Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

KETIKA dia memasuki Klung-kung, kota itu masih diselimuti embun pagi. Kesunyian pagi dipecah oleh derap kaki kuda yang ditungganginya. Sesampainya di depan pura besar yang terletak dipersimpangan jalan seharusnya dia membelok ke kiri. Tapi karena hari masih terlalu pagi diputuskannya untuk menghangati perutnya dengan secangkir kopi lebih dulu di kedai yang terletak tak berapa jauh dari persimpangan itu.

Meskipun hari masih pagi di dalam kedai sudah penuh oleh pengunjung. Laki-laki yang baru datang ini duduk di tempat yang masih lowong sementara pemilik kedai melayaninya. Beberapa orang tamu memandang kepadanya lalu meneruskan menyantap kue-kue atau menghirup minumannya. Beberapa diantara mereka meneruskan percakapan yang tadi terhenti karena kedatangan pengunjung baru ini.

"Semarak kota Klungkung kini semakin tambah dengan kedatangannya orang baru itu," berkata seorang laki-laki sambil memandang pada cangkir kupinya. Umurnya kira-kira lima puluhan.

"Sudah seminggu ini tentang penduduk baru itu saja yang dipercakapkan orang, termasuk kau." menyahut kawannya.

"Kalau anak-anak muda yang mempercakapkannya itu bukan soal, tapi kau yang sudah tua begini, ampun . . . " Dicabutnya rokok kaungnya dari sela bibir lalu dihembuskannya jauh-jauh.

Laki-laki yang pertama tertawa. Waktu tertawa ini kelihatan gigi-giginya yang cuma tinggal beberapa saja sedang kedua pipinya mencekung kempot. "Kau salah sahabatku. Kecantikan seorang perempuan bukan hak orang muda-muda semata untuk membicarakannya. Kita yang tua-tua inipun tak ada salahnya. Dan anak gadis I Krambangan itu benar-benar cantik luar biasa. Belum pernah aku sampai setua ini melihat yang secantik dia."

"Apakah dia secantik bidadari?"

"Ah sobat!" kata laki-laki tua itu sambil mengelus dadanya, "kau belum bertemu dengan dia. Nantilah .... kalau kau lihat anak gadisnya I Krambangan itu hem ... Kau akan menyesal karena terlalu cepat dilahirkan ke dunia ini hingga ketika dia muncul di Klungkung ini kau sudah jadi seorang tua renta, kakek-kakek peot macam terong rebus!"

Beberapa orang tersenyum-senyum mendengar ucapan itu. Dan orang tua tadi meneruskan lagi kata-katanya sementara tamu yang baru datang, sambil menikmati kopi hangatnya tidak menyia-nyiakan pula untuk memasang telinga.

"Kau tanya apakah dia secantik bidadari. Sobat ... meski aku belum pernah lihat bidadari, tapi aku yakin mungkin dia lebih cantik dari bidadari di kayangan! Kau tahu, kulitnya kuning langsat, potongan tubuhnya besar diatas besar di bawah dan langsing di tengah-tengah. Matanya . . . hem ... pernah kau lihat bintang timur? Sepasang mata anak gadis I Krambangan itu lebih bagus dari bintang timur. Lehernya jenjang, pipinya selalu merah, apalagi kalau kena sinar matahari persis macam pauh di layang. Sepasang alisnya tebal hitam seperti semut beriring, hidungnya mancung kecil macam dasun tunggal. Dagunya seperti lebah bergantung ... pokoknya segala macam oerumpamaan yang diberikan orang cocok melekat pada darinya. Dan kalau dia tersenyum sobatku, hem ... rasa di awan kita melihatnya ..."

"Sudahlah," memotong kawannya. "Habiskan saja kopimu. Kalau kau terus bicara tentang anak gadis I Krambangan itu mungkin lewat tengah hari baru kita sampai ke tempat pekerjaan!"

Setelah kedua orang tua itu pergi, tamu tadi berpikir-pikir. Rupanya tentang kecantikan anak gadis I Krambangan itu sudah tersebar luas sampai ke pelosok kota Klungkung. Jangankan orang-orang muda, orang-orang tua seperti yang dua tadipun masih punya minat untuk membicarakannya. Dia memandang ke luar kedai. Matahari telah agak tinggi. Dihabiskannya kopinya dan setelah membayar harga minuman serta kue yang dimakannya orang inipun keluar dari kedai itu, menunggangi kudanya dengan tidak tergesa-gesa menuju ke selatan.

Di tepi jalan seorang laki-laki separuh baya tengah mengukir sebuah patung di depan rumahnya. Penunggang kuda ini berhenti dan bertanya letak rumah yang tengah ditujunya. Setelah mendapat keterangan maka dia pun melanjutkan perjalanan. Rumah itu kecil mungil. Keseluruhan papannya baru dicat. Baru saja dia berhenti dan turun dari kudanya, pintu muka terbuka, seorang laki-laki berpakaian bersih keluar, ketika melihat orang yang turun dari kuda ini, orang itupun berseru gembira, "Made Trisna!"

"I Krambangan!"

"Sahabat lama! Kedatanganmu laksana dibawa oleh Dewa-dewa di Swargaloka! Bagaimana kau bisa tahu aku tirggal di sini?"

"Secara kebetulan saja. Aku bertemu dengan Ida Bagus Seloka di Denpasar. Dia yang menerangkan bahwa kau pindah dan menetap di sini."

"Oh!." I Krambangan manngut-marggut beberapa kali. "Mari silahkan masuk sahabat. Tadinya aku hendak ke ladang. Tapi biar kubatalkan. Seharian ini kita akan bicara panjang lebar!"

Kedua sahabat lama itupun naik kegatas rumah Setelah bicara panjang lebar ke barat-ke timur maka Made Trisna mengutarakan maksud kedatangannya yang sebenamya.

"Sahabatku I Krambangan, di samping hendak menyambangimu disini, sebenarnya maksud kedatanganku ini membawa pula satu maksud yang sangat baik."

"Gembira sekali aku mendengarnya, Made Trisna," ujar I Krambangan, "katakanlah apa maksudmu yang sangat baik itu."

Setelah batuk-batuk beberapa kali baru Made Trisna membuka mulutnya, "Kau tentu masih ingat dengan Tjokorda Gde Anyer."

"Oh, siapa yang akan lupa pada manusia pemberani itu!"

"Nah justru kedatanganku kemari ini ada sangkut paut dengan dirinya."

"Hem, begitu? Sangkut paut bagaimana, Made?"

"Dialah yang meminta aku ke sini untuk menyampaikan salam hormat."

"Ah, aku yang rendah ini mana berani menerima salamnya?" potong I Krambangan.

"Kau tahu sendiri sifat Tjokorda Gde Anyer. Baginya semua orang sama, tak ada tinggi dan rendah tak ada bangsawan dan rakyat jelata. Nah sahabatku, dia menyuruh aku kemari untuk tolong menyampaikan salam hormat di mana dia berhajat untuk meminang anakmu . . ."

"Maksudmu Ni Ayu Tantri?"

"Tentu! Kau kan tak punya anak lain dari pada si tunggal Tantri itu."

I Krambangan meneguk ludahnya. "Sungguh satu kehormatan luar biasa. Tjokorda Gde Anyer mempunyai hasrat baik untuk melamar anakku. Setahuku dia juga cuma punya seorang anak!"

"Betul namanya Tjokorda Gde Jantra. Parasnya gagah, usianya dua tahun lebih tua dari anak gadismu. Ringkas kata, kalau anakmu dijodohkan dengan dia pasti cocok sekali laksana pinang dibelah dua. Satu bulan satu mentari."

Sejak sepuluh tahun yang lalu I Krambangan tak pernah bertemu dengan Tjokorda Gde Anyer. Sewaktu anak Tjokorda Gde Anyer masih kecil dia memang pernah melihatnya dan menurut pendapatnya anak itu tidaklah gagah parasnya, mukanya senantiasa pucat macam orang sakit, tubuh kurus dan kelakuannya nakal bengal luar biasa. Tapi itu dulu selagi masih kanakkanak. Sekarang sesudah jadi pemuda mungkin sifatnya telah berubah dan parasnya menjadi gagah. Karena I Krambangan lama tak bersuara maka berkatalah Made Trisna,

"Apa lagi yang kau pikirkan, sahabatku? Terima saja lamaran itu. Tjokorda Gde Jantra pemuda gagah anak bangsawan dan kaya raya. Pasti hidup anakmu akan terjamin dan bahagia!"

"Memang betul kata-katamu itu Made," jawab I Krambangan. "Tapi justru mengingat perbedaan darah turunan antara kami dan dialah maka rasanya agak malu juga aku menerima lamarannya itu. Aku rakyat jelata mana mungkin berbesan dengan orang bangsawan, sekalipun sebelumnya sudah saling mengenal."

Made Trisna tertawa. "Sekarang bukan jamannya berpikir sekolot itu, I Krambangan. Apalagi kau ingat sifatnya Tjokorda Gde Anyer yang tak mau membeda-bedakan di antara manusia."

Kembali I Krambangan berdiam diri beberapa lamanya.

Lalu: "Anakku Ni Ayu Tantri berparas buruk. Masakan anaknya Tjokorda Gde Anyer bersedia mengambilnya jadi kawan hidup ...?"

"Kau keliwat merendah, sahabat," kata Made Trisna pula seraya menggulung sebatang rokok kaung. "Kecantikan paras anak gadismu laksana bunga harum semerbak yang dihembuskan angin ke pelbagai penjuru. Pagi tadi sebeLum ke sini aku mampir di sebuah kedai. Dan kau tahu? Pagi-pagi buta begitu tamu-tamu di situ sudah bicara tentang kecantikan paras anakmu. Bayangkan!"

I Krambangan mengusap-usap dagunya, memandang ke arah jalan di mana meluncur sebuah pedati menarik tumpukan kayu-kayu bakar. Suara klenengan sapi-sapi penarik pedati itu terdengar sepanjang jalan.

"Walau bagaimanapun gunjingan orang di luaran tentang diri anakku, tapi Tjokorda Gde Jantra sendiri belum pernah bertemu muka dengan anakku. Jangan-jangan begitu lamaran kuterima, setelah bertemu tahu-tahu pemuda itu kecewa dan menyesal!"

"Kalau dia tak pernah melihat paras anakmu dengan mata kepala sendiri, masakan dia dan ayahnya sampai memaksaku agar datang kemari!" kata Made Trisna pula.

Kembali I Krambangan menelan ludahnya. Akhirnya berkata laki-laki ini. "Beri aku waktu barang seminggu dua minggu untuk merundingkan hal ini bersama istriku. Aku sendiri pada dasarnya setuju, cuma bagaimanapun aku musti minta pula pertimbangan istriku. Di samping itu yang terpenting Tantri pun harus diberi tahu."

Made Tisna manggut-manggut.

"Aku yakin istrimu serta Ni Ayu Tantri menyetujui pinangan yang kusampaikan ini. Dua minggu terlalu lama sobat, biar aku datang minggu depan kemari untuk meminta jawabanmu. Akur..."

"Baiklah Made. Karena istriku sudah menyiapkan hidangan pagi di dalam, marilah kita masuk." Kedua orang itu berdiri lalu masuk ke ruang tengah.

SEPERTI yang dikatakan Made Trisna, satu minggu kemudian dia kembali ke Klungkung menemui I Krambangan untuk meminta kabar atau jawaban mengenai pinangan yang disampaikannya tempo hari. Dia yakin betul I Krambangan akan menerima pinangan Tjokorda Gde Anyer. Begitu sampai di rumah sahabatnya itu langsung Made Krisna menanyakan persoalan.

"Minumlah dulu, Made." kata I Krambangan mempersilahkan sahabatnya. Bila Made Trisna sudah meneguk minuman yang disuguhkan maka I Krambangan baru membuka persoalan.

"Seperti yang kukatakan tempo hari, pada dasarnya aku bisa menerima lamaran Tjokorda GdeAnyer. Bukan saja menerimanya tapi malah menganggapnya itu satu penghormatan yang luar biasa mengingat dia bangsawan kaya raya mau mengulurkan tangan pada keluargaku bangsa rakyat jelata. Ketika kubicarakan pada istrikupun, dia terkejut dan hampir tak percaya. Dan seperti aku, diapun menyetujui lamaran itu. Namun setelah kuterangkan pada Tantri, kita terbentur pada satu persoalan, Made. Hal ini memang sudah kuduga dari semula, yaitu sejak kau mengemukakan lamaran satu minggu yang lalu itu."

"Persoalan apakah yang menjadi halangan itu, I Krambangan?" tanya Made Trisna pula.

"Dua tahun sebelum kami pindah kesini, sebenarnya Tantri telah mempunyai pilihan hati sendiri. Kau tentu mengerti maksud ucapanku ...."

"Maksudmu Tantri telah mempunyai kekasih?"

I Krambangan mengangguk. "Mereka saling mencinta dan sudah punya rencana untuk menikah sesudah Hari Raya Galungan beberapa bulan dimuka. Meski aku orang tuanya, tapi kau tentu dapat memaklumi Made, bagaimana aku tak bisa memaksa Tantri untuk memutuskan hubungannya dengan itu pemuda yang dicintainya. Terlalu besar dosanya memutuskan tali kasih seseorang. Aku kawatir tak akan dirakhmati Dewa-dewa lagi jika aku berani memutuskan hubungan kasih anakku."

Lama Made Trisna termenung. Kemudian berkatalah laki-laki ini, "Kau terlalu banyak kawatir, sahabatku. Masakan Dewadewa di kayangan tidak akan merakhmatimu. Bukankah dengan menikahkan Tantri dengan Tjokorda Gde Jantra berarti kita membuat satu kebajikan dan pahala besar?"

"Itu betul Made. Tapi bagaimana dayaku untuk memutus hubungan Tantri dengan pemuda yang dikasihinya? Aku sebagai orang tua benar-benar tidak tega . . . "

"Apakah kau sudah terangkan padanya bahwa yang melamar adalah Tjokorda Gde Anyer? Apakah kau terangkan pula orang yang bagaimana adanya bangsawan kaya raya itu?"

"Sudah." jawab I Krambangan, "semuanya sudah. Bahkan kubujuk pula anak itu untuk mau menerima lamaran tersebut. Tapi sia-sia belaka, Made."

Untuk kedua kalinya Made Trisna termenung. Setelah saling berdiam diri beberapa lamanya kemudian bertanyalah Made Trisna, "Apakah kau tak melihat cara atau jalan lain agar Tantri menyetujui perjodohannya dengan Tjokorda Gde Jantra?"

"Sudah kutempuh berbagai cara Made. Agaknya memang sukar melembutkan hati yang sudah diberikan pada seorang lain yang dikasihi. Kita harus maklum itu karena kitapun pernah muda ..."'

"Sebagai orang tua, apakah kau tidak merasa itu merupakan satu keingkaran? Menyatakan bagaimana anakmu tidak berbakti padamu ...?"

I Krambangan menggigit bibirnya. Pertanyaan itu merupakan satu pukulan baginya. Tapi dia tersenyum sewaktu menjawab, "Meski aku orang tuanya. Made, tapi aku juga bisa melihat sampai batas-batas mana seorang tua bisa mencampuri urusan pribadi anaknya. Penolakan yang dikemukakan Tantri bukan kuanggap sebagai satu keingkaran atau satu kenyataan bahwa dia tidak berbakti terhadapku. Kurasa siapa saja mempunyai hak untuk mengemukakan pendapatnya mengenai. urusan pribadinya. Apalagi urusan yang menyangkut masa depan. Kukatakan aku dan istriku menyetujui lamaran Tjokorda Gde Anyer. Tapi kita musti sadar pula bahwa bukan aku atau istriku atau kau atau juga Tjokorda Gde Anyer yang akan dijodohkan dan akan menempuh hidup baru berumah tangga itu, tapi Tantri."

"Betul, betul sekali." sahut Made Trisna cepat-cepat karena kata-kata I Krambangan itu menggejolakkan hatinya. "Betul sekali apa yang kau katakan itu, sahabat. Tapi kita musti pula menyadari, dunia ini masih belum terbalik. Kita orang-orang tua mempunyai hak dan kewajiban untuk memelihara anak kita dan kalau sudah besar membuat dia berbakti pada kita, mengikuti apa mau kita karena niscaya orang tua itu tak ada yang berniat mencelakakan anaknya. Dunia masih belum terbalik sahabatku. Masakan kita orang-orang tua musti mengikuti maunya anak kita, justru anaklah yang harus patuh dan mengikuti kemauan orang tuanya!"

"Menyesal sekali, rupanya jalan pikiran kita sedikit berbeda Made," kata I Krambangan. "Bagaimana pun aku tak merasa dunia ini telah terbalik hanya karena aku memberikan hak untuk menentukan kehidupan masa depan pada anakku. Dan aku juga menyadari bahwa memang bukan adat atau pun kebiasaan kita untuk berlaku seperti itu. Tapi harus disadari Made, dunia kita di masa lalu tidak sama dengan dunia orang-orang sekarang. Dunia orang-orang sekarang tak sama pula dengan dunia orang-orang di masa nanti. Segala sesuatunya harus tunduk pada keadaan dan kehendaknya jaman . . . "

"Dimana orang tua-tua tidak mempunyai daya apa-apa lagi terhadap anaknya? Dimana anak-anak sanggup mengatur orang tuanya dan bukan orang tuanya yang mengatur diri mereka? Sungguh lucu jaIan pikiranmu. Jika memang itu pendirianmu, memang sungguh berbeda jalan pikiran kita sahabat. Dan adalah sangat disayangkan kalau kau sampai mau menolak lamaran Tjokorda Gde Anyer. Kau tahu, I Krambangan. Jika perjodohan ini jadi, kau sekeluarga akan dibuatkan sebuah rumah gedung dan disuruh pindah ke Denpasar. Tentang kehidupan masa tuamu tak perlu memikirkan, kau hanya ongkang-ongkang kaki saja karena semua keperluan dijamin oleh Tjokorda Gde Anyer. Tentang anakmu ... dia akan hidup bahagia bersama Tjokorda Gde Djantra!"

"Memang sudah kubayangkan betapa kebahagiaan akan menyelimuti bila Tantri nikah dengan anak Tjokorda Gde Anyer. Tapi aku tak punya daya untuk memaksa Tantri."

Made Trisna menjadi putus asa dan penasaran sekali pada sahabatnya itu. "Kalau aku boleh bertanya," katanya, "siapa gerangan pemuda yang dikasihi oleh anakmu itu? Apakah dia tampan gagah, anak orang bangsawan tinggi, punya sawah ladang berhektar-hektar, punya ternak berkandang-kandang dan punya harta bergudang-gudang, hingga mata dan hati anakmu tak dapat dialihkan kepada yang lain lagi?"

"Pemuda itu bernama Nyoman Dwipa. Dia tinggal di desa Jangersari dan agaknya bagi Tantri, sawah ladang atau ternak atau harta kekayaan itu bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan nilai kasih sayang yang dipadunya dengan Nyoman Dwipa."

Rasa putus asa dan penasaran yang menggelorai hati Made Trisna lama-lama berubah menjadi kejengkelan dan rasa muak yang akhirnya berubah pula menjadi rasa benci terhadap sahabat lamanya itu. Dianggapnya I Krambangan keterlaluan tolol!

"Baiklah I Krambangan," kata Made Trisna seraya berdiri, "kalau begitu putusanmu memang tak bisa aku memaksa. Tapi terus terang kukatakan bahwa sebagai manusia hidup kau terlalu bodoh untuk tidak mau menerima lamaran Tjokorda Gde Anyer."

"Terserahlah kau mau bilang apa, sahabatku," jawab I Krambangan dengan pelahan. "Mungkin aku memang orang tolol. Tapi aku yakin dalam ketololan itu aku berpijak pada kebenaran dan hak pribadi yang tak bisa diganggu gugat!"

Made Trisna memacu kudanya dengan kencang. Hatinya mencaci maki habis-habisan I Krambangan!



***Denpasar sebuah kota besar dan bagus di pulau Bali. Beberapa buah pura besar yang sangat indah bangunannya terdapat di sana. Di tengah-tengah kota terdapat sebuah gedung besar yang atapnya berbentuk candi. Tak ada satu orangpun di Denpasar yang tidak tahu siapa pemilik gedung bagus dan besar itu. Bahkan penduduk yang tinggal di pinggiran kotapun tahu bahwa itu adalah gedung kediaman bangsawan kaya raya Tjokorda Gde Anyer.

Waktu itu hari telah rembang petang ketika Made Trisna dan kudanya sampai di pintu gerbang gedung, langsung masuk ke halaman dalam, dan menemui Tjokorda Gde Anyer. Sebelum dia membuka pembicaraan, Tjokorda Gde Djantra sudah muncul pula hingga dapatlah ia memberi keterangan sekaligus pada kedua beranak itu.

Betapa terkejutnya bangsawan dan anak tunggalnya itu tatkala mendengar penuturan Made Trisna, tatkala mengetahui bahwa lamaran mereka ditolak oleh I Krambangan. Tak perduli alasan apapun yang dikemukakan I Krambangan, yang nyata ini adalah merupakan satu penghinaan besar!

"I Krambangan manusia tak tahu diri! Tak tahu diuntung!" maki Tjokorda Gde Anyer. Lalu dia berpaling pada anaknya dan berkata, "Sudah, kau cari saja gadis lain! Di Denpasar ini, di pulau Bali ini ada ratusan gadis-gadis yang jauh lebih cantik dari anaknya si Krambangan itu, yang turunan bangsawan terpandang, kaya raya!"

Tjokorda Gde Djantra termanggu beberapa lamanya. Mukanya yang senantiasa pucat macam orang mau mati besok, saat itu kelihatan makin tambah pucat! Seperti ayahnya, pemuda inipun merasa terhina. Tapi hatinya benar-benar sudah terpaku pada gadis itu hingga tak mungkin baginya untuk mencari lain gadis seperti yang dikatakan ayahnya.

"Kita sudah diberi malu Djantra!" berkata Tjokorda Gde Anyer. "Kuharap kau jangan memberi malu yang kedua kalinya.

"Tapi ayah aku tak sanggup hidup bersama gadis lain."

"Kenapa tidak sanggup? Sepuluh gadis yang lebih cantik dari si Tantri itu bisa kau ambil jadi istri sekaligus!" Tjokorda Gde Djantra berdiri dari kursinya.

"Walau bagaimanapun aku musti dapatkan gadis itu, ayah. Tidak dengan cara baik-baik dengan jalan burukpun bisa. Rasa malu yang kita terima akan kubalas malam ini juga!" Tjokorda Gde Djantra lantas berlalu dari situ. Tjokorda Gde Anyer dan Made Trisna saling berpandangan. Kedua orang ini sudah bisa menduga apa yang bakal dilakukan oleh Tjokorda Gde Djantra. Dan berkatalah Made Trisna, "Kalau betul itu hendak dilakukan oleh Tjokorda Gde Djantra, kurasa tak ada salahnya. Itu sudah menjadi adat kebiasaan kita di sini."



HARI itu sejak petang lingkungan langit di ataskota Klungkung diselimuti kemendungan. Gumpalan awan hitam datang bergulung-gulung tiada hentinya dari arah barat. Menjelang senja angin keras mulai bertiup, menerbangkan debu di segala pelosok, membuat kota tenggelam dalam udara pengap. Tepat sewaktu sang surya lenyap di ufuk barat maka hujan deraspun turunlah. Suaranya menggemuruh ditimpal oleh deru angin. Setiap telinga yang mendengarnya merasa ngeri. Sekali-sekali menggelegar guntur, berkelebat kilat. Dalam tempo yang singkat parit dan selokan di seluruh kota telah luber oleh air hujan, sungai-sungai kecil banjir menerpa segala apa saja yang ada di sekitarnya. Kadang-kadang hujan itu mereda sebentar lalu turun lagi dengan lebih lebat. Dinginnya udara seperti merembas dan mencucuk sampal ke tulang-tulang sungsum!

Dalam lebatnya curahan hujan, dalam kerasnya deru angin dan dalam gelapnya suasana malam yang sangat dingin itu, dari jurusan timur laksana bayangan setan, kelihatanlah empat penunggang kuda memasuki Klungkung. Sesampainya di persimpangan jalan di depan pura, keempatnya membelok ke kiri tanpa mengurangi kecepatan kuda masing-masing. Air hujan dan lumpur bercipratan di belakang kaki-kaki ke empat binatang itu.

Hampir mencapai ujung jalan, salah seorang penunggang kuda menunjuk ke depan dan berkata, "Yang itu rumahnya! Pergilah, aku menunggu di sini."

Tiga penunggang kuda lainnya segera mengeluarkan sapu tangan-sapu tangan besar yang berwarna hitam dan menutupi paras mereka dengan sapu tangan itu sebatas mata ke bawah kemudian ketiganya segera bergerak ke rumah kecil yang ditunjuk tadi.

Seperti keadaan rumah-rumah di sekitarnya, rumah yang mereka tuju inipun sunyi senyap, tak satu lampupun yang menyala tanda seluruh penghuninya telah tidur nyenyak dalam kehangatan selimut masing-masing. Ketiga orang itu turun dari kuda. Setelah meneliti keadaan sekeliling mereka langsung ketiganya menuju ke pintu depan. Dengan mempergunakan sebuah alat, pintu yang terkunci berhasil dibuka. Hampir tanpa suara sedikitpun ketiga orang itu masuk ke dalam rumah. Mata mereka terpentang lebar-lebar dalam kegelapan. Selangkah demi selangkah ketiganya bergerak.

"Kurasa yang ini kamarnya," berbisik salah seorang dari yang tiga lalu mendahului kawan-kawannya maju ke pintu dan mengintai. Di dalam kamar gelapnya bukan main, tapi matanya yang tajam sanggup juga melihat sesosok tubuh yang terbaring bergelung diatas tempat tidur.

"Biar aku yang masuk," berkata laki-laki bertubuh kurus. Didorongnya daun pintu. Pintu itu mengeluarkan suara berkereketan tapi suara ini tertelan oleh suara hembusan angin deras dan hujan lebat. Dengan dua jari tangan terpentang lurus siap untuk menotok, laki-laki berbadan kurus ini melangkah mendekati tempat tidur.

Tiba-tiba orang yang tidur di atas pembaringan menbalikkan badannya, selimut yang menutupi sebagian wajahnya terbuka dan ketika dia bangun dengan cepat orang ini segera membentak, "Siapa kau?!"

"Keparat! Bukan dia!" rutuk laki-laki yang mukanya tertutup kain hitam sementara dua orang kawannya yang berdiri di ambang pintu berjaga-jaga juga terkejut sekali. Tadinya mereka menyangka orang yang tidur di atas pembaringan itu adalah Ni Ayu Tantri, gadis yang hendak mereka culik. Tapi suara bentakan itu nyata sekali suara laki-laki! Tak dapat tidak yang tidur di situ adalah ayah dari gadis itu!

"Maling rendah! Kau berani masuk ke dalam rumahku!" terdengar lagi bentakan. Itu adalah suara bentakannya I Krambangan yang menyangka manusia yang masuk ke dalam kamar itu adalah maling! Segera laki-laki itu melompat menyambar sebilah parang yang tersisip di dinding. Namun sebelum tangannya mencapai senjata itu satu pukulan menyambar dari samping!

I Krambangan dulunya adalah seorang bekas kepala prajurit kerajaan, dengan sendirinya memiliki ilmu silat yang cukup bisa diandalkan, apalagi kalau cuma menghadapi seorang maling! Mendapat serangan itu dengan cepat dia melompat ke samping, berkelit dan menyusupkan satu tendangan ke dada lawan!

Tapi yang dihadapi I Krambangan bukan "maling biasa". "Maling" itupun ternyata memiliki ilmu silat yang lihay. Dengan mudahnya dia mengelakkan serangan I Krambangan lalu berkelebat cepat dan "buk". Tahu-tahu jotosannya melanda dada I Krambangan.

Orang tua itu mengeluh tinggi. Tubuhnya terhempas ke dinding. Nafasnya sesak dan dadanya sakit bukan main. Tapi karena dia tersandar ke dinding dengan sendirinya dia mempunyai kesempatan baik untuk menyambar parang. Cuma dia masih kurang cepat. Sebelum tangannya berhasil menyentuh benda itu dari kiri kanan dua pasang tangan yang kuat-kuat telah mencekal kedua lengannya. Dia coba berontak tapi tak berhasil. Sesaat kemudian satu pukulan yang amat keras mendarat di keningnya. I Krambangan coba mempertahankan diri berusaha agar tidak jatuh pingsan. Tapi pukulan itu terlalu keras. Lututnya tertekuk dan sewaktu dua orang yang mencekalnya melepaskannya, laki-laki ini terhempas ke lantai tanpa sadarkan diri!

Di kamar sebelah, mendengar suara ribut-ribut itu, dua orang terbangun dari tidur masing-masing. Mereka adalah Ni Ayu Tantri dan ibunya. Biasanya Tantri tidur sendirian di kamar depan tapi karena malam itu ibunya diserang demam panas, si gadis sengaja tidur bersama sekalian untuk menjaga perempuan itu.

"Ada apa, nak ...?" bisik Ni Warda, ibunya Tantri.

"Seperti suara orang berkelahi, bu." jawab Tantri "Kudengar keluhan ayah ... Biar aku lihat keluar."

Ni Warda menarik pakaian anaknya dan berkata gemetar: "Jangan, Tantri. Pasti itu orang-orang jahat. Kalau kau keluar...."

"Tapi ayah bu," ujar Ni Ayu Tantri dengan hati cemas. Dan baru saja gadis ini berkata demikian pintu kamar itu terpentang lebar oleh satu tendangan keras! Ni Warda dan Ni Ayu Trisna menjerit sewaktu melihat tiga orang laki-laki bertutupkan kain hitam paras masing-masing, menyerbu ke dalam kamar itu!

***Baru saja matahari pagi tersembul di ufuk timur, seluruh Klungkung sudah heboh oleh berita yang disampaikan dari mulut ke mulut yaitu bahwa Ni Ayu Tantri, gadis cantik yang belum lama ini pindah bersama ayah dan ibunya telah lenyap diculik orang malam tadi! I Krambangan dan beberapa orang penduduk semalam-malaman itu telah berusaha mencari jejak si penculik, namun sia-sia belaka. Rata-rata penduduk menduga bahwa yang menculik Ni Ayu Tantri itu adalah gerombolan rampok yang bersarang di Bukit Jaratan karena rampok-rampok itu memang selalu mengenakan kain hitam penutup muka bila menjalankan kejahatannya.

Tapi I Krambangan sendiri mempunyai dugaan lain. Bersama dua orang tetangga, dengan menunggangi kuda pagi itu dia berangkat menuju Denpasar. Tak sukar baginya mencari gedung kediaman Tjokorda Gde Anyer. Akan Tjokorda Gde Anyer ketika melihat kedatangan I Krambangan berubahlah parasnya. Tapi seseat kemudian bangsawan ini tertawa lebar dan berkata: "Sungguh tak disangka-sangka kedatanganmu ini, I Krambangan. Mari silahkan masuk."

"Cukup kita bicara disini saja, Tjokorda Gde Anyer. . ."

"Eh, kenapa begitu? Tak pantas sekali seorang yang bakal jadi besanku hanya berdiri ..."

"Jangan bicara segala macam soal besan, Tjokorda Gde Anyer!" potong I Krambangan pula dengan suara keras. "Panggil anakmu! Aku ingin bicara dengan dia!"

Tjokorda Gde Anyer memandang tajam-tajam pada tamunya. "Sobat lama, agaknya satu kemarahan menyelimuti dirimu. Bicaralah dengan tenang tak perlu kesusu. Katakan maksud kedatanganmu, dan maksudmu hendak bertemu serta bicara dengan anakku. Dalam pada itu kuharap kau suka masuk agar kita bisa bicara baik-baik."

Seseorang keluar dari dalam gedung. Parasnya kusut mungkin kurang tidur. Orang ini bukan lain Made Trisna. Dia tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya sewaktu melihat I Krambangan. Namun seperti Tjokorda Gde Anyer tadi, diapun lantas tertawa dan menegur laki-laki itu. I Krambangan tidak perdulikan orang ini melainkan memandang menyorot pada Tjokorda Gde Anyer.

"Agaknya ada sesuatu yang tidak beres, I Krambangan?!" tanya tuan rumah.

"Ya, memang ada sesuatu yang tidak beres! Dan berat dugaanku anakmulah yang menjadi biang ketidak beresan ini!"

"I Krambangan, tuduhanmu agaknya sangat tidak beralasan! Katakan apa yang telah terjadi sampai kau bicara begini rupa!"

"Kurasa kau dan juga Made Trisna sudah tahu apa yang terjadil Aku bisa mengetahui pada pertama kali aku melihat air muka kalian! Tapi tak apa saat ini kalian berkura-kura dalam perahu! Suatu ketika aku akan tahu kedustaan kalian! Dengar, sesudah pinanganmu kutolak secara baik-baik kemarin, malam tadi tiga orang telah memasuki rumahku dan menculik Ni Ayu Trisna!"

"Oh! Lalu saat ini hendak kau tuduhkan bahwa anakkulah yang telah menculik anak gadismu? Sungguh tuduhan yang sangat rendah dan tanpa bukti sama sekali!"

"Memang tuduhanku tidak ada bukti. Tapi aku yakin bahwa anakmulah yang melakukannya! Sekarang katakan dimana anakmu itu?"

"Dia tak ada di sini, I Krambangan."

"Itu satu bukti bahwa memang anakmu ada sangkut paut dengan diculiknya Ni Ayu Trisna!"

"Jangan menuduh sembarangan!" tukas Tjokorda Gde Anyer dengan marah. "Sekalipun lamaranku ditolak apa perlunya anakku menculik anakmu? Sepuluh gadis-gadis yang lebih cantik dari anakmu bisa didapat oleh Tjokorda Gde Djantra!"

I Krambangan menyeringai. "Katakan saja di mana anakmu berada!"

"Sejak siang kemarin dia meninggalkan rumah! Kemana perginya aku tidak tahu. Kalau kau tidak percaya silahkan tanya pada Made Trisna."

"Dengar Tjokorda Gde Anyer!" kata I Krambangan dengan memandang tajam-tajam. "Jika aku mendapat bukti-bukti dan kenyataan bahwa anakmulah yang telah menculik anakku dan terjadi apa-apa dengan diri Ni Ayu Tantri, aku akan bunuh dia! Siapa saja yang berani menghalangi perbuatanku akan kusingkirkan dari muka bumi ini! Termasuk kau dan Made Trisna!"

Habis berkata begitu I Krambangan dan dua orang kawannya memutar tubuh dan segera meninggalkan gedung itu.



DALAM hujan lebat di malam buta itu empat orang penunggang kuda meninggalkan rumah I Krambangan dengan cepat. Dalam waktu yang singkat keempatnya telah meninggalkan kota Klungkung. Di satu persimpangan jalan keempatnya berhenti. Laki-laki bertopeng kain hitam yang membawa sesosok tubuh perempuan di pangkuannya berkata pada tiga orang lainnya, "Kita berpisah di sini."

"Baik Tjokorda Gde Djantra. Hati-hatilah!" sahut salah seorang dari mereka. Bersama dua orang kawannya laki-laki ini segera meninggalkan persimpangan itu sedang yang seorang tadi menyentakkan tali kekang kudanya dan menempuh jalan sebelah kanan. Dua jam lamanya laki-laki ini memacu kudanya tanpa henti. Sewaktu fajar menyingsing dia sampai di sebuah lereng bukit dan memperlambat lari kudanya. Sambil menunggangi kuda tak henti-hentinya dia menundukkan kepala memandang paras jelita dari gadis yang berada dalam keadaan pingsan di pangkuannya. Di puncak bukit laki-laki ini berhenti untuk melepaskan lelah sementara kuda tunggangannya menjilati air empun dan memakan rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar sana. Tak lama kemudian orang itu meneruskan perjalanannya kembali.

Di tepi sebuah telaga berair bening yang terletak dua puluh kilo dari Klungkung dan lima belas kilo dari Denpasar terdapatlah sebuah pondok. Pondok ini buruk dan tak terurus. Tapi karena lantai, dinding dan atap dibuat dari kayu jati, meski tak terurus, keadaannya masih cukup baik untuk ditempati.

Tjokorda Gde Djantra menghentikan kudanya di tepi telaga lalu membawa perempuan yang diculiknya ke dalam pondok, membaringkannya di atas sebuah tumpukan jerami kering yang dibuat demikian rupa hingga merupakan tempat tidur yang cukup nyaman. Dibukanya kain hitam yang menutupi parasnya. Setelah memandangi wajah gadis itu beberapa lamanya dengan seringai di bibir, Tjokorda Gde Djantra keluar dari pondok dan membersihkan diri dalam telaga. Tubuhnya terasa segar bila dia keluar dari telaga. Ketika dia masuk ke dalam pondok didapatinya gadis itu telah siuman dan duduk di tepi tempat tidur jerami tengah memandang berkeliling dengan perasaan takut bercampur heran.

"Kau sudah siuman Tantri ... ?"

Ni Ayu Tantri terkejut oleh suara teguran itu dan memandang ke arah pintu dengan cepat. Dia tak kenal dengan pemuda berparas pucat yang berdiri di ambang pintu itu. Tapi bila dia ingat pada peristiwa malam tadi yakinlah dia bahwa manusia ini pastilah salah seorang dari orang-orang jahat yang menculiknya! Cepat-cepat gadis ini berdiri.

"Kelihatannya kau takut sekali padaku, Tantri." berkata Tjokorda Gde Djantra.

Yang mengherankan Ni Ayu Tantri ialah karena pemuda ini mengenal namanya. Melihat kepada pakaiannya yang bagus kemungkinan dia seorang pemuda bangsawan! Tapi siapa dia dan mengapa telah melakukan penculikan benar-benar tak bisa dimengerti oleh Ni Ayu Tantri sementara rasa takutnya semakin bertambah besar detik demi detik. "

"Siapa kau? Mengapa menculik dan membawa aku kemari?!" tanya Ni Ayu Tantri.

Tjokorda Gde Djantra tersenyum. Meski suara itu bernada keras namun sedap sekali terdengar di liang telinganya.

"Kau tak usah takut Tantri," berkata si pemuda, "kau memang tak kenal aku tapi aku kenal padamu. Kurasa namaku telah pernah kau dengar dalam beberapa hari belakangan ini."

"Aku tak perduli siapa kau. Yang penting aku harus meninggalkan tempat ini dan kembali ke Klungkung dengan cepat!"

"Kau tak akan kembali ke Klungkung Tantri," kata Tjokorda Gde Djantra.

Ni Ayu Tantri terkejut. Rasa takut semakin mencekam dirinya. "Apa ... Aku tak akan kembali ke Klungkung?!" tanyanya.

Tjokorda Gde Djantra tersenyum lalu menganggukkan kepalanya perlahan-lahan. "Kau akan kembali ke Denpasar.

Kerumahku. Dan kita akan tinggal bersama-sama di sana sebagai suami istri yang berbahagia!"

Pucatlah paras Ni Ayu Tantri. Kini tahulah gadis ini dengan siapa dia berhadapan. Tidak bisa tidak pastilah pemuda bermuka pucat ini Tjokorda Gde Djantra, anak bangsawan yang telah ditolak lamarannya satu hari yang lewat! Dan ketika Tantri menyadari apa maksud penculikan yang dilakukan Tjokorda Gde Djantra sesudah lamarannya ditolak itu, merindinglah bulu kuduk Ni Ayu Tantri! Gadis ini menjerit dan coba menerobos ke pintu. Tjokorda Gde Djantra memegang lengan gadis itu dan menariknya ke tengah pondok.

"Tak ada yang harus kau takutkan Tantri," kata pemuda itu. "Seharusnya kau bergembira karena kita akan hidup bahagia! "

"Lepaskan aku!" teriak Tantri seraya menyentakkan lengannya. Tapi cekalan Tjokorda Gde Djantra terlalu keras dan erat untuk bisa dilepaskannya.

"Duduklah dulu ditumpukan jerami itu, Tantri. Biar kita bisa bicara baik-baik ..."

"Aku tak ingin bicara dengan kau! Perbuatan ini keji sekali! Terkutuk!" teriak Tantri.

Tjokorda Gde Djantra tertawa pelahan. "Perbuatanku ini keji dan terkutuk?" ujarnya. "Justru perbuatan pemuda-pemuda Bali yang gagah dan berhati jantan! Justru hal ini dibenarkan oleh adat kebiasaan pulau Dewata ini!"

"Lepaskan aku manusia keji! Lepaskan!" Sambil menjerit Tantri meninju dada pemuda itu berulang kali. Tjokorda Gde Djantra mendorong Tantri keras hingga terbaring di atas tempat tidur jerami lalu cepat-cepat dia menutup pintu dan memalangnya sekaligus! Perlahan-lahan dia melangkah mendekati Tantri yang menjerit-jerit dan ketakutan setengah mati.

"Aku tak mengerti," kata Tjokorda Gde Djantra seraya rangkapkan tangan dimuka dada, "tak mengerti mengapa kau sampai menolak lamaranku ..."

"Manusia keji keluarkan aku dari sini!"

"Kudengar kau sudah mempunyai seorang kekasih, Betul?"

"Itu bukan urusanmu! Keluarkan aku dari sini, Keluarkan!"

"Tak ada gunanya berteriak terus-terusan. Suaramu yang bagus nanti bisa serak, Tantri."

Ni Ayu Tantri melompat ke pintu. Namun usahanya untuk melarikan diri sia-sia saja karena untuk kedua kalinya pemuda bangsawan itu berhasil mencekal lengannya dan mendorongnya kembali hingga terbanting di atas tempat tidur jerami kering.

"Nama pemuda kekasihmu itu Nyoman Dwipa bukan?"

Tantri tak menjawab melainkan menangis dan berteriak-teriak.

"Dengar Tantri," berkata lagi Tjokorda Gde Djantra. "Hidup berumah tangga bersamaku pasti kau akan bahagia dan tidak tersia-sia. Segala keperluan hidupmu kujamin penuh."

"Aku tak perlu semua itu! Tutup mulutmu manusia keji! Keluarkan aku dari sini!"

"Kadang-kadang cinta itu memang membuat seorang menjadi buta dan tolol tak bisa lagi berpikiran sehat. Kau hendak sia-siakan hidup masa depanmu di tangan seorang pemuda desa yang tak punya apa-apa? Kau hendak sia-siakan kehidupanmu yang masih panjang ini hanya karena kasih sayang gilamu ...?!"

"Diam!" jerit Ni Ayu Tantri.

"Kekasihku memang tak punya apa-apal Tapi itu adalah seribu kali lebih baik dari pada kekejian yang kau lakukan ini! Menculik gadis yang tidak sudi kawin dengan kau! Cis! Kau adalah pemuda bangsawan yang paling rendah di atas dunia ini!"

"Sesudah kau kubawa kemari, sesudah kulakukan apa-apa atas dirimu, apakah masih akan menolak nanti untuk kawin denganku?" tanya Tjokorda Gde Djantra pula dengan seringai mengejek.

"Aku lebih baik bunuh diri dari pada kawin dengan kau!" jawab Ni Ayu Tantri blak-blakan!

"Tolol sekali mau mati muda begitu rupa," ejek Tjokorda Gde Djantra lalu melangkah maju.

"Pergi!" teriak Tantri!

"Tantri, kau sudah dewasa. Kenapa bertingkah macam anak kecil? Dengar ... aku tak akan melakukan apa-apa atas dirimu jika kau bersedia menerima lamaranku."

"Lebih baik aku kawin dengan setan dari pada dengan manusia macammu!" jawab Tantri pula seraya mundur menjauhi pemuda itu.

Ucapan yang dilontarkan Ni Ayu Tantri adalah hinaan luar biasa yang tak pernah diterima pemuda bangsawan itu selama hidupnya. Mukanya yang senantiasa pucat pasi mendadak sontak menjadi kelam merah. Mulutnya terkatup rapat-rapat, rahangnya bergemeletukan. Tiba-tiba laksana seekor harimau yang kelaparan pemuda ini melompat ke muka. Kedua tangannya bergerak cepat. Ni Ayu Tantri Menjerit.

"Breet! Breet ...!"

Suara robekan pakaian terdengar beberapa kali berturut-turut. Pekik Tantri mengumandang melengking tinggi. Kemanapun gadis ini berusaha lari dia tak dapat menyelamatkan diri dari keganasan sepasang tangan Tjokorda Gde Djantra yang merobek-robek pakaiannya itu! Dalam waktu yang singkat boleh dikatakan gadis itu sudah seperti tak berpakaian lagi.

Auratnya yang kuning langsat penuh kemulusan tersingkap di mana-mana, membuat darah di tubuh Tjokorda Gde Djantra laksana mendidih!

"Ini kemauanmu sendiri Tantri!" desisnys. "Aku telah memberi jalan baik-baik padamu!"

"Bunuh aku! Bunuh saja!" teriak Tantri. Suaranya sudah serak akibat menangis dan menjerit terus-terusan.

Tjokorda Gde Djantra menyeringai macam setan muka putih. Sekali tangan kanannya mendorong ke muka, Ni Ayu Tantri terpelanting dan jatuh di atas tempat tidur jerami!

"Terlalu gila kalau aku mau membunuhmu,Tantri!" kata pemuda itu dengan mata yang bersinar-sinar penuh nafsu. Ni Ayu Tantri tahu apa yang bakal terjadi atas dirinya. Cepat-cepat dia melompat tapi kembali tangan pemuda itu membuatnya jatuh tertelentang di atas tumpukan jerami!

"Jika kau sudah tidak perawan lagi, kau tak akan bisa menolak kawin denganku, Tantri⁄" Suara Tjokorda Gde Djantra lebih merupakan hembusan nafas panas penuh nafsu dari pada ucapan sebenarnya yang sampai ke telinga Tantri. Gadis ini coba menghantamkan salah satu lututnya ke perut si pemuda tapi Tjokorda Gde Djantra telah menghimpitnya membuat gadis itu tak punya daya apa-apa lagi selain dari pada menjerit parau dan merapatkan kedua pahanya sedapat mungkin! Namun sampai dimanakah kekuatan seorang perempuan menghadapi manusia yang laksana sudah berubah menjadi binatang buas!

Di luar pondok hujan rintik-riptik turun. Hembusan angin dingin dan sayu. Keadaan alam ciptaan Tuhan di sekitar pondok itu laksana meratap menangisi apa yang telah terjadi di dalam pondok.

Ni Ayu Tantri menggeletak di atas tumpukan jerami kering. Tubuhnya yang tak tertutup selembar benang itu tiada bergerak-gerak. Sejak kebuasan menimpa dirinya, gadis ini telah jatuh pingsan.

Di lantai pondok, di samping tumpukan jerami itu, terbaring Tjokorda Gde Djantra dengan tubuh mandi keringat, hidung kembang kempis diburu nafas panas. Perlahan-lahan diputarnya kepalanya ke arah Ni Ayu Tantri. Betapa bagusnya tubuh itu. Betapa luar biasanya kenikmatan yang bisa didapatnya dari kebagusan tubuh itu. Dengan apa yang telah diperbuatnya terhadap Ni Ayu Tantri, bagi Tjokorda Gde Djantra jelas sudah bahwa baik Tantri sendiri maupun kedua orang tuanya tak bakal bisa lagi menolak lamarannya tempo hari.

Memandangi tubuh itu, lama-lama menggejolak kembali rangsangan nafsu bejat di sekujur tubuh Tjokorda Gde Djantra. Ketika dia bangkit dengan pelahan dilihatnya tubuh itu bergerak sedikit. Sewaktu dia berdiri, kedua mata Tantri membuka. Telah sadar dia rupanya dari pingsannya. Dia bangun dengan cepat, memandang pada tubuhnya sebentar lalu ketika sepasang matanya membentur Tjokorda Gde Djantra, dari mulut Ni Ayu Tantri keluarlah pekik yang mengerikan! Tjokorda Gde Djantra sendiri sampai berdiri bulu kuduknya mendengar pekik itu. Sementara dia masih termanggu-manggu antara dipagut kengerian dan dirasuk oleh rangsangan yang mengobari sekujur tubuhnya, tiba-tiba Ni Ayu Tantri melompat ke arah dinding kayu jati.

"Tantri! Jangan!!" teriak Tjokorda Gde Djantra menggeledek. Dia melompat dengan sebat. Tapi nasib! Terlambat sudah!

Kepala Ni Ayu Tantri telah membentur dinding kayu jati itu dengan amat kerasnya. Terdengar suara pecahnya batok kepala perempuan itu. Tubuhnya terkapar ke lantai tanpa berkutik lagi. Meski bunuh diri bukanlah satu perbuatan baik, namun Ni Ayu Tantri telah memperlihatkan bahwa baginya kehormatan dan kesucian diri adalah jauh lebih berharga daripada jiwanya!



DI daerah sekitar Denpasar, Gianyar dan Klungkung tiga rombongan yang masing-masing terdiri dari sepuluh orang telah menjelajah melakukan pencarian terhadap Ni Ayu Tantri yang telah diculik itu. Rombongan pertama dipimpin oleh I Krambangan menyelidik daerah sekitar Denpasar. Rombongan kedua dipimpin oleh Nyoman Dwipa, kekasih Ni Ayu Tantri, menjelajahi daerah Gianyar dan sekitarnya. Rombongan yang terakhir dipimpin oleh Kepala Keamanan Kota Klungkung yang bernama I Gusti Wardana. Telah hampir satu minggu ketiga rombongan itu melakukan penyelidikan namun sia-sia belaka. Pada hari ke delapan I Krambangan dengan putus asa meninggalkan daerah luar kota Denpasar, kembali menuju ke Klungkung.

Dalam perjalanan pulang ini sengaja I Krambangan menempuh daerah sebelah timur laut, menyusur rimba belantara dan kaki-kaki bukit. Udara panasnya bukan main karena matahari bersinar dengan terik. Sewaktu melewati sebuah kaki bukit, I Krambangan melihat kuda tunggangannya menggerak-gerakkan sepasang telinganya. Mulutnya yang berbusah senantiasa tak bisa diam sedang cuping hidungnya bergerak-gerak. I Krambangan tahu betul jika binatang itu berada dalam keadaan seperti itu, ini merupakan suatu tanda bahwa dia tengah membaui air segar.

Mulanya I Krambangan tak mau perduli dengan binatang itu. Lebih cepat kembali ke Klungkung adalah lebih baik baginya. Siapa tahu rombongan yang dipimpin oleh Nyoman Dwipa atau I Gusti Wardana telah berhasil menemukan anak gadisnya.

"I Krambangan," tiba-tiba seorang anggota rombongan yang berada di samping I Krambangan menegur. "Bagaimana kalau kita berhenti dulu untuk istirahat barang beberapa ketika? Kalau aku tidak salah, di sebelah sana terdapat sebuah telaga berair jernih . . . "

Atas ajakan ini akhirnya I Krambangan membawa rombongan ke arah telaga yang dikatakan anggota rombongan tadi. Semakin dekat ke arah telaga, sesuatu bau yang tidak enak semakin santar menyambar hidung setiap anggota rombongan.

"Adakah kalian membaui sesuatu?" tanya I Krambangan.

"Ya. Bau busuk apa ini!" jawab seorang di belakangnya sambil memandang berkeliling. Akhirnya rombongan itu sampai di tepi telaga.

"Hai lihat!" seru seorang di antara mereka. "Ada pondok di tepi telaga sana!"

Memang benar di seberang telaga kelihatan sebuah pondok kayu. Dan dari pondok inilah agaknya santar sekali menyambarnya bau busuk itu. I Krambangan mengernyitkan keningnya. Tiba-tiba selintas pikiran timbul di benak orang tua ini. Dadanya berdebar. Disentakkannya tali kekang kudanya. I Krambangan memacu binatang itu memutari telaga hingga akhirnya sampai di depan pondok. Laki-laki ini melompat turun dari kudanya dan lari ke pintu pondok. Pintu itu tidak dikunci. Ketika didorong segera terpentang lebar dengan menimbulkan suara berkeret yang membuat suasana tambah ngeri terasanya oleh I Krambangan. Begitu pintu terbuka bau busuk menerpa hidung menyesakkan pernafasan laki-laki itu. Sambil menutup hidung I Krambangan masuk ke dalam dan langkahnya terpaku ke lantai pondok sewaktu matanya membentur sesosok tubuh perempuan yang menggeletak di atas lantai.

Hanya seketika I Krambangan terpaku ke lantai laksana patung. Bila ditelitinya paras yang rusak itu terpekiklah dia!

"Dewa Agung!"

I Krambangan melompat dan berlutut di samping sosok tubuh itu. Beberapa orang anggota rombongan kemudian memasuki pula pondok kecil itu dan semua mereka terkesiap ngeri melihat pemandangan di depan mata mereka! Sosok tubuh yang terhampar di lantai pondok bukan lain adalah sosok tubuh Ni Ayu Tantri yang telah jadi mayat. Selain tak selembar benangpun yang menutupi auratnya, tubuh itupun sangat rusak, sudah membusuk bahkan di beberapa bagian sudah ada yang dimakani ulat! Parasnya yang cantik jelita kini hanya merupakan satu benda yang mengerikan untuk dipandang. Keningnya pecah. Seluruh mukanya yang tertutup darah kental beku itu sebagiannya telah busuk. Mata kiri kanan tempat bersarangnya belatung-belatung yang berjalan kian kemari!

"Dewa Agung⁄" rintih I Krambangan yang menundukkan kepala dan mencucurkan air mata karena tak sanggup menyaksikan keadaan anak gadisnya, "dosa apakah yang aku buat, kesalahan apakah yang dilakukan anakku hingga mengalami nasib begini rupa . . ?"

Rintih atau jeritan hati itu tentu saja tidak mendapatkan jawaban. Sebaliknya di lubuk hati I Krambangan seolah-olah muncul sebuah titik merah yang makin lama makin besar, makin besar ... makin besar dan akhirnya berubah menjadi satu kobaran api yang membakar hati dan mendidihkan darah di sekujur tubuhnya! Kemarahan yang menyelimuti dirinya membuat tubuh laki-laki itu bergetar hebat! Rahang-rahangnya terkatup. Geraham-gerahamnya mengeluarkan suara bergemeletukan. Tibatiba berteriaklah I Krambangan laksana geledek dahsyatnya, membuat semua orang yang ada di situ menjadi kaget sekali.

"Tjokorda Gde Anyer! Ini semua gara-garamu! Ini pasti anakmu yang punya perbuatan! Demi Dewa Agung aku bersumpah untuk membunuh seluruh keluargamu! Akan kuhirup darah anakmu yang jahanam itu!"

Bersarnaan dengan berakhirnya teriakan itu, di luar pondok udara tiba-tiba menjadi gelap. Langit mendung. Angin menderu keras. Guntur menggelegar, kilat menyambar dan hujan lebatpun_ turunlah! Keadaan seperti itu seolah-olah delapan penjuru jagat dan Dewa-dewa di Kahyangan telah mendengar teriak sumpah I Krambangan tadi!

***Saat itu memang musim hujan. Dalam keadaan basah kuyup I Krambangan memasuki Denpasar. Di belakangnya kelihatan empat orang laki-laki memacu kuda masing-masing. Sejak dari Klungkung keempat laki-laki itu telah coba menjernihkan hati serta pikiran I Krambangan yaitu agar laki-laki itu mencari penyelesaian menurut jalan wajar. Mereka telah menasihatkan agar perkara tersebut diserahkan saja pada Kepala Keamanan Kota Klungkung yaitu I Gusti Wardana yang sampai saat itu belum kembali dalam memimpin rombongan mencari Ni Ayu Tantri. Tapi dalam keadaan kalap, dalam keadaan darah mendidih amarah bergejolak mana mungkin untuk memberi nasihat pada I Krambangan yang sudah seperti manusia kemasukan setan itu!

Sambil menyisipkan sebilah keris pusaka almarhum kakeknya I Krambangan berkata pada tetangga-tetangga yang ada di hadapannya, "Nyawa dan kehormatan anak gadisku harus dibayar oleh seluruh keluarga Tjokorda Gde Anyer keparat itu! Aku belum puas kalau tidak dapat menghirup darah anaknya yang durjana! Kalian tak usah ikut campur! Ini adalah urusan pribadiku!"

Semua orang segera maklum pasti akan terjadi peristiwa besar. Maka untuk berusaha agar jangan sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan itu, empat orang tetangga telah berangkat pula sengaja mengikuti I Krambangan ke Denpasar. Pintu gerbang besar rumah gedung Tjokorda Gde Anyer terkunci. Tanpa turun dari kudanya I Krambangan menggedor pintu itu. Tak berapa lama kemudian pintu besarpun terbuka. Seorang pelayan laki-laki memunculkan kepalanya.

"Bangsat yang bernama Tjokorda Gde Anyer dan anaknya yang bernama keparat Tjokorda Gde Djantra itu ada di dalam?!" bentak I Krambangan.

Bentakan itu mungkin tak membuat si pelayan kaget. Tapi ucapan I Krambanganlah yang menjadi terkejut. Pelayan ini ingat pada pesan majikannya, maka diapun berkata,

"Sayang sekali, majikanku dan keluarganya pagi tadi telah berangkat ke Tabanan. Beliau berpesan kalau ada tamu agar kembali saja minggu depan."

"Hem . . . begitu pesannya?" ujar I Krambangan.

Pelayan itu menganggukkan kepalanya. Justru saat itu I Krambangan menggerakkan kaki kanannya, menendang dengan sekuat tenaga ke arah kepala pelayan itu. Didahului oleh satu jeritan kesakitan yang luar biasa, si pelayan terpelanting dan roboh tak sadarkan diri lagi! Dengan kaki kirinya I Krambangan menendang pintu hingga pintu itu terpentang lebar.

Di depan tangga langkan gedung kediaman Tjokorda Gde Anyer, laki-laki ini melompat turun. Empat orang laki-laki lainnya melakukan hal yang sama dan berdiri di belakang I Krambangan. Setelah memandang berkeliling dengan mata yang merah laksana dikobari nyala api, maka berteriaklah I Krambangan.

"Anjing busuk yang bernama Tjokorda Gde Anyer keluarlah untuk menerima mampus!"

Tak ada jawaban I Krambangan berteriak lagi, lagi dan lagi sampai berulang-ulang! Sewaktu masih tetap tak ada jawaban maka menggelegaklah kemarahan laki-laki ini. Kakinya bergerak! Pot bunga buatan Cina yang besar dan terletak di langkan itu pecah berantakan dengan mengeluarkan suara berisik. Apapun perabotan yang ada di ruangan muka itu hancur musnah dirusak I Krambangan sementara empat orang kawannya tak bisa berbuat apa-apa, apalagi melarang. Mereka hanya memperhatikan saja dengan hati cemas.

Satu-satunya benda yang masih utuh di ruang depan gedung mewah itu ialah lampu minyak besar yang tergantung di langit-langit. I Krambangan mengambil sebuah kursi yang telah patah-patah dan melemparkan ke arah lampu! Tak ampun lampu itu pecah berantakan, minyaknya tumpah ke lantai! Dan pada saat itu pulalah pintu di sudut kanan terbuka. Seseorang memunculkan diri.

Kemunculan orang ini disambut oleh dampratan I Krambangan, "Tikus kotor Made Trisna! Mana majikanmu si anjing Tjokorda Gde Anyer itu?!"

Paras Made Trisna berubah. Matanya memandang tajam-tajam lalu katanya dengan suara lunak, "Sahabatku, I Krambangan."

"Tikus kotor! Berlalu dari hadapanku, lekas panggil kau punya majikan kalau tidak ingin mampus! "

"Apa-apaan ini sebenarnya I Krambangan? Tak ada pasal lantaran kenapa kau mengamuk di rumah orang ... ?!"

"Keparat laknat! Anakku diculik! Dirusak kehormatannya lalu dibunuh oleh anjing kurap bernama Tjokorda Gde Djantra! Dan kau masih bisa bilang tak ada pasal tak ada lantaran...!"

" Krambangan, kau jangan menuduh yang bukan-bukan!"

"Manusia bedebah! Kau cukup pantas untuk mampus lebih dulu!" teriak I Krambangan. Sambil melompat ke muka keris pusaka di pinggangnya dicabut. Sesaat kemudian secarik sinar putih menderul Itulah satu tusukan cepat yang dilancarkan oleh I Krambangan dengan keris peraknya ke arah leher Made Trisna!

Melihat orang benar-benar meminta nyawanya, Made Trisna cepat-cepat melompat. Serangannya yang mengenai tempat kosong membuat I Krambangan jadi tambah gelap. Cepat laksana kilat dia membalik. Sewaktu I Krambangan hendak melancarkan serangan maut untuk kedua kalinya, maka menggemalah satu teriakan lantang, "Tahan!"

I Krambangan hentikan serangannya dan berpaling dengan cepat.

"Anjing busuk! Akhirnya kau keluar juga dari persembunyianmu!" seru I Krambangan.

Paras Tjokorda Gde Anjer mengelam. "I Krambangan!" katanya menegur, "Apa yang kau perbuat di sini benar-benar membuat aku terkejut!"

I Krambangan mendengus keras.

"Apakah hati anjingmu juga terkejut sewaktu mengetahui anakmu telah menculik dan merusak kehormatan Tantri dan membuhuhnya?!"

"A ... apa?!" seru Tjokorda Gde Anyer terkejut. Dan ini adalah satu kepura-puraan. Sesungguhnya dari Made Trisna dia telah tahu apa yang terjadi atas diri Tantri.

"Anjing! Kau tak perlu berpura-pura! Kalau kau tidak takut atas tanggung jawab yang harus kau pikul perlu apa kau memberikan pesan dusta pada pelayanmu yang terkapar di luar sana?!"

"Aku sedang tak enak badan. Sebab itu kuberikan pesan begitu rupa pada pe ..."

"Sudahlah! Dihadapanku kau tak perlu bicara berpanjang lebar! Bicaralah nanti di liang kubur!"

Habis berkata demikian I Krambangan melompat dan keris perak untuk kesekian kalinya berkiblat mencari maut!

"I Krambangan! Lebih baik kita bicara dengan tenang dulu!" seru Tjokorda Gde Anyer.

"Aku sudah bilang bicaralah nanti di liang kubur!" jawab I Krambangan dan serangannya makin ganas. Di serang bertubitubi begitu rupa Tjokorda Gde Anyer tak bisa berdiam diri saja. Bangsawan kaya raya ini segera mencabut sebilah keris bereluk dua belas dari pinggangnya. Maka sesaat kemudian terjadilah pertempuran yang seru! Baik Made Trisna maupun keempat kawan I Krambangan tak bisa mencegah atau menghentikan pertempuran itu. Akhirnya mereka cuma memperhatikan jalannya pertempuran dengan hati penuh kekawatiran. Pertempuran yang hebat itu sudah dapat dipastikan akan meminta salah satu korban jiwa!

Bagaimanapun hebatnya serangan-serangan Krambangan pada jurus-jurus permulaan pertempuran itu namun sudah dapat dipastikan bahwa Tjokorda Gde Anyer bukanlah tandingannya. Bangsawan ini sewaktu terjadi perebutan kekuasaan di Kerajaan Bali sekitar dua puluh tahun yang lalu adalah seorang perwira Kerajaan yang memiliki kepandaian tinggi. Berkat bantuannya dan beberapa perwira lainlah kaum pemberontak berhasil ditumpas, takhta kerajaan berhasil diselamatkan. I Krambangan sendiri sewaktu pertumpahan darah itu terjadi hanya memegang jabatan sebagai Kepala Prajurit Kerajaan, hingga dengan sendirinya dari kedudukan atau pangkat itu sudah dapat ditaksir ketinggian tingkat ilmu silat masing-masing.

Lima jurus berlalu. Serangan-serangan I Krambangan yang laksana hujan mencurah itu mulai ditanan dan dibendung oleh keris bereluk dua belas di tangan Tjokorda Gde Anver vang nyatanya bukanlah keris sembarangan pula! Dengan senjata itulah dulu kabarnya Tjokorda Gde Anyer menyelamatkan Kerajaan Bali!

Pada jurus kesembilan, dalam satu serangan yang sangat kalap dan membahayakan dirinya sendiri, I Krambangan berhasil melukai bahu kiri lawannya Tjokorda Gde Anyer jadi naik pitam. Kalau tadi dia cuma bertahan dan menunggu kesempatan untuk merampas senjata lawan maka kini diapun tak mau main-main lagi. Keris ditangannya diputar demikian rupa, gerakangerakannya berubah dan dalam satu jurus saja I Krambangan menjadi dibikin sibuk! Berada dalam keadaan terdesak bukan membuat I Krambangan menjadi cemas sebaliknya makin naik darah. Dia sudah bertekad bulat untuk membunuh lawannya itu meskipun apapun yang terjadi. Maka diapun mengeluarkan segala kepandaian yang ada.

Memasuki jurus keduapuluh sembilan I Krambangan benar-benar kalang kabut. Delapan kali saling benturan senjata dengan lawan telah membuat telapak tangannya pedas dan sakit. Melihat pada keadaannya dalam satu dua jurus di muka atau paling lama tiga jurus lagi, laki-laki ini akan menemui kekalahannya!

"I Krambangan, kalau kau menyerah dengan baik-baik, aku bersedia untuk tidak memperpanjang urusan!" berseru Tjokorda Gde Anyer.

"Seluruh keluargamu mampus dulu di tanganku baru aku mau menyerah pada mayat-mayat busuk kalianl" jawab I Krambangan.

Tjokorda Gde Anyer jadi penasaran sekali. Didahului oleh satu bentakan menggeledek dia membuka jurus ketiga puluh dengan satu serangan yang hebat. Serangan ini dinamakan lengan dewa merangkul awan." Mula-mula kerisnya kelihatan menusuk tajam ke arah batok kepala lawan. Ketika lawan menangkis, mendadak lengannya bergerak menghantem ke leher dalam kecepatan yang luar biasa dan sukar diduga. Mana diduga kalau serangan senjata yang dilancarkan oleh tangan kanan, bisa berubah dengan satu pukulan tangan kosong yang lihay!

I Krambangan tau bahwa dia tak punya daya untuk menangkis, tak punya kesempatan untuk mengelak. Karenanya dengan untung-untungan laki-laki ini tusukkan kerisnya ke dada lawan. Tapi posisi Tjokorda Gde Anyer terlalu jauh untuk dicapai oleh tusukan itu! Bahkan baru saja tusukan meluncur setengah jalan, lengan kanan Tjokorda Gde Anyer membabat deras dan "krak"! Patahlah batang leher I Krambangan! Sebelum tubuhnya mencium lantai langkan, nyawanya sudah lepas!

Kalau tadi keempat orang kawan-kawan I Krambangan hanya berdiam diri menyaksikan pertempuran itu dengan kawatir, kini bagaimanapun juga rasa setia kawan membuat mereka menjadi marah sewaktu melihat I Krambangan menggeletak di lantai tanpa nyawa, Tanpa menunggu lebih lama keempatnya menghunus keris dan menyerbu!

Made Trisna tidak tinggal diam pula. Maka kini pecahlah pertempuran empat lawan dua yang teramat seru tapi yang juga berjalan duabelas jurus. Satu demi satu keempat orang itu roboh mandi darah dan mati!



DALAM melarikan kuda hitamnya laksana diburu setan itu, masih terbayang di pelupuk matanya upacara pembakaran jenazah Ni Ayu Tantri. Masih terbayang olehnya upacara pembakaran jenazah I Krambangan. Lalu terbayang olehnya upacara pembakaran jenazah I Krambangan. Lalu terbayang pula bagaimana Ni Warda, istri I Krambangan dengan segala ketabahan dan keberanian yang luar biasa mencebur masuk ke dalam gejolak api di mana jenazah suaminya dibakar!

Berhenti di puncak bukit itu dikeluarkannya sebuah kotak kayu jati yang berukir-ukir dari balik pakaiannya. Sebelum abu pembakaran jenazah Tantri dibuang kelaut, pemuda ini telah memisahkan sebagian abu suci itu dan menyimpannya di dalam kotak yang indah itu. Diciumnya kotak itu dan dibisikkannya kata, "Tantri, aku bersumpah untuk membalas sakit hatimu dan keluargamu! Bila manusia-manusia keji itu berhasil kutumpas, akupun rela untuk menyusulmu!"

Perlahan-lahan dimasukkannya kotak itu ke balik pakaiannya kembali. Ketika tali kekang kuda hitam hendak disentakkannya, matanya melihat seorang penunggang kuda keluar dari hutan, memasuki jalan kecil di kaki bukit lalu memacu kudanya ke arah timur. Entah karena apa timbul kesyakwasangkaan di hati pemuda di atas puncak bukit terhadap penunggang kuda di bawah sana. Dia memandang ke timur. Jika dia bergerak cepat, sekurang-kurangnya dia akan berhasil menyusul orang itu dan menunggunya di tikungan dekat jurang di sebelah timur sana! Setelah mempertimbangkan sebentar niatnya itu akhirnya diletakkannya tali kekang dan larilah kudanya menuju ke timur.

Kira-kira setengah jam kemudian pemuda berkuda hitam itu sudah berada di tikungan jalan. Tikungan itu selain patah tajam juga berbahaya karena di sebelah kirinya terdapat jurang batu yang sangat dalam. Di balik sebuah tebing batu di tepi kanan jalan pemuda ini menunggu dengan sabar sampai penunggang kuda yang tadi dilihatnya lalu.

Kira-kira lewat sepeminum teh telinga pemuda ini mulai menangkap suara derap kaki-kaki kuda di kejauhan. Makin lama suara itu makin jelas dan keras tanda kuda dan penunggangnya sudah tambah dekat. Ketika orang yang dihadangnya itu tinggal beberapa tombak saja, pemuda berkuda hitam keluar dari balik tebing batu.

Orang yang dihadang, seorang pemuda berpakaian bagus, mula-mula tidak menaruh curiga akan kemunculan seorang penunggang kuda di hadapannya. Jalan yang ditempuhnya satu-satu jalan yang menghubungkan Denpasar jengan daerah luar kota. Jadi adalah biasa saja kalau berpapasan dengan orang lain. Namun sewaktu melihat pemuda berkuda hitam itu sengaja berhenti di tengah jalan maka syak wasangkalah hatinya. Pemuda berpakaian bagus itu menghentikan kudanya dalam jarak lima belas langkah.

Keduanya saling pandang sejurus. Pemuda yang berpakaian bagus akhirnya membuka mulut, "Saudara, harap kau suka memberi jalan."

"Saudara! Apa kau tak dengar orang minta jalan!" ujar pemuda berpakaian bagus, berbadan tinggi kurus dan berwajah pucat pasi. Suaranya mulai keras tanda gusar.

"Jalan ini bukan milikku! Silahkan lewat!" kata pemuda berkuda hitam tapi dia sama sekali tidak menepikan kuda tunggangannya!

Melihat ini pemuda berpakaian bagus jadi penasaran dan membentak: "Siapa kau? Apa maksudmu menghadang perjalanan orang!!"

Satu seringai tersungging di mulut pemuda berkuda hitam. "Akui terus terang manusia muka pucat! Kau tentu bangsatnya yang bernama Tjokorda Gde Djantra dari Denpasar!"

Ucapan ini membuat pemuda berpakaian bagus menjadi kaget. Nalurinya memperingatkan agar mulai detik itu dia harus berhati-hati karena memang dia adalah Tjokorda Gde Djantra!

"Katakan dulu kau siapa, baru aku menerangkan tentang diriku!"

Sebagai jawaban pemuda berkuda hitam mencabut sebilah keris bereluk tujuh berwarna coklat tua. Sinar matahari yang terik membuat senjata ini berkilau memancarkan sinar kehitaman!

"Silahkan cabut keris di pinggangmu! Aku yakin kau adalah manusia keji yang bernama Tjokorda Gde Djantra. Aku Nyoman Dwipa kekasih Ni Ayu Tantri! Kau harus serahkan jiwamu saat ini juga sebagai pertanggungan jawab atas apa yang telah kau lakukan terhadap gadisku! Juga atas apa yang telah dialami oleh I Krambangan serta empat orang kawan-kawannya!"

Kejut Tjokorda Gde Djantra bukan alang kepalang. Tapi dia tidak gentar. Dia tertawa gelak-gelak kemudian berkata, "Jadi ini tampang manusia yang mengaku kekasih Ni Ayu Tantri? Ha . . . ha ... ha! Tampangmu boleh juga sobat! Tapi kalau kau punya rencana untuk membunuhku, kau harus berpikir tiga kali sebelum melakukannyal Apakah kau punya kepandaian yang bisa diandalkan? Hidungku membauimu masih bau pupuk! Sebaiknya pulang saja kembali ke desamu, cuci kaki dan tidur! Kalau tidak pasti terlambat sobat!" Dan Tjokorda Gde Djantra tertawa lagi terbahak-bahak!

Nyoman Dwipa kertakkan rahang-rahangnya dan majukan kudanya beberapa langkah.

"Tertawalah sepuasmu manusia keji. Kalau kau sudah mampus hanya setan iblislah yang akan tertawa menyambutmu di liang kubur!"

Tjokorda Gde Djantra mendengus lalu berkata,

"Aku yakin tentu kau berpikir bahwa akulah yang telah menculik dan membunuh kekasihmu itul Semua orang berpikir begitu! Alangkah tololnya! Sungguh kurang ajar sekali menuduh orang lain berbuat jahat tanpa punya bukti-bukti kuat dan nyata!"

"Pemuda keji! Lamaranmu ditolak! Adalah cukup alasan bagimu untuk menculik Ni Ayu Tantri!"

Tjokorda Gda Djantra kembali mendengus dan menjawab,

"Kau kira cuma gadis itu saja yang ada di pulau Bali ini? Sepuluh gadis-gadis lebih cantik bisa kuambil sekaligus untuk jadi istriku, perlu apa aku sampai menculik perempuan tak berguna dan hina dina itu!"

"Jadi kau tidak mau mengaku bahwa kau manusia biang racun yang telah melakukan kejahatan kotor terkutuk itu!"

"Aku katakan padamu sobat! Jangan menuduh sembarangan!" bentak Tjokorda Gde Djantra.

Nyoman Dwipa menggerakkan tangan kirinya ke saku pakaian. Ketika tangan itu keluar lagi kelihatan memegang sebuah benda bundar yang ternyata adalah sebuah kancing baju yang terbuat dari perak.

"Manusia laknat pengecutl Kancing baju ini ditemukan di pondok di tepi telaga. Kancing ini sama bentuknya dengan kancing pakaian yang kau kenakan saat ini! Apakah mulut busukmu masih mau mungkir!'

Tjokorda Gde Djantra terdiam. Kancing perak itu memang kancing pakaiannya yang telah direnggut putus oleh Ni Ayu Tantri sewaktu dia hendak merusak kehormatan gadis itu!

"Kau terdiam dan tampangmu tambah pucatl Sekarang bersiaplah untuk mampus!" teriak Nyoman Dwipa. Tali kekang disentakkannya. Kuda melompat ke muka dan keris berluk tujuh di tangan kanannya berkelebat dengan ganas, mengirimkan satu tusukan ke arah dada kanan Tjokorda Gde Djantra!

"Trang!!!"

Terdengar suara beradunya senjata sewaktu Tjokorda Gde Djantra menangkis serangan lawan dengan keris Bradjaloka bereluk tujuh belas. Bunga api memercik. Di atas punggung kudanya Nyoman Dwipa terkejut bukan main! Daya tangkis lawan kuat luar biasa hingga bukan saja tangan kanannya tergetar hebat tapi tubuhnyapun terhuyung-huyung. Kalau saja tangan kirinya tidak berpegang pada tali kekang kuda mungkin sekali dia terpelanting jatuh! Dan yang lebih mengejutkan serta membuat pemuda ini mengeluh dalam hati ialah sewaktu melihat bagaimana bagian yang tajam dari kerisnya yang cuma bereluk tujuh telah gompal dihantam keris lawan dalam bentrokan senjata tadi!

Mengetahui sampai dimana tingkat kepandaian lawan maka tertawalah Tjokorda Gde Djantra berkakakan seraya melontarkan ejekan,

"Manusia yang ilmunya cuma sedangkal comberan hendak jual lagak besar di hadapanku!"

"Iblis bermuka manusia pucat!" jawab Nyoman Dwipa, "percuma aku menghadangmu kalau tidak dapat mencincang seluruh tubuhmu!"

Tjokorda Gde Djantra ganda tertawa. Dia hendak menangkis lagi sewaktu Nyoman untuk kedua kalinya melancarkan serangan dari depan. Tapi kali ini dia tertipu. Serangan lawannya hanya pancingan belaka. Begitu Tjokorda Gde Djantra menggerakkan tangan untuk menangkis, keris di tangan Nyoman Dwipa berkelebat turun dan membabat ke arah perut!

"Keparat!" maki Tjokorda Gde Djantra. Disentakkannya tali kekang kudanya hingga binatang itu melompat ke depan dan dengari memiringkan tubuhnya pemuda ini berhasil mengelakkan sambaran keris lawannya. Namun Nyoman Dwipa rupanya tidak kepalang tanggung. Dengan amat cepat pemuda ini susulkan satu tendangan kaki kanan!

Masih untung Tjokorda Gde Djantra sempat berkelit. Tapi kuda tunggangannya bernasib sial. Tendangan Nyoman Dwipa mendarat tepat di leher binatang itu. Kuda ini meringkik keras, mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi ke atas dan membuat penunggangnya terpelanting jatuh ke tanah!

Tjokorda Gde Djantra seorang pemuda turunan bangsawan yang telah menuntut ilmu silat dan kebatinan serta kesaktian pada seorang sakti di puncak Gunung Agung bernama Sorablungbung. Di pulau Bali pada masa itu terdapat tiga orang tokoh silat kawakan yang sangat tinggi ilmu silat dan kesaktiannya. Salah seorang di antaranya ialah Sorablungbung, kemudian Walalang Tjarda yang diam di Danau Batur. Karena dia sering mengembara maka jarang sekali dia berada di Danau tersebut.

Tokoh silat ketiga bernama Menak Putuwengi. Sejak sepuluh tahun belakangan ini dua persilatan di Pulau Bali tidak mengetahui ke mana perginya Menak Putuwengi karena tokoh silat yang berumur 70 tahun ini lenyap begitu saja dari dunia persilatan, entah mengundurkan diri entah telah menemui ajalnya. Di antara ketiga tokoh silat itu Menak Putuwengilah yang paling tinggi ilmu kepandaiannya. Senjatanya segala benda apa saja yang berbentuk tongkat, baik beberapa helai lidi atau daun bambu ataupun ranting kering atau besi, bila berada di tangannya pasti akan menjadi senjata yang dahsyat. Karena itulah Menak Putuwengi mendapat julukan Raja Tongkat Empat Penjuru Angin. Pernah sekitar lima belas tahun yang lalu ketiga tokoh itu bertemu di puncak Gunung Tabanan untuk mengadakan pertandingan persahabatan, menguji ilmu kepandaian masing-masing. Dalam pertandingan yang sangat hebat dan dihadiri oleh tokoh-tokoh silat di Pulau Bali maka Menak Putuwengi keluar sebagai jago nomer satu setelah berturut-turut mengalahkan Sorablungbung dan Walalang Tjarda. Setelah lima belas tahun berlalu tak dapat lagi dipastikan siapa sesungguhnya yang lebih hebat karena di samping ketiga orang tokoh itu tak pernah lagi mengadakan pertandingan juga kabarnya Sorablungbung serta Walalang Tjarda telah memperdalam ilmu masingmasing hingga mencapai tingkat yang sangat tinggi. Sebaliknya Manak Putuwengi lenyap begitu saja tak diketahui kemana perginya!

Sebagai salah seorang murid Sorablungbung yang pernah digembleng selama empat tahun, dengan sendirinya Tjokorda Gde Djantra memiliki kepandaian yang tinggi. Dan dibandingkan dengan Nyoman Dwipa yang cuma berguru pada seorang pertapa yang tingkat kepandaiannya jauh berada di bawah Sorablungbung dengan sendirinya Nyoman Dwipa bukan apa-apa bagi Tjokorda Gde Djantra. Tapi karena kurang hati-hati meski tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi Tjokorda Gde Djantra kena juga dihantam lawan meski kudanya yang menjadi korban!

Tjokorda Gde Djantra terpelanting ke tanah tapi berkat ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi dia jatuh dengan kaki lebih dulu dan tetap berdiri. Kemarahan membuat darahnya seperti mendidih.

"Setan alas! Kematianmu tak dapat ditawar-tawar lagi!"

Tjokorda Gde Djantra melompat ke muka, tangan kiri kanam berkelebat cepat dalam satu jurus yang hebat! Nyoman Dwipa terkejut ketika melihat bagaimana kecepatan gerak lawannya membuat tubuh Tjokorda Gde Djantra laksana lenyap. Dia cuma merasakan sambaran angin yang deras dari kiri kanan maka cepat-cepat pemuda ini melompat turun dari kudanya.

"Breet!"

"Buuk!"

Dua suara itu terdengar hampir bersamaan. Yang pertama suara robeknya pakaian Nyoman Dwipa di sambar ujung keris Brajaloka sedang suara kedua ialah suara pukulan dahsyat yang menghantam kepala kuda hitam milik Nyoman Dwipa. Binatang ini rubuh dengan kepala pecah, melejang-lejang beberapa ketika lalu tak bergerak lagi!

"Kudamu sudah duluan, Nyoman Dwipa! Dia akan menunggumu untuk membawa tuannya ke neraka!" ejek Tjokorda Gde Djantra!

Sebenarnya sejak bentrokan senjata pertama kali tadi Nyoman Dwipa telah memaklumi bahwa tingkat kepandaian ilmu silat dan tenaga dalam Tjokorda Gde Djantra bukanlah lawannya. Tapi untuk membatalkan niatnya menuntut balas tentu saja pemuda itu tidak sudi! Lebih baik mati secara jantan dari pada lari atau menyerah secara pengecut!

Dengan mengeluarkan bentakan yang keras Tjokorda Gde Djantra berkelebat ganas. Seperti tadi kedua tangannya bergerak cepat. Nyoman Dwipa bertahan mati-matian. Dalam jurus itu dia berhasil mengelakkan seluruh serangan lawan namun pada jurus berikutnya, satu sampokan yang bertenaga besar sekali membuat dia tak dapat lagi mempertahankan kerisnya! Senjata itu terlepas mental dihantam senjata lawan!

Sambil tertawa gelak-gelak dan sambil melangkah mendekati Nyoman Dwipa yang kepepet ke tepi jurang, Tjokorda Gde Djantra berkata, "Kau akan segera mampus sobat! Dan kau tahu ...? Betapa mengerikannya kematian itu! Kau lihat keris Brajaloka yang terbuat dari emas di tanganku ini? He ... he..! Sebentar lagi sobat! Beberapa detik lagi kau akan segera pergi ke neraka! Ke neraka! Ha . . Ha . . ha ...!"

Tjokorda Gde Djantra mengangkat tangan kanannya yang memegang keris tinggi-tinggi sementara dalam keadaan kepepet ke tepi jurang itu Nyoman Dwipa berusaha mencari jalan agar dapat menyelamatkan diri! Kalau lawan menyerang dia sudah nekat untuk menyerbu ke muka dengan tangan kosong, menarik tubuh Tjokorda Gde Djantra dan sama-sama menghambur masuk jurang! Itu adalah cara yang paling baik menurut Nyoman Dwipa asal saja dia benar-benar bisa melakukannya!

Jarak kedua orang itu semakin pendek dan kini cuma tinggal empat langkah saja lagi. Antara Nyoman dengan tepi jurang di tikungan jalan itu hanya satu setengah langkah saja. Nyoman Dwipa memutuskan untuk tidak mundur lebih jauh. Dia menunggu dengan kedua tangan terpentang dan mata memandang tajam-tajam ke muka, menunggu kesempatan yang ada!

Mendadak Tjokorda Gde Djantra hentikan langkahnya dan kembali dia tertawa gelak-gelak. Bila suara tertawa itu dihentikannya maka berkatalah dia, "Tidak! Aku tak akan membunuhmu dengan keris ini! Kau harus mati dalam kengerian yang luar biasa sobat! He ... he ... he, pernahkah kau memikirkan bagaimana ngerinya bila jatuh ke dalam jurang di belakangmu itu? Kematian menunggumu di batu-batu cadas di bawah sana, tapi selagi tubuhmu melayang menuju detik-detik kemampusan itu kau akan dikungkung kengerian yang luar biasa!"

Nyoman Dwipa menggeram mendengar ucapan dan maksud Tjokorda Gde Djantra yang ganas itu. Dia tak bisa

menunggu lebih lama! Saat itu juga dia harus bertindak! Harus menyerbu merangkul tubuh lawannya walau apapun yang

terjadi! Maka tanpa menunggu lebih lama Nyoman Dwipa segera melompat ke hadapan lawannya. Tjokorda Gde Djantra mendengus. Dengan seringai maut tersungging di mulutnya pemuda ini memukulkan tangan kirinya ke depan! Nyoman Dwipa merasakan satu sambaran angin yang laksana badai hebatnya! Bagaimanapun dia berusaha untuk tidak tersapu angin dahsyat itu tapi sia-sia belaka! Tubuhnya mencelat mental sampai enam tombak untuk kemudian jatuh ke dalam jurang diiringi suara kumandang tertawa Tjokorda Gde Djantra.



DALAM tubuhnya melayang jatuh ke jurang batu itu Nyoman Dwipa pada mulanya memang merasa ngeri sekali! Siapa yang tak akan ngeri menemui ajal apalagi mengetahui bahwa ajalnya akan sampai begitu tubuhnya menghantam batu-batu cadas besar di dasar jurang! Namun bila dia ingat bahwa kematian yang bakal dihadapinya itu adalah kematian secara jantan, ditabahkannya hatinya. Dia percaya pula bahwa rohnya akan berjumpa di alam akhirat dengan roh Ni Ayu Tantri. Kalau di dunia mereka tak punya kesempatan untuk hidup berdampingan, moga-moga di alam akhirat hal itu akan kesampaian.

Makin jauh ke bawah makin cepat jatuhnya tubuh pemuda itu. Di atas jurang masih mengumandang suara tertawa Tjokorda Gde Djantra. Betapapun tabahnya hati Nyoman Dwipa namun ketika sekilas matanya memandang ke bawah jurang, pada batu-batu besar yang cuma tinggal beberapa tombak lagi untuk menghancurkan kepala dan tulang-tulang ditubuhnya, Nyoman Dwipa jatuh pingsan!

Tapi dalam kehidupan ini kerap kali kita dihadapkan pada kenyataan-kenyataan bahwa sebelum ajal berpantang mati. Hal itu pulalah yang terjadi dengan diri Nyoman Dwipa.

Sewaktu tubuh pemuda itu hanya tinggal enam tombak saja lagi dari permukaan sebuah batu cadas yang sangat besar berkelebatlah satu bayangan putih yang dibarengi dengan suara seruan, "Dewa Agung!!!"

Yang berseru ini adalah seorang kakek-kakek tua renta berpakaian putih. Rambutnya yang panjang terurai macam rambut perempuan, janggutnya yang menjela dada serta kumis bahkan kedua alisnya berwarna putih bersih macam kapas. Meski umurnya sudah lebih dari 70 tahun tapi kakek-kakek ini memiliki tubuh yang masih kekar dan kegesitan yang luar biasa. Sewaktu dia melinat sesosok tubuh melayang jatuh ke dalam jurang kejutnya bukan alang kepalang. Dia tidak tahu apakah manusia yang jatuh itu masih hidup atau sudah mati. Meski demikian kakek-kakek ini segera mengangkat kedua tangannya dan mendorong ke atas!

Satu gelombang angin padat bertiup memapasi tubuh Nyoman Dwipa. Untuk beberapa detik tubuh pemuda itu tertahan di awang-awang. Untuk mengurangi kekuatan jatuh tubuh pemuda itu si orang tua menggerakkan kedua tangannya ke kanan. Tubuh Nyoman Dwipa terpelanting ke kanan lalu didorong lagi ke atas dan ketika jatuh kembali ke bawah orang tua itu menyambutnya dengan kedua tangan! Sungguh luar biasa apa yang dilakukan orang tua ini.

Tubuh Nyoman Dwipa dipanggul di atas bahu kanan dan sekali berkelebat orang tua itu sudah lenyap dari pemandangan. Si orang tua membawa Nyoman Dwipa ke dalam sebuah goa batu dan setelah diperiksa ternyata pemuda itu masih bernafas. Kakek-kakek ini mengurut dada dan kening Nyoman Dwipa beberapa kali hingga akhirnya pemuda itu sadar dari pingsannya. Setelah membuka kedua matanya? Nyoman Dwipa kemudian memandang berkeliling. Sekelilingnya ruangan batu yang bersih. Apakah aku sudah berada di alam baka, pikir pemuda ini. Tapi bila matanya membentur tubuh dan paras seorang tua berpakaian putih-putih, berkumis dan berjanggut putih heranlah pemuda ini. Orang tua itu duduk di sebuah batu bundar di tengah ruangan. Kedua telapak tangannya saling dirapatkan di muka dada sedang kedua matanya terpejam. Nyatalah orang tua ini tengah bersemedi.

Tapi anehnya begitu Nyoman Dwipa menyalangkan mata dan memandang terheran-heran berkeliling, tanpa membuka matanya si orang tua berkata: "Orang muda, kau tak usah heran. Kau berada di tempat aman."

"Di manakah saya, bapa? Apa yang telah terjadi dan siapakah bapa ini ...?" tanya Nyoman Dwipa seraya bangun dari tempat tidur yang terbuat dari batu.

Tanpa membuka kedua matanya kembali si orang tua berkata: "Kau berada di tempat yang aman orang muda. Ketika aku berada di dalam goa kudengar suara bentakan-bentakan yang diseling suara tertawa serta suara beradunya senjata di atas. Aku keluar dari goa tepat pada saat kulihat sosok tubuhmu melayang jatuh ke dasar jurang. Selanjutnya Dewa Yang Agung telah menyelamatkan kau dari kematian . . .".

Kini ingatlah Nyoman Dwipa akan apa yang telah terjadi dengan dirinya. Dia bertempur dengan Tjokorda Gde Djantra kemudian didorong dengan satu pukulan dahsyat hingga mencelat mental dan jatuh masuk jurang! Dari ucapan si orang tua berambut putih meski dia tadi mengatakan bahwa Dewa Yang Agunglah yang telah menyelamatkan jiwanya tapi Nyoman Dwipa sadar bahwa orang tua inilah yang telah menolongnya dari renggutan maut. Segera Nyoman Dwipa turun dari tempat tidur batu, melangkah ke hadapan kakek-kakek itu dan berlutut seraya berkata, "Orang tua, aku Nyoman Dwipa menghaturkan terima kasih yang tak terhingga atas budi pertolonganmu. Semoga aku kelak bisa membalas hutang nyawa ini dan semoga Dewa Agung merakhmatimu. Sudilah kau memberi tahu namamu agar sewaktu-waktu aku tidak sukar mencarimu."

Si orang tua tertawa dan menjawab, "Apalah artinya nama? Kita dilahirkan tanpa nama. Apa gunanya menyebut-nyebut segala hutang nyawa karena memang kita manusia ditugaskan Yang Kuasa untuk menolong sesama manusia. Orang muda, cobalah kaus terangkan apa yang telah terjadi atas dirimu hingga kau jatuh dari tepi jurang."

Nyoman Dwipa lalu menuturkan pertempurannya dengan Tjokorda Gde Djantra bahkan diterangkannya juga pangkal sebab pertempuran itu termasuk kematian I Krambangan dan empat orang penduduk Klungkung.

Si orang tua menghela nafas dalam dan untuk pertama kalinya dia membuka kedua matanya. Mata itu sipit sekali macam mata orang Tiongkok tapi menyorotkan sinar yang tajam penuh wibawa!

"Cinta itu pada dasarnya adalah sesuatu yang suci. Tapi nafsu selalu membuatnya menjadi hal yang kotor. Seringkali menusia buta karena cinta, karena kecantikan paras perempuan. Kalau sudah begitu segala sesuatunya yang keji dan kotor bisa terjadi hingga tidaklah aneh lagi kalau manusia tega membunuh manusia lain bahkan sahdara kandungnya sendiri hanya karena cinta."

Nyoman Dwipa termangu diam beberapa lamanya. Kemudian katanya: "Orang tua beritahulah namamu. Sebelum meninggalkan tempat ini kuharap kau suka memberi petunjuk-petunjuk padaku."

"Kau hendak pergi dan kemudian melampiaskan lagi sakit hati dendam kesumatmu itu, Nyoman?"

"Benar, orang tua." jawab Nyoman Dwipa terus terang.

"Kau tak akan kuat menghadapi Tjckorda Gde Djantra," kata kakek-kakek itu pula secara terus terang. "Buktinya pukulan tangan kosongnya saja sanggup mengirimkan kau ke liang maut jika saja Dewa Agung tidak menghendaki agar kau tetap hidup. Kau mungkin tidak tahu siapa adanya Tjokorda Gde Djantra. Dia salah seorang murid Sorablungbung, orang tua sakti yang diam di puncak Gunung Agung."

Terkejutlah Nyoman Dwipa mendengar keterangan itu. Pantas saja dia tak sanggup melawan Tjokorda Gde Djantra. Maka kalau diteruskannya niat untuk membalas dendam dengan tingkat kepandaian yany jauh lebih rendah pastilah akan sia-sia belaka dan diam-diam pemuda ini mengeluh dalam hati. Diangkatnya kepalanya yang ditundukkan dan berkata dengan sungguh-sungguh pada si orang tua.

"Aku yang bodoh ini mohon petunjukmu orang tua."

Kakek-kakek itu tertawa. Sampai saat itu Nyoman Dwipa tidak tahu dengan siapa sesungguhnya dia berhadapan. Kakek kakek berambut dan berjanggut putih itu bukan lain Menak Putuwengi itu tokoh silat yang paling tinggi ilmu kesaktiannya di antara tokoh-tokoh silat lainnya sekitar belasan tahun yang silam!

"Aku tak bisa memberi petunjuk apa-apa padamu Nyoman," kata Menak Putuwengi pula.

Pemuda itu merasa kecewa tapi juga heran ketika melihat dalam berkata itu si orang tua tersenyum. Dan Menak Putuwengi lantas berkata, "Aku cuma bisa mengajukan satu tawaran. Sudikah kau mempelajari permainan silat ilmu tongkat? Bukan aku sombong, dalam tempo dua-tiga bulan saja pasti kau dapat mengalahkan murid Sorablungbung itu."

Bukan alang kepalang gembiranya hati Nyoman Dwipa. Dia menjura dalam-dalam ,dan menjawab: "Tentu saja mau. Kalau kau tak keberatan mulai saat ini aku akan memanggilmu guru. Sekali lagi aku mohon agar kau sudi memberitahu namamu, orang tua..."

"Ah, soal namaku ..." kata Menak Putuwengi, "Sudah sejak belasan tahun dilupakan dunia persilatan di Pulau Bali ini. Biarlah nanti saja kuberi tahu padamu. Nah sekarang mari kita berangkat ..."

"Berangkat kemana guru?" tanya Nyoman tak mengerti.

"Goa ini terlalu sempit dan kurang baik untuk belajar ilmu silat. Kau lihat pedataran tinggi di sebelah, timur sana ....?" ujar Menak Putuwengi seraya menunduk keluar goa. "Disitu lebih cocok tempatnya."

"Baiklah guru", jawab Nyoman Dwipa seraya bangkit dan mengikuti gurunya keluar goa. Ternyata bagian lamping kiri dari jurang tersebut menuju ke sebuah daerah pesawangan yang banyak ditumbuhi lalang lebat. Menak Putuwengi kelihatannya berjalan lenggang kangkung seenaknya. Tapi bagaimanapun Nyoman Dwipa mengerahkan ilmu larinya, tetap saja dia ketinggalan belasan tombak di belakang!

Sesampainya di pedataran tinggi itu, Nyoman Dwipa tercengang-cengang melihat indahnya pemandangan di sekelilingnya.

"Kita mulai saja pelajaran permulaan", kata Menak Putuwengi. "Coba keluarkan dan perlihatkan padaku jurus-jurus ilmu silat yang kau miliki."

Atas perintah gurunya itu maka Nyoman Dwipa mulai bersilat sampai dua puluh jurus.

"Sudah . . . sudah cukup!" seru Menak Putuwengi. "Ilmu silatmu jauh dari pada lumayan. Tapi permulaan yang cukup baik!" Habis berkata begitu Menak Putuwengi lantas mematahkan dua buah ranting pohon. Salah satu diberikannya kepada Nyoman Dwipa seraya berkata, "Pertama kali ini kuberikan kau dasar-dasar ilmu tongkat. Kemudian kau harus melatih diri dalam tenaga dalam dan meringankan tubuh."

Demikianlah, mulai saat itu Nyoman Dwipa digembleng oleh tokoh silat klas satu Menak Putuwengi.



BERDIRI di tepi danau yang dikeiilingi pohon-pohon besar pada siang hari yang panas terik itu membuat pemuda pengelana itu ingin sekali mandi merasakan kesejukan air danau. Sambil bersiul-siul pemuda ini lalu membuka pakaiannya. Sesaat kemudian diapun sudah mencebur masuk ke dalam air danau. Sengaja dia menyelam dalam-dalam lalu muncul lagi dipermukaan air danau untuk bernafas lalu menyelam lagi. Gemikian sampai beberapa kali. Pada kali yang keenarn dia memunculkan kepala di permukaan air danau mendadak sontak berubahlah parasnya oleh rasa kaget yang bukan alang kepalang!

Dari seluruh tepi danau dilihatnya meluncur ular hitam berbelang-belang kuning sebesar betis dan rata-rata panjangnya satu sampai satu setengah meter! Binatang-binatang itu dengan sangat cepat berenang ke tengah danau di mana pemuda berada!

"Gila!" seru pemuda itu lalu kedua kakinya dihentakkan ke bawah. Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang hebat dari dalam air pemuda ini sanggup melesatkan tubuhnya sampai beberapa tombak. Ketika dia berhasil melompat ke daratan cepat-cepat dia hendak mengambil pakaiannya! Tapi untuk kedua kalinya pemuda ini menjadi melengak kaget karena dari balik semak belukar, puluhan ekor ular jenis yang sama telah menyerbunya pula hingga dia tak punya kesempatan untuk mencapai pakaiannya!

Dengan memaki dalam hati pemuda ini melompat ke sebuah pohon. Tapi au! Kakinyamenginjaksesuatu yang bulat dan licin hingga kalau saja ilmu meringankan tubuhnya tidak sempurna pastilah dia akan jatuh! Ketika dia memandang ke bawah, pemuda ini kertakkan rahang karena benda bulat licin yang tadi dipijaknya nyatanya adalah seekor ular hitam berbelang-belang kining. Dan ketika dia memandang berkeliling, seluruh pohon serta pohon-pohon di sekitar tempat itu penuh dengan ular-ular tersebut. Kemanapun dia mernandang, ke pohon-pohon, ke tanah dan ke danau seluruhnya penuh dengan ular! Betul-betul dia tak bisa mengerti dari mana datangnya puluhan bahkan ratusan binatang itu! Dari lidahnya yang bercabang dan berwarna hijau nyatalah bahwa ular-ular itu mengindap racun yang amat jahat. Meskipun dia kebal segala macam racun namun menyaksikan itu mau tak mau merinding juga bulu tengkuknya! Dan menyadari dirinya tanpa pakaian begitu rupa pemuda ini merutuk habis-habisan dalam hati.

Sementara itu dia tak dapat berdiri lebih lama di cabang pohon karena sebentar saja belasan ekor ular telah menyerbunya pula! Tak ada tempat yang kosong lagi untuk tempat berpindah! Sambil melompat turun pemuda ini pukulkan kedua tangannya ke bawah! Angin deras menderu. Puluhan ular mental dan si pemuda berhasil turun di tanah yang kini kosong dari ular-ular itu. Tapi anehnya binatang-binatang yang kena dihantam dan dibuatnya mental tadi sama sekali tidak cedera ataru mati dan dalam waktu yang singkat bersama kawan-kawannya segera menyerbu pemuda itu kembali.

Kini pemuda tersebut segera maklum bahwa binatang-binatang yang dihadapinya itu bukan ular-ular biasa. Mungkin binatang jadi-jadian. Dan binatang apapun ular itu adanya dia musti bisa menyelamatkan diri. Tiga ekor ular hitam berbelang kuning berhasil melilit kakinya. Seekor diantaranya mematuk betis pemuda itu hingga menoeluarkan darah kehitaman bercampur racun yang tertekan ke luar akibat hawa tenaga dalam yang ada di tubuh si pemudar. Sekali dia menggerakkan tubuh rnaka ketiga ular itu berpelantingan. Tapi puluhan lainnya menyerbu lagi dengan dahsyat laksana air bah! Tidak main-main lagi kini pemuda itu pergunakan ilmu pukulan sakti yang sangat diandalkannya. Sepasang tangannya kelihatan putih memerah, sepuluh kuku jarinya mengeluarkan sinar yang menyilaukan!

"Wuus! Wuuss!"

Dua larik sinar putih yang panas menderu dahsyat! Itulah pukulan sinar matahari yang hebat luar biasa! Puluhan ekor ular menemui ajalnya mati terkuntung-kuntung dalam keadaan hangus! Yang masih hidup agaknya marah sekali melihat kematian kawankawan mereka. Binatang-binatang ini dengan mengeluarkan suara mendesis menyerbu si pemuda dan si pemuda menyambutinya dengan pukulan-pukulannya yang dahsyat. Binatang-binatang yang masih hidup bukannya takut tapi malah terus menyerbu dengan kalap sehingga pemuda yang berada dalam keadaan bertelanjang bulat itu menjadi sibuk sekali! Meski suasana mengerikan sekali di tempat itu, tapi melihat si pemuda mencak-mencak telanjang begitu rupa ada juga kelucuannya!

Menurut dugaan si pemuda sudah lebih dari seratus ular yang dibunuhnya tapi yang datang menyerangnya seperti tak ada kurang-kurangnya malah makin lama makin banyak! Dalam pada itu ular-ular yang berjalaran di pohon dengan melilitkan ekorekor mereka di cabang atau di ranting-ranting pohon, bergelantungan menyambar si pemuda hingga si pemuda bukan saja diserang dari bawah tapi juga dari atas!

"Benar-benar edan!" maki pemuda itu seraya percepat melancarkan pukulan-pukulan sinar matahari ke atas dan ke bawah!

Dalam seru-serunya pertempuran antara ular lawan manusia itu tiba-tiba terdengarlah seruan, "Sobat! Bertahanlah terus! Aku akan membantu!"

Baru saja seruan itu berakhir maka disitu muncullah seorang pemuda berpakaian biru. Di tangan kanannya ads seikatan jerami tebal yang ujungnya dibakar. Kobaran api jerami ini membuat puluhan ular hitam berbelang kuning menjadi terbiritbirit ketakutan. Tapi tidak semua binatang itu lari. Puluhan lainnya menyerbu pemuda baju biru ini. Si pemuda menghadapinya dengan tenang-tenang saja. Di tangan kiri pemuda ini ada sebatang tongkat kecil terbuat dari bambu kuning.

Dengan memutar-mutar tongkat kecil itu maka setiap ular yang berani mendekatinya pasti akan mati dalam keadaan tubuh terkuntungkuntung! Hebat sekali permainan tongkat bambu kuning si pemuda hingga dalam tempo yang singkat puluhan ular hitam berhasil dimusnahkannya!

"Hebat!" kata pemuda yang pertama dalam hati lalu menyambar pakaiannya, dengan cepat mengenakannya kemudian bersama-sama pemuda baju biru terus memusnahkan ular-ular yang mengamuk itu. Lebih dari separoh ular hitam berbelang kuning yang ads di tempat itu telah musnah menemui kematiannya. Sementara itu dalam berlangsungnya pemusnahan binatang-binatang tersebut terjadilah perkenalan antara kedua pemuda.

"Namaku Nyoman Dwipa!" kata pemuda pakaian biru seraya sabatkan tongkat bambu kuningnya. Dua ekor ular rubuh dengan kepala pecah. "Darimana ular sebanyak ini! Bagaimana kau sampai diserang mereka?!"

"Aku sedang asyik-asyikan mand!" menerangkan pemuda berpakaian putih. "Ketika menyelam dan muncul di atas air danau kulihat puluhan ekor ular, entah dari mans datangnya berenang menyerangku! Sewaktu aku naik kedaratan ternyata puluhan binatang itu telah menungguku pula disana. Gila betul!"

"Hai kau belum menerangkan namamu sobat!" seru pemuda baiu biru.

"Namaku Wiro Sableng!"

"Kau bukan penduduk sini agaknya!"

"Betul" sahut pemuda baju putih yang bukan lain dari Pendekar 212 Wiro Sableng adanya! "Terima kasih atas pertolonganmu, Nyoman!"

"Ular-ular ini benar-benar gila betul!" seru Nyoman Dwipa yang melihat bagaimana binatang itu masih terus menyerbu mereka dengan beraninya! "Sebaiknya mari kita tinggalkan tempat ini!" Bagaimana Nyoman Dwipa sampai berada di tempat itu baiklah kita tuturkan sedikit.

Sebagaimana yang telah diceritakan, sewaktu jatuh ke dalam jurang Nyoman Dwipa telah diselamatkan oleh seorang kakek-kakek sakti bernama Menak Putuwengi. Orang tua ini kemudian mengambil pernuda itu menjadi muridnya. Setelah tiga bulan lebih menggembleng Nyoman Dwipa maka boleh dikatakan pemuda itu sudah menguasai pelajaran silat ilmu tongkat si kakek cuma tentu saja dia musti banyak berlatih agar mencapai tingkat kesempurnaan. Memasuki pertengahan bulan yang keempat Menak Putuwengi mengizinkan muridnya untuk pergi mencari orangorang yang bertanggung jawab atas kematian kekasihnya dan I Krambangan serta beberapa penduduk Klungkung lainnya. Menak Putuwengi juga memberi nasihet agar pemuda itu jangan terlalu mengikuti nafsu dendam kesumat dan kalau bisa jangan menurunkan tangan maut terhadap siapa pun selagi masih ada jalan penyelesaian yang baik!

Demikianlah maka Nyoman Dwipa dengan bekal ilmu kepandaian yang dipelajarinya dari Menak Putuwengi meninggalkan tempat kediaman si orang sakti yang nyatanya masih hidup, jadi tidak benar seperti yang diduga dunia luaran bahwa kakek-kakek sakti itu telah meninggal dunia. Menak Putuwengi sebenarnya sudah jemu dengan persoalan-persoalan duniawi karena itulah dia mengundurkan diri dari dunia persilatan, membersihkan diri dari dosa dan kesalahan-kesalahan di masa mudanya serta memperdalam ilmu silat, ilmu kesaktian dan kebathinan di dalam goa di dasar jurang itu.

Dalam perjalanannya menuju Denpasar pemuda itu sengaja melewati hutan belantara mengambil jalan singkat agar lebih lekas sampai ke tempat tujuan. Karena melewati rimba belantara itulah maka dia sampai bertemu dengan Pendekar 212 Wiro Sableng!

Mulanya dia merasa heran dan kaget sewaktu menyaksikan seorang pemuda berambut gondrong basah kuyup dalam keadaan bertelanjang bulat bertempur melawan ratusan ekor ular yang sebesar-besar betis. Dilihat pada gerakan-gerakan serta pukulan-pukulan yang dilancarkannya dalam memusnahkan binatang-binatang itu nyatalah dia memiliki kepandaian tinggi. Tapi mengapa sampai bertempur telanjang bul!at begitu rupa?! Nyoman tidak tahu bahwa sewaktu diserang, Wiro tengah mandi dalam danau.

Sebenarnya Nyoman Dwipa maklum bahwa tanpa dibantupun pemuda yang bertelanjang itu pasti akan sanggup memusnahkan semua ular yang menyerbunya. Tapi bukankah lebih baik dia turun tangan menolong seraya mempraktekkan ilmu tongkat yang dipelajarinya dari Menak Putuwengi? Maka setelah mengumpulkan lalang serta jerami kering dan membakarnya dengan tongkat bambu kuning di tangan kiri Nyoman Dwipa menyerbu ke dalam pertempuran binatang lawan manusia itu!

"Wiro! Ayo kita tinggalkan tempat ini!" kata Nyoman Dwipa kembali.

"Tunggu dulu sobat!" sahut Wiro Sableng, "aku mempunyai firasat bahwa ular-ular ini bukan binatang biasa! Mungkin binatang jadi-jadian, mungkin pula ada pemiliknya. Bagaimana kalau kita selidiki sama-sama?!"

Baru saja Wiro berkata begitu maka dari dalam hutan mengumandanglah suara bentakan menggeledek!

"Manusia-manusia kotor dari mana yang berani membunuh binatang peliharaanku?!" Wiro mengeluarkan suara bersiul dan berpaling pada Nyoman Dwipa.

"Nah, apa kataku!" ujarnya.



BEGITU bentakan lenyap maka dari dalam hutan belantara keluarlah seorang laki-laki yang memiliki tampang dahsyat. Kepalanya panjang, kening menjorok ke depan sedang leher kecil singkat. Rambutnya hitam legam tapi cuma sedikit tumbuh di atas batok kepalanya. Kulit mukanya berwarna hitam dan berminyak hingga bila disorot sinar matahari mukanya itu jadi berkilat-kilatl Jika dibandingkan dengan ular, tampang manusia ini memang hampir tidak beda! Dia mengenakan pakaian berbentuk jubah yang terbuat keseluruhannya dari kulit u!ar. Yang dahsyatnya di lehernya melilit dua ekor ular besar yang sudah mati dan dikeringkan!

Begitu sampai di hadapan Wiro Sableng serta Nyoman Dwipa dan melihat puluhan ekor ular musnah berkaparan di mana-mana marahlah manusia yang punya tampang macam ular itu!

"Keparat-keparat laknat! Tentu kalian sudah bosan hidup berani membunuh binatang peliharaanku!"

Sementara Wiro dan Nyoman masih sibuk menghadapi ular-ular hitam berbelang kuning maka manusia aneh itu telah menyerbu dan membagi serangan pada kedua pemuda itu! Wiro dan Nyoman kaget bukan main karena serangan si orang aneh sebelum sampai sudah didahului oleh sambaran angin yang sekaligus mengarah dua belas jalan darah kematian di tubuh pemuda-pemuda itu! Baik Wiro maupun Nyoman Dwipa cepat-cepat melompat menyelamatkan diri!

Siapakah manusia aneh yang baru muncul dari rimba belantara dan mengaku sebagai pemelihara ular-ular yang menyerang kedua pemuda itu? Di Bali namanya belum dikenal karena dia seorang pendatang dari pulau Jawa yang diam-diam menyelusup ke pulau untuk maksud tertentu. Ki Sawer Balangnipa, demikian nama orang ini selain memiliki ilmu silat yang tinggi, juga telah memelihara tiga ratus ekor ular hitam belang-belang kuning yang sangat berbisa! Tentu saja dia menjadi marah setengah mati ketika menyaksikan bagaimana dua orang pemuda tak dikenal berani membunuh binatang-binatang

peliharaannya. Maka dengan serta merta dia melancarkan satu jurus serangan yang dahsyat yaitu yang bernama "dua raja ular menyerbu ke langit". Kehebatan jurus serangan ini sudah kita ketahui di muka yaitu sebelum pukulan sampai, sambaran angin telah mendahului menggempur dua bela: jalan darah kematian di tubuh kedua pemudal Dengan melancarkan serangan hebat itu Ki Sawer Balangnipa bermaksud untuk membuat pemuda-pemuda itu konyol sekaligus detik itu juga! Tapi betapa terkejutnya dia sewaktu menyaksikan bagaimana Wiro dan Nyoman berhasil mengelakkan dua serangannya itu!

Ki Sawer Balangnipa mengeluarkan suara suitan keras yang menyakitkan telinga! Anehnya ular-ular yang ada di situ, mendengar suara suitan itu segera berserabutan lari ke dalam hutan. Ki Sawer Balangnipa berdiri dengan bertolak pinggang!

"Kunyuk-kunyuk bermuka manusia! Nyatanya kalian memiliki ilmu yang diandalkan hingga aku tahu sampai dimana kelebatan kunyuk-kunyuk yang berasal dari Pulau Bali ini!"

Nyoman Dwipa marah sekali mendengar hinaan itu. Tapi Wiro ganda tertawa dan menjawab, "Kawanku ini memang berasal dari Pulau Bali, tapi aku bukan! Soal asal tak perlu dipidatokan di sinil Tapi kalau kau memaki kami kunyuk-kunyuk bermuka manusia, berarti kau sama saja dengan monyet-monyet bermuka setan!". Habis berkata begitu Wiro tertawa berkakan hingga menggetarkan seantero tempat! Sekaligus dia hendak memperlihatkan bahwa suitan yang menyakitkan telinga dari Ki Sawer Balangnipa itu cukup bisa ditandinginya dengan suara tertawanyal Diam-diam Ki Sewer Balangnipa sendiri terkejut melihat kehebatan tenaga dalam si pemuda, tapi dia sama sekali jauh dari gentar!

"Enam puluh tahun hidup baru hari ini ada tikus busuk yang berani menghina Ki Sawer Balangnipa!"

"Ah, nyatanya kau juga bukan orang sini!" ujar Wiro dengan menyengir seenaknya. "Sekarang kau katakan aku tikus busuk, betul-betul keterlaluan! Tapi supaya kau tahu diri memang namamu sesuai dengan tampangmu macam raja ular penyakitan!" (Sawer = ular, bhs. Jawa, pen.)

"Bangsat rendah! Kau benar-benar minta kubikin lumat!"

Tubuh Ki Sawer Balangnipa berkelebat dalam satu gerakan yang hampir tak kelihatan dan tahu-tahu sepuluh jari tangannya sudah mencengkeram ke perut dan ke muka Pendekar 212 Wiro Sableng! Ini adalah jurus serangan yang bernama "sepasang cengkeram kehancuran". Sekali cengkeram itu bersarang di muka Wiro pasti muka pemuda itu akan hancur mengerikan.

Jika perutnya kena direnggut lima jari tangan lainnya pasti akan robek dan ususnya berserabutan keluar! Begitulah kehebatan jurus "sepasang cengkeram kehancuran"!

Pendekar 212 Wino Sableng memang masih muda dalam usia tapi sudah cukup punya pengalaman dalam berbagai pertempuran menghadapi tokoh-tokoh silat kelas satu di pelbagai penjuru rimba persilatan! Sewaktu menerima serangan pertama kali dari Ki Sawer Balangnipa tadi dia sudah maklum bahwa orang tua ini bukan seorang yang bisa dibuat main. Maka dengan cepat pendekar kita berkelit ke samping seraya lancarkan satu tendangan kaki kanan ke arah rusuk lawan!

Melihat dua cengkeramannya yang hebat sanggup dikelit oleh lawan Ki Sawer Balangnipa penasaran bukan main. Di lain pihak Wiro Sableng merasakan adanya satu ancaman yang tersembunyi sewaktu menyaksikan bagaimana tendangannya yang hampir menemui sasarannya itu sama sekali tidak diperdulikan oleh lawan! Mustahil manusia itu tidak mengetahui bahaya yang mengancam dirinya!

Satu detik lagi kaki kanan Pendekar 212 akan mendarat dan menghancurkan tulang-tulang rusuk lawan, Pendekar 212 Wiro Sableng yang punya firasat tidak enak mendadak sontak segera menarik pulang kakinya dan melancarkan satu pukulan tangan kosong yang dinamakan pukulan "kunyuk melempar buah"!

Satu hal yang hebatpun terjadilah!

Adalah satu keuntungan besar bagi Wiro Sableng menarik pulang tendangannya tadi karena di saat yang hampir bersamaan Ki Sawer Balangnipa membab)atkan tepi telapak tangan kanannya ke bawah dengan deras! Bukan saja ini satu pukulan tangan yang amat dahsyat tapi juga diisi dengan kekuatan sakti yang sanggup membuat batu karang paling ataspun bisa hancur lebur! Dapat dibayangkan bagaimana kalau pukulan itu mengenai kaki kanan Wiro Sableng! Karena pukulannya mengenai tempat kosong dengan dendirinya angin pukulan itu terus melanda tanah! Pasir dan batu-batu berhamburan sampai beberapa tombak ke samping dan ke atas. Bumi bergetar dan etika Wiro memandang ke depan dilihatnya bagaimana tanah yang kena angin pukulan lawan berlobtang besar dan berwarna kehitaman! Diam-diam Pendekar 212 kaget juga karena sebelumnya tak pernah ia melihat ilmu pukulan yang begitu hebatnya! Mulai saat itu dia kerahkan tiga perempat tenaga dalamya untuk menghadapi lawan. Dari mulutnya terdegar suara suitan keras dan pada detik itu juga tubuhya lenyap!

Kalau tadi Wiro yang dibikin terkejut oleh serangan hebat lawan maka kini Ki Sawer Balangnipalah yang terkejut bukan main! Didengamya suitan pemuda itu, lalu tubuh si pemuda lenyap dari hadapannya dan sesaat kemudian dirasakannya sambaran angin serangan yang tajam dari kiri kanan!

Ki Sawer Balangnipa melompat mundur sampai lima langkah membentak keras dan maju lagi dalam satu kelebatan cepat menyambuti serangan Pendekar 212 Wiro Sableng!

Nloman Dwipa yang menyaksikan pertempuran diam-diam memuji kehebatan kedua belah pihak yang bertempur. Kalau saja dia tidak mendapat gemblengan dari Menak Putuwengi pastilah matanya akan sakit dan kepalanya akan pusing melihat kelebatan-kelebatan mereka yang bertempur yang hanya merupakan bayang-bayang hitam dari jubah yang dikenakan Ki Sawer Balangnipa dan bayangan putih pakaian Pendekar 212 Wiro Sableng. Kini semakin terbuka mata Nyoman Dwipa bahwa di atas jagat ini banyak sekali terdapat tokoh-tokoh silat berkepandaian tinggi seperti kedua orang itu! Dan diam-diam Nyoman Dwipa membathin apakah tingkat kepandaian Tjokorda Gde Djantra setingkat dengan kedua orang itu. Kalau betul tentu masih bukan suatu hal yang mudah baginya untuk bisa mengalahkan musuh besamya itu dalam tempo sepuluh sampai duapuluh jurus!

Nyoman Dwipa kembali memperhatikan kedua orang yang bertempur. Sementara itu telinganya mendengar lengking siulan yang nyaring luar biasa. Sesudah mengerahkan tenaga dalam dan menutup pendengarannya barulah rasa sakit yang menyamaki gendang-gendang telinganya akibat suara siutan aneh itu menjadi lenyap! Dan di muka sana dilihatnya bagaimana Ki Sawer Balangnipa mulai terdesak oleh serangan-serangan gencar Pendekar 212.

Dalam jurus keempat puluh Ki Sawer Balangnipa mulai menyadari bahwa jika dia terus bertahan dalam posisi demikian rupa naga-naganya paling lama sepuluh jurus lagi pasti dia akan kena dihantam lawannya! Keringat telah membasahi tubuh lakilaki ini, apalagi karena dia mengenakan jubah yang terbuat dari kulit ular yang tak tembus air!

"Pemuda gelo! Jika kau sayang nyawa cepat cabut senjatamu!" tiba-tiba Ki Sawer Balangnipa berseru dan habis berseru demikian dia lepaskan dua ekor ular yang telah dikeringkan dari lehernya! Sepasang binatang yang sudah mati itu, di tangan Ki Sawer Balangnipa tak ubahnya kembali menjadi hidup, menyambar dan meliuk, mematuk dan menjabat ke arah Pendekar 212.

Dari tubuh ular-ular yang sudah dikeringkan itu menghampar bau anyir yang menyesakkan rongga pernafasan sedang dan mulutnya yang membuka menyambar sinar hijau menggidikkan. Itulah sinar racun yang jahat sekali. Menghadapi ini Wiro segera tutup jalan pernafasannya dan berkelebat lebih cepat untuk menghindarkan serangan- serangan sepasang ular kering di tangan lawannya! Sepuluh jurus lagi berlalu. Agaknya Ki Sawer Balangnipa mulai mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat simpanannya kanena kelihatan sekali bagaimana permainan silatnya berubah. Tubuhnya bergerak gesit laksana seekor ular besar, meliuk kesana meliuk kesini!

Pendekar 212 Wiro Sableng mulai berada di bawah angin! Jurus demi jurus dia semakin terdesak ke tepi danau membuat pemuda ini memaki dalam hati.

Dia tengah berpikir-pikir untuk mulai mengeluarkan ilmu silat "orang gila" yang dipelajarinya dari Tua Gila ketika salah satu dari senjata di tangan Ki Sawer Balangnipa menghantam dadanya!

Pendekar 212 menjerit keras! Tubuhnya terjerongkang ke belakang dan kecebur masuk danau!

Dadanya sakit bukan main dan laksana hancur remuk! Pemandangannya berkunang-kunang! Untuk beberapa lamanya dia apungkan diri di permukaan air danau sambil mengerahkan tenaga dalamnya ke bagian yang kena dihantam lawan!

Di lain pihak Ki Sawer Balangnipa adalah hampir tidak percaya akan apa yang disaksikannya. Seorang yang kena digebuk ular kering yang menjadi senjatanya, tak ampun lagi pasti akan menemui kematian dengan tubuh remuk! Tapi kenyataannya pemuda itu masih hidup dan mengapungkan diri di atas air danau!

"Ki Sawer Balangnipa hadapi aku!" satu suara membentak dari samping dan Nyoman Dwipa dengn tongkat bambu kuningnya sudah melompat kehadapan Ki Sawer Balangnipa!

Manusia yang punya tampang seperti ular itu menyeringai mengejek. "Bagus!" katanya, "kaupun minta digebuk! Ayo majulah!"

Nyoman Dwipa bolang-balingkan tongkat bambu kuningnya. Meski tongkat itu kecil saja tapi deru angin yang keluar akibat putarannya deras bukan main. Sinar kuning menjulang panjang hingga diam-diam Ki Sawer Balangnipa segera maklum bahwa lawannya yang kedua inipun bukan orang sembarangan pula!

"Silahkan mulai, Ki Sawer Balangnipa!" kata Nyoman Dwipa pula. Dia sudah siap dengan kuda-kuda pertahanan sambil membolang-balingkan tongkat kecilnya!

"Sialan! Disuruh mulai menyerang lebih dulu malah menantang sombong!" damprat Ki Sawer Balangnipa. Dia maju satu langkah untuk melancarkan sebuah serangan yang dahsyat.

Di saat pertempuran antara Nyoman Dwipa dan Ki Sawer Balangnipa hendak pecah tiba-tiba dari arah danau terdengar seruan keras: "Nyoman! Biar aku teruskan pertempuranku dengan manusia bermuka ular penyakitan itu!" Seruan itu disertai dengan melayangnya kira-kira selusin ular-ular yang telah mati ke arah Ki Sawer Balangnipa! Jika saja laki-laki itu tak lekas menyingkir pasti kepala dan tubuhnya akan dihantam binatang-binatang peliharaannya itu sendiri! Ki Sawer Balangnipa menjadi lupa terhadap Nyoman Dwipa dan membalikkan tubuh dengan cepat melompat ketepi danau. Tenaga dalam dikerahkan seluruhnya ke tangan kanannya dan sekali dia menyapukan ular di tangan kanannya itu, maka menderulah satu gelombang angin yang deras ke arah Pendekar 212 Wiro Sableng yang mengapung di tengah danau! Air danau muncrat sampai setinggi delapan tombak dilanda derasnya pukulan tangan kosong tersebut tapi Wiro sendiri saat itu sudah melesatkan tubuhnya ke tepi danau sebelah kiri. Dadanya sebenamya masih sakit tapi karena-yakin bahwa dirinya tak mengalami luka di dalam maka begitu sampai di daratan pemuda itu berseru lantang, "Muka ular! Terima pukulanku ini!"

Terlalu cepat bagi Ki Balangnipa untuk bisa melihat pukulan apa yang dilepaskan lawan tahu-tahu "wuus" satu larik sinar putih yang panas dan menyilaukan matanya menerpa dahsyat ke arahnyal Manusia yang mukanya seperti ular itu berseru keras lalu melompat cepat-cepat ke samping kanan. Tapi tak urung ular kering yang ditangan kirinya masih tempat disambar pukulan sinar matahari yang dilepaskan Wiro Sableng hingga senjata itu hancur lebur dan hanya bagian ekornya saja yang masih tergenggam dalam tangan kiri Ki Sawer Balangnipa!

"Keparat rendah!" maki Ki Sawer Balangnipa marah luar biasa hingga sepasang matanya laksana api berkobar! Selagi Pendekar 212 Wiro Sableng belum menjejakkan kedua kakinya di tanah, dia segera melancarkan serangan balasan yang tak kalah hebatnya!

Tangan kiri dipukulkan ke depan. Satu gelombang angin menggebu laksana topan, siap untuk menyapu dan menghancur leburkan tubuh Pendekar 212. Yang dilepaskan Ki Sawer Balangnipa adalah pukulan sakti yang sangat diandalkannya dan yang jarang sekali dikeluarkannya jika tidak menghadapi lawan yang teramat tangguh! Itulah pukulan yang bernama "sejagat baju".

Jangan kata manusia, batu karangpun jika dihantam pasti akan hancur jadi debu! Serangan yang dilancarkan Ki Sawer Balangnipa tak kepalang tanggung karena sehabis memukul itu tubuhnya melesat ke depan dan menyusul serangan pertama tadi dengan serangan ular kering di tangan kanannya yang menderu ke arah batok kepala Pendekar 212 Wiro Sableng!

Pukulan "sejagat baju" membuat tubuh Wiro Sableng tak dapat melayang turun menjejak tanah Betapapun dia mengerahkan tenaga dalamnya serta memukul ke muka dengan ilmu pukulan "dinding angin berhembus tindih menindih"

tetap saja tubuhnya tersapu sampai delapan tombak! Jika dia tak cepat membuang diri ke samping dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi, pastilah dia akan menghantarn pohon besar di belakang sana! Pukulan sejagat baju melanda pohon besar itu dan pohon-pohon serta semak belukar di sekitarnya, membuat semuanya itu tumbang dan tersapu sampai sepuluh tombak lebih dengan mengeluarkan suara berisik luar biasa. Air danau yang turut terserempet pukulan tersebut muncrat setinggi dua tombak!

Setelah jungkir balik dua kali berturut-turut Wiro Sableng berhasil mencapai tanah dengan kedua kaki lebih dahulu. Nafasnya sesak, tulang-tulang di sekujur tubuhnya serasa tanggal sedang dari sela bibirnya kelihatan darah kental! Pemuda ini ternyata telah terluka di dalam! Cepat-cepat Wiro menelan butir pil merah lalu duduk tak bergerak, meramkan mata mengatur jalan nafas dan tenaga dalam serta mengalirkan hawa sejuk dari pusarnya ke dada!

Ki Sawer Balangnipa tertawa gelak-gelak sambil mendekati Wiro Sableng. "Ha! ha! Sekarang kau baru tahu kehebatan Ki Sawer Balangnipa! Nah selamat jalan ke neraka, budak hina dina!"

Ki Sawer Balangnipa mengangkat tongkat ularnya tinggi-tinggi lalu dihantamkan secepat kilat ke arah batok kepala Pendekar 212 Wiro Sableng!

"Pengecut! Beraninya menyerang lawan yang sudah tak berdaya!".

Satu bentakan menggeledek dan selarik sinar kuiing menderu menangkis ular kering di tangan Ki Saver Balangnipa. Itulah tongkat bambu kuningnya Nyoman Dwipa. Pemuda ini ketika menyaksikan bagaimana Ki Sawer Balangnipa hendak menamatkan riwayat Wiro Sableng dalam keadaan pemuda itu tak berdaya, menjadi sangat geram dan menyerbu ke muka! Namun sebelum tongkat bambu kuning di tangan Nyoman Dwipa saling beradu dengan ular kering di tangan kanan Ki Sawer Balangnipa, terdengar suara menggembor yang disusul dengan bentakan lantang.

"Siapa bilang aku tak berdaya, Nyoman!"

Dan "wuut"!

Selarik sinar putih yang amat menyilaukan serta panas berkelebat diiringi suara mengaung macam ratusan tawon mengamuk!

Dan "cras"!

Terdengar kemudian pekik setinggi langit keluar dari mulut Ki Sawer Balangnipa. Tangan kanannya sebatas pergelangan lengan buntung dan memuncratkan darah! Telapak dan jari-jari tangan yang masih memegang ular kering tadi, kelihatan mental ke udara lalu jatuh ke dalam danau, membuat air danau di tempat jatun berwrrna kemerah-merahan oleh darahl Apakah yang telah terjadi?

Sewaktu Ki Sawer Balangnipa siap untuk menamatkan riwayat Wiro Sableng, sebelum Nyoman Dwipa sempat menangkis senjata Ki Sawer Balangnipa maka Wiro sableng yang duduk diam mematung itu tiba-tiba membuat gerakan cepat luar biasa, mencabut Kapak Maut Naga Geni 212 dan membabat ke depan! Maksudnya cuma hendak menabas senjata lawan tapi tak terduga serangannya itu justru membuat buntung pergelangan Ki Sawer Balangnipa! Laki-laki ini menotok jalan darah di bahu kanan hingga darah berhenti memancur!

"Pemuda keparat! Kali ini kau menang! Tapi lain ketika jangan harap kau bisa hidup jika aku muncul kembali di depan hidungmu!" Habis berkata begitu Ki Sawer Baangnipa berkelebat dan lenyap di jurusan timur danau!

Wiro Sableng masukkan Kapak Naga Geni 212 ke balik pakaiannya lalu berdiri dengan perlahan-lahan. Nyoman Dwipa memegang bahunya.

"Kau tak apa-apa, Wiro?"

"Aku terluka di dalam," jawab Wiro mengaku terus terang, "tapi tak begitu berbahaya. Manusia itu hebat sekali ilmu pukulannya!"

"Tapi kau jauh lebih hebat!" kata Nyoman Dwipa pula. Dan dalam hati pemuda Bali ini menyadari sepenuhnya kalau saja dia yang berhadapan dengan Ki Sawer Balangnipa pasti akan lebih cepat dirobohkan, bahkan mungkin akan memenuhi ajal secara mengenaskan!

"Aku kebetulan lewat di sini dan mendengar suara ribut-ribut. Ketika kuselidiki kutemui kau mencak-mencak telanjang bulat melawan puluhan ular!"

Wiro tertawa sambil garuk-garuk kepalanya yang berambut basah. Kedua orang pemuda itu lalu menuturkan riwayat masing-masing. Wiro Sableng geleng-gelengkan kepala mendengar cerita Nyoman dan berkata, "Hebat sekali riwayatmu, Nyoman. Juga menyedihkan. Manusia macam Tjokorda Gde Jantra itu memang patut dihajar Sayang aku ada urusan yang perlu diselesaikan dengan cepat Kalau tidak pasti aku akan seiring denganmu. Tapi begitu urusanku selesai aku segera akan menyusulmu, Nyoman! Ingin sekali aku melihat tampangnya itu pemuda yang bernama Tjokorda Gde Jantra!"

"Terima kasih yang kau ada perhatian terhadap urusanku, Wiro," kata Nyoman Dwipa pula.

Wiro Sableng sekali lagi mengucapkan terima kasih dan kedua sahabat baru itu saling menjura lalu berpisah.



SEPERTI telah dituturkan untuk mempercepat sampai ke Denpasar, Nyoman Dwipa sengaja menempuh rimba belantara. Menjelang tengah hari dia sampai ke kaki sebuah bukit. Bukit itu jarang didatangi manusia bahkan lewat di sanapun boleh dikatakan tak ada yang berani karena dibukit itulah bersarangnya gerombolan rampok yang dipimpin oleh seorang bernama Warok Gde Jingga. Sebenarnya nama asli orang itu adalah Warok Jingga saja. Namun kemudian ditambah di tengah-tengah dengan kata "Gde".

Bagi Nyoman Dwipa, bila dia mengelakkan bukit itu berarti memperpanjang perjalanannya selama setengah hari. Meskipun dia sendiri tahu bagaimana besarnya bahaya jika mendaki bukit tersebut namun karena ingin cepat-cepat sampai ke Denpasar dan ingin cepat-cepat melunaskan sakit hati dendam kesumat yang telah diindapnya selama beberapa bulan di lubuk hatinya, maka pemuda itu dengan tekat bulat sengaja menempuh bukit tersebut.

Beberapa jam kemudian dia sudah sampai kelereng bukit sebelah selatan. Sekurang-kurangnya menjelang magrib dia pasti sudah sampai ke kota tujuannya. Dia harus memasuki satu rimba belantara sebelum mencapai kaki bukit di mane membujur jalan yang menuju ke Denpasar. Hatinya gembira karena sampai saat itu nyatanya dia tak mengalami kesukaran apa-apa dalam menempuh Bukit Jaratan yaitu bukit tempat bersarangnya gerombolan rampok Warok Gde Jingga.

Sewaktu Nyoman Dwipa telah menempuh tiga perempat bagian dari rimba belantara itu, mendadak di sebelah muka di dengamya suara bentakan-bentakan dan suara beradunya senjata. Tak dapat tidak itu pastilah suara orang yang tengah bertempur. Pemuda ini percepat larinya. Tak diperdulikannya lagi bagaiman baju birunya dikait semak belukar. Tepat di kaki bukit, di tepi jalan besar kelihatanlah satu pemandangan yang hebat!

Empat orang laki-laki berpakaian prajurit-prajurit klas satu tengah bertempur mengeroyok seorang perempuan berpakaian dan berkerudung kain hitam. Di tepi jalan sebelah sana berdiri seorang pe-empuan tua dengan tubuh mengigil sedang dibelakangnya, di tepi jalan berhenti sebuah kereta. Di bagian depan kereta, seorang kusir tua duduk dengan paras pucat pasi!

Perempuan yang parasnya ditutup dengan kain hitam itu gerakannya gesit sekali. Pedang perak di tangan kanannya berkelebat kian kemari, menangkis serangan-serangan golok panjang ke empat pengenyok bahkan juga sekaligus balas menyerang dengan gencarnya!

Namun betapapun hebatnya ilmu pedang perempuan itu, lawan-lawan yang dihadapinya adalah prajurit-prajurit klas satu yang berkepandaian tinggi. Ketika Nyoman Dwipa datang mereka telah bertempur lebih dari sepuluh jurus dan si baju hitam berada dalam keadaan terdesak yang cukup membahayakan keselamatannya!

"Breet"!

Tiba-tiba salah satu ujung golok panjang berhasil nembabat putus buhul kain hitam yang menjadi kerudung si baju hitam! Kini kelihatanlah paras di balik kerudung itu! Jangankan Nyoman Dwipa, keempat prajurit yang bertempurpun terkesiap saking tidak menyangka kalau paras di balik kerudung itu nyatanya adalah paras seorang dara yang jelita dan paras itu kelihatan pucat akibat sambaran senajata lawan yang hampir saja membelah batok kepalanya!

Salah seorang prajurit melompat ke muka dan berseru, "Dara hina dina! Kalau kau tak segera mengembalikan patung itu, jangan harap kau akan melihat matahari tenggelam sore nanti!"

Dara jelita berpakaian hitam mendengus dan meludah ke tanah! Sebagai jawaban dia kiblatkan pedang peraknya hingga pertempuran kembali berkecamuk! Tapi kali ini seperti tadi, lagi-lagi si baju hitam berhasil di desak, bahkan kini agaknya ke empat prajurit itu tak mau memberi hati lagi sehingga nyawa sang dara benar-benar terancam!

Meski dia tak ada sangkut paut dengan pertempuran yang berkecamuk itu, tapi Nyoman Dwipa merasa kasihan dan tidak tega kalau sang dara berbaju hitam sampai mendapat celaka di ujung golok-golok ke empat lawannya. Dari balik semak-semak di mana dia bersembunyi mengintai pertempuran itu, Nyoman melompat ke tengah kalangan pertempuran seraya berseru,

"Hentikan pertempuran!"

Karena suara itu disertai aliran tenaga dalam maka kerasnya mengumandang ke seantero rimba. Keempat prajurit berpaling terkejut dan kemudian menjadi marah melihat seorang pemuda tak dikenal mengganggu serta mencampuri jalannya pertempuran!

Salah seorang dari mereka memberi isyarat agar tak usah memperdulikan Nyoman Dwipa. Maka keempatnya kemudian kembali hendak menyerbu si gadis baju hitam. Tapi betapa terkejutnya mereka ketika melihat kenyataan bahwa dara itu tak ada lagi dihadapan mereka, sudah lenyap melarikan diri tatkala perhatian mereka tertumpah pada Nyoman Dwipa! Dengan sendirinya kemarahan keempat prajurit itu tertuju pada diri Nyoman Dwipa kini! Maka langsung saja tanpa banyak bicara mereka kiblatkan golok panjang menyerang pemuda itu!

Karena sudah menyaksikan kehebatan permainan golok keempat orang prajurit itu Nyoman segera pula bertindak cepat. Golok pertama yang datang menusuk ke dadanya dikelit sigap dan tahu-tahu lima jari tangan kirinya yang dilipat sudah menyelinap ke mukal Prajurit itu berseru kesakitan! Goloknya terlepas sedang sambungan sikunya putus dihantam pukulan Nyoman Dwipa. Sementara tiga orang prajurit lainnya terkesiap melihat peristiwa itu, Nyoman Dwipa dengan cepat menyambuti golok yang jatuh. Lalu dengan golok itu Nyoman membabat golok-golok di tangan ketiga lawannya hingga satu demi satu bermentalan di udara!

Keempat prajurit itu kagetnya bukan alang kepalang! Tapi dalam hati mereka memaki habis-habisan. Bahkan salah seorang dari mereka secara blak-blakan berkata dengan suara keras penuh amarah.

"Pemuda tak tahu diri! Ada sangkut paut apakah kau dengan gadis bedebah itu hingga mencampuri urusan orang lain?!"

Prajurit yang kedua membuka mulut pula, "Tahukah kau siapa kami dan siapa gadis berbaju hitam tadi?!"

"Aku memang tak ada sangkut paut apa-apa." jawab Nyoman Dwipa tenang. "Juga tidak tahu siapa kalian, apalagi gadis yang kabur itu!"

"Tindakanmu ceroboh lancang! Tak tahu diri! Akibatnya bedebah itu berhasil merampas dan melarikan patung emas yang kami bawa!"

"Patung emas?!" ujar Nyoman.

"Ya, patung emas! Dan kau musti menggantinya! Kalau tidak kau kami tangkap dan clihadapkan pada Adipati Surabaya untuk menerima hukuman!" kata prajurit yang lain.

"Jadi kalian adalah prajurit-prajurit Kadipaten Surabaya?" tanya Nyoman.

"Tak usah banyak tanya! Lekas serahkan dirimu!"

"Sobat, sebaiknya kau terangkan dulu asal musabab sampai kalian mengeroyok gadis itu. Jika memang dari keteranganmu nanti aku telah melakukan kesalahan, percayalah aku akan menebus kesalahanku itu."

Salah seorang dari keempat prajurit lalu mem berikan keterangan. Mereka adalah utusan dari Kadipaten Surabaya yang berangkat menuju ke Bali untuk melamar seorang gadis anak bangsawan yang tinggal di Denpasar. Sebagai bawaan, Adipati Surabaya telah memberikan sebuah patung emas untuk diserahkan pada keluarga si gadis sebagai tanda penghormatan. Setelah menyeberangi lautan, sesampainya di Bali mereka melanjutkan perjalanan dengan kereta. Perempuan tua yang ikut bersama keempat prajurit itu adalah orang yang bakal menyampaikan lamaran Adipati Surabaya kepada si gadis.

Sebagai orang asing tentu saja mereka tidak mengetahui bahwa bukit Jaratan dan daerah sekitarnya adalah tempat malang melintangnya gerombolan rampok yang dikepalai oleh Warok Gde Jingga. Ketika mereka lewat di kaki bukit di sepanjang tepi hutan, mereka telah dicegat oleh seorang perempuan berkerudung kain hitam. Kusir kereta yang pernah mendengar tentang ciriciri perempuan itu segera memberi tahu bahwa dia adalah Luh Bayan Sarti, adik kandung kepala rampok Warok Gde Jingga yang sangat ditakuti! Luh Bayan Sarti masih gadis. Karena memiliki ilmu silat yang tinggi maka dia selalu melakukan kejahatan seorang diri. Rupanya rampok betina ini sudah mencium bahwa rombongan utusan Adipati Surabaya itu ada membawa benda berharga. Maka begitu dia melakukan penghadangan dengan cepat dia menerobos masuk ke dalam kereta dan berhasil merampas patung emas! Keempat prajurit Kadipaten Surabaya tentu saja tidak tinggal diam. Justru mereka telah diberi kepercayaan untuk melindungi barang berharga itu. Maka tanpa banyak cerita lagi segera mereka mengeroyok Luh Bayan Sarti.

Ketika mereka sudah hampir berhasil menghajar rampok betina itu tahu-tahu muncullah Nyoman Dwipa memberikan pertolongan hingga buntut-buntutnya Luh Bayan Sarti berhasil kabur dengan membawa serta patung emas!

Kini tahulah Nyoman Dwipa akan kesalahan yang telah diperbuatnya. Tapi memang siapa yang bisa menduga kalau gadis secantik Luh Bayan Sarti itu adalah seorang perampok? Dan pemuda manakah yang tega membiarkan seorang dara jelita terancam bahaya mautl! Setelah merenung sejenak maka Nyomanpun berkata. "Memang besar salahku! Kurasa sebelum gadis itu berlalu jauh, sebaiknya kita lakukan pengejaran. Kalau perlu kita datangi sarangnya!"

Keempat prajurit Kadipaten Surabaya saling berpandangan. Kusir kereta yang sejak tadi berdiam diri karena ketakutan untuk pertama kalinya buka suara, "Mendatangi sarang Warok Gde Jingga berarti mencari mati!"

"Kalau begitu kalian tidak menginginkan patung emas itu kembali?"

"Tentu saja menginginkanl" jawab seorang prajurit. "Tapi pergi ke sarangnya gerombolan rampok itu besar sekali bahayanya. Karena itu kau yang punya gara-gara maka kau sendiri yang harus pergi ke sana. Kami menunggu di sini! Kami tak perduli apakah untuk mendapatkan patung emas itu kau harus menyerahkan kepalamu!"

"Kalau aku pergi seorang diri dan berhasil mengambil kembali patung itu, jangan harap aku akan membawanya ke sini....," kata Nyoman Dwipa dengan menyeringai.

"Kalau begitu ...." kata seorang prajurit sesudah berpikir-pikir beberapa lamanya, "aku, kau dan dua orang kawanku berangkat ke sana. Yang lain tetap tinggal di sini."

Nyoman menyetujui pendapat itu, lalu tanpa menunggu lebih lama mengajak ke empat orang itu untuk segera berangkat. Kusir kereta mendadak membuka mulut, "Saudara-saudara dengar nasihatku. Adalah sia-sia kalian pergi mengambil kembali patung emas itu! Warok Gde Jingga memiliki ilmu silat tinggi sekali. Di samping itu dia memiliki anak buah yang banyak. Ditambah dengan Luh Bayan Sarti maka sekalipun kalian berjumlah lima kali lebih besar, jangan harap kalian akan berhasil. Kataku kalian cuma mengantar nyawa! Sebaiknya kembali dan seret pemuda biang runyam itu ke hadapan Adipati Surabaya!"

"Bagiku kemarahan Adipati Surabaya bukan apa-apa. Kalaupun aku dihukum, kurasa kalian semua juga tak luput dari hukuman! Kalau tak ada yang mau ikut, tak apa. Jangan menyesal kalau patung emas itu jatuh ke tanganku sedang kalian mendapat hukuman dari Adipati kalian!"

Nyoman Dwipa cepat berlalu dari situ. Tiga orang prajurit saling berpandangan. Akhirnya setelah mengambil senjata masing-masing yang tadi jatuh di tanah, ketiganya segera menyusul Nyoman Dwipa.

"Mereka akan mati percuma! Mati percuma!" desis kusir kereta sambil memperhatikan kepergian orang-orang itu.



SEORANG anggota rampok yang berada di puncak sebuah pohon tinggi telah melihat kedatangan keempat orang itu. Cepatcepat dia turun dari atas pohon dan memberikan laporan pada pemimpinnya yaitu Warok Gde Jingga. Kebetulan saat itu Luh Bayan Sarti ada pula di situ.

"Coba terangkan ciri-ciri mereka!" kata Luh Bayan Sarti.

"Yang tiga orang berpakaian seragam, seperti pakaian prajurit. Yang seorang lagi pemuda berpakaian biru."

"Hem ...." gadis itu mengguman lalu berpaling pada kakaknya. "Bagaimana pendapatmu?" tanyanya.

"Biarkan saja mereka datang kemari. Tak ada tang harus ditakutkanl" sahut si kepala rampok.

"Memang pendapatkupun demikian," kata Luh Bayan Sarti lalu menganggukkan kepala pada anggota rampok yang melapor.

Setelah anggota rampok itu pergi berkatalah Warok Gde Jingga. "Kau akan berhadapan kembali dengan tuan penolongmu yang gagah itu! Bukankah itu yang kau inginkan, Sarti?"

Luh Bayan Sarti menjadi merah parasnya. "Sebaiknya kita keluar saja menyambut kedatangan mereka!"

Warok Gde Jingga tertawa lalu mengikuti diknya keluar rumah besar. Mereka menunggu di langkan.

Karena telah dipesankan agar keempat pendatang itu dibiarkan saja, maka ketika memasuki perkampungan, tak ada seorang rampokpun yang mengalangi. Nyoman Dwipa dan ketiga prajurit-prajurit kadipaten itu. Di halaman rumah besar keempatnya berhenti.

Nyoman melirik sekilas pada Luh Bayan Sarti lalu berpaling pada laki-laki bertubuh tinggi besar yang hanya mengenakan celana panjang hitam. Dadanya yang bidang tertutup oleh bulu sedang wajahnya diranggasi cambang bawuk yang lebat kaku.

"Apakah kami berhadapan dengan Warok Gde Jingga?" tanya Nyoman Dwipa sesudah terlebih dahulu menjura.

"Orang muda," kata Warok Gde Jingga "Sungguh nyalimu besar sekali untuk datang ke mari! Sesudah menolong adikku dari bahaya dikeroyok oleh prajurit-prajurit hina dina itu, apakah kedatanganmu ke sini hendak minta hadiah imbalan?!"

Nyoman Dwipa tertawa, lalu menjawab, "Jauh dari itu, Warok. Justru aku datang ke sini untuk menebus kesalahanku terhadap prajurit-prajurit Kadipaten Surabaya ini. Satu-satunya jalan untuk dapat menebus kesalahanku itu ialah meminta kesudianmu untuk mau menyerahkan kembali patung emas yang telah dirampas oleh adikmu ini." Nyoman lalu menggoyangkan kepalanya ke arah Luh Bayan Sarti.

Gadis itu tertawa cekikikan. Bola matanya sejak tadi tidak lepas dari memandangi paras Nyoman Dwipa yang gagah cakap itu.

"Enak betul bicaramu. Sudah lancang dating kemari, sekarang berani bertingkah! Apakah kau bersedia menyerahkan selembar nyawamu sebagai pengganti patung emas itu?!"

Nyoman tertawa lebar. Dalam tertawa itu dia harus mengakui bahwa paras Luh Bayan Sarti sungguh jelita. Kulitnya halus mulus. Sungguh sangat disayangkan dara sejelita ini hidup menjadi perampok, berbuat kejahatan dan diam di tengah-tengah manusia-manusia kasar!

Sementara itu Warok Gde Jingga mengusap-usap dagunya yang penuh dengan berewok.

"Selembar nyawaku bukan apa-apa," terdengar suara Nyoman Dwipa menjawab pertanyaan Luh Bayan Sarti tadi. "Yang penting patung emas itu harus diserahkan pada ketiga prajurit ini."

"Kalau begitu biar kutabas dulu batang lehermu. Kalau sudah kelak patung emas itu akan kuberikan pada manusiamanusia jelek ini!"

"Serahkan dulu patung emas itu pada mereka" ujar Nyoman Dwipa.

Luh Bayan Sarti mendelikkan kedua matanya. "Sret"! Gadis ini mencabut pedang peraknya.

"Tahan dulu, Sarti!" kata Warok Gde Jingga sambil memegang bahu adiknya ketika gadis itu hendak melompat ke hadapan Nyoman Dwipa. "Sebaiknya kita atur begini saja orang muda. Karena patung emas itu boleh dibilang milik ketiga kunyuk-kunyuk Kadipaten Surabaya ini maka kupersilahkan mereka turun tangan sendiri. Jika mereka bertiga berhasil mengalahkanku, kuserahkan patung itu kembali pada mereka. Tapi kalau mereka kalah, patung emas itu tetap milikku dan mereka kubebaskan. Untuk itu kau harus mempertaruhkan batang lehermu!"

Ketiga prajurit Kadipaten Surabaya terkejut bukan main. Jangankan mereka bertiga, sepuluh orangpun mereka belum tentu sanggup mengalahkan Warok Gde Jingga yang kesaktian dan ilmu silatnya sangat tinggi itu! Nyoman Dwipa berbatuk-batuk.

"Warok Gde Jingga," kata pemuda ini, "karena aku yang punya gara-gara maka biarlah aku mewakili ketiga prajurit itu untuk memenuhi permintaanmu tadi."

Warok Gde Jingga tertawa gelak-gelak. "Kuhargakan nyalimu sobat dan kuberi kelonggaran padamu! Kau boleh maju bersama-sama prajurit-prajurit tak berguna itu!"

"Walau ilmuku sangat dangkal," sahut Nyoman Dwipa, "tapi mengingat kesalahanku biarlah aku menghadapimu seorang diri."

"Baik ... baik ... baik! Jika itu kehendakmu! Mari kita mulai!" kata Warok Gde Jingga seraya melompat ke halaman.

Tubuhnya yang tirrggi besar dengan berat lebih dari tujuh puluh kilo itu tak sedikitpun menimbulkan suara ketika kedua kakinya menjejak tanah halaman. Satu pertanda bahwa ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai tingkat yang tinggi! Nyoman Dwipa tak mau kalah siap! Sekali dia berkelebat maka bayangannya lenyap dan sedetik kemudian sudah berdiri enam langkah di hadapan kepala rampok itu! Warok Gde Jingga terkejut bukan main! Tiada diduganya pemuda yang dianggapnya sepele itu memiliki gerakan gesit serta ilmu meringankan tubuh yang tidak berada di bawahnya!

Melihat kedua orang itu sudah siap untuk bertempur. Luh Bayan Sarti tiba-tiba melompat dan berseru, "Kak Gde Jingga! Biar aku yang mengadapi pemuda sombong ini! Kau lihat sajalah bagaimana adikmu akan memberi pelajaran padanya!"

Tanpa menunggu jawaban kakaknya, Luh Bayan Sarti sudah menghadapi Nyoman Dwipa, tersenyum sekilas lalu berkata sambil mengerling dan mencabut pedang peraknya. "Silahkan kau mulai lebih dulu!".

"Ah, tuan rumahlah yang lebih pantas memulai," sahut Nyoman Dwipa pula. "Kuharap kau benar-benar memberi pelajaran berguna pada orang bodoh macamku ini, saudari!"

Luh Bayan Sarti tertawa kegenit-genitan. "Kau hati-hatilah orang muda karena pedangku ini tidak bermata." Ucapan itu dibarengi si gadis dengan satu serangan setengah melompat. Ketika menabas pedang peraknya hanya merupakan selarik sinar putih yang mengeluarkan suara bersiur karena saking cepatnya! Sebelumnya Nyoman Dwipa telah melihat ilmu pedang gadis itu yakni sewaktu Luh Bayan Sarti bertempur melawan prajurit-prajurit. Kadipaten Surabaya. Namun sekali ini dilihatnya si gadis mengeluarkan jurus serangan yang lain dari yang lain hingga Nyoman Dwipa tak mau bersikap memandang enteng, cepat mencabut tongkat bambu kuningnya yang kecil dan dengan gesit berkelebat mengelakkan tabasan yang mengincar pinggangnya!

Setengah jalan tiba-tiba sekali tabasan yang dilakukan Luh Bayan Sarti berubah menjadi satu tusukan tajam ke arah dada. Tusukan ini sebelum sampai memecah laksana kilat keempat bagian tubuh Nyoman Dwipa yaitu kepala, leher, dada dan perut! Ketiga prajurit Kadipaten Surabaya menahan nafas. Serangan yang dilancarkan si gadis adalah serangan hebat luar biasa.

Melihat dekatnya tusukan-tusukan pedang itu dari tubuh Nyoman Dwipa, ketiganya merasa cemas kalau-kalau si pemuda kali ini tak sanggup menvelamatkan dirinya!

"Hebat!" Justru dalam suasana yang tegang itu Nyoman Dwipa mengeluarkan seruan memuji. Tubuhnya lenyap menjadi bayang-bayang biru. Dan di antara bayangan biru itu bekelebatlah selarik sinar kuning. Itulah sinarnya bambu kuning di tangan Nyoman Dwipa.

Melihat lawan memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat maka Luh Bayan Sarti kerahkan pula ilmu meringankan tubuhnya hingga dalam jurus pertama itu keduanya sudah merupakan baying-bayang saja!

Nyoman tersenyum melihat kecerdikan si gadis. Segera pemuda ini menggerakkan bambu kuningnya dalam jurus "gendewa sakti membentur gunung". Jurus ini mengandalkan tenaga dalam yang dialirkan ke tongkat bambu kuning. Dalam jurus kedua terjadilah hal yang sangat mengejutkan Warok Gde Jingga.

Sewaktu dalam jurus kedua Luh Bayan Sarti kembali melancarkan serangan yang hebat, bambu kuning di tangan Nyoman sudah bergerak dalam jurus "gendewa sakti membentur gunung" itu.

Luh Bayan Sarti heran ketika merasakan bagaimana tetakan pedangnya yang semula meluncur pesat tahu-tahu dengan tiba-tiba sekali tersendat laksana diterpa oleh satu angin yang luar biasa dahsyatnya. Belum habis rasa herannya itu, bambu kuning di tangan Nyoman tiba-tiba dilihatnya sudah berada dekat sekali di samping pedang peraknya!

Luh Bayan Sarti seorang berpikiran cerdik. Dari gerakan bambu kuning itu dan mengetahui bahwa tenaga dalam lawan tinggi sekali, tahulah dia bahwa Nyoman Dwipa hendak memukul badan pedangnya dalam satu pukulan yang hebat dan memungkinkan pedang perak itu terlepas dari tangannya! Karenanya dengan sigap gadis ini menaikkan tangannya ke atas lalu membabat ke samping, menaebas ke arah batang leher Nyoman Dwipa!

Di lain pihak Nyoman Dwipa tidak terlalu bodoh untuk menunggu lebih lama. Kedudukan tangan dan senjata lawan yang berada lebih tinggi di atas senjatanya sendiri justru itulah yang dikehendakinya! Bambu kuning di tangan pemuda ini menerpa ke atas Dan tahu-tahu Luh Bayan Sarti merasakan tangannya yang memegang pedang menjadi kesemutan. Dia melompat mundur tapi tak bisa karena pada saat itu bambu kuning di tangan lawan laksana seekor ular seakan-akan telah membelit pedangnya. Ketika Nyoman Dwipa memutar-mutar bambu kuningnya, pedang perak di tangan gadis itupun ikut berputar melintir. Luh Bayan Sarti tak bisa mempertahankan senjata itu kecuali kalau tangannya mau ikut-ikutan terpuntir dan tanggal dari persendiannya!

Warok Gde Jingga bukan olah-olah kejutnya menyaksikan bagaimana adiknya yang berkepandaian tinggi itu hanya mampu menghadapi pemuda itu dalam tempo dua jurus saja. Bahkan dalam dua jurus itu bukan saja dia dikalahkan tapi senjatanya sekaligus kena dirampas! Luh Bayan Sarti sendiri sesudah pedangnya tertarik dan berada digenggaman Nyoman Dwipa bukan main marahnya. Tapi dia juga malu sekali. Dengan paras merah sambil banting-banting kaki gadis ini memutar tubuh dan meninggalkan tempat itu.

"Eh, saudari tunggu dulu! Ini kukembalikan pedangmu!" seru Nyoman Dwipa.

Luh Bayan Sarti tak mau berpaling apalagi hentikan langkahnya. Dia terus nyelonong ke langkan rumah Karena orang tak mau menerima kembali senjatanya maka Nyoman Dwipa menggerakkan tangan kirinya yang memegang pedang. Senjata itu lepas dan mendesing di udara lalu menancap di tiang langkan rumah, tepat pada saat Luh Bayan Sarti berada di samping tiang itu!

Luh Bayan Sarti berbalik dan mendelikkan kedua matanya pada Nyoman Dwipa. Sebaliknya pemuda itu hanya tersenyum saja, membuat si gadis benar-benar penasaran setengah mati. Di cabutnya pedang itu dari tiang langkan lalu cepat-cepat masuk ke dalam rumah!

Nyoman berpaling pada Warok Gde Jingga dan berkata. "Adikmu telah kupercundang. Karena dia bertindak sebagai wakilmu dan dia kalah maka kau harus menepati janjimu Warok. Harap kau segera mengembalikan patung emas itu pada ketiga prajurit ini.... "

Warok Gde Jingga mengusap-usap dadanya yang berbulu lebat lalu tertawa gelak-gelak.

"Ingatanmu selalu pada patung emas itu saja. Dan kau terlalu bangga dengan kemenanganmu! Terangkan dulu namamu dan siapa kau sebenarnya ..."

"Kalau sudah kuterangkan lantas kau akan mengembalikan patung itu?!"

Kembali kepala rampok itu tertawa. Dia melirik pada anak-anak buahnya yang berdiri mengeliling halaman lalu menggelengkan kepalanya. "Sesudah aku tahu nama dan siapa kau adanya, kita main-main sebentar . . . "

Nyoman tahu apa yang dimaksudkan Warok Gde Jingga dengan kata "main-main" itu. Maka dia berkata, "Dan kalau dalam main-main itu kau mengalami nasib sama dengan adikmu, apakah kau juga mencari dalih lain untuk tidak menyerahkan patung emas itu?!"

Merahlah paras Warok Gde Jingga. "Aku tidak serendah yang kau kirakan, pemuda sontoloyo!" katanya keras.

"Ah kalau begitu baiklah. Namaku Nyoman Dwipa dan aku orang kampung. Nah, apakah kini kita bisa memulai permainan yang kau maksudkan itu?!"

Warok Gde Jingga menggeram. Tangannya ditepukkan. Maka dari dalam rumah besar keluarlah seorang pelayan membawa sebuah senjata milik Warok Gde Jingga yang bentuknya aneh dan dahsyat! Belum pernah Nyoman Dwipa melihat senjata semacam itu. Anak-anak buah Warok Gde Jingga sendiri kelihatan saling berbisik karena setahu mereka, Warok Gde Jingga jarang sekali mempergunakan senjata itu kalau tidak dalam keadaan terpaksa atau ketika menqhadapi lawan yang tangguh luar biasa!

SENJATA di tangah Warok Gde Jingga adalah sebuah toya besi hitam yang pada kedua ujungnya digantungi masing-masing tiga buah kaitan besi yang juga berwarna hitam. Setiap ujung kaitan besi itu mempunyai tiga anak kaitan lagi dan masing-masing ujungnya tetah dicelup dengan racun yang amat jahat selama tiga tahun. Sekali manusia yang tidak memiliki kekebalan racun, meskipun memiliki tenaga dalam bagaimanapun tingginya pasti akan menemui kematian bila sampai kena tertusuk oleh ujungujung kaitan itu! Di samping itu kaitankaitan tersebut merupakan senjata yang berbahaya karena sanggup membetot daging atau urat seorang lawan! Menurut taksiran keseluruhan senjata itu beratnya lebih dari lima puluh kati. Tapi Warok Gde Jingga memegangnya tak ubahnya seperti memegang sebuah ranting kering belaka!

Nyoman Dwipa tahu benar kehebatan ilmu suit lawan yang dihadapannya itu. Jauh lebih tinggi dari ilmu silat Luh Bayan Sarti yang tadi telah dikalahkannya. Dan melihat kepada senjata di tangan Warok Gde Jingga, pemuda ini sudah maklum bahwa senjata itu amat berbahaya, maka tanpa menunggu lebih lama segera Nyoman Dwipa pasang kuda-kuda pertahanan yang bernama "elang menukik laut". Kedua kaki merenggang agak menekuk di bagian lutut. Tangan kiri agak mengembang ke samping sedang tangan kanan yang memegang tongkat bambu kuning dipalangkan di muka dada.

"Ayo majulah!" kata Warok Gde Jingga.

"Silahkan tuan rumah memulai lebih dulu." sahut Nyoman Dwipa.

Kepala rampok dari bukit Jaratan itu mendengus. Sementara itu anggota-anggota rampok yang mengelilingi tempat tersebut membuka mata masing-masing selebar mungkin untuk menyaksikan pertempuran yang bakal berlangsung yang tidak bisa tidak pasti sangat hebat!

"Awas perut!" teriak Warok Gde Jingga tiba-tiba. Teriakannya ini dibarengi dengan berkelebatnya tubuh pemimpin rampok itu. Ujung toya sebelah kanan menderu ke arah perut Nyoman Dwipa. Ujung-ujung kaitan berdesing siap untuk membetot dan membusaikan isi perut pemuda itu!

Nyoman Dwipa melompat ke belakang untuk mengelak. Di'saat itu pula dengan tak terduga, cepat sekali ujung toya besi yang sebelah kiri menyambar ke arah leher pemuda itu! Kejut Nyoman Dwipa bukan alang kepalang. Sambil membentak keras pemuda gemblengan Menak Putuwengi itu miringkan tubuhnya ke samping dan menggerakkan tongkat bambu kuningnya, memukul bagian tengah toya besi di tangan Gde Jingga.

Melihat lawan hendak memukul senjatanya, kepala rampok itu sengaja tidak mengelak! Dia beranggapan bahwa sekali tongkat bambu kuning itu membentur toya besinya pastilah akan patah dua! Tapi betapa terkejutnya Warok Gde Jingga sewaktu melihat bukan saja tongkat lawan tidak patah bahkan sewaktu bentrokan terjadi, toya besinya terpukul keras hampir saja terlepas dari genggamannya!

Dengan menggertakkan rahang Warok Gde Jingga menerjang ke muka. Toya besinya laksana titiran, menderu dan mengurung Nyoman Dwipa dari seluruh penjuru!

Sementara itu dari satu tempat yang terlindung di balik jendela rumah besar, sepasang mata menyaksikan pertempuran itu dengan hati cemas. Kecemasan itu tertuju pada diri Nyoman Dwipa. Kecemasan itu adalah kalau-kalau si pemuda akan menjadi korban mendapat celaka di tangan Warok Gde Jingga. Tapi cetika menyaksikan bagaimana Nyoman Dwipa dengan tenang melayani lawannya, orang yang mengntai itu merasa lega sedikit. Dan orang ini bukan ain Luh Bayan Sarti, adik Warok Gde Jingga yang telah dikalahkan oleh Nyoman Dwipa tadi!

Dua puluh jurus telah berlalu. Gerakan-gerakan Warok Gde Jingga semakin gesit dan ganas. Toyanya lenyap dalam sambaran-sambaran sinar hitam yang nengeluarkan angin dingin serta bersiutan. Debu dan pasir beterbangan di sekeliling orang-orang yang bertempur itu! Semakin bertambah jurus demi jurus, semakin meluap kemarahan Warok Gde Jingga..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.198.245.233
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia