Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PERJANJIAN DENGAN ROH

HUTAN Ngluwer ternyata luas sekali. Setelah matahari menggelintir ke barat, dalam keadaan tangan kanan cidera berat, kepala rampok Surah Nenggolo akhirnya sampai ke tempat yang dituju. Tempat ini terletak dekat sebuah danau kecil, dikelilingi pohon-pohon besar. Bayangan dedaunan pepohonan yang berbagai ragam membuat air danau seperti berwarna ketika sinar matahari memantul di permukaan air.

Di pinggir danau terlihat tiga bangunan beratap rumbia, dua agak kecil dan tertutup dinding. Satunya besar tanpa dinding. Di dalam bangunan besar sembilan orang duduk mengelilingi sebuah meja panjang terbuat dari bambu.

Di kepala meja sebelah kanan duduk seorang lelaki berusia sekitar empat puluhan, berwajah cakap, memiliki kening tinggi dan alis mata tebal. Rambut panjang sebahu. Dibanding semua orang yang ada di tempat itu, dia satusatunya yang berpakaian dan berpenampilan apik rapi.

Di kiri kanan meja bambu, duduk delapan orang yang rata-rata telah berusia lebih dari setengah abad. Dari raut wajah serta pakaian, jelas menunjukkan sebagai orang rimba persilatan. Satu-satunya perempuan yang hadir di tempat itu adalah seorang nenek berhidung seperti paruh burung kakak tua, bermata dingin kelabu.

Di luar bangunan dua puluh orang bertubuh tegap, memakai blangkon dan pakaian serba hitam tegak berjagajaga.

Di dada kiri baju yang mereka kenakan tertera sulaman kuning rumah joglo dan dua keris bersilang. Lelaki cakap di kepala meja sebelah kanan memandang berkeliling lalu bertanya, "Keluarga seperjuangan yang hadir, apakah pertemuan bisa dimulai?"

Ada yang menganggukkan kepala, banyak yang berkata mengiyakan.

"Terimakasih. Terimakasih saudara-saudara seperjuangan bisa hadir dalam pertemuan Keraton Kaliningrat yang ke sembilan belas ini. Seperti pertemuan yang sudah-sudah, Ayahanda Kanjeng Pangeran Sri Paku Jagatnata meminta saya mewakili diri beliau."

"Pangeran Muda, apakah Kanjeng Pangeran Sri Paku Jagatnata berada dalam keadaan baik?" seorang peserta pertemuan bertanya.

"Tentu saja." Lelaki yang dipanggil Pangeran Muda menjawab sambil anggukkan kepala. "Ayahanda berkirim salam untuk semua saudara seperjuangan. Ada beberapa hal penting yang akan kita bicarakan. Pertama perihal madat asal kapal Cina yang sampai saat ini tidak ketahuan di mana beradanya. Dua orang kerabat kita yang diketahui membawa madat itu ditemukan tewas. Kita masih menelusuri siapa pembunuhnya. Dua orang kerabat lainnya kembali dengan tangan hampa, malah salah seorang dari mereka mendapat. Hal kedua..."

Belum sempat Pangeran Muda meneruskan ucapan tiba-tiba di kejauhan terdengar satu jeritan keras. Lalu suara orang berlari. Tak lama kemudian muncullah sosok lelaki pendek berkepala botak, bercambang bawuk lebat. Dia langsung masuk ke dalam bangunan pertemuan. Nafas mengengah, dada turun naik. Muka sepucat kain kafan.

Ada luka cukup dalam di mata kanan yang membuat bola matanya yang juling seperti hendak meloncat keluar. Tangan kanannya yang hancur berlumuran darah setengah mengering diletakkan di atas meja. Tubuh terhuyunghuyung. Kalau tidak lekas dipegang orang niscaya akan jatuh terkapar di tanah. Pertemuan menjadi geger. Seorang cepat mendekati si botak, mengurut beberapa bagian tubuhnya sambil alirkan hawa sakti dan tenaga dalam, memberi kekuatan. Si botak ini lalu didudukkan di sebuah kursi.

"Surah Nenggolo! Apa yang terjadi?! Mana anak buahmu!" Lelaki yang dipanggil Pangeran Muda bertanya. Suaranya keras mendesing tajam.

"Delapan orang anggota saya telah menemui ajal. Tiga kabur entah ke mana. Saya mohon maafmu."

"Jangan dulu bicara soal maaf! Cepat jelaskan apa yang terjadi!" Pangeran Muda di ujung meja membentak.

Ketakutan luar biasa Surah Nenggolo menuturkan apa yang dialaminya.

Setelah mendengar keterangan kepala rampok hutan Ngluwer itu Pangeran Muda geleng-geleng kepala lalu berkata, "Sulit dipercaya! Kau yang berkepandaian tinggi dan jadi andalan dipecundangi seorang perempuan muda berotak miring! Membawa minuman keras! Dan kau tidak tahu siapa dia adanya! Keterlaluan! Sangat memalukan!"

Pangeran Muda marah sekali. Dia bicara sampai terlonjak berdiri dari kursi. Lelaki ini kemudian berpaling pada nenek berhidung seperti burung kakak tua berpakaian jubah kuning pekat. Walau dia satu-satunya perempuan di tempat itu, namun agaknya dia memiliki wibawa cukup tinggi hingga dijadikan tempat bertanya.

"Ni Serdang Besakih, saya ingin segera mengirimkan orang kita ke perbatasan untuk menyelidik. Mungkin perempuan itu masih berada di sekitar sana. Namun saya perlu pendapatmu lebih dulu."

Nenek berhidung bengkok bermata kelabu gembungkan pipinya yang kempot lalu menjawab, "Pangeran Muda, kelihatannya kita menemui seekor ikan besar. Aku setuju kita mengirimkan orang. Jika boleh biar aku yang pergi mencari bersama beberapa orang saudara seperjuangan, saudara-saudara yang berpakaian seragam boleh menyusul untuk mengawasi keadaan. Bagaimana pendapatmu?"

"Pendapatku Nek, kau tidak perlu susah-susah mencari! Aku sudah ada di sini!" Tiba-tiba satu suara terdengar menyahuti ucapan si nenek.

Semua orang dalam bangunan sama mendongak ke atas atap karena suara orang yang bicara datang dari atas sana. Bersamaan dengan itu mendadak atap bangunan yang terbuat dari rumbia jebol! Satu sosok berwajah putih berpakaian biru disertai suara tawa mengikik melayang turun, berdiri di atas meja dengan tubuh sempoyongan, rambut awut-awutan! Tiga buah kendi kecil tergantung diikat pinggang besar. Satu kendi lagi berada dalam genggaman tangan kiri. Bau minuman keras menghampar menusuk hidung.

"Dia orangnya!" teriak Surah Nenggolo sambil menunjuk dengan tangan kiri. Semua orang yang ada di tempat itu menjadi geger! Lalu untuk sesaat suasana berubah hening seperti di pekuburan!

"Perempuan mabok kesasar! Siapa kau?" Seorang yang duduk di deretan kursi sebelah kanan meja membentak.

Dia seorang tokoh silat, yang dikenal dengan julukan Gagak Ireng. Berasal dari pantai utara, mengenakan blangkon dan pakaian warna hitam. Sepuluh kuku jari tangan dan kaki panjang-panjang berwarna hitam.

Perempuan muka putih yang berdiri di atas meja bambu seka minuman keras yang membasahi dagunya, menatap ke arah Gagak Ireng lalu tertawa gelak-gelak. Sementara tubuh masih terus bergoyang huyung.

"Siapa bilang aku mabok! siapa bilang aku kesasar!"

katanya. "Si botak pendek itu yang menuntun aku ke sini. Aku hanya tinggal mengikuti. Hik... hik... hik!"

Tampang Surah Nenggolo jadi pucat. Dia sadar kini mengapa perempuan bermuka putih itu tidak membunuhnya, membiarkan dirinya lari masuk ke dalam hutan. Ternyata dia dikuntit! Dengan muka pucat kepala rampok yang jadi anggota dan kaki tangan orang-orang Keraton Kaliningrat ini menatap ke arah Pangeran Muda di ujung meja.

"Pangeran, saya tidak tahu kalau dia mengikuti, saya mohon maaf telah berlaku lalai."

"Botak tolol!" Gagak Ireng mendamprat. "Kau tak perlu banyak khawatir! Dia tak bakal lama berada di sini dalam keadaan hidup!"

Karuan saja tampang Surah Nenggolo jadi semakin pucat.

Perempuan yang berdiri di atas meja berpaling ke arah Gagak Ireng, menatap tajam, mencibir lalu tertawa panjang, "Aku baru tahu. Rupanya ada malaikat maut di tempat ini. Hik... hik... hik!"

Dari ujung meja Pangeran Muda menegur, "Tamu yang datang tidak diundang. Tahukah kalau kau telah berbuat dua kesalahan besar?"

Perempuan bermuka putih alihkan pandangannya ke ujung meja sebelah kanan. "Ah, Pangeran Muda rupanya yang bicara. Dua kesalahan besar apa yang telah aku perbuat? Mohon petunjuk Pangeran Muda." Sekali ini nada suaranya begitu lembut dan sikapnya sangat menghormati tapi waktu bicara sepasang matanya dikedap-kedipkan sehingga membuat Pangeran Muda jadi rikuh jengah. Dia segera menjawab, "Kesalahan pertama kau telah merusak atap bangunan ini. Kesalahan kedua kau berlaku kurang ajar. Berdiri di atas meja padahal kami tengah mengadakan pertemuan dan di sini banyak orang-orang tua yang harus kau hormati."

Sepasang alis perempuan muka putih mencuat naik, tangan kiri mengusap-usap perut. "Kalau dua hal itu dianggap kesalahan besar, mohon Pangeran Muda mau mendengar penjelasanku. Soal atap yang rusak bukan salahku. Atap itu yang salah. Mengapa dibuat dari rumbia yang lapuk? Lalu perihal aku berdiri di atas meja, kalian semua selaku tuan rumah yang alpa. Mengapa tidak ada yang menyediakan kursi untukku? Pangeran lihat sendiri semua kursi sudah ada yang menduduki. Apa salah besar kalau aku terpaksa berdiri di atas meja? Malah aku rasa ini satu pemandangan bagus yang jarang kalian saksikan.

Apakah tubuhku tidak cukup indah untuk kalian nikmati?"

Habis berkata begitu perempuan di atas meja liuk-liukkan tubuhnya sehingga pinggulnya kelihatan melebar, dada membusung bergoyang-goyang, pantat dikedut-kedut songgeng dan wajah mengundang penuh gairah. Semua orang nyaris terpukau hening. Banyak yang diam-diam mencuri pandang. Mereka seperti baru menyadari kalau perempuan di atas meja memiliki tubuh sintal kencang menggairahkan. Dan wajahnya yang putih itu bukannya tidak cantik!

Tiba-tiba salah seorang dari dua puluh orang berseragam hitam di luar bangunan berteriak, "Pangeran Muda, biar kami singkirkan perempuan kurang ajar itu!"

Dua puluh orang bertubuh kekar, berpakaian serba hitam dan rata-rata memiliki kepandaian silat cukup tinggi sertamerta mengurung bangunan beratap rumbia. Pangeran Muda angkat tangan kiri memberi tanda.

"Kalian semua kembali ke tempat. Biar urusan ini kami yang menyelesaikan."

Di atas meja perempuan muka putih sapukan pandangannya pada rombongan orang-orang berpakaian dan berikat kepala hitam itu. Pelipis berdenyut, dada seperti dipanggang. Mulut terkancing menahan geram luar biasa.

Seseorang tiba-tiba membentak. Dia adalah si nenek berhidung bengkok Ni Serdang Besakih. "Perempuan sinting kurang ajar! Lekas turun dari meja! Atau aku patahkan dua kakimu!"

Orang di atas meja bambu acuh saja. Dia sama sekali tidak berpaling ke arah si nenek. Setelah meneguk lahap minuman keras dalam kendi dia tertawa lalu berkata, "Hik... hik...! Siapa tadi yang mau mematahkan dua kakiku!? Aku mau kenal orangnya!"

Perempuan di atas meja memandang berkeliling.

Pandangannya kemudian berhenti pada Ni Serdang Besakih.

"Hemmm... Nenek peot berhidung bengkok! Kau rupanya orangnya! Mulutmu sombong amat! Agaknya kau merasa jadi jago di tempat ini. Padahal Pangeran Muda yang jadi pimpinan di tempat ini tidak berkata apa-apa!

Tapi biarlah, aku menunggu kapan kau mau mematahkan dua kakiku!"

Habis berkata begitu gadis ini tarik kaki kiri celana hitam sampai melewati lutut. Betis sampai ujung pahanya tersingkap putih. Banyak mata jadi melotot. "Kaki begini bagus, tega-teganya mau dipatahkan. Kasihan amat. Hik... hik! Paling tidak kakiku ini jauh lebih bagus dari kaki nenek peot itu! Hik... hik... hik!"

Dihina begitu rupa di hadapan sekian banyak orang yang selama ini menyeganinya, Ni Serdang Besakih menggeram marah. Wajahnya gelap merah, hidung yang bengkok mencuat ke depan. Untuk menutupi malu dia pun berkata, "Mematahkan dua kakimu pekerjaan mudah!

Sebelum aku sengsarakan dirimu seumur hidup, aku mau tahu siapa namamu, apa kau punya gelar!"

"Tanya nama dan gelarku?! Hik... hik... hik!" perempuan di atas meja tertawa, tubuh menghuyung ke kiri ke kanan.

Perut diusap-usap dengan tangan kiri. "Nenek hidung bengkok! Kalau kau seorang pemuda tampan atau lelaki gagah seperti Pangeran Muda yang duduk di sana, pertanyaanmu pasti kujawab! Malah sekaligus akan kuberi tahu di mana tempat kediamanku! Tapi kalau cuma tua bangka rongsokan macam dirimu yang bertanya, perlu dan untung apa aku memberi tahu! Jangan-jangan kau bangsa perempuan yang doyan sesama jenis! Hik... hik... hik!"

Wajah keriput Ni Serdang Besakih membesi kaku.

Sepasang matanya berkilat-kilat menahan amarah. Namun sebagai tokoh silat yang banyak pengalaman dia tidak mau terpancing dan berlaku sembrono. Matanya cukup tajam.

Walau perempuan yang berdiri di atas meja masih muda belia seperti mabuk dan kurang waras namun agaknya dia memiliki tingkat kepandaian yang tidak bisa dibuat main.

Nenek ini juga memperhatikan meja panjang yang terbuat dari bambu tanpa ada pengganjal di bagian tengah sama sekali tidak melengkung oleh injakan orang! Selain itu dia juga bisa menduga, minuman keras di dalam kendi yang sesekali diteguknya bisa menjadi senjata sangat berbahaya. Tadi dia sudah memperhatikan tangan kiri Surah Nenggolo yang hancur sementara tangan kiri kelihatan menghitam seperti hangus dan ada bentolanbentolan kecil.

Di atas meja perempuan muka putih kembali usap-usap perut di bagian pusar dengan tangan kiri. Tangan ini kemudian disusupkan ke balik baju biru lalu kembali dia mengusap. Gerakan tangan ini sejak tadi diperhatikan oleh seorang tokoh rimba persilatan yang hadir di tempat itu, bernama Kecik Turangga, berjuluk Hantu Buta Senja.

Orang ini memiliki kebiasaan aneh. Jika siang berganti malam atau senja hari, dia selalu menutupi wajahnya dengan sebuah topeng menampilkan muka seorang bermata bengkak buta. Topeng baru dilepas setelah sang surya terbit di pagi hari. Setelah memperhatikan wajah, sosok dan gerak-gerik perempuan di atas meja beberapa lama, tiba-tiba Kecik Turangga berteriak.

"Saudara-saudara seperjuangan! Aku yakin dia adalah Nyi Bodong!"

Si muka putih di atas meja tersentak, menatap ke arah Kecik Turangga lalu sunggingkan seringai. Semua orang yang hadir di tempat itu jadi melengak geger. Nama Nyi Bodong sejak beberapa waktu belakangan ini muncul secara tiba-tiba dalam rimba persilatan sebagai seorang tokoh misterius. Setiap muncul pasti ada korban yang jatuh. Yang jadi sasaran biasanya adalah orang-orang jahat terutama para pemerkosa. Keadaan di tempat itu hening sesaat. Semua wajah menunjukkan rasa tegang. Beberapa orang tampak berbisik-bisik.

Pangeran Muda berdiri dari kursinya. Matanya memandang lekat-lekat ke arah perempuan di atas meja bambu, dari kepala sampai ke kaki. Lalu sambil mengusap dagu dan tersenyum dia berkata, "Sungguh tidak disangka dan merupakan satu kehormatan besar seorang tokoh terkenal yang baru muncul dalam rimba persilatan rupanya yang menyambangi kami. Nyi Bodong, terima kasih salam hormatku dan semua saudara yang ada di sini. Mohon maaf kalau sikap perlakuan kami ada yang tidak berkenan di hati Nyi Bodong. Saat ini saya sampaikan urusan dengan Surah Nenggolo kami anggap selesai. Surah Nenggolo kelak akan kami jatuhi hukuman karena telah berani berlaku lancang terhadap Nyi Bodong."

Perempuan yang dipanggil Nyi Bodong sunggingkan senyum. "Dia telah menerima hukuman. Apa Pangeran Muda tidak melihat tangan kanannya yang hancur dan tangan kiri yang hangus hitam?"

Pangeran Muda ikut tersenyum. "Hukuman dari Nyi Bodong layak diterimanya. Namun hukuman dari kami tetap akan diberlakukan."

Habis berkata begitu Pangeran Muda memberi tanda dengan jentikan dua jari tangan. Empat orang berseragam hitam di luar bangunan segera masuk meringkus Surah Nenggolo. Tak lama kemudian terdengar raungan kepala rampok itu. Walau siang bolong tetap saja terasa menggidikkan!

Setelah Surah Nenggolo dibawa pergi Pangeran Muda melirik ke arah Ni Serdang Besakih dan anggukkan kepala. Melihat isyarat ini si nenek segera berpaling pada seorang lelaki memakai topi tinggi merah seperti tarbus, memelihara jenggot dan kumis lebat lalu anggukkan pula kepalanya.

Orang memakai tarbus merah segera mengambil sesuatu dari kolong meja. Benda ini kemudian diletakkan di atas meja bambu, hanya dua jengkal dari kedua kaki si muka putih. Ternyata yang diletakkan adalah seperangkat pakaian berwarna hitam. Pada dada kiri baju hitam ada sulaman gambar rumah joglo dan keris bersilang.

Perempuan di atas meja tatap sebentar baju dan celana panjang hitam itu lalu mendongak dan tertawa panjang. Kemudian dia memandang ke arah orang bertarbus merah. "Manusia berkumis dan berjenggot tebal. Apa maksudmu meletakkan pakaian hitam itu di depanku?"

***



2YANG menjawab pertanyaan si muka putih adalah Ni Serdang Besakih. "Nyi Bodong, kau telah mendapat anugerah dan kehormatan besar dari Pangeran Muda."

"Ooo... baik sekali Pangeran Muda terhadapku. Tapi anugerah dan kehormatan besar apa yang aku dapatkan?"

"Saat ini Pangeran Muda telah menganggapmu sebagai salah seorang dari saudara seperjuangan. Kau telah menjadi salah seorang anggota penting Keraton Kaliningrat. Kau diberi kehormatan untuk mengenakan pakaian hitam, pakaian kebesaran itu." Menerangkan Ni Serdang Besakih.

"Begitu?" perempuan di atas meja tersenyum. Pandangannya dilayangkan pada kelompok orang-orang berseragam hitam di luar bangunan pertemuan. Dalam hati dia membatin. "Aku datang ke tempat yang tidak salah. Tapi aku belum melihat dua keparat terkutuk itu."

Palingkan kepala kembali pada Ni Serdang Besakih, dia berkata, "Saudara seperjuangan. Memangnya kalian memperjuangkan apa?"

"Ni Serdang, biar saya yang menerangkan," kata Pangeran Muda pula dari ujung meja sebelah kanan. "Nyi Bodong, semua kami di sini adalah saudara bersaudara dalam perjuangan. Perjuangan kami adalah menegakkan keadilan dan mendirikan kebenaran. Perjuangan yang kami lakukan saat ini adalah meruntuhkan kekuasaan orangorang sesat dan rakus, yang berkuasa dengan cara merampas hak orang lain. Kami melihat kau memiliki hati nurani membela keadilan dan menegakkan kebenaran."

"Aku juga menumpas manusia-manusia jahat terkutuk, seperti tukang perkosa," menyambung si muka putih di atas meja bambu.

Pangeran Muda tersenyum, anggukkan kepala lalu meneruskan ucapannya. "Kami di sini semua telah bertekad bulat untuk menjadikanmu sebagai seorang saudara baru dalam perjuangan ini."

"Soal segala macam perjuangan bikin kepalaku pusing. Aku tidak mau tahu apa perjuangan Pangeran Muda dan semua orang yang ada di sini. Yang aku ingin tahu kalian ini semua siapa sebenarnya? Keraton Kaliningrat, hemmm... Kalau memang menegakkan keadilan dan kebenaran, mengapa salah seorang dari kalian menjadi kepala rampok. Aku saksikan sendiri Surah Nenggolo dan anak buahnya membunuh orang asing dari negeri Cina. Malah dia juga hendak membunuhku!"

"Nyi Bodong, soal pembunuhan atas orang-orang Cina itu tidak dapat saya jelaskan sekarang. Kami telah mengakui penyerangan terhadap diri Nyi Bodong sebagai kekeliruan besar. Untuk itu saya mewakili semua saudara di sini meminta maafmu. Mengenai Surah Nenggolo yang telah berbuat kurang ajar berani menyerang Nyi Bodong hukuman mati telah dijatuhkan atas dirinya."

"Kurasa Pangeran Muda punya alasan lain menghukum mati manusia satu itu. Karena dirinya tidak ada kegunaan lagi. Bukankah begitu?"

Pangeran Muda tersenyum. "Nyi Bodong, kami sangat menjunjung tinggi hukum. Siapa yang bersalah harus diadili. Sekarang ambillah pakaian itu dan kau akan kami ikut sertakan dalam pembicaraan selanjutnya."

Perempuan di atas meja tatap baju dan celana hitam di dekat kakinya lalu bertanya, "Apa kalian ingin aku mengenakan pakaian itu sekarang juga?"

Karena tak ada yang menjawab perempuan muda itu lalu buka kancing baju birunya sehingga dadanya sebelah atas tersingkap. Pinggul digoyang membuat celana birunya merosot ke bawah hampir mencapai pinggul. Semua orang jadi terperangah. Cuma si nenek Ni Serdang Besakih yang tampak asam mukanya dan melengos sambil berkali-kali golengkan kepala.

"Nyi Bodong! Tunggu! Kau tak boleh mengenakan pakaian itu di sini. Nanti saja. Sekarang silahkan diambil dan disimpan dulu." Teriak Kecik Turangga alias Hantu Buta Senja yang tadi mengenali si muka putih sebagai Nyi Bodong. Si muka putih luruskan badan, teguk minuman dalam kendi. Lalu memandang berkeliling dan berkata, "Jadi saat ini aku berada di tengah-tengah saudara-saudara Keraton Kaliningrat."

"Betul sekali, Nyi Bodong," jawab Pangeran Muda sementara Ni Serdang Besakih terus memperhatikan gerak gerik si muka putih.

"Kalau begitu aku betul-betul datang ke tempat yang tidak salah!"

"Terima kasih atas pujian Nyi Bodong," kata Pangeran Muda pula dengan nada gembira. "Saya akan menyuruh orang menyiapkan kursi. Apakah sekarang Nyi Bodong bersedia turun dari meja?"

Yang ditanya mengangguk, dia bergerak melangkah. Enak saja kedua kakinya menginjak baju dan celana hitam!

Tentu saja semua yang hadir di tempat itu jadi terkejut, malah banyak yang menunjukkan wajah tidak senang.

Sambil dua kakinya terus menginjak pakaian hitam, dia berkata dengan suara lantang, "Kalian semua dengar baikbaik. Sebelum aku turun dari meja, ada satu hal yang akan aku katakan!"

"Nyi Bodong, jika memang ada hal yang hendak disampaikan mengapa ragu? Silahkan saja," kata Pangeran Muda masih sabar.

Di tempat duduknya yang bersebelahan dengan Kecik Turangga, si nenek Ni Serdang Besakih berbisik, "Hantu Buta Senja, kau yakin perempuan ini benar Nyi Bodong adanya?"

Hantu Buta Senja usap mukanya. "Aku memang belum pernah melihat langsung orangnya. Tapi dari ciri-ciri yang aku dengar perempuan satu ini cocok dengan ciri-ciri Nyi Bodong. Wajah putih, pakaian biru gelap..."

"Membawa kendi berisi minuman keras segala?" tanya Ni Serdang Besakih.

"Ah... anu. Ini yang..." suara Hantu Buta Senja jadi gagap. Belum sempat dia bicara jelas, di atas meja perempuan yang dipanggil Nyi Bodong berkata dengan suara lantang.

"Orang-orang Keraton Kaliningrat! Ketahuilah! Aku datang ke sini untuk mencari dua orang anggotamu yang telah melakukan perbuatan keji terkutuk atas diriku! Dua orang anggota Keraton Kaliningrat telah memperkosaku! Hari ini aku bersumpah untuk mencabut nyawa mereka! Siapa berani menghalangi akan aku habisi!"

Tempat pertemuan itu serta merta menjadi geger besar. Semua mata memandang mendelik pada perempuan di atas meja.

Pangeran Muda berdiri dari kursinya. Gagak Ireng berteriak, "Nyi Bodong, sungguh keterlaluan. Bagaimana enak saja kau mengucapkan tuduhan membuat fitnah begini rupa! Apa kau punya bukti?!"

"Fitnah?!" Si muka putih tertawa panjang lalu membentak, "Siapa membuat fitnah! Aku masih ingat tampang dua bangsat itu. Mereka pasti ada di antara orang-orang berpakaian hitam yang tegak di luar bangunan!"

Pangeran Muda memandang ke arah Ni Serdang Besakih. Si nenek lalu berdiri dan berkata, "Aku akan suruh dua puluh orang berpakaian seragam hitam itu berjejer di hadapanmu. Jika kau mengenali memang ada di antara mereka sebagai orang-orang yang telah memperkosamu, harap langsung kau tuding!"

Si nenek lalu bertepuk dua kali. Dua puluh lelaki berpakaian seragam hitam mengenakan blangkon hitam segera berdiri sejajar di samping meja, di belakang deretan kursi yang diduduki empat tokoh silat anggota Keraton Kaliningrat. Si muka putih layangkan pandangan cepat lalu tertawa panjang sambil tubuhnya terhuyung ke depan dan ke belakang.

"Setan perempuan otak miring! Kau disuruh mengenali pemerkosamu! Malah tertawa! Apa yang lucu?" Yang berteriak marah adalah Gagak Ireng. Rupanya tokoh silat satu ini sudah habis sabarnya.

Di atas meja perempuan muka putih huyung kiri huyung kanan teguk minuman dalam kendi hingga wajahnya berubah merah, dua mata bergerak liar. Selesai menenggak habis minuman keras, dia angkat tangan kanan yang memegang kendi tinggi-tinggi. Lima jari meremas. Praaak! Kendi pecah berantakan. Si muka putih tertawa kembali. Entah kapan tangan kanannya bergerak tahu-tahu sembilan keping pecahkan kendi yang ada di tangan itu melesat laksana bintang berkiblat.

Tokoh silat Gagak Ireng anggota Keraton Kaliningrat berseru kaget ketika dapatkan dirinya diserang sembilan kepingan runcing pecahan kendi. Gagak Ireng bukan tokoh silat sembarangan. Ilmunya tinggi dan nama besarnya cukup dikenal di daratan Jawa Tengah sampai ke perbatasan Jawa Timur. Namun diserang mendadak dan dalam kecepatan kilat seperti itu dia jadi terperangah gugup. Gagak Ireng hantamkan tangan kiri. Gerakannya menangkis masih kurang cepat. Walau empat pecahan kendi mampu dibuat mental, lima lainnya menyusup tembus. Dua kepingan menancap di kening. Satu di mata kiri, satu di pipi dan satu lagi tepat pada urat besar di leher hingga putus dan menyemburkan darah!

Di atas meja perempuan muka putih tertawa panjang.

"Dua pemerkosa itu aku tidak melihat mereka! Pasti kalian telah menyembunyikan!"

Teriakan kemarahan menggeledek dari semua tokoh Keraton Kaliningrat yang ada di tempat itu. Mereka tidak perdulikan lagi apa yang diucapkan si muka putih.

Beberapa orang langsung menyerbu ke atas meja. Si muka putih putar tubuh sambil mulutnya menyembur.

Wuuuurrr!

Minuman keras yang ada di dalam mulut menyambar ke arah tiga orang yang coba menerjangnya. Dua orang yang tahu bahaya cepat menghindar selamatkan diri. Satunya nekad berusaha menyerbu terus namun setengah jalan menjerit keras, terlempar ke ujung meja. menggeletak tepat di depan kaki Pangeran Muda dalam keadaan tak bernyawa. Muka hangus hancur penuh lubang mengerikan!

"Saudara-saudara seperjuangan! Tangkap perempuan celaka itu hidup atau mati!" teriak Pangeran Muda marah sekali.

Ni Serdang Besakih dan Kecik Turangga alias Hantu Buta Senja segera bergerak dari tempat masing-masing. Dua orang ikut menyusul sementara Pangeran Muda tendang dua kaki meja hingga patah berantakan. Meja panjang yang terbuat dari bambu itu serta merta roboh.

Perempuan muka putih tertawa panjang, melompat ke tanah. Saat itu juga serbuan laksana air bah datang menggempur. Ni Serdang Besakih berlaku cerdik. Dia mengarahkan serangannya pada tiga buah kendi yang masih tergantung di pinggang orang karena menganggap kendi dan isinya merupakan senjata luar biasa berbahaya. Dua kendi hancur, isinya berhamburan di tanah. Kendi ke tiga menyusul pecah, ternyata kosong.

Si muka putih menjerit marah. Tubuhnya berkelebat lenyap seolah berubah jadi bayangan. Mengamuk dua jurus tanpa berhasil memukul sekian banyak lawan yang mengurung dia bahkan serangan pada si nenek yang telah menghancurkan tiga buah kendinya. Namun keadaannya kini mulai terdesak. Apalagi dua puluh orang lelaki berseragam hitam bukan hanya mengurung kalangan pertempuran tapi juga merangsak maju. Dari kiri kanan dan sebelah belakang serangan datang sambung menyambung. Belum lagi yang mendera dari depan. Hanya kegesitan yang luar biasa yang masih mampu menyelamatkan perempuan muka putih. Tapi sampai berapa lama dia bisa bertahan??!

Dalam satu gebrakan hebat walau si muka putih sempat menendang seorang penyerang hingga dadanya remuk, Ni Serdang Besakih berhasil mendaratkan satu pukulan. Pukulan itu hanya menyerempet bahu namun daya tolaknya yang keras cukup membuat lawan terpelintir setengah lingkaran. Saat itulah dari depan datang pukulan Pangeran Muda yang mendarat telak di dada kiri. Si muka putih menjerit keras. Tubuhnya terpelanting lima langkah ke belakang dan dalam waktu cepat segera diringkus oleh Kecik Turangga bersama dua tokoh silat anggota Keraton Kaliningrat lainnya. Darah tampak mengucur di sudut bibirnya. Ni Serdang Besakih totok urat besar di bawah ketiak kiri orang hingga perempuan muka putih ini langsung merasakan seluruh anggota badannya menjadi lemah lunglai.

"Biarkan dulu dia hidup-hidup! Bawa ke hadapanku! Aku akan mengorek keterangan dari mulutnya! Setelah itu kalian boleh mengorek jantungnya!" berseru Pangeran Muda. Kini sikapnya yang sopan halus berubah jadi garang.

"Orang-orang Keraton Kaliningrat! Kalian ternyata pengecut semua! Beraninya main keroyok! Kalian kira aku takut mati?! Hik... hik! Pangeran Muda! Ayo bunuh aku saat ini juga jika kau punya nyali!"

"Nyi Bodong!" teriak Ni Serdang Besakih. "Ajal sudah di depan mata. Mengapa masih bicara sombong?!" Dan, plaaakk! Nenek berhidung bengkok itu lepaskan satu tamparan keras ke pipi si muka putih hingga bibirnya luka dan semakin banyak darah yang mengucur.

"Tua bangka keparat! Beraninya menampar dalam keadaan diriku tertotok tak berdaya! Kalau aku masih hidup kau akan aku bunuh duluan! Jika aku mati dan jadi setan kau yang pertama kali akan aku cekik!"

Plaaaaakk!

Satu tamparan lagi dihantamkan Ni Serdang Besakih ke wajah si muka putih. Walau sakitnya bukan main namun perempuan itu masih bisa keluarkan tawa mengikik lalu tawanya lenyap dan, cuaaahh! Ludah campur darah disemburkannya ke muka Ni Serdang Besakih. Si nenek berteriak marah. Matanya yang dingin kelabu tampak seperti menyala.

"Pangeran Muda! Biar aku bunuh perempuan keparat ini sekarang juga!"

Lima jari tangan si nenek menyambar ke leher orang. Inilah serangan ganas yang disebut Tangan Iblis Membongkar Berhala. Bilamana serangannya mengenai sasaran maka daging, urat dan tulang leher korban benarbenar akan terbongkar mengerikan!

"Ni Serdang! Tahan! Aku perlu dia hidup-hidup dulu!

Bawa perempuan celaka itu ke hadapanku!" teriak Pangeran Muda.

Terpaksa Ni Serdang Besakih tarik serangan mautnya.

"Nenek hidung bengkok!" ucap perempuan muka putih sebelum dibawa ke hadapan Pangeran Muda. "Kalau aku tidak bisa membunuhmu dalam keadaan hidup atau mati jadi setan, akan ada orang lain yang bakal membuat kau meregang nyawa!"

"Perempuan setan! Masih saja kau banyak mulut!"

maki Ni Serdang Besakih. Namun dia ingin tahu juga siapa orang yang dimaksudkan. Maka dia membentak bertanya, "Siapa setan alas yang akan mewakilimu membunuhku?!"

"Pendekar 212 Wiro Sableng! Dia calon suamiku!"

Ni Serdang Besakih tersentak kaget. Semua orang juga ikutan terkejut. Si nenek akhirnya memberi tanda pada tiga orang yang mencekal perempuan muka putih. "Seret dia ke hadapan Pangeran Muda!"

Selagi perempuan muka putih yang dalam keadaan tak berdaya diseret ke hadapan Pangeran Muda sekonyongkonyong menggelegar satu bentakan keras, "Orang-orang Keraton Kaliningrat! Kalian mencari mati berani menganiaya cah ayuku!"

Semua orang menduga yang muncul adalah benarbenar Pendekar 212 Wiro Sableng! Namun mendadak terdengar semburan dahsyat tiga kali berturut-turut.

Wuss! Wuss! Wuss!

"Awas semburan cairan berbahaya!" Hantu Buta Senja berteriak memberi ingat. Secepat kilat dia bersama Ni Serdang Besakih melompat selamatkan diri. Tiga jeritan terdengar berbarangan. Pangeran Muda berseru kaget, sepasang mata terbeliak besar. Tiga orang yang menyeret perempuan muka putih terkapar di tanah. Satu langsung menemui ajal karena mukanya hangus hancur penuh lubang mengerikan. Dua lagi menggeletak kelojotan sambi!

memegangi dada yang cidera berat. Bau minuman keras menghampar di tempat itu. Semua orang Keraton Kaliningrat untuk sesaat jadi terkesiap, diam tak bergerak. Ketika sosok perempuan muka putih terhuyung jatuh hampir tergelimpang di tanah, satu tangan panjang laksana belalai merangkul pinggangnya. Cepat sekali tangan aneh ini melepaskan totokan di ketiak kiri. Begitu dirinya lepas dari totokan, dalam keadaan agak nanar si muka putih melihat sebuah kendi besar melayang ke arahnya. Sambil tertawa cekikikan dia tangkap kendi itu dengan dua tangan lalu meneguk isinya sampai tumpahtumpah membasahi dagu dan dada pakaiannya.

"Cukup cah ayu! Jangan dihabiskan. Sekarang perhatikan baik-baik! Apa manusia ini salah seorang anggota Keraton Kaliningrat yang telah memperkosamu?!"

Saat itu juga dari atap bangunan yang telah jebol melayang turun seorang berpakaian hitam komprang. Rambut hitam sebahu awut-awutan. Kulit muka dan tubuh merah. Tampang seram seperti demit. Di cuping hidung sebelah kiri mencantel sebuah anting terbuat dari akarbahar. Pada ikat pinggang kulit yang dikenakannya

tergantung sebelas buah kendi hitam, lebih besar sedikit dari kendi yang dimiliki perempuan muka putih. Tubuhnya yang gemuk pendek terhuyung-huyung seperti orang mabok. Hebatnya orang yang melayang turun ini berdiri sambil mencekal leher seorang lelaki berseragam hitam yang ada cacat bekas luka di dagunya.

"Kuntorandu!" beberapa mulut keluarkan ucapan terkejut menyebut nama orang yang dicekal si gemuk pendek. Pangeran Muda mengerenyit. Sepasang alis mata Ni Serdang Besakih mencuat naik.

Pangeran Muda melangkah cepat mendekati si nenek yang tegak di samping Hantu Buta Senja. "Ni Serdang, kau mengenali siapa adanya manusia gemuk pendek berwajah seram itu?"

"Kalau saya tidak keliru dia adalah tokoh rimba persilatan yang dijuluki Iblis Pemabuk!"

"Jadi rupanya Iblis Pemabuk adalah guru Nyi Bodong!" Hantu Buta Senja ikut bicara.

"Si gemuk bermuka setan itu bukankah dia dedengkot rimba persilatan yang berjuluk Dewa Tuak?!" tanya Pangeran Muda pula

"Kami pernah bertemu Dewa Tuak. Manusia satu ini adalah Iblis Pemabuk. Mereka memang sama-sama mempergunakan minuman keras sebagai senjata. Tapi bangsat satu ini jelas adalah Iblis Pemabuk." ucap Ni Serdang Besakih pula.

Mendengar ucapan Iblis Pemabuk, perempuan muka putih yang tentunya Wulan Srindi adanya dan oleh orangorang Keraton Kaliningrat disebut sebagai Nyi Bodong, memandang dengan mata berkilat ke arah orang yang dicekal lehernya. Dia perhatikan tampang orang, melihat jelas luka di dagu bekas gigitannya sewaktu diperkosa.

"Cah ayu! Kau sudah mengenali! Tunggu apa lagi?" Iblis Pemabuk dorong tubuh lelaki berpakaian hitam yang memang Kuntorandu adanya, yaitu salah satu dari dua orang Keraton Kaliningrat yang telah memperkosa Wulan Srindi.

Wulan Srindi menjerit keras. Tubuhnya bergetar hebat lalu melesat ke depan. Tangan kanan yang memegang kendi besar bergerak.

"Jangan... Tidak!" Kuntorandu hanya bisa keluarkan dua kata itu lalu, praakkk!

Kendi dan kepala Kuntorandu sama-sama pecah. Orang-orang Keraton Kaliningrat keluarkan seruan tertahan. Wulan Srindi tertawa seperti kuda meringkik.

"Mana yang satunya?!" teriak Wulan Srindi.

"Aku tidak menemukan. Yang satu ini aku kenali karena ada luka di dagunya." jawab Iblis Pemabuk. Semua itu terjadi luar biasa cepat hingga orang-orang Keraton Kaliningrat setelah berseru kaget kini terkesiap nyaris tak bergerak. Ketika di sebelah kiri Pangeran Muda akhirnya berteriak keras agar semua orangnya menutup jalan keluar, Iblis Pemabuk segera menyambar lengan kiri Wulan Srindi.

"Cah ayu. Ayo kita lekas tinggalkan tempat ini!"

"Tidak! Aku ingin mencari pemerkosa satunya! Aku ingin membunuh nenek keparat berhidung bengkok itu!"

"Nanti saja! Sekarang kita pergi dulu!" jawab Iblis Pemabuk. Lalu tangan kirinya yang bisa panjang langsung merangkul pinggang Wulan Srindi. Sebelum tinggalkan tempat itu Iblis Pemabuk berpaling ke arah Ni Serdang Besakih. Mulutnya berucap, "Lepas persoalanmu dengan muridku, antara kita masih ada urusan hutang piutang! Pada saatnya aku akan menagih berikut bunganya!"

Nenek berhidung bengkok mendengus, "Kalau kau punya nyali mengapa tidak dibereskan sekarang?"

Iblis Pemabuk tertawa bergelak. "Kau akan malu besar kalau rahasia kebejatanmu aku buka di depan orang banyak ini!"

"Manusia iblis! Jangan harap kau bisa pergi dari tempat ini!" teriak Ni Serdang Besakih. Habis berkata begitu si nenek menerjang ke depan. Tapi begitu Iblis Pemabuk semburkan minuman keras ke arahnya nenek ini terpaksa bersurut mundur sambil memaki. Di lain kejap Iblis Pemabuk dan perempuan muka putih tak ada lagi di tempat itu.

***SAMBIL berlari memanggul tubuh Wulan Srindi, Iblis Pemabuk bertanya, "Cah ayu, sejak kapan kau berganti nama jadi Nyi Bodong?!"

"Hik... hik! Orang-orang Keraton Kaliningrat yang memanggilku begitu. Kurasa cocok juga nama itu."

"Tapi pusarmu tidak bodong."

"Kalau begitu tolong kau buat pusarku jadi bodong!" Iblis Pemabuk tertawa gelak-gelak.

"Eh, kau mau membawa aku ke mana?" tanya Wulan Srindi.

"Ke tempat seorang sahabat yang bisa mengobatimu. Kau terkena pukulan beracun Memukul Bukit Meremuk Gunung yang dilepaskan Pangeran Muda. Bagian dadamu tidak cidera, tapi di sebelah belakang jaringan tubuhmu rusak berat. Dalam tujuh hari bagian tubuhmu itu akan busuk, nyawamu bisa-bisa tidak tertolong!"

"Jahatnya Pangeran keparat itu. Lagaknya sopan lemah lembut, tidak tahunya lebih buas dari setan kepala tujuh!"

Setelah diam sebentar Wulan Srindi bertanya, "Urusan hutang piutang apa yang ada antara kau dan nenek hidung bengkok berpakaian kuning itu?"

"Aku tak bisa memberi tahu," jawab Iblis Pemabuk. "Kau tidak memberi tahu aku sudah bisa menduga. Pasti urusan cinta di masa muda! Betul? Hik... hik... hik!"

Iblis Pemabuk menyengir, ambil satu kendi lalu meneguk isinya.

***BEBERAPA hari kemudian, ketika Iblis Pemabuk dan Wulan Srindi kembali ke tempat kediamannya yaitu bangunan di atas pohon dalam rimba belantara, mereka mendapatkan dua bangunan kayu telah ludas berubah menjadi puing-puing hitam. Pohon besar di mana dua bangunan itu berada juga tampak gosong sampai ke ranting.

"Aku sudah bisa menduga siapa jahanamnya yang membakar tempat kediamanku ini," kata Iblis Pemabuk sambil memandang ke atas dan teguk minuman keras dalam kendi.

"Siapa lagi kalau bukan orang-orang Keraton Kaliningrat!" ucap Wulan Srindi.

Iblis Pemabuk mengangguk. "Yang jadi biang racunnya pasti nenek hidung bengkok Ni Serdang Besakih! Beberapa waktu lalu aku pernah memergokinya beberapa kali berada di sekitar tempat ini. Setiap aku pergoki dia cepat melarikan diri."

"Jika kau mempercayainya, biar aku mewakili dirimu mencari dan menghajar nenek satu itu. Aku juga akan mencari lelaki kedua yang memperkosaku!"

"Cah Ayu, kau butuh istirahat beberapa lama untuk menyembuhkan luka dalam di bagian punggungmu sebelah kiri." jawab Iblis Pemabuk.

"Aku juga perlu segera mencari calon suamiku, Pendekar 212 Wiro Sableng."

Iblis Pemabuk tersenyum. "Semua perlu. Tapi ada waktunya yang tepat. Sekarang ikuti aku!" Iblis Pemabuk tarik lengan Wulan Srindi.

Dalam serial Wiro Sableng Pendekar 212, Iblis Pemabuk muncul pertama kali pada Episode berjudul "Wasiat Sang Ratu". Iblis Pemabuk memberi tahu Wiro akan kelemahan Tiga Bayangan Setan yang hendak membunuhnya.

***

3KI TAMBAKPATI tersentak bangun dari tidur lelapnya ketika pintu gubuk dijebol orang dan satu sosok hitam tinggi besar berucap keras, "Ki Tambak! Aku butuh pertolonganmu!"

Orang tua ahli pengobatan tulang berjuluk Tangan Penyembuh berusia lebih dari tujuh puluh tahun itu tidak segera bangkit dari atas ranjang. Otaknya bekerja.

"Aku mengenali suara itu. Jangan-jangan makhluk pembawa malapetaka itu! Perlu apa dia datang lagi ke sini?"

Ki Tambakpati perlahan-lahan turun dari atas ranjang kayu. Tangannya bergerak ke arah empat sudut gubuk! Gubuk kecil jadi terang benderang. Pandangan mata si orang tua tertumbuk pada orang yang barusan masuk. Dia segera mengenali, tapi wajahnya mengapa berubah seram seperti setan, penuh cacat guratan luka? Orang ini berdiri dengan dua tangan berada di belakang tubuh yang mengenakan jubah kelabu (Kisah kedatangan orang ini pertama kali harap baca Episode berjudul "Kitab Seribu Pengobatan").

"Aku mengenali suara, tapi mengapa wajah berlainan?"

sapa Ki Tambakpati sambil menatap tamunya dari kepala sampai ke kaki.

"Aku orang cerdik! Apa sulitnya! Aku bisa merubah wajah sepuluh kali dalam satu hari!" jawab sang tamu.

"Jadi... jadi kau adalah orang yang dipanggil Pangeran itu? Yang tempo hari..."

"Sudah! Bagus kau mampu mengenali diriku!"

"Kalau kedatangan Pangeran untuk meminta penyembuhan masalah kejantanan tempo hari, saya tidak mungkin menolong..."

"Ki Tambak! Aku kemari bukan untuk itu! Seratus hari sudah lewat! Kejantananku belum pulih! Malah lihat! Aku menerima nasib celaka seperti ini!" Orang yang dipanggil Pangeran unjukkan dua tangannya yang sejak tadi disembunyikan di belakang punggung.

Kejut Ki Tambakpati bukan kepalang. "Gusti Allah! Apa yang terjadi sampai tangan Pangeran buntung begini rupa?!"

Ternyata tangan kiri sang Pangeran buntung sebatas setengah jengkal di atas pergelangan. Darah kering menggumpal di ujung buntungan sementara darah segar masih kelihatan merembes. Yang hebat dan mengerikan, Pangeran memegang buntungan tangan kirinya di tangan kanan!

"Ki Tambak! Tak usah banyak tanya apa yang terjadi!

Tugasmu menyambung tanganku yang buntung sekarang juga!"

"Sa... saya perlu tahu kapan terjadinya. Kalau sudah lebih satu hari satu malam sulit disambung kembali..."

Kata Ki Tambak sambil meneliti tangan kiri yang buntung dan juga kutungan tangan yang dipegang di tangan kanan. "Tadi siang! Kejadiannya tadi siang!"

"Kalau begitu masih dapat saya usahakan. Pangeran silahkan berbaring di atas ranjang..."

Sementara Ki Tambakpati menyiapkan ramuan obat Pangeran melihat tak ada perubahan dalam gubuk itu. Tulang belulang manusia berserakan di mana-mana. Empat buah tengkorak yang sudah tebal tertutup lumut teronggok di sudut kiri belakang. Dulu ada lima tengkorak. Satu di antaranya dia yang menghancurkan. Dinding gubuk yang jebol akibat hantamannya tempo hari rupanya sudah diperbaiki.

Di tengah ruangan, di depan hamparan kulit kambing yang dijadikan tikar, terletak sebuah belanga tanah. Tampaknya masih baru karena yang lama dia ingat betul hancur kena tendangannya. Di dalam belanga ada ramuan tulang belulang, daun, kulit dan akar tetumbuhan serta cairan mengepul asap dan selalu mengeluarkan suara mendidih walau di bawah belanga sama sekali tidak ada api yang menyala.

Ki Tambakpati melangkah ke salah satu sudut gubuk. Dua mata dipejamkan, dua telapak tangan dirapatkan satu dengan yang lain lalu dua lengan diangkat lurus ke atas. Seperti yang pernah disaksikan sang Pangeran dulu, perlahan-lahan tubuh orang tua itu terangkat ke atas hingga dua kakinya tidak lagi menginjak lantai gubuk.

"Daun sirih pembersih luka!" Ki Tambak berseru. Aneh!

Dari sela dua telapak tangan menyembul keluar tiga helai daun sirih. Daun-daun ini kemudian melesat masuk ke dalam belanga tanah.

"Kunyit putih perekat luka!" Orang tua yang berjuluk Tangan Penyembuh itu kembali keluarkan ucapan disusul melesatnya tiga potongan kunyit putih dari sela telapak tangan, langsung melayang masuk ke dalam belanga.

"Alang-alang Dewa Penyambung otot dan urat!" Tiga lembar alang-alang hijau kekuningan menjulur dari sela telapak tangan lalu melesat masuk ke dalam belanga tanah.

"Tulang pengganjal dan akar pengikat kesembuhan!"

Kali ini yang melesat keluar adalah dua potong tulang putih sepanjang tiga jengkal serta segulung akar berwarna coklat yang masih ada tanahnya.

"Kemenyan keredohan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih serta Maha Penyayang lagi Maha Penyembuh!"

Serbuk putih kekuningan berkilau melesat masuk ke dalam belanga.

Suara mendidih di dalam belanga semakin keras. Kepulan asap semakin tebal. Bau harumnya kemenyan dan ramuan obat memenuhi ruangan. Perlahan-lahan sosok Ki Tambakpati turun kembali ke lantai gubuk. Lalu dia menggeser belanga tanah ke tepi ranjang di mana orang yang tangannya buntung berbaring. Dia mengambil buntungan tangan lalu sambil memegang tangan kiri yang buntung dia berkata, "Pangeran, pejamkan matamu. Bertahanlah. Cuma sakit sedikit." Habis berkata begitu Ki Tambak tarik kuat-kuat lengan kiri yang buntung dan dimasukkan ke dalam telaga tanah.

Cesss!

Terdengar suara seperti besi panas dimasukkan ke dalam air. Asap pekat mengepul. Orang di atas ranjang terlonjak dan menjerit setinggi langit. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat.

"Tua bangka jahanam! Apa yang kau lakukan!"

"Pangeran, kau inginkan kesembuhan. Kau harus berani berkorban menahan sakit!"

Tanpa perdulikan orang yang masih mencaci maki, Ki Tambakpati ambil buntungan tangan kiri. Ketika hendak dimasukkan ke dalam belanga dia melihat satu kelainan pada salah satu jari tangan itu.

"Tua bangka, kau mempermainkan apa?!" bentak orang di atas ranjang yang masih menggigil menahan sakit.

Ki Tambak tidak menyahuti. Buntungan tangan kiri buru-buru dimasukkan ke dalam telaga. Seperti tadi, terdengar suara dess walau agak perlahan dan asap yang mengepul tidak begitu pekat. Dari dalam belanga Ki Tambakpati keluarkan dua potongan tulang dan gulungan akar. Tangan yang buntung dengan sangat hati-hati dihubungkan satu sama lain lalu ditahan kiri kanan dengan dua potong tulang, kemudian dibalut diikat kencangkencang dengan akar pohon.

"Pangeran, pengobatan telah selesai. Jika kau tak banyak bergerak, tulangmu akan mulai bersambung dalam waktu sepuluh hari. Seminggu kemudian daging, otot dan urat akan pulih bertaut kembali."

Mendengar ucapan Ki Tambakpati sang Pangeran turun dari tempat tidur. "Ki Tambakpati, apakah kau punya kabar baru tentang Kitab Seribu Pengobatan?"

Ki Tambakpati menggeleng.

Tanpa banyak bicara lagi ataupun mengucapkan terima kasih orang yang barusan ditolong terus saja melangkah ke pintu. Si orang tua ingat hal seperti itu juga dilakukan orang tersebut ketika dia dulu menolong menyambungkan batang kemaluannya yang hampir putus. Dia tidak minta upah atau imbalan, namun melihat sikap orang begitu rupa Ki Tambakpati jadi jengkel lalu berkata, "Pangeran, sudah dua kali dengan ini kau mendapat musibah. Seperti kataku dulu, apakah kau pernah berdoa pada Gusti Allah agar mendapat kesembuhan yang cepat dan agar selanjutnya kau berada dalam perlindunganNya?"

Lelaki di ambang pintu gubuk menatap orang tua itu sesaat lalu tertawa bergelak.

"Apa kau lupa aku dulu pernah berkata. Seumur hidup aku tidak pernah berdoa pada Gusti Allah. Sudah, kau saja yang mendoakan diriku pada Gusti Allah!" Masih mengumbar tawa yang menjijikkan, orang itu melangkah pergi dan lenyap di kegelapan malam.

Lama orang tua ahli pengobatan tulang itu tegak merenung di pintu gubuk. Tiupan angin yang dingin mencucuk baru menyadarkannya. Dia segera beranjak masuk. Namun belum sempat merapatkan pintu mendadak ada sambaran angin lewat di depannya, membuat dia terjajar mundur satu langkah. Ketika dia berpaling ke dalam gubuk si orang tua melihat sosok seorang nenek berwajah putih berdiri di tengah ruangan. Orang ini lebih dulu memperhatikan keadaan seputar gubuk baru berpaling pada Ki Tambakpati.

"Aku terlambat..." Ucapnya perlahan.

Ki Tambakpati memperhatikan. Nenek muka putih ini mengenakan baju panjang berwarna biru gelap. Rambut tergerai sampai ke pinggang kusut masai berwarna hitam.

"Sahabat yang datang di malam buta, apa maksud ucapanmu tadi. Apakah kau tidak keliru masuk ke dalam gubukku ini?" Ki Tambakpati menegur sementara dua matanya terus mengawasi.

"Sebelumnya ada seseorang di tempat ini," si nenek berkata dan menatap lekat-lekat pada sepasang mata si kakek.

"Betul sekali," jawab Ki Tambakpati. "Dia sudah pergi. Kau mencarinya apakah dia sahabatmu?"

Si nenek menggeleng.

"Apa keperluan orang itu datang kemari?"

"Maaf, aku tidak pernah memberi tahu pada orang lain perihal orang yang pernah aku tolong!"

Nenek muka putih tatap wajah si kakek lalu tersenyum.

"Orang itu datang menemuimu karena tangan kirinya buntung! Benar?"

Ki Tambakpati diam saja.

"Ketahuilah, apa yang telah kau lakukan merupakan satu kebajikan. Namun tanpa kau sadari kau telah memperpanjang umur kejahatan di atas bumi ini! Banyak lagi korban yang akan berjatuhan!"

Tentu saja Ki Tambakpati tercengang mendengar ucapan si nenek. Dengan suara perlahan dia berkata, "Aku menolong mengobati siapa saja tanpa memperhatikan apakah dia orang jahat atau orang baik. Kebajikan tidak bisa dipilih-pilih."

"Mungkin memang begitu janji atau sumpah ilmu pengobatanmu! Tapi tahukah kau siapa orang bertangan buntung yang telah kau tolong?"

Ki Tambakpati menggeleng.

"Dia dijuluki Hantu Pemerkosa! Beberapa orang gadis telah menjadi korbannya di beberapa desa! Diperkosa lalu dibunuh!"

"Tidak mungkin..." kata Ki Tambakpati pula lalu cepatcepat hentikan ucapannya.

"Mengapa tidak mungkin? Aku menyaksikan sendiri beberapa orang yang jadi korban kebejatannya!"

"Ah..." Ki Tambakpati tarik nafas panjang, terduduk di tepi ranjang, menatap ke arah si nenek sambil gelenggeleng kepala.

"Ilmu keahlian untuk kebajikan dan kebaikan. Alangkah mulianya..." Setelah mengeluarkan ucapan itu si nenek muka putih memutar tubuh, melangkah ke pintu.

"Sahabat, tunggu dulu!" Ki Tambakpati berdiri dan mengejar. "Kau belum memberi tahu siapa kau adanya. Aku senang mengenal dirimu. Kau membuka jalan pemikiran baru dalam diriku..."

Si nenek tersenyum. "Tidak, aku bisa melihat. Jalan pikiranmu tentang kebaikan dan kebajikan tidak akan pernah berubah. Jika kau melakukan, maka orang yang tidak kau tolong akan membunuhmu!"

Paras Ki Tambakpati berubah. Kepala tertunduk. Ketika diangkat kembali, nenek muka putih berpakaian biru tak ada lagi di hadapannya. Dia mengejar ke halaman. Hanya kegelapan dan tiupan angin dingin yang menyambut. Terbungkuk-bungkuk Ki Tambakpati melangkah ke arah pintu gubuk sambil hatinya berkata, "Tuhan, apakah aku telah keliru menolong orang-orang jahat? Aku mohon petunjukmu ya Tuhan. Kalau ini merupakan satu dosa, aku mohon ampunanMu. Tapi bagaimana aku akan menolak orang yang datang minta tolong? Gusti Allah, aku berlindung di bawah Kekuatan dan KekuasaanMu."

Di malam yang dingin itu Ki Tambakpati akhirnya memutar langkah ke arah sumur untuk mengambil air wudhu. Di dalam gubuk dia melakukan sembahyang tahajud dua rakaat, memohon petunjuk dan pengampunan dari Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui.

***DALAM Episode sebelumnya (Perjanjian Dengan Roh), Pendekar 212 punya maksud menemui Ratu Duyung untuk mengetahui apakah benar jurang yang ada air terjunnya benar-benar tidak berpenghuni. Namun dia merasa ada ganjalan karena tindakan sang ratu yang pergi begitu saja setelah hancurnya 113 Lorong Kematian. Selain itu sobat seperjalanannya kakek tukang kencing Setan Ngompol tidak begitu senang jika mereka harus jauh-jauh kembali ke jurang. Saat itu matahari telah tenggelam, senja datang disusul malam.

"Kek, kita ini berada di mana dan sebenarnya mau menuju ke mana?" tanya Wiro pada Setan Ngompol. Yang ditanya menunjuk jauh ke arah sebuah bukit kecil. Pemandangan agak terlindung oleh kegelapan dan kerapatan pepohonan.

"Lihat, ada bangunan di sebelah sana. Ada nyala api. Pintunya juga kelihatan dalam keadaan terbuka. Tanda penghuninya masih belum tidur. Kita ke sana. Siapa tahu dapat suguhan kopi panas..."

"Paling-paling air sumur!" tukas murid Sinto Gendeng.

"Paling tidak ada tempat untuk kita numpang bermalam."

"Kek, melihat celanamu yang lepek air kencing serta badanmu yang bau pesing, mana ada orang yang mau memberi tumpangan bermalam pada kita. Kalau nasib baik aku yang akan tidur dalam rumah, kau tidur di atas atap."

Setan Ngompol tersenyum. "Bisa-bisa yang kejadian sebaliknya," kata kakek bermata jereng berkuping lebar ini.

"Aku kenal dengan penghuni gubuk itu. Karena itu aku mengajakmu ke sana."

"Siapa yang tinggal di sana? Janda gemuk di Bantul tempo hari?"

Setan Ngompol tertawa cekikikan sambil tangannya menekap bagian bawah perut. "Kau masih saja mengingatingat si gembrot itu. Aku sendiri sudah hampir lupa. Jangan kau sampai membangunkan keponakan yang ada di bawah perutku. Bisa-bisa kutinggal sendirian kau di tempat ini! Hik... hik... hik!"

Kedua orang itu berjalan cepat di antara kerapatan pepohonan. Hanya tinggal sepuluh tombak dari gubuk di atas bukit tiba-tiba dari pintu keluar seorang perempuan berpakaian gelap, berwajah putih, berambut panjang riapriapan sampai ke pinggang. Setan Ngompol cepat menarik Wiro ke balik semak belukar di belakang sebuah pohon besar.

"Aku seperti mengenali wajah dan perawakan orang itu..." kata Setan Ngompol pula. "Jangan-jangan... Dia berkelebat ke timur. Ayo kita potong jalannya!"

"Buat apa mengikuti orang?!" tanya Wiro seganseganan. "Apa kau tidak memperhatikan? Wajah dan sosok perempuan itu mirip-mirip nenek yang pusarnya bodong tempo hari!"

"Kek, aku tidak heran kau mau mengejarnya. Rupanya selama ini kau selalu ingat-ingat dia. Kesemsem pada pusar bodongnya. Sekarang kau pasti sudah kasmaran jatuh cinta. Mimpi mau menjilat pusarnya! Gendeng!"

"Terserah kau mau bilang apa. Aku tetap mau mengejar!"

Wiro mengalah. Terpaksa mengikuti si kakek menempuh jalan memotong. Dalam waktu singkat mereka berhasil memapas jalan nenek muka putih. Begitu sampai di hadapan si nenek, Setan Ngompol hentikan langkah, menjura sambil keluarkan ucapan, "Nenek muka putih! Selamat bertemu lagi dengan kami dua manusia jelek!"

Kejut si muka putih bukan alang kepalang. Selain itu wajahnya yang putih menunjukkan kemarahan.

"Kalian lagi!" bentaknya sambil dua kaki merenggang dan dua tangan diturunkan ke samping. Jelas nenek ini tengah memasang kuda-kuda untuk melakukan serangan.

"Ini kali kedua kalian menghadangku! Apa mau kalian? Minta mampus?!"

Setan Ngompol langsung jatuhkan diri berlutut dan kucurkan kencing. "Sahabat, jangan salah mengira. Pertemuan kedua ini sungguh tidak diduga. Ini takdir Yang Maha Kuasa. Ini mungkin satu tanda kita bisa bersahabat. Sejak melihat bagaimana tempo hari kau membuat buntung tangan manusia muka setan dengan sihir biru yang keluar dari pusarmu, aku sangat mengagumi. Ingin berkenalan dan ingin tahu siapa nama serta gelarmu."

Nenek muka putih memandang melotot lalu tertawa panjang. "Rupanya kau senang melihat aurat perempuan!"

"Anu, soalnya sampai tua bangka begini baru sekali itu aku melihat ilmu kesaktian seperti itu. Aku..."

"Hati-hati dengan kakek satu ini Nek. Orangnya memang rada-rada ganjen! Barangkali temanku ini naksir samamu Nek," kata Wiro pula.

"Hemm... begitu?" ucap si nenek tanpa berpaling pada Wiro. "Lalu kau sendiri bagaimana?! Kau ganjen apa tidak? Kau juga naksir padaku?! Hik... hik!"

Pendekar 212 jadi cengar cengir garuk-garuk kepala. "Kalau kalian berdua tidak lekas menyingkir dari hadapanku, sesaat lagi kalian hanya tinggal badan tanpa nyawa!"

Air kencing Setan Ngompol langsung terpancar. Wiro tarik tangan Setan Ngompol, membantu si kakek berdiri. Tak sengaja matanya melirik ke arah si nenek dan dapati si muka putih itu tengah memperhatikan dirinya. Ketahuan mencuri pandang si nenek melengos dan keluarkan ucapan.

"Kalian berdua benar-benar menyebalkan!"

"Harap maafkan diriku dan kakek temanku ini, Nek."

Si nenek mendengus. Sekali dia balikkan badan, luar biasa sekali, sosoknya serta merta lenyap dari tempat itu.

"Kabur lagi Kek. Tidak kau kejar?" tanya Wiro pada Setan Ngompol.

Si kakek pehcongkan mulut. "Kalau orang tidak mau bersahabat, ya sudah. Cuma aku menaruh firasat. Satu ketika kelak dia membutuhkan orang-orang jelek macam kita ini."

Ketika Setan Ngompol dan Wiro siap melangkah menuju gubuk kediaman Ki Tambakpati, tidak terduga tiga bayangan berkelebat dan tahu-tahu tiga orang sudah berdiri di depan mereka.

Melihat siapa yang muncul Setan Ngompol berseru gembira. Dia tepuk bahu Wiro. "Nasib kita ternyata tidak jelek-jelek amat malam ini! Lihat, hilang yang satu, muncul yang lain!"

***

4SALAH satu dari tiga orang yang barusan datang langsung membentak. "Kakek bau pesing! Apa maksudmu dengan ucapanmu tadi?!" Yang membentak adalah seorang nenek berdandan menor, alias kereng, bedak tebal, bibir dipoles gincu merah menyala dan dua pipi diberi pemerah-merah. Ketika tersenyum, nenek berpakaian serba hitam ini, memperhatikan deretan giginya yang berlapis perak berkilat. Yang hebatnya, di atas kepalanya ada tiga potongan bambu mengepulkan asap hitam, merah dan biru. Batok kepalanya mengeluarkan suara seperti tungku perapian tukang besi. Inilah dia si nenek yang dijuluki Hantu Malam Bergigi Perak. Seperti yang pernah diucapkannya tempo hari, dia akan selalu memata-matai Setan Ngompol serta Pendekar 212 Wiro Sableng.

Si nenek berdiri diapit dua gadis berpakaian ringkas warna biru dan merah. Kulit putih wajah sama cantik jelita, tidak bisa dibedakan yang mana lebih cantik dari lainnya. Sementara si nenek memandang melotot pada Setan Ngompol, dua gadis mengerling sambil lontarkan senyum ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng.

Di bentak si nenek Setan Ngompol batuk-batuk lalu menjawab, "Barusan saja seorang sahabat pergi meninggalkan kami. Kini tahu-tahu kau yang juga sahabat kami muncul pula di tempat ini. Siapa yang tidak senang? Hati lara terlipur sudah!"

"Kakek bau pesing! Kau pintar omong! Tapi jangan harap aku suka padamu."

"Ah, aku... aku mana mungkin mengharap sampai sejauh itu," jawab Setan Ngompol sambil kedipkan mata.

"Bisa melihat dan memandangmu saja seperti saat ini senangnya sudah bukan main!"

"Tua bangka ganjen! Katakan siapa sahabatmu yang barusan meninggalkan tempat ini!"

"Terus terang namanya pun kami belum tahu..." Yang menjawab Pendekar 212 Wiro Sableng.

"Goblok! Katanya sahabat tapi tidak tahu nama! Kau sama gebleknya dengan gurumu si Sinto Gendeng itu!"

"Nek, kalau bicara jangan kelewatan! Sekali lagi kau berani menghina guruku, kuremukkan wajahmu yang seperti kuntilanak kesiangan itu!" bentak Wiro marah karena gurunya dilecehkan.

Si nenek ganda tertawa. Dia berpaling pada Setan Ngompol. "Bagaimana ciri-ciri orang yang katamu sahabatmu itu?!" tanya si nenek.

"Tinggi semampai. Muka putih, rambut panjang awutawutan. Dia berpakaian biru gelap..."

"Cantik mana dia dibanding aku?!" tanya si nenek pula.

Salah seorang gadis di sampingnya yaitu yang berpakaian merah buru-buru keluarkan ucapan, "Nek, mengapa bertanya yang bukan-bukan?"

"Huss! Kau anak kecil diam saja!" membentak si nenek.

Lalu dia berpaling pada Setan Ngompol. "Jawab pertanyaanku! Cantik mana aku dibanding dia?!"

"Anu Nek... Kau lebih cantik tentunya. Tapi dia lebih banyak! Ha... ha... ha!" Setan Ngompol menjawab lalu tertawa gelak-gelak.

Jawaban seperti inilah yang dikhawatirkan dua gadis berpakaian ringkas warna merah dan biru. Tapi ternyata sang guru tidak marah malah tertawa mengekeh. Puas tertawa si nenek berkata, "Sudah! Aku sudah tahu siapa orangnya. Dia pendatang baru rimba persilatan. Dia dikenal dengan nama Nyi Bodong!"

"Nyi Bodong...?" Setan Ngompol memandang ke arah Wiro yang berdiri sambil garuk kepala. "Pantas, aku pernah satu kali menyaksikan pusarnya yang bodong. Pusar itu bisa mengeluarkan sinar biru mematikan. Aku melihat sendiri bagaimana dia membuat buntung tangan seorang lawannya!"

"Aku banyak tahu tentang nenek satu itu. Aku dan muridku sedang menyelidiki siapa dirinya. Belakangan ini dia diketahui membantai beberapa orang penjahat dan kini tengah memburu seorang pemerkosa berjuluk Hantu Pemerkosa! Mungkin sekali Hantu Pemerkosa adalah orang yang telah dibuntungi tangannya oleh Nyi Bodong."

Hantu Malam Bergigi Perak berpaling pada Pendekar 212.

"Apa kau sudah tahu di mana beradanya Kitab Seribu Pengobatan?!"

Wiro menggeleng.

"Apa kau tahu di mana beradanya gadis berambut pirang bernama Bidadari Angin Timur?" tanya si nenek lagi yang membuat dada murid Sinto Gendeng jadi berdebar.

"Tidak, aku tidak tahu di mana beradanya gadis itu. Kami tengah menyelidik jejaknya. Ada tanda-tanda bahwa dia telah menemui kematian. Mengapa kau menanyakan gadis itu, Nek?" Balik bertanya Wiro.

"Salah satu dari kalian pernah bilang bahwa gadis itu tahu di mana beradanya kitab tersebut. Sampai sekarang aku tetap curiga dialah yang mencuri kitab itu. Tapi kalau memang orangnya sudah mati mau apa lagi. Mau dicari ke mana. Hanya saja aku melihat ada hal yang tidak wajar.

Orang-orang rimba persilatan semua tahu bahwa Bidadari Angin Timur adalah kekasihmu. Jika gadis itu menemui ajal mengapa kau tenang-tenang saja. Mengapa tidak ada pancaran kesedihan di mata dan wajahmu? Atau mungkin juga kau yang telah membunuhnya karena bingung terlalu banyak kekasih! Atau mungkin gadis itu sudah kau buntingi! Karena tak mau bertanggung jawab kau habisi dirinya. Selesai! Hik... hik... hik!"

"Tuduhanmu keji amat Nek!" Murid Sinto Gendeng jadi marah. "Kau telah menghina guruku! Juga telah memfitnah diriku! Jangan harap aku mau menolong mendapatkan Kitab Seribu Pengobatan itu!"

Dalam marahnya Wiro segera saja berkelebat tinggalkan tempat itu. Setan Ngompol menatap ke arah si nenek lalu geleng-geleng kepala. "Nek, usil mulutmu sudah sangat keterlaluan. Lain waktu kalau ada setan yang menghamili dirimu, jangan kau menuduh diriku yang melakukan!"

"Tua bangka keparat! Jaga mulutmu! Manusia utuh saja masih banyak yang menyukai diriku! Mengapa aku harus main dengan setan?!" teriak Hantu Malam Bergigi Perak marah sekali. Kepulan asap dari tiga potongan bambu di atas kepalanya menderu keras. Dia menerjang ke depan sambil layangkan tangan hendak menampar muka Setan Ngompol. Namun kakek ini sudah kabur lintang pukang lebih dulu mengikuti Wiro. Tentunya dengan terkencingkencing. Dengan gemas Hantu Malam Bergigi Perak memandang berkeliling. Dia dapatkan dua muridnya tak ada lagi di tempat itu.

"Liris Merah, Liris Biru! Di mana kalian!?"

"Maafkan kami Nek. Kami berangkat duluan ke goa di Kaliurang! Sebentar lagi hari segera siang!" salah seorang murid si nenek menjawab.

"Awas! Kalau aku tidak menemui kalian waktu aku pulang, kalian akan mendapat hukuman berat!" Si nenek mengancam. Dia memandang ke arah cahaya terang dari sebuah gubuk di puncak bukit. Dia melihat Setan Ngompol dan Wiro lari ke arah bangunan itu. Semula ada niatnya hendak mengejar, namun batal karena dia harus melakukan sesuatu. Selain itu dia ingin cepat-cepat kembali pulang ke Goa Cadasbiru di Kaliurang untuk melihat apakah benar kedua muridnya Liris Merah dan Liris Biru berada di goa itu.

Tak lama setelah Hantu Malam Bergigi Perak tinggalkan tempat itu, dua orang muridnya yang ternyata sembunyi di balik semak belukar segera keluar. Mereka lari ke arah gubuk di atas bukit namun tiba-tiba yang tertua di antara mereka yaitu Liris Merah hentikan lari, menyelinap ke balik sebuah pohon besar. Saat itu jarak antara mereka dengan gubuk hanya tinggal belasan tombak.

"Ada apa?" tanya Liris Biru sang adik.

"Lihat ke arah gubuk. Ada orang mendekam di atas atap," jawab Liris Merah. Liris Biru memperhatikan. Memang benar ada seorang jongkok mendekam di atas atap gubuk kediaman Ki Tambakpati.

"Kakek dan pemuda itu sudah masuk ke dalam. Mungkin mereka tidak tahu kalau ada orang yang mengintai. Mari kita pindah empat pohon ke depan agar bisa melihat jelas siapa adanya orang di atas atap."

Dengan gerakan cepat tanpa mengeluarkan suara dua murid Hantu Malam Bergigi Perak berkelebat ke arah bukit. Tiga pohon terlampaui. Pada pohon ke empat keduanya berhenti dan sembunyi.

"Kalau aku perhatikan sosok orang di atas atap seperti Nyi Bodong. Sayang mukanya menghadap ke arah lain. Tunggu saja sampai kita bisa melihat. Kalau putih sudah pasti memang Nyi Bodong."

Mendengar ucapan kakaknya, Liris Biru berkata. "Aku khawatir orang di atas atap... hai! Dia menggerakkan kepala. Walau sekilas aku sempat melihat wajahnya!"

"Putih!" ucap Liris Merah menyambungi. "Benar Nyi Bodong. Ada keperluan apa dia mengintai di atas gubuk."

"Aku khawatir dia punya maksud tidak baik. Bagaimana cara kita memberi tahu kakek dan pemuda itu."

"Satu-satunya cara kita masuk saja ke dalam gubuk!"

"Kalau begitu tunggu apa lagi!"

Sambil berpegangan tangan dua kakak beradik itu lari ke arah puncak bukit, menuju gubuk yang pintunya terbuka. Namun belum sempat berkelebat dua tombak, tiba-tiba orang di atas atap melayang turun. Gerakannya jelas menghadang Liris Merah dan Liris Biru! Hal ini dipertegas lagi dengan bentakannya.

"Ada keperluan apa kalian mendatangi tempat ini?!"

Liris Merah dan Liris Biru adalah dua gadis kakak beradik berhati polos, masih muda tapi tahu peradatan dunia persilatan serta tahu bagaimana cara harus bersopan santun. Biasanya mereka akan selalu bersikap baik bila orang menyikapi mereka secara wajar. Namun kalau ada yang jahil, judes apalagi galak, maka keduanya akan mempermainkan orang itu sampai mukanya bisa merah seperti kepiting rebus dan hati panas seperti bara. Setelah perhatikan sejurus nenek bermuka putih dan berpakaian biru gelap di depannya, Liris Merah membuka mulut, "Kami dua kakak beradik, mau pergi ke mana siapa boleh melarang?!"

Sang adik menimpali, "Kau sendiri kami lihat sembunyi di atas atap. Pasti ada maksud tidak baik. Tapi kami tidak menegur!"

"Urusanku apa perduli kalian?!"

"Urusan kami apa pula perdulimu?!"

"Lekas tinggalkan tempat ini atau aku akan memberi pelajaran sopan santun pada kalian!"

"Saudaraku Liris Biru. Walau baru muncul dalam rimba persilatan, selama ini aku mendengar yang namanya Nyi Bodong itu adalah seorang berhati mulia, kalau bicara lemah lembut. Namun tegas dalam menghadapi orangorang jahat! Apakah kita berdua yang muda-muda ini punya tampang penjahat hingga seenaknya diusir dan diancam?!"

"Tenang saja, kakak," jawab Liris Biru, "Aku sudah bisa menduga mengapa nenek muka putih ini tidak senang kita dekat-dekat di sini. Dia takut pemuda yang ada di dalam gubuk akan terpikat pada kita-kita! Agaknya dia naksir pada si gondrong itu! Hik... hik... hik!"

"Kau benar adikku. Padahal di dalam gubuk masih ada seorang kakek bau pesing yang aku rasa cocok buat dirinya!"

Liris Merah dan Liris Biru lalu tertawa gelak-gelak. Nenek muka putih langsung berubah merah seperti saga wajahnya.

"Dua tikus kecil! Jangan salahkan kalau aku memberi pelajaran keras padamu!" Dua kaki Nyi Bodong bergeser. Saat itu juga tubuhnya berkelebat lenyap dan, plaak... plaak!

Liris Merah dan Liris Biru merasakan tamparan keras di muka masing-masing. Didahului pekikan menahan sakit serta luapan amarah, dua murid Hantu Malam Bergigi Perak ini segera saja menyerbu Nyi Bodong. Perkelahian hebat serta merta terjadi. Walau Liris Merah dan Liris Biru masih muda belia, belum sampai berusia dua puluh tahun, sebagai murid seorang nenek sakti dan aneh keduanya memiliki kepandaian silat yang tidak bisa dibuat main. Jurus-jurus serangan mereka penuh tipu daya sehingga berulang kali lawan nyaris kena disikut, ditendang ataupun dijotos.

Namun lawan yang dihadapi bukan pula orang sembarangan. Nyi Bodong ternyata memiliki gerakan luar biasa cepat. Saat ini dia berada di sebelah kiri, di lain kejap ketika diserang sudah berpindah ke tempat lain. Lima jurus berlalu dua gadis cantik kakak dan adik mulai terdesak hebat.

Liris Merah berseru kaget ketika konde di atas kepalanya ditarik orang hingga rambutnya yang hitam tebal dan panjang tergerai awut-awutan. Hal yang sama juga terjadi dengan Liris Biru. Ketika dia merasa jotosan tangan kanannya akan berhasil mendarat di perut Nyi Bodong tibatiba salah satu telapak tangan lawan menekan dahinya dan sesaat kemudian konde di kepalanya berbusaian!

Dua kakak beradik menjerit marah. Satu sama lain saling berpegangan tangan. Tiba-tiba salah satu dari mereka melesat ke depan, kirimkan tendangan ke arah kepala lawan. Menyusul satunya jatuhkan diri ke tanah, berguling dan babatkan kaki memapas ke pinggang Nyi Bodong. Guru mereka menyebut jurus ini dengan nama Hantu Malam Berbagi Pahala. Memang kehebatannya luar biasa. Lawan yang mencoba mundur atau melompat untuk selamatkan diri dari tendangan ke arah kepala akan dihajar oleh serangan susulan yang bisa membabat hancur tulang pinggang.

Nyi Bodong keluarkan suara meraung seperti srigala hutan. Tubuhnya berkelebat luar biasa cepat. Di lain kejap tubuh itu mengambang melintang di udara. Tangan dan kaki bergerak mencari sasaran. Dua kakak beradik terkejut, berusaha selamatkan diri dengan melompat mundur. Namun terlambat.

Tiba-tiba dari dalam gubuk berkelebat dua orang. Satunya berteriak. "Kek! Kau tahan si nenek, aku menahan dua kakak adik itu!"

Bau pesing menghampar, air kencing bercipratan. Dalam keadaan seperti itu Nyi Bodong merasa ada orang yang merangkul pinggangnya hingga dia tak mampu bergerak. Dia jadi bergidik karena merasakan ada cairan hangat membasahi pakaian dan tubuhnya sebelah bawah!

"Tua bangka kurang ajar! Beraninya kau memegang tubuhku! Beraninya kau mengencingi pakaianku!"

Bukkk!

Setan Ngompol kena disikut bahu kirinya. Walau tubuhnya terjajar beberapa langkah namun dia tidak mau lepaskan cekalannya di pinggang Nyi Bodong. Akibatnya kedua orang ini sama-sama jatuh di tanah. Si kakek di sebelah bawah, si nenek di sebelah atas. Melihat wajah putih cantik yang begitu dekat dengannya, Setan Ngompol unjukkan senyum mesra. Bibir diruncingkan dan dua mata setengah dipejamkan. Seolah dia menunggu datangnya ciuman dari sang kekasih! Namun yang datang bukannya ciuman melainkan satu jotosan keras di keningnya! Si kakek menjerit kesakitan. Tubuhnya setengah melintir. Pemandangan gelap dan dia terpaksa melepaskan rangkulannya di pinggang Nyi Bodong.

Pendekar 212 yang menghadapi dua kakak adik cepat menghadang gerakan Liris Merah dan Liris Biru seraya berteriak, "Tahan! Kita berada di pihak yang sama! Mengapa bertindak tolol berkelahi tidak karuan?!"

"Manusia gondrong! Enak saja kau bilang kita berada di pihak yang sama! Siapa sudi!" Nyi Bodong menghardik. Sebaliknya begitu melihat siapa yang menghalangi mereka, Liris Merah dan Liris Biru serta merta menjadi kendur amarahnya. Sambil pegangi pipi masing-masing yang terasa masih sakit, kedua murid Hantu Malam Bergigi Perak ini mundur beberapa langkah.

"Nyi Bodong, mengapa kalian jadi berkelahi satu sama lain?" bertanya Setan Ngompol yang keningnya kini ada satu benjut besar akibat pukulan Nyi Bodong.

"Aku tidak ada urusan memberi keterangan padamu! Kakek kurang ajar! Tanyakan saja pada dua kurcaci itu. Masih bau kencur sudah berlagak jadi orang hebat! Untung kalian muncul kalau tidak saat ini keduanya sudah jadi bangkai!"

"Sombongnya! Kami belum merasa kalah!" tukas Liris Merah. Gadis ini hendak melangkah mendekati Nyi Bodong.

Wiro cepat pegang lengan Liris Merah. Dia sekalian memegang tangan Liris Biru lalu membawa dua gadis itu menjauhi Nyi Bodong. Sambil berjalan mundur dua gadis sandarkan kepala mereka ke bahu Pendekar 212 dan lemparkan senyum mengejek ke arah Nyi Bodong.

"Masih ingusan sudah pandai berbuat cabul!" ucap Nyi Bodong dengan wajah menunjukkan kejijikan.

"Kalau iri kenapa kau tidak memeluk kakek bau pesing itu?!" ucap Liris Biru.

"Dua kurcaci ingusan! Jika kemudian hari aku bertemu lagi dengan kalian, jangan harap ada rasa kasihan dalam hatiku!"

Liris Merah dan Liris Biru sama-sama keluarkan suara berdecak.

"Nyi Bodong," kata Liris Merah, "Kau memang orang hebat! Tapi siapa yang minta kasih sayangmu? Rupanya kau seorang yang suka memberi kasih pada sesama jenis! Hik... hik... hik!"

"Gadis kurang ajar! Ini cukup baik untuk menutup mulut busukmu!" Dengan ujung kakinya Nyi Bodong mengorek sebuah batu sebesar tinju. Batu mencelat ke udara, ditangkap dengan tangan kanan lalu secepat kilat dilemparkan ke arah Liris Merah.

"Kakak awas!" teriak Liris Biru. Namun saat itu Liris Merah masih mengejek Nyi Bodong dengan cara menyandarkan kepala ke bahu Wiro, mata dipejamkan dan bibir digerak-gerakkan.

Dua jengkal lagi batu yang dilemparkan akan menghantam mulut Liris Merah, dengan sigap Wiro gerakkan tangan kiri.

Wuuutt!

Bettt!

Wiro memang berhasil menangkap batu yang dilemparkan namun saat itu juga dia menjerit keras dan campakkan batu ke tanah. Tangan kirinya mengepulkan asap. Ketika jari-jarinya dikembangkan kelihatan bagaimana tangan kiri itu telah melepuh terkelupas sampai ke ujung-ujung jari! Dapat dibayangkan bagaimana kalau batu yang panas laksana bara api itu sampai masuk ke dalam mulut Liris Merah.

"Nyi Bodong! Ternyata kau perempuan durjana! Kau melukai tangan orang yang tidak punya salah!"

Nenek muka putih tampak terkesiap. Tak menyangka. Lain yang diserang lain yang kena sasaran. Liris Biru melompat ke tempat berdirinya Nyi Bodong sambil lepaskan satu pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Tanah terbongkar, satu lobang besar tampak dalam kegelapan malam. Namun Nyi Bodong sudah raib seperti ditelan bumi.

Dari ambang pintu gubuk tiba-tiba terdengar seseorang berseru, "Setan Ngompol, bawa sahabatmu itu ke dalam. Lukanya sangat berbahaya. Kalau tidak lekas diobati tangannya bisa busuk!"

***

5DI DALAM gubuk Ki Tambakpati menyuruh Pendekar 212 Wiro Sableng duduk di depan belanga tanah yang mengepulkan asap dan keluarkan suara mendidih. Liris Merah dan Liris Biru saling berbisik melihat keanehan belanga itu. Tak ada api yang menjarang tapi cairan di dalam belanga bisa mendidih.

"Kakek ini dukun atau tukang sihir?" bisik Liris Biru yang segera dipelototi oleh kakaknya.

"Jangan bicara sembarangan. Kita tidak tahu ini tempat apa." ucap Liris Merah pula.

Untuk beberapa lama Ki Tambakpati berdiri di hadapan Wiro. Mata terpejam, mulut berkomat-kamit dan telapak tangan kanan dikembang, diarahkan ke mulut belanga. Suara cairan yang mendidih terdengar semakin keras bahkan sesekali muncrat ke atas.

"Masukkan tanganmu ke dalam belanga. Biar dalam, sampai jari-jari menyentuh dasar belanga!" tiba-tiba Ki Tambakpati berkata.

Pendekar 212 Wiro Sableng tersentak kaget lalu garukgaruk kepala. Liris Merah dan Liris Biru saling berpandangan dengan wajah tegang. Setan gompol bersandar ke dinding gubuk sambil pegangi bagian bawah perutnya yang mulai mengucur!

"Anak muda berambut gondrong! Aku akan memberi perintah satu kali lagi. Jika kau tidak menuruti maka tangan kirimu akan busuk sampai akhirnya meleleh buntung. Musuh telah melempar batu yang dibalut dengan ajian ilmu bernama Batu Seribu Api. Adalah luar biasa kau hanya mengalami luka melepuh terkelupas. Orang lain mungkin sudah lumer seluruh tangan sampai ke pergelangan! Tapi jangan merasa hebat! Tanganmu akan busuk dan buntung jika kau tidak mau kuobati. Masukkan tangan kirimu ke dalam belanga! Cepat!"

Murid Sinto Gendeng jadi keluarkan keringat dingin. Tangannya dalam keadaan melepuh terkelupas.

Dimasukkan ke dalam cairan yang tengah mendidih. Apa tidak gila?! Mana mungkin bisa disembuhkan dengan cara edan begitu? Wiro memandang ke arah dua gadis kakak adik. Liris Merah dan Liris Biru tampak saling berpegangan tangan. Keduanya sama memandang ke arah Wiro, tak berkesip. Wiro menoleh ke arah Setan Ngompol. Kakek ini hanya manggut-manggut sementara dua tangannya sibuk menahani bagian bawah perut yang terus ngocor. Alihkan pandangan ke arah Ki Tambakpati, Wiro melihat orang tua ini masih tegak dengan mata terpejam dan mulut komatkamit. Wiro menggigit bibir. Walau kuduknya terasa mengkirik tapi akhirnya dia masukkan juga tangan kirinya ke dalam belanga tanah. Demikian kencangnya dia memasukkan tangan hingga amblas menjebol bagian bawah belanga!

Wira melengak kaget, terduduk di tanah, memandang ke arah Ki Tambakpati lalu tertawa gelak-gelak.

"Keterlaluan! Kau telah memecahkan belanga obatku! Sekarang malah tertawa. Apa yang lucu?"

"Kek, aku tak sengaja. Maafkan aku kalau belangamu sampai pecah." kata Wiro pula. "Aku tertawa ternyata cairan di dalam belanga sedingin air danau di malam hari. Tadinya aku mengira cairan itu panas mendidih..."

"Aku tidak pernah mengatakan cairan itu panas. Sekarang coba perhatikan tangan kirimu!" ujar Ki Tambakpati pula.

Wiro baru sadar. Buru-buru dia angkat tangan kiri. Astaga! Telapak tangan dan jari-jarinya sudah pulih seperti tidak pernah mengalami cidera. Hanya saja lima jari tangannya tampak agak membengkak. Liris Merah dan Liris Biru terheran-heran. Setan Ngompol senyum-senyum ikut senang walau kencingnya tetap saja masih mengucur.

"Dalam dua tiga hari bengkak tanganmu akan susut. Kau akan sembuh seperti sedia kala." Kata Ki Tambakpati.

Wiro membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih Kek. Aku tak tahu bagaimana cara membalas budi besarmu ini. Kalau aku boleh tahu siapakah Kakek ini adanya?" Yang menjawab adalah Setan Ngompol.

"Kakek ini sudah tiga puluh tahun jadi sahabatku. Namanya Ki Tambakpati. Dijuluki Tangan Penyembuh."

Wiro berdiri lalu membungkuk dalam-dalam. "Ki Tambakpati, aku Wiro Sableng sekali lagi mengucapkan terima kasih atas budi baikmu menolong diriku menyembuhkan lukaku. Aku..."

Ucapan Wiro terhenti karena saat itu tiba-tiba saja Ki Tambakpati tertawa bergelak.

"Nah, sekarang gantian kau yang tertawa. Sobatku Ki Tambakpati, apa yang lucu?" bertanya Setan Ngompol.

Ki Tambakpati usap wajahnya. "Melihat tampang dan gerak-gerikmu serta kau muncul bersama si tukang ngompol itu, tadi-tadi aku sudah menduga kau ini memang anak setan murid nenek brengsek Sinto Gendeng!" Wiro jadi melongo.

"Kek, bagaimana kau tahu sebutan ‘anak setan' itu...?"

Ki Tambakpati tersenyum. "Sinto Gendeng gurumu itu adalah teman sepermainanku semasa kecil. Dia pernah tinggal lama di rumah orang tuaku di pantai selatan. Dia selalu menyebut anak setan pada orang yang disayanginya. Tapi tidak mudah untuk mendapatkan rasa sayang nenek gendeng itu! Ha... ha... ha!"

"Ha... ha...ha!" Setan Ngompol ikutan tertawa senang tapi sambil terkencing-kencing (Kisah riwayat Sinto Gendeng mulai dari masa bayi sampai dewasa dapat pembaca ikuti dalam CERMIN yang akan segera terbit dengan judul "Selingkuh Rimba Persilatan").

Sementara orang bicara dan tertawa, Liris Merah dan Liris Biru saling berbisik. Sang kakak berkata, "Tidak ada salahnya kalau kita bicara pada kakek bernama Ki Tambakpati itu. Tapi bagaimana dengan yang lain? Apa mereka pantas untuk mendengar?"

"Kalau guru ada di sini dia pasti marah. Tapi dia tak ada. Kita harus punya upaya sendiri, tidak bisa hanya mengandalkan guru. Soal mereka akan mendengar riwayat kita, kurasa tidak perlu khawatir. Tampaknya mereka semua bisa dipercaya." jawab Liris Biru pula. Liris Merah terdiam seperti berpikir-pikir. Akhirnya gadis cantik ini berkata, "Baiklah, biar aku yang bicara. Kupikir kalau orang tidak tahu apa yang menjadi masalah kita, bagaimana mungkin mereka bisa menolong?" Liris Merah lalu melangkah mendekati Ki Tambakpati.

Kakek ahli pengobatan ini seolah baru sadar akan kehadiran dua gadis cantik di tempat itu tersenyumsenyum lalu menyapa, "Aku sampai lupa kalau di sini juga ada dua tamu cantik jelita. Gadis berpakaian merah dan berpakaian biru, siapakah kalian berdua?" Sambil bertanya Ki Tambakpati melirik ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng. Setan Ngompol mendekati Wiro. "Anak setan, kau lihat kakek itu tadi melirikmu? Pasti dia juga sudah tahu kalau kau tukang main perempuan!"

"Enak saja kau bicara Kek! Urusi saja air kencingmu!" damprat murid Sinto Gendeng.

"Ki Tambakpati, saya Liris Merah dan itu adik saya Liris Biru. Apakah saya boleh menuturkan sesuatu. Saya dan adik saya mempunyai masalah. Siapa tahu Ki Tambakpati bisa menolong menyembuhkan kami."

Ki Tambakpati perhatikan Liris Merah dan Liris Biru dari kepala sampai ke kaki. "Kalian berdua sama cantik, sama sehat. Kalau kau menyebut memiliki ada masalah, masalah apa? Jika kau minta aku menyembuhkan diri kalian, apa sakit kalian? Liris Merah, kau mau menceritakan masalah yang kau maksudkan?"

Liris Merah mengangguk. "Namun terlebih dulu saya mohon apa yang akan saya sampaikan menjadi rahasia kita semua di tempat ini. Jangan sampai tersebar di luaran."

"Aku memang tukang bocor di sebelah bawah, tapi tidak pernah bocor di sebelah atas. Aku tidak pernah membuka rahasia orang. Apalagi rahasia dua gadis cantik seperti kalian." kata Setan Ngompol pula dengan nada gagah.

Liris Merah memandang ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng.

Murid Sinto Gendeng tersenyum, anggukkan kepala dan berkata, "Kita sudah menjadi sahabat. Apakah yang kau ragukan?"

"Begini Ki Tambak," Liris Merah memulai, "Sejak dilahirkan kami berdua memiliki kelainan. Yaitu tidak tahan terhadap udara panas. Semakin besar kelainan itu semakin bertambah. Kami tidak bisa berada di luaran pada siang hari. Itu sebabnya kalau siang kami selalu tidak bisa pergi terlalu jauh dari tempat kediaman kami. Kami harus sudah berada di tempat kediaman sebelum malam berganti siang. Setiap hari kami harus mandi lebih dari sepuluh kali. Jika mandi tidak menolong kami terpaksa mencari danau, telaga atau sungai untuk berendam..."

"Aku ingat pertemuan kita pertama kali," kata Setan Ngompol pula. "Kalian berdua keluar dari dalam telaga di malam buta!"

Liris Merah mengangguk membenarkan. Lalu dia berpaling pada Ki Tambakpati dan meneruskan ucapannya, "Tadi kami melihat Ki Tambakpati mengobati pemuda itu secara luar biasa. Kami juga baru tahu kalau Ki Tambakpati adalah orang yang dijuluki Tangan Penyembuh. Kami mohon, apakah Ki Tambakpati bisa menyembuhkan kelainan diri kami berdua?"

Semua orang terdiam. Ki Tambakpati nampak merenung. Wiro dan Setan Ngompol menatap penuh rasa kasihan pada dua gadis itu.

Setelah merenung cukup lama Ki Tambakpati akhirnya berkata, "Penyakit yang kalian alami adalah satu penyakit aneh yang baru kali ini aku dengar dan ketahui. Liris Merah, Liris Biru. Aku tidak ingin mengecewakan kalian berdua, apalagi kalian masih sangat muda. Namun penyakit kalian tidak mungkin aku sembuhkan dengan kemampuan pengobatan yang aku miliki."

"Mungkin Ki Tambak tahu seseorang yang harus kami temui dan punya kemampuan untuk mengobati diri kami berdua? Atau mungkin juga Ki Tambak tahu sejenis obat yang harus kami dapatkan. Kami akan mencarinya sekalipun sampai ke ujung langit."

Wajah Ki Tambakpati tampak sedih. "Saat ini aku tidak bisa menjawab. Entah di kemudian hari kalau aku mendapat petunjuk. Untuk itu aku harus bersemedi tujuh hari tujuh malam. Namun kalian berdua jangan terlalu banyak berharap."

Liris Biru masih belum menyerah. Gadis ini bertanya, "Ki Tambak, apa kau pernah mendengar sebuah kitab disebut Kitab Seribu Pengobatan?"

"Memang pernah aku mendengar. Namun di mana beradanya kitab itu tidak diketahui. Pemiliknya adalah guru pemuda gondrong ini. Sinto Gendeng sahabatku yang diam di puncak Gunung Gede. Mungkin di dalam kitab itu ada bagian yang menyebutkan mengenai penyakit yang kalian idap dan bagaimana cara penyembuhannya."

"Kitab itu lenyap dicuri orang sejak beberapa waktu lalu. Saya justru tengah menjalankan tugas dari Eyang untuk mencarinya," menjelaskan Pendekar 212.

"Tidak ada satu orang pun di sini yang bisa menduga siapa pencuri atau di mana beradanya kitab itu?" tanya Liris Merah.

Tak ada yang menjawab. Lalu Ki Tambakpati berkata, "Malam ini, sebelumnya ada juga orang lain yang menanyakan kitab itu. Dia adalah salah seorang dari dua tamuku."

"Siapa orangnya?" tanya Setan Ngompol.

"Aku akan jelaskan orangnya tapi tidak dapat memberi tahu penyakit yang diidapnya..."

"Siapa nama orang itu Kek?" tanya Wiro.

"Siapa namanya itulah yang aku tidak tahu. Namun dia meminta agar dipanggil dengan sebutan Pangeran. Tak tahu diburuk rupa, sikapnya luar biasa angkuh."

Pendekar 212 dan Setan Ngompol saling berpandangan.

"Kenapa kau tidak menolak saja mengobatinya?" tanya Setan Ngompol.

"Hal itu tak mungkin aku lakukan. Jalan hidup dan ilmu kepandaianku adalah berbuat kebajikan menolong sesama manusia."

"Kadang-kadang kita menjadi susah dan malah berdosa karena terlalu baik terhadap orang lain." ucap Pendekar 212 pula.

"Apakah kalian mengenali siapa adanya orang itu?" Kini Ki Tambakpati yang ajukan pertanyaan.

"Dia bertubuh tinggi besar, mengenakan jubah abu-abu, berwajah seperti setan?" ujar Wiro.

"Benar." jawab Ki Tambakpati.

"Kalau begitu dia adalah manusia yang dibuntungi tangannya oleh nenek muka putih!" kata Wiro pula.

"Kalau sudah tahu aku tak perlu banyak cerita lagi!" ujar Ki Tambakpati.

"Menurut guru dua gadis ini manusia itu dijuluki Hantu Pemerkosa. Saya punya dugaan manusia itu aslinya adalah Pangeran Matahari!" kata murid Sinto Gendeng sambil menatap tak berkedip ke arah Ki Tambakpati. "Kek, ada ciri-ciri lain dari orang itu yang bisa kau ingat?"

"Wajahnya yang seperti setan. Aku yakin dia mengenakan topeng tipis. Dia juga menyombongkan diri bisa bertukar wajah sepuluh kali dalam satu hari..."

"Hanya itu saja yang bisa kau ingat sobatku?" tanya Setan Ngompol.

"Hanya itu saja. Tunggu..., ada satu hal. Ketika aku melihat jari kelingking tangan kirinya buntung, dia marah besar ketika aku memperhatikan..."

"Pangeran Matahari!" ucap Setan Ngompol sampai terlonjak dan kucurkan air kencing.

"Pasti dia!" kata murid Sinto Gendeng dengan wajah geram dan dua tangan mengepal.

"Berarti dia tidak mampus sewaktu rumah kayu di Seratus Tiga Belas Lorong Kematian hancur lebur dan terbakar." kata Setan Ngompol sambil usap daun kuping kanannya yang terbalik. "Dia juga tidak mati tertimbun runtuhan bukit batu di mana lorong celaka itu terletak ketika Bunga gadis dari alam roh menghancurkan kawasan itu. Sepertinya dia punya selusin nyawa. Tapi yang sebelas sudah amblas. Jadi tetap saja tinggal satu! Hik... hik... hik!"

Si kakek tertawa sendiri dibarengi kencingnya yang mancur.

Ki Tambakpati gelengkan kepala. "Sahabatku, tadi kau menyebut ada dua orang tamu malam ini datang ke tempatmu sebelum kehadiran kami. Siapa yang satunya?" tanya Setan Ngompol.

"Apakah dia seorang nenek berwajah putih, rambut riap-riapan, mengenakan pakaian biru pekat?" Liris Merah mendahului sebelum Ki Tambakpati sempat menjawab.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Ki Tambakpati.

"Saya melihat dia mendekam sembunyi di atas atap. Ketika kami mendekati rumah ini, dia menghadang. Kami berdua tidak tahu apa alasannya menyuruh kami pergi. Kami juga tidak tahu apa dosa kesalahan kami sehingga tadi dia menyerang dengan batu yang dialiri aji kesaktian jahat Batu Seribu Api seperti Kakek jelaskan."

"Liris Merah, kau tahu siapa adanya nenek itu?" tanya Ki Tambakpati.

"Menurut guru dia adalah pendatang baru rimba persilatan bernama Nyi Bodong." jawab Liris Merah.

"Kek, apa keperluan nenek muka putih itu menemuimu? Apakah dia mengidap satu penyakit?" tanya Wiro.

"Dia menanyakan perihal tamuku yang pertama. Si buntung bermuka setan yang senang dipanggil dengan sebutan Pangeran itu. Benar seperti katamu tadi, si nenek bernama Nyi Bodong menyebut si Pangeran sebagai Hantu Pemerkosa. Agaknya Nyi Bodong ingin membunuhnya karena katanya Hantu Pemerkosa telah merusak kehormatan beberapa gadis desa lalu membunuh korbannya. Namun..." Ki Tambakpati tidak meneruskan ucapannya dan hal ini tidak begitu menjadi perhatian orang-orang yang ada dalam gubuk.

"Agaknya dalam rimba persilatan telah muncul lagi satu tokoh penyelamat orang-orang tertindas, penegak keadilan, pembasmi manusia-manusia jahat." kata Setan Ngompol.

"Kami setuju saja dengan pendapatmu Kek," Liris Biru membuka mulut. "Kalau dia orang baik mengapa Nyi Bodong punya niat jahat terhadap kami?"

Setan Ngompol hanya bisa terdiam dan usap-usap celananya di sebelah bawah.

"Ki Tambakpati, kami tidak bisa berada lebih lama di tempat ini. Kediaman kami cukup jauh. Kami khawatir matahari sudah muncul sebelum kami sampai di sana. Kami berdua tetap minta budi baik bantuanmu." Liris Merah memegang lengan adiknya, berpaling pada Wiro dan berkata, "Bisakah kami bicara denganmu di luar...?"

Wiro mengikuti langkah dua gadis itu. Setan Ngompol hendak membuntuti tapi didorong oleh Wiro hingga masuk kembali ke dalam gubuk.

Sampai di luar Liris Merah berkata, "Kami sangat memerlukan pertolongan. Apakah benar Kitab Seribu Pengobatan itu lenyap dicuri orang. Atau hanya sekedar cerita kosong saja untuk maksud tertentu?"

"Tidak ada yang bohong. Kitab itu memang lenyap dicuri orang." menjelaskan Wiro.

"Kalau kau menemukan, apakah kau mau meminjamkannya pada guru?"

"Tentu." sahut Wiro dengan anggukkan kepala.

"Kau tidak kasihan melihat nasib kami?" tanya Liris Biru.

Murid Sinto Gendeng garuk-garuk kepala. "Semua orang menaruh kasihan pada kalian. Aku berjanji akan mendapatkan kitab itu..."

"Kalau kitab ternyata tidak bisa ditemukan?" tanya Liris Merah.

"Tuhan Maha Kuasa, setiap penyakit pasti ada obatnya. Kita semua berusaha tapi juga jangan lupa mohon petunjuk serta pertolonganNya. Berdoa."

Dua gadis kakak beradik itu tersenyum.

"Ternyata kau orang baik..." ucap Liris Biru.

"Memangnya aku punya tampang penjahat?"

"Penjahat ya tidak. Cuma guru pernah bilang yang namanya Pendekar 212 Wiro Sableng murid Sinto Gendeng itu adalah buaya perempuan."

Wiro tertawa lebar. Dia memandang ke belakang. "Aku tidak punya ekor. Tangan dan kakiku berujud tangan dan kaki manusia. Mulutku tidak berupa moncong panjang. Apakah aku ini menurut kalian seekor buaya?"

Dua gadis cantik tertawa cekikikan.

"Kami harus pergi sekarang," Liris Biru berkata, "Jika kau bisa menolong, kami tidak akan melupakan jasa dan budi baikmu. Untuk itu harap kau suka menerima ini sebagai ungkapan di muka balas budi kami."

Cuupp!

Cuupp!

Pendekart 212 terperangah ketika Liris Merah dan Liris Biru mencium pipinya kiri kanan. Kedua gadis itu lalu menghambur lari sambil tertawa-tawa. Liris Biru berseru, "Kalau ada kesempatan datanglah ke tempat kediaman kami di Goa Cadasbiru di Kaliurang!"

Wiro hanya garuk-garuk kepala tidak menjawab.

"Serakah amat! Seharusnya satu ciuman itu jadi bagianku!" kata satu suara. Setan Ngompol tahu-tahu sudah berada di samping Wiro yang saat itu masih bengong usap-usap kedua pipinya. "Berani kau datang ke Goa Cadasbiru, habis kau didamprat gurunya si Hantu Malam Bergigi Perak."

"Kalau begitu biar kau saja yang mewakiliku, Kek!" jawab Wiro.

Tanpa diketahui, di atas pohon besar di salah satu sudut kediaman Ki Tambakpati, seorang yang sejak tadi mendekam sembunyi unjukkan wajah jengkel luar biasa. Dalam hati dia mendumel, "Huh, dua gadis hijau. Kasihan diri kalian. Agaknya sudah terperangkap sikap manis pemuda mata keranjang itu! Lihat saja nanti. Kalian akan dipermainkan lalu dicampakkan!"

***

6DALAM Episode sebelumnya (Perjanjian Dengan Roh) diceritakan bagaimana Tumenggung Wirabumi yang kini sudah naik jabatannya menjadi Bendahara Kerajaan mendatangi tempat kediaman Kiai Gede Tapa Pamungkas di sebuah telaga di puncak timur Gunung Gede. Sesuai keterangan gurunya yaitu Nyai Tumbal Jiwo, Nyi Retno Mantili istrinya yang dikabarkan lenyap melarikan diri dari gedung kediaman di kotaraja, berada di puncak Gunung Gede, di sebuah telaga tempat hunian sang Kiai.

Bersama enam orang pengawal Wira Bumi melakukan perjalanan jauh menemui Kiai Gede Tapa Pamungkas di Gunung Gede. Namun dia kecewa besar, tidak percaya bahkan menjadi marah ketika mendapat keterangan dari Kiai Gede Tapa Pamungkas bahwa Nyi Retno Mantili telah pergi tanpa diketahui ke mana tujuannya. Wira Bumi menganggap Kiai itu telah mendustai dan mempermainkannya. Dalam marahnya Wira Bumi menyuruh bakar sawung tempat Kiai Gede Tapa Pamungkas bersembahyang dan memanjatkan doa. Walau sang Kiai telah bersabar diri namun karena didesak terus perkelahian tidak dapat dihindari.

Seperti diketahui setelah bertapa selama tujuh bulan di Goa Girijati Wira Bumi mendapat berbagai ilmu kesaktian dari Nyai Tumbal Jiwo, nenek sakti yang mati sesat dan setelah sekian puluh tahun rohnya masih gentayangan dalam perwujudan seperti masa hidupnya. Bagaimanapun hebatnya Wira Bumi namun Kiai Gede Tapa Pamungkas yang oleh banyak orang sudah dianggap sebagai makhluk setengah dewa karena kesucian dan kesaktiannya, bukanlah tandingan Wira Bumi. Dalam perkelahian di bawah air, Wira Bumi akhirnya dipecundangi, pingsan dan tubuhnya kemudian mengapung di permukaan telaga.

Masih untung bagi pejabat tinggi kerajaan ini karena Kiai Gede Tapa Pamungkas tidak punya niat jahat untuk membunuhnya. Dia ingin memberi kesempatan pada pejabat itu untuk keluar dari kesesatan dan bertobat. Wira Bumi diselamatkan oleh para pengawalnya, dibawa kembali ke kotaraja, bukan membekal penyesalan apalagi bertobat tapi membawa dendam kesumat luar biasa yang kelak akan dilampiaskannya secara keji di kemudian hari.

Lewat satu purnama setelah peristiwa kedatangan Bendahara Wira Bumi bersama para pengawalnya di Gunung Gede, malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya. Mencucuk sampai bagian terdalam sumsum tulang. Kawasan telaga di puncak timur Gunung Gede diselimuti halimun, sepi dan gelap. Pada siang hari air telaga kelihatan memiliki tiga warna. Selain itu permukaannya selalu bergemericik seperti kejatuhan tetestetes air hujan.

Tidak seperti biasanya, di tepi telaga sebelah selatan yang selalu sepi, saat itu tampak tiga bayangan hitam manusia bergerak cepat, tanpa suara, laksana tiga setan malam sedang gentayangan. Yang seorang berdiri menunggu di satu tempat sementara dua lainnya berlari mengintai tepian telaga. Tak selang beberapa lama dua orang itu kembali bertemu dengan orang yang tegak diam menunggu. Salah seorang dari yang dua ini berucap perlahan, "Eyang Tuba Sejagat, kami tidak melihat halangan. Rasanya kita bisa segera memulai pekerjaan."

Orang yang dipanggil Eyang Tuba Sejagat bertubuh tinggi kurus, bekulit hitam pekat, bermuka seperti jerangkong karena wajahnya hanya merupakan kulit pembalut tulang. Bibir dan dua daun telinga hitam legam.

Begitu juga sepuluh jari tangan sampai ke ujung kuku, hitam semua. Rambut kelabu dijalin aneh, menjela sampai ke pinggang. Sosoknya yang mengenakan jubah hitam agak kebesaran membuat dirinya tampak luar biasa menggidikkan di dalam gelap, dingin dan sunyi itu.

"Halangan bukan masalah bagiku. Yang penting apakah kalian sudah mengetahui kalau calon penghuni alam roh itu saat ini berada di dasar telaga?"

"Kami sudah meyakini dengan ilmu Aliran Tuba Mendetak Langit dan Bumi." jawab dua orang yang juga berpakaian jubah serba hitam dan merupakan pembantu Eyang Tuba Sejagat. Yang bertubuh agak pendek bernama Jarot Kemukur, temannya bernama Ciung Gluduk. Kalau sang Eyang tidak memakai blangkon maka kedua pembantunya ini mengenakan blangkon hitam.

Mendengar ucapan Jarot Kemukur dan Ciung Gluduk, Eyang Tuba Sejagat angkat kepala, mendongak memandang langit gelap. Lalu dengan suara perlahan dia berkata, "Aku akan mulai. Kalian berdua awasi keadaan sekitar telaga. Jika ada bahaya cukup memberi tanda dengan mengguratkan kaki ke tanah dua kali."

Selesai berucap manusia tinggi kurus berjalin panjang ini melangkah maju mendekati tepian telaga, berhenti dua jengkal dari ujung air. Perlahan-lahan lelaki berusia enam puluh tahun ini ulurkan dua tangan ke depan. Dua lengan yang tertutup jubah hitam ditukikkan sedikit hingga sejarak lima jengkal dari permukaan air telaga.

Sedikit demi sedikit dua lengan jubah hitam tampak menggembung, bergerak-gerak seolah ada dua benda hidup di dalamnya. Tidak menunggu lama, tiba-tiba dari masing-masing lengan jubah mencuat keluar seekor ular besar bersisik merah. Mulut terbuka, lidah terjulur di antara deretan gigi-gigi runcing, tiada henti bergerak. Dari dua lobang hidung binatang ini berhembus keluar asap merah yang menebar bau sangat menyengat.

"Anak-anakku Tuba dan Tubi, saat ini kalian punya tugas memenuhi telaga dengan Racun Akar Bumi. Cepat laksanakan!"

Dua ular merah mendesis. Keduanya meluncur turun ke bawah ke arah air telaga. Dari mulut dua ular ini menggelegak keluar cairan berwarna merah pekat dan kental. Sambil menyemburkan racun yang bernama Racun Akar Bumi, dua binatang itu meluncur hingga menyusup masuk ke dalam air telaga. Aneh dan mengerikan, saat demi saat ukuran tubuh dua ular itu semakin bertambah besar hingga mencapai ukuran batang kelapa. Di tepi telaga Eyang Tuba Sejagat tegak dengan sekujur tubuh bergetar, lutut menekuk dan keringat memancar di mukanya yang menyerupai tengkorak. Rambut yang dijalin menjuntai di punggung tampak bergerak-gerak naik seolah hidup.

Hanya beberapa saat saja seluruh permukaan air telaga telah berubah warna menjadi hitam kemerah-merahan. Sosok dua ekor ular bersisik merah sampai pada ujung ekornya lalu lenyap masuk ke dalam telaga.

Eyang Tuba Sejagat bergerak mundur tujuh langkah. "Anakku Tuba dan Tubi, kalian sudah bekerja bagus! Jika tugasmu selesai pulanglah. Aku telah menyediakan sesajen lezat untuk kalian berdua. Satu bayi lelaki untukmu Tuba, dan satu bayi perempuan untukmu Tubi."

Makhluk tinggi kurus hitam ini keluarkan ucapan lalu tarik dua tangannya yang sejak tadi direntang ke depan. Pada saat itu tanah di sekeliling telaga terasa bergetar. Mula-mula perlahan, lalu makin keras. Air danau bergejolak hebat seolah berubah jadi air laut yang membuntal gelombang ombak setinggi dua tombak! Pohon-pohon besar di sekitar telaga bergoyang berderak-derak!

"Apa yang terjadi?" bisik Ciung Gluduk pada Jarot Kemukur.

"Aku tidak tahu. Apa yang harus kita lakukan?" jawab Jarot Kemukur lalu balik bertanya.

"Tunggu saja perintah Eyang." jawab Ciung Gluduk.

Sekonyong-konyong didahului oleh muncratnya gulungan air telaga sampai setinggi tiga tombak dan tumbangnya tiga pohon besar di tepi telaga, muncul dua suara dahsyat seperti puluhan kerbau digorok berbarengan!

"Jarot Ciung! Ikuti aku!"

Eyang Tuba Sejagat berteriak lalu berkelebat ke arah gugusan batu di antara beberapa pohon besar di tepi telaga. Di sini ketiganya mendekam bersembunyi sambil memperhatikan apa yang akan terjadi. Eyang Tuba Sejagat tidak pernah mengira kalau dia bakal menghadapi hal seperti ini.

Blaaar! Blaaar!

Seperti kilat menyambar. Dua cahaya terang berwarna merah melesat keluar dari dalam telaga, menembus kegelapan malam seperti hendak membelah langit!

"Dua ekor naga raksasa!" Ciung Gluduk sambil pegangi lengan Jarot Kemukur sementara Eyang Tuba Sejagat mendekam tak bergerak, mata tak berkedip tapi mulut berkomat-kamit membaca mantera.

Yang terjadi saat itu adalah dua cahaya merah terang berubah menjadi sosok dahsyat dua ekor naga besar. Sekujur tubuh dua ekor naga ini tampak mengelupas merah dan mengepulkan asap. Dua bola mata menjorok keluar seperti mau terbongkar. Binatang ini menggeliat terbanting-banting kian kemari. Ekor masing-masing menggelepar tiada henti membuat air telaga muncrat sampai setinggi tiga tombak dan membanjir ke sekeliling tepian telaga sementara tanah di sekitar telaga terus bergetar seperti digoncang lindu. Dari mulut dua ekor naga raksasa ini menyembur keluar cairan biru kehitaman.

Didahului suara seperti kerbau digorok yang kemudian berganti menjadi suara ringkikan kuda berbaur dengan raungan srigala hutan, sosok dua naga merah perlahanlahan meleleh dan jatuh kembali ke dalam telaga membuat air telaga semakin membanjir ke mana-mana. Sosok dua binatang raksasa itu akhirnya lenyap setelah terlebih dulu muncul dua gulungan asap merah setinggi pohon kelapa.

Seperti diriwayatkan dalam serial Wiro Sableng berjudul "Pedang Naga Suci 212" dua ekor naga merah itu adalah peliharaan Kiai Gede Tapa Pamungkas. Sewaktu sang Kiai mewariskan dua senjata pusaka kepada dua orang muridnya yaitu Sinto Weni (Sinto Gendeng) dan Sukat Tandika (Tua Gila) berupa Kapak Naga Geni 212 dan Pedang Naga Suci 212, kedua binatang inilah yang membawa senjata-senjata sakti mandraguna tersebut dari dasar telaga.

Di balik gugusan batu Eyang Tuba Sejagat mengusap wajah tengkoraknya. "Kita berhasil membunuh dua naga peliharaan Kiai Gede Tapa Pamungkas. Tapi mana sang Kiai?" Matanya tak berkesip memperhatikan seantero telaga yang kini mulai terlihat jelas setelah lenyapnya gelombang air yang membuncah dan pupusnya kepulan asap.

"Saya rasa Kiai itu sudah jadi bubur, bersatu dengan mulut beracun di dasar telaga." jawab Ciung Gluduk. Eyang Tuba Sejagat usap lagi mukanya. Dia merasa was-was.

Tiba-tiba ada suara riak air di pertengahan telaga. Bersamaan dengan itu di langit bulan setengah lingkaran menyembul dari balik kabut kelabu hingga pemandangan di telaga kini cukup benderang.

"Eyang..." Jarot Kemukur keluarkan suara tertahan ketika perlahan-lahan di permukaan telaga muncul sosok Kiai Gede Tapa Pamungkas, terbujur menelentang mengapung lurus, tangan terkembang ke samping, bergoyanggoyang dipermainkan alunan air telaga. Rambutnya yang putih kini tampak merah, mengapung di atas air. Pakaiannya selempang kain putih juga tampak merah. Demikian pula janggut, kumis, kulit muka dan kulit tubuh. Sepasang mata tertutup. Racun jahat bernama Racun Akar Bumi yang ditabur Eyang Tuba Sejagat melalui dua ekor ular merah telah membuat dirinya mulai dari rambut sampai ujung kaki menjadi berkeadaan mengenaskan seperti itu.

"Aku puas sekarang. Menyaksikan sendiri mayat Kiai Gede Tapa Pamungkas mengapung di permukaan telaga! Tamat sudah riwayat kehebatan rimba persilatan dari kawasan Puncak Gunung Gede ini!" Eyang Tuba Sejagat sunggingkan seringai puas. Dia pegang bahu kedua pembantunya. "Jarot, Ciung, saatnya kita tinggalkan tempat ini. Ada hadiah besar dari Bendahara Wira Bumi menanti kita di kotaraja!"

Ketiga orang itu segera beranjak dari balik gugusan batu. Namun baru membalik dan bergerak dua langkah tiba-tiba dari arah telaga di belakang mereka terdengar suara air menyiprat keras. Ketika ketiganya berpaling, langsung saja mereka berteriak kaget.

Sosok Kiai Gede Tapa Pamungkas yang disangka telah menjadi mayat terapung melesat di udara. Di lain kejap kakek sakti penghuni telaga itu telah berdiri di depan mereka!

Ciung Gluduk dan Jarot Kemukur langsung bersurut tiga langkah sementara Eyang Tuba Sejagat tetap tidak beranjak dari tempatnya berdiri namun berusaha keras menekan gejolak yang mendebari dadanya.

Kiai Gede Tapa Pamungkas berdiri dalam keadaan mata terpejam. Dua tangan lurus di samping. Rambut, kumis, janggut, kulit wajah dan tangan kaki serta pakaiannya berwana merah. Namun anehnya walau jelas tadi dia berada dalam telaga, rambut, wajah, tubuh maupun pakaiannya sama sekali tidak basah!

Perlahan-lahan sepasang mata Kiai Gede Tapa Pamungkas terbuka. Ternyata seluruh matanya juga telah berwarna merah! Bersamaan dengan itu sang Kiai angkat kedua tangannya ke depan. Kejut Eyang Tuba Sejagat dan dua pembantunya bukan alang kepalang ketika dua tangan itu berubah menjadi dua ekor ular merah Tuba dan Tubi!

Didahului dengusan menggidikkan, dua ekor ular meluncur ke arah Ciung Gluduk dan Jarot Kemukur. Dua pembantu Eyang Tuba Sejagat ini hanya bisa keluarkan pekik setinggi langit ketika ular-ular merah itu melesat mematuk leher mereka. Keduanya kelojotan beberapa lama lalu tergeletak tak berkutik dengan sekujur tubuh berwarna merah mulai dari rambut sampai ke kaki. Dua ekor ular merah meluncur turun dari tubuh kedua orang itu, melata cepat di tanah dan menghilang dalam kegelapan. Tampang tengkorak Eyang Tuba Sejagat tampak berubah, terlebih ketika Kiai Gede Tapa Pamungkas menatap ke arahnya dengan sepasang mata yang keseluruhan berwarna merah.

"Wiku Caringin, bukan aku yang membunuh dua pembantumu. Tapi sepasang ular peliharaanmu sendiri. Semoga Tuhan mengampuni segala dosa mereka. Kau beruntung binatang-binatang itu tidak menghabisimu."

Eyang Tuba Sejagat jadi terkejut ketika Kiai Gede Tapa Pamungkas menyebut nama aslinya. Selama ini hanya dua tiga orang saja dalam rimba persilatan yang mengetahui nama itu.

"Apalagi yang kau tunggu di tempat ini? Bukankah kau ingin cepat-cepat ke kotaraja untuk mengambil hadiah yang telah dijanjikan Bendahara Kerajaan?"

Untuk beberapa lamanya Eyang Tuba Sejagat alias Wiku Caringin hanya bisa terdiam, tak bisa keluarkan barang sepatah ucapan pun.

Kiai Gede Tapa Pamungkas tersenyum.

"Jika bertemu Bendahara Wira Bumi, sampaikan salamku. Katakan padanya agar segera bertobat sebelum Tuhan menjatuhkan hukuman atas dirinya. Dia harus mencari istrinya. Bukan untuk dibunuh. Tapi untuk disembuhkan dari segala penyakit jiwa tekanan batin."

Habis berkata begitu Kiai Gede Tapa Pamungkas tekapkan tangan kanannya ke mulut. Lalu tangan kiri berkelebat mencekik batang leher orang di hadapannya. Begitu mulut Wiku Caringin terbuka, Kiai Gede Tapa Pamungkas turunkan tangannya yang menekap mulut lalu tangan ini ditekapkan ke mulut orang. Saat itu juga warna merah yang membungkus sekujur tubuh dan pakaian Kiai Gede Tapa Pamungkas lenyap.

Hek... hekkk...!

Eyang Tuba Sejagat keluarkan suara tercekik berulang kali ketika dia merasa dari tangan sang Kiai ada cairan mengalir masuk ke dalam mulutnya. Dia berusaha meronta tapi tubuhnya seperti kaku, tak bisa digerakkan..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.80.219.137
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia