Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETAKA PATUNG KAMASUTRA

Tiba-tiba satu benda putih melesat di udara. Cakra Mentari yang tengah mengenakan pakaian dan bersiap-siap tinggalkan tempat itu berteriak kaget. Saat itu juga tubuh pemuda yang masih bertelanjang bulat itu bergetar hebat oleh satu hawa panas yang seperti hendak melelehkan tubuhnya mulai dari batok kepala sampai ke telapak kaki. Luar biasanya Cakra Mentari mendengar satu suara berucap dari dalam tubuhnya sendiri! "Anak manusia bernama Cakra Mentari! Aku menitipkan nyawaku di dalam tubuhmu!"

SATU

MALAM HARI. Gurun pasir Thar di barat laut daratan India di selimuti kegelapan dan kesunyian. Tak ada rembulan tak tampak bintang. Bahkan tiupan angin gurun yang biasanya disertai suara menderu saat itu nyaris tak terdengar sama sekali.

Di dalam sebuah ruang batu hitam terletak di bawah gurun pasir, yang jalan masuk berupa pintu rahasia dijaga sepuluh Resi berpakaian putih, Resi Ketua Khandawa Abitar tengah duduk khidmat bersamadi. Ini adalah malam kedua dia melakukan samadi dan sebegitu jauh, walau ada getaran-getaran halus menjalari sekujur tubuhnya namun dia belum mampu mendapat hubungan bathin dengan alam gaib, belum juga mendapat petunjuk dari Para Dewa.

Beberapa malam sebelumnya Resi Khandawa Abitar bermimpi. Dalam mimpi dia melihat satu cahaya putih sangat terang menyilaukan mata. Saat cahaya muncul terdengar suara bergema penuh wibawa.

"Resi Khandawa Abitar. Bersamadilah. Bersamadilah. Kelak kau akan mendapat petunjuk untuk satu cara menyelamatkan banyak manusia tidak berdosa di satu negeri yang jauh dari sini."

Suara lenyap, cahaya terang menyilaukan ikut sirna. Kejadian mimpi itu dialami sang Resi sampai tiga malam berturut-turut.

"Mimpi adalah salah satu dari sekian banyak jalur petunjuk Para Dewa ...." Sang Resi membathin dalam merenung arti mimpinya.

Karenanya sejak malam kemarin dia mulai melakukan samadi dan terus tetap khusuk sampai malam kedua walau petunjuk belum muncul.

Malam ketiga. Selewatnya tengah malam, menjelang dinihari, di langit gelap sebelah timur mendadak terlihat tujuh titik putih bersinar terang, melayang berarak di atas gurun pasir Thar menuju ke barat laut. Pada saat berada di sekitar lorong batu tempat kediaman Resi Khandawa Abitar berada, tujuh titik putih menukik ke bawah. Lenyap masuk ke dalam gurun pasir, menembus bebatuan tebal. Meninggalkan kabut tipis kelabu memancarkan bau harum kemenyan sejauh ratusan tombak.

Suasana menjadi terasa angker sewaktu dikejauhan terdengar suara raung puluhan serigala gurun.

Di dalam goa tempatnya bersamadi, kelopak mata Resi Khandawa Abitar bergetar bergerak-gerak. Walau matanya masih terpicing namun ada tujuh cahaya aneh membuat dia merasa sangat silau. Selain itu hidungnya mencium semerbak bau kemenyan yang terbakar. Sang Resi merasa tengkuknya dingin.

Seumur hidup baru kali ini dia mengalami hal seperti ini.

"Dewa Batara, apakah kau datang memberi petunjuk?" ucap sang Resi dalam hati. Tujuh cahaya terang semakin menyilaukan.

Membuat sang Resi gerakkan kepala ke belakang sambil merapal doa. Pada pertengahan doa cahaya silau menghilang. Di ujung doa cahaya tersebut akhirnya lenyap. Resi Khandawa Abitar lepas napas lega dan perlahan-lahan buka kedua matanya.

Pandangannya langsung membentur tujuh manusia katai yang berdiri berjajar didepan tembok ruangan samadi. Tujuh manusia katai ini mengenakan pakaian selempang kain putih. Semua memakai sorban putih dengan wajah tertutup kumis, janggut dan berewok hitam lebat berkilat. Pertanda walau mereka bertubuh kecil tapi usia mereka rata-rata mungkin di atas delapan puluh tahunan. Yang hebatnya, sorban di kepala tujuh manusia katai memancarkan cahaya putih sejuk, indah dipandang.

"Dewa Batara Penuh Kuasa. Bagaimana tujuh manusia katai tak dikenal bisa menyusup masuk ke dalam ruangan ini?"

membathin Resi Khandawa Abitar. Ketika lebih diperhatikan baru sang Resi menyadari kalau tujuh manusia katai itu sama sekali tidak menjejakkan kaki di lantai batu. Telapak kaki mereka tergantung dan berada seujung kuku di atas batu goa!

Tujuh manusia katai berselempang kain putih menggerakkan tangan membuka sorban masing-masing lalu membungkuk dalam memberi penghormatan pada Resi Khandawa Abitar. Yang diberi penghormatan cepat-cepat bangkit berdiri lalu balas menghormat dengan membungkuk pula. Tujuh manusia katai kenakan sorban kembali. Setelah meluruskan tubuh, sambil mengulum senyum Resi Khandawa Abitar menyapa dengan suara lembut.

"Sahabat bertujuh. Kalian pastilah orang-orang yang diberkahi Para Dewa hingga bersedia dan mampu datang ketempatku yang buruk ini. Mohon aku diberitahu kalian ini siapa, datang dari mana dan ada keperluan apa menemui diriku?"

Manusia katai disebelah tengah maju dua langkah, malayang satu kuku di atas lantai batu lalu menjawab. Suaranya halus tapi menimbulkan gema di ruang batu itu. Lalu bahasa yang diucapkannya adalah aneh, sama sekali tidak dimengerti oleh Resi Khandawa Abitar.

"Sahabat yang bicara. Harap dimaafkan. Aku tidak mengerti bahasa yang kau bicarakan."

Si manusia katai tadi masih terus bicara nyerocos kalau tidak diberi tanda oleh teman disamping kanannya dengan sikutan.

Teman yang mengingatkan ini lalu maju ke depan, yang tadi bicara kembali ke tempat tegak semula.

"Resi Yang Mulia, mohon maafmu. Sahabat kita tadi bicara dalam bahasa roh. Biar sekarang aku yang mewakili."

Resi Khandawa Abitar menganggguk-angguk sambil tersenyum. Dia mengulurkan tangan dengan telapak terkembang sebagai tanda mempersilahkan manusia katai dihadapannya meneruskan ucapan.

"Resi Yang Mulia, kami bertujuh tidak bernama. Datang dari negeri alam gaib, jauh di atas atap langit ketujuh. Kami datang sebagai utusan Sang Kebenaran ...."

"Dewa Batara Maha Agung....." Ucap Resi Khandawa Abitar.

Manusia katai tadi lanjutkan ucapan. "Kami datang membawa sebuah benda berupa sebilah pedang sakti mandraguna bernama Pedang Bulan Sabit. Sang Kebenaran meminta kami untuk menyerahkan pedang ini kepada Resi Yang Mulia."

Habis berkata begitu manusia katai ini luruskan dua tangan ke depan, telapak dikembangkan dan saling dirapatkan. Mulut yang berkumis berkomat-kamit beberapa kali. Tiba-tiba ada sinar putih yang keluar membayang dari dadanya. Sinar ini kemudian bergerak ke atas, memecah jadi dua dan meluncur pada lengan kiri kanan. Begitu sinar mencapai dua telapak tangan yang terbuka, sinar memancar lebih terang. Didahului suara menyeruapai suara genta bertalu tahu-tahu di atas dua telapak tangan itu telah tergeletak melintang sebilah pedang.

Senjata ini panjangnya hanya tiga jengkal. Satu jengkal dalam bentuk gagang terbuat dari gading gajah dan dua jengkal berupa sarung berkeluk yang juga terbuat dari gading dihias tebaran batu permata berlian. Gagang dan sarung pedang ditambah batu-batu berlian memancarkan cahaya putih menakjubkan.

Dengan gerak perlahan dan penuh khidmat manusia katai menarik gagang dan sarung pedang. Sesaat kemudian pedang telah keluar dari sarungnya. Pedang dan sarung diacungkan ke atas. Pedang Bulat Sabit ini bentuknya benar-benar menyerupai bulan sabit, pendek berkeluk, memancarkan cahaya putih terang indah sekali. Laksana bulat sabit dilangit lepas memancarkan cahayanya ke bumi.

Setelah merasa Resi Khandawa Abitar melihat senjata itu dengan seksama, manusia katai masukkan kembali Pedang Bulan Sabit ke dalam sarung lalu dia melangkah kehadapan sang Resi.

"Resi Yang Mulia. Sang Kebenaran meminta agar kami menyerahkan Pedang Bulat Sabit ini pada Yang Mulia."

"Sahabat, bagaimana mungkin. Mana aku berani berlaku lancang menerima senjata bertuah sakti mandraguna itu."

"Resi Yang Mulia, jangan menolak karena ini semua adalah atas kehendak Para Dewa."

Untuk beberapa ketika Resi Khandawa Abitar terdiam mendengar ucapan manusia katai itu. Lalu dia tundukkan kepala dan berkata.

"Kalau memang ini kehendak Dewa, aku yang rendah mana berani menampik."

"Resi Yang Mulia, Sang Kebenaran berpesan. Pedang Bulan Sabit adalah satu-satunya senjata yang mampu menghancurkan mahluk jahat yang selama ini gentayangan di satu negeri jauh.

Mahluk ini telah mencuri sebuah kitab bernama Kitab Jagat Pusaka Dewa. Menggantikannya dengan satu kitab jahat dan palsu bernama Kitab Jagat Pusaka Alam Gaib. Memperalat dan memperbudak seorang budak yang tak berdosa. Hanya karena ingin menguasai satu ilmu kesaktian sangat dahsyat yang kelak akan disedotnya dari tubuh si pemuda ...."

"Aku Resi Khandawa Abitar menjunjung tinggi setiap sabda perintah Para Dewa. Namun apakah keterkaitan diriku dengan kejahatan yang terjadi di negeri orang jauh itu. Dan mengapa aku yang harus menerima pedang. Apa yang harus aku lakukan?"

"Karena Yang Mulia, mahluk jahat itu berasal dari negeri ini."

Jawaban manusia katai membuat Resi Khandawa Abitar jadi berubah raut mukanya. Dia lantas bertanya.

"Siapakah mahluk jahat itu gerangan adanya?"

"Sang Kebenaran tidak memberitahu. Sang Kebenaran hanya berpesan bahwa Resi Yang Mulia satu-satunya orang yang bisa menumpas mahluk jahat tersebut dan menyelamatkan manusia dari kejahatan keji. Karena kalau dia berhasil mendapatkan ilmu kesaktian Kitab Jagat Pusaka Alam Gaib maka sebagian dunia ini akan tenggelam dalam kejahatan yang dilakukannya. Selain itu Sang Kebenaran juga berpesan. Petunjuk lebih jauh bisa di dapat jika Resi Yang Mulia melakukan samadi mulai pertengahan malam besok dan meletakkan Pedang Bulan Sabit di atas pangkuan Yang Mulia."

Resi Khandawa Abitar menarik nafas panjang berulang kali.

"Aku tidak pernah membayangkan akan mengalami kejadian seperti ini. Aku tunduk kepada Para Dewa. Aku wajib melaksanakan apa yang menjadi pesan Para Dewa, termasuk Sang Kebenaran, siapapun dia adanya."

Resi Khandawa Abitar ulurkan dua tangan, menyambut Pedang Bulan Sabit yang diangsurkan manusia katai kearahnya.

Hawa luar biasa sejuk mengalir dari dalam pedang sakti ke tangan Resi Khandawa Abitar. Hawa ini terus menjalar memasuki sekujur tubuhnya, mulai dari kepala sampai ke kaki.

"Dewa Maha Agung ... Dewa Maha Agung ..." ucap sang Resi berulang kali. Tengah dia mengucap begitu rupa tiba-tiba ada selarik cahaya putih menebar seperti tirai. Ketika cahaya itu sirna, tujuh manusia katai tak ada lagi dalam ruangan.

"Dewa Maha Agung ...." Kata Resi Khandawa Abitar sambil membungkuk berulang kali.



***DUATENGAH malam keesokan harinya Resi Khandawa Abitar sesuai pesan yang diterima dari Sang Kebenaran melalui tujuh manusia katai mulai melakukan samadi. Pedang Bulan Sabit diletakkan di atas pangkuan di alas dengan sehelai permadani kecil berbunga-bunga merah dan hijau. Kalau malam sebelumnya tak ada bintang tak ada rembulan maka malam ini begitu banyak bintang gumintang bertabur indah di langit dan rembulan berbentuk sabit ikut menghias menambah keelokan malam.

Memasuki dini hari, udara dalam goa yang tadinya dingin kini mulai terasa hangat. Pedang Bulan Sabit di atas pangkuan memancarkan cahaya lebih benderang. Pakaian selempang kain biru Resi Khandawa lembab oleh keringat. Wajah dipenuhi butirbutir keringat sementara alis, kumis dan berewoknya yang putih seperti kapas berubah menjadi kaku. Resi ini berusaha mengatur jalan nafasnya yang tiba-tiba tidak terkendali. Dadanya mulai berdebar. Ada satu kekuatan dari luar yang berusaha memutus samadinya. Saat itulah dari Pedang Bulan Sabit tiba-tiba memancar keluar satu hawa sejuk, melindungi tubuh sang Resi dari kekuatan jahat yang hendak mencelakakan. Begitu gangguan lenyap, dalam samadinya Resi Khandawa Abitar melihat satu tabir asap keluar dari lantai goa, naik ke atas membentuk dinding putih. Di dinding putih kemudian muncul pemandangan di sebuah ruangan batu di Goa Binaker. Resi Khandawa Abitar mengenali, itu adalah ruangan rahasia dimana sebuah patung kuna bernama patung Kamasutra pernah disimpan kemudian lenyap dicuri orang.

Dalam samadinya saat itu sang Resi melihat di ruangan itu berdiri sosok Resi Kepala Mirpur Patel mengenakan pakaian selempang kain putih tampak kusut. Sosoknya begitu nyata dan ketika dia bicara suaranya begitu jelas.

"Resi Ketua, kalau begitu ucapan Resi Ketua berikan kesempatan pada saya untuk menebus dosa."

Habis berucap Resi Mirpur Patel melompat ke arah tembok ruangan sebelah kanan. Kepalanya dibenturkan dengan tembok batu, mengeluarkan suara menggidikkan. Kepala itu rengkah. Sosok sang Resi terkapar jatuh.

Tak selang berapa lama di dinding putih muncul kembali perujudan Mirpur Patel tergeletak di lantai goa. Tiba-tiba dari tubuh Resi Kepala keluar sesosok samar laki-laki berpakaian hitam. Di tangan kanan orang ini memegang sebuah patung kecil di batu berwarna abu-abu kehitaman. Patung memancarkan cahaya merah. Sosok samar hitam berkelebat ke arah lobang di atas atap goa dan lenyap. (Kisah ini dapat diikuti lebih jelas dalam serial Wiro Sableng sebelumnya berjudul "Petaka Patung Kamasutra").

Apa yang terlihat di dinding putih dalam samadi Resi Khandawa ternyata masih berkelanjutan. Kini muncul sebuah titik kuning. Makin lama makin besar dan tambah bercahaya, menyerupai sebuah kepingan logam. Begitu kepingan logam kuning ini berubah sebesar jari kelingking tiba-tiba Pedang Bulan Sabit yang ada di pangkuan Resi Khandawa bergerak keluar dari sarungnya. Senjata sakti mandraguna ini melayang ke atas, bergerak ke arah dinding putih dan menusuk kepingan logam kuning. Kepingan logam nampak berubah seperti bara api. Di kejauhan saat itu juga terdengar raungan manusia. Kepingan logam kembali ke warna aslinya, melesat ke udara lalu ada satu tangan gadis jelita menjangkau kepingan logam kuning itu dan memasukkannya ke balik pakaian biru yang dikenakannya.

Pedang Bulan Sabit melayang turun dari dinding putih lalu masuk kembali ke dalam sarungnya.

Dinding putih berubah lagi menjadi tabir asap, turun ke bawah dan masuk lenyap di lantai ruangan. Tubuh Resi Khandawa Abitar bergoncang keras. Lalu diam tak bergerak, seolah tak bernafas. Hawa sejuk seperti tadi kembali keluar dari Pedang Bulan Sabit yang ada di pangkuan masuk ke dalam tubuh Resi Khandawa Abitar. Sekujur tubuhnya yang tegang berangsur kendur. Rambut, alis serta janggutnya yang tadi kaku kini kembali menjulai lembut. Perlahan-lahan Resi ini buka kedua matanya.

Lama dia memandang tak berkeslp ke dinding batu hitam di hadapannya. Dia ingat kejadian lebih setahun silam. Suara hatinya mulai membatin.

"Resi Mirpur Patel kau menipuku. Aku berlaku ayal hingga bisa tertipu. Kau sesungguhnya tidak tewas bunuh diri membenturkan kepala ke dinding batu Goa Binaker. Kau pergunakan ilmu Sembunyi Dalam Lorong Roh untuk menyesatkan pandangan mata. Kau mempergunakan ilmu kesaktian Masuk Ke Dalam Alam Roh Melalui Jazad Kentara yang aku tahu hanya ada di dalam kitab ajaran orang-orang sesat. Ilmu itu kau pergunakan untuk mencuri Patung Kamasutra, memasuk menyembunyikannya dalam tubuhmu. Lalu kau mengirim seseorang secara gaib untuk mengambil patung itu dari dalam tubuhmu. Setelah itu kau kabur melenyapkan diri dari dalam Goa Binaker. Apa maksud tujuan perbuatanmu? Menebar kejahatan keji seperti yang dikatakan manusia katai utusan Sang Kebenaran demi untuk mendapatkan ilmu kesaktian dahsyat yang bakal kau sedot dari tubuh pemuda yang kau perbudak? Aku tiba-tiba saja ingat satu hal. Ketika kau tergeletak di lantai Goa Binaker, tongkat emasmu tidak terlihat. Berarti kau telah memasukkan dan menyembunyikan di dalam tubuhmu. Kepingan logam kuning yang aku lihat di dalam samadi bukankah itu gompalan tongkat saktimu yang terbuat dari emas?"

Resi Khandawa Abitar menarik nafas panjang lalu suara batinnya kembali bicara. "Pedang Bulan Sabit menusuk kepingan logam kuning. Agaknya ini merupakan satu pasan aku harus melakukan hai itu. Gadis berbaju biru. Aku harus menemuimu karena aku perlu bantuanmu. Kau memiliki logam kuning itu.

Walau ujudmu seperti manusia biasa namun aku punya firasat kalau dirimu adalah mahluk dari alam gaib. Namun aku tidak mau kesalahan tangan. Aku terpaksa melakukan sesuatu. Mudahmudahan aku tidak akan menyakiti dirimu."

Dengan hati-hati Resi Khandawa Abitar lipat permadani kecil untuk membungkus Pedang Bulan Sabit lalu menaruhnya dalam sebuah cegukan batu di dinding kamar tidur, sebuah ruangan batu di sebelah ruangan samadi.

Menjelang fajar menyingsing dia kembali ke ruang semadi membawa dua buah benda. Benda pertama adalah sebuah pendupaan berisi puluhan batu kecil seujung ibu jari. Benda kedua sebuah tongkat berlekuk terbuat dari batu biru. Pendupaan diletakkan di lantai batu. Lalu ujung tongkat didekatkan ke mulut dan ditiup satu kali. Ujung tongkat kemudian dimasukkan ke dalam pendupaan. Satu cahaya biru bergemerlap.

"Wusss!"

Kejap itu juga puluhan batu di dalam pendupaan burubah menjadi bara api menyala! Tongkat ditarik sedikit lalu diletakkan di bibir pendupaan. Bau harum setanggi serta merta memenuhi ruangan.

Setelah menaruh tongkat batu biru berkeluk dilantai batu di samping kanannya Resi Khandawa Abitar mulai malakukan samadi. Biasanya satiap bersamadi dua tangan sang Rasi diletakkan di atas dua paha atau dua telapak tangan ditempelkan di dada. Namun sekali ini dua tangan diulur ke depan setinggi dada dengan telapak terbuka menghadap ke atas.

Tidak sampai sepenghisapan rokok dua tangan sang Resi tampak bergetar. Tangan kanan perlahan-lahan naik sedikit ke atas.

"Kraakk !"

Terdengar suara patahan benda keras. Tak selang berapa lama sebuah benda kuning entah dari mana datangnya melayang jatuh ke atas telapak tangan kanan Resi Khandawa Abitar. Untuk beberapa lamanya tangan itu bergetar dan terbungkus cahaya kuning. Sang Resi hentikan samadi. Langsung memperhatikan telapak tangan kanan. Benda yang ada, di atas telapak tangan Itu ternyata patahan dari satu keping gompalan emas. Resi Khandawa lepas nafas lega.

"Aku melihat lebih nyata. Kepingan ini memang berasal dari tongkat sakti milik Resi Mirpur Patel. Pertanda dia memang tidak tewas bunuh diri. Dia berkeliaran di dunia sana. Gadis alam gaib, aku harus segera menemuimu."

Resi Khandawa letakkan ujung tongkat biru di atas pendupaan. Serta merta bara api menyala di dalam pendupaan padam, kembali ke bentuk semula, batu-batu sebesar ujung kuku.

Dengan menenteng tongkat biru Resi Khandawa melangkah ke dinding batu sebelah kiri. Ujung tongkat diketukkan ke salah satu bagian dinding. Salah satu bagian batu membuka membentuk pintu. Di luar pintu sepuluh Resi berpakaian putih membungkuk hormat begitu Resi Ketua Khandawa Abitar lewat di depan mereka. Sebelum pergi Resi Ketua ini berkata pada mereka.

"Jaga tempat ini baik-baik. Jangan boleh siapapun masuk ke dalam goa. Jika terjadi apa-apa cepat beri tahu aku melalui Genta Bumi Langit."

Genta Bumi Langit adalah sebuah lonceng sakti besar tapi sangat tipis terbuat dari emas murni yang disimpan di sebuah lorong rahasia. Bila genta ini ditalu maka suaranya akan sampai ke telinga orang yang dituju sekalipun dia berada sangat jauh. Sepuluh Resi membungkuk sambil merapal doa. Pintu batu kembali menutup.

DI luar goa fajar belum menyingsing. Gurun pasir Thar masih diselimuti kegelapan. Resi Khandawa Abitar acungkan tongkat biru ke udara. Saat itu juga tubuhnya terangkat ke atas lalu melesat laksana terbang ke arah timur. Di tangan kiri dia memegang patahan kepingan emas yang tadi didapatnya secara gaib. Benda ini menjadi kemudi ke arah mana dia harus menuju.

***

DI Gurun Pasir Tengger, satu tempat yang sangat jauh dari Gurun Pasir Thar, Purnama yang tengah berusaha menyelamatkan diri agar tidak disapu topan. Gadis dari alam gaib Latanahsilam ini sengaja mengeluarkan rohnya dan tubuh kasar.

Sementara dia berada di alam roh sosok kasarnya masih terbaring di pedataran pasir. Selagi dia merasa aman tiba-tiba gadis ini menyaksikan dan mendengar gompalan tongkat mahluk tanpa wajah yang disimpannya di balik pakaian berderak patah menjadi dua potong. Potongan pertama tetap berada di balik pakaian biru sementara potongan kedua dengan kecepatan luar biasa melesat ke udara. Melayang bercahaya ke jurusan barat hingga akhirnya lenyap dari pemandangan.

"Apa yang terjadi?" pikir Purnama. "Siapa yang mematah dan membawa lari potongan gompalan tongkat emas itu?! Aku harus segera kembali masuk ke dalam jazadku."

***

TAK SELANG berapa lama setelah kepergian Resi Khandawa Abitar, bersamaan dengan menyembulnya mentari di ufuk timur, satu bayangan putih berkelebat masuk ke dalam lorong batu di perut Gurun Thar disertai barkiblatnya satu cahaya kuning.

Sepuluh Resi berselempang kain putih yang menjaga ruangan batu kediaman Resi Khandawa Abitar melongak kaget ketika melihat siapa yang berdiri di depan mereka.

"Resi Kepala Mirpur Patel..." Sepuluh Resi menyebut nama.

Menatap dengan pandangan mata setengah takut setengah tak percaya.

Orang yang dipanggil Resi Kepala Mirpur Patel. Kakek berjanggut, berkumis dan berambut putih balik memandang mendelik. Sambil membolang baling tongkat emas di tangan kanan hingga menimbulkan cahaya berkilauan dan menggetarkan seantero lorong batu, dia membentak.

"Kalian melihat diriku seolah aku ini setan! Mangapa tidak memberi salam dan hormat?!"

Sepuluh Resi segera membungkuk. Gerakan mereka menghormat tampak kaku. Setelah meluruskan badan salah seorang dari mereka memberanikan diri berkata.

"Resi Kepala mohon maafmu. Bukankah.... bukankah kau sebenarnya telah meninggal dunia dalam peristiwa di Goa Binaker lewat satu tahun silam?"



TIGASEPASANG mata Resi Kepala berkilat-kilat, mendelik bertambah besar. "Kau yang bicara!" ucapnya manyentak sambil menunjuk tepat-tepat dengan ujung tongkat kuning ke hidung arah Resi yang barusan bicara. "Apakah kau merasa lebih kuasa dan lebih tahu dari Para Dewa?! Dewa belum memanggilku!

Bagaimana kau beraninya mengatakan diriku telah meninggal?"

Resi yang dituding dengan ujung tongkat tampak pucat. Sembilan Resi lainnya tak satupun yang berani membuka mulut. Mereka berdiam diri sambil tundukkan kepala.

"Kalau aku memang meninggal di Goa Binaker! Apa jenazahku pernah ditemukan di goa itu?!" Resi Kepala bertanya dengan suara membentak.

"Resi Kepala," Resi yang tadi bicara cepat-cepat jatuhkan diri. "Jenazah Resi memang tidak pernah ditemukan di Goa Binaker. Itu pertanda bahwa sebenarnya Resi Kepala memang masih hidup seperti layaknya saat ini. Mohon maafmu kalau saya tadi sudah ketelepasan bicara. Saya menyesal dan mohon maafmu..."

Resi pengawal yang berdiri di samping temannya yang barusan dibentak agak takut-takut memberi tahu.

"Kalau Resi Kepala ingin bertemu Resi Ketua, maka kami memberi tahu Resi Ketua tak ada di dalam gua. Beliau pergi sejak dini hari tadi."

"Aku sudah tahu. " jawab kakek berselempang kain putih yang adalah Mirpur Patel sang Resi Kepala yang barusan saja dilihat Resi Khandawa Abitar dalam samadinya. Resi Kepala melangkah mundar-mandir dihadapan sepuluh Resi pengawal lalu berhenti dan berkata. "Justru kedatanganku adalah membawa memberi kabar buruk. Ketahuilah, Resi Ketua Khandawa Abitar telah mati terbunuh oleh satu kekuatan dashyat alam gaib. Aku terlambat menolong. Bahkan jenazahnya tak berhasil aku temukan. Kalau tidak menguap dalam alam gaib pasti masuk lenyap ke dalam bumi atau ditelan gelombang samudera..."

Sepuluh Resi keluarkan saruan tertahan sambil menyebut nama Resi Khandawa Abitar berulang kail. Ada yang merapal doa, ada yang keluarkan suara seperti mau menangis.

"Kalau Resi Ketua memang sudah menemui ajal, dimanapun jenazahnya kami akan berusaha mencari." Seorang Resi pengawal berkata.

"Jangan berlaku tolol ! Aku saja tidak mampu mengetahui dimana beradanya jenazah Resi Ketua!" Kata Resi Mirpur Patel dengan mata didelikkan.

Resi lain Ikut bicara. "Bagaimana mungkin bisa terjadi. Para Dewa pasti melindungi Resi Ketua..."

"Ajal manusia hanya Para Dewa yang tahu dan punya kuasa. Aku tengah melakukan penyelidikan. Sementara itu, sampai ada keputusan sidang Resi Sepuluh Ketua akulah yang menjadi pimpinan di tempat ini. Sampaikan itu pada semua Resi yang ada di sini. Katakan bahwa mereka termasuk kalian harus patuh pada apa yang aku katakan. Siapa berani membangkang akan aku usir dari tempat ini. Biar jadi Resi gelandangan di Gurun Pasir Thar sana! Kalian mendengar apa yang aku katakan?"

Sepuluh Resi membungkuk. Namun salah seorang diantara mereka memberanikan diri berkata.

"Resi Kepala, Resi Ketua sebelum pergi berpesan pada kami.

Jika terjadi sesuatu maka kami harus menghubunginya melalui Genta Bumi Langit."

"Resi aku menegurmu dengan keras!" Resi Kepala membentak dengan mata menyala. "Apa kau tuli?! Tadi sudah kukatakan bahwa Resi Ketua telah tewas. Kau ingin menghina arwahnya dengan menghubungi dirinya melalui Genta Bumi Langit? Bukankah lebih baik kau dan puluhan Resi lain yang ada di tempat ini segera saja memanjatkan doa ke hadapan Para Dewa demi ketenangan roh Resi Ketua di alam baka?!"

Sepuluh Resi membungkuk dalam-dalam tak ada satupun yang bicara. Dari balik pakaiannya Resi Kepala Mirpur Patel keluarkan satu kantong kain putih. Dia lalu melangkah pulang balik di depan pintu lorong sambil menaburkan sejenis bubuk putih dari dalam kantong. Bubuk ini menebar bau harum kembang melati. Begitu menyentuh lantai batu bubuk putih berubah jadi asap dan menebar ke seluruh ruangan hingga akhirnya lenyap dari pemandangan.

Setelah menyimpan kantong putih Resi Kepala Mirpur Patel berkata. "Aku akan segera meninggalkan tempat ini. Aku melarang siapapun masuk ke dalam tempat kediaman mendiang Resi Khandawa Abitar. "Apa kalian mendengar perintahku?!"

"Kami mendengar Resi Kepala." Jawab sepuluh Resi hampir berbarengan.

Hanya sesaat setelah Resi Kepala Mirpur Patel tinggalkan tempat itu salah seorang Resi mengajak teman-temannya bicara.

"Bubuk putih yang ditebar Resi Kepala tadi bukankah itu Bubuk Penyesat Mata dan Rasa?"

"Aku tahu," Jawab temannya. "Tadipun aku sudah menduga."

"Berarti sebenarnya Resi Ketua Khandawa Abitar masih hidup. Tidak tewas seperti yang dikatakan Resi Kepala Tadi."

"Betul." Beberapa orang Resi keluarkan ucapan yang sama hampir berbarangan.

"Resi Kepala sengaja menebar bubuk Penyesat Mata Dan Rasa untuk menangkal agar Resi Ketua tidak bisa kembali ke tempat ini."

"Ada sesuatu yang tidak beres. Para Resi sekalian, kalian tunggu di sini..." Berkata Resi Kandila.

"Resi Kandila, kau mau kemana ? Mau berbuat apa ?"

bertanya salah seorang Resi pada Resi yang barusan bicara.

"Aku akan masuk ke ruangan Genta Bumi Langit. Aku akan menghubungi Resi Ketua melalui genta itu, sesuai pesan beliau."

"Kalau begitu aku Resi Mitkapul akan menemanimu."

Dua orang Resi yakni Resi Kandila dan Resi Mitkapuil membuka pintu rahasia lalu masuk ke dalam lorong. Bangunan batu di bawah perut Gurun Pasir Thar memiliki dua belas lorong. Setiap lorong mempunyai beberapa ruangan tertentu. Tidak semua lorong pintunya bisa dibuka oleh Resi pengawal. Antaranya lorong menuju kediaman Resi Khandawa Abitar. Dua Resi masuk ke dalam lorong Sebelas. Setelah menekan satu alat rahasia, dua Resi tadi masuk ke dalam ruangan ke Dua. Begitu pintu terbuka langsung berhadapan dengan tangga batu terdiri dari dua belas undakan. Di sebelah atas tangga terdapat satu ruang batu empat persegi. Di atap ruangan ini tergantung sebuah lonceng besar terbuat dari emas. Anak lonceng tergantung pada ujung rantai yang juga terbuat dari emas murni.

Resi Kandila yang menaiki tangga di sebelah depan sampai lebih dulu ke ruang empat persegi. Resi Mitkapul mendampingi di sebelah belakang. Keduanya membungkuk di hadapan lonceng sakti. Setelah lebih dulu sama-sama merapal doa dan membayangkan wajah Resi Khandawa Abitar, Resi Kandila ulurkan tangan untuk memegang anak lonceng. Siap ditarik. Namun sebelum hal Itu kesampaian tiba-tiba byaaarrr !

Satu larik sinar kuning berkiblat terang di ruangan itu.

"Bukk !"

Rasi Kandila tersungkur di lantai di bawah lonceng. Kepalanya hancur. Tapi tak ada darah yang mengucur. Dia langsung tewas tanpa keluarkan suara sedlkitpun !

Melihat apa yang terjadi Resi Mitkapul berteriak kaget. Menyebut nama Dewa Agung dan berbalik. Namun belum sempat melihat siapa adanya orang yang barusan membunuh temannya Resi satu ini juga sama menerima nasib malang. Sebuah benda memancarkan cahaya kuning menghantam keningnya. Resi ini terguling sampai di undakan tangga kesepuluh dengan kepala pecah ! Tak ada darah yang keluar !

DI SATU tempat di gurun pasir Tengger, sementara topan dahsyat masih terus menderu. Pumama gadis alam gaib dari negeri Latanahsilam yang sudah merasa aman siap-siap keluar dari alam roh,masuk kembali ke ujud kasarnya yang masih tergeletak di tanah gurun. Seperti yang diceritakan dalam episode sebelumnya (Topan Di Gurun Tengger) ketika terjebak dalam badai yang menerbangkan jutaan butir pasir dan bisa membuat tubuh berubah jadi saringan gadis ini mendapat serangan gelap dari mahluk gaib yang diperkirakannya adalah mahluk jahat tanpa wajah. Dengan memancing musuh tak terlihat itu dengan gompalan tongkat emas Purnama berhasil selamatkan diri.

Selagi si gadis bersiap-siap untuk pindah dari alam roh dan masuk kembali ke dalam jazadnya yang masih terbaring di atas gurun pasir dekat lobang besar bekas hantaman mahluk tanpa wajah, tiba-tiba dari arah timur tampak satu sinar biru yang begitu luar biasa hingga mampu menembus ketebalan topan pasir. Sinar ini bergerak luar biasa cepat dan dalam waktu singkat telah berada sekitar dua ratus tombak di atas gurun pasir Tengger dimana Purnama saat itu berada. Si gadis batalkan niat untuk masuk ke dalam jazadnya.

Di langit memercik ratusan bunga api disertai suara gelegar berkepanjangan ketika sinar biru menembus terpaan gelombang topan. Daya tembus sinar biru agak tersendat sewaktu dari arah barat tiba-tiba berkiblat cahaya kuning, coba membabat putus sinar biru. Agaknya kekuatan dibalik sinar biru lebih hebat dari sinar kuning yang coba memusnahkannya.

Didahului satu dentuman dahsyat laksana guntur menggelegar, sinar kuning tercabik-cabik di udara. Tiupan topan ikut terpental kian kemari. Sinar kuning akhirnya sirna namun topan masih terus menderu walau kini tidak sedahsyat sebelumnya. Dalam keadaan seperti itu, laksana terbang dan turun dari langit di arah timur tampak melayang sosok seorang kakek bertubuh tinggi besar mengenakan pakaian selempang kain biru dengan kepala dan wajah dihias rambut putih dan Janggut panjang serta kumis menjulai putih seperti kapas. Dua Jengkal di depan tubuh orang tua ini yang bukan lain Rasi Khandawa Abitar adanya berputar sebuah tongkat biru berkeluk yang bukan saja memancarkan cahaya biru benderang tapi sekaligus melindungi dirinya serta membendung keganasan topan dahsyat yang melanda Gurun Pasir Tengger.

Di satu tempat Resi Khandawa berhenti melayang.

Tubuhnya mengapung di udara. Sungguh luar biasa ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya.

"Topan buatan ! Sang pembuat sudah melarikan diri. Hawa sakti kebenaran telah menguasai tempat ini. Mengapa masih menunjukkan digjaya sia-sia ? Kombali ke tempat asalmu !"

Resi Khandawa Abitar berucap. Suaranya tidak mombentak tapi perlahan saja. Mulutnya kemudian komat kamit merapal mantera. Anehnya saat itu juga suara deru topan berubah mengendur dan tebaran jutaan pasir gurun yang melayang di udara sedikit demi sedikit luruh ke bawah dan bersatu kembali dengan pedataran gurun tempat asal datangnya. Hanya selang beberapa saat topan yang melanda Gurun Pasir Tengger lenyap walau cuaca agak gelap masih belum surut.

"Tongkat sakti Kuntala Biru. Kau telah menjalankan tugasmu dengan baik. Para Dewa di Swargaloka. Saya Resi Khandawa Abitar berterima kasih atas Kuasa dan pertolonganMu. Mohon perlindungan Para Dewa untuk tindak selanjutnya. "

Habis keluarkan ucapan Resi Khandawa Abitar ulurkan tangan kanan menangkap ujung berkeluk tongkat biru yang masih berputar deras. Tangan manusia biasa yang punya kepandaian dan ilmu, kesaktian yang tidak tinggi, salah-salah menyentuh bisa terbabat putus oleh putaran tongkat.

Resi Khandawa Abitar gerakkan dua kaki. Tubuhnya kembali melayang turun. Matanya yang bening tajam memandang ke seantero pedataran pasir Gurun Tengger. Jauh di bawah sana dia melihat beberapa orang berkaparan di gurun pasir.

Resi dari Gurun Pasir Thar ini memiliki ilmu kesaktian bernama Mengulur Mata Menjerat Pandang. Dengan ilmu ini dia bisa melihat benda di kejauhan menjadi dekat seolah berada di depannya. Di arah kiri gurun pasir saat itu dia melihat seseorang tengah berusaha berdiri. Begitu dia menerapkan Ilmu Mengulur Mata Menjerat Pandang serta merta dia melihat orang itu adalah pemuda berambut gondrong. Wajah bercelemong pasir. Rambut dan pakaian Juga penuh ditempeli pasir. Si pemuda kibas-kibas rambut gondrongnya dan tepuk-tepuk pakaian putih untuk membersihkan pasir gurun yang menempel. Lalu dia mengusap muka berulang kali.

Ketika sang Resi memperhatikan bagian tubuh antara dada dan perut pemuda ini, empat kelopak matanya terasa bergetar. Jantung berdetak lebih kencang dan darah mengalir lebih cepat. Resi ini terkesima.

***EMPATAKU melihat cahaya putih aneh di tubuh sebelah depan pemuda berambut gondrong Itu. Hemmm... " Sang Resi bergumam. "Dia menyimpan satu senjata sakti mandraguna di dekat relung jantung dan hati di dalam tubuhnya. Luar biasa!

Kalau kekuatan tongkat Kuntala Biru masuk ke dalam tubuhnya, bergabung dengan kekuatan senjata yang dimilikinya, langit bisa diruntuhkan, samudera bisa dibendung. Tujuh Tonggak Kekuasaan, Keadilan dan Kebenaran bisa dikuasainya. Pemuda itu siapa dia gerangan. Sebelum kembali ke Gurun Thar aku perlu menemui dirinya. Sekarang aku harus mencari gadis berbaju biru yang aku lihat dalam samadiku..."

Sementara tubuhnya terus melayang turun Resi Khandawa Abitar tukikkan pandangan ke bawah. Mendadak di arah depan dia melihat satu pemandangan yang membuat wajah tuanya yang klimis bersemu merah namun kemudian tertawa geli sendirian. Gerangan apa yang telah dilihat dan membuat Resi sakti dari India ini sampai tertawa demikian rupa?

Seperti diceritakan sebelumnya ketika topan prahara membadai di Gurun Pasir Tengger, Naga Kuning telah merubah diri ke dalam ujud aslinya yakni seorang kakek sakti bernama Kiai Paus Samudera Biru. Sambil menindih tubuh Gondoruwo Patah Hati kakek ini berusaha merayu kekasihnya itu. Dia berbisik ke telinga si nenek.

"Intan, lama sekali aku menginginkan kita berdua-dua seperti Ini. Sekarang baru ada kesempatan..."

"Ihhh!" Gondoruwo Patah Hati terpekik. "Tua bangka kurang ajar! Lekas turun! Kalau tidak...."

"Nek, tidakkah kau ingin merubah dirimu menjadi Intan Ning Lestari agar kita bisa bermesraan lebih mantap? Apa kau tega membiarkan diriku seperti ini?"

Si nenek agak tergagap. Tapi kemudian membentak memaki.

"Kiai edan! Jangan-jangan kau sudah kemasukan roh jahat Cakra Mentari!" Si nenek susupkan tangan kirinya ke balik jubah si kakek. Kiai Paus Samudera Biru mesem-mesem menikmati sentuhan tangan yang menjalar itu. Ah, ini yang diharapkan. Dia menunggu usapan terakhir di bagian bawah perutnya di tempat yang tak bisa dibayangkan!

Namun mendadak sang Kiai menjerit keras. Bukan mendapat usapan, bukan pula merasa kenikmatan tapi kantong menyan perabotannya amblas dipencet si nenek. Sosok si kakek langsung melintir dan terguling ke tanah. Dua kaki melejanglejang, mulut mengerang dan muka meringis menahan sakit.

"Rasakan! Makan pencarianmu!" Maki Gondoruwo Patah Hati lalu tertawa cekikikan. Namun nenek ini kemudian hentikan tawa dan unjukkan muka kawatir. Sebabnya sosok Kiai Paus Samudera Biru kini tergeletak di pasir tidak bergerak tidak bersuara! Ketika dia memperhatikan muka si kakek kelihatan sepasang mata yang terbuka mendelik tak berkesip!

"Astaga! Jangan-jangan..." Si nenek ketakutan lalu jatuhkan diri dan peluk tubuh si kakek. Dia usap kepala sambil ciumi wajah Kiai Paus Samudera Biru berulang kali. "Gunung, apakah tadi aku terlalu keras memencet anumu?" Gunung adalah nama asli Naga Kuning.

Si kakek tidak dapat menahan tawanya lagi. Sosoknya berubah menjadi Naga Kuning kembali. Sambil merangkul punggung dengan kedua tangan serta menggelungkan dua kaki di pinggul si nenek bocah berambut jabrik ini tertawa terpingkalpingkal.

"Anak kurang ajar!" Gondoruwo Patah Hati mendamprat lalu berguling menjauh sambil terus memaki panjang pendek.

Semua apa yang terjadi itulah yang telah disaksikan oleh Resi Khandawa Abitar dari atas gurun pasir dan membuat dia tertawa geli.

"Hidup di muka bumi di luar alamku ternyata banyak keluguan dan kelucuan. Para Dewa sungguh adil. Membagi kebahagiaan pada ummat manusia. Dalam susah maupun senang..."

Sang Resi kemudian memperhatikan ke beberapa jurusan lain sambil tangan kiri yang memegang patahan gompalan tongkat emas di acungkan di depan dada.

Agak jauh di sebetah selatan Rasi Khandawa Abitar melihat satu bangunan. Dari bentuknya dia tahu kalau bangunan itu adalah sebuah Kuil Hindu. Kembali dia mengerahkan Ilmu Mengulur Mata Menjerat Pandang. Bangunan kuil yang tadinya kecil berubah jadi besar. Begitu melihat Kuil yang masih berada dalam keadaan utuh tanpa kerusakan sedikitpun sang Resi segera rundukkan kepala memanjatkan doa dan puji-pujian.

"Dewa Pelindung Agung.Topan badai begitu besar namun kerusakan tidak sampai menyentuh Kuil suci itu. BerkahMu sangat besar wahai Para Dewa di Swargaloka. Terima kasih Dewa. Terima kasih...."

Masih dalam menerapkan ilmu kesaktiannya, tidak jauh dari bangunan Kuil tampak seorang tua berselempang kain putih, melangkah terseok-seok menuju Kuil. Pakaian putih dan sekujur tubuhnya kotor penuh debu dan pasir gurun. Beberapa bagian lengan dan bahu dalam keadaan luka akibat ditembus pasir.

Orang tua yang dilihat Resi Khandawa Abitar ini adalah Resi Jantika Lamantara yang dengan susah payah berusaha mencapai Kuil. Walau dua kaki goyah, sekujur tubuh sakit bukan kepalang namun melihat keadaan Kuil yang masih utuh memberi semangat padanya untuk meneruskan langkah. Sambil berjalan mulutnya tiada henti mengucap doa puji syukur. Pada saat Resi Khandawa Abitar akhirnya menjejakkan dua kaki di Gurun PasirTengger sudut mata sang Resi tiba-tiba menangkap kilatan cahaya di arah kiri. Ketika berpaling ke kanan, di kejauhan dia melihat seorang gadis cantik memegang sebuah cermin bulat lengah berusaha bangkit berdiri.

"Bukan gadis yang kucari..." ucap Resi Khandawa Abitar.

"Gadis berjubah kelabu, seperti tiga orang tadi agaknya dia juga bukan orang sambarangan. Cermin bulat di tangannya pasti sebuah senjata sakti. Aku melihat cahaya biru di balik dadanya.

Heran, bagaimana banyak orang berkepandaian tinggi bertebaran di gurun pasir yang baru dilanda topan ini? Apakah mereka semua punya sangkut paut dengan kejahatan Resi Mirpur Patel? Agaknya aku bakal mendapat banyak sahabat di negeri ini."

Sambil terus berpikir-pikir Resi Khandawa Abitar

memandang berkeliling sampai pandangannya membentur satu sosok berpakaian biru, berambut panjang lepas riap-riapan tertiup angin, terbaring menelungkup. Dada sang Resi berdebar.

"Ada cahaya kuning bersinar di bagian bawah tubuhnya yang menelungkup. Aku harus melihat wajah perempuan ini..."

Resi Khandawa kembali kerahkan Ilmu Mengulur Mata Menjerat Pandang. Begitu sosok orang menjadi besar dan sewaktu dia melihat sebagian wajah yang tertelungkup darahnya berdesir.

"Walau wajahnya cuma terlihat sebagian tapi aku yakin ini gadis yang kulihat dalam samadi. Benda bercahaya di bagian bawah tubuhnya pasti potongan gompalan tongkat emas..."

Tidak menunggu lebih lama Resi Khandawa Abitar segera melesat mendekati sosok tubuh yang tertelungkup di pasir.

"Aneh, topan sudah reda. Mengapa perempuan muda Ini masih berbaring menelungkup? Apakah dia masih hidup. Jangan-jangan telah tewas dilanda topan. Tapi tubuhnya terlihat utuh..." Resi Khandawa maju lagi dua langkah, lebih mendekat.

Sambil pandangi sosok perempuan berpakaian biru di depannya dia menarik nafas dan menghirup udara dalam-dalam. Tongkat Kuntala Biru disapukan di punggung perempuan yang terbaring menelungkup. Mendadak saja Resi ini tersurut satu langkah.

"Sosok perempuan ini dalam keadaan kosong. Berarti....."

Sang Resi memandang berkeliling. Dia tidak dapat melihat tapi dia mampu merasakan. Maka segera saja dia keluarkan ucapan.

"Mahluk pandai dari alam roh, kau punya tubuh bagus dan wajah cantik. Mengapa ditinggal disia-siakan?"

Roh Purnama yang ada di dekat situ yang tadi sebenarnya memang hendak kembali masuk ke dalam jazadnya namun membatalkan niat karena kedatangan sang Resi, kini setelah mendengar ucapan Resi itu langsung saja dia masuk kembali ke dalam tubuh kasarnya. Kejap itu pula dia bergerak bangkit, berdiri dua langkah di hadapan sang Resi.

"Ah, kini aku melihat wajahmu dengan jelas. Kau memang orang yang ada dalam samadiku. Terima kasih Dewa telah mempertemukan aku denganmu." Resi Khandawa Abitar melintangkan tongkat Kuntala Biru lalu membungkuk memberi hormat pada gadis cantik hadapannya.

Purnama perhatikan orang tua di depannya sesaat lalu berkata. "Orang tua, dari dandananmu saya tahu kau adalah orang asing. Kau pandai bahasa negeri ini."

"Dewa memberi berkah padaku," jawab Resi Khandawa Abitar. "Logat bicaramu seperti seorang yang pernah aku kenal.

Namanya Deewana Khan."

"Dewa Maha Besar!" Resi Khandawa Abitar mengucap menyebut nama Dewa. "Kau kenal Deewana Khan. Aku akan bertanya banyak tentang dirinya. Namun saat ini ada satu hal penting yang harus didahulukan."

"Tunggu dulu," kata Purnama pula. "Ada satu mahluk tanpa wajah yang juga punya logat bicara sepertimu. Orang tua apa hubunganmu dengan mahluk itu? Kalian agaknya datang dari negeri yang sama."

Resi Khandawa Abitar tersenyum. Setelah anggukkan kepala beberapa kali dia berkata. "Kedatanganku kesini justru ada sangkut pautnya dengan semua apa yang kau ketahui. Gadis berbaju biru, izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Khandawa Abitar. Aku Resi Ketua dari Gurun Thar di India. Kalau aku boleh bertanya, siapakah namamu?"

"Purnama..."

"Dewa Maha Agung. Purnama. Bukankah itu juga berarti rembulan? Nama yang sangat bagus. Sahabatku muda, apakah kau mengenali benda ini?"

Resi Khandawa Abitar perlihatkan keping gompalan tongkat emas yang sejak tadi digenggamnya.

"Kau mengenali benda ini?"

Purnama memperhatikan dan tampak terkejut. Dia meraba ke balik baju biru yang dikenakannya. Resi Khandawa Abitar berkata. "Kau sudah maklum. Kepingan emas ini adalah gompalan dari tongkat milik mahiuk tanpa wajah...."

"Saya tidak mengerti. Kepingan itu ada pada saya. Beberapa saat lalu patah secara aneh..."

"Aku yang mematahkan. Keluarkanlah bagian patahan yang ada padamu..."

Purnama keluarkan patahan gompalan tongkat emas yang dimilikinya. Resi Khandawa melangkah mendekat. Dia mengambil patahan kepingan tongkat yang dipegang Purnama. Ketika dua patahan gompalan tongkat emas saling ditempelkan satu sama lain ternyata dua patahan bersambung menyatu sangat tepat.

"Aku benar-benar telah menemui gadis yang aku lihat dalam semadiku. Dewa sungguh Agung. Purnama, aku akan melakukan sesuatu. Harap kau tetap berdiri tenang di tempatmu..."

Selesai berucap Resi Khandawa letakkan dua keping patahan gompalan tongkat di telapak tangan kiri. Lalu dia angkat tongkat Kuntala Biru. Sambil merapal doa Resi ini kemudian tekankan ujung tongkat sakti pada dua patahan gompalan tongkat emas. Satu sinar biru yang amat terang membersit keluar dari tongkat sakti.

"Wusss!"

Saat itu juga dua patahan gompalan tongkat emas tunggelam dalam kobaran api berwarna biru. Satu kekuatan yang tak kelihatan muncul secara aneh, melabrak Khandawa Abitar hingga Resi dari Gurun Thar ini jatuh terduduk. Wajahnya tampak merah. Purnama cepat mendatangi. Maksudnya hendak menolong sang Resi berdiri. Namun Resi Khandawa Abitar cepat mencegah. "Jangan sentuh!"

"Wusss"

***LIMASATU kobaran api berwarna biru menggebubu ke udara setinggi hampir dua tombak, membuat tubuh Resi Khandawa Abitar lenyap tak kelihatan lagi. Purnama terpekik. Kalau dia tidak cepat melompat mundur niscaya ikut tersulut api dahsyat Itu.

Di saat yang bersamaan di kejauhan di arah selatan terdengar raungan manusia luar biasa keras hingga menggema sampai di permukaan pedataran pasir.

Dari dalam kobaran api biru tiba-tiba terdengar suara Resi Khandawa Abitar.

"Resi Mirpur Patel. Saatnya kau datang ke hadapanku untuk meminta maaf dan meminta ampun pada Para Dewa atas semua dosa kesalahan yang telah kau perbuat."

Di selatan kembali terdengar suara raungan namun kali ini disertai suara ucapan bergumam yang tidak jelas.

Di dalam kobaran api biru terdengar lagi suara Resi Khandawa Abitar. "Apa? Kau menolak datang. Sayang sekali. Apakah kau sudah berpikir baik-baik Resi Mirpur Patel?"

Kembali menggelegar suara raungan dan ucapan bergumam dari arah selatan. Lalu menyusul suara sang Resi yang masih tenggelam dalam kobaran api biru setinggi dua tombak.

"Jika kau mau datang, aku berjanji meminta keringanan hukuman pada Para Dewa Apa... ? Ah, sayang sekali. Kau tetap tak mau datang malah menantang tak takut mati. Resi Mirpur Patel, nyawamu bukan di tanganku. Aku tidak punya kewenangan untuk membunuhmu. Namun jika Para Dewa memberi kuasa bagiku untuk melakukan sesuatu, aku masih tetap ingin kau minta ampun dan bertobat atas semua kesalahanmu. Kita para Resi, apakah tidak ingin melihat dunia ini dan semua ummat di dalamnya hidup dalam bahagia ketenteraman?"

DI selatan menggelegar raungan dahsyat dan gumam aneh.

"Ah, sayang sekali. Benar-benar sayang sekali! Apa yang terjadi dengan dirimu? Mengapa kau begitu keras kepala? Hanya karena ingin mendapatkan ilmu sesat dari kitab palsu yang aku mengira kau sendiri yang membuatnya? Sayang sekali! Kau tak mau datang dengan ikhlas, aku terpaksa menyedotmu datang kemari!" kata Resi Khandawa Abitar. Dia acungkan tongkat Kuntala Biru ke depan setinggi dada. Lalu tongkat disentakkan kebelakang.

"Wuutttt!"

Terdengar suara bergemuruh disertai hawa aneh menarik kuat sekali ke arah sang Resi. Purnama cepat-cepat jatuhkan diri ke gurun pasir lalu berguling menjauh. Selagi dia hendak mencoba berdiri tiba-tiba blukk!

Satu sosok putih jatuh bergedebuk di atas pasir di depannya lalu menggelundung dan berhenti tiga langkah di hadapan Resi Khandawa Abitar. Sosok putih ini seorang tua berambut dan berjanggut putih panjang dengan wajah licin rata tidak berupa. Dalam kepitan tangan kiri ada sebuah tongkat emas besar berbentuk bulat salah satu ujungnya.

"Mahluk tanpa wajah!" ucap Purnama setengah berseru.

"Wusss!"

Api biru setinggi dua tombak yang sejak tadi menyelubungi Resi Khandawa Abitar tiba-tiba lenyap. Tak kurang suatu apa Resi ini melangkah mendekati sosok orang tua tanpa wajah yang masih tergeletak di pasir. Agaknya dia memang tak mampu bergerak ataupun bicara. Dari mulutnya hanya keluar suara desah meracau.

Resi Khandawa sapukan tongkat sakti Kuntala Biru di wajah licin pada arah letak mulut yang tidak kelihatan dari mahluk tanpa wajah.

"Resi Mirpur Patel, aku sudah membuka jalan suaramu. Sekarang bicaralah."

Wajah licin tanpa mulut itu secara aneh mengeluarkan suara parau menjawab.

"Resi Khandawa, kau lebih baik membunuhku saat Ini juga. Aku tidak akan pemah mau bicara!"

"Begitu.. .?" Resi Khandawa tersenyum. "Memang tidak sopan bicara kalau wajahmu tidak kelihatan."

Resi Khandawa Abitar kembali sapukan tongkat saktinya.

Kini ke kepala dan seluruh wajah Resi Mirpur Patel. Tiba-tiba tiga cahaya berwana merah, biru dan hijau memancar terang dari kepala Resi Mirpur Patel, menyambar ke arah Resi Khandawa Abitar. Dengan cepat Resi ini melompat mundur seraya sapukan tongkat Kuntala Biru.Tiga letusan keras menggeledek di tempat itu. Resi Mirpur Patel mengerang keras. Tubuhnya melesak

masuk ke dalam tanah, setengah terkubur di dalam pasir! Masih tidak punya kemampuan begerak. Tongkat emasnya menancap ke dalam pasir sampai setengahnya. Pada saat itu kepalanya yang tadi polos licin tanpa wajah kini berubah menunjukkan wajah seorang kakek berambut, kumis dan janggut putih. Tampangnya tampak angker memandang penuh geram pada Resi Khandawa Abitar.

Sepasang mata Resi Khandawa Abitar tatap sosok dan wajah Resi Mirpur Patel tak berkesip. Dalam hati dia berkata. "Resi ini agaknya sudah memiliki ilmu kesaktian jahat dari buku sesat.

Pukulan Tiga Cahaya Alam Gaib. Jika dia berhasil menyedot ilmu yang di dapat pemuda yang jadi budaknya itu, kekuatan ilmu pukulan bisa berubah dahsyat sepuluh kali lipat! Jangankan bumi, Swargalokapun bisa tergoncang!"

"Resi Mirpur Patel, apakah kau masih tidak mau bicara?"

Dua pipi Resi Mirpur Patel menggembung, pelipisnya begerakgerak. Tiba-tiba dia meludah.

"Puuhhh!"

Dihina seperti itu Resi Khandawa Abitar hanya tersenyum. "Hatimu sekeras batu di Gurun Thar. Perasaanmu sebeku salju di puncak Pegunungan Vindhya dan pikiranmu seperti terselubung lumut setebal lumut di dasar sungai Chambal. Resi Mirpur Patel, aku akan memohon pengampunan bagi dirimu pada Para Dewa di Swargaloka. Asal kau mau mengembalikan padaku Patung Kamasutra yang kau curi di Goa Binaker."

"Patung itu tidak ada padaku."

"Kalau begitu kau pasti tahu dimana beradanya dan siapa yang memegangnya."

"Tanyakan saja pada Para Dewa di Swargaloka," jawab Mirpur Patel alias mahluk tanpa wajah dengan nada mengejek.

Mendengar ucapan Mirpur Patei itu marahlah Resi Khandawa Abitar. Orang boleh menghina dirinya.Tapi jika orang berani menghina Dewa di hadapannya maka dia akan turun tangan lebih dulu! Resi yang biasa bicara lembut ini sekarang berucap dengan suara keras dan bergetar menahan marah.

"Resi Mirpur Patel! Kau tahu tidak ada dosa paling besar selain menghina dan mempermalukan Para Dewa! Aku tidak akan membunuhmu. Tapi aku juga tidak akan membiarkan dirimu hidup gentayangan seenaknya di muka bumi ini. Hukum harus diberlakukan atas dirimu! Dewa memutuskan! Aku melaksanakan!"

"Resi pengecut! Jangan meminjam nama Dewa! Akui saja kau tidak berani membunuhku!"

Sebagai jawab atas ucapan Resi Mirpur Patel, Resi Khandawa Abitar tancapkan tongkat Kuntala Biru ke tanah. Dari balik pakaian birunya dia keluarkan Pedang Bulan Sabit yang didapatnya dari tujuh orang katai yang mengaku sebagai utusan Sang Kebenaran. Perlahan-lahan dia pergunakan tangan kanan untuk menarik gagang pedang. Meskipun saat itu matahari bersinar cerah namun kilau cahaya putih terang dan indah dari Pedang Bulan Sabit yang dicabut dari sarungnya tidak menjadi redup.

Sementara Resi Khandawa Abitar merapal doa di dalam hati, sosok Resi Mirpur Patel alias mahluk tanpa wajah yang tergeletak di tanah berusaha memusnahkan kekuatan yang membuat sekujur tubuhnya kaku. Dia sadar sesuatu akan terjadi atas dirinya. Karena itu dia harus bisa melarikan diri. Namun jangankan membebaskan diri, begerak sedikitpun dia tidak bisa.

"Kurang ajar! Resi itu telah melumpuhkan sekujur auratku dengan ilmu Seribu Titik Tanpa Daya? Resi Mirpur Patel menyumpah geram.

"Khandawa Abitar! Aku bersumpah akan membunuhmu jika kau melakukan sesuatu atas diriku!" Resi Mirpur Patel keluarkan ancaman.

Sepasang matanya tidak lepas dari memperhatikan senjata di tangan Resi Khandawa Abitar. Resi Khandawa sendiri tidak perdulikan ancaman orang. Sambil memegang Pedang Bulan Sabit di tangan kanan dia melangkah mendekati Resi Mirpur Patel.

"Kau mau melakukan apa?!" teriak Mirpur Patel.

"Kebenaran harus ditegakkan. Hukum harus dilaksanakan. Dewa menyampaikan pesan melalui Pedang Bulan Sabit ini!"

Selesai berucap Resi Khandawa Abitar tekankan ujung runcing Pedang Bulan Sabit ke kening Resi Mirpur Patel. Gerakannya perlahan saja, tidak sampai membuat kening Mirpur Patel terluka.

Satu kilatan cahaya putih melesat masuk menembus batok kapala Resi Mirpur Patel, menjalar ke seluruh tubuhnya yang kemudian terjengkang di tanah gurun. Bersamaan dengan itu terjadilah hal aneh.

Kegelapan mendadak menyungkup gurun pasir dimana orang-orang itu berada. Ketika kegelapan lenyap dan udara terang benderang kembali sekujur tubuh Resi Mirpur Patel yang kurus jangkung tergelatak berubah menjadi sosok tanpa daging, nyaris menyerupai jerangkong. Sosok itu mengepulkan asap luar biasa panas hingga Purnama menjauh sampai lima langkah. Dari mata, telinga, mulut dan hidung mengucur cairan hitam.

"Mirpur Patel. Darahmu hitam bukan merah. Pertanda Para Dewa telah memperlihatkan kehitaman hatimu. Hari ini riwayatmu telah tamat. Sekarang pergilah untuk selama-lamanya dari muka bumi ini."

Resi Mirpur Patel keluarkan suara menggembor keras. Cairan hitam bermuncratan dari mulut, mata, hidung dan telinga. Begitu suara menggembor putus, dari mulutnya keluar jeritan keras berkepanjangan. Resi Mirpur Patel yang dalam keadaan hidup tidak matipun tidak merasa sekujur tubuhnya dilanda panas luar biasa.

"Rasi jahanam Itu tidak membunuhku! Dia mau menyiksa diriku dengan hawa panas memanggang seumur hidup! Dari mana dia dapatkan ilmu itu? Dari pedang celaka berbentuk bulan sabit Ku? Kurang ajar !. Dari mana dia dapatkan pedang keparat itu?" Resi Mirpur Patel menyumpah habis-habisan. Lalu dia merapal segala macam mantera untuk menolak dan memusnahkan hawa panas dalam tubuhnya. Namun sia-sia saja.

Resi Khandawa Abitar masukkan Pedang Bulan Sabit ke dalam sarung. Pedang sakti dipegang dengan tangan kanan. Lalu dengan tangan kiri dia cabut tongkat Kuntala Biru dari tanah gurun. Tongkat disapukan ke arah Resi Mirpur Patel.

"Dess! Dess! Desss!"

Tubuh Resi Mirpur Patel keluarkan letupan sampai tiga kali Resi Khandawa Abitar berucap setengah membentak seraya kaki kanan dihentakkan ke tanah gurun.

"Pergilah!"

Pedataran Pasir Gurun Tengger bergetar oleh hentakan kaki Resi Khandawa Abitar. Resi Mirpur Patel maklum apa yang akan terjadi. Dia berusaha meronta dan menerjang. Namun tak mampu bergerak.

"Resi Khandawa Abitar! Aku tidak akan mati! Tidak pernah! Aku akan tetap hidup sejuta tahun! Aku akan membalas semua perbuatanmu ini !"

"Resi Mirpur Patel. Kau tidak punya daya, tidak punya kekuatan. Saatnya kau pergi." Resi Khandawa Abitar goyang dan putar ujung tongkat biru lalu disentakkan ke atas. Saat itu juga tubuh Resi Mirpur Patel yang setengah terpendam di tanah berpasir melesat ke udara, lenyap seolah menembus langit.

Setelah sosoknya hilang dari pemandangan suara jeritannya masih terdengar mengumandang. Resi Khandawa Abitar tarik nafas panjang dan dalam lalu bekata.

"Semua sahabat yang ada disini. Resi jahat itu akan terkatung-katung antara langit dan bumi. Mati tidak hiduppun tidak. Sekujur tubuhnya dijalari hawa panas. Hanya ada satu jalan mencari selamat sementara, itupun kalau dia tahu caranya. Yaitu masuk ke dalam tubuh Cakra Mentari yang telah diperbudaknya dengan ilmu setan."

Resi Khandawa mendongak menatap ke langit. "Tujuh manusia katai utusan Sang Kebenaran. Tugasku sudah selesai.

Apakah para sahabat bermaksud mengambil kembali Pedang Bulan Sabit?"

Baru saja ucapan berakhir di langit arah barat kelihatan tujuh titik begemerlap, melayang ke arah Gurun Pasir Tengger dimana Resi Khandawa Abitar berada. Tak selang berapa lama tujuh titik berubah membesar dan sesaat kemudian tujuh manusia katai bersorban yang mengeluarkan cahaya putih sejuk telah berada di tempat itu. Mereka berdiri berjejer di hadapan Resi Khandawa Abitar. Tujuh pasang kaki mereka sama sekali tidak menginjak pasir gurun. Tergantung di udara seujung kuku jari dari tanah. Ketujuh manusia katai membuka sorban masing-masing.

Sorban diletakkan di atas pasir gurun lalu mereka sama-sama membungkuk memberi hormat. Resi Khandawa Abitar membalas hormat kamudian melangkah mendekati manusia katai di sebetah tengah.

"Bukankah sudah saatnya aku harus mengembalikan Pedang Bulan Sabit? Dan kau serta kawan-kawan sudah datang menjemput."

"Resi Yang Mulia. Apa yang kau katakan tidak keliru.

Sebenarnya Sang Kebenaran juga mempunyai pesan. Pedang itu kami ambil lantas kami serahkan pada seseorang yang ada di tempat ini...."

Resi Khandawa Abitar berpaling ke arah Purnama yang tegak di sampingnya. "Maksud kalian pedang akan diserahkan pada gadis cantik berpakaian biru yang berdiri di sampingku ini?"

"Resi Yang Mulia. Kami mahluk-mahluk yang punya keterbatasan. Di alam lain selain alam kami, kami tidak bisa melihat sosok seorang perempuan..."

Sepasang alis mata Purnama mengerenyit naik ke atas. Resi Khandawa Abitar tersenyum. "Sayang sekali," katanya. "Gadis yang ada di sebelahku bertubuh elok dan berparas sangat cantik. Kalian benaran tidak mau melihatnya?"

Tujuh manusia katai termesem-mesem dan saling sikutsikutan satu sama lain. Lalu adalah seorang dari mereka menjawab. "Kalau hal itu kami lakukan, Sang Kebenaran akan murka dan kami tidak bisa kembali lagi ke alam kami."

"Aku mengerti." jawab Resi Khandawa Abitar pula.

"Jadi bagaimana dengan Pedang Bulan Sabit ini?"

"Kami akan mengambilnya. Jika Sang Kebenaran kemudian memberikan perintah baru, ResiYang Mulia pasti akan mengetahui. Paling tidak akan mendapat petunjuk di dalam samadi" Jawab manusia katai di sebelah tengah lalu dia maju mendekat dan ambil Pedang Bulan Sabit dari tangan kanan Resi Khandawa Abitar. Setelah mengenakan sorban kembali dan membungkuk memberi hormat pada Resi Khandawa Abitar di hadapan tujuh manusia katai keluar tabir asap. Ketika tabir ini lenyap tujuh manusia katai sudah melayang ke langit dan akhirnya lenyap dari pemandangan.

Purnama datang mendekati Resi Khandawa Abitar.

"Gadis baju biru, aku masih ada satu pekerjaan yang harus dilakukan. Menjauhlah dulu." Purnama terpaksa bersurut kembali.

Sang Resi masukkan ujung tongkat Kuntala Biru ke bagian tongkat emas yang berbentuk bulat milik Resi Mirpur Patel yang saat itu masih menancap di tanah.

"Tombak emas Pusaka Langit Ketiga. Kembalilah ke tempat asalmu di Lembah Godavari!"

Resi Khandawa Abitar sentakkan ke atas tongkat Kuntala Biru di tangan kanan.

"Tring!"

Terdengar suara berdering ketika dua tongkat sakti saling beradu disertai memerciknya bunga api berwarna kuning dan biru.

"Wuttt!"

Tongkat emas milik Resi Mirpur Patei tercabut dari tanah, melesat Ke udara dengan kecepatan luar biasa hingga hanya terlihat berupa satu cahaya kuning terang. Cahaya ini berputar tiga kali di atas Gunung Bromo lalu menderu ke langit dan akhirnya lenyap dari pemandangan.

Resi Khandawa Abitar usap wajahnya sampai tiga kali. Ketika dia berpaling ke arah Purnama ternyata sigadis tidak hanya sendirian di tempat itu. Ada empat orang lain bersamanya. Sang Resi ingat ke empat orang ini adalah orang-orang yang tadi dilihatnya sewaktu melayang turun ke Gurun Pasir Tengger.

***ENAMYANG pertama sekali diperhatikan Resi Khandawa Abitar adalah si bocah berambut jabrik Naga Kuning dan nenek muka setan Gondoruwo Patah Hati. Sang Resi senyum mesem-mesem melihat kedua orang ini terutama Naga Kuning. Lalu dia berpaling pada Ratu Duyung, melirik sekilas pada Purnama seolah ingin membandingkan kecantikan dua gadis ini. Terakhir sekali matanya dialihkan pada Pendekar 212 Wiro Sableng. Berdiri cukup dekat begitu rupa kini Resi sakti ini dapat melihat keadaan Wiro lebih jelas. Seperti yang sudah dilihatnya sebelumnya lewat ilmu Mengulur Matai Menjerat Pandang dia mampu mengetahui keberadaan satu senjata sakti di dalam tubuh murid Sinto Gendeng. Berhadapan begitu dekat Resi Khandawa dapat melihat bentuk senjata yang ada dalam tubuh Wiro.

"Kapak bermata dua...." ucap sang Resi dalam hati. Lebih dan itu dia juga melihat adanya benda-benda sakti lainnya didalam kantung celana sang pendekar. Lalu dia juga melihat keberadaan dua buah kitab dibalik pakaian Wiro. Bahkan Resi sakti ini juga melihati tanda putih di bawah pusar sang pendekar.

"Dua kitab sakti mandraguna. Satu salinan, satu lagi yang sudah terbakar hangus. Ah kasihan pemuda ini, dia mengindap satu penyakit sangat menakutkan. Siapa yang punya pekerjaan.

Resi Mirpur Patel? Apakah aku bisa menolong pemuda ini? Mudahmudahan Dewa memberi petunjuk."

Sadar kalau dia terlalu lama memperhatikan orang-orang itu Resi Khandawa Abitar buru-buru membungkuk menghatur hormat.

"Semua sahabat yang ada di sini, maafkan aku sammpai terkesima melihat orang-orang gagah seperti kalian. Terima salam hormatku. Aku Resi Khandawa Abitar dari Gurun Thar di negeri India." Resi Khandawa perkenalkan diri dan lagi-lagi unjukkan senyum ketika melihat ke arah Gondoruwo Patah Hati dan Naga Kuning. Si bocah karena merasa, mulutnya yang jahil langsung saja bertanya polos.

"Kek, dari tadi kau mesem-mesem saja melihat diriku. Apakah ada yang lucu?"

Resi Khandawa Abitar batuk-batuk beberapa kali. Dia menjawab. "Sahabatku kecil. Kau tak pantas memanggil diriku Kakek. Karena kalau tidak salah aku menduga, usiamu lebih tua dari diriku."

Naga Kuning jadi melongo. Gondoruwo Patah Hati cubit pinggang si bocah lalu berbisik.

"Anak konyol! Kau tidak sadar berhadapan dengan siapa? Kalau bukan Resi ini yang menolong, kita semua termasuk kau sudah ditimbun pasir topan!"

"Aku tahu," menyahuti Naga Kuning. "Tapi aku juga tahu satu hal lain! Dia pasti melihat waktu kita saling tindihan dan kau mengusap ke bawah perutku. Itu sebabnya dia mesem-mesem terus melihat kita! Hik...hik!"

Ucapan Naga Kuning membuat Gondruwo Patah Hati jadi terdiam.

Wiro maju mendekati dan membungkuk di hadapan Resi Khandawa Abitar.

"Resi Khandawa, terima salam hormatku. Namaku Wiro. Gadis di sebelah kanan ini Purnama..."

"Aku sudah kenal," menerangkan Resi Khandawa Abitar.

Wiro meneruskan sambil menunjuk pada Naga Kuning.

"Anak ini Naga Kuning, nenek di sebelahnya Gondoruwo Patah Hati dan gadis bermata biru ini Ratu Duyung."

"Aku maklum, kalian semua adalah orang-orang gagah rimba persilatan negeri ini, berhati baja berkepandaian tinggi."

"Resi Khandawa, kami semua di sini mengucapkan terimakasih. Kau telah menolong kami hingga selamat dari bencana topan gurun pasirTengger."

"Semua itu atas kuasa dan kehendak Para Dewa. Harap...." Saat itu tiba-tiba ada seseorang mendatangi dan begitu sampai di hadapan Resi Khandawa Abitar dia langsung jatuhkan diri. Orang ini ternyata adalah Resi Jantika Lamantara.

"Resi Yang Mulia, apa yang barusan diucapkan pemuda ini benar adanya. Saya Resi Jantika Lamantara dari Kuil Bromo Agung menghaturkan puji syukur dan berterima kasih padamu.

Kau telah diutus untuk menyelamatkan kami. Kuil tidak sedikitpun mengalami kerusakan. Semua barang sesajian yang disiapkan penduduk untuk upacara Kasada besok juga berada dalam keadaan utuh...."

Resi Khandawa Abitar pegang bahu Resi Jantika Lamantara dan menolongnya berdiri.

"Semua adalah atas kehendak dan kuasa Para Dewa.

Perlindungan itu datang dari Yang Maha Kuasa. Aku sama dan tiada beda dengan dirimu. Kita adaah orang-orang yang hidup untuk mengabdi pada ummat manusia."

"Resi Khandawa dan para sahabat semua. Kalau saja saya boleh mengundang rasanya lebih baik kita meneruskan pembicaraan di Kuil Bromo Agung tempat kediaman saya..."

"Dengan senang hati aku menerima undanganmu Resi Jantika. Apa aku akan mendapat suguhan teh harum. Aku mendengar kabar teh di sini ini lebih sedap dari teh di daerahku. Apalagi jika dicampur pemanis gula merah."

Resi Jantika berjalan paling depan mendampingi Resi Khandawa. Wiro dan yang lain-lain mengikuti di belakang. Sang surya yang bersinar cukup terik tidak terasa panas karena hawa gunung yang sangat sejuk mampu membendung keterikan itu.

Sampai di Kuil Bromo Agung tempat kediaman Resi Jantika Lamantara dan Resi Aji Sumabarang, para tamu disuguhi teh manis bergula merah serta singkong dan ubi rebus hangat.

"Buah putih panjang dan merah bulat yang direbus ini." kata Resi Khandawa Abitar sambil menunjuk pada singkong dan ubi rebus, "Tak ada di negeriku. Sungguh sedap..." Sang Resi menyeka bibirnya lalu meneruskan ucapan. "Kailan semua disini tadi menyaksikan bagaimana aku telah mempecundangi Resi Mirpur Patel, yang kalian kenal sebagal insan tanpa wajah Itu.

Namun karena dia tidak mati, aku yakin dia akan melakukan pembalasan. Karena itu aku mengingatkan agar kalian semua terus berhati-hati. Sekarang, kalau boleh aku ingin menanyakan beberapa hal pada kalian. Aku mulai dengan sahabat berbaju biru.

Purnama, waktu di gurun tadi kau menyebut nama Deewana Khan. Dia salah satu orang kepercayaanku. Tapi aku punya firasat dia sudah lama meninggalkan dunia fana ini. Bagaimana kejadiannya kau mengenal Deewana Khan?"

Purnama lalu menuturkan peristiwa sewaktu Deewana Khan menemuinya dan menyerahkan dua kitab bernama Kitab Jagat Pusaka Dewa. Satu kitab asli tapi dalam keadaan hangus, satunya salinan yang tidak dapat dibaca karena semua halamannya kosong melompong.

"Deewana Khan keadaannya sangat mengerikan. Mukanya berlumuran darah. Mata kanan hanya merupakan rongga besar menggidikkan..."

"Itu pasti pekerjaan Resi Mirpur Patel," kata Resi Khandawa Abitar pula. "Kau menerangkan Deewana Khan menyerahkan dua buah kitab. Dimana kau simpan dua kitab itu sekarang?"

Sebenarnya dari penglihatannya Resi Khandawa Abitar sudah tahu kalau dua kitab itu berada pada pemuda gondrong yaitu Pendekar 212 Wiro Sableng. Dia bertanya sekedar untuk menguji kejujuran sahabat-sahabat barunya itu.

Purnama menjawab. "Deewana Khan berpesan agar dua buah kitab diserahkan pada sahabat Wiro. Karena katanya hanya Wiro yang sanggup memecahkan rahasia yang ada dalam kitab."

"Benar Resi, dua buah kitab itu ada padaku. Karena aku yakin dua kitab adalah milikmu maka aku akan menyerahkan padamu."

Dari balik pakaiannya Wiro keluarkan dua buah kitab dimaksud lalu menyerahkan pada Resi Khandawa Abitar. Sang Resi meletakkan dua buah kitab di atas dadanya. Wiro menjelaskan. "Berdasarkan petunjuk dalam kitab yang hangus aku dan Purnama mendatangi Gunung Bromo dan bertemu dengan seorang manusia dari alam gaib mengaku bernama Suma Mahendra. Dia banyak membantu memberi penjelasan. Menurut Suma Mahendra ratusan tahun silam dia menitis masuk ke dalam tubuh seorang bayi bernama Cakra Mentari..."

Belum selesai Wiro menutur, Resi Khandawa Abitar mengangkat tangan kanan. "Cakra Mentari! Itulah pemuda yang menjadi budak ilmu sesat Resi Mirpur Patel. Bukankah dia yang telah mencelakai dirimu?"

Wiro mengangguk.

"Bukankah dia juga yang memperkosa dan membunuh sekian banyak gadis tak berdosa?"

Wiro mengangguk lagi.

"Jika kelak kau berhadapan dengan dirinya kuraslah tiga ratus lima bunga tanjung yang ada dalam tubuhnya. Niscaya dia tidak akan berdaya."

"Suma Mahendra juga mengatakan hal itu," berucap Purnama. "Namun sayang dia tidak menerangkan bagaimana cara menguras bunga tanjung yang ada dalam tubuh Cakra Mentari.

Apakah Resi Khandawa mengetahui sesuatu?"

Resi Khandawa Abitar yang duduk bersila di lantai kuil letakkan dua kitab di pangkuan lalu mengambil Tongkat Kuntala Biru. Dia minta Wiro mengembangkan telapak tangan kanan lalu ujung tongkat ditempelkan ke telapak yang terkembang. Sesaat kemudian tongkat biru tampak bergetar. Satu aliran cahaya biru menjalar dari ujung yang berkeluk ke ujung yang menempel di telapak tangan Wiro. Ketika cahaya biru menyentuh telapak tangan itu ujung tongkat Kuntala Biru mengepul dan terpental ke atas setinggi setengah jengkal. Wiro sendiri merasakan tubuhnya seperti dihenyak dibenamkan ke lantai kuil, keringat membanjir, pakaiannya sampai kuyup. Pada bagian bawah pusarnya dimana terdapat tanda putih bekas tempelan bunga tanjung terasa mendenyut sakit seperti ditusuk puluhan jarum. Sampai-sampai rahangnya menggembung menahan sakit.

Resi Khandawa Abitar kerenyitkan kening. Dia membungkuk memperhatikan telapak tangan Wiro. Samar-samar dia melihat ada tulisan tiga angka di telapak tangan itu. Angka 212. Seperti yang diriwayatkan, ketika Eyang Sinto Gendeng mewariskan ilmu kesaktian pada Pendekar 212 di puncak Gunung Gede, nenek sakti itu telah membuat jarahan angka 212 dengan jarum di dada sang murid. Angka ini kemudian dilenyapkan oleh Ki Gede Tapa Pamungkas karena menurut guru Sinto Gendeng ini tanda jarahan tiga angka itu hanya akan lebih banyak mendatangkan mudarat ketidakbaikan dari pada manfaat kebaikan. Musuh secara mudah mengenali Wiro.

Selain angka 212 di dada, Eyang Sinto juga memasukkan angka 212 ke dalam telapak tangan Wiro. Telapak tangan yang mengandung racun itu bisa membunuh lawan dengan sekali hantam saja. Ketika pertama kali turun gunung Wiro memang sering mempergunakan ilmu kesaktian ini. Semua orang jahat yang dihajarnya tewas dengan tanda angka 212 hitam gosong di keningnya. Kalaupun orang yang dipukul tidak sampai mati namun seumur hidup angka 212 di keningnya tidak bisa dilenyapkan. Rimba persilatan di tanah Jawa geger. Banyak yang berpendapat bahwa mati dengan tanda angka 212 di keningnya bagi para penjahat sudah cukup pantas. Namun banyak pula yang menganggap hal itu sebagai tindakan kekejaman. Selanjutnya Wiro jarang mempergunakan ilmu pukulan ini karena selain tidak mau meninggalkan tanda pamer diri, dia juga tidak mau dicap sebagai pendekar muda yang sombong.

Melihat apa yang terjadi Resi Khandawa Abitar berkata.

"Ah ... maafkan aku yang tidak tahu. Pintu masuk rupanya sudah ada yang menjaga. Anak muda, mohon ganti tangan kananmu dengan tangan kiri."

***TUJUHWIRO garukkan dulu tangan kirinya ka kepala baru diulurkan. Telapak tangan dikembang. Seperti tadi kembali Resi Khandawa Abitar letakkan ujung tongkat Kuntala Biru di atas telapak tangan kiri Pendekar 212. Cahaya biru mengalir lagi dari gagang tongkat yang berkeluk sampai ke ujung tongkat dan masuk ke dalam tangan Wiro. Kali ini tidak terjadi apa-apa malah Wiro merasa ada hawa sejuk masuk ke dalam tubuhnya. Untuk beberapa saat tubuh murid Sinto Gendeng ini dikerlapi cahaya biru. Ketika kerlap cahaya biru lenyap, Wiro memperhatikan ada keanehan dengan lima kuku jari tangan kirinya. Lima kuku itu tampak berwarna biru muda dan kuning keputihan, tergantung dari arah mana seseorang melihatnya.

"Anak muda, ketahuilah saat ini aku telah meminjamkan ilmu kesaktian bernama Menguras Bahala Menyedot Petaka. Ilmu ini hanya bisa dipergunakan satu kali saja. Kalau kau kesalahan memakai, misal bukan ketika berhadapan dengan lawan lain dan bukan Cakra Mentari, maka sewaktu kau bertarung melawan Cakra Mentari kau tidak lagi memiliki ilmu itu dan seumur hidupnya Cakra Mentari akan merajalela menebar kejahatan. "Resi Khandawa Abitar tarik tongkat saktinya kembali, diletakkan di lantai di samping kanan. Lalu melanjutkan bicara. "Wiro, bilamana kau berhadapan dengan pemuda bernama Cakra Mentari itu, apapun yang dilakukannya kau hanya tinggal mengangkat tangan kiri dengan mengembangkan telapak tangan. Arahkan telapak tanganmu ke bagian kepala. Maka tiga ratus lima bunga tanjung yang ada dalam tubuhnya dan merupakan sebagian dari kekuatannya akan tersedot keluar lewat ubun-ubun di batok kepalanya. Ingat hal ini. Bunga tanjung akan keluar lewat ubunubun di atas kepalanya. Bilamana bunga tanjung tidak keluar dari ubun-ubun di kepala, misal keluar melalui mulut atau telinga, atau dada dan bagian tubuh lainnya, maka orang yang menjadi lawanmu itu sebenarnya bukanlah Cakra Mentari. Tapi bisa saja jejadiannya...."

"Wah repot juga ya Resi!" si bocah berambut jabrik Naga Kuning nyeletuk.

Resi Khandawa Abitar tersenyum. "Satu hal lagi yang perlu kau ketahui. Dari semua bunga itu hanya tiga ratus empat yang jatuh luruh dan mengering ke tanah. Satu sisanya akan melayang di udara, sampai dia menemui seseorang yang ketitipan bunga tanjung yang mencelakai dirimu..."

Sampai di situ tiba-tiba Naga Kuning tertawa geli.

Gondoruwo Patah Hati cepat mencekal kuduk bocah ini. "Anak konyol! Jangan kau berani macam-macam! Apa yang ada di otakmu! Pasti yang kotor-kotor!"

"Tidak apa," ucap Resi Khandawa Abitar. "Sobat kecil Naga Kuning, boleh tahu apa yang membuat kau barusan tertawa geli?"

"Maafkan saya Resi," jawab Naga Kuning. "Waktu bertemu orang bernama Suma Mahendara di kawah Gunung Bromo, orang itu mengatakan bahwa untuk mengalahkan pemuda bernama Cakra Mentari lebih dulu harus mengalahkan mahluk pelindung yaitu mahluk tanpa wajah yang ternyata adalah Resi bernama Mirpur Patel itu. Caranya dengan menghancurkan atau merampas tongkat emasnya. Resi tadi telah melakukan hal itu.

Mengembalikan tongkat emas ke tempat asalnya..."

"Tak ada yang lucu dengan tongkat itu. Lalu apa yang sampai membuatmu tertawa geli?" tanya Resi Khandawa pula.

"Memang bukan tongkat itu yang membuat saya geli. Tapi ada hal yang lain," jawab Naga Kuning.

"Gunung! Kau pasti hendak bicara yang bukan-bukan!"

bentak Gondoruwo Patah Hati kembali marah melihat tingkah dan ucapan si bocah berambut jabrik yang sebenarnya adalah kekasihnya sendiri.

"Nek, aku bicara kenyataan. Bukan mau usil atau kurang ajar. Kau sendiri mendengar keterangan Suma Mahendra waktu di kawah Gunung Bromo. Menurut orang dari alam gaib itu, bunga tanjung yang dipakai untuk mencelakai sahabat kita Wiro konon berada dalam kemaluan perempuan dari alam gaib yang pernah berusaha menolongnya. Resi Khandawa, karena ingat hal itu membuat saya jadi tertawa geli... !"

Resi Khandawa sendiri akhirnya tidak dapat menahan tawa. Setelah mengusap wajahnya yang kemerahan beberapa kali, dia bertanya pada Wiro.

"Apakah kau ingat siapa perempuan dari alam gaib yang telah menolongmu?"

Wiro menggeleng. "Saat itu aku berada dalam keadaan pingsan."

"Tak jadi apa." Ucap sang Resi. "Satu bunga tanjung yang keluar dari tubuh pemuda bernama Cakra Mentari yaitu bunga ke tiga ratus lima akan membimbingmu menemukan perempuan itu."

"Resi Khandawa," kembali Naga Kuning bersuara. "Kalau sudah bertemu, lalu bagaimana caranya mengambil bunga tanjung itu dari dalam anunya perempuan itu? Hik...hik..hik! Apa harus dikorek pakai jari tangan atau pakai lidi atau...."

Naga Kuning tidak dapat meneruskan ucapannya karena rambutnya yang jabrik keburu dijambak oleh Gondoruwo Patah Hati yang sudah sangat geregetan lalu bocah ini dibembengnya keluar dari dalam Kuil Bromo Agung.

Resi Khandawa, Resi Jantika dan Resi Aji Sumabarang tampak senyum-senyum sementara Wiro garuk-garuk kepala sedang Ratu Duyung dan Purnama pura-pura memandang ke jurusan lain. Resi Jantika Lamantara dan Resi Aji Sumabarang tundukkan kepala sambil mempermainkan kalung berbentuk tasbih besar terbuat dari kayu.

"Resi Khandawa," berkata Wiro. "Aku rasa, walau terdengar agak kurang ajar apa yang tadi ditanyakan Naga Kuning ada benarnya. Kalau bunga tanjung yang mencelakai diriku ada di dalam anunya perempuan alam gaib itu, siapapun akan kesulitan mengambilnya. Karena menurut petunjuk lebih lanjut dari Suma Mahendra bunga tanjung satu itu harus di tanam di tanah, di bawah pohon tanjung, di antara dua akar yang tumbuh sejajar."

Resi Khandawa Abitar merenung sejurus. Akhirnya dia berkata.

"Suma Mahendra tidak memberi tahu karena memang sulit memberi petunjuk. Aku sendiri tidak dapat memberi tahu bagaimana caranya. Tapi sementara waku berjalan mudahmudahan Dewa Agung akan memberi petunjuk padamu atau pada salah seorang sahabat yang ada di sini. Bisa saja petunjuk itu di dapat sahabat kecil bernama Naga Kuning tadi."

Resi Khandawa senyum-senyum lalu letakkan ujung tongkat saktinya di atas paha kiri Wiro dan berkata.

"Jika kau berhadapan dengan Cakra Mentari, kebenaran harus ditegakkan. Namun harus selalu kau ingat. Di atas kebenaran itu ada akal sehat yang bernama kebijaksanaan. Cakra Mentari sebenarnya bukan manusia jahat. Dia ditipu, dijebak dan tersesat lalu dijadikan alat oleh Resi Mirpur Patel alias insan tanpa wajah. Dijadikan alat untuk mendapatkan ilmu kesaktian luar biasa..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.198.245.233
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia