Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : SI CANTIK GILA DARI GUNUNG GEDE

SEJAK Ken Permata ketitisan roh Nyi Harum Sarti, Datuk Rao Basaluang Ameh melihat banyak perubahan terjadi atas diri bayi yang berusia hampir dua tahun itu. Dari hari ke sehari tubuh anak perempuan Nyi Retno Mantili dari suaminya yang mendiang Patih Kerajaan bernama Wira Bumi itu mengalami pertumbuhan pesat. Tubuh bertambah besar dan bertambah tinggi. Dalam waktu beberapa bulan saja keadaan Ken Permata tidak beda dengan seorang anak yang telah berusia lima tahun. Bicaranya lancar. Ucapan-ucapan cerdik seperti seorang dewasa. Apa yang terjadi dengan anak itu tidak lepas dari perhatian Mande Saleha, perempuan yang menjaga Ken Permata sejak masih orok.

Suatu hari ketika anak perempuan itu bermain-main di luar ditemani harimau putih sakti Datuk Rao Bamato Hijau, Mande Saleha menemui Datuk Rao Basaluang Ameh di dalam goa batu pualam. (Mande = ibu) Sebenarnya dia ingin membawa serta Baiduri, Ibu Susu Ken Permata. Tapi perempuan separuh baya ini akhirnya memutuskan untuk datang seorang diri saja. Ketika dia masuk ke dalam goa batu pualam, sang Datuk tengah membaca khidmat sebuah kitab bertuliskan huruf Arab yang beberapa hari lalu didapatnya dari seorang sahabat, seorang pedagang bangsa Parsi.

Setelah menunggu sampai Datuk Rao menyelesaikan bacaan dan menutup kitab, baru Mande Saleha berani keluarkan ucapan.

"Datuk, saya datang mengganggu untuk membicarakan hal diri anak awak Ken Permata. Sebenarnya saya sudah sejak lama ingin menemui dan bicara dengan Datuk. Namun saya takut Datuk kurang berkenan di hati..."

Datuk Rao Basaluang Ameh beberapa ketika menatap perempuan di hadapannya itu dengan sepasang matanya yang kelabu ke biru-biruan.

"Mande Saleha, aku sudah maklum. Kegelisahanmu kegelisahanku juga. Kekawatiranmu kekawatiranku juga. Langsung saja, apa yang hendak kau sampaikan?"

"Datuk maafkan saya kalau seolah berlaku lebih prihatin dari Datuk. Saya kira Datuk melihat sendiri perubahan yang terjadi atas keadaan diri Ken Permata. Usianya belum dua tahun namun keadaannya menyamai anak perempuan yang telah berusia lima-enam tahun. Dia tumbuh dewasa lebih cepat dari kodrat Allah dan kemauan alam. Tapi bagi saya bukan perubahan keadaan bentuk badan itu saja yang mengawatirkan. Yang saya cemaskan adalah perubahan sifat dan bicaranya. Sekarang dia lebih suka tidur sendiri daripada bersama saya. Dia menolak kalau saya rangkul apa lagi saya dukung. Dia lebih suka tidur di atas tikar di lantai rumah gadang daripada bergolek satu ketiduran dengan saya. Kadangkadang, kalau saya tersentak bangun tengah malam, saya dapati anak itu tidak ada di dalam kamar. Ketika saya cari ternyata dia berada di halaman samping, duduk atau membaringkan diri di atas lesung. Atau duduk di tangga rumah kecil tempat menyimpan padi. Sesekali sebelum saya menemuinya, saya coba mengintai. Pernah kedapatan oleh saya mulutnya bergerak-gerak. Dia seperti bicara dengan seseorang. Tapi suaranya tidak terdengar dan orang yang diajaknya bicara tidak kelihatan. Saya benar-benar cemas Datuk. Saya kawatir penitisan yang terjadi atas Ken Permata telah merusak pikiran anak itu."

Datuk Rao Basaluang Ameh terdiam baberapa jurus. Setelah mengusap wajah yang barsih kelimis orang tua ini berkata.

"Sejak beberapa waktu belakangan ini ada roh yang berusaha mendekati anak itu."

"Apakah itu tidak berbahaya Datuk?"

"Berbahaya, sangat berbahaya. Itu sebabnya aku telah mamagari tempat kediaman kita ini sampai seputar Danau Maninjau dangan Ilmu Selusin Jaring Penolak Bala. Selain itu setiap malam aku sembanyang Tahajjud, aku memohon perlindungan atas diri anak itu dari Yang Maha Kuasa."

"Saya tahu, Ilmu Selusin Jaring Penolak Bala itu pastilah sangat hebat. Mudah-mudahan iImu itu bisa melindungi Ken Permata. Tidak sampai terjadi seperti dahulu. Ketika dia diculik orang, dilarikan ke tanah Jawa. Datuk sampai-sampai meminta pertolongan para Datuk sahabat dari berbagai penjuru pulau Andalas..." (Baca "Bayi Satu Suro")

"Selain itu pada Datuk Rao Bamato Hijau telah aku pesankan agar menjaga dan mengawasi Ken Permata baik siang apa lagi di waktu malam." Ucap Datuk Rao Basaluang Ameh. Apa yang dikatakan dan dikawatirkan perempuan di hadapannya memang cukup beralasan. Beberapa waktu lalu Ken Permata berhasil dilarikan Wira Bumi bersama gurunya Nyai Tumbal Jiwo dengan cara menyamar sebagai harimau putih peliharaan sang Datuk dan suami Baiduri.

"Apa masih ada hal lain yang hendak kau katakan atau masih kau cemaskan Mande Saleha?"

"Terus terang Datuk, rasa cemas saya memang tidak berkeputusan. Bagi saya Ken Permata sudah sebagai anak darah daging saya sendiri. Datuk, saya ingin memberi tahu. Ken Permata beberapa kali entah sadar entah tidak berkata pada saya. Bahwa dia ingin meninggalkan Danau Maninjau namun hatinya masih terkait sayang pada rumah gadang dan Datuk, pada saya dan pada ibu susunya. Ucapannya seperti orang dewasa. Bukan seperti ucapan anak-anak, apalagi ucapan seorang bayi berusia belum dua tahun. Katanya lagi, walau dia belum mau pergi, namun kalau orang yang menjemput sudah datang maka dia terpaksa akan pergi juga..."

Raut muka Datuk Rao Basaluang Ameh berubah.

"Mande Saleha, apakah anak itu mengatakan siapa yang akan menjemputnya?"

Mande Saleha menggeleng. Lalu berkata.

"Saya pernah bertanya siapa orang itu atau bagaimana ciri-cirinya, lelaki atau perempuan. Tapi Ken Permata menjawab, "Nantilah Mande, nanti akan saya ceritakan pada Mande." Selain itu Ken Permata juga menceritakan. Orang itu acap kali menemuinya pada malam hari ketika dia antara jaga dan tidur. Orang itu banyak menceritakan tentang dirinya, siapa ibunya, siapa ayahnya. Bahwa ayahnya telah menemui kematian. Dia juga diberi tahu siapa yang telah membunuh ayahnya."

"Jika cerita anak itu memang benar, berarti satu malapetaka besar akan terjadi. Dia akan mencari pembunuh ayahnya. Orang yang membunuhnya adalah Pendekar 212 Wiro Sableng..." Datuk Rao Basaluang Ameh gelengkan kepala sambil mengucap menyebut nama Tuhan berulang kali.

"Saleha, kau bisa menduga siapa orang itu?" tanya Datuk kemudian.

"Kalau menduga saya bisa saja tapi tak berani mengatakan. Mungkin Datuk lebih bisa menerka."

"Kau ingat kejadian yang kau ceritakan padaku beberapa waktu lalu? Sebelum penitisan gaib terjadi atas diri Ken Permata?"

"Saya ingat Datuk."

"Ada seorang perempuan tua bertubuh tinggi berambut putih. Masuk ke dalam kamar tempatmu dan Ken Permata tidur. Dia mengenakan pakaian panjang kuning berbunga-bunga. Ada seperangkat sunting pendek di kepalanya. Dialah orang yang dimaksud Ken Permata. (Baca "Janda Pulau Cingkuk") Yang kelak akan datang menjemputnya. Namun bisa juga yang muncul adalah roh yang menitis ke dalam tubuhnya. Bekas Ratu Laut Utara bernama Nyi Harum Sarti. Tapi Saleha, hal lain bisa saja terjadi..."

"Hal lain bagaimana maksud Datuk?" tanya Mande Saleha pula.

"Bisa saja anak itu pergi sendirian, meninggalkan tempat ini, mengikuti dorongan gaib tanpa menunggu kedatangan perempuan tua tadi."

"Saya benar-benar takut kalau hal itu terjadi. Saya memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, meminta perlindungan atas diri anak itu... Dia sebenarnya tidak tahu apa-apa. Ada kekuatan gaib di luar dirinya yang mengatur jalan nasibnya."

"Itulah yang dinamakan takdir. Manusia masih bisa merubah dan melawan nasib. Tapi tidak ada manusia yang bisa melawan takdir." Ucap Datuk Rao Basaluang Ameh yang saat itu pula teringat pada Laras Parantili, kekasih di masa mudanya yang telah bertindak sebagai pelindung terjadinya penitisan atas diri Ken Permata.

"Mungkin...mungkin kita harus cepat-cepat mempertemukan anak itu dengan ibu kandungnya Datuk. Kita tidak bisa hanya menunggu sampai Pendekar 212 menjemputnya ke sini sebagaimana yang Datuk inginkan. Apalagi kenyataannya dia telah mengetahui siapa pembunuh ayahnya."

"Kau mungkin betul Saleha. Mungkin itu yang harus kita lakukan." Kata Datuk Rao pula. "Panggil anak itu. Bawa dia ke sini. Kita bisa bicara mengajuk hatinya..."

"Akan saya panggil dan bawa dia ke sini Datuk." Kata Mande Saleha lalu cepat-cepat keluar dari goa. Tak lama kemudian perempuan ini muncul kembali dengan wajah pucat dan nafas mengengah.

"Ada apa Saleha?" tanya sang Datuk heran tak bersyak wasangka.

"Ken Permata! Anak itu ada di pucuk pohon Kayu Manis besar di tepi danau. Harimau putih sakti Datuk Rao Bamato Hijau tidak bisa barbuat apa-apa. Hanya barputar-putar dan menggereng di sakitar bawah pohon. Dia menunggu, kawatir Ken Permata tergelincir jatuh."

"Ken permata di pucuk pohon Kayu Manis! Bagaimana mungkin?" ujar Datuk Rao lalu dengan serta merta melompat keluar goa diikuti Mande Salaha.

Ketika Datuk Rao Basaluang Ameh sampai di tepi Danau Maninjau sebelah timur, orang tua ini berhenti berlari, tegak terpana penuh perasaan tak percaya. Seperti yang dikatakan Mande Saleha, harimau putih sakti Datuk Rao Bamato Hijau melangkah memutari pohon kayu manis besar. Sekali-sekali kepalanya mendongak ke atas pohon. Di atas pohon ini, pada pucuk yang paling ujung, di satu dahan yang tidak seberapa besar, sambil berpegangan ke ranting pohon, berdiri Ken Permata, anak perempuan yang belum berusia dua tahun tapi memiliki bentuk badan seukuran anak berumur lima tahun. Sambil menggoyang-goyang kaki dan mengayun-ayunkan tubuh, anak ini bernyanyi-nyanyi tiada henti. Datuk Rao mengucap berulang kali.

"Allah Maha Besar! Aneh! Dia memiliki ilmu meringankan tubuh. Dia mempunyai ilmu kesaktian. Ilmu titisan!"

Mande Saleha berteriak cemas berulang kali, memanggil-manggil anak perempuan itu, Datuk Rao berseru.

"Cucu Datuk Ken Permata! Kau gembira sekali hari ini. Sampai-sampai menyanyi di atas pohon. Turunlah, menyanyi di dekatku agar Datuk bisa lebih jelas mendengar bagusnya suaramu...!

Tanpa menoleh ke bawah dari atas pohon Ken Permata menyahuti.

"Datuk di sini lebih enak. Udaranya nyaman, pemandangan indah. Mengapa Datuk tidak naik saja ke atas pohon? Jangan lupa membawa serta Mande Saleha. Kita bernyanyi bersama-sama!"

"Celaka Datuk. Kalau kakinya sampai terpeleset tergerajai, anak itu akan jatuh ke tanah. Tolong dia Datuk. Cepat diturunkan..."

"Tenang Saleha, aku akan menurunkannya..." Kata Datuk Rao pula. Sekali menjejak kaki kanan ke tanah, orang tua sakti ini melesat ke atas pohon kayu manis. Begitu sampai di atas cabang tempat Ken Permata berdiri Datuk Rao cepat ulurkan tangan untuk menangkpp pinggang si anak. Tapi wuutt! Dia hanya menangkap angin! Karena sesaat sebelum Datuk Rao mengulurkan tangan Ken Permata lebih dulu meluncurkan diri ke bawah, tertawa gelak-gelak lalu melompat dari satu cabang ke cabang lain. Tak lama kemudian terdengar suara anak itu di bawah pohon.

"Datuk! Saya sudah turun ke bawah! Habis Datuk lama sekali saya tunggu tidak mau naik-naik, tidak mau menyanyi bersama saya di atas pohon!"

Datuk Rao mengucap kaget. Memandang ke bawah memang dilihatnya Ken Permata sudah berada di bawah pohon. Berdiri di samping Mande Saleha. Anak ini tertawa-tawa girang sambil mengelus tengkuk harimau putih Datuk Rao Bamato Hijau. Datuk Rao Basaluang Ameh cepat melayang turun ke tanah.

"cucu Datuk hebat sekali!" memuji Datuk Rao Basaluang Ameh sambil membelai kepala Ken Permata. "Cucuku, ceritakan pada kakekmu Ini bagaimana kau bisa naik dan turun lagi dari pohon besar itu."

"Ada orang yang membawa saya Kek," jawab Ken Permata.

Mande Saleha merasa kuduknya dingin merinding. Perempuan ini memandang berkeliling lalu mendongak ke atas pohon besar. Lalu dia berbisik pada Datuk.

"Hantu Haru-haru. Pasti mahluk itu hendak menculik Ken Permata."

Hantu Haru-haru adalah sejenis mahluk halus yang pada masa itu banyak gentayangan di Pulau Andalas, suka menculik anak keeil dan membawanya ke atas pohon tinggi antara lain pohon kelapa.

"Bukan, bukan Hantu Haru-haru... Ada mahluk lain," jawab Datuk Rao Basaluang Ameh lalu tidak menunggu lebih lama segera mendukung Ken Permata, setengah berlari membawanya ke goa batu pualam.

Begitu sampai di dalam goa Datuk Rao Basaluang Ameh bertanya pada Ken Permata.

"Cucu Datuk.... Orang yang membawamu naik ke atas pohon tadi, apakah dia seorang lelaki atau seorang perempuan?"

"Perempuan Kek. Orangnya cantik rancak...."

Datuk Rao Basaluang Ameh tereengang mendengar jawaban Ken Permata. "Otak dan jalan pikirannya bukan seperti anak-anak lagi. Dia sudah lebih dewasa dari usia sebenarnya. Pasti roh perempuan yang pernah menjadi Ratu Laut Utara, Nyi Harum Sarti..." Datuk menatap ke luar goa. Lalu mulutnya berucap perlahan. Ada nada kekecewaan pada suaranya. "Laras Parantili, aku sungguh sedih kau sampai mau menjadi pelindung terjadinya penitisan atas diri anak ini. Apakah kau tak bisa menduga kalau kelak di kemudian hari akan timbul bencana besar akibat penitisan roh seorang manusia berhati jahat ke dalam diri seorang anak perempuan yang masih bersih dan suci?

2KITA telah mengetahui apa yang telah terjadi dengan Ken Permata. Sekarang mari kita ikuti perjalanan sang ibu yakni Nyi Retno Mantili setelah dibawa oleh Manusia Paku Sandaka Arto Gampito. Dalam serial berjudul "Perjodohan Berdarah" diceritakan setelah menyelamatkan Nyi Retno Mantili dari Serikat Tiga Momok yang hendak merobek tubuh dan menyantap hati, ginjal serta jantungnya, Manusia Paku berhasil membujuk dan membawa perempuan malang itu ketempat kediaman gurunya di satu goa yang terletak pada sisi barat jurang batu pualam.

Di dalam serial Wiro Sableng berjudul "Dendam Manusia Paku" diceritakan bagaimana setelah sekian lama dijadikan budak nafsu, dengan mempergunakan Kapak Geni 212 milik Wiro, Manusia Paku Sandaka Arto Gampito pada akhirnya berhasil membunuh Dewi Ular. Dalam keadaan tubuh penuh luka bergelimang darah Dewi Ular ditendang masuk ke dalam sebuah jurang batu mengandung pualam. Namun entah apa yang ada di benak Manusia Paku, sesaat setelah Dewi Ular jatuh ke dalam jurang diapun ikut pula menyusul menghambur diri terjun ke dalam jurang yang sama.

Rupanya benar ujar-ujar yang mengatakan sebelum ajal berpantang mati. Ini yang terjadi dengan Sandaka. Seorang sakti yang diam di dalam sebuah goa di dinding barat jurang batu pualam menyelamatkan pemuda itu. Setelah mendengar penuturan Sandaka mengenai riwayat dirinya, si orang tua sakti menaruh hiba lalu mengambilnya menjadi murid, diajak tinggal bersama di dalam goa.

Sang guru yang dalam rimba persilatan dikenal dengan nama Datuk Sipatoka kabarnya berasal dari Pulau Andalas sebelah Utara. Setelah puluhan tahun menghuni goa di jurang batu pualam itu dia kemudian dikenal juga dengan nama Datuk Batu Pualam.

Sebagai orang sakti Datuk Sipatoka mengetahui bahwa di dasar jurang di mana terdapat satu kawah sempit tersimpan sepasang keris sakti tak bersarung yang diduga milik Kerajaan, bernama Keris Nagasona. Konon salah satu kesaktian keris yang satu jantan satu betina ini adalah mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Karenanya Datuk Sipatoka menaruh keyakinan bahwa sepasang senjata sakti itu juga mampu melenyapkan puluhan baja putih yang menancap di tubuh muridnya. Hal itu diberitahukannya pada Sandaka.

Namun tidak mudah untuk mendapatkan sepasang keris sakti tersebut. Sang Datuk menyirap berita yang berasal dari sebuah kitab bernama Kitab Seribu Petunjuk Kuna dan memberitahu pada muridnya bahwa pada malam Sekatan yang akan datang, didahului dangan tanda munculnya Bintang Kalimukus di langit maka saat itulah sapasang keris sakti akan keluar dari tempat pertapaannya selama belasan tahun di dasar kawah jurang batu pualam. Sepasang keris itu sendiri konon telah berusia dua ratus tahun.

Bagaimana dengan Dewi Ular? Apakah benar-benar menemui ajal pada saat dirinya terpental ke dalam jurang batu pualam akibat tendangan Sandaka?

Dalam keadaan tubuh penuh luka bekas bacokan kapak sakti bergelimang darah dan siap meregang nyawa Dewi Ular melayang jatuh ke dalam jurang. Tidak disangka-sangka dari dalam sebuah goa di dinding timur muncul seorang perempuan sakti menyelematkannya. Perempuan bertubuh gemuk ini bernama Kunti Rao, merupakan musuh bebuyutan Datuk Sipatoka alias Datuk Batu Pualam yang tinggal dalam goa di dinding barat jurang. Dewi Ular bukan saja diselamatkan tapi juga diambil jadi murid. Namun sang guru bernasib buruk. Dewi Ular yang culas secara keji kemudian membunuh Kunti Rao mempergunakan paku emas yang telah berubah hitam yang ditusukkan ke pusarnya oleh Pendekar 212 Wiro Sableng.

Ketika di Kotaraja tengah berlangsung perayaan Sekaten, pada malam harinya di langit di atas jurang benar-benar muncul, Bintang Kalimukus. Di sekitar mulut jurang batu pualam saat itu t.elah berkumpul serombongan tokoh dari Keraton di bawah pimpinan Pangeran Ipong Nalakudra. Pangeran ini telah sekian lama menderita menyakit lumpuh. Dia percaya sepasang keris sakti Nagasona mampu memberi kesembuhan pada penyakitnya. Itu sebabnya bersama pengiringnya yang terdiri dari tokoh-tokoh silat Kerajaan dia mendatangi jurang batu pualam untuk mendapatkan dua keris sakti.

Ternyata yang datang ke tempat itu bukan cuma rombongan dari Keraton, tapi juga Ratu Ular bersama sang murid, Dewi Ular yang telah lebih dulu berada di tempat itu. Lalu tidak terduga datang pula tokoh sakti utama rimba persilatan yang dikenal dengan julukan Si Raja Penidur. Tokoh yang jarang muncul ini dan sepanjang tahun boleh dikatakan selalu tidur, sekali memperlihatkan diri maka ini merupakan pertanda bahwa satu peristiwa besar akan terjadi di tempat itu.

Sementara itu Pendekar 212 Wiro Sableng bersama Anggini murid DewaTuak juga telah berada di sekitar jurang batu pualam. Sepasang pendekar muda mudi ini dicurigai oleh Pangeran Ipong dan para pengikutnya sebagai hendak merampas keris Nagasona. Padahal keduanya tidak tahu-menahu keberadaan senjata sakti itu. Mereka datang ke jurang batu pualam justru karena mencurigai bahwa Dewi Ular sebenarnya masih hidup sambil mencari tahu apa yang terjadi dengan Manusia Paku Sandaka.

Ketika malam itu akhirnya Bintang Kalimukus muncul di langit, di dasar jurang dua keris sakti Nagasona mencuat keluar dari dalam kawah dan para tokoh rimba persilatan berkelahi hebat untuk mendapatkan. Ternyata yang beruntung adalah Ratu Ular. Begitu dia berhasil menangkap sepasang keris sakti dengan cepat Ratu Ular sapukan dua keris ke tubuh muridnya hingga tubuh Dewi Ular yang tadinya penuh cacat luka bekas hantaman Kapak Naga Geni 212 sembuh dengan seketika. Kekuatan, tenaga dalam serta kesaktiannya pulih.

Dengan mengandalkan dua keris sakti Ratu Ular kemudian berusaha menghabisi semua tokoh silat yang ada di tempat itu. Dia nyaris hampir membunuh Datuk Sipatoka alias Datuk Batu Pualam. Ketika dia mengejar dan hendak menghabisi Manusia Paku Sandaka Pendekar 212 Wiro Sableng segera masuk ke dalam kancah pertarungan dengan Kapak Naga Geni 212 di tangan kanan. Ternyata kapak mustika sakti tidak mampu menghadapi sepasang keris pusaka. Wiro terpental, kapak sakti lepas dari pegangannya. Sesaat lagi Ratu Ular hendak melancarkan serangan yang mematikan tiba-tiba Si Raja Penidur jatuhkan diri di dasar jurang tapi dalam keadaan mata terpejam mulut mengorok alias tidur lelap! Di mulutnya masih terselip pipa berasap! Enak saja dia menggolekkan diri di atas satu batu besar. Selagi semua orang terkesiap melihat kemunculan tokoh utama rimba persilatan yang berperilaku aneh ini, Wiro cepat mengambil Kapak Naga Geni 212 yang tercampak di batu jurang.

Melihat kemunculan Si Raja Penidur, apa lagi ketika Wiro membangunkan tokoh rimba persilatan yang memiliki kesaktian luar biasa ini, Ratu Ular tampak gelisah. Dia segera membisiki Dewi Ular untuk segera meninggalkan tempat itu. Namun ketika guru dan murid bersiap kabur, tahu-tahu Si Raja Penidur sudah menghadang. Setelah hembuskan asap pipa dan menguap lebar Si Raja Penidur menegur.

"Untari, kau masih saja berkelakuan macammacam. Apa kekecewaan masa muda masih menghantui dirimu?"

Semua orang yang ada di atas permukaan kawah di dalam jurang batu pualam terheran-heran mendengar kata-kata si gemuk, tapi tak ada yang berani bertanya. Siapa yang bernama Untari itu? Ratu Ular? Lalu mereka melihat perubahan pada wajah Ratu Ular. Sikapnya kini menunjukkan rasa gelisah kalau tidak mau dikatakan takut. Takut pada siapa?

"Raja Penidur," tiba-tiba Ratu Ular berucap. "Urusan masa lalu tidak perlu diungkit-ungkit..."

"Ah! Jadi dialah yang bernama Untari! Sang Ratu Ular!" bisik Pendekar 212 Wiro Sableng pada Anggini.

"Kalau begitu katamu, baiklah. Kau boleh pergi. Tapi ada dua hal yang harus kau tinggalkan," kata Si Raja Penidur.

"Hemmm, dua hal apakah itu?" tanya Ratu Ular.

Si Raja Penidur menyedot pipa dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya ke udara hingga tempat itu dipenuhi bau tembakau yang tidak sedap. Setelah menguap dan mengucak kedua matanya baru dia menjawab.

"Pertama serahkan padaku sepasang keris Nagasona. Dua senjata mustika sakti itu bukan milikmu."

"Lalu apakah dua keris ini milikmu?" tukas Ratu Ular dengan wajah sunggingkan seringai sinis.

"Memang jelas bukan milikku. Aku hanya jadi perantara untuk mengembalikan pada pemiliknya. Sebentar lagi utusan pemilik akan datang untuk mengambil..."

Ratu Ular tertawa panjang. "Ceritamu enak sekali didengarnya. Rupanya kau sekarang telah jadi seorang perantara. Bagiku seorang perantara tidak lebih dari seorang kacung."

Si Raja Penidur tenang saja mendengar dirinya dikatakan sebagai kacung. Setelah meniup pipa dalam-dalam dan menghembuskan asap ke udara dia menjawab. "Aku hanya memberi tahu. Aku tidak bicara dusta. Tidak pernah..."

"Kecuali terhadapku?" Ratu Ular cepat potong ucapan Si Raja Penidur.

Si Raja Penidur sesaat berubah parasnya lalu terkekeh perlahan. "Kau tadi mengatakan urusan masa lalu tak perlu diungkit-ungkit. Menurutku ini adalah penyelesaian yang paling baik."

"Kau belum mengatakan hal yang kedua." Ratu Ular alihkan pembicaraan.

"Hal kedua yang harus kau tinggalkan di tempat ini adalah perempuan muda berjuluk Dewi Ular itu..."

Sepasang alis Ratu Ular berjingkat. Dua bola mata membesar.

"Apa urusanmu dengan diri muridku? Kau hendak memperlakukannya seperti yang kau perbuat padaku puluhan tahun silam?"

Pendekar 212 dan semua orang yang ada di tempat itu jadi saling pandang mendengar ucapan Ratu Ular. Rupanya ada jalinan hubungan sangat dekat antara Ratu Ular dan Raja Penidur di masa puluhan tahun silam.

Si Raja Penidur batuk-batuk beberapa kali lalu menguap lebar-lebar.

"Aku sudah mengatakan dua hal permintaanku. Terserah padamu mau memenuhi atau tidak."

"Aku harus tahu dulu apa yang hendak kau lakukan terhadap muridku."

"Aneh kalau kau masih bertanya. Apa kau tidak menyadari kesalahan besar yang telah dibuatnya? Dosanya setinggi langit sedalam lautan. Mulai dari ubun-ubun sampai ke telapak kaki! Membunuh tokohtokoh rimba persilatan tak berdosa. Bahkan teganya membunuh gurunya sendiri! Kau kira dia bisa lolos begitu saja dari hukuman? Tapi mengingat hubunganmu dengan diriku, aku tidak akan bertindak terlalu keras padanya. Aku bersedia melindungi dirinya dari balas dendam orang-orang rimba persilatan yang mengerikan. Aku akan mengatur hukuman yang terbaik bagi dirinya."

"Hukuman terbaik bagi dirinya adalah ikut bersamaku. Sekarang juga! Jangan ada yang berani mengganggu menghalangi!" kata Ratu Ular pula tegas.

"Terserah padamu. Aku sudah menawarkan yang terbaik. Mataku sudah mulai mengantuk. Aku ingin menyelesaikan urusan ini sebelum aku tidur lagi."

"Aku tidak akan memenuhi permintaanmu, Raja Penidur! Seperti kau tidak pernah memenuhi apa-apa terhadap diriku! Kau mau tidur silahkan. Aku tidak perduli sekalipun kau tidak pernah bangun lagi untuk selama-lamanya!"

"Ah, sayang sekali kalau begitu," kata Raja Penidur lalu menguap tak acuh.

Ratu Ular memberi isyarat pada Dewi Ular. Kedua perempuan itu segera melangkah pergi. Namun baru berjalan dua tindak tiba-tiba dari atas ada cahaya putih melayang turun. Ketika cahaya mencapai pertengahan jurang, semua orang yang ada di tempat itu jadi tertegun. Yang melayang turun adalah seorang gadis sangat cantik. Berpakaian lilitan kain sutera putih halus. Kalau saja lilitan kain tidak tebal maka pakaian itu nyaris tembus pandang memperlihatkan tubuhnya yang putih elok. Udara di dasar kawah kini dipenuh bau harum semerbak yang keluar dari tubuh dan pakaian si gadis.

Raja Penidur cabut pipa dari sela bibir, menguap lebar-lebar lalu berpaling pada Ratu Ular. "Utusan yang ditunggu telah datang. Aku tidak bisa membantumu lagi, Untari..."

Ratu Ular terkesiap. Dewi Ular tampak tegang. Gadis cantik berpakaian sutera putih melayang turun dan berdiri di hadapan Ratu Ular. Wiro dan Anggini melihat bagaimana dua kaki putih bagus si gadis sama sekali tidak menjejak batu di dasar jurang. Walau kagum melihat kecantikan dan keelokan tubuh orang namun diam-diam Wiro merasa tengkuknya dingin.

Dia segera maklum kalau gadis ini bukan manusia biasa.

Si gadis yang oleh Raja Penidur disebut sebagai utusan menjemput dua keris sakti anggukkan kepala seraya ulurkan dua tangan. Memberi isyarat pada Ratu Ular agar segera menyerahkan keris Nagasona.

Ratu Ular melangkah mundur. Tangan kiri mengusap kepala ular besar yang bergelung di lehernya, tangan kanan memberi tanda pada Dewi Ular. Sang murid yang mengerti isyarat ini segera siapkan paku hitam. Didahului teriakan keras Ratu Ular maka guru dan murid lancarkan tiga serangan ganas.3SERANGAN pertama adalah serangan ular besar yang menggelantung di leher Ratu Ular. Binatang ini melesat laksana anak panah mematuk ke arah gadis cantik berpakaian sutera putih. Serangan kedua berupa cahaya kuning yang keluar dari paku hitam di tangan Dewi Ular. Paku hitam ini dulunya adalah paku emas yang didapat Wiro dari Eyang Sinto Gendeng untuk melumpuhkan Dewi Ular. Oleh Dewi Ular paku ini kemudian dijadikan senjata sakti mandraguna. Walau keadaannya sekarang hitam namun sinar maut yang dipancarkannya tetap berwarna kuning emas.

Serangan ketiga inilah serangan yang terhebat datang menghambur dari sepasang keris sakti berupa hamparan dua cahaya kuning terang benderang menyilaukan sekaligus menggidikkan.

Manusia biasa, betatapun tinggi ilmu silat dan kesaktiannya, dihantam tiga serangan sakaligus seperti itu akan sulit lolos selamatkan diri. Si Raja Penidur tampak kerenyitkan kening melihat datangnya serangan sambil siap membantu kalau sampai gadis cantik berpakaian sutera putih tidak sanggup menahan hantaman tiga serangan. Wiro sendiri sudah merapal ajian Pukulan Sakti Sinar Matahari. Tangan kanannya sebatas siku ke bawah telah berubah menjadi putih perak. Malah dengan jengkel dia berteriak. Memaki Ratu Ular dan Dewi Ular sebagai pengecut.

Namun gadis jelita yang dua kakinya tidak berpijak ke dasar kawah tampak tenang saja. Sambil tersenyum dan lemparkan lirikan ke arah murid Sinto Gendeng dia membuat lemah gemulai laksana seorang penari padahal yang dihadapi adalah serangan maut!

Si gadis lambaikan tangan kiri dengan gerakan perlahan. Tiga serangan yang menyambar ke arahnya seolah-olah disedot masuk ke dalam telapak tangan kiri yang dikembangkan.

Tiga larik sinar kuning dari sepasang keris sakti dan satu lagi dari paku hitam di tangan Dewi Ular lenyap pupus seperti asap dihembus angin.

"Cleepp!"

Bersamaan dengan itu kapala ular besar menempel di telapak tangan kiri gadis berpakaian sutera putih. Binatang ini mendesis keras. Menggeliat berusaha melepaskan diri. Namun sekali lima jari tangan si gadis meremas maka kepala binatang jahat berbisa itu hancur remuk. Tubuh sampai ke ekor yang masih utuh dalam keadaan menggelepar-gelepar, dilempar amblas ke dalam dasar kawah jurang batu pualam. Sekali gadis cantik meniup maka tangannya yang berlumuran darah ular bersih kembali.

Masih dengan gerakan seperti penari, tangan kanan gadis cantik yang oleh Raja Penidur disebut sebagai utusan untuk mengambil sepasang keris Nagasona, bergerak melambai ke depan. Ratu Ular merasa satu kekuatan dahsyat menerpa membuat dua kakinya goyah dan tubuh terjajar ke belakang. Belum sempat mengimbangi diri dia melihat sesuatu berkelebat di depannya, lalu tahu-tahu dua keris sakti yang dipegangnya di tangan kiri kanan telah berpindah ke tangan kanan gadis cantik di hadapannya.

Ratu Ular berteriak keras. Dia menerjang ke depan. Dalam jarak begitu dekat dua tangan bukan saja melancarkan serangan tangan kosong ganas tapi dua tangan itu tiba-tiba berubah menjadi sepasang tombak dengan kepala berbentuk ular senduk hijau!

Dua mata gadis cantik membesar, dua alis naik ke atas. Tangan kiri digerakkan. Gerakan lembut tapi mengandung tenaga dahsyat!

"Trakk! Traakk!"

Bukan cuma dua tombak berbentuk kepala ular kobra jejadian yang hancur tapi dua tangan Ratu Ular ikut patah dan remuk mulai dari pertengahan lengan sampai ke ujung jari. Raungan keras perempuan ini menggelepar di dalam jurang batu.

Melihat gurunya celaka begitu rupa didahului jeritan tak kalah kerasnya Dewi Ular kembali menyerbu dengan paku hitam bertuah. Gadis yang diserang lagi-lagi lambaikan tangan kiri.

"Kraakk!"

Paku hitam hancur luluh. Begitu juga tangan kanan Dewi Ular yang tadi memegang senjata itu. Guru dan murid sama terhuyung lalu tubuh mereka saling berbenturan.

"Dewi, kita tak mungkin keluar hidup-hidup dari tempat ini. Kalaupun mampu tak ada gunanya hidup dalam keadaan cacat seperti ini. Ikuti apa yang aku lakukan."

"Saya mengerti Ratu. Saya siap..." sahut DewiUlar. Dengan cepat diam-diam dia kerahkan ilmu kesaktian bernama Membalik Mata Menipu Pandang.

Tidak ada satu orangpun yang menduga, tidak ada yang menyangka maupun mampu mencegah ketika Ratu Ular dan Dewi Ular didahului teriakan keras sama-sama lari lalu menghujamkan kepala masingmasing ke dinding jurang batu pualam.

Suara remuknya kepala kedua orang ini terdengar luar biasa menggidikkan! Tubuh mereka tergelimpang tak bernyawa di atas gundukan batu di samping kawah di dasar jurang. Untuk beberapa lama keadaan di tempat itu dipagut kesunyian.

Gadis cantik berpakaian sutera putih palingkan kepala ke arah Raja Penidur. Datuk rimba persilatan ini maklum arti pandangan itu. Si gadis akan segera meninggalkan jurang batu pualam.

Sebelum pergi, atas permintaan Si Raja Penidur gadis cantik berpakaian sutera putih mengusapkan sepasang keris Nagasona ke tubuh Datuk Sipatoka dan Manusia Paku Sandaka. Saat itu juga luka dalam yang dialami Datuk Sipatoka akibat hantaman Ratu Ular tadi serta merta menjadi sembuh. Sementara sapuan dua keris sakti membuat tiga puluh paku baja putih yang menancap di sekujur kepala, muka dan tubuh Sandaka tercabut bermentalan, jatuh ke dalam dasar jurang. Tubuh Sandaka kepulkan asap berbau busuk.

Si Raja Penidur menguap lalu kucak mata dan berkata.

"Terima kasih, kau telah mengobati dua sahabat kami. Gadis utusan penjemput sepasang keris sakti, kau boleh pergi. Serahkan keris Nagasona pada pemiliknya di pantai selatan. Jika sebentar nanti kau berada di atas jurang, ada seorang Pangeran yang telah puluhan tahun menderita lumpuh. Tolong sembuhkan penyakitnya dengan keris sakti itu. Sampaikan sa

lamku pada Sang Penguasa Agung Samudera Selatan."

Gadis yang diajak bicara hanya menjawab dengan anggukan kepala. Ketika dia memutar tubuh siap hendak melesat ke atas jurang, tiba-tiba Pendekar 212 Wiro Sableng berseru.

"Gadis cantik! Tunggu! Jangan pergi dulu! Aku juga menderita sakit. Mungkin luka dalam. Tolong sembuhkan. Usapkan keris sakti itu ke dadaku..." Lalu Wiro cepat-cepat buka kancing bajunya dan melangkah mendekati si gadis sambil sodorkan dada. Si gadis tertegun sesaat lalu tersenyum.

Si Raja Penidur cabut pipa dari sela bibir. Jaraknya dengan Wiro saat itu cukup jauh tapi seperti bisa mulur tangan itu menjadi panjang dan pipa lalu diketukkan ke kepala murid Sinto Gendeng.

"Anak sableng! Jangan berani macam-macam! Siapa tidak tahu akal bulusmu! Minta diusap segala!"

"Plettaaakk!"

Pipa Si Raja Penidur mandarat di kening Pendekar 212 hingga saat itu juga jidat Wiro jadi benjut banjol sebesar telur ayam. Sakitnya bukan main karena Si Raja Penidur memang sengaja mengalirkan hawa sakti ke ujung pipa yang bisa membuat orang kesakitan setengah mati. Tapi Wiro juga tidak tinggal diam. Sebelum ujung pipa mendarat di keningnya dia kerahkan tenaga dalam mengandung hawa lembut. Walau keningnya tetap benjol tapi ujung pipa Si Raja Penidurjadi bengkok! Membuat manusia gemuk sakti ini mendelik sesaat lalu kembali sepasang matanya redup dan dia menguap lebar-lebar.

Gadis cantik berpakaian sutera putih tertawa. Lalu dia meniup ke arah wajah Wiro. Saat itu juga benjol besar di kening sang pendekar dan rasa sakit serta merta lenyap! Selagi Wiro tertegun si gadis sudah melesat ke atas jurang.

"Ah, tidak diusap pun tak jadi apa. Nafasnya segar dan sejuk seperti embun pagi, seharum kembang melati! Rugi kau tidak merasakan tiupannya Kek!" Wiro tertawa gelak-gelak.

"Kelakuan konyolmu masih tidak berubah!" kata Si Raja Penidur sambil berusaha meluruskan pipanya yang bengkok. "Gadis hendak kau permainkan tadi bisa saja dia adalah si pemilik sapasang keris Nagasona yang sebenarnya..."

Sambil mengusap kaning murid Sinto Gendeng bertanya. "Kalau begitu gadis tadi itu siapa sebenarnya Kek?"

"Bagaimana kalau dia adalah Ratu Penguasa Samudera Selatan... " "Maksudmu Kek, Nyai Roro Kidul?" tanya Wiro lagi. "Apa ada Ratu lain yang jadi penguasa di kawasan itu?" tukas Raja Penidur.

"Ah...!" Wiro jadi garuk-garuk kepala.

Raja Penidur masih terus berusaha meluruskan pipanya yang bengkok tapi tidak bisa-bisa. Lalu dia mengomel, memaki pada Wiro.

"Lihat pekerjaan kurang ajarmu, kalau pipa ini tidak bisa kupergunakan lagi, aku akan membetot lepas menanggalkan salah satu tangannya. Tulang tanganmu akan kujadikan pipa pengganti pipa bengkok sialan ini!"

Wiro tertawa. Lalu membungkuk, ulurkan kepala dan meniup. Saat itu juga pipa yang bengkok lurus kembali.

"Dasar anak setan!" Semprot Si Raja Penidur.

Wiro tertawa gelak-gelak.4TEPAT empat puluh hari setelah peristiwa hebat di dasar jurang batu pualam di mana Ratu Ular dan Dewi Ular menemui kematian, pagi hari ketika Sandaka Arto Gampito terbangun dari tidurnya pemuda ini tersentak kaget lalu berteriak keras. Dia dapati tiga puluh paku baja murni yang sebelumnya telah lenyap dari kepala dan tubuhnya kini muncul dan ada lagi.

Teriakan sang murid membuat Datuk Sipatoka mendatangi. Orang tua ini tertegun begitu melihat apa yang terjadi dengan si pemuda.

"Sandaka, seperti apa yang sudah aku katakan padamu, seharusnya pagi ini kau boleh meninggalkan goa. Tapi dengan adanya kejadian ini..."

"Datuk, bagaimana hal ini bisa terjadi. Bagaimana paku-paku jahanam ini muncul lagi dan menancap di kepala, muka serta tubuhku? Apakah ini pekerjaan jahat roh Datuk Bululawang yang dulu menancapkan paku-paku celaka ini?"

Datuk Sipatoka alias Datuk Batu Pualam merenung sejenak lalu gelengkan kepala. Mulutnya berucap perlahan.

"Ini bukan pekerjaan roh Datuk Bululawang. Aku lebih menduga ini adalah perbuatan roh Ratu Ular atau Dewi Ular atau kedua-duanya. Sandaka, ikuti aku!"

Sandaka ikuti gurunya keluar dari goa lalu turun ke dasar jurang. Mereka pergi ke bagian kawah di mana dulu atas tekanan Si Raja Penidur Ratu Ular dan Dewi Ular tewas melakukan bunuh diri. Dasar kawah diselimuti bau busuk. Dan di situ mereka hanya menemui satu mayat yang telah sangat rusak. Dari sisa-sisa pakaiannya jelas bahwa mayat itu adalah mayat Ratu Ular.

"Ini mayat Ratu Ular! Di mana mayat Dewi Ular?!" Sandaka berkata sambil memandang berkeliling.

"Muridku, dugaanku tidak salah. Apa yang terjadi atas dirimu adalah perbuatan Dewi utar. Perempuan iblis itu tidak mati sungguhan. Dia pasti menggunakan satu ilmu kesaktian untuk menipu semua orang ketika dia mengikuti gurunya melakukan bunuh diri dengan membenturkan kepala ke dinding batu jurang."

"Jadi Dewi Ular saat ini masih hidup?"

Datuk Sipatoka anggukkan kepala.

"Aku berlaku lalai. Seharusnya aku sudah duludulu turun ke dasar jurang ini untuk menyelidiki keadaan." Sang Datuk menarik nafas dalam lalu menyambung ucapan. "Sandaka, aku terpaksa membatalkan rencana kepergianmu. Aku ingin kalau kau meninggalkan jurang batu ini keadaanmu bersih tanpa paku. Paling tidak aku mendapat petunjuk bagaimana cara menyembuhkan dirimu."

"Mungkin aku harus pergi ke laut selatan. Mencari gadis berpakaian sutera putih itu. Meminta agar dia mau menolong diriku sekali lagi dengan sepasang keris Nagasona."

Datuk gelengkan kepala.

"Sampai kiamat mungkin kau tak akan bisa menemui gadis itu, Kalaupun kau bisa menemuinya, belum tentu keris sakti Nagasona bisa dipergunakan untuk penyembuhan penyakit yang sama untuk kedua kalinya..."

"Kalau begitu biar aku mencari Dewi Ular. Aku akan membunuh perempuan iblis itu. Akan aku cerai beraikan sekujur tubuhnya!"

"Muridku, hal yang terbaik adalah memohon dan meminta petunjuk pada Yang Maha Kuasa."

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Datuk?"

"Mari kita bersemedi."

Setelah guru dan murid sama-sama bertapa salama dua puluh satu hari tanpa makan dan minum hingga tubuh meraka nyaris seperti jerangkong, akhimya sang guru mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Petunjuk itu agak aneh, tapi bagaimanapun juga itulah hasil yang didapat dan harus dilakukan demi kesembuhan sang murid.

"Sandaka, Yang Maha Kuasa telah memberi petunjuk padaku. Mungkin kau juga sudah merasakan getarannya di dalam tubuhmu."

"Datuk, aku memang merasakan sesuatu dalam diriku. Aku mohon Datuk mau menjelaskan apa petunjuk yang Datuk dapats ekarang juga."

Setelah menatap wajah muridnya yang malang itu sejurus, Datuk Sipatoka alias Datuk Batu Pualam memberi tahu bahwa keadaan diri Sandaka Arto Gampito bisa disembuhkan, puluhan paku dapat dilenyapkan kalau pemuda itu nikah dengan seorang perempuan berkepandaian tinggi berotak miring! Masih menurut petunjuk, bilamana Manusia Paku telah melakukan hubungan badan dengan perempuan yang dinikahinya itu sebanyak 21 kali maka seluruh paku yang menancap di tubuhnya akan rontok dan musnah.

Lama Sandaka termenung. "Siapa perempuannya yang mau dinikahi oleh lelaki seperti diriku ini?" Ucap si pemuda lirih.

Datuk Sipatoka terdiam sesaat. Hatinya merasa terenyuh mendengar ucapan sang murid.

"Perempuan gila alias sinting itu petunjuk yang aku dapat. Datangnya dari Yang Di Atas. Kau tak perlu meragukan..." kata Datuk Sipatoka pula.

Maka pada suatu hari atas perkenan sang guru Manusia Paku pergi meninggalkan jurang batu pualam disertai pesan bahwa dia tidak boleh kembali kecuali menemukan dan membawa perempuan dimaksud. Selain itu dia juga tidak boleh mempergunakan semua ilmu silat dan ilmu kesaktian yang didapatnya dari sang guru secara sembarangan terutama sebelum dirinya mengalami kesembuhan dari paku baja putih.

Ternyata tidak mudah bagi Manusia Paku Sandaka mencari dan mendapatkan perempuan seperti yang disyaratkan oleh sang guru. Memang dia bisa menemukan perempuan gila di mana-mana, mulai dari yang muda sampai tua renta. Namun yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itulah yang sulit dicari.

Setelah menghabiskan waktu hampir dua tahun mencari dan dalam keadaan putus asa akhirnya suatu hari dari suami istri pedagang mainan anak di Kotaraja Sandaka mendengar cerita tentang seorang perempuan muda berwajah cantik, berotak tidak waras tapi memiliki ilmu silat dan kasaktian tinggi.

Sandaka melakukan penyelidikan sampai dia mendapatkan kabar yang lebih jelas tentang keberadaan perempuan muda berotak miring itu. Dari kabar yang disirapnya diketahui perempuan itu bernama Nyi Retno Mantili tinggal di tempat kediaman seorang kakek sakti bernama Kiai Gede Tapa Pamungkas di puncak Gunung Gede dan ada dugaan bahwa sang Kiai menjadi pelindung bahkan telah mengambil perempuan itu menjadi muridnya.

Maka Manusia Paku Sandaka segera berangkat menuju puncak Gunung Gede. Seperti yang dituturkan dalam serial Wiro Sableng berjudul "Perjodohan Berdarah" Manusia Paku sampai di tempat kediaman Kiai Gede Tapa Pamungkas ketika sang Kiai tengah bicara dengan Pendekar 212 Wiro Sableng dan Ratu Duyung parihal perjodohan mereka. Karena tidak menemui Nyi Retno Mantili dan tidak punya urusan dengan segala perjodohan sang pendekar sahabatnya itu diam-diam tanpa diketahui siapapun Manusia Paku tinggalkan tempat kediaman Kiai Gede Tapa Pamungkas.

Mungkin memang sudah berjodoh bahwa dia akhirnya akan bertemu dengan orang yang dicarinya. Suatu hari ketika kejadian Nyi Retno Mantili dikeroyok kedua kalinya oleh Tiga Momok yang hendak membunuh dan mengorek isi tubuhnya, Manusia Paku menyelamatkan perempuan itu.

Merasa orang telah menyelamatkan nyawa Nyi Retno Mantili bersikap bersahabat dengan Manusia Paku dan mau saja diajak ikut untuk menemui Datuk Sipatoka. Dalam perjalanan berkali-kali Nyi Retno Mantili mengatakan bahwa ayah dari Kemuning, boneka kayu yang dianggapnya sebagai anak, adalah Pendekar 212 Wiro Sableng. Manusia Paku yang kenal baik dengan Wiro hanya tertawa gelak-gelak mendengar ucapan Nyi Retno Mantili. Saat itu Manusia Paku Sandaka berkata.

"Aku tahu, kau memang punya suami. Mustahil kau punya anak tapi anakmu tidak punya ayah. Suamimu adalah Patih Kerajaan bernama Wira Bumi. Tapi bukankah dia sudah menemui ajal? Tewas di tangan Pendekar 212 Wiro Sableng sewaktu hendak menyelamatkan bayimu?"

"Kau sama saja gilanya dengan yang lain-lain!" Kata Nyi Retno Mantili dengan nada kesal dan wajah cemberut.

"Maksudmu?" tanya Sandaka sambil usap wajahnya yang penuh ditancapi paku baja putih.

"Aku tidak pernah jadi istri Wira Bumi! Aku tidak kenal siapa itu Wira Bumi! Aku tidak punya bayi selain Kemuning! Ayah Kemuning bukan Wira Bumi! Bukan Patih Kerajaan!"

"Lalu siapa?!"

"Pendekar 212 Wiro Sableng."

Manusia Paku kaget sampai hentikan lari. Dia turunkan Nyi Retno Mantili dari panggulannya dan bertanya. "Siapa? Kau tadi menyebut siapa?!"

"Apa kau tuli?!"

"Tidak. Aku tidak tuli. Tapi coba katakan sekali lagi!" Nyi Retno Mantili runcingkan bibirnya yang mungil.

"Ayah Kemuning itu Pendekar 212 Wiro Sableng! Nah dengar sekarang? Ngerti sekarang?"

Manusia Paku menatap wajah Nyi Retno Mantili beberapa ketika lalu tertawa gelak-gelak.

KETIKA beberapa waktu kemudian Manusia Paku Sandaka sampai di goa batu pualam dengan membawa Nyi Retno Mantili, pemuda ini mengalami hal yang sungguh tidak terduga. Di dalam goa dia tidak menemukan Datuk Sipatoka alias Manusia Batu Pualam sang guru, tapi yang dijumpainya di situ sesosok jerangkong tengkorak manusia, tergeletak di lantai goa tersandar ke dinding.

"Jerangkong siapa?" tanya Nyi Retno Mantili begitu diturunkan dari panggulan bahu kiri. "Anakku Kemuning bisa sakit ketakutan." Lalu perempuan ini mendekapkan boneka kayu ke dadanya. Dia memandang berkeliling. Lalu bertanya lagi. "Mana gurumu? Apa jerangkong lni gurumu?"

"Diam dulu Nyi Retno." Kata Manusia Paku dengan suara bergetar. "Jangan banyak bertanya. Aku... sesuatu terjadi di dalam goa ini, Aku tidak tahu apa ini jerangkong guru atau siapa... " Kata Manusia Paku pula sambil sepasang matanya memperhatikan sekujur jerangkong mulai dari kepala sampai ke kaki. Ketika dia memperhatikan leher dan tangan kiri jerangkong, pemuda ini berteriak keras. Di leher jerangkong melingkar sebuah kalung dan di lengan kiri ada gelang hitam. Keduanya terbuat dari akar bahar. Dia sangat mengenali. Kalung dan gelang itu adalah milik gurunya semasa hidup. Berarti jerangkong yang ada di hadapannya itu adalah jerangkong Datuk Sipatoka alias Manusia Batu Pualam.

Manusia Paku berteriak sekali lagi hingga seantero goa batu bergetar dan Nyi Retno Mantili sampai terhuyung-huyung, cepat-cepat menutup dua telinganya yang terasa sakit.

"Guru! Apa yang terjadi dengan dirimu?!" Teriak Manusia Paku Sandaka sambil jatuhkan diri dan merabai jerangkong mulai dari tengkorak kepala sampai ke pinggang. Mulut terisak menahan tangis. "Guru, siapa yang melakukan perbuatan keji ini?! Siapa yang membunuhmu?!"

Sambil berteriak Manusia Paku pukulkan tinju kanannya berulang kali ke lantai goa hingga lantai batu itu pecah-pecah dan melesak.5"MANUSIA sinting. Mengapa kau menangisi jerangkong yang belum ketahuan gurumu atau bukan... Nyi Retno Mantili menegur.

"Diam!" teriak Manusia Paku marah menggeledek hingga Nyi Retno Mantili tersurut mundur. "Aku pasti sekali ini jenazah gu ruku! Aku mengenali kalung dan gelang akar bahar yang masih melekat di leher dan lengan kirinya! Jangan kau berani mengacau jalan pikiranku dengan ucapan macam-macam!"

"Siapa yang membuat pikiranmu kacau. Pikiranmu justru kacau sendiri! Hik...hik! Bagaimana kalau jerangkong ini bukan jerangkong gurumu tapi jerangkong orang lain. Lalu ada lagi seorang lain yang menggantungkan kalung di leher dan melingkarkan gelang di tangan. Apa tidak kacau?! Kau tidak bisa meyakini ini jerangkong gurumu atau bukan! Hik...hik!"

"Diam!" Sandaka kembali menghardik. Sepasang matanya tampak menyala merah dan basah oleh air mata. "Aku yakin ini adalah jerangkong Datuk Sipatoka!"

"Hik...hik, aku sudah sering melihat orang menangisi jenazah. Tapi kalau yang menangisi jerangkong baru sekali ini!"

"Perempuan sinting! Sekali lagi kau berani bicara ngaco, kupatahkan batang lehermu!" Teriak Manusia Paku lalu melompat dan mencekik leher Nyi Retno Mantili.

"Hik...hik! Kalau begini sifat manusia yang mau menikahi diriku lebih baik aku minggat! Sudah seram mengerikan tak karuan rupa, bau, kasar pula! Kemuning, mari kita tinggalkan tempat ini! Mari kita cari ayahmu!"

Habis berkata begitu Nyi Retno Mantili tendangkan kaki kanannya ke perut Manusia Paku. Kelihatannya tendangan asal-asalan saja tapi sebenarnya mengandung tenaga dalam tinggi pemberian Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Bukkk!"

Tubuh tinggi besar Manusia Paku Sandaka terpental, punggung terbanting ke dinding. Perutnya walau tidak cidera tapi sakit bukan kepalang seperti mau pecah. Aneh dia tidak unjukkan tampang marah. Seperti sadar mendengar ucapan orang, Sandaka jatuh berlutut di lantai goa. Ketika dia melihat Nyi Retno Mantili memutar tubuh hendak melangkah keluar goa, dengan suara sayu pemuda ini berkata.

"Aku mohon, jangan pergi..."

Nyi Retno Mantili hentikan langkah. Dia mengusap kepala boneka seraya berkata. "Kemuning, ada lelaki cengeng meminta kita jangan pergi. Bagaimana menurutmu? Apa kita tinggalkan saja dia?"

"Nyi Retno, kau harapanku satu-satunya untuk mendapatkan kesembuhan. Aku mohon jangan pergi..."

"Hemmm... Untung anakku menggelengkan kepala tanda dia tidak mau pergi. Aku mengikuti apa katanya. Baiklah, aku tidak mau pergi. Asal kau tidak kasar lagi padaku..."

"Nyi Retno, aku berjanji tidak akan kasar lagi padamu. Dan aku berterima kasih kau tidak meninggalkan diriku. Aku akan memeriksa jenazah guruku sekali lagi."

"Buat apa periksa lagi. Dia sudah menemui ajal. Mungkin sudah lebih dari setahun lalu dia menghembuskan nafas jadi mayat..."

"Mungkin lebih dari itu. Mungkin dua tahun lalu. Tak lama setelah aku meninggalkannya, pergi mencarimu. Aku hanya ingin mengetahui apa yang menyebabkan kematian guru."

"Apa kau tidak melihat ada tanda berupa bintik kebiru-biruan di pertengahan keningnya?" Ucap Nyi Retno Mantili pula.

Manus!a Paku Sandaka terkejut. Dia perhatikan kening tengkorak.

"Aku tidak melihat bintik biru yang kau katakan itu." Berkata Sandaka.

"Coba kau bersihkan tengkorak di bagian kening."

Sandaka memperhatikan. Bagian kening tengkorak memang kotor, diselimuti lumut tipis dan debu yang banyak beterbangan di musim kering

seperti itu. Perlahan-lahan Sandaka usap-usap kening tengkorak. Begitu debu dan lumut tipis pupus dia memang menemukan satu bintik biru bahkan bukan cuma bintik tapi membentuk lobang kecil seujung jari kelingking. Sandaka berpaling kagum pada Nyi Retno.

"Matamu tajam karena kau memiliki kesaktian yang orang lain tidak memiliki. Yang Kuasa memang telah memberi petunjuk bahwa kaulah satu-satunya orang yang bisa menjadi penyembuh keadaan diriku..."

Tiba-tiba dari lobang itu meneuat keluar kepala seekor ular hitam belang coklat bermata merah. Begitu keluar dari lobang tengkorak binatang ini berubah besar dan dengan gerakan kilat meliuk menyambar ke arah kepala Manusia Paku Sandaka.

"Awas!" teriak Nyi Retno Mantili memperingatkan.

Walau tidak melihat tapi Sandaka bisa mendengar suara mendesis. Dia tahu ada bahaya besar mengancam. Dengan cepat dia bergerak mundur sambil palingkan kepala. Saat itulah dia melihat ular hitam besar belang coklat.

"Mahluk jahanam! Pasti kau yang membunuh guruku!"

"Settt!"

Mulut ular hitam belang coklat yang memiliki gigi-gigi runcing berbisa mematuk keras tepat di pertengahan kening Manusia Paku.

"Plaaakk!"

ManusiaPaku Sandaka terlempar, jatuh terduduk di lantai goa. Kepala ular terpental, darah mengucur dari mulutnya yang hancur. Apa yang terjadi? Ketika patukan maut mendarat di kening Manusia Paku,saat itu juga kening pemuda itu berubah menjadi lapisan batu pualam putih keabu-abuan, keras atos luar biasa.

Ilmu yang selama ini dituntut dari Datuk Sipatoka alias Manusia Batu Pualam keluar dengan sendirinya, melindungi si pemuda dari ancaman maut! Selagi ular besar terhuyung-huyung keluarkan desis kesakitan Manusia Paku gerakkan tangan kiri.

"Kraakkk!"

Kepala ular hancur dalam remasan tangan kiri Sandaka. Bangkai ular kemudian dilempar ke luar goa, masuk ke dalam jurang. Sebelum menyentuh dasar jurang, selagi melayang di udara bangkai itu tiba-tiba membentuk bola api lalu meledak bertaburan.

"Ular jejadian!" Ucap Nyi Retno Mantili. Perempuan muda ini usap kepala boneka kayu. "Kemuning tempat ini sangat berbahaya bagi diri klta. Manusia paku bruntalan! Aku ingin kau membawaku keluar dari sini sekarang juga! Lupakan segala macam pernikahan!"

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara tawa perempuan.

"Sandaka! Ternyata kau masih tetap perkasa. Malah lebih perkasa dari dua tahun silam! Hanya sayang kau melakukan hal yang aku tidak suka! Kau datang membawa seorang calon istri, perempuan sinting gila! Jika kau mau membunuh perempuan itu di hadapanku, kuampuni selembar nyawamu! Dan kita berdua akan hidup berdampingan kembali!"

Nyi RetnoMantili tersentak kaget. Dia balas tertawa. Suara tawanya melengking panjang dan dalam sampai ke dasar jurang.

"Kemuning ada mahluk betina jejadian ingin orang membunuh ibumu! Sungguh aku ingin melihat tampangnya. Kalau bicaranya ngacok, tampangnya pasti jelek tidak karuan! Hik...hik...hik!"

Manusia Paku sendiri, yang mengenali suara itu terkejut besar. Dia memandang berkeliling. Lari ke mulut goa tapi tidak melihat siapa-siapa.

"Perempuan yang barusan bicara! Aku tahu kau siapa! Aku mengenali suaramu!" Sebagai jawaban kembali terdengar suara tertawa panjang.

"Sandaka! Aku benar-benar merasa bahagia. Kau masih mengenali suaraku. Itu tak lain satu pertanda bahwa kau masih mencintai diriku!"

"Dewi Ular! Perlihatkan dirimu!" teriak Sandaka. Rahang menggembung, mata menyala.

Tiba-tiba dari dasar jurang batu mencuat keluar satu cahaya hitam dan wuss! Cahaya ini melesat di depan mulut goa, membentuk ujud mahluk yang membuat Nyi Retno Mantili terpekik dan cepat-cepat memeluk erat boneka kayu dalam gendongannya.6DI DEPAN mulut goa berdiri sosok perempuan berpakaian hijau panjang. Rambut tergerai awut-awutan. Tubuh sebatas pinggang ke bawah berbentuk ular berwarna hijau belang hitam. Wajahnya yang sebenarnya cantik terlihat mengerikan karena bagian kening rengkah, hidung dan mata kiri melesak. Di atas kepala ada sebuah mahkota kecil terbuat dari emas berupa kepala ular dalam keadaan penyok setengah hancur dan melesak ke dalam batok kepala. Tangan kanan yang tertutup lengan pakaian buntung sebatas pergelangan. Buntungan ini disambung tangan besi dengan lima jari membentuk kepala ular.

Begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya untuk sesaat Sandaka jadi tertegun. Betul apa yang dikatakan mendiang gurunya dua tahun silam. Dewi Ular masih hidup! Sandaka membentak.

"Dewi Ular! Akui terus terang! Kau telah membunuh guruku Datuk Sipatoka! Dan kau juga yang mencelakai diriku dengan paku-paku keparat ini!"

Perempuan setengah manusia setengah ular di depan goa menyeringai lalu dongakkan kepala. Setelah menghambur tawa panjang dia menjawab bentakan Manusia Paku Sandaka.

"Aku membunuh siapa saja yang menyatakan diri sebagai musuhku. Aku mencelakakan siapa saja yang mencelakakan diriku! Lihat! Buka matamu lebat-lebar! Lihat! Apa yang terjadi dengan diriku! Ini semua garagara perbuatan terkutukmu bersama teman-temanmu tokoh rimba persilatan! Aku memang telah membunuh gurumu tua bangka busuk bernama Datuk Sipatoka itu! Kalau aku sudah membunuh sang guru, apa salahnya saat ini aku juga membunuh muridnya. Sekaligus bersama gendak perempuan sinting yang hendak kau nikahi!"

"Perempuan iblis! Dosamu selangit tembus sedalam lautan! Kau tak layak hidup lebih lama di muka bumi ini!"

Dewi Ular tertawa tinggi.

"Aku mau lihat kau mau berbuat apa!"

Habis berkata begitu sosok Dewi Ular meluncur ke atas. Dalam keadaan mengambang di depan mulut goa tiba-tiba laksana kilat, wuutt! Ekornya menyambar ke depan.

Sambaran ekor yang sanggup menghancurkan batu sebesar rumah ini melesat ke depan. Yang diserang bukannya Manusia Paku Sandaka tapi justru Nyi Retno Mantili!

"Nyi Retno! Awas!" teriak Sandaka melompat ke depan. Tangan kiri menarik Nyi Retno Mantili ke dalam goa, tangan kanan menangkis serangan ekor ular.

Sesaat lagi ekor ular siap menggebuk hancur tangan kanan Sandaka, tiba-tiba tangan itu mulai dari ujung jari sampai sebatas bahu berubah menjadi putih kelabu.

"Plaakk! Blaaarrr!"

Lapisan batu pualam sakti yang menyelubungi tangan Manusia Paku Sandaka hancur berkepingkeping. Pemuda ini terjengkang di lantai goa, nyaris menghimpit tubuh Nyi Retno Mantili yang sudah lebih dulu tergeletak di lantai goa setelah ditarik Sandaka.

Dewi Ular menjerit keras. Bukan saja karena marah melihat Sandaka tidak mengalami cidera tapi juga ketika melihat ekornya yang berbentuk ular luka besar nyaris buntung.

"Manusia jahanam! Aku mau Iihat apa Ilmu Batu Pualammu sanggup menghadapi Ilmu Tujuh Api Siluman!" Habis berteriak Dewi Ular gembungkan mulut lalu menghembus. Dari sepasang mata, dua lubang hidung, mulut dan dua liang telinga menyembur keluar tujuh gelombang api, membuntal membentuk kepala mahluk siluman mengerikan.

Nyi Retno Mantili menjerit. Dalam ketakutan dan marahnya perempuan ini remas pinggang boneka kayu. Dua larik sinar putih mencuat dahsyat dari dua mata boneka kayu, melabrak ke arah dua siluman api. Ilmu Sepasang Cahaya Batu Kumala! Dua siluman api menggerung keras, hancur berkeping-keping. Dua siluman api lainnya segera menyerbu Nyi Retno tapi dihantam dengan dua larik sinar hijau yang menyembur keluar dari sepasang matanya.

Tiga siluman api yang masih ada menggembor keras. Satu menyerang ke arah Nyi Retno Mantili, dua lainnya menerjang Sandaka. Saat itu tiga mahluk siluman ini telah merubah diri menjadi buntalan bola api yang serta merta memenuhi goa dan siap membakar kedua orang itu. Sandaka cepat terapkan Ilmu Batu Pualam pemberian Datuk Sipatoka. Saat itu juga seluruh tubuhnya mulai dari kepala sampai ke kaki berubah putih ke abu-abuan berlapis batu pualam.

Dia bisa bertahan walau mungkin tidak lama. Tapibagaimana dengan Nyi Retno?

"Nyi Retno lekas tinggalkan goa! Aku akan membantumu." teriak Sandaka.

"Tidak, apapun yang terjadi aku tetap di sini bersamamu!" jawab Nyi Retno Mantili yang membuat Manusia Paku Sandaka jadi terkesiap dan haru. Dia memeluk perempuan itu bersama boneka kayunya.

"Kalian berdua rupanya sudah saling mencinta!" Dewi Ular berseru. Dia mendengar apa yang tadi dikatakan Nyi Retno. "Kalian harus bersyukur dan berterima kasih padaku karena memberi kesempatan bagi kalian untuk mati bersama!"

Sandaka berbisik pada Nyi Retno.

"Kita harus dapat membunuh perempuan iblis itu! Tapi sosoknya tidak kelihatan. Aku harus memancing untuk mengetahui di mana dia berada! Aku perlu bonekamu!"

"Untuk apa?" tanya Nyi Retno.

"Lihat saja nanti."

"Akan kuserahkan... Tapi aku mau tanya satu hal dulu. Hik...hik...hik. Kau pasti marah."

" Nyi Retno, ini bukan saatnya untuk bergurau!"

"Aku tahu, tapi ini urusan penting!"

"Cepat katakan apa yang mau kau tanya?!"

"Gurumu sudah jadi jerangkong alias sudah mati. Apa kau masih hendak menikahi diriku?!"

"Itu urusan nanti! Yang penting sekarang kita harus bisa keluar dari goa ini dalam keadaan selamat!" Jawab Sandaka. "Boneka kayu..."

Nyi Retno serahkan boneka kayu pada Sandaka seraya berkata. "Hati-hati, itu bukan boneka tapi anakku Kemuning. Satu saja rambutnya kau buat rontok aku hajar kau sampai setengah mati!"

Sandaka kerahkan tenaga dalam ke arah sepasang matanya dan saat itu juga dua mata berubah warna menjadi kehijau-hijauan. Tangan kiri memegang pinggang boneka kayu erat-erat.

"Kunti Ambiri!" Sandaka berteriak memanggil nama asli Dewi Ular. "Kalau kau menghentikan serangan api siluman dan membiarkan kami berdua keluar dari goa ini, aku akan memberikan sepasang keris Nagasona padamu. Dengan senjata sakti itu kau bisa menyembuhkan seluruh cacat dan luka yang ada di wajah serta tubuh ularmu!"

"Manusia tolol! Kau kira kau bisa menipuku?! Keris Nagasona ada di pantai selatan!"

"Setahun lalu guruku Datuk Sipatoka dipercaya Ratu Laut Selatan untuk memegang sepasang keris mustika sakti itu! Aku membawanya sekarang!"

Dewi Ular tertawa panjang.

"Kalau keris sakti itu ada padamu mengapa tubuhmu masih ditancapi paku? Mengapa kau tidak mampu menyembuhkan diri sendiri?!"

"Keris Nagasona tidak bisa menyembuhkan penyakit yang sama pada diri seseorang sampai dua kali."

"Aku tetap tidak percaya padamu! Kau punya dendam kesumat besar terhadapku! Pasti kau mau menipuku! Kalau kau sudah lebur dimakan api bersama gendakmu itu, aku akan tetap mendapatkan keris Nagasona. "DewiUlar meniup ke depan. Kobaran api menggemuruh, bergerak mendekati Sandaka dan Nyi Retno Mantili.

"Perempuan setan! Aku ingin membunuhnya sekarang juga!" Maki Nyi Retno Mantili seraya berusaha mengambil boneka kayu dari tangan Sandaka.

"Jangan berlaku sembrono! Ikuti apa yang sudah aku katakan!" kata Sandaka penuh kawatir Nyi Retno akan bertindak gegabah yang bisa membuat mereka tidak sanggup selamatkan diri dari tambusan api siluman.

"Kau keliru Kunti Ambiri!" Teriak Sandaka. "Keris Nagasona tidak punya kemampuan melawan api. Keris ini akan leleh dan kau tidak punya kesempatan untuk menyembuhkan diri. Apa kau tidak ingin hidup sampai seratus tahun lagi bahkan seribu tahun lagi dalam keadaan usia tetap muda, wajah tetap cantik dan tubuh elok tidak setengah manusia setengah ular seperti sekarang ini?!"

Dewi Ular terdiam sesaat. Lalu dia berteriak. "Kalau begitu lemparkan sepasang keris sakti itu ke arahku!"

"Aku tidak bisa melihat kau berada di mana!" balas berteriak Sandaka. Tiba-tiba gelombang api siluman mereda. Namun Sandaka masih belum melihat perempuan itu.

"Kunti! Aku belum melihatmu!"

"Aku di sini!"

Gelombang api menyurut turun sampai sebatas dada. Sandaka melihat tangan kanan Dewi Ular yang disambung tangan palsu dari besi diacungkan ke atas. Lalu dia melihat kepala dan sebagian tubuh perempuan itu.

"Kunti! Aku akan melemparkan keris Nagasona ke arahmu!" teriak Sandaka.

"Lakukan cepat!"

"Kau berjanji akan membiarkan aku dan Nyi Retno Mantili keluar dari goa ini dalam keadaan selamat!" "Itu janjiku dan jangan banyak bicara lagi! Cepat lemparkan keris Nagasona!" Manusia Paku Sandaka angkat tangan kirinya. Yang ada di tangan itu bukansepasang keris Nagasona

tetapi boneka kayu milik Nyi Retno.Sementara itu cahaya hijau yang ada dalam sepasang mata si pemuda memancar menyorot terang.

"Hai! Mana kerisnya?! teriak Dewi Ular sambil mengapungkan diri ke atas, Saat itulah dia melihat sepasang mata Sandaka yang memancarkan cahaya hijau!

"Manusia jahanam kurang ajar! Kau menipuku!"

Dewi Ular gerakkan tangan kanannya. Manusia Paku mendahului. Secepat kilat Sandaka memencet pinggang boneka. Dua larik cahaya putih menyilaukan melesat keluar dari sepasang mata boneka. Bersamaan dengan itu dari dua mata Sandaka menyembur pula dua larik sinar hijau. Dewi Ular yang agak tertutup pemandangannya oleh nyala kobaran api baru menyadari apa yang terjadi ketika empat larik sinar maut sudah berada di depan matanya!

Dewi Ular hanya mampu berteriak marah, masih berusaha menyingkir selamatkan diri namun terlambat. Tubuhnya tercabik kutung pada bagian kepala, dada, perut dan sepasang kaki. Tidak menunggu lebih lama Sandaka segera melesat keluar goa sambil mendukung tubuh Nyi Retno Mantili, melayang di atas jurang batu pualam. Namun hawa panas api siluman telah menguras tenaga luarnya, mempengaruhi sebagian kekuatan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya. Pemuda ini tidak mampu mencapai pinggiran jurang sebelah atas. Tubuhnya melayang ke bawah. Karena diberati sosok Nyi Retno Mantili maka daya jatuh ke bawah jadi dua kali lebih cepat.

Sandaka berusaha melentingkan tubuh ke dinding jurang sebelah kanan. Namun gerakannya tidak leluasa, apalagi saat itu tubuhnya masih terbungkus lapisan kaku batu pualam. Gerakan melenting yang dilakukannya malah membuat dirinya terlempar ke arah tonjolan batu besar runcing di pertengahan dinding jurang!

"Braakk!"

Punggung dan batu yang menonjol beradu keras. Sandaka merasa tubuhnya sebelah belakang hancur luluh. Rangkulannya ditubuh Nyi Retno Mantili terlepas.

"Nyi Retno. Maafkan diriku. Aku tidak bisa menyelamatkanmu!" Sandaka berseru lalu pemuda ini jatuh pingsan.Tubuhnya melayang ke dasar jurang.

Nyi Retno Mantili menjerit keras. Dia bukan berusaha menyelamatkan diri tapi malah melesat ke bawah menyusul jatuhnya Sandaka. Dia berusaha menggapai tubuh pemuda itu, namun jarak mereka terlalu jauh.

"Nyi Retno! Jangan perdulikan diriku! Selamatkan dirimu!" Teriak Sandaka.

"Jika aku selamat sedangkan kau tidak buat apa?! Aku dan Kemuning lebih suka memilih mati bersamamu!" Teriak Nyi Retno Mantili pula. Adalah aneh Nyi Retno Mantili yang selama ini diketahui memiliki otak tidak waras tapi saat itu menyatakan ingin mati bersama dengan Manusia Paku Sandaka!7HANYA beberapa kejapan mata tubuh Sandaka akan terhempas di dasar jurang yang dipenuhi batu pualam keras dan runcing, hanya beberapa saat saja kepala Nyi Retno Mantili akan membentur dinding jurang, tiba-tiba di atas jurang ada teriakan teriakan keras. Lalu tampak dua orang berkelebat terjun ke dalam jurang. Gerakan mereka ringan dan sebat sekali. Laksana dua ekor burung raksasa keduanya melayang menuju dasar jurang batu pualam. Yang satu menyambar ke arah tubuh Manusia Paku Sandaka, satunya lagi ke jurusan jatuhnya Nyi Retno Mantili. Dengan gerakan kilat yang sukar dipercaya kedua orang itu berhasil menangkap tubuh-tubuh yang melayang jatuh lalu membaringkan di tanah datar di sela-sela bebatuan di dasar jurang.

"Syukur...syukur kita bisa menyelamatkan mereka. Tadinya waktu masih di pinggir jurang aku merasa sangsi. Apa lagi ketika melayang turun. Ketiakku terasa dingin. Kukira bulu ketiakku rontok semua. Ternyata masih utuh. Hik...hik...hik."

Yang bicara ini adalah seorang perempuan gemuk gembrot mengenakan pakaian berupa celana monyet warna hitam tanpa lengan hingga bulu ketiaknya yang lebat tebal hitam tersembul keluar. Dia yang barusan menyelamatkan Sandaka. Perempuan ini berwajah aneh. Mukanya yang tembam biru bergaris-garis kuning. Telinga dicanteli anting-anting besar dari perak. Rambut seperti lidi, tegak mencuat di atas kepala. Di bahu kanan ada jarahan bunga mawar merah.

Orang kedua yang menolong Nyi Retno Mantili adalah pemuda gondrong berpakaian dan berikat kepala putih. Sambil memperhatikan si gemuk gembrot dia senyum-senyum. Sesekali dia usap kepala Nyi Retno Mantili.

"Aku tidak pernah terjun seperti tadi. Selangkanganku terasa dingin. Kantong menyanku seperti hilang! Waktu kuraba untung masih ada!"

Perempuan gemuk dan pemuda gondrong lalu tertawa mengakak. Siapa mereka adanya yang dalam keadaan seperti itu masih bisa bicara tidak karuan dan tertawa gelak-gelak?

Yang gondrong bukan lain Pendekar 212 Wiro Sableng sedang perempuan gemuk gembrot adalah Denok Tuba Biru alias Momok Ketiga yang dulu bersama komplotannya pernah hendak membunuh Nyi Retno Mantili untuk diambil jantung, hati dan ginjalnya. Bagaimana Wiro dan Denok Tuba Biru bisa berada di tempat itu dan sama-sama memberi pertolongan?

Seperti diceritakan sebelumnya (baca serial Wiro Sableng "Janda Pulau Cingkuk") Pendekar 212 menerima penjelasan dari Bujang Gila Tapak Sakti bahwa Nyi Retno Mantili dibawa oleh Manusia Paku Sandaka ke tempat kediaman gurunya dan ada maksud kalau Sandaka akan menikahi perempuan ltu untuk melenyapkan puluhan paku yang menancap di kepala, wajah dan tubuhnya.

Karena Wiro memang sedang mencari Nyi Retno Mantili untuk dibawa menemui puterinya Ken Permata yang ada di tempat kediaman Datuk Rao Basaluang Ameh di Danau Maninjau, dan dia tahu pula di mana letak jurang kediaman guru Sandaka maka setelah Bujang Gila Tapak Sakti ikut bersama Nenek Cempaka ke dasar laut selatan, murid Sinto Gendeng segera berangkat menuju jurang batu pualam tempat kediaman guru Sandaka.

Dalam perjalanan yang cukup jauh dan lama Wiro tidak sengaja bertemu dengan Denok Tuba Biru yang juga tengah menuju ke tempat yang sama guna menyambangi Sandaka yang pernah mengampuni jiwanya sewaktu tertangkap tangan hendak membunuh Nyi Retno Mantili. (Lihat serial Wiro Sableng berjudul "Perjodohan Berdarah") Wiro sendiri sebelumnya juga telah pernah bertemu dengan Denok Tuba Siru sewaktu perempuan gemuk ini bersama dua temannya pertama kali mencelakai Nyi Retno Mantili. Waktu itu Nenek Kembaran Ketiga Eyang Sepuh Kembar Tilu ikut membantu Wiro menyelamatkan Nyi Retno. (Baca "Si Cantik Gila Dari Gunung Gede")

Mula-mula Wiro merasa curiga melihat si gembrot berbulu ketiak tebal ini. Dia mengira perempuan aneh berdada besar dan berperut gembrot serta berpaha gempal ini telah memata-matai perjalanannya dan punya niat jahat.

"Gembrot! Kalau kau punya niat jahat macammacam terhadapku, mukamu yang tembam akan kugebuk biar tambah tembam! Rambut dan bulu ketiakmu aku cabuti sampai botak!"

Mendengar ancaman Wiro, Denok Tuba Biru bersurut mundur dan tekap ketiaknya kiri kanan.

"Pendekar, kau mau menggebuki diriku sampai bonyok aku pasrah-pasrah saja. Tapi jangan cabuti bulu ketiakku! Banyak lelaki yang suka! Mengelus dan mencium! Kalau kau mau boleh saja!" Lalu si gembrot ini singkapkan dua ketiaknya yang berbulu tebal hitam sambil tertawa gelak-gelak hingga sekujur tubuhnya yang gembrot dari dada sampai ke bawah perut bergoyang-goyang.

Wiro akhirnya bersedia melakukan perjalanan bersama perempuan itu. Ternyata kedua orang ini cukup cocok, terutama dalam pembicaraan yang lucu dan jorok-jorok!

Ketika Wiro dan Denok Tuba Biru sampai di jurang batu pualam, tiba-tiba dari dalam jurang mereka mendengar suara jeritan perempuan. Wiro mengenali itu adalah suara Nyi Retno Mantili. Begitu melihat ada dua tubuh melayang jatuh ke dasar jurang, tidak tunggu lebih lama Wiro dan Denok Tuba Biru segera terjun ke dalam jurang.

Dengan ilmu kesaktian yang mereka miliki secara luar biasa keduanya berhasil menyelamatkan Nyi Retno Mantili dan Sandaka. Nyi Retna Mantili walau masih pingsan tampaknya tidak mengalami cidera. Lain halnya dengan Sandaka. Bagian tubuh sebelah belakang Manusia Paku ini tampak memar kebirubiruan. Pemuda ini beruntung melindungi dirinya dengan Ilmu Lapisan Batu Pualam. Sehingga ketika punggungnya menghantam tonjolan batu runcing di dinding jurang lapisan batu pualam hancur berkeping-keping namun tubuhnya masih bisa terselamatkan. Walau demikian setelah siuman ternyata pemuda ini tidak mampu duduk apa lagi berdiri. Dia hanya bisa bicara dan menggerakkan dua tangan. Wiro dan Denok Tuba Biru berusaha menolong dengan mengerahkan tenaga dalam dan hawa sakti namun tidak berhasil.

" Kalau saja aku tidak mempergunakan Ilmu Batu Pualam seharusnya aku sudah mati saat ini. Mati akan lebih baik dari pada hidup seperti ini." Sandaka keluarkan ucapan menyesali nasib.

"Sobatku Sandaka, jangan berputus asa, Kau hanya mengalami kelumpuhan sementara akibat benturan keras. Dalam waktu beberapa hari kau akan segera sembuh." Wiro menghibur.

"Aku berterima kasih kalian telah datang menolong. Bagaimana keadaan Nyi Retno. Aku kawatir dia telah tiada. Aku tidak mampu menyelamatkannya. Kalaupun aku hidup tapi dia sudah tiada, paku-paku celaka ini tidak akan pernah lenyap dari tubuhku."

"Kau tak usah kawatir. Dia ada di sini dalam keadaan selamat. Tapi masih pingsan." Menerangkan Denok Tuba Biru.

Sementara perempuan gemuk ini berusaha menyadarkan Nyi Retno Mantili, Sandaka menceritakan apa yang telah terjadi. "Aku tidak yakin apa perempuan iblis Dewi Ular itu benar-benar telah menemui ajal. Bukan mustahil dia bisa muncul kembali dalam ujud mahluk jahat Lainnya."

Tak selang berapa lama terdengar suara tarikan nafas panjang. Lalu disusul jeritan keras. Itulah jeritan Nyi Retno Mantili yang baru sadar dari pingsan.

"Sandaka..." Ucapan itu pertama kali keluar dari mulut Nyi Retno Mantili. Lalu perempuan ini bergerak duduk. "Kemuning..." Nyi Retno menyebut nama. anaknya si boneka kayu lalu memandang berkeliling. Belum sempat melihat sosok Sandaka yang terbujur dia telah lebih dulu melihat Wiro. Perempuan ini kembali menjerit. "Kemuning! Ayahmu ada di sini!"

Denok Tuba Biru mengernyit heran mendengar ucapan Nyi Retno Mantili. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi Wiro memberi isyarat agar diam saja.

"Kemuning! Ayahmu! Lekas cium ayahmu! Ayo!"

Nyi Retno Mantili keluarkan boneka kayu dari balik dada pakaiannya lalu kepala boneka itu diusapusapkannya ke pipi Pendekar 212.

"Anak manis, kau pasti kangen sama ayahmu. Kau tidak menangis. Bagus...bagus. Aku memang tidak suka punya anak cengeng. Hik...hik...hik."

Mau tak mau Sandaka dan Denok Tuba Biru jadi terharu menyaksikan perilaku Nyi Retno Mantill itu. Wiro belai belakang kepala Nyi Retno.

"Nyi Retno aku senang bisa menemuimu walau dalam keadaan seperti ini. Aku bersyukur kau selamat, Sandaka telah menceritakan apa yang terjadi... "

"Sandaka!" Nyi Retno kembali menjerit. "Dimana dia?!"

"Nyi Retno, aku ada di sini. Sahabat-sahabatmu telah menyelamatkan diriku. Telah menyelamatkan kita berdua. Aku sangat berterima kasih. Aku bersyukur pada Yang Maha Kuasa. Dia masih mengasihi diriku. Walau cidera berat tapi aku masih bernafas... "

Nyi Retno Mantili serahkan boneka kayu pada Wiro lalu dia jatuhkan diri di samping Manusia Paku Sandaka.

"Aku bersumpah akan membunuh perempuan ular itu! Aku bersumpah!"

"Dewi Ular sudah menemui ajal. Kita berdua yang membunuhnya waktu di goa. Apa kau tidak ingat?"

"Ya aku ingat..." Nyi Retno anggukkan kepala. Tiba-tiba sepasang mata Nyi Retno Mantili terpentang lebar. Kepala mendongak. Dari mulutnya keluar jeritan keras. Tangan kiri menunjuk ke arah dinding jurang sebelah kiri.

"Ada apa Nyi Retno? "tanyaWiro.

Denok Tuba Biru memandang berkeliling. Dia merasa kehadiran sesuatu tapi tidak melihat apa-apa.

"Lihat! Perempuan iblis itu masih hidup! Dia di sana!"Teriak Nyi Retno Mantili.

Wiro terapkan Ilmu Menembus Pandang pemberian Ratu Duyung. Ketika dia melihat ke arah yang ditunjuk Nyi Retno Mantili astaga! Murid Sinto Gendeng tercekat. Tengkuknya terasa dingin.

"Gila! Bagaimana mungkin!"8YANG disaksikan Pendekar 212 memang luar biasa. Mengapung di depan dinding jurang sebelah timur. Tampak sosok Dewi Ular dalam keadaan tanpa pakaian sama sekali. Tubuh bugil itu mengeluarkan cahaya kebiruan menggidikan. Wajahnya yang cantik pucat pasi seperti mayat Dan sepasang mata, dua liang telinga dan dua lobang hidung serta dari mulut, menggeliat-geliat ular merah berbelang hitam. Binatang yang sama juga keluar dari pusar, aurat serta lobang duburnya!

"Mati.... Mati! Siapapun yang ada di tempat ini harus mati! Harus ikut bersamaku ke alam arwah! Matiii! Hik...hik...hik!"

Sosok bugil Dewi Ular lalu melesat ke arah Wiro dan yang lain-lainnya yang berada di dasar jurang. Dari sepuluh mulut ular merah belang hitam menyembur keluar larikan sinar merah. Sabagian dasar jurang batu pualam serta merta tenggelam dalam cahaya merah.

Dengan gerakan kilat Nyi Retno Mantili melompat, mengambil boneka kayu dari tangan Pendekar 212 Wiro Sableng. Sekali dia meremas pinggang boneka maka dua cahaya putih menyilaukan melesat keluar dari sepasang mata boneka kayu, menyambar ke arah datangnya serangan Dewi Ular. Wiro tidak tinggal diam.

Tangan kanan yang sudah berubah menjadi putih perak dihantamkan ke depan. Selarik gelombang cahaya putih luar biasa panas menderu, mendorong Pukulan Sepasang Cahaya Batu Kumala yang tadi dilepaskan Nyi Retno Mantili. Itulah Pukulan Sakti Sinar Matahari!

"Bummm! Bummmm!"

Dua letusan hebat menggelegar di dalam jurang. Hawa panas menghampar dahsyat. Beberapa bagian dinding jurang rontok berhamburan. Batu-batu di dasar jurang terbelah. Air kawah menggelegat dan muncrat setinggi dua tombak. Di dalam jurang terdengar suara jeritan perempuan menyerupai lolongan srigala gurun pasir!

Denok Tuba Biru cepat jatuhkan diri mendekap tubuh Sandaka agar tidak terpental sementara Nyi Retno Mantili jatuh terduduk di tanah jurang dengan wajah pucat pasi. Dada mendenyut sakit. Wiro sendiri jatuh berlutut sambil dua tangan dipentangkan ke depan untuk mengimbangi tubuh dari goncangan yang hebat.

Cahaya menyilaukan Pukulan Sinar Matahari dan Sepasang Batu Kumala lenyap bersamaan dengan musnahnya cahaya merah yang keluar dari ular jejadian. Sosok sepuluh ekor ular jejadian dan tubuh Dewi Ular lenyap tanpa bekas. Di dalam jurang kini menghampar bau kemenyan yang membuat semua orang jadi bergidik mengkirik.

Sandaka berbisik pada Denok Tuba Biru.

"Apa yang terjadi?"

"Aku tidak melihat apa-apa, Aku mendengar Nyi Retno menjerit lalu ada cahaya merah. Wiro dan Nyi Retno lancarkan serangan dahsyat. Lalu ada suara jeritan perempuan seperti loloogan srigala. Sekarang ada bau kemenyan."

"Dewi Ular..." ucap Sandaka. "Kali ini dia akan tenggelam di alam arwah untuk selama-lamanya. Dia tidak akan mampu muncul lagi ke permukaan bumi. Aku tahu betul rahasia hidupnya. Lolongan srigala dan bau kemenyan menjadi akhir riwayatnya... Rohnya akan terkatung-katung sampai kiamat di alam gaib dalam ujud seekor srigala..."

"Aneh, mengapa bukan dalam bentuk ular?" tanya Denok Tuba Biru.

"Ayah Dewi Ular konon seekor srigala. Ibunya seekor ular. Keduanya mahluk jejadian yang sudah lama mendekam di alam gaib." Menerangkan Sandaka.

"Ternyata ada mahluk yang lebih kapiran dari diriku... Hik...hik!" Si gembrot bermuka biru tertawa cekikikan.

Wiro menolong Nyi Retno Mantili berdiri sambil berkata. "Kita harus segera meninggalkan jurang ini. Keadaan di sini mungkin belum seluruhnya aman."

"Kau benar Wiro. Pergilah kalian samua. Tinggalkan aku di tempat ini." "Aku tidakakan meninggalkanmu. Kalau aku pergi kau juga harus ikut!" kata Nyi Retno Mantili pula.

"Nyi Retno, kau danWiro saja yang pergi. Aku akan menunggui Sandaka di tempat ini sampai dia sembuh dari kelumpuhan." Berkata DenokTuba Biru.

"Nyi Retno, Denok Tuba Biru. Aku berterima kasih kalian mau memperhatikan diriku.Tapi..."

"Aku akan menggendongmu asal kau mau berjanji." Nyi Retno Mantili memotong ucapan Sandaka.

Sandaka tersenyum. "Berjanji apa Nyi Retno?"

"Kalau kau sudah keluar dari jurang ini dan sudah sembuh, kau tidak akan menikahiku!"

Sandaka terdiam. Denok Tuba Biru hanya bisa menatap. Wiro garuk-garuk kepala.

"Selama ini aku selalu menginginkan kesembuhan dari sengsara paku-paku celaka ini. Tekadku untuk hidup sebagai manusia wajar sangat besar. Namun takdir agaknya menentukan lain. Nyi Retno, kau satu-satunya harapan hidupku. Tapi jika kau memang tidak berkeinginan aku nikahi, aku hanya bisa pasrah. Aku memang sudah menduga kalau tidak akan pernah bisa hidup dengan tubuh wajar lagi untuk selama-lamanya. Aku mohon kalian semua meninggalkan diriku. Jika umur sama panjang, jika Yang Maha Kuasa mengijinkan di lain ketika kita pasti akan bertemu lagi."

Denok Tuba Biru mendekati Wiro dan berkata.

"Aku akan tetap di sini. Aku akan berusaha mengobati sebisaku sampai cidera di punggung Sandaka sembuh dan dia mampu berjalan. Kau pergilah bersama Nyi Retno Mantili. Bukankah kau punya niat hendak membawanya menemui anaknya yang bernama Ken Permata itu demi kesembuhan sakit ingatannya?"

"Aku bingung..." kata Wiro sambil menggaruk kepala. "Aku juga menginginkan kesembuhan sahabatku Sandaka dari kesengsaraan yang dideritanya selama bertahun-tahun..." Wiro lalu berpaling pada Nyi Retno Mantili. "Nyi Retno..."

"Aku tahu apa yang akan kau ucapkan." Menukas Nyi Retno Mantili. "Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan dia. Kau sudah menjadi ayah anakku Kemuning."

"Nyi Retno, semua jalan pikiranmu keliru. Aku... "

"Jadi kau menolak mengakui sebagai ayah Kemuning?!" Suara Nyi Retno Mantili setengah membentak."Lalu selama ini siapa kau sebenarnya?!"

Pendekar 212 garuk kepala, tersenyum, menggeleng beberapa kali lalu berkata.

"Baiklah, aku mau saja dan tidak menolak kau sebutkan sebagai ayah Kemuning. Tapi apakah kau tidak punya keinginan menolong Sandaka. Jauh-lauh kau mau diajaknya ke tempat ini. Setelah sampai di sini kau menolak. Lihat keadaan Sandaka, apa kau tidak kasihan?"

"Aku hanya mau diajak ke sini. Tapi tidak pernah bilang mau nikah dengan dia!"

Untuk beberapa lama suasana di dasar jurang batu pualam itu menjadi sunyi karena tidak ada satu orangpun yang bicara. Semua terdiam. Sandaka sangat sedih. Lalu terdengar suara Nyi Retno Mantili memecah kesunyian.

"Selama ini tidak ada orang yang kasihan pada diriku. sudah aku katakan. Aku akan menggendong Sandaka keluar dari dalam jurang ini."

"Nyi Retno, aku tidak ingin meninggalkan tempat ini. Apapun yang terjadi. Kau pergilah bersama Wiro. Ada satu urusan sangat penting yang harus kalian selesaikan berdua. Biar Denok Tuba Biru yang menungguiku di tempat ini."

"Aku merasa tidak ada urusan dengan ayah Kemuning. Kalau kau tidak mau pergi, aku juga tidak akan meninggalkan tempat ini!" kata Nyi Retna Mantili lalu dudukkan diri di atas satu gundukan batu.

Semua orang jadi bingung mendengar ucapan dan melihat sikap Nyi Retno Mantili. Namun karena menyadari kalau perempuan ini menderita kelainan jiwa dan pikiran mereka hanya diam saja. Denok Tuba Biru kemudian mendekati Wiro lalu berbisik.

"Kau pernah menceritakan riwayat kesembuhan Sandaka. Bagaimana kalau aku yang dinikahinya? Begitu saja repot!"

Wiro menatap si gembrot berwajah biru itu beberapa ketika. Dia hendak tertawa terbahak-bahak tapi batalkan niat dan balas berbisik.

"Kau tahu, perempuan yang harus dinikahi Sandaka adalah seerang perempuan sakti berkepandaian tinggi. ..."

"Lalu apa aku bukan perempuan? Banci? Hik...hik! Apa aku tidak punya kesaktian dan kepandaian tinggi?" tanya Denok Tuba Biru sambi! tusuk-tusuk rusuk kiri Wiro dengan ujung jari tangan kanan hingga murid Sinto Gendeng menggeliat kegelian.

"Bukan cuma itu. Perempuannya juga harus yang otaknya tidak waras alias gila alias sinting!"

"Hemm... Aku memang belum gila dan sinting beneran. Tapi gejala-gejalanya sudah ada, iya kan?! Aku punya bulu ketiak lebat Nyi Retno tidak...

Wiro tertawa. "Gembrot! Kau bukannya sinting tapi tolol! Ini bukan urusan bulu ketiak!"

Denok Tuba Biru tertawa ha ha hi hi.

"Kau suka pada pemuda itu?"Wiro bertanya.

"Terserah kau mau menilai bagaimana. Tapi aku menginginkan dia bisa sembuh dan lepas dari azab tiga puluh paku celaka itu! Kalau tidak nikah dengan dia denganmu pun aku maul Hik...hik!"

Wiro menyeringai. Balas menusuk-nusuk pusar Denok Tuba Biru hingga perempuan gendut itu kini yang ganti menggeliat kegelian dan tertawa cekikikan.

"Gembrot muka biru, aku tidak tahu mau menjawab apa, Kau tanyakan saja pada Sandaka, Kalau dia mau nikah denganmu maka semua urusan pelik dan edan ini bisa dibereskan. Tapi yang penting apakah dia bisa mendapatkan kesembuhan dari pernikahan denganmu? Bagaimana kalau penyakitnya malah ketambahan?!"

Denok Tuba Biru yang tadinya bersemangat kini menjadi bimbang setelah mendengar kata-kata terakhir Pendekar212.

"Sudah, aku lebih baik mendekam di dasar jurang ini saja menungguinya sambil berusaha mengobati." Kata si gembrot berbulu ketiak lebat.

"Aku punya pikiran lain. Pertama kita sama-sama menggotong Sandaka keluar dari dalam jurang. Sampai di atas sana kita carikan satu tempat yang baik untuknya. Dalam perjalanan ke sini aku melihat ada satu gubuk tua tak jauh dari jurang. Kita bisa membawanya ke sana. Sementara kau menjajagi aku akan berusaha mencari seseorang untuk mengobatinya..."

"Aku menurut saja, Tapi bagaimana dengan Nyi Retno Mantili. Apa dia mau ikut bersama kita?"

"Kalau Sandaka kita bawa ke atas jurang masakan dia tidak akan mengikuti. Biar aku yang bicara padanya."

Setelah dibujuk ternyata Nyi Retno Mantili mau diajak meninggalkan tempat itu. Malah dengan kesaktian yang dimilikinya perempuan ini membantu menggotong tubuh Sandaka di bagian pinggang. Denok Tuba Biru di sebelah punggung dan kepala, Wiro di bagian kaki. Sekali ketiganya mengerahkan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh maka sosok lumpuh Manusia Paku Sandaka diusung melesat ke atas jurang.

Tak berapa jauh dari jurang batu pualam memang terdapat sebuah gubuk tua yang biasa dipakai oleh para penebang kayu di hutan untuk beristirahat. Sandaka di bawa ke gubuk ini. Setelah berbaring beberapa saat Sandaka berkata.

"Terima kasih pada kalian semua. Aku kini berada di tempat yang aman dan baik. Wiro dan Nyi Mantili, sekarang kalian tidak usah memikirkan diriku lagi. Pergilah ke danau Maninjau untuk menemui Ken Permata. Denok Tuba Biru akan menungguiku di sini. Aku berdoa semoga Nyi Retno Mantili bisa sembuh..."

"Gila! Yang sakit memangnya aku atau kau?!" ucap Nyi Retno Mantili dengan mata melotot. Sandaka memberi isyarat agar Wiro mendekat lalu berbisik.

"Kau harus menotok Nyi Retno. Baru bisa membawanya pergi dari sini."

"Danau Maninjau sangat jauh. Di pulau seberang. Pulau Andalas. Aku perlu waktu cepat untuk membawanya ke sana." Jawab Wiro sambil menggaruk kepala. Wiro ingat pada batu sakti milik Ratu Laut Selatan. Dia menceritakan pada Sandaka riwayat batu itu." Kalau saja Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru masih ada padaku...."

"Walau tidak dengan batu itu kau pasti punya cara lain untuk pergi ke sana. Aku dengar kau punya ilmu kesaktian yang disebut Meraga Sukma..."

Wiro merenung sejenak lalu kembangkan telapak tangan kanan. Telapak tangan ditiup sambil mulut berucap perlahan.

"Datuk Rao Bamato Hijau, datanglah. Aku perlu pertolonganmu."

Saat itu juga pada telapak tangan kanan Pendekar 212 muncul gambar kepala harimau putih bermata hijau. Sesaat kemudian terdengar suara menggereng.

Tanah bergetar. Gubuk tua di mana Wiro dan yang lain-lain berada berderak-derak seperti hendak roboh. Tiba-tiba di halaman samping kiri gubuk telah muncul seekor harimau putih besar bermata hijau. Datuk Rao Bamato Hijau. Harimau sakti peliharaan Datuk Rao Basaluang Ameh yang diam di Danau Maninjau dan selama ini memelihara Ken Permata, bayi yang dilahirkan Nyi Retno Mantili hasil perkawinan dengan Wira Bumi mendiang Patih Kerajaan.

Begitu Wiro mendatangi harimau putih segera menjilati tangan sang pendekar. Wiro mengusap tengkuk harimau putih, jongkok di sampingnya sambil berkata.

"Datuk, aku sangat berterima kasih kau mau datang. Aku butuh pertolonganmu. Bawa aku dan Nyi Retno Mantili ke tempat Datuk Rao Basaluang Ameh."

Harimau putih menggereng perlahan.

Mendadak terdengar jeritan Nyi Retno Mantili.

"Wiro, binatang celaka apa yang kau bawa ke sini! Lihat, anakku Kemuning menangis ketakutan setengah mati!" Habis berteriak secepat kilat Nyi Retno Mantili menghambur tinggalkan tempat itu.

"Nyi Retno! Tunggu!" teriak Wiro lalu cepat mengejar. Denok Tuba Biru telah lebih dulu berkelebat sambil lepaskan totokan jarak jauh bernama Menutup Jalan Darah Menyumbat Jalan Pernafasan. Dua larik sinar biru menusuk punggung dan betis kiri Nyi Retno Mantili membuat perempuan ini serta merta tertegun kaku walau mulutnya masih terus berteriak-teriak. Wiro cepat usap urat besar di leher kiri kanan Nyi Retno Mantili hingga dia tidak bisa lagi keluarkan suara. Lalu dengan cepat dia mendukung perempuan itu dan melompat ke punggung Datuk Rao Bamato Hijau. Sebelum harimau sakti putih melesat meninggalkan tempat itu Wiro berkata pada Sandaka.

"Sobatku, apa kau benar-benar ikhlas kelak jika Nyi Retno Mantili akan sembuh setelah bertemu dengan bayinya maka kau tidak mungkin lagi dapat melenyapkan tiga puluh paku bala yang menancap di tubuhmu?"

Sandaka menghela nafas dalam. "Nasib manusia ada di tangan Tuhan. Kita semua hanya berusaha. Bagiku jika Nyi Retno Mantili bisa disembuhkan, maka kebahagiaan akan menjadi bagian diriku dan mungkin itu merupakan setengah dari kesembuhan diriku. Paling tidak kesembuhan batin."

"Kau orang hebat!" ucap Wiro polos. "Aku akan kembali ke sini secepat yang bisa aku lakukan. Aku berjanji apapun yang terjadi aku akan membawa Nyi Retno Mantili menemuimu. Semoga Tuhan melindungi dan memberkahi kita semua."

Sandaka lambaikan tangan kanan. Sepasang matanya tampak berkaca-kaca..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · admin@nomor1&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.82.79.109
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia