalkan tempat tersebut.

***KI HOK BUN siuman dari pingsannya sewaktu sebagian rumahnya telah dimakan api. Bagian yang dimakan api itu roboh. Tiang-tiang serta palung-palung kayu berapi jatuh di atas tubuh anak dan istrinya langsung menembus perempuan yang pingsan ini tanpa dapat diselamatkan. Api kemudian mulai menjilati kaki Hok Bun.

Lelaki ini sebenarnya sudah pasrah untuk dilamun api dan menyusul anak istrinya. Baginya tak guna lagi hidup tanpa kedua orang yang dicintainya itu. Namun bila dia ingat kekejaman perbuatan Nan-king Ngo-kui, terutama Bu Ceng yang menjadi pimpinan maka dendam kesumat yang amat besar membuat hati kecilnya berontak. Tidak, dia tidak boleh mati saat itu! Dia harus hidup. Kemudian mencari Nan-king Ngo-kui dan membunuh mereka satu per satu guna membalaskan dendam kesumat. Hutang nyawa dan darah harus mereka bayar dengan darah dan nyawa pula!

Memikir sampai ke situ Ki Hok Bun kumpulkan sisa-sisa tenaga yang ada. Dia coba beringsut menjauhi jilatan api. Namun keadaannya saat itu sudah sangat lemah. Sama sekali tiada daya. Tulang belulangnya serasa hancur luluh. Darahnya tertalu banyak keluar. Pemandangan matanya makin lama makin guram.

Lelaki ini sama sekali tidak mampu untuk menyelamatkan dirinya. Saat itu satu-satunya yang dianggapnya bisa menolong adalah Tuhan. Karenanya dalam hati Hok Bun membathin :

"Thian, berikan kekuatan pada hambaMu ini. Biarkan aku hidup terus agar dapat membalas kejahatan dan kebiadaban lima manusia iblis itu. Jangan biarkan aku mati mengenaskan begini rupa ... "

Sementara itu kobaran api semakin mengganas. Palang kayu yang membelintang di bagian atap rumah dan tepat di atas kepala Ki Hok Bun berderak patah sewaktu api membakar loteng.

Bersamaan dengan bagian loteng palang kayu itu runtuh tepat mengarah tubuh Ki Hok Bun yang menggeletak tiada daya di lantai. Hok Bun sendiri tidak menyadari hal ini karena sesaat sesudah dia berdoa menyebut nama Tuhan, dia langsung jatuh pingsan. Agaknya akan segera tamatlah riwayat bekas perwira ini dandendam kesumatnya tak akan pernah dapat dibalasnya.

Namun sebelum ajal berpantang mati. Maut anak manusia berada dalam tangan Yang Maha Kuasa. Di saat yang sangat kritis itu tiba-tiba terdengar satu siulan aneh dan nyaring, menyusul berkelebatnya sesosok bayangan putih yang disertai sambaran angin yang luar biasa derasnya. Balok kayu dan loteng yang tadinya akan menimpa dan menimbun tubuh Ki Hok Bun laksana dihantam badai mental jauh. Bahkan sebagian dari rumah yang sudah dilamun api itu ikut ambruk akibat hantaman angin yang entah dari mana datangnya.

Di lain kejap bayanyan putih tadi bekelebat cepat menyambar Ki Hok Bun dan membawanya lari dari tempat itu.

Siapa gerangan yang menyelamatkan Ki Hok Bun? Manusia atau malaikatkah dia karena demikian cepat gerakannya hingga cuma bayangannya saja yang kelihatan? Di puncak bukit dia memperlambat larinya. Nyatanya dia adalah manusia biasa juga. Masih muda, berambut gondrong menyala bahu. Kepalanya diikat dengan sehelai kain putih. Dari mulutnya terus menerus membersit siulan lagu tak menentu. Larinya seperti gerabak gerubuk tetapi laksana kilat. Mukanya seperti wajah seorang tolol, cengar cengir tak tentu juntrungan.

Setiup angin berhembus melawan arah larinya. Rambut gondrong pemuda ini melambai-lambai ditiup angin. Pakaian di bagian dada yang tak terkancing tersibarlebar. Pada dada yang penuh otot itu kelihatan tertera tiga buah angka aneh yakni : 212.

Pada waktu itu dalam dunia kangouw Tiongkok tersebar berita tentang munculnya seorang pemuda asing bertampang tolol tetapi memiliki kepandaian tinggi luar biasa Demikian tingginya hingga sulit untuk mengetahui apakah para datuk atau tokoh silat yang terkenal masa itu dapat disejajarkan dengan tingkat kepandaiannya. Banyak tokoh-tokoh silat golongan hitam yang telah rubuh bahkan terbunuh di tangan pendekar asing itu. Akibatnya dia menjadi momok nomor satu bagi kaum sesat. Sebaliknya para jago silat golongan putih merasa gembira dan banyak yang ingin berkenalan dengan pemuda itu. Namun sulit sekali untuk menemukannya. Dia muncul secara mendadak. Membasmi manusia-manusia jahat secara tak terduga lalu melenyapkan diri hampir tanpa bekas untuk kemudian muncul lagi di tempat lain dan membuat kegemparan.

Pendekar yang menjadi buah tutur di Tionggoan bukan lain adalah Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng, murid Eyang Sinto Gendeng yang tengah melakukan pengembaraan di daratan Tiongkok. Dan dialah yang saat itu menyelamatkan Ki Hok Bun alias Pendekar Pedang Pelangi dari kematian.

Sebenarnya bukan satu kebetulan Wiro Sableng berada di tempat itu danberhasil menyelamatkan Hok Bun. Sudah sejak satu bulan lalu dia mendengar nama Nan-king Ngo-kui yang menggetarkan dan ditakuti. Mereka melakukan pembunuhan dan perampokan di mana-mana. Menculik anak gadis atau istri orang. Sekalipun dulu mereka dikenal sebagai pembantu-pembantu Kaisar Hui Ti dan berjuang menghadapi balatentara Yung Lo, namun kejahatan dan kebiadaban yang kini mereka lakukan benar-benar sudah melewati batas.

Dua hari lalu Wiro berada di Hankouw danmendengar berita tentang dirampoknya tiga peti emas milik Kaisar Yung Lo. Dua perwira dan selusin prajurit pengawal menemui kematian. Dari tanda-tanda yang ditemukan di tempat kejadian sudah dapat ditebak bahwa pelaku perampokan dan pernbunuhan yang sangat berani itu adalah Nan-king Ngo-kui. Sebelum Kaisar Yung Lo mengirimkan orang-orangnya untuk melakukan pengejaran, Wiro Sableng sudah mendahului menuju utara. Dia berhasil mengetahui ke jurusan mana kelima manusia iblis itu membawa lari barang rampokannya. Namun di sebuah daerah luas yang berbukit-bukit Wiro kehilangan jejak mereka.

Sebagai pendekar yang ingin menumpas kejahatan dan membela mereka yang lemah dan tertindas Wiro tidak akan mencampuri urusan peperangan ataupun mempersoalkan tiga peti emas yang dirampok Nan-king Ngo-kui. Dia mencari kelima manusia iblis itu karena telah mendengar kejahatan dan kemesuman yang mereka lakukan sejak satu bulan terakhir ini. Sudah barang tentu perbuatan seperti itu tidak dapat dibiarkan berlarut-larut.

Wiro juga mengetahui bahwa telah banyak tokoh-tokoh silat golongan putih di Tionggoan yang turun tangan terhadap kelima iblis itu. Namun sebegitu jauh belum ada hasilnya. Bukan saja karena mereka memang memiliki kepandaian tinggi dan selalu berkelompok dalam setiap saat, tetapi mereka juga licik dan dapat melenyapkan diri dengan cepat setiap habis melakukan kejahatan.

Sadar kalau untuk kesekian kalinya dia kehilangan jejak orang-orang yang dikejarnya Wiro mengomel dalam hati dan garuk-garuk kepala. Tapi dia tidak berputus asa. Di bukit di mana dia berada banyak tumbuh pohon-pohon tinggi. Dia memilih yang paling tinggi lalu memanjatnya. Dari atas pohon ini dia dapat memandang ke segala penjuru sejauh mungkin. Dia mengeluarkan suara bersiul sewaktu di arah selatan dilihatnya kepulan asap hitam bergulung-gulung membumbung ke udara.

"Kebakaran biasa atau ... ?" Wiro bertanya pada dirinya sendiri.

Setelah berpikir sejenak sambil meneliti keadaan di bagian lain akhirnya Wiro memutuskan untuk mendatangi sumber kebakaran itu. Bukan mustahi kebakaran itu ditimbulkan oleh iblis-iblis yang tengah dikuntitnya. Dia cepat-cepat turun dari atas pohon dan dengan pergunakan ilmu larinya dia lari ke arah selatan. Namun kedatangannya terlambat. Yang ditemuinya hanya bekas kebiadaban yang dilakukan oleh Nan-king Ngo-kui. Kelima manusia jahat itu tak ditemuinya, pasti sudah menghilang jauh. Masih untung dia sempat menyelamatkan seorang lelaki yang dia tidak kenal dan tubuhnya penuh dengan luka-luka.

***

PENDEKAR 212 Wiro Sableng membawa Ki Hok Bun ke sebuah telaga kecil berair jernih. Bekas perwira kerajaan itu masih berada dalam keadaan pingsan. Wiro mengagumi kekuatannya. Manusia biasa dengan menderita luka-luka seperti itu pasti sudah tidak tertolong nyawanya.

Wiro membersihkan sedapatnya luka yang terdapat di tubuh Ki Hok Bun, lalu pada luka itu ditaburinya sedikit obat bubuk. Setelah menunggu beberapa saat dia telungkupkan tubuh Ki Hok Bun dan tempelkan telapak tangannya di punggung telanjang orang itu dan salurkan hawa dingin sakti ke tubuh Ki Hok Bun. Setengah jam kemudian dia ganti mengalirkan hawa panas lewat dada.

Tak berapa lama menjelang matahari akan tenggelam Ki Hok Bun sadar. Mula-mula dia merasakan denyutan sakit pada kepala dan dadanya. Ternyata rasa sakit tidak hanya di tempat itu saja namun boleh dikata di setiap bagian tubuhnya. Perlahan-lahan dia membuka kedua matanya. Yang dilihatnya adalah langit luas berwarna merah kekuningan akibat tersapu sinar sang surya yang hendak tenggelam. Sesaat matanya tak berkesip. Jalan pikirannya masih belum jernih.

"Di mana aku ini ... " pikirnya. Dia coba menggerakkan kepala sedikit dan memandang berkeliling. Tiba-tiba dia ingat pada anak dan istrinya. Langsung berteriak memanggil, "Cun Giok, Sun Bi ... kalian di mana?!" Seperti ada satu kekuatan yang memasuki tubuhnya dia melompat duduk namun kemudian roboh kembali dengan pemandangan berkunang-kunang. Bila kedua matanya mulai jernih kembali maka pemandangannya membentur sosok tubuh Wiro Sableng yang duduk di dekatnya.

"Kau ... kau siapa? Mana istriku? Mana Sun Bi ... Apa yang terjadi?"

‘Twako sebaiknya kau jangan banyak bicara dan bertanya. Atur jalan darah dan pernafasan. Kau terluka berat. Coba kendalikan tenaga dalammu ..."

"Kau orang asing ... Logat bicaramu aneh ..."

Wiro garuk-garuk kepala dan tersenyum. Dari balik pakaiannya dia keluarkan dua buah pil. Satu berwarna merah dan satunya lagi hitam.

"Telan obat ini ..." Wiro hendak masukkan dua butir pil itu ke dalam mulut Hok Bun, tetapi orang ini menjauhkan mulutnya. Pandangan mata dan wajahnya menunjukkan keraguan kalau tidak mau dikatakan curiga. Tentu saja Hok Bun berperasaan demikian karena dia belum pernah kenal atau melihat Wiro sebelumnya.

"Tak usah takut. Percayalah, obat ini akan menolongmu," kata Wiro. Akhirnya Hok Bun membuka mulut dan menelan juga obat itu walaupun dengan agak susah payah. Wiro kemudian urut pelipis lelaki itu. Perlahan-lahan Hok Bun pulas dan tertidur sampai keesokan harinya. Ketika dia bangun yang dirasakannya bukan lagi sakit tetapi lapar dan haus. Wiro mendudukkannya bersandar pada sebatang pohon di tepi telaga. Lalu menyodorkan dua buah apel, makanan yang dimilikinya. Buah ini cepat sekali dihabisi Hok Bun. Selesai makan pemandangan dan jalan pikiran lelaki ini menjadi lebih jernih. Dia menatap Wiro Sableng beberapa lama.

Kemudian dia ingat apa yang telah menimpa keluarganya. Hok Bun menangis dan tiada henti memanggil- manggil nama istri dan anaknya. Wiro maklum malapetaka besar telah menimpa orang ini karenanya dia membiarkan saja Hok Bun hanyut dalam perasaannya.

Hok Bun akhirnya sadar bahwa menangis tidak akan mendatangkan hasil apa-apa padanya. Karena belum sanggup berjalan, dia merangkak ke tepi telaga dan mencuci mukanya lalu kembali ke tempat semula.

"Twako, apa yang telah terjadi. Aku menemukanmu di rumah yang terbakar ... " Wiro membuka mulut bertanya.

Ki Hok Bun menatap ke langit di atasnya. Lalu menghela nafas. "Kau sendiri siapa orang muda? Kulihat jelas kau bukan orang sini," balik bertanya Hok Bun.

"Namaku Wiro Sableng Aku memang orang asing di Tionggoan ini."

Ki Hok Bun kerenyitkan kening. "Wiro Sableng ... Aku rasa pernah dengar namamu akhir-akhir ini. Kau seorang pendekar asing yang membuat gempar dunia kangouw. Nyatanya kau adalah inkong tuan penolongku. Tai-hiap aku berhutang nyawa padamu. Biar aku menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya." Habis berkata begitu Hok Bun merangkak ke hadapan Wiro dan membuat gerakan hendak berlutut. Tetapi Wiro cepat-cepat mencegah.

"Jangan panggil aku dengan sebutan pendekar besar itu twako," ujar Wiro. "Kalau aku boleh tahu apakah sebenarnya yang telah terjadi. Mengapa kau kutemui dalam rumah yang terbakar itu?"

"Mereka yang melakukannya?"

"Mereka siapa?"

"Manusia-manusia iblis itu. Nan-king Ngo-kui!"

"Ah, aku sudah menduga. Aku memang sudah sejak lama mencarinya. Aku berhasil menguntit mereka dari Han-kouw, tetapi kehilangan jejak dan terlambat ... "

Ki Hok Bun lalu menceritakan apa yang telah terjadi dan juga tak lupa menerangkan sedikit mengenai riwayat hidupnya.

"Aku tidak mengira kalau berhadapan dengan seorang bekas perwira tinggi kerajaan," kata Wiro dengan sikap hormat.

Hok Bun tersenyum pahit. "Dulu ... sekarang aku bukan apa-apa. Sekarang aku seorang lelaki yang sengsara." Hok Bun terdiam sejenak. Kemudian. "Orang muda, seumur hidup mungkin aku tak dapat membalas semua pertolongan dan jasamu. Biarlah hari ini aku menganggapmu sebagai saudara. Sebagai adik..."

"Betul-betul satu kehormatan besar bagiku twako. Terima kasih."

"Satu dua hari di muka aku akan mulai mencari lima manusia iblis itu!" kata Hok Bun dengan nada penuh dendam.

Wiro tersenyum dan gelengkan kepalanya.

"Twako, kau masih jauh dari sembuh. Sebelum kesehatanmu luar dalam pulih kembali untuk sementara sebaiknya lupakan soal dendam kesumat itu."

"Lebih cepat aku dapat memenggal kepala manusia-manusia jahanam itu lebih baik rasanya. Pembalasan harus dilakukan dalam waktu cepatl"

"Kau tengah menghadapi persoalan besar twako. Karenanya tak boleh bertindak sembarangan.

Sekali salah langkah bisa besar akibatnya, Lima manusia iblis itu bukan saja berkepandaian tinggi tetapi juga licik ... "

Hok Bun terdiam. Apa yang dikatakan Wiro itu betul. Akhirnya dia berkata,: "Besok aku akan kembali ke tempat kediamanku."

"Sebaiknya jangan. Itu hanya akan mendatangkan pukulan berat pada batinmu," menasihatkan Wiro.

"Tapi aku harus mengurus jenazah dan abu anak istriku."

"Aku sudah membayar orang desa untuk mengurus jenazah mereka," menerangkan Wiro. Hok Bun menatap wajah pendekar itu lama-lama. Kedua matanya berkaca-kaca. "Kau baik sekali Wiro. Aku benar-benar berhutang budi dan-nyawa terhadapmu ..."

"Sudahlah, jangan sebut hal itu. Besok pagi sebaiknya kita pergi ke kota terdekat. Mencari penginapan. Di situ kau bisa dirawat lebih baik."

Ki Hok Bun mengangguk. Namun keesokan paginya ketika Wiro bangun didapatkannya lelaki itu tak ada lagi di situ.

***APAKAH yang telah dilakukan oleh Ki Hok Bun? Ke manakah bekas perwira tinggi kerajaan ini pergi meninggalkan Wiro Sableng yang telah menolongnya?

Malam itu sewaktu Wiro sedang tidur nyenyak dekat perapian di tepi telaga diam-diam Ki Hok Bun bangun. Diperhatikannya pendekar asing itu sesaat. Meskipun dia telah mengangkat saudara terhadap Wiro dan pernah mendengar hal-hal menggemparkan yang dilakukan pendekar itu namun dia masih belum tahu banyak tentang si pemuda. Hal ini disebabkan karena Wiro lebih banyak muncul di utara sedang Ki Hok Bun tinggal di selatan.

Sebetulnya Hok Bun tak ingin meninggalkan Wiro secara diam-diam seperti itu karena ini satu perbuatan danperadatan yang tidak baik. Namun dia terpaksa melakukan hal itu. Dia harus kembali ke rumahnya yang telah musnah, betapapun hancur hatinya kelak menyaksikan rumah yang telah jadi puing-puing hitam itu. Dia merasa tidak tenteram seumur hidup bahkan sampai ke liang kubur kalau tidak dapat membunuh habis ke lima musuh besarnya itu.

Malam berganti siang. Ketika matahari sudah naik tinggi barulah Hok Bun sampai di lereng bukit. Tubuhnya terasa letih sekali. Tetapi tekad dan semangat balas dendam atas kematian istri dan anaknya membuatnya tidak merasakan semua itu. Dia berlari menuruni lereng bukit. Untuk beberapa lamanya dia tegak termenung di hadapan rumahnya yang kini hanya tinggal puing-puing hitam.

Sebagian ladang gandumnya juga terbakar. Air mata Ki Hok Bun sukar dibendung. Dia menggigit bibir menahan sakit batin.

Selagi dia tegak begitu rupa seorang penduduk mendatanginya. Dengan pandangan wajah haru orang ini berkata, "Saudara Ki, aku datang memberi tahu bahwa jenazah istri dan anakmu telah kami perabukan. Jika kau ingin melihat abunya, ada di rumah abu Thian-an-tang."

Ki Hok Bun mengucapkan terima kasih sambil menganggukkap kepala. Karena tak ingin mengganggu lebih lama orang tadi minta diri dan cepat-cepat berlalu.

Beberapa saat kemudian Ki Hok Bun melangkah dari hadapan reruntuhan rumahnva menuju ke sebatang pohon Yang-liu yang tumbuh seratus meter dari bekas rumahnya. Dekat pohon ini terdapat sebuah pilar batu. Dengan sepotong besi pendek Ki Hok Bun menggali tanah di sebelah kanan pilar. Kira-kira menggali sedalam satu meter ditemuilah sebuah kotak terbuat dari kayu besi yang tahan air dan rayap. Dari dalam kotak ini Ki Hok Bun kemudian mengeluarkan sebilah pedang yang ketika dicabut serta merta memancarkan sinar tujuh warna. Inilah Kim-hong-kiam atau Pedang Pelangi.

Sebuah senjata mustika sakti yang kehebatannya telah membuat Ki Hok Bun mendapat julukan Pendekar Pedang Pelangi atau Kim-hong kiam-khek.

Sesaat Ki Hok Bun mendongak ke langit sambil pejamkan mata. Selama perang saudara, sebagai seorang perwira kerajaan yang taat pada atasannya yakni Kaisar Hui Ti dia telah berjuang mati-matian membela kehormatan dan tahta Kaisarnya tanpa parnrih ataupun memikirkan apakah Kaisar Hui Ti berada di pihak yang benar atau bukan. Ketaatannya adalah sama dengan disiplin militer dan jiwa satria.

Sebenarnya sebelum pecah perang nama Ki Hok Bun telah dikenal dan kepadanya telah lama melekat gelar Pendekar Pedang Pelangi. Namun di masa perang saudara itulah justru dia membuktikan kehebatan dan jiwa besarnya. Dalam setiap pertempuran Ki Hok Bun bukannya menghadapi perajurit-prajurit atau para perwira yang pada dasarnya adalah saudara satu bangsanya dan bertempur karena tugas menjalankan perintah atasan. Justru yang dicari dan dihajarnya habishabisan adalah mereka yang berperang untuk maksud tertentu, mencari keuntungan sendiri atau memancing di air keruh. Orang-orang itu biasanya adalah tokoh-tokoh silat golongan hitam. Lantas mengapa Ki Hok Bun membasmi tokoh-tokoh silat lawan dari golongan hitam sementara dipihaknya sendiri juga terdapat tokoh-tokoh silat culas golongan hitam seperti Nan-king Ngo-kui?

Sebenarnya Ki Hok Bun tidak suka terhadap Nan-king Ngo-kui yang pada masa perang adalah bawahannya langsung. Namun kalau Kaisar Hui Ti sendiri yang mengangkat dan mengambil mereka sebagai pembantu, mana bisa dia menolak? Lagi pula saat itu kedudukan Kotaraja Selatan (Nan-king) dalam keadaan gawat. Serangan balatentara utara demikian dahsyatrnya hingga mau tak mau orangorang semacam Nan-king Ngo-kui terpaksa dimanfaatkan tenaganya.

Pada saat Ki Hok Bun memegang pedang pelangi itu bukan semua peristiwa dimasa perang saudara itu yang terbayang di matanya, melainkan adalah tampang-tampang lima manusia iblis yang telah membunuh anak istri dan menghancurkan kehidupannya.

"Mereka harus mati di tanganku!" desis Ki Hok Bun. Perlahan-lahan kepalanya yang mendongak langit di turunkan dan kedua matanya dibuka kembali. Pedang pelangi dimasukkannya ke dalam sarung lalu disusupkannya di balik punggung pakaian. Dengan hati berat dia meninggalkan tempat itu. Tujuannya adalah rumah abu Thian-an-tang.

Ketika sampai di rumah abu, didapatinyaa banyak orang berkumpul di pintu masuk. Mereka adalah penduduk setempat dan kebanyakan para petani seperti Hok Bun. Melihat Hok Bun datang, salah seorang dari mereka yang agaknya menjadi wakil orang-orang itu maju mendatangi dan menyampaikan rasa berlasungkawa sedalam-dalamnya atas musibah yang telah menimpa lelaki itu. Kemudian dijelaskan pula bahwa para pemuda desa sudah bermufakat untuk membantu Hok Bun guna mencari Nan-king Ngo-kui.

Hok Bun terharu sekali mendengar kata-kata itu. Dipegangnya bahu petani itu dan berkata, "Lopek, aku menghaturkan terima kasih padamu dan juga pada semua saudara-saudara di sini. Soal dendam kesumat terhadap lima manusia iblis itu adalah urusan pribadiku. Aku akan mencari mereka sekalipun ke neraka. Dengan tanganku sendiri akan kuhabisi nyawa mereka satu persatu. Sekali lagi terima kasih. Thian akan membalas kebaikan dan ketulusan budi kalian."

Selesai berkata demikian Ki Hok Bun langsung masuk ke dalam rumah abu. Seorang pegawai mengantarkannya ke tempat di mana dua buah peti kecil berisi abu anak dan istrinya disimpan. Di hadapan peti-peti kecil itu Ki Hok Bun bersembahyang. Selesai sembahyang, sambil bercucuran air mata dia tak dapat lagi menahan diri. Tiba-tiba sret! Hok Bun cabut Kim-hong-kiam. Tujuh sinar pelangi berkilauan. Pegawai rumah abu sampai tersurut saking kaget dantakutnya karena disangkanya tiba-tiba saja Ki Hok Bun menjadi mata gelap dan hendak mengamuk.

"Istriku The Cun Giok dan anakku Sun Bie. Kalian dengarlah baik-baik. Aku Ki Hok Bun, suami dan ayahmu bersumpah untuk mencari dan membunuh lima manusia biadab yang telah berlaku keji dan membunuh kalian. Percayalah, kematian mereka akan jauh lebih sengsara dari penderitaan yang telah kalian terima dari mereka. Semoga Thian memberikan tempat yang sebaikbaiknya bagi kalian di alam baka!" Ki Hok Bun sarungkan pedangnya kembali, putar tubuh dan tinggalkan rumah abu itu.

***SAAT itu telah memasuki musim semi. Pohonpohon yang tadinya hanya merupakan cabang-cabang gundul dan rerantingan kini mulai ditumbuhi dedaunan hijau segar. Bunga-bunga kemudian mulai bermekaran dari kuncupnya. Kemanapun mata dilayangkan kehijauan segarlah yang kelihatan menyedapkan mata.

Di tikungan sebuah sungai berair jernih dan dangkal dan dasarnya ditebari batu-batu kecil, lima orang berjubah hitam asyik membersihkan wajah masing-masing. Sekalipun telah dicuci tetap saja tampang-tampang mereka tampak kotor liar berangasan, penuh ditumbuhi cambang bawuk, kumis dan jenggot tak terurus.

Mereka bukan lain adalah Tui-hun Hui-mo, Tiat-thouw-kui, Ang-mo It-kui, Gui-kun Kui-to dan pangcu (pimpinan) mereka biang iblis bernama Bu Ceng bergelar Nan-king Kui-ong. Setelah mencuci muka masing-masing mereka mencari tempat duduk di sekitar perapian yang telah padam untuk menikmati kelinci panggang. Ang-mo It-kui dari tadi tampak tidak tenang. Sebentar-sebentar dipeganginya perutnya.

"Ada apa dengan kau?" bertanya Bu Ceng.

"Perutku sakit," sahut Ang-mo It-kui seraya mengunyah daging kelinci dengan muka berkerenyit.

Perutnya mulas. Entah apa sebabnya. Sejak tadi malam hal ini dirasakannya. Tadi telah dicobanya untuk buang hajat besar tapi tak mau keluar. Berulang kali dia kentut di dalam jubahnya yang hitam dan bau apak itu. Mulas perutnya semakin tidak tertahankan. Agaknya sekali ini dia betulbetul akan buang air besar. Daging kelinci yang belum habis dimakannya dibuangnya ke tanah. Lalu dia berdiri menuju bagian tikungan sungai yang tertutup rapat oleh pohon-pohon dansemak belukar lebat.

"Eh, kau mau kemana lagi?"tanya Gui-kun Kui-to.

"Buang hajat besar!" jawab Ang-mo It-kui tanpa menoleh. Sesaat kemudian dia sudah lenyap di balik pepohonan dan semak belukar kira-kira sepuluh tombak dari tempat dimana kawan-kawannya berada.

Sementara Ang-mo It-kui mendekam di sebelah sana dan kawan-kawannya asyik menyantap daging kelinci panggang, Si Golok Iblis Gui Kun membuka mulut.

"Aku kawatir kalau-kalau tiga peti emas yang kita sembunyikan itu diketahui orang dan digasak habis!"

Sebelumnya, beberapa hari yang lalu, untuk mempercepat perjalanan Bu Ceng telah memutuskan menyembunyikan tiga peti emas rampokan di satu tempat rahasia.

Sambil mengunyah daging kelinci panggang dalam mulutnya, Bu Ceng alias Nan-king Kui-ong berkata, "Kalau tak ada di antara kita yang berkhianat, sampai kiamat tak ada orang lain yang bakal tahu rahasia itu."

Tiai-thou-kui mengunyah daging kelinci dalam mulutnya dengan segan-seganan. "Lama-lama aku jadi jemu juga dengan kehidupan macam begini ..."

Sepasang mata Nan-king Kui-ong membeliak. Dia semburkan makanan dalam mulutnya, meneguk tuak dari buli-buli kecil, menyeka mulut lalu bertanya dengan nada garang. "Kau bilang apa tadi Tiat-thou-kui?"

Sesaat Tiat-thou-kui jadi kuncup juga nyalinya melihat pandangan mata dan wajah pangcunya itu. Dia tahu Nan-king Kui-ong sangat tersinggung bahkan marah sekali mendengar kata-katanya tadi. Sambill usap-usap kepala botaknya dia berkata,

"Kau jangan buru-buru marah dulu pangcu. Tapi coba kau pikir dengan hati dingin dan otak tenang. Sepanjang hari kita selalu di rongrong oleh kawatir karena alat-alat kerajaan senantiasa melakukan pengejaran dan mencari kita dimana-mana. Belum lagi tokoh-tokoh silat golongan putih atau yang bekerja untuk Yung Lo. Dalam pada itu sampai saat ini sisa-sisa pasukan yang terpecah dan berhasil kita kumpulkan masih sangat kecil. Bahkan kita banyak mendapat tantangan dari orangorang sendiri. Seperti si Ki Hok Bun itu misalnya..." Tiat-thou-kui menghentikan kata-katanya dan sejenak memandang pada pangcunya.

"Terus . . . teruskan pidatomu Tiat-thou-kui!" kata Bu Ceng.

"Bukan pidato pangcu. Maafkan aku. Ini Cuma sekedar untuk dipikirkan, Kuperhitungkan, sampai setengah tahun dimuka belum tentu kita dapat mewujudkan apa yang menjadi rencana kita. Kalau kurenungkan dalam-dalam bukankah lebih baik bila emas rampasan yang tiga peti itu kita bagi lima, lalu mencari jalan sendiri-sendiri untuk menempuh hidup baru..." Nan-king Kui-ong menyeringai aneh.

Tiba-tiba dia melompat dan mencekal leher jubah Tiat-thou-kui, sekaligus menyentakkannya hingga si kepala botak itu terangkat tegak.

"Tiat-thou-kui keparat! Dengar baik-baik. Jangan kau berani bicara seperti itu lagi di hadapanku, bahkan jangan kau berani punya jalan pikiran seperti itu. Jangan coba pengaruhi teman-temanmu dengan mulut manis. Atau kau akan kubunuh detik ini juga!"

Sesaat kedua orang itu saling pandang. Nan-king Kui-ong dengan mulut komat kamit entah mengucapkan apa lalu mendorong keras keras dada Tiat-thou-kui hingga si botak ini jatuh terjengkang di tanah.

Untuk beberapa lamanya tak satu orangpun yang membuka mulut. Sunyi bahkan siliran tiupan anginpun tidak kedengaran. Namun mendadak sontak kesunyian itu dirobek oleh satu jeritan amat menggidikkan. Suara jeritan Ang-mo It-kui!

Keempat orang itu tersentak kaget. Saling pandang sesaat.

"Itu jeritan Ang-mo It-kui ..." kata Si Golok Iblis Gui Kun.

Kontan keempat mereka melompat ke arah semak-semak dan pepohonan rapat di ujung kanan dari mana datangnya jeritan itu.

Beberapa langkah lagi mereka akan sampai pada deretan pohon-pohon tersebut tiba-tiba dari balik kerimbunan semak belukar melesat sebuah benda merah kehitaman, menyambar deras ke jurusan Nan-king Kui-ong dan tiga kawannya.

Dalam keterkejutan ke empatnya cepat berkelit menghindarkan diri. Benda merah tadi jatuh ke tanah. Begitu mereka perhatikan maka masing-masing empat manusia iblis itu keluarkan seruan keras. Tampang mereka kontan menjadi pucat pasi laksana kain kafan. Betapakan tidak. Benda merah kehitaman itu ternyata adalah kepala berwajah merah dan berambut hitam Ang-mo It-kui yang tetah dijagal! Dari bekas potongan lehernya masih menyembur darah segar mengerikan!

"Ang-mo It-kui ... ah. Apa yang terjadi denganmu sobat? Siapa yang membunuhmu?!" desis Tiat-thou-kui dengan suara bergetar dan lutut goyah. Di antara empat kawannya dia memang paling dekat dengan Ang-mo It-kui.

Tentu saja kutungan kepala itu tidak bisa memberikan jawaban. Kesunyian menggidikkan menyungkup tempat itu. Tiba-tiba sepasang mata garang Nan-king Kui-ong melihat suatu gerakan. Didahului suara menggembor dia membentak keras dan hantamkan tangan kanannya ke depan.

Krak! Krak!

Dua batang pohon patah. Semak belukar rambas berhamburan. Di belakang semak belukar yang rambas itu kelihatan tegak seorang bertubuh tinggi besar, bermuka kotor penuh cambang bawuk serta kumis meliar dan rambut awut-awutan.

Sepasang matanya membersitkan sinar menggidikkan. Maut. Di tangan kanannya tergenggam sebilah pedang yang mengeluarkan tujuh sinar angker. Orang ini bukan lain adalah Ki Hok Bun alias Pendekar Pedang Pelangi! Kim-hong Kiam-khek!

Apakah yang telah terjadi dengan Ang-mo It-kui orang ke empat dari Nan-king Ngo-kui itu hingga dia menemui kematian amat menyeramkan begitu rupa?

Seperti diceritakan sebelumnya Ang-mo It-kui diserang sakit perut dan membuat dia memisahkan diri dari empat kawannya. Dia pergi ke tepi sungai diantara pohon-pohon dan semak belukar rapat untuk membuang hajat besar. Dia sama sekali tidak menduga justru di tempat itulah maut tengah menantinya!

Sesaat satelah dia turunkan pakaian dalam dan singsingkan jubah lalu berjongkok, tiba-tiba saja seolah-olah keluar dari dalam air muncul sesosok tubuh di hadapannya. Nyawa Ang-mo It-kui serasa terbang. Kalau orang lain yang muncul dia tidak akan demikian kagetnya. Tetapi melihat sosok tubuh Ki Hok Bun di depannya benar-benar membuat manusia iblis yang satu ini seperti sudah berhenti nafasnya detik itu juga!

"Kau....!" suara Ang-mo It-kui bergetar. Dia melompat bangun. Namun dia lupa pada celana dalam yang melingkar di pergelangan kakinya. Gerakannya yang tiba-tiba itu membuat kakinya terjirat celana dalamnya sendiri dan akibatnya tak ampun lagi tubuhnya tersungkur ke depan.

Ang-mo It-kui tahu bahaya apa yang bakal dihadapinya. Sebetulnya dengan kepandaiannya yang tinggi dia tidak perlu kawatir bakal dapat dirobohkan dalam waktu cepat oleh siapapun. Namun kemunculan Ki Hok Bun benar-benar tidak disangkanya. Dia laksana melihat setan kepala sepuluh. Karenanya Ang-mo It-kui segera buka mulut untuk berteriak memberi tahu kawan-kawannya.

Namun Ki Hok Bun telah tahu gelagat. Sebelum Ang-mo It-kui sempat keluarkan suara dia melompat ke depan dan menotok urat jalan suara di pangkal leher musuh besarnya itu hingga detik itu juga manusia iblis ini sama sekali tidak sanggup keluarkan suara selain haha-huhu macam orang gagu sedang sepasang matanya melotot. Sebenarnya kalau saja dia tidak terlalu dicekam ketakutan luar biasa dan dapat menguasai diri tidak akan terlalu mudah bagi Ki Hok Bun untuk dapat menotoknya begitu rupa.

Ki Hok Bun keluarkan seringai maut.

"Jangan harap kau bisa lari selamatkan diri manusia biadab! Hari pembalasan telah datang. Bersiaplah untuk berangkat ke neraka!"

Kedua mata Ang-mo It-kui membeliak. Dia melangkah mundur hendak larikan diri namun secepat kilat Ki Hok Bun sudah berkelebat dan tahu-tahu sudah menghadang di depannya.

"Mau lari ke mana binatang?" Di tangan kanan Ki Hok Bun saat itu sudah tergenggam Pedang Tujuh Pelangi.

Ang-mo It-kui angkat kedua tangannya dan goyang-goyangkan kepala. Dia sadar tak mungkin lari. Maut sudah di depan mata. Sekalipun saat itu dia memegang senjata pula belum tentu dia dapat lolos. Bahkan dibantu oleh empat kawannya pun sukar untuk cari selamat karena dia sudah tahu kehebatan pedang mustika di tangan lawan.

"Huk ... huk . . . huk . . . " Ang-mo It-kui lagi-lagi angkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Dengan berbuat begitu dia bermaksud hendak mengatakan agar Ki Hok Bun jangan membunuhnya. Tentu saja hal ini suatu hal yang tidak mungkin. Selama beberapa minggu Ki Hok Bun telah menguntit lima musuh besarnya itu. Kini salah seorang dari mereka sudah berada dalam tangannya.

"Iblis-iblis di neraka sudah lama menunggumu manusia keparat! Pergilah ke sana!"

Pedang di tangan Ki Hok Bun berkelebat. Tujuh warna sinar pelangi bertabur. Ang-mo It-kui membuang diri ke samping dan lepaskan satu pukulan tangan kosong tetapi tak menemui sasaran.

Seperti diketahui rambut merah panjang Ang-mo It-kui merupakan senjata hebat yang bisa menotok, menusuk, mencekik bahkan melibat dan merampas senjata lawan. Namun menghadapi Pedang Tujuh.Pelangi dia tidak berani pergunakan rambutnya untuk melakukan semua itu. Matimatian dia keluarkan seluruh kepandaiannya. Untuk lari sudah tidak bisa. Setiap dicobanya setiap kali pula Ki Hok Bun berhasil menghadangnya. Pedang lawan seolah-olah telah berubah jadi puluhan banyaknya dan mengurung dirinya dari berbagai jurusan.

Ang-mo It-kui cuma sanggup bertahan selama empat jurus. Jurus kelima Pedang Tujuh Pelangi menyambar putus tangan kirinya kemudian berbalik menusuk dada. Darah seperti mancur dari dua bagian tubuh yang terluka itu. Pembalasan Ki Hok Bun masih belum berhenti. Di lain saat tangan kanannya jadi sasaran sambaran pedang. Ang-mo It-kui menjerit tapi suaranya hanya sampai di tenggorokan. Dalam keadaan tubuh sempoyongan ujung pedang datang lagi menyambar. Kali ini merobek perutnya hingga isi perut manusia iblis ini berbusaian keluar.

Ki Hok Bun tampaknya masih belum puas. Pedangnya dibabatkan ke bagian bawah perut dan cras! Putuslah keseluruhan anggota rahasia Ang-mo It-kui yang dulu telah menodai The Cun Giok, istri Ki Hok Bun!

Sampai disitu masih juga Ki Hok Bun belum merasa puas. Pembalasannya betul-betul mengerikan. Hanya manusia yang dilanda dendam kesumat seperti dialah yang sanggup melakukan hal seperti itu. Dia ingin mendengar bagaimana jerit kesakitan melanda musuh besarnya itu sebelum dia menghabisi nyawanya. Maka dengan tangan kirinya dia lepaskan totokan di leher Ang-mo It-kui.

Begitu totokan lepas maka menggeledeklah jeritan setinggi langit dari tenggorokan Ang-mo It-kui yang sejak tadi terbendung. Tubuhnya roboh ke tanah dan detik itu pula Pedang Pelangi membabat menyambar batang lehernya. Nyawanya lepas begitu kepalanya menggelinding!

Jeritan Ang-mo It-kui itulah yang membuat terkejut empat manusia iblis lainnya. Sewaktu mereka mendatangi Ki Hok Bun telah menunggu dengan menjambak rambut kepala Ang-mo It-kui di tangan kirinya lalu melemparkan kutungan kepala itu ke arah Nan-king Kui-ong dan tiga kambratnya.

Bukan saja menyaksikan kutungan kepala kawan mereka membuat keempat manusia iblis itu menjadi menggerinding ngeri, tetapi yang membuat mereka terkesiap dan kaget sekali adalah menyaksikan berdirinya Ki Hok Bun di hadapan mereka.

"Ki ... Ki Hok Bun ... Kau?" Suara Nan-king Kui-ong bergetar. Lidahnya terasa kelu dan tenggorokannya seperti tercekik.

Ki Hok Bun alias Kim-hong Kiam-khek mendengus. Sementara Bu Ceng gosok-gosok kedua matanya seperti tak percaya pada pemandangannya sendiri.

Kemudian terdengar suara tawa Ki Hok Bun mengekeh..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · admin@nomor1&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.82.81.154
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia