Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : 113 LORONG KEMATIAN

MATAHARI belum lama tenggelam. Kegelapan malam terasa begitu cepat menghantui permukaan bumi. Dalam waktu singkat kawasan bukit batu 113 Lorong Kematian tenggelam dalam kepekatan menghitam. Kesunyian yang menyelimuti tempat itu merubah suasanaseperti sunyinya pekuburan. Sebelumnya tempat ini telah menjadi ajang ertempuran antara Pendekar 212 Wiro Sableng dan kawan-kawan melawan kelompok manusia pocong di bawah pimpinan Yang Mulia Ketua. Manusia jahat luar biasa ini kemudian diketahui ternyata Pangeran Matahari adanya. Musuh bebuyutan Pendekar 212 dan para tokoh silat golongan putih.

Ketika angin dari arah utara bertiup agak kencang dan debu yang membumbung ke udara tidak sanggup memecah kesunyian, sekonyong konyong seperti hantu laiknya, dari reruntuhan pintu rahasia di selatan 113 Lorong Kematian muncul satu sosok lelaki mengerikan. Orang ini nyaris tidak mengenakan pakaian. Kulit wajah dan tubuhnya yang bugil menghitam gosong. Di beberapa bagian kelihatan daging mengelupas kemera han. Rambut di atas kepala awut-awutan, kotor berdebu dan menebar bau sangit akibat terbakar.

Di tangan kanan, orang ini memegang sebuah bendera besar berbentuk segi tiga, bergagang besi berujung runcing, hampir menyerupai sebatang tombak. Sesekali dari mulutnya keluar suara erangan halus, mungkin tak tahan oleh rasa sakit pada sekujur tubuh yang melepuh. Selain itu setiap menghembuskan nafas, kepulan asap ke merahan keluar dari dua lobang hidung. Siapakah gerangan mahluk mengerikan ini? Dialah Pangeran Matahari! Seperti diceritakan dalam Episode sebelumnya (Kematian Kedua), di dalam rumah panggung beratap ijuk hitam yang terletak di bagian belakang 113 Lorong Kematian, Yang Mulia Sri Paduka Ratu (Puti Andini) hendak diperkosa oleh Wakil Ketua yang sesungguhnya adalah Yang Mulia Ketua dan bukan lain adalah Pangeran Matahari. Dengan menyebadani Sri Paduka Ratu, Pangeran Matahari akan berhasil menyedot seluruh tenaga dalam dan ilmu kesaktian luar biasa yang ada dalam diri Sri Paduka Ratu. Namun niat keji Pangeran Matahari tidak kesampaian. Karena di saat itu pula Bunga bersama Naga Kuning, Ratu Duyung, dan Gondoruwo Patah Hati datang menyerbu.

Pangeran Matahari menyambut serangan ke empat orang itu dengan dua pukulan sakti yaitu Gerhana Matahari dan Telapak Matahari. Rumah kayu langsung tenggelam dalam kobaran api lalu meledak hancur luluh. Yang Mulia Sri Paduka Ratu berhasil diselamatkan, namun Pangeran Matahari sendiri tanpa diketahui Wiro dan kawankawan melesat loloskan diri dari bangunan yang meledak dalam keadaan hampir keseluruhan tubuh hangus terbakar.

Manusia yang dijuluki Pangeran Segala Cerdik, Segala Akal, Segala Ilmu, Segala Licik, dan Segala Congkak ini, begitu berhasil setamatkan diri segera menyelinap masuk ke dalam 113 Lorong Kematian lewat pintu belakang. Dia tahu, kalaupun musuh-musuhnya melihat, mereka tidak akan berani memasuki lorong. Pangeran Matahari yang tidak memikirkan lagi keadaan dirinya, tidak berusaha mencari pakaian untuk menutupi aurat, yang perlu segera didapatkannya saat itu adalah bendera keramat yang ada di Ruang Bendera Darah. Setelah berhasil mendapatkan Bendera Darah, Pangeran Matahari duduk bersila di dalam lorong, mengatur jalan darah untuk mengurangi rasa sakit di sekujur badan. Sekaligus berusaha menguras habis hawa beracun yang ada dalam tubuhnya dengan cara meniupkan nafas panjang panjang berulang kali.

"Aksara Batu Bernyawa..." Ucap Pangeran Matahari dalam hati. Manusia paling jahat dalam rimba persilatan ini khawatir berat. Ketika Bunga dan tiga tokoh silat lainnya menyerbu, dia tidak sempat mengambil batu mustika yang saat itu masih berada dalam salah satu saku jubah putih nya. "Aku harus mendapatkan batu itu kembali.

Harus! Jahanam betul!"

Aksara Batu Bernyawa memang merupakan sebuah batu sakti luar biasa. Dengan batu itulah Puti Andini yang telah menemui kematian, rohnya dapat dihadirkan kembali, masuk ke dalam tubuh dan membuat gadis yang dalam rimba persilatan dikenal dengan julukan Dewi Payung Tujuh itu mampu dihidupkan kembali. Seandainya Puti Andini tidak menemui kematian kedua dan sang Pangeran berhasil menyedot semua ilmu kesaktian yang dimiliki gadis itu, rimba persilatan akan jatuh ke dalam cengkereman Partai Bendera Darah sebagaimana yang telah direncanakan ber dirinya oleh Pangeran Matahari.

Cukup lama Pangeran Matahari berada di dalam 113 Lorong Kematian sebelum akhirnya bangkit berdiri lalu sambil membekal Bendera Darah berlari cepat ke arah goa di bagian belakang lorong. Di mulut goa yang porak poranda dia hentikan langkah. Sepasang mata menatap ke arah pedataran berbatu-batu. Sunyi dan gelap.

Telinga dipasang tajam-tajam. Mulut menyeringai.

Dia menangkap suara banyak orang bicara di ujung pedataran batu.

"Belum pergi. Mereka masih di ujung pedataran sana. Apa yang dilakukan manusia-manusia keparat itu?" pikir Pangeran Matahari. Dia gulung Bendera Darah seputar gagang besi lalu berkelebat ke pedataran berbatu-batu. Bersembunyi di balik sebuah batu besar, Pangeran Matahari memperhatikan Wiro dan kawan-kawan berdiri mengelilingi satu gundukan tanah merah. "Hemmm... mereka telah menguburkan gadis itu." Sepasang mata sang Pangeran memancarkan sinar berkilat.

Dendamnya terhadap Wiro setinggi langit sedalam lautan. "Kali ini aku gagal. Tapi sebelum rimba persilatan kiamat, aku bersumpah akan menghancurkanmu!" Rahang Pangeran Matahari menggembung. Selagi semua orang di depan sana masih mengelilingi makam Puti Andini dalam suasana penuh kesedihan, Pangeran Matahari pergunakan kesempatan untuk menyelinap, berkelebat ke arah lorong rahasia di bagian selatan yaitu jalan masuk melewati jurang yang ditempuh Wiro, Bunga dan kawan-kawan waktu menyerbu 113 Lorong Kematian. Dari bagian atas tangga batu yang melingkar di dinding jurang, Pangeran Matahari memandang ke bawah. Gelap. Dia nyaris tidak dapat melihat apa-apa walau ada seberkas cahaya suram masuk ke dasar jurang melalui sebuah lobang di dinding batu. Meski tubuhnya hangus serta masih ada hawa beracun yang menyekat di jalan pernafasannya namun Pangeran Matahari tidak kehilangan ilmu kesaktian asli yang dimilikinya. Dengan gerakan cepat dan enteng dia berkelebat menuruni tangga di dinding jurang. Begitu sampai di dasar jurang di mana terdapat sebuah telaga, Pangeran Matahari siap menerobos lobang di dinding batu yang akan menghubunginya dengan satu kawasan persawahan. Mendadak sontak sang Pangeran hentikan gerakan. Dua bola matanya membesar, memandang lekat-lekat ke arah tepi telaga di seberang kanan. Di tepi telaga sana, terbujur tak ber gerak satu sosok tubuh berwarna kuning.

"Setahuku bangsat aneh satu ini adalah sahabat Pendekar 212. Mengapa berada di tempat ini? Sudah mampus?"

Tidak tunggu lebih lama lagi Pangeran Matahari dengan tiga kali lompatan saja sudah berada di samping sosok yang terbujur di tepi telaga. Mata melotot tak berkesip, dada turun naik, suara nafas menyengal. Orang ini bukan lain adalah Jatilandak, pemuda dari Latanahsilam negeri 1200 tahun silam. Seperti diceritakan dalam Episode sebelumnya, ketika ikut menyerbu ke dalam 113 Lorong Kematian, Jatilandak telah keracunan hawa mengandung belerang yang merupakan pantangan besar bagi dirinya. Dalam keadaan sekarat Pendekar 212 Wiro Sableng memindahkan Jatilandak ke tempat yang lebih aman yakni di dasar jurang di tepi telaga. Sebelum meninggalkan pemuda malang itu Wiro berjanji bila semua urusan di 113 Lorong Kematian selesai dia dan kawan-kawan akan kembali menjemput Jatilandak.

Pangeran Matahari pandangi wajah dan sosok Jatilandak. Mulutnya menyeringai.

"Mahluk buruk! Kau korban pertama dendam kesumatku terhadap Pendekar 212 Wiro Sableng!"

Sepasang mata Jatilandak tetap mendelik tak berkesip. Namun bibirnya tampak bergerak.

Mungkin hendak mengucapkan sesuatu namun tidak ada suara yang mampu keluar.

Pangeran Matahari angkat tinggi-tinggi Bendera Darah yang dipegang di tangan kanan. Ujung lancip bendera yang terbuat dari besi diarahkan ke dada kiri, tepat di jurus jantung Jatilandak.

Didahului tawa bergelak Pangeran Matahari lalu hunjamkan gagang Bendera Darah!

Hanya satu jengkal lagi ujung lancip besi gagang bendera akan menembus dada kiri Jati landak, tiba-tiba ada cahaya gemerlap melesat melewati lobang di dinding kiri telaga. Lalu selarik sinar biru menyusul berkiblat ke arah ujung lancip gagang bendera.

Bunga api memercik ketika terjadi benturan antara sinar biru dengan ujung lancip gagang bendera. Ada satu kekuatan dahsyat siap membuat mental bendera. Pangeran Matahari kerah kan tenaga dalam untuk bertahan. Dua kakinya goyah, tubuh bergetar keras. Dia pergunakan tangan kiri membantu pegangan tangan kanan agar Bendera Darah tidak terlepas mental. Tapi!

Desss!

Asap mengepul. Pangeran Matahari berteriak marah ketika melihat sebagian ujung atas Bendera Darah mengepul hangus. Belum sirna gaung teriakannya, satu kekuatan dahsyat yang bersumber pada sinar biru melanda keras, membuat tubuh nya terpental, jungkir balik di udara dan jatuh tercebur ke dalam telaga.

Dinginnya air telaga terasa sebagai sengatan menyakitkan di wajah dan sekujur tubuh Pange ran Matahari yang hangus akibat luka bakar.

Sewaktu memunculkan kepala di permukaan air telaga, Pangeran Matahari jadi tersentak kaget ketika melihat satu pemandangan yang sulit dipercaya.

Sosok Jatilandak yang tadi hendak dihabisinya kini berada dalam gendongan mahluk aneh berbentuk bayang-bayang dan memancarkan cahaya bergemerlap.Walau berupa bayangan dan cahaya, namun jelas dapat dilihat sosok aneh itu berbentuk seorang perempuan muda berwajah cantik, rambut panjang terurai.

Mahluk bayangan itu memandang ke arah Pangeran Matahari sesaat lalu balikkan tubuh siap bergerak ke arah lobang besar di dinding batu sebelah kiri.

"Hantu perempuan!" Bentak Pangeran Matahari. "Mau kau bawa ke mana pemuda itu?"

"Mau aku bawa ke mana apa urusanmu?" Mahluk yang ditanya menjawab. Suaranya perlahan saja dan sikapnya tenang. Lalu dengan sikap tidak perdulikan orang dia melangkah ke tepi telaga menuju lobang di depan sana.

"Bangsat perempuan! Lagakmu congkak sekali!

Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa!"

"Siapa dirimu apa untungnya aku mengetahui!

Yang kulihat kau adalah sosok gosong tak lebih berharga dari sepotong kayu hangus!"

Dihina begitu rupa marahlah Pangeran Matahari. Serta merta dia berkelebat menghadang si cantik mahluk bayangan.

"Mahluk jahanam! Hantu atau apapun kau adanya akan kukembalikan kau ke alam asalmu!"

Pangeran Matahari menerjang ke depan sambil tusukkan ujung besi runcing gagang Bendera Darah ke arah leher perempuan bayangan.

Saat itu juga sosok yang diserang pancarkan cahaya bergemerlap berwarna kebiruan disertai munculnya kekuatan memiliki daya dorong kuat.

Pangeran Matahari terhuyung-huyung begitu kekuatan aneh itu menerpa ke arahnya. Dia cepat imbangi diri dan kembali menyerang. Kali ini serangannya dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya sehingga ujung runcing gagang Bendera Darah bergetar hebat dan pancarkan sinar kehitaman.

Wuttt!

Ujung runcing gagang besi menusuk ke arah kepala perempuan bayangan. Namun setengah jalan tak terduga mendadak sontak berubah menyambar ke arah kepala Jatilandak. Mahluk yang menggendong Jatilandak menyeringai.

"Serangan bagus! Tapi licik!" serunya. Bahu kiri kanan digoyang. Cahaya biru bergemerlap, memancar terang benderang seperti percikan ratusan bunga api, menyambar ganas ke arah Pangeran Matahari.

Tersentak kaget, Pangeran Matahari berseru keras, terpaksa tarik pulang serangannya dan melompat mundur sambil putar tangan kanan yang memegang Bendera Darah.

Bettt! Bettt! Bettt!

Bendera Darah yang sejak tadi tergulung pada gagang mengembang lebar, membentuk tameng, melindungi diri Sang Pangeran dari serangan ratusan bunga api. Percikan air campur darah bermuncratan. Bau busuk menebar. Bersamaan dengan itu Pangeran Matahari hantamkan tangan kiri melepas pukulan sakti Telapak Matahari.

Namun sebelum niatnya terlaksana, satu sambaran angin luar biasa dahsyat datang melabrak hingga tubuhnya terjengkang ke belakang dan jatuh tergelimpang. Masih untung tidak kecebur ke dalam telaga untuk kedua kalinya.

Ketika Pangeran Matahari bangkit berdiri sosok perempuan bayangan dan Jatilandak tidak ada lagi di tempat itu. Lapat-lapat di kejauhan terdengar suara panjang tawa perempuan seolah mengejek sang Pangeran!

"Jahanam!" rutuk Pangeran Matahari sambil perhatikan Bendera Darah. Tampang gosong manusia congkak itu langsung berubah. Mata mendelik. Bendera Darah kini penuh dengan puluhan lobang sebesar ujung jari kelingking!

"Keparat setan alas!" kembali Pangeran Mata hari memaki. Tangan kiri mengepal, rahang menggembung dan mata seperti dikobari api. Saking marahnya dia tendangkan kaki kanan. Braakk!

Sebuah gundukan batu di tepi telaga hancur berantakan. "Siapa adanya mahluk perempuan itu! Jelas dia bukan gadis dari alam roh bernama Bunga, gendak Pendekar 212!"

DI TIKUNGAN sungai yang gelap, di bawah naungan batang-batang bambu, mahluk perempuan berbentuk bayangan turunkan tubuh Jatilandak lalu dibaringkan di atas sebuah batu besar. Tiupan angin membuat daun-daun bambu bergemerisik. Air sungai yang mengalir melewati sela-sela gundukan batu mengeluarkan suara deru panjang tak berkeputusan.

Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba terdengar kepakan sayap burung disusul suara kicau nyaring panjang. Perempuan bayangan berpaling. Di atas cabang rendah pohon waru di tepi sungai hinggap seekor burung gagak hitam. Setelah me natap burung itu sesaat, perempuan cantik berupa bayangan membuka mulut. Suaranya begitu halus ketika berkata.

"Sahabat, terima kasih untuk bantuanmu hari ini. Sekarang pulanglah. Jika aku memerlukanmu lagi, aku akan memberi tanda..."

Seolah mengerti akan ucapan perempuan bayangan, gagak hitam di cabang pohon waru angguk-anggukan kepala, menguik dua kali, rentangkan sayap lalu melesat ke udara dan lenyap dalam kegelapan.

Perempuan di atas batu besar duduk bersimpuh. Menatap Jatilandak yang terbaring tak bergerak. Tangan kiri diulurkan meraba kening lalu dipindah dan diletakkan di atas urat besar di pangkal leher sebelah kiri. Ketika dia menarik nafas dalam-dalam, tubuhnya pancarkan cahaya bergemerlapan, dan dari dua lobang hidungnya keluar kepulan tipis asap kuning.

"Racun belerang..." ucap perempuan bayangan.

"Dia terkena racun belerang. Apakah aku masih bisa menyelamatkannya?" Mahluk cantik berambut panjang dekatkan mulutnya ke telinga kiri Jatilandak. "Jatilandak, apakah kau bisa mende ngar suaraku?"

Orang yang diajak bicara terbujur tak bergerak.

Dua mata terpentang lebar menatap ke langit hitam. Mulut terbuka sedikit. Bibir bergetar.

"Aku melihat setitik harapan. Mudah-mudahan kekuatan putih dan baik di atas langit mau menolong."

Habis berkata begitu perempuan bayangan turun ke dalam sungai. Sosoknya mengapung di belakang batu besar tepat di ujung dua kaki Jatilandak. Dua telapak tangan dirapatkan satu sama lain lalu diletakkan di atas kepala. Sesaat kemudian terjadi satu keanehan. Aliran sungai yang melewati tubuh perempuan bayangan bersibak ke samping dan mengeluarkan suara seperti mendidih disertai mengepulnya asap putih.

Pada saat suara mendidih terdengar bertambah keras dan kepulan asap putih semakin banyak, perempuan bayangan turunkan dua tangan. Ibu jari kiri. kanan ditempelkan ke telapak kaki kanan kiri Jatilandak.

"Pergi, bersih kembali!" Perempuan bayangan berucap halus. Dua ibu jari ditekan kuat-kuat.

Dess! Dess!

Asap putih mengepul. Bersamaan dengan itu tubuh Jatilandak terangkat setengah tombak ke atas lalu melesat di udara. Dalam kegelapan malam, di atas sungai tubuh itu berputar-putar beberapa kali. Setiap berputar, dari lobang hidung, mulut, serta liang telinga menyembur asap kuning menebar bau busuk belerang. Setelah dua belas kali berputar, semburan asap kuning mulai berkurang. Pada saat asap kuning itu lenyap sama sekali, sosok Jatilandak perlahan-lahan melayang turun dan terbaring kembali di atas batu besar. Di dalam sungai, aliran air di sekitar tubuh perempuan bayangan kelihatan berubah kekuningkuningan.

Perempuan bayangan melesat keluar dari dalam sungai. Tidak ada setetespun air menempel di tubuhnya yang aneh itu. Dia kembali duduk di samping Jatilandak. Setelah memandang pemuda itu beberapa saat. perempuan bayangan berkata.

"Jatilandak, kau selamat dari kematian akibat racun belerang. Kau mampu bergerak. Bangkitlah dan duduk menghadap ke arahku."

Sepasang mata Jatilandak yang sejak tadi membeliak tak berkedip kini mampu bergerak.

Perlahan-lahan dia bangkit duduk di atas batu lalu berputar menghadap ke arah orang yang barusan bicara. Jatilandak lalu terkesiap. Dia tidak menyangka kalau orang di hadapannya

memiliki tubuh seperti bayang-bayang. Dalam ketidak-percayaannya Jatilandak ulurkan tangan kanan ke arah bahu kiri mahluk yang duduk bersimpuh di depannya. Astaga! Walau sosok itu seperti bayang-bayang, namun Jatilandak merasa tidak beda seperti menyentuh dan memegang tubuh manusia biasa!

Perlahan-lahan Jatilandak tarik tangannya.

Mata menatap tak berkesip, mulut lalu berucap.

"Walau tadi mata tak dapat melihat namun perasaan memberi tahu bahwa kau telah menyela matkan diriku. Aku sangat berterima kasih padamu. Kalau aku boleh mengetahui, siapakah engkau adanya? Mengapa ujud keadaanmu seperti ini?"

Perempuan cantik di hadapan Jatilandak usap usapkan rambutnya yang tergerai panjang. Untuk beberapa lamanya dia pandangi pemuda berkulit kuning itu. Jatilandak melihat ada sekelumit senyum di wajah jelita itu, namun samar-samar ada bayangan kesedihan atau semacam ganjalan.

"Kau tak mau menjawab tak jadi apa," kata Jatilandak "Aku tidak tahu harus memanggilmu apa. Namun karena kau telah menyelamatkan jiwaku, apa yang harus aku lakukan untuk membalas budi besarmu itu? Aku bersedia berbuat apa saja untukmu."

Senyum di wajah cantik perempuan bayangan tampak lebih kentara.

"Jatilandak..."

"Hai, bagaimana kau bisa tahu namaku?" tanya Jatilandak penuh heran.

Mahluk bayangan hanya tersenyum. Tidak menjawab pertanyaan si pemuda.

Jatilandak menarik nafas panjang. "Kau masih belum menerangkan siapa dirimu. Mengapa ujudmu seperti ini?"

Si cantik di hadapan Jatilandak tersenyum.

"Aku memang datang dari alam tidak nyata..."

"Maksudmu kau sebangsa roh..."

Perempuan cantik berujud bayangan palingkan wajahnya ketika Jatilandak menatap lekat-lekat ke arahnya. Lalu dia berucap halus. "Terserah kau mau menyebutku aku ini apa. Namun siapa diriku tidak penting. Ada hal lain yang lebih penting."

"Apa?"

"Aku perlu keterangan."

"Keterangan? Keterangan apa?"

"Tentang sebuah kitab. Dalam rimba persilatan tanah Jawa kitab itu dikenal dengan nama Kitab Seribu Pengobatan. Kau pernah mendengar?

Mungkin juga tahu di mana beradanya? Aku ingin mendapatkan kitab itu. Paling tidak untuk membacanya lalu mengembalikan kepada siapapun yang jadi pemiliknya."

"Aku pernah mendengar sedikit tentang kitab itu. Kalau tidak salah kitab itu adalah kitab yang harus dicari Pendekar 212 Wiro Sableng. Konon kitab itu telah dicuri orang dari tempat kediaman gurunya di satu puncak gunung."

"Siapa itu Pendekar 212 Wiro Sableng?" tanya perempuan bayangan.

"Seorang pendekar paling terkenal di tanah Jawa ini." jawab Jatilandak. Tadinya dia ingin menambahkan bahwa antara dia dengan Wiro terjalin suatu persahabatan, namun belakangan ada ganjalan dan kesalahpahaman di antara mereka.

Perempuan bayangan terdiam sesaat. Tampaknya seperti memikirkan sesuatu. "Apakah aku harus mencari pendekar itu?" ucapnya perlahan.

"Jika mau silahkan saja. Namun kitab itu tidak berada di tangannya..."

"Aku gembira mendapat penjelasan darimu.

Berarti benar berita yang aku sirap. Kitab itu berada di tanah Jawa ini. Maukah kau menolong mencarikannya untukku?" kata perempuan bayangan.

"Aku berhutang nyawa padamu. Apapun yang kau pinta akan aku lakukan. Namun kalau aku boleh bertanya, apa perlunya kitab itu bagimu?"

"Bukan untukku, tapi bagi seorang lain," jawab si cantik bayangan.

"Kalau kelak kitab itu aku temukan, di mana aku harus mencarimu untuk menyerahkan?" Bertanya Jatilandak.

"Kau tak perlu bersusah payah. Aku yang akan mendatangimu. Sekarang aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik..." Perempuan bayangan pegang lengan kanan Jatilandak. Pemuda ini merasa ada hawa sangat sejuk mengalir ke dalam tubuhnya.

Sosok berupa bayangan di hadapannya tiba-tiba memancarkan cahaya biru bergemerlap. Lalu secepat kilat berkiblat, secepat itu pula tubuh itu melesat lenyap.

Untuk beberapa saat lamanya Jatilandak duduk termangu di atas batu besar di tikungan sungai yang gelap itu. Kemudian terbayang kembali sosok serta wajah perempuan cantik aneh

tadi. Pemuda ini geleng-geleng kepala. Dia berucap perlahan. "Banyak keanehan di Latanahsilam.

Tapi tanah Jawa ini punya segudang keanehan."***Naga Kuning berjalan paling depan, menuruni tangga batu sambil membawa obor. Di belakang nya menyusul Pendekar 212 Wiro Sableng, Gondo ruwo Patah Hati, lalu Anggini yang juga membawa obor, Dewa Tuak, Wulan Srindi, Kakek Segala Tahu, dan Bunga. Di belakang sekali sambil membawa obor, berjalan Luhkentut, nenek sakti dari Negeri Latanahsilam.

Ratu Duyung dan Setan Ngompol tidak bersama rombongan karena kedua orang ini harus mengurusi delapan perempuan hamil yang sebelumnya disekap dalam 113 Lorong Kematian.

Dengan pertolongan cermin sakti milik Ratu Duyung mereka berhasil keluar di pintu utara lorong batu. Sebelumnya kesaktian cermin itu tidak mampu mengatasi kehebatan kesaktian penguasa 113 Lorong Kematian. Namun begitu Yang Mulia Sri Paduka Ratu menemui kematian kedua, Wakil Ketua menemui ajal, dan Yang Mulia Ketua babak belur melarikan diri, cermin sakti dengan mudah mampu memantau keadaan di sekitar lorong mana yang harus dilalui hingga akhirnya keluar di mulut lorong sebelah utara.

Sekeluarnya dari 113 Lorong Kematian bukan merupakan hal mudah bagi Ratu Duyung dan Setan Ngompol mengadakan perjalanan membawa delapan perempuan yang sedang hamil, apa lagi malam hari begitu rupa. Jelas tidak mungkin mengantarkan perempuan-perempuan hamil itu satu persatu ke tempat kediaman masing-masing.

Karenanya begitu sampai di sebuah desa kecil, Ratu Duyung menemui Kepala Desa untuk di mintai bantuannya mengurusi perempuan-perempuan malang itu. Setelah Ratu Duyung dan Setan Ngompol pergi, Kepala Desa itu masih terteguntegun.

Tidak percaya malam buta begitu rupa dia bakal mendapat tugas menangani delapan perempuan hamil!

Di jalan kecil yang menuju keluar desa, Ratu Duyung berkata. "Kakek sahabatku, sebentar lagi pagi akan datang. Aku rasa aku tidak perlu kembali ke lorong."

"Mengapa pikiranmu berubah?" tanya Setan Ngompol sambil mengusap-usap perut. Dia merasa tenang karena sejak tadi belum kucurkan air kencing. "Bukankah kita sudah berjanji dengan para sahabat akan bertemu di telaga?"

"Semua urusan sudah selesai..."

"Siapa bilang semua urusan sudah selesai?"

tukas Setan Ngompol dengan mata didelikkan.

"Pangeran Matahari kabur dan..."

"Sudahlah, kau saja yang pergi menemui teman-teman."

"Ah, rasa-rasanya aku tahu mengapa kau tidak mau bergabung dengan para sahabat." Berkata Setan Ngompol dan kali ini sambil senyum senyum.

"Apa yang ada dalam benakmu, kakek bau pesing?"

Setan Ngompol usap-usap daun telinganya yang lebar lalu masih sambil senyum-senyum dia berkata. "Menyangkut urusan jodoh. Kau punya banyak saingan berat di sana."

"Saingan berat? Maksudmu apa?" tanya Ratu Duyung.

"Di sana ada Anggini yang konon adalah kekasih lama Pendekar 212 Wiro Sableng. Lalu ada Wulan Srindi yang mengaku-aku murid Dewa Tuak sekaligus berjodoh dengan Wiro. Kemudian masih ada Bunga, gadis dari alam roh yang semua orang tahu sangat mengasihi pemuda itu. Nah, nah, bukankah kau menghadapi saingan-saingan berat? Masih untung si pirang bernama Bidadari Angin Timur tidak ada di sana!"

"Kakek konyol! Mulut usil tak karuan! Kau pergi saja sana! Aku tidak akan bergabung dengan mereka! Alasan yang kau katakan tadi tidak betul!"

Setan Ngompol pegang lengan Ratu Duyung.

"Sahabatku cantik bermata biru. Kita sudah berjanji untuk bergabung dengan teman-teman.

Apa yang akan kukatakan pada mereka jika aku kembali tidak bersamamu?"

"Katakan saja penguasa pantai laut selatan memerintahkan aku datang menghadap."

"Bisa saja aku ngomong begitu. Padahal mereka semua tahu. Bukankah kau sendiri yang jadi penguasa di pantai selatan?"

"Jangan bicara melantur!"

Setan Ngompol geleng-geleng kepala. "Aku tidak memaksa. Mungkin juga kau tidak suka jalan bersamaku. Kakek jelek, bau pesing..."

"Lain kali kita berkumpul lagi dengan para sahabat. Lain kali kita jalan lagi sama-sama," kata Ratu Duyung. Lalu, plaak! Setan Ngompol merasa kan satu tepukan di pantatnya. Dia tersentak kaget. Memandang ke depan Ratu Duyung tak ada lagi di tempat itu.

Sambil usap-usap pantatnya Setan Ngompol berkata. "Pantatku ditepuk. Aku terkejut. Tapi aneh, mengapa kali ini aku tidak kucurkan air kencing? Ratu Duyung seharusnya kau menepuk pantatku sebelah depan, bukan sebelah belakang!

Hik... hik... hik. Ah..."

Mendadak serrr! Setan Ngompol kucurkan air kencing.

"Oala! Muncrat juga kamu! Kukira sudah mampet! Ha... ha... ha!"SAMPAI di tepi telaga Naga Kuning angkat obor di tangan kirinya tinggi-tinggi. Bocah berambut jabrik ini memandang sekeliling telaga lalu berpaling pada Wiro.S "Katamu Jatilandak kau tinggalkan di tepi telaga sini. Kau lihat sendiri tidak ada mahluk hidup atau mahluk mati di tempat ini, kecuali perahu kayu di tepi telaga sebelah sana." Wiro garuk-garuk kepala.

"Ini aneh. Aku tidak berdusta. Tubuhnya aku baringkan di tepi telaga sebelah sana. Dia kutinggalkan dalam keadaan hidup."

"Mungkin dia kecebur, jatuh tenggelam ke dalam telaga," kata Wulan Srindi.

"Bisa jadi," ujar Wiro masih garuk-garuk kepala

"Musti ada yang menyelidik masuk ke dalam telaga." Wiro sambung ucapan sambil memandang pada Naga Kuning dan kedipkan mata.

Bocah berambut jabrik ini tertawa. "Aku tahu kau ingin agar aku masuk ke dalam telaga. Malam buta dingin begini. Ih! Enak kamu sial di aku!

Bukankah kau punya ilmu menembus pandang?

Mengapa tidak pergunakan ilmu itu untuk menyelidiki telaga sampai ke dasarnya?"

"Bocah konyol tapi cerdik. Aku sendiri sampai lupa kalau memiliki ilmu kepandaian itu!" kata Wiro pula. Lalu murid Sinto Gendeng ini menatap ke arah telaga. Hawa sakti dialirkan ke kepala.

Mata dikedipkan dua kali. Walau tidak terlalu jelas, saat itu Wiro mampu melihat isi telaga sampai ke dasarnya.

"Kosong, telaga itu kosong. Jangankan manusia, ikan bahkan kodok seekorpun tidak ada di dalamnya." Wiro memberi tahu.

"Lalu ke mana lenyapnya pemuda itu?" Anggini keluarkan ucapan.

"Mungkin ada seseorang datang lalu menolongnya." Kata Naga Kuning pula.

"Siapa?" menimpali Gondoruwo Patah Hati.

Naga Kuning berpaling pada Kakek Segala Tahu. "Kek, coba kau selidiki..."

Kakek Segala Tahu dongakkan kepala. Tangannya yang memegang kaleng rombeng yang sebelumnya lenyap dan ditemukan Wiro digoyang hingga menimbulkan suara berisik di seantero telaga sampai ke atas jurang. Setelah diam sejurus kakek bermata putih buta ini berkata, "Kali ini aku tidak bisa memberi keterangan. Mungkin aku masih dipengaruhi minuman setan itu. Aku hanya melihat satu bayangan aneh sosok perempuan seperti asap mengambang."

Wiro berpaling pada nenek berambut dan berpakaian serba kuning di sampingnya, "Nek, kau dan pemuda itu sama-sama berasal dari Negeri Latanahsilam. Mungkin kau bisa mengira-ngira apa yang terjadi dengan Jatilandak?"

Nenek berambut kuning yaitu Luhkentut alias Nenek Selaksa Angin pencongkan mulutnya. "Aku punya beberapa dugaan," katanya. "Pertama, pemuda itu mungkin mampu mengatasi racun belerang lalu tinggalkan tempat ini. Kedua, mungkin ada orang yang menemuinya, membunuhnya, lalu membuang mayatnya di tempat lain..."

"Pangeran Matahari!" ucap Gondoruwo Patah Hati.

"Siapa dia? Aku tak kenal manusia itu," kata Luhkentut. "Dugaan ketiga, dugaanku yang terakhir. Ada seseorang menolongnya membawanya ke suatu tempat."

"Siapa si penolong itu? Mustahil ada orang lain di tempat ini," kata Pendekar 212 pula.

"Bidadari Angin Timur," kata Wulan Srindi.

Beberapa orang berpaling ke arah gadis berkulit hitam manis itu. Kening berkerut mata menatap tak berkesip. Anggini yang sejak pertama kali kenal tidak menyukai gadis ini, langsung menanggapi. "Kau menyebut nama gadis sahabatku itu.

Apakah kau punya bukti bahwa dia yang menolong Jatilandak?"

"Aku memang tidak punya bukti. Juga tidak melihat sendiri kejadiannya memang begitu. Tapi apa salahnya menduga-duga? Lebih baik bicara mengemukakan pendapat daripada cuma diam melongo seperti patung kayu yang sudah lapuk dan busuk! Tapi jeleknya kalau sudah ada orang lain bicara lebih dahulu, langsung mendebat sengit!"

"Beraninya kau menghina aku sebagai patung kayu lapuk busuk!" Anggini marah besar. Wajah nya kelihatan merah. Dia melangkah mendekati Wulan Srindi tapi Bunga cepat memegang tangannya.

Wiro kembali berpaling pada Luhkentul. "Nek, ada sesuatu yang akan kau beri tahu?"

Luhkentut usap rambutnya yang kuning. "Aku membaui sesuatu. Bau manusia dari negeri seribu dua ratus tahun silam..."

"Hantu Muka Dua!" kata Wiro Sableng. "Aku khawatir jangan-jangan dia telah membunuh Jatilandak. Semasa di Negeri Latanahsilam, dia telah punya niat jahat hendak menghabisi pemuda itu di sebuah pulau." Tiba-tiba Wiro ingat. "Nek, bukankah Hantu Muka Dua bersamamu di tepi jurang. Waktu itu Nyi Roro Manggut yang datang bersamamu meminta agar kau mengawasi manusia satu itu. Apa yang terjadi dengan dirinya? Dimana dia sekarang?"

Luhkentut tak segera menjawab. Mulutnya yang ditutup rapat dipencong-pencong.

"Nek, ada apa? Mengapa kau tidak menjawab?"

"Jangan-jangan nenek ini punya penyakit ayan.

Mau kumat..." kata Naga Kuning yang segera terdiam begitu dipelototi Gondoruwo Patah Hati.

"Sebentar. Aku..., aku lagi nahan kentut. Nah, sekarang sudah lewat jadi angin. Hik... hik... hik."

Luhkentut menjawab sambil mesem-mesem. Lalu nenek sakti dari Latanahsilam ini menerangkan.

"Tak lama setelah terdengar letusan-letusan dahsyat di dalam lorong, aku melihat terjadi perubahan pada diri Hantu Muka Dua. Tubuhnya yang lunglai seperti mendapatkan kekuatan dan kesaktiannya kembali. Saat itu dia berkata mungkin penguasa lorong telah menemui ajal. Lalu dia berdiri. Aku mengikuti dan bertanya dia mau kemana. Katanya dia akan mencari orang-orang yang telah menolongnya. Mungkin mereka dalam bahaya. Dia ingin membalas budi dengan ganti menolong. Aku sendiri merasa heran. Apa ucapan nya bisa dipercaya. Hantu Muka Dua melompat ke tangga batu. Dia menghancurkan dinding batu di mana terdapat pintu rahasia. Dia berteriak agar aku segera mengikuti. Namun sewaktu aku bergerak masuk, langit-langit lorong di hadapanku runtuh. Aku terhalang. Ketika aku berhasil menerobos. Hantu Muka Dua tidak kelihatan lagi. Aku berteriak berulang kali memanggil, namun tidak ada jawaban. Aku kemudian bertemu dengan rombongan yang masuk ke dalam lorong untuk membebaskan perempuan-perempuan hamil serta gadis bernama Anggini ini."

Kesunyian menggantung beberapa saat ditempat itu.

"Mungkin dia tersesat di dalam lorong," kata Wiro.

"Mungkin juga kabur untuk mengatur siasat jahat baru," kata Anggini.

Wiro garukkan kepala dan berkata. "Jika Hantu Muka Dua masuk ke dalam lorong, berarti bukan dia yang mencelakai atau menolong Jatilandak.

Kita akan tetap di sini sampai Setan Ngompol dan Ratu Duyung datang."

Dewa Tuak yang sejak tadi diam saja keluarkan suara batuk-batuk lalu berucap. "Aku tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Tenggorokanku panas haus! Aku terpaksa meninggalkan kalian untuk mencari tuak!"

Habis berkata begitu kakek berambut dan berjanggut putih ini melirik ke arah Wiro, kedipkan mata dan berkata. "Aku mau cari tuak benaran, bukan mencari bibir..." Si kakek tertawa gelak-gelak, membungkuk lalu menepuk permukaan air telaga. Tepukan ini bukan saja menyebabkan air telaga muncrat tinggi ke atas tapi juga membuat perahu kayu yang tertambat di tepi telaga putus tali pengikatnya lalu melesat ke arah lobang besar di dinding batu.

"Ha... ha... Perahuku sudah menunggu di sungai. Selamat tinggal para sahabat. Kuharap kalian baik-baik saja!"

Dewa Tuak siap melompat ke arah lobang di dinding. Namun tiba-tiba Wulan Srindi mendahului bergerak dan jatuhkan diri di hadapan si kakek. Dengan suara memelas gadis ini berkata.

"Guru, sebagai murid perkenankan saya ikut mengantar ke mana guru pergi..."

"Ngaconya kumat lagi!" kata Anggini dengan wajah sebal. Yang lain sama-sama terdiam, menungggu apa jawaban si kakek.

Setelah menatap Wulan Srindi beberapa saat, sambil usap janggut putihnya Dewa Tuak berkata.

"Gadis bawel, memang baiknya kau tidak berada di tempat ini. Kau boleh menumpang perahuku tapi nanti harus mau turun di tengah jalan."

"Murid akan ikuti apa kata guru," kata Wulan Srindi sambil matanya melirik ke arah Anggini karena merasa menang. Tidak terduga gadis ini kemudian melangkah ke hadapan Pendekar 212 Wiro Sableng dan berkata. "Selama ikatan jodoh telah terjalin antara kita, perpisahan hanyalah untuk berbagi rindu dan menguji kesetiaan..."

Merah padam wajah Anggini mendengar ucapan Wulan Srindi itu. Yang lain-lain tampak terkesiap sementara Bunga hanya tersenyum simpul.

Wiro sendiri tegak melongo sambil golang-golengkan kepala. Dia tidak sempat menarik lengannya sewaktu Wulan Srindi menyalami dan mencium punggung tangannya. Sekali lagi Wulan Srindi melirik ke arah Anggini, sunggingkan senyum penuh arti lalu melesat ke arah perahu di belakang dinding batu!

"Guru! Murid sudah berada di perahu menunggumu!"

Dewa Tuak menghela nafas panjang. Dia melangkah biasa saja namun di lain kejap sudah berada di dalam perahu, duduk di sebelah depan.

Sebelum perahu bergerak, Kakek Segala Tahu kerontangkan kaleng rombengnya lalu melompat ke lobang di dinding batu. Kepala dijulurkan.

"Apa masih ada tempat dalam perahu untuk tubuh rongsokan ini?"

"Kakek Segala Tahu, jika kau sudi jalan bersama kami silahkan masuk ke dalam perahu."

Yang menjawab adalah Wulan Srindi.

Kakek Segala Tahu berpaling ke arah orangorang yang tegak di tepi telaga. Dia lambaikan tangan.

"Selamat tinggal para sahabat. Kalau umur sama panjang kita pasti akan bertemu lagi."

"Kek, tunggu!" Tiba-tiba Wiro berseru dan melompat ke hadapan Kakek Segala Tahu.

"Kau mau ikutan? Rupanya kau tak mau ditinggal gadis itu. Ha... ha... ha! Tapi kalau tak salah, mataku yang buta melihat agaknya perahu sudah sempit," kata Kakek Segala Tahu. Lalu goyangkan kaleng butut di tangan kirinya hingga suara berisik kembali menggema di tempat itu.

"Tidak, aku bukan mau ikut. Ada satu titipan amanat orang yang kelupaan aku serahkan padamu. Aku mohon maafmu."

Dari balik pakaiannya Wiro keluarkan kipas kayu cendana yang pernah dititipkan oleh Nyi Roro Manggut dengan pesan agar diserahkan pada Kakek Segala Tahu. Wiro susupkan kipas kayu cendana itu ke dalam pegangan jari-jari tangan kanan Kakek Segala Tahu.

"Eh, benda apa ini?" tanya si kakek. Lalu mencium harumnya bau kayu cendana. Wajah tuanya tampak berubah.

"Kipas, Kek," kata Wiro setengah berbisik.

"Titipan dari Nyi Roro Manggut."

"Ah..." Kakek Segala Tahu menarik nafas panjang. Dia goyangkan tangan kanan. Sreettt!

Kipas kayu cendana terkembang. Si kakek dekat kan kipas ke wajahnya. Walau dia tidak bisa melihat namun dia tahu, pada badan kipas tertera gambar sepasang muda mudi. Kakek buta mata putih itu tempelkan kipas kayu di keningnya. Lalu kipas disimpan baik-baik di balik pakaian rombengnya.

"Pendekar 212," kata Kakek Segala Tahu pula.

"Kalau kipas ini kau serahkan sewaktu masih dalam lorong, mungkin kita bisa lebih cepat menghancurkan manusia-manusia pocong durjana itu.

Tapi semua berjalan sesuai kehendak Gusti Allah.

Terima kasih kau mau bersusah payah menyampaikan kipas ini." Kakek Segala Tahu berpaling kearah perahu. "Sobatku Dewa Tuak. Harap maafan. Aku tak jadi ikut denganmu. Aku harus menemui seseorang..."

Dewa Tuak tertawa gelak-gelak. "Aku tahu riwayat kipas kayu cendana itu. Jika kau bertemu orang yang memberikan sampaikan pesanku padanya..."

"Akan aku lakukan," jawab Kakek Segala Tahu Dewa Tuak tepukkan tangan kirinya ke dalam air sungai. Perahu yang ditumpanginya bersama Wulan Srindi serta merta melesat dan lenyap dalam kegelapan malam.***Ketika pagi tiba, Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati pergi ke kawasan persawahan di seberang sungai. Mereka menangkap hampir selusin burung belibis lalu memanggang dan

menyantapnya bersama yang lain-lain. Menjelang tengah hari Setan Ngompol muncul. Wiro merasa kecewa karena Ratu Duyung tidak datang bersama kakek itu. Banyak hal yang ingin ditanyakan pada gadis cantik bermata biru itu. Ketika ditanya pada Setan Ngompol, sesuai pesan yang dipesan Ratu Duyung, si kakek memberi tahu bahwa gadis itu diperintahkan penguasa pantai selatan untuk datang menghadap.

"Aku tahu, kau dan juga gadis itu berdusta,"

kata Wiro yang membuat kencing Setan Ngompol jadi terpancar. Setelah merenung sejenak, murid Sinto Gendeng lalu berkata, "Para sahabat, aku sangat berterima kasih atas semua bantuan kalian dalam menghancurkan gerombolan manusia sesat 113 Lorong Kematian. Aku akan mencari dan mengejar Pangeran Matahari. Selain itu aku masih punya satu tugas dari Eyang Sinto Gendeng.

Mencari dan menemukan Kitab Seribu Pengobatan. Aku tidak tahu para sahabat mau ke mana dan apa yang hendak kalian lakukan. Saat bisa berkumpul bersama seperti ini entah kapan lagi bisa terjadi."

"Wiro, aku ikut bersamamu," kata Setan Ngompol.

Wiro tersenyum. "Terima kasih," katanya perlahan.

"Aku dan Gondoruwo Patah Hati ada sedikit urusan di pantai utara. Jika ada kesempatan aku akan bergabung denganmu," kata Naga Kuning.

Wiro anggukkan kepala.

"Aku akan mencari Hantu Muka Dua," berkata Luhkentut yang merasa bersalah atas lenyapnya dedengkot rimba persilatan dari Negeri Latanahsiam itu.

Wiro memandang ke arah Anggini. Dalam hati dia ingin gadis itu ikut bersamanya karena banyak hal yang akan dibicarakan. Namun murid Sinto Gendong merasa kecewa sekali ketika Anggini berkata.

"Mungkin sudah saatnya aku menjenguk guruku Nyanyuk Amber di Danau Maninjau Pulau Andalas..."

Gadis ini memandang berkeliling. Wajahnya nampak redup. "Para sahabat, aku mohon diri lebih dulu." Tanpa perhatian atau pandangan khusus, bahkan tanpa satu lirikan pun kepada

Wiro, Anggini berkelebat ke arah lobang besar di dinding batu. Naga Kuning dan Gondoruwo Patah Hati menyusul pergi. Juga Luhkentut.

Setan Ngompol duduk di tepi telaga, menatap ke arah Wiro. Dia merasa kasihan terhadap pemuda itu. Lalu si kakek berpaling pada Bunga, gadis dari alam roh. "Apakah kau juga akan meninggal kan kami?" Bertanya Setan Ngompol.

Bunga tersenyum. "Apakah kau tidak suka aku berada lama-lama di tempat ini?" Gadis ini lalu melangkah mendekati Wiro. Dipegangnya lengan kiri sang pendekar seraya berkata. "Ingat ujar-ujar yang mengatakan jangan hati mempengaruhi pikiran, jangan pikiran mengacaukan hati. Orangorang yang barusan pergi itu tidak perlu kau risaukan. Jika umur sama panjang kau pasti akan bertemu dengan mereka. Justru ada seorang lain yang harus mendapat perhatian lebih darimu..."

"Aku mengerti. Aku akan lebih banyak memperhatikan dirimu..."

"Kau tidak mengerti. Orang yang kumaksudkan tidak ada di tempat ini..."

"Maksudmu Bidadari Angin Timur?"

"Kau masih tidak mengerti. Mungkin kau lupa akan ucapanku tempo hari bahwa hanya ada satu orang yang cocok menjadi pendamping dirimu..."

"Kalau yang kau maksudkan Ratu Duyung, rasanya aku. banyak membagi perhatian untuknya. Sebaliknya kau ketahui sendiri, dia tidak kembali ke sini..."

"Disitulah letak kebesaran jiwanya. Dia bersedia. mengalah walau mungkin hatinya perih. Dia tidak ingin mengganggu pertemuanmu dengan Anggini, atau Wulan Srindi, atau pun diriku..."

Wiro terdiam beberapa lama lalu tertawa lebar.

Bunga mengulurkan tangan kanan, menyerahkan sesuatu pada Wiro. "Aku tahu kau tidak memiliki lagi kembang kenanga. Ambil yang sekuntum ini.

Seperti yang sudah-sudah, kembang ini satu-satunya alat penghubung antara kita."

Wiro ambil kembang kenanga kuning yang diserahkan Bunga.

"Apakah kau juga berniat pergi?"

"Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Selain itu matahari telah tinggi. Sudah terlalu lama aku keluar dari alamku..."

"Apa yang hendak kau lakukan kalau aku boleh tahu?" tanya Wiro.

"113 Lorong Kematian..." jawab Bunga. "Tempat itu harus dimusnahkan. Jangan sampai dipergunakan oleh orang lain untuk berbuat kejahatan.

Bukan mustahil Pangeran Matahari akan kembali ke bekas markasnya itu."

Wiro garuk-garuk kepala. "Otakku tidak berpikir sampai ke sana," kata murid Sinto Gendeng pula. Lalu dipegangnya bahu gadis alam roh itu.

"Terima kasih untuk segala-galanya. Kalau saja aku bisa masuk ke dalam alammu, ikut bersama mu..."

"Aku senang mendengar kata-katamu itu, Wiro.

Alammu dan alamku hanya terpisah sebatas cahaya sang surya pada siang hari, sebatas tiupan angin pada malam hari dan sebatas embun sejuk pada pagi hari. Lagi pula dengan kembang kenanga itu, kau bisa memanggilku setiap saat kau memerlukan diriku..."

Wiro mengangguk. Dia membungkukkan kepala mencium kening Bunga lama sekali. Si gadis memeluknya erat-erat. Selagi kedua orang itu berangkulan, Setan Ngompol berdiri mendekati gundukan batu setinggi orang di tepi telaga. Kakek ini lalu memeluk gundukan batu itu.

"Kakek Setan Ngompol, apa enaknya memeluk batu basah dan dingin!" Suara Bunga menggema di tempat itu. "Kau mau perempuan sungguhan?

Nah lihat dan peluklah yang kuat!"

Setan Ngompol terkejut. Batu yang dipeluknya tiba-tiba berubah menjadi sosok seorang perempuan muda berwajah cantik, bertubuh montok mengenakan kemben dengan dada membusung putih. Kali ini saking kagetnya si kakek semburkan air kencing. Sosok sintal perempuan muda cantik itu dipagutnya erat-erat. Ketika hidungnya hendak ditempelkan ke dada yang putih besar, mendadak sosok perempuan muda cantik itu kembali ke ujud semula yaitu batu hitam basah dan dingin. Setan Ngompol terduduk jatuh, beser habis-habisan! Di dasar jurang suara tawa Bunga menggema panjang dan akhirnya sirna bersama lenyapnya ujud kasarnya dari tempat itu.PANGERAN Matahari berlari laksana terbang dalam kegelapan malam. Terpaan angin membuat sekujur permukaan tubuhnya yang gosong sakit seperti dikikis. Di sebelah dalam tulang belulangnya seolah bertanggalan. Namun kesengsaraan badaniah itu tidak berarti apa-apa dibandingkan tumpukan rasa sakit hati dan dendam kesumat akibat semua malapetaka yang dialaminya.

Pertama, tergusurnya dia dari 113 Lorong Kematian yang sekaligus memusnahkan rencana besarnya untuk mendirikan satu partai rimba persilatan bernama Partai Bendera Darah. Dendam kesumat dan sakit hatinya terhadap Wiro dan kawan-kawan bukan alang kepalang.

Kedua, semua ilmu kesaktian luar biasa yang tadinya siap akan didapat dari sosok nyawa kedua Puti Andini alias Yang Mulia Sri Paduka Ratu menemui kegagalan karena gadis yang hidup dengan nyawa tumpangan itu keburu menemui kematian.

Ketiga, Bendera Darah yang dianggap sebagai bendera keramat mengalami kerusakan. Ini dianggap sebagai suatu pertanda tidak baik.

Lalu yang keempat ialah sakit hati atas kekalahannya ketika menghadapi mahluk halus berbentuk perempuan cantik yang menolong Jatilandak, Walau dia tidak berhasil menyedot dan mendapatkan ilmu kesaktian yang ada dalam diri Yang Mulia Sri Paduka Ratu namun dia berharap masih memiliki ilmu kesaktian asli yang tidak bisa dibuat main-main. Seluruh tokoh rimba persilatan tanah Jawa merasa ngeri menghadapinya. Mengapa dengan sosok berbentuk perempuan bayangan itu dia bisa dipecundangi? Apakah dia juga telah kehilangan keampuhan ilmu kesaktian sakti yang didapatnya dari mendiang gurunya, Si Muka Bangkai? Kalau saja ada orang lain di hadapannya saat itu ingin sekali dia membunuh untuk menjajal salah satu pukulan sakti yang dimilikinya.

"Mahluk jahanam itu! Kalau dia bukan gadis alam roh kekasih Pendekar 212, mungkin sekali dia adalah mahluk yang datang dari alam yang sama dengan pemuda kulit kuning itu. Lalu apa hubungannya dengan Jatilandak? Gurunya atau kekasihnya? Ilmu kesaktiannya luar biasa. Edan!

Bagaimana aku harus menghadapinya kalau bertemu lagi?" Sosok tubuh berbentuk bayangbayang wajah cantik yang samar, muncul dipelupuk mata Pangeran Matahari.

Selewat satu bukit kecil, Pangeran Matahari lari ke arah timur memasuki rimba belantara. Keluar dari hutan dia sampai di satu pedataran tinggi ditumbuhi pohon-pohon jati berusia puluhan tahun. Di satu tempat dia hentikan lari. Jatuhkan diri ke tanah, berbaring menelentang menatap langit kelam lalu pejamkan mata. Sakit hati dan dendam kesumat masih menggumpal di rongga dadanya.

Pangeran Matahari bangkit berdiri dan siap untuk tinggalkan tempat itu. Namun gerakannya tertahan ketika tiba-tiba hidungnya mencium bau harum lalu telinganya menangkap suara orang menghela nafas berulang kali. Suara itu datang dari bagian tanah rendah di sebelah kiri. Perlahanlahan, tanpa suara dia, melangkah ke arah sumber suara. Tepat pada bagian tanah yang menurun, Pangeran Matahari menyelinap ke balik satu pohon jati besar. Sepasang mata menyipit, lalu membesar. Mulut sunggingkan seringai.

"Ahh... dia rupanya. Sungguh tidak disangka..."

Ucap Pangeran Matahari dalam hati. Dada berdebar, aliran darah mengencang dan memanas.

Untuk sesaat rasa sakit yang menjalari sekujur tubuhnya luar dalam tidak terasa. "Hampir tak percaya aku akan penglihatanku sendiri! Pantas sewaktu para jahanam itu menyerbu lorong aku tidak melihat yang satu ini. Ternyata dia ada di sini. Kelihatannya tengah bersedih. Seperti mau menangis. Ha... ha! Nasibmu tidak akan lebih baik dari saudara kembarmu! Pendekar 212! Saat ini aku punya satu kesempatan untuk membuat dirimu hidup dengan hati sengsara seumur-umur sampai akhirnya aku mengirimmu ke neraka!"

Apa atau siapakah yang telah dilihat Pangeran Matahari saat itu? Sejarak sepuluh langkah dari balik pohon jati tempat dia bersembunyi, ada sebuah gubuk tak berdinding, beratap rumbia berlantai papan. Di sisi kiri gubuk, di pinggiran lantai papan, tangan kiri menopang kening, duduk menyamping seorang dara berpakaian biru. Rambutnya yang pirang tergerai lepas, bergerak perlahan dimainkan hembusan angin malam. Angin malam pula yang menebar bau harum tubuh dan pakaiannya.

Pangeran Matahari sandarkan Bendera Darah ke batang pohon lalu perlahan sekali, tanpa mengeluarkan suara dia melangkah mendekati sang dara.

"Bidadari Angin Timur, malam sunyi dan dingin begini rupa, apa yang kau perbuat seorang diri di tempat ini?"

Mendengar suara orang, gadis berambut pirang yang duduk di lantai papan tersentak kaget. Lebih kaget lagi ketika dia melihat sosok nyaris telanjang berwajah gosong luar biasa mengerikan tahu-tahu telah berdiri di hadapannya. Didahului pekikan keras si cantik di dalam gubuk melompat bangkit.

Namun, dess... dess!

Dua totokan kilat dengan hebat menusuk pangkal lehernya kiri kanan, membuat gadis ini jatuh terduduk di lantai papan. Tak bisa bicara, tak mampu bergerak, dua mata membeliak! Dia cepat kerahkan tenaga dalam, alirkan hawa sakti keleher. Walau memiliki kekuatan dahsyat namun si gadis hanya sanggup membuyarkan totokan yang menutup jalan suara. Totokan yang membuat dia tak mampu bergerak, tidak dapat dimusnahkan.

Gadis di lantai gubuk yang bukan lain memang Bidadari Angin Timur adanya kembali menjerit keras lalu membentak.

"Setan! Mahluk siapapun kau adanya lepaskan totokan di tubuhku!"

Pangeran Matahari tertawa bergelak. "Nasibku memang buruk," katanya. "Sekujur tubuh dan wajah hitam gosong. Pakaian penuh robek nyaris telanjang. Tidak heran kalau kau tidak mengenali diriku!"

Pangeran Matahari perlahan-lahan berjongkok di hadapan Bidadari Angin Timur.

"Perhatikan kepala dan tubuhku! Gosong terbakar! Lihat wajahku! Lihat! Hidung miring ke kiri.

Pipi kiri melesak, rahang amblas. Mata kiri terbenam! Ada cacat luka di kening kiri! Lihat jari kelingking tangan kiriku yang buntung! Apa kau masih belum mengenali diriku, hah?"

Pangeran Matahari ulurkan kepalanya dekatdekat hingga hampir menyentuh wajah Bidadari Angin Timur. Untuk kesekian kalinya gadis itu menjerit keras.

"Mahluk jahanam! Lepaskan totokan di tubuhku!"

"Kau tahu, semua penderitaan ini, semua kesengsaraan ini adalah akibat perbuatan kekasihmu si keparat Pendekar 212 Wiro Sableng!"

Sesaat Bidadari Angin Timur terbeliak kaget "Mahluk terkutuk! Siapa percaya ucapanmu!

Jangan kau berani bermulut lancang! Aku bukan kekasih Pendekar 212!"

"Ha... ha...! Kalau begitu aku benar-benar mendapat peluang! Malam ini aku Pangeran Matahari akan menjadi kekasihmu! Aku Pangeran segala cerdik, segala akal, segala ilmu, segala licik, segala congkak! Ha... ha... ha!" Habis mengumbar tawa Pangeran Matahari ulurkan tangan kanan membelai wajah sang dara.

"Jangan kau berani menyentuh diriku!" teriak Bidadari Angin Timur sambil matanya membeliak menatap ke arah wajah mengerikan di hadapannya. Sulit dia mempercayai mahluk bugil menyeramkan itu adalah Pangeran Matahari. Tapi suaranya. Dia pernah mendengar suara Pangeran Matahari sebelumnya. Memang ada kesamaan.

Pangeran Matahari tundukkan kepala, mencium pipi Bidadari Angin Timur, menjilat telinga si gadis lalu berbisik. "Saudara kembarmu pernah menjadi kekasihku. Ah, dia gadis hebat. Luar biasa di atas ranjang. Tapi aku rasa kau lebih hebat dari dia walau alas ketiduran kita saat ini hanya lantai papan."

"Setan! Mahluk terkutuk! Pergi kau!"

Bidadari Angin Timur kembali menjerit ketika Pangeran Matahari mendorong tubuhnya hingga terbaring terlentang tak berdaya di lantai gubuk.

"Jahanam! Jangan lakukan ini padaku! Demi Tuhan jangan!" teriak Bidadari Angin Timur sewaktu Pangeran Matahari mulai merobek dan melucuti pakaiannya sebelah atas, dilanjutkan dengan merobek dan menyingkap pakaiannya sebelah bawah.

"Jahanam! Lebih baik kau bunuh diriku!"

Pangeran Matahari tertawa bergelak.

"Kekasihku, bukankah sejak lama sebenarnya kita saling memendam cinta? Sekarang ada kesempatan kita menikmati hidup ini. Mengapa malah minta dibunuh?"

Bidadari Angin Timur memaki habis-habisan lalu meludahi muka Pangeran Matahari. Yang dimaki dan diludahi cuma menyeringai. Sepasang mata sang Pangeran berkilat-kilat, dikobari api amarah, dendam kesumat dan yang paling hebat adalah kobaran nafsu bejat terkutuk! Apalagi seumur hidup belum pernah dia melihat aurat perempuan semulus dan seindah serta sekencang seperti yang terbaring di hadapannya saat itu. Di puncak gelegak nafsunya, tubuhnya sebelah bawah yang tidak mengenakan apa-apa lagi lang sung dirapatkan ke aurat paling terlarang Bidadari Angin Timur.

Crasss!

Darah menyembur!

Pangeran Matahari keluarkan teriakan dahsyat ketika dari arah kegelapan satu sinar merah melesat ke bagian bawah perutnya. Tubuhnya terjengkang, terguling ke samping, beberapa lama berkelojotan seperti disengat bara api! Darah mengalir di lantai papan. Dia berusaha bangkit. duduk dan memeriksa bagian bawah perutnya. Ketika melihat luka besar yang menyemburkan darah pada kemaluannya langsung dia menjerit setinggi langit berulang kali seperti orang gila! Bagaimana tidak, kemaluan itu nyaris putus!

Tubuh gemetar menahan amarah dan rasa sakit luar biasa, Pangeran Matahari cepat totok urat besar di pangkal paha kiri kanan. Darah dari luka di kemaluan berhenti mengucur namun rasa sakit tidak bisa hilang.

"Pembokong jahanam! Pengecut! Kau hendak menghancurkan hidupku! Aku Pangeran Matahari tidak bisa dihancurkan! Aku Pangeran segala cerdik, segala akal, segala ilmu, segala licik, segala congkak! Tidak ada yang bisa hancurkan diriku!

Perlihatkan dirimu!"

Pangeran Matahari memandang berkeliling. Dia tidak melihat siapa-siapa di tempat itu. Bidadari Angin Timur masih tergeletak di lantai papan dalam keadaan nyaris bugil, antara sadar dan tidak.

Gilanya, dalam keadaan terluka parah seperti itu nafsu bejat Pangeran Matahari kembali berkobar.

Dia segera membungkuk hendak mengangkat tubuh Bidadari Angin Timur. Rencananya gadis itu akan dipanggul dan dibawa lari ke tempat lain di mana dia akan melanjutkan niat terkutuknya.

Namun sebelum sempat menyentuh tubuh sang dara untuk kedua kalinya, kembali selarik sinar merah melesat dari kegelapan.

Pangeran Matahari menjerit kesakitan ketika lengan kanannya terluka dan kucurkan darah.

Nafsu bejat sang Pangeran serta merta sirna berubah menjadi amarah. Terbungkuk-bungkuk dia keluar dari dalam gubuk, tertatih-tatih ke arah pohon besar di mana dia menduga bersembunyi nya orang yang membokong. Sejarak sepuluh langkah dari pohon itu Pangeran Matahari hantamkan tangan kanan, melepas satu pukulan sakti.

Sinar kuning, merah, dan hitam berkelebat dalam kegelapan malam. Itulah pukulan sakti bernama Gerhana Matahari. Di seberang sana, pohon besar yang terkena hantaman berderak

hancur, tumbang ke tanah dalam keadaan terbakar. Semak belukar sekitar pohon tenggelam dalam kobaran api, hancur bertaburan, beterbangan ke udara. Bersamaan dengan tumbang dan terbakarnya pohon, melengking satu jeritan keras.

"Rasakan! Mampus kau!" ucap Pangeran Matahari yang menyangka pukulan saktinya tadi telah berhasil mengenai si pembokong. Terhuyunghuyung menahan rasa sakit pada luka besar di kemaluannya dia melangkah ke balik tumbangan pohon. Namun alangkah terkejutnya dia ketika tidak menemukan siapa-siapa. Padahal jelas-jelas tadi ada suara orang menjerit keras sekali di tempat itu. Suara jeritan lelaki!

"Setan dari mana yang tengah mempermainkan diriku?" rutuk Pangeran Matahari. "Mungkinkah mahluk perempuan berujud bayangan di telaga itu? Tapi yang menjerit tadi jelas suara lelaki!"

Mendadak terdengar suara tawa melengking dari arah gubuk beratap rumbia. Kali ini suara tawa perempuan! Membuat Pangeran Matahari melengak kaget, merutuk habis-habisan. Segera dia mengambil Bendera Darah yang tadi disandarkannya di batang pohon lalu secepat langkah yang bisa dilakukannya, sambil terus menahan sakit, dia berjalan menuju gubuk. Setengah jalan langkahnya tertahan. Dia jadi terkejut luar biasa, karena selain tidak melihat siapa orang yang tertawa, sosok Bidadari Angin Timur yang sebelum nya tergeletak di lantai gubuk tak ada lagi di tempat itu!

Pangeran Matahari terdongak kaget ketika mendadak terdengar suara tawa perempuan. Kali ini datangnya dari atas atap gubuk.

"Setan perempuan! Kali ini tamat riwayatmu!"

bentak Pangeran Matahari. Tangan kanannya bergetar hebat pertanda dia mengerahkan tenaga dalam penuh. Ketika tangan itu dihantamkan ke atas selarik sinar merah menderu dahsyat. Tidak kepalang tanggung karena sang Pangeran berniat benar-benar ingin menghabisi orang yang tertawa di atas atap, dia lepaskan pukulan Merapi Meletus.

Bilamana lawan yang terkena hantaman pukulan ini mampu bertahan maka umurnya tidak akan lama. Isi dada dan isi perut laksana dibetot berbusaian keluar. Jalan darah berhenti. Sekujur tubuh hilang kekuatan dan akhirnya leleh!

Atap gubuk yang terbuat dari ijuk tenggelam dalam kobaran api, hancur berantakan. Pangeran Matahari melompat keluar dari dalam gubuk.

Untuk beberapa lama kesunyian menggantung di udara.

"Kurang ajar!" Pangeran Matahari merutuk sambil matanya memandang ke arah atas gubuk yang kini tidak beratap, lalu memperhatikan berkeliling. "Lolos lagi!" katanya dengan rahang menggembung. Sulit dipercaya karena selama dia memiliki pukulan sakti itu hanya para tokoh rimba persilatan cabang atas saja yang mampu menyelamatkan diri. "Perempuan yang tertawa itu!

Sampai di mana kehebatannya? Apakah dia salah satu tokoh rimba persilatan tanah Jawa?"

Baru saja Pangeran Matahari selesai berucap, mendadak kembali suara tawa perempuan melengking keras. Kali ini hanya beberapa langkah saja di depannya. Dalam kaget dan marahnya Pangeran Matahari tusukkan ujung gagang Bendera Darah yang lancip ke depan.

Wuttt!

Bendera Darah melesat deras. Tapi karena tak ada siapa-siapa di hadapannya ujung runcing gagang Bendera Darah hanya menembus udara kosong!

Bagaimanapun angkuh congkaknya sang Pangeran namun saat itu nyalinya jadi ciut juga.

Tengkuk mulai terasa dingin. Tidak tunggu lebih lama lagi dia segera tinggalkan tempat itu.

Semula dia punya niat kembali ke kawasan 113 Lorong Kematian untuk mencari Aksara Batu Bernyawa. Namun saat itu dia lebih mementingkan keselamatan diri dan berusaha mencari seseorang yang bisa mengobati luka parah yang dideritanya pada alat kelaminnya.

Belum jauh Pangeran Matahari meninggalkan hutan jati tiba-tiba di kejauhan terdengar suara bergemuruh dahsyat laksana gunung batu runtuh. Untuk beberapa saat lama tubuhnya tertegun gontai. Kepala dipalingkan ke arah selatan.

"113 Lorong Kematian..." desisnya. Wajah berubah tercekat. "Suara gemuruh itu datang dari arah sana. Apa yang terjadi?" Rasa khawatir muncul dalam hati Pangeran Matahari. Dia ingin sekali menyelidik. Namun keadaan dirinya tidak me mungkinkan.CAHAYA matahari pagi menyeruak di selasela dedaunan, sebagian jatuh tepat di permukaan wajah pucat Bidadari Angin Timur.

Kehangatan cahaya sang surya membuat sepa sang mata si gadis yang sekian lama tertutup kini tampak bergetar lalu perlahan-lahan membuka.

Yang pertama kali dilihatnya adalah langit biru lepas. Lalu dia mendengar suara kicau burung dan sayup-sayup di kejauhan ada suara menderu tak berkeputusan. Suara air jatuh. Ada air terjun di sekitar situ.

Sedikit demi sedikit daya ingatan Bidadari Angin Timur mulai bekerja.

"Di mana aku saat ini? Bagaimana aku bisa berada di tempat ini. Bukankah...?" Gadis beram but pirang ini raba dadanya dengan tangan kanan.

Dia sadar, bukankah sebelumnya dia berada dalam keadaan tertotok? Siapa yang melepaskan totokannya?

Di atas tubuh Bidadari Angin Timur dapatkan sehelai kain menutupi. Ini membuat dia tambah tak mengerti.

Tiba-tiba satu wajah menyeramkan muncul di pelupuk matanya. Muka lelaki gosong, rambut terbakar, mata dan pipi kiri melesak, hidung miring.

Pangeran Matahari!

Bidadari Angin Timur menjerit keras. Tubuh tersentak bangkit dan terduduk di tanah. Kain yang menutupi auratnya merosot jatuh ke pangkuan. Saat itulah dia menyadari betapa pakaian birunya robek tak karuan hingga keadaannya nyaris telanjang. Kejadian malam tadi! Ada rasa sakit di bagian bawah perutnya. Sekujur tubuh si gadis menggigil. Mukanya seputih kain kafan.

Dengan tangan gemetar dia sibakkan kain yang menutupi tubuhnya sebelah bawah. Sepasang mata Bidadari Angin Timur terbeliak besar ketika melihat ada noda darah setengah mengering di kedua pangkal pahanya!

Untuk kedua kalinya Bidadari Angin Timur menjerit keras. Lalu ratap mengenaskan meluncur keluar dari mulutnya.

"Tuhan! Teganya engkau membiarkan manusia dajal itu merampas kehormatanku! Tak ada gunanya lagi hidup ini! Lebih baik mati daripada hidup bercermin bangkai!"

Didahului satu jeritan panjang, Bidadari Angin Timur bangkit berdiri. Tanpa memperhatikan kemana dia menuju gadis ini berlari sambil terus menjerit dan menjerit. Mendadak larinya tertahan.

Di hadapannya terbentang satu jurang batu luar biasa dalamnya. Di salah satu sisi jurang mengu cur deras air terjun. Sang dara tertegun.

Ada bisikan halus dalam lubuk hatinya. "Bidadari Angin Timur, jangan kau menempuh jalan sesat..."

Si gadis terkesiap. Tapi cuma seketika. Ada bisikan lain dalam dirinya. "Apa kau sanggup bertahan hidup. Hamil karena diperkosa lalu melahirkan seorang anak haram..."

Sekujur tubuh Bidadari Angin Timur bergetar.

"Tuhan! Berikan kematian saat ini juga padaku!

Aku tak sanggup bertahan hidup dalam keadaan ternoda seperti ini! Tuhan, jika sudah mati aku rela menjadi setan untuk mencari dan membunuh manusia terkutuk Pangeran Matahari!"

Bidadari Angin Timur menjerit lagi satu kali.

Suara jeritan itu bergaung panjang menggidikkan ketika dengan segala kenekatan gadis cantik bernasib malang ini menghambur jatuhkan diri ke dalam jurang. Ketika gaung jeritan sirna yang terdengar kini hanya suara curahan air terjun. Langit pagi yang tadi biru bersih tiba-tiba berubah gelap.

Mendung menggumpal di mana-mana. Di udara, kilat menyambar disusul gemuruh suara gelegar guntur. Sesaat kemudian hujan turun luar biasa hebatnya. Lapat-lapat di kejauhan terdengar suara raungan binatang. Alam seolah ikut meratapi nasib malang yang menimpa seorang anak manusia yang terlahir bernama Pandan Wangi dan dalam rimba persilatan tanah Jawa dikenal dengan sebutan Bidadari Angin Timur.***Dua orang berpakaian pasukan Kerajaan memacu kuda masing-masing dalam gelapnya malam. Menempuh jalan mendaki dan berliku-liku.

Mereka bukannya memperlambat lari kudanya, malah menggebrak binatang-binatang itu agar berlari lebih kencang. Dari kecekatan mereka me nunggang kuda jelas keduanya orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Selewatnya satu tikungan tajam, entah dari mana munculnya, tiba-tiba satu sosok hitam berkelebat jungkir balik satu kali di udara. Ketika berdiri di tengah jalan tangan kiri berkacak pinggang, tangan kanan tancapkan sebatang besi ketanah. Tampangnya garang walau ada bayangan seperti menahan sakit.

Dua kuda besar meringkik keras. Dua kaki depan naik ke atas Tubuh sebelah belakang terbanting ke samping. Kalau dua penunggangnya tidak cepat merangkul leher kuda masing-masing dengan kuat, niscaya mereka sudah terlempar jatuh!

"Jahanam! Anjing kurap dari mana berani menghadang perjalanan orang!" Penunggang kuda di sebelah kanan membentak marah. Namun kalau tadi dia belum begitu jelas melihat sosok orang yang menghadang di tengah jalan, kini setelah lebih memperhatikan dengan jelas orang di depannya, tengkuknya mendadak menjadi dingin.

Penunggang kuda satunya terkesiap tak berkedip.

"Aku tidak dapat memastikan. Apakah mahluk di depanku ini manusia atau setan adanya,"

ucapnya dalam hati. Dia rapatkan kuda mendekati temannya. "Surojantra, kalau mahluk ini hantu benaran, aku tidak takut. Tapi kalau dia manusia, berarti kita menghadapi perkara besar. Mungkin rahasia urusan kita telah bocor?"

Sang teman yang tadi membentak menjawab.

"Baunya seperti kayu hangus. Ada asap tipis kemerahan keluar dari hidung dan mulutnya. Dia menancapkan besi gulungan bendera ke tanah.

Aku yakin dia manusia seperti kita walau tubuh nyaris telanjang. Gosong dari kepala sampai ke kaki. Tampang memang seperti setan. Bukan mustahil dia suruhan orang-orang Keraton Kaliningrat untuk mencegat kita. Jaliteng, aku akan menghadapinya. Jika perkara tidak bisa dielakkan kau harus cepat tinggalkan tempat ini. Selamatkan barang bawaan!"

Habis berkata begitu Surojantra menggerakan kuda mendekati orang yang menghadang di tengah jalan.

"Sampeyan siapa? Ada urusan apa menghadang perjalanan kami?"

Orang di tengah jalan yang bukan lain Pangeran Matahari adanya tertawa bergelak.

"Aneh, bicaramu sekarang jadi sopan. Sekarang kau memanggil aku sampeyan segala! Ha... ha...ha! Padahal kau tadi menyebut aku anjing kurap!"

"Maaf kalau tadi aku keterlepasan bicara kasar karena kaget oleh kemunculanmu yang tiba-tiba.

Aku tidak punya waktu banyak bicara panjang lebar dengan setan jejadian sepertimu. Lekas menyingkir!"

"Kalau aku tidak mau menyingkir?" tantang Pangeran Matahari sambil dongakkan kepala penuh sombong padahal masih menahan sakit, "Kaki kudaku akan menghancurkan batok kepalamu! Dan kau akan jadi setan benaran!" kata Surojantra pula.

Pangeran Matahari tertawa bergelak. "Aku mau lihat bagaimana caramu memecahkan batok kepalaku!" Lalu dia sengaja ulurkan kepalanya seolah menantang minta digebuk.

Surojantra jadi berang. Dia tepuk pinggul kanan kuda tunggangannya. Secara bersamaan tangan kiri menyentak tali kekang. Didahului ringkikan keras kuda besar menyepakkan kaki kanan sebelah depan ke arah kepala Pangeran Matahari. Cepat, ganas mematikan! Walau cukup terkesiap melihat datangnya serangan luar biasa itu namun sang Pangeran masih bisa mengumbar tawa mengejek. Kepala dirundukkan. Lutut dilipat.

Tiang Bendera Darah yang terbuat dari besi dan saat itu menancap di tanah secepat kilat dicabut.

Wuuttt! Wuuuttt!

Kraakk! Kraak!

Dua kaki depan kuda besar tunggangan Suro jantra hancur patah. Binatang ini meringkik dahsyat lalu roboh ke tanah. Sekali lagi tongkat Bendera Darah berkelebat.

Praakk!

Kali ini gagang bendera menghantam remuk kepala kuda. Binatang ini melosoh ke tanah, melejang dua kali lalu rebah tak berkutik lagi.

Surojantra yang terpental dari punggung kuda, dengan berjumpalitan berhasil selamatkan diri.

Namun baru saja dua kakinya menginjak tanah, ujung lancip gagang Bendera Darah melesat dan amblas menancap ke ulu hatinya, tembus sampai ke punggung!

Melihat Surojantra menemui ajal menggidikkan begitu rupa, Jaliteng serta merta memedal kudanya. Namun Pangeran Matahari lebih cepat menggebukkan gagang Bendera Darah ke perut Jaliteng. Tubuh lelaki ini terlipat ke depan lalu terguling-guling di tanah. Darah menyembur dari mulut. Secepat kilat Pangeran Matahari melesat keatas punggung kuda Jaliteng dan memacu binatang ini ke arah timur.

"Prajurit-prajurit tolol! aku hanya mau minta kuda! Tapi kalian malah sengaja serahkan nyawa!"***Ki Tambakpati bersemedi sejak tengah malam tadi demi untuk mendapat petunjuk Yang Maha Kuasa. Gubuk kecil kediamannya di puncak bukit diterangi obor redup di empat sudut. Di tanah di depan tempat dia duduk bersila terdapat sebuah belanga tanah. Di dalam belanga ada ramuan tulang belulang, daun, kulit dan akar tetumbuhan serta cairan yang menebar kepulan asap sengak serta mengeluarkan suara mendidih. Padahal di bawah belanga sama sekali tidak ada api yang menyala!

Hebatnya, sekaligus menggidikkan, di manamana dalam gubuk itu terdapat tulang belulang manusia. Bahkan lima tengkorak kepala manusia yang sudah lumutan tergeletak di lantai tanah.

Empat obor di sudut gubuk yang biasanya dibuat dari potongan bambu, terbuat dari tulang kaki manusia. Di salah satu bagian gubuk, merapat kedinding, terdapat sebuah ketiduran terbuat dari tulang belulang manusia di alas tikar jerami kering. Di samping kiri Ki Tambakpati terbentang sehelai tikar kulit kambing.

Tidak terduga, khidmat khusus semedi Ki Tambakpati mendadak terganggu. Bagaimanapun dia berusaha tetap saja dia tidak mampu menutup jalan pendengaran serta menghindari getaran pada kelopak matanya.

"Ada malapetaka menuju ke sini..." ucap Ki Tambakpati dalam hati. Lalu terdengar suara derap kaki kuda di kejauhan. Makin kencang makin keras pertanda mendekat mendatangi ke arah gubuk di puncak bukit itu. Lalu, braak!PINTU gubuk terpentang jebol. Satu sosok tubuh hitam gosong melesat masuk, tegak tergontai-gontai sambil berpegangan pada besi gagang bendera. Bau sengak dalam gubuk kini bercampur dengan bau amis darah setengah kering.

"Malapetaka telah datang," kata Ki Tambakpati dalam hati. Perlahan-lahan dia buka kedua mata nya yang sejak tadi terpejam. Walau rasa bergidik membuat sekujur tubuh Ki Tambakpati menggigil bergetar, namun orang tua yang berusia lebih tujuhpuluh tahun ini berusaha tenangkan diri, menatap sosok mengerikan di hadapannya dengan pandangan mata redup tak berkesip. Tubuh gosong tanpa pakaian sama sekali. Setiap menghembuskan nafas, dari mulut serta lobang hidung keluar asap tipis kemerahan.

Meskipun wajah orang di hadapannya gosong hitam, namun Ki Tambakpati mengetahui bahwa tamu yang muncul menunggang kuda, masuk menjebol rusak pintu gubuknya adalah seorang lelaki berusia muda. Mahluk mengerikan ini berdiri gontai sambil tangan kiri terus-terusan mendekap kemaluannya.

"Welas asih dan kesejahteraan untuk semua orang." Ki Tambakpati menyalami. "Anak muda, apakah kau tidak keliru terpesat datang kemari?"

"Siapa bilang aku keliru! Aku tidak pernah keliru!" sang tamu menjawab teguran Ki Tambakpati dengan suara keras dan sikap congkak lalu tancapkan gagang besi bendera ke lantai tanah.

"Ah, syukurlah kalau begitu..." kata Ki Tambakpati pula.

"Orang tua, bukankah kau bernama Ki Tambakpati, berjuluk Tangan Penyembuh. Jangan berani berdusta!"

"Anak muda, kau betul. Aku memang Ki Tambakpati. Seumur hidupku yang lebih dari tujuh puluh tahun, dengan kuasa serta petunjuk Gusti Allah aku belum pernah berdusta. Mengenai julukan, itu hanya sekedar pemberian orang banyak yang aku sendiri sebenarnya risih sekali untuk menerima. Anak muda, katakan..."

"Orang tua!" sang tamu membentak memotong ucapan orang. "Dengar, jangan panggil aku de ngan sebutan anak muda!"

Dibentak begitu rupa Ki Tambakpati jadi kaget namun cepat tenang kembali. "Harap maafkan.

Aku harus memanggilmu bagaimana?"

"Panggil aku Pangeran! Kau dengar Ki Tambak pati? Pangeran!"

Kening si orang tua berkerut. "Seorang Pangeran muncul dengan berkeadaan seperti ini. Sulit dipercaya. Pangeran dari mana dia gerangan?"

kata Ki Tambakpati dalam hati. Kemudian merebak senyumnya. "Ah, aku yang tua ini telah berlaku lancang. Tidak tahu kalau berhadapan dengan seorang Pangeran. Maafkan diriku." Ki Tambakpati bungkukkan dadanya sampai tiga kali.

Ketika kepala diangkat dia bertanya. "Pangeran, ada keperluan apa Pangeran datang ke gubukku yang hina ini?" Mata si orang tua melirik ke bagian bawah perut tamu di hadapannya yang sejak tadi ditekap dan ditutupi dengan tangan kiri. Di antara sela-sela jari tangan itu dia melihat ada lelehan darah.

"Aku ingin kau menolong menyembuhkan luka yang aku derita."

"Luka? Luka apa, Pangeran?"

Orang di hadapannya perlahan-lahan membuka tekapan tangan kirinya. Melihat aurat yang kini tersingkap itu, merinding bulu tengkuk Ki Tambakpati. Seumur hidup belum pernah dia melihat luka mengerikan seperti itu. Kemaluan orang dihadapannya itu mengalami luka yang amat hebat, nyaris putus!

"Pangeran, apa yang terjadi?" tanya Ki Tambak pati.

"Kau tak layak bertanya! Apa yang terjadi bukan urusanmu! Kewajibanmu adalah menyembuhkan luka ini!"

Ki Tambakpati terdiam sesaat lalu berkata. "Ah, lancangnya diriku dalam bertanya. Tapi Pangeran, kau datang ke tempat yang salah. Aku memang punya sedikit ilmu pengobatan. Namun hanya khusus dalam pengobatan orang-orang yang patah tulang. Aku tak mungkin menyembuhkan luka yang kau derita. Kau harus mencari seorang lain yang mampu mengobati dan memberi kesembuhan."

"Aku datang dari jauh untuk selamatkan nyawa! Sampai di sini kau berani menolak mengobati lukaku! Kau ingin aku mati berdiri!"

"Pangeran, bukannya aku menolak. Tapi diriku memang tidak punya kemampuan untuk mengobatimu..."

"Kalau aku mati karena luka ini, lebih baik kita mati sama-sama saat ini juga!" Sang Pangeran mengancam. Lalu tangan kirinya yang berlumuran darah bergerak menjangkau tengkorak kepala manusia yang tergeletak di lantai gubuk. Sekali jari-jarinya meremak, kraaakk! Tengkorak kepala itu remuk hancur! Belum cukup sang Pangeran hantamkan tangan kanan, Braaakk!

Dinding gubuk di belakang Ki Tambakpati hancur berantakan. Belasan tulang belulang yang tergantung di dinding itu ikut mental ke dalam kegelapan di luar sana.

"Anak mud... Pangeran. Dengar..." Rasa takut mulai menjalari diri Ki Tambakpati.

"Dukun keparat! Kau yang harus mendengar!

Obati lukaku atau aku pecahkan kepalamu saat ini juga!"

Ki Tambakpati geleng-geleng kepala sambil berulang kali menyebut nama Tuhan.

"Kalau kau memaksa, aku hanya bisa mencoba. Soal kesembuhan kita serahkan pada Gusti Allah Yang Maha Kuasa." Orang tua itu bangkit berdiri.

"Pangeran, berbaringlah di atas tikar kulit kambing itu."

Sang Pangeran berdiri. Dia bukannya berjalan ke arah tikar kulit kambing tapi melangkah dan baringkan diri di atas tempat tidur yang terbuat dari tulang belulang beralaskan tikar jerami kering.

"Kau jangan berani menghinaku, Ki Tambakpati. Seorang Pangeran apa layak tidur di tikar rombeng kulit kambing? Di atas tempat tidur inipun sebenarnya sangat tidak layak bagiku!"

"Maafkan aku Pangeran," kata Ki Tambakpati.

Lalu dia melangkah ke salah satu sudut gubuk yang masih utuh. Sepasang mata dipejamkan, dua telapak tangan saling dirapatkan, dua lengan diluruskan ke atas. Saat itu pula perlahan-lahan tubuhnya terangkat ke atas hingga kedua kakinya yang kurus tidak lagi menginjak lantai tanah gubuk.

"Daun sirih pembersih luka." Ki Tambakpati berucap. Secara aneh dari sela-sela dua telapak tangannya menyembul keluar tiga helai daun sirih.

Daun-daun ini kemudian melesat masuk ke dalam belanga tanah.

"Kunyit putih perekat luka." Ki Tambakpati kembali berucap disusul melesatnya tiga butir benda putih. Seperti tiga helai daun sirih tadi, tiga benda putih ini melesat masuk ke dalam belanga.

"Alang-alang dewa penyambung otot dan urat"

Kembali si orang tua berseru. Tiga lembar alangalang sepanjang dua jengkal melesat keluar dari sela dua telapak tangan, melayang di udara lalu masuk ke dalam belanga tanah.

"Kemenyan pemohon keredohan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih serta Penyayang lagi Maha Penyembuh!"

Untuk kesekian kalinya dari sela telapak tangan Ki Tambakpati melesat keluar benda yang disebutkan. Kali ini berupa serbuk kemenyan kasar berkilauan. Serbuk ini melesat masuk ke dalam belanga tanah. Suara mendidih di dalam belanga terdengar makin keras. Kepulan asap bertambah tebal. Bau harum cendana kini bertukar dengan bau obat aneh.

Memperhatikan semua yang terjadi, orang yang tergeletak di atas ranjang tulang yang tentu saja adalah Pangeran Matahari, berkata dalam hati.

"Sulap atau sihir apa yang dilakukan tua bangka ini! Kalau dia menipuku, kupecahkan kepalanya!"

Untuk beberapa lama tubuh Ki Tambakpati masih mengapung di udara. Mulut berkomatkamit.

Mata masih terpejam. Pangeran Matahari memperhatikan dengan tidak sabar. Tak selang berapa lama perlahan-lahan sosok orang tua itu bergerak turun ke tanah. Pada saat kedua kakinya menginjak lantai tanah gubuk, obor yang tinggal dua di sudut ruangan berkelap-kelip. Udara terasa dingin. Belanga tanah bergerak-gerak seolah digoyang oleh tangan yang tidak kelihatan. Ki Tambakpati dongakkan kepala. Perlahanlahan mata yang terpejam dibuka, perlahan-lahan kepala ditundukkan kembali. Lalu dari dinding gubuk dia mengambil sebuah gayung terbuat dari tulang. Dengan gayung tulang si orang tua men ciduk cairan obat dalam belanga tanah lalu dimasukkan ke dalam cangkir tulang. Di dalam cangkir tulang, cairan itu masih terus mendidih dan kepulkan asap.

Ki Tambakpati melangkah mendekati ranjang tulang. Dia membungkuk di samping ranjang, susupkan tangan ke belakang kepala Pangeran Matahari lalu kepala diangkat sedikit.

"Pangeran, harap kau suka meminum obat ini.

Teguk perlahan-lahan sampai habis."

"Orang tua gila! Kau menyuruh aku minum cairan panas mendidih! Kau menipuku! Kau mau membunuhku!" bentak Pangeran Matahari.

Ki Tambakpati tersenyum. "Kalau cairan di dalam cangkir tulang panas, mana mungkin jarijari tua ini sanggup memegangnya? Kau tak usah khawatir. Minumlah..."

Sesaat Pangeran Matahari terdiam. "Kau benaran Ki Tambakpati?"

"Pangeran, sebelumnya kau berkata tidak pernah keliru. Kau yakin bahwa aku memang Ki Tambakpati. Apa lagi sekarang yang merisaukanmu?" Orang tua itu dekatkan cangkir tulang ke mulut Pangeran Matahari. Walau masih agak ragu namun karena ingin sembuh akhirnya Pangeran Matahari teguk juga obat di dalam cangkir.

Anehnya, ternyata cairan obat itu terasa sejuk.

"Bagus, sekarang berbaringlah kembali. Kembangkan paha lebar-lebar." Ki Tambakpati lemparkan cangkir ke arah tumpukan tulang belulang lalu mengangkat belanga tanah. Ketika dia berdiri di kaki ranjang tulang, orang tua ini berkata.

"Pangeran aku akan menyiramkan cairan obat ini ke auratmu sebelah bawah. Rasanya akan sakit sekali. Aku percaya kau sanggup menahannya.

Berdoalah pada Gusti Allah agar kau mendapat kesembuhan..."

"Seumur hidup aku tidak pernah berdoa kepada Gusti Allah. Apa perlunya jika kau memang dapat menolong?"

Terkesiap Ki Tambakpati mendengar ucapan itu. "Congkak dan takabur sekali manusia satu ini!" katanya dalam hati. "Semoga Tuhan mengampunimu." Lalu tanpa banyak menunggu Ki Tambakpati guyurkan cairan obat di dalam belanga ke atas kemaluan Pangeran Matahari yang terluka parah. Seperti besi panas menyala tersiram air begitulah keadaannya.

Cesss! Cessss!

Pangeran Matahari menjerit setinggi langit.

"Kau mau membunuhku! Kau mau membunuhku!" teriaknya berulang kali. Kaki kanannya menendang.

Byaarrr!

Belanga tanah yang dipegang Ki Tambakpati hancur berantakan. Orang tua ini terjajar ke belakang beberapa langkah. Seperti seekor harimau luka, Pangeran Matahari melompat. Dua tangan mencekik leher Ki Tambakpati hingga lidahnya mencelet keluar. Nafas menyengal. Namun sebe lum Pangeran Matahari sempat membunuh orang tua ini mendadak sosoknya menjadi lemas.

Perlahan-lahan dia melosoh lalu jatuh terguling di lantai tanah.

Ki Tambakpati usap-usap lehernya yang bekas dicekik. Dia menarik nafas panjang berulang kali.

Memandang pada sosok Pangeran Matahari, orang tua ahli pengobatan tulang ini geleng-geleng kepala, "Apa yang terjadi dengan orang ini hingga dia mengalami luka begini parah? Siapa dia sebenarnya? Pangeran? Seorang Pangeran sungguhan?

Dari keraton mana?"

Ki Tambakpati memandang ke luar gubuk lewat pintu dan dinding yang jebol. Sunyi dan gelap.

Lalu dia mendengar suara sesuatu. Ki Tambakpati segera keluar. Di halaman gubuk, tak jauh dari serumpunan semak belukar dia melihat seekor kuda besar tengah merumput dalam kegelapan. Ki Tambakpati dekati binatang ini. Usap-usap tengkuknya. Ada sebuah kantong kulit besar di samping pelana kuda. Ki Tambakpati bukan seorang yang usil suka memeriksa barang yang bukan miliknya. Namun entah mengapa sekali ini dia merasa begitu ingin melihat apa yang ada di dalam kantong kulit itu. Dia lalu buka buhulan tali penutup kantong. Ketika penutup dibuka, terlihat selapis kain hitam. Kain ini disingkap. Ada tumpukan barang aneh berbentuk lempenganlempengan dibungkus kertas warna merah gelap.

Ki Tambakpati ambil satu lempengan benda berwarna coklat. Ki Tambakpati memeriksa benda itu dengan teliti, lalu dicium. Seperti disengat kalajengking begitulah kagetnya orang tua ini.

"Madat..." ucap Ki Tambakpati mendesis. Orang tua ini berpaling ke arah gubuk. "Dia datang dengan kuda ini. Berarti benda haram dajal ini adalah miliknya. Apa yang harus aku lakukan?

Aku tak mau mencari perkara. Dia harus segera pergi dari sini. Tapi dia baru sadar besok.

Menjelang tengah hari esok baru pulih. Selain itu pengobatanku masih belum selesai." Ki Tambakpati menarik nafas panjang berulang kali. Dia merasa serba salah. Setelah menambatkan kuda ke sebatang pohon dia masuk kembali ke dalam gubuk. Langkahnya kali ini agak bergetar terhuyung.TAK LAMA setelah Pangeran Matahari merampas kuda Jaliteng di jalan mendaki yang berbatu-batu, dua orang laksana setan malam berkelebat di kegelapan. Keduanya masih muda-muda dan bertampang sangar, memiliki bobot tubuh sama-sama tinggi dan tegap. Samasama mengenakan pakaian ringkas serta blangkon warna hitam. Di dada kiri baju masing-masing ada sulaman kuning rumah berbentuk joglo. Di sebelah bawah ada sulaman lain berupa dua bilah keris telanjang saling bersilangan.

Hampir berbarengan, dua orang itu berkelebat sampai di depan kuda milik Surojantra.

"Ini kudanya! Mana orangnya? Aku tidak melihat kantong perbekalan di pelana kuda." Lelaki di sebelah kiri keluarkan ucapan.

Temannya memandang berkeliling lalu menunjuk ke depan. "Di sana! Ikuti aku!"

Kedua orang itu berkelebat melewati tikungan jalan. Di satu tempat mereka menemukan sosok seorang lelaki berpakaian anggota pasukan Kerajaan yang sudah jadi mayat. Menemui ajal dengan luka terkuak di perutnya.

"Surojantra! Mati. Mengenakan pakaian pasukan Kerajaan. Tidakkah ini aneh? Bagaimana menurutmu Galirenik?"

Orang bernama Galirenik masih perhatikan mayat Surojantra beberapa ketika baru menjawab, "Bangsat ini punya ilmu cukup tinggi. Siapapun orang yang telah membunuhnya berarti punya kepandaian sukar dijajagi. Mengenai pakaian pasukan Kerajaan yang dipakainya aku rasa dia sengaja melakukan penyamaran."

"Setahu kita dia bersama Jaliteng. Mungkin orang itu jadi musuh dalam selimut. Membunuh Surojantra dan melarikan barang bawaan!"

"Berarti kita harus menemukan bangsat satu itu! Barang yang kita cari pasti ada padanya!

Aku..."

Rakadanu, teman Galirenik angkat tangan kiri, memberi tanda agar Galirenik berhenti bicara.

Telapak tangan kanan dikembangkan di belakang daun telinga sebelah kanan agar pendengarannya bertambah jelas.

"Aku mendengar sesuatu. Suara orang mengerang..." Rakadanu menunjuk ke depan. Lalu melompat ke arah yang ditunjuknya. Galirenik mengikuti.

Kedua orang berpakaian serba hitam itu menemukan orang yang mereka cari terkapar di tanah jalanan dalam keadaan megap-megap sekarat. Mereka tidak melihat kuda tunggangan

milik Jaliteng.

"Muka kelimis, tubuh utuh..." Rakadanu membungkuk lalu sibakkan pakaian Jaliteng. "Perutnya pecah! Aku tidak dapat memastikan apakah nyawanya masih bisa tertolong!" Rakadanu berbisik pada Galirenik lalu cepat menotok beberapa bagian tubuh Jaliteng.

"Seperti Surojantra, dia juga mengenakan pakaian pasukan Kerajaan," kata Galirenik sambil tekapkan telapak tangan kirinya ke dada Jaliteng untuk alirkan hawa sakti.

"Jaliteng, kami akan menyelamatkan nyawamu!

Sebagai imbalan, katakan di mana beradanya barang yang kau bawa dalam kantong kulit besar?" Rakadanu ajukan pertanyaan.

Dada Jaliteng turuh naik pertanda dia sulit bernafas. Mukanya mendadak jadi pucat sekali.

Namun telinganya masih bisa mendengar. Mata bergerak, menatap dalam gelap. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi mulutnya tak bisa dibuka.

"Percuma, dia tak bisa bicara. Kita cari saja kudanya. Mungkin ada di sekitar sini."

Galirenik dan Rakadanu menghabiskan waktu cukup lama untuk memeriksa kawasan itu.

Namun kuda tunggangan milik Jaliteng tidak ditemukan.

"Kita sudah kedahuluan orang," ucap Galirenik perlahan tapi penuh geram.

"Bagaimana kita mempertanggung-jawabkan tugas ini kepada penguasa di Keraton Kaliningrat?" kata Rakadanu pula. Nada suara dan raut wajahnya menunjukkan kerisauan hatinya.

"Kita kembali saja. Laporkan apa adanya." Jawab Galirenik.

Rakadanu gelengkan kepala. "Pengejaran kita sudah sangat jauh. Apapun yang terjadi harus kita lanjutkan. Mudah-mudahan ada tanda-tanda yang bisa kita pakai sebagai pencari jejak. Bagaimana?"

"Kalau kau mau meneruskan pencarian, aku hanya mengikut saja," jawab Galirenik pula.

Kedua orang dari Keraton Kaliningrat ini segera tinggalkan tempat itu.

Sekian lama berdiam diri, satu ketika Galirenik berkata. "Seingatku, masih cukup jauh di depan sana ada satu bukit kecil tempat kediaman seorang ahli pengobatan. Dia dijuluki si Tangan Penyembuh. Mungkin ada baiknya kita mampir di sana sekaligus menyelidik. Siapa tahu orang yang mencuri barang itu pernah singgah di sana."

Rakadanu menyetujui ajakan kawannya itu.

Keduanya lalu mempercepat lari masing-masing.***Di puncak bukit udara malam terasa luar biasa dingin. Dari kejauhan telah terlihat gubuk kediaman Ki Tambakpati alias Si Tangan Penyembuh.

Rakadanu dan Galirenik mendatangi hampir tanpa suara, padahal lari keduanya luar biasa cepat.

Galirenik langsung hendak menuju gubuk tapi segera dicegah oleh Rakadanu yang perhatiannya lebih dulu tertuju ke tempat lain. Lelaki ini pegang lengan temannya dan berkata perlahan.

"Di bawah pohon sana ada seekor kuda besar tertambat. Di dekat pelana ada sebuah kantong kulit."

Galirenik palingkan kepala ke arah yang dikatakan temannya. "Astaga..."

Rakadanu cepat tekap mulut Galirenik seraya berkata. "Jangan bicara keras-keras. Kita tidak tahu siapa yang ada di dalam gubuk. Kalau Surojantra dan Jaliteng yang berilmu tinggi bisa dibuat mati konyol, berarti si pembunuh memiliki kepandaian luar biasa tinggi. Kau pergi ke arah pohon. Ambil kantong kulit, biarkan kuda tetap tertambat. Tunggu aku di sana. Aku akan meng intai ke dalam gubuk."

"Raka, tunggu dulu." kata Galirenik. "Apakah kau tidak melihat kejanggalan?"

"Kejanggalan apa?"

"Barang di dalam kantong kulit itu nilainya selangit tembus. Bagaimana mungkin orang yang merampas membiarkannya di luar begitu saja, malam buta begini rupa pula!"

"Kawan, kau benar. Lekas kau ambil kantong kulit itu. Periksa isinya. Aku tetap akan mengintai ke dalam gubuk." Habis berkata begitu Rakadanu segera melangkah ke gubuk sedang Galirenik cepat-cepat bergerak ke arah kuda yang ter tambat.

Dari arahnya datang Rakadanu telah melihat kerusakan pada pintu dan dinding belakang gubuk. Pertanda sebelumnya telah terjadi tindak kekerasan di tempat itu. Lelaki tinggi besar dari Keraton Kaliningrat ini mengintai dari pinggiran pintu. Nyala dua api obor yang walau redup berkelip masih cukup menerangi gubuk kecil itu dan Rakadanu dapat melihat jelas keadaan di dalam gubuk. Seorang tua duduk bersila di atas sehelai tikar kulit kambing. Dua tangan bersilang di dada. Mata terpejam entah tidur entah tengah bersemedi. Di atas sebuah ranjang yang terletak merapat ke dinding terbaring satu sosok hitam hangus dalam keadaan bugil. Dia tidak dapat melihat wajah orang ini. Dua kakinya terkangkang dan Rakadanu jadi mengerenyit ketika melihat kemaluan orang itu disarungi sebuah benda berwarna putih kekuningan. Merasa tidak ada gunanya dia berada lebih lama di tempat itu Rakadanu segera temui Galirenik yang berdiri di samping kuda memanggu! kantong kulit di bahu kirinya.

"Kau sudah memeriksa isi kantong ini?" tanya Rakadanu pada temannya.

"Isinya utuh!" jawab Galirenik dengan seringai bergumam dan mata bersinar. "Apa yang kau lihat di dalam gubuk?" Galirenik balik bertanya.

"Tidak penting apa atau siapa yang ada dalam gubuk. Barang sudah kita dapat. Kita segera kembali ke Keraton. Banyak keanehan di tempat ini.

Kita harus pergi sebelum keanehan itu berubah menjadi bahaya mengancam keselamatan kita!"

Sebagaimana mereka datang tanpa suara.

begitu pula ketika menyelinap pergi. Kedua orang berpakaian serba hitam itu raib ditelan kegelapan malam membawa 50 kati madat yang nilainya cukup untuk membangun lima istana besar.***Ketika kokok ayam pertama kali terdengar di kejauhan, Ki Tambakpati hela nafas panjang dan buka kedua matanya yang sejak tadi malam terpicing. Memandahg ke samping dia lihat Sang Pangeran masih terbujur di atas ranjang tulang.

Lalu dia ingat pada kantong kulit di luar sana.

Cepat-cepat orang tua ini bangkit berdiri, melangkah ke pintu, terus ke halaman menuju kuda yang masih tertambat di pohon. Hanya tinggal dekat akan mencapai binatang itu, langkah Ki Tambakpati mendadak terhenti. Matanya membesar.

Dadanya berdebar keras. Kantong kulit besar yang sebelumnya tergantung di samping pelana lenyap, tak ada lagi di tempatnya semula.

"Tak mungkin kantong dan isinya raib kalau tidak ada yang mengambil. Aku mungkin berlaku salah. Seharusnya kantong itu aku bawa masuk ke dalam gubuk. Dia pasti akan mempersalahkan diriku. Bisa-bisa begitu sadar dan mengetahui barang itu tak ada lagi, aku pasti akan dibunuhnya.***Sebelum matahari naik tinggi keesokan paginya ternyata Pangeran Matahari telah siuman dari pingsannya. Dia mencoba duduk di tepi ranjang tulang. Begitu duduk pandangannya langsung di tujukan pada auratnya sebelah bawah. Dia dapatkan kemaluannya telah bersarung sepotong tulang menyerupai pipa.

"Ki Tambakpati!" teriak Pangeran Matahari.

"Aku di sini." Terdengar jawaban dari samping.

Pangeran Matahari palingkan kepala. Ki Tambakpati berdiri dengan wajah menunjukkan keletihan, memandang kepadanya.

"Apa yang kau lakukan padaku? Apa ini?"

"Itu merupakan pengobatan tahap terakhir.

Agar luka pada daging dapat bertaut sempurna, lalu agar urat dan otot bisa bersambung aku sengaja menyarungkan alat kelaminmu dengan potongan tulang berbentuk pipa. Antara tujuhpuluh sampai seratus hari tulang itu akan hancur dengan sendirinya. Saat itu lukamu sudah bertaut dan kau akan mendapatkan kesembuhan."

"Begitu...?" Pangeran Matahari berdiri. "Aku perlu pakaian!" katanya kasar.

"Sudah aku siapkan Pangeran," jawab Ki Tambakpati lalu menunjuk ke kepala ranjang. Di situ terletak seperangkat pakaian terdiri dari baju warna putih dan celana hitam.

"Aku tidak suka baju warna putih!"

"Maaf, Pangeran. Hanya itu baju yang ada."

jawab Ki Tambakpati. Orang tua ini diam-diam mulai merasa jengkel. Sudah ditolong, banyak pinta pula.

Dengan cepat Pangeran Matahari kenakan baju dan celana. Lalu keluar dari gubuk lewat dinding belakang yang jebol. Di pinggir sebuah sumur dilihatnya ada satu gentong besar. Kulit wajahnya terasa perih ketika dia mencuci muka dengan air gentong. Begitu juga bibir serta lidahnya ketika dia minum air gentong beberapa teguk.

"Aku harus pergi. Apakah aku perlu mengucap kan terima kasih padamu karena telah menolong diriku?" Pangeran Matahari bertanya sambil sunggingkan seringai.

Ki Tambakpati balas tersenyum. Dalam hati dia berkata. "Binatang saja jika ditolong masih bisa berterima kasih dengan caranya sendiri. Seorang anak manusia berlaku seperti ini. Sungguh luar biasa. Dosa apa yang telah aku lakukan hingga bertemu dengan orang seperti ini?"

"Kau tidak mau menjawab?" Pangeran Matahari gembungkan rahang.

"Kewajibanku menolong siapa saja sesuai dengan kemampuan. Soal berterima kasih tidak menjadi hal yang penting bagiku. Aku ucapkan selamat jalan padamu. Namun ada satu hal perlu aku sampaikan."

"Kau minta bayaran Ki Tambakpati?"

Si orang tua menggeleng lalu berkata. "Paling lambat empatpuluh hari dari sekarang lukamu akan sembuh. Namun kesembuhan itu adalah kesembuhan luar dan dalam. Yakni bersambungnya bagian luar dan bagian dalam batang kelaminmu.

Namun tidak bisa kujamin setelah sembuh kau masih memiliki kejantanan sebagai laki-laki."

Sepasang mata Pangeran Matahari mendelik besar. Pelipis bergerak-gerak dan dari hidung serta mulutnya keluar asap tipis berwarna kemerahan.

"Orang tua! Kau bicara apa?" Menghardik Pangeran Matahari.

"Alat kelaminmu yang hampir putus itu memiliki ratusan, atau mungkin ribuan syaraf. Walau kelaminmu dapat disambung kembali namun syaraf-syaraf yang begitu halus itu tidak mungkin bersambung kembali. Ini berarti kau akan kehilangan kejantananmu seumur hidup."

"Orang tua keparat! Kau sengaja tidak menyembuhkan diriku secara sempurna."

"Pangeran, aku sudah berusaha sesuai kemampuanku. Kemaluanmu kelak akan bersambung kembali dan lukamu akan sembuh. Tapi soal kerusakan syaraf itu, aku tidak mampu me

nyembuhkannya."

"Jahanam! Tidaaakkk!" teriak Pangeran Matahari. Tubuhnya terhuyung ke kiri. Ki Tambakpati cepat menahan bahunya sehingga sang Pangeran tidak sampai roboh ke tanah. "Kalau kau sudah tahu hal itu, mengapa kau menolongku? Lebih baik kau membiarkan aku mati! Matiii!" Pangeran Matahari berteriak lagi sambil memukuli kepala dan dadanya. "Kau harus menyembuhkan aku.

Kau harus menolongku!"

"Maafkan aku, Pangeran. Kemampuanku terbatas. Bisa menolong menyembuhkan lukamu saja sudah satu mukjizat bagiku..."

"Kalau kau tidak bisa menolong lalu siapa yang bisa? Katakan! Beritahu aku!"

"Aku tidak bisa memberitahu karena memang tidak tahu siapa orangnya yang ahli dalam penyembuhan syaraf yang rusak. Namun aku pernah menyirap sebuah kabar. Ada satu ilmu

pengobatan berdasarkan petunjuk sebuah kitab."

"Kitab apa?"

"Apa kau pernah mendengar? Dalam rimba persilatan ada sebuah kitab keramat bernama Kitab Seribu Pengobatan. Di dalam kitab itu ada bagian yang menerangkan obat serta cara

penyembuhan untuk keadaan atau penyakit yang bakal kau alami."

"Di mana aku bisa menemukan kitab celaka itu!" tanya Pangeran Matahari pula.

"Konon, kitab itu dimiliki dan disimpan oleh seorang nenek sakti yang diam di puncak Gunung Gede. Namanya Sinto Gendeng..."

"Cukup!" bentak Pangeran Matahari. Lalu ter tawa tergelak-gelak.

Ki Tambakpati tegak terheran-heran. Tak ada yang lucu yang barusan diucapkannya. Kalau otaknya tidak miring lantas mengapa manusia ini sampai tertawa gelak-gelak?

"Ki Tambakpati, aku pernah mendengar riwayat kitab itu. Belakangan aku dengar kitab itu lenyap dicuri orang."

"Ah, sayang sekali..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.198.1.167
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia