Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : 113 LORONG KEMATIAN

KETIKA GENANGAN AIR MATA JATUH BERDERAI DI PIPI BIDADARI ANGIN TIMUR. JATILANDAK ULURKAN TANGAN KIRI UNTUK MENGUSAP. DENGAN TANGAN KANANNYA BIDADARI ANGIN TIMUR PEGANG JARI-JARI TANGAN PEMUDA ITU. LALU DITEMPELKAN KE PIPINYA SEMENTARA AIR MATA MENETES JATUH SEMAKIN DERAS. "KAU MENCINTAI PENDEKAR DUA SATU DUA?" TANYA JATILANDAK. SEPASANG BOLA MATA BIDADARI ANGIN TIMUR MEMBESAR TAPI MULUT TAK MENJAWAB. MALAH KEDUA MATANYA DIPEJAMKAN DAN TANGAN JATILANDAK SEMAKIN KENCANG DIPEGANG DI ATAS PIPINYA. BIBIR TERBUKA BERGETAR TAPI SUARANYA HANYA MENGGEMA DI DALAM HATI. "KAU SAHABAT BAIK... KAU YANG BELUM LAMA MENGENALKU BISA TAHU PERASAANKU. TAPI DIA YANG KUHARAPKAN ITU MENGAPA SEOLAH TAK PERNAH PERDULI...?" PADA SAAT ITU TIBA-TIBA TERDENGAR DERAP KAKI KUDA. DUA PENUNGGANG KUDA BERHENTI DI SEBERANG MATA AIR. SEPASANG MATA BIDADARI ANGIN TIMUR TERBUKA LEBAR. WAJAHNYA BERUBAH PUCAT. CEPAT-CEPAT GADIS INI TARIK DUA TANGANNYA YANG SALING BERPEGANGAN DENGAN TANGAN JATILANDAK. SUARANYA BERGETAR KETIKA MENYEBUT NAMA. "WIRO...."




DIAPIT dan dipegang dua Satria Pocong, nenek kurus itu melangkah menuju rumah tua beratap ijuk hitam berbentuk tanduk kerbau. Rambut kelabu awut-awutan, tubuh terbungkuk, wajah pucat keriput menunjukkan rasa takut. Sebuah lampion kain putih menyala suram di bawah atap rumah, bergoyang ditiup angin malam. Cahaya redup lampion ini tidak dapat menerangi seantero halaman rumah di mana menebar gundukan-gundukan batu. Malah bayangan cahaya menimbulkan ujud-ujud besar aneh menyeramkan di belakang bebatuan.

Mendekati rumah, si nenek tiba-tiba menangkap suara sesuatu. Suara orang mengerang. Perempuan. "Seperti orang sekarat. Di dalam rumah..." Ucap hati si nenek. Langkahnya jadi tertahan. Namun dua manusia pocong yang menggiring memaksanya jalan terus.

Saat itu di depan rumah tua seorang manusia pocong bersosok tinggi besar berdiri tak bergerak. Dua tangan dirangkap di depan dada. Sepasang mata dibalik lobang pada kain putih penutup kepala memandang memperhatikan nenek berambut kelabu.

"Salam hormat untuk Yang Mulia Ketua! Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilakukan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!" Dua Satria Pocong keluarkan ucapan berbarengan.

Tanpa melepaskan pandangan matanya dari si nenek, manusia pocong tinggi besar yang rupanya adalah Ketua Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian anggukkan kepala sedikit lalu ucapkan pertanyaan.

"Aku tidak mau kesalahan. Perempuan tua, siapa namamu?!"

Yang ditanya tak segera menjawab. Bola mata berputar lalu memandang ke rumah tua, dari arah mana telinganya sejak tadi mendengar suara erangan tak berkeputusan. Rasa takut yang sudah menyelinap dalam diri membuat tubuhnya menjadi dingin dan lutut terasa goyah.

Melihat orang tidak menjawabi pertanyaan, si tinggi besar jadi marah dan membentak. "Perempuan tua! Aku tahu kau tidak torek! Katakan siapa namamu!"

"Kalian... Saya... mengapa saya diculik. Mengapa saya dibawa ke sini. Tempat apa ini? Kalian makhluk apa sebenarnya? Saya ingin pulang. Saya sedang susah. Saya kehilangan seseorang. Magiyo cucuku tidak pulang sejak satu hari lalu..."

Bukannya menjawab, perempuan tua itu malah ajukan banyak pertanyaan. Lalu seperti merasa tidak perlu menunggu orang menjawab pertanyaannya, nenek ini balikkan badan, berusaha melepaskan diri dari pegangan dua Satria Pocong dan tinggalkan tempat itu. Namun dua Satria Pocong cepat mencekal tangan si nenek kiri kanan.

"Perempuan tua! Jangan berani berlaku kurang ajar terhadap Yang Mulia Ketua!" Salah seorang Satria Pocong membentak. Dengan kasar tubuh perempuan tua ini diputar hingga kembali menghadap ke arah Sang Ketua.

"Perempuan tua, kau tak perlu takut." Manusia pocong tinggi besar keluarkan ucapan. "Kami membawamu ke sini untuk satu keperluan. Jika urusan selesai dan kau mematuhi apa perintah kami, kami akan bawa kau kembali ke desamu! Jawab saja pertanyaanku. Siapa namamu?"

Si nenek pandangi sosok bertutup kepala putih. Dia melihat sepasang mata berkilat tajam menatap tak berkedip ke arahnya. Hati si nenek jadi tergetar, tambah takut.

"Saya... saya Paimah."

"Kau tinggal di Desa Sarangan?"

"Be... betul."

"Di Sarangan apa pekerjaanmu?"

"Saya, saya tidak punya pekerjaan. Saya..." Ucapan si nenek terputus karena Sang Ketua membentak keras hingga orang tua ini tersirap darah, tambah pucat dan bergetar tubuhnya dilanda ketakutan. Sementara itu telinganya masih saja menangkap suara erangan dari dalam rumah tua.

"Kami tahu kau adalah seorang dukun beranak! Mengapa berani dusta mengatakan tidak punya pekerjaan?"

"Maksud saya..."

"Sudah!" Sang Ketua menghardik hingga si nenek merasa tubuhnya seperti leleh. "Kau dengar apa yang aku katakan! Pasang telingamu baik-baik! Di dalam rumah ini ada seseorang perlu pertolonganmu! Ada seorang perempuan akan segera melahirkan! Masuk ke dalam rumah dan tolong dia! Kau harus bekerja cepat! Bayi itu harus segera lahir! Kau tidak boleh menunggu terlalu lama! Jangan sampai sang bayi mati di dalam perut! Kalau kau mengalami kesulitan, bedol perut perempuan hamil itu dengan ini!"

Entah di mana tadi dia menyimpannya tahu-tahu Ketua Barisan Manusia Pocong telah memegang sebilah pisau tipis bermata dua, berkilat terkena cahaya lampion pertanda luar biasa tajamnya. Pisau ini disodorkan pada Paimah. Tapi dukun beranak ini tidak berani mengambil. Malah tersurut mundur. Sang Ketua dengan paksa menggenggamkan senjata itu ke dalam jari-jari tangan kanan si nenek.

"Di dalam rumah tersedia semua keperluanmu untuk menolong perempuan yang melahirkan. Di atas sebuah meja ada dua buah bokor perak. Begitu bayi lahir gorok lehernya. Tampung darahnya dalam dua buah bokor itu!"

Kejut dan takut Paimah sampai ke puncaknya begitu mendengar ucapan manusia pocong. Tubuh perempuan tua ini menggigil. Dua Satria Pocong segera menggandeng dukun beranak Paimah ke arah tangga rumah tua beratap ijuk. Di bawah atap, lampion bergoyang-goyang ditiup angin. Suara halus desau tiupan angin digetari suara erangan perempuan tak berkeputusan yang keluar dari dalam rumah. Di depan tangga, dua manusia pocong lepaskan cekalan mereka. Tiba-tiba salah satu dari dua belas pintu di bagian depan bangunan tua terbuka. Paimah si dukun beranak terkejut pucat, mata mendelik memandang ke dalam rumah.

"Paimah! Lekas masuk ke dalam rumah! Kerjakan tugasmu!" Teriak Sang Ketua Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian.

Paimah memandang ke kiri dan ke kanan. Tubuhnya tambah bergetar menggigil. Lutut semakin goyah. Perempuan tua ini gelengkan kepala lalu berkata dengan suara keras tapi gemetar.

"Tidak, aku tidak mau melakukan. Kalian boleh bunuh diriku! Tapi aku tidak akan sudi melaksanakan perintah kalian! Aku tidak akan membedol perut siapapun! Aku tidak akan menggorok bayi manapun!"

Paimah hendak campakkan pisau di tangan kanannya, namun Satria Pocong di sampingnya cepat mencekal lengannya dan membentak. "Tua bangka sialan! Jangan berlaku tolol! Kami tidak mau mendapat hukuman karena ulahmu!"

"Tidak! Kalian boleh bunuh aku! Apapun yang terjadi aku tidak akan mau melakukan perintah keji kalian!"

Sang Ketua yang berdiri di halaman rumah tua kelihatan mulai hilang kesabarannya. Di dalam rumah suara erangan perempuan terdengar semakin keras. Perlahan-lahan manusia pocong tinggi besar ini turunkan dua tangan yang sejak tadi dirangkapkan di depan dada. Mulutnya bergerak. Saat itu juga satu suitan keras melengking dari mulut itu.

Dari samping rumah sebelah kanan tiba-tiba berkelebat satu bayangan putih. Seorang manusia pocong muncul sambil mencekal leher baju seorang anak lelaki berusia sekitar enam tahun. Anak ini menangis keras karena kesakitan dan rasa takut amat sangat.

Begitu melihat dan mengenali si anak lelaki, Paimah si dukun beranak menjerit keras. "Magiyo! Setan jahat terkutuk! Jadi kalian yang menculik cucuku! Lepaskan dia! Apa dosa cucuku! Apa dosa kami!"

Sekali berkelebat Ketua Barisan Manusia Pocong telah berada di depan Paimah. Pandangan matanya menyorot dari balik kain putih penutup kepala. Mulutnya keluarkan ancaman.

"Kalau kau berlaku tolol tidak mau melakukan perintah, cucumu akan aku gorok. Kau boleh pulang ke Sarangan membawa kepala anak itu!"

Paimah meratap keras. Kepalanya digeleng-gelengkan. Kemudian gelengan berubah menjadi anggukan. "Jangan bunuh cucuku! Jangan sakiti Magiyo..." ratapnya.

Di balik kain penutup kepala, tampang Sang Ketua menyeringai. Dia bergumam lalu berkata. "Jadi kau mau melakukan apa yang aku perintahkan?!"

Paimah tersengguk tercekik. Air mata bercucuran. Lalu perempuan tua ini anggukkan kepala berulang kali.

"Masuk ke dalam rumah! Kerjakan tugasmu! Cepat!" ucap Sang Ketua.

Paimah melangkah dengan kaki goyah tubuh menggigil serta tangis sesenggukan. Sang Ketua memberi isyarat pada manusia pocong yang mencekal Magiyo. Manusia satu ini cepat berkelebat dan lenyap di samping rumah tua bersama bocah yang dicekalnya. Sang Ketua kemudian kembali turun ke halaman.

Di depan pintu rumah, sebelum masuk Paimah tertegun sejenak. "Gusti Allah, apa dosaku sampai mengalami kejadian begini rupa. Tuhan, tolong Magiyo. Selamatkan anak itu..."

"Paimah! Tunggu apa lagi! Cepat masuk!" Bentak Sang Ketua kesal sekali.

Dukun beranak itu akhirnya melangkah masuk. Begitu sosoknya lenyap ke dalam bangunan, pintu yang tadi terbuka tiba-tiba menutup kembali!

Di dalam dan di luar rumah beberapa saat kesunyian yang sangat mencekam menggantung di udara. Angin bertiup dalam dinginnya udara malam. Lampion putih kembali bergoyang-goyang. Tak selang berapa lama di dalam rumah tua tiba-tiba terdengar satu pekik keras. Pekik perempuan yang kesakitan. Lalu menyusul pekik kedua. Pekik tangis bayi. Dua manusia pocong merasa lega dan memandang pada pimpinan mereka. Sang Ketua anggukkan kepala. Namun mendadak terdengar jeritan ketiga!

Tiga manusia pocong saling pandang lalu sama-sama memperhatikan ke arah rumah, ke arah deretan dua belas pintu yang tertutup. Sang Ketua mencium ada sesuatu yang tidak beres.

"Kalian berdua, dengar! Kalau dukun beranak itu telah selesai dengan pekerjaannya, seharusnya salah satu pintu terbuka. Itu tidak terjadi. Ada yang tidak beres! Jangan-jangan tua bangka itu berlaku nekad. Kurang ajar! Kalau sampai Bendera Darah terlambat atau gagal diberi sesajian, semua kita bisa celaka!"

Baru saja Sang Ketua membatin begitu, di dalam rumah tiba-tiba terdengar pekik tangis bayi. Terus menerus, tiada henti.

"Jahanam! Benar dugaanku! Ada yang tidak beres!"

Sang Ketua berkelebat, melompat melewati tangga. Kaki kanannya menendang salah satu pintu yang tertutup hingga ambrol dan terpentang lebar lalu menerobos masuk ke dalam rumah. Dua Satria pocohg ikut berkelebat masuk. Di dalam rumah ketiganya sama-sama tersentak kaget. Kaki masing-masing laksana dipantek ke lantai kayu. Mata terpentang membelalak menyaksikan kengerian yang terpampang.

Di atas sebuah ranjang kayu tergeletak sosok seorang perempuan muda, diam tak bergerak entah pingsan entah sudah mati. Tubuhnya nyaris telanjang penuh lumuran darah. Darah membasahi ranjang bahkan sampai ke lantai kayu. Di lantai di samping kanan ranjang, terbujur sosok bayi merah dalam keadaan masih bergelimang darah. Tali pusatnya yang belum putus menjela mengerikan. Lalu di sebelah bayi yang terus menerus menangis ini, melingkar tubuh perempuan tua si dukun beranak Paimah. Tangannya memegang pisau yang tadi diberikan Sang Ketua Barisan Manusia Pocong. Pisau dan tangan berlumuran darah. Dua Satria Pocong mengerenyit ngeri ketika memperhatikan leher dukun beranak itu. Ada sobekan luka besar menganga dan masih mengucurkan darah!

"Sang Ketua memerintahkan dia menggorok leher bayi. Nyatanya dia bunuh diri menggorok leher sendiri..." Bisik salah seorang Satria Pocong pada temannya.

Sang Ketua hanya terkesiap sesaat. Di lain kejap dia berteriak berikan perintah pada dua anak buahnya.

"Kau!" sentak Sang Ketua sambil tudingkan tangan pada Satria Pocong di sebelah kanan. "Lekas hubungi Wakil Ketua! Singkirkan perempuan muda di atas ranjang! Ingat, dia harus dilenyapkan tanpa bekas tanpa jejak! Dan kamu!" Sang Ketua ganti menunjuk pada anak buah satunya. "Selesaikan pekerjaan dukun keparat itu! Isi dua botol dengan darah bayi! Lakukan cepat! Aku menunggu di pintu Ruang Bendera Darah!"

"Ketua," ucap Satria Pocong yang menerima perintah terakhir. Suaranya tercekat gemetar. Wajahnya pucat di balik kain penutup kepala. "Apakah... apakah saya harus menggorok leher bayi itu untuk mendapatkan darahnya?" Walau otaknya sudah dicuci dengan racun pemusnah ingatan, namun karena seumur hidup tidak pernah mengerjakan hal luar biasa mengerikan seperti itu, nyalinya menjadi leleh. Tubuhnya serasa lumat ditelan kengerian. Hal ini terbaca oleh Sang Ketua. Dia langsung membentak.

"Perduli setan kau mau melakukan apa dan bagaimana! Yang penting dua buah bokor itu harus diisi penuh dengan darah bayi! Kau mengerti?! Atau kau ingin saat ini juga menemui kematian dalam ketololan!"

Satria Pocong satu ini jadi ketakutan. Cepat-cepat dia menjura sambil berseru. "Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!"



DALAM Episode sebelumnya Rumah Tanpa Dosa diceritakan bagaimana pemuda dari Latanahsilam, negeri 1.200 tahun lalu, yakni Jatilandak berhasil menyelamatkan Bidadari Angin Timur ketika hendak digagahi oleh Hantu Muka Dua. Gadis berambut pirang ini kemudian memberitahu kalau saat itu ada seorang dara bernama Wulan Srindi telah dilarikan oleh seorang kepala rampok. Seperti yang hampir terjadi dengan dirinya, gadis itu pasti tengah berada dalam bahaya besar. Terancam kehormatan serta jiwanya. Sebelum Bidadari Angin Timur dan Jatilandak sempat meninggalkan pondok di pinggiran lembah, mendadak ada seseorang melemparkan sehelai Bendera Darah. Bendera berbentuk segi tiga ini lewat hanya satu jengkal dari wajah Bidadari Angin Timur, lalu menancap di papan rumah. Ketika Jatilandak mencabut bendera dari papan, bagian papan seputar mana bendera menancap ikut terbongkar hingga membentuk lobang. Setelah memperhatikan sebentar, dia lalu mencium ujung lancip gagang bendera. Memandang pada Bidadari Angin Timur dia berkata. "Kayu gagang bendera ini tidak beracun. Namun jika sampai menancap di wajahnya, akan membuat cacat dalam dan lebar. Lihat, gagang ini dibuat demikian rupa membentuk gerigi yang bagian lancipnya mengarah ke belakang. Kalau gagang menancap pada daging tubuh atau muka seseorang, lalu dicabut, banyak bagian daging yang akan ikut terbongkar. Lihat saja papan yang berlobang itu. Kau bisa menduga siapa adanya manusia yang begitu jahat dan keji hendak mencelakaimu?"

Bidadari Angin Timur perhatikan lobang di papan dengan perasaan ngeri lalu menjawab. "Tak bisa kuduga. Bahkan aku tidak melihat orangnya. Gerakannya cepat sekali."

"Aku hanya sempat melihat bayangannya. Seseorang berpakaian seba putih," memberitahu Jatilandak. "Aku ragu apakah dia Hantu Muka Dua. Walau sekilas dandanannya memang mirip-mirip si pelempar bendera."

"Aku punya firasat orang itu bukan Hantu Muka Dua. Sebelumnya Hantu Muka Dua jelas-jelas hendak menodaiku. Tapi si pelempar bendera tidak bersungguh-sungguh hendak mencelakai diriku," ucap Bidadari Angin Timur yang membuat Jatilandak kerenyitkan kening merasa heran. "Kalau dia memiliki gerakan luar biasa cepat, muncul melempar lalu lenyap seperti hembusan angin, jika dia mau, pasti bisa menancapkan bendera itu di kepala atau tubuhku. Ada satu maksud tersembunyi di balik pelemparan bendera. Mungkin dia hendak memberikan satu peringatan."

Jatilandak berpikir sejenak lalu berkata. "Mungkin juga hendak memancingmu. Mengharap kau melakukan pengejaran lalu membokongmu dalam satu jebakan. Tapi dia kemudian kabur karena aku muncul di tempat ini."

"Bisa jadi begitu," jawab Bidadari Angin Timur sambil menggigit bibir, berpikir-pikir lalu mengerling memperhatikan pemuda berwajah kuning di hadapannya. Ada sekelumit rasa kasihan muncul dalam diri gadis ini. Hati kecilnya berkata. "Kalau saja kulitnya tidak kuning seperti ini, kurasa dia cukup tampan."

"Bendera aneh, sengaja dilumuri darah. Biar kusimpan." Jatilandak kibas-kibaskan bendera berbentuk segi tiga sampai darah yang membasahi kain bendera menjadi agak kering. Bendera kemudian dimasukkan ke balik pakaian coklat. Sambil memandang wajah Bidadari Angin Timur pemuda berkulit kuning ini berkata. "Ada cipratan darah bendera di pipi kananmu. Dekat bibir."

Bidadari Angin Timur usap wajahnya di bagian yang dikatakan Jatilandak. Pemuda dari Latanahsilam itu tersenyum karena noda darah tidak seluruhnya pupus. Malah ada sebagian melebar ke atas bibir. Tadinya dia tidak mau memberitahu. Tapi ketika ditanya oleh Bidadari Angin Timur mengapa dia tersenyum, Jatilandak menjawab.

"Darahnya masih ada. Di atas bibir. Kalau kau izinkan aku membersihkan..."

Bidadari Angin Timur diam saja. Dia coba menyeka kembali. Tapi salah tempat. Jatilandak tersenyum lagi. "Masih ada," katanya. Pemuda ini lalu ulurkan tangan. Sekali mengusap, noda darah di atas bibirpun lenyap.

Jatilandak mengusap bibir sang dara biasa-biasa saja. Tanpa perasaan apa-apa. Semata-mata hanya dengan niat menolong. Sebaliknya entah mengapa si gadis merasa sentuhan tangan si pemuda menimbulkan getaran aneh dalam dirinya, sekalipun dia yakin Jatilandak tidak punya maksud tidak baik dalam menolong tadi.

"Kita harus pergi sekarang juga. Mengejar penjahat penculik gadis bernama Wulan Srindi," kata Bidadari Angin Timur sambil memandang ke jurusan lain, menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.

"Aku tahu arah lari penjahat itu. Waktu menuju ke sini aku melihat dia keluar dari lembah, lari ke arah selatan. Mendukung seseorang."

"Datang ke sini tadi, penjahat itu menunggang kuda. Jika dia kabur dengan lari biasa berarti dia belum berapa jauh."

"Berarti juga tujuan yang hendak dicapainya tidak jauh dari sini," kata Jatilandak pula.

Bidadari Angin Timur tanpa banyak menunggu lagi segera melompat ke atas punggung kuda miliknya. Sedang Jatilandak memilih seekor kuda besar yaitu kepunyaan Warok Jangkrik yang ditinggalkan kepala rampok itu. Kedua orang ini segera membedal kuda masing-masing ke arah selatan.



* * *DANGAU kecil itu terletak di bawah satu pohon besar, di pinggir ladang kopi yang sudah sejak lama ditelantarkan pemiliknya. Ke tempat inilah Warok Jangkrik membawa gadis culikannya. Wulan Srindi dengan keadaan pakaian tidak karuan rupa nyaris bugil dan dalam tubuh tertotok dibaringkan di lantai dalam keadaan tertotok, tak bisa bergerak tak bisa bersuara. Kepala dirundukkan mencium pipi Wulan Srindi. Bersamaan dengan itu tangan yang membelai wajah turun mengusap leher yang jenjang lalu secara kurang ajar turun lagi ke dada. Sampai di sini Warok Jangkrik tak sabaran lagi. Pakaian Wulan Srindi dirobeknya hingga keadaan gadis malang ini tambah mengenaskan. Sebenarnya saat itu Warok Jangkrik ingin melepaskan totokan yang melumpuhkan Wulan Srindi. Bagaimanapun juga dia lebih suka menghadapi orang yang bisa bersuara dan bisa bergerak. Namun sewaktu di lembah, dia telah melihat sendiri kehebatan ilmu silat si gadis ketika dikeroyok oleh empat anak buahnya. Kepala rampok ini tak mau cari penyakit. Dua tangannya bergerak. Dalam waktu singkat perawan anak murid Perguruan Silat Lawu Putih itu nyaris tidak tertutup lagi auratnya. Warok Jangkrik kemudian tanggalkan pakaiannya sendiri. Walau hati menjerit oleh rasa takut akan apa yang bakal menimpa dirinya, namun dalam keadaan tak berdaya Wulan Srindi hanya bisa pasrah. Dalam ketidakberdayaan itu tiada henti gadis ini mengucap memanggil nama Tuhan, meminta pertolonganNya.

Sewaktu Warok Jangkrik meniduri tubuhnya dan tak ada lagi kemungkinan bagi Wulan Srindi untuk menyelamatkan diri dari perbuatan keji terkutuk itu tiba-tiba ada dua bayangan berkelebat disusul ucapan-ucapan lantang.

"Manusia kurang ajar! Kepalamu layak kuhancurkan!" Satu suara lelaki datang dari arah kanan dangau.

"Tidak! Jahanam itu harus mati di tanganku!" Suara perempuan meningkahi, datang dari arah yang sama.

Warok Jangkrik tersentak kaget, cepat berpaling. Dia melihat satu bayangan biru berkelebat lalu satu tendangan menderu ke arah kepalanya!

Sambil berseru keras Warok Jangkrik rundukkan kepala. Tangan kiri cepat menarik celana ke atas. Tangan sebelah kanan sebenarnya punya kesempatan mengirimkan serangan balasan berupa jotosan ke bawah perut si penyerang. Namun ketika melihat siapa adanya lawan, kepala rampok ini memilih selamatkan diri dengan berguling lalu jatuhkan tubuh ke bawah dangau. Tangan kanan dipergunakan untuk menyambar golok yang tergeletak di lantai dangau.

Begitu berdiri di tanah Warok Jangkrik segera cabut golok. Memandang ke depan dia dapatkan diri berhadapan dengan gadis cantik berpakaian biru berambut pirang.

"Bidadari Angin Timur," ucap Warok Jangkrik dengan suara tersendat bergetar. Dua langkah di belakang si gadis berdiri seorang pemuda aneh berkepala botak. Kepala botak itu, wajah dan kulit tangan serta kakinya kelihatan kuning. Menghadapi Bidadari Angin Timur seorang saja kepala rampok ini sudah merasa jerih. Apa lagi bersama si gadis ada seorang pemuda aneh berkulit kuning yang dari gerak-gerik penampilannya jelas memiliki ilmu kepandaian tinggi. Warok Jangkrik cepat memutar otak.

"Tunggu! Jangan salah sangka. Gadis itu belum aku apa-apakan. Kau bisa dapatkan dirinya dalam keadaan selamat. Biar urusan kita selesaikan sampai di sini saja!"

Habis berkata begitu Warok Jangkrik menghambur ke kiri, siap ambil langkah seribu. Tapi yang dihadapinya adalah seorang gadis yang bukan saja berkepandaian tinggi namun juga punya kemampuan bergerak laksana kilatan cahaya. Baru dua langkah kepala rampok itu membuat lompatan kabur, sosok Bidadari Angin Timur berkelebat dan tahu-tahu sudah menghadang di depannya.

Sambil sunggingkan senyum sinis dan angkat kepalanya sedikit, Bidadari Angin Timur berkata.

"Warok Jangkrik! Perampok bejat! Sebelumnya kau menipuku hingga diriku hampir jadi santapan manusia jahanam bercadar putih. Sekarang kau hendak berbuat mesum terhadap gadis ini? Dosa kejahatanmu selangit tembus. Kau pantas dikirim ke neraka saat ini juga! Tapi hari ini aku bersedia memberi pengampunan jika kau..."

"Sahabatku Bidadari, perlu apa berbaik hati. Orang jahat semacam dia harus diberi hukuman berat agar tidak ada orang lain jadi korban keganasannya di kemudian hari!" Pemuda botak berkulit kuning yang bukan lain adalah Jatilandak dari Negeri Latanahsilam memotong ucapan Bidadari Angin Timur.

"Aku bersumpah! Aku bertobat!" seru Warok Jangkrik. "Biarkan aku pergi..."

"Kau boleh pergi, tapi ada satu syarat. Ada pertanyaan yang harus kau jawab!" Berkata Bidadari Angin Timur.

"Jangankan satu syarat, jangankan satu pertanyaan. Seribu syarat seribu petanyaanpun akan aku patuhi dan akan aku jawab." kata Warok Jangkrik pula. Dia merasa gembira ternyata orang mau memberi pengampunan atas dirinya.

"Bagus," kata Bidadari Angin Timur sambil angguk-anggukkan kepala dan kembali tersenyum hingga lesung pipit muncul di pipinya kiri kanan. "Sarungkan golokmu. Aku tidak suka bicara dengan orang yang memegang senjata di tangan."

Warok Jangkrik cepat-cepat sarungkan goloknya, tapi tidak diselipkan di pinggang karena tadi belum sempat mengenakan sabuk besar dan celana masih setengah kedodoran. Setelah disarungkan senjata itu dipegangnya di tangan kanan.

"Aku ingin tahu, mengapa kau menjebak diriku hingga hampir celaka di tangan manusia tinggi besar berjubah dan bertutup kepala kain putih itu."

"Dengar, aku... aku tidak ada permusuhan denganmu. Orang berjubah itu membujuk diriku. Aku diiming-iming sekantong emas." Menerangkan Warok Jangkrik. "Tapi bangsat itu menipuku! Emas yang dijanjikan, yang diberikan ternyata hanya tujuh batu kerikil!"

"Begitu! Penipu tertipu..." ujar Bidadari Angin Timur lalu dongakkan kepala dan tertawa panjang. Warok Jangkrik ikut tertawa cengengesan. Jatilandak hanya berdiri mengawasi kedua orang itu sambil rangkapkan tangan di atas dada. "Kau tahu siapa adanya orang yang kau sebut bangsat itu?" tanya Bidadari Angin Timur walau sebenarnya dia sudah tahu karena sebelumnya telah mendapat keterangan dari Jatilandak.

"Aku tidak kenal siapa dia. Bertemunyapun secara kebetulan. Di satu rumah tua di lembah. Waktu itu aku dalam perjalanan ke Magetan. Aku tidak perduli siapa dia. Saat itu aku hanya tertarik pada emas yang dijanjikan. Kalau aku bisa memancingmu ke rumah tua di lembah, sekantong emas akan diberikannya padaku."

"Kau tahu mengapa dia hendak mencelakai diriku?"

Warok Jangkrik gelengkan kepala. "Aku tidak dusta. Aku tidak tahu mengapa dia ingin mencelakai dirimu. Dia hanya meminta aku melarikan gadis bernama Wulan Srindi itu dan memancingmu agar datang ke rumah tua di lembah."

Bidadari Angin Timur melirik ke arah Jatilandak lalu berkata. "Warok Jangkrik, kau sudah menjawab semua pertanyaanku. Kau boleh pergi. Namun..."

"Namun apa?" tanya Warok Jangkrik dan mendadak saja mulai merasa jerih.

"Bagaimana aku bisa memastikan bahwa kau akan berubah jadi orang baik?" Tanya Bidadari Angin Timur sambil menatap tajam ke arah Warok Jangkrik.

"Percaya padaku. Bukankah tadi aku sudah mengucapkan sumpah, sudah mengatakan tobat!"

"Benar sekali. Telingaku tadi memang mendengar semua ucapan, segala sumpahmu. Namun hatiku berkata lain. Siapa percaya pada dirimu?" kata Bidadari Angin Timur pula. "Kalau begitu..."

Belum sempat Warok Jangkrik menyelesaikan ucapannya sosok gadis di hadapannya mendadak lenyap. Dia hanya melihat bayangan biru berkelebat disusul suara sreet! Golok besar di tangan kirinya dicabut orang! Warok Jangkrik berteriak kaget. Dia cepat melompat mundur. Tapi terlambat. Lengan kanannya mendadak terasa dingin. Memandang ke bawah dia dapatkan lengan kanan itu telah putus oleh golok miliknya sendiri yang laksana kilat ditabaskan Bidadari Angin Timur. Warok Jangkrik sudah puluhan kali melihat semburan darah dari tubuh orang-orang yang jadi korbannya tanpa rasa merinding. Tapi kali ini dia menjerit setinggi langit melihat darah sendiri yang menyembur dari kutungan lengan.

"Juangkrikk! Tobaaattt!" Sosok kepala rampok itu terhuyung melintir. Dengan tangan kiri dia berusaha menotok urat saluran darah di bahu kanan. Namun darah masih terus mengucur.

"Lekas minggat sebelum kubuntungkan tanganmu yang satu lagi!" Mengancam Bidadari Angin Timur.

Dicekam rasa sakit dan takut bukan kepalang Warok Jangkrik tidak menunggu lebih lama. Secepat kilat dia kabur tinggalkan perkebunan kopi. Sementara berlari dari mulutnya tiada henti keluar jeritan kesakitan.

Bidadari Angin Timur sesaat pandangi golok berdarah di tangan kanannya lalu melirik ke arah pemuda di sampingnya. Dia melihat bayangan ketegangan menyelimuti wajah kuning Jatilandak dan berkali-kali pemuda ini menarik nafas panjang.

"Ada apa? Kau tidak suka melihat aku menabas buntung tangan manusia jahat itu? Sebelumnya kau sendiri keluarkan ucapan agar kita menjatuhkan hukuman berat atas manusia laknat satu ini." Ketika Jatilandak tak menjawab ucapannya Bidadari Angin Timur meneruskan perkataannya. "Seharusnya kepalanya yang aku tabas. Bukan tangannya..."

"Lalu, kenapa tidak kau tabas lehernya?" tanya Jatilandak.

Bidadari Angin Timur tersenyum. "Pertanyaanmu aneh," katanya. Lalu golok yang dipegang dicampakkan ke tanah hingga menghunjam amblas, hanya ujung gagangnya yang masih menyembul.

Jatilandak ikutan tersenyum walau tengkuknya agak terasa dingin. Gadis sehalus dan secantik Bidadari Angin Timur ternyata bisa menghukum seseorang secara mengerikan seperti itu.

"Itulah hukum rimba persilatan. Memang manusia jahat itu seharusnya layak dibunuh." Di balik senyum Jatilandak, Bidadari Angin Timur bisa membaca apa yang mungkin tersirat dalam hati si pemuda. Maka diapun berkata. "Hajaranku tadi masih terlalu ringan. Kalau manusia satu itu tidak berubah kelakuan, kelak kalau bertemu aku akan benar-benar menabas batang lehernya."

Jatilandak mengangguk lalu goyangkan kepala ke arah dangau. "Gadis itu perlu segera ditolong. Kau saja yang melakukan." Jatilandak merasa rikuh turun tangan karena keadaan aurat Wulan Srindi yang nyaris telanjang.

Sekali lompat saja Bidadari Angin Timur sudah berada di pinggir dangau. Dari balik pakaiannya dia keluarkan seperangkat baju dan celana panjang yang kemudian diletakkan di samping Wulan Srindi. Setelah memperhatikan keadaan tubuh gadis itu, Bidadari Angin Timur segera melepaskan totokan di tubuh Wulan Srindi.

"Lekas kenakan pakaian itu. Ada beberapa hal yang perlu aku tanyakan padamu."

Wulan Srindi merasa ada hawa hangat mengalir dalam tubuhnya pertanda totokan yang mengunci jalan suara dan membuat dirinya kaku telah musnah. Gadis ini gerakkan tubuh, langsung dan cepat mengambil baju dan celana yang terletak di lantai dangau.

"Terima kasih kau telah menolongku," ucap Wulan Srindi lalu dengan cepat, tanpa membuka pakaian penuh robek yang masih melekat di badannya, dia kenakan baju dan celana pemberian Bidadari Angin Timur. Ternyata pakaian ini cocok dengan ukuran tubuhnya. Selesai mengenakan pakaian, Wulan Srindi turun dari atas dangau lalu jatuhkan diri di tanah, berlutut di hadapan Bidadari Angin Timur dan membungkuk dalam. "Terima kasih. Kalau tidak kau yang menolong entah apa jadinya dengan diriku."

"Tidak perlu berlutut, aku bukan Dewa, bukan pula Gusti Allah."

"Bagaimanapun juga aku berhutang budi, kehormatan bahkan nyawa. Saat ini aku hanya bisa mengucapkan terima kasih. Kalau kelak di kemudian hari aku tidak bisa membalas budi pertolonganmu, biarlah Yang Maha Kuasa membalasnya berlipat ganda." Dalam mengeluarkan ucapan itu di dalam hati Wulan Srindi merasa seolah ada sesuatu di balik perkataan Bidadari Angin Timur. "Kata-katanya baik dan benar. Namun telinga dan hatiku merasa ada sedikit hawa ketus dalam nada suaranya. Mungkin aku salah menduga." Wulan Srindi berucap dalam hati. Lalu berkata. "Sahabat cantik, kalau aku boleh bertanya siapakah kau tuan penolongku ini adanya?"

"Simpan semua pertanyaanmu. Aku yang lebih dulu ingin bertanya padamu," jawab Bidadari Angin Timur sambil matanya memperhatikan tajam gadis di hadapannya.

Wulan Srindi sejurus tatap wajah cantik gadis di depannya. Kecantikannya semakin menonjol oleh rambut yang berwarna pirang. Saat memandang wajah cantik jelita itu, di dalam hati murid Perguruan Silat Lawu Putih ini kembali merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik nada ucapan Bidadari Angin Timur. Mungkin kecurigaan, mungkin juga satu ketidakpercayaan dan ingin menyelidik. Hal ini lebih kentara jika memperhatikan sorot pandang sepasang mata si gadis. Perlahan-lahan Wulan Srindi anggukkan kepala. "Jika sahabat hendak bertanya, saya siap menjawab," kata Wulan Srindi pula.

"Pertama, aku ingin tahu siapa dirimu adanya."

"Namaku Wulan Srindi. Aku anak murid Perguruan Silat Lawu Putih. Beberapa waktu lalu..."

Bidadari Angin Timur yang tak ingin penjelasan berpanjang-panjang potong ucapan Wulan Srindi. "Sewaktu di kedai Ki Sedap Roso di simpang jalan Sarangan, kau bertanya perihal seorang pemuda bernama Wiro Sableng pada pemilik kedai. Apa hubunganmu dengan pemuda itu. Mengapa kau mencarinya?"

"Nah... nah... nah," ucap Wulan Srindi dalam hati. "Makin kentara nada suaranya yang ketus. Bukan, bukan cuma ketus... Tapi berbau cemburu. Aku menaruh hormat padanya. Tapi jika dia menunjukan sikap curiga bahkan seperti mau menyudutkanku, sikap hormatku bisa berkurang. Malah bisa habis..."

"Wulan Srindi, kau belum menjawab pertanyaanku. Agaknya kau tak mau memberi keterangan?"

"Jelas, jelas sekali dia menaruh curiga yang berbau cemburu." Kembali Wulan Srindi membatin. Lalu gadis ini keluarkan jawaban. "Ada seseorang menugaskan aku mencari pemuda bernama Wiro Sableng, berjuluk Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 itu."

Sepasang alis hitam Bidadari Angin Timur menjungkit ke atas. "Seseorang menugaskanmu mencari Wiro? Siapa orang itu?" tanya Bidadari Angin Timur pula penuh rasa ingin tahu.

"Seorang kakek berjuluk Dewa Tuak."

"Dewa Tuak?" Sepasang mata Bidadari Angin Timur menyipit, menatap tajam-tajam ke mata Wulan Srindi. Dalam hati dia tidak bisa percaya begitu saja pada gadis yang barusan ditolongnya ini. "Sudah cukup lama tokoh rimba persilatan itu tidak pernah muncul. Tahu-tahu kau mendapat tugas darinya untuk mencari Pendekar 212. Kenapa? Urusan apa? Di mana kau bertemu orang tua itu. Kapan? Mengapa dia menugaskanmu mencari Pendekar 212? Tunggu! Katakan dulu apa hubunganmu dengan Dewa Tuak."

"Aku murid kakek itu," jawab Wulan Srindi dengan air muka bersungguh-sungguh.

"Apa?!"

"Sahabat penolong, kau bertanya apa hubunganku dengan kakek itu. Aku barusan menjawab. Aku murid Dewa Tuak." Jawab Wulan Srindi pula.

"Tidak mungkin. Tidak bisa jadi. Setahuku kakek itu hanya punya seorang murid perempuan. Bernama Anggini. Sebayaku... Kau jangan mengaku-aku."

"Mohon maafmu. Mana berani aku mengaku-aku. Apa lagi bicara dusta padamu yang telah menyelamatkan diriku. Menurutmu tadi sudah lama kakek itu tidak muncul dalam rimba persilatan. Selama itu banyak hal bisa terjadi. Salah satu di antaranya adalah hubungan diriku dengan dia. Memang aku belum lama menjadi muridnya..."

Bidadari Angin Timur terdiam, menggigit bibir lalu melirik pada Jatilandak.

Melihat lirikan Bidadari Angin Timur, pemuda dari Latanahsilam ini membuka mulut. "Aku rasa Wulan Srindi tidak berdusta. Bisa saja ada kemungkinan bahwa Dewa Tuak telah mengambilnya jadi murid."

"Aku tahu betul siapa Dewa Tuak. Tidak semudah itu dia mengangkat seorang murid baru. Tapi... entahlah, mungkin begitu. Belum lama berselang aku bertemu Anggini. Dia tidak pernah bicara kalau gurunya telah mengangkat seorang murid baru. Mungkin... mungkin Anggini juga belum mengetahui hal itu."

Wulan Srindi diam saja tapi dalam hati dia menunggu apa lagi yang hendak ditanyakan gadis berambut pirang itu padanya.

"Kau ditugaskan mencari Pendekar 212 oleh Dewa Tuak. Baiklah. Sekarang ceritakan mengapa dia memberi tugas itu padamu? Memangnya kau punya hubungan apa dengan pemuda itu?"

"Cemburu! Aku benar-benar mencium hawa cemburu," ucap Wulan Srindi dalam hati. "Biar aku menguji dirinya." Sambil mengelus jari-jari tangannya sendiri dan tundukkan kepala seolah malu, padahal sebenarnya dia ingin menyembunyikan senyum jahilnya, Wulan Srindi berkata. "Sebenarnya ini adalah urusan pribadi. Tapi karena kau sahabat yang telah menolong dan kepada siapa aku berhutang budi, kehormatan serta nyawa, maka aku ikhlas menceritakan padamu. Dewa Tuak menugaskan aku mencari Pendekar 212 menyangkut perihal perjodohan diriku dengan pemuda itu." Ucapan Wulan Srindi seolah serasa sambaran petir sampainya di telinga Bidadari Angin Timur. Wajah cantiknya mendadak sontak bersemu merah sampai ke telinga.

"Gila!" Tiba-tiba meledak ucapan itu dari mulut Bidadari Angin Timur. Membuat Wulan Srindi tersentak angkat kepala dan juga membuat Jatilandak menatap heran. Bidadari Angin Timur sadar kalau dia telah kelepasan ucapan yang tidak wajar. "Tidak mungkin... Tidak mungkin..." Suaranya perlahan bergetar. Sesaat dia menatap Wulan Srindi kemudian pandangannya diarahkan ke kejauhan. Perlahan-lahan entah mengapa muncul saja rasa benci dalam hatinya terhadap Wulan Srindi. Kebencian yang disertai rasa penyesalan. "Seharusnya tidak kutolong dia tadi. Menyesal aku menolongnya..." Suara itu menggema berulang kali dalam hati kecil Bidadari Angin Timur.

"Kena kau sekarang!" ucap Wulan Srindi dalam hati. "Kecemburuanmu kau buktikan sendiri dengan ucapan, sikap dan air matamu."

Bidadari Angin Timur berpaling pada Jatilandak. Tanpa berkata apa-apa dia tinggalkan tempat itu. Berlari kencang ke arah utara.

"Bidadari Angin Timur! Tunggu! Kau mau ke mana?!" Berseru Jatilandak. Menjawab tidak berpalingpun tidak malah Bidadari Angin Timur percepat larinya sehingga tubuhnya terlihat seperti kelebatan bayangan biru. Jatilandak usap kepalanya yang kuning botak.

Dia memandang pada Wulan Srindi, seperti hendak mengatakan sesuatu pada gadis ini. Si gadis balas memandang dengan tersenyum, malah dengan nakal dia kedip-kedipkan matanya pada pemuda yang sedang bingung ini. Tanpa keluarkan ucapan apa-apa Jatilandak akhirnya berkelebat mengejar Bidadari Angin Timur.

Wulan Srindi menarik nafas panjang. Sambil tersenyum hatinya menduga. "Pasti ada sesuatu antara gadis penolongku itu dengan Pendekar 212. Dia kelihatan marah dan cemburu. Apakah dia mencintai Wiro? Seumur hidup aku belum pernah melihat pemuda itu. Seandainya tidak ada pesan dari Dewa Tuak, kini aku jadi sungguhan ingin mencari dan menemui pendekar terkenal itu. Selain memiliki ilmu silat dan kesaktian tinggi, pasti wajahnya sangat tampan."

Wulan Srindi rapikan pakaian, memandang ke arah lenyapnya Jatilandak lalu berkata perlahan. "Pemuda botak itu, agaknya dia menaruh hati pada si rambut pirang. Hemmm..." Wulan Srindi gelengkan kepala dan kembali tersenyum.



UNTUK beberapa saat lamanya Jatilandak hanya berdiri di balik rerumpunan pohon keladi hutan memperhatikan Bidadari Angin Timur yang duduk di dekat sebuah mata air. Dua kaki dilipat dan kepala dibenamkan di antara dua lutut.

"Heran, apa yang terjadi dengan dirinya?" tanya Jatilandak dalam hati. "Dia seperti tergoncang. Apakah aku pergi saja atau menemui dan coba bicara dengan dia? Siapa tahu bisa menolong..." Sesaat pemuda dari Latanahsilam itu masih merasa ragu. Antara hasrat hendak menolong sang dara dan keinginan untuk pergi tak mau mencampuri urusan orang. Dalam berpikir menimbang-nimbang tak sengaja daun keladi hutan yang dipegang dan disibakkannya terlepas, terkuak dan mengeluarkan suara cukup jelas bagi seorang berkepandaian tinggi seperti Bidadari Angin Timur.

"Kurang ajar! Siapa berani mengintai diriku!" rutuk gadis berambut pirang itu. "Pasti gadis tak tahu diuntung itu!" Tanpa mengangkat kepala dari atas lutut Bidadari Angin Timur gerakkan tangan kanan lalu lepaskan satu pukulan jarak jauh ke arah rerumpunan pohon keladi di balik mana Jatilandak berada.

Wuuusss!

Satu gelombang angin luar biasa derasnya menderu. Rumpunan pohon keladi dan semak belukar di sekitarnya terbongkar dari tanah, melayang ke udara dalam keadaan hancur berantakan. Kalau Jatilandak tidak cepat menghindar pasti tubuhnya juga akan ikut kena hantaman pukulan jarak jauh mengandung tenaga dalam tinggi itu.

Masih belum mengangkat kepala dari atas lutut Bidadari Angin Timur kembali gerakkan tangan kanan. Dari balik pohon tempatnya berlindung Jatilandak cepat berseru.

"Sahabat! Tahan pukulanmu! Ini aku! Jatilandak!"

Tangan yang hendak menghantam perlahan-lahan turun ke bawah. Kepala masih menunduk. Lalu terdengar suara isakan.

Jatilandak terkesiap heran. "Benar-benar aneh. Tadi dia menyerangku hebat sekali. Kini malah sesenggukan. Dia sahabatku. Aku harus tahu apa yang tengah terjadi dengan dirinya." Pemuda dari, Latanahsilam ini segera mendekati Bidadari Angin Timur dan tetap berlaku waspada, khawatir tiba-tiba diserang lagi. Dia duduk di dekat mata air, di samping si gadis, lalu dengan suara lembut bertanya, "Bidadari Angin Timur, aku tidak ingin mencampuri urusan pribadimu. Kalau boleh tahu, mengapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini? Kalau ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk menolongmu, katakanlah."

Sapaan Jatilandak itu malah membuat isak sengguk Bidadari Angin Timur semakin keras. Pemuda bermuka kuning itu jadi tambah bingung. Dia ulurkan tangan kiri, mengelus punggung si gadis. Tiba-tiba Bidadari Angin Timur angkat kepalanya, memandang ke arah Jatilandak. Wajahnya yang cantik basah oleh air mata.

"Pergi, jangan sentuh," ucap Bidadari Angin Timur. Suaranya memang tidak keras, tapi cukup membuat Jatilandak terkejut. "Aku tak ingin diganggu. Saat ini aku ingin sendirian."

Jatilandak tarik tangannya. "Maaf, aku bermaksud baik padamu. Aku tidak bisa menduga apa yang terjadi dengan dirimu. Namun aku melihat, ada satu perubahan pada dirimu setelah pertemuan dengan Wulan Srindi."

"Aku tidak suka pada gadis itu!"

"Heh...?" Jatilandak memandang heran. "Kau tidak suka, tapi kau lupa bahwa kau telah menyelamatkan dirinya?"

"Aku menyesal telah menolongnya."

"Sahabatku Bidadari Angin Timur. Tidak baik berkata seperti itu. Kau tahu, kau telah berbuat satu pahala sangat besar menolong gadis yang hampir celaka itu."

"Aku tidak mengharapkan pahala ataupun pujian. Maafkan kalau tadi aku menyerangmu. Aku mengira kau Wulan Srindi yang sengaja mengikutiku. Jatilandak, aku ingin sendirian di tempat ini."

"Baiklah, kalau kau minta aku pergi dari sini," kata pemuda muka kuning itu. "Agar aku tidak was-was, aku ingin bertanya, apakah karena gadis bernama Wulan Srindi itu diambil murid oleh Dewa Tuak dan kau merasa tidak layak, lalu kau tidak menyukai dirinya?"

Bidadari Angin Timur tidak menjawab.

Jatilandak tersenyum. Pertanyaannya tadi hanya sekedar hendak memancing untuk satu pertanyaan berikutnya. Tapi karena yang ditanya tidak menjawab maka sebelum bangkit berdiri pemuda ini berkata lagi. "Maafkan aku. Aku tidak pantas mencampuri urusanmu. Selamat tinggal, sahabatku. Jaga dirimu baik-baik..." Pemuda ini hendak membelai rambut pirang sang dara. Tapi membatalkan niatnya dan akhirnya bergerak bangun.

"Tunggu," tiba-tiba Bidadari Angin Timur berkata. Dalam hati gadis ini membatin. "Ah, mengapa aku tidak bisa menguasai diri. Apakah aku harus menjelaskan semua padanya. Bisa-bisa dia menilai aku ini tambah tidak karuan..."

"Kau hendak mengatakan sesuatu?" tanya Jatilandak.

"Soal gadis itu diambil murid oleh orang pandai, itu adalah nasib dan rejeki masing-masing orang. Kalau memang benar, gadis itu sangat beruntung."

"Selama berada di tanah Jawa ini aku tidak kenal dan tidak pernah bertemu Dewa Tuak. Kakek satu itu kepandaiannya pasti setinggi langit sedalam lautan." Jatilandak diam sebentar, lalu sambil tersenyum dia bertanya. "Kalau soal dirinya diangkat murid bagimu tidak menjadi ganjalan, lalu apa yang membuatmu sedih?"

"Aku hanya kesal dengan diriku sendiri," jawab Bidadari Angin Timur.

"Kesal terhadap dirimu atau terhadap diriku yang jelek ujud ini?"

Bidadari Angin Timur tersenyum dan pegang lengan Jatilandak. Tanpa melepaskan pegangannya dia berkata, "Kau orang baik..."

"Kau juga baik," jawab Jatilandak seraya tangan kanannya diletakkan pula di atas tangan kiri Bidadari Angin Timur yang memegang lengannya.

"Bidadari Angin Timur, gadis bernama Wulan Srindi itu tidak perlu kau ingat-ingat lagi..."

"Aku sudah melupakan perihal ucapannya bahwa dia adalah murid Dewa Tuak. Tapi yang aku tidak suka, dia berdusta kalau Dewa Tuak telah menjodohkan dirinya dengan Pendekar 212 Wiro Sableng."

"Bagaimana kau yakin dia berdusta?"

"Karena sebelumnya Dewa Tuak ingin menjodohkan muridnya bernama Anggini dengan pendekar itu. Namun tidak ada kata putus. Sinto Gendeng guru Pendekar 212 tidak pernah setuju dengan ikatan perjodohan yang dibuat Dewa Tuak, Wiro sendiri tampaknya acuh saja."

"Jika begitu ceritanya, tidak heran kalau Dewa Tuak akhirnya menjodohkan Wulan Srindi dengan Pendekar 212 Wiro Sableng." Kata Jatilandak pula.

Bidadari Angin Timur tatap Jatilandak sesaat.

"Kau... kau percaya hal itu memang terjadi?" tanya sang dara perlahan sekali.

"Segala sesuatu bisa terjadi. Dewa Tuak pasti orang keras hati. Kalau muridnya yang bernama Anggini tidak dapat jadi jodoh Pendekar 212, maka dia coba dengan muridnya yang lain. Wulan Srindi itu. Baginya yang penting adalah mengikat pendekar itu dengan orang yang ada sangkut paut dengan dirinya. Kakek sakti, juga cerdik..."

Lama Bidadari Angin Timur terdiam. Perlahan, sepasang matanya yang bagus kelihatan mulai berkaca-kaca.

"Dugaanku benar. Aku berhasil memancing sikapnya. Gadis ini mencintai Pendekar 212 Wiro Sableng. Kini dia takut akan kehilangan pemuda itu..." Jatilandak membatin dalam hati. Ketika genangan air mata jatuh berderai di pipi Bidadari Angin Timur, Jatilandak ulurkan tangan kiri untuk mengusap. Dengan tangan kanannya Bidadari Angin Timur pegang jari-jari tangan pemuda itu lalu ditempelkan ke pipinya sementara air mata menetes jatuh semakin deras.

"Kau mencintai Pendekar 212?" Tiba-tiba meluncur pertanyaan itu dari mulut Jatilandak.

Bidadari Angin Timur tersentak. Sepasang bola matanya membesar tapi mulutnya tidak menjawab. Malah kedua matanya dipejamkan dan tangan Jatilandak semakin kencang dipegang di atas pipinya. Bibir terbuka bergetar tapi suaranya hanya menggema di dalam hati. "Kau sahabat baik... Kau yang belum lama mengenalku bisa tahu perasaanku. Tetapi dia yang kuharapkan itu mengapa seolah tak pernah perduli..."

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar derap kaki kuda. Bidadari Angin Timur dan Jatilandak angkat kepala, berpaling. Dua penunggang kuda berhenti di seberang mata air. Salah seorang dari keduanya, yang mengenakan pakaian serba putih melesat ke udara. Membuat gerakan jungkir balik dan di lain kejap sudah tegak berdiri di hadapan kedua orang itu. Penunggang satunya melompat biasa, turun dari kuda lalu melangkah dan berdiri di samping penunggang kuda pertama.

Sepasang mata Bidadari Angin Timur terbuka lebar. Wajahhya yang kemerahan berubah pucat. Cepat-cepat gadis ini tarik dua tangannya yang saling berpegangan dengan tangan Jatilandak. Lalu bangkit berdiri diikuti Jatilandak. Suaranya bergetar ketika menyebut nama orang yang tegak di hadapannya.

"Wiro..."



PENDEKAR 212 Wiro Sableng sesaat tatap wajah Bidadari Angin Timur. Dia jelas melihat tanda-tanda si gadis habis menangis. Senyum kecil terkulum di mulut murid Sinto Gendeng. Senyum yang tampak aneh di mata Bidadari Angin Timur. Senyum yang menimbulkan satu tusukan pedih di lubuk hatinya. Membuat gadis ini bertambah canggung memandang sang pendekar. Wiro melirik pada Jatilandak. Pemuda ini tampak tenang seperti tidak ada apa-apa. Wiro kembali tersenyum, menggaruk kepala lalu berkata. Suaranya dibuat gembira begitu rupa, sengaja menindih perasaan hatinya yang galau.

"Dua sahabat! Tidak disangka akan bertemu kalian di tempat ini. Bidadari Angin Timur apakah kau baik-baik saja? Jatilandak? Ah, tentunya kalian berdua ada dalam keadaan baik-baik. Bidadari, seharusnya kau berada di Kotaraja. Apakah Setan Ngompol ada menemanimu di Gedung Kepatihan? Aku menyuruh dia ke sana untuk menemuimu, Sutri Kaliangan, Ratu Duyung dan Anggini."

Bidadari Angin Timur tidak menjawab. Dua matanya masih menatap membelalak tertegun ke arah Wiro, wajahnya bertambah pucat. Kepalanya menggeleng perlahan. Wiro melirik sekali lagi pada Jatilandak lalu kembali memandang ke arah Bidadari Angin Timur yang balas menatapnya dengan mata tak berkesip.

"Ah, aku tidak ingin mengganggu ketenteraman kalian berdua. Aku dan sahabat Loh Gatra ada urusan penting yang harus dilakukan..." Habis berkata begitu Pendekar 212 Wiro Sableng memberi isyarat pada Loh Gatra dan putar tubuhnya.

"Wiro..." panggil Bidadari Angin Timur. Suaranya agak tersendat.

Saat itu Wiro telah berkelebat dan melompat naik ke atas kuda. Bidadari Angin Timur bangkit berdiri. Jatilandak juga ikutan bangun.

"Wiro, ada sesuatu yang perlu aku jelaskan," kata Jatilandak pula.

Di atas punggung kuda Pendekar 212 hanya sunggingkan senyum, lambaikan tangan lalu menggebrak tunggangannya melesat tinggalkan tempat itu. Loh Gatra merasa tidak ada gunanya dia berlama-lama di tempat itu segera pula bergerak pergi. Sebelum berlalu dia masih sempat berkata pada Bidadari Angin Timur. "Ada urusan gawat. Larasati, istriku, diculik komplotan manusia pocong yang berkeliaran di sekitar Sarangan. Aku pergi duluan..."

"Loh Gatra, tunggu!" panggil Bidadari Angin Timur yang sebelumnya memang telah mengenal suami Nyi Larasati itu. (Baca serial Wiro Sableng Badik Sumpah Darah terdiri dari 7 Episode). Tapi seperti Wiro, Loh Gatra juga telah naik ke atas kudanya dan tinggalkan tempat itu.

"Ya Tuhan, dia pasti telah menduga..." ucap Bidadari Angin Timur. Lututnya terasa goyah. Perlahan-lahan dia jatuh berlutut, tundukkan kepala ke dalam dua telapak tangan. Bahunya turun naik menahan isakan. Jatilandak segera dekati gadis ini, pegang bahunya seraya berbisik.

"Bidadari, kau dan aku sama-sama dalam keadaan khawatir. Wiro pasti mempunyai kesan keliru terhadap kita. Kita harus segera mengejarnya..." Bidadari Angin Timur tetap saja menekap wajahnya dengan dua telapak tangan. Kepalanya digelengkan. Lalu terdengar ucapannya tersendat-sendat. "Aku tak ingin ke mana-mana. Biar di sini saja. Rasanya aku ingin mati di tempat ini."

"Tidak sahabatku. Kau tidak boleh berucap dan bersikap seperti itu. Kita harus mencari Wiro dan bicara padanya. Kalau perlu aku akan mendukungmu mencari pemuda itu sampai dapat." Lalu Jatilandak benar-benar mendukung sang dara. Bidadari Angin Timur berusaha berontak lepaskan diri tapi akhirnya gadis ini hanya bisa menangis dalam pelukan pemuda dari Latanahsilam itu.

* * *



TAK sampai lima puluh tombak memacu tunggangannya, sebelum Loh Gatra menyusul, Pendekar 212 memutar kuda, bergerak perlahan, menyelinap kembali menuju mata air. Di balik serumpun pohon bambu hutan, murid Sinto Gendeng hentikan kudanya, sibakkan ranting-ranting pepohonan, memandang ke depan. Saat itulah dia melihat Jatilandak tengah mendukung Bidadari Angin Timur dan si gadis menangis dalam pelukan pemuda berkulit kuning itu. Jantungnya serasa runtuh dan remuk.

"Apa arti semua ini...?" ucap Wiro setengah berbisik dan tubuh mendadak terasa dingin mematung di atas kuda.* * *WIRO merasa seolah dia telah memacu kudanya seperti dikejar setan, tapi Loh Gatra yang berada di sebelahnya melihat murid Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini menunggang kuda tertegun-tegun. Dua mata memandang ke depan, namun pandangan itu kosong. Mata dan pikiran tidak berada dalam satu kesatuan.

"Sahabat Wiro, kau baik-baik saja?"

"Memangnya ada apa dengan diriku? Mengapa kau bertanya begitu?" balik bertanya Wiro.

"Berbahaya memacu kuda kalau pikiran sedang kacau."

Wiro tertawa bergelak. Menggaruk rambut dan berkata. "Kau tahu dari mana pikiranku sedang kacau."

"Bukan cuma pikiranmu. Tapi juga hatimu!"

"Pikiran dan hatimu justru lebih kacau. Saat ini kau tengah kehilangan istri. Diculik orang. Jadi apa perlunya kau memikirkan diriku?"

"Maafkan, aku tidak bermaksud buruk. Kalau aku boleh bertanya, siapa pemuda berkepala botak yang seluruh kulitnya berwarna kuning itu?"

"Dia pemuda baik. Sahabatku dari negeri seribu dua ratus tahun silam."

"Negeri seribu dua ratus tahun silam. Aneh kedengarannya."

"Kau lihat sendiri. Orangnya juga aneh." ucap Wiro pula.

"Apa hubungannya dengan Bidadari Angin Timur? Apakah mereka sudah saling mengenal sejak lama?"

Murid Sinto Gendeng terdiam. Dia tak mampu menjawab. Karena dua pertanyaan Loh Gatra itu diam-diam juga menjadi pertanyaan di lubuk hatinya.

"Aku tidak tahu," ucap Wiro perlahan. "Kalau kau bertemu dengan mereka nanti, sebaiknya tanyakan sendiri."

"Wiro, kau sahabatku. Terserah kau mau marah menuduh aku mencampuri urusanmu. Setahuku bukankah gadis bernama Bidadari Angin Timur itu kekasihmu dan kau satu-satunya orang yang dicintainya?"

"Loh Gatra, kau ini bicara apa? Bagaimana kau bisa bicara seperti itu? Antara aku dan gadis itu hanya ada hubungan persahabatan. Dia sering menolongku, aku pernah beberapa kali menolongnya. Itu hal biasa dilakukan antara orang-orang rimba persilatan."

"Aku tahu semua itu, Wiro. Namun, jika tidak ada hubungan yang lebih dari itu, mengapa aku melihat wajah Bidadari Angin Timur begitu pucat, seperti takut. Takut sekali karena tertangkap tangan oleh orang yang dicintainya ketika tengah berkasih-kasihan dengan pemuda lain."

"Ucapan edan!" bentak Wiro namun kemudian pendekar ini terdiam. Ada galau tidak enak di dalam hatinya. Terbayang kembali apa yang dilihathya ketika dia berbalik ke mata air dan dapatkan Bidadari Angin Timur menangis dalam dukungan Jatilandak. Sambil terus menunggang kudanya tanpa berpaling pada Loh Gatra, Pendekar 212 bertanya. Dia tidak sadar kalau pertanyaan itu menunjukkan perasaan hatinya. "Menurutmu, apakah pemuda bernama Jatilandak itu tengah bercinta dengan Bidadari Angin Timur?"

Loh Gatra tersenyum. "Nah, sekarang agaknya ada kebimbangan dalam hatimu. Terus terang aku tidak berani berucap menduga-duga."

Wiro garuk kepala, mengigit bibir lalu berkata.

"Dari wajah dan keadaan matanya aku lihat gadis itu habis menangis. Dia menangis sebelum kita datang. Agaknya ada yang terjadi di antara mereka. Mungkinkah keduanya telah melakukan sesuatu?"

"Sesuatu apa maksudmu?"

"Sesuatu, lebih dari hanya sekedar saling berpegangan tangan. Misalnya... mungkin saja sebelumnya kedua orang itu telah bercinta yang melebihi batas. Melakukan hubungan seperti sepasang suami istri?"

Loh Gatra tersenyum dan gelengkan kepala.

"Wiro, jika selama kau dan gadis itu berhubungan, kalian tidak pernah melakukan hal yang kau duga itu, percayalah, Bidadari Angin Timur tidak akan pernah mau melakukan perbuatan sesat itu dengan siapapun."

Murid Sinto Gendeng tersenyum kecut.

"Kebenaran ucapanmu hanya setan hutan di mata air itu yang tahu," kata Wiro sambil menggaruk kepala. Lalu murid Sinto Gendeng ini menambahkan dengan suara perlahan. "Kalaupun ada perasaan cinta di hatinya terhadapku, perasaan itu bisa saja berubah. Di dunia ini bukan cuma aku satu-satunya pemuda. Apa lagi Jatilandak memiliki ilmu silat dan kesaktian tinggi..."

"Bagaimana dengan wajah dan kulit tubuhnya yang serba kuning?"

"Di masa sekarang ini soal wajah bukan menjadi tuntutan pertama untuk disukai dan dicintai. Lagi pula pemuda bernama Jatilandak itu, kalau saja kulitnya tidak kuning, dia adalah seorang pemuda yang gagah..."

"Dari semua ucapanmu, aku melihat ada rasa cemburu dalam hatimu. Kalau betul berarti itu satu pertanda bahwa kau sebenarnya memang mengasihi Bidadari Ahgin Timur."

Wiro menggaruk kepala, tertawa panjang. Ketika dia hendak membuka mulut untuk menjawab ucapan orang, Loh Gatra mendahului,

"Wiro," ujar Loh Gatra yang tetap ingin menghibur dan menguatkan hati sahabatnya itu walau dia sendiri tengah dilanda malapetaka besar. "Jika kita melihat sesuatu, duga dan pikir bisa macam-macam. Tapi ketahuilah, sesuatu yang terlihat belum tentu menyatakan kebenaran dari apa yang kita duga. Selalu ada kemungkinan bahwa ada sesuatu yang sangat berlainan di balik kenyataan yang kita lihat. Sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan itu..."

"Aku tidak mengerti maksud semua ucapanmu. Mungkin aku cuma pemuda tolol yang tidak tahu basa basi ucapan." Kata Wiro pula sambil menggaruk kepala. Dia lantas saja teringat pada pertemuannya dengan Suci, gadis alam gaib yang lebih suka dipanggilnya dengan nama Bunga dan dalam rimba persilatan tanah Jawa dikenal dengan julukan Dewi Bunga Mayat. Waktu itu Wiro baru saja menyelamatkan Bunga yang disekap Iblis Kepala Batu Alis Empat di dalam sebuah guci tembaga.

Terngiang kembali ucapan gadis alam gaib itu kepadanya. "Di luar diriku, aku tahu begitu banyak gadis mencintai dirimu. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu terhadap mereka. tetapi jika kelak di kemudian hari kau ingin memilih salah satu dari mereka sebagai teman hidupmu, jatuhkanlah pilihanmu pada Ratu Duyung. Jaga dia baik-baik."

Saat itu Wiro sempat bertanya, "Mengapa kau berkata begitu Bunga?"

Dan Bunga menjawab. "Pertanyaanmu tidak akan kujawab. Aku ingin agar kau sendiri yang mencari tahu, yang mencari jawabannya..." (Baca Episode Wiro Sableng berjudul Kutukan Sang Badik)

Di atas punggung kuda Wiro kembali menggigit bibir. Hatinya berkata. "Bunga, pertanyaanmu sudah kujawab. Aku sudah menyaksikan sendiri jawaban itu. Bila kita memilih teman hidup, unsur kesetiaan adalah yang paling utama dari segala-galanya. Setia dalam susah dan dalam senang. Aku mengerti sekarang, Bunga. Waktu itu kau ingin mengatakan bahwa Bidadari Angin Timur bukanlah seorang gadis yang memiliki rasa dan sifat kesetiaan itu. Kau tak mau berterus terang. Itu pertanda kau memiliki hati yang sangat tulus, putih dan bersih. Terima kasih Bunga. Terima kasih. Aku akan selalu mengingatmu." Wiro menghela nafas dalam dan panjang. Hati kecilnya berbisik lagi. "Kalau saja ujudmu sempurna dan kau hidup di alamku, kalau saja kau bukan gadis alam roh, mungkin keadaan akan berbeda. Tidak seperti ini..."

"Wiro, kau bicara dengan siapa?" Loh Gatra yang berada di samping kanan Pendekar 212 bertanya terheran-heran.

Belum sempat Loh Gahtra mendapat jawaban tiba-tiba satu bayangan putih laksana kilat berkelebat turun dari langit muncul melayang di udara antara kuda tunggangannya dan kuda tunggangan Wiro. Loh Gatra mencium bau harum aneh santar sekali. Bau kembang kenanga! Bersamaan dengan itu dua ekor kuda keluarkan suara meringkik keras. Wiro dan Loh Gatra cepat usap tengkuk kuda masing-masing. Lari kuda sama diperlambat. Dua mata Loh Gatra mendelik besar memperhatikan sosok putih yang melayang antara kudanya dan kuda Wiro. Tengkuknya mendadak dingin memperhatikan sosok seorang gadis berkebaya putih, berambut hitam panjang lepas tergerai. Berwajah cantik tetapi pucat.

"Setan gentayangan di siang bolong!" teriak Loh Gatra, "Wiro! Pacu kudamu lebih kencang sebelum kita dicekiknya!" Loh Gatra gebrak kudanya hingga binatang itu melesat ke depan. Namun beberapa tombak di muka sana dia menoleh ke belakang dan jadi terheran-heran menyaksikan Wiro turun dari kuda lalu melangkah menghampiri gadis berkebaya panjang putih yang tegak di tepi jalan dan tampaknya sengaja menunggu. Kemudian dilihatnya Wiro dan gadis itu saling berangkulan. Tapi ada sesuatu yang aneh. Tubuh si gadis seolah tenggelam masuk ke dalam badan Wiro.

"Tubuh bayangan... Jin perempuan, demit, hantu atau apa. Aneh," ucap Loh Gatra dalam hati. Mau tak mau dia hentikan kuda lalu berbalik ke arah kedua orang itu. Tanpa turun dari tunggangannya Loh Gatra perhatikan gadis berkebaya panjang putih mulai dari kepala sampai ke kaki sementara harumnya bau bunga kenanga mencucuk hidung.

"Benar-behar aneh. Kalau hantu bagaimana mungkin dua kakinya menjejak tanah?" pikir Loh Gatra. Lalu telinganya mendengar gadis itu berkata. "Wiro, jarang kejadian seperti ini. Di alam roh aku mendengar kau menyebut namaku. Satu kekuatan putih mendorongku masuk ke dalam alammu. Padahal ini belum saatnya aku bisa mendatangi dirimu. Ini satu pertanda dan aku punya firasat. Hal ini terjadi karena kau bakal menghadapi satu bahaya besar. Aku harus memberi ingat agar kau berlaku hati-hati."

"Bunga, aku bersyukur hal ini bisa terjadi. Aku merasa bahagia bisa bertemu lagi denganmu," kata Wiro sambil memegang tangan gadis berkebaya putih, gadis alam gaib yang biasa dipanggil Wiro dengan nama Bunga.

"Wiro..." Loh Gatra memanggil dari atas kudanya. Suara dan wajahnya jelas menunjukkan rasa heran bercampur takut.

Wiro menggaruk kepala, berpaling pada sahabatnya itu. Sambil tersenyum dia berkata.

"Gadis ini bukan setan perempuan seperti dugaanmu tadi. Dia tidak akan mencekik siapa-siapa. Dia adalah sahabatku. Namanya Bunga."

"Aku tidak mengerti..." kata Loh Gatra pula.

Bunga tersenyum. "Jangankan dirimu, dia sendiripun sampai sekarang tidak pernah mengerti akan keadaan diriku yang seperti ini."

Loh Gatra coba tersenyum dalam ketidakmengertiannya. Saat itu dia ingin cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut.

"Bunga, aku berterima kasih. Kau datang untuk memberi peringatan padaku. Aku akan berlaku hati-hati. Aku memang sedang menghadapi satu urusan besar. Aku tengah dalam perjalanan menuju Sarangan bersama sahabatku ini."

Bunga mengangguk. "Wiro, aku tidak bisa lama-lama muncul di hadapanmu. Sebelum pergi aku akan berikan lagi padamu sekuntum bunga kenanga yang tak pernah layu. Simpan baik-baik. Jangan sampai hilang seperti satu yang pernah kuberikan dahulu. Kalau ada sesuatu yang bisa kubantu, pegang bunga itu, cium dan sebut namaku. Atas kehendak dan kuasa Gusti Allah mudah-mudahan aku bisa muncul menemui dirimu. Selamat tinggal Wiro..."

"Bunga, tunggu. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan..."

Gadis dari alam roh itu balikkan diri.

"Ada apakah?"

"Ingat ketika kita berdua-dua berada di satu tempat tak lama setelah kau bebas dari sekapan guci tembaga?" tanya Wiro.

"Tentu saja aku ingat. Itu adalah salah satu dari hari-hari indahku bersamamu. Apa maksud pertanyaanmu?"

"Waktu itu kau berkata. Jika kelak aku ingin memilih teman hidup, jatuhkanlah pilihanku pada Ratu Duyung. Jaga dia baik-baik..."

Bunga mengangguk.

"Waktu itu," Wiro melanjutkan. "Aku bertanya, mengapa kau berkata begitu. Lalu kau menjawab, biar aku sendiri yang mencari tahu, yang mencari jawabannya."

Bunga tersenyum. "Apakah kau telah mendapatkan jawabannya, Wiro?"

Pendekar 212 gigit bibir sendiri. Menggaruk kepala lalu berkata. "Kurasa memang sudah aku dapatkan. Bahkan aku lihat sendiri."

"Jangan hanya menuruti perasaanmu saja Wiro. Tapi pergunakan akal pikiran serta ketulusan hati. Siapa tahu kau nanti bakal mendapat jawaban yang lain."

Wiro merasa, kalau tadi jari-jari tangan Bunga yang diremasnya terasa dingin mendadak berubah hangat. Ketika rasa hangat ini menjalar masuk ke dalam tubuhnya, pegangannya lepas dari jari jemari si gadis. Lalu ada satu belaian lembut di pipi Pendekar 212.

"Selamat tinggal, Wiro."

Sosok gadis alam roh itu bergerak.

"Bunga..." Wiro berseru memanggil. Namun sosok Bunga telah berubah menjadi cahaya putih yang melesat ke udara dan akhirnya lenyap seolah menembus langit.

Wiro masih mengusap-usap pipinya yang barusan dibelai Bunga ketika di sampingnya Loh Gatra berkata.

"Sulit aku mengerti kalau tadi itu bukan sebangsa setan atau hantu. Dia muncul secara aneh, lenyap secara aneh pula. Terbang lenyap ke langit! Manusia biasa mana bisa begitu? Wiro..."

"Dia gadis dari alam roh."

"Gadis dari alam roh! Bagaimana ceritanya kalian bisa saling kenal dan berhubungan? Dari pembicaraan kalian berdua tadi agaknya gadis itu tahu banyak seluk-beluk hubunganmu dengan Bidadari Angin Timur."

Wiro masukkan kembang kenanga yang diberikan Bunga ke balik pakaian putihnya.

"Mengenai Bunga, panjang ceritanya. Tak bisa kujelaskan saat ini..."

Loh Gatra masih punya rasa ingin tahu. "Sebelum dia pergi, gadis itu membelai pipimu. Apa yang dilakukannya itu, cara dia bertutur dan menatapmu, agaknya dia punya satu perasaan hati yang khusus terhadapmu kalau tidak mau dikatakan cinta. Betul?"

Wiro tertawa. Menatap ke langit lalu berkata.

"Sahabatku, kalau memang ada cinta di dunia ini, bercinta dengan gadis sungguhan saja susah setengah mati, apa lagi dengan gadis dari alam roh."

"Kita bersahabat, mengapa kau tidak mau berterus terang padaku?" ucap Loh Gatra pula.

"Sahabatku, gadis itu telah pergi. Sekarang giliran kita melanjutkan perjalanan." Wiro melompat naik ke punggung kuda. Loh Gatra geleng-geleng kepala lalu membedal kuda mengejar Wiro.

Ketika Wiro melewati sebuah pohon besar mendadak terbayang kembali Bidadari Angin Timur yang duduk berdampingan dekat mata air sambil saling berpegangan tangan dengan Jatilandak. Juga terbayang saat ketika Jatilandak mendukung gadis itu dan Bidadari Angin Timur menangis dalam pelukan si pemuda. Tidak terasa ada hawa panas mendorong tenaga dalam hebat ke tangan kanan Pendekar 212 Wiro Sableng. Tangan itu berubah menjadi seputih perak mulai dari siku sampai ke ujung jari. Loh Gatra terkesiap kaget. Belum sempat dia mengatakan sesuatu tiba-tiba di luar sadar Wiro hantamkan tangannya ke arah pohon.

Bummmm!

Kraaak!

Pohon besar terbongkar tumbang, hancur dan berubah jadi kobaran api.

"Wiro! Kau melepas pukulan Sinar Matahari! Kau hancurkan pohon tanpa alasan! Apa kau sudah gila?!"

Pendekar 212 tertawa bergelak. "Gila mungkin belum. Yang pasti aku memang sableng! Ha... ha... ha... ha!"

"Kalau cuma sableng rasanya semua orang sudah tahu. Yang aku khawatirkan kalau-kalau dirimu telah kesambat kemasukan roh gadis aneh tadi. Menghantam tak karuan, tertawa tak karuan..." kata Loh Gatra perlahan, hingga tidak terdengar oleh Wiro yang berada di sebelah depan.



RUANG Bendera Darah adalah satu ruangan batu, terletak di bawah Ruang Kayu Hitam dalam kawasan 113 Lorong Kematian. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja batu. Di samping kiri meja ada sebuah kursi, juga terbuat dari batu. Di atas kursi ini duduk Ketua Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian. Sosok tinggi besar Sang Ketua tidak bergerak. Sepasang mata di balik dua lobang kecil pada kain kerudung putih penutup kepala memandang liar ke arah dinding batu di hadapannya. Pada dinding itu, hampir tak kentara ada sebuah pintu batu. Dari sebelah dalam pintu ini hanya bisa dibuka dengan menekan satu tombol rahasia. Tombol tersebut terletak pada ujung lengan kursi sebelah kanan yang diduduki Yang Mulia Sang Ketua.

Dua tombak di belakang meja dan kursi ada sebuah tangan batu merapat ke dinding. Pada ujung puncak tangga yang memiliki 13 undakan, sebuah bendera besar berbentuk segi tiga merah menancap ke dinding. Bendera ini menebar bau anyir menusuk hidung. Inilah yang disebut Induk Bendera Darah. Empat pendupa pada sudut-sudut kamar yang menebar bau harumnya kemenyan tidak dapat menindih tajamnya bau anyir darah setengah kering yang melekat di bendera. Di atas Bendera Darah, berderet menancap pada dinding batu terdapat dua lusin bendera kecil berbentuk segi tiga berwarna putih. Tepat di bawah ujung lancip bendera yang menjulai ke bawah ada tonggak batu yang kedudukannya agak miring ke depan, di atas mana terletak satu tengkorak kepala manusia tertutup oleh lumut berwarna merah kehitaman. Pada ubun-ubun tengkorak terdapat sebuah lobang. Di sebelah bawah ada lagi satu tonggak batu setinggi pinggang. Di atas tonggak batu ini terletak sebuah bokor perak dalam keadaan kosong.

Kepala Yang Mulia Ketua bergerak sedikit ketika sepasang telinganya menangkap langkah-langkah kaki di balik dinding ruangan batu. Diam-diam dalam hati dia menghitung gerakan langkah kaki di balik dinding batu. Di lorong di luar sana ada empat orang tengah berjalan menuju Ruang Bendera Darah. Cocok dengan perhitungan. Yang datang adalah orang-orang yang telah ditunggunya. Langkah kaki berhenti. Lalu ada suara ketukan pada pintu batu. Ketua Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian segera tekan tombol pada ujung kanan lengan kursi yang didudukinya. Secara aneh bagian tengah dinding batu di hadapannya bergerak turun ke bawah membentuk pintu terbuka. Api pendupaan di empat sudut Ruang Bendera Darah tiba-tiba menyala terang. Asap kelabu mengepul ke atas sampai menyentuh langit-langit ruangan. Di luar sana, di depan pintu, pada ujung lorong batu berdiri empat sosok. Tiga di antara mereka mengenakan jubah putih dan tutup kepala putih. Tiga manusia pocong ini adalah Wakil Ketua, dua Satria Pocong yang bertindak sebagai pengawal dan masing-masing membawa sebuah bokor perak berisi darah. Di antara dua Satria Pocong ini berdiri manusia pocong ke empat. Bau wangi aneh menebar dari tubuhnya yang semampai. Ketika melangkah masuk walau gerakannya enteng namun kelihatan jelas gerak sepasang kaki serta dua tangannya mengayun kaku.

Seperti tiga manusia pocong yang berbarengan masuk dengannya, manusia pocong satu ini mengenakan jubah dalam dan kain penutup kepala. Namun pada penutup kepala, di atas kening, ada sebuah mahkota kecil hijau bercahaya. Kalau tiga manusia pocong lainnya, seperti juga Sang Ketua mengenakan jubah putih tebal, manusia pocong satu ini memakai jubah putih yang begitu tipis. Hingga walau samar, auratnya masih bisa terlihat cukup jelas. Lalu di bawah kain penutup kepala di sebelah belakang menjulai panjang rambut hitam berkilat. Dari keadaan manusia pocong satu ini jelas dia adalah seorang perempuan!

Di belakang sana terdengar suara desiran halus. Pintu batu yang tadi membuka kini bergerak naik menutup dinding. Untuk beberapa ketika Ruang Bendera Darah diselimuti kesunyian. Ada hawa ketegangan menggantung di udara.

Yang Mulia Ketua memberi isyarat dengan gerakan jari-jari tangan kanan. Melihat isyarat ini empat manusia pocong segera bergerak melangkah.

Begitu sampai di hadapan Yang Mulia Ketua Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian, ke empat orang itu sama menjura, laju mendongak dan secara berbarengan keluarkan seruan.

"Salam hormat untuk Yang Mulia Ketua! Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!"

Yang Mulia Ketua Barisan Manusia Pocong bangkit dari kursi batu, angkat tangan kanan ke depan lalu keluarkan ucapan. "Wakil Ketua, kau tahu apa yang harus dilakukan. Laksanakan tugasmu!"

Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong 113 Lorong Kematian melangkah mendekati Satria Pocong di samping kanan. Satria Pocong ulurkan tangan, serahkan bokor perak berisi darah yang dipegangnya. Setelah menerima bokor Wakil Ketua melangkah ke arah tangga batu yang menempel di dinding belakang Ruang Bendera Darah. Perlahan-lahan dia menaiki tiga belas undakan batu. Pada undakan terakhir di sebelah atas dia hentikan langkah, berpaling ke bawah. Saat itu pula Satria Pocong kedua segera tinggalkan tempat, melangkah ke arah tonggak batu setinggi pinggang. Dengan hati-hati dia letakkan bokor berisi darah yang dibawanya di atas tiang batu, tepat di sebelah bokor perak kosong. Selesai meletakkan bokor berisi darah orang ini melangkah mundur, kembali ke tempat semula.

Tak ada yang bergerak, tak ada yang bersuara. Ruang Bendera Darah kembali diselimuti kesunyian dan ketegangan.

"Wakil Ketua! Kau boleh mulai!" Tiba-tiba suara Yang Mulia Ketua menggema di ruangan batu.

Mendengar ucapan Sang Ketua, Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong ulurkan dua tangan yang memegang bokor perak ke depan. Dengan hati-hati, perlahan-lahan dia curahkan cairan darah di dalam bokor ke atas bendera besar segi tiga merah. Kucuran darah jatuh membasahi Induk Bendera Darah, sebagian meresap pada kain bendera, sebagian lagi meluncur ke bawah, jatuh tepat dan masuk ke dalam lobang pada ubun-ubun tengkorak yang terletak di tiang batu miring. Begitu darah memasuki tengkorak terjadi beberapa keanehan. Induk Bendera Darah berbentuk segi tiga besar yang basah tiba-tiba bergerak hidup, seolah digerakkan oleh tangan yang tidak kelihatan, bendera ini berkibas keras. Darah yang membasahi bendera menyiprat ke dinding dan lantai ruangan batu. Menempel sesaat lalu secara aneh lenyap tak berbekas. Di atas sana Induk Bendera Darah kembali kuncup tak bergerak.

Keanehan berikutnya, begitu cairan darah masuk ke dalam tengkorak lewat bolongan di ubun-ubun, tiba-tiba sepasang mata tengkorak memancarkan cahaya merah laksana ada api yang membersit dari sebelah dalam. Lalu empat api pendupaan di sudut ruangan batu menyala terang. Asap kelabu mengepul ke atas. Di lantai ruangan terasa ada getaran-getaran halus.

Darah yang masuk ke dalam tengkorak melalui lobang di ubun-ubun mengucur keluar melewati mulut tengkorak dan selanjutnya masuk tertampung dalam bokor perak kosong yang terletak di atas tiang batu setinggi pinggang.

Di atas tangga batu, begitu darah dalam bokor perak habis, Wakil Ketua Barisan Manusia Pocong perlahan-lahan tarik tangannya kembali. Dia tak berani bergerak sebelum ada perintah dari Sang Ketua.

"Wakil Ketua, tugasmu selesai. Kau boleh turun." Suara Yang Mulia Ketua menggema di ruangan batu.

Wakil Ketua putar tubuh, lalu melangkah menuruni tangga 13 undakan. Sampai di bawah dia serahkan bokor yang telah kosong pada Satria Pocong yang semula membawanya. Kesunyian kembali mencekam di ruangan batu. Sepasang mata Sang Ketua menatap ke arah dua buah bokor di atas tonggak batu setinggi pinggang. Perlahan-lahan, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dia melangkah ke arah tiang batu. Di depan tiang dia tegak diam sejenak, kepala tertunduk. Dari balik kain putih penutup kepala terdengar suaranya mengucapkan sesuatu, bergumam tak jelas. Mungkin tengah merapal mantera. Kemudian kelihatan Sang Ketua angkat ke dua tangannya, lalu dimasukkah ke dalam bokor berisi darah yang berasal dari curahan lewat Induk Bendera Darah.

Terdengar suara riak cairan. Sang Ketua seperti tengah mencuci tangan dengan darah di dalam bokor. Anehnya ketika tangan yang basah di keluarkan, sama sekali tidak ada merah nodanya darah. Kedua tangan itu seperti dicelup dan dicuci di dalam air biasa!

Wakil Ketua keluarkan secarik kain merah dari balik jubah lalu diberikan pada Yang Mulia Ketua. Selesai mengeringkan tangannya dengan kain merah Yang Mulia Ketua kembalikan kain itu pada wakilnya lalu pergi duduk di kursi batu. Dari tempatnya berdiri Wakil Ketua kemudian berseru.

"Satria Pocong, letakkan bokor yang kau bawa di atas meja batu."

Satria Pocong yang sejak tadi berdiri memegangi bokor perak segera laksanakan perintah. Bokor berisi cairah darah diletakkan di atas meja batu lalu dengan cepat dia kembali ke tempat semula.

Sang Ketua perhatikan bokor itu sesaat lalu menatap ke arah manusia pocong perempuan yang tegak beberapa langkah di hadapannya.

"Yang Mulia Sri Paduka Ratu, apakah kau telah siap untuk menerima berkah berupa pembasahan dan pensucian kepalamu?" Dari tempatnya duduk Sang Kedua keluarkan ucapan, ajukan pertanyaan.

Pocong perempuan yang dipanggil dengan sebutan Yang Mulia Sri Paduka Ratu tundukkan kepala sedikit lalu berkata. "Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai!"

"Bagus. Sekarang majulah dua langkah, tanggalkan kain penutup kepalamu dan berlutut di hadapanku!"

Sesuai perintah Sang Ketua, pocong perempuan maju dua langkah. Gerakan kaki dan ayunan tangan kelihatan kaku. Lalu dengan tangan kanannya dia membuka kain penutup kepala bermahkota hijau. Begitu kain penutup kepala terbuka, kelihatanlah satu wajah gadis cantik tapi sangat pucat seolah tak berdarah. Bagian putih dari matanya begitu putih hingga tampak menggidikkan. Pandangan mata kosong dan dingin. Di pipi kirinya ada guratan cacat bekas luka. Rambut panjang hitam menjulai-sampai ke punggung. Perlahan-lahan gadis ini tundukkan diri ke lantai. Kain putih penutup kepala diletakkan di samping kanan, lalu dia berlutut dengan kepala diarahkan menghadap Ketua Barisan Manusia Pocong.

Sang Ketua duduk tak bergerak. Sepasang mata dipejamkan. Di balik kain penutup kepala mulut komat-kamit. Sesaat kemudian terdengar suaranya berucap lantang.

"Penghuni Aksara Batu Bernyawa. Di luar sana, pada bentangan langit malam menghias bulan sabit hari ke tiga. Inilah malam perjanjian. Sesuai pesan dan tugas yang tersurat dan tersirat di dalam Aksara Batu Bernyawa, malam ini, aku, Ketua Barisan Manusia Pocong Seratus Tiga Belas Lorong Kematian, siap melaksanakan apa yang tertera dalam syarat ke sembilan. Pengusapan darah bayi yang masih segar ke ubun-ubun Yang Mulia Sri Paduka Ratu, siap dan segera aku laksanakan."

Baru saja ucapan Sang Ketua berakhir, di ruangan batu tiba-tiba ada suara silir seperti tiupan angin. Bendera Darah bergerak-gerak. Hawa dingin untuk beberapa saat menyungkup seantero ruangan. Semua orang merasa tegang, kecuali Sang Ketua. Begitu suara tiupan angin sirna dan hawa dingin lenyap. Sang Ketua ulurkan dua tangan, menyibak rambut gadis yang berlutut di depannya hingga membentuk garis putih tepat pada ubun-ubun. Setelah menggulung lengan jubah sebelah kanan sampai sebatas siku, dengan tangan kiri Yang Mulia Ketua mengambil bokor perak berisi darah di atas meja. Tangan kanan lalu dimasukkan ke dalam bokor. Ketika tangan itu dikeluarkan kelihatan merah basah oleh cairah darah yang mulai mengental. Tangan yang berlumuran darah kemudian diusapkan ke ubun-ubun gadis yang berlutut di lantai. Pada saat darah diusapkan ke ubun-ubun, entah dari mana datangnya selarik sinar merah berkiblat lalu membungkus sekujur tubuh si gadis mulai dari kepala sampai ke kaki. Tubuh Sri Paduka Ratu bergetar hebat. Sang Ketua sendiri tersentak dan sampai tersandar ke kursi batu saking kagetnya.

Semua apa yang dilakukan Sang Ketua tadi diperhatikan tak berkesip oleh Wakil Ketua dan dua Satria Pocong. Pada saat darah diusapkan ke ubun-ubun dua mata tengkorak di atas tiang batu kembali memancarkan cahaya merah dan empat api pendupaan di sudut ruangan menyala terang serta mengepulkan asap kelabu.

Bokor perak diletakkan kembali ke atas meja batu. Sang Ketua bangkit berdiri, melangkah ke tiang batu di atas mana terletak bokor berisi darah yang dikucurkan dari Bendera Darah lalu masuk tengkorak yang berada di tiang miring, selanjutnya ditampung dalam bokor pada tiang batu setinggi pinggang. Sang Ketua celupkan tangan kanannya yang berlumuran darah ke dalam bokor ini. Begitu tangan dikeluarkan noda darah telah lenyap. Wakil Ketua cepat memberikan kain merah. Setelah mengeringkan tangan dengan kain itu Sang Ketua kembali duduk di kursi batu. Lalu rambut tersibak gadis yang berlutut dirapikan dan ditautkannya kembali.

"Yang Mulia Sri Paduka Ratu, upacara telah selesai. Silahkan berdiri. Harap segera mengenakan penutup kepala."

"Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan! Hanya Yang Mulia Ketua seorang yang wajib dicintai." Setelah keluarkan ucapan itu si gadis ambil kain penutup kepala bermahkota lalu bangkit berdiri.

Wakil Ketua datang mendekat. "Yang Mulia Ketua, Bendera Darah tinggal beberapa buah lagi. Saatnya kita menambah persediaan."

"Hal itu memang sudah aku ketahui," jawab Yang Mulia Ketua. Lalu dia memutar tubuh, memandang ke arah dinding ruangan sebelah belakang di mana menancap dua lusin bendera kecil berbentuk segi tiga putih. Perlahan-lahan Sang Ketua angkat tangan kanannya. Lima jari tangan membuka. Telapak tangan membentang. Jari telunjuk diacungkan. Didahului satu bentakan keras dia membuat gerakan seperti menusuk lalu tangan diputar setengah lingkaran dan jari telunjuk diarahkan ke bokor perak berisi darah yang terletak di atas meja batu.

Terjadilah satu keanehan.

Bett... bettt... bett!

Suara kibasan lain terdengar dua puluh empat kali berturut-turut. Dua lusin bendera putih segitiga yang menancap di atas Induk Bendera Darah melesat ke bawah. Sesuai dengan gerakan jari telunjuk Yang Mulia Ketua, dua puluh empat bendera itu melesat masuk ke dalam bokor perut di atas meja batu. Darah di dalam bokor bergejolak mengeluarkan suara seperti mendidih. Asap merah mengepul. Dua lusin bendera segi tiga yang tadi berwarna putih kini berubah menjadi merah!

"Wakil Ketua, pada saat fajar menyingsing besok pagi, kau boleh mengambil dua lusin Bendera Darah itu"

Wakil Ketua barisan Manusia Pocong membungkuk seraya berkata. "Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan..."

Sang Ketua anggukkan kepala lalu berkata.

"Antarkan Yang Mulia Sri Paduka Ratu ke Rumah Tanpa Dosa. Dua Satria Pocong tetap di sini untuk membersihkan Ruangan Bendera Darah." Habis berkata begitu Sang Ketua lalu memberi isyarat pada wakilnya agar mendekat. Sang Wakil segera mendatangi. Dengan suara perlahan Sang Ketua berkata. "Jangan antarkan langsung gadis itu ke Rumah Tanpa Dosa. Bawa ke kamarku lebih dulu. Aku ingin bercinta dengannya malam ini. Sudah lama aku mencari waktu dan kesempatan. Agaknya malam inilah baru bisa kulaksanakan."

Di balik kain penutup kepala Wakil Ketua tersenyum lebar. Setelah menganggukkan kepala tanda mengerti dia segera mendampingi Yang Mulia Sri Paduka Ratu. Dua Satria Pocong di sebelah depan. Sang Ketua tekan tombol rahasia di lengan kanan kursi batu. Bagian dinding batu yang merupakan pintu bergerak turun ke bawah. Hanya tinggal beberapa langkah lagi ke empat orang itu akan melewati pintu batu, tiba-tiba dari arah depan yang merupakan sebuah lorong, menggelundung sesosok tubuh yang kemudian terkapar di ambang pintu! Di sebelah belakang tiga Satria Pocong tampak mengejar berhamburan.

Ketua Barisan Manusia Pocong tersentak kaget, langsung melompat dari kursinya seraya membentak.

"Apa-apaan ini?!"

Dua mata Sang Ketua mendelik memperhatikan sosok yang terkapar di lantai batu. Sosok berjubah putih, berkepala kain putih yang setengah tersingkap. Jelas dia adalah salah seorang anggota Barisan Manusia Pocong. Apa yang terjadi dengan dirinya?

Tiga Satria Pocong belum sempat menjawab, sosok di lantai tiba-tiba keluarkan suara tawa mengekeh.

"Kalau pertanyaan itu kau tujukan padaku, itulah yang aku tidak bisa menjawab. Ha... ha... ha!"

"Jahanam! Bagaimana hal ini bisa terjadi?! Siapa keparat satu ini?!" Yang Mulia Ketua berteriak marah. Sekali berkelebat dia berhasil menarik tanggal kain penutup kepala Satria Pocong. Begitu melihat wajah orang kagetnya jadi tambah alang kepalang sampai dia berseru menyebut nama.

"Dewa Tuak!"

"Ha... ha... Kau kenali diriku. Aku tidak kenali dirimu!" Orang yang tergeletak di lantai lorong di depan Ruang Bendera Darah kucak-kucak matanya. Dia memang adalah si kakek yang dikenal dengan julukan Dewa Tuak. Sebelumnya dalam keadaan tubuh lemah dan pikiran kacau dia telah bertempur melawan tiga Satria Pocong. Walau dia berhasil menghajar mereka namun daya kekuatan yang ada dalam dirinya semakin parah dan daya ingatnyapun bertambah tidak karuan.

Selain kaget Sang Ketua Juga marah besar. Mata Sang ketua membelalak pada tiga Satria Pocong yang muncul berbarengan dengan Dewa Tuak. "Gila! Bagaimana tua bangka ini bisa lolos! Bagaimana otaknya masih jernih! Aku tidak akan memberi ampun pada siapa saja yang telah melakukan kesalahan!"

Tiga Satria Pocong ketakutan setengah mati. Ketiganya segera menjura dalam sambil berkata berbarengan. "Mohon ampunmu Yang Mulia Ketua." Salah seorang di antara mereka lalu beranikan diri memberi keterangan.

"Mohon maafmu Yang Mulia Ketua. Kami tidak tahu bagaimana kejadiannya dia bisa lolos dari kamar sekapan. Ketika kami pergoki dia telah berada di Lorong Seratus Dua. Kami segera hendak membekuknya. Tapi dia melawan. Mohon maaf, kami bertiga sempat dihajarnya. Lalu dia melarikan diri ke arah sini. Kami mengejar sambil melepaskan tiga pukulan berbarengan. Pukulan kami membuat dia jatuh menggelundung tepat ketika pintu Ruang Bendera Darah terbuka."

"Jahanam! Ada yang tidak beres!" Teriak Sang Ketua semakin marah.

Wakil Ketua cepat mendekati dan berbisik. "Dewa Tuak bukan orang sembarangan. Dia memiliki hawa sakti dan tenaga dalam sangat tinggi. Dua kekuatan itu bisa saja merupakan daya tolak dari apa yang telah kita lakukan terhadapnya. Tapi percayalah, daya ingatnya tidak akan bertahan lama. Dia segera akan tunduk pada perintah dan kemauan kita."

"Jangan bicara tolol padaku! Sudah berapa lama dia mendekam di tempat ini! Tokoh silat lainnya begitu dicekoki minuman Selamat Datang langsung punah daya ingatnya. Mengapa dia tidak?!"

"Saya akan menyelidik. Saya akan urus tua bangka satu ini. Harap Yang Mulia Ketua memberi izin."

"Kalau begitu lekas kau ringkus dia! Jebloskan kembali ke kamar tahanan. Kita memerlukan dirinya dalam waktu singkat," perintah Sang Ketua.

"Jangan khawatir. Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan! Saya akan meringkus dan memberikan minuman tambahan padanya!"

Ketika Wakil Ketua hendak bergerak, Yang Mulia Ketua pegang bahu jubah orang ini lalu berkata. "Satu dari dua Satria Pocong yang bertindak sebagai mata-mata telah memberitahu padaku. Kawasan Telaga Sarangan telah didatangi orang-orang tak dikenal. Hari-hari besar yang kita tunggu akan segera datang."

"Saya gembira," jawab Wakil Ketua. "Asalkan Yang Mulia Ketua mau berbagi rejeki dengan saya."

"Kita sudah menentukan bagian dan rejeki masing-masing. Tapi jika kau bertindak lamban, perhitungan rejekimu akan jatuh ke tangan orang lain."

Wajah Wakil Ketua di balik kain putih penutup kepala menyeringai. "Kalau itu sampai terjadi, saya akan sangat kecewa. Karena sejak dia membunuh saudara saya, jelas-jelas nyawanya adalah milik saya."

"Itu sudah menjadi perjanjian di antara kita. Tapi jangan lupa Wakil Ketua. Banyak orang dan banyak tangan yang ingin dan bisa membantainya. Sekarang lekas kau singkirkan tua bangka itu."

"Hanya perintah Yang Mulia Ketua yang harus dilaksanakan!" Habis berkata begitu Wakil Ketua melompat ke arah sosok Dewa Tuak yang masih bergelung di lantai batu sambil mengumbar tawa.

Tiba-tiba, hekk!

Satu totokan yang didaratkan Wakil Ketua ke urat besar di pangkal leher membungkam mulut dan membuat kaku sekujur tubuh Dewa Tuak.



RATU Duyung lama-lama jadi kesal. Setiap dia memacu kuda meninggalkan Sutri Kaliangan di belakang, dia terpaksa berbalik kembali atau menunggu. Putri Patih Kerajaan itu menunggang kuda perlahan santai-santai saja.

"Aku tak mengerti," Ratu Duyung keluarkan ucapan. "Sewaktu di Kotaraja kau begitu bersemangat untuk segera melakukan perjalanan. Kau sangat khawatir atas keselamatan Pendekar Dua Satu Dua Wiro Sableng. Sekarang kau malah menunggang kuda perlahan enak-enakan. Seperti orang tengah tamasya. Apa kau tidak melihat sang surya sudah jauh condong ke barat. Bisa-bisa kita kemalaman di tengah jalan."

Sutri Kaliangan, dara cantik berpakaian serba kuning dengan pedang tergantung di pinggang tersenyum mendengar ucapan Ratu Duyung. "Sahabatku Ratu Duyung, menurut hitungan kita sudah setengah jalan. Kalau dipaksakan memang bisa saja kita sampai malam hari di tempat tujuan. Padahal tujuan kita masih merupakan teka-teki. Satu-satunya bimbingan arah adalah apa yang kau lihat di cermin saktimu."

"Kalau sudah tahu mengapa tidak mempercepat lari kuda? Aku tidak mau bolak-balik menjemputmu dan meminta agar bergerak lebih cepat."

"Ratu Duyung, dengar. Sedikit banyak aku cukup mengenali kawasan yang telah kita lewati dan yang bakal kita tempuh. Jika kita terus mengikuti arah, di depan sana kita akan menemui sebuah gunung bernama Gunung Kukusan. Di sebelah barat ada Gunung Lawu. Di dalam cermin kau melihat ada bahaya besar mengancam Wiro. Kalau kita memasuki daerah tujuan pada malam hari, apakah menurutmu bukan berarti kita mencari bahaya?" Ratu Duyung diam saja. Sutri Kaliangan meneruskan kata-katanya. "Kita perlu istirahat. Dua tunggangan kita juga perlu istirahat. Besok pagi kita lanjutkan perjalanan."

"Besok pagi? Apa maksudmu, Sutri?"

"Kita bakal melewati sebuah kampung bernama Jatipurno. Ayahku memiliki sebuah rumah di sana. Karena terletak tak jauh dari kaki Gunung Kukusan udaranya sejuk, pemandangan sangat indah. Nah, kita bermalam di Jatipurno. Kita perlu mandi, cukup istirahat dan cukup tidur."

"Kau tidak lagi mengawatirkan keselamatan Wiro?"

"Siapa bilang tidak mengawatirkan. Tapi jangan lupa memikirkan keselamatan diri sendiri. Kalau kau berniat terus melanjutkan perjalanan, aku tak bisa menghalangi. Aku tetap akan singgah di Jatipurno."

Setelah menimbang sesaat akhirnya Ratu Duyung berkata. "Baiklah. Aku mengalah. Kita bermalam di Jatipurno. Tapi besok pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit kita harus sudah melanjutkan perjalanan."

Sutri Kaliangan tertawa lebar. "Sahabatku, agaknya kau juga mengawatirkan keselamatan pemuda itu. Kurasa bukan hanya sekedar mengawatirkan. Mungkin juga ada rasa rindu. Sudah berapa lama kalian tidak bertemu?"

Ratu Duyung tidak menjawab.

"Aku mendengar, banyak sekali para gadis tergila-gila pada Pendekar itu. Yang sudah pasti Anggini dan Bidadari Angin Timur. Aku tahu waktu di Gedung Kepatihan tadi malam mereka berpura-pura acuh ketika kuajak agar segera sama-sama berangkat. Aku yakin, keduanya mencari jalan sendiri-sendiri. Mungkin ingin mendahului kita menemui pemuda itu."

"Apakah kau merasa cemburu kalau Bidadari Angin Timur atau Anggini berhasil menemukan Wiro lebih dulu?"

"O-ooo. Justru hal itu yang akan aku tanyakan padamu." Kata Sutri Kaliangan pula sambil tersenyum dan melirik. Gadis ini tertawa kecil ketika melihat wajah Ratu Duyung bersemu merah.

"Kau tak mau menjawab. Ratu, apakah kau mencintai Wiro? Hemmm... aku bisa melihat pada raut wajah dan sinar matamu. Kau mencintai pemuda itu."

"Sutri, jika kau terus menggoda, aku lebih baik melanjutkan perjalanan seorang diri. Terus-terang, aku tidak merasa perlu singgah di Jatipurno."

Sutri Kaliangan dekatkan kudanya ke kuda Ratu Duyung lalu pegang lengan gadis bermata biru itu. "Harap kau jangan marah. Aku hanya bergurau. Soalnya, gadis mana yang tidak terpikat dengan pemuda seperti Wiro. Pendekar berkepandaian tinggi, berbadan tegap berwajah gagah. Selain itu baik hati pula. Banyak yang meramalkan dia bakal jadi tokoh utama dalam rimba persilatan tanah Jawa."

"Pendekar berkepandaian tinggi, berbadan tegap berwajah gagah. Selain itu baik hati pula. Diramalkan bakal menjadi tokoh utama dalam rimba persilatan tanah Jawa..." Ratu Duyung mengulangi ucapan Sutri Kaliangan lalu cepat menyambung. "Kau seorang gadis cantik jelita, Putri Patih Kerajaan, juga memiliki ilmu silat tinggi. Bukankah merupakan pasangan yang cocok dan serasi?" Kini Ratu Duyung yang menggoda Sutri Kaliangan.

Yang digoda tertawa panjang. "Aku boleh dibilang gadis yang ketinggalan kereta. Bagaimana mungkin bisa bersaing dengan para sahabat yang telah lebih dulu mengenal Wiro. Bidadari Angin Timur, Anggini dan kau sendiri."

"Kurasa kau lebih mendapat perhatian karena kau putri Patih Kerajaan. Cantik..."

"Menurutmu begitu?" tanya Sutri lalu menjawab sendiri pertanyaannya. "Kurasa tidak. Ketika ayahku menawarkan jabatan Panglima Kerajaan padanya, sebagai balas jasa dalam membantu mendapatkan Melati Tujuh Racun, satu-satunya obat yang mampu menyembuhkan penyakit ayah, dia menolak. Berarti dia tidak ada perhatian pada diriku."

"Menolak jabatan bukan berarti menolak cinta seorang gadis cantik sepertimu. Justru di situlah keluhuran budinya sebagai seorang pendekar. Dia tidak mau menjual diri dengan jabatan. Lebih dari itu dia tidak mau merendahkan makna cinta dan kasih sayang dengan balas jasa."

"Apapun alasan penolakannya, yang jelas aku tidak mungkin mendapatkan dirinya," kata Sutri Kaliangan pula. Suaranya perlahan seperti sedih, namun di mulutnya terkulum sekelumit senyum.

"Jangan terlalu berhiba diri, sahabatku. Dibanding dengan kami-kami rasanya kau lebih punya kesempatan. Apakah kau pernah mengajuk hatinya? Apakah kalian pernah berdua-dua?"

"Hai! Kau tengah menyelidiki diriku!" kata Sutri Kaliangan lalu tertawa cekikikan.

* * *

SUTRI Kaliangan dan Ratu Duyung sampai di Jatipurno tepat ketika sang surya tenggelam di ufuk barat. Rumah milik ayah Sutri itu selain besar juga sangat bagus dan kokoh bangunannya. Mulai dari tangga sampai tiang dan dinding dipenuhi ukiran-ukiran bagus dan halus. Setelah dua gadis itu mandi, penjaga rumah bersama istri menyiapkan makan malam. Selesai makan Sutri menyuruh suami istri itu pulang ke rumah mereka yang terletak tak jauh dari situ. Ketika meninggalkan rumah, Ratu Duyung sempat melihat keduanya berbisik-bisik sambil menuruni tangga dan sesekali menoleh ke belakang memperhatikan dirinya. Walau heran melihat sikap dua suami istri itu namun Ratu Duyung tidak berkata apa-apa.

"Di rumah ini ada dua kamar. Besar-besar. Sebaiknya kita tidur di satu kamar saja. Kita bisa ngobrol macam-macam sebelum tidur." Begitu Sutri Kaliangan berkata dan ditanggapi wajar-wajar saja oleh Ratu Duyung.

Sebelum masuk ke dalam kamar Sutri Kaliangan mengeluarkan sebuah tabung kecil. Tabung ini ternyata berisi minyak wangi. Begitu penutup tabung dibuka, bau harum luar biasa memenuhi ruangan. Sutri mengusapkan minyak wangi di leher, belakang telinga dan pangkal dadanya. Lalu tabung minyak diserahkan pada Ratu Duyung. "Pakailah..."

"Terima kasih, aku tak biasa memakai minyak wangi." Jawab Ratu Duyung tidak berdusta. Selain itu dia merasa setiap dia menghela nafas, harumnya minyak wangi itu mendatangkan perasaan aneh dalam dirinya.

"Sekali ini harus. Nanti kau akan biasa. Aku masih ada persediaan satu tabung. Kau boleh ambil yang satu ini. Pakailah..."

Karena Sutri Kaliangan memaksa terus, Ratu Duyung mengambil juga tabung kecil berisi minyak wangi itu tapi tidak dipakainya. Tabung diselipkan di balik pakaian. Tak lama kemudian keduanya masuk ke dalam kamar. Mereka mengobrol sebentar, mungkin karena keletihan Ratu Duyung tertidur lebih dulu.* * *

RATU Duyung tidak tahu berapa lama dia telah tertidur ketika mendadak terbangun. Pertama sekali bau harum minyak wangi menusuk hidung, masuk ke dalam jalan pernafasannya. Ada perasaan aneh. Seperti pertama kali mencium bau itu ketika Sutri Kaliangan mengusapkan ke tubuhnya. Lalu dia merasakan ada pelukan kuat di pinggang. Ada himpitan kaki di pahanya. Dia juga merasakan hembusan nafas panas. Setelah itu ada ciuman di pipi dan pangkal lehernya. Darah Ratu Duyung mengalir cepat. Jantungnya berdegup keras. Ada kehangatan aneh menyungkupi dirinya..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.166.189.88
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia