Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

"CELAKA!" KATA LUHSANTINI SETENGAH BERSERU. "JANGAN-JANGAN KlTA DATANG TERLAMBAT! PERCEPAT LARIMU LUHCINTA!" LUHCINTA DAN LUHSANTINI SAMPAl DI PUNCAK BUKIT BATU KAWIN. LUHCINTA SERTA MERTA HENDAK MENGHAMBUR KE HADAPAN ORANG-ORANG YANG BERADA DI DEKAT RANJANG BATU. TAPI LUHSANTINl CEPAT MEMEGANG ERAT LENGANNYA DAN MENARIK GADIS INI KE BALIK SEBUAH BATU BESAR YANG TERTUTUP SEMAK BELUKAR LEBAT. "KITA MEMANG TERLAMBAT LUHCINTA. UPACARA PERNIKAHAN SUDAH DILAKSANAKAN. MEREKA TELAH BERPEGANGAN TANGAN ...." "MEREKA SIAPA?" TANYA LUHCINTA DENGAN SUARA GEMETAR. GADIS INI SIBAKKAN SEMAK BELUKAR LALU MEMANDANG KE DEPAN. SAAT ITU TERDENGAR SUARA LANTANG SANG JURU NIKAH LAMAHILA. "WIRO SABLENG DAN LUHREMBULAH! KALIAN BERDUA TELAH AKU NlKAHKAN DISAKSIKAN LANGIT DAN BUMI. APA YANG KALIAN UCAPKAN DIDENGAR OLEH PARA DEWA DAN SEMUA ROH YANG TERGANTUNG ANTARA LANGlT DAN BUMI. SEMOGA KALIAN MENDAPAT BERKAH. SAAT INI KALIAN TELAH RESMl MENJADI SUAMI ISTRI!"



SATU

KUDA raksasa berkaki enam itu berlari kencang di bawah siraman sang surya yang tengah menggelincir menuju ufuk tenggelamnya. Bulunya yang hitam pekat seolah menebar pantulan kekuning-kuningan. Di atas punggungnya dua sosok manusia tergantung dalam dua buah jala. ltulah sosok Lakasipo dan Luhsantini yang terjebak tak berdava di dalam jaring api biru akibat perbuatan jahat Hantu Bara Kaliatus. Orang ke tiga di atas kuda raksasa itu adalah seorang kakek yang berdiri di punggung kuda dengan dua tangan di sebelah bawah dan dua kaki di sebelah atas. Rambut, janggut dan kumis putihnya melambai-lambai disapu angin. Walau kuda hitam bernama Laekakienam berlari secepat setan menyambar namun di atas punggungnyasi kakek tampak tegak tenang tanpa bergeming sedikitpun. Sudah dapat diduga kakek ini bukan lain adalah Lasedayu alias Hantu Langit Terjungkir.

"Huuii ... !" Kakek di atas kuda berseru panjang.

"Kuda hitam gagah perkasa, kita berhenti dulu di sini! Aku perlu bicara dengan dua insan di dalam jaring!"

Habis berkata begitu sosok si kakek melesat ke udara. Dua tangannya menyambar cabang satu pohon besar. Sesaat tubuhnya berputar sebat dua kali dicabang pohon itu lalu melayang turun, menjejakkan dua tangannya yang dijadikan kaki di tanah tanpa keluarkan suara sedikitpun. Kuda hitam yang memiliki dua tanduk di atas kepala-nya meringkik keras lalu hentikan larinya. Debu be-terbangan di belakangnya. Setelah meringkik sekali lagi binatang ini lalu melangkah mendekati si kakek dan menjilat-jilat kaki orang tua itu dengan ujung lidahnya.

"Kuda hebat! Aku berterima kasih padamu! Seumur hidup baru kali ini aku menunggang kuda. Aku serasa mau kencing menahan gamang. Tapi nikmat! Ha ... ha,.. ha...!"

Si kakek tepuk-tepuk pinggul Laekakienam lalu dia bergerak mendekati Lakasipo dan Luhsantini yang berada di dalam dua jaring terpisah. Kakek ini pergunakan dua kakinya untuk mengait jaring. Lalu perlahan-lahan, enak saja dia turunkan dua jaring itu ke tanah. Di dalam jaring Lakasipo dan Luhsantini cepat bangkit lalu bersila di tanah.

"Kakek Hantu Langit. Terjungkir! Kami berdua menghaturkan terima kasih. Kau telah membawa kami keluar dari tempat penuh bencana itu!" Luhsantini pertama sekali keluarkan ucapan.

Hantu Langit Terjungkir alias Lasedayu sibakkan rambut putih menjulai yang menutupi mukanya lalu tatap wajah Luhsantini beberapa lamanya. Sesaat kemudian dia palingkan kepala memandang pada Lakasipo. Dipandang seperti itu Lakasipo merasa jangan-jangan orang tua ini masih membekal amarah karena tindakannya yang lalai tempo hari sehingga sendok emas sakti yang bisa menjadi penyembuh bagi si kakek lenyap dirampas orang. Maka sebelum ditegur Lakasipo berkata duluan.

"Kek, apakah kau masih marah padaku karena kesalahanku menghilangkan Sendok Pemasung Nasib itu...? Aku sekali lagi mohon maafmu. Janjiku tetap akan kupenuhi. Aku akan mencari benda itu sampai dapat walau harus menebus dengan nyawaku sendiri."

Lasedayu menghela nafas dalam lalu menyeringai.

"Wahai, bagaimana kau bisa mencari sendok sakti. Sementara dirimu berada dalam jaring iblis api biru itu!"

Lakasipo terdiam mendengar kata-kata si kakek. Dia memandang pada Luhsantini seperti meminta pendapat Perempuan ini segera membuka mulut "Supaya kami bisa menebus kesalahan itu harap kau mau menolong kami keluar dari jaring ini."

"Betul, Kek," menyambung Lakasipo.

"Kami bukan cuma memikirkan keselamatan diri sendiri. Tapi begitu bebas kami akan segera kembali ke lembah untuk menolong kawan-kawan kami. Mereka berada dalam bahaya besar...."

Lasedayu gelengkan kepala. "Tak ada hal lain yang bisa kuperbuat Aku hanya berkemampuan merubah jaring ini dari jaring api menjadi jaring tali biasa. Lebih dari itu aku tak bisa. Seperti penjelasanku dulu, hanya ada beberapa orang saja di Negeri Latanahsilam ini yang mampu memutus jaring api biru ini ..." (Kisah bagaimana Lakasipo dan Luhsantini terjebak dalam jaring api biru baca Episode Hantu Santet Laknat)

"Berarti kita bisa seumur-umur mendekam di dalam jaring celaka ini! Mungkin ajal lebih dulu datang menjemput sebelum ada yang membebaskan kita!" kata Luhsantini.

"Kek, kalau aku tidak salah mengingat, kau pernah mengatakan siapa-siapa saja orang yang mampu menjebol jaring ini. Siapa tahu ada orang yang bisa menemui mereka untuk dimintai bantuannya ...."

"Aku tidak yakin. Orang-orang itu seperti setan. Ada bernama tapi sulit dicari bahkan entah masih hidup atau sudah menjadi satu dengan tanah. Seorang di antara mereka adalah Hantu Seribu Obat. Tapi manusia satu ini aneh angin-anginan. Kalau hatinya sedang senang apapun yang diminta orang akan diberikannya sekalipun orang meminta telinga atau matanya! Tapi kalau syarafnya terganggu, sedang tidak karuan hati dan pikirannya, salah sedikit saja dalam bicara isi perut kita bisa dibedolnya untuk dijadikan ramuan obat!"

"Tunggu dulu!" ucap Lakasipo setengah berseru.

"Aku pernah bertemu dengan Hantu Seribu Obat. Dialah yang menolong dua saudara angkatku hingga sosoknya menjadi sebesar sosok orang-orang di negeri ini ..." berkata Lakasipo.

"mungkin waktu itu hatinya sedang senang. Tapi jika bertemu sekali lagi aku tidak dapat menjamin dia akan bersikap sama," kata Lasedayu pula.

"Siapa orang lainnya yang menurutmu mampu menolong kami Kek?" bertanya Luhsantini.

"Seorang nenek berjuluk Hantu Lembah Laekatak hijau. Nenek satu ini lebih kacau. Di tempat kediamannya yang sulit diketahui dimana letaknya, dia memelihara ribuan kodok. Bahkan konon kabarnya sekujur tubuhnya diselimuti binatang itu. Kalau dia ingin sesuatu yang menyenangkan, si nenek bisa saja menyuruh kodok-kodok peliharaannya untuk mempesiangi orang hingga dalam waktu sesaat saja orang itu bisa hanya tinggai tulang memutik!"

Lakasipo menatap ke arah Luhsantini dan berkata perlahan.

"Agaknya tidak ada yang bisa kita lakukan.Tidak ada orang yang dapat menolong kita. Kalau saja nenek tukang kentut berjuluk Hantu Selaksa Angin itu mau menolong kita. ..."

"Dia punya kemampuan," menyahuti Luhsantini.

"Tapi apakah dia harus menghantami kita dengan pukulan sakti agar semua tali-tali ini bisa putus? Jangan-jangan kita lebih dulu remuk jadi bangkai sebelum dia bisa mengeluarkan kita dari dalam jaring celaka ini! Jika aku bisa lolos, aku bersumpah akan menguliti Hantu Bara Kaliatus makhluk keji biadab itu!"

Hantu Langit Terjungkir mendehem beberapa kali lalu berkata. "Sebenarnya aku melarikan kalian bukan cuma karena ingin menyelamatkan kalian, tapi lebih dari itu ada satu perkara besar yang ingin aku bicarakan. ini menyangkut dirimu dan diriku, Lakasipo ...."

"Maksudmu sendok emas itu Kek?" tanya Lakasipo.

"Lupakan sendok celaka itu!" jawab si kakek. Lalu dia melangkah ke belakang Lakasipo yang sampai saat itu masih duduk bersila di tanah. Sepasang mata si kakek memandang tak berkesip ke arah lengan kanan sebelah belakang Lakasipo. Seperti diketahui di situ terdapat tanda berbentuk sekuntum bunga dalam lingkaran berwarna kebiru-biruan.

"Hal yang hendak aku bicarakan ini jauh lebih penting dan lebih berharga dari sendok emas itu! Aku malah menganggap jauh lebih penting dari nyawa ataupun masa depanku ...." Lasedayu kembali berdiri di hadapan Lakasipo. Dari balik juntaian rambut putihnya dia pandangi wajah lelaki itu dengan perasaan yang sulit untuk dikatakan. Saat itu dia seolah ingin menghamburkan sejuta kata sejuta cerita. Bahkan lebih dari itu ingin memeluk merangkul Lakasipo.

"Lakasipo, di belakang lengan kananmu sebelah atas,dekat ketiak, ada satu tanda kecil. Seperti jarahan. Berbentuk bunga dalam lingkaran ...."

"Apa Kek?!" ujar Lakasipo. Wajahnya menyatakan rasa heran. "Tanda bunga dalam lingkaran ... ? Dekat ketiak kananku sebelah belakang?" Lakasipo angkat tangan kanannya, mencari-cari. Dia berhasil melihat tanda kecil seperti yang dikatakan si kakek. Bunga dalam lingkaran. "Aku tak-pernah tahu kalau ada tanda seperti ini di lenganku. Juga tak ada orang yang mengatakan kalau aku punya tanda seperti ini." Lakasipo menatap wajah si kakek lalu bertanya.

"Kek, apa pentingnya tanda di balik lenganku ini bagimu? Apa mengandung satu arti?" ,

"Tanda itu sangat penting bagiku wahai Lakasipo. Lebih penting dari nyawaku sendiri ...."

"Aku tidak mengerti. Tunggu .... Aku coba mengingat-ingat. Rasanya aku pernah melihat tanda seperti yang kau katakan itu di lengan belakang seseorang ...."

"Ucapanmu membuat aku berdebar Lakasipo!" kata Hantu Langit Terjungkir.

"Pusatkan pikiranmu, pusatkan ingatanmu! Siapa orang yang punya tanda seperti tanda di dekat ketiak kananmu itu?!" Lakasipo memijit-mijit keningnya berulang-ulang. Berusaha untuk mengingat Tiba-tiba ditepuknya keningnya.

"Aku ingat Kek!" katanya dengan suara keras.

"Siapa?!" tanya Hantu Langit Terjungkir tak kalah kerasnya.

"Latandai alias Hantu Bara Kaliatus!"

Si kakek tersurut satu langkah mendengar ucapan Lakasipo itu. Sementara Luhsantini keluarkan seruan tertahan karena tidak menyangka nama bekas suaminya itu yang bakal diucapkan Lakasipo.

"Aku sudah menduga ..." kata Hantu Langit Terjungkir dengan suara bergetar. Sepasang matanya sekilas tampak berkaca-kaca. Ada satu perasaan besar yang seperti coba ditekannya.

"Aku sendiri memang pernah melihat tanda itu di lengan kanan sebelah belakang Hantu Bara Kaliatus ...." Orang tua ini kemudian berpaling pada Luhsantini. "Kau adalah istri Hantu Bara Kaliatus ...."

"Saat ini aku tidak lagi jadi istri manusia keji jahat itu!" menukas Luhsantini.

"Aku tahu perasaanmu wahai Luhsantini. Tapi bagaimanapun kau pernah menjadi istrinya. Yang aku ingin tanyakan, apakah kau pernah tahu, melihat atau menyadari bahwa Hantu Bara Kaliatus memang memiliki tanda seperti yang ada di lengan kanan Lakasipo?"

"Aku .... Hemm . ... rasanya ku memang pernah melihat. Tapi aku tidak begitu memperhatikan. Aku tidak pernah menanyakan atau memberitahu padanya. Mungkin dia sendiri tidak tahu. Kek, apa arti semua pembicaraan ini?" bertanya Luhsantini.

Dada Lasedayu alias Hantu Langit Terjungkir bergemuruh. Sepasang matanya tampak semakin berkaca-kaca dan sekujur tubuhnya kelihatan bergetar.

"Kek, ada apa dengan dirimu. Apakah kau sakit?" tanya Lakasipo.

"Kek, apapun yang terjadi dengan dirimu harap kau menjawab pertanyaanku tadi!" ujar Luhsantini.

"Apa artinya semua pembicaraanmu itu! Kau, matamu basah. Bibirmu bergetar. Kau hendak mengatakan sesuatu Kek?"

"Aku ...." Si kakek tampak agak sempoyongan. Dia sandarkan punggungnya ke tubuh Laekakienam. Dia menarik nafas panjang sampai dua kali baru membuka mulut.

"Dengar baik-baik apa yang akan aku ucapkan Lakasipo. Kalian berdua adalah ...."

"Kalian berdua siapa maksudmu Kek," tanya Lakasipo ketika si kakek hentikan ucapannya seolah lidahnya mendadak menjadi kelu.

"Maksudku ... kau ... kau dan Latandai adalah ...." Gelora jiwa dan gejolak hati yang seolah membadai membuat orang tua itu sulit untuk berucap. Dalam hati dia berdoa.

"Wahai para Dewa, beri aku kekuatan untuk menyampaikan kebenaran ini. Aku harus mengatakan sekarang juga! karena mugkin hidupku ini hanya tinggal beberapa hitungan jengkal saja. Aku ...."

Hantu Langit Terjungkir usap lelehan air mata yang menggelinding jatuh ke pipinya yang keriput.

"Lakasipo, dengar baik-baik. Kau dan Latandai adalah dua ...."

Belum sempat si kakekmenyelesaikan ucapannya tiba-tiba di udara menggema suara seperti petir menyambar. Lalu ada hawa panas menyungkup. Ketika semua orang memandang ke atas kagetlah mereka. Di udara melayang turun cepat sekali sebuah jaring besar berwarna biru seolah terbuat dari kobaran api!

"Api lblis Penjaring Roh!" teriak Lakasipo lalu jatuhkan diri dan berguling sejauh yang bisa dilakukannya. Hal yang sama segera pula diiakukan Luhsantini. Hantu Langit Terjungkir hantamkan kakinya kiri kanan ke atas dua kali berturut-turut. Dua gelombang angin berwarna kebiruan menggebubu.

"Bummm!"

"Buuum!"

Dua ledakan dahsyat menggoncang seantero tempat!

Laekakienam meringkik keras! Debu dan pasir beterbangan ke udara. Sebaliknya dari atas berjatuhan puluhan daun-daun pepohonan yang tumbuh di sekitar tempat itu. Ranting berderak patah lalu ikut melayang jatuh ke tanah.DUA

LAEKAKIENAM, kuda hitam berkaki enam milik Lakasipo bergulingan bergemuruh kian kemari sambil melejang-lejangkan kaki. Debu dan pasir semakin banyak beterbangan ke udara. Dua pohon patah dan sebuah batu besar terbelah berkeping-keping dihantam tendangan binatang raksasa itu. Bau sangit daging terbakar memenuhi udara. Kuda bertanduk dua itu meringkik sekali lagi lalu

"brakk!"

Tubuhnya menghantam sebatang pohon besar. Pohon ini berderak keras lalu tumbang dengan suara menggemuruh. Di bawah pohon Laekakienam terkapar melejang-lejang. Sekujur tubuhnya yang penuh guratan luka sangat dalam, berselemak darah, mengepulkan asap, berada dalam jiratan jaring api biru.

"Lae! Lae! Kudaku .... Kudaku!" teriak Lakasipo melihat apa yang terjadi dengan binatang tunggangannya itu. Lalu seperti orang kalap dia hendak mengamuk. Kakinya diangkat untuk bisa menginjak putus jaring di bagian bawah tapi tidak berhasil. Tangannya lalu digerakkan untuk melepas pukulan Lima Kutuk Dari Langit. Kaget Lakasipo bukan kepalang. Apa yang terjadi dengan dirinya. Dia tak mampu mengerahkan tenaga dalam dan mengalirkan hawa sakti ke tangan kanannya! Sekian lama berada dalam jaring api biru kekuatannya seolah tersedot!

Lakasipo meraung keras lalu bersujud di tanah, menangis panjang. Luhsantini yang ada di tempat itu, setelah terpental beberapa kali kini terduduk dengan muka pucat lalu tutupkan dua tangan di depan wajahnya karena tidak sanggup melihat kengerian yang terjadi atas Laekakienam.

Hantu Langit Terjungkir sendiri saat itu tegak dengan tubuh bergoncang keras dan wajah kaku membesi. Sewaktu jala yang disebut Api lblis Penjaring Roh itu menebar turun laksana kilat menyambar, si kakek masih mampu berusaha menangkis dengan dua tendangan yang mengeluarkan gelombang angin sakti.

Bersamaan dengan itu dengan kecepatan luar biasa dia segera menyingkir karena maklum serangan yang datang dari atas langit itu bukan olah-olah dahsyat berbahayanya!

Dia berhasil menyelamatkan diri. Tapi kuda hitam besar Laekakienam yang tadi disandarinya tertimpa jaring, langsung dibuntal dicabik-cabik hangus sekujur tubuhnya!

Untuk beberapa lamanya tempat itu dilanda kesunyian mencekam. Lalu dirobek oleh suara raungan Lakasipo. Namun suara raungan ini lenyap begitu ada suara tawa mengekeh mengumandang di tempat itu!

Lakasipo angkat sosoknya yang bersujud. Luhsantini turunkan dua tangannya yang menutupi wajah. Hantu Langit Terjungkir sibakkan rambut yang menutupi mukanya. Semua mata ditujukan ke arah datangnya suara tawa mengekeh.

Di depan sana berdiri seorang berjubah hitam. Tidak dapat dipastikan apakah dia seorang manusia atau penjelmaan roh yang gentayangan. Kepala dan mukanya berbentuk tengkorak. Anehnya di batok kepalanya bertumbuhan rambut-rambut warna putih. Matanya yang hanya berupa rongga besar memancarkan cahaya merah angker. Dua tangan-nya yang tersembul keluar dari ujung lengan jubah hitam merupakan tulang-tulang putih. Tiba-tiba rambut-rambut putih itu berjingkrak kaku ke atas seperti kawat. Dari rongga matanya cahaya merah memancar keluar laksana lidah api. Lalu dari mulutnya yang penuh susunan gigI-gigi besar mengerikan kembali keluar suara tawa mengekeh.

"Makhluk jerangkong ..." desis Hantu Langit Terjungkir.

"Kalau aku tidak salah menduga dia adalah jahanam yang dipanggil dengan sebutan Junjungan.Yang konon kabarnya adalah guru Hantu Santet Laknat. Pasti tadi dia yang melancarkan serangan Api lblis Penjaring Roh! Astaga, lihat siapa yang berdiri di sampingnya!"

Hantu Langit Terjungkir buka matanya lebar-lebar. Yang saat itu tegak disebelah makhluk jerangkong sang Junjungan bukan lain adalah Hantu Bara Kaliatus, murid Hantu Santet Laknat. Bekas suami Luhsentini!

"Cucu muridku Hantu Bara Kaliatus! Orang-orang yang kita cari sudah ditemukan! Kematian sudah menjadi bagian mereka Kau tunggu apalagi?!" Sang Junjungan keuarkan ucapan. Lalu tangan kirinya yang hanya merupakan tulang-tulang putih itu diusapnya ke punggung Hantu Bara Kaliatus. Usapan ini bukan usapan biasa karena bersamaan dengan itu makhluk jerangkong susupkan sebagian hawa sakti ke dalam tubuh Hantu Bara Kaliatus. Saat itu juga Hantu Bara Kaliatus merasa tubuhnya lebih ringan namun sekaligus darahnya menggejolak aneh, membawa amarah luar biasa. Ketika dia menyeringai dan mulutnya terbuka kelihatan ada kobaran api di dalam mulut itu.

Seperti diketahui sampai saat itu di dalam perut Hantu Bara Kaliatus masih mendekam putuhan bara api yang sebelumnya berada di kepala, dada dan perutnya.

"Tunggu dulu!" tiba-tiba Hantu Langit Terjungkir berseru ketika dilihatnya Hantu Bara Kaliatus melangkah mendekati Lakasipo dengan tangan kiri yang disambung besi warna biru dipentang di atas kepala, siap ‘untuk dipukulkan.

"Hantu Bara Kaliatus! Pasal lantaran apa kau hendak membunuh Lakasipo?!"

"Cucu muridku Hantu Bara Kaliatus, kau tak usah menjawab pertanyaan tua bangka gila itu! Lekas bunuh Lakasipo! Biar aku yang menghadapi monyet tua itu!" Berkata sang Junjungan.

"Terima kasih kau mau membantuku sang Junjungan. Tapi jika kau tidak keberatan wahai Junjungan biar aku beritahu padanya pasal lantaran apa aku ingin menghabisi keparat bebama Lakasipo ini!"

Sang Junjungan kelihatan tidak begitu senang dengan ucapan Latandai alias Hantu Bara Kaliatus itu. Tapi dia akhirnya anggukkan kepala. Hantu Bara Kaliatus lalu berpaling pada Hantu Langit Terjungkir.

"Agar kau tahu!" kata Hantu Bara Kaliatus pula.

"Makhluk bernama Lakasipo yang sepasang kakinya ditancapi Bola-Bola lblis itu sudah sejak lama menjadi musuh besarku. Belum sempat aku membalaskan sakit hati dendam kesumat, tahu-tahu dia main gila bergendak-gendak dengan istriku. Dia merampas Luhsantini dari tanganku!"

"Mulutmu kotor! Tuduhanmu keji!" teriak Lakasipo dari dalam jaring.

"Aku tidak pernah merampas Luhsantini! Perempuan itu meninggalkan dirimu karena kau berniat hendak membunuhnya! Otakmu sudah jadi gila karena dicuci oleh dukun jahat Hantu Santet Laknat! Kau bahkan tega hendak membunuh anak kandungmu sendiri!"

"Makhluk culas bermulut keji!" Luhsantini ganti mendamprat dari dalam jaring api biru.

"Aku bukan istrimu dan aku tidak pernah berbuat mesum dengan lelaki itu! Kau makhluk bejat pencelaka pembunuh anak sendiri!"

"Ha ... ha ... ha!" Makhluk muka tengkorak tertawa bergelak.

"Kau mendapat sanggahan serta caci maki yang menyakitkan hati wahai cucu muridku! Apa jawabmu? Apa tindakanmu?!"

Rahang Hantu Bara Kaliatus menggembung. "Perempuan jalang! Tunggulah! Kau bakal menerima bagian setelah kekasih gelapmu ini kuhabisi!"

"Manusia rendah pengecut busuk! Lakasipo di dalam jaring tidak berdaya! Jika kau memang jantan keluarkan dia lebih dulu dari dalam jaring baru kau menghadapinya! Aku mau lihat apa kau punya keberanian!"

Hantu Bara Kaliatus menyeringai. "Buat apa mencari susah kalau aku bisa membunuhnya semudah membalikkan tangan!" Lalu sambil semburkan dua bara api dari mulutnya Hantu Bara Kaliatus menerjang ke arah Lakasipo yang saat itu sudah tegak berdiri tapi masih terbungkus di dalam jaring api biru.

Begitu melihat dua bara api melesat ke arahnya Lakasipo cepat jatuhkan diri. Dia berguling menjauh. Namun dia tidak mampu bergerakcepat. Lawan segera mengejar mendatangi. Baru saja dia berusaha bangkit, Hantu Bara Kaliatus telah menghantamkan tangan kirinya yang disambung dengan logam biru serta dipenuhi tonjolan-tonjolan lancip!

Dari dalam jala dimana dirinya terkurung Luhsantini berusaha menyerang Hantu Bara Kaliatus dengan serangan tangan kosong jarak jauh. Tapi gerakannya tertahan. Lebih dari itu anehnya dia juga tidak mampu menghimpun tenaga dalamnya. Dia mengalami hal yang sama seperti yang terjadi dengan Lakasipo. Kekuatannya tak mampu dikerahkan seolah telah disedot sirna oleh jaring api biru!

"Celaka! Kalau tidak ada yang menolong, Lakasipo pasti akan menemui ajal di tangan makhluk durjana itu!"

Luhsantini meratap tegang dalam hatinya. Saat itu Hantu Langit Terjungkir yang telah melihat bahaya yang mengancam Lakasipo dengan satu gerakan kilat melesat ke arah Hantu Bara Kaliatus sambil tendangkan kaki kanannya. Selarik gelombang angin yang memancarkan hawa dingin serta sinar kebiruan menyambar. Semula Hantu Bara Kaliatus menganggap enteng dan tetap teruskan pukulannya sambil menggeser kedudukannya sedikit Tapi ketika dirasakannya tubuhnya disengat hawa dingin luar biasa dan lututnya menjadi goyah kagetlah dia. Dengan cepat Hantu Bara Kaliatus buka mulutnya lalu menyambar Lidah api menggebubu. Tiga bara menyala melesat ke arah kepala, dada dan perut Hantu Langit Terjungkir. Kakek yang berdiri kaki ke atas tangan ke bawah ini melompat ke udara. Sambil meniup, tubuhnya membuat gerakan jungkir balik demikian rupa hingga dua serangan bara api sanggup dikelitnya.

"Cesss!"

Bara api ke tiga dipukul mental dengan tangan kiri. Tapi akibatnya tangan kiri Hantu Langit Terjungkir luka hangus, kulitnya terkelupas. Kobaran api yang menggebubu keluar dari mulut Hantu Bara Kaliatus dihadang oleh angin biru yang melesat dari mulut Hantu Langit Terjungkir. Bentrokan hebat tidak terhindar lagi. Hantu Bara Kaliatus menjerit dan terhuyung ke belakang sampai tiga langkah. Dari mulutnya membusa darah. Hantu Langit Terjungkir sendiri cidera tak katah parahnya. Kumis dan janggutnya terbakar hangus sedang daging sekitar mulutnya tampak menggembung merah. Didahului oleh bentakan marah Hantu Langit Terjungkir menerjang ke arah Hantu Bara Kaliatus.

"Hebat juga makhluk celaka itu!" membatin sang Junjungan.

"Aku sengaja menambah hawa sakti kedalam tubuh Hantu Bara Kaliatus, ternyata dia masih bisa menciderai cucu muridku itu!"

Sekali berkelebat makhluk jerangkong itu telah memotong gerakan Hantu Langit Terjungkir. Entah dari mana dia mengambilnya tahu-tahu sebuah tongkat terbuat dari tulang putih telah tergenggam di tangan kanannya. Ujung tongkat itu dimasukkannya ke salah satu matanya yang hanya merupakan rongga yang memancarkan sinar merah. Tiba-tiba menyembur kobaran api menjilat ujung tongkat.

"Wusss!"

Di ujung tongkat kini kelihatan ada api menyala! Barisan gigi-gigi sang Junjungan sunggingkan seringai aneh. Dia hantamkan tongkatnya ke depan.

"wuuuttttt"

Satu lingkaran api luar biasa panasnya membuntal ke arah Hantu Langit Terjungkir. Yang diserang tidak tinggal diam. Dua kaki digerakkan melancarkan serangan balasan. Sementara tangan kanan menyelinap melancarkan pukulan ke arah badan tongkat tulang. Lingkaran api yang hendak menggulung Hantu Langit Terjungkir serta merta buyar begitu terkena sapuan angin dingin biru yang melesat keluar dari dua kaki Hantu Langit Terjungkir. Melihat dia mampu menghancurkan serangan lawan Hantu Langit Terjungkir jadi bersemangat. Tenaga dalamnya dilipat gandakan ke arah tangan yang tengah berusaha memukul tongkat tulang. Sang Junjungan putar tangan kanannya. Tongkat tulang yang ujungnya ada apinya berputar secara aneh.

"Kraaakk!"

Hantu Langit Terjungkir berhasil memukul tongkat tulang itu lalu terdengar suara benda patah. Bersamaan dengan itu terdengar pula jeritan keras dari mulut Hantu Langit Terjungkir. Ternyata tulang lengan kanan kakek ini telah remuk terkena sabetan tongkat lawan!

Karena tangannya itu juga dipergunakan sebagai kaki maka cidera yang dialami Hantu Langit Terjungkir tentu saja sangat membahayakan dirinya. Menyadari hal ini Hantu Langit Terjungkir segera lesatkan diri menjauhi lawan.

Sang Junjungan tertawa mengekeh. Tangan kanannya yang memegang tongkat tulang putih digerakkan.

Api di ujung tongkat menjilat panjang. Bergulung membuntal ke arah Hantu Langit Terjungkir. Kakek yang sedang dilanda kesakitan irii dan kini hanya mampu berdiri dengan tangan kiri menjadi kelabakan.

Dia bergerak cepat kian kemari untuk hindari diri dari sundutan api. Sambil menghindar dia kerahkan hawa sakti yang memancarkan hawa dingin biru. Namun sambaran gulungan api demikian hebatnya hingga dia terkurung rapat. Kemanapun dia berusaha menyingkir kobaran api datang membuntal. Sebagian rambut dan pakaiannya sudah ada yang kena disulut api!

Luhsantini yang melihat kejadian ini jadi serba bingung. Dia tidak mampu menolong. Lagi pula kalaupun dia bisa memberikan bantuan,siapa yang harus ditolongnya dan apa yang bisa dilakukannya. Karena saat itu Lakasipo juga sedang terancam nyawanya. Kepalanya siap menjadi sasaran tangan kiri Hantu Bara Kaliatus yang terbuat dari logam keras penuh tonjolan-tonjolan runcing! Akhirnya dari dalam jala Luhsantini hanya bisa berteriak memohon.

"Hantu Bara Kaliatus! Jangan bunuh Lakasipo! Aku mohon! Jangan bunuh dia!"

"Ha ... ha...!" Hantu Bara Kaliatus tertawa bergelak "Kau takut kehilangan gendakmu ini! Lihat! Buka matamu lebar-lebar Luhsantini! Lihat bagaimana kekasih gelapmu ini menemui kematian!"

Tangan kiri Hantu Bara Kaliatus laksana pentungan besi menghantam ke batok kepala Lakasipo Sementara itu dalam keadaan terdesak hebat, pakaian dan tubuhnya dikobari api yang disulut tongkat sang Junjungan, Hantu Langit Terjungkir tidak perdulikan lagi keselamatan dirinya. Melihat bagaimana Lakasipo sesaat lagi akan menemui ajal secara mengerikan di tangan Hantu Bara Kaliatus maka kakek ini cepat berteriak keras.

"Latandai! Jangan bunuh Lakasipo! Dia saudara kandungmu!"TIGA

SEANDAINYA ada petir menyambar di depan hidungnya saat itu mungkin tidak demikian hebat kejut Latandai alias Hantu Bara Kaliatus.

Gerakan tangan kirinya hendak menghabisi Lakasipo serta merta tertahan. Dua matanya mendelik besar memandangi Hantu Bara Kaliatus lalu berpaling pada Hantu Langit Terjungkir.

Yang terkejut bukan cuma Hantu Bara Kaliatus. Lakasipo yang sebelumnya sudah pasrah menghadapi kemalian tersentak kaget, memandang pada Hantu Bara Kaliatus lalu menoleh pada Hantu Langit Terjungkir.

Di dalam jaring Luhsantini tekapkan salah satu tangannya ke mulut, menahan seruan kaget yang hampir meluncur dari mulutnya.

"Hantu Bara Kaliatus saudara kandung Lakasipo? Bagaimana mungkin?!"

Luhsantini melihat Hantu Langit Terjungkir dongakkan kepala ke langit Dua matanya terpejam. Mulutnya berkomat kamit. Orang tua itu seperti tengah berdoa. "Jangan-jangan orang tua itu benar-benar miring otaknya!" pikir Luhsantini.

Sang Junjungan termasuk orang yang ikut terkejut. Walau keterkejutan itu tidak terlihat pada muka tengkoraknya, gerakan tertahan dari tangan kanannya yang memegang tongkat tulang berapi jelas mem perlihatkan hal itu. Namun makhluk ini cepat kuasai diri. Dia berteriak keras.

"Hantu Bara Kaliatus! Jangan dengar ucapan tua bangka gila yang sebentar lagi akan gosong dimakan api tongkatku! Bunuh Lakasipo! Cepat! Dia bukan saudaramu! Jangan kau kena ditipu! Bunuh Lakasipo!"

"Jangan! Latandai! Jangan bunuh Lakasipo! Demi para Dewa! Aku bersumpah! Lakasipo benar-benar saudara kandungmu!" teriak Hantu Langit Terjungkir.

"Hantu Bara Kaliatus! Jangan dengarkan tua bangka gila ini!" sang Junjungan kembali berteriak lalu "bukkk!"

kaki kanannya ditendangkan ke perut Hantu Langit Terjungkir. Kakek yang pakaiannya telah dimangsa api ini terpental satu tombak, terguling-guling di tanah. Makhluk muka tengkorak cepat mengejar. Pada saat tubuh Hantu Langit Terjungkir berhenti berguling dia tusukkan ujung tongkat berapinya ke leher si kakek!

Sementara itu untuk sesaat Hantu Bara Kaliatus masih tertegun dalan keterkejutannya. Namun di lain kejap begitu dendam kesumat kembali melanda dirinya, apalagi mendengar teriakan sang Junjungan berulang kali, tanpa ragu dia teruskan hantaman tangan kirinya yang terbuat dari besi biru ke kepala Lakasipo.

Hanya tinggal sejengkal lagi tangan besi itu akan merengkahkan kepala Lakasipo tiba-tiba ada sebuah benda biru melesat dari atas. Cepat sekali benda ini menggulung jala api biru lalu menariknya ke udara.

Akibatnya hantaman Hantu Bara Kaliatus hanya mengenai tempat kosong. Marah sekali Hantu Bara Kaliatus mendongak ke atas untuk melihat siapa kiranya yang telah meyelamatkan Lakasipo. Tangan kanannya siap melepaskan pukulan Selusin Bianglala Hitam. Begitu dia melihat siapa di atas sana menggelegarlah bentakan Hantu Bara Kaliatus.

"Peri Angsa Putih! Peri jahanam! Lagi-lagi kau mencampuri urusanku! Aku tahu kau menaruh hati pada manusia satu ini! Jangan harap kau bakal mendapatkannya hidup-hidup!" Habis berteriak penuh marah begitu Hantu Bara Kaliatus pukulkan tangan kanannya.Masih kurang puas dia barengi serangan tangan itu dengan semburan dua buah bara api! Selusin sinar hitam berkiblat menyambar ke arah sosok Lakasipo yang berada dalam jaring api biru, tergantung-gantung di udara. lnilah pukulan ganas bernama Selusin Bianglala Hitam. Dengan pukulan inilah puluhan tahun lalu Hantu Bara Kaliatus mencelakai anaknya yang saat itu masih seorang bayi. (Baca Episode berjudul Hantu Bara Kaliatus)

Namun pukulan sakti serta semburan dua bara api tidak mampu mengenai Lakasipo karena jala api biru di dalam mana Lakasipo berada dan tergantung telah lebih dulu ditarik tinggi ke udara.

Di atas sana, Peri Angsa Putih yang duduk di atas angsa putih melayang berputar dua kali lalu turunkan Lakasipo dl satu tempat yang dianggapnya aman.

Tidak berhasil menyerang Peri Angsa Putih, Hantu Bara Kaliatus tumpahkan amarahnya pada Luhsantini. Sekali menyergap dia langsung hamburkan lima bara api ke arah bekas istrinya itu. Luhsantini keluarkan jeritan keras. Jeritannya ini bukan sepenuhnya jerit ketakutan tapi lebih banyak merupakan jerit penyesalan karena belum sempat membalaskan sakit hati dendam kesumat terhadap lelaki itu, kini justru dia sendiri yang bakal menemui kematian secara mengenaskan!

Sambil menjerit Luhsantini cepat jatuhkan diri. Dia berhasil menghindarkan dua sambaran bara api, namun tiga bara api lainnya yang melesat ke arah dada dan perutnya, tak sanggup dikelit apalagi ditangkis!

Sebelum ajal berpantang mati. ltulah yang terjadi dengan Luhsantini. Sesaat lagi tiga Bara Setan Penghancur Jagat yang disemburkan Hantu Bara Kaliatus akan menembus tubuh perempuan itu, tiba-tiba serangkum sambaran angin melanda sosok Hantu Bara Kaliatus. Demikian hebatnya sambaran ini hingga membuat Hantu Bara Kaliatus terpental dua tombak lalu terjengkang di tanah. Ketika dia memperhatikan keadaan sekelilingnya, terkejutlah dia. Tanah di tempat mana dia barusan jatuh terbanting melesak sampai setengah jengkal. Tapi dia sendiri tidak merasa sakit.

Tidak ada bagian tubuhnya yang cidera. Hantu Bara Kaliatus cepat bangkit berdiri. Memandang ke depan kemudian dia melihat seorang gadis tinggi semampai, berparas cantik jelita tegak sambil tersenyum dingin padanya. Di keningnya melekat sekuntum bunga tanjung kuning. Jelas si baju biru bukan lain adalah Luhcinta.

"Aku rasa-rasa pernah melihat dia di mana. Jika tadi dia berniat jahat aku pasti sudah cidera berat," membatin Hantu Bara Kaliatus.

"Kerabat berpakaian biru, apa hubunganmu dengan perempuan laknat bernama Luhsantini itu hingga mau-mauan menolongnya? Lekas terangkan siapa dirimu adanya!"

Luhcinta kembali tersenyum. "Semua insan di dunia ini dilahirkan dari dan di dalam kasih sayang. Mengapa kau berpikiran dangkal membunuh seorang perempuan yang sesungguhnya adalah bagian dari kasih sayang itu sendiri?"

Sesaat Hantu Bara Kaliatus jadi terkesima mendengar kata-kata gadis cantik berpakaian biru itu. Namun kemudian amarahnya timbul kembali.

"Aku tidak mengerti maksud ucapanmu! Tapi ingin kukatakan, kau tidak tahu siapa adanya perempuan yang barusan kau tolong itu! Dia adalah seorang istri sesat, pengkhianat suami! Kabur dan menjadi gendak lelaki bernama Lakasipo yang barusan ditolong oleh Peri celaka itu!" Hantu Bara Kaliatus menunjuk ke arah kejauhan di mana Peri Angsa Putih menurunkan sosok Lakasipo.

"Kemarahan bisa membuat seseorang sesat bicara. Dendam kesumat bisa membuat insan melupakan kasih. Hasutan bisa menimbulkan bencana. Kalau benar perempuan itu adalah seorang istri sesat, dan kalau aku boleh bertanya, siapa gerangan suaminya sebelumnya?"

Air muka Hantu Bara Kaliatus berubah, tegang membesi. Rahangnya menggembung dan gerahamnya mengeluarkan suara bergemeletak. Untuk beberapa saat lamanya dia tak bisa membuka mulut dan hanya memandang pada gadis baju biru dengan mendelik besar.

"Wahai, kau tidak menjawab, berarti mungkin kaulah bekas suaminya. Benar begitu?"

Hantu Bara Kaliatus masih membungkam. Lalu dia maju satu langkah. Sambil menuding tepat-tepat pada gadis baju biru dia bekata.

"Lekas kau menyingkir dari tempat ini! Jangan mengira aku tidak tega membuatmu celaka!"

"Hawa amarah masih menguasai dirimu. Padahal aku yakin di lubuk hatimu masih ada rasa kasihan. Baik, aku akan pergi dari sini. Tapi aku akan membawa serta perempuan dalam jala itu!"

"Kalau begitu biar kau sekalian kupasung dalam jala api biru!" Hantu Bara Kaliatus lalu pukulkan tangan kirinya. Maka dari tonjolan-tonjolan yang ada di tangan besinya melesat keluar larikan-larikan sinar biru menyala. Larikan-larikan sinar yang panas luar biasa ini bergerak membentuk jaring lalu menebar kearah gadis berpakaian biru!

"Wahai, jaringmu sungguh hebat Tak pernah kulihat ilmu langka ini sebelumnya. Sayang kau miliki dan kau pergunakan untuk perbuatan sesat!"

Habis berkata begitu gadis baju biru ini angkat dua tangannya ke atas lalu didorongkan. Dorongannya perlahan saja. Sambil mendorong dua tumitnya berjingkat.

Gerakannya lemah gemulai seperti seorang penari. Namun kekuatan yang ketuar dari dorongan tangan itu sungguh luar biasa. Jaring Api lblis Penjaring Roh yang hendak melibas dirinya terangkat ke atas. Si gadis gerakkan lagi dua tangannya. Seperti mengikuti gerakan dua tangan si gadis jaring itu melayang ke kiri lalu di satu tempat diturunkan ke tanah.

Kejut Hantu Bara Kaliatus bukan alang kepalang. Jika gadis itu mampu mengendalikan jala Api lblis Penjaring Roh, dan jika dia mau, bukan mustahil dia bisa menjebloskan dirinya ke dalam jala miliknya sendiri! Walau bisa berpikir seperti itu namun Hantu Bara Kaliatus masih jauh dari rasa sadar.

"Kau punya ilmu! Aku mau lihat apakah kau bisa menerima ini!" Didahului bentakan keras Hantu Bara Kaliatus semburkan lima bara menyala. Dua tangannya ikut bekerja. Melepas serangan Selusin Bianglala Hitam.

Dua puluh empat larik sinar hitam dengan dahsyatnya menghantam ke arah gadis berpakaian biru. Melihat serangan luar biasa begitu rupa, Luhcinta tak mau berlaku ayal. Dia membuat gerakan aneh. Tubuhnya melesat miring ke atas. Lima bara menyala lewat di sisi kiri kanan. Bersamaan dengan itu dua tangannya dipukulkan ke depan. Tak ada terdengar deru angin, takada kelihatan cahaya berwarna. Namun dua serangan tangan kiri kanan Hantu Bara Kaliatus yang memancarkan dua puluh empat larikan kelihatan tertahan di udara. Si gadis tukikkan dua tangannya ke bawah ke arah tanah. Dua puluh empat larikan sinar hitam ikut luruh kearah bawah dan menghujam amblas di tanah. Meninggalkan kepulan asap hitam setinggi dua tombak!

Hantu Bara Kaliatus berteriak marah. Dia kerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya lalu tumit kirinya dihentakkan ke tanah hingga kakinya melesak sampai satu jengkal. Akibat hentakan ini secara aneh dua dari dua puluh empat larikan hitam Selusin Bianglala Hitam yang telah dilumpuhkan dan luruh ke tanah, tiba-tiba melesat ke atas lalu menderu kearah Luhcinta. Tidakmenyangka akan kejadian seperti itu si gadis terlambat menghindar.

"Wusss!"

"Wusss!"

Dua larik sinar hitam menyambar tubuh Luhcinta di bagian pinggul dan bahu sebelah kanan. Si gadis terpekik kaget Mukanya langsung pucat Pakaiannya terbakar pada dua tempat yang barusan dilanda serangan. Dia cepat menepuk-nepuk memadamkan api. Begitu api padam, dari robekan hangus pakaiannya di dua tempat tersembul kulitnya yang seharusnya putih mulus itu kini kelihatan berbercak kehitam-hitaman.

Masih untung kulitnya tidak terluka sampai ke dalam. Walau orang sudah menciderai dirinya namun si gadis masih bisa berucap. "Sayang .... Sungguh sayang. Lagi-lagi kepandaian dan limu tinggi dipergunakan dalam kesesatan. Hantu Bara Kaliatus, kau perlu istirahat Kau perlu memicingkan mata barang beberapa jenak agar otak dan hatimu bersih." Selesai mengeluarkan ucapan itu si gadis mengusap mukanya sendiri lalu meniup ke arah Hantu Bara Kaliatus.EMPAT

GADIS baju biru, Aku ingat! Kau bernama Luhcinta!" tiba-tiba Hantu Bara Kaliatus berteriak.

"llmu kepandaianmu boleh tinggi tapi jangan harap kau bisa menenung diriku!"

Habis berkata begiti Hantu Bara Kaliatus siap hendak menghantam kembali. Tapi tiba-tiba dia merasakan matanya menjadi berat. Kantuk yang amat sangat menyerangnya tak tertahankan. Terhuyung-huyung dia melangkah mendekati sebatang pohon. Sebelum sampai ke pohon itu tubuhnya sudah limbung lalu perlahan-lahan jatuh ke tanah.

"Gadis kurang ajar! Apa yang kau lakukan terhadap cucu muridku?!"

Satu suara membentak. Satu bayangan hitam berkelebat. ltulah sosok sang Junjungan yang saat itu sebenarnya sudah siap untuk kabur dari tempat itu. Tapi melihat Hantu Sara Kaliatus jatuh tergeletak di tanah dan tak bergerak lagi dia menyempatkan diri untuk menyelidiki. Gadis yang dibentak tidak segera menjawab karena keburu tergagau ketika melihat siapa dan bagaimana keadaan orang yang barusan membentaknya.

"Kau! Waktu Api lbiis Penjaring Roh menyerangmu, kau menangkis dan mematahkannya dengan llmuTangan Dewa Merajam Bumi! Lalu waktu dua puluh empat sinar hitam pukulan Selusin BiancJala Hitam menggempurmu kau menangkis dengan jurus pukulan bernama Kasih Mendorong Bumi! Lekas katakan apa hubunganmu dengan seorang nenek sakti berjuluk Hantu Lembah Laekatakhijau?!"

Walau rasa terkejut mendengar si muka tengkorak menyebut nama gurunya bahkan mengetahui jurus jurus ilmu serangan sakti yang tadi dilancarkannya menghadapi serangan Hantu Bara Kaliatus, namun Luhcinta layangkan senyum. Dengan demikian dia berhasil menutupi perubahan di wajahnya yang jelita. "Makhluk bermuka tengkorak, matamu sungguh tajam pertanda pengalamanmu sangat luas. Sayang aku tidak kenal siapa kau adanya. Tadi kau berniat hendak pergi dari sini. Mengapa tidak diteruskan?"

Sang Junjungan merasa jengkel karena pertanyaannya tidak dijawab. Namun dia tak mau menghabiskan waktu bicara berpanjang-panjang. Dia berpaling pada Hantu Bara Kaliatus. Makhluk Jerangkong berjubah hitam itu merasa heran karena dia melihat cucu muridnya itu mati tidak, pingsan juga tidak. Tapi tertidur lelap!

"Aku menghadapi orang-orang berkepandaian tinggi. Walau sakit hati, hari ini sebaiknya aku mengalah!" membatin sang Junjungan. Lalu dengan tongkat tulang putih yang tak kelihatan lagi nyala api di ujungnya makhluk jerangkong ini menuding kearah Luhcinta.

"Hari ini untuk pertama kali aku melihatmu. Jika kita bertemu lagi di kali ke dua mungkin urusan tidak semudah ini bagimu! Kecantikan dan kebagusan tubuhmu tidak meluruhkan hatiku untuk tidak membakarmu hidup- hidup!"

Habis berkata begitu makhluk jerangkong sorongkan ujung tongkat tulangnya ke kuduk pakaian Hantu Bara Kaliatus. Sekali dia gerakkan tangannya maka sosok besar Hantu Bara Kaliatus jatuh tertelungkup di atas bahu kirinya. Saat itu juga ada orang berteriak.

"Mahkluk jerangkong! Jangan kau berani membawa orang itu. Tinggalkan dia di tempat ini!"

Yang berteriak ternyata adalah Hantu Langit Terjungkir. Saat itu dia terduduk di tanah sambil pegangi lengannya yang patah. Luka-luka bakar memenuhi sebagian tubuhnya. Ketika Luhcinta memandang ke arah si kakek kagetlah gadis ini. Karena disamping Hantu Bara Kaliatus saat itu berdiri seorang berjubah hitam yang mukanya tertutup oleh tanah liat dan diberi jelaga hitam.

"Orang itu. Dia muncul kembali ..." kata Luhcinta dalam hati.

"Mungkin sekali ini aku terpaksa bicara keras terhadapnya. Tapi apakah kasih memang mengajar kan aku harus berlaku seperti itu?!"

Sang Junjungan tidak perdulikan teriakan Hantu Bara Kaliatus. Dengan cepat dia berkelebat hendak tinggalkan tempat itu. Tapi Luhcinta cepat meng hadangnya.

"Menyingkirlah atau kugebuk mukamu yang cantik sampai cacat!"

Mahkluk jerangkong mengancam dan angkat tongkat tulang di tangan kirinya ke atas, siap dipukulkan ke wajah Luhcinta. Si gadis tetap tenang. Malah berkata.

"Kau dengar orang meminta. Mengapa sosok yang kau panggul itu tidak segera kau turunkan saja? Perlu apa berjalan dengan beban seberat itu?"

Makhluk jerangkong menyeringai. Dia melirik ke arah orang bermuka hitam di sebelah si gadis. Agaknya bukan ucapan Luhcinta tadi yang jadi bahan pertimbangannya.

"Ucapanmu yang terakhir mungkin benar. Kau inginkan orang ini silahkan ambil!" Sang Junjungan gerakkan bahu kirinya. Sosok Hantu Bara Kaliatus terlempar ke arah Luhcinta. Selagi gadis ini kebingungan apakah akan menanggapi sosok Hantu Bara Kaliatus atau membiarkannya saja jatuh bergedebuk di tanah, makhluk jerangkong secepat kilat menggebukkan tongkat putihnya ke wajah si gadis!

Mendapat serangan seperti itu Luhcinta segera gerakkan dua tangannya kedepan. Bersamaan dengan itu dia sambut sosok Hantu Bara Kaliatus dengan bahu kirinya. Begitu bahunya digoyangkan maka tubuh Hantu Bara Kaliatus terjatuh ke depan. Dengan kaki kanannya Luhcinta sambut tubuh itu lalu sambil meneruskan gerakan dua tangannya, tubuh Hantu Bara Kaliatus diletakkannya di tanah!

Makhluk jerangkong berseru kaget ketika tahu-tahu dapatkan tongkat tulang putihnya tidak ada lagi di tangannya. Memandang ke depan dilihatnya benda itu sudah berada dalam genggaman gadis berbaju biru!

"Dia mampu meiakukan dua gerakan sekaligus! Menanggapi sosok yang kulemparkan dan meram-pas tongkat tulangku!" Si muka tengkorak berjubah hitam membatin lalu lagi-lagi dia melirik ke arah orang bermuka hitam.

"Lebih baik aku cari selamat! Perduli amat dengan Latandai!" Tanpa banyak bicara lagi sang Junjungan segera berkelebat tinggalkan tempat itu. Untuk meminta tongkatnya kembalipun dia tidak ingat. Sebaliknya Luhcinta yang memang tidak memerlukan tongkat tersebut segera melemparkan nya ke arah makhluk jerangkong.

"Wuuuttt.. sett!"

Tongkat tulang itu menyusup di sisi kiri jubah hitam sang Junjungan, terus menembus sampai ke bagian kanan. Akibatnya gerakan larinya itu terjegal terserimpung. Tak ampun lagi dia tersungkur tung-gang langgang. Muka tengkoraknya berkelukuran di tanah. Sambil menyumpah panjang pendek orang ini bangkit berdiri lalu tinggalkan tempat itu diiringi suara tawa cekikikan Luhcinta.

"Luhcinta, aku perlu bicara dengan Hantu Bara Kaliatus. Harap kau buat dia bangun dari tidurnya!" Ucapan Hantu Langit Terjungkir itu membuat Luhcinta hentikan tawanya. Gadis ini menatap ke arah Hantu Bara Kaliatus lalu usap mukanya dua kali dan meniup. Saat itu juga sosok Hantu Bara Kaliatus tampak bergerak Dia bangkit berdiri sambil memandang berkeliling, berpikir-pikir dan berusaha mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya. Dia dapatkan sang Junjungan tak ada lagi di tempat itu.

Malah di samping Luhcinta kini berdiri orang yang mukanya dilapisi tanah liat hitam, dikenal dengan julukan Si Penolong Budiman. Jauh di sebelah sana Peri Angsa Putih kelihatan tegak di samping Lakasipo. Terpincang-pincang karena kini hanya pergunakan satu tangan sebagai kaki, Hantu Langit Terjungkir mendekati Hantu Bara Kaliatus.

"Latandai, ikuti aku ke tempat Lakasipo berada. Kita bertiga perlu bicara," berkata Hantu Langit Terjungkir. Dia memandang pada Luhsantini dan Luhcinta lalu juga pada si muka tanah liat.

"Tidak ada salahnya kalian turut mendengar apa yang hendak kami bicarakan. Kelak kalian semua bisa menjadi saksi dari satu kenyataan hidup yang gelap dan selama ini tersembunyi seolah terpuruk di kerak bumi."

"Tua bangka buruk! Aku tidak ada urusan denganmu!" Hantu Bara Kaliatus menjawab. Tanpa banyak bicara dia segera hendak berkelebat pergi.

Hantu Langit Terjungkir cepat menghalangi. "Latandai, ini bukan urusan main-main ...."

"Kau menyebut begitu! Kau tua bangka gila! Kalian di sini gila semua!" Saking marahnya karena merasa dihalangi Hantu Bara Kaliatus lalu tendangkan kaki kanannya ke bawah. Karena orang tua ini tegak dengan kaki ke atas kepala ke bawah maka dengan sendirinya tendangan itu mengarah ke kepalanya. Dalam keadaan tangan kanan patah dan tubuh penuh luka, Hantu Langit Terjungkir tidak mampu berbuat banyak. Gerakannya menghindar terlalu lambat Kaki kanan Hantu Bara Kaliatusmeluncur deras dan ganas ke kepalanya.

Orang berjubah hitam yang wajahnya dilapisi tanah liat hitam cepat hendak bergerak berikan perto longan. Tapi Luhcinta mendahului dengan satu teriakan. .

"Latandai! Jangan berlaku bodoh! Mungkin orang tua yang hendak kau bunuh itu adalah ayah kandungmu sendiri!" Kaget Hantu Bara Kaliatus bukan alang kepalang. Gerakannya menendang jadi tertahan. Dia membeliak besar ke arah Luhcinta.

"Jangan kau berani mengada-ada! Apa maksud ucapanmu tadi?!" bentak Hantu Bara Kaliatus.

"Kalau kau ingin tahu jawabnya, penuhi permintaan orang tua itu. Dia mengajakmu bicara dengan Lakasipo. Antara kalian agaknya ada pertalian darah yang bukan main-main ...."

"Apapun yang ada di balik semua kegilaan ini aku tidak akan pernah mengakui bangsat tua ini adalah ayahku! Juga tidak akan pernah mengakui Lakasipo adalah saudaraku!" Habis berkata begitu Hantu Bara Kaliatus meludah ke tanah lalu berkelebat tinggalkan tempat itu.

"Latandai!" seru Hantu Langit Terjungkir memanggil.Terpincang-pincang jatuh bangun dia berusaha mengejar Hantu Bara Kaliatus tetapi Luhcinta cepat mencegahnya.

"Kek, sia-sia saat ini kau memaksa bicara dengan Hantu Bara Kaliatus. Hati dan pikirannya dibungkus oleh perasaan sombong serta hawa amarah yang membuat dia tidak mau mengerti perasaan orang lain...."

"Aku ...." Hantu Langit Terjungkir gulingkan badan nya ke bawah. Dia tak kuasa melanjutkan ucapannya karena tenggorokannya keburu diganjal oleh sesenggukan. Setengah meratap orang tua ini berucap.

"Aku tidak menyalahkan dirinya. Kenyataan ini sung guh berat untuk diterima oleh siapapun ...."

"Kek," kata Luhcinta pula.

"Mungkin aku telah mengeluarkan ucapan salah. Tadi aku mengatakan kau mungkin adalah ayahnya sendiri. Agaknya itu yang membuat Hantu Bara Kaliatus marah besar. Aku tidak mengerti mengapa sampai bicara begitu. Aku mohon maafmu. Tapi terus terang seperti ada satu alur perasaan dalam hatiku yang tiba-tiba menyatu dengan alur perasaan yang ada dalam dirimu ... ;"

"Kau tidak bersalah wahai gadis bernama Luhcinta. Latandai, seperti Lakasipo adalah anakku. Anak kandung darah dagingku. Aku yakin benar hal itu. Tanda yang ada di lengan Latandai, juga yang terdapat di lengan Lakasipo tak dapat dipungkiri ...." Air mata bercucuran di pipi orang tua itu.

"Kek, untuk sementara biar kau menenangkan diri. Tanganmu cidera. Sekujur tubuhmu penuh luka bakar. Aku akan berusaha menolongmu sebisaku ..."

"Terima kasih. Kau anak baik. Hatimu tutus dan penuh kasih. Kalau saja aku punya anak perempuan atau menantu sepertimu, hidupku tentu penuh bahagia. Tapi aku ingin kau membawa aku lebih dulu menemui Lakasipo di bukit kecil sana ...."

Hantu Langit Terjungkir menunjuk ke arah kejauhan di mana tadi Peri Angsa Putih menurunkan sosok Lakasipo. Tapi ketika semua orang memandang kesana mereka jadi terkejut Peri Angsa Putih dan juga Lakasipo tak ada lagi di tempat itu.

"Anak itu .... Kemana dia pergi. Dia tak mungkin berjalan sendiri. Ada seseorang yang membawanya. Aku masih belum berkesempatan untuk menerang kan padanya .... Lakasipo anakku ...." Kembali Hantu Langit Terjungkir menangis terisak-isak.

"Kek, biar aku mendukungmu, membawa ke tempat lebih baik untuk dirawat," orang berjubah hitam bermuka tanah liat tiba-tiba mendekat lalu mendukung si kakek di bahu kirinya.

"Tak jauh dari sini ada sebuah telaga di kaki bukit kecil. Untuk sementara kurasa itu tempat yang baik bagimu." Si muka tanah liat berpaling pada Luhcinta.

"Aku mendukung kakek ini, harap kau menolong perempuan di dalam jaring ...."

"Orang bermuka aneh, aku tahu tadi kau yang menolong aku dari bahaya maut tangan ganas makhluk muka tengkorak itu. Dia begitu ketakutan melihat Pukulan Menebar Budi yang kau lepaskan untuk menyelamatkan nyawaku. Pukulan itu menandakan kau adalah yang selama ini dijuluki Si Penolong Budiman. Tapi wahai, siapakah kau sebenarnya?"

Dibalik tanah liat yang membungkus wajahnya si jubah hitam tersenyum rawan. Dengan suara perlahan dia berkata.

"Kita orang-orang bernasib sama. Derita gelap kehidupan kita sama beratnya. Rahasia yang membalut dirimu telah mulai terungkap. Sedang aku entah kapan mendapat berkah para Dewa untuk dapat pula menyingkapnya ...."

Di ujung ucapannya si muka tanah liat melirik pada Luhcinta. Luhcinta yang dilirik jadi berdebar. Dalam hati dia membatin. "betapapun aku tidak suka diikutinya terus menerus tapi mungkin dia memang menyimpan satu rahasia besar yang ada sangkut pautnya dengan diriku. Bagaimana aku harus bertindak ... ?"

"Penolong Budiman, tidak kusangka kau menyem bunyikan satu ganjalan hati yang berat dibalik wajahmu yang terbungkus tanah liat itu. Aku tahu diri. Aku tak akan menanyakan apa-apa padamu. Eh, mengapa kau mendadak diam saja? Katamu kau hendak membawaku ke satu telaga kecil ...."

"Ah, maafkan diriku. Kita berangkat sekarang juga Kek," kata si muka tanah liat. Dia mulai bergerak melangkah. Tiba-tiba langkahnya tertahan.

"Ada apalagi? Kau mendadak hentikan langkah ..." tanya Hantu Langit Terjungkir.

"Gadis berpakaian serba biru itu. Dia tak ada lagi di sini. Perempuan di dalam jala juga ikut lenyap!" jawab Si Penolog Budiman.

"Hemm ... aku bisa membaca. Mudah-mudahan apa yang terbaca tidak keliru. Agaknya gadis itu sengaja menjauhkan diri darimu. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan rahasia hidupmu?"

Si Penolong Budiman menarik nafasdalam. Tanpa menjawab pertanyaan si kakek dia segera melangkah tinggalkan tempat itu.LIMA

PENDEKAR 212 Wiro Sableng tidak bisa menduga kemana sebenarnya danapa tujuan Hantu Santet Laknat membawanya. Sebelumnya dukun jahat itu bicara baik-baik padanya seperti orang berhati mulia. Dia bicara ingin membalas budi karena Wiro pernah menyelamatkannya. Tapi siapa percaya makhluk seperti nenek satu ini. Yang menyantet dan membunuh orang seenaknya? Karena tak tahan berdiam diri dan rasa was-was Wiro akhirnya ajukan pertanyaan.

"Nek, kau mau bawa aku kemana sebenarnya?" Hantu Santet Laknat gebuk pantat Wiro dengan tangan kirinya. "Sudah berapa kali kau bertanya. Tidak pernah aku melihat orang secerewet dirimu ini! Biasanya yang cerewet adalah nenek-nenek sepertiku ini! Masih muda kau sudah begini cerewetnya, apalagi nanti sudah jadi kakek! Hi ... hik ... hik!" Mendapat jawaban seperti itu Wiro akhirnya hanya diam saja. Dia berusaha mengerahkan tenaga untuk memusnahkan kelumpuhan aneh yang menguasai dirinya. Tapi sia-sia saja. Rupanya Hantu Santet Laknat mengetahui apa yang dilakukan Wiro. Maka nenek ini berkata.

"Kau boleh punya kesaktian setinggi langit sedalam samudera. Jangan harap kau bisa membebaskan diri dari ilmu Membuhul Urat Mengikat Otot yang menguasai dirimu. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab menghabiskan waktu lima puluh tahun untuk menyakini iimu yang membuat orang kaku tegang tak berdaya seperti yang kau rasakan sekarang ini!"

"Hantu Santet Laknat, kau telah mencuri kapak saktiku ...." Wiro ingat pada Kapak Maut Naga Geni 212.

"Sudah kubilang, aku tidak mencuri senjata itu. Aku mengambil semata-mata karena ingin merasa dekat denganmu ...."

"Aku tak perduli apapun alasanmu. Kau bisa menyebutkan seribu alasan. Mana kapak itu sekarang?"

"Kusimpan di balik jubah hitamku."

"Serahkan padaku!"

"Apa yang hendak kau lakukan?" tanya si nenek sambil terus berlari.

"Senjata itu bisa menolong diriku dari luka dalam yang kuderita ...."

"Kapakmu memang senjata luar biasa. Aku pernah mencobanya dan berhasii. Ketika diriku cidera berat dihantam lawan dan menderita luka dalam. Tapi luka dalam yang kau derita bukan cidera biasa! Kapak saktimu tak akan mampu menolong. Lagi pula jika kuserahkan padamu, apa kau bisa memegang senjata itu? Kau berada dalam keadaan lumpuh. Apa kau bisa mengalirkan tenaga dalam dan hawa sakti yang kau miliki?"

"Berarti, seumur-umur aku akan berada dalam keadaan seperti ini?" Si nenek tertawa panjang.

Wiro memaki dalam hati. Dalam keadaan seperti itu si nenek masih bisa tertawa. Kemudian didengarnya Hantu Santet Laknat berkata. "Pemuda tolol, kalau aku ingin kau menderita sengsara seumur-umur, tidak akan aku membawamu saat ini ...." .

"Tapi kau tidak mau memberitahu kemana kau membawa diriku ...."

"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Hari mulai gelap. Kalau kau ajak bicara terus aku bisa lari menabrak pohon. Kalau kepalamu yang mendarat. di batang kayu lebih dulu, apa kau tidak celaka? Nanti kau menuduh diriku sengaja mencelakai dirimu ...."

Wiro menggerendeng dalam hati. Dadanya men denyut sakit sekali. Tubuhnya saat demi saat terasa semakin lemah. Hantu Santet Laknat pegang pundak pemuda ini.

"Tubuhmu mulai dingin. Racun tendangan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab mulai bekerja. Aku harus bertindak cepat ...."

Si nenek percepat larinya. Baru berlalu beberapa saat tiba-tiba Wiro merasakan dadanya sesak. Dia membuka mulut lebar-lebar agar bisa bernafas. Tapi dari mulutnya menghambur darah segar. Saat itu juga murid Eyang Sito Gendeng ini jatuh pingsan tak sadarkan diri lagi!

"Celaka! Celaka!" kata Hantu Santet Laknat berulang kali. Dia percepat larinya. Dalam udara yang mulai gelap sosoknya kelihatan seperti bayang-bayang, berkelebat ke arah matahari tenggelam. Tujuannya adalah sebuah bukit kecil yang ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan mengandung obat mujarab bagi penyembuhan luka dalam yang disertai racun.

Di puncak bukit itu ternyata ada sebuah gubuk reot beratap daun kelapa kering. Di dalam gubuk terdapat tiga batang pohon kelapa yang dipotong-potong rata dan disusun demikian rupa membentuk pembaringan. Hantu Santet Laknat baringkan Wiro di atas batang-batang kelapa itu. Lalu dia mencari beberapa ranting kering, digabung jadi satu. Ujung ranting-ranting itu dilumasinya dengan hancuran sejenis daun. Ketika dibakar maka ujung ranting itu berubah menjadi obor. Walau hanya apinya kecil saja tapi sudah cukup untuk menerangi seluruh gubuk.

Hantu Santet Laknat berlutut di samping sosok Wiro. Dengan cepat dibukanya baju pemuda ini. Muka burungnya berubah dan sepasang matanya yang aneh membeliak besar ketika melihat tanda kebiruan berbentuk kaki di dada kiri Wiro. Itu adalah tanda kaki bekas tendangan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

"Tendangan Hantu Racun Tujuh .... Tepat di arah jantung. Tidak mudah mengobatinya.,." desis Hantu Santet Laknat.

"Aku harus mencari tujuh jenis daun obat. Mungkin membutuhkan waktu lama. Apakah dia sanggup bertahan ...." Si nenek letakkan telinga kirinya di atas dada kiri Wiro.

"Masih ada detak jantungnya. Tidak terlalu keras. Para Dewa .... Aku mohon pertolonganmu. Beri kekuatan pada orang ini agar dia bisa bertahan. Paling tidak sampai aku dapat mengumpulkan tujuh daun obat yang diperlukan ...."

Hantu Santet Laknat letakkan dua telapak tangannya di dada kiri Pendekar 212. Lalu dia pejamkan mata.

Perlahan-lahan si nenek mulai alirkan hawa sakti ke dada murid Eyang Sinto Gendeng. Cukup lama sampai tubuhnya keringatan karena dari dada pemuda itu seolah ada hawa lain yang keluar menolak masuknya hawa sakti si nenek. ltulah hawa jahat racun tendangan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!

"Wiro ..." bisik Hantu Santet Laknat

"Walau kelak aku tidak mendapatkan dirimu, aku merasa puas jika bisa menyelamatkan jiwamu. Kehadiranmu membuat aku mulai menyadari betapa hidup di dalam kesesatan itu hanya akan membakar diri sendiri ...." Si nenek belai pipi Wiro lalu bangkit berdiri. Dia harus bertindak cepat.

Sebelum keluar dari dalam gubuk dia mengambil ranting-ranting yang dijadikan obor. Mencari tujuh daun obat di malam gelap seperti itu bukan pekerjaan mudah. Obor kecil itu bisa menolongnya sebagai penerang jalan.

Baru satu langkah Hantu Santet Laknat meninggalkan bagian depan gubuk tiba-tiba di dalam gelap terdengar suara tawa cekikikan.

Kaget si nenek bukan alang kepalang. Memandang kedepan dia melihat dua gadis cantik berpakaian serba putih menyeruak keluar dari kegelapan, tegak berkacak pinggang, memandang ke arahnya sambil tertawa-tawa.

"Sepasang Gadis Bahagia!" kata si nenek dalam hati.

"Apakah sudah lama mereka berada di tempat ini? Apakah mereka melihat apa yang tadi aku lakukan di dalam sana? Ah, menyaksikan mereka berdua-dua seperti ini membuat rasa penyesalan dalam diriku jadi semakin bertambah. Kalau sang Junjungan tidak memerintahkan aku .. Tapi bagaimana dengan berita yang tersiar di luaran. Wiro dikabarkan telah meru sak kehormatan mereka dan menganiaya keduanya. Jika melihat mereka saat ini tampaknya seperti tidak pernah terjadi apa-apa dengan mereka ....."

Siapa adanya Sepasang Gadis Bahagia harap baca Episode sebelumnya berjudul Hantu Langit Terjungkir.

"Hantu Santet Laknat!" gadis kembar di sebelah kanan bernama Luhkemboja menegur.

"Apa yang kau lakukan di dalam gubuk barusan? Hik ... hik ... hik!"

"Dia benar-benar beruntung! Hik ... hik ... hik!" menimpali gadis satunya yakni Luhkenanga sang adik Hantu Santet Laknat tidak mau layani ucapan dua gadis kembar itu. Dia membentak keras.

"Dua gadis liar! Perlu apa malam-malam begini berada di tempat ini! Jika kau mengikuti diriku dan punya niat tidak baik, jangan kira aku tidak tega membuat kalian celaka seumur-umur!"

"Hik ... hik! Kak, kau dengar, dia mengancam kita!"

"Dia takut ketahuan apa yang barusan diperbuatnya di dalam sana dengan pemuda gagah yang digilainya itu!" ujar Luhkemboja. Lalu dua gadis itu kembali tertawa panjang.

"Nek, kami tadi mengintip kau hendak menelanjangi pemuda itu di dalam gubuk!" kata Luhkenanga.

"Kau membelai kepalanya. Mengapa tidak membelai bagian tubuh lainnya?!"

"Gadis-gadis sesat bermulut keji! Kalau kau tidak menjaga ucapan akan kurobek mulut kalian saat ini juga!" Hantu Santet Laknat marah besar.

"Hik ... hik! Dia takut kita mau mengambil pemuda itu!" kata Luhkenanga pula.

"Hemm ... Kalian suka pada pemuda itu! Silahkan masuk ke dalam gubuk! Lakukan apa yang kalian mau!" Hantu Santet Laknat berkata seraya maju selangkah.

"Kami tidak berselera! Apa lagi pemuda itu siap menjadi bangkai tak berguna! Siapa sudi!" jawab Luhkenanga.

Seperti diketahui dua gadis kembar cucu-cucu Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab ini memang mempunyai kelainan. Yakni hanya suka pada kaum sejenis. "Kalau kalian tidak punya kepentingan lekas menyingkir! Atau api di ujung ranting ini akan merusak wajah kalian!"

Habis berkata begitu Hantu Santet Laknat membuat lompatan, menyergap dua gadis kembar seraya babatkan ujung ranting berapi ke wajah mereka. Sepasang Gadis Bahagia tahu sekali siapa adanya Hantu Santet Laknat. Mereka tidak mau mencari celaka. Dengan sigap keduanya membuat gerakan melesat ke udara. Dalam melompat tinggi sosok mereka seolah-olah bersikap duduk enak-enakan. lnilah jurus yang disebut Bahagia Naik Ke Pelaminan.

Sesaat kemudian keduanya lenyap dalam kegelap an. Hanya suara tawa mereka yang terdengar di kejauhan. Setelah memastikan dua gadis itu telah pergi jauh Hantu Santet Laknat segera tinggalkan tempat tersebut. Namun hatinya was-was.

"Dua gadis itu, aku tidak percaya pada mereka. Sejak keadaan mereka menjadi seperti itu benak dan hati mereka telah dilumuri segala macam kekejian. Aku harus melakukan sesuatu ...."

Si nenek angkat tangan kirinya tinggi-tinggi keatas. Telapak tangan dipentang terbuka kearah gubuk. Matanya membesar tak berkesip.

"Wussss!"

Kepulan asap hitam melesat keluar dari lima jari dan telapak tangan si nenek. Asap itu membuntal ke arah gubuk. Tepat seperti yang diduga Hantu Santet Laknat, tak selang berapa lama Sepasang Gadis Bahagia muncul kembali. Mereka memandang berkeliling dalam gelap.

"Aneh, rasanya kitasudah sampaidi tempat gubuk itu berada sebelumnya. Tapi mengapa gubuknya tak ada lagi ... ?" berucap Luhkenanga.

"Pohon besar itu," kata Luhkemboja sambil memandang pada pohon besar beberapa langkah di hadapannya. "Apakah pohon inisebelumnya memang ada di sini?"

"Aku tak dapat memastikan," jawab Luhhkenanga.

"Perasaanku tidak enak Jika dukun jahat itu membokong kita di malam gelap gulita begini rupa, kita bisa celaka. Sebaiknya kita pergi saja. bukankah kita ingin menyirap kabar bagaimana keadaan dan apa yang dilakukan kakek kita Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab?"

"Ya, kita pergi saja. Kalau bertemu kakek kita beritahu bahwa pemuda asing dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang itu berada di kawasan bukit kecil ini."

"Tapi bagaimana kalau dia tahu kita mendustainya tentang tongkat batu biru itu?" ujar Luhkenanga. Luhkemboja jadi terdiam sesaat Akhirnya dia berkata.

"Sudah, lupakan dulu mencari kakek Yang penting kita lekas pergi dari tempat ini!" Seperti ditelan bumi dan gelapnya malam, dua gadis itu kemudian berkelebat lenyap dari tempat itu.ENAM

LANGlT malam laksana runtuh, tak dapat menahan curahan hujan yang sangat lebat. Gubuk tua itu seperti akan hancur luluh. Petir sabung menyabung. Guntur menggelegar menggetarkan puncak bukit. Dinding gubuk yang banyak berlubang membuat angin dingin menerobos masuk dengan mudah.

Pendekar 21 2 Wiro Sableng terbaring tak bergerak di atas tempat tidur terbuatdari susunan-batang pohon kelapa. Hanya dua bola matanya memandang berputar. Tubuhnya terasa dingin diterpa angin yang masuk dari luar. Tampisan air hujan dari atap dan dinding membasahi dirinya.

Untuk kesekian kalinya petir menyambar. Gelegar guntur membuat batang-batang pohon kelapa yang ditiduri Wiro bergetar keras. Tiba-tiba Wiro melihat cahaya terang di atas gubuk. Lalu terdengar suara lolongan anjing di kejauhan. Sesaat kemudian "braakk!"

Atap gubuk jebol ambruk. Bersamaan dengan guyuran air hujen satu sosok putih melayang turun ke dalam gubuk! Dalam kejutnya Wiro berusaha bangkit Tapi sekujur tubuhnya laksana direkat kebatang pohon kelapa. Matanya membeliak besar ketika mengenali siapa adanya sosok tinggi besar berjubah putih basah kuyup yang tegak di sampingnya. Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!

"Pemuda terkutuk dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang! Aku mau melihat sampai dimana kesaktianmu! Apa kali ini kau sanggup menyelamat kan diri dari kematian? Roh teman-temanmu tidak sabar menunggu kedatanganmu untuk bergabung!"

Murid Eyang Sinto Gendeng jadi terkejut besar.

"A ... apa?! Jadi kau. .. kau telah membunuh Naga Kuning dan Setan Ngompol?!"

Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab tertawa bergelak. Tiba-tiba dia gerakkan dua tangannya. Dua tangan itu serta merta menjadi panjang dan berkelebat ke arah leher Wiro. Satu cekikan yang sangat kuat membuat lidah Wiro langsung terjulur. Dia tidak bisa melakukan apapun. Tangannya tak bisa digerakkan. Dia tidak ada daya untuk menyelamatkan diri! Suara tawa Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab semakin keras. Lidah Wiro semakin panjang terjulur. Ludah bercampur darah berbusa di mulutnya. Nafasnya tidak keluar lagi dari mulut ataupun hidung!

"Tidak ... ! Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati!" teriak Wiro. Dia berusaha mengerahkan tenaga. Tiba-tiba entah bagaimana, dia mampu meng gerakkan tangan dan kakinya. Langsung dia menendang dan memukul. Tapi sosok Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab seperti bayang-bayang. Wiro hanya memukul angin!

"Aku tidak mau mati! Tidaakk! Kau yang harus mati! Kau ... kau ... kau!" Wiro berteriak lagi lalu kembali dia memukul dan menendang kalap.

Mendadak pintu gubuk ditendang orang dari luar. Satu sosok hitam menghambur masuk. Di kepitan tangan kirinya dia membawa berbagai macam dedaunan. Di tangan kanan orang ini memegang obor ranting kayu. Hantu Santet Laknat!

"Wiro! Apa yang terjadi?!" si nenek bertanya kaget dan heran melihat keadaan Wiro begitu rupa. "Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati! Kau yang harus mati! Kau ... kau ... kau!"

"Kau ... kau siapa maksud pemuda ini? Diriku? Dia ingin aku mati?"

Si nenek sisipkan obor di sudut gubuk. Dedaunan dibuangnya ke lantai lalu cepat dia mendekati Wiro. Begitu dia menyentuh tubuh si pemuda terasa sangat panas.

"Kau mimpi! kau barusan bermimpi Wiro! Sekaligus diserang demam panas akibat racun tendangan ...."

Bola mata Pendekar 212 memandang seputar gubuk. "Mana dia? Mana dia manusia jahat yang hendak membunuhku itu?!"

"Manusia jahat siapa? Tidak ada orang lain di sini kecuali kita berdua ...." Menjelaskan Hantu Santet Laknat.

"Tidak mungkin! Aku lihat sendiri dia menerobos masuk dari atas atap sana! Basah kuyup karena di luar sedang hujan lebat!"

Hantu Santet Laknat memandang ke arah atap yang ditunjuk Wiro. "Aku tidak melihat apa-apa. Coba kau perhatikan baik-baik. Atap gubuk itu tidak ada yang jebol. Di luar tidak ada hujan ...."

"Tidak mungkin! Jangan mempermainkan aku!" Si nenek gelengkan kepala.

"Kataku kau bermimpi ...."

"Kalau aku bermimpi bagaimana aku bisa menendang dan memukul?"

Hantu Santet Laknat tertawa. "Waktu aku masuk aku dapatkan kau terbaring keringatan tapi masih dalam keadaan kaku di atas batang-batang kelapa itu. Kalau kau tidak percaya coba gerakkan tangan atau kakimu!"

Wiro melakukan apa yang dikatakan si nenek. Ternyata dia tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya.

"Kau masih berada dalam kelumpuhan akibat perbuatan Hantu SejutaTanya Sejuta Jawab. Sekarang apa kau percaya bahwa kau tadi hanya bermimpi? Kalau kau mimpi berarti kau sempat tidur. Itu sangat menolong memulihkan kekuatanmu. Tapi kau masih belum terlepas dari bahaya. Pejamkan matamu. Jangan memikirkan apa-apa. Aku pernah mendengar dari seseorang bahwa kau mempunyai Tuhan yang disebut Allah. Aku tidak mengerti, tidak tahu siapa Dia adanya. Tapi kudengar Dia Maha Kuasa Maha Penolong dan Maha Pengasih. Kalau begitu mengapa kau tidak berdoa padaNya agar kau mendapat pertolonganNya. Aku akan berdoa untukmu pada para Dewa. Lalu menyiapkan ramuan obat Tetap berbaring di sini sampai aku kembali!"

Setelah Hantu Santet Laknat keluar dari gubuk dan Pendekar 212 tinggal sendirian, murid Sinto Gendeng ini memperhatikan seputar gubuk sambil berpikir-pikir.

"Mungkin benar aku bermimpi. Atap itu tak ada yang jebol. Di luar ternyata tidak ada hujan. Nenek bernama Hantu Santet Laknat itu.. .. Aneh, mengapa dia berubah sebaik itu padaku? Dia hendak meramu obat katanya? Dia memberitahu agar aku berdoa pada Allah. Astaga .... Aku memang sudah banyak berdosa karena sejak lama tidak pernah mengingat-ingat Dia ...." Wiro usap mukanya yang keringatan berulang-ulang.

"Gusti Allah, ampuni diriku!" Wiro pejamkan matanya. Dadanya kembali menyentak sakit.

*

* *Di dalam gubuk itu waktu terasa seperti merayap. Wiro seolah sudah menunggu berhari-hari. Matanya hampir terpicing ketika akhirnya Hantu Santet Laknat muncul kembali. Di tangannya dia membawa daun talas yang dibentuk demikian rupa tempat menam pung remasan tujuh macam daun yang meng hasilkan semacam cairan kental.

"Aku datang membawa obatmu! Kau berdoalah pada Tuhanmu. Aku memohon pada para Dewa untuk kesembuhanmu. Sekarang buka mulutmu lebar-lebar!"

"Hantu Santet Laknat, apa yanb ada di dalam daun itu?"

"Obatmu! Jangan banyak bertanya lagi! Jangan membuang waktu. Jangan membuat aku kesal!" Karena Wiro tidak mau membuka mulutnya, nenek berwajah seperti burung gagak hitam itu jadi tak sabaran lalu pencet pipi si pemuda. Begitu mulut Wiro terbuka Hantu Santet Laknat segera tuangkan cairan kental di dalam daun keladi. Wiro masih berusaha bertahan dengan tidak mau menelan cairan obat itu karena ada kekhawatiran dalam dirinya si nenek bukan memberinya obat tetapi racun jahat yang bisa mencelakainya!

Terpaksa Hantu Santet Laknat memijat pipi Wiro kembali. "gluk ... gluk ... gluk!" Ketika cairan ramuan obat lewat di tenggorokannya, Wiro merasa seperti menelan cairan timah panas. Mulutnya mengepulkan asap. Wiro berteriak setinggi langit. Matanya mendelik lalu terkatup..Mulut terkancing. Hantu Santet Laknat tertawa panjang.

*

* *PERLAHAN-lahan Pendekar 212 buka sepasang matanya. Dia memandang berkeliling dan dapatkan. dirinya ternyata masih berada dalam gubuk. Di sudut gubuk masih menyala api di ujung tumpukan ranting kayu yang kini hanya tinggal dua jengkal panjangnya.

Wiro coba memasang telinga. Selain kesunyian sesekali terdengar suara jengkerik di kejauhan pertanda saat itu malam hari.

"Malam hari, apakah masih malam yang sama pertama kali aku dibawa ke sini? Aku masih berada dalam gubuk ini. Mana si nenek dukun itu ... ?" Wiro berucap dalam hati. "Aneh, tubuhku terasa ringan. Dadaku lega, tak ada rasa sakit ...." Tak sadar Wiro gerakkan tangan kanannya. Astaga! Ternyata dia bisa menggerakkan tangan. Ganti tangan kiri digerakkan. Lalu digeserkan dua kakinya.

"Gusti Allah! Kau telah menolongku! Aku sembuh! Aku bisa bergerak!" Masih kurang percaya, murid sinto Gendeng ini bergerak bangkit. Dia keluarkan seruan tertahan ketika melihat dia benar-benar bisa duduk di atas pembaringan terbuat dari batang kelapa itu!

Wiro perhatikan dada kirinya. Sebefumnya disitu ada tanda kebiru-biruan bekas tendangan kaki beracun Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Tapi saat itu tak ada lagi, lenyap tak berbekas. "Tuhan Maha Besar!" Wiro bersujud di atas pembaringan. "Terima kasih Tuhan. Terima kasih Gusti Allah. Jika pertolongan dan kesembuhanku ini Kau berikan melalui kebaikan seseorang maka berilah orang itu berkah sebesar-besarnya!

Berilah kepadaku kemampuan untuk membalas budinya!" Setelah bersujud tak bergerak beberapa lamanya sambil mengucap puji syukur berkepan-jangan Wiro turun dari pembaringan. "Aku harus mencari nenek itu ...."

Hanya mengenakan celana putih tanpa baju dia melangkah ke pintu. Pintu gubuk mengeluarkan suara berkereketan ketika dibuka. Di luar kegelapan hitam menyambutnya. Setelah memperhatikan keadaan sesaat, Wiro kemudian melangkah. Dia memeriksa sekitar gubuk malah lebih jauh lagi. Tapi dia tidak menemukan Hantu Santet Laknat

"Jangan-jangan dia telah pergi entah kemana. Dia masih membawa kapak saktiku. Kemana aku harus mencarinya?!" Wiro angkat tangan kanannya menggaruk kepala.

"Ah, sudah lama aku tidak menggaruk. Enak sekali rasanya!" Murid Sinto Gendeng lalu pergunakan dua tangan untuk menggaruk kepalanya habis-habisan sambil tersenyum-senyum. Tapi bila dia ingat kembali pada Hantu Santet Laknat dan kapak saktinya, senyumnya hilang, gerakan menggaruk terhenti.

Kemudian disadarinya dia tidak mengenakan baju. "Aku harus kembali ke gubuk. Mengambil baju dan memeriksa. Siapa tahu nenek itu meninggalkan kapak saktiku di satu tempat di dalam gubuk itu!" Wiro setengah mengharap walau sebenarnya dia tidak yakin Hantu Santet Laknat akan meninggalkan Kapak Maut Naga Geni 212 begitu saja tanpa memberitahu padanya.

Wiro cepat-cepat melangkah kembali ke gubuk. Setengah jalan di satu. tempat langkahnya tertahan. Telinganya tiba-tiba mendengar suara sesuatu.

"Suara orang terisak-isak.. " kata Wiro dalam hati. "Siapa pula yang malam-malam begini menangis di tempat ini?" Dia memandang berkeliling. Matanya melihat sesuatu beberapa belas langkah di depan sana. Di bawah bayang-bayang gelap sebuah pohon besar, di atas akar pohon yang menyembul tinggi di permukaan tanah dia melihat seseorang duduk bersandar. Seorang perempuan berpakaian putih panjang.

*

* *TUJUH

PERI Angsa Putih .... Bagaimana dia bisa berada di sini. Apa yang membuat hatinya sedih hingga menangis terisak-isak?" Wiro menyelinap ke balik serumpunan semak belukar hingga berada lebih dekat dengan pohon besar. Dari tempat itu dia bisa melihat lebih jelas dan jadi terkejut ketika menda patkan perempuan berpakaian putih panjang itu ternyata bukanlah Peri Angsa Putih. Wiro menduga-duga siapa adanya perempuan ini.

"Tak pernah kulihat gadis bertubuh langsing ini sebelumnya. Wajahnya sungguh luar biasa. Bulat berseri seperti bulan empat belas hari. Paras yang tidak kalah cantik dengan para gadis yang pernah kulihat di Negeri Latanahsilam ini. Rambutnya sungguh hitam dan panjang sampai sepinggang. Kulitnya tak kalah putih dengan Peri Angsa Putih. Mungkinkah dia seorang Peri yang sela ma ini tidak pernah memunculkan diri? Tapi Kalau Peri biasanya tubuh serta pakaiannya mengeluarkan bau harum semerbak."

Selagi Wiro berpikir-pikir apakah dia segera saja keluar dari balik semak belukaratau menunggu sam-pai gadis itu pergi dan dia lalu mengikutinya, tiba-tiba ada suara berdesir menembus semak belukar. Dia hampir keluarkan seruan tertahan sewaktu meiihat seekor ular hitam besar panjang hampir dua tombak melata cepat di tanah, melesat ke arah si gadis duduk.

Wiro hampir berteriak hendak memberikan ingat karena menyangka binatang yang tubuhnya meman carkan cahaya aneh itu hendak menyerang atau mematuk si gadis. Tapi dia jadi ternganga sewaktu menyaksikan bagaimana ular besar itu meluncur di akar pohon yang menyembul tinggi lalu naik ke atas tubuh si gadis dan bergelung di pangkuannya!

"Wahai sahabatku Laepanjanghitam," Terdengar si gadis berucap. "Tidak sangka kau datang malam malam begini ...." Ular hitam di pangkuan si gadis tegakkan kepalanya dan julurkan lidahnya yang me-mancarkan sinar terang kebiruan lalu Keluarkan suara mendesis halus. Si gadis usap-usap kepala ular besar itu dengan tangan kirinya. Sang ular kedap-kedipkan sepasang matanya yang berwarna hitam pekat.

"Sahabatku, saat ini aku tidak memerlukanmu. Mungkin aku tidak akan meminta pertolonganmu dalam waktu lama. Mungkin juga kita tak akan bertemu lagi. Walau begitu di alam seribu gaib kita akan tetap bersahabat Jika kau memerlukan diriku aku bisa muncul. Jika aku membutuhkanmu aku akan memanggilmu. Langit di sebelah timur mulai kelihatan terang. Sebentar lagi pagi akan segera datang. Wahai sahabatku, pergilah ...."

Ular di pangkuan si gadis kembali keluarkan suara mendesis halus lalu gelungkan tubuhnya di leher dan dada gadis itu. Setelah mengusapkan kepalanya ke pipi si gadis seolah membelai, binatang ini meluncur turun dari pangkuannya lalu melata di tanah dan menghilang di arah matahari terbit.

Tak lama setelah binatang itu lenyap gadis langsing berpakaian putih bangkit berdiri. Dia merapikan rambutnya yang tergerai sampai di pinggang, termenung sesaat. Sambil mengusap pipinya gadis ini balikkan diri, melangkah ke balik pohon besar tempat sebelumnya dia tadi duduk.

Wiro yang setengah tercekat menyaksikan semua kejadian itu segera keluar dari balik semak belukar dan mengejar ke balik pohon besar. Tapi gadis cantik berpakaian putih berambut panjang itu tak kelihatan lagi.

"Lenyap!" kata Wiro sambil memandang berkeliling dan garuk-garuk kepala. "Mungkin dia sebangsa – hantu penghuni kawasan ini. Kalau manusia biasa. masakan bersahabat dengan seekor ular besar begitu rupa?"

Pendekar 212 memandang ke timur. Langit semakin terang. "Aku harus kembali ke gubuk. Mungkin Hantu Santet Laknat sudah ada di sana. Aku harus mendapatkan Kapak Naga Geni 212 kembali. Aku harus mencari kawan-kawanku. Aku harus menolong

Lakasipo dan Luhsantini. Terakhir sewaktu di lembah mereka masih berada dalam jaring aneh itu ...." Wiro lalu ingat dengan orang-orang yang hendak menurunkan tangan jahat terhadapnya. Seperti Lawungu, Hantu Tangan Empat dan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab.

"Persetan dengan mereka!" Wiro memaki sendiri lalu balikkan badan, kembali menuju ke gubuk. Hampir sepeminuman teh berlalu, pendekar kita mulai heran dan garuk-garuk kepala. "Aneh, waktu pergi tadi rasanya aku tidak jauh-jauh. Mengapa sekarang membutuhkan waktu begini lama mencari gubuk sialan itu?!"

Wiro memandang berkeliling. Sementara itu langit sudah terang karena malam telah berganti siang. Ketika dia menoleh ke kiri kagetlah Wiro. Gubuk yang dicarinya itu ada di sana. Hanya belasan tombak saja dari tempatnya berdiri.

"Sialan. Mungkin aku masih ingat-ingat gadis cantik tadi. Hingga gubuk di depan mata aku tidak melihat!"

Wiro segera melangkah menuju gubuk. Namun kakinya berhenti berjalan ketika tiba-tiba pintu gubuk dilihatnya terbuka. Seorang berpakaian serba biru keluar dari dalam gubuk. Dia membawa sehelai pakaian putih yang sengaja ditekapkannya ke dadanya.

"Luhcinta. .." desis Pendekar 212. Setengah berlari dia segera menuju ke gubuk. Sementara itu gadis di depan pintu gubuk kelihatan gugup dan berubah wajahnya. Pakaian putih yang didekapnya ke dada cepat cepat diturunkannya. Pakaian itu ternyata adalah baju milik Wiro. Begitu berhadap-hadapan kedua orang ini sesaat hanya saling pandang, tak ada yang keluarkan ucapan.

Luhcinta lalu ingat pada baju Wiro yang dipegangnya. Diulurkannya tangannya menyerahkan pakaian itu. Si gadis berusaha tersenyum.

"Bajumu .... Kutemukan di dalam gubuk. Aku ...."

Wiro melihat bekas robekan hangus pada bahu kanan dan pinggul Luhcinta.

"Ada robekan di pakaianmu. Apa yang terjadi ... ?"

"Hantu Bara Kaliatus. Dia menyerangku dengan bara-bara apinya. Untung tidak apa-apa. Hanya pakaianku yang robek ..." menerangkan Luhcinta dan merasa senang karena si pemuda memperhatikan dirinya.

"Syukur kalau begitu. Aku gembira kita bisa bertemu di sini. Walau sulit menduga bagaimana kau bisa sampai di tempat ini," kata Wiro. Mendengar ucapan Wiro, si gadis merasa bahagia. Dia jadi ceria.

"Panjang ceritanya, mungkin juga hanya satu kebetulan. Aku akan tuturkan padamu secara singkat. Setelah kau dilarikan Hantu Santet Laknat aku tersesat ke satu tempat dimana tengah terjadi perkelahian antara Hantu Bara Kaliatus dengan Hantu Langit Terjungkir Luhsantini juga ada di situ. Seperti Lakasipo dia masih terbungkus dalam jaring aneh. Hantu Bara Kaliatus dibantu oleh satu makhluk berjubah hitam bermuka jerangkong yang dipanggil dengan sebutan Junjungan. Ternyata makhluk ini memiliki kepandaian tinggi.

Hantu Bara Kaliatus hampir membunuh Lakasipo kalau tidak ditolong oleh Peri Angsa Putih. Hantu Langit Terjungkir sendiri hampir tamat riwayatnya kalau tidak ditolong oleh seorang aneh bermuka tanah liat yang selama ini dikenal dengan sebutan Si Penolong Budiman ...."

"Orang itu, bukankah yang menurutmu selalu mengikutimu ...." Luhcinta mengangguk. "Sampai saat ini dia masih saja mengikutiku. Aku akan ceritakan mengenai dirinya nanti. Biar kulanjutkan dulu cerita tadi. Dalam perkelahian hidup mati itu Hantu Langit Terjungkir sempat mengatakan pada Hantu Bara Kaliatus bahwa Lakasipo adalah saudara kandungnya. Kemudian tersingkap singkap pula rahasia bahwa Hantu Langit Terjungkir itu sebenarnya adalah ayah kandung Hantu Bara Kaliatus.

Tapi Hantu Bara Kaliatus tidak mempercayai. Malah marah besar. Dia kemudian meninggalkan tempat itu. Makhluk muka tengkorak menyusul pergi. Kemudian kami ketahui pula bahwa Peri Angsa Putih

tak ada lagi di tempat itu. Lakasipo lenyap. Besar dugaan Peri Angsa Putih yang membawanya. Aku kemudian membawa Luhsantini. Si Penolong Budiman menolong Hantu Langit Terjungkir yang cidera patah lengan kanannya. Kami kemudian berpisah ...."

"Luhsantini, apakah dia sudah bisa dikeluarkan dari dalam jala?" tanya Wiro.

Luhcinta menggeleng. "Tak ada satu kekuatanpun yang sanggup menjebol jaring itu. Tapi aku akan berusaha terus ...."

"Kau belum menerangkan bagaimana kau tahu-tahu pagi ini bisa tersesat ke sini," kata Wiro pula. Dia ingat gada baju yang dipegangnya. Cepat-cepat Wiro mengenakan pakaian itu.

"Secara kebetulan saja ..." jawab Luhcinta.

"Setelah kau lenyap dibawa Hantu Santet Laknat dan kami tidak tahu dimana beradanya dua sahabatmu benama Naga Kuning dan Setan Ngompol itu, timbul perasaan khawatir. Jangan-jangan kau sudah dicelakai oleh nenek jahat itu ...."

"Tidak, malah sebaliknya ...." Wiro memotong.

"Apa maksudmu tidak dan malah sebaliknya?" tanya Luhcinta.

"Teruskan ceritamu. Nanti aku jelaskan," jawab Wiro.

Si gadis tatap wajah Pendekar 212 sejurus baru meneruskan penuturannya. "Beberapa hari lalu aku menemukan sebuah gua. Luhsantini kubaringkan di dalam gua yang ternyata cukup bersih dan ada mata air di dalamnya ...."

"Bagaimana dengan Hantu Langit Terjungkir dan Si Penolong Budiman?" Wiro memotong dengan pertanyaan.

"Aku tak tahu pasti mereka berada di mana. Tapi sebelum berpisah Si Penolong Budiman mengatakan akan membawa kakek itu ke sebuah telaga tak jauh dari tempat itu. Ternyata kemudian kuketahui, gua dimana aku dan Luhsantini berada terletak tak jauh dari telaga, sama-sama tidak jauh pula dari bukit ini. Pagi tadi, begitu fajar mulai menyingsing aku berjalan-jalan ke puncak bukit ini. Tak sengaja aku menemukan gubuk ini. Kuperiksa. Kosong. Tapi di dalamnya aku melihat tanda-tanda sebelumnya ada orang di sini. Lalu aku melihat sehelai baju putih. Aku yakin sekali pakaian itu adalah milikmu. Berarti sebelumnya kau ada di dalam gubuk. Aku memutuskan untuk menunggu. Tapi tak ada yang muncul. Aku keluar dari gubuk. Tepat pada saat kau tengah menuju ke sini ...."

"Aku memang berada di gubuk ini. Aku tak ingat pasti berapa lama atau berapa malam aku berada di sini. Sebelumnya aku menderita luka dalam yang amat parah. Tendangan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab membuat sekujur badanku lumpuh. Hantu Santet Laknat membawaku ke sini. Dia mengobati diriku hingga sembuh begini rupa ...."

Tentu saja Luhcinta merasa terkejut mendengar keterangan Wiro. Dia menatap dengan pandangan tidak percaya. "Kau diculik Hantu Santet Laknat, dia juga yang mencuri kapak saktimu. Lalu kau katakan dia mengobati menyembuhkan luka dalam serta kelumpuhan akibat tendangan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab?"

"Benar!" jawab Wiro.

"Maksudku, semua ini tentu saja atas kehendak Gusti Allah yang Maha Kuasa. Si nenek ...."

"Sulit kupercaya Hantu Santet Laknat mau berlaku sebaik itu ..." kata Luhcinta pula. Lalu dalam hati dia berkata..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.166.189.88
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia