Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : 113 LORONG KEMATIAN

PANTAI Selatan. Arah timur Parangteritis. Menjelang tengah malam. Langit kelihatan hitam diselimuti awan tebal yang telah menggantung sejak senja berlalu. Tiupan angin keras dan dingin terasa menusuk sangat. Kalau saja tidak ada suara debur gulungan ombak yang kemudian memecah di pasir, kawasan pantai selatan itu niscaya diselimuti kesunyian berkepanjangan.

Di balik sederetan semak belukar liar, dua sosok berpakaian dan berdestar hitam mendekam tak bergerak laksana batu. Mata masing-masing yang nyaris hanya sesekali berkedip memandang lekat ke tengah lautan. Ketika salah seorang diantara mereka keluarkan ucapan memaki, hanya mulut saja yang bergerak. Kepala dan tubuh tetap diam.

"Sialan!" Orang yang memaki ini memiliki kepala besar. Sepasang alis kelihatan aneh karena yang kiri hitam lebat sebaliknya alis sebelah kanan berwarna putih rimbun. Hidung besar tapi kelihatan seperti penyok. Pada kening dan pipi ada bentol-bentol hitam. Wajah manusia satu ini sungguh sangat tidak sedap untuk dipandang.

"Apa yang sialan Putu Arka?" tanya kawan si alis aneh yang duduk mencangkung di sebelah. Orang ini bernama Wayan Japa, berwajah panjang lancip. Kalau Putu Arka memiliki keanehan pada sepasang alis maka Wayan Japa punya keanehan pada mata kiri. Mata ini putih semua seolah tidak ada bola mata, tapi anehnya mampu melihat seperti mata kanan yang terlihat jelas bola matanya.

"Langit itu!" Jawab Putu Arka sambil tudingkan telunjuk tangan kanan ke atas.

"Langit?" Teman yang bertanya mendongak ke atas, menatap ke arah langit. "Ada apa dengan langit?"

"Apa matamu buta?!" Suara Putu Arka menyentak tapi perlahan. Kedua orang ini sengaja tak mau bicara keras-keras. Kawatir ada orang lain yang tak mereka ketahui mendekam di sekitar tempat itu dan mendengar percakapan mereka.

"Belum, mataku belum buta. Memangnya kenapa?" sahut Wayan Japa yang disusul dengan pertanyaan.

"Langit ditelan kegelapan. Aku tidak bisa melihat bintang satupun! Aku tidak bisa menentukan saat ini apakah menjelang atau sudah tengah malam atau sudah lewat tengah malam! Waktu sangat penting bagi pekerjaan ini. Meleset sedikit kita tidak akan mendapatkan benda itu. Percuma jauh-jauh dari Buleleng datang ke sini. Kalau kita gagal, apa kata guru. Sekarang apa kau mengerti mengapa aku tadi memaki Wayan?" Wayan Japa anggukkan kepala. "Cuaca memang tidak membantu. Sebentar lagi mungkin akan turun hujan lebat. Jadi sebaiknya kita teruskan memperhatikan kearah laut. Aku menduga saat ini baru menjelang tengah malam. Seandainya.."

Putu Arka pegang lengan kawannya.

"Ada apa?" tanya Wayan.

"Hidungmu belum rusak?"

"Maksudmu?" Wayan Japa bertanya heran.

"Tadi langit, sekarang hidungku."

"Apa kau tidak mencium bau sesuatu?" Putu Arka bertanya sambil pelototkan mata.

Wayan Japa tinggikan hidung lalu menghirup udara dalam-dalam.

"Astaga!"

"Sekarang kau tahu! Kau mencium bau apa?!" Tukas Putu Arka.

"Menyan, bau menyan..." jawab Wayan Japa.

"Di tempat sesunyi ini, malam buta begini menurutmu apakah ada orang gi!a yang datang ke sini untuk membakar menyan?"

Wayan Japa gelengkan kepala. "Tentu saja tidak. Tapi...tapi ini bukan bau menyan sungguhan. Ini bau rokok. Rokok klobot..."

"Bagus, kau sadar sekarang, ucap Putu Arka.

"Nyoman Carik! Pasti dia! Siapa lagi!"

"Hebat!" Putu Arka menyeringai. Tampangnya tambah buruk. "Kau tetap di sini. Aku akan memberi pelajaran pada manusia satu itu. Ini urusan besar. Urusan nyawa. Enak saja dia membuat ulah yang bisa mengundang datangnya maut!"

Wayan Japa melihat kilatan menggidikkan di sepasang mata Putu Arka dan cepat berbisik.

"Putu, jangan kau bunuh sahabat kita itu."

Putu Arka menyeringai. "Aku akan pertimbangkan nasihatmu itu. Tetap memperhatikan ke arah laut."

Wayan Japa mengangguk. Hatinya terasa tidak enak. Putu Arka perlahan-lahan baringkan tubuh, menelentang di tanah. Dua kaki dilunjur lurus, dua tangan disilangkan di atas dada. Tiba-tiba tubuh itu bergerak ke samping. Laksana batang kayu berguling menggelinding, membuat pasir beterbangan ke udara. Belum sempat Wayan Japa kedipkan mata sosok Putu Arka telah lenyap.

Di balik serumpunan semak belukar sekitar dua belas tombak di arah belakang tempat Putu Arka dan Wayan Japa berada. Seorang lelaki yang juga berdestar dan berpakaian serba hitam duduk menjelepok di pasir asyik menikmati sebatang rokok yang asapnya menebar bau kemenyan. Orang bertubuh tinggi kurus ini jadi terganggu ketika tiba-tiba ada suara bersiur. Sebuah benda menggelinding di tanah dan di lain kejap benda itu berubah menjadi sosok manusia yang setengah berjongkok memandang garang ke arahnya.

"Putu Arka, ada apa...?"

"Bangsat jahanam tolol! Kau masih bisa bertanya ada apa?!" bentak Putu Arka. "Apa kau masih tidak sadar apa yang tengah kau lakukan?!"

"Aku....Memangnya....Bukankah kau menyuruh aku sembunyi di tempat ini. Mengawasi kalau-kalau ada orang lain yang datang, jika ada orang muncul aku harus membunuhnya. Jika mereka lebih dari

satu aku harus memberi tanda dengan bunyi suara burung..."

Darah Putu Arka seolah mau muncrat dari ubun-ubun. Tangan kirinya bergerak mencabut rokok yang terselip di bibir Nyoman Carik. Rokok dibanting hingga amblas lenyap masuk ke dalam tanah!

"Kita tengah menghadapi pekerjaan besar. Rahasia besar! Tanggung jawab besar! Kau beraninya bertindak ceroboh! Merokok! Nyala api rokok dimalam gelap akan mudah dilihat orang! Bau kemenyan yang menyebar akan mudah tercium! Sungguh sembrono perbuatanmu, Nyoman Carik!"

"Ah...." Nyoman Carik luruskan tubuhnya yang kurus. Dua kaki yang dilipat dibuka sedikit. Orang ini membungkuk seraya berucap. "Mohon maafmu Putu Arka."

"Aku maafkan dirimu! Tapi sesuai pesan guru setiap kesalahan besar mati hukumannya!"

Tangan kanan Putu Arka bergerak ke atas.

Nyoman Carik melihat kilatan maut di kedua mata Putu Arka.

"Putu, jangan...."

Tangan kanan Putu Arka menghantam laksana palu godam.

"Praakk!"

Sosok malang Nyoman Carik terbanting ke kiri. Sebelum tubuh itu terkapar di tanah Putu Arka telah berkelebat tinggalkan tempat itu. Sesaat kemudian dia sudah berada di samping Wayan Japa kembali, di belakang semak belukar.

"Sudah...." jawab Putu Arka pendek. Wajahnya yang buruk diarahkan ke laut. Lalu dia menatap ke langit. Masih geiap, tak kelihatan satu bintangpun.

"Apa yang sudah?" Wayan Japa bertanya. Hatinya syak tidak enak.

Aku sudah memberi pelajaran pada sahabat kita satu itu.' Menerangkan Putu Arka.

"Maksudmu, kan telah membunuh Nyoman Carik?"

"Kira-kira begitu." Putu Arka menyeringai,

"Gila kau! Jahat sekali membunuh teman sendiri!"

"Teman tidak iagi teman namanya kalau berlaku sembrono yang bisa membuat kematian diriku. Juga

kematian bagi dirimu!"

"Hanya karena merokok?"

"Itu cuma penyebab."

Wayan Japa pegang lengan temannya. "Aku tidak percaya kau telah membunuh Nyoman Carik."

"Sahabat, kau membuatku jadi kesal. Kalau tidak percaya pergi saja ke balik semak belukar sana. Periksa sendiri apakah Nyoman Carik masih hidup! Kurasa saat ini dia sudah jadi bangkai tak berguna!"

Wayan Japa terdiam. Dia palingkan kepala ke arah semak belukar di kejauhan. Gelap. Tengkuknya terasa dingin. Hatinya menduga-duga keculasan sudah mulai muncul diantara mereka. Putu Arka telah membunuh Nyoman Carik. Kini nanya tinggal mereka berdua. Dalam hati Wayan Japa membatin. "Setelah dapatkan barang itu pasti dia juga akan membunuh diriku. Aku harus berlaku waspada. Aku harus mendahuluinya." "Putu, bagaimana kita mempertanggung jawabkan komatian Nyoman Carik pada guru?"

"Soal nyawa Nyoman Carik guru tidak akan mau tahu. Kepadanya kita hanya mempertanggung jawabkan keberhasilan kita mendapatkan barang itu!

Kembali Wayan Japa terdiam. Lalu didengarnya suara Putu Arka berkata.

"Ketololan Nyoman Carik telah mengundang orang lain ke tempat ini! Kita berada dalam pengintaian musuh yang juga menginginkan barang itu! Mereka tahu kita berada di sini!"

Wayan Japa terkejut. Membuka mata lebar-lebar, memasang telinga. Memandang berkeliling. Dia tidak melihat apa-apa selain semak belukar dan pepohonan dalam kegelapan. Dia juga tidak mendengar suara lain kecuali tiupan angin dan deburan ombak di pasir pantai.

"Ketika aku berguling di tanah tadi, aku sempat melihat bayangan manusia di atas pohon sana. Sewaktu kembali ke sini sekali lagi aku melihat. Ada dua orang di atas pohon. Mungkin lebih tapi yang kulihat jelas hanya dua orang."

Wayan Japa segera hendak palingkan kepala ke arah pohon yang dimaksudkan temannya tapi Putu Arka cepat berkata. "Jangan menoleh! Jangan memandang ke arah pohon! Mereka tengah mengawasi gerak-gerik kita. Pandanganmu ke arah pohon hanya akan memberi tanda bahwa kita sudah mengetahui kehadiran mereka. Kita pura-pura tidak tahu tapi harus waspada! Jangan berbuat tolol seperti Nyoman Carik!"

"Lalu apa yang akan kita lakukan?"

"Apa yang ada di benakmu?" balik bertanya Putu Arka.

"Sebelum makhluk pembawa barang muncul, bagaimana kalau kita habisi dulu kedua orang itu. Hingga tidak perlu repot-repot belakangan."

"Itu namanya perbuatan sangat tolol! Menghabiskan tenaga sebelum pekerjaan selesai!" jawab Putu Arka pula. Setelah diam sebentar Putu Arka berkata. "Wayan, kau mengambil

alih tugas Nyoman Carik. Begitu makhluk pembawa barang muncul aku akan merampas barang dan kau menghadang dua masuh di atas pohon."

"Baik Putu," jawab Wayan Japa namun hati kecilnya kemudian berkata. "Setelah kau dapatkan barang itu hanya ada dua kemungkinan. Kau akan kabur, atau kau lebih dulu membunuhku."

TAK jauh dari rumpunan semak belukar tempat beradanya Putu Arka dan Wayan Japa. Di atas sebatang pohon besar berdaun lebat mendekam dua sosok berdandanan aneh. Muka tua tertutup celemongan entah dipoles dengan apa. Mungkin cat atau kapur. Rambut sama putih, awut-awutan menjela punggung. Pakaian compang camping penuh tambalan. Dari jarak sepuluh langkah seseorang bisa mencium bagaimana tubuh maupun pakaian kedua orang ini menebar bau apek tidak enak. Di atas pohon keduanya memperhatikan keadaan sekitar pantai. Rupanya sejak lama mereka sudah melihat gerak gerik Putu Arka dan Wayan Japa. Mereka juga telah mengetahui keberadaan Nyoman Carik yang sembunyi beberapa tombak di belakang sana.

Orang tua pertama berbisik pada kawannya.

"Kita kedahuluan, tapi belum terlambat. Aku tidak dapat memastikan siapa tiga cecunguk itu. Tapi hembusan asap rokok yang menebar bau kemenyan salah seorang dari mereka mengingatkan aku pada tiga tokoh dari Bali. Mereka berasal dari Buleleng. Kalau tidak salah mereka dijuluki Tiga Hantu Buleleng."

"Sakra Kalianget, mereka boleh datang duluan. Tapi barang itu tak bakal menjadi milik mereka."

Orang tua bernama Sakra Kalianget menyeringai lalu usap mukanya yang celemongan.

"Jangan keliwat takabur sobatku Bayusongko. Tiga Hantu Buleleng sudah punya nama di rimba persilatan kawasan timur."

"Aku tidak takabur. Apa lagi aku pernah dengar, walau terikat dalam satu kelompok, namun setiap mereka memiliki hati culas. Lebih suka mementingkan diri sendiri. Lihat saja nanti, kalau salah seorang dari mereka dapatkan barang itu, ketiganya akan tega saling berbunuhan untuk

dapat menguasai."

"Kabarnya barang itu memang tidak bisa dimiliki lebih dari satu orang," ucap orang tua berpakaian rombeng bernama Sakra Kalianget,

Bayusongko menatap tajam-tajam ke mata sahabat yang duduK di cabang pohon di atasnya.

"Maksudmu, kaiau barang itu jatuh ke tangan kita, salah seorang dari kita harus mati? Kau mau membunuhku? Begitu?"

Sakta Kalianget tutup mulutnya dengan telapak tangan kiri. Di balik telapak dia tertawa mengekeh tanpa suara.

"Kita berdua bukan orang-orang sinting! Hal itu tidak akan terjadi..."

"Sukra...." Bayusongko pegang kaki temannya.

"Pasang telingamu. Aku dengar sayup-sayup suara dua orang di depan tengah bicara. Seperti bertengkar. Hai, lihat...."

Sakra Kalianget sibakkan pohon yang menghalangi pemandangannya lalu menunjuk ke arah rerumpunan semak belukar. Di bawah sana, di balik semak belukar saat itu Putu Arka tampak membaringkan badan ke tanah.

Apa yang dilakukan manusia itu? Tidur? Gila betul!" ucap Bayusongko. Lalu dia keluarkan suara terkejut. "Astaga, lihat..."

Sosok Putu Arka berguling di tanah. Pasir beterbangan. Cepat sekali gerakan tubuh yang menggelinding itu lewat di bawah pohon lalu sampai di balik serumpunan semak belukar dimana Nyoman Carik tengah sembunyi sambil asyik-asyikan merokok.

"Manusia tolol! Sengaja menggelinding di tanah agar tidak terlihat orang! Padahal keberadaan dia dan kawan-kawan sudah kita ketahui!"

Diam Bayu! ujar Sakra Kalianget sambil menampar perlahan kepala teman yang berada di cabang pohon di sebelah bawah. "Aku mendengar benda berderak pecah. Lalu suara tubuh jatuh ke tanah..."

Dari tempatnya berada di atas pohon, meski lebih rendah dari kedudukan Sakra Kalianget namun Bayusongko bisa melihat lebih jelas apa yang terjadi. Dia keluarkan suara seperti mau muntah.

"Kenapa kamu?" tanya Sakra Kalianget.

"Yang kau dengar adalah suara kepala pecah! Orang yang menggelinding tadi membunuh kawannya sendiri. Orang yang merokok! Gila!"

"Gila tapi bagus! Berarti kekuatan mereka kini tinggal dua orang! Lebih mudah bagi kita untuk merampas barang itu kalau sudah ada di tangan mereka."

"Rupanya benar kabar yang tersiar. Tiga Hantu Buleleng itu masing-masing berhati culas. Apapun alasannya orang satu itu membunuh temannya. aku yakin tujuan hati busuknya adalah untuk mengurangi persaingan. Kelak dia bakal membunuh temannya yang satu lagi..."

‘Bisa begitu Bayu, bisa begitu..." ucap Sakra Kalianget pula.

"Sakra, apa kita tetap pada siasat semula? Membiarkan mereka mendapatkan barang itu lebih dulu baru merampasnya?"

"Siasat tidak berubah. Kita, siapapun, sekalipun memiliki kepandaian setinggi langit sedalam lautan, tidak bakal dapat merampas barang itu. Tiga Hantu Buleleng mampu melakukan karena mereka punya penangkal, tahu rahasia kelemahan makhluk yang membawa barang."

Bayusongko mengangguk-angguk, usap-usap dagunya yang celemongan lalu alihkan pandangan mata ke tengah laut. Dalam hati dia bertanya-tanya. Bagaimana bentuk makhluk yang akan muncul membawa barang itu? Lebih dari itu bagaimana pula ujud barang yang akan mereka rampas lalu diserahkan pada guru mereka di Danau Buyan di Buleleng?ANGIN dari arah laut bertiup dingin mengandung garam. Sementara langit semakin hitam tanpa bintang. Laut selatan diselimuti udara gelap gulita. Gemuruh suara ombak yang bergulung untuk kemudian memecah di pasir pantai terdengar tidak berkeputusan. Tiba-tiba di ufuk tenggara menyambar kilat, seolah muncul dari dalam samudera, melesat ke angkasa membuat guratan seperti membelah langit. Untuk sesaat kawasan pantai selatan terang benderang oleh sambaran cahaya kilat. Di lain kejap kegelapan kembali membungkus.

Di balik semak belukar Putu Arka mengusap wajah, membuka mata lebar-lebar memandang ke tengah laut. Dia mendongak ke langit, coba mencari bintang pertanda. Tak kelihatan satu bintangpun. Tapi dalam hatinya tokoh silat dari Buleleng ini punya dugaan keras. Saat menjelang tepat tengah malam telah tiba. Makhluk pembawa barang akan segera muncul. Dan hujan rintik-rintik mulai turun.

Sekali lagi kilat berkiblat. Kali ini di arah barat. Begitu cahaya terang sirna dan kegelapan kembali muncul, mendadak di tengah laut tampak satu cahaya kehijauan, seolah keluar dari dasar samudera. Secara aneh, entah apa yang terjadi, entah kekuatan dari mana yang turun ke bumi. tiba-tiba ombak di laut berhenti bergulung. Air laut diam tak bergerak seperti berubah menjadi hamparan rumput luar biasa luas. Tak ada lagi ombak yang bergulung dan memecah di pasir pantai. Anginpun berhenti bertiup dan hujan rintik-rintik lenyap. Seantero kawasan pantai selatan gelap pekat dan sunyi senyap.

"Saatnya....saatnya sudah tiba," kata Putu Arka dalam hati. Dadanya berdebar, wajah buruknya tampak tegang, mata terpentang lebar, menatap tak berkesip ke arah laut. Di belakang sana Wayan Japa merasa tegang. Sekilas dia memandang ke arah laut. Lalu kembali berpaling ke jurusan semula. Sesuai tugas, dia harus mengawasi kemunculan mendadak orang-orang yang tidak diingini. Saat itu sepasang matanya tidak lepas dari memperhatikan pohon besar dimana menurut Putu Arka bersembunyi dua orang tak dikenal.

Keheningan yang muncul mendadak membuat semua orang yang ada di tempat itu jadi tercekat bergidik.

"Keanehan apa ini?! Mengapa mendadak sunyi seperti di liang kubur! Ombak berhenti bergulung, angin tidak bertiup dan hujan yang barusan turun juga berhenti! Apa yang terjadi?!" Berucap Bayusongko yang berada di atas pohon besar.

"Saat yang ditunggu sudah tiba! Kita berada di tepat tengah malam. Ini saat munculnya makhluk yang membawa benda mustika itu. Menurut petunjuk dia akan keluar dari...." Ucapan Sakra Kalianget terputus. Dia meraba daun telinga sebelah kiri. "Ada suara kuda berlari dari arah timur. Menuju ke sini. Tapi....Mengapa tiba-tiba lenyap?"

Ada orang lain yang tahu urusan besar ini. Kita harus lebih waspada," bisik Bayusongko.

Di balik semak belukar Putu Arka yang memperhatikan ke tengah laut tanpa berkesip mendadak melihat cahaya hijau yang sejak tadi diawasinya berubah tambah panjang dan tambah terang. Tiba-tiba cahaya itu melesat ke atas. Air laut laksana terbelah. Cahaya hijau keluar dari dalam laut mengeluarkan suara bergemuruh. Kawasan pantai bergetar, pepohonan bergoyang. Di tepi pantai pasir berhamburan sampai setinggi dan sejauh dua tombak. Saat itu pula air laut kembali, bergerak. Ombak menderu bergulung ke pantai. Angin kembali bertiup kencang dan dingin. Lalu hujan rintik-rintik kembali turun dan dengan cepat berubah deras.

Putu Arka tudungi kedua matanya dengan tangan kiri. Tak tahan silau cahaya hijau yang keluar dari laut. Ketika dia dapat melihat dengan jelas, kejut tokoh silat dan Bali ini bukan alang kepalang. Yang barusan melesat keluar dari dalam laut disertai pancaran cahaya hijau menyilaukan ternyata adalah sosok seekor ular besar dan panjang berkulit hijau. Sebagian tubuhnya masih berada didalam air laut. Luar biasanya sosok ular ini memiliki kepala seorang nenek berambut hijau, punya sepasang tanduk hijau serta dua mata yang juga hijau. Dua tangannya memegang sebuah peti kayu hitam yang diikat dengan akar tumbuhan laut berwarna hijau. Di atas kepalanya ada sebentuk mahkota terbuat dari batu hijau. Keseluruhan sosok nenek ular ini, mulai dari kepala sampai ke bawah memancarkan cahaya hijau menyilaukan. Orang pertama dari Tiga Hantu Buleleng ini tidak pernah menduga kalau inilah makhluk yang akan ditemuinya.

Dalam kejut dan ketersiapannya Putu Arka perhatikan peti kayu hitam yang dipegang nenek ular. "Peti itu...." katanya dalam hati. "Itu, yang harus aku dapatkan. Makhluk itu pasti tak akan mau menyerahkan secara suka rela. Aku harus merampasnya. Di dalam peti pasti tersimpan barang yang dicari. Mustika pembawa nyawa, pemberi kehidupan baru!"

Putu Arka usap wajah buruknya yang basah oleh air hujan lalu bergeser ke kanan. Saatnya dia keluar dari balik semak belukar. Gerakannya terhenti sebentar ketika dilihatnya manusia ular rundukkan tubuh bagian atas lalu meluncur di atas air menuju pasir pantai. Begitu makhluk aneh mengerikan itu sampai di atas pasir, Putu Arka tidak menunggu lebih lama. Dia segera melompat keluar dari balik semak belukar lalu melesat ke tepi pasir.

"Makhluk ular kepala manusia! Serahkan peti yang kau bawa padaku!"

Putu Arka berteriak keras. Suaranya menggelegar di bawah deru hujan. Tokoh silat dari Bali ini tentu saja menyertai teriakannya tadi dengan kekuatan tenaga dalam. Nenek ular serta merta angkat kepala. Sepasang matanya yang hijau memandang menyorot ke arah orang yang barusan membentak. Tiba-tiba si nenek keluarkan suara tertawa aneh. Ketika mulutnya terbuka kelihatan lidah berwarna hijau, menjulur terbelah di sebelah ujung. Makhluk bertubuh ular berkepala manusia ini bersurut setengah tombak. Ekornya melesat ke atas, menekuk di udara. Seperti buntut kalajengking yang siap menyengat, membuat Putu Arka harus berlaku hati-hati.

"Anak manusia, siapapun kau adanya pasti sudah lama menunggu di tempat ini. Kau begitu sabar menantikan kematianmu. Apakah kau sendirian atau punya teman. Suruh mereka segera keluar agar aku tidak terlalu banyak mengha-biskan waktu dan tenaga untuk menyingkirkan kalian!"

Putu Arka mengeram marah.

"Aku meminta untuk kali kedua. Itu merupakan kali yang terakhir! Serahkan peti kayu padaku!"

"Kau meminta barang yang bukan hakmu! Kau ini bangsa maling, begal atau rampok?!" Nenek ular sehabis berucap kembali tertawa aneh.

"Makhluk tolol! Kau lebih sayang peti itu dari nyawamu! Lihat, apa yang ada di tanganku!"

Dua tangan Putu Arka yang sejak tadi dimasukkan ke balik baju hitam yang basah kuyup melesat keluar. Dia kembangkan telapak tangan. Di atas telapak tangan kiri terdapat sehelai daun sirih. Di telapak tangan kanan kelihatan sebuah Bawang putih tunggal.

Tampang nenek ular serta merta berubah begitu melihat sirih dan bawang putih tunggal Tubuh ularnya mengkeret dan bersurut sampai satu tombak.

"Manusia beralis hitam putih! Katakan siapa Kau sebenarnya?!"

Putu Arka menyeringai. Maklum makhluk tubuh ular kepala manusia itu kini merasa jerih terhadapnya.

"Aku tidak suruh kau bertanya. Aku perintahkan agar kau segera menyerahkan peti kayu!" Habis berkata begitu Putu Arka lalu remas daun sirih di tangan kiri dan bawang putih tunggal di tangan kanan. Daun sirih dan bawang putih yang sudah hancur kemudian dimasukkannya ke dalam mulut, dikunyah lumat-lumat.

"Manusia ini tahu kelemahanku' Aku harus membunuhnya sebelum dia menyemburkan kunyahan daun sirih dan bawang putih." Nenek ular berkata daiam hati. Lalu sambi! surutkan tubuh ularnya dan rundukkan kepala dia keluarkan ucapan.

‘Aku menaruh hormat dan tunduk padamu. Mungkin kau memang orangnya kepada siapa aku harus menyerahkan peti kayu ini. Maafkan kelancanganku. Harap kau sudi menerima." Nenek ular rundukkan kepala lebih ke bawah. Dua tangan yang memegang peti kayu diulurkan ke depan kearah orang yang meminta. Putu Arka tokoh silat berpengalaman. Dia tidak bodoh. Dia mencium gelagat yang tidak baik. Tipu daya! Dan ternyata betul. Hanya seuluran tangan peti kayu berada di depan Putu Arka, tiba-tiba ekor nenek ular yang ditarik tadi menekuk di udara menghantam kearah kepala Putu Arka. Cahaya hijau berkiblat menyertai serangan maut itu!

Didahului bentakan keras Putu Arka melompat ke samping. Ekor ular menderu dahsyat, membongkar tanah. Pasir pantai berhamburan ke udara di tempat itu kelihatan lobang besar sedalam hampir setengah tombak. Dapat dibayangkan kalau hantaman ekor ular mengenai kepala Putu Arka.

Begitu ioios dari serangan maut Putu Arka cepat melesat ke udara. Pada saat kepalanya sejajar dengan kepala nenek ular dia semburkan selengah dari kunyahan daun sirih dan bawang putih yang ada dalam mulut. Hampir bersamaan dengan itu nenek ular sentakkan kepala.

"Wuss! Wusss!"

Dari sepasang mata nenek ular melesat dua sinar hijau menggidikkan. Tapi dua larik sinar maut itu serta merta menghambur berantakan begitu terkena semburan kunyahan daun sirih dan bawang putih tunggal. Nenek ular keluarkan suara meraung panjang aneh menggidikkan. Suara ini seperti raungan anjing namun pada ujung raungan berubah seperti ringkikan kuda. Kepala nenek ular terbanting ke belakang. Sekujur tubuh ularnya bergoncang keras. Dalam keadaan menghuyung makhluk ini buka mulutnya. Lidah hijau terbelah dijulurkan. Memancarkan cahaya hijau menyeramkan.

Putu Arka yang maklum kalau lawan kembali hendak menyerang. Dengan cepat jungkir balik di udara. Sambil menukik dia semburkan sisa kunyahan daun sirih dan bawang putih ke arah kepala nenek ular. Makhluk yang belum sempat menyemburkan racun maut dari mulutnya kembali meraung keras. Semburan kunyahan daun sirih dan bawang putih tepat mengenai wajahnya. Saat itu juga kepala nenek ular kelihatan berpijar hebat, mengepulkan asap hijau lalu seperti lilin terbakar kepala itu leleh, berubah menjadi cairan hijau. Luar biasa mengerikan. Dua tangan si nenek terpentang ke udara. Menggapai-gapai. Peti kayu yang sejak tadi dipegangnya terlepas jatuh.

Perlahan-lahan sosok ular si nenek tersurut dan tenggelam ke dalam laut. Putu Arka bertindak cepat. Dua kaki dijejakkan ke pasir. Tubuhnya melesat ke udara, menyambar kayu hitam yang siap jatuh ke dalam laut.

"Dapat!" Di balik semak belukar Wayan Japa berucap gembira sambil kepalkan tangan ketika melihat sobatnya Putu Arka berhasil menangkap dan mendapatkan peti kayu yang terlepas jatuh dari pegangan makhluk ular kepala manusia.

Namun pada saat yang sama, di arah belakangnya terdengar sambaran angin. Dua makhluk aneh, berwajah celemongan melesat turun dari pohon besar. Musuh yang ditunggu-tunggu telah keluar unjukkan diri. Sesuai yang sudah diatur, Wayan Japa segera keluarkan suara siulan menyerupai suara burung malam. !ni adalah tanda yang harus diberikannya pada Putu Arka.

Putu Arka sempat mendengar suara siulan pertanda yang diberikan Wayan Japa. Tapi seperti yang sudah diduga, keculasan pada masing-masing Tiga Hantu Buleleng ini menjadi kenyataan. Bukannya datang untuk membantu sahabatnya, malah sambil menyeringai Putu Arka berbalik kabur ke arah barat membawa peti kayu. Dia tidak menyadari justru pada saat yang hampir bersamaan dari arah berlawanan terdengar derap kaki kuda mendatangi.SEBELUM turun dari atas pohon besar, Sakra Kalianget berkata pada temannya. ‘Bayusongko, kau serang si penghadang. Aku mengejar orang yang melarikan peti kayu!"

Dua tokoh silat dari Madura itu segera berkelebat turun dari atas pohon sambil hunus senjata masing-masing yakni sebilah clurit terbuat dari besi biru dilapisi emas. Sakra Kalianget langsung mengejar Putu Arka sedang Bayusongko menyerbu ke arah Wayan Japa yang memang bertindak sebagai penghadang.

Begitu saling berhadapan Bayusongko tenang-tenang saja melintangkan clurit emas di depan dada. Sementara Wayan Japa tidak dapat menyembunyikan rasa kaget ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya dan siap menyerbu. Namun dia cepat menguasai diri dan merubah sikap.

"Owalah!" ucap Wayan Japa. "Lihat siapa yang jual tampang di hadapanku! Muka celemongan, pakaian rombeng penuh tambalan, menebar bau busuk. Bersenjata clurit emas! Siapa lagi kalau bukan tua bangka berjuluk Pengemis Clurit Emas dari Madura!"

Disapa orang begitu rupa Bayusongko tertawa mengekeh.

"Malam begini gelap, hujan pula! Tidak sangka orang masih mengenali diriku! Rupanya aku memang sudah jadi tokoh kesohor! Ha...ha...ha!"

"Tunggu! Jangan buru-buru berucap sombong!" Hardik Wayan Japa. "Biasanya Pengemis Clurit Emas selalu muncul berdua. Mana temanmu? Apa lagi mengemis di tempat lain? Ha...ha...ha!"

"Apa perduiimu dimana temanku!' jawab Bayusongko lalu keluarkan suara mendengus.

Wayan Japa maklum kalau ejekannya membuat lawan mulai marah. Maka dia kembali keluarkan ucapan.

"Malam-malam buta begini. Di tempat sepi. Ketika cuaca begini buruk! Aneh kalau kau muncul untuk mengemis! Sendirian pula!"

Bayusongko menahan amarahnya. Batuk-batuk lalu tertawa gelak-gelak.

Kalau mengemis nyawa manusia waktunya tidak perlu diatur, Malam-malam seperti ini memang paling tepat untuk minta nyawa orang. Berbarangan dengan kehadiran setan laut yang pasti banyak gentayangan di sekitar sini! Ha...ha. .ha!"

"Tolol sekali!" tukas Wayan Japa. "Senjata saja terbuat dari emas. Masih mau mengemis! Jua! saja cluritmu kalau tidak punya uang! Aku sering mendengar kabar. Banyak pengemis yang sebenarnya kaya raya. Di kampung punya tiga rumah dan tiga istri! Kau pasti termasuk pengemis macam begituan!"

"Ah, rupanya Pengemis Clurit Emas memang sudah tersohor. Sampai-sampai kau tahu keadaan diriku! Hai, kalau aku mau menjual clurit ini, apa kau mau membeli?!"

"Siapa sudi!" jawab Wayan Japa lalu meludah ke tanah.

"Kalau begitu biar clurit ini aku berikan cuma-cuma padamu!" kata Bayusongko pula lalu menerjang ke depan sambil babatkan senjatanya. Sinar terang kuning berkiblat dalam gelapnya udara dan curahan hujan lebat.

Wayan Japa cepat menyingkir selamatkan diri. Sinar kuning clurit emas membabat udara kosong. Curahan air hujan seolah tertahan. Dari sambaran angin yang menggetarkan pakaian dan tubuhnya Wayan Japa maklum, bukan saja senjata di tangan lawan merupakan senjata berbahaya tapi yang melancarkan serangan juga memiliki tenaga dalam tinggi.

Sambil melompat mundur mengelak serangan orang Wayan Japa cepat loloskan destar hitam di kepala. Destar yang basah oleh air hujan diperas dulu, lalu ditarik, direntang dan diurut-urut. Sesaat saja destar hitam itu telah berubah menjadi keras dan lurus. Destar dibolang baling mengeluarkan suara bersiuran. Luar biasa, destar yang terbuat dari kain itu kini berubah menjadi sebatang tongkat sepanjang lima jengkal.

Bayusongko tertawa bergelak.

"Hantu Dari Buleleng yang katanya punya nama besar di rimba persilatan ternyata cuma punya senjata butut! Kau akan mampus lebih cepat kalau hanya mengandalkan destar bau tengik itu!" ejek Bayusongko.

"Jangan banyak mulut! Terima kematianmu!" kertak Wayan Japa. Lalu orang kedua dari Tiga Hantu Buleleng ini menerjang lancarkan erangan dalam jurus bernama Tongkat Hantu menghidang Iblis.

Seolah mengejek dan memandang rendah lawan, Bayusongko sengaja tegak diam menung-gu datangnya serangan Wayan Japa.



SIKAP memandang enteng senjata dan serangan lawan serta merta berubah jadi keterkejutan besar. Malah Bayusongko sampai-sampai keluarkan seruan tertahan. Destar hitam di tangan Wayan Japa laksana seekor ular bisa berubah lentur. Laksana seekor ular mematuk kian kemari, menyerang tiga bagian tubuh Bayusongko dalam satu gebrakan! Untuk mengelakkan hantaman ujung destar yang mengarah ke bagian dada, perut dan betisnya Bayusongko dipaksa berkelebat dan berjingkrak kian kemari. Untung saja orang tokoh silat dari Madura ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkatan tinggi. Dia mampu selamatkan diri dari tiga kali hantaman senjata lawan.

Bayusongko menggeram dalam hati. Baru jurus pertama lawan mampu membuatnya kelabakan begitu rupa. Hatinya jadi panas ketika Wayan Japa keluarkan ucapan.

"Ha...ha! Aku tidak sangka pengemis bisa berubah jadi monyet! Jingkrak sana jingkrak sini!"

"Umur tinggal sejengkal! Masih mau bicara sombong!" hardik Bayusongko pula. "Lihat clurit!"

Bayusongko membuat satu terjangan. Dua kaki melesat di atas tanah. Tubuh meliuk aneh. Clurit emas diputar di atas kepala, lalu menukik dalam bentuk serangan ke arah pinggang lawan. Ketika Wayan Japa mundur dua langkah untuk elakkan sambaran clurit, tubuh Bayusongko yang masih mengapung di udara kembali membuat liukan aneh dan settt! Clurit emas tahu-tahu membabat ke arah leher Wayan Japa!

Sambil surutkan kaki kiri ke belakang dan kepala dirundukkan, Wayan Japa sambut serangan orang dengan jurus Tongkat Hantu Menutup Pintu Akhirat. Destar hitam berkelebat searah perut lawan yang tidak terjaga,, membuat kakek bernama Bayusongko terpaksa lentingkan tubuh ke belakang dan begitu berhasil selamatkan perutnya dari sambaran destar dia teruskan babatan clurit ke arah leher lawan.

Jurus Tongkat Hantu Menutup Pintu Akhirat yang dimainkan orang kedua dari Tiga Hantu Buleleng ini bukan satu jurus kosong. Ujung destar yang telah berubah menjadi sebatang tongkat luar biasa ampuhnya, berkelebat di udara. Ujung atas melintang di depan leher, ujung bawah menohok ke arah perut lawan!

"Trangg!"

Tongkat destar beradu dengan clurit emas, mengeluarkan suara berkerontangan seolah dua logam atos saling bentrokan di udara! Bunga api memercik. Destar mengeluarkan cahaya hitam sedang clurit menebar percikan cahaya kuning benderang.

Bentrokan senjata membuat tangan pengemis tua Bayusongko yang memegang clurit tergetar keras. Ini sudah cukup membuat tokoh silat dari Madura ini jadi terkejut. Dia tidak menyangka lawan memiliki kekuatan tenaga begitu besar serta senjata aneh yang tak bisa dianggap enteng. Dan belum habis kejutnya tiba-tiba bagian bawah tongkat lawan menderu ke arah perutnya!

"Bukkk!"

"Hueekk!"

Bayusongko mengeluh tinggi dan muntahkan darah segar. Tubuhnya terlipat ke depan. Tangan kiri meraba perut karena mengira perut itu sudah jebol dihantam tongkat yang terbuat dari destar tapi kerasnya tidak beda dengan pentungan besi! Ketika dia hendak mengusap darah yang membasahi mulutnya, tiba-tiba tongkat di tangan Wayan Japa kembali menderu. Kali ini dalam gerakan mengemplang ke arah batok kepala si pengemis yang berdiri setengah terbungkuk karena menahan sakit pada perutnya dan tengah menyeka darah di mulut.

Untungnya Bayusongko masih sempat melihat serangan maut itu. Secepat kilat dia jatuhkan diri ke tanah. Sambil berguling dia babatkan clurit emas ke arah dua kaki Wayan Japa. Tanpa menggeser kedudukan kedua kakinya, Wayan Japa tusukkan tongkat ke bawah. Senjata itu menancap di tanah tepat pada saat clurit emas datang membabat.

Untuk kedua kalinya dua senjata saling bentrokan dan untuk kedua kalinya pula bunga api hitam dan kuning memercik di udara gelap. Wayan Japa cepat tarik tongkat tapi alangkah terkejutnya anggota Tiga Hantu Buleleng ini ketika dapatkan walau telah mengerahkan tenaga sekuat apapun, malah mempergunakan dua tangan sekaligus, dia tidak mampu mencabut tongkat yang menancap di tanah itu!

"Celaka! Apa yang terjadi?!" Sepasang mata Wayan Japa mendelik besar. Clurit emas senjata lawan dilihatnya melingkar pada badan tongkat. Ujungnya yang tajam dan bagian gagang tidak kelihatan karena terpendam ke dalam tanah! "Clurit...clurit itu mengunci senjataku!" Wayan Japa pentang matanya ke arah Bayusongko yang saat itu telah tegak berdiri. Mukanya yang celemongan tambak tak karuan oleh darah yang membasahi mulut dan dagunya.

Kakek bermuka celemongan itu berdiri itu sambil tertawa mengekeh dan usap-usap dua tangannya satu sama lain. Tiba-tiba entah dari mana munculnya tahu-tahu dalam dua tangan Bayusongko telah tergenggam dua buah clurit kecil. Dua senjata ini kelihatan aneh karena hanya gagangnya yang tampak jelas sedang bagian yang tajam dan runcing hampir tidak membekas di dalam kegelapan.

"Clurit Hantu!"

Wayan Japa keluarkan seruan tertahan.

Tampangnya berubah. Jelas ketakutan amat Hangat.

Si pengemis tua Bayusongko tertawa mengekeh.

"Bagus sekali! Kau mengenali sepasang clurit gaib ini! Pertanda kau sadar bahwa kematian sudah di depan hidung! Ha...ha...ha!" Pengemis tua itu tertawa bergelak. Begitu tawa lenyap dua tangan yang memegang clurit kecil yang disebutnya sebagai clurit goib bergerak berputar.

"Seettt!"

"Seettt!"

Dua clurit aneh yang hanya kelihatan gagangnya saja melesat ke arah Wayan Japa. Tokoh dari Bali ini hanya sempat melihat clurit hantu yang menyerang ke arah lehernya. Dia cepat menyingkir ke kiri sambil lepaskan satu pukulan tangan kosong berkekuatan tenaga dalam penuh. Meskipun Wayan Japa berhasil memukul mental clurit pertama namun dia tidak mampu melihat kelebatan datangnya clurit hantu kedua.

Raungan menggelegar dari mulut orang kedua Tiga Hantu Buleleng ini ketika clurit hantu kedua menancap tepat di mata kirinya. Sosok Wayan Japa terhuyung ke belakang. Tangan kiri menggapai udara kosong. Tangan kanan bergerak ke arah mata, berusaha mencabut clurit hantu yang menancap di mata itu. Tapi belum sempat menyentuh, mendadak sekujur tubuh Wayan Japa berubah dingin dan kaku. Dia hanya sempat keluarkan keluhan pendek lalu sosoknya terbanting ke tanah tak bergerak lagi. Dalam gelap sekujur kulit tubuhnya kelihatan membiru. Itulah akibat racun sangat jahat yang ada pada clurit hantu. Jangankan manusia, makhluk sebesar gajahpun mampu terbunuh oleh racun ini dalam sekejapan mata! Ternyata Hantu Buleleng tidak sanggup menghadapi clurit hantu alias clurit goib!

Pengemis muka celemongan Bayusongko menyeringai sambil usap-usap dua tangan. Secara aneh, dua clurit hantu telah berada dalam tangannya kembali. Orang tua ini masih terbungkuk menahan sakit pada perutnya kemudian melangkah mendekati tongkat milik Wayan Japa yang kini telah berubah ke bentuknya semula yaitu selembar kain ikat kepala dan melingkar di tanah. Bayusongko cabut clurit emas miliknya yang terpendam di tanah di samping destar hitam. Kepala pengemis tua muka celemongan ini terdongak ketika dari arah pantai terdengar suara jeritan orang. Dia mengenali. Itu adalah suara jeritan sahabatnya, Sakra Kalianget, orang pertama dari Pengemis Clurit Emas.KEMBALI kepada Putu Arka. Seperti dituturkan sebelumnya orang pertama dari Tiga Hantu Buleleng ini berhasil menghancurkan makhluk ular berkepala manusia yang keluar dari dalam lautan membawa sebuah peti kayu berwarna hitam. Begitu peti berada di tangannya Putu Arka segera kabur ke arah barat. Dia tidak perdulikan suara suitan tanda yang diberikan sahabatnya Wayan Japa. Dia seperti tidak mendengar suara derap kaki kuda banyak sekali datang dari arah timur. Yang penting dia sudah dapatkan peti berisi benda maha sakti tiada duanya di dunia dan harus menyelamatkannya.

Namun belum sampai berlari dua puluh langkah, tiba-tiba satu bayangan hitam berkelebat di depan Putu Arka. Cepat Putu Arka tahan lari kemana gerakan orang jelas menghadang dirinya. Memandang ke depan, Putu Arka jadi melengak. Lnam langkah di hadapannya tegak bertolak pinggang seorang kakek bermuka celemongan, rambut putih panjang awut-awutan. Berpakaian rombeng penuh tambalan. Dari keadaan serta pakaian orang, Putu Arka segera maklum, dengan siapa dia berhadapan saat itu.

Sakra Kalianget! Orang pertama Pengemis Clurit Emas. Gerangan apa kau muncul di malam

buta sepertinya sengaja menghadang jalanku?!" "Putu Arka, jangan pura-pura berbasa-basi. Serahkan peti yang kau pegang padaku! Sekarang! Cepat!" "Ah" Putu Arka mundur satu langkah. "Aku memang barusan merampas barang ini dari orang lain. Tapi aku tahu betul peti dan benda isi di dalamnya bukanlah milikmu! Mengapa aku merasa perlu menyerahkan kepadamu!" Sakra Kalianget tertawa bergelak. Rangkapkan dua tangan diatas baju rombengnya lalu berkata.

"Kali pertama aku hanya meminta peti itu. Kali kedua aku meminta berikut nyawamu! Terserah kau mau memberikan yang mana!"

Sesaal Putu Arka terdiam. Otaknya bekerja. Dia cukup tahu riwayat kakek muka angker celemongan bernama Sakra Kalianget ini. Bersama seorang kakek lainnya bernama Bayusongko di rimba persilatan tanah Jawa kawasan timur dia dikenal dengan julukan Pengemis Clurit Emas. Mereka selalu muncul berdua. Mana yang satunya? Tadi dia mendengar jerit raungan Wayan Japa. Dia tidak perlu menyelidik. Saat ini Wayan Japa pasti sudah menemui ajal. Pembunuhnya? Besar dugaan si pembunuh adalah Pengemis Clurit Emas yang bernama Bayusongko. Menghadapi manusia satu ini saja cukup sulit. Apa lagi kalau sampai temannya muncul membantu.

"Sakra Kalianget, aku tidak mau membuang-buang waktu berurusan dengan manusia pengemis sepertimu. Tunggu saja sampai siang. Pergi ke pasar dan mengemis di sana! Jangan mencampuri urusan orang!"

Sakra Kalianget kembali tertawa.

"Urusan yang kau hadapi bukan urusan dirimu sendiri. Tapi adalah urusan para tokoh rimba persilatan!" Ucap jago tua dari Madura itu.

Dengar, aku akan mengampuni selembar nyawamu, kalau kau tidak terlalu bodoh mau menyerahkan peti kayu hitam padaku!"

"Jahanam!" maki Putu Arka dalam hati. "Mati hidup peti ini akan aku pertahankan!" Lalu dia keluarkan ucapan. "Pengemis kesasar! Kalau kau inginkan peti ini silahkan mengambil sendiri!"

"Bodoh sekali! Berani menantang Pengemis Clurit Emas dari Madura!" kata Sakra Kalianget sambil menyeringai. Begitu selesai bicara kakek pengemis ini keluarkan clurit emasnya dan langsung menyerang Putu Arka. Perkelahian hobat segera pecah. Putu Arka segera terdesak begitu memasuki jurus kedua. Sebabnya dia terpaksa berkelahi sambil satu tangan memegang peti kayu. Seperti Wayan Japa tadi dia loloskan destar hitam yang terikat di kepala. Kalau Wayan Japa terlebih dulu harus menarik dan mengurut-urut destar itu, lain halnya dengan Putu Arka. Karena kesaktiannya jauh lebih tinggi dari Wayan Japa, maka sekali kain hitam itu disentakkan, serta merta berubah menjadi sebatang tongkat seatos besi!

Ternyata ilmu silat yang dimiliki Putu Arka setingkat lebih tinggi dari Sakra Kalianget. Walau di awal jurus perkelahian dia kena didesak, namun setelah keluarkan jurus-jurus andalannya, Putu Arka berhasil mengimbangi serangan lawan malah sesekali membuat serangan balasan yang mematikan.

Kesal karena tidak bisa menembus pertahanan lawan Sakra Kalianget dengan cerdik alihkan sasaran serangannya. Kini cluritnya dipakai untuk menghantam ke arah peti hitam yang dikepit Putu Arka di tangan kiri. Satu kali clurit emas berhasil membabat sudut kiri atas peti kayu hingga gompal. Untung peti itu cukup tebal hingga isi di dalamnya masih terlindung. Namun keberhasilan merusak peti harus ditebus cukup mahal oleh Sakra Kalianget. Karena di saat pertahanan Sakra terbuka. Putu Arka berhasil susupkan tongkatnya ke dada kiri lawan.

"Kraakk!"

Salah satu tulang iga Sakra Kalianget berderak patah. Orang ini menjerit kesakitan. Jeritan inilah yang kemudian didengar oleh pengemis Bayusongko yang baru saja berhasil membunuh Wayan Japa.

"Jahanam Putu Arka! Kau memang minta mampus! Sekarang tidak ada lagi pengampunan bagi dirimu!" Sakra Kalianget lemparkan clurit emas di tangan kanan ke arah Putu Arka.

Demikian cepatnya lemparan ini, Putu Arka hanya mampu pergunakan peti kayu untuk melindungi diri. Clurit emas menancap di peti. Putu Arka tidak perdulikan. Dia lebih memperhatikan keadaan lawan. Sementara Sakra Kalianget kesakitan, Putu Arka melihat kesempatan untuk menghabisinya. Dengan satu lompatan kilat Putu Arka kirimkan serangan tongkat dalam jurus Tongkat Hantu Memburu Iblis.

Tongkat yang terbuat dari kain ikat kepala itu, yang kemudian berubah sekeras besi, kini berubah lagi laksana sebilah pedang tipis, bergetar keras memancarkan cahaya hitam.

Orang lain mungkin segera menangkis atau bergerak cari selamat. Senjata di tangan lawan bergetar demikian rupa hingga sulit diduga arah mana yang dituju sebagai sasaran. Tapi luar biasanya Sakra Kalianget tegak tenang-tenang saja. Pasti ada yang diandalkannya. Memang benar, ternyata dia berdiri sambil mengusap dua tangan satu sama lain. Di lain kejap dua tangan itu telah menggenggam dua bilah clurit yang dalam gelap hanya terlihat gagangnya. Clurit hantu alias Clurit goib!

Gerakan Putu Arka sesaat jadi tertahan begitu matanya memperhatikan benda apa yang ada dalam pegangan tangan kiri kanan lawan. Dia belum pernah melihat senjata angker itu, hanya banyak mendengar cerita,keganasannya saja. Tapi dia maklum yang tengah dipegang Sakra Kalianget adalah sepasang clurit hantu yang telah banyak membuat geger rimba persilatan tanah Jawa bagian timur.

"Jadi benar berita yang tersiar. Bangsat ini memang punya sepasang clurit hantu! Aku harus cepat membentengi diri dan kabur dari tempat ini!" Didahului bentakan keras, sosok Putu Arka berputar seperti gasing dan melesat ke udara. Di saat yang sama Sakra Kalianget gerakkan dua tangan yang memegang clurit hantu. Tapi belum sempat dua senjata maut itu lepas dari tangannya tiba-tiba di arah kiri belakang terdengar orang berseru.

"Sakra! Biar aku yang menghabisi bangsat itu! Kau cepat menangkap peti begitu lepas dari tangannya!"

Sakra Kalianget kenali suara orang yang berteriak. Suara Bayusongko sahabatnya. Selagi dia meragu apakah akan meneruskan melemparkan clurit hantu ke arah Putu Arka, dari tempat gelap si kakek Bayusongko muncul dan langsung saja melemparkan dua clurit hantu yang telah tergenggam di tangannya kiri kanan.

"Bettt!"

"Bettt!"

Putu Arka yang tadinya bersiap untuk selamatkan diri dari clurit hantu yang hendak dilemparkan Sakra Kalianget tentu saja jadi terkejut besar dan tidak menduga kalau bakalan ada serangan yang sama dari arah lain. Apa lagi saat itu dia tengah bergerak untuk mengeluarkan sebuah benda yang jika dipecahkan akan sanggup membentengi dirinya dari serangan lawan. Namun sebelum sempat benda itu diambilnya, apa lagi saat itu dia masih memegang tongkat, tahu-tahu sebuah benda menancap di bahu kirinya.

"Clurit Hantu!" seru Putu Arka. Sekujur tubuhnya mendadak sontak menjadi dingin. Tidak pikir lebih lama, begitu dua kakinya menjejak tanah, Putu Arka segera buang tongkat di tangan kanan. Lalu dengan tangan itu dia membetot kuat-kuat lengan kirinya.

Terjadilah hal yang mengerikan!

Putu Arka menarik tanggal tangan kirinya yang ditancapi clurit hantu pada bagian bahu. Tangan ini tanggal mulai sebatas persendian bahu ke bawah! Memang hanya inilah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari kematian akibat racun clurit hantu atau clurit goib yang luar biasa ganasnya. Sehabis menarik tanggal tangannya sendiri, Putu Arka jatuh terjengkang di tanah. Peti kayu hitam telah lebih dulu lepas dari kepitan dan jatuh. Putu Arka gulingkan diri, masih berusaha untuk menjangkau peti itu dengan tangan kanan. Namun dia kalah cepat. Seseorang berkelebat mengambil peti!

Bukan Putu Arka saja yang terkejut atas serangan yang dilancarkan secara mendadak oleh pengemis Bayusongko. Sakra Kalianget juga ikutan kaget malah sampai keluarkan seruan keras. Salah satu dari dua clurit hantu yang dilemparkan Bayusongko menancap di lehernya. Sakra Kalianget keluarkan suara seperti orang digorok. Rasa terkejut luar biasa dan disusul dengan, kemarahan besar membuat dia lupa bertindak. Clurit hantu dibiarkan menancap di leher sementara mulutnya keluarkan sumpah serapah. Sebenarnya memang tak ada yang bisa dilakukan Sakra Kalianget. Dia tidak mungkin menanggalkan lehernya seperti yang dilakukan Putu Arka menanggalkan tangan kirinya.

"Jahanam Bayusongko! Kau sengaja membunuhku! Kau inginkan peti itu untuk dirimu sendiri! Jahanam laknat! Terkutuk kau!"

Si tua muka celemongan Bayusongko batuk-batuk. Seka darah yang meleleh di bibirnya dan menjawab ucapan orang.

"Kau telah lebih dulu mengkhianati kelompok kita! Pertama kau meyingkirkan Nyoman Carik dongan alasan yang dicari-cari. Tadi waktu dapatkan peti ini kau langsung bertindak kabur! Untung masih tertahan oleh hadangan Putu Arka! Bukan begitu ceritanya?!"

"Jahanam keparat! Serahkan peti itu padaku!" teriak Sakra Kalianget seraya melotot memandang ke arah peti kayu hitam yang kini dipegang oleh Bayusongko. Namun heekkk! Dari tenggorokan Sakra Kalianget terdengar suara tersedak. Itulah suara tarikan nafasnya yang terakhir kali.

Sosoknya mendadak dingin lalu terjungkal di tanah. Sekujur kulit tubuhnya berubah kebiru-biru akibat racun ganas clurit hantu.

Bayusongko tertawa mengekeh. Dia kepit peti kayu di tangan kiri. Dua tangan diusap-usapkan. Dua clurit hantu yang tadi dipakainya untuk menyerang orang pertama Tiga Hantu Buleleng dan kawannya sendiri yaitu Sakra Kalianget, secara aneh berada kembali dalam genggamannya.

"Pengemis culas! Kembalikan peti itu padaku! Itu milikku!"

Bayusongko putar tubuh. Memperhatikan orang yang barusan memakinya. Orang itu adalah Putu Arka yang masih terguling di tanah, berusaha duduk.

"Aha! Orang pertama Tiga Hantu Buleleng! Belum mati kau! Kau benar-benar inginkan peti ini rupanya! Aku tidak tega melihat keadaanmu. Biar kuberikan padamu! Ambillah!"

Bayusongko melangkah mendekati Putu Arka. Tersenyum dan membungkuk. Ulurkan dua tangan yang memegang peti seolah benar-benar hendak menyerahkan. Tapi begitu Putu Arka duduk dan ulurkan tangan untuk mengambil peti tiba-tiba Bayusongko tendangkan kaki kanannya.

"Bukkk!"

Darah menyembur dari mulut Putu Arka bersama jerit kesakitan. Tubuhnya mencelat mental, terkapar tak berkutik di tepi pasir. Entah mati entah pingsan.

"Manusia tolol!" ucap pengemis Bayusongko. Lalu putar tubuh, hendak tinggalkan tempat itu sambil menyeringai dan kempit erat-erat peti kayu hitam di tangan kanan. Namun gerak berputar kakek pengemis ini serta merta tertahan, seringai di wajahnya yang celemongan mendadak lenyap seperti direnggut setan ketika tiba-tiba tempat itu telah dikurung oleh enam orang penunggang kuda. Salah seorang dari mereka berseru.

"Atas nama Kerajaan harap peti kayu hitam diserahkan kepada kami!"

BAYUSOKO sejenak jadi tertegun dalam keterkejutan. Namun kakek pengemis ini dengan cepat membaca keadaan. Sorotan matanya memandang tajam pada enam orang berkuda yang mengurung. Dia juga memperhatikan binatang tunggangan ke enam orang itu.

"Kuda mereka besar-besar. Pelana bagus. Hiasan di leher kuda dan bentuk tapal kuda menunjukkan tunggangan mereka memang kuda-kuda Kerajaan. Lalu pakaian yang mereka kenakan. Dua berpakaian sebagai Perwira Tinggi. Tiga orang mungkin pengawal. Orang keenam berpakaian paling bagus. Jabatannya pasti lebih tinggi dari dua perwira. Tapi mengapa mereka semua menutupi wajah masing-masing dengan sehelai kain hitam?"

"Pengemis tua! Apa kau tuli tidak mendengar perintah kami?!" Salah satu dari dua orang berpakaian Perwira Tinggi menghardik.

Bayusongko merasa tanah yang dipijaknya bergetar. Pertanda sang perwira memiliki tenaga cukup hebat.

"Kami orang-orang Kerajaan! Lekas serahkan peti kayu itu pada kami!" Perwira Tinggi kedua ikut membentak malah majukan kuda dua langkah.

Bayusongko perkencang kepitan peti kayu di tangan kiri lalu cepat-cepat membungkuk. Mulut-nya berucap hormat.

"Harap maafkan kalau aku, si tua bangka ini tidak segera menunjukkan sikap hormat. Aku kaget..."

"Sekarang kagetmu sudah lenyap. Lekas serahkan peti itu!" Perwira kedua kembali majukan kudanya mendekati Bayusongko.

Si kakek lagi-lagi membungkuk hormat. Dia batuk-batuk beberapa kali lalu berkata. "Hormatku

untuk kalian berenam yang mengaku orang-orang Kerajaan. Kalau boleh bertanya mengapa kalian semua menutupi wajah dengan cadar hitam?"

"Angin malam begini dingin. Banyak nyamuk. Apa tidak boleh kami melindungi wajah?" Perwira Tinggi pertama yang menjawab.

Bayusongko tersenyum. Angguk-anggukkan kepala. Peti kayu yang masih ditancapi clurit emas milik Sakra Kalianget ditimang-timangnya beberapa kali.

"Aku percaya, aku percaya..." kata si kakek pula. "Kalian orang-orang Kerajaan memang harus menjaga kesehatan. Di perjalanan bukan cuma nyamuk dan dinginnya udara yang bisa dltemui. Bisa juga bertemu harimau buas yang siap menggerogot leher kalian. Atau ular yang mematuk pantat kalian? Ha...ha...ha! Aneh, kalau orang-orang Kerajaan yang katanya terkenal hal Ilmu kepandaian tinggi takut pada angin dan nyamuk! Seorang tua puteri saja kalaupun berada itt tumpat ini kurasa tidak akan menutupi wajahnya dengan cadar. Kecuali wajah itu penyok hidungnya, alis cuma sebelah, mata picek, kuping mamplung atau bopengan..."

"Pengemis tua ini terlalu banyak mulut!" Untuk pertama kalinya penunggang kuda berpakaian paling bagus keluarkan ucapan. Lalu memerintah.

Bunuh dia! Ambil peti kayu hitam!"

Tiga penumpang kuda berpakaian seperti pengawal segera melompat dari kuda masing-masing. Tiga pedang dihunus keluar dari sarungnya. Di lain kejap tiga senjata maut membabat ke arah kepala, dada dan pinggang si kakek pengemis bermuka cemong. Rombongan orangorang yang mengaku dari Kerajaan itu tidak begitu mengetahui siapa adanya Bayusongko. Mereka menganggap si kakek seorang tua renta yang punya sedikit ilmu dan merampok peti yang mereka juga inginkan. Namun semuanya jadi tersentak ketika Bayusongko cabut clurit emas yang menancap di peti kayu hitam. Lalu menghamburlah cahaya kuning di kegelapan malam.

Tiga kali terdengar suara bedentrangan disertai percikan bunga api. Dua orang penyerang Bayusongko roboh ke tanah dengan leher dan dada muncratkan dada segar akibat dimakan ujung clurit emas. Pengawal ke tiga masih berdiri tegak, tapi kemudian menjerit keras ketika melihat dan sadar bagaimana tangan kanannya telah buntung di pergelangan dan darah menyembur deras! kakek pengemis telah keluarkan jurus Memapas Rembulan Membelah Matahari untuk menyikat tiga penyerang.

Diam-diam dua orang berpakaian sebagai Perwira Tinggi Kerajaan leletkan lidah. Mereka kini sadar kalau yang dihadapi bukanlah pengemis tua renta biasa. Tapi seorang berkepandaian tinggi. Karena tiga teman mereka yang barusan tewas rata-rata memiliki kepandaian cukup tinggi. Dan si orang tua hanya butuhkan satu jurus saja untuk merobohkan mereka.

Kalian berdua! Tunggu apa! Lekas bunuh pengemis jahanam itu!" Penunggang kuda berpakaian bagus berteriak marah. Tidak menunggu lebih lama dua penunggang kuda segera melayang turun dari kuda masing-masing dan menyerbu Bayusongko dengan hanya mengandalkan tangan kosong.

Walau tidak bersenjata apa-apa tapi ilmu silat dua perwira yang bercadar itu ternyata sangat tinggi. Dalam beberapa gebrakan saja Bayusongko segera terdesak. Perwira Tinggi pertama menggempur kakek itu dari segala jurusan sementara kawannya lebih memusatkan pada upaya untuk merampas peti.

Kakek pengemis muka celemongan dari Madura menggeram dalam hati. Kalau terus seperti itu, satu kali hantaman tangan dua lawan pasti akan sempat menghajarnya atau peti kayu hitam akan kena dirampas orang. Dia putar clurit emas di tangan kanan dengan sebat. Bukan saja senjata itu lenyap berubah jadi cahaya kuning. Tapi cahaya kuning itu juga membuat tubuhnya lenyap seolah terbungkus. Dua Perwira Tinggi Kerajaan untuk beberapa ketika jadi bingung. Melihat hal ini, orang berpakaian bagus yang masih duduk di atas pelana kuda berteriak.

"Serang dengan jurus Barat Timur -Utara Selatan Membongkar Nyawa!"

Begitu mendengar teriakan, dua Perwira Tinggi yang mengeroyok si kakek pengemis sama-sama keluarkan seruan keras. Lalu tubuh mereka seperti lenyap. Si kakek hanya melihat bayang-bayang berputar cepat disusul dengan datangnya hantaman bertubi-tubi dari depan, belakang, samping kiri dan samping kanan. Badai serangan itu mendera terus sampai tiga jurus dimuka. Jurus berikutnya satu jotosan keras mendarat di dada kiri si kakek. Membuat orang tua ini melintir. Sakit yang dideritanya bukan alang kepalang. Separuh tubuhnya sebelah atas laksana hancur. Namun dia masih bisa mempertahankan peti kayu hitam di kepitan tangan kiri. Dalam keadaan terpuntir seperti itu Perwira Tinggi yang ada di sebelah kiri sempat pula melancarkan serangan yang menghantam perut Bayusongko, tepat di bagian mana sebelumnya kena disodok tongkat destar Wayan Japa. Luka dalam yang masih terkuak membuat darah kembali menyembur dari mulut si kakek.

"Kalau tidak segera kubunuh, aku bisa celaka!" Si kakek maklum keadaannya mulai gawat. Didahului teriakan keras membahana Bayusongko melesat ke udara. Dua lawan cepat mengikuti gerakannya. Namun inilah kesalahan besar yang harus dibayar mahal. Ketika dua Perwira Tinggi terpancing ikut melesat ke udara, si kakek tidak sia-siakan peluang. Peti kayu dipindah, dijepit di antara kedua paha. Lalu dua tangan diusapkan satu sama lain. Sepasang clurit hantu serta merta berada dalam genggamannya.

"Clurit hantu! Awas!" Salah seorang Perwira Tinggi yang kebetulan melihat dua senjata aneh yang ada di tangan lawan kiri kanan segera berteriak memberi ingat. Dia kini sudah bisa menerka siapa adanya lawan tua muka celemongan itu. Namun teriak peringatan itu terlambat, Clurit hantu pertama berkelebat. Menancap di pipi kiri Perwira Tinggi sahabatnya.

Dia sendiri masih bisa berusaha melancarkan satu pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Namun clurit hantu kedua tetap saja berhasil menembus. Padahal seandainya dua buah batang kelapa dihantamkan dan ditangkis dengan pukulan tangan kosong itu niscaya dua batang kelapa terpental hancur! Clurit hantu menancap tepat dipertengahan kening. Sepasang mata Perwira Tinggi ini langsung terbeliak. Tubuh rubuh ke tanah, menindih sosok Perwira Tinggi kawannya yang telah lebih dulu menemui ajal. Sekujur kulit tubuh mereka kelihatan membiru.

Sesaat setelah kakek pengemis melemparkan dua clurit hantu yang membunuh dua orang berpakaian Perwira Tingi Kerajaan, sosok orang berpakaian paling bagus di atas kuda mendadak lenyap dalam satu gerakan luar biasa cepatnya. Kakek pengemis yang belum sempat memperhatikan musuh terakhirnya itu tiba-tiba terpental laksana dihantam dahsyatnya angin topan. Pahanya yang menjepit peti kayu hitam terkembang. Penunggang kuda ke enam telah menghantam si kakek dengan satu tendangan luar biasa cepat dan keras. Sebelum kakek pengemis terkapar di tanah, peti kayu yang melayang jatuh telah berpindah ke tangan orang bercadar berpakaian bagus.

Bayusongko megap-megap sulit bernafas. Dia tak mampu menggerakkan tubuh. Hanya sepasang matanya saja memandang penuh dendam dan kebencian ke arah orang bercadar hitam yang kini menguasai peti kayu.

"Jurus tendangan Memendam Bumi Menjarah Nyawa...." Ucap kakek pengemis yang mengenali jurus tendangan maut yang barusan dilancarkan musuh bercadar. Sudak sejak lama dia mengetahui bahwa jurus Memendam Bumi Menjarah Nyawa itu adalah jurus ilmu silat yang hanya dimiliki oleh sekelompok tokoh silat Kerajaan.

"Kalian memang orang-orang Kerajaan. Tapi mengapa berlaku pengecut! Beraninya main keroyok! Kau akan menerima laknat benda yang ada dalam peti itu!"

Orang berpakaian bagus tertawa dibalik cadar.

"Kau minta mati! Apa salahnya kami memberikan?!" ucap orang ini.

Pengemis tua Bayusongko berusaha menyatukan dua tangan untuk diusapkan satu sama lain. Ingin sekali dia menghajar manusia satu itu dengan clurit hantu. Namun nyawanya keburu lepas. Setelah muntahkan darah segar kakek ini akhirnya tergeletak tak berkutik lagi.

Orang bercadar dan berpakaian bagus memandang berkeliling. Datang berenam kini hanya tinggal dia sendirian. Dua Perwira Tinggi menemui ajal. Begitu juga dua pengawal. Pengawal ke tiga, dalam keadaan buntung lengan kanan telah menghambur lari entah kemana sejak tadi-tadi. Sambil menimang-nimang peti kayu dia melangkah ke arah kuda tunggangannya. "Aku harus segera tinggalkan tempat ini. Agar sebelum fajar menyingsing sudah berada di Kotaraja."

Peti kayu di masukkan ke dalam kantong perbekalan yang digantung di leher kuda. Orang bercadar ini baru saja mengangkat kaki untuk menjejak besi di sisi kiri kuda ketika tiba-tiba satu suara suitan menggelegar dalam kegelapan.

Di lain saat kuda yang hendak dinaiki meringkik keras. Dua kaki depan diangkat ke atas lalu binatang ini tergelimpang di tanah. Di mulutnya ludah putih membusah. Mata mendelik pertanda nyawanya sudah lepas. Orang bercadar meneliti. Kuda tunggangannya menemui ajal dengan sebuah anak panah hitam menancap tepat pada urat besar jalan darah di leher kanan, tembus ke leher kiri!.

"Jahanam! Siapa yang punya perbuatan!" Rutuk orang bercadar. Dia mencium adanya kesulitan, bahkan bahaya besar. Cepat dia membungkuk mengambil peti kayu di kantong perbekalan. Namun belum sempat dia mengeluarkan peti itu tiba-tiba ada suara menegur.

"Pangeran Haryo, setelah mendapat rejeki besar tidak salah kalau kau buru-buru ingin kembali ke Kotaraja. Tapi karena aku ada di sini, mengapa kita tidak berbagi sedekah?!"

Kejut orang berpakaian bagus bukan alang kepalang. Dia bagai mendengar suara setan. Bagaimana dia tidak bisa mengetahui kalau di tempat itu ada orang lain? Kecuali orang yang barusan menegur itu memiliki ilmu kesaktian luar biasa tinggi hingga kehadirannya seperti bertiupnya angin malam.

ORANG bercadar cepat berbalik memutar tubuh. Pandangannya langsung membentur sosok seorang kakek berkepala gundul, duduk mencakung di tanah. Di paha kiri melintang sebuah gendewa atau busur, di tangan kanan dia memegang sebilah anak panah berwarna hitam. Di punggung ada satu kantong dipenuhi dua lusin anak panah berwarna hitam. Kakek berwajah bulat ini tiada henti tersenyum seolah ada hal lucu yang menggembirakan hatinya. Pakaiannya berupa sehelai jubah hijau panjang menjela tanah. Mata menatap tak berkedip ke arah lelaki bercadar hitam dan sesekali melirik ke arah kantong perbekalan di leher kuda yang sudah jadi bangkai.

Orang bercadar yang disapa dengan nama pangeran Haryo kalau tadi terkejut dengan teguran serta kehadiran orang lain yang tidak terduga di tempat ini, kini malah tambah-tambah kagetnya ketika melihat siapa yang duduk berjongkok delapan langkah di depan sana.

"Dia selalu muncul berdua bersama gendaknya. Sembunyi dimana perempuan mesum itu?"

Baru saja dia membatin, tiba-tiba dari samping kiri terdengar suara perempuan tertawa cekikikan!

Lelaki bercadar hitam berpaling ke arah

datangnya suara tertawa. Orang yang barusan dipertanyakannya dalam hati ternyata terlihat enak-enakan duduk di atas rumpunan semak belukar tanpa semak belukar itu merunduk meliuk apalagi roboh.

Orang yang duduk di atas rumpunan semak belukar seperti si kakek kepalanya juga botak dan sama mengenakan jubah hijau panjang. Di punggungnya ada sekantong anak panah berwarna putih. Tangan kiri dimelintangkan di dada, memegang sebuah busur sementara tangan knnan memutar-mutar sebuah anak panah berwarna putih. Seperti si kakek botak dia juga senyum-senyum tiada henti. Kalau saja orang ini tidak mengenakan anting besar pada kedua telinganya, sulit diduga mana yang perempuan dan mana yang lelaki diantara mereka berdua.

"Pangeran Haryo, kau mendadak jadi bisu atau tuli atau bagaimana? Mungkin terkejut karena kehadiran kami yang tidak terduga di tempat ini? Atau karena sudah lama tidak berjumpa membuat kau jadi pangling terhadap kami berdua."

Orang bercadar melengak. Lalu membentak.

"Monyet tua botak buruk rupa! Siapa bilang Pangeran Haryo!"

Si kakek senyum-senyum terus. "Kau boleh sembunyikan wajah. Tapi raut sosok tubuhmu, pakaian dan blangkon yang kau kenakan. Lalu barusan suaramu, bukankah semua memberi petunjuk bahwa kau adalah Pangeran Haryo dari Kotaraja! Aku mengenalmu bertahun-tahun. Aku tidak akan bisa ditipu walau kau menutupi wajah dengan cadar hitam!"

"Setan alas! Kau dan gendakmu tidak disukai di Keraton. Itu sebabnya kau tersingkir sebagai tokoh silat Istana! Di tempat inipun tidak ada yang suka padamu!"

"Ah, mulutmu usil amat." Jawab kakek botak sambil bolang balingkan panah hitam di tangan kanan. "Lihat nenek cantik di atas semak sana? Dia kekasihku! Dia sangat menyukai diriku! Jangan kau mengada-ada tidak ada orang yang menyukai diriku! Ha...ha...ha...ha!"

"Kau benar sekali kekasihku! Benar sekali!' menyahuti nenek botak yang duduk enak-enakan di atas semak belukar. "Aku menyukaimu. Dari dulu sampai sekarang. Sampai nanti!

Hik...hik...hik! Kau pandai bercinta denganku. Membuat aku selalu tergila-gila mabuk kepayang!"

"Dasar perempuan lacur! Bicara kotor seenaknya saja!" rutuk orang bercadar.

"Nah-nah kau dengar sendiri!" kata kakek botak. "Sekarang kalau aku boleh bertanya apa ada orang yang menyukai dirimu di tempat ini? Aku pasti tidak!"

"Aku juga tidak!" jawab si nenek di atas semak belukar lalu tertawa cekikikan.

"Tak ada manfaatnya bicara dengan orang-orang sinting sepertimu! Aku bukan Pangeran Haryo! Dengar itu baik-baik!"

"Kalau begitu harap singkirkan cadar hitam penutup wajahmu!" tantang kakek botak pula.

"Orang sinting sepertimu mana layak memerintah diriku!"

"Amboi!" seru si nenek botak.

Orang bercadar mengambil peti hitam di dalam kantong perbekalan. Lalu dia melompat ke arah kuda milik salah seorang perwira yang tewas. Kakek botak lirikkan mata ke arah nenek botak di atas semak belukar. Perempuan tua ini senyum-senyum. Anak panah diselipkan di tali busur. Lalu panah putih direntang. Semua itu dilakukan dalam gerakan sangat cepat. Anak panah putih kemudian melesat membelah kegelapan udara malam. Lalu di depan sana kuda yang hendak dipakai sebagai tunggangan meringkik keras. Huyung sesaat lalu roboh ke tanah. Sebuah anak panah berwarna putih menancap di kening, tepat di antara dua mata terus menembus ke otak!

"Sepasang Setan Tersenyum!" orang bercadar membentak. "Apa mau kalian sebenarnya?

Kakek botak dan nenek botak saling pandang lalu sama-sama tertawa.

"Akhirnya kau sebut juga nama julukan kami! Pertanda kau tidak pernah lupa siapa kami berdua Ha...ha...ha! Seperti kataku tadi aku ingin kita berbagi sedekah!"

"Berbagi sedekah? Sedekah apa?!" Bentak orang bercadar walau dalam hati dia sudah bisa menduga kemana melencengnya tujuan ucapan kekek botak yang juga dikenal dengan julukan Raja Setan Tersenyum sementara kekasihnya dikenal dongan panggilan Ratu Setan Tersenyum.

Dengan anak panah hitam di tangan kanan Raja Selan Tersenyum menunjuk ke arah peti yang dipegang orang bercadar hitam di tangan kiri. "Kami ingin kau membagi peti itu."

"Maksudmu?" tukas orang bercadar.

"Kau boleh ambil petinya. Isi serahkan pada kami berdua!"

Habis berkata begitu si kakek botak tertawa gelak-gelak. Si nenek tertawa cekikikan.

"Enak saja mulutmu bicara!" hardik orang bercadar. "Tiga puluh enam rembulan aku menunggu kesempatan, mencari benda di dalam peti ini. Korbankan tenaga, uang, waktu bahkan darah dan nyawa orang-orangku! Sesudah dapat alangkah enaknya kau meminta! Persetan dengan kalian!"

Orang bercadar langsung melompat ke atas kuda perwira kedua. Namun belum sempat menggebrak binatang itu lari, sebuah panah hitam melesat dalam kegelapan malam dan menancap tepat di kaki kiri depan kuda. Binatang ini tersungkur lalu menghambur lari. Meninggalkan orang bercadar jatuh tergelimpang di tanah!

Raja dan Ratu Setan Tersenyum tertawa gelak-gelak.

"Kuda mana lagi yang akan kau pilih untuk kabur?" bertanya si nenek. Lalu dia membuat gerakan cepat tiga kali berturut-turut. Tiga ekor kuda yang ada di tempat itu langsung meringkik roboh.

"Ha...ha...ha!" tawa kakek botak. "Kekasihku membuat kau tidak punya seekor kudapun lagi untuk dipakai kabur!" "Jahanam keparat!" rutuk orang bercadar. Dia cepat berdiri. Si nenek membuka mulut. "Pangeran Haryo..." Nenek setan! Aku bukan Pangeran Haryo! Apn kau tuli?!" "Terserah siapa kau adanya." Sahut Ratu Betan Tersenyum. "Aku hanya ingin membantu agar kau bisa pulang ke Kotaraja tidak kurang suatu apa. Dengar, jika kau serahkan peti itu pada kekasihku,

segala dosamu di masa lalu tidak akan kami ungkit-ungkit!"

"Keparat rendah! Apa dosaku terhadap kalian!" hardik orang bercadar.

Kakek nenek botak saling melirik lalu tertawa gelak-gelak. Lalu si kakek berkata. "Sudah lama kau diketahui sebagai pangeran temahak, rakus dan pandai memfitnah orang-orang yang tidak Behaluan denganmu. Ketika kau dan konco-koncomu menyusun rencana untuk menggulingkan tahta Sri Baginda dan kami menolak ikut, kau dan teman-teman menjatuhkan fitnah bahwa kami berdualah yang jadi dedengkot biang kejahatan Itu. Kami berdua siap digantung. Untung masih ada teman-teman yang menolong hingga bisa kabur selamatkan diri..."

"Kalian mengakui kalau kalian berdua sebenarnya adalah manusia-manusia buronan! Kalian berdua harus ditangkap! Menyerahlah!"

"Hik...hiik...hik!" Si nenek tertawa cekikikan. "Kami dalang kesini bukan bicara soal tangkap menangkap. Tapi minta agar kau menyerahkan bulat-bulat peti itu kepada kami! Mengerti? Dengar? Atau kupingmu torek?!"

‘Tidak ada jalan lain. Pemberontak-pemberontak busuk macam kalian berdua memang harus disingkirkan!"

Habis berkata begitu orang bercadar lemparkan peti kayu ke atas pohon di dekatnya. Peti melesat di udara dan jatuh tepat dilekuk cabang pohon besar. Maksudnya berbuat begitu adalah agar dia lebih leluasa menghadapi dua lawan berat si nenek dan kakek kepala botak. Namun dia tidak sadar kalau di tempat itu telah muncul orang lain. Hanya sesaat setelah peti bertengger di cabang pohon tiba-tiba satu bayangan putih melesat dari tempat gelap. Berkelebat ke arah peti di atas pohon.

"Jahanam! Ada pengacau baru!" Maki orang bercadar. Dia segera hendak lepaskan satu pukulan tangan kosong mengandung tenaga sakti ke arah orang yang bermaksud mengambil peti" itu namun tiba-tiba dari jurusan lain berkiblat tiga cahaya terang.

"Wuss!"

Orang berpakaian putih yang tengah melesat untuk mengambil peti kayu di cabang pohon menjerit keras. Tubuhnya berubah menjadi kobaran api. Ketika tubuh itu tercampak jatuh ke tanah keadaannya mengerikan sekali. Sekujur badan mulai dari kepala sampai kaki hanya tinggal tulang-belulang gosong menghitam! Tak mungkin untuk mengenali siapa adanya manusia malang satu ini!SEWAKTU orang tinggi besar yang mendekam di balik semak belukar pertama kali sampai di tempat itu sebenarnya sudah ada orang lain berpakaian serba putih sembunyi di satu tempat. Orang ini rupanya datang untuk tujuan yang sama yaitu mendapatkan peti kayu hitam. Melihat kenyataan bahwa orang bercadar mungkin benar Pangeran Haryo adanya, orang yang mendekam di balik semak-semak tidak mau bertindak gegabah. Nama Pangeran Haryo cukup dikenal di kalangan Keraton di Kotaraja. Seorang lelaki berusia setengah abad memiliki ilmu silat dan kesaktian tinggi. Selain itu di tempat tersebut dia Juga melihat Sepasang Setan Tersenyum yang merupakan tokoh-tokoh silat yang tak bisa dipandang enteng. Mereka memang sangat cekatan dalam memainkan panah. Tapi panah dan busur itu juga bisa berubah menjadi pedang, golok, pentungan atau tombak.

Begitu orang bercadar hitam lemparkan peti kayu ke cabang pohon dan siap menghadapi Sepasang Setan Tersenyum, orang berpakaian putih melihat kesempatan baik. Secepat kilat dia melesat ke cabang pohon. Namun sebelum berhasil menyentuh peti kayu hitam tiba-tiba or ang tinggi besar yang mendekam di belakang semak belukar hantamkan tangan kanannya. Sinar terang berkiblat. Tak ampun lagi orang berpakaian serba putih menemui ajal dengan tubuh terbakar gosong.***ORANG yang diduga sebagai Pangeran Haryo sesaat terdiam. Matanya cepat mengawasi keadaan. Kalau ada orang lain yang barusan membunuh orang berpakaian serba putih itu, apakah orang ini bertindak sebagai teman atau bagaimana. Dia melirik ke atas cabang pohon. Peti kayu hitam masih ada di situ. Dia perhatikan Sepasang Setan Tersenyum. Dia tahu kakek nenek ini tidak bermaksud untuk segera mengambil peti karena terlalu besar bahayanya. Untuk sementara peti kayu aman di atas cabang pohon.

Orang bercadar hitam manfaatkan situasi yang mencekam. Dia menyeringai, menatap ke arah Sepasang Setan Tersenyum.

"Kalian saksikan sendiri! Siapa saja yang inginkan peti kayu hitam itu, pasti akan tewas di tangan anak buahku!"

Ratu Setan Tersenyum hampir termakan ucapan orang. Tapi si kakek kekasihnya cepat mendekati dan berisik.

"Dia mau menipu kita. Yang membunuh orang berpakaian serba putih tadi bukan anak buah atau temannya. Dengar...aku akan melompat mengambil peti di atas pohon..."

"Kau gila!" sahut Ratu Setan Tersenyum.

"Selagi kau melayang ke atas dirimu tidak terlindung. Nasibmu bisa sama dengan bangkai gosong itu!"

"Kekasihku," ujar Raja Setan. "Percuma kau ada di sini kalau tidak bisa membantu. Dengar, waktu aku melesat ke udara berondong dengan panah orang yang mendekam di balik semak belukar. Aku akan menghujani Pangeran Haryo dengan panah. Aku tidak akan mempergunakan gendewa. Tapi lebih dulu akan pergunakan Asap Setan untuk mengecoh Pangeran itu."

"Terserah jika itu maumu."

"Kau siap Ratuku?"

"Tentu saja!" jawab Ratu Setan Tersenyum. Lalu tangan kanannya berkelebat ke punggung mengambil setengah lusin anak panah sekaligus. Cepat sekali dia merentang gendewa dan menghantam orang yang bersembunyi dibalik semak belukar dengan enam anak panah, lalu menyusul enam anak panah lagi. Orang di balik semak belukar memaki habis-habisan namun dengan gerakan cepat luar biasa dia mampu lolos dari serangan dua belas anak panah.

Begitu kekasihnya mulai menghujani orang yang sembunyi dibalik semak-semak dengan serangan panah, dari dalam kantong jubah Raja Setan Tersenyum keluarkan sebuah benda bulat berwarna hijau. Ketika dilempar ke udara benda bulat itu meletus pecah dan menghamburkan asap tebal berwarna hijau, menutupi seantero tempat terutama sekitar pohon besar dimana beradanya, peti kayu hitam.

Dalam pandangan mata yang terhalang orang bercadar hitam hantamkan tangan kiri ke udara untuk menangkis serangan anak panah.

Sementara tangan kanan mengeluarkan sehelai tambang hitam yang ujungnya ada besi berkait. Peti kayu hitam serta merta terikat oleh tambang yang ada pengaitnya itu. Sekali tarik, sambil melayang ke jurusan yang tidak terduga, lelaki bercadar berhasil mendapatkan peti kayu. Lalu dia meniup ke depan. Asap hijau secara aneh membuntal lebih lebar, menutupi pandangan mata lebih luas. Raja Setan Tersenyum terkurung oleh asap buatannya sendiri. Bersamaan dengan meniup orang bercadar jatuhkan diri lalu gelindingkan diri di tanah, ke balik deretan semak belukar gelap.

"Kurang ajar! Bangsat itu menipu kita!" teriak Ratu Setan Tersenyum yang terbungkus dalam kepekatan asap hijau. Justru inilah kesalahan besar yang harus dibayar mahal. Dari suara ucapannya orang tinggi besar yang mendekam

dalam gelap segera mengetahui dimana beradanya si nenek. Sekali tangannya menghantam, satu gelombang angin laksana sebuah batu raksasa menderu. Ratu Setan Tersenyum sempat mendengar deru dahsyat tapi tidak bisa

selamatkan diri. Di dalam buntalan asap terdengar jeritnya setinggi langit. Tubuhnya terpental, jatuh di atas pasir pantai dalam keadaan hancur memar mulai dari kepala sampai ke kaki.

Raja Setan Tersenyum berteriak keras. Dia sambitkan delapan anak panah ke arah orang bercadar hitam. Tapi orang ini telah lebih dulu Jatuhkan diri ke tanah.

"Ratu! Kekasihku!" teriak Raja Setan Tersenyum kalang kabut. Seperti gila dia menghantam kian kemari. Dua pohon besar tumbang dihantam gendewa. Tiga semak belukar lebat berserabutan ke udara. Dia baru berhenti ketika ingat akan sosok kekasihnya si nenek botak menggeletak di tanah.

"Hancur..." ucap Raja Setan Tersenyum dengan suara bergetar dada membara. "Pangeran Haryo tidak punya ilmu pukulan yang bisa membunuh seperti ini. Jahanam mana yang punya pekerjaan?" Raja Setan Tersenyum pandangi monyet kekasihnya dengan mata melotot. Lalu seperti orang kemasukan setan, kepalanya dibentur-benturkan ke tanah.

"Kekasihku....kekasihku..." kata si kakek berulang kali sambil memeluk tubuh hancur Ratu Setan Tersenyum. Tiba-tiba dia angkat kepala. Tampangnya angker luar biasa seperti setan sungguhan.

"Pangeran keparat! Kau mau kabur kemana!" teriak Raja Setan Tersenyum. Lalu secepat kilat kakek botak ini berkelebat ke jurusan dimana tadi dia sempat melihat bayangan orang bercadar melesat kabur.

ORANG bercadar hitam memang memiliki ilmu silat dan kesaktian tinggi. Namun dalam ilmu lari kemampuannya masih satu tingkat dibawah orang yang mengejar yaitu kakek botak berjuluk Raja Setan Tersenyum. Saat demi saat jarak mereka semakin terpaut dekat. Sementara itu Raja Setan Tersenyum yang melakukan pengejaran mendadak dibayangi rasa was-was karena menyadari kalau di sebelah belakang ada orang lain menguntit mengejarnya.

"Jahanam! Dia pasti pembunuh orang berpakaian putih. Pasti dia juga yang membunuh kekasihku!"

Raja Setan Tersenyum kertakkan rahang. Di depan sana sosok lelaki bercadar tiba-tiba lenyap. Kakek botak hentikan lari. Mata mengawasi ke arah kegelapan di sebelah depan. Pada saat itulah dari balik sebatang pohon besar sekonyong-konyong menderu selarik angin luar biasa dingin memancarkan sinar biru. Raja Setan Tersenyum cepat melompat ke kiri selamatkan diri. Walau tidak sempat dihantam serangan namun dia merasakan sekujur tubuh seperti beku. Cepat dia kerahkan hawa sakti ke pembuluh darah.

"Pukulan Kutub Es!" SI kakek kenali pukulan Itu. "Hanya beberapa orang saja yang memiliki Ilmu kesaktian itu! Satu diantaranya Pangeran Haryo! Tidak salah lagi, bangsat itu memang Pangeran Haryo adanya!"

Begitu Raja Setan Tersenyum berhasil memus-nahkan hawa dingin yang membuat tubuhnya kaku, kakek ini kembali melakukan pengejaran. Di depan sana orang bercadar merutuk habis-habisan karena tidak mampu loloskan diri. Saat demi saat jarak keduanya semakin dekat. Di satu tempat sambil terus memburu, Raja Setan Tersenyum mulai lemparkan panah hitam, membuat orang bercadar jadi tak karuan larinya karena berulang kali harus melompat kian kemari selamatkan diri dari hantaman panah yang datang dari belakang. Sesekali orang bercadar pukulkan tangan kanan ke belakang. Beberapa anak panah yang dilemparkan Raja Setan Tersenyum mencelat mental dan hancur. Beberapa lainnya malah terpental berbalik menyerang si kakek, membuat orang tua ini ganti kalang kabut selamatkan diri.

"Manusia-manusia tolol! Aku bosan mengikuti permainan kalian!"

Mendadak ada suara orang berteriak di belakang sana. Belum lenyap gema teriakan itu menyusul berkiblatnya cahaya terang. Raja Setan Tersenyum menoleh lalu berseru keras. Dia kenali cahaya itu. Secepat kilat si kakek jatuhkan diri sama rata dengan tanah. Tubuhnya laksana terpanggang ketika cahaya terang menggebu melewati punggung. Lalu dia mendengar suara jeritan di depan sana.

Sosok orang bercadar kelihatan mencelat ke udara. Sisi kanan tubuhnya dikobari api. Raja Setan Tersenyum berusaha bangkit untuk melihat lebih jelas apa yang telah terjadi. Namun tubuhnya jatuh terbanting menelungkup di tanah ketika satu kaki dengan kekuatan puluhan kati menindih punggungnya.

Raja Setan Tersenyum hantamkan gendewa di tangan kiri untuk memukul orang yang menginjaknya.

"Kraaakkk!"

Gendewa patah dua, terlepas mental dari tangan si kakek. Si kakek sendiri mengeluh kesakitan karena tangan kirinya serasa tanggal.

"Raja Setan, cukup sampai disini kau ikut bermain. Benda sakti mandraguna yang kau kejar-kejar itu tidak berjodoh dengan dirimu!"

Orang yang menginjak punggung si kakek keluarkan ucapan.

"Jahanam! Kau pasti orang yang membunuh kekasihku! Siapa kau!"

Kaki yang menginjak bergerak. Dengan kaki yang sama tubuh Raja Setan Tersenyum dibalikkan hingga tertelentang. Kini ganti bagian dada yang dipijak.

Orang tinggi besar yang menginjak dada Raja Setan menyeringai.

"Apakah kau mengenali diriku?"

Sepasang mata Raja Setan Tersenyum mendelik. Bukan saja untuk melihat lekat-lekat wajah orang yang menginjaknya tapi juga karena kesakitan akibat injakan. Si kakek melihat satu wajah buruk.

"Kau...." Raja Setan Tersenyum tidak dapat memastikan apakah dia mengenali orang itu. Namun rasa-rasanya memang dia pernah melihat wajah itu. Tapi sekarang mengapa berubah bentuk begini rupa?

"Kau tidak mengenali diriku?" si tinggi besar menyeringai.

"Setan keparat! Aku tidak perduli siapa kau adanya! Yang jelas kau adalah pembunuh kekasihku! Kau harus mampus di tanganku!" Bentak si kakek lalu dua panah hitam yang ada di tangan kanannya dilemparkan ke arah si tinggi besar. Hanya dengan menggerakkan tangan kiri sedikit, si tinggi besar berhasil memukul mental dua anak panah.

"Kakek botak, seharusnya aku juga sudah membunuhmu saat ini. Namun mengingat kau banyak berlaku baik di masa kanak-kanakku, aku mengampuni selembar nyawamu. Cukup adil bukan?"

"Apa katamu...?" Dua mata Raja Setan Tersenyum tambah membeliak. Otaknya bekerja koras mengingat-ingat. Matanya menatap tajam ke wajah orang tinggi besar. "Kalau...kalau begitu kau adalah putera....Kau adalah...."

Belum sempat menyebut nama satu totokan mendarat di leher si kakek. Saat itu juga sekujur tubuhnya menjadi kaku. tak bisa bergerak tak mampu bersuara.***SOSOK tua kurus kering itu terbaring hampir sama rata dengan balai-balai kayu. Mata terpejam, tak ada gerakan pada perut ataupun dada seolah keadaannya sudah tidak bernafas lagi. Di dalam kamar yang diterangi lampu templok, seorang anak lelaki seusia dua belas tahun duduk di samping tempat tidur. Anak ini duduk dengan menahan kantuk yang amat sangat. Sesekali bila kepalanya terdohok kemuka, cepat-cepat dia mengusap muka, menarik nafas panjang dan duduk diam pandangi sosok kakeknya yang terbaring sakit di atas balai-balai kayu. Namun segera saja kepalanya kembali tertunduk diserang kantuk.

"Jantra cucuku....'

Anak lelaki yang duduk di samping tempat tidur angkat kepala, buka mata. Serasa tidak percaya dia mendengar orang tua itu bicara memanggil namanya.

"Kek...."

‘Kau tidak tidur?"

"Belum Kek. Saya menjaga Kakek."

"Tidurlah. Sudah larut malam. Mungkin menjelang pagi. Nanti kau sakit....

"Saya belum mengantuk Kek," jawab si anak,

"Kakek mau minum?" Lalu anak ini ambil kendi tanah berisi air putih sejuk di kaki tempat tidur. Sedikit demi sedikit air putih itu di-tuangkannya di atas bibir si kakek. Dia baru berhenti ketika orang tua itu tersedak dan batuk-batuk. "Kek, besok pagi saya akan ke hutan mencari daun obat. Kalau minum obat Kakek pasti cepat sembuh..."

‘Kau cucu baik. Sekarang turuti kataku. Tidurlah..."

"Baik Kek," si bocah akhirnya mengalah. Dia mengambil sehelai tikar yang tergulung di sudut pondok kajang itu. Baru setengah tikar sempat digelar di lantai tanah, tiba-tiba braaakk!

Pintu pondok jebol. Jantra menjerit kaget. Si kakek di atas balai-balai buka sepasang mata. Seorang yang mukanya ditutupi kain hitam terkapar di lantai pondok. Tubuh sebelah kanan hancur hangus mengerikan. Di tangan kiri dia mengepit sebuah peti kayu berwarna hitam.

Mengira yang muncul adalah setan atau hantu, mungkin juga orang jahat Jantra ketakutan setengah mati. Dia sampai melompat naik ke atas balai-balai.

"Bocah, jangan takut," orang bercadar berkata. Nafasnya megap-megap. Aku Pangeran Haryo dari Kotaraja. Aku butuh pertolonganmu. Ambil peti ini. Tinggalkan pondok. Lari sejauh bisa kau lakukan. Sembunyikan peti di satu tempat. Jangan kembali ke pondok. Tunggu sampai dua hari. Kalau keadaan sudah aman pergi ke Kotaraja. Temui seorang bernama Abdi Tunggul di Keraton. Serahkan peti ini padanya."

Si bocah hanya melongo lalu geleng-gelengkan kepala berulang kali.

"Ambil cepat! Pergilah. Hidupku tak lama lagi." Kakek di atas balai-balai angkat kepalanya sedikit, menatap pada orang bercadar lalu berkata. "Cucuku, jika memang Pangeran Haryo dari Kotaraja yang minta tolong lekas lakukan apa yang dikatakannya."

"Tapi Kek..."

"Bocah, lekas! Kita tak punya waktu banyak! Sebentar lagi akan ada orang jahat datang ke sini untuk merampas peti itu! Ayo ambil cepat!"

Jantra memandang pada kakeknya. Orang tua ini gerakkan kepala sedikit lalu berkata. "Ambil peti itu. Pergilah..."

"Tapi kau sakit Kek, aku harus menjagamu..."

"Aku akan segera sembuh."

Meski agak ragu Jantra akhirnya, mengambil peti lalu melompat ke pintu.

"Jangan lewat situ!" orang bercadar mem-beritahu. Dengan tangan kiri dijebolnya dinding pondok sebelah belakang. "Lewat sini!" Jantra loloskan diri lewat lobang di dinding. Di luar pondok bocah ini lari tanpa arah, sekencang yang bisa dilakukannya. Sesekali dia berhenti dan berpaling ke belakang, ke arah pondok.

Begitu Jantra keluar dari dalam pondok, orang bercadar mendekati si kakek yang terbaring di atas balai-balai.

"Orang tua, aku terpaksa melakukan ini! Satu-satunya jalan untuk menjaga kerahasiaan benda mustika itu."

Si kakek melihat orang ulurkan tangan kiri. Matanya mendelik.

"A...aku dan cucuku telah menolongmu. Mengapa

kau masih berhati jahat mau membunuhku...?"

"Kreeek!"

Ucapan si kakek terputus. Tulang leher remuk. Nyawanya lepas saat itu juga. Sehabis membunuh si kakek, orang bercadar kepalkan tinju kiri lalu hantam kepalanya sendiri.

"Praaaak!"ORANG bertubuh tinggi besar sesaat tegak tak bergerak di depan pintu pondok. Rahangnya menggembung. Pelipis bergerak-gerak. Mata memandang dingin pada mayat kakek dan orang bercadar. Kemudian dia memperhatikan berkeliling.

Mencari-cari. Kurang puas dia menggeledah mengobrak-abrik isi pondok. Benda yang dicari tidak ditemukan. Lalu dia perhatikan dinding pondok yang jebol.

"Kurang ajar! Pasti ada orang ke tiga sebelumnya di tempat ini!" Orang ini menggeram. Otaknya bekerja. "Kakek ini pasti dihabisi bangsat bercadar. Lalu dia bunuh diri. Lalu orang ke tiga yang sangat pasti melarikan peti, siapa dia...?"

Sambil kembali meneliti seisi pondok karena masih berharap peti kayu hitam ada di tempat itu, si tinggi besar melangkah mendekati sosok orang bercadar yang tergelimpang di lantai. Dengan tangan kirinya dia tarik cadar hitam yang menutupi wajah orang.

Hemmm....Pangeran Haryo. Jadi memang kau rupanya." Orang tinggi besar merenung sesaat. "Mungkin pondok ini merupakan tempat pertemuan rahasia antara Pangeran Haryo dengan orang ke tiga. Untuk mengetahui siapa adanya orang ke tiga, aku harus mencari tahu dulu siapa adanya kakek yang mati dicekik ini."

Orang tinggi besar tinggalkan pondok. Malam itu juga dia berusaha mencari keterangan dari penduduk sekitar situ. Tidak mudah untuk mendapatkan keterangan. Selain rumah penduduk berada jauh, juga tak ada orang yang mau membuka pintu di malam buta untuk tamu yang tidak dikenal. Tidak putus asa, menjelang fajar akhirnya orang itu berhasil mendapat keterangan dari penduduk yang tinggal di kaki bukit. Kakek yang tewas dibunuh diketahui bernama Ma-ngunsuarso. Dia tinggal di pondok hanya berdua dengan cucunya, seorang anak lelaki berusia dua belas tahun bernama Jantra. Si tinggi besar tidak pernah menduga kalau orang ketiga yang tengah dilacaknya adalah seorang bocah.

"Kalau anak-anak, pasti dia belum lari terlalu jauh. Aku pasti menemukannya." Kata si tinggi besar dalam hati.

KELETIHAN karena berlari hampir sepertiga malam membuat Jantra tidur cukup nyenyak walau beratap langit, berkasur tanah dan berselimut embun. Ketika sapuan mentari pagi membangunkannya, yang pertama sekali dilihatnya adalah langit luas kebiruan. Lalu dia ingat kakeknya. Anak ini bangkit dari tidurnya, duduk, menggosok mata dan memandang berkeliling. Dia menduga-duga kira-kira sejauh mana dia dari pondok saat itu. Kemudian pandangannya ditujukan pada peti kayu yang terletak di tanah di ujung kakinya.

‘Orang bercadar mengaku Pangeran Haryo itu....' Jantra ingat peristiwa malam tadi.

"Mengapa dia menyuruh aku melarikan peti sejauh mungkin. Menyembunyikan di satu tempat. Harus menunggu sampai dua hari. Lalu pergi ke Kotaraja. Menyerahkan peti pada seorang bernama Abdi Tunggul di Keraton. Apa yang ada dalam peti ini? Emas? Harta karun? Barang pusaka? Kalau memang emas atau harta karun perlu apa aku susah-susah mengantar ke Kotaraja. Ambil saja, serahkan pada kakek. Kami akan jadi kaya raya." Jantra permainkan peti kayu dengan ujung kaki. Dia berada dalam kebimbangan. Melaksanakan pesan orang bercadar atau mengikuti suara hatinya.

Jantra memandang berkeliling. Tak jauh dari tempatnya duduk ada satu lobang besar bekas bongkaran akar pohon kelapa yang telah tumbang. Sesuai pesan Pangeran Haryo, peti itu bisa dikubur disembunyikannya di lobang itu.

Namun suara hati dan rasa ingin tahu si bocah ternyata lebih keras..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.80.219.137
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia