Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : SI CANTIK GILA DARI GUNUNG GEDE

TIGA penunggang kuda memperlambat lari tunggangan masing-masing ketika mencapai sebuah mata air di kaki Gunung Gede sebelah timur. Saat itu sang surya baru saja menggelincir dari titik tertinggi-nya udara yang sejuk di kawasan itu membuat terik cahaya matahari tidak terasa menyengat.
Penunggang kuda sebelah depan, seorang kakek berjubah kuning, berwajah merah seperti udang rebus dan cuma punya satu alis yaitu di atas mata kiri henti-kan kuda dekat mata air diikuti dua temannya. Dari peralatan penutup mata serta tanda-tanda pada pelana yang dimiliki tiga ekor kuda besar agaknya ke tiga penunggangnya bukan orang-orang sembarangan. Paling tidak mempunyai hubungan tertentu dengan Kerajaan di wilayah timur.

"Jika melanjutkan perjalanan dengan berlari, kurasa akan lebih cepat sampai di puncak gunung. Kita bisa meninggalkan kuda di tempat ini. Ada air, banyak rumput. Kelihatannya juga cukup aman. Bagaimana pendapat ki sanak berdua?" Si jubah kuning yang di Keraton Jawa Tengah dikenal dengan panggilan Lor Sakti Alis Tunggal bertanya pada dua temannya.

"Aku setuju saja," jawab kakek bermata juling mengenakan pakaian ringkas biru, lengkap dengan blangkon yang juga berwarna biru. Pada bagian depan blangkon menempel kepala seekor ular yang sudah dikeringkan berwarna hitam belang coklat putih. Dua tangan orang tua ini mulai dari pergelangan sampai ke sepuluh ujung jari berwarna hitam pekat. Di kawasan selatan Jawa Tengah dia dikenal dengan julukan Datuk Ular Jari Petir.

"Aku yang muda menurut apa suka kalian."

Orang ketiga membuka mulut. Barisan gigi dilapisi perak hingga jika mulutnya terbuka kelihatan deretan gigi besar berkilat kumis lebat, janggut tebal dan berewok tebal menutupi seantero wajah. Orang Ini mengenakan pakaian gombrang hitam.Yang hebat di kepalanya menancap puluhan pisau kecil berwarna hijau tanpa gagang. Dari warna pisau yang kehijau-hijauan jelas bahwa senjata itu mengandung racun jahat mematikan. Konon, jangankan manusia, seekor kerbaupun kalau tergores pisau akan kelojotan dan menemui ajal. Luar biasa kalau orangnya sendiri tidak sampai tersentuh racun padahal pisau jelas-jelas menancap di batok kepalanya yang berambut gondrong tebal hitam. Beberapa tahun lalu orang ini dikenal sebagai kepala rampok kejam yang gentayangan bersama beberapa anak buahnya mencari mangsa di hampir setiap jalan utama menuju Kotaraja. Pada masa itu dia dikenal dengan sebutan Warok Gigi Perak. Yang jadi korban kejahatannya bukan saja para pedagang tapi dia juga berani menyerang dan menjarah para kerabat Keraton.

Dua orang kakek tadi yaitu Lor Sekti AlisTunggai dan Datuk Ular Jari Petir berhasil membujuknya untuk meninggalkan pekerjaan jahat itu lalu menjadikannya sebagal salah seorang tokoh silat Kerajaan, bermukim di Kotaraja. Julukannya kemudian dirubah menjadi Si Mayat Terbang. Manusia satu ini memiliki tangan kiri yang lebih panjang dari tangan kanan. Hal ini karena dia seorang kidal dan selalu mempergunakan tangan kiri untuk melempar pisau terbang yang jadi senjata andalannya

Setelah menyegarkan diri dengan meneguk air jernih sejuk dan mencuci muka, ke tiga orang itu duduk di tepi mata air, beristirahat sambil bercakap-cakap. Sementara kuda mereka kini ganti meneguk air sejuk di mata air dan melahap rumput liar yang tumbuh di sekitar tempat itu.

"Kalau tidak mendengar sendiri cerita Wisena, Perajurit Kepala yang bertugas di Gedung Kepatihan itu, aku mana mau percaya bahwa sobat kita Ki Wulur Jumena tewas di tangan seorang perempuan cantik yang konon kabarnya berotak sinting. Dan bukan cuma Ki Wulur Jumena Cagak Genting sobat kita yang ahli pencari jejak itu juga menjadi korban. Lalu Perwira Tinggi Suko Daluh! Gila! Benar-benar sulit dipercaya! Datuk Ular Jari Petir gelengkan kepala berulang kali sambil menggerak-gerakkan sepuluh jari tangannya hingga mengeluarkan suara berkeretekan sementara dua bola matanya yang juling bergerak berputar-putar.

"Kejadian itu memang merupakan satu hal luar biasa," menyahuti Lor Sekti Alis Tunggal. "Tapi jika benar kabar yang kita sirap bahwa perempuan cantik itu adalah murid Kiai Gede Tapa Pamungkas, mengapa harus heran? Kesaktian Kiai itu sudah dianggap setengah Dewa Karenanya kalau nanti kita berhadapan dengan sang Kiai, kita bicara baik-baik. Kita datang membawa surat perintah dari Kerajaan untuk menang-kap muridnya yang bernama Nyi Retno Mantili itu. Padahal setahu semua orang Nyi Retno Mantili adalah istri dari Patih Wira Bumi yang dikabarkan kabur sejak lebih setahun silam gara-gara bayi yang baru dilahirkannya raib diculik orang! Hanya sayang sebelumnya kita tidak pernah berkesempatan melihat wajah istri ketiga mendiang Patih Kerajaan itu."

"Apakah tidak mungkin Patih Kerajaan juga dibunuh oleh Nyi Retno Mantili?" ujar Si Mayat Terbang alias Warok Gigi Perak.

"Banyak orang menduga begitu." Kata Lor Sekti Alis Satu. "Sungguh mengerikan. Pagi itu mayat Patih Ke-rajaan diantar seseorang dalam peti mati. Leher dalam koadaan putus! Siapa yang mengantar raib tidak diketahui. Ada yang melihat di tempat itu muncul seorang nenek seram bermuka dan berambut merah. Tidak seorangpun mengenal siapa dirinya." (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Dendam Mahluk Alam Roh").

"Lalu siapa yang menghabisi Kepala Pengawal Bantarangin dan tokoh silat kerabat kita Ki Luwak Ireng?" tanya Si Mayat Terbang.

"Aku sempat menyaksikan mayat Cagak Lenting, Perwira Tinggi Suko Daluh, Bantarangin, Ki Luwak Ireng.Tubuh mereka seperti dibelah golok raksasa. Namun anehnya pinggiran luka tampak hangus! Senjata apa yang dipergunakan orang untuk membantai mereka?" Ucap Datuk Ular Jari Petir.

"Bukan golok, bukan senjata tajam.Tapi dua larik sinar ganas yang keluar dari sepasang mata boneka kayu milik Nyi Retno Mantili! Wisena si Perajurit Kepala sempat menyaksikan kejadiannya sewaktu Suko Daluh dan Wulur Jumena dihabisi. Wisena juga memberi tahu. Ada seorang pemuda menyertai Nyi Retno sewaktu menyerbu Gedung Kepatihan pada malam pesta besar-besaran itu! Tapi tidak diketahui siapa adanya."

"Gila! Benar-benar ganas dan berbahaya! Boneka Kayu! Mengeluarkan dua larik cahaya yang bisa mem-bunuh! "Si Mayat Terbang remas-remas cambang bawuknya yang lebat meranggas.

Datuk Ular Jari Petir memandang ke langit lalu berkata.

"Saatnya kita pergi. Kita harus sampai di tempat kediaman Kiai Gede Tapa Pamungkas sebelum malam datang."

"Tunggu!" Berkata Lor Sekti Alis Tunggal.

"Ada apa?" tanya Si Mayat Terbang sementara Datuk Ular Jari Petir kembali menggerak-gerakkan sepuluh Jari tangan hingga mengeluarkan suara berkeletekkan.

Lor Sekti kakek berjubah kuning muka merah dan cuma punya satu alis itu melintangkan jari telunjuk tangan kiri di atas bibir.

"Kau cepat mengawasi tiga ekor kuda. Jangan sampai binatang Itu ada yang meringkik karena gelisah! Lakukan cepat!" Katanya pada Si Mayat Terbang.

Walau tidak mengerti mengapa si kakek berkata begitu namun si berewok bergigi perak ini cepat berdiri dan melakukan apa yang diperintah. Satu demi satu tiga ekor kuda yang tengah merumput diusapi agar berlaku jinak dan tenang.

Lor Sekti Alis Tunggal sendiri kemudian letakkan telinga kirinya di tanah sementara Datuk Ular Jari Petir memperhatikan lalu memandang berkeliling. Sang Datuk kemudian ikutan jongkok dan berbisik.

"Ada orang datang?"

Lor Sekti Alis Tunggal kedipkan mata tanda mengiya-kan.

"Seberapa jauh?"

"Cukup jauh. Langkahnya kudengar terkadang tertahan-tahan. Orang ini berjalan seperti tanpa tujuan. Mungkin hatinya sadang gelisah. Tapi jelas dia menuju ke arah sini. Mungkin dia tahu ada mata air di tempat ini. Dia memiliki ilmu meringankan tubuh luar biasa tinggi!" Telingaku hampir sulit membedakan gerak langkah kaki dengan tiupan angin!"

Datuk Ular Jari Petir angkat kepala. Memandang berkeliling. Dia tidak melihat siapa-siapa. Lalu dia membungkuk kembali.

"Kau bisa mengetahui yang datang itu lelaki atau perempuan?"

"Saat ini sulit kuketahui. Masih terlalu jauh. Tunggu sebentar lagi. Sobatku, jangan bicara terlalu keras. Orang yang datang agaknya bukan manusia sembarangan. Bisa saja dia mendengar semua pembicaraan kita di sini walau berbisik-bisik."

Karena terlalu lama jongkok menungging di tanah, tidak terasa Datuk Ular Jari Petir tiba-tiba buuutttt pancarkan kentut!

Lor Sekti Alis Tunggal marah sekali tapi tak mau memaki.

Perhatiannya pecah. Datuk Ular Jari Petir menyesali kesembronoannya tapi tidak dapat menahan tawa. Agar tawa tidak menyembur kakek ini cepat tutup mulutnya dengan telapak tangan kiri.

Di dekat pohon Si Mayat Terbang sudah mulai keluarkan tawa mengekeh.

Tiba-tiba sepasang mata Lor Sekti Alis Tunggal mem-besar. Kepala diangkat dari tanah. Saat itu juga dia membuat gerakan melompat sambil melesat ke depan, menunjuk dan berteriak.

"Itu orangnya!"

Lor Sekti Alis Tunggal dan Si Mayat Terbang segera Ikut berkelebat Tiga ekor kuda meringkik keras. Sesaat kemudian tiga orang tokoh silat Istana dari timur itu telah mengurung seorang gadis berpakaian biru berwajah cantik tapi pucat dan berambut panjang tergerai kucai.



2DAPATKAN dirinya dikurung dan siap disergap tiga orang tidak dikenal, namun pasti manusia-manusia berkepandaian tinggi, sepasang alis mata bagus gadis berpakaian biru mencuat ke atas. Bibir merah sunggingkan senyum membuat munculnya lesung pipit di kedua pipi. Namun jelas senyum itu membersitkan rasa jengkel.

"Kalian siapa?" Suaranya bertanya datar, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.

Si Mayat Terbang alias Warok Gigi Perak dekati Lor Sekti AlisTunggal dan berbisik.

"Kurasa bukan ini orangnya."

"Aku memang meragukan, tapi lihat, wajahnya cantik. Belum apa-apa dia sudah tersenyum. Hanya perempuan sinting yang tersenyum pada orang yang tidak dikenalnya. Apa lagi kita sudah menunjukkan sikap mengurungi. Ingat keterangan mata-mata Kerajaan? Terakhir sekali perempuan itu terlihat mengenakan pakaian biru, berada di sekitar Gunung Gede ini," jawab si kakek jubah kuning.

"Tapi yang ini rambutnya pirang, tidak hitam," Si Mayat Terbang masih tidak berubah pendapat.

"Bisa saja dia sengaja merubah warna rambutnya agar tidak diketahui siapa jati dirinya." jawab Lor Sekti AlisTunggal.

Datuk Ular Jari Petir sambil gerak-gerakkan sepuluh jari tangan dan menatap si gadis dengan mata juling, mendengar apa yang saling dibisikkan dua temannya, buru-buru mendatangi dan ikut berbisik.

"Kita harus berhati-hati. Jangan salah tangkap apa lagi sampai salah menggebuk. Perempuan satu ini sama sekali tidak membawa boneka kayu. Kita semua tahu boneka itu merupakan salah satu ciri-ciri Nyi Retno Mantili. Salaln itu kita harus hati-hati. Walau cantik tapi dia menyimpan kepandaian tinggi."

"Kalian bicara berbisik-bisik! Ada apa ini? Siapa kalian?!" kembali gadis cantik berpakaian biru bertanya. Suara tetap datar dan malah kelihatan begitu tenang sementara senyum masih belum pupus di wajahnya

"Biar aku yang menjawab," kata Lor Sekti Alis Tunggal. Lalu dia maju dua langkah mendekati gadis berbaju biru berambut pirang.

"Kami bertiga adalah orang-orang utusan Keraton di Jawa Tengah. Kami dalam perjalanan mencari seseorang. Dan seseorang itu kami rasa adalah engkau..."

Belum habis Lor Sekti Alis Tunggal berucap, si cantik berambut pirang yang bukan lain adalah Bidadari Angin Timur angkat tangan kiri memberi tanda agar si kakek jubah kuning berhenti bicara.

"Jauh-jauh dari Jawa Tengah, mencari seseorang hanya mengandalkan perasaan! Betapa tololnya!"

Meski tersengat dikatakan tolol namun Lor Sekti Alis Tunggal maju satu langkah sambil ajukan pertanyaan.

"Bukankah kau Nyi Retno Mantiil, murid Kiai Gede Tapa Pamungkas, Janda mendiang Patih Kerajaan Wira Bumi?".

Mendengar perkataan si kakek beralis satu Bidadari Angin Timur dongakkan kepala lalu tertawa panjang. Begitu tawa dihentikan dia langsung membentak.

"Kenal diriku tidak! Mengaku tokoh persilatan Istana! Bertiga menghadang seorang perempuan di tengah jalan! Sungguh perbuatan rendah! Tidak sopan memalukan!"

"Kau telah membunuh beberapa sahabat kami. Masih bisa tertawa! Malah berani membentak!" Kata Lor Sekti Alis Tunggal dengan mata memandang tak berkesip.

"Melihat tampang kalian aku curiga kalian Ini sebenarnya adalah rampok gadungan! Menyingkirlah sebelum aku jadi muak! Cari mangsa lain yang bisa kajian jarah!"

Datuk Ular Jari Petir usap mukanya dengan sepuluh jari tangan lalu berkata. "Kami membawa surat perintah penangkapan atas dirimu! Kau tak mungkin berkilah apa lagi berusaha lolos! Lor Sekti, perlihatkan padanya Surat Perintah Penangkapan dari Kerajaan!'

Dari balik jubah kuningnya kakek bernama Lor Sekti Alis Tunggal keluarkan satu gulungan kain putih. Gulungan dibuka dan dibentang lalu di perlihatkan pada Bidadari Angin Timur!

"Silahkan kau baca sendiri!"

Bidadari Angin Timur tertawa geli.

"Orang tua beralis satu! Kau yang membawa surat silahkan kau yang membaca!"

Lor Sekti Alis Tunggal Jadi bingung karena dia tidak pandai membaca alias buta huruf! Melihat hal ini Datuk Ular Jari Petir segera mengambil gulungan kain yang sudah terbentang dan membaca tulisan yang tertera keras-keras.

"Atas Nama Hukum Dan Keadilan. Kerajaan dengan Ini memerintahkan penangkapan atas diri Nyi Retno Mantili dalam keadaan hidup ataupun mati." Yang bersangkutan diketahui telah membunuh seorang Perwira Tinggi Kerajaan dan beberapa orang tokoh silat Istana. Tertanda atas nama Perwira Tinggi Kerajaan pangeran Aryo Adinegoro/Pejabat Sementara Patih Kerajaan"

Kembali Bidadari Angin Timur umbar tawa panjang.

"Aku bisa membuat sepuluh surat perintah penangkapan seperti itu. Menangkap kalian sekaligus bertiga! Sudahlah, kalian semua harap menyingkir. Jangan ngacok di siang bolong! Aku mau melanjutkan perjalanan."

"Apa kau tidak melihat ada Cap Kerajaan di bagian bawah surat tadi? Ini bukan surat palsu! Pangeran Aryo Adinegoro bukan orang sembarangan. Dia adalah putera ke-empat dari Permaisuri!" Si Mayat Terbang untuk pertama kalinya membuka mulut. Wajahnya yang garang tampak gusar karena merasa tidak dipandang sebelah mata oleh si cantik berambut pirang itu.

Bidadari Angin Timur perhatikan tampang orang. Dalam hati dia membatin, manusia satu ini angker juga! Pisau yang menancap dikepalanya mengandung racun. Tapi dia sendiri tidak keracunan! Aku perlu mengawasi orang ini kalau pertarungan tidak bisa dihindari."

"Aku tidak pernah mengatakan surat itu palsu. Aku hanya tidak percaya pada kalian. Mengaku utusan Kerajaan. Anak buah Pangeran Aryo! Bagaimana aku bisa percaya kalian adalah orang-orang Kerajaan! Tapi diam-diam Bidadari Angin Timur sudah memaklumi kalau ketiga orang tak dikenalnya itu memang adalah orang-orang yang punya hubungan dekat dengan Kerajaan. Ini diketahuinya dari bentuk dan tanda-tanda pada pelana serta penutup mata tiga kuda tunggangan milik mereka.

"Aku Lor Sekti AlisTunggal. Kakek berpakaian biru ini Datuk Ular Jari Petir dan sahabat muda ini dikenal dengan nama Si Mayat Terbang..."

"Ah, nama kalian hebat-hebat semua. Membuatku kagum! Hik ... hik!" ucapan Bidadari Angin Timur seperti memuji namun mimiknya menunjukkan ejekan. Gadis ini lanjutkan ucapan.Tapi kalian dengar baik-baik ya. Aku bukan orang yang kalian cari. Aku bukan Nyi Retno Mantili."

"Kau berdusta! Kau sengaja menyamar dengan merubah warna rambutmu!" Berkata Datuk Ular Jari Petir.

Mendengar ucapan orang Bidadari Angin Timur tertawa.

"Datuk, kau belum tahu wanginya rambutku!"

Sang dara goyangkan kepala. "Silahkan mencium!"

"Setttr"

Rambut pirang panjang melesat laksana pedang menabas. Bau harum semerbak menebar. Datuk Ular Jari Petir berseru kaget dan marah, buru-buru menyingkir mundur selamatkan hidung dari sambaran ujung rambut.

Sambil tertawa panjang Bidadari Angin Timur menarik putus dua rambut pirangnya lalu dilempar ke arah sang Datuk berblangkon biru. Dua helai rambut yang lemas lembut dan harum itu berubah laksana dua batang kawat baja, melesat ke arah Datuk Ular Jari Petir. Kalau sampai menembus salah satu bagian tubuh, apa lagi kepala bisa jadi perkara Maut!

Meski belum sempat mengimbangi diri namun Datuk Ular dengan sebat pergunakan tangan kiri untuk menangkap dua helai rambut.

"Silahkan kau memeriksa apa rambut pirangku adalah rambut palsu!" Ucap Bidadari Angin Timur.

Dengan mata berkilat Datuk Ular memperhatikan. Dua helai rambut kemudian diremas-remas. Warna pirang tidak luntur. Bagian dalam yang putus-putus berwarna sama dengan warna rambut sebelah luar. Sang Datuk tidak berkata apa-apa hanya pelipisnya tampak bergerak-gerak tanda menahan amarah.

Kembali Bidadari Angin Timur tertawa cekikikan.

"Perempuan sinting! Mana boneka kayu yang kau pakai membunuh para tokoh Istana?!" Membentak Si Mayat Terbang.Tangan kiri bergerak-gerak tanda mulai gatal ingin mencabut dan melemparkan pisau terbang beracun.

"Tubuhmu bau! Mulutmu lebih bau lagi! Sudah berapa lama kau tidak mandi? Hik...hik! Kau kira aku anak kecil yang suka main boneka?!" ejek Bidadari Angin Timur yang membuat lelaki berewokan itu menggereng marah. Kalau semasa masih jadi warok kepala rampok otak kotor pasti sudah memenuhi kepalanya berhadapan dengan gadis secantik itu dan saat itu juga tentu sudah disergapnya.

"Kau telah membunuh beberapa tokoh silat Istana. Sesuai perintah jika kau tidak menyerahkan diri secara baik-baik maka mayatmu yang akan kami bawa ke hadapan Raja!" Lor Sakti AlisTunggal angkat bicara.

"Tapi kami tidak ingin berlaku sekejam Itu."

Bidadari Angin Timur mendengus.

"Begitu... ? Aku sudah berkata yang sebenarnya. Kalian orang-orang tolol masih ngotot mengira aku Nyi Retno Mantili! Kalau kalian memang Ingin membunuh-ku, silahkan! Aku mau lihat sampai dimana kehebatan kalian) Saat ini aku memang kepingin mati! Kalau aku sudah mati nanti aku beri tahu pada kalian bagaimana rasanya mati Itu! Hilc.hik... hik!"

"Berani menantang! Dasar perempuan sinting! Apa kau kira kami tidak tega membunuhmu?!" teriak SI Mayat Terbang marah. Dia segera gerakkan tangan kiri ke atas kepala dimana puluhan pisau beracun menancap.

Lor Sekti AlisTunggal menahan gerakan Si Mayat Terbang dengan memegang lengan kirinya Dengan menekan suaranya agar terdengar lebih sabar kakek Ini bertanya pada Bidadari AnginTimur.

"Jika kau memang bukan Nyi Retno Mantili yang menyamar, lalu siapa dirimu adanya?!"

"Apa perduli kalian siapa diriku?!" Dalam hati Bidadari AnginTimur memaki. "Pikiran sedang kacau balau ada saja orang-orang yang membuatku tambah jengkel!"

Datuk Ular habis sabarnya. Tapi Lor Sekti Alis Tunggal masih berusaha menahan diri.

"Nyi Retno Mantili, kami masih menghormati mendiang suamimu Wira Bumi. Kami mohon kau mau menyerah secara baik-baik dan ikut kami ke Jawa Tengah. Kami akan memohon agar hukuman atas dirimu bisa diperingan oleh Sri Sultan."

Mendengar ucapan si kakek Bidadari AnginTimur tertawa bergelak.

"Kakek edan muka merah seperti udang rebus! Kapan aku pernah dikawin Wira Bumi! Kapan aku pernah Jadi istri Patih Kerajaan....!"

Datuk Ular berbisik pada kambratnya kakek jubah kuning. "Lor Sekti, aku jadi yakin perempuan ini memang Nyi Retno Mantili. Dari kabar yang aku sirap

Nyi Retno selalu bicara begitu pada semua orang! Tidak pernah mengakui kalau dia adalah Istri Patih Kerajaan Wira Bumi."

"Kakek budek torek! Apa kau tidak dengar tadi aku bilang aku ini bukan Nyi Retno Mantili?!" Bidadari AnginTimur berkata setengah berteriak.

Kakek berjubah kuning terdiam namun kawannya si blangkon biru Datuk Ular berteriak.

"Kawan-kawan. Mari kita tangkap betina satu ini! Kalau melawan jangan ragu-ragu menghabisinya!"

Begitu tiga orang dihadapannya mulai bergerak Bidadari Angin Timur yang memiliki ilmu meringankan tubuh tinggi serta gerakan luar biasa cepat segera berkelebat. Gerak tubuhnya kelihatan seolah melesat ke atas lalu melayang turun masuk ke dalam mata air. Dan lenyap!

Lor Sekti Alis Tunggal terkejut. Seumur hidup belum pernah dia melihat orang memiliki kecepatan gerak seluar biasa itu.

Bidadari Angin Timur telah mengeluarkan limu meringankan tubuh bernama Ilmu Selaksa Kilat.

"Gila! Dia masuk menghilang ke dalam air!" Berseru Si Mayat Terbang.

"Jangan tertipu!" teriak Datuk Ular Jari Petir. "Perempuan itu tidak masuk ke dalam mata air. Dia pasti mendekam di tempat lain!" Sang Datuk berkata begitu karena dia tidak melihat air menyiprat. Kakek Ini memandang berkeliling, lalu berteriak.

"Dia ada di atas pohon sana!"

Lor Sekti Alis Tunggal dan Si Mayat Terbang memandang ke arah yang ditunjuk Datuk Ular. Ternyata memang benar. Saat itu si gadis berpakaian biru berambut pirang telah berada di atas pohon besar tak jauh dari mata air.

Setelah saling memberi tanda Datuk Ular Jari Petir dan Lor Sekti Alis Tunggal dengan gerakan kilat melepas pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi dan hawa sakti ganas ke atas pohon.

Dua larik sinar merah dan hitam menderu. Si Mayat Terbang tak tinggal diam. Sekali tangannya bergerak ke atas kepala, dua pisau terbang melesat ke arah pohon. Saking cepatnya lemparan dua pisau hanya terlihat berupa dua larik cahaya hijau!

"Kurang ajar! Tiga orang itu benar-benar punya niat hendak membunuhku!" Kertak Bidadari Angin Timur.

Dua tangan disilang di depan dada. Sepuluh jari disusun lurus.

Sambil mengibaskan dua tangan ke bawah, Bidadari AnginTimur melompat turun. Jungkir balik dua kali di udara.

"Blaarrr! Blaaarrr!"3UNTUK sementara kita tinggalkan Bidadari Angin Timur yang terancam keselamatannya karena hendak dihabisi oleh tiga tokoh silat Istana dari Jawa Tengah.

Di dasar laut utara, dalam satu Istana batu pualam. Ratu Laut Utara duduk di atas kursi besar berlapis emas. Dalam usia yang sudah empat puluh tahun wajah tetap cantik dan lekuk tubuhnya elok menggairahkan. Apa lagi dia mengenakan pakaian biru panjang ketat yang pada kedua sisinya dibelah tinggi hingga kakinya yang mulus tersingkap putih sampai ke paha terus ke pangkal pinggul.

Setelah merapikan rambut dan letak mahkota emas bertabur batu permata di kepala, sang Ratu arahkan pandangan sepasang bola matanya yang kelabu ke atas meja batu pualam di hadapannya. Di atas meja itu terletak sebuah seloki besar terbuat dari batu pualam berisi cairan berwarna merah. Dalam genangan cairan merah terdapat sebuah benda putih dengan bundaran hitam di sebelah tengah serta serabut-serabut merah di bagian belakang. Benda ini adalah mata kiri Patih Wira Bumi yang dulu dicungkil dan diambil sebagai jaminan bahwa dia tidak akan melanggar janji.

Seperti dituturkan dalam serial Wiro Sableng berjudul "Bayi Satu Suro" Wira Bumi dengan diantar oleh Nyai Tumbal Jiwo yang menampilkan diri sebagal Nyi Wulas Pikan telah mendatangi Kerajaan Ratu Laut Utara. Kepada Sang Ratu mereka minta pertolongan aqar diberi petunjuk dimana beradanya bayi Nyi Retno Mantili yang bernama Ken Permata. Sebagai imbalan kedua orang itu akan menyerahkan Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru yang telah dicuri Nyai Tumbal Jiwo dari Istana Ratu Laut Selatan Nyai Roro Kidul.

Ratu Laut Utara bersedia menolong namun dengan syarat Wira Bumi harus menyerahkan mata kirinya sebagal jaminan bahwa setelah dia mendapatkan bayi maka dia akan kembali untuk menyerahkan batu mustika sakti dan memperhambakan diri pada Ratu Laut Utara. Karena tidak mungkin mundur lagi akhirnya Wira Bumi pasrah menyerahkan mata kirinya. Seperti diketahui Wira Bumi bersama Nyai Tumbal Jiwo tidak berhasil mendapatkan bayi Nyi Retno Mantili yang ada di tempat kediaman Datuk Rao Basaluang Ameh di Danau Maninjau Pulau Andalas. Wira Bumi sendiri kemudian menemui ajal ditabas dengan golok oleh Pendekar212 di Pulau Gilang pada malam perayaan Satu Suro. Bayi Nyi Retno Mantili dibawa kembali oleh Datuk Rao Basaluang Amen ke Danau Maninjau disertai pesan agar kelak Wiro sendiri yang akan menjemput-nya.

Di samping meja batu pualam duduk bersimpuh seorang nenek berkepala berbentuk aneh. Bagian atas kepalanya yang berwarna ungu lebih kecil dari kedua pipi. Bibir tebal dower merah seperti dibalut darah sedang sepasang mata bengkak gembung nyaris tertutup. Nenek Ini bernama Nyi Kuncup Jingga, merupakan tangan kanan pembantu kepercayaan Ratu Laut Utara. Konon dia mempunyai kelainan yaitu hanya suka pada insan sesama jenis.

Setelah menatap tak berkesip sekian lama pada mata Wira Bumi yang ada di dalam seloki batu pualam, Ratu Laut Utara unjukkan wajah berkerut dan berulang kali menarik nafas dalam. Walau tahu kalau ada sesuatu namun Nyi Kuncup Jingga diam menunggu tidak berani bertanya.

"Nyi Kuncup. Sesuatu telah terjadi dengan orang yang punya mata itu." Berucap Ratu Laut Utara.

"Saya mohon petunjuk Sri Paduka Ratu," kata si nenek pula.

"Wira Bumi Patih Kerajaan telah menemui ajal. Sekitar satu purnama lalu. Perjanjian tidak mungkin diteruskan. Namun apa yang sudah dikatakan harus menjadi kenyataan. Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru yang dikatakan akan diserahkan kepadaku harus kita dapatkan kembali."

Mendengar keterangan sang Ratu, Nyi Kuncup Jingga sudah mengerti apa yang harus dilakukan.' Nenek Ini bertepuk tiga kali. Sesaat kemudian muncul dua gadis cantik membawa sebuah dulang terbuat dari perak. Inilah nampan yang disebut Dulang Perak Sejuta Mata. Dulang berisi air berwarna kebiruan diletakkan di atas meja pualam di samping seloki berisi mata kiri Wira Bumi. Melalui air di dalam dulang Ratu Laut Utara memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu di tempat Jauh. Ratu usapkan tangan kanan di atas dulang, asap mengepul. Begitu kepulan asap sirna Ratu Laut Utara memperhatikan cairan dalam dulang tanpa berkesip. Sesaat kemudian Ratu memberi isyarat. Dua gadis mengambil dulang dari atas meja dan tinggalkan tempat itu.

"Nyi Kuncup Jingga..."

"Hamba Sri Paduka Ratu..."

"Menurut apa yang aku lihat, Batu Mustika Angin Laut, Kencana Biru telah berpindah tangan beberapa kali. Namun saat Ini batu sakti itu telah berada kembali di tangan nenek serba merah yang dadanya geroak dan tempo hari pernah datang ke sini menemani Wira Bumi..."

"Saya Ingat Sri Paduka Ratu. Nenek itu menampilkan diri sebagai perempuan cantik mengaku bernama Nyi Wulas Pikan..."

"Betul... ada kesan bahwa untuk mendapatkan batu sakti itu dia telah merubah diri menjadi seorang gadis bermata biru, Ratu Duyung, orang kepercayaan Ratu Laut Selatan. Kau harus mencari mahluk alam roh yang sebenarnya bernama Nyai Tumbal Jiwo itu. Dapatkan kembali batu sakti itu. Aku tidak ingin batu mustika itu kembali ke Laut Selatan. Aku juga memerintahkan agar kau membunuh Nyai Tumbal Jiwo. Nenek satu itu perlu dikembalikan ke alam roh lapisan ketujuh untuk selama-lamanya. Menurut yang aku lihat dia akan berada di pantai utara tak selang berapa lama. Aku tidak tahu apa keperluannya di tempat itu."

"Perintah Sri Paduka Ratu akan saya laksanakan," kata Nyi Kuncup Jingga lalu bangkit berdiri.

"Ajak serta Ki Ngumpil Sebaki alias SI Lidah Hantu untuk membantumu. Aku menaruh firasat dalam mencari Nyai Tumbal Jiwo kau juga akan berhadapan dengan orang-orang lain berkepandaian tinggi."

"Baik Sri Paduka Ratu. Saya akan menemui KI Ngumpil Sebaki..."

"Saat ini dia masih bertapa di lapisan ke dua dasar Laut Utara. Tunggu sampai malam tiba saat dia mengakhiri tapanya."

"Baik Sri Paduka Ratu." Nyi Kuncup Jingga membung-kuk, siap untuk berlalu dari hadapan sang Ratu.

"Ada satu hal lagi Nyi Kuncup..."

"Hamba Sri Paduka Ratu..."

"Dalam air di Dulang Perak Sejuta Mata aku melihat bayangan Ratu Duyung bersama seorang pemuda berpakaian hitam berambut panjang sebahu. Mereka tengah mencari dan mengejar si pencuri Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru. Jika Nyai Tumbal Jiwo mengarah ke pantai utara, mereka pasti akan mengejar ke jurusan yang sama. Untuk kedua orang itu aku punya pesan khusus. Jika kau bertemu mereka jangan ragu-ragu untuk membunuh Ratu Duyung. Namun tangkap hidup-hidup pemuda berpakaian hitam. Bawa ke hadapanku."

"Saya mengerti Sri Paduka Ratu. Perintah Sri Paduka Ratu akan saya laksanakan. Namun agar tidak kesalahan tangan, mohon diberi tahu siapakah adanya pemuda berpakaian hitam berambut panjang sebahu itu?"

Ratu Laut Utara tidak segera menjawab. Mata memandang ke arah kejauhan. Air mukanya jelas membayangkan sesuatu lalu dengan suara perlahan mulutnya berucap.

"Aku sudah lama menunggu kedatangannya. Aku tidak Ingin Ratu Laut Selatan mendapatkan pemuda Itu. Kau pasti pernah mendengar nama dan julukan pemuda itu. Namanya Wiro Sableng. Julukannya Pendekar Kapak Maut Naga Geni Dua Satu Dua..."

"Ah ." Nyi Kuncup Jingga melepas suara kagum lalu anggukkan kepala berulang kali. "Saya akan membunuh Ratu Duyung gadis penggoda itu. Saya akan membawa Pendekar Dua Satu Dua ke hadapan Sri Paduka Ratu. Memang dia teramat pantas untuk bersanding dengan Sri Paduka Ratu. Saya mengerti, bila Sri Paduka Ratu sudah bersama dia maka delapan penjuru angin rimba persilatan di laut dan di daratan akan berada dalam genggaman Sri Paduka Ratu."

Tanpa menoleh pada Nyi Kuncup Jingga. Ratu Laut Utara anggukkan kepala. Sekelumit senyum muncul di wajahnya. Di dalam hati sang Ratu berkata

"Terus terang, aku lebih mementingkan dan meng-harapkan pemuda itu dari pada batu mustika sakti."

Kemudian ketika tiba-tiba ada teriakan mengiang di telinganya Ratu Laut Utara tersentak. Paras berubah, tubuh terlonjak bangkit Dalam hati dia berkata penuh kebencian.

"Ayu Lestari! Tunggu hari kematianmu.Tiga ratus hari tidak lama lagi! Kau akan berkubur di dasar laut utara! Setelah itu tidak akan ada lagi gangguan atas kekuasaanku di Laut Utara ini!"

Ratu Laut Utara tekan lengan kursi kiri kanan. Luar biasa! Didahului suara berdesir saat itu juga kursi besar berlapis emas itu amblas masuk ke dalam lantai batu pualam. Lenyap bersama sosok sang Ratu.4KEMBALI pada Bidadari Angin Timur yang tengah mendapat serangan tiga musuh tangguh, mengaku utusan Kerajaan di Jawa Tengah dan hendak menangkap dirinya karena dianggap sebagai Nyi Retno Mantili yang telah membunuh seorang Perwira Tinggi dan beberapa tokoh silat Istana. Dari tangan kanan Datuk Ular Jari Petir menderu selarik sinar hitam sementara pukulan tangan kosong yang dilepaskan Lor Sekti Alis Tunggal mengeluarkan cahaya merah angker. Di saat yang bersamaan dua pisau terbang yang dilempar SI Mayat Terbang melesat sebat dan saking cepatnya lenyap membentuk dua larik sinar hijau menggidikkah.

Di atas pohon, melihat datangnya tiga serangan dahsyat Bidadari AnginTimur cepat silangkan dua tangan di depan dada. Sepuluh jari disentak lurus. Sambil melompat turun dua tangan dihantamkan ke bawah. Dua larik sinar hijau laksana dua pedang membabat menyambar menyambut datangnya serangan. Bersamaan dengan Itu dia membuat gerakan jungkir balik dua kali berturut-turut Semua dilakukan dengan gerakan serba cepat mengandalkan ilmu Selaksa Kilat hingga sosok gadis itu berubah menjadi sekilas cahaya biru.

"Blaarrr! Biaarr!"

Dua letusan keras menggelegar.Tanah bergetar. Air di mata air muncrat ke atas. Cahaya merah, hijau dan hitam bertabur di udara. Meski mampu turun dengan kaki menjejak tanah lebih dulu namun tubuh Bidadari Angin Timur untuk sesaat tampak tergontai-gontai. Wajahnya yang pucat tambah putih. Di lain pihak Lor Sekti AlisTunggal dan Datuk Ular Jari Petir saling berpegangan tangan agar tidak rubuh. Muka Lor Sekti Alis Tunggal tampak tambah merah sedang tampang Datuk Ular kelihatan kelam membesi. Hanya Si Mayat Terbang yang masih tetap berdiri kokoh karena tenaga dalamnya tidak bertabrakan langsung dengan tenaga dalam Bidadari AnginTimur. Gerakan melompat yang disertai jungkir balik kilat membuat Bidadari Angin Timur mampu mengelakkan serangan dua pisau beracun.

Begitu dua pisau menancap di batang pohon, serta merta kulit pohon yang tadinya coklat kehitaman berubah menjadi hijau. Tiga cahaya mengandungi hawa sakti yang bertebaran ke udara membuat ranting dan daun pohon hangus menghitam, dedaunan jatuh luruh ke tanah.

Dalam hal ilmu meringankan tubuh kelihatannya Bidadari Angin Timur bisa mengatasi kehebatan ke tiga lawan. Namun menghadapi gabungan tiga tenaga dalam terlalu besar bahayanya. Hal Ini disadari oleh Bidadari AnginTimur.

"Aku harus menghajar si berewok ini lebih dulu. Tenaga dalamnya tidak seberapa namun pisau beracunnya sangat berbahaya! Tubuhnya tahan terhadap racun pisau! Aku tahu rahasia kehebatan sekaligus kelema!hannya! Ginjal di dalam tubuhnya!"

Apa yang diduga Bidadari AnginTimur memang benar adanya. Si berewok yaitu Si Mayat Terbang memiliki kehebatan luar biasa tidak keracunan oleh pisau yang menancap di batok kepalanya karena dia memiliki semacam penyaring racun yaitu ginjal di dalam tubuhnya.

Manusia biasa memiliki dua buah ginjal. Tapi ketika dilahirkan Si Mayat Terbang konon memiliki empat ginjal sekaligus!

Lor Sekti Alis Tunggal diam-diam juga telah mengukur kehebatan lawan. Dia dan kawan-kawan pasti bisa meringkus atau membunuh gadis berambut pirang itu. Namun di antara mereka tidak mustahil ada yang akan jadi korban. Maka kakek bermuka merah keluarkan ucapan membujuk untuk kesekian talinya

"Nyi Retno, dari pada kau mati percuma harap mau berpikir sekali lagi. Harap kau mau menyerahkan diri secara baik-baik!"

Bidadari Angin Timur sunggingkan senyum mengejek.

"Nyali kailan rupanya mulai leleh?"

"Perlu apa bicara lagi panjang lebar dengan calon bangkai!"

Teriak SI Mayat Terbang yang kesal dan tidak menyangka lawan sanggup selamatkan diri dari lemparan dua pisau mautnya.

"Kau yang berucap kau yang pertama kali akan Jadi mayat!" balas berteriak Bidadari Angin Timur. Sambil berteriak dia renggangkan dua kaki. Tangan kiri diangkat, telapak membuka lebar. Dua mata memandang tiga lawan tak berkedip. Sementara tangan kanan bergerak ke bagian depan pakaian biru di arah perut. Astaga! Walau sudah tidak lagi muncul sebagal Nyi Bodong ternyata Bidadari Angin Timur masih memiliki ilmu kesaktian Ilmu Pusar Pusara yang didapatnya dari kakek sakti Kiai Munding Suryakala. Bila pakaian biru disingkap di bagian perut, pusar akan mencuat keluar dan dari pusar yang berubah bodong ini akan melesat cahaya biru bernama Geni Biru. Beberapa orang tokoh sakti pernah merasa-kan kehebatan ilmu kesaktian ini. Satu diantaranya adalah Pangeran Matahari yang dibuat buntung tangan kirinya. (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Nyi Bodong" dan "Perjanjian Dengan Roh")

"Kami para utusan Kerajaan sudah memberi ingat. Jangan salahkan kalau kau mati percuma dan menyesal sampai di Uang kubur."

"Tidak apa-apa. Aku tidak akan pernah menyesal karena aku akan membawa kajian Ikut serta ke liang kubur!" Jawab Bidadari Angin Timur. Kepala didongak. Dari mulut melesat suara seperti raungan srigala di malam buta lalu di susul dengan suara tawa cekikan. Inilah satu pertanda bahwa Bidadari Angin Timur akan kembali menjadi Nyi Bodong dan keluarkan Ilmu dahsyat Ilmu Pusar Pusara!

Untuk sesaat tiga tokoh silat Kerajaan sempat tercekat. Namun kemudian datuk Ular Jari Petir berteriak.

"Pateni!"

Habis berteriak Datuk Ular Jari Petir jentikkan lima jari tangan kanan. Lima sinar hitam pekat menderu menyambar ke arah Bidadari Angin Timur menge-luarkan suara seperti petir menyambar, menebar bau amis darah ular! Bukan itu saja. Kakek berpakaian hitam ini susul serangannya dengan menggerakkan kepala. Dari mulut kepala ular kering yang menempel di bagian depan blangkon biru melesat sinar kuning, menebar bau busuk pertanda dua serangan sang Datuk mengandung racun jahat.

Lor Sekti Alis Tunggal melesat satu tombak ke itas. Masih melayang di udara dia hantamkan tangan kanan ke bawah. Didahului suara seperti tiupan suling dari lengan jubah kakek beralis satu ini berkelebat selarik sinar merah, menebar menyapu berbentuk kipas terkembang.

Warok Gigi Perak alias Si Mayat Terbang berteriak garang. Tangan kirinya bergerak dua kali ke atas kepala

"Bettt! Bettt!"

Sepuluh pisau terbang pertama melesat ke arah Bidadari Angin Timur. Sesaat kemudian menyusul sepuluh pisau lagi!

Melihat datangnya serangan laksana air bah ini sungguh berbahaya keselamatan Bidadari Angin Timur. Namun gadis yang diserang tidak unjukkan rasa gentar. Penuh percaya diri dia remas lima jari tangan kiri. Bersamaan dengan itu tangan kanan menyibak baju biru tipis di bagian perut. Pusar tersingkap putih!

"Desss..Wuuuttt!"

Selarik sinar biru terang benderang menyilaukan keluar dari pusar bodong Bidadari Angin Timur. Menggebubu ke depan memapas serangan tiga utusan Kerajaan.

Untuk kedua kalinya di tempat itu meggelegar letusan-letusan keras disertai taburan cahaya, hanya saja kali ini disertai pekik semua orang yang terlibat pertarungan.

Datuk Ular Jari Petir tersurut lima langkah sambil menggerung kesakitan. Lima jari tangan kanan putus dan leleh.

Lor Sekti Alis Tunggal menjerit keras sambil pegangi dadanya yang robek terbelah. Mukanya yang merah berubah membiru. Darah bergelimang di sekujur tubuh dan dua tangan yang mendekap dada. Kakek berjubah kuning ini memekik satu kali lagi lalu tergelimpang roboh namun tidak segera menemui ajal.

Yang paling mengenaskan adalah Si Mayat Terbang. Pinggangnya nyaris putus disambar sinar Geni Biru. Tiga dari empat ginjalnya hancur. Dalam keadaan tubuh nyaris kutung dan miring ke kiri dia masih berusaha menggapai pisau terbang di atas kepala. Namun tubuhnya yang besar keburu terjungkal. Manusia satu ini melepas nyawa dengan mulut menganga dan mata mendelik sementara darah membasahi hampir sekujur tubuhnya.Tepat seperti yang dikatakan Bidadari Angin Timur. Si Mayat Terbang benar-benar menjadi korban pertama yang menemui ajal di tempat itu.

Dalam keadaan tangan kanan luka parah Datuk Ular Jan Petir yang sudah putus nyalinya segera melompat ke atas punggung seekor kuda lalu secepat kilat menghambur kabur dari tempat itu.

Walau menemui ajal namun dua kali lemparan pisau yang tadi dilakukan Si Mayat Terbang ternyata hampir menimbulkan malapetaka bagi Bidadari Angin Timur. Dengan ilmu Pusar Pusara Bidadari Angin Timur memang berhasil membuat hancur lebur sepuluh pisau serangan pertama. Namun begitu sambaran Geni Biru lewat dan sirap, serangan sepuluh pisau terbang kedua datang menderu ganas. Kali ini Didadari Angin Timur tidak mampu menyingkir atau menangkis. Dia masih berusaha pergunakan ke-cepatan untuk selamatkan diri sambil lepaskan satu pukulan tangan kosong. Hanya enam pisau yang berhasil lolos dan dibuat mental sementara empat sisanya masih terus menyambar ke arah kepala!

"Celakai"

Bidadari Angin Timur berseru kaget dan hanya bisa pasrah menunggu kedatangan empat pisau menancapi wajahnya!

Namun Kuasa dan Kehendak Tuhan masih melindungi gadis berambut pirang itu. Sesaat lagi empat pisau beracun akan menancap di wajahnya yang cantik jelita, tiba-tiba satu mahluk raksasa bertubuh yang terbungkus duri-duri tebal berkelebat di antara pisau yang menyambar dan wajah Bidadari Angin Timur. Si gadis sendiri sampai terpental akibat ditabrak mahluk raksasa itu.

"Tring ...tring..tring..tring!"

Empat pisau beracun yang seharusnya menancap di muka Bidadari Angin Timur mencelat mental. Mahluk yang melindungi Bidadari Angin Timur keluarkan suara menggereng. Entah marah entah kesakitan. Mahluk aneh ini yang ternyata adalahseekor landak raksasa memutar tubuh melangkah mendekati Bidadari Angin Timur yang masih tergolek di tanah dengan wajah pucat.

"Bidadari AnginTimur, kau tak apa-apa?" Mahluk berbentuk landak raksasa bertanya. Suaranya ternyata suara manusia. Tiga langkah dari Bidadari Angin Timur tiba-tiba sosok binatang landak ini barubah menjadi seorang pemuda berpakaian coklat. Ikat kepala kain biru yang melilit kening membuat wajahnya yang tampan kelihatan tambah gagah. Namun dibalik ketampanan itu ada bayangan ganjalan derita yang amat dalam.

Melihat siapa yang berdiri di depannya Bidadari AnginTimur tersentak kaget Tidak tunggu lebih lama dia segera melompat dan berusaha melarikan lari.

"Bidadari Angin Timur! Jangan lari! Aku hanya ingin bertanya!" Berseru pemuda berpakaian coklat yang bukan lain adalah Tubagus Kesumaputra alias Jatilandak, pemuda dari negeri Latanahsilam yang sejak beberapa lama ini telah menduduki jabatan salah satu Kepala Pasukan Kesultanan Cirebon. Namun Bidadari Angin Timur tetap meneruskan lari. SI pemuda segera mengejar. Sambil terus memanggil. Namun di satu tempat akhirnya dia hentikan lari lalu berteriak.

"Bidadari Angin Timur, jika kau tidak mau menemuiku aku tidak akan mengejar lagi! Aku hanya ingin bertanya! Mengapa dirimu begitu tega mening-galkan upacara pernikahan kita di Keraton Cirebon? Apa salahku...?!"

Di depan sana, setelah mendengar teriakan si pemuda, Bidadari Angin Timur tiba-tiba hentikkan lari lalu berdiri sambil pejamkan mata dan senderkan kening ke batang sebuah pohon.

"Aku memang tidak boleh menghindar. Kalaupun hari ini aku bisa lari dari dia di kemudian hari pasti dia akan menemuiku. Sebaiknya biar semua masalah diselesaikan saat ini. Aku kasihan padanya. Tapi apakah ada yang kasihan padaku..."5JATILANDAK dekati Bidadari AnginTimur. Tangan diulurkan hendak mengusap punggung si gadis namun kebimbangan datang dan niat itu dibatalkan.

"Bidadari Angin Timur, aku tidak tahu apa yang terjadi dalam dirimu. Ada apa kau meninggalkan upacara pernikahan kita ketika Kadi, aku, Sultan serta Ratu Cirebon telah siap menunggu kehadiranmu. Ketika kau tidak muncul semua orang mencari.Temyata kamar pengantinmu kosong. Dirimu lenyap. Aku tidak mengerti, apakah aku telah membuat kesalahan yang mernbuatmu tidak suka ternadapku hingga melarikan diri begitu rupa?"

"Tidak, kau tidak berbuat kesalahan apa-apa Tubagus Kesumaputra .."ucap Bidadari Angin Timur dengan suara lirih setengah tersendat

SI pemuda terdiam sesaat lalu dengan suara perlahan dia berkata. "Namaku Jatiiandak. Tubagus Kesumaputra hanyalah nama pengasih dari orang yang berhlba hati terhadapku..."

Isakan keluar dari mulut Bidadari Angin Timur. Bahu dan dada bergoyang turun naik.

"Jatilandak, kalau bicara soal kesalahan, sebenarnya aku yang layak disalahkan..."

"Kalau begitu tidak perlu kita bicara soal kesalahan. Mungkin tidak ada yang salah diantara kita. Mungkin keadaan atau takdir menghendaki demikian. Namun kalau boleh aku mengetahui mengapa hal Itu terjadi? Segala sesuatu pasti bersebab. Lalu mengapa kau mengambil sikap dan berlaku seperti itu padaku?"

"Aku tahu aku telah membuat malu besar atas dirimu..."

"Sebesar gunungpun rasa malu itu akan aku panggul di pundakku yang sudah terlalu sering menerima beban ini. Namun hanya satu, aku ingin tahu mengapa kau berbuat seperti itu. Meninggalkan upacara pernikahan kita..."

"Jatilandak, aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya-."

"Bidadari Angin Timur, ketika kita bertemu dan kau mau kuajak pergi ke Cirebon, harapan besar terbentang di hadapanku. Ketika aku melamarmu melalui Nyi Rara Santang dan Pangeran Cakrabuana dan kau menerimanya, harapan itu berubah menjadi kenyataan.Tetapi ketika upacara pernikahan digelar, kau lenyap melarikan diri. Kau hancurkan kenyataan Itu. Mengapa....?"

Tangis menyembur dari mulut Bidadari Angin Timur. Kepalanya digelengkan beberapa kali. Mulut terbuka tapi tidak sanggup meluncurkan kata-kata.

"Bidadari AnginTimur, jawablah. Mengapa....?"

"Jatiiandak. Maafkan diriku. Aku tidak bisa melakukan hal itu..."

"Tidak bisa melakukan hal apa?"

"Aku tidak mungkin berkhianat" "Berkhianat? Berkhianat pada siapa Bidadari AnginTimur?" tanya Jatiiandak dengan dada berdebar.

Sampai saat itu Bidadari Angin Timur masih menempelkan wajahnya ke batang pohon, tidak berani menatap muka si pemuda.

"Jatiiandak, kau tahu. Jauh sebelum kita bertemu aku telah lebih dulu mengenai Wiro"

"Ahhh... Sahabatku itu rupanya yang jadi penyebab." Kata Jatiiandak dengan perasaan sangat terpukul. "Kalau kau memang tidak ingin mengkhianatinya karena kau lebih dulu mencintainya, lalu mengapa dulu kau mau aku ajak ke Cirebon, kita sempat berbagi rasa dan kasih, bahkan kau bersedia memenuhi permintaanku untuk melangsungkan pernikahan..."

"Saat aku mau kau ajak pergi, ketika aku menerima lamaranmu, sesungguhnya hatiku sedang goncang, pikiranku tengah kacau. Aku bingung menghadapi hidup Ini. Begitu banyak gadis yang mengasihi Wiro seiain diriku. Tapi setelah aku berada dalam kesendirian menunggu menjelang saat-saat pernikahan kita, aku merasa diriku telah melakukan satu pengkhianatan. Aku menyadari bahwa aku tidak bisa lari dari kenyataan. Tidak bisa sembunyi dari suara hatiku. Bahwa aku tidak bisa melepaskan diri dari Wiro. Bahwa aku terlalu sangat mencintainya..."

Jatilandak tertunduk lesu Bumi ini seperti bergelar lalu bergemuruh laksana kiamat membalik dan menghancur luluhkan dirinya. Ketika lututnya goyah dan dia serasa tidak menginjak tanah lagi. Jatilandak jatuh berlutut. Mata yang berkaca-kaca dipejamkan. Dia hanya sempat mendengar suara Bidadari Angin Timur berkata

"Jatilandak, jika kau bertemu Wiro, sampaikan pesanku. Nyi Retno Mantili berada di tangan Manusia Paku Sandaka Arlo Gampito. Dibawa ke tempat kediaman gurunya untuk dinikahi. Jatilandak, aku harus pergi. Maafkan diriku." Lalu suara itu lenyap bersama tiupan angin. Sosok Bidadari AnginTimur Ikut menghilang.

"Gusti Allah, di tanah kelahiranku aku tidak pernah mengenal dirimu. Ketika di tanah Jawa ini aku menemukan Kebesaran dan KeagunganMu, mengapa Kau jatuhkan cobaan yang begini berat padaku? Tuhan... kalau memang ada kesalahanku aku rela di hukum, matipun aku siap menghadapi. Namun jangan jatuhkan cobaan yang begini berat, yang aku tidak sanggup menerimanya. Aku merasa sudah mati dalam hidupku..." Sepasang mata Jatilandak berlinangan.

Ketika air mata itu hendak jatuh meluncur ke pipi tiba-tiba satu tangan halus memegang pundak kiri pemuda dari negeri 1200 tahun silam ini.

"Bidadari....."ucap Jatiiandak dengan suara bergetar dan di wajahnya tampak ada sekilas harapan. Namun harapan itu serta merta sirna.

"Jatilandak, aku ibumu."

Jatilandak terkejut. Mata yang terpicing dibuka lebar-lebar. Kepala dipalingkan. Air mata meluncur jatuh.

"Ibu...."

Jatiiandak bangkit berdiri, memeluk perempuan berpakaian biru yang bukan lain adalah Luhmintari alias Purnama.

"Ibu mendengar semua pembicaraan kalian. Kau harus tabah puteraku. Kau harus sadar cinta itu sebenarnya memang tidak bisa dibagi dan tidak pernah boleh dibagi...."

"Aku percaya pada apa yang kau ucapkan Ibu. Tapi aku juga percaya kalau cinta itu tidak boleh bermuka dua. Cinta harus hitam atau putih. Tidak ada warna kelabu di antara keduanya. Cinta harus berani mengatakan ya atau tidak. Cinta tidak boleh menyembunyikan apapun. Cinta tidak akan menjadi batu sandungan memperhinakan dan mempemalukan orang lain..."

"Jangan berkata begitu Jatiiandak," ucap Purnama dengan berlinangan air mata. "Sejak kita mengenal Gusti Allah kita harus percaya pada perjalanan nasib kita apa yang dinamakan takdir."

"Saya tidak pernah menyesali nasib buruk diri ini Ibu. Namun saya juga tidak pernah lari dari kenyataan. Satu hal saya katakan, saya tidak pernah menyesal menjadi anak ibu."

Ibu dan anak Itu saling berpelukan dan sama mencucurkan air mata.

"Anakku, putihkan hatimu, hadapi masa depan dengan hati tabah, dan jiw tegar. Hari ini kau mungkin merasa kehilangan sesuatu. Besok bisa saja Gusti Allah memberikan pengganti yang jauh lebih bemiiai..."

Jatilandak menghela nafas panjang. Lalu berkata.

"ibu, bagaimanapun aku harus melupakan semua kejadian ini. Aku sejak lama Ingin pergi ke Gunung Tangku ban Perahu."

Purnama terkejut Wajah cantiknya berubah.

"Apa?! Kau sengaja kesana hendak bunuh diri? Kau tahu gunung itu dipenuhi belerang. Dan belerang adalah pantang bagi nyawamu! Anakku, apa yang ada di benakmu?"

Jatilandak tersenyum dan mencium kedua belah pipi ibunya.

"Aku akan menjadi pertapa sampai ajal datang menjemput."

"Jatilandak.. jika kau melakukan hal itu sama saja dengan membunuh diri secara pelan-pelan."

"Gusti Allah melarang umatnya melakukan bunuh diri. Dan aku Jatilandak tidak akan pernah melakukan hal itu."

"Saat ini sulit bagiku mempercayai kata-katamu

"Ibu harus percaya pada saya. Saya anak yang bernama Jatilandak terlahir dari seorang Ibu bernama Luhmintari."

"Anakku, bukankah akan lebih baik bagimu jika kau kembali ke Cirebon? Kau sudah dianugerahi jabatan tinggi di Kesultanan itu."

Jatilandak tersenyum.

"Jabatan dan pangkat, termasuk harta benda kekayaan hanyalah hiasan dunia. Siapapun kalau mati tidak akan membawa semua itu."

Untuk beberapa lama tempat itu menjadi sunyi karena tidak ada yang bicara.

"Ibu, sebelum meninggalkan ibu aku akan teruskan amanat yang disampaikan Bidadari Angin Timur. Sebelum pergi dia berkata. Jika aku bertemu Wiro harap diberi tahu bahwa Nyi Retno Mantili berada bersama Manusia Paku Sandaka Arto Gampito. Mereka tengah menuju tempat kediaman guru Manusia Paku dan hendak melangsungkan pernikahan."

Jatiiandak mencium kening dan pipi Luhmintari sekali lagi lalu tinggalkan tempat itu diikuti linangan air mata sang ibu.

Untuk beberapa lamanya Luhmintari masih berdiri di tempat itu sementara air mata tak kuasa dibendung, meluncur jatuh di atas pipinya yang halus. Perlahan dia berucap. "Anakku, entahlah. Ibu punya firasat nasib diriku dalam mencintai seseorang mungkin tidak akan banyak berbeda dengan apa yang kau alami."

Luhmintari alias Purnama tarik nafas dalam. Lalu kembali mulutnya berucap. "Puteraku Jatilandak, walau kau tidak sempat memiliki Bidadari Angin Timur dalam ikatan perkawinan tapi aku merasa gadis itu telah pernah menjadi istrimu. Dan keadaannya saat ini tidak lebih dari diriku tidak berbeda dengan Nyi Retno Mantili. Dia telah menjadi seorang janda..."

Mendadak Luhmintari alias Purnama merasakan udara sejuk menyelubungi tempat itu. Namun cepat sekali kesejukan ini berubah menjadi hawa dingin luar biasa hingga sekujur tubuhnya mulai bergetar menggigil dan rahang terkancing rapat. Air mata yang bercucuran di atas kedua pipinya berubah membeku!

"Apa yang terjadi? Apakah ada seseorang berbuat jahat terhadap diriku?" pikir Purnama. Gadis dari Latanahsiiam ini kerahkan hawa sakti panas ke sekujur tubuh. Dia hanya mampu menolak sedikit saja hawa dingin yang membungkus dirinya. Dia coba menggoyang bahu untuk mengeluarkan cahaya biru berkilau yang menjadi pelindung dirinya, namun juga sia-sia. Ketika dia coba menggerakkan kaki dan tubuh, dia hanya sanggup bergerak kaku setengah putaran. Namun itu sudah cukup baginya untuk melihat satu pemandangan aneh yang sulit dipercaya. "Mahluk aneh di atas semak belukar itu, apakah dia yang membuat tubuhku jadi kaku dingin begini rupa? Apa dia sengaja menyerangku secara diam-diam? Tapi lagaknya mengapa seperti tak acuh saja! Bahkan dia sepertinya tidak mengetahui kehadiranku di sini. Aku kedinginan begini rupa, dia enak saja berbaring berkipas-kipas. Orang berkepandaian tinggl.TapI tidak pernah kulihat yang seaneh ini.6DI ATAS semak bertukar sejarak dua belas langkah dari tempatnya berdiri setengah kaku, Purnama melihat seorang pemuda gemuk berkopiah hitam kupluk berbaring dengan mata terpejam sambil berkipas-kipas. Jangankan tubuhnya yang segendut anak kerbau Itu, orang biasa saja jika berbaring di atas semak belukar seperti itu, apa lagi sambil berkipas-kipas semak belukarnya pasti rubuh tidak akan mampu menahan berat badan yang ratusan kati!

"Apakah yang aku lihat! ini manusia benaran atau dedemit rimba belantara?" pikir Purnama dengan mata mendelik. Lalu dia berteriak memanggil.

"Hai! Kau!"

Si gendut di atas samak belukar kelihatan tersentak kaget

Tangan yang mengipas langsung berhenti, tubuh gendut melesat ke udara sampai setinggi setengah tombak. Ketika turun dua kakinya telah menginjak tanah.Ternyata orang ini mengenakan baju terbalik dan celana komprang hitam. Sehelai kain sarung butut tergantung di pundak kiri.

"Hai juga! Siapa kau?!.""Balas berseru si gendut yang bukan lain adalah Bujang Gila Tapak Sakti.

"Kau yang siapa?!" balik bertanya Purnama.

Si gendut tertawa Kopiah kupluk dirapikan. Wajah yang keringatan diusap.

"Aku tidak tahu ada orang di sini. Aku lagi enak berkipas-kipas kepanasan. Kau membuat aku kaget! Untung aku tidak sampai kentut atau terkancing! Ha..ha... ha!"

"Eh„ dedemit ini pandai juga bergurau!" kata Purnama dalam hati.

"Ha!! Aku tanya kau siapa? Kau Ini manusia atau hantu jejadian?!"

Bujang Gila Tapak Sakti tertawa geiak-gelak hingga dada dan perutnya yang buncit gembrot ber-goyang-goyang.

"Seharusnya aku yang bertanya. Kau ini hantu betina, mahluk jejadian atau bidadari yang nyasar ke bumi? Bagaimana ada gadis cantik seperti kau ada di tempat begini rupa?"

"Sudah, jangan banyak bertanya.Terangkan dulu siapa dirimu." Ujar Purnama pula

"Namaku Bujang Gila Tapak Sakti. Aku kesasar. Habis mengejar orang tapi kehilangan jejak."

"Kau barusan menyerangku dengan hawa dingin. Betul?Tubuhku sampai saat ini masih menggigil dan aku sulit bergerak! Kau punya niat jahat apa padaku?!"

"Hai! Aku tidak punya niat jahat apa-apa Aku tidak menyangka."

"Srott!"

Bujang Gila Tapak Sakti buka dan kibaskan kipas kertasnya. Saat itu juga hawa dingin yang menyelimuti sekujur tubuh Purnama lenyap. Hingga Purnama kini bisa bergerak leluasa seperti semula sebaliknya si gendut tampak berkipas-kipas tiada henti. Diperhatikan memang tubuhnya keringatan dan bajunya basah kuyup.

"Kau tadi bilang mengejar orang tapi kehilangan jejak. Kau mengejar siapa? Pasti mengejar perem-puan!"

"Betul, kau ini tahu saja" Bujang Gila Tapak Sakti lalu tertawa mengekeh.

"Perempuan tentu ada namanya? Kau tak mau memberi tahu?" Purnama mendesak. Diam-diam dia punya dugaan baru.

"Kalau aku beritahupun kau belum tentu kenal. Buat apa membicarakan orang yang kau tidak kenal?"

"Kalau aku kenal bagaimana? Mungkin aku bisa menolongmu."

"Menolong apa?"

"Memberi tahu kemana larinya orang itu!"

"Eh," Bujang Gila Tapak Sakti angkat kopiah hitamnya ke atas. Garuk-garuk kepala sebentar lalu mengusap muka yang keringatan dan berkata.

"Baik, aku akan ceritakan padamu apa yang kejadian."

Lalu keponakan Dewa Ketawa ini menuturkan riwayat pertemuannya dengan Nyi Retno Mantili.

"Setelah aku kena gampar Kiai Gede Tapa Pamungkas, muncul seorang gadis cantik berotak tidak waras membawa boneka kayu bernama Kemuning yang diakuinya sebagai anak yang berayah Wiro Sableng."

Walau sudah tahu siapa adanya gadis yang diceritakan si gendut itu tapi Purnama diam saja. terus mendengarkan.

"Pertama kali muncul dia menggodaku. Mengata-Kan aku terong peot..." Bujang Gila Tapak Sakti tertawa mengekeh baru melanjutkan ceritanya. "Aku memanggil gadis itu Sobatku Ayu. Dia mengaku murid Kiai Gede Tapa Pamungkas yang menamparku itu. Rupanya dia juga lagi kesal pada sang Kiai. Dia tidak mau aku antar ke tempat kediaman Kiai. Dia mau ikut aku kemana saja. Dia bercerita kalau Kiai jadi Mak Comblang mau menjodohkan sahabatku Wiro dengan Ratu Duyung yang disebutnya si mata kelereng. Katanya di tempat kediaman Kiai sebelum itu juga ada gadis-gadis yang dibencinya. Ada yang bernama Luhrembulan yang mengaku sudah menikah dengan Wiro. Aku tahu gadis itu bohong..."

"Kebohongan itu sudah berakhir. Aku telah membunuh Luhrembulan."

Bujang Gila Tapak Sakti terkejut

"Apa? Bagaimana kejadiannya? Di mana? Eh, kau Ini siapa sebenarnya?"

"Sudah teruskan dulu ceritamu," kata Purnama pula.

"Menurut Sobatku Ayu itu di tempat kediaman Kiai Gede Tapa Pamungkas juga ada seorang gadis bernama Purnama..."

"Aku orangnya!"

Kembali Bujang Gila hentikan cerita karena kaget Koplah hitam dibenamkan dalam-dalam hingga hampir menutupi mata yang melotot besar.

"Sobatku Ayu juga menyebut seorang gadis bernama Nyi Wulas Pikan. Gadis itu sempat bertemu denganku di sungai. Ketika aku tengah memegang Pedang Naga Suci Dua Satu Dua..."

"Senjata sakti Itu setahuku adalah milik Kiai Gede Tapa Pamungkas."

"Aku tahu," kata si gendut ialu mulai berkipas-kipas lagi karena kepanasan."Entah bagaimana kejadiannya rupanya senjata itu adalah hasil curian seseorang yang sempat jatuh ke tangan Nyi Wulas Pikan. Gadis Ini hendak mengetahuiku agar mau memberikan ilmu sakti hawa dingin supaya dia bisa memegang pedang."

"Kau berikan ilmu itu padanya? Pasti! Karena aku menduga kau sudah kecantol!"

Bujang Gila Tapak Sakti tertawa dan gelengkan kepala.

"Aku tidak tolol. Salain Itu Kiai Gede Tapa Pamungkas keburu datang mengambil pedang sementara Nyi Wulas Pikan melarikan diri."

"Jadi gadis Itu yang tengah kau kejar?"

"Bukan, bukan dia. Yang aku kejar dan cari adalah Sobatku Ayu yang diculik orang itu."

"Diculik orang? Siapa yang menculik?" tanya Purnama.

"Bagaimana kejadiannya?"

Bujang Gila Tapak Sakti lalu menceritakan peristiwa munculnya Demang Cambuk Item, kakek sakti bersenjata cambuk hitam yang dijadikan andalan oleh manusia jahat yang menamakan diri Serikat MomokTiga Racun yang hendak membedol jantung, hati dan ginjal Sobatku Ayu.

‘ Perkelahian segera saja pecah. Aku dikeroyok ampat Meski aku bisa bertahan dan mungkin berhasil membunuh salah seorang dari mereka namun Sobatku Ayu mereka bawa kabur. Aku tak berhasil mengejar penculik-penculik jahanam itu."

Bujang Gila Tapak Sakti tampak sedih.

"Apa kau suka dengan Sobatku Ayu Itu?" tanya Purnama.

"Ya, walau sinting tapi dia enak diajak bicara. Ucapannya lucu-lucu membuat aku yang jarang ketawa bisa terpingkal-pingkal." Bujang Gila Tapak Sakti putar-putar peci hitam di atas kepala. Tangan kiri terus berkipas-kipas. Tiba-tiba dia ingat sesuatu. "Eh. tadi kau bilang mau memberi tahu kemana lenyapnya Sobatku Ayu Itu."

Purnama lantas saja ingat pesan Jatilandak.

"Sobatmu Ayu itu saat ini berada di tangan seorang manusia aneh. Sekujur tubuhnya penuh ditancapi paku baja. Orang-orang memanggilnya Manusia Paku. Mahluk ini membawa sobatmu itu ke tempat kediaman gurunya. Mereka mau menikah di sana!"

"Manusia Paku?" Bujang GilaTapak Sakti kembali benamkan kopiah hitamnya hingga menutupi mata. "Aku tahu manusia satu itu. Aku juga tahu dimana kediaman gurunya. Di sebuah jurang. Tapi waduh! Jauh sekali dari sini. Di Jawa Tengah. Ah biar! Aku harus mengejar ke sana! Kalau benar Sobatku Ayu mau dinikahi. Kalau dipateni bagaimana?!" (dipateni = dibunuh) Si gendut ini segera putar tubuh.

"Eh, tunggu duiu. Kau mau kemana?" tanya Purnama.

"Mengejar Sobatku Ayu. Mendatangi tempat kediaman guru Manusia Paku."

"Apakah kau tidak kepingin tahu siapa nama Sobatmu Ayu itu? Siapa dia sebenarnya?"

"Aku mau. Katakan padaku. Eh, kau juga jadi sobatku mulai sekarang. Nah, katakan siapa nama Sobatku Ayu itu?"

"Namanya Nyi Retno Mantili. Dia adaiah janda mendiang Wira Bumi, Patih Kerajaan yang tewas oleh Wiro sobatmu itu."

"Eh, apa... ?! Apa?!" Sepasang mata belok Bujang Gila Tapak Sakti jadi bartambah besar. Mulut ternganga."Kalau begitu aku harus mencari pemuda sableng itu. Dia pasti tahu kemana Sobatku Ayu dibawa kabur orang."

"Aku sudah bilang kalau Nyi Retno Mantili dibawa ke tempat kediaman gurunya oleh Manusia Paku. Kau tidak percaya ucapanku?"

"Ya, ya. Aku percaya." Jawab Bujang Gila Tapak Sakti.

"Lalu mengapa mau mencari Wiro segala? Lagi pula saat ini mungkin dia masih berada di tempat kediaman Kiai Gede Tapa Pamungkas. Membicarakan persoalan perjodohannya dengan Ratu Duyung."

"Apa?!" Mata pemuda gendut itu kembali membeliak."Wiro mau kawin dengan Ratu Duyung?! Ha..ha....ha!"

"Kenapa kau tertawa?" tanya Purnama.

"Tidak. Tidak kenapa-napa! Sobatku aku pergi dulu! Aku mau jalan jauh. Ke Jawa Tengah!"

Si gendut tinggalkan tempat itu. Langkahnya lamban seperti terhuyung. Namun sesaat kemudian sosoknya sudah lenyap dari pemandangan.

Ditinggal sendiri Purnama jadi berpikir. Apakah akan kembali ke puncak Gunung Gede atau mengikuti si gendut tadi.

"Kalau dia mau bersahabat denganku, mengapa tidak? Kelihatannya walau gendut dan tolol tapi aku yakin dia bukan manusia sembarangan. Kurasa lebih baik aku mengikuti kemana dia pergi."

Purnama memutuskan untuk mengejar Bujang Gila Tapak Sakti. Sesaat ketika dia hendak mening-galkan tempat Itu tiba-tiba telinganya menangkap suara bentakan-bentakan keras.

"Ada orang berkelahi," ucap Purnama. Gadis dari Latanahsiiam ini Jadi bimbang. Apakah akan meneruskan niat semula mengejar Bujang GiiaTapak Sakti atau menyelidik ke arah datangnya suara-suara bentakan itu.

Di kejauhan Purnama melihat kiblatan-kiblatan cahaya pukulan sakti disertai suara luruhnya ranting dan dedaunan serta tumbangnya pohon! Pertanda siapapun yang sedang baku hantam mereka adalah orang-orang berkepandaian tinggi.

Akhirnya Purnama berkelebat ke kiri, memilih mendatangi tempat perkelahian.7PERKELAHIAN hebat itu terjadi di satu kaki bukit kecil, dekat perkebunan tebu, tak jauh dari sebuah rumah tua tak beratap dan nyaris roboh. Dua kakek nenek menggempur dahsyat perempuan muda berpakaian ringkas warna kelabu dengan serangan-serangan mematikan. Karena perempuan berpakaian kelabu membelakangi, Purnama tidak bisa melihat wa-jahnya. Namun dari perawakan serta warna pakaian hatinya jadi berdetak. Dugaannya keras. Sementara itu dua kakek nenek memang tidak dikenalnya.

"Tapi aneh. Kalau memang dia mengapa jurus-jurus Ilmu silatnya lain sama sekail?" Purnama bertanya-tanya dalam hati dan terus memperhatikan jalannya perkelahian.

Si nenek yang menyerang adalah seorang yang serba ungu, mulai dari warna pakaian sampai kulit tangan dan kulit muka. Kepala lebar di sebelah bawah, kuncup mengecil di bagian atas. Bibir dower merah laksana dibasahi darah. Mata menggembung bengkak. Dia dikenal dengan nama Nyi Kuncup Jingga, salah seorang pembantu kepercayaan dan tangan kanan Ratu Laut Utara. Seperti dituturkan sebelumnya Ratu Laut Utara memerintahkan Nyi Kuncup Jingga untuk mencari dan mendapatkan kembali Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru yang dibawa oleh Wira Bumi dan Nyai Tumbal Jiwo. Dalam penglihatan Ratu Laut Utara melalui Dulang Sejuta Mata, ada petunjuk bahwa batu mustika itu sekarang berada di tangan Ratu Duyung Jejadian dan saat itu diduga akan datang ke pantai laut utara. Ratu Laut Utara meminta Nyi Kuncup Jingga agar membawa serta seorang kakek bernama Ki Ngumpil Sebaki alias SI Lidah Hantu. Sebelum mencapai daratan pantai utara. Ratu Laut Utara melalui ucapan Jarak jauh memberi tahu kalau Ratu Duyung jejadian saat itu ternyata masih berada di arah timur kaki Gunung Gede. Maka Nyi Kuncup Jingga dan Ki Ngumpil Sebaki dipenntahkan langsung agar menuju kawasan Gunung Gede.

Dua tokoh anak buah Ratu Laut Utara itu, dua hari kemudian setelah keberangkatannya dari laut utara dengan petunjuk jarak jauh yang terus diberikan oleh Ratu Laut Utara akhirnya memang berhasil menemu-kan Ratu Duyung jejadian di kawasan perkebunan tebu, tak jauh dan Desa Karangtengah di arah timur Gunung Gede.

Saat Itu menjelang tengah hari tak lama setelah Ratu Duyung jejadian alias Nyai Tumbal Jiwo berhasil mendapatkan Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru dengan cara mengelabui Wiro. Dengan mengandalkan kesaktian batu mustika itu dia bersiap-siap untuk segera kembali ke Kotaraja di Jawa Tengah. Namun di tengah jalan dia bertemu dengan serombongan pemain tonil atau sandiwara keliling. Saiah seorang pemuda gagah yang ada dalam rombongan itu membuat si nenek mesum ini tertarik kepincut dan otak kotor bermain di hati serta benaknya.

"Wiro yang aku harapkan bakai jadi kekasih pemuas diriku tak kunjung kuketahui berada dimana sekarang kebetulan ada rejeki besar. Sayang sekali kalau disia-siakan." Begitu Nyai Tumbal Jiwo membatin dalam hati.

Saat itu Nyai Tumbal Jiwo yang masih menampilkan diri sebagai Ratu Duyung tidak pernah menyadari kalau kecerobohannya itu kelak harus di bayar dengan sangat mahal. Kalau saja dia langsung melesat ke Kotaraja, malapetaka tidak akan terjadi atas dirinya.

Rombongan sandiwara keliling "Jaka Lelana" terdiri dari dua belas pemuda dan tiga orang gadis cantik. Mereka menunggang kuda dan membawa tiga buah gerobak besar berisi alat aiat tetabuhan dan perlengkapan sandiwara lainnya. Rombongan serta merta berhenti ketika mereka melihat seorang gadis berpakaian kelabu, berambut hitam sepinggang, wajah cantik dihias sapasang bola mata biru berdiri di pinggir jalan.

Empat pemuda segera turun dari kuda.

"Raden Ayu dari mana berjalan seorang diri di tempat sepi. Hendak menuju kemana gerangan?" Seorang pemuda menyapa sementara tiga temannya memperhatikan dengan penuh takjub. Seumur hidup tidak pernah mereka melihat seorang dara begini cantik dan memiliki sepasang mata biru. Sendirian pula di jalan sepi!

"Ah, kalian pemuda baik semua. Menyapa aku yang sedang kebingungan karena tersesat dalam perja-lanan. Aku bermaksud pergi ke Cilarata. Tapi saat ini aku tidak tahu berada dimana." Menerangkan Ratu Duyung jejadian sambil menebar senyum dan layangkan kerlingan mata menggoda.

"Kami dalam perjalanan ke timur dan akan melewati Cilarata. Kalau Raden Ayu mau kami Kakang-Kakang semua pasti akan memberikan tumpangan." Kata pemuda yang pertama kali menyapa.

"Baik sekali kailan semua. Aku sangat berterima kasih.Tapi sebelum ikut bersama kalian, apakah aku boleh bicara dulu dengan pemuda yang berpakaian hitam berikat kepala merah yang menunggang kuda coklat di sebelah sana Itu?" Ratu Duyung Jejadian naikkan alis, goyangkan kepala ke arah pemuda yang duduk tenang-tenang saja dia atas kuda dekat gerobak pada barisan kedua.

Empat pemuda tampak kecewa. Namun mereka tidak bisa berbuat apa karena pemuda yang dimaksud adalah pimpinan mereka. Salah seorang dari empat pemuda segera menemui sang pimpinan.

"Raden Gumilar, gadis cantik di pinggir jalan itu ingin bicara dengan Raden."

"Hemm....Begitu?" ujar Gumilar Kartasuwita sambil memandang ke arah depan. Saat itu Ratu Duyung Jejadian telah melangkah dan agaknya sengaja menunggu di balik sebuah pohon besar. Pemuda pimpinan rombongan sandiwara keliling ini segera menjalankan kudanya ke balik pohon.

Di balik pohon Ratu Duyung Jejadian menyambut dengan senyum manis.

"Maafkan kalau diriku menghambat perjalananmu bersama rombongan."

"Tidak apa-apa. Den Ayu. Saya senang bisa berkenalan denganmu. Ada apakah?"Tanya Gumilar Kartasuwita.

"Aku kira kau tidak bersedia menemui diriku yang buruk ini."

"Jangan merendah begitu Den Ayu. Kami semua heran melihat ada seorang gadis cantik seperti Den Ayu berada seorang diri di jalan sepi ini. Den Ayu tahu, kawasan ini sering menjadi tempat lewat para begal kejam. Mereka bukan cuma merampok harta benda orang tapi juga tak segan-segan merampas nyawa korbannya."

"Kalau pemuda gagah seperti mu ada bersamaku siapa yang takut pada segala macam begal dan rampok?" kata Ratu Duyung jejadian pula yang membuat dada Gumilar Kartasuwita jadi berbunga-bunga.

"Den Ayu, terus terang saya belum pernah menemui gadis secantik Den Ayu ini. Apa lagi yang memiliki sepasang mata berwarna biru..."

"Kau pemuda gagah yang jujur." Kata Ratu Duyung jejadian. "Dengar, aku ingin menyampaikan sesuatu. Aku tak ingin ada orang lain mendengar. Maukah kau turun dari kudamu?" Ratu Duyung berucap manja sambil tidak lupa melayangkan senyum dan kerling mata memikat.

Gumilar Kartasuwita melompat turun dari kuda coklat. Sementara anggota rombongan menunggu seperti tak sabar. Beberapa pemuda bermaksud hendak mengintip apa yang terjadi di balik pohon besar namun beberapa orang lainnya melarang.

Tak lama kemudian Gumilar Kartasuwita keluar dari balik pohon.

"Kalian semua!" serunya. "Lanjutkan perjalanan! Tunggu aku di Cllarata. Aku akan membicarakan sesuatu dengan sahabat baru ini. Dia bermaksud mau menjadi anggota sandiwara keliling Jaka Lelana."

Mendengar ucapan sang pimpinan semua anggota rombongan sandiwara keliling bersorak gembira. Lalu mereka segera tinggalkan tempat itu.

Di balik pohon, Gumilar Kartasuwita berkata."Den Ayu, kalau Den Ayu memang suka pada saya dan Ingin kita melakukan hal itu, kita harus mencari tempat yang cocok."

"Kau tentu lebih tahu keadaan di sini. Terserah kau mau kemana, aku mengikut saja," kata Ratu Duyung pula lalu sandarkan wajah ke dada bidang si pemuda, membuat darah Gumilar Kartasuwita jadi bergelora.

Sambil membelai rambut hitam panjang si gadis pemimpin rombongan sandiwara keliling Jaka Lelana ini berbisik.

"Di perkebunan tebu sana ada sebuah pondok. Kalau Den Ayu suka...."

"Tentu saja aku suka!" kata Ratu Duyung jejadian sambil tertawa manja "Rasanya aku sudah tidak tahan. Apakah aku mulai saja membuka pakaianku sekarang?" Ratu Duyung Jejadian singkapkan pakaiannya di sebelah atas hingga dadanya yang busung tersingkap putih.

"Jangan, nanti di pondok itu saja." Jawab Gumilar Kartasuwita yang jadi gugup melihat keelokan dada si gadis yang begitu berani.

Ratu Duyung tertawa panjang. Tarik lengan si pemuda.

Namun sebelum keduanya sempat memasuki deretan pohon tebu di perkebunan tiba-tiba dua orang berkelebat

Salah seorang membentak.

"Jangan ada yang berani bergerak!" Suara laki-laki.

Orang kedua seorang perempuan susul menghardik.

"Ratu Duyung! Sarankan Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru padaku!"

Ratu Duyung Jejadian hentikan langkah, juga pemuda di sebelahnya. Dua kakek nenek berdiri di hadapannya. Ratu Duyung jejadian tidak mengenali siapa adanya si kakek namun si nenek tidak asing lagi. Apa lagi barusan dia menyebut-nyebut Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru, membuat wajah Ratu Duyung jejadian jadi berubah.

"Den Ayu, siapa dua orang tua ini? Mengepal mereka menghadang kita?" bisik Gumilar Kartasuwita,

Sebelum Ratu Duyung jejadian sempat menjawab si nenek sudah lebih dulu membuka mulut.

"Pemuda keren, aku tahu kau tidak ada sangkut paut dengan urusan kami. Karenanya aku masih memberi hati. Lekas tinggalkan tempat Ini!" Memberi Ingat si nenek yang adalah Nyi Kuncup Jingga pembantu utama Ratu Laut Utara. "Kurasa Den Ayu ini tidak punya kesalahan apa-apa pada nenek berdua. Aku mohon..."

"Diam! Tutup mulutmu!" bentak Nyi Kuncup Jingga

Ki Ngumpil Sebaki berkata "Anak muda kau tak tahu siapa adanya gadis ini. Pergilah demi kese-lamatanmu."

" Kalian yang harus pergi!" jawab Gumilar Kartasuwita.

"Kalau begitu ya weeilis! Sudah nasibmu anak muda! Hik ... hik ... hik!" kata Nyi Kuncup Jingga sembari tutup ucapannya dengan tawa panjang. Dia memberi tanda pada kakek di sampingnya.

KI Ngumpil Sebaki menyeringai. Begitu seringai lenyap mulut dibuka, dari tenggorokan keluar suara menggembor keras. Bersamaan dengan itu dari mulut yang terbuka melesat lidah merah panjang. Laksana cambuk raksasa benda Ini melesat kedepan, menjirat leher Gumilar Kartasuwita.

Lidah Hantu!

"Kreekk

Tulang leher pimpinan sandiwara keliling Jaka Lelana ini berderak hancur. Tubuhnya kemudian terangkat ke atas lalu dibanting ke bawah, kepala lebih dulu.

"Braakk!"

Kini giliran kepala si pemuda yang remuk menghantam tanah.

Gumilar Kartasuwita terkapar tak bernyawa lagi. Sekujur tubuh berubah menjadi merah dan kepulkan asap. Sungguh mengerikan!

"Wuuuttt!"

Benda panjang merah yang adalah lidah melesat masuk kembali ke dalam mulut Ratu Duyung jejadian menjerit marah.8NYI KUNCUP JINGGA tertawa mengekeh.

"Ratu Duyung, apa yang kau saksikan cukup men-jadi peringatan. Sekarang apakah kau masih tidak mau menyerahkan Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru?"

"Tua bangka keparat! Apa salah pemuda itu! Kau mampus lebih dulu!" teriak Ratu Duyung jejadian lalu lima tangannya dijentikkan ke arah Nyi Kuncup Jingga yang kembali tertawa bergolak.

Lima larik sinar merah mendera udara, melesat ke arah lima bagian tubuh Nyi Kuncup Jingga. Itulah pukulan Lima Jari Akhirat.

"Nyi Kuncup awas!" teriak Ki Ngumpil Besaki seraya dengan cepat mendorong si nenek ke samping. Lalu sambil menghindar kakek ini balas menghantam dengan pukulan sakti bernama Perangkap Raga Penjerat Jiwa. Pukulan sakti ini merupakan satu serangan untuk melumpuhkan dan meringkus lawan. Karena begitu larikan sinar hitam melesat keluar dari tangan si kakek, sinar langsung menebar membentuk jaring samar. Sekali sosok Ratu Duyung jejadian masuk terperangkap ke dalam jaring, ilmu kepandaian apapun yang dimiliki tidak akan memungkinkannya lolos!

Lima larik sinar merah pukulan sakti Lima Jari Akhirat saling hantam di udnra dengan jaring hitam Perangkap Raga Penjerat Jiwa.

Dentuman dahsyat membuat tanah bergetar hebat. Tiga orang yang ada di tempat itu sama-sama terhuyung sementara pecahan ipar hitam dan merah bertabur melabrak pohon. Ranting dan dedaunan hangus, batang pohon berderak patah lalu tumbang dengan suara bergemuruh.

Mereka yang bertarung sama-sama tercekat. Ki Ngumpil Sebaki baru sekali ini mengalami ilmu kesaktiannya yang bemami Perangkap Raga Penjerat Jiwa tidak mampu meringkus musuh.

Sebaiknya Ratu Duyung jejadian alias Nyai Tumbal Jiwo terperangah menyaksikan Pukulan Lima Jari Akhirat tidak dapat menyentuh sosok lawan! Sementara Nyi Kuncup Jingga tertegun dengan wajah berubah pucat!

Gagal menghantam lawan dengan Pukulan lima jari Akhirat Ratu Duyung jejadian membuat gerakan berputar sambil dua tangan diangkat siap melepas pukulan Angin Roh Pengantar Kematian. Ketika berputar itulah Purnama yang sudah berada di tempat itu dapat melihat jelas wajah Ratu Duyung jejadian.

"Memang dia..." ucap Purnama dalam hati. Namun matanya yang tajam dan naluri yang kuat membuat dia merasakan satu kelainan. "Aku harus yakin dulu. Salah menduga bisa menimbulkan malapetaka besar! Jurus ilmu silatnya berbeda. Pukulan saktinya Juga lain. Lalu ucapan kasar yang tidak bisa dikeluarkan Ratu Duyung..."

Gadis gadis dari alam 1200 tahun silam ini lalu menengadah, menyedot udara dengan kerahkan hawa sakti di Jalan pernafasannya. Dia menerapkan ilmu yang disebut Nafas Sepanjang Badan.

Dengan ilmu ini Purnama segera mengetahui bahwa gadis bermata biru berpakaian ringkas kelabu Itu bukanlah Ratu Duyung yang asli.

"Dia mahluk dari alam roh! Dua orang tua itu sebenarnya dalam keadaan bahaya. Mereka tidak mungkin mampu membunuhnya kecuali..."

Saat itu KI Ngumpil Sebaki mengangkat tangan kanannya dan berseru. "Aku bicara untuk terakhir kali. Kami tahu siapa kau sebenarnya. Kau bukan Ratu Duyung asli. Kau mahluk Jejadian yang sengaja meniru menyamar Jadi Ratu Duyung! Kami tahu kau membekal Batu Mustika Angin Laut Kencana Biru. Batu Itu bukan milikmu! Sesuai perjanjian darah dan nyawa kami yang berhak menguasainya. Serahkan pada kami dan kau boleh pergi tanpa kurang suatu apa!"

"Ah, kakek nenek itu sudah tahu siapa adanya orang yang mereka hadapi." Kata Purnama dalam hati.

"Yang jadi pertanyaan bagaimana batu sakti milik Nyai Roro Kidul bisa berada di tangan Ratu Duyung jejadian. Bukankah terakhir kali ada pada Wiro?"

Mendengar ucapan KI Ngumpil Sebaki Ratu Duyung jejadian tertawa panjang. "Aku tahu nyali kalian sudah mulai lumer. Tadinya dengan sekali gebrak mengira bisa mempecundangl diriku lalu merampas batu mustika! Sekarang tahu kehebatan diriku kalian mencoba membujuk! Baik. aku akan berikan apa yang kalian minta Tapi katakan dulu siapa kalian adanya!"

Dua kakek nenek saling pandang lalu sama gelengkan kepala

"Siapa kami tidak pentingl Yang penting cepat serahkan apa yang kami minta! Atau kami akan mengirimmu ke alam gelap-gullta untuk selama-lamanya!"

Ratu Duyung jejadian alias Nyai Tumbal Jiwo tertawa melengking. Dua tangan yang sejak tadi diangkat dipukulkan ke arah sepasang lawan melipat pukulan sakti bernama Angin Roh Pengantar Kematian.

Ki Ngumpil Sebaki dan Nyi Kuncup Jingga terkesiap kaget begitu mendengar dari arah depan dua suara menggemuruh dashyat mendatangi laksana dua batu raksasa bergelinding siap menggilas melumat mereka.

"Ki Ngumpil, lekas keluarkan pukulan Gelombang Laut Utara!" teriak Nyi Kuncup Jingga.

Dua kakek nenek membungkuk sambil dua tangan diputar-putar ke depan. Saat itu Juga suara gemuruh serangan Ratu Duyung Jejadian ditandingi dengan menggelegarnya suara deru dahsyat laksana gelombang raksasa bergulung menerpa. Apapun yang ada di hadapannya akan hancur luluh!

Ratu Duyung Jejadian berteriak kaget ketika di depannya dia melihat tempat itu telah berubah menjadi lautan luas dan empat gelombang besar bergulung ke arahnya setelah lebih dulu melumat pukulan sakti Angin Roh Pengantar Kematian!

"Tua bangka jahanam! Kalian kira bisa mengalahkan diriku!"

Teriak Ratu Duyung jejadian marah..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.198.1.167
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia