Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : DADU SETAN

SATU

Malam hari di pantai Losari. Walau angin bertiup cukup kencang dan udara dingin, air laut tampak tenang. Sejak senja sebuah kapal kayu besar berbendera merah bergambar naga hitam telah melego jangkar di perairan Tanjung Losari. Pada saat malam bertambah gelap karena bulan separuh lingkaran tertutup awan, dari pintu di lambung kapal sebelah kanan keluar dua orang bertubuh tinggi tegap, berpakaian dan berikat kepala serba putih. Orang pertama masih muda, bertampang keren, berkumis kecil. Di sampingnya berdiri seorang lelaki berusia lanjut, kakek memelihara janggut dan kumis menjulai sampai di bawah dagu, berwarna hitam karena dicat. Kedua orang ini sama-sama memiliki alis tinggi mencuat, bermata sipit dan berkulit kuning.

Saat itu sebuah tangga telah terpasang, menghubungi pintu di kapal dengan sebuah sampan yang sejak petang hari telah merapat di perut kapal kayu. Sampan ini ditunggui seorang pendayung berpakaian hitam. Orang tua di pintu kapal berpaling pada lelaki muda di sampingnya.

"Ingat rencana. Begitu sampai di daratan tukang perahu itu harus kau habisi! Kita tidak mau ada seorangpun saksi hidup dalam urusan ini! Kau mengerti Siauw Cie?" Lelaki muda berkumis kecil yang dipanggil dengan nama Siauw Cie anggukkan kepala. Lalu berkata.

"Silahkan Bun enghiong. " (enghiong = orang gagah/panggilan kehormatan).

Orang tua she Bun mundur satu langkah. "Kau turun duluan," katanya. Kedua orang ini bicara dalam bahasa Cina.

Siauw Cie kencangkan buhul kain putih ikat kepala lalu tidak menunggu lebih lama tanpa menuruni tangga langsung saja melompat, melayang masuk ke dalam sampan. Ketika dua kakinya menginjak lantai sampan, perahu kecil ini sedikitpun tidak oleng. Satu pertanda bahwa Siauw Cie memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Hal ini diperhatikan oleh pemilik sampan dengan berdecak penuh kagum.

Hanya sesaat setelah Siauw Cie berada di atas sampan, orang tua bernama Bun Pek Cuan melesat pula ke bawah. Ternyata dia memiliki gerakan lebih sebat serta ilmu meringankan tubuh lebih andal dibanding Siauw Cie. Ini terlihat selain sampan tidak bergerak, sampan kayu kecil ini juga tidak diberati dan tidak turun masuk ke dalam air laut. Di atas sampan kedua orang Cina itu tidak duduk melainkan tetap berdiri.

Begitu dua orang berpakaian serba putih sudah berada di atas sampan serta melihat isyarat anggukan kepala dari Siauw Cie, pemilik sampan yang sejak tadi menunggu segera mendayung sampannya.

Sambil berdiri rangkapkan dua tangan di depan dada sementara angin laut menerpa dingin, Bun Pek Cuan berkata.

"Sampan ini meluncur lamban. Seperti kura-kura merangkak. Kapan kita sampai? Aku tidak sabaran. Kita harus kembali ke kapal dan berangkat sebelum tengah malam. Siauw Cie, lakukan sesuatu. "

"Baik Bun enghiong," jawab Siauw Cie. Lalu dia jongkok di lantai sampan, tangan kanan dicelupkan ke dalam air laut yang dingin. Sekali tangan itu dikibaskan ke belakang, sampan kayu serta merta meluncur pesat ke depan seolah didayung enam orang. Pemilik sampan yang mendayung dan berada di bagian sampan terheran-heran. Setelah beberapa kali memperhatikan tangan Siauw Cie menyapu air dan sampan melesat kencang, pemilik perahu akhirnya letakkan dayung di atas pangkuan dan hanya duduk tertawa-tawa.

Jauh di tepi pantai terlihat satu nyala api. Sampan diarahkan menuju cahaya itu. Tak lama kemudian mereka memasuki arah timur Tanjung Losari dan akhirnya merapat di daratan. Di situ telah menunggu seorang yang membawa sebuah lentera kecil. Nyala api lentera inilah yang tadi terlihat dari tengah laut. Tak jauh dari situ kelihatan tiga ekor kuda tengah merumput.

Bun Pek Cuan melompat ke darat lebih dulu. Di atas sampan Siauw Cie dekati pemilik perahu sambil tangannya mengeruk saku pakaian. Mengira akan menerima bayaran pemilik perahu langsung ulurkan tangan kanan dengan telapak terkembang. Tapi yang keluar dari dalam saku Siauw Cie bukannya uang bayaran melainkan dua buah jari lurus sekeras besi.

"Bett!"

Sekali hantam saja tanpa suara tubuh pemilik sampan terkulai roboh di lantai sampan. Pada kening kelihatan dua buah lobang mengucurkan darah! Siauw Cie angkat orang yang telah jadi mayat itu lalu dicemplungkan ke dalam laut.

Orang yang membawa lentera kecil tidak melihat apa yang terjadi di atas sampan karena selain. hal itu berlangsung sangat cepat dan tanpa suara, pandangannya terhalang oleh sosok tinggi besar Bun Pek Cuan. . Bun Pek Cuan mendatangi lelaki yang membawa lentera. Lalu berkata. "Namaku Hantu Putih. Kami orang-orang perjanjian. Kami datang membekal kata sandi Malam Gelap. Beritahu namamu, ucapkan kata sandi. " ternyata Bun Pek Cuan panda) berbahasa daerah setempat walau tidak begitu lancar.

Lelaki berpakaian hitam yang memegang lentera kecil membungkuk sedikit. "Namaku Hantu Hitam. Kata sandiku Laut Dingin. "

Saat itu Siauw Cie sudah berada di samping Bun Pek Cuan. "Bagaimana, apakah enghiong sudah memeriksa?"

"Nama dan kata sandinya cocok. Dia memang orang kita," jawab Bun Pek Cuan.

Lelaki bernama samaran Hantu Hitam campakkan lentera ke laut lalu melangkah ke arah tiga ekor kuda yang tengah merumput.

*

* *Perkuburan Karangsembung terletak di barat daya Tanjung Losari. Selain udara gelap dan dingin, kabut aneh yang tak biasanya muncul kini terlihat mengambang di beberapa sudut tanah pemakaman, membuat suasana terasa menggidikkan. Lapat-lapat di kejauhan terdengar suara rentak kaki kuda mendatangi. Tak lama kemudian seolah setan di malam buta, dari kegelapan tampak tiga ekor kuda dan tiga penunggang melompat pagar rendah batas timur tanah pekuburan. Di depan sekali adalah lelaki berpakaian hitam si Hantu Malam. Di belakangnya menyusul Bun Pek Cuan dan Siauw Cie.

Setelah berputar-putar beberapa kali di tanah pekuburan yang cukup luas itu, mereka sampai di hadapan sebuah makam. Makam yang mereka datangi masih baru. Ini terlihat dari gundukan tanah yang masih merah dan berbagai macam bunga masih segar bertebaran di atas gundukan tanah makam.

"Kuburan ini tidak ada papan atau batu nisan. Apa kau yakin ini kuburan yang kita tuju?" Siauw Cie bertanya pada Hantu Hitam, mempergunakan bahasa setempat.

"Kubur ini memang sengaja tidak diberi tanda. Tapi sahabat berdua tidak perlu khawatir. Sejak pagi orang-orangku telah mengawasi pekuburan ini. "

"Pasti ini kuburannya Nyi Inten Kameswari?" tanya Bun Pek Cuan.

"Kami tidak mau kesalahan membuat urusan," menimpali Siauw Cie.

"Pasti! Seribu pasti!" jawab Hantu Hitam meyakinkan.

"Kapan jenazah Nyi Inten dimakamkan?"

"Menjelang sore tadi. . . "

"Bisa kita gali sekarang?" tanya Bun Pek Cuan.

"Bisa. . . " jawab Hantu Hitam.

"Kita butuh tenaga dan peralatan," berkata Siauw Cie.

"Jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan. " Hantu Hitam lalu keluarkan suara suitan dua kali. Dari kegelapan malam melompat keluar dua lelaki berpakaian hitam-hitam bertubuh kekar. Masing-masing membawa pacul dan obor yang belum dinyalakan. Hantu Hitam memberi isyarat. Dua orang yang barusan datang segera menyalakan obor lalu ditancapkan pada kuburan di kiri kanan makam baru. Tempat itu kini jadi terang benderang. Selanjutnya ke dua orang ini dengan cepat menggali makam yang menurut Hantu Hitam adalah makam Nyi Inten Kameswari.

Cukup lama menggali akhirnya jenazah ditemukan lalu dinaikkan ke atas. Dibaringkan di tanah. Keadaannya masih utuh, terbungkus kain kafan yang dilumuri tanah liat.

"Bun enghiong, jenazah sudah siap. . . . " berkata Siauw Cie. Orang tua berkumis menjulai anggukkan kepala. Lalu dia jongkok di samping jenazah. Lima jari tangan kanan Bun Pek Cuan mengusap dan meraba bagian pinggang lalu pindah ke arah perut. Lima jari tangan orang tua ini mendadak tampak bergetar.

"Siauw Cie, aku sudah menemukan letaknya yang tepat," ucap Bun Pek Cuan setengah berbisik.

"Silahkan Bun enghiong melanjutkan. Saya akan memagari tempat ini," jawab Siauw Cie. Lalu dia dongakkan kepala, sepasang mata dipejamkan dan dua tangan direntang di depan dada dengan telapak mengembang. "Enghiong, keadaan aman. . . "

"Sett. . . sett. . . . sett. . . sett. . . sett!"

Di bawah nyala dua api obor, di atas kain kafan putih tibatiba satu persatu secara aneh lima jari tangan Bun Pek Cuan melesat panjang, berwarna hitam dengan lima kuku terpentang mencuat seperti ujung-ujung pisau putih berkilat, luar biasa tajam!

Hantu Hitam merasa tengkuknya dingin sementara dua orang yang tadi menggali kuburan berdiri dengan muka pucat dan sama tersurut dua langkah. Sesuatu yang mengerikan akan terjadi!

"Wuttt!"

Tibatiba tangan kanan Bun Pek Cuan menghunjam ke bawah. Menembus tepat di perut jenazah Nyi Inten Kameswari.

"Brettt!" kain kafan robek.

Di kejauhan terdengar suara raungan anjing. Suasana terasa tambah tegang menggidikkan.

Tangan kanan Bun Pek Cuan amblas hampir sebatas siku.

Serta merta kain kafan putih kotor dibasahi darah. Pergelangan tangan Bun Pek Cuan membuat putaran ke kiri dan ke kanan. Tak selang berapa lama perlahan-lahan tangan itu diangkat kembali. Keadaannya berlumuran darah. Di dalam genggaman tangan si orang tua kelihatan dua buah benda putih kekuningan berbentuk kubus. Dengan tangan kirinya Bun Pek Cuan mengambil satu kantong kulit kecil warna hitam dari balik pakaian. Dua buah benda putih kekuningan dimasukkan ke dalam kantong lalu kantong kulit hitam dimasukkan kembali ke balik pakaian.

"Sett. . . . sett. . . sett. . . . sett. . . sett!"

Satu persatu jari tangan kanan Bun Pek Cuan mengerut ke bentuk asal. Lima benda berbentuk pisau di ujung jari lenyap. Begitu juga darah yang sebelumnya berselepotan di tangan ikut sirna.

"Hantu Hitam" lekas perintahkan dua orang itu mengubur jenazah kembali," kata Bun Pek Cuan sementara Siauw Cie masih tegak mendongak, mata terpejam dua tangan mengambang.

Tak lama setelah jenazah dimasukkan Kembali ke Hang lahat dan tanah kuburan ditimbun, Bun Pek Cuan membuka mulut. "Padamkan obor! Suruh mereka pergi. "

Setelah memberikan sejumlah uang. Hantu Malam menyuruh dua penggali makam meninggalkan tempat itu. Hantu Hitam ambil dua buah obor yang menancap di atas dua kuburan lalu membantingkan ke tanah hingga apinya padam. Sesaat kemudian Siauw Cie rendahkan kepala, buka dua mata yang terpejam dan turunkan dua tangan yang mengembang. Dia memberi isyarat kedipan mata pada Bun Pek Cuan lalu berkelebat pergi.

"Sahabat muda itu, mengapa dia pergi duluan?" tanya Hantu Hitam pada Bun Pek Cuan.

"Dia hanya memeriksa keadaan sekitar sini. Untuk memastikan semua dalam keadaan aman. " Jawab Bun Pek Cuan.

"Tugasku sudah selesai. Aku juga ingin pergi. Harap sahabat tua memberikan bayaran. "

"Jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan satu bayaran besar untukmu," jawab Bun Pek Cuan sambil tertawa. Dia memberi isyarat agar Hantu Hitam datang mendekat. Beg itu Hantu Hitam maju dua langkah, Bun Pek Cuan bukan memberikan uang, justru tangan kirinya melesat dalam satu jotosan luar biasa cepat dan keras.

"Bukk!".

Hantu Hitam menjerit. Suara jeritannya lenyap berbarengan dengan semburan darah dari mulut. Tubuh terjengkang, muka mengkeret dan mata mendelik.

Tak lama kemudian Siauw Cie muncul kembali.

"Beres?" tanya Bun Pek Cuan.

Siauw Cie mengangguk. "Dua tukang gali itu sudah ku habisi. Sebaiknya kita segera kembali ke kapal. "

Dua orang berpakaian serba putih melompat ke atas kuda lalu memacu tunggangan masing-masing ke arah Tanjung Losari. Jauh sebelum tengah malam keduanya sudah sampai di tepi pantai, melompat turun dan berjalan cepat ke arah sampan di atas pasir. Di langit bulan setengah lingkaran tersibak dari balik awan gelap, membuat suasana di tepi pantai menjadi lebih terang. Begitu sampai di samping sampan, Bun Pek Cuan dan Siauw Cie sama-sama terkejut. Langkah masing-masing tertahan, dua kaki laksana dipantek. Di dalam perahu saat itu berbaring melunjur seorang lelaki gemuk berambut putih sebahu, berpakaian jubah bagus warna hijau, lengkap dengan topi tinggi warna merah. Baik topi, rambut, tubuh maupun pakaian si gemuk ini tampak basah kuyup. Satu-satunya benda yang masih dalam keadaan kering adalah sebuah hudtim (kebutan) warna ungu di tangan kanan yang berwarna hitam. Kebutan ini dikipas-kipaskan di depan wajahnya yang bulat. Udara di pantai selain dingin juga ada tiupan angin. Sementara sekujur tubuhnya basah kuyup. Namun si gemuk di dalam perahu kelihatan seperti kepanasan. Ketika menyeringai tampak deretan gigi besar-besar berwarna merah seperti dilumuri darah.

"Hek Chiu Mo!" seru Bun Pek Cuan dan Siauw Cie berbarengan. Kedua orang ini dalam kejut masing-masing segera saja bersikap waspada penuh. (Hek Chiu Mo = Iblis Tangan Hitam) Mereka bukannya kenal lagi dengan si gemuk bertangan hitam ini. Hek Chiu Mo adalah salah seorang momok golongan hitam dirimba persilatan Tionggoan (Tiongkok) bagian selatan. Dia diketahui memiliki tiga senjata ganas. Pertama hudtim ungu di tangan kanan yang sanggup menghancurkan batu sebesar gajah. Lalu tangan kanan berwarna hitam yang juga memiliki daya penghancur luar biasa. Dan ketiga adalah semburan ludah berwarna merah yang mampu menembus setiap bagian tubuh lawan!

Bagaimana manusia satu ini tahu-tahu berada di tempat ini? Memandang ke tengah lautan Bun Pek Cuan dan Siauw Cie tidak melihat kapal lain selain kapal kayu besar yang sebelumnya mereka tumpangi.

"Siauw Cie," bisik Bun Pek Cuan. "Ada yang membocorkan rahasia perjalanan kita. "

Orang yang berbaring di dalam sampan menyeringai. Kelihatan deretan gigi-gigi besar berwarna merah seperti dilumuri darah. Mulut terbuka. Suaranya perlahan sekali, tidak sesuai dengan keadaan kepala dan tubuhnya yang besar gemuk.

"Jangan heran. Kita menumpang kapal yang sama. Tapi datang ke pantai ini aku lebih suka berenang dari pada naik perahu seperti kalian. "

Bun Pek Cuan batuk-batuk lalu berkata.

"Sungguh satu pertemuan tidak diduga tidak disangka!" ucap Bun Pek Cuan.

Si gemuk dalam perahu gelengkan kepala.

"Kau dan temanmu boleh menganggap begitu. Namun bagiku ini satu pertemuan yang sudah aku rencanakan sebelumnya. Sejak kita masih sama-sama berada di Tionggoan. "

Melihat gelagat tidak baik Siauw Cie berkata.

"Hek Chiu Mo, kami tak punya waktu banyak. Kami harus segera kembali ke kapal. Kau mau ikut sama-sama?" Siauw Cie berkata sambil memberi isyarat kedipan mata pada Bun Pek Cuan.

Si gemuk dalam perahu perlahan-lahan bangkit dan duduk. Tangan kanannya yang berwarna hitam masih mengipas-ngipaskan hudtim. "Perahu sekecil ini tidak mungkin dimuati kita bertiga. Lagi pula aku tidak punya niat buru-buru kembali ke kapal. "

"Kalau begitu harap kau sudi keluar dari perahu. Kami akan mempergunakan perahu itu untuk kembali ke kapal," kata Bun Pek Cuan pula.

"Tentu saja. . . . tentu saja," jawab Hek Chiu Mo. Lalu sekali bergerak tubuhnya yang gemuk melesat ke udara. Ketika turun ke pasir, kepalanya menjejak. menempel pasir pantai lebih dulu. Dua kaki melejang-lejang, mulut keluarkan suara tertawa. Si gemuk kemudian melesat ke udara, ketika turun kembali, kali ini kakinya dengan enteng menginjak pasir.

"Sudan lama tidak bersalto, aku sampai salah. Kepala turun duluan. . . . Ha. . . ha. . . ha. " Si gemuk melucu. Namun bagi Bun Pek Cuan dan Siauw Cie jelas orang ini sengaja memperlihatkan kepandaian. Tanpa banyak menunggu kedua orang ini segera hendak masuk ke dalam perahu.

"Dua sahabat, sebelum pergi ada sesuatu yang ingin kutanyakan. " Tibatiba Hek Chiu Mo berkata, membuat Bun Pek Cuan dan Siauw Cie dengan jengkel terpaksa hentikan langkah.

"Kami ingin cepat. Maaf saat ini tidak bisa berjawab tanya denganmu. Nanti saja diteruskan kalau bertemu di Tionggoan. " kata Bun Pek Cuan.

"Ah, sayang sekali. Kalian ingin cepat, akupun terburu-buru . Agar adil bagaimana kalau aku tidak akan mengizinkan kalian pergi dari sini!"

"Apa maksud orang gagah Hek Chiu Mo?" tanya Bun Pek Cuan.

"Maksudku begini!"

Habis berkata begitu Hek Chiu Mo tendangkan kaki kanannya. Sekali menendang sampan kayu di atas pasir pantai mencelat hancur berkeping-keping.

"Aku tahu kalian tak bisa berenang. Jadi tak mungkin kembali ke kapal. Ha. . . ha. . . ha!" Hek Chiu Mo tertawa perlahan. Air liurnya yang berwarna merah bercucuran ke dagu.*

* *DUAMelihat perbuatan si gemuk Hek Chiu Mo menghancurkan sampan, marahlah Bun Pek Cuan dan Siauw Cie. "Hek Chiu Mo!" hardik Bun Pek Cuan. "Selama ini tak ada silang sengketa diantara kita! Hari ini jauh dari negeri sendiri, kau sengaja mencari lantai terjungkat!"

Hek Chiu Mo tertawa perlahan. Hudtim di tangan kanan terus dikipas-kipaskan di depan wajahnya yang gemuk berkeringat.

"Bun Pek Cuan, kalau kakimu yang pincang, jangan mengatakan lantai yang terjungkat. Ucap kata dan tindak sikapmu sombong sekali. Aku hanya ingin bicara sesuatu, tapi kau menolak seolah kau tengah ditagih hutang saja.

Ha. . . ha. . . ha!" Dalam soal bicara Iblis Tangan Hitam memang dikenal paling nomor satu di Tionggoan.

"Hek Chiu Mo, sebaiknya kau berterus terang saja. Katakan apa yang kau inginkan dari kami!" Kata Siauw Cie walau sebenarnya dia dan juga Bun Pek Cuan sudah bisa menduga apa yang diinginkan tokoh silat golongan hitam di hadapannya itu.

"Orang sudah bertanya, wajib aku menjawab," ucap Hek Chiu Mo. Lalu tangan kirinya ditudingkan ke arah pinggang pakaian Bun Pek Cuan. "Aku inginkan dua buah benda yang kau simpan di balik pakaianmu. Dalam sebuah kantong kulit berwarna hitam. Apa ucapanku sudah jelas?!"

"Aku tidak memiliki kantong kulit hitam di balik pakaianku. Bagaimana mungkin aku memberikan padamu?" ujar Bun Pek Cuan pula.

Mendengar ucapan itu, Hek Chiu Mo tersenyum.

"Tidak sangka orang yang punya nama besar sepertimu pandai pula berdusta!" Ucap Hek Chiu Mo.

"Hek Chiu Mo, harap kau tidak, mengada-ada!" Siauw Cie ikut bicara.

"Aku Hek Chiu Mo ini orang sederhana. Bersikap selalu lemah lembut. Dalam setiap urusan tidak suka bertindak keras. Apakah hal itu tidak bisa jadi bahan pertimbangan kalian berdua?"

"Kau membuang waktu kami saja!" Suara Bun Pek Cuan mulai keras.

"Waktuku juga sudah banyak terbuang," menyahuti Hek Chiu Mo. Suaranya tetap perlahan. Hudtim di tangan kanan terus dikipas-kipas.

"Siauw Cie!" kata Bun Pek Cuan kesal. "Mari kita tinggalkan orang aneh satu ini!"

Hek Chiu Mo menyeringai. "Apakah aneh kalau aku meminta barang yang bukan milikmu?!"

"Barang apa?!" bentak Siauw Cie.

Lagi-lagi si gemuk Hek Chiu Mo sunggingkan senyum.

"Baiklah, kalau kalian tak mau memberikan biar aku mengambil sendiri!"

Habis bekata begitu tubuh gemuk Hek Chiu Mo melangkah ke arah Bun Pek Cuan. Hudtim di tangan kanan dikebut.

"Wutt!"

Selarik sinar ungu yang keluar dari kebutan menerpa ganas ke arah wajah Bun Pek Cuan. Tahu akan kedahsyatan senjata di tangan lawan, Bun Pek Cuan cepat menghindar sambil jauhkan kepala sementara kaki kanannya tahu-tahu melesat ke arah perut Hek Chiu Mo. Siauw Cie tak tinggal diam. Dari samping tangan kanannya dengan dua jari terpentang lurus menusuk ke arah leher Iblis Tangan Hitam.

Tubuh gemuk Hek Chiu Mo bergerak lentur menghindari dua serangan lawan. Hudtim ungu kembali dikebutkan. Lingkaran cahaya ungu berbentuk setengah Ijngkaran membeset udara.

Bun Pek Cuan berseru kaget dan melompat mundur dengan muka pucat. Kumis kirinya yang menjulai ke bawah dagu terbabat putus kena sambaran kebutan hingga' tampangnya jadi lucu dan membuat Hek Chiu Mo tertawa mengekeh.

"Bun Pek Cuan, aku sudah memberi peringatan. Apa kau masih belum mau menyerahkan benda yang aku minta?!"

"Kau bekerja untuk siapa? Siapa yang menyuruhmu mendapatkan benda itu?!" tanya Siauw Cie tanpa menyadari kalau pertanyaannya itu memberi kesan bahwa benda yang dicari dan diingini Hek Chiu Mo memang ada padanya atau pada Bun Pek Cuan.

"Tak ada yang memerintah. Aku bekerja untuk diri sendiri!" jawab Hek Chiu Mo.

"Bagus! Kalau begitu kami tidak akan susah-susah memberi tahu tuanmu bahwa kau sudah menemui ajal di negeri orang" kata Siauw Cie pula. Lalu orang ini melesat ke depan.

Sepuluh jari tangan membeset lurus, lebih keras dari besi. Siauw Cie memiliki ilmu kuntauw yang disebut Sepuluh Jari Besi. Sesuai namanya ke sepuluh jari tangan Siauw Cie bisa berubah lurus dan sekeras besi. Setiap jurus yang dilancarkan sangat ganas mematikan. Bun Pek Cuan tak kalah ganas. Dari balik pakaian putihnya dia hunus sebuah golok yang dalam malam gelap menebar cahaya hijau angker.

Baik Bun Pek Cuan maupun Siauw Cie yang masih muda adalah orang-orang rimba persilatan yang disegani. Tingkat kepandaian mereka telah banyak kali membuat kegemparan di daratan Cina. Cahaya golok hijau di tangan Bun Pek Cuan bertabur ganas mengeluarkan hawa dingin. Yang diserang adalah bagian tubuh lawan mulai dari leher ke bawah. Sementara sepuluh jari besi Siauw Cie berkelebat mencari sasaran mulai dari leher sampai kepala. Walau dua orang ini punya nama besar karena ilmu silatnya yang tinggi namun Hek Chiu Mo merupakan dedengkot golongan hitam yang sudah dikenal dan ditakuti di delapan penjuru rimba_ persilatan Tionggoan, terutama di bagian selatan.

Kebutan ungu menderu memapas dan menangkis serangan golok hijau Bun Pek Cuan serta melindungi kepalanya dari tusukan jari-jari besi Siauw Cie. Tiga jurus berlalu cepat dan jelas terlihat dua lawan yang dihadapi Iblis Tangan Hitam mulai kewalahan. Beberapa kali kebutan ungu membentur badan golok di tangan Bun Pek Cuan. Bukan saja golok dan tangan Bun Pek Cuan jadi tergetar hebat, tetapi bagian tajam dari mata golok hijau itu gompal di tiga tempat! Siauw Cie sendiri kalau tidak berlaku sigap dua kali tangan kirinya hampir kena hantaman hudtim. Walau dia mampu selamatkan tangan tetap saja ujung lengan kiri baju putihnya hangus kehitaman dan robek besar.

"Bun Pek Cuah, kau mau serakan benda itu hidup-hidup atau minta mati lebih dulu?!" Hek Chiu Mo memperingatkan sekaligus mengancam.

Sebagai jawaban Bun Pek Cuan berteriak. "Iblis gendut keparat! Kau rupanya yang sudah bosan hidup! Lihat golok!"

"Wuttt!"

Golok di tangan Bun Pek Cuan berkelebat dalam jurus bernama Langit Meratap Bumi Menangis. Sinar hijau bertabur.

"Breett!"

Dada jubah hijau yang dikenakan Hek Chiu Mo robek besar. Kulit dadanya ikut tergores sepanjang satu jengkal hingga mengucurkan darah. Ternyata keberhasilan Bun Pek Cuan menciderai lawan harus dibayar mahal. Karena pada saat yang hampir bersamaan hudtim di tangan Hek Chiu Mo menyambar dari samping.

"Praakk!"

Kepala bagian kiri Bun Pek Cuan hancur mengerikan. Orang tua ini mengerang satu kali lalu roboh ke pasir pantai tak berkutik lagi!

Melihat kematian sahabat tuanya Siauw Cie berteriak marah dan mengamuk. Dia keluarkan jurus-jurus silat simpanannya hingga beberapa kali Hek Chiu Mo berseru kaget dan bergerak sebat menghindar dari serangan ganas yang selalu mengarah leher dan kepala. Setelah didesak selama hampir empat jurus, kini giliran Iblis Tangan Hitam ganti menggempur. Hudtim ungu bersuit-suit di udara. "

Siauw Cie bertahan mati-matian untuk selamatkan diri. Karena serangan lawan semakin ganas, Siauw Cie memutar otak. Dia berpikir lebih baik selamatkan diri sambil berusaha mengambil kantong kulit yang ada di balik pakaian Bun Pek Cuan dari pada menemui ajal percuma di tangan Iblis Tangan Hitam.

Didahului satu bentakan keras Siauw Cie lantas kebutkan lengan baju sebelah kanan. Dari bawah jubah melesat tiga senjata rahasia berbentuk pisau terbang beracun.

"Licik sekali!" ucap Hek Chiu Mo lalu kebutkan hudtim ungu.

"Wuttt!"

Tiga pisau terbang bermentalan dan luruh ke tanah.

Sewaktu lawan menangkis serangan tiga senjata rahasianya, Siauw Cie pergunakan kesempatan mengambil kantong kulit hitam yang ada di balik pinggang pakaian Bun Pek Cuan. Dengan merobek pinggang baju Bun Pek Cuan, Siauw Cie segera menemukan kantong kulit itu. Namun sebelum dia sempat menyentuh tahu-tahu Hek Chiu Mo sudah ada di hadapannya. Hudtim ungu dikibaskan ke arah tangan kanan Siauw Cie.

"Kraaakk!"

Siauw Cie seperti disambar petir, menjerit setinggi langit. Tangan kanannya hancur mulai dari ujung jari sampai ke pergelangan! Nyali Siauw Cie pun putus. Kalau tadi dia berusaha selamatkan kantong kulit, sekarang yang lebih penting adalah selamatkan nyawanya. Tidak pikir lebih lama Siauw Cie jatuhkan diri, berguling di pasir lalu melompat dan berkelebat melarikan diri dari tempat itu.

"Manusia-manusia tolol. Memilih mati secara konyol!" kata Hek Chiu Mo pula seraya melangkah mendekati mayat Bun Pek Cuan. Pada pinggang pakaian yang robek tersingkap, dia melihat sebuah kantong kulit hitam. Dengan cepat dia ambil kantong itu. Tali pengikat dibuka, isinya dituangkan ke telapak tangan kiri. Benda yang ada di dalam kantong kulit itu ternyata adalah dua buah dadu putih kekuningan, terbuat dari gading, dihias mata dadu berwarna merah.

Hek Chiu Mo menyeringai, masukkan dua buah dadu kembali ke dalam kantong kulit hitam. Kantong ini kemudian dimasukkan ke dalam saku di sebelah kiri jubah hijau.

Hek Chiu Mo menatap ke langit. "Aku harus segera kembali ke kapal," ucapnya dalam hati. Pada saat hendak melangkah tibatiba dia mendengar sambaran angin di samping kiri. Cepat Hek Chiu Mo palingkan diri. Alangkah terkejutnya lelaki gemuk ini ketika melihat seseorang duduk menjelepok di tepi pasir. Orang ini ternyata adalah nenek berambut kelabu, bermulut perot dan memiliki sepasang mata warna merah yang menatap tajam tak berkesip ke arah Hek Chiu Mo. Daun telinga ditindis dengan giwang terbuat dari tulang-tulang jari manusia. Cipratan ombak membuat rambut kelabu serta jubah kuning yang dikenakannya basah kuyup.

"Manusia aneh. Urusan tidak enak. Dia berdiri di jalur berenangku arah ke kapal. Sengaja menghalangi. Dia bukan orang dari Tionggoan. . . "

Tibatiba nenek di atas pasir acungkan tangan kanan ke arah Hek Chiu Mo. Tangan kiri menepuk-nepuk pinggang. Lalu mulutnya berteriak.

"Serahkan padaku dua dadu di dalam kantong kulit!. " Celakanya Hek Chiu Mo tidak tahu bahasa setempat. Tapi dari gerak isyarat orang dia tahu kalau si nenek inginkan dua dadu yang ada di kantong kiri jubah hijau. Tokoh silat berbadan gemuk ini gelengkan kepala, goyang-goyang tangan kiri sedang tangan kanan di lambai-lambaikan ke samping memberi tanda agar si nenek pergi dari situ.

Nenek yang duduk di atas pasir pantai balas menggeleng. Tangan kanan dilambaikan, memberi isyarat agar Hek Chiu Mo mendatanginya!

Tidak mau mencari urusan membuang waktu Hek Chiu Mo lari sepanjang tepi pasir. Di satu tempat setelah cukup jauh dari nenek aneh itu dia akan mencebur masuk laut dan berenang menuju kapal. Si nenek tidak tinggal diam. Dalam sikap masih duduk tubuhnya naik ke atas sejarak satu jengkal, lalu melayang ke kiri mengikuti arah lari Hek Chiu Mo! Tokoh silat golongan hitam dari Tionggoan ini hentikan lari. Tubuh si nenek berhenti pula melesat dan turun duduk kembali di atas pasir. Kejut Hek Chiu Mo bukan alang-kepalang. Seumur hidup baru kali ini dia melihat ada orang memiliki kepandaian seperti itu. Sementara Hek Chiu Mo masih diselimuti perasaan heran, seperti tadi nenek berjubah kuning berteriak agar Hek Chiu Mo serahkan benda yang dimintanya.

Setelah diam sejenak, mencari akal akhirnya Hek Chiu Mo keluarkan kantong kulit hitam dari saku jubah sebelah kiri. Benda ini diacungkan tinggi-tinggi ke udara dan digoyang-goyang sambil tangan kanannya yang memegang kebutan memberi tanda agar si nenek mendatangi. Begitu si nenek mendekat akan dihantamnya dengan kebutan serta pukulan tangan kiri.

Nenek mata merah berambut kelabu tidak terpancing. Dia tetap berada di tempatnya duduk dan kembali berteriak agar Hek Chiu Mo menyerahkan kantong kulit. Wajahnya kini tampak garang pertanda dia mulai marah.

"Gendut! Berikan kantong kulit itu padaku. Lemparkan kesini! Aku akan memberi jalan bagimu untuk berenangi kembali ke kapal!"

Walau tidak tahu bahasa yang diucapkan orang tapi Hek Chiu Mo cukup mengerti apa kemauan si nenek.

"Aku sudah mau memberi. Tapi kau tidak mau mengambil! Perduli setan!" Tokoh silat dari Tionggoan selatan ini masukkan kantong kulit ke dalam saku jubah kembali. Lalu dengan sangat tibatiba tangan kiri yang berwarna hitam itu memukul ke depan. Berbarengan dengan itu kebutan di tangan kanan ikut dihantamkan. Sinar hitam dan cahaya ungu menyambar nenek di tepi laut.

Pasir pantai laksana digusur topan berhamburan ke udara, meninggalkan lobang dalam dan panjang. Air laut membentuk ombak besar, muncrat ke udara setinggi tiga tombak! Nenek di atas pasir menjerit keras. Ketika air laut surut dan pasir luruh ke pantai kembali, perempuan tua itu tak kelihatan lagi.

Hek Chiu Mo sunggingkan seringai. Dia menyangka si nenek sudah amblas ke dalam laut dan menemui ajal. Tapi alangkah terkejutnya tokoh golongan hitam daratan Cina selatan ini ketika mendadak terdengar suara tawa cekikikan. Datangnya dari tiga arah sekaligus!*

* *TIGAMemandang ke depan Hek Chiu Mo melihat nenek rambut kelabu bermata merah berdiri tegak di atas pasir tidak kurang suatu apa. Malah berdiri sambil berkacak pinggang dan sunggingkan seringai sinis. "Luar

biasa! Ilmu apa yang dimiliki manusia ini hingga jangankan mati, ciderapun dia tidak dihantam dua serangan saktiku!" pikir Iblis Tangan Hitam. Sebenarnya nenek jubah hitam tidak memiliki kemampuan untuk adu kekuatan dan menangkis langsung dua serangan lawan. Dia bisa selamatkan diri karena memiliki daya gerak yang sangat cepat ditambah ilmu meringankan tubuh luar biasa tinggi.

Yang kemudian membuat Hek Chiu Mo terlonjak kaget adalah ketika berpaling ke kanan. Beberapa langkah di arah itu berdiri nenek yang sama, berjubah kuning, rambut kelabu mata merah, beranting-anting tulang jari manusia dan bertolak pinggang sambil menyeringai.

"Gila! Bagaimana bisa jadi dua?!"

Belum habis kejut Hek Chiu Mo sudut mata sebelah kiri menangkap sesuatu. Cepat si gemuk ini berpaling dan! Astaga! Di arah ini lagi-lagi dia melihat seorang nenek berambut kelabu bermata merah berjubah kuning lengkap dengan anting-anting tulang! Jadi ada tiga nenek yang sama! Bagaimana mungkin?

"Aku berhadapan dengan setan perempuan berilmu tinggi, punya kepandaian sihir!" pikir Hek Chiu Mo.

Tibatiba nenek di sebelah depan berteriak. Tangan kiri ditepuk-tepukkan ke pinggang.

Dua nenek di kiri kanan melakukan hal yang sama! Berteriak sambil menepuk pinggang kiri.

"Serahkan dadu!" teriak nenek di sebelah depan.

"Serahkan dadu!" Dua nenek lainnya ikutan berteriak.

"Ilmu setan harus dihadapi dengan ilmu setan!" Hek Chiu Mo rangkapkan dua tangan di depan dada. Tubuh mengeluarkan sekilas sinar. Lalu sosok itu berubah menjadi lebih besar dan lebih tinggi. Hudtim ungu di tangan kanan ikut membesar. Di atas kepalanya yang mengenakan topi merah mencuat sepasang tanduk. Muka yang tadi gemuk polos kini ditumbuhi cambang bawuk dan jenggot serta kumis meranggas. Sepasang matanya mendelik besar berwarna hitam. Ketika menyeringai kelihatan deretan gigi-gigi besar serta lidah basah dengan cairan merah! Sepuluh kuku jari tangan mencuat panjang, memancarkan cahaya redup menggidikkan. Hek Chiu Mo ternyata punya kepandaian merubah diri menjadi raksasa! Didahului suara menggembor Hek Chiu Mo melompat ke arah nenek rambut kelabu yang ada di sebelah depan. Tangan kanan kebutkan hudtim, tangan kiri lepaskan pukulan jarak jauh mengandung tenaga dalam tinggi. Sinar ungu dan lima larik cahaya hitam berkiblat!

Nenek rambut kelabu mata merah di sebelah depan tertawa melengking.

"Raksasa jejadian! Siapa takut! Di hutan Roban aku punya selusin mahluk macam beginian! Hik. . . hik. . . hik!" Nenek ini lalu tertawa panjang.

Dua nenek lainnya ikut keluarkan suara tawa yang sama. Tiga nenek kemudian melompat setinggi dua tombak, selamatkan diri dari dua serangan lawan lalu laksana kilat berkelebat lancarkan serangan balasan.

"Bukk! Bukk! Bukkk!"

"Desss!"

Dua jotosan keras mendarat di dada Hek Chiu Mo. Satu tendangan melanda perutnya yang buncit! Hek Chiu Mo hanya geliatkan badan . seperti tidak merasa sakit sedikitpun. Sebaliknya salah seorang dari tiga nenek rambut kelabu yaitu yang sebelah kiri hanya tertawa mengekeh sewaktu hudtim ungu mengemplang kepalanya! Padahal kepala manusia biasa seperti yang terjadi dengan Bun Pek Cuan pasti akan hancur dihantam kebutan itu.

"Gila! tidak mempan! Aku harus bisa menggebuk yang asli! Kalau tidak aku bisa celaka! Tapi yang mana nenek yang asli?!"

Sementara si gemuk dari Tionggoan selatan itu kebingungan, tiga nenek menjerit keras dan serempak kembali menyerang. Hek Chiu Mo kebutkan hudtim. Cahaya ungu setengah lingkaran melindungi dirinya. Sementara tangan kiri siap melancarkan pukulan tangan kosong ke arah depan, dari tanduk di kepalanya mencuat dua larik sinar biru, melesat k arah nenek di sebelah kiri dan kanan!

Dua nenek yang diserang lagi-lagi keluarkan suara jeritan dan teruskan gempuran. Tapi serangan mereka terhalang oleh sambaran hudtim. Kini mereka malah disambar dua larik sinar biru. Nenek di sebelah kanan melesat ke udara selamatkan diri. Yang sebelah kiri hancur tercabik-cabik dan kepulkan asap begitu kena hantaman sinar biru. Namun cabikan tubuh itu menyatu lagi dan kembali ke ujud semula!

"Yang depan atau yang kanan!" pikir Hek Chiu Mo lalu tangan kiri keluarkan cahaya hitam, menyambar ke arah nenek di sebelah depan sementara dari tanduk di atas kepala mencuat kembali dua larik sinar biru yang menggebubu ke arah nenek di sebelah kanan. Tidak terduga nenek sebelah kiri yang tadi telah tercabik-cabik tibatiba melesat sebat dan tahu-tahu telah berada dua langkah dengan tangan kanan melepas satu jotosan dahsyat.

Hek Chiu Mo segera sorongkan kepala. Dua tanduk aneh menusuk dada nenek yang melepas jotosan. Si nenek terpental, keluarkan pekik kesakitan. Tapi keadaannya tidak cidera sedikitpun. Padahal tembok batu setebal dua kaki sanggup dihantam jebol oleh sepasang tanduk itu.

Ketika melihat dua sinar biru menderu ke arahnya, nenek sebelah kanan cepat melesat ke udara. Dalam keadaan melayang dia lepas dua pukulan tangan kosong yang memancarkan sinar kemerahan. Hek Chiu Mo keluarkan suara menggembor lalu menyembur. Cairan merah kental menyambar menangkis dua sinar kemerahan pukulan tangan kosong nenek di sebelah kanan dan terus melabrak ke arah sasaran. Nenek satu ini berteriak keras. Muka dan pakaiannya di sebelah penuh berselomotan cairan merah. Namun yang membuat Hek Chiu Mo jadi kaget ialah nenek ini tidak mengalami cidera sedikitpun. Padahal semburan ludah berdarah yang dilakukannya tadi sanggup membuat patah batang pohon dan menghancurkan gundukan batu besar!

Kini Hek Chiu Mo sadar bahwa mahluk asli berupa nenek rambut kelabu itu adalah yang berada di sebelah depannya dan yang barusan dihantam dengan pukulan tangan kiri. Kalau pukulan dahsyat itu sempat menyambar ke arah lawan, namun si nenek sebelah depan masih bisa menghindar dengan jatuhkan diri ke tanah. Lalu dalam keadaaan tengkurap nenek ini menyeringai, goyangkan kepala. Saat itu juga dua larik sinar merah berkiblat keluar dari sepasang mata, langsung menyambar ke arah leher dan perut Hek Chiu Mo. Tokoh golongan hitam Tionggoan selatan ini keluarkan pekikan pendek lalu tergelimpang di tanah. Lehernya nyaris putus sementara perut robek besar. Sosoknya yang tadi berbentuk setengah raksasa perlahan-lahan menciut ke bentuk asal.

Menyaksikan Hek Chiu Mo menemui ajal, nenek yang tadi melepaskan dua sinar merah dari matanya cepat mendatangi untuk mengambil kantong kulit hitam yang tersembul di pinggang. Namun mendadak satu bayangan putih menyambar kantong kulit itu lalu kabur ke balik semak belukar.

"Jahanam kurang ajar! Siapa berani mati!" teriak si nenek lalu angkat dua tangan ke atas dan berteriak pada dua nenek di depannya.

"Kejar! Bunuh!"

Dua nenek yang diberi perintah serta merta melesat ke arah semak belukar melakukan pengejaran. Tak selang berapa lama dua nenek itu kembali muncul. Yang sebelah kanan melangkah sambil menenteng kepala manusia yang bukan lain adalah kepala Siauw Cie. Nenek di sebelah kiri membawa kantong kulit hitam. Begitu sampai di hadapan nenek pertama, nenek di sebelah kanan campakkan kutungan kepala hingga menggelinding di atas pasir pantai. Nenek pertama angkat kaki, menahan kepala yang menggelinding.

"Eyang Sepuh Kembar Tilu! Dia pencurinya!"

Nenek yang dipanggil dengan sebutan Eyang Sepuh Kembar Tilu menyeringai. "Ternyata orang asing dari kapal. Eh, bukankah dia yang sebelumnya telah dihajar oleh si gendut itu?" Kaki si nenek menendang. Kutungan kepala mencelat masuk ke dalam laut.

"Eyang Sepuh, kantongnya. . . " kata nenek di samping kiri seraya mengulurkan kantong hitam yang dipegangnya. Sepasang mata Eyang Sepuh berkilat-kilat. Isi kantong diperiksa. Setelah memasukkan kantong kulit ke balik dada pakaian, Eyang Sepuh angkat tangan kanan di atas kepala. Dua mata menatap ke arah dua nenek di hadapannya yang memiliki ujud sama dengan dirinya. Dari ujung-ujung jari tangan Eyang Sepuh Kembar Tilu mengepul asap tipis. Si nenek berucap perlahan.

"Kalian berdua pulanglah!"

Saat itu juga dua nenek yang menyerupai ujud Eyang Sepuh serta merta lenyap laksana ditelan angin malam!

Bersamaan dengan menghilangnya dua nenek rambut kelabu tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan disusul ucapan.

"Eyang Sepuh Kembar Tilu! Pertunjukkan yang sangat mengagumkan. Tidak sia-sia aku datang dari jauh untuk menyaksikan!"

"Wehhh!" Si nenek rambut kelabu mata merah dongakkan kepala ke langit, agak heran. Dalam hati dia bekata. "Suaranya sedikit lain. Tapi hanya dia yang tahu. . . "

"Raden Kumalasakti, aku tidak mengira kalau Raden sudi hadir di tempat ini. "

"Karena barang yang dicari sudah didapat, harap Eyang Sepuh menyerahkan padaku. "

"Tentu, tentu saja. . . " kata Eyang Sepuh Kembar Tilu lalu melangkah ke arah datangnya suara. Dari kegelapan keluar seorang penunggang kuda, berpakaian serba hitam, mengenakan topi kain yang bagian depannya ada cadar tipis hingga wajah orang ini tidak kelihatan. Di sebelah belakang ada dua penunggang kuda lagi, juga berpakaian hitam tapi tidak mengenakan topi, bercadar.

Pada jarak satu langkah di samping nenek rambut kelabu, penunggang kuda bercadar berhenti. Dia mengambil kantong kulit hitam yang dikeluarkan si nenek dari balik dada pakaian. Setelah menimang-nimang kantong itu sebentar dia berkata.

"Hadiah dan bayaran untukmu dapat kau ambil besok pagi di tempat perjanjian di selatan Losari! Kerjamu bagus! Aku akan tambahkan beberapa hadiah! Misalnya anting tulang di dua telingamu itu. Layak diganti dengan anting emas!"

"Terima kasih Raden," jawab si nenek. Sambil membungkuk dan mengulum senyum dia ikuti kepergian tiga penunggang kuda. Dia menunggu sebentar lalu berkelebat Ke arah lenyapnya ke tiga orang itu.

Selewat tengah malam, Raden Kumalasakti dan dua pengiring sampai di desa kecil bernama Cangkring. Di jalan masuk menuju desa terdapat sebuah kedai minuman yang selalu buka sampai larut malam, walaupun pada masa itu keadaan di kawasan tersebut tjdak begitu aman, banyak orang jahat berkeliaran.

Melihat kemunculan tiga orang tak dikenal berpakaian serba hitam dan salah seorang diantara mereka mengenakan cadar, semua pengunjung yang ad a di dalam kedai cepat-cepat membayar lalu tinggalkan tempat itu. Mereka menduga ke tiga orang yang barusan masuk ke dalam kedai adalah kawanan begal. Dari pada cari perkara lebih baik cepat-cepat pergi.

Pemilik kedai dan istrinya , yang sudah berpengalaman menghadapi berbagai macam tamu, berusaha tenang saja melayani ke tiga orang yang barusan datang. Dengan cepat mereka menyuguhkan minuman bandrek panas, singkong, ubi dan pisang rebus hangat.

Setelah meneguk minuman, lelaki bercadar keluarkan kantong kulit hitam yang diberikan Eyang Sepuh Kembar Tilu. Dua temannya memperhatikan. Ketika isi kantong digulir di meja, kaget ke tiga orang itu bukan alang kepalang. Dua benda yang tergeletak di atas meja bukannya yang seperti mereka duga. Bukan dua buah dadu putih tetapi dua buah batu hitam!

"Kurang ajar! Kita kena ditipu!" teriak orang bercadar sambil menggebrak meja hingga minuman dan makanan yang ada di atas meja melesat berhamburan!

"Kita kembali! Cari nenek sialan itu! Akan aku gorok batang lehernya!"

Tiba-tiba dari sudut kedai yang agak gelap terdengar suara tawa cekikikan.

"Kalian tidak usah jauh-jauh mencari. Aku ada di sini!"EMPATTiga kepala dipalingkan. Tiga pasang mata memandang mendelik ke arah salah satu sudut kedai yang agak gelap. Disitu memang tampak duduk Eyang Sepuh Kembar Tilu, si nenek berambut kelabu bermata merah. Amarah lelaki bercadar bukan alang kepala. Dia ambil dua buah batu dan kantong kulit hitam yang tercampak di lantai. Lalu melompat ke hadapan si nenek dan bantingkan dua buah batu serta kantong kulit hitam hingga melesak ke dalam kayu meja!

"Ck. . . ck. . . ckkk!"? Si nenek decakkan mulut. "Pertunjukkan hebat! Tapi aku tidak tertarik. Hik. . . hik. . . hik!"

"Tua bangka penipu!" teriak lelaki bercadar. "Lekas berikan dua buah dadu itu padaku!

Dan aku akan mengampuni selembar nyawa anjingmu!"

Si nenek ganda tertawa mendengar ucapan orang.

"Aku tidak akan menipumu kalau kau tidak menipuku lebih dulu! Kau inginkan dua buah dadu? Silahkan ambil!"

Si nenek ulurkan tangan kiri yang tinggal kulit pembalut tulang lalu usap dua buah batu yang melesak di papan meja. Ketika tangan diangkat dua buah batu hitam telah berubah menjadi dua buah dadu putih bermata merah.

"Nah, nah. . . Kenapa pada melongo?!" Eyang Sepuh Kembar Tilu tertawa mengekeh melihat Raden Kumalasakti dan dua anak buahnya tegak ternganga menyaksikan apa yang terjadi. Tiba-tiba lelaki bercadar ini jentikan ibu jari dan jari tengah tangan kirinya.

"Klik!"

Dua lelaki berpakaian hitam di samping meja langsung gerakkan tangan.

"Srett! Srett!"

Dua golok berkilat keluar dari sarungnya, terus dibacokkan ke arah nenek rambut kelabu yang duduk di belakang meja.

"Dua monyet hitam! Kenapa kalian jadi kalap?! Terima bagianmu!"

Sosok nenek rambut kelabu lenyap. Ketika papan meja hancur dilanda bacokan dua golok, dari bawah kolong meja melesat dua tangan. Dua lelaki berpakaian serba hitam menjerit keras. Golok terlepas, tubuh mencelat mental, jatuh malang melintang di atas kursi kayu. Setelah menggelepar-gelepar keduanya terkapar tak berkutik lagi. Tubuh bagian bawah perut hancur. Darah menggenangi lantai kedai!

Lelaki bercadar berteriak marah. Sambil tangannya menghunus golok, kaki kanan menendang hingga meja kayu yang sudah hancur kini mental berkeping-keping. Namun si nenek rambut kelabu tak kelihatan!

"Jahanam! Mau lari kemana?!" teriak orang bercadar dan bergerak ke arah pintu.

"Aku masih di sini. Apa matamu sudah buta?! Hik. . . hik. . . hik!"

"Setan alas!"

Orang bercadar babatkan golok besar di tangan kanan ke arah datangnya suara. Namun serangan ini tertahan begitu satu tangan mencekal pergelangan yang memegang golok. Orang bercadar menjerit kesakitan ketika tangannya dipuntir lalu badannya didorong ke tiang kedai hingga tiang itu patah dan membuat atap nyaris roboh.

"Hik. . . hik! Beraninya kau menipuku! Kau bukan Raden Kumalasakti!" "Brett!"

Nenek rambut kelabu betot cadar hitam yang menutupi wajah orang. Ketika cadar tersingkap kelihatan satu wajah hitam berhidung lebar pesek dan bopeng! Hidung lebar pesek itu tampak bengkok patah dan mengucurkan darah.

"Pengemis Muka Bopeng dari Karangkoneng!" si nenek berseru. Lalu decakkan lidah. "Ilmu kepandaian baru sedengkul, beraninya kau mempermainkan diriku!"

"Nenek setan! Biar hari ini aku mengadu jiwa denganmu!" Habis berkata begitu lelaki muka bopeng layangkan satu jotosan keras dengan tangan kiri. Yang di arah adalah bagian dada si nenek. Kalaupun tidak bisa menghabisi lawan paling tidak dia hams dapat menghancurkan dua buah dadu yang diketahuinya disimpan si nenek di batik dada pakaian.

Untuk kalangan rimba persilatan di perbatasan Jawa sebelah barat dan Jawa sebelah tengah nama Pengemis Muka Bopeng dari Karangkoneng memang cukup ditakuti. Konon dia memiliki anggota hampir dua ratus orang yang berkeliaran mengemis sambil berbuat kejahatan dan terkadang melakukan hal-hal tak senonoh terhadap kaum perempuan. Walau sudah punya nama besar namun untuk menghadapi Eyang Sepuh Kembar Tilu pengemis bopeng ini belum bisa menandingi.

Sebelum jotosannya mampu menyentuh dada lawan tiba-tiba si nenek tangkap tangan kiri lelaki itu lalu kreek. . . kreek. . . kreek. Jari-jari tangan Pengemis Muka Bopeng hancur berpatahan. Pengemis Muka Bopeng menjerit setinggi langit.

"Tanganmu akan aku hancurkan sampai ke bahu. . . " ucap si nenek. "Kecuali kau memberi tahu siapa yang menyuruhmu memainkan sandiwara tolol ini!" "Kreek. . . kreekkk"

Tangan si nenek naik ke atas, kini mulai menghancurkan telapak tangan Pengemis Bopeng. Untuk kesekian kalinya lelaki ini menjerit kesakitan. Tibatiba Pengemis Muka Bopeng tarik kepalanya ke belakang lalu dengan nekat kepala ini dibenturkan ke kepala si nenek. Dua kepala beradu keras. "Praakk!"

Si nenek terhuyung ke belakang, keluarkan tawa mengikik. Pengemis Muka Bopeng begitu kepalanya beradu langsung terbanting ke belakang lalu roboh ke lantai. Kening rengkah mengerikan. Darah membasahi muka yang bopeng, mata mendelik. Tubuh menggeliat satu kali lalu diam tak berkutik lagi.

Eyang Sepuh Kembar Tilu usap-usap keningnya lalu perhatikan mayat Pengemis Muka Bopeng seketika. Sambil gelengkan kepala nenek berambut kelabu ini berkata. "Aneh, dia lebih suka bunuh diri dari pada membuka rahasia. Agaknya ada seseorang yang ditakutinya dibalik semua perbuatannya. " Si nenek memandang berkeliling. Ternyata di dalam kedai yang porak poranda itu hanya tinggal dia sendirian. Semua tamu dan juga suami istri pemilik kedai tak kelihatan lagi. Si nenek melangkah ke arah dapur. Dalam sebuah ceret besar dari tanah dia menemukan minuman air jahe yang masih panas karena belum lama diseduh. Enak saja si nenek kucurkan minuman itu ke dalam mulut dan meneguknya dengan lahap. Sebelum pergi dia letakkan sekeping kecil perak di atas meja dapur. Walau ganas tapi rupanya dia masih punya hati nurani untuk mengganti kerusakan di kedai itu.

Di sebuah ruangan di dalam kapal kayu besar yang mengapung di perairan Tanjung Losari. Malam tambah larut, tambah gelap dan tiupan angin laut menjelang pagi terasa semakin dingin.

Di pintu ruangan terdengar langkah kaki lalu suara pintu diketuk.

Tiga buah lilin besar yang ada dalam ruangan serta merta padam oleh lambaian tangan seorang perempuan bercadar yang duduk di kursi, dekat sebuah jendela.

"Masuk!" perempuan di atas kursi keluarkan ucapan.

Pintu ruangan membuka berderik. Seorang lelaki bertubuh tinggi besar berdiri di ambang pintu. Dia tidak segera masuk, tapi tegak dulu berdiam diri untuk menyesuaikan pandangan matanya dalam kegelapan. Sesaat kemudian baru dia masuk ke dalam ruangan, itupun tidak jauh.

Hanya dua langkah dari ambang pintu orang ini berhenti. Setelah terlebih dulu membungkuk baru dia membuka mulut.

"Kiang Loan Nio Nikouw, saya Tek It Hui, nakhoda kapal Naga Hitam. Datang menghadap memberi laporan. " Tek it Hui tidak meneruskan ucapannya, menunggu tanggapan orang yang duduk di atas kursi.

"Sampaikan laporanmu, nakhoda. "

"Semua orang yang turun ke darat, satupun belum ada yang kembali Saat ini hampir pagi. Saya menunggu, putusan yang akan Kiang Loan Nio Nikouw ambil. Apakah terus menunggu atau kita segera berangkat saja. " (Nikouw = panggilan terhadap Paderi perempuan)

Perempuan bercadar di atas kursi memandang keluar jendela. Setelah memperhatikan keadaan di luar sana dia berkata. "Kita sudah memberi waktu lebih dari cukup. Seharusnya salah satu dari mereka sudah kembali paling lambat sekitar tengah malam. Sekarang menjelang pagi. Aku punya firasat mereka semua gagal menjalankan tugas. "

"Berarti kita tak perlu menunggu, berangkat sekarang juga. Atau Kiang Loan Nio Nikouw berubah pikiran. Ingin turun sendiri ke darat?"

Kiang Loan Nio Nikouw alihkan kepala dari jendela kapal. Lalu menghela nafas dalam. "Aku pernah mendengar ketinggian ilmu kepandaian serta kehebatan ilmu kesaktian orang-orang di tanah Jawa. Tapi apa mereka begitu perkasanya hingga tokoh kang ouw sehebat Bun Pek Guan, Tong Siauw Chie dan Hek Chiu Mo menemui kegagalan? Mungkin sekali mereka saat ini sudah menemui ajal semua. . . . " Paderi perempuan itu berpaling pada nakhoda kapal yang tegak dalam kegelapan. (kangouw= rimba persilatan Tiongkok)

"Aku ingin sekali menjajaki tanah Jawa. Tapi tidak sekarang. Kita akan datang lagi dalam waktu cepat. Pasti. Nakhoda It Hui, kau ingat nama pendekar tanah Jawa yang pernah diberi tahu oleh Wakil Ketua Siauw Lim pay. sebelum kita berangkat?"

Nakhoda kapal Naga Hitam berpikir sejenak. "Kalau saya tidak salah mengingat namanya Wie Lo Sab Leng. . . "

"Nama aneh. Terdiri dari empat kata. Apakah Wie itu she nya atau apa?"

Nakhoda It Hui tertawa. "Setahu saya orang Jawa tidak pakai she. "

"Kau yakin nama depannya Wie, bukan Lie?"

"Saya yakin sekali Loan Nio Nikouw. "

Paderi perempuan yang wajahnya tertutup cadar mengangguk.

"Nakhoda, ada baiknya kita segera berangkat sekarang saja, ingat, jangan meniupkan peluit. Sampai kapal merapat di Tionggoan aku harap tidak seorangpun menggangguku. "

"Saya mengerti Loan Nio Nikouw. "

Nakhoda Tek It Hui membungkuk dalam-dalam. Lalu melangkah ke pintu. Begitu lelaki itu lenyap di balik pintu dan pintu kembali ditutup, perempuan yang dipanggil sebagai paderi segera berdiri dari kursi. Dari dalam sebuah lemari kecil dia mengeluarkan dua buah benda. Pertama sebuah tas kecil, satunya sebuah papan seluncur. Dengan cepat dia mengeluarkan seperangkat pakaian ringkas warna merah lalu berganti pakaian. Selesai bersalin tas kecil digantungkan di punggung. Masih mengenakan cadar yang menutupi kepala dan wajah dia membuka jendela lalu menyelinap ke luar. Untuk beberapa lama Loan Nio Nikouw bergelantungan di sanding jendela. Lalu papan seluncur dilempar ke bawah. Begitu papan mengapung di permukaan air laut, paderi perempuan ini lepaskan pegangannya pada sanding jendela. Tubuhnya melayang dalam gelap. Beberapa saat kemudian kaki kanannya telah mendarat di atas papan seluncur. Begitu kaki kiri dimasukkan ke dalam air dan dikibas ke belakang, papan seluncur melesat di permukaan air laut.*

* *Ditemukannya tiga mayat fang Cina di pantai, satu diantaranya tanpa kepala menimbulkan kehebohan besar di Losari dan daerah sekitarnya. Kehebohan itu jadi bertambah hebat setelah penduduk mengetahui pula adanya tiga mayat tak dikenal di pantai Losari serta tiga mayat di kedai minuman Akang Punten. Tiga mayat itu ternyata adalah Pengemis Muka Bopeng Dari Karangkoneng bersama dua anak buahnya. Sementara itu menjelang siang di tepi pantai terlihat mengapung sesosok mayat yang kemudian diketahui adalah Supri, seorang nelayan. Kehebohan tidak sampai di situ. Penjaga pekuburan di Karangsembung memberitahu terjadinya pembongkaran atas makam Nyi Inten Kameswari.

Setelah mendapat cukup; banyak keterangan dari anak buahnya Kepala Pasukan Kadipaten Losari Rayi Jantra menghadap Adipati Raden Seda Wiralaga untuk memberi laporan. Rayi Jantra seorang1 lelaki bertubuh tinggi tegap, memelihara kumis dan jenggot. tipis. Sebenarnya Losari hanyalah sebuah kota pantai yang kecil tidak pantas kalau di sana ada seorang Adipati. Namun karena letaknya yang sangat strategis di kawasan perbatasan maka Kerajaan di timur sengaja menempatkan seorang Adipati di sana. Maksudnya tiada lain adalah untuk mengawasi Kerajaan di barat. Sebenarnya Losari masih merupakan daerah di bawah kekuasaan Kerajaan di barat. Namun karena Kerajaan di barat begitu lemah maka wilayah tersebut tidak sempat terjangkau dan diperhatikan sebagaimana mestinya. Akibatnya penduduk di sana merasa lebih dekat pada orang-orang di timur. Hal ini tidak disia-siakan oleh Kerajaan di timur. Maka mereka menempatkan seorang Adipati di Losari. Dibawah Adipati Seda Wiralaga Losari maju pesat. Baik di bidang pertanian, nelayan maupun perdagangan. Banyak kapal-kapal asing yang berlabuh di tanjung untuk menurunkan barang dagangan sekaligus mengangkut hasil bumi penduduk termasuk beberapa hasil pertambangan.

"Kematian Pengemis Muka Bopeng dan dua anak buahnya, apakah sudah diketahui siapa pembunuhnya?" tanya Adipati Seda Wiralaga.

"Menurut pemilik warung pembunuh adalah seorang nenek berambut kelabu, sepasang mata merah dan berjubah kuning. Akang Punten mengaku baru satu kali itu melihat orang tersebut. " Menerangkan Kepala Pasukan.

"Dari ciri-ciri itu bisa diduga si pembunuh adalah orang rimba persilatan. . . " kata Adipati Losari sambil mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut tipis. "Tujuh orang menemui ajal di hari yang sama. Menurutku semua kejadian ini ada sangkut pautnya dengan kapal Cina yang muncul di perairan Tanjung Losari. Bagaimana pendapatmu Rayi Jantra?"

"Semua orang menduga demikian, Adipati," jawab Kepala Pasukan.

"Lain kali, jika ada lagi kapal asing muncul di Tanjung Losari, langsung memberi tahu padaku. Jangan baru melapor setelah ada kejadian seperti ini. "

"Mohon maaf atas kelalaian saya ini Adipati. "

"Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, tambah jumlah pasukan di semenanjung. "

"Akan segera saya lakukan Adipati. "

"Mengenai kejadian aneh di pekuburan Karangsembung, apa saja yang kau ketahui?" tanya Adipati Seda Wiralaga.

"Penjaga pekuburan menemukan tanda-tanda makam Nyi Inten Kameswari dibongkar orang lalu ditimbun kembali.

Perempuan ini meninggal dan dikubur kemarin sore. Kejadian ini diberi tahu pada Anom Miharja, suami Nyi Inten. Pagi itu Anom Miharja mendatangi pekuburan Karangsembung. Makam Nyi Inten dibongkar. Jenazah ditemukan masih dibungkus kain kafan. Namun perutnya robek besar. Padahal menurut suami Nyi Inten dan disaksikan banyak orang, sewaktu dikubur jenazah dan kain kafan istrinya dalam keadaan utuh!"

"Jika perut jenazah dirobek berarti seseorang mengambil sesuatu dari dalam perut itu. . . " ucap Adipati Seda Wiralaga sambil usap tengkuknya yang mendadak terasa dingin.

"Mengambil apa, Adipati?" tanya Rayi Jantra pula.

"Mungkin mengambil jantung, hati atau isi perutnya yang lain. . . . "

"Tapi untuk apa orang tega-teganya melakukan hal itu, Adipati?"

Adipati Losari terdiam sesaat. Lalu berkata memuji. "Itu pertanyaan bagus. Kau tahu Rayi, sekarang ini jaman edan. Banyak orang edan menuntut ilmu edan yang punya syarat-syarat edan!" Sang Adipati terdiam lagi seketika, baru kemudian menyambung ucapannya. "Kau tahu rumah kediaman Anom Miharja. Temui dia. Suruh datang menghadapku. Kita perlu keterangan. Mungkin dia tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan jenazah istrinya. Seumur hidup baru kali ini aku mendengar ada makam dibongkar, jenazah dijarah isi perutnya!"

"Saya minta izin berangkat sekarang juga, Adipati. " Kepala pasukan membungkuk memberi hormat lalu undur diri dari hadapan sang Adipati.

Rumah kediaman Raden Anom Miharja terletak di desa Babakan, pinggiran selatan Losari, berupa sebuah gedung mewah besar dengan halaman luas. Ketika Kepala Pasukan Rayi Jantra sampai di gedung itu bersama dua orang anak buahnya, kelihatan banyak orang berkerumun di pintu gerbang.

"Ada apa ramai-ramai di sini?" tanya Rayi Jantra.

"Raden Anom Miharja mati gantung diri di kandang kuda," jawab seseorang.

Mendengar keterangan orang Kepala Pasukan Kadipaten Losari ini bersama dua perajurit segera masuk ke dalam terus menuju halaman belakang dimana terdapat sebuah kandang kuda besar. Di tempat ini lebih banyak lagi orang yang berkerumun. Melihat siapa yang datang orang banyak segera memberi jalan.

Kandang kuda di belakang gedung mewah itu besar sekali. Terbuat dari kayu dan bangunannya tampak kukuh. Bisa memuat enam kuda sekaligus. Saat itu tidak seekor kuda pun tampak di dalam kandang. Di bagian tengah kandang ada satu balok besar melintang. Pada balok ini terikat seutas tali besar. Ujung lain dari tali menjirat di leher seorang lelaki bertubuh gempal yang hanya mengenakan celana putih tanpa baju. Sepasang mata mencelet seperti hendak melompat keluar dari rongganya, lidah terjulur. Keseluruhan wajah yang mengerikan itu membayangkan satu perasaan takut. Tubuh yang tergantung itu adalah Anom Miharja, suami Nyi Inten Kameswari.

Kepala Pasukan Rayi Jantra memperhatikan. Pada dada kiri Anom Miharja ada satu lebam berwarna merah kebiruan. Di bawah dua kaki Anom Miharja yang tergantung setinggi orang duduk tidak terdapat apa-apa, misal kursi atau meja.

Tiga orang pelayan, satu lelaki dua perempuan, duduk menjelepok di tanah, menangis terisak-isak. Rayi Jantra meminjam golok salah seorang anak buahnya lalu menebas putus tali yang menjirat leher Anom Miharja.

Ketika meninggalkan gedung besar, kembali ke tempat mereka menambatkan kuda itu, Rayi Jantra berkata pada dua anak buahnya. "Aku tidak yakin Anom Miharja mati karena bunuh diri. Di dalam kandang tidak kelihatan alat bantu tumpuan kaki yang biasa dipergunakan orang gantung diri. Jika bangsawan kaya raya itu memanjat dulu ke atas atap, mengikat tali ke balok, menjirat leher lalu terjun ke bawah rasanya tak masuk akal. Kalaupun memang itu dilakukannya, lehernya akan tanggal, kepala putus karena balok di atas atap kandang kuda tinggi sekali dudukannya dan bobot tubuh Anom Miharja lebih seratus lima puluh kati beratnya. Yang membuat aku curiga ada tanda merah di dada kirinya. Tepat di arah jantung! Aku punya dugaan, Anom Miharja dibunuh lebih dulu baru digantung. Apa pendapat kalian?"

"Kami berdua perajurit bodoh, tapi jalan pikiran kami kira-kira sama dengan Raden," jawab perajurit di sebelah kiri.

Perajurit sebelah kanan menimpali. "Saya tidak melihat alasan apa sampai Raden Anom Miharja nekat bunuh diri. Harta kekayaan melimpah, istri cantik"

"Kalian pernah mendengar cerita kalau Anom Miharja tidak pernah kawin secara syah dengan Nyi Inten Kameswari?" tanya Rayi Jantra.

"Ya, kami pernah mendengar itu," jawab salah seorang dari dua perajurit sambil melepas ikatan tali kekang kuda tunggangan Kepala Pasukan yang ditambat pada sebatang pohon.

"Lalu apa kalian juga pernah mendengar pergunjingan orang, dari mana Anom Miharja mendapatkan semua harta kekayaannya? Dia bukan juragan nelayan, atau pedagang besar. . . . "

"Setahu saya dia punya sawah puluhan bidang. " "Itu benar. Tapi ada banyak petani di Losari ini yang punya banyak sawah. Sampai saat ini mereka hidup secukupnya kalau tidak mau dikatakan masih saja tetap miskin. " Kata Kepala Pasukan pula lalu naik ke punggung kudanya. Dia tidak segera menjalankan tunggangannya itu malah. bertanya pada dua anak buahnya. "Lalu dari mana sumber semua kekayaan melimpah ruah Anom Miharja?"

"Kami tidak berani menduga, Raden," jawab dua perajurit hampir berbarengan.

"Kalian punya cerita apa tentang Nyi Inten Kameswari?" "Banyak cerita yang saya dengar, tapi saya tidak berani menyampaikan," jawab perajurit bertubuh tinggi langsing bernama Jumena.

"Kalau kau bicara tak ada yang mendengar. Ayo, ceritalah sambil jalan. Aku atasan kalian. Ceritamu tidak akan aku sampaikan pada siapa-siapa jika itu yang kalian khawatirkan. " Kepala Pasukan Losari lalu menarik tali kekang kuda. Binatang itu tidak lari, hanya melangkah perlahan didampingi dua kuda perajurit di sebelah kiri kanan. Perajurit Jumena akhirnya bercerita. "Banyak orang tahu kalau Nyi Inten Kameswari sudah berusia lanjut. Lebih dari lima puluhan. Ada dugaan malah dia lebih tua dari Raden Anom. Tapi raut wajah dan keadaan tubuhnya tetap awet muda, bagus dan mulus. Konon dia banyak mengenal dan berhubungan dengan para pejabat Kerajaan di barat maupun di timur. Diantara para pejabat tinggi itu banyak yang tergila-gila padanya. Raden Anom kabarnya sudah tahu kalau istrinya kerap berselingkuh dengan beberapa pejabat terutama yang dari timur. Namun dia seperti acuh tidak perduli. Konon dari hubungan tidak baik itu Nyi In ten banyak menerima hadiah. "

Rayi Jantra tersenyum mendengar cerita anak buahnya itu. Dia ulurkan tangan kiri menepuk-nepuk bahu Jumena. "Kau perajurit baik. Banyak pengetahuan. Aku akan mengusulkan pada Adipati agar pangkatmu dinaikkan satu tingkat. "

"Terima kasih, Raden. Terima kasih. . . . " Jumena bungkukkan dada berulang kali. Ketiga orang itu kemudian sama menggebrak kuda masing-masing meninggalkan tempat itu.*

* *LIMAPenghujung malam menjelang pagi. Pendekar 212 Wiro Sableng yang tertidur lelap di sebuah dangau dikejutkan oleh suara ribut ha-hu ha-hu. Murid nenek sakti Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini terbangun kaget. Baru saja dia hendak mengusap mata tibatiba. "Braakk!"

Satu tubuh berjubah kuning jatuh tergeletak menelentang di atas lantai dangau terbuat dari bambu. Wiro memperhatikan dengan penuh kejut dan juga kuduk merinding. Si jubah kuning ternyata adalah sosok Seorang nenek berambut kelabu bermata merah. Sepasang telinga ditancapi anting terbuat dari tulang jari manusia. Dua mata merah itu tampak mendelik mengerikan seperti mau melompat dari sarangnya. Pada kening nenek tak dikenal Wiro ini menempel sehelai daun. Ada darah meleleh dari sudut bibir. Dadanya turun naik dan dari mulut serta hidung keluar suara menyengal tak berkeputusan.

"ha-hu ha-hu ha-hu!"

Wiro berpaling ke samping. Astaga! Kaget Pendekar 212 bukan alang kepalang. Di pinggir dangau berdiri dua nenek yang ujudnya sama dengan yang tergeletak di atas lantai dangau. Dari mulut keduanya tiada henti keluar suara ha-hu ha-hu. Sementara sepasang mata dua nenek ini kelihatan basah berkaca-kaca. Tiga nenek dengan pakaian dan wajah yang sama! Manusia sungguhan atau setan kembar tiga, pikir Wiro.

"Siapa kalian?!" tanya Pendekar 212. "ha-hu ha-hu ha-hu!"

Dua nenek kembar kembali keluarkan suara ha-hu ha-hu. Kali ini sembari tangan menunjuk-nunjuk ke arah nenek yang tergeletak di lantai dangau.

"ha-hu ha-hu!" Wiro menirukan sambil garuk kepala. "Kalian ini bicara apa? Mau memberi tahu apa? Kalian berdua gagu?!"

"ha-hu ha-hu. . . " Dua nenek usap air mata yang berlelehan di pipi mereka lalu seperti tadi kembali menunjuk dengan tangan kanan ke arah nenek di atas dangau sementara tangan kiri menepuk kening masing-masing. Mula-mula Wiro masih tidak mengerti apa yang hendak disampaikan oleh dua nenek gagu ini. Setelah berpikir lagi dan menggaruk kepala Wiro menyeringai. Dia memperhatikkan dua nenek menepuk kening sambil menunjuk-nunjuk. Lalu memandang pada nenek satunya yang tergeletak di atas dangau.

"Ah, yang kalian maksudkan daun di kening nenek itu?" "ha-hu ha-hu!" Dua nenek anggukkan kepala berulang kali.

Wiro membungkuk. "Aneh, ada orang sekarat keningnya ditempeli daun. " Wiro ambil daun yang menempel di kening si nenek. Dua nenek di samping dangau buru-buru menjauh, wajah membersitkan ketakutan. Wiro memperhatikan.

"Daun pohon mengkudu. Aneh, mengapa kalian seperti ketakutan melihat daun ini?" tanya Wiro lalu pura-pura hendak menyapukan daun ke tubuh dua nenek.

"ha-hu ha-hu!" Dua nenek menjerit dan mundur menjauh. "Heran, cuma sehelai daun, mengapa pada ketakutan seperti melihat setan kepala tujuh?!"

Pada saat daun mengkudu yang menempel di keningnya diambil Wiro, nenek yang tergeletak di lantai dangau keluarkan suara seperti orang mengorok. Dua mata bergerak liar. Mulut yang. penuh darah terbuka. Suaranya serak. "

Aku dikhianati! Aku dikhianati. . . "

"Nek, siapa yang mengkhianatimu? Kekasihmu?!" tanya Wiro.

"Jangan bergurau! Aku dalam keadaan sekarat!"

Wiro berpaling pada dua nenek berpakaian dan berwajah sama.

"Dua nenek gagu itu apamu?"

"Aku dikhianati. . . . Dua buah dadu. . . . Aku dikhianati. "

Wiro menggaruk kepala.

"Nek, kau dikhianati dua buah dadu? Aku tidak mengerti. Bagaimana mungkin. . . ?"

"Aku mendengar suara, tidak melihat orangnya. Mendekatlah. Jika kau penolongku, maka seribu berkah akan menjadi bagianmu. . . "

Wiro geleng-geleng kepala. Tapi dia dekatkan juga kepalanya ke depan wajah si nenek. Dua mata merah berputar sebelum menatap ke arah Pendekar 212. Saat itu di timur fajar telah menyingsing. Keadaan di dalam dangau dan sekitarnya terang-terang tanah. Si nenek memperhatikan wajah Wiro.

"Haa " Si nenek tank nafas panjang. "Aku dikhianati. . . "

"Siapa yang mengkhianatimu, Nek?"

"Aku tidak tahu. Daun mengkudu. . . . Orang itu tahu kelemahanku. Dengar anak muda. Dari wajahmu aku tahu kau orang baik dan punya kepandaian. Tolong aku mencari pembunuh itu dan dapatkan kembali dua buah dadu yang dirampasnya dariku. . . "

Wiro tertegun dan jauhkan kepalanya dari wajah si nenek.

"Nek, kau ini siapa sebenarnya? Dua nenek yang ha-hu ha-hu itu apamu?" bertanya Wiro.

"Aku Eyang Sepuh Kembar Tilu. Dua nenek itu adalah kembaranku. Daun mengkudu yang kau pegang, lekas musnahkan, kubur dalam tanah. Jangan sampai tersentuh dua nenek kembaranku itu. "

Wiro perhatikan daun mengkudu yang dipegangnya. Lalu memenuhi permintaan si nenek dia bantingkan daun itu hingga amblas masuk ke dalam tanah di samping dangau.

"Kau orang hebat. . . . Terima kasih kau telah menolongku," si nenek rambut kelabu berucap. "Jalanku lapang sekarang. Dua kembaranku aku titipkan padamu. Mereka akan muncul jika kau panggil. Mereka akan terbebas dari penyakit gagu jika pembunuhku menemui ajal. Ingat, cari pembunuhku dan dapatkan dua buah dadu. Selain itu jika kau punya kesempatan, carilah seorang gadis bernama Nyai Rara Santang. "

"Nyai Rara Santang? Siapa dia?" tanya Wiro.

"Sudahlah, aku pergi sekarang. Ingat, aku menitipkan dua kembaranku padamu. . . "

"Jangan Nek. Mengurus diri sendiri saja aku sudah susah. Apa lagi mengurus dua nenek kembaranmu itu. . . . "

"ha-hu ha-hu," dua nenek kembar maju dua langkah dan jatuhkan diri di hadapan Pendekar 212. Wajah mereka menunjukkan minta welas asih.

"Wah, urusan berabe ini!" ucap Wiro sambil garuk kepala.

Nenek di atas dangau menyeringai. Dari tenggorokannya keluar suara mengorok. "Aku pergi sekarang. . . " ucapnya perlahan. Lalu mulutnya terkancing, dua matanya perlahan-lahan menutup.

Dua nenek kembar menggerung keras.

"ha-hu ha-hu ha-hu"

Diam-diam Wiro merasa kasihan juga pada dua nenek kembar gagu itu. Seperti diketahui sebelumnya dua nenek kembar jejadian itu bisa bicara dan tidak gagu. Namun akibat malapetaka yang menimpa kakak kembar mereka yaitu Eyang Sepuh Kembar Tilu, maka keduanya secara aneh mendadak menjadi gagu.

"Dua nenek kembar, sebentar lagi hari akan siang. Bawa jenazah kembaranmu ini. Kuburkan di tempat yang baik. "

"ha-hu ha-hu ha-hu" Dua nenek kembar menggangguk-angguk lalu kembali jatuhkan diri. Salah seorang dari mereka tibatiba bangkit. Dia menunjuk-nunjuk dengan tangan kirinya ke arah jenazah nenek di atas dangau. Lalu dengan tangan yang sama dia menunjuk-nunjuk ke tangan kanannya sendiri. Hal ini dilakukannya berulang kali sampai akhirnya Wiro mengerti dan memperhatikan tangan kanan Eyang Sepuh Kembar Tilu.

Ternyata lima jari tangan kanan si nenek dalam keadaan tergenggam. Sepertinya ada sesuatu dalam pegangan si nenek. Wiro buka lima jari yang tergenggam. Dia menemukan sebuah benda bulat pipih berwarna hitam, terbuat dari sejenis kayu hitam berbau harum.

"Kancing baju. . . . "ucap Wiro. Benda itu kemudian disodorkannya pada nenek sebelah kanan. Si nenek gelengkan kepala, goyang-goyangkan tangan kiri sementara tangan kanan menunjuk-nunjuk ke arah Wiro.

"Nek, kau menyuruh aku menyimpan kancing kayu ini. Buat apa?"

"ha-hu ha-hu ha-hu. . . " Dua nenek bungkukkan diri berulang kali di hadapan Wiro. Sepasang mata mereka tampak basah. Keduanya terisak-isak.

"Sudah. . . sudah. Baik, akan kusimpan kancing sialan ini!" kata Wiro pula lalu memasukkannya ke dalam kantong di kiri celana putihnya. "Sekarang lekas kalian bawa jenazah nenek kembaran kalian ini. Aku minta jangan sekali-kali mengikuti kemana aku pergi!"

"ha-hu ha-hu ha-hu!" Dua nenek usap wajah masing-masing. Saat itu juga keduanya berubah menjadi sepasang perempuan muda berwajah cantik.

Wiro terperangah melihat apa yang terjadi namun kemudian dia tertawa bergelak, "Kalian berdua, dengar baik-baik. Aku tidak mau diikuti bukan karena kalian dua nenek jelek. Sekalipun kalian bisa berubah jadi dua gadis cantik, aku tetap tidak mau diganggu. Tidak mau kalian ikuti!"

"ha-hu ha-hu ha-hu"

"Sekarang aku minta kalian pergi. "

"ha-hu ha-hu ha-hu!" Dua nenek kembali membungkuk-bungkuk lalu turunkan jenazah Eyang Sepuh Kembar Tilu dari atas dangau. Salah seorang dari mereka memanggul jenazah kemudian bersama kembarannya dia tinggalkan tempat itu.

Wiro duduk di pinggiran lantai dangau.

"Makhluk-makhluk aneh. . . . " katanya sambil geleng-geleng kepala. "Nenek rambut kelabu menyuruh aku mencari pembunuhnya serta dua buah dadu yang dirampas. Enak saja! Apa urusan dan sangkut pautku? Aku disuruh pula mencari seorang bernama Nyai Rara Santang. Siapa dia itu? Cucu nenek bernama Eyang Sepuh Kembar Tilu itu?"*

* *Tak jauh di selatan Losari terdapat sebuah bukit batu yang oleh penduduk sekitarnya disebut Bukit Batu Bersuling. Nama ini diberikan karena pada bagian puncak bukit ada dua buah dinding batu berbentuk lurus pipih yang saling terpisah hanya sejarak satu jari. Bila angin dari laut bertiup, celah batu yang sempit itu mengeluarkan suara seperti tiupan seruling. Suara ini oleh penduduk terdengar dan dirasakan aneh hingga lama kelamaan Bukit Batu Bersuling dianggap angker dan hampir tak ada orang yang mendatangi.

Malam itu, dibawah hujan rintik-rintik seorang penunggang kuda memacu tunggangannya menuju Bukit Batu Bersuling. Di kaki bukit sebelah timur terdapat sebuah bangunan luas beratap rumbia tanpa dinding. Keadaan gelap dan sepi. Baru saja orang yang datang menginjakkan kaki di tanah, dari tiga arah kegelapan melompat keluar tiga orang bercelana hitam bertelanjang dada. Masing-masing mencekal golok besar yang walaupun keadaan gelap namun saking tajamnya masih tampak berkilauan. Tiga golok diangkat ke atas, siap untuk membacok dan membabat. Orang bercelana hitam di sebelah tengah membentak. Rambutnya yang panjang dikuncir ke belakang berwarna merah.

"Siapa?!"

"Apa matamu buta tidak mengenali diriku?!" Orang yang dibentak balas menghardik. Tiga pasang mata membesar memperhatikan. Orang yang datang mengenakan pakaian ringkas warna biru gelap. Kepala dan wajah tertutup caping bambu. Tiga prang bertelanjang dada tidak mengenali orang yang datang dari dandanannya namun mereka rasa-rasa mengenal suara.

"Raden Kumalasakti. . . ?"

"Hemmm. . . " Orang bercaping keluarkan suara bergumam dan buka caping diatas kepala.

Melihat wajah orang, tiga lelaki bertelanjang dada segera sarungkan golok masing-masing lalu membungkuk setengah berlutut. Yang tadi membentak cepat-cepat berkata.

"Saya Kuncir Merah. Mewakili Ki Beringin Reksa, Wakil Kepala Pengawal di tempat ini. Saya dan dua teman mohon maaf Raden Kumalasakti. Kami tidak mengenali. Tidak biasanya Raden berdandan seperti ini. "

"Aku tidak marah. Perbuatan kalian pertanda kalian selalu siap siaga. Waspada menjaga segala kemungkinan. Belakangan ini keadaan di luaran agak gawat. Banyak orang-orang pandai menemui ajal. Itu sebabnya aku perlu menyamar, waspada berjaga-jaga. Bagaimana keadaan di sini?"

Kuncir Merah dan dua kawannya luruskan badan kembali.

"Semua baik-baik Raden. Hanya saja kami berada dalam keadaan sedikit gelisah. Sejak meninggalnya Bandar Agung dua minggu lalu di tempat ini sama sekali tidak ada kegiatan. Tidak ada yang datang. Dua minggu kami tidak menerima upah. Selain itu para gadis yang biasa menghibur sudah sering mendesak akan meninggalkan tempat ini. "

"Aku mengerti kegelisahan kalian. Itu sebabnya aku datang membawa kabar baik. Kita akan segera mendapatkan Bandar Agung yang baru. "

"Terima kasih Raden. Kami sangat berbesar hati mendengar berita ini. Kalau kami boleh tahu kapan Bandar Agung baru akan datang dan kapan tempat ini akan dibuka kembali?"

"Lisa malam, tepat pada saat bulan empat belas hari memancar. " jawab orang bernama Raden Kumalasakti. Lalu dia meneruskan ucapan. "Apa kalian sudah mendengar kabar bahwa Pengemis Muka Bopeng Karangkoneng Kepala Pengawal di tempat ini telah menemui ajal? Mati dibunuh orang di warung minuman Akang Punten satu minggu lalu. "

Kuncir Merah dan dua temannya tampak terkejut. Ketiganya gelengkan kepala.

"Kuncir Merah, jika kau bekerja bagus aku akan mengusulkan pada Bandar Agung agar kau mendapat jabatan yang lebih tinggi. "

Kuncir Merah membungkuk sambil mengucapkan terima kasih berulang kali.

"Raden Kumalasakti, jika benar tempat ini akan dibuka kembali lusa malam, ijinkan kami memberi tahu teman-teman yang lain serta para gadis penghibur. Kami akan membersihkan semua ruangan. Mematut semua perabotan. Mempersiapkan dan memeriksa peralatan termasuk semua senjata orang berpakaian dan berikat kepala hitam telah mengurungnya.

"Manusia kesasar dari mana berani mati menyusup ke tempat ini!"

Satu bentakan menggeledek disertai berkelebatnya empat golok besar. Orang yang diserang cepat melompat ke atas sebuah tembok batu.

Melihat serangan mereka gagal, secara serentak empat orang berpakaian hitam yang juga adalah para pengawal tempat tersebut kembali menyerbu. Empat golok berkesiuran di udara.

"Traang. . traang. . . traang. . . . traang!"

Empat kali suara berkerontang memecah kesunyian. Empat tangan yang memegang golok tergetar hebat. Empat penyerang sama-sama bersurut satu langkah.

"Lihat pakaiannya!"

Tibatiba salah seorang empat penyerang berseru. Tiga kawannya memperhatikan. Ternyata orang yang mereka serang dan saat itu masih berdiri di atas tembok batu memegang sebilah tombak pendek, mengenakan pakaian penuh tambalan.

"Katakan apa hubunganmu dengan Pengemis Muka Bopeng Dari Karangkoneng!"

Orang di atas tembok menyeringai. "Aku Pengemis Siang Malam Dari Cisanggarung. Pengemis Muka Bopeng adalah pimpinanku. Kabar kematiannya membuat aku datang kesini untuk melakukan penyelidikan!"

"Beraninya kau menyelidik! Walau Pengemis Muka Bopeng salah seorang pimpinan di tempat ini, tapi itu tidak berarti kau boleh menyusup berbuat lancang!"

Orang berpakaian penuh tambalan dan mengaku Pengemis Siang Malam Dari Cisanggarung mendengus. "Pembunuhan atas diri Pengemis Muka Bopeng ada sangkut pautnya dengan tempat ini! Jangan kalian berani melarangku melakukan penyelidikan. Aku akan menghabisi siapa saja yang coba menghalangi!"

"Anak kucing berani datang ke sarang harimau!" Empat orang berpakaian hitam menyergap. Empat golok kembali berkelebat. Lagi-lagi terdengar suara berdentangan ketika Pengemis Siang Malam menangkis dengan tombak pendek. Merasa terdesak di atas tembok, sang pengemis melompat turun sambil lancarkan serangan ganas dalam jurus Raja Pengemis Minta Sedekah!

Hanya terdengar dua kali suara beradunya senjata karena dua dari empat lelaki berpakaian serba hitam yang tadi menyerang kini kelihatan terhuyung huyung. Yang satu sambil pegangi lehernya yang terluka besar dan kucurkan darah akibat sambaran ujung tombak. Tubuhnya kemudian roboh ke tanah. Satunya lagi menggerung keras sebelum terbanting tertelentang dengan muka berlumuran darah. Keningnya rengkah dihajar tombak Pengemis Siang Malam! Dua lelaki berpakaian hitam lainnya serta merta jadi ciut nyali mereka dan tak berani lanjutkan serangan. Malah keduanya melangkah mundur menjauhi lawan. Tibatiba pintu rahasia di dinding terbuka.

"Ada apa ribut-ribut di tempat ini?!"

Yang membentak adalah Kuncir Merah yang muncul bersama delapan anak buahnya. Ketika melihat dan mengenali Pengemis Siang Malam berdiri sambil melintangkan tombak berdarah di depan dada langsung Kuncir Merah menghardik.

"Apa kematian pimpinanmu membuat kau jadi orang tolol dan nekad membuat keributan di tempat ini?!"

"Pembunuh pimpinanku adalah orang dalam sini. Aku datang untuk menyelidik dan minta nyawanya!"

"Pengemis kurang ajar! Enak saja kau menuduh! Biar aku robek dulu mulutmu!" teriak Kuncir Merah. Namun sebelum dia berkelebat menyerang semua anak buahnya sudah mendahului. Sepuluh orang menggempur Pengemis Siang Malam Dari Cisanggarung. Walau dia sanggup bertahan dan sesekali membalas serangan para pengeroyok, namun sang pengemis menyadari tidak ada gunanya berlama-lama melayani orang-orang itu karena dia punya dugaan, pembunuh pimpinannya tidak ada di tempat itu.

Sementara itu sepuluh penyerang walaupun berada di tingkat pengawal biasa namun rata-rata memiliki kepandaian tinggi dan terus berusaha mengurung serta mendesak lawan. Lima jurus dimuka Kuncir Merah yang melihat anak buahnya masih tidak mampu menghajar lawan yang cuma seorang itu, dengan jengkel, didahului suara bentakan keras melesat masuk dalam kalangan pertempuran. Gelombang serangan kini bertambah hebat melanda Pengemis Siang Malam Tapi orang ini tidak punya niat lagi menghadapi lawan yang begitu banyak. Setelah mengirimkan satu serangan kilat yang merobek dada salah seorang lawannya, Pengemis Siang Malam segera berkelebat tinggalkan tempat itu. "Pengemis keparat! Kau mau kabur kemana?!" Kuncir Merah mengejar sambil lepas satu pukulan tangan kosong. Namun orang yang dikejar dan diserang telah lenyap dalam kegelapan malam. Malah mendadak ada serangan balasan berupa angin dahsyat yang membuat Kuncir Merah terhuyung dan cepat menyingkir ke samping.

Kuncir Merah geram sekali. Pimpinan di tempat itu pasti akan mendampratnya.

"Pengemis Siang Malam jelas-jelas menjadi musuh besar kita. Kita harus mengirim orang untuk mencari dan menghabisinya sebelum dia membuka rahasia apa yang berlangsung di tempat ini! Kalau Ki Beringin Reksa atau Raden Kumalasakti datang, aku akan melaporkan apa yang terjadi" Ucap Kuncir Merah dengan rahang menggembung dan tangan kanan terkepal.

"Aku tahu dimana sarang manusia keparat itu," kata salah seorang anak buah Kuncir Merah.

"Bagus! Bangsat itu harus mati sebelum tempat ini dibuka kembali!" kata Kuncir Merah pula.*

* *ENAMSang surya hampir tenggelam di ufuk barat ketika sepuluh orang berpakaian hitam berkelebat di tikungan kali Cisanggarung tak jauh dari sebuah desa kecil bernama Luragung. Mereka mendekam di balik semak belukar di tebing kali sambil mata menatap ke arah sebuah rumah panggung berbentuk panjang sepuluh tombak di depan sana. Masing-masing membawa obor yang belum dinyalakan. Sepuluh orang ini adalah para pengawal dari bangunan yang disebut Istana Seribu Rejeki Seribu Sorga yang terletak di Bukit Batu Bersuling.

Sementara itu di dalam sebuah ruangan besar di atas rumah panggung, seorang lelaki berambut tebal riap-riapan, berjanggut dan berkumis lebat, berpakaian dekil penuh tambalan, duduk bersila di depan sebuah pendupaan yang baranya mulai meredup padam. Di atas pendupaan tergeletak melintang sebuah senjata berupa tombak pendek. Orang ini bukan lain adalah Pengemis Siang Malam, yang malam lalu menyerbu ke Bukit Batu Bersuling untuk menuntut balas kematian pimpinannya yaitu Pengemis Muka Bopeng Dari Karangkoneng.

Di ruangan yang sama agak jauh dan merapat ke dinding, duduk delapan orang perempuan muda beserta lima orang anak-anak berusia antara empat dan enam tahun. Semua memperhatikan tanpa berani bergerak ataupun keluarkan suara atas apa yang tengah dilakukan Pengemis Siang Malam. Tiga dari delapan perempuan adalah istri sang pengemis sedang lima lainnya adalah istri-istri dari anak buahnya yang tinggal bersama di rumah panggung panjang itu. Dua anak perempuan yang ada di situ adalah anak Pengemis Siang Malam dan tiga orang lagi adalah anak dari dua anak buahnya.

Pengemis Siang Malam saat itu tengah bersamadi bagi kesejahteraan roh pimpinannya. Selain itu dia punya firasat akan terjadi sesuatu sebagai akibat penyerbuannya ke Bukit Batu Bersuling. Selesai bersamadi, masih dalam keadaan duduk bersila Pengemis Siang Malam memanggil istrinya yang paling tua.

"Kau dan yang lain-lainnya segera tinggalkan rumah ini lewat pintu dan tangga di sebelah belakang. Pergi ke lembah di seberang telaga. Tunggu di sana. Jika aku tidak datang pergilah ke Lebakwangi ke tempat guruku. "

Istri tertua Pengemis Siang Malam anggukkan kepala lalu menemui perempuan-perempuan yang ada di ruangan dan memberi tahu apa yang harus segera mereka lakukan.

Kembali ke tikungan pinggir kali Cisanggarung.

Belum lama sepuluh orang berpakaian serba hitam sembunyi dibalik semak belukar tibatiba beberapa kali suitan nyaring merobek kesunyian senja. Lima orang lelaki berambut gondrong, berkumis dan berjanggut liar serta mengenakan pakaian penuh tambalan melesat keluar dari kolong rumah panggung. Masing-masing mencekal sebilah golok. Mereka adalah anak buah Pengemis Siang Malam. Salah seorang dari mereka, yang bertubuh gempal pendek dan berdiri paling depan berteriak.

"Berani datang berani unjukkan tampang! Bersembunyi adalah sikap orang yang datang membawa niat jahat tapi berlaku pengecut! Apa kalian takut kami mau minta uang receh sedekahan?!".

"Pengemis-pengemis kotor bau! Kalian tidak pantas menyambut kedatangan kami Pergi!" Dari arah kali terdengar suara sahutan. Lalu set. . . set. . . set! Di udara berlesatan banyak sekali senjata rahasia berbentuk pisau terbang!

Lima orang berpakaian penuh tambalan berteriak kaget sekaligus marah. Yang bertubuh gempal cepat melompat setinggi satu tombak sambil sapukan golok ke depan. Tiga kawannya mengikuti. Terdengar suara bedentrangan berulang kali ketika sekian banyak pisau terbang beradu dan mental dibabat golok empat anggota Pengemis Siang Malam.

Pengemis ke lima terlambat menangkis, tak sempat cari selamat. Sebuah pisau terbang menancap telak di tenggorokannya. Orang ini keluarkan suara seperti ayam dipotong. Ketika tubuhnya terbanting rebah ke tanah, darah masih mengucur dari lehernya yang ditancapi pisau terbang!

Sepuluh orang berpakaian serba hitam masih tetap tak bergerak di balik semak belukar. Saat itu di halaman rumah panggung telah berdiri tiga orang lelaki. Yang pertama berpakaian hitam, berambut panjang dikuncir. Dia bukan lain adalah si Kuncir Merah, salah seorang pimpinan pengawal di Rumah Seribu Rejeki Seribu Sorga. Orang kedua kurus tinggi, berjubah hijau gombrong memiliki rambut aneh. Rambut ini menyerupai daun pohon beringin berwarna hijau berkilat. Dia adalah Ki Beringin Reksa, Wakil Kepala Pengawal Istana Seribu Rejeki Seribu Sorga. Dialah tadi yang melemparkan belasan pisau terbang dari pinggir kali dan menewaskan. Orang ke tiga adalah Raden Kumalasakti, salah satu orang penting dari Rumah Seribu Rejeki Seribu Sorga. Sikapnya kelihatan agak sombong. Dia berdiri dengan wajah menyeringai dan dua tangan dirangkap di atas dada.

Melihat salah seorang teman mereka tewas, empat orang anggota Pengemis Siang Malam berteriak marah dan langsung menyerbu ke arah tiga orang yang berdiri di depan mereka. Begitu empat pengemis menyerang, Raden Kumalasakti berteriak. "Bakar!" "Blepp!"

Sepuluh obor yang berada di tangan sepuluh orang di balik semak belukar serentak menyala. Kesepuluh orang ini kemudian melompat keluar dari tempat persembunyian mereka lalu lari ke arah rumah panggung. Lima obor di lempar ke atas atap. Lima lagi dipakai menyulut lantai rumah. Sebentar saja rumah yang terbuat dari kayu itu telah dilamun api.

Di atas rumah, Pengemis Siang Malam mengambil tombak pendek di atas pendupaan lalu melompat. "Braakk!"

Sekali tendang salah satu jendela rumah yang tertutup hancur berantakan. Tubuh sang pengemis melesat Keluar jendela yang jebol. Pada saat dia injakkan kaki di tanah, tibatiba di bagian belakang rumah panggung terdengar pekik perempuan dan jeritan anak-anak. Pengemis Siang Malam tersentak kaget. Setelah api berkobar ternyata anak istrinya serta perempuan-perempuan lain bersama anak-anak mereka baru mencapai tangga!

Tanpa pikir panjang Pengemis Siang Malam segera balikkan diri dan lari ke arah tangga. Namun gerakannya tertahan. Seorang berjubah dan berambut aneh hijau menghadang! Ki Beringin Reksa!

"Aku senang sekali mendengar suara jeritan-jeritan itu! Sebentar lagi aku akan mencium harumnya bau daging manusia terpanggang! Ha. . . ha. . . ha!" Ki Beringin Reksa keluarkan ucapan lalu tertawa bergelak.

"Keparat jahanam!" teriak Pengemis Siang Malam. Tak ada jalan lain. Untuk dapat menolong perempuan dan anak-anak itu dia harus menyingkirkan orang di hadapannya lebih dahulu.

"Wuttt!"

Tombak pendek di tangan Pengemis Siang Malam menderu keluarkan hawa dingin, membabat ke arah dada Ki Beringin Reksa. Orang yang diserang ganda tertawa..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.198.245.233
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia