Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : SI CANTIK GILA DARI GUNUNG GEDE

Dalam gelap wajah cantik di gadis pancarkan amarah keberingasan. Hati berucap. "Wiro, kalau boleh memberi sejuta nama pada gadis berwarna biru itu. Tapi akhir dari segalanya adalah kematian! Tidak ada seorangpun boleh dan bisa merebut dirimu dari tanganku!"Perlahan-lahan orang ini angkat tangan kanannya ke atas. Lima jari dipentang kaku laksana lima potongan baja!. Mulut merapal mantera. Lima jari tangan serta merta berubah menjadi merah laksana bara menyala. Di lain kejap dari arah pohon besar melesat lima larik sinar merah. Menyambar cepat dan ganas ke arah bagian tubuh sebelah belakang ratu Duyung."Ratu! Intan! Awas! Ada orang menyerangmu dari belakang!" teriak Wiro. Secepat kilat dia melompat ke depan. Tangan kiri menodorng garis bermata biru itu sementara tangan kanan lepaskan pukulan Kincir Padi Berputar disusul dengan pukulan Tangan Dewa Menghantam Matahari.

1LENYAP dicurinya Pedang Naga Suci dari tempat kediamannya di dasar telaga di puncak Gunung Gede membuat Kiai Gede Tapa Pamungkas bertindak turun gunung. Orang tua sakti yang dianggap setengah Dewa ini berhasil menemukan si pencuri pedang yaitu bukan lain adalah Luhrembulan, gadis cantik dari alam 1200 tahun silam. Sebenarnya yang mengambil pedang sakti itu bukan Luhrembulan, tapi Nyai Tumbal Jiwo yang dalam beberapa waktu belakangan ini menampilkan diri sebagai gadis cantik bernama Nyi Wulas Pikan. Namun begitu berhasil mendapatkan pedang sakti, Nyi Wulas Pikan tidak memampu memegang senjata itu. Tangannya terkelupas melepuh kepanasan. Pedang yang kemudian dilempat oleh Nyi Wlas Pikan disambar lalu dibawah kabur oleh Luhrembulan.

Ketika Luhrembulan bertarung dengan Purnama yang sama-sama mahluk dari Latanahsilam, Wiro berusaha mencegah. Dalam kalapnya Luhrembulan bukan saja menyerang Purnama tetapi juga menyerbu Wiro. Tidak ada jalan lain, murid Sinto Gendeng terpaksa mengeluarkan Kapak Maut Naga Geni 212. Celakanya tanpa bisa dicegah kapak sakti itu dirampas oleh Purnama lalu dipakai untuk menyerang Luhrembulan. Purnama berhasil membunuh Luhrembulan dengan kapak sakti sementara Nyi Wulas Pikan alias Nyai Tumbal Jiwo yang penasaran atas lenyapnya pedang sakti itu berusaha mengejar dan mendapatkan Pedang Naga Suci 212 kembali. Di bagian sungai yang dangkal dia bertemu dengan seorang pemuda gendut yang telah lebih dulu menemukan Pedang Naga Suci 212. Walau senjata sakti itu beberapa kali menyerang dirinya pemuda ini dengan mempergunakan sebuah kipas kertas berhasil menjinakkan dan memegang pedang. Hal ini membuat kagum Nyi Wulas Pikan. Segera saja dia keluar dari tempat persembunyiannya menemui pemuda gendut berpenampilan dogol yang sebenarnya adalah salah satu tokoh rimba persilatan dikenal dengan nama Bujang Gila Tapak Sakti, keponakan Dewa Ketawa dan sobat karib Pendekar 212 Wiro Sableng.

Begitu berhadapan dengan si gendut Nyi Wulas Pikan kenalkan diri dan memuji.

"Hebat! Kau mampu menjinakan Pedang Naga Suci Dua satu Dua! Bagamana kau melakukannya? Mantera apa yang kau baca?"

Bujang Gila Tapak Sakti yang tertarik akan kecantikan dan kesintalan tubuh molek si gadis berpakaian hijau kedap-kedipkan mata dan menjawab.

"He ... he. Aku tidak membaca mantera apa apa. Kipas ini yang menolongku."

"Hebat! Kipasmu itu pasti sama saktinya dengan Pedang Naga Suci Dua Satu Dua"

"He ... he. Kipasku cuma kipas jelek." Si gendut merendah lalu bertanya.

"Bagaimana kau tahu kalau pedang ini bernama Pedang Naga Suci Dua Satu Dua?"

"Aku hanya menduga. Tidakkah kau melihat ada guratan angka dua satu dua pada dua sisi pedang?"Atas pertanyaan Nyi Wulas Pikan, si gendut memberi tabu, nama. Tak lupa mengatakan babwa dia berusia 20 tahun walau sebenarnya sudah 80 tahun. Tahu kalau Bujang Gila Tapak Sakti tertarik pada kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya Nyi Wulas Pikan mulai menggoda dan merayu. Gadis ini mengatakan mau dikawini si pemuda asal diajarkan bagaimana caranya agar bisa memegang Pedang Naga Suci 212 tanpa tangan menderita panas dan luka melepuh. Bujang Gila Tapak Sakti memberi tahu bahwa sebenarnya dia juga merasa panas memegang pedang tersebut namun tangannya tidak sampai melepuh. Ini disebabkan karena dia memiliki kekuatan berupa hawa dingin dalam tubuhnya.

"Kalau begitu berikan kesaktian hawa dingin itu padaku,"mengajuk Nyi Wulas Pikan.

"Memberikan hawa dingin dalam tubuhku padamu? Bagaimana caranya?"tanya Bujang Gila Tapak Sakti pula.

Nyi Wulas Pikan mendekati si gendut ia lalu berbisik. "Tiduri diriku. Kau berbuat pahala sekaligus mendapat kenikmatan dan aku merasa bahagia."

Mata belok Bujang Gila Tapak Sakti mendelik tambah besar. Tubuhnya langsung keringatan!

"Heh, kau ini bicara apa?! Kau sungguhan?!"

"Aku tidak main-main."Jawab Nyi Wulas Pikan sambil kedipkan mata dan layangkan senyum.

"Kita... kita mau melakukannya dimana?"tanya Bujang Gila Tapak Sakti sambil pegang bagian bawah celana gombrongnya seperti orang kebelet kencing!

Nyi Wulas Pikan memandang berkeliling.

"Di bawah pohon sana. Tanahnya tidak terlalu basah. Sepi dan kelindungan."

Lalu gadis jejadian Nyai Tumbal Jiwa ini mendahului melangkah cepat ke bawah pohon besar.

Ketika dilihatnya pemuda gendut masih tak beranjak dari tempatnya Nyi Wulas Pikan lambaikan tangan memanggil. Bujang Gila Tapak Sakti tampang dan sikapnya boleh dogol. Tapi ini tidak berarti otaknya tolol.

"Gadis cantik, aku ya mau-mau saja dikasih barang enak. Tapi permainan sandiwara apa yang tengah kau takukan?"ucap si gendut ini dalam hati. Namun dia jadi terperangah ketika melihat di bawah pohon sana Nyi Wulas Pikan telah menanggalkan seluruh pakaiannya sebelah atas hingga kini keadaan perempuan cantik itu jadi setengah bugil!

Hawa panas menjalari tubuh Bujang Gila Tapak Sakti. Bukan saja yang berasal dari hawa sakti yang memancar dari pedang sakti bergulung tapi juga akibat menahan gelora nafsu.

Perlahan-lahan Bujang Gila Tapak Sakti berjalan ke arah pohon. Beberapa langkah lagi dia akan sampai di hadapan Nyi Wulas Pikan tiba-tiba gulungan pedang sakti yang ada di tangan kanannya memancarkan sinar terang dan sreett! Pedang terlepas dari pegangan, membeset ke atas.

"Brett!."

Lengan kiri baju pemuda gendut robek. Kulit tergores. Selagi dia menahan sakit, pedang sakti kembali berkelebat. Kali ini melesat ke arah Nyi Wulas Pikan. Mendapat serangan ganas, gadis jejadian Nyi Tumbal Jiwo ini menangkis dengan menjentikan lima jari tangan.

Lima larik sinar merah angker menderu ke arah Pedang sakti. Pukulan Lima Jari Akhirat!

Terdengar suara berdentringan lima kali berturut-turut. Pedang Naga suci 212 nampak tersentak limbung di udara. Namun sesaat kemudian didorong satu kekuatan luar biasa senjata ini kembali ke arah Nyi Wulas Pikan. Si gadis berteriak keras, secepat kilat jatuhkan diri ke tanah.

Pedang Naga Suci 212 menancap di pohon besar sampai ke gagang. Nyi Wulas Pikan menyadari dia tidak akan sanggup menghadapi senjata sakti itu maka dia cepat menyambar baju yang tergeletak di tanah siap untuk kabur. Namun saat itu pedang sakti yang menancap di pohon bergerak surut, mengambang di udara lalu di lain kejap menderu ke arah dirinya! Kali ini Nyi Wulas Pikan tidak mampu bergerak selamatkan diri karena saat itu dia sedang membungkuk tengah mengambil pakaian. Kalau sampai dirinya dibantai pedang sakti, rohnya akan terlempar ke alam gaib untuk selamalamanya, tak mungkin lagi berkeliaran gentayangan di muka bumi. Nyi Wulas Pikan menjerit keras. Sesaat lagi pedang itu akan menancap di dadanya yang busung putih tiba-tiba muncullah Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Pedang Naga Suci Dua Satu Dua! Bukan saatnya kau membunuh! Kembali padaku!"

Pedang sakti berhenti melesat lalu bergulung dan melayang ke arah sang Kiai. Setelah menyimpan senjata itu di balik pakaian putihnya Kiai Gede Tapa Pamungkas membentak Nyi Wulas Pikan.

"Gadis jalang! Beraninya kau berbuat mesum di tempat ini!"

Nyi Wulas Pikan mencibir, tertawa cekikikan lalu tinggalkan tempat itu sambil terapkan ilmu Di balik Asap Roh Mencari Pahala.

"Jangan pergi!"teriak Kiai Gede Tapa Pamungkas seraya mengejar.

Namun sosok si gadis setengah bugil telah lenyap. Yang terdengar hanya suara ucapan mengejek.

"Orang tua! Aku tahu kau cuma pura-pura marah! Aku melihat sinar matamu! Kau menikmati pemandangan dadaku yang bagus! Hik ... hik ... hik!"

Wajah Kiai Gede Tapa Pamungkas berubah merah mengelam. Mulut berkomatkamit mengucap istigfar berulang kali. Kini kemarahannya ditumpahkan pada si gendut Bujang Gila Tapak Sakti.2DENGAN bergetar menahan amarah Kiai Gede Tapa Pamungkas menegur.

"Kau tahu siapa diriku! Aku juga sudah tahu siapa dirimu! Apa pantas bagi seorang pendekar rimba persilatan yang konon keponakan Dewa Ketawa berbuat mesum di tempat ini?!"

Bujang Gila Tapak Sakti Putar kopiah kupluknya lalu menjawab.

"Kiai, aku tidak berbuat mesum. Perempuan itu sendiri yang menanggalkan bajunya. Aku tidak menyuruh!"

"Bujan Gila Tapak Sakti, jangan bermain kata-kata denganku!"

"Kiai, dengar. Kau salah menduga. Gadis tadi bermaksud menggodaku. Usiaku sudah delapan puluh tahun. Aku tak mungkin tertipu. Sebenamya gadis tadi ingin mendapatkan pedang bergulung yang sudah kau simpan itu."

"Sudahlah, sulit aku percaya dengan ucapanmu. Aku hanya ingin tahu satu hal. Apa kau berkomplot dengan gadis tadi, membantunya dengan ilmu kesaktianmu mencuri Pedang Naga Suci Dua Satu Dua dari tempat kediamanku di dasar telaga?"

"Kiai, ceritanya begini. Aku menemui pedang bergulung itu sewaktu aku lagi berbaring di sungai dangkal. Gadis tadi ingin menguasai pedang tapi tidak bisa. Jika dia menyentuh pedang maka tangannya jadi melepuh."

Kiai Gede Tapa Pamungkas perhatikan tangan kanan Bujang Gila Tapak Sakti. Tangan itu tampak agak kemerahan tapi tidak luka apa lagi melepuh. Ini satu pertanda bahwa si pemuda memiliki ilmu kepandaian tinggi.

"Kalau kau tidak bersekongkol dengan gadis jejadian tadi, lalu mengapa kau bisa terpesat ke tempat ini?"

Si gendut putar lagi kopiah kupluk di atas kepalanya. Tubuhnya mulai terasa panas. Dia kembangkan kipas kertas dan kipas-kipas leher serta wajahnya. Kiai Gede Tapa Pamungkas merasa ada hawa aneh keluar dari angin kipasan.

"Kiai, tidak ada hujan tidak ada angin, tidak ada ujung tidak ada pangkal, dari tadi kau selalu mengambil sikap mencurigaiku. Memangnya apa ada peraturan dalam rimba persilatan bahwa seseorang tidak boleh pergi ke mana dia suka?"

"Memang tidak ada peraturan. Tapi lain dengan dirimu!"

Bujang Gila Tapak Sakti tertawa gelak-gelak sampai matanya yang belok berair. Dalam tertawa hatinya kesal dan jengkel. Lantas saja ia lontarkan kata-kata mengejek.

"Ah, rupanya aku ini ada kelainan. Tapi aku masih bisa bersyukur. Kiai, dibanding dengan dirimu kita memang jelas-jelas lain. Kau kurus kerempeng. Aku gendut berlemak! Kau berambut putih nyaris sulah. Rambutku hitam dan lebat! Kau punya kumis dan janggut putih. Mukaku tembam tapi klimis. Aku mengenakan baju terbalik dan celana komprang gombrong. Kau mengenakan pakaian selempang kain putih tidak berjahit. Aku masih tegap, kau sudah reot. Aku masih ada bau-bau wangi keringat, kau sudah bau tanah! Anuku masih kencang berkilat. Anumu pasti sudah seperti terong peot. Mungkin juga rada-rada burik! Ha ... ha... ha!"

Amarah Kiai Gede Tapa Pamungkas mendidih. Kepalanya laksana mau meledak.

"Manusia kurang ajar! Tutup mulutmu! Kau layak diberi pelajaran!"

Sang Kiai gerakkan tangan kanan. Jarak si gendut dan orang tua itu cukup jauh namun tangan si orang tua mendadak berubah panjang.

"Plaakk!! Plaakk!!"

Dua tamparan keras melanda pipi Bujang Gila Tapak Sakti kiri kanan. Ini bukan tamparan biasa! Dua sudut bibir si pemuda gendut sampai pecah mengucurkan darah. Sambil menahan sakit, setelah menyeka darah di pinggiran mulut dan yang meleleh di dagu, si gendut keluarkan ucapan yang membuat Kiai Gede Tapa Pamungkas terkesima dan merasa menyesal.

"Kiai, kalau aku memang bersalah dan kurang ajar, apakah begini cara seorang Kiai memberi pelajaran. Seumur hidup aku akan mengingat pelajaran yang barusan kau berikan padaku. Aku mengucapkan terimakasih atas kebaikan hatimu memberi pelajaran."

Terhuyung-huyung Bujang Gila Tapak Sakti putar tubuh lalu tertatih-tatih tinggalkan tempat itu. Sang Kiai berusaha mengejar. Walau pemuda gendut itu tampaknya berjalan lamban perlahan namun sebelum sempat si orang tua mendekat sosoknya sudah lenyap dari pandangan mata.

Kiai Gede Tapa Pamungkas hanya bisa menghela nafas panjang. Ketika dia hendak beranjak dari tempat itu siap kembali ke puncak Gunung Gede dimana Ratu Duyung masih menunggu mendadak dia merasa udara di sekitarnya berubah menjadi sangat dingin. Lebih dingin dari udara di puncak Gunking Cede. Tanah yang dipijak seolah telah berubah menjadi es. Tubuhnya serasa terpendam di satu tempat yang luar biasa dingin. Dua kaki menjadi kaku, tak mampu digerakkan.

Orang tua ini kerahkan hawa hangat sakti dalam tubuh, tapi sia-sia saja. Sekujur badan mulai menggigit. Geraham bergemeletukan. Di tidak mampu melawan rasa dingin! Perlahan-lahan dari hidung dan telinganya meleleh keluar Cairan darah. Begitu berada di luar telinga dan hidung langsung membeku.

Kiai Gede Tapa Pamungkas mengucap istigfar berulang kali. "Aku telah berbuat salah. Menyengsarakan orang lain yang mungkin tidak berdosa. Sudah tua begini, mengapa aku tidak dapat menahan sabar? Apakah pemuda tadi yang melakukan pembalasan atau Tuhan yang menghukum diriku?"Nafas Kiai Gede Tapa Pamungkas menyesak, dada terasa berat. "Ya Tuhan, aku mohon ampun padamu. Dan kau pemuda bernama Bujang Gila Tapak Sakti, aku minta maaf padamu atas perbuatanku."

Baru saja sang Kiai selesai mengeluarkan ucapan batin itu tiba-tiba hawa dingin yang menyungkup serta merta lenyap. Tanah yang serasa es berubah hangat. Dua kakinya yang kaku kini bisa digerakkan. Darah berhenti mengucur dari hidung dan telinga bahkan noda merah yang membeku lenyap tanpa bekas. Dalam tubuh sang Kiai kini mengalir hawa sejuk yang membuat dadanya terasa lapang dan hati menjadi lega. Kiai Gede Tapa Pamungkas gelengkan kepala berulang kali.

"Pemuda itu telah memberi pelajaran sangat baik padaku. Bujang Gila Tapak Sakti aku berterima kasih padamu. Hari ini kau telah memberi pelajaran yang tidak akan aku lupakan selama sisa hidupku."***DI TEPI sungai berair dangkal untuk beberapa lama Bujang Gila Tapak Sakti duduk merenung pengalaman pahit yang barusan dialaminya. Ketika dia mencuri dua buah bonang milik Keraton, kemarahan pamannya si Dewa Ketawa bukan olah-olah. Tetapi orang tua yang juga bertubuh gemuk itu tidak pernah menampar apa lagi memukulnya. Dia hanya dipendam di dalam liang es di puncak Gunung Mahameru. Justru dengan kejadian itu dia mendapatkan ilmu kesaktian luar biasa.

"Seumur hidup baru kali ini aku merasakan ditampar orang. Sakit di pipi tidak seberapa. Tapi sakit di hati ini..."Bujang Gila Tapak Sakti akhirnya Cuma tersenyum. Usap-usap pipinya lalu masuk ke dalam sungai. Membasuh muka, membersihkan noda darah di sudut bibir dan dagu.

Tiba-tiba Bujang Gila Tapak Sakti mendengar suara orang. Suara perempuan.

"Ssstt .... sstt. Gendut...!"

Buiang Gila Tapak Sakti turunkan dua tangan yang dipakai membasuh muka. Berpaling ke belakang. Dia tidak melihat siapa-siapa. Dia memperhatikan berkeliling. Tidak ada seorangpun. Kembali dia meneruskan mencuci muka.

"Sstt ... Gendut. Terong peot! Rada rada burik. Hik, ... hik ... !"

Bujang Gila Tapak Sakti ulurkan tubuhnya yang gendut.

"Tak mungkin aku salah mendengar. Ada orang bicara! Perempuan!"

Karena kesal pemuda ini memaki.

"Sialan! Aku bukan terong peot! Punyaku masih segar mengkilat! juga tidak radarada burik! Punyaku licin mulus! Sialan!"

Sunyi. Yang terdengar hanya suara gemerisik dedaunan tertiup angin. Bujang Gila Tapak Sakti kembali membungkuk, meneruskan membasuh "Ssttt! Terong peot..! Apa kau tidak dengar ditegur orang?!"

Bujang Gila Tapak Sakti, terus saja membasuh muka. Tapi kali ini dia hanya berpura-pura. Dia sudah tahu dari arah mana suara perempuan itu.

"Sstt!...sstt! Hai terong peot! Kalau tidak menjawab nanti terongmu jadi busuk! Hik... bik..hik!"

Tubuh gemuk ratusan kati Bujang Gita Tapak Sakti tiba-tiba melesat enteng ke udara! Lalu melayang turun, berkelebat ke balik sebuah pohon besar di tepi kanan sungai. Kipas di tangan kiri siap dipukulkan. Begitu si gendut sampai di balik pohon dari tempat itu terdengar pekikan perempuan disusul tawa cekikikan.

"Anak kecil! Siapa kau?!"Bentak Bujang Gila Tapak Sakti.

"Hik! Hik! Apa matamu buta! Enak saja mengatakan aku anak kecil! Lihat! Aku sudah punya anak tahu! Ini anakku!"

Dari jengkel Bujang Gila Tapak Sakti jadi terperangah lalu menyeringai. Di hadapannya saat itu berdiri sambil senyum-senyum seorang perempuan cantik bertubuh kecil, membedong sebuah boneka kayu di atas dadanya.

"Sialan! Jelek amat, nasibku hari ini. Habis ditampar kakek-kakek kini bertemu perempuan sinting!"Kata Bujang Gila Tapak Sakti dalam hati.

"Tapi .... apa benar dia gila? Wajahnya dipoles dandanan apik. Rambut rapi. Pakalan biru bagus masih baru ...."

"Anak kecil, kau ini siapa? Mengapa menggangguku?"

"Anak kecil, anak kecil! Enak saja kau bicara! Pasti kau memang buta! Juga tuli! Apa tidak melihat dan tidak mendengar ucapanku tadi. Aku sudah punya anak. Ini!"

Perempuan bertubuh kecil yang bukan lain adalah Nyi Retno Mantili keluarkan boneka kayu dari bedongan kain lalu diacungkan ke depan. Bujang Gila Tapak Sakti delikkan mata lalu hendak tertawa gelak-gelak. Tapi dia batalkan niat. "Orang gila kalau dicemooh apa lagi dilayani keras dan galak malah tambah gila..."pikir si gendut pula. Lalu keponakan Dewa Ketawa ini tersenyum lebar, membungkuk sedikit memperhatikan boneka kayu.

"Ah., anakmu cantik sekali. Pasti perempuan. Siapa namanya?"

"Kemuning."

"Lalu kau sendiri siapa namanya?"kembali Bujang Gila Tapak Sakti bertanya.

"Kalau namaku kau tak usah tahu. Tapi namamu aku sudah tahu!"

"Heh., betul?"

"Namamu Bujang Gila Tapak Sakti kan? Masih bujangan tapi gila. Iya kan? Hik...hik.!"

Bujang Gila Tapak Sakti tertawa lebar. Dalam hati dia berkata. "Perempuan sinting, bilang aku gila! Biar saja. Mungkin aku bisa cocokan berteman dengan dia."Lalu si gendut ini bertanya.

"Heh, bagaimana kau bisa tahu namaku. Pasti kau sudah mengikutiku sejak lama."

"Bukan mengikuti, tapi aku dan anakku melihat sendiri apa yang kejadian sewaktu kau mau main meong-meongan dengan gadis berbaju hijau itu."

"Main meong-meongan? Ha ... ha... ha!"Bujang Gila Tapak Sakti tertawa gelakgelak hingga dadanya yang gembrot dan perutnya yang buncit bergerak-gerak. Nyi Retno Mantili ikutan tertawa.

"Kemuning anakku! Lihat si gendut itu. Dadanya bergoncang goncang, perutnya seperti mau meledak! Hik ... hik... hik!"3BUJANG Gila hentikan tawa, usap kedua matanya yang basah oleh air mata. "Sobatku ayu,"si gendut tidak mau lagi menyebut Nyi Retno sebagai anak kecil, takut di damprat. "Kau tidak mau memberi tahu nama tidak jadi apa. Tapi aku mau tanya, kau ada di tempat ini bagaimana ceritanya?"

"Tadinya aku berada di puncak Gunung Gede. Di tempat kediaman Kiai yang memaki-makimu itu."

Bujang Gila Tapak Sakti jadi heran.

"Maksudmu Kia Gede Tapa Pamungkas?"

Nyi Retno Mantili mengangguk.

"Ada keperluan apa kau datang ke sana?"

"Bukannya datang. Tadinya aku memang tinggal di sana. Aku ini muridnya Kiai itu, tahu!"

"Hah! Kau jangan bercanda, sobatku ayu!"

"Siapa yang bercanda! Aku memang muridnya. Tapi sekarang aku malas diam di sana. Kiai itu banyak urusan dengan gadis-gadis cantik yang aku tidak suka."

"Gadis-gadis cantik siapa? Urusan apa?"Bujang Gila Tapak Sakti ingin tahu.

Nyi Retno Mantili tidak segera menjawab. Wajahnya tampak cemberut namun sesaat kemudian berubah sedih.

"Sobatku molek ayu. Wajahmu kulihat seperti marah lalu berubah murung. Perkara apa sebenarnya yang tengah kau hadapi. Kau mau mengatakan siapa adanya gadis-gadis cantik itu?"

Nyi Retno Mantili usap-usap kepala boneka kayu. Lalu dengan suara perlahan dia berkata.

"Yang pertama seorang gadis bermata biru seperti kelereng. Kiai memanggilnya Ratu Duyung..."

"Ratu Duyung? Ah ...."

"Kau kenal dia?"tanya Nyi Retno Mantili.

"Dia sahabatku ...."

"Aku benci padanya! Kalau dia sahabatmu berarti aku juga benci padamu. Sudah aku tak mau bicara lagi!"

"Sobatku ayu. Jangan buru-buru marah. Kenapa kau benci pada gadis bermata biru bernama Ratu Duyung itu?"

"Dia ... dia jahat"

"Jahat bagaimana?"

"Dia mau merampas ayah Kemuning!"

Kening si gendut mengerenyit. Sepasang alis tebal naik ke atas. Mata melirik ke arah boneka kayu. "Merampas ayah Kemuning?"Bujang Gila Tapak Sakti melongo heran.

Dalam hati dia berkata. "Boneka kayu ini punya ayah? Siapa? Boneka juga?"

"Sobatku ayu..."

"Jangan panggil aku sobat. Aku tidak mau berteman lagi denganmu. Kau sahabat gadis bemata kelereng itu! Sudah, aku benci padamu!"

"Kalau kau tidak mau berteman lagi denganku, tak jadi apa. Aku tetap saja mau bersahabat denganmu. Sudah, aku mulai keringatan. Aku mau berendam dulu dalam sungai."

Bujang Gila Tapak Sakti lalu baringkan tubuhnya yang gemuk di dalam sungai dangkal. Mata dipejam. Tangan kiri memegang kipas dan mengipas-ngipas. Dia seperti tidak perdulikan lagi perempuan yang membawa boneka kayu bernama Kemuning itu. Penasaran Nyi Retno Mantili melangkah ke tebing sungai.

"Aku juga mau pergi dari sini."Katanya. "Dasar gendut brengsek! Aku tahu kau suka sama gadis bermata kelereng biru itu. Tapi kau tidak akan mendapatkannya. Kau tidak tahu kalau dia mau dijodohkan dengan orang lain! Aku benci kau! Aku benci gadis itu! Aku juga benci lelaki yang mau-mauan jadi Mak Comblang!"

Bujang Gila Tapak Sakti bangkit dan duduk di dasar sungai dangkal berair jernih dan sejuk.

"Gadis itu mau dijodohkan dngan siapa aku tidak perduli. Kiai itu mau jadi Mak comblang bukan urusanku! Ya sudah, pergi sana.!"

"Kalau kau tahu dengan siapa si mata kelereng itu hendak dijodohkan, baru kau berhenti pura-pura tidak mau tahu!"Nyi Retno balikkan badan.

"Eh tunggu! Memangnya Ratu Duyung mau dijodohkan dengan siapa?"Bujang Gila Tapak Sakti bertanya sambil bangkit berdiri.

"Dengan ayah Kemuning!."

"Lalu ayah Kemuning siapa?"tanya si gendut sambil putar kopiah hitam di atas kepala.

"Wiro!"

"Wiro? Wiro siapa?!"

"Apa kau tuli?!"

"Aku punya sahabat. Seorang pendekar. Namanya Wiro Sableng. Apa dia orangnya?!"

"Kalau sudah tahu mengapa masih bertanya?!"

Si gendut terdiam sesaat lalu tertawa gelak-gelak.

"Aku tidak yakin!"katanya.

"Tidak yakin bagaimana?! Ratu Duyung sudah menunggu di tempat Kiai yang jadi Mak Comblang itu. Wiro kabarnya akan segera datang sebelum bulan purnama besok malam. Padahal sebelumnya aku juga sudah berada di sana. Ingin mempertemukan anak ini dengan dia, ayahnya. Kemuning sudah lama sekali tidak bertemu ayahnya. Dia sering menangis memanggil-manggil ayahnya."

Bujang Gila Tapak Sakti keluar dari dalam sungai. Tangan kiri masih berkipas-kipas, tangan kanan memegang bahu Nyi Retno. Begitu disentuh perempuan ini terpekik.

"Ihhhh! Tanganmu dingin seperti tangan hantu es!"

"Sobatku ayu, aku tidak yakin Wiro mau kawin dengan Ratu Duyung walau aku tahu gadis bermata biru itu cantik selangit tembus, memiliki ilmu kesaktian hebat dan telah saling berbagi budi dengan Wiro sahabatku itu."

"Lalu apa si mata kelereng itu mau kawin denganmu?! Paling tidak kau berharap begitu. Iya kan?!"

"Aku tahu diri. Aku bersahabat dengan Ratu Duyung. Juga dengan Wiro,"

"Jadi Wiro juga sahabatmu?"tanya Nyi Retno.

Si gendut mengangguk. "Memangnya kenapa?"

"Kalau begitu nanti katakan padanya. Jika dia kawin Kemuning anaknya akan marah, akan sedih dan bisa sakit. Lalu mati!"Habis mengeluarkan ucapan wajah Nyi Retno Mantili tampak redup. Lalu bahunya bergoncang dan isak tangis keluar perlahan dari sela bibir.

Bujang Gila Tapak Sakti merasa kasihan lalu berusaha membujuk.

"Sobatku ayu, aku sudah bilang, aku yakin Wiro tidak mau kawin dengan Ratu Duyung. Kalaupun mau tidak sekarang, Entah berapa belas tahun lagi!"

"Aku tidak perduli dia mau kawin kapan. Besok atau lusa atau seratus tahun lagi! Pokoknya dia bakal kawin! Kemuning akan kehilangan ayahnya!"

"Aku bilang, aku tidak yakin."

"Memangnya kenapa?"tanya Nyi Retno.

"Dia punya kekasih sekampung penuh!"jawab Bujang Gila Tapak Sakti yang membuat Nyi Retno Mantili terpekik lalu menggerung keras.

"Hai ... hai, dengar. Jangan menangis dulu! Maksudku Wiro memang banyak digandrungi disukai gadis cantik rimba persilatan. Tapi dia sendiri belum tentu mau. Lalu kenapa kau menangis?"

Nyi Retno usut air matanya.

"Yang menangis bukan aku. Tapi anak ini. Kemuning..."Jawab Nyi Retno. "Aku ... aku tahu Wiro banyak kekasih. Semua mereka adalah gadis-gadis yang aku benci. Aku menemui dua orang diantara mereka di puncak Gunung Gede. Di tempat kediaman Kiai Gede Tapa Pamungkas."

"Siapa saja mereka?"tanya Bujang Gila Tapak Sakti.

"Yang pertama mengaku bernama Luhrembulan. Gadis dari alam seribu dua ratus silam! Gila! Malah dia bilang sudah menikah dengan Wiro!"

"Itu berita bohong! Aku tahu ceritanya."

Baik Bujang Gila Tapak Sakti maupun Nyi Retno Mantili tidak mengetahui kalau Luhrembulan alias Hantu Santet Laknat telah menemui ajal di tangan Purnama. Dibabat dengan Kapak Maut Naga Geni 212 yang dirampas Purnama dari tangan Wiro.

"Betul bohong? Jadi Wiro tidak benaran nikah dengan gadis bernama Luhrembulan itu? Cuma kawin meong-meongan seperti yang tadi hendak kau lakukan dengan gadis berbaju hijau itu?! Ah itu pun berarti dia telah mengkhianati Kemuning, anaknya."

Bujang Gila Tapak Sakti tertawa. Lalu bertanya. "Siapa gadis lainnya?"

"Seorang bernama Purnama. Juga berasal dari negeri butut antah berantah itu. Kau kenal dia? Jangan-jangan dia sahabatmu juga!"

Bujang Gila Tapak Sakti menggeleng.

"Lalu aku juga bertemu dengan seorang gadis bernama Nyi Wulas Pikan. Mengaku Wiro adalah kekasihnya. Dia itu gadis berpakaian hijau setengah bugil yang kau meongi tadi!"Kali ini Bujang Gila tampak terkejut

"Eh, mengapa tampangmu berubah?"tanya Nyi Retno Mantili.

"Kau kelihatan terkejut! Pasti ada apa-apanya!"

"Aku semakin tidak percaya! Mana mungkin Wiro punya kekasih seperti Nyi Wulas Pikan. Gadis itu culas. Dia hendak menipuku. Minta ilmu agar bisa memegang Pedang Naga Suci Dua Satu Dua."

"Tapi kau juga mau sama dia kan!"tukas Nyi Retno. "Eh tadi kau bilang Wiro punya kekasih gadis sekampung! Gita! Banyak buanget! Siapa saja mereka?!"

Bujang Gila terbayang wajah Anggini, Bidadari Angin Timur, Bunga, Puti Andini, Dewi Ular. Tapi dia tidak mau memberi tahu.

"Sudah, sebaiknya kita tidak membicarakan lagi soal gadis-gadis itu. Bagaimana kalau aku antarkan kau ke tempat Kiai Gede Tapa Pamungkas di puncak Gunung Gede..."

"Aku mau kau antar kemana saja. Tapi tidak ke tempat Kiai itu."

"Kenapa?"

Nyi Retno Mantilli menggeleng. "Hatiku sangat sedih. Aku bisa berteriak. Aku bisa mengamuk! Aku bisa membunuh Kiai itu! Atau membunuh si mata kelereng..."

"Lalu apa kau tidak ingin bertemu dengan ayah Kemuning?"

"Aku jadi bingung."jawab Nyi Retno Mantili sambil mengusap kepala boneka kayu.

"Dari pada bingung sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Sambil jalan kita bicarakan kemana kau mau pergi."

"Tubuhmu besar gendut. Kau pasti kuat. Saat ini aku dan Kemuning merasa letih. Kau mau menggendong kami?"

"Bujang Gila Tapak Sakti angkat tubuh kecil Nyi Retno Mantili lalu mendudukkannya di bahu kanan.

"Hik..hik. Kemuning, lemak dibahu si gendut ini tebal sekali. Ibu serasa duduk di atas kasur tebal! Hik ... hik ... hik!"

Nyi Retno mendadak hentikan tawanya. Dari balik rerumpunan semak belukar di tepi sungai tiba-tiba melesat keluar seorang kakek berpakaian jubah gombrong hitam. Di pinggangnya melilit seutas cambuk. Sepasang matanya tidak bisa diam. Selalu bergerak berputar-putar. Dari mulutnya terdengar suara meracau seperti orang membaca mantera. Rambut panjang sebahu. Sebelah kiri kepala di cat putih, sebelah kanan dicat hitam. Kalau Nyi Retno Mantili murid Kiai Gede Tapa Pamungkas dan orang berkepandaian tinggi seperti Bujang Gila Tapak Sakti tidak tahu ada orang yang bersembunyi di dekat mereka, jelas sudah bahwa si kakek berjubah hitam itu memiliki tingkat ilmu yang tidak sembarangan.

"Sobatku ayu, apa kau kenal monyet berambut belang ini? Mungkin sahabatmu?!"

"Aku tidak kenal. Dia bukan sahabatku!"jawab Nyi Retno Mantili.

"Kalau begitu kita teruskan perjalanan. Mungkin monyet tua ini kesasar mencari pisang. Di sini mana ada pisang. Mungkin pisang kuning yang ngambang dihanyutkan air sungai! Ha...ha... ha!"

Nyi Retno ikut tertawa cekikikan.

Bujang Gila Tapak Sakti bergerak hendak melangkah.

"Tunggu dulu!"kakek berpakaian hitam gombrong tiba-tiba membentak sambil menghadang jalan si gendut. "Kau boleh saja tidak mengenal diriku! Tapi apakah kau juga tidak mengenal tiga sahabatku ini?!"Si kakek lalu keluarkan sultan keras. Saat itu juga dari batik rerumpunan semak belukar di tebing sungai, melesat keluar tiga manusia aneh. Berdiri berjejer di samping kakek berambut belang. Melihat ketiga orang ini air muka Nyi Retno Mantili jadi berubah.

"Kemuning! Kau masih ingat tiga manusia aneh yang dulu menggantung ibumu di cabang pohon?! Hik... hik... Hik! Sekarang apa mereka muncul hendak menggantung sahabat kita si gendut ini?! Hik... hik... hik. Perlu tambang yang kuat dan pohon yang besar. "4KITA kembali dulu ke puncak Gunung Gede. Sewaktu melihat Kiai Gede Tapa Pamungkas muncul dengan wajah redup, Ratu Duyung yang duduk sendirian di tepi telaga serta merta maklum kalau selain lenyapnya Pedang Naga Suci 212 sesuatu telah terjadi di lereng atau kaki gunung. Gadis bermata biru ini cepat berdiri dan menyapa.

"Kiai, apakah Kiai berhasil mendapatkan kembali pedang sakti yang dicuri?"

"Tuhan menolongku. Aku berhasil mendapatkan pedang sakti itu kembali." Jawab Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Kiai juga tahu siapa yang mencurinya?"tanya Ratu Duyung lagi.

"Gadis jejadian bernama Nyi Wulas Pikan yang berasal dari nenek jahat mahluk alam roh bernama Nyai Tumbal Jiwo."

"Bukankah mahluk itu adalah guru dari Wira Bumi? Patih Kerajaan yang menemui ajal di tangan Wiro beberapa waktu jalu."

"Betul,"jawab Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Saya menyirap kabar kalau dia pernah mendatangi penguasa Laut Utara untuk minta bantuan membunuh Wiro dan Nyi Retno Mantili,"kata Ratu Duyung pula.

"Gadis jejadian itu masih untung tidak ditembus mati oleh pedang sakti. Dia melarikan diri ketika aku pergoki hendak berbuat mesum dengan Bujang Gila Tapak Sakti. Pedang Naga Suci Dua Satu Dua tidak pernah mau berada di sekitar tempat mesum, atau dikuasai oleh orang-orang jahat dan bejat seperti dia. Kau tahu Ratu, Sinto Gendeng saja muridku, tidak mampu memegang dan menyimpan senjata itu."

Ratu Duyung terkejut. "Bujang Gila Tapak Sakti? Saya tidak menduga. Sulit saya mempercayai."

"Akupun tidak menyangka. Tapi begitulah. Perempuan salah satu titik kelemahan kaum lelaki. Bujang Gila rupanya terpikat dengan kecantikan dan keelokan tubuh Nyi Wulas Pikan,"kata sang Kiai. Dia tidak menceritakan perihal dia telah menampar pemuda gendut itu dan bagaimana Bujang Gila Tapak Sakti kemudian membalas dengan membuat dirinya diselubungi hawa dingin luar biasa. Sang Kiai menatap ke langit. Udara masih mendung. Di batik kemendungan itu rembang petang telah muncul dan tak lama lagi sang surya akan masuk ke ufuk tenggelamnya.

"Ratu Duyung, aku punya dugaan kalau Wiro telah berada di sekitar Gunung Gede. Berarti sebelum bulan purnama menyembul besok malam dia akan datang menemuiku. Kita akan menunggunya di tepi telaga ini mulai sore besok. Saat ini sebaiknya kita turun ke tempat kediamanku di dasar telaga."Ratu Duyung tidak segera beranjak dari tempatnya berdiri walau saat itu Kiai Gede Tapa Pamungkas telah melangkah menuju telaga. Melihat gadis bermata biru itu hanya berdiam diri si orang tua hentikan langkah dan bertanya.

"Ada apa Ratu?"

"Kiai mohon maafmu kalau saya berlaku lancang. Ada sesuatu yang sejak lama sebenarnya ingin saya tanyakan."

"Mengenai apa?"tanya Kiai Gede Tapa Pamungkas walau orang tua sakti ini diamdiam sudah bisa menduga.

"Mengenai permintaan Kiai menyuruh saya dan Wiro datang ke puncak Gunung Gede ini."

"Oh soal itu. Nanti akan kita bicarakan di tempat kediamanku."

Ratu Duyung merasa tidak puas. Dia bertanya lagi.

"Maaf kalau saya keliru menduga. Apakah pertemuan kita bertiga ini menyangkut hal perjodohan saya dengan Wiro?"

Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum.

"Perihal langkah seseorang, rejeki, jodoh dan maut semua itu berada di tangan Yang Maha Kuasa. Kita manusia hanya para pelaku yang menjalankan sesuai dengan petunjuknya. Ratu, harap kau mau bersabar sampai besok malam. Mudah-mudahan saja Wiro datang lebih cepat."

"Seandainya Wiro tidak datang?"

"Ah, jangan berandai-andai seperti itu. Wiro pasti datang. Aku kakek gurunya. Aku tahu dia seorang murid yang patuh..."

Kiai Gede Tapa Pamungkas lalu memberi isyarat. Kedua orang itu melangkah menuju telaga. Jika ada orang lain menyaksikan pasti akan terheran-heran melihat bagaimana dua orang sakti itu kemudian meluncur masuk dan lenyap ke dalam telaga.***MALAM keesokan harinya. Udara terasa semakin dingin. Langit cukup cerah namun purnama empat belas hari agak terhalang di balik saputan awan kelabu. Ratu Duyung menambah kayu perapian penghangat tubuh. Saat itu hatinya diliputi berbagai rasa.

"Ratu, aku tahu hatimu saat ini tidak tenteram. Kau harus percaya bahwa Wiro akan datang. Saat ini apakah kau tidak merasa kalau di sekitar telaga ada lebih dari satu orang bersembunyi memperhatikan ke arah kita?"

"Terus terang sejak tadi pagi saya tidak bisa tenang Kiai. Saya memang merasa tapi tidak begitu memperhatikan kalau di sekitar sini ada orang-orang yang bersembunyi dan memperhatikan kita. Apa yang ada di pikiran mereka bersembunyi memata-matai kita?"

"Mereka ikut menunggu kehadiran Wiro. Lalu ingin mendengarkan pembicaraan kita."

"Apakah kita perlu mengusir mereka Kiai?!"

"Selama mereka hanya ingin tahu, ingin mendengar dan tidak berbuat sesuatu yang mencelakai kita, aku rasa kita biarkan saja mereka. Kalaupun mereka mendengar pembicaraan kita hal itu tidak perlu dipikirkan. Mungkin itu ada baiknya."



"Maksud Kia!?"

"Maksudku, semua yang sembunyi di sekitar tempat ini adalah perempuan. Tapi aku menduga diantara mereka ada seorang lelaki. Mereka ..."

Ucapan Kiai Gede Tapa Pamungkas terputus. Satu bayangan hitam berkelebat kemudian berdiri di hadapan Kiai Gede Tapa Pamungkas. Sambil membungkuk memberi hormat orang ini berkata.

"Kiai, salam hormat saya untukmu. Apakah saya datang terlambat?"

Saat itu rembulan empat hari menyeruak dari balik saputan awan. Bentuknya bulat memancarkan cahaya benderang sejuk, sungguh satu pemandangan yang indah sekali. Kiai Gede Tapa Pamungkas dan Ratu Duyung mengangkat kepala, memandang ke depan. Kedua orang ini sama-sama melepas nafas lega.

"Pendekar Dua Satu Dua, kau datang tepat waktu. Kami memang sudah lama menunggu. Aku sendiri ..."

Kiai Gede Tapa Pamungkas hentikan ucapan. Sepasang mata memperhatikan pemuda berambut gondrong di hadapannya yang memang Pendekar 212 murid Sinto Gendeng Wiro Sableng adanya.

"Wiro, aku melihat satu kelainan pada dirimu. Selama ini kau selalu mengenakan baju dan celana putih. Sejak kapan kau bertukar penampilan. Mengenakan baju dan celana hitam komprang seperti ini?"

Wiro tertawa lebar. Melirik ke arah Ratu Duyung, kedipkan mata lalu menjawab pertanyaan sang Kiai.

"Saya terkena musibah Kiai. Celana putih saya robek besar di sebelah bawah. Baju dan celana hitam yang saya pakai ini adalah pemberi dari seorang penduduk desa di kaki gunung."

Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum.

"Kiai, saya sudah datang. Sahabat saya Ratu Duyung juga sudah hadir di sini. Sesuai dengan pesan Kiai, apakah kita bisa memulai pembicaraan? Saya sangat ingin tahu gerangan apa sebabnya Kiai memanggil kami berdua. Apakah ada kesalahan yang telah kami lakukan?"Murid Sinto Gendeng ingin semua urusan bisa dilakukan dengan cepat. Kalau sudah selesai dia akan buru-buru meninggalkan tempat itu. Dia harus mencari Nyi Retno Mantili. Dia mengawatirkan keselamatan perempuan malang itu!

"Kalian berdua tidak memiliki kesalahan apa-apa." Jawab Kiai Gede Tapa Pamungkas. "Wiro, sebelum kita bicara, ada yang ingin aku tanyakan. Sebelum sampai ke sini, siang tadi apakah kau mengalami sesuatu peristiwa?"

Wiro terdiam berpikir pikir sambil menggaruk kepala. Peristiwa apa yang dimaksudkan orang tua ini, pikirnya. Lalu dia ingat.

"Memang ada satu kejadian Kiai. Siang tadi secara tidak sengaja saya menemui Luhrembulan dan Purnama tengah bertarung di satu tempat di kaki gunung. Mereka sama-sama berasal dari Latanahsilam. Negeri seribu dua ratus tahun silam. Saya coba melerai tapi tak berhasil. Luhrembulan akhirnya tewas oleh Kapak Naga Geni Dua Satu Dua milik saya yang dirampas Purnama. Purnama kemudian lenyap entah kemana."

Wajah Ratu Duyung berubah ketika mendengar ucapan Pendekar 212 itu. Perasaannya sesaat bergejolak

"Hanya itu saja?"tanya Kiai Gede Tapa Pamungkas.

Wiro menggaruk kepala kembali.

"Luhrembulan membekal Pedang Naga Suci Dua Satu Dua. Saya tidak tahu bagaimana senjata sakti ini berada di tangannya," Wiro menjelaskan. Lalu menambahkan. "Saya tidak melihat jelas apa yang, terjadi kemudian. Namun kalau tidak salah pedang sakti mungkin jatuh ke dalam sungai. Dihanyutkan arus ke hilir."

"Senjata itu sudah berada di tanganku kembali. Seorang mahluk alam roh bernama Nyai Tumbal Jiwo mencuri senjata itu dari tempat kediamanku. Dugaanku Luhrembulan kemudian berhasil merampasnya. Pedang sakti ditemukan oleh Bujang Gila Tapak Sakti..."

"Bujang Gila Tapak Sakti!" Wiro terkejut ketika mendengar sang Kiai menyebut nama sahabatnya itu!

"Benar. Pemuda gendut itu digoda oleh Nyi Wulas Pikan, penjelmaan Nyai Tumbal Jiwo. Namun sebelum pedang jatuh ke tangan perempuan itu, aku datang dan berhasil mendapatkan pedang sakti kembali..."

"Saya sangat bersyukur pedang itu bisa diselamatkan,"ucap Wiro. Dia melirik ke arah Ratu Duyung. Di saat bersamaan gadis cantik bermata biru in! juga memperhatikan Wiro. Dua pasang mata saling beradu pandang. Dua hati dan dua rasa saling bicara tanpa suara. Adakah perasaan kasih sayang timbul di lubuk hati? Lalu sejauh mana perasaan kasih sayang itu mampu saling bersentuhan?

"Wiro, dalam perjalanan ke sini apakah kau sempat bertemu dengan Nyi Retno Mantili?"Bertanya Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Saya bertemu dengan Nyi Retno di kaki gunung. Waktu itu dia tengah berkelahi menghadapi Luhrembulan. Saya berusaha melerai. Keduanya sama- sama terluka. Nyi Retno kemudian melarikan diri entah kemana. Saya, kawatir sesuatu terjadi dengan dirinya,"

"Sebenarnya sejak beberapa hari lalu Nyi Retno tinggal di sini. Namun siang tadi dia pergi begitu saja."Jawab Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Aneh kalau dia bertindak seperti itu. Nyi Retno tidak memberi tahu pada Kiai dia mau pergi ke mana.

Kiai Gede Tapa Pamungkas menghela napas panjang. "Dia tidak mengatakan apaapa."

"Nyi Retno seorang perempuan berperasaan sangat halus. Pasti ada sesuatu alasan mengapa dia tidak berbuat begitu,"ucap Wiro pula. Kiai Gede Tapa Pamungkas menatap ke arah telaga sambil mengelus janggut putih. Sikap ini memberikan kesan kepada pendekar 212 Wiro Sableng bahwa telah terjadi sesuatu antara si orang tua dengan Nyi Retno Mantili.

Wiro berpaling pada Ratu Dayung dan bertanya. "Ratu, aku tidak tahu sudah berapa lama kau di sini. Apakah kau sempat bertemu dengan Nyi Retno Mantili!"

Ratu Duyung anggukkan kepala. Lalu menjelaskan. "Aku datang siang tadi ke sini bersama Purnama."

"Ah, jadi sebelumnya Purnama juga datang ke sini. Setelah menewaskan Luhrembulan Purnama lenyap entah kemana."Menjelaskan Wiro.

"Siang tadi Purnama mohon diri. Katanya hendak melihat-lihat keindahan kawasan ini. Ternyata dia bertemu Luhrembulan, bertarung dan membunuh gadis alam roh itu." Ucap Ratu Duyung pula.

Wiro menggaruk kepala. Menoleh pada Kiai Gede Tapa Pamungkas tapi tidak

berkata apa-apa. Walau Wiro tidak berucap namun sang Kiai sudah tahu apa yang ada dalam hati murid Sinto Gendeng ini.

"Kalian berdua, apakah kita akan meneruskan pembicaraan di tempat ini. Atau kalian mau ikut aku ke tempat kediamanku di dasar telaga?"

"Kiai, kalau boleh biar kita bicara di sini saja."Wiro menjawab lalu bertanya pada Ratu Duyung. "Ratu, bagaimana pendapatmu?"

"Saya setuju kita bicara di sini saja."Jawab Ratu Duyung.

Wiro lalu duduk di tanah. Dia sengaja memilih duduk menghadap ke depan agar bisa melihat wajah Kiai Gede Tapa Pamungkas sekaligus dapat memperhatikan raut air muka Ratu Duyung.

Kiai Gede Tapa Pamungkas gosokkan telapak tangannya satu sama lain. Dua tangan kemudian diletakkan di atas kakinya yang duduk bersila. Wiro dan Ratu Duyung duduk menunggu dengan dada berdebar.

"Wiro dan Ratu Duyung. Apa yang hendak aku sampaikan pada kalian berdua sebelumnya sudah menjadi pembicaraan antara aku dengan Sinto Gendeng. Selain itu muridku yang lain yaitu saudara seperguruan Sinto Gendeng Sukat Tandika yang lebih dikenal dengan panggilan Tua Gila juga sudah mengetahui hal ini. Kami sudah bersepakat untuk memanggil kalian datang menemuiku di puncak Gunung Gede ini. Dan Alhamdullilah kalian berdua saat ini sudah ada di hadapanku. Wiro ketahuilah, kehadiranmu dalam rimba persilatan tanah Jawa telah mendatangkan banyak sekali manfaat dan kebaikan.

Kebajikan yang telah kau lakukan tidak bisa dihitung dan tidak dapat dinilai. Baik untuk kemaslahatan orang banyak, rimba persilatan maupun bagi Kerajaan. Namun setelah kami memperhatikan sekian lama, keberadaanmu seorang diri telah menimbulkan banyak masalah. Bahkan kelak dikemudian hari hal itu bukan cuma menjadi ganjalan atau kendala, tapi juga bisa mengancam keselamatan jiwamu serta ketenangan rimba persilatan tanah Jawa."

Kiai Gede Tapa Pamungkas hentikan ucapan, perhatikan raut wajah Ratu Duyung beberapa ketika sementara Wiro yang mulai merasa tidak sabaran berkata dalam hati.

"Kiai ini bicara terlalu panjang. Apakah dia tidak bisa bicara langsung saja pada maksud tujuannya? Lama-lama perutku jadi terasa mulas Wiro lalu menggaruk kepala. Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum. Dia tahu bagaimana perasaan sepasang muda-mudi itu. Setelah mengusap janggut putihnya orang tua ini lanjutkan ucapan.

"Terus terang selama ini kami memperhatikan dalam kehidupanmu kau memiliki begitu banyak sahabat berupa gadis-gadis cantik. Hal itu adalah sangat lumrah bagi seorang pemuda sepertimu. Persahabatan yang berlangsung lama lambat laun menimbulkan perasaan-perasaan tertentu yang mendalam pada diri masing-masing. Bahkan bersatu dengan aliran darah serta hembusan nafas. Satu diantaranya adalah perasaan kasih sayang. Namun karena bukan hanya satu orang gadis yang menyukaimu atau yang kau senangi maka perasaan kasih sayang itu bisa saja terganjal oleh adanya persaingan untuk saling memperebutkan, dan pada satu saat pihak yang merasa dikecewakan tidak mustahil akan berubah berbalik menjadi kebencian. Kehidupan ini, apapun adanya ingin satu kejelasan. Wiro, sudah saatnya kau membutuhkan seorang pendamping. Maksudku sudah satunya kau memiliki seorang istri."

Sang Kiai sengaja tidak melanjutkan ucapan. Dia menatap dulu pada Pendekar 212 Wiro Sableng lalu melirik memperhatikan wajah Ratu Duyung. Wiro tampak tersenyum dan menggaruk kepala sementara Ratu Duyung tundukkan wajah yang bersemu merah.

"Wiro, kami para sepuh, maksudku aku, Sinto Gendeng dan Tua Gila sudah sama menyetujui untuk menjalinkan tali perjodohan antara dirimu dengan Ratu Duyung. Kami tahu kau banyak mempunyai kerabat gadis lain. Semua cantik-cantik. Namun pilihan kami jatuh pada Ratu Duyung. Ketahuilah bahwa kehidupan suami istri itu tidak hanya bersandar pada kecantikan sang istri belaka. Tapi kau beruntung. Calon istrimu selain cantik dan berilmu tinggi juga merupakan seorang perempuan penuh bijaksana."

Begitu sang Kiai berhenti bicara, kesunyian menggantung di udara. Air telaga tidak terdengar suara riaknya, dedaunan tidak terdengar suara gemerisiknya bahkan angin malam seolah berhenti bertiup.

Kiai Gede Tapa Pamungkas kemudian memecah kesunyian dengan ucapan. "Kalian berdua jangan diam saja. Bicaralah. Kemukakan pendapat. Kalau tidak ada yang bicara berarti kalian telah sama menyetujui apa yang aku, Sinto Gendeng dan Tua gila putuskan."

Wiro menggaruk kepala. Ratu Duyung tidak bergerak. Kepala masih tertunduk.

"Wiro, kau duluan. Aku ingin mendengar pendapatmu. Bicara, jangan menggaruk kepala saja..."

Di satu tempat tersembunyi di dalam kegelapan, seseorang berkata perlahan. "Jauhjauh aku datang ke sini hanya untuk mendengar pembicaraan yang sangat menghancurkan hati ini. Wiro, apa jawabmu. Jangan berikan Kiamat padaku!"5UNTUK beberapa lamanya Pendekar 212 Wiro Sableng masih duduk berdiam diri. Sesekali dia melirik ke arah Ratu Duyung yang masih duduk dengan kepala menunduk.



"Wiro...?"Kiai Gede Tapa Pamungkas menegur.

Wiro berdehem beberapa kali. Di wajahnya menyeruak senyum.

Namun di lain saat wajah itu menunjukkan sikap penuh kesungguhan, membuat Kiai Gede Tapa Pamungkas mendengar dan menatap terpana.

"Kiai, saya sangat berterima kasih bahwa Kiai, Eyang Sinto dan Kakek Tua Gila mempunyai perhatian akan masa depan kehidupan saya.

Karena yang mengusulkan, sekaligus memutuskan adalah orang-orang yang sangat saya hormati, maka tentu saja saya tidak berani menampik. Namun ini bukan berarti saya menyatakan bersedia dan menyetujui semua ucapan Kiai. Terus terang bagi saya perkawinan adalah satu hal yang sakral dan sangat suci. Saya merasa belum sampai menginjak kejenjang kesucian itu. Karena itu bagi saya yang bodoh ini, perkawinan bukan suatu yang layak dipaksakan. Bukankah lebih indah jika masing-masing yang berkepentingan, si pemuda dan si gadis menemui tali perjodohannya mereka sendiri, lalu sama-sama mengikat satu dengan yang lain. Sementara itu Kiai, saya yang tolol ini merasa masih banyak yang harus dibenahi dalam rimba persilatan tanah Jawa. Saya merasa sebagian dari kewajiban itu, terletak di pundak saya. Saya tidak ingin hari ini buru-buru kawin lalu besok menemui kematian di tangan musuh, meninggalkan seorang istri dalam derita memilukan, mungkin pula dengan satu benih bayi di dalam kandungannya. Seperti kata Kiai, kematian ada di tangan Tuhan, namun siapa yang tahu kapan kita bakal mati?"

"Kiai dan Eyang Sinto serta Kakek Tua Gila sudah saya anggap sebagai orang tua sendiri karena sejak Eyang Sinto membawa saya ke Gunung Gede ini belasan tahun silam untuk dijadikan murid, saya tidak mengenal siapa ibu saya, juga saya tidak tahu siapa Ayah saya. Yang saya kenal dan temukan adalah dua makam mereka di pekuburan gersang Jatiwalu, hampir sama rata dengan tanah, dipenuhi rumput liar. Mungkin bagi saya untuk mencari tahu siapa kedua orang tua saya itu lebih merupakan satu kewajiban yang luhur dibanding dengan perkawinan. Mungkin saya salah. Untuk itu saya mohon maaf pada Kiai."

"Selain itu Kiai kalau saya telah menganggap Kiai, Eyang Sinto dan Kakek Tua Gila sebagai orang tua, maka adalah sangat layak dan pada tempatnya kalau kepada Ratu Duyung juga Kiai berikan kesempatan untuk menemui kedua orang tuanya untuk memberitahukan hal ini. Itu jika Ratu Duyung memang bersedia menerima saya sebagai suaminya. Kiai, Ratu Duyung saya mohon maaf kalau ada kata-kata dan ucapan saya yang tidak pada tempatnya atau menyinggung perasaan Kiai serta Ratu."

Untuk beberapa lama Kiai Gede Tapa Pamungkas menatap wajah sang pendekar. Dalam hati orang tua ini berkata.

"Aku tidak pernah menyangka. Pemuda yang selama ini selalu menunjukkan diri sebagai seorang konyol temyata sungguh pandai bicara. Bukan itu saja. Dia juga pandai menggantung urusan dengan melimpahkan pada orang lain. Aku tahu betul Ratu Duyung juga tidak punya orang tua."

Kiai Gede Tapa Pamungkas alihkan padangannya pada Ratu Duyung.

"Gadis bermata biru, aku ingin mendengar bagaimana tanggapanmu. Ucapan Wiro tadi ada yang menyiratkan pertanyaan apakah kau mau menerima dirinya menjadi suamimu."

Mendengar pertanyaan yang terarah langsung Ratu Duyung tidak mampu segera menjawab.

Di tempat tersembunyi di salah satu tepian telaga kembali terdengar suara orang berucap perlahan.

"Ratu Duyung, kalau kau berkomplot dengan Wiro memberikan kiamat padaku, aku akan menganggap ini sebagai kejahatan. Selama langit berkembang, selama bumi terbentang dan selama nafas di kandung badan, aku tidak akan melupakan hal ini!

Setelah diam beberapa lama akhirnya Ratu Duyung menjawab, "Kiai, maafkan saya tidak bisa bicara banyak. Apa yang dikatakan Wiro tadi benar. Untuk urusan ini saya harus menemui orang tua saya. Kalau saya memang mempunyai orang tua.

Kenyataannya nasib saya tidak berbeda dengan Wiro, Seumur hidup sampai hari ini saya tidak pernah mengetahui siapa kedua orang tua saya. Selama ini saya menganggap Nyai Roro Kidul sebagai junjungan sekaligus pengganti orang tua saya. Berarti saya harus menemui beliau terlebih dulu untuk meminta nasihat dan izin..."

Di tempat gelap orang yang sejak tadi mencuri dengar pembicaraan kembali keluarkan ucapan.

"Kau tidak akan mendapat nasihat! Apa lagi mendapatkan izin dari Nyai Roro Kidul. Karena aku tahu Nyai Roro Kidul juga menghormati Wiro! Apakah kau berani menantang junjunganmu Penguasa Laut Selatan itu?!"

Kiai Gede Tapa Pamungkas lama merenung. Dalam hati di berkata.. "Si pemuda melempar bola. Si gadis balas mempermainkan dan melempar lagi ke tempat lain. Aneh, apakah kedua insan ini tidak saling mengasihi hingga mau bersembunyi dibalik kata-kata?"

"Wiro, Ratu Duyung,"akhirnya sang Kiai keluarkan ucapan. "Aku memang tidak memaksa akan mendapat jawaban dari kalian saat ini juga. Seperti katamu tadi perkawinan adalah sesuatu yang sakral dan suci. Namun jangan sampai terlalu larut dalam dua hal itu hingga kalian tidak berbuat apa-apa. Ketahuilah perjodohan kalian berdua akan banyak menyelamatkan dunia persilatan dari berbagai macam malapetaka. Aku, Sinto Gendeng clan Tua Gila tidak ingin malapetaka itu berbalik menciderai kalian."

Orang yang bersembunyi di tempat gelap tidak menunggu lebih lama segera berkelebat meninggalkan tepian telaga. Di arah lain yang juga diselimuti kegelapan ada seorang lelaki aneh bergerak keluar dari persembunyiannya sambil mengusap wajahnya yang penuh dengan tancapan paku baja putih.

"Aku mengira perempuan yang membawa boneka itu ada di sini. Bukankah ini tempat kediaman gurunya? Dugaanku ternyata salah. Aku harus mencari kemana? Guru mengatakan bahwa kalau aku kawin dengan perempuan gila, melakukan hubungan badan, maka pada hubungan yang kedua puluh satu seluruh paku jahanam yang menancap di tubuhku akan luruh!"Orang ini memandang berkeliling."Kemana aku harus mencari perempuan itu. Apakah aku bisa yakin Serikat Momok Tiga Racun jahanam itu tidak akan mencari dan mengejarnya kembali? Kalau aku sampai kedahuluan, celaka nasib diriku seumur umur!"(Mengenai Serikat Momok Tiga Racun harap baca serial Wiro Sableng sebelumnya berjudul "Si Cantik Gila Dari Gunung Gede.")6KESUNYIAN kembali menggantung di tepi telaga. Tak ada yang bicara. Kalau memang pembicaraan sudah selesai Wiro ingin segera meninggalkan tempat itu. Ingatan dan rasa kawatirnya terhadap Nyi Retno Mantili tidak bisa hilang. Namun dia tidak ingin dianggap kurang ajar.

Maka murid Sinto Gendeng ini berusaha bersabar-sabar sambil sesekali melirik ke arah Ratu Duyung lalu menambah kayu perapian. Tiba-tiba cuping hidung Pendekar 212 bergerak-gerak. Kepala kemudian menoleh ke kiri lalu berpaling ke kanan. Ketika dia hendak melihat ke belakang Kiai Gede Tapa Pamungkas bertanya.

"Ada apa Wiro?"

"Tidak Kiai, tidak ada apa-apa"jawab murid Sinto Gendeng.

"Pemuda ini berdusta. Aku tahu dia tengah mencium bau sesuatu. Aneh, aku tidak bisa mencium apa yang diciumnya."Membatin Kiai Gede Tapa Pamungkas. Saat itu sebenarnya Wiro memang mencium bau sesuatu yakni harum bau bunga kenanga. Dalam hati dia berucap.

"Bunga, apakah kau ada di sekitar sini?"

Bunga adalah gadis alam roh bernama Suci yang dalam rimba persilatan tanah Jawa dijuluki Dewi Bunga Mayat. Seperti sekian banyak gadis cantik yang mengenal Wiro, gadis inipun jatuh cinta pada sang pendekar. Namun dia menyadari keberadaannya yang tak mungkin hidup menjadi pendamping Wiro. Baru saja Wiro membatin, di telinganya sebelah kiri mengiang suara gadis alam roh itu.

"Wiro, aku memang ada di sekitar sini. Kau lihat batu besar di tepi telaga sebelah kanan? Aku duduk disitu, memandang ke arahmu. Aku tidak akan memperlihatkan diri karena mungkin bisa menyusahkan dirimu."

Wiro berpaling ke kanan, ke arah sebuah batu besar yang terletak di tepi telaga. Dia memang tidak melihat sosok jelas ataupun samar Bunga namun bau harum kembang kenanga tercium semakin santar dan datang dari arah batu itu.

"Wiro, kau masih ingat ketika dulu aku memberi tahu padamu. Jika kau mencari kawan pendamping, maka yang cocok dan baik bagimu adalah gadis bermata biru Ratu Duyung yang kini ada dihadapanmu. Ternyata apa yang aku katakan tidak berbeda dengan keinginan Kiai Gede Tapa Pamungkas, gurumu Eyang Sinto Gendeng dan Kakek Tua Gila. Aku merasa bahagia kalau ucapanku menjadi kenyataan. Aku merasa senang jika keinginan tiga orang tua itu terlaksana. Aku memang mencintaimu. Sangat mencintaimu. Perkawinanmu dengan Ratu Duyung kelak membuat diriku merasa sangat kehilangan dirimu. Namun dalam kesedihanku ada kebahagiaan. Dalam derai air mataku ada senyum syukur. Dalam ratapku ada senandung keikhlasan. Wiro, kalau aku menyambut perjodohanmu dengan Ratu Duyung dengan penuh ketulusan, maka mungkin banyak diantara para sahabat merasa kecewa dan tidak dapat menerimanya. Berlakulah bijaksana sekaligus mengambil sikap waspada. Demi cintaku padamu aku akan menjaga keselamatan dirimu dan Ratu Duyung. Wiro, saat ini ada seorang gadis dari alam lain memandang sedih ke arahku seolah berbagi rasa. Aku tahu dan kau juga tahu betapa dia sangat mengasihi dirimu. Namun juga ada satu mahluk dari alam roh tidak suka kehadiranku di tempat ini. Aku harus pergi sebelum yang satu ini berbuat jahat..."

"Siapa?! Siapa yang hendak berbuat jahat padamu?!"Ucapan bernada keras itu terlepas begitu saja dari mulut Wiro tanpa sadar. Membuat Kiai Gede Tapa Pamungkas dan Ratu Duyung memandang terheran-heran.

"Wiro, kau bicara dengan siapa?"tanya Kiai Gede Tapa Pamungkas pula.

Wiro menggaruk kepala. "Tololnya aku ini!"Wiro memaki diri sendiri.

"Wiro, ada apa?"Ratu Duyung bertanya sambil mendekati sang pendekar.

Wiro tidak bisa berdusta lagi.

"Maafkan saya..."katanya. "Seorang sahabat dari alam roh yang ada di tempat ini memberi tahu ada seorang mahluk alam roh lainnya tidak menyukai dirinya dan mungkin hendak berbuat jahat..."

"Kalau aku boleh tahu Wiro, siapa sahabat diri alam roh yang kau maksudkan itu?"

"Sahabat kita Bunga,"jawab Wiro. "Terakhir sekali kalau aku tak salah kau bertemu dengan dia ketika menolong diriku di pondok kediaman Ki Tambakpati beberapa waktu lalu. Aku tidak tahu siapa mahluk satunya yang hendak berbuat jahat. Yang jelas bukan Luhrembulan karena gadis dari Latanahsilam itu telah tewas di tangan Purnama..."

Mendadak Wiro terdiam. "Purnama,"ucapnya kemudian dengan suara bergetar dan agak perlahan. "Mungkin dia yang dimaksudkan Bunga dengan mahluk alam roh yang hendak berbuat jahat itu?"

"Aku tidak yakin,"menyahuti Ratu Duyung. "Dia bersahabat dengan kita semua. Termasuk dengan dirimu. Ingat, berapa kali Purnama menyelamatkan jiwamu dengan ilmu yang ada dalam Kitab Seribu Pengobatan?"Disinilah letak ketulusan hati gadis bermata biru ini, dia tahu Purnama sangat mencintai Wiro bahkan sering berbuat nekad dan malah menjadi salah satu pesaing beratnya dalam mendapatkan cinta kasih sang pendekar, namun untuk suatu hal yang benar dia tidak ragu mengatakan bahwa itu adalah benar.

"Wiro, kenapa tidak kau tanyakan saja pada Bunga siapa adanya mahluk alam roh yang berniat jahat itu?"kata Ratu Duyung.

"Saat ini Bunga sudah pergi. Aku tidak lagi mencium bau kembang kenanga miliknya. Namun mahluk yang katanya hendak berbuat jahat itu kurasa masih ada di sekitar sini."

"Sebelumnya,"kata Kiai Gede Tapa Pamungkas pula. "Ada seorang lelaki sembunyi ditepi telaga. Dia hanya berada sebentar di tempat ini. Lalu pergi begitu saja. Agaknya dia mencari seseorang. Namun tidak menemui orang itu di sini."

"Kiai bisa menduga siapa adanya lelaki itu? Mungkinkah Bujang Gila Tapak Sakti?" bertanya Ratu Duyung.

"Mahluk aneh. Hanya itu yang bisa aku rasakan dari keberadaannya,"jawab sang Kiai pula.

"Kiai, kalau sekiranya menurut Kiai pembicaraan kita sudah selesai, apakah saya boleh minta diri?"Tanya Pendekar 212. Saat itu ingatannya kembali, tertuju pada Nyi Retrio Mantili. Dia harus segera mencari perempuan malang itu. Wiro kawatir akan keselamatan dirinya. Kiai Gede Tapa Pamungkas bisa meraba apa yang ada dalam benak dan hati sang pendekar. Namun sebelum dia menjawab Ratu Duyung telah lebih dulu menyambung ucapan Wiro.

"Kiai, saya juga ingin mohon diri. Saya segera kembali ke laut selatan untuk menemui Nyai Roro Kidul."

Kiai Gede Tapa Pamungkas mengusap janggut putihnya beberapa kali. "Kalian berdua hendak malam-malam begini. Mengapa menunggu sampai besok pagi saja?"

Baik Wiro maupun Ratu Duyung tidak menjawab.

"Kalau kalian memang berniat untuk pergi sekarang baiklah. Pergilah berdua. Sepanjang perjalanan kalian bisa membicarakan perjodohan kalian. Dengan demikian kalian akan merasa lebih dekat satu sama lain. Bisa saling menyelami hati masingmasing." Kata Kiai Gede Tapa Pamungkas pula.

Ketika Wiro dan Ratu Duyung hendak bergerak bangun, orang tua ini angkat tangan kanannya.

"Aku senang melihat kalian hendak pergi berdua-duaan. Tapi tunggu dulu. Tunggu, jangan terburu-buru. Sebelum pergi ada satu hal yang hendak aku bicarakan denganmu, Ratu Duyung!"

"Kalau ada pembicaraan yang mungkin tidak boleh mendengar, biar saya menunggu di tepi telaga sebelah sana."Kata Wiro.

"Tidak perlu. Akan lebih baik kalau kau ikut mendengar dan menyaksikan," kata Kiai Gede Tapa Pamungkas pula. Lalu dia menatap ke arah Ratu Duyung.

"Pertama ada satu hal yang ingin akuusulkan. Hal ini juga sudah disetujui oleh Sinto Gendeng dan Tua Gila. Sebagai insan yang cantik jelita, namamu sungguh indah yaitu Ratu Duyung, cocok dengan orangnya. Namun dalam keseharian adalah lebih baik jika kau memiliki nama lain. Kami para sepuh bertiga sebenarnya sudah mempunyai beberapa nama pilihan untukmu. Namun adalah lebih pantas kalau Wiro sebagai calon suamimu yang mencari dan memberikan nama bagimu. Kau setuju Ratu?"

Ratu Duyung tak bisa menjawab. Perlahan-lahan kepalanya dipalingkan ke arah Wiro.

"Wiro, katakan, nama apa yang bagus untuk calon istrimu ini"

Wiro juga tak bisa menjawab. Kalau dia menjawab berarti dia memang sudah menyetujui bahwa Ratu Duyung adalah jodohnya, calon istrinya. Urusan bisa jadi panjang. Lagi pula dia tidak mau mengikat diri.

Dalam hati Wiro berkata. "Heran, mengapa Kiai Gede Tapa Pamungkas, Eyang Sinto dan Kakek Tua Gila bersikeras menjodohkan dirinya dengan Ratu Duyung tanpa dia diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapat sendiri. Ah, tapi mungkin aku yang tolol. Tidak mau berterus terang pada Kiai. Cuma, bagaimana mungkin ...Gendeng! Bagaimana aku jadi bisa terlibat dengan urusan geblek macam begini!"

"Wiro, aku tahu kau memberikan banyak nama bagus pada beberapa gadis sahabatmu. Tidak mungkin kau tidak bisa memberikan nama yang indah untuk Ratu Duyung calon istrimu."Kata Kiai Gede Tapa Pamungkas pula. Wiro masih tak menjawab. Hanya memandangi tanah di hadapannya.

"Wiro ... ?'

Sang pendekar angkat kepala tapi memandang ke langit. Dia melihat bulan purnama empat betas hari, bulat bercahaya indah sekali.

"Wiro, aku menunggu..."berkata lagi Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Wiro, cari, pilihkan nama untukku. Aku akan menerima nama apa saja,"tiba- tiba Ratu Duyung berucap.

Wiro merasa heran. Tidak menyangka kalau Ratu Duyung akan mengeluarkan ucapan seperti itu. Ketika murid Sinto Gendeng menatap ke arah si gadis, Ratu Duyung kedipkan sepasang matanya yang biru bagus. Wiro kini mengerti dan maklum arti serta maksud Ratu Duyung memberi isyarat kedipan mata itu. Yaitu agar persoalan bisa selesai dan mereka bisa cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Wiro kembali menatap ke arah bulan purnama di langit biru bersih tak berawan. Begitu kepala diturunkan dia langsung memandang ke arah Ratu Duyung.

"Kiai..."7DI TIGA tempat gelap dan tersembunyi sekitar telaga, tiga orang gadis tenggelam dalam ketercekatan serta ketegangan menyaksikan dan mendengar pembicaraan Kiai Gede Tapa Pamungkas, Wiro dan Ratu Duyung. Gadis pertama dalam kecantikan wajahnya tampak pancaran amarah, keberingasan. Hatinya berucap.

"Wiro, kau boleh memberi sejuta nama pada gadis bermata biru itu. Tapi akhir dari segalanya adalah kematian! Tidak ada seorangpun boleh dan bisa merebut dirimu dari tanganku"

Perlahan-lahan orang ini angkat tangan kanannya ke atas. Lima jari dipentang kaku laksana lima potongan baja!. Mulut merapal mantera. Lima jari tangan serta merta berubah menjadi merah laksana bara menyala!

Gadis kedua walau bisa menahan diri namun tak urung hatinya bergejolak keras. "Wiro kau benar benar hendak memberi kiamat padaku. Aku mengaku sering berbuat keliru padamu. Bahkan sikap diriku di matamu mungkin tampak congkak. Mungkin kau juga menuduhku berselingkuh. Namun ketahuilah seumur hidup dunia akhirat hanya kau satu-satunya lelaki yang kukasihi!"Begitu mudah Kau melupakan diriku hanya karena tutur bicara manis penuh bujukan orang tua yang memaksakan kehendak itu. Wiro kalaupun kelak aku harus mati karena siksa batin ini, aku rela kita mati berdua dari pada melihat kau bersanding dengan gadis lain!"

Setelah mengeluarkan suara hati, gadis di dalam kegelapan ini berkelebat pergi ke arah timur dan lenyap dalam, kegelapan.

Gadis ketiga berlainan dengan dua gadis terdahulu, yang satu ini unjukkan wajah sedih, menatap sayu ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng. Mata yang menatap itu mulai berkaca-kaca. Walau dirinya diselimuti kegoncangan jiwa namun lubuk hatinya masih mampu bersuara tenang.

"Jika kau memang bukan jodohku, aku ikhlas menerima. Tapi apakah aku sanggup menghadapi kenyataan hidup ini? Cobaan ini terlalu besar, terlalu berat bagiku. Bahuku terlalu rapuh untuk memikul beban ini Wiro, bagaimana Mungkin kau tega melakukan ini. Kau tahu aku mengasihimu. Sangat mengasihimu. Semudah itu kau melupakan diriku? Seperti membalikkan telapak tangan? Aku tidak akan pernah membangkit segala budi yang pernah kita tanam. Namun tidak adakah sedikitpun benih kasih sayang dalam lubuk hatimu terhadap diriku?"

"Kiai suara Pendekar 212 Wiro Sableng bergetar. Dia pandangi wajah orang tua di hadapannya itu beberapa ketika lalu menatap ke arah Ratu Duyung dan lanjutkan ucapannya. "Kiai, dengan izinmu saya memberi nama Intan pada Ratu Duyung."

Sepasang mata biru Ratu Duyung membesar dan memancarkan cahaya begemerlap. Di tempat gelap di tepi telaga dua gadis cantik keluarkan suara tercekat. Yang satu langsung berkelebat ke balik pohon besar mendekati arah duduk ke tiga orang di tepi telaga, yang lainnya duduk terkulai tundukkan kepala. Air mata meluncur jatuh membasahi pipi.

Kiai Gede Tapa Pamungkas berseru gembira.

"Alhamdulillah. Sungguh nama yang sangat bagus. Sangat cocok dengan diri dan pribadi orangnya. Intan permata itu dimanapun berada, sekalipun di dalam lumpur akan tetapi memancarkan cahaya murni, putih perlambang kesucian. Nama Ratu Duyung tidak akan pernah hilang, dan nama Intan akan menjadi sandingan indah yang tiada terperikan."

Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum lega dan anggukkan kepala berulang kali. "Intan dan Wiro, kata orang tua ini. "Sekarang aku sampai pada hal kedua."

Dari balik pakaiannya orang tua ini keluarkan benda putih bergulung yang bukan lain adalah Pedang Naga Suci 212.

"Sejak kematian sahabat kalian Puti Andini, aku sudah lama mencari seseorang yang pantas menerima dan memegang pedang sakti ini. Saat ini aku telah menemukan orangnya yang sangat pantas. Ratu Duyung senjata ini akan kuserahkan padamu. Tunggu sampai pedang membuka gulungan dan melayang di udara, memberi hormat di hadapanmu."

Sang Kiai letakkan pedang bergulung di atas telapak tangan kanan lalu diangsurkan ke arah Ratu Duyung.

Gadis bermata biru ini terkejut. Tak percaya mendengar ucapan si orang tua bahkan Wiro juga agak terkesiap namun merasa senang kalau Kiai Gede Tapa Pamungkas memang mau menyerahkan senjata sakti mandraguna itu pada Ratu Duyung.

"Kiai,"kata Ratu Duyung. "Saya mana berani menerima senjata itu."

"Ratu,"kata Wiro. "Jangan menolak. Jangan mengabaikan kepercayaan yang diberikan Kiai padamu. Guruku saja Eyang Sinto Gendeng tidak bisa dan tidak pantas mendapatkan senjata itu."

"Betul,"kata sang Kiai pula. "Pedang sakti ini tidak sembarang orang bisa memilikinya. Bahkan tidak gampang untuk bisa menyentuhnya. Seseorang yang tidak dikehendaki pedang tangannya akan luka melepuh jika berani memegangnya. Ratu Duyung, ketahuilah. Kau berjodoh dengan pedang ini., Sebagaimana kau berjodoh dengan Wiro. Wiro telah memiliki Kapak Naga Geni Dua Satu Dua. Kini kau memiliki Pedang Naga Suci Dun Satu Dua yang merupakan pasangan dari kapak sakti. Bukankah itu satu pertanda bahwa kalian memang telah pantas terikat dalam satu tali perjodohan?"

"Kena aku!" ucap Wiro dalam hati. Tadi dia berkata hanya sekedar untuk meyakinkan Ratu Duyung agar mau menerima Pedang Naga Suci 2,12 yang diberikan. Ternyata sang Kiai mengaitkan pemberian itu dengan perjodohan dirinya dengan Ratu Duyung. Seolah dia dan Ratu Duyung sudah berada dalam ikatan perjodohan secara nyata! Sang pendekar mau tak mau jadi garuk-garuk kepala. Kiai Gede Tapa Pamungkas lanjutkan ucapan.

"Ratu, jaga dan rawat senjata ini dengan bak Maka dia akan menjaga dirimu dengan baik pula."Habis berkata begitu Kiai Gede Tapa Pamungkas goyangkan telapak tangan kanannya. Dengan berbuat begitu, maka pedang sakti yang bergulung akan membuka, melesat ke udara lalu mengapung di hadapan Ratu Duyung seolah memberi penghormatan pada tuannya yang baru. Namun setelah sang Kiai menggoyangkan telapak tangannya sampai tiga kali, senjata sakti itu tetap bergulung, sama sekali tidak mau membuka. Berubahlah air muka Kiai Gede Tapa Pamungkas.

"Aneh, apakah pedang sakti ini tidak suka pada Ratu Duyung. Biasanya enteng. Sekarang mengapa terasa berat .... ?"pikir sang Kiai. Dia kerenyitkan kening, mengawasi dengan pandangan lebih tajam. Sepasang mata orang tua ini tiba-tiba pancarkan cahaya aneh.

Wiro yang sejak tadi memperhatikan merasa ada yang tidak beres lantas bertanya. Hal ini juga dirasakan Ratu Duyung.

"Kiai, ada apa?"bertanya Pendekar212.

"Pedang Naga Geni Dua Satu Dua ini palsu!" ucap Kiai Gede Tapa Pamungkas dengan suara keras bergetar!

"Bagaimana mungkin?!"ujar Wiro sambil bangkit berdiri.

"Apa yang terjadi?"tanya Ratu Duyung yang barusan saja diberi nama Intan. Rahang Kiai Gede Tapa Pamungkas menggembung. Kumis dan janggutnya berjingkrak. Lima jari tangan yang memegang gulungan pedang membuat gerakan meremas. Ini bukan remasan biasa karena disertai tenaga dalam yang sanggup meremas hancur batu sebesar kepalan!

"Kraakk!"

Gulungan benda putih di tangan Kini Gede Tapa Pamungkas hancur nyaris jadi bubuk!

"Desss!"

Di saat bersamaan hancuran benda itu mengepulkan asap kelabu. Kiai Gede Tapa Pamungkas mengucap berulang kali.

"Ada yang menipuku! Menukar gulungan Pedang Naga Suci Dua Satu Dua asli dengan pedang palsu!"

"Kiai, kau bisa menduga siapa pelakunya?"tanya Wiro.

"Terakhir sekali aku bertemu dengan..."

Ucapan Kiai Gede Tapa Pamungkas terputus. Saat itu dari arah pohon besar melesat keluar lima larik sinar merah. Menyambar cepat dan ganas ke arah bagian tubuh sebelah belakang Ratu Duyung.

"Ratu! Intan! Awas! Ada orang meyerangmu dari belakang!"teriak Wiro, Secepat kilat dia melompat ke depan. Tangan kiri mendorong gadis bermata biru hingga terpelanting ke samping dan jatuh di tanah, sementara tangan kanan lepaskan pukulan Kincir Padi Berputar disusul, dengan pukulan Tangan Dewa Menghantam Matahari. Pukulan Kincir Padi Berputar warisan Sinto Gendeng selain dapat menangkis hantaman serangan sekaligus memutar lima larik sinar merah melesat ke udara, mengalihkan serangan ke arah yang aman. Sementara Tangan Dewa Menghantam Matahari yang didapat Wiro dari Datuk Rao Basaluang Ameh membuat lima larik sinar merah menebar berantakan. Namun salah satu larikan sinar merah melesat ke arah Kiai Gede Tapa Pamungkas. Sebelum Kiai ini sempat menyingkir selamatkan diri, larikan sinar merah telah menyerempet bahu kirinya.

Kain putih yang menutupi bahu kiri sang Kiai robek hangus mengepulkan asap hitam. Daging bahu memar merah..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · admin@nomor1&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.234.255.29
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia