Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

SOSOK YANG TEGAK DI ATAS BATU BESAR DI TENGAH SUNGAI BUKAN LAIN ADALAH LA TANDAI ALIAS HANTU BARA KALIATUS. SEPASANG MATANYA MASING-MASING MEMILKI DUA BOLA MATA BERWARNA MERAH SEPERTI BARA MENYALA MENATAP ANGKER KE ARAH LAKASIPO. SAAT ITU LAKASIPO MASIH DUDUK DI ATAS PUNGGUNG LAEKAKIENAM KUDA TUNGGANGANNYA YANG BERKAKI ENAM. SEMENTARA WIRO, NAGA KUNING DAN SETAN NGOMPOL MASIH BERADA DALAM GENGGAMAN TANGANNYA, BELUM SEMPAT DIMASUKKANKE DALAM KOCEK JERAMI. "MAKHLUK APA ITU GERANGAN...." KATA NAGA KUNING. "KEPALANYA SEPERTI PENDUPAAN! ADA BARA MENYALA!" "LIHAT MATANYA!" NAGA KUNING BERUCAP. "SETIAP MATA ADA DUA BOLA MATA!" "YA, AKU JUGA SUDAH MELIHAT. JANGAN-JANGAN MAKHLUK INI PUNYA EMPAT BIJI DI KANTONG MENYANNYA!" KATA WIRO PULA SAMBIL TERTAWA CEKIKIKAN. "KALIAN JANGAN BERGURAU SAJA!" MEMBENTAK SETAN NGOMPOL. "AKU PUNYA FIRASAT BAHAYA BESAR MENGANCAM LAKASIPO. BERARTI MENGANCAM KITA BERTIGA!"



1SANG SURYA MASIH BELUM memperlihatkan diri. Udara di penghujung malam itu masih diremangi kegelapan. Angin dingin masih mencucuk menembus kulit sampai ke tulang. Hampir tak dapat dipercaya, dalam kegelapan seperti itu, di kawah Gunung Latinggimeru berkelebat satu bayangan. Gerakannya cepat, sulit ditangkap mata biasa. Bayangan ini melompat dari satu gundukan batu ke gundukan batu lainnya. Lalu sesekali kakinya menendang dan "byaaarr!" Gundukan batu hancur berantakan!

Batu-batu yang ada dalam kawah Gunung Latinggimeru itu bukan batu biasa. Tapi adalah batu-batu yang sejak ratusan tahun telah berubah menjadi bara merah menyala dan tentunya panasnya bukan alang kepalang. Jangankan untuk dipijak, berada cukup dekat saja panasnya seolah mampu membakar seseorang. Apalagi di dalam kawah terdapat cairan lahar merah mengepulkan asap panas dan sesekali mencuatkan lidah api sampai setinggi satu tombak! Namun sosok yang berkelebat dari satu batu ke batu lainnya itu sama sekali tidak mengalami cidera kedua kakinya. Kelebatan tubuhnya yang mengeluarkan angin deras membuat cairan lahar bergetar mengeluarkan riak se-olah mendidih. Kalau sosok yang berkelebat di dalam kawah itu bukan sebangsa hantu atau setan tetapi manusia adanya maka pastilah dia memiliki ilmu kenukilan yang luar biasa. .

Tepat ketika cahaya pertama kemunculan sang surya mencuat di ufuk timur, satu bayangan hitam berkelebat dari lamping kawah sebelah barat. Sesaat kemudian bayangan ini tahu-tahu telah berdiri di atas satu gundukan batu panas membara, rangkapkan tangan di atas dada. Wajahnya yang aneh mengerikan sesaat menatap pada orang yang masih berkelebat dari satu batu ke batu lainnya.

Makhluk yang tegak di atas batu sambil rangkapkan tangan di depan dada itu memiliki wajah luar biasa aneh dan angkernya. Muka itu seperti muka seekor burung gagak hitam. Hidung dan mulut jadi satu menyerupai paruh. Sepasang mata kecil tajam memandang tak berkesip ke arah orang yang masih saja melompat dan menendang seolah tidak menyadari kalau saat itu di dalam kawah dia tidak lagi sendirian. Ini memberi kejelasan, betapapun tingginya ilmu kepandaian orang pertama namun masih jauh berada di bawah makhluk yang barusan datang. Buktinya dia tidak tahu kehadiran makhluk yang bermuka burung yang semakin terang sinar sang surya semakin jelas bentuknya. Dia ternyata adalah seorang nenek aneh mengenakan pakaian dedaunan kering yang diberi jelaga hitam.

Kesunyian di dalam kawah Gunung Latinggimeru itu tiba-tiba meledak oleh suara tawa si nenek bermuka burung. Saat itulah bayangan yang sejak tadi berkelebat kian kemari tiada henti menyadari kalau di dalam kawah ada orang lain. Cepat dia membalikkan tubuh dan siap menghantam dengan tangan kanannya.

"Seratus hari telah berlalu! Wahai Latandai! Aku datang memenuhi perjanjian!" Si nenek berseru keras membuat seantero kawah bergeletar.

"Nenek Hantu Santet Laknat!" orang di seberang sana keluarkan ucapan lalu cepat-cepat berlutut di atas batu panas. "Nenek, terima hormatku!"

SI nenek kembali tertawa mengekeh.

"Berdirilah wahai Latandai!"

Orang di atas batu merah membara segera berdiri tapi cara tegaknya agak membungkuk pertanda dia masih meneruskan sikap hormatnya pada si nenek angker.

"Kulihat gerakan tubuh serta kekuatan kakimu telah maju pesat Latandai! Aku senang! Sekarang, hari perjanjian telah datang! Kau akan kuberikan ilmu kesaktian yang selama ini kau inginkan! Apakah kau telah siap menerimanya wahai Latandai?!"

"Wahai Nenek Hantu Santet Laknat. Aku Latandai siap menerima ilmu apapun yang akan kau berikan padaku!"

Si nenek tertawa melengking. "Ilmu Bara Setan Penghancur Jagat akan segera kau dapatkan! Begitu ilmu itu menjadi milikmu, maka otakmu ada dalam otakku. Kau menjadi milikku. Artinya kau berada di bawah kekuasaanku. Kau harus melakukan semua apa yang aku kata dan perintahkan. Sekali kau berani membangkang maka ilmu Bara Setan Penghancur Jagat akan menghancurkan dirimu sendiri! Kau mengerti dan paham Latandai?!"

"Aku mengerti. Aku paham wahai Nenek Hantu Santet Laknat!"

Si nenek tertawa panjang. Di timur langit semakin terang. "Berdiri lurus-lurus Latandai! Kepalkan dua tanganmu dan letakkan di samping!"

Lelaki bernama Latandai lakukan apa yang dikatakan si nenek. Tubuhnya tegak lurus-lurus di atas batu merah panas. Dua tangan ditempelkan rapat-rapat ke sisi kiri kanan.

"Kau sudah siap Latandai?!"

"Aku sudah siap Nek!"

"Sungguh?!"

"Sungguh Nek!"

"Ceburkan dirimu ke dalam lahar!"

Latandai tersentak kaget mendengar perintah yang tidak disangkanya itu.

"Nek...."

"Sekali lagi kau dirasuk ragu dan bimbangi Sekali lagi kau berucap dan menolak berbuat! Maka wahai! Cukup sampai di sini aku melihatmu! Kalau aku masih sempat melihatmu maka aku hanya akan melihat rohmu gentayangan antara langit dan bumi!"

Dinginlah tengkuk Latandai. Dia tahu si nenek tidak bicara kosong. Dia sadar perempuan tua bermuka burung gagak itu memiliki kemampuan untuk menghabisinya semudah dia membalikkan telapak tangan! Maka tanpa menunggu lebih lama Latandai melompat, ceburkan diri ke dalam cairan lahar yang mendidih panas di puncak Gunung Latinggimeru itu! Sosok Latandai lenyap tenggelam di bawah permukaan lahar. Di sebelah atas lahar mencuat memercikkan lidah api. Sepasang mata Hantu Santet Laknat memperhatikan dengan tajam. Mulutnya komatkamit seperti merapal sesuatu. Lalu dia berteriak. "Kau boleh keluar sekarang Latandai!"

Aneh! Walau berada di bawah permukaan lahar panas dan tebal namun si nenek mampu mengiangkan perintahnya ke telinga Latandai hingga lelaki itu mendengar lalu serta meria melesat keluar dari dalam lahar dan tegak kembali di atas batu panas membara. Sekujur tubuhnya mengepulkan asap panas dan berwarna merah seolah udang direbus. Latandai merasakan sesuatu di atas kepalanya. Dia meraba ke atas. Dia juga merasa ada kelainan pada sepasang matanya, dia mengedip-ngedipkan beberapa kali. Lalu ketika dia memandang ke dada dan perutnya terkejutlah lelaki ini.

"Nekl Apa yang terjadi dengan diriku!"

Hantu Santet Laknat mendongak lalu tertawa panjang.

"Wahai Latandai! Mengapa kau harus terkejut apalagi takut" ujar si nenek.

Tubuh Latandai bergeletar. Untuk beberapa saat lamanya dia tidak bisa membuka mulut. Dia melihat ada tumpukan batu-batu merah membara sebesar ujung ibu jari kaki di dada dan di perutnya. Namun dia tidak dapat melihat bagaimana saat itu telah terjadi kelainan pada sepasang matanya. Bola matanya yang sebelumnya hanya ada satu pada masing-masing mata kini berubah menjadi dua dan berwarna merah seolah terbuat dari bara! Dia bisa meraba tapi tidak melihat bagaimana kepalanya seolah telah dibabat sebatas kening lalu di atas kepala yang sebelumnya ada otak, batok kepala dan rambut itu kini dipenuhi oleh tumpukan batu-batu merah menyala!

"Latandai!" seru Hantu Santet Laknat! "Sekarang kau telah memiliki ilmu kesaktian yang disebut Bara Setan Penghancur Jagat!"

"Nek!" kejut Latandai sampai keluarkan seruan tertahan saking tidak percayanya.

Hantu Santet Laknat kembali mengekeh. "Di tubuhmu, mulai dari kepala sampai ke pusar kini terdapat dua ratus bara api! Itu sebabnya mulai saat ini kau kuberi nama Hantu Bara Kaliatus! Batu-batu bara itu akan menjadi senjata yang ikut kemana kau pergi! Kau akan melihat wahai Latandai! Sekali kau mencabut bara itu dan menghantam lawan, sulit bagi musuh untuk selamatkan diri dari Kematian! Di masing-masing matamu kini ada dua bola mata berbentuk bara api. Jika kau pentang dua matamu lebar-lebar dan hentakkan rahangmu maka empat larik sinar merah sepanas api neraka akan menebar maut! Kalau kau tidak percaya silahkan coba. Palingkan matamu ke arah batu besar di sebelah sana! Kau sanggup menghancurkan batu itu dengan sinar bara setan yang ada pada dua matamu!"

Latandai putar tubuhnya. Palingkan muka dan sepasang matanya ke arah batu besar menyembul di permukaan kawah yang barusan ditunjuk si nenek. Dalam keadaan tak berkedip Latandai katupkan rahangnya. Gigi-giginya bergemeletukan. Saat itu juga empat larik sinar semerah bara menyala berkiblat! Melesat dan menyambar ke arah batu besar di permukaan kawah.

"Byaaarr!"

Batu merah menyala itu hancur berantakan, lenyap dari permukaan lahar. Yang kelihatan kini hanyalah kepulan asap! Melihat hal itu Latandai segera berpaling dan jatuhkan diri berlutut. "Nenek Hantu Santet Laknat! Aku menghatur ribuan terima kasih. Kau...."

Si nenek potong ucapan Latandai dengan tawa bergelak lalu berkata. "Kau sudah kuberikan ilmu Bara Setan Penghancur Jagatt Sekarang mari kita mengatur perjanjian dan perintah! Harap kau dengar baik-baik wahai Hantu Bara Kaliatus! Setiap aku memberi perintah aku bisa langsung muncul di hadapanmu atau hanya mengirimkan dari kejauhan melalui angin dengan ilmu yang disebut Ilmu Menyadap Suara Batin. Sekarang aku mulai dengan perintah-perintahku Latandai! Setiap perintah harus kau lakukan tanpa pernyataan karena otakmu ada dalam otakku! Kau berada dalam kekuasaanku! Pertama kau harus mencari seorang manusia bernama Lakasipol Aku tak perlu menerangkan siapa adanya manusia itu. Kau kenal dia karena dia dulunya adalah Kepala Negeri Latanahsilam."

"Aku tahu dan aku kenal Lakasipo. Perintah akan kujalankan Nenek Hantu Santet Laknat!" kata Latandai yung kini telah diberi nama Hantu Bara Kaliatus!

"Perintah ke dua! Kau harus membunuh Luhsantini Istrimu sendiri...."

"Nek!" Latandai terkejut dan sampai keluarkan teman.

"Jahanam! Aku sudah katakan tak ada pertanyaan" Bentakan si nenek menggetarkan Seantero kawah Gunung Latinggimeru.

"Maafkan aku Nek..." ujar Latandai yang jadi kecut melihat tampang si nenek dan mendengar bentakannya yang dahsyat.

"Aku mempunyai alasan mengapa menyuruhmu membunuh Luhsantini. Karena dia seorang istri tidak berbudi dan tidak setia! Luhsantini pernah berhubungan badan dengan seorang pemuda bernama Lasingar, kerabatmu di Latanahsilam. Selain itu dia juga bermain cinta dengan Hantu Muka Dua! Apa perlunya kau mempunyai seorang istri seperti itu!"

Latandai merasakan tubuhnya bergetar dan mukanya mendadak jadi panassampai ke telinga. Dia hendak bertanya dari mana atau bagaimana Nenek Hantu Santet Laknat mengetahui hal itu tapi tidak berani membuka mulut. Apa yang ada dalam pikiran Latandai sudah terbaca oleh si nenek. Maka dia pun berkata.

"Waktu kau meninggalkan istrimu di kala dia hamil muda kau sebenarnya telah mengambil satu keputusan tepat! Berbulan-bulan kau mengelana mencari ilmu!

Kau telah menjadi budak hawa nafsu ingin menguasai berbagai ilmu kesaktian! Kau hampir jadi orang gila dan kerasukan roh-roh jahat! Syukur kau bertemu denganku wahai Hantu Bara Kaliatus! Satu ilmu yang kuberikan tidak bisa menandingi seratus ilmu kesaktian yang bisa kau peroleh dari orang lain!"

"Aku mengerti dan aku berterima kasih Nek," kata Latandai pula.

"Satu hal lagi harus kau ketahui wahai Hantu Bara Kaliatus! Kalau istrimu dan Lasingar tidak dihabisi maka mereka kelak akan melanjutkan hubungan tidak senonoh itu I Berarti akan lahir lagi anak ke dua, anak ketiga yang bukan darah dagingmu!"

Bergetar sekujur tubuh Latandai mendengar ucapan Hantu Santet Laknat itu. Walau di lubuk hatinya ada rasa kebimbangan namun saat itu otaknya telah dikuasai oleh si nenek hingga dia tidak bisa berpikir secara jernih, sekurang-kurangnya tekad untuk menyelidik yang dikatakan si nenek apa benar adanya.

"Kau sudah dengar penjelasan! Kau sudah tahu kewajiban harus menyingkirkan istrimu! Membunuh Lasingar! Kau juga patut menghabisi Hantu Muka Dua. Tapi manusia satu itu adalah bagianku! Jangan kau berani menyentuhnya! Aku sendiri yang akan membunuhnya!"

"Aku mendengar dan perintahmu akan kujalankan wahai Nenek Hantu Santet Laknat..." kata Latandai pula.

"Wahai Hantu Bara Kaliatus! Tugasmu di hari pertama memiliki ilmu kesaktian Bara Setan Penghancur Jagat cukup sekian dulu! Laksanakan segera! Jika kau sampai gagal aku akan muncul untuk menjatuhkan hukuman!"

Hantu Bara Kaliatus alias Latandai membungkuk dan berkata. "Tugas perintah akan kujalankan! Aku tidak akan menemui kegagalan. Cuma mohon maafmu. Apakah keadaan diriku yang seperti ini tidak bisa dirubah kembali seperti sedia kala?"

Nenek Hantu Santet Laknat tertawa panjang lalu berkata. "Sudah kukatakan otakmu ada dalam otakku! Dirimu berada dalam kekuasaanku. Berarti hanya aku yang bisa mengembalikan dirimu pada keadaan semula! Setiap ilmu ada syaratnya wahai Latandai. Dan kini dia menerima syarat itu dalam bentuk keadaanmu seperti saat ini! Bila kau memang menginginkan perubahan bisa saja aku lakukan! Tapi kau harus menjalankan semua perintahku lebih dulu. Kau mengerti Hantu Bara Kaliatus?!"

"Aku... aku mengerti Nek," jawab Latandai walau dengan suara setengah tertahan dan dada sesak.

Hantu Santet Laknat menyeringai lalu tertawa panjang. Ketika tawanya lenyap sosoknya tak ada lagi di lompat Ku. Latandai palingkan kepala. Si nenek tahutahu sudah berada di lamping kawah sebelah timur. Berkelebat cepat sekali seolah menyongsong matahari lalu pupus dari pemandangan.

2BELALANG HIJAU RAKSASA ITU TERBANG menembus kabut pagi disaat udara masih dingin menusuk sampai ke tulang sumsum. Di satu tempat ketinggian binatang ini melayang turun lalu hinggap di atas sebuah batu besar. Dua matanya memandang liar kian kemari seolah meneliti keadaan. Sepasang misainya bergerakgerak tiada henti.

"Wahai Laehijau, apakah sanggup kau membawa kami ke puncak Latinggimeru? Seharian sudah kau melompat dan melayang menerbangkan kami. Aku khawatir kau keletihan di tengah jalan dan jatuh!" Satu suara memecah kesunyian di tempat itu. Yang bicara adalah seorang perempuan muda mengenakan pakaian kulit kayu halus. Kepala dan wajahnya tertutup selendang terbuat dari rumput hijau dikeringkan. Perempuan ini duduk di punggung belalang hijau, menjadikan binatang raksasa itu sebagai tunggangannya. Belalang raksasa tundukkan kepala ke bawah lalu menggeleng pertanda dia mengerti dan menjawab ucapan tuan penunggangnya.

"Kau sahabatku yang setia wahai Laehijau. Mudahmudahan para Dewa dan Peri menolong kita hingga kita bisa selamat sampai ke puncak Latinggimeru...."

Baru saja perempuan ini selesai berucap tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi. Astaga. Ternyata dalam bungkusan yang didukungnya di tangan kiri, ada sosok seorang orok yang masih merah karena baru berusia 40 hari. Perempuan ini cepat menimang-nimang bayi daam bedungan.

"Anakku Lamatahati, berhentilah menangis. Sebentar lagl kau akan bertemu dengan bapakmu. Sebentar lagi kau akan menjadi anak yang syah. Punya Ibu dan punya ayah!" Perempuan itu terus menimang-nimang si bayi hingga akhirnya berhenti menangis. Sesaat dia mendongak ke atas, berusaha menembus tebaran kabut yang menutupi pemandangan. Jauh di atas sana menjulang tinggi puncak Gunung Latinggimeru yang dari kawahnya selalu mengepul asap panas berwarna kemerahan sedang dari perutnya ada suara tiada henti menggemuruh menggidikkan dan menggetarkan seantero tempat.

"Laehijau kalau letihmu lenyap bisakah kita melanjutkan perjalanan?"

Belalang raksasa bernama Laehijau seperti tadi rundukkan kepalanya dan goyang-goyangkan misainya. Kaki-kakinya diregang pertanda dia siap melompat. Perempuan di atas belalang peluk erat-erat bayi dalam bedungan. Sesaat kemudian Laehijau telah melesat ke udara, terbang ke arah ketinggian puncak Gunung Latinggimeru.

Untuk beberapa saat bayi dalam bedungan tertidur pulas. Begitu mulai mendekati puncak gunung, udara yang tadinya sangat dingin kini berubah menjadi panas. Tubuh Laehijau bergetar menahan panas. Begitu juga perempuan di atas punggungnya sementara bayi yang tadi tertidur pulas tersentak bangun lalu menangis kepanasan.

"Tenang anakku, jangan menangis...." Sang ibu pergunakan ujung bedungan untuk mengipasi bayinya.

Namun Lamatahati terus saja menangis. Semakin jauh ke atas mendekati puncak Gunung Latinggimeru hawa bertambah panas tapi kabut mulai menipis. Setelah terbang berputar-putar dan mulai sempoyongan, Laehijau turun di suatu pedataran sempit di tepi timur puncak Latinggimeru. Dua tombak di depan mereka terbentang kawah yang permukaannya berupa lahar mendidih dan mengepulkan asap. Selain itu ada kabut tebal menebar di sana-sini menutupi pemandangan.

Perempuan di atas punggung belalang hijau memandang berkeliling lalu menatap lekat-lekat ke arah kawah gunung batu itu. Cukup lama dia menunggu dan mencari-cari. Hatinya mulai risau. Orang yang dicari tidak terlihat sama sekali. Bayi dalam bedungan terus menangis, tak tahan oleh hawa panas yang keluar dari kawah.

"Mimpiku memberi petunjuk dia ada di sini. Dua orang penduduk Latanahsilam memberi kesaksian melihat dia dalam perjalanan menuju puncak Latinggimeru ini empat purnama yang lalu. Namun di mana dia gerangan?" Perempuan di atas belalang hijau membatin.

Pada saat tebaran kabut yang menutupi kawah itu tertiup angin, berarak ke jurusan selatan maka barulah dia dapat melihat seantero kawah dengan jelas. Sesaat perempuan di atas punggung belalang hijau terkesiap ngeri menyaksikan pemandangan di hadapannya. Namun rasa ngeri ini berubah menjadi kegembiraan ketika dia melihat sosok seorang lelaki tegak tak bergerak di atas sebuah batu besar merah menyala. Dari dua kakinya hanya yang sebelah kiri menginjak batu. Yang kanan diangkat dan dilipat ke atas sedang kedua matanya dipejamkan. Jelas orang ini tengah bersamadi dengan cara yang aneh.

"Dia mampu berdiri di atas batu api itu! Wahai, berarti Latandai telah berhasil mendapatkan ilmu yang dicarinya..." berucap dalam hati perempuan di atas belalang raksasa. Tapi tiba-tiba hatinya mendadak tercekat. "Aneh, mengapa ada kelainan kulit pada dirinya. Kepalanya... tubuhnya.... Kalau saja aku bisa mendekat ke sana...."

Spasang mata perempuan di atas belalang raksasa menatap tak berkedip pada lelaki di atas batu.

"Wahai Lamatahati, apapun yang terjadi dengan ayahmu,, akhirnya dia kita temui juga...." Perempuan itu berucap setengah berbisik seraya membelai kepala bayi dalam bedungan yang sampai saat itu masih terus menangis. Suara tangisan orok ini tadi sempat membuat lelaki yang bersamadi di atas batu dalam kawah menjadi terganggu. Daun telinganya bergerak-gerak. Pelipis dan rahangnya menggembung. Urat lehernya tampak mengencang sedang dua kelopak matanya yang tertutup mengeluarkan getaran-getaran halus. Hanya dengan menabahkan hati, menutup jalan pendengaran, lelaki yang di puncak batu tinggi akhirnya mampu meneruskan samadinya. Namun itupun tidak bertahan lama karena tiba-tiba dari puncak timur Gunung Latinggimeru ada suara seman keras, melengking ke langit, mencuat ke dasar kawah.

"Wahai Latandai suamiku! Puluhan hari aku habisi! Berbagai negeri aku datangi! Akhirnya kutemui juga kau ditempat ini! Latandai, buka matamu! Lihat siapa yang kubawa!"

Hantu Bara Kaliatus yang tegak bersamadi di atas batu menyala tidak bergerak, juga tidak membuka sepasang matanya yang terpejam.

"Wahai Latandai! Jangan berpura tidak mendengar ucapanku! Berhentilah bersamadi barang seketika. Melompat dan datanglah ke tempat ini! Aku datang membawa anakmu! Anak kita yang kuberi nama Lamatahati. Seorang bayi laki-laki bertubuh gemuk sehat. Pertanda di masa besarnya dia akan menjadi seorang pemuda gagah kuat berotot seperti ayahnya!" Bersamaan dengan berhentinya ucapan sang ibu, bayi dalam bedungan menangis keras.

Di atas batu Latandai merasakan tubuhnya bergetar. Lehernya menjadi kaku dan telinganya mengiang. Bagaimanapun dia mencoba, getaran pada matanya tak dapat dikuasainya. Dia sadar bahwa samadinya tak mungkin diteruskan. Didahului teriakan menggeledek sosok Latandai melesat ke atas. Dilain kejap dia telah berdiri dua tombak di hadapan Laehijau si belalang raksasa di atas mana duduk perempuan yang membawa bayi.

Belalang raksasa tersurut mundur. Misainya bergerak-gerak sementara perempuan yang mendukung bayi berubah pucat wajahnya dan ketakutan setengah mati. Tadi sewaktu Latandai masih berada di dalam kawah dia memang sudah melihat ada kelainan atas diri suaminya itu. Namun setelah dekat dia tidak mengira kelainan itu adalah satu kengerian yang dahsyat!

Sepasang mata yang memiliki empat bola mata laksana kobaran api memandang padanya.

"Luhsantini! Perempuan celaka! Beraninya kau datang kemari! Berani kau mengganggu samadiku!"

Perempuan yang disebut dengan nama Luhsantini itu sesaat jadi terkesiap. Keningnya berkerut. Dadanya berdebar dan mulutnya bergetar. Walau takut tapi dicobanya juga menjawab.

"Wahai Latandai suamiku! Bukan diriku bermaksud mengganggu samadimu! Aku tidak dapat menahan diri. Ini adalah hari ke empat puluh sejak bayi ini lahir. Ini adalah hari terakhir kau harus melihat puteramu dan puteramu melihat dirimu! Ini adalah hari terakhir kau harus mengusap ubun-ubun di kepalanya pertanda kau mengakui bahwa Lamatahati adalah anak dari darah yang keluar dari tulang sumsummu! Jika itu tidak terjadi, sesuai aturan dan adat Negeri Latanahsilam maka seumur hidupnya anak ini tidak akan mempunyai ayah yang syah! Jika dia tidak punya ayah ayah syah berarti aku bukan pula ibunya yang syah. Lalu apa akan jadinya anak kita ini kelak? Jika hidup dia akan menjadi anak setan! Tak layak tinggal di Negeri Latanahsilam! Jika mati rohnya akan terkatungkatung antara langit dan bumi! Wahai suamiku Latandai.

Datanglah ke sini. Lihat anakmu! Usap kepala dan tubuhnya. Cium kening dan pipinya!" Sehabis berucap seperti itu Luhsantini jadi ngeri sendiri. Dalam keadaan kepala dan sosok Latandai seperti itu janganjangan bayinya akan celaka jika bersentuhan dengan ayahnya!

Lelaki di atas batu merah menyala menatap dengan tampang menggidikkan pada perempuan di atas belalang raksasa itu. Sepasang matanya menyala-nyala. Terlebih ketika dia melihat bagaimana Luhsantini membuka kain pembedung bayi lalu mengangkat tinggitinggi bayi lelaki itu dan bergerak hendak disodorkan kepadanya.

"Tidaaakk!" Tiba-tiba meledak teriakan dahsyat dari mulut Latandai. Suara teriakan ini menggema menggidikkan di dalam kawah Gunung Latinggimeru, menggeletar sampai ke permukaan puncak gunung, membuat darah Luhsantini tersirap dan seolah berhenti mengalir.

"Tidak? Tidak apa maksudmu wahai suamiku Latandai?" bertanya Luhsantini.

"Bayi itu bukan anakku! Tapi anak haram hasil hubunganmu dengan Lasingar, jauh sebelum aku mengawinimu!"

Luhsantini merasa seolah berdiri di atas bara api yang kemudian runtuh dan menghunjam memurukkannya ke dasar sebuah lobang api!

"Wahai Latandai.... Bagaimana bisa dan teganya kau berkata seperti itu?! Kita kawin sepuluh bulan purnama yang lalu. Malam pertama kita berhubungan di Bukit Batu Kawin disaksikan orang tua, para sesepuh Negeri, disaksikan oleh nenek Lamahila dan disaksikan serta direstui oleh para Dewa dan Peri...."

"Apa yang kau katakan semua benar! Tapi pada saat aku mengawinimu kau telah berbadan dua akibat hubunganmu dengan Lasingar! Aku tertipu!"

Luhsantini sampai terpekik mendengar ucapan Latandai itu. Wajahnya seputih kain kafan.

"Wahai Latandai, demi anak ini aku ikhlas menerima keadaanmu seperti ini. Demi segala roh yang baik penjaga langit dan bumi! Demi semua para Dewa dan Peri penguasa jagat raya! Aku bersumpah tidak pernah melakukan hubungan hina terkutuk yang tidak terpuji dengan Lasingar! Pemuda itu hanyalah kerabat sahabat biasa saja...."

"Kerabat sahabat biasa saja?!" Latandai meludah. Ludahnya berwarna merah dan mengepulkan asap. Lalu manusia yang telah berubah menjadi makhluk mengerikan ini tertawa bergelak.

"Banyak saksi di Latanahsilam yang mengatakan bahwa dia sering menyelinap ke rumahmu dikala dua orang tuamu berburu ke hutan atau mencari ikan di sungai!"

"Latandai.... Sungguh tidak dapat kupercaya semua ucapanmu! Lasingar sering berada di rumahku karena dia berobat pada orang tuaku atas penyakit yang telah lama diidapnya! Jika kau tahu aku ini sudah bernoda mengapa kau mengawini diriku...?"

"Itu karena aku tertipu! Karena kau menipuku! Keluargamu menipuku!"

"Wahai Latandai, agaknya Kau yang menipu diri sendiri! Jika bayi ini sudah kukandung jauh sebelum kawin denganmu, mengapa dia kulahirkan setelah sembilan bulan? Jika aku memang punya hubungan keji dengan Lasingar dan hamil sebelumnya seharusnya dia lahir lebih cepat dari itu!"

"Luhsantini! Apapun cakapmu! Apapun dalih yang Iwndak kau ucapkan aku tetap tidak akan mengakui anak Itu adalah anakku! Dan dirimu yang kotor ini tidak layak hidup lebih lama! Kau dan anakmu lebih baik kulempar ke dalam kawah Gunung Latinggimeru!"

Menggigil sekujur tubuh Luhsantini mendengar kata-kata Latandai itu. Dengan tubuh bergeletar dan dada menggemuruh dia turun dari punggung Laehijau si belalang raksasa lalu melangkah ke tepi kawah. Bayi dalam bedungan terus menangis tiada henti.

"Latandai...!"

"Diam! Namaku bukan Latandai lagi. Aku sekarang adalah Hantu Bara Kaliatus!"

"Tidak perduli siapapun kau punya nama! Tidak kusangka sejahat ini hati dan pekertimu! Dengar manusia keji! Pembalasan dan karma akan jatuh atas dirimu!" Luhsantini angkat bayi dalam bedungan tinggi tinggi. Lalu berserulah perempuan malang ini. "Wahai para Dewa dan para Peri! Wahai semua roh yang ada di antara langit dan bumi! Bayi ini bayi suci! Tiada dosa atas dirinya! Bayi ini keluar dari rahimku! Hasil hubunganku dengan seorang suami bernama Latandai!

Namun hari ini Latandai tidak mengakui kalau Lamatahati adalah anak darah dagingnya! Para Dewa dan para Peri serta semua roh! Jatuhkan hukuman atas diri Latandai! Sengsarakan dia sebelum bayi ini sendiri menderita karena perbuatannya! Biarkan tubuhnya seperti itu sepanjang usia! Biarkan dia menderita seumur-umur dalam keangkuhan dan kesesatannya! Wahai anakku Lamatahati. Malang nasibmu! Kau tak akan berayah seumur hidupmu! Aku tak akan diakui adat sebagai ibumu! Aku memohon kepala ke atas kaki ke bawah. Kaki ke atas kepala ke bawahi Kalau kelak kau sudah dewasa para Dewa dan para Peri akan memberi kekuatan padamul Balaskan sakit hati ibumu! Balaskan sakit hati dirimu!"

Bayi dalam bedungan menangis keras. Belum habis gaung suara Luhsantini di puncak Gunung Latinggimeru, seolah alam mendengar jerit hati sang ibu yang malang ini tiba-tiba lumpur merah di dasar kepundan menggelegak keras lalu mencuat tinggi ke udara. Lidah api membumbung mengerikan. Lalu seolah jatuh dari langit didahului suara gelegar dahsyat berkiblat satu cahaya biru, langsung menghantam sosok Latandai alias Hantu Bara Kaliatus.

Sekujur tubuh lelaki ini seolah dialiri satu sinar biru, menggeletar hebat dan mengepulkan asap. Hantu Bara Kaliatus menjerit keras lalu tergelimpang roboh di tepi kawah.

Luhsantini memeluk bayinya erat-erat. Belalang raksasa menghentak-hentakkan kakinya seolah memberi isyarat agar perempuan itu lekas naik ke punggungnya. Luhsantini cepat balikkan tubuh. Sambil mendukung bayinya dia lari ke arah Laehijau. Namun sebelum dia sempat mencapai belalang raksasa itu, di belakang sana sosok Hantu Bara Kaliatus buka sepasang matanya lalu bergerak bangkit! Mulutnya sunggingkan seringai maut. Lalu dia menggembor keras.

"Luhsantini! Jahat nian kutuk sumpahmu! Tak bisa aku menerima!" teriak Latandai.

"Bukan aku yang jahat! Hatimu yang bejat!" teriak Luhsantini. "Kutuk Dewa dan Peri hanya jatuh pada manusia durjana!"

"Perempuan jahanam! Kau dan bayimu tak layak Hidup." Latandai angkat tangan kanannya lalu dipukulkan ke depan. Dua belas sinar hitam halus berkelebat ganas.

Dalam keadaan marah luar biasa seperti itu Hantu Bara Kaliatus bukan keluarkan ilmu yang baru dimilikinya yakni Bara Setan Penghancur Jagat, melainkan dia menghantam dengan ilmu kesaktian yang telah didapatnya lebih dahulu.

"Selusin Bianglala Hitam." jerit Luhsantini begitu dia mengenali pukulan sakti yang dilancarkan Latandai.

Perempuan ini menjerit sekali lagi. Dia berusaha menyelamatkan diri dengan melompat ke kiri. Tapi salah lumpat. Arah yang ditujunya ternyata adalah kawah Gunung Latinggimeru! Sementara itu dua belas sinar hitam yang menyerangnya demikian cepat membeset udara hingga tidak mungkin dielakkan! Sudah dapat dibayangkan bagaimana dua belas cahaya ganas Itu akan menembus sosok Luhsantini. Lalu tubuh itu sendiri akan terjungkal masuk kedalam kawah gunung.

Hanya dua jengkal lagi selusin sinar hitam akan menghantam tubuh Luhsantini, tiba-tiba dari arah selatan pinggiran kawah berkiblat selarik cahaya berwarna Jingga. Laksana tameng cahaya Jingga ini melindungi Luhsantini dari hantaman Selusin Bianglala Hitam. Perempuan ini selamat karena begitu beradu dengari cahaya Jingga, selusin sinar hitam terpental ke kiri. Namun pentalan dua belas sinar ini melesat ke arah bayi dalam bedungan pelukan sang ibu! Bayi dalam bedungan terpekik keras.

"Anakku!" jerit Luhsantini. Tubuhnya terhuyung. Dia hampir jatuh pingsan ketika melihat wajah bayinya! Sama sekali tidak menyadari bagaimana Latandai melompat ke hadapannya dan tendangkan kaki kanan.

"Plaaakkk!"

Satu benda hijau menghantam bahu kiri Latandai hingga orang ini terpental dan terguling di tanah bebatuan. Benda yang barusan menghantamnya ternyata adalah sayap belalang raksasa. Sehabis menghantam Laehijau merangkul tubuh Luhsantini dengan kaki kiri sebelah depan lalu dengan cepat binatang ini melompat ke udara, terbang meninggalkan puncak Gunung Latinggimeru.

"Binatang jahanam!" teriak Latandai marah. Gerahamnya bergemeletakan. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya dia menghantam ke atas. Lepaskan pukulan sakti Selusin Bianglala Hitam Dua belas larik sinar hitam menderu. Di udara belalang raksasa Laehijau keluarkan suara menggerung keras ketika tubuhnya bagian belakang hancur dihantam pukulan sakti yang dilepaskan Latandai. Dalam keadaan seperti itu belalang raksasa ini masih sanggup terbang menyelamatkan diri serta menyelamatkan ibu dan anak yang ada di punggungnya. Tapi berapa lama dia bisa bertahan dengan tubuh yang setengah hancur seperti itu.

Latandai menggembor marah melihat Luhsantini dan anaknya berhasil menyelamatkan diri. Berkali-kali kepalan tangan kanannya dihantamkan ke telapak tangan kiri. Tiba-tiba ada suara mengiang masuk ke dalam telinga orang ini. Itu adalah suara Hantu Santet Laknat yang disampaikan lewat ilmu Menyadap Suara Batin.

"Hantu Bara Kaliatus. Kau telah membuat kesalahan besar! Sudah kukatakan seratus ilmu yang sudah kau punya tidak bakal bisa menandingi ilmu Bara Setan Penghancur Jagat! Mengapa kau tidak menghantam perempuan itu dengan ilmu yang kuberikan?! Malah kau mempergunakan ilmu keropos Selusin Bianglala Hitam! Kau manusia tidak berguna. Sekali ini aku memberi pengampunan! Lain kali jika kau masih berlaku teledor kau akan rasakan hukuman dariku."

Latandai sadar, segera jatuhkan diri berlutut "Nenek Hantu Santet Laknat. Aku mohon maafmu! Aku mengaku telah berlaku salah! Lain kali aku tidak akan berbuat tolol lagi!"

Jauh di kaki Gunung Latinggimeru, si nenek yang di uluk Hantu Santet Laknat banting-banting kaki saking marahnya. "Hantu Bara Kaliatus tolol keparat! Dia memberi kesempatan pada Hantu Muka Dua untuk mencari dan menemukan Luhsantini kembali.

Ah!.Bagaimana caraku agar membuat Hantu Muka Dua berpaling padaku. Padahal dulu-dulu dia seolah bisa gila jika sehari tidak bertemu denganku! Tapi sekarang.... banyak bermunculan perempuan cantik yang menjadi sainganku. Luhsantini, Luhjelita.... Entah siapa lagi! Kalau saja aku bisa mengguna-guna Hantu Muka Dua. tapi dia terlalu sakti.... Mungkin saatnya aku kembali mempergunakan Ilmu Bersalin Wajah. Tapi Hantu Muka Dua sudah pernah tahu ilmuku itu Memang, tak ada jalan lain. Dua perempuan itu harus cepat-cepat dibunuh. Selain itu aku harus cepat menyirap kabar siapa-siapa saja mereka yang bercinta dengan Hantu Muka Dua!"*

* *3HANTU BARA KALIATUS INGAT. Tadi ada selarik sinar Jingga berkelebat menamengi dan menyelamatkan Luhsantini dari pukulan Selusin Bianglala Hitam yang dilepaskannya. Serta meria dia memutar tubuh ke arah selatan. Empat buah bola mata merah menyala lelaki itu membesar berkilat-kilat ketika dia melihat satu pemandangan yang membuat darahnya menjadi panas dan tubuh menggeletar oleh rangsangan.

Sejarak lima tombak di hadapannya, di tepi kawah Gunung Latinggimeru tegak seorang gadis berwajah cantik. Tubuhnya yang berkulit putih mulus terbungkus oleh pakaian terbuat dari kulit kayu yang diberi jelaga berwarna ungu. Belum pernah Latandai melihat gadis mengenakan pakaian sebagus dan sangat mempesona seperti yang satu ini. Bagian punggung, ketiak, dada dan pinggul tersibak lebar hingga empat bola mata Latandai menjadi silau.

Di tempat itu tidak ada orang lain. Jangan-jangan gadis berpakaian Jingga inilah yang telah melepaskan pukulan sakti menangkis pukulan Selusin Bianglala Hitam yang tadi dilepaskannya untuk membunuh Luhsantini. Tadinya Latandai hendak mendamprat marah bahkan siap menyerang. Namun melihat wajah begitu cantik, tubuh putih mulus dan molek, hatinya langsung menjadi dingin. Terlebih ketika si cantik itu menyapanya.

"Wahai orang gagah di tepi kawahl Gerangan apakah yang membuat dirimu begitu marah hingga unjukkan wajah membesi dan memukulkan satu tangan ke tangan lainnya!"

Latandai segera mendekati gadis berpakaian kulit kayu warna Jingga itu. Tiga langkah di hadapan si gadis dia berhenti. Matanya semakin membesar. Perlahanlahan muncul senyum di wajahnya yang garang. "Sungguh para Dewa memberikan berkah sangat indah padaku. Di tempat seperti ini bagaimana mungkin aku bertemu dengan seorang gadis secantikmu?"

"Kau bukan saja gagah, ternyata sopan dan lembut dalam bertutur sapa...."

"Ah, suaramu semerdu bebunyian yang dimainkan para Peri di langit ke tujuhl Aku bernama Latandai. Berjuluk Hantu Bara Kaliatus. Wahai siapa kiranya engkau gerangan?"

"Namamu menunjukkan kejantanan. Julukanmu menandakan kedahsyatan! Tidak menyangka kiranya aku akan berhadapan dengan seorang gagah dan pasti sakti mandraguna...."

Cuping hidung Latandai bergerak-gerak mendengar pujian yang diucapkan suara merdu dan keluar dari mulut berbibir merah mempesona.

"Luar biasa, kau memiliki empat bola mata, menjunjung bara api di atas kepala, melekatkan bara api ke dada dan perut! kalau saja tidak takut hangus, ingin rasanya aku berada lebih dekat denganmu...." Sambil berkata gadis itu lemparkan senyum serta kerlingan mata yang membuat Hantu Bara Kaliatus semakin merasa seperti d i kahyangan sehingga dia terlupa untuk menanyakan siapa adanya gadis itu.

"Datanglah mendekat, aku tidak akan menciderai wajah cantik dan tubuh sebagusmu...."

Si gadis benar-benar melangkah mendekat. Tapi dua langkah dari hadapan Hantu Bara Kaliatus dia hentikan tindakannya dan tertawa berderai.

"Orang sakti memang sering menampilkan diri secara aneh dan berada di tempat aneh! Tapi wahai Hantu Bara Kaliatus, jika aku boleh bertanya gerangan apa yang membuat kau berada di pinggiran kawah Gunung Latinggimeru ini?"

"Kawah ini memang jadi tempat kediamanku sejak beberapa bulan purnama. Tapi hari ini adalah hari terakhir aku berada di sini...."

"Hemmm.... Aku bisa menduga!" kata si gadis seraya kembali kerlingkan matanya. "Tempat ini adalah tempatmu melakukan samadi atau tempat menggembleng diri. Jika hari ini kau selesai melakukan semua itu berarti kau akan kembali pulang menemui anak istrimu...." Kata-kata terakhir diucapkan dengan nada perlahan dan wajah membayangkan kesedihan.

"Aku tidak punya istri, tidak punya anak!" jawab Hantu Bara Kaliatus.

"Wahai! Harap maafkan diriku yang lancang menduga!" kata si gadis seraya mengusap lengan Latandai yang penuh ditumbuhi bulu. Membuat lelaki ini jadi tambah tenggelam dalam rangsangan hasrat yang berkobar-kobar. "Hai! Lenganmu terasa panas...." Si gadis terpekik kecil.

"Aku.... Darahku menjadi panas melihat kecantikanmu!" kata Latandai tanpa malu-malu. "Maukah kau ikut bersamaku...?"

"Ajakan seorang gagah siapa berani menampik. Tapi kemanakah kau hendak membawaku...?" Latandai jadi bingung sendiri. Lalu dia tertawa gelakgelak.

"Aku jadi bodoh! Tidak tahu mau mengajakmu kemana...."

"Kemana saja asal kau yang mengajak tentu aku suka..." kata si gadis pula dan tak lupa dengan kerlingan mata genit yang membuat La tandai tambah terambung-ambung seperti di awan! Tangan kanannya meluncur memegang lengan si gadis lalu setengah berbisik dia berkata." Di lamping kawah sebelah sana ada sebuah goa Di dalamnya ada satu telaga kecil. Hawa di sana sangat sejuk dan bersih. Aku akan membawamu kesana...."

"Ah, senang hatiku. Tapi aku ingin sedikit berlamalama di bawah sinar sang surya yang baru terbit ini. Kuharap kau tidak marah. Sinar mentari sangat bagus Ituat kulit perempuan sepertiku...."

"Apapun yang kau katakan aku akan menurut. Tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan...."

"Kata orang bertanyalah sebelum sesat dijalan. Hik...hik... hik!" Si gadis tertawa hingga terlihat barisan gigigiginya yang putih berkilat serta lidahnya yang merah dan basah, membuat Latandai tambah geregetan dan saat itu ingin memeluk serta menciumnya.

"Mengapa kau datang ke kawah ini...."

"Wahai Hantu Bara Kaliatus, jangan kau bercuriga pada diriku. Tadi aku berada di pinggiran kawah sebelah sana. Tiba-tiba kulihat ada sinar hitam dan sinar Jingga bertabur di udara. Cepat-cepat aku ke sini. Sampai di sini sinar hitam dan cahaya Jingga itu tidak kutemukan. Yang kulihat adalah seorang gagah bernama Latandai berjuluk Hantu Bara Kaliatus!" Gadis itu kembali tertawa merdu. Latandai ikutan tertawa senang. Lalu lelaki ini berbisik. "Kita ke goa sekarang?"

"Hari masih panjang, mengapa terburu-buru? Tapi jika kau memaksa biar aku mengalah! Aku tak mau kau menjadi marah!"

Mendengar ucapan si gadis segera saja Hantu Bara Kaliatus menarik tangannya.

"Tunggu dulu!" si gadis berseru.

"Ada apa...?" tanya Latandai.

"Apapun yang akan kita perbuat di dalam goa itu kau harus berjanji! Jangan sampai bara menyala di kepala, dada dan perutmu menyentuh diriku...."

"Aku berjanji!" jawab Hantu Bara Kaliatus dengan suara keras. Hasratnya tambah menggila dan dia benarbenar senang luar biasa karena tidak menduga akan bertemu dengan seorang gadis jelita yang saat itu mau saja diajaknya masuk ke dalam goa. Sambil memegang lengan si gadis Latandai mengajaknya berlari sepanjang tepi kawah. Lelaki ini berlari kencang sekali dan bukan merupakan lari biasa. Dia sama sekali tidak menyadari walau dia lari secepat itu tetapi si gadis di sebelahnya mampu mengikuti!

"Wahai! Goa ini benar sejuk dan indah bersih seperti yang kau katakan!" ujar si gadis begitu mereka masuk ke dalam goa. Langsung saja dia dudukkan diri di lantai goa dekat sebuah telaga kecil berair jernih kebiruan.

"Kalau kita bisa sering-sering berada di tempat ini, hemmm.... Senang sekali hatiku...."

Latandai tertawa lebar lalu ikutan duduk di lantai. Dia sengaja merapatkan tubuhnya ke pinggul si gadis.

"Sekarang apa yang akan kita lakukan?!" bertanya gadis itu seolah-olah menantang.

Latandai rangkulkan tangan kirinya di pinggang sang dara.

"Awas bara menyala di kepala, dada dan perutmu! Hik... hik... hik!" memperingatkan si gadis sambil tertawa genit.

"Jangan khawatir, aku akan berhati-hati..." bisik Latandai.

"Astaga...!" si gadis terpekik kecil.

"Ada apa?" tanya Latandai.

Gadis itu masukkan tangan kanannya ke balik dada pakaian kulit kayunya yang membuat Latandai membeliak. Dari balik pakaiannya si gadis keluarkan dua buah benda bulat sebesar kepalan berbulu halus.

"Aku membawa dua buah kecapi hutan. Aku pernah memakannya! Rasanya manis sekali. Satu untukmu, satu untukku! Ini kuberikan padamu yang besar karena kau orangnya besar. Aku biar yang kecil. Ayo sama-sama kita makan!"

Gadis itu bantingkan buah kecapinya kelantai hingga terbelah dua. Lalu sambil senyum-senyum memandang pada Latandai dia segera menyantap buah kecapi yang lombut putih dan manis itu. Latandai segera pula membuka buah yang dibelahnya dengan remasan tangan.

"Kecapimu manis...?" tanya si gadis.

"Hemmm..."gumam Latandai sambil mengangguk.

Dia cepat-cepat menghabiskan buah kecapi itu karena hasratnya tidak tertahankan lagi. Begitu buah kecapi dimakan habis kembali dia merangkul tubuh si gadis. Tapi belum sempat tersentuh tiba-tiba Latandai merasakan dadanya sesak, pemandangannya gelap menghitam.

Nafasnya tersendat. "Aku...." Dia hanya sanggup mengeluarkan satu patah ucapan itu lalu tubuhnya terguling tertelentang di lantai goa.

Gadis berpakaian jingga tertawa panjang. Dengan cepat dia memeriksa keadaan Latandai. Setelah memastikan lelaki itu benar-benar pingsan maka tangan dan matanya bekerja memeriksa bagian tubuh di sebelah bawah pusar Latandai. Sesaat kemudian gadis itu menarik nafas panjang. Wajahnya menunjukkan kekecewaan. "Hanya ada satu tahi lalat di bawah pusarnya..." katanya perlahan. Sesaat dia duduk termenung.

Dalam hati kembali dia berkata. "Mendapatkan satu saja begini sulitnya. Bagaimana mungkin aku sanggup mencari sampai tujuh orang? Wahai diriku yang bernama Luhjelita, sulit sekali tugas yang kau pikul. Untuk mendapatkan satu ilmu kau harus menempuh perjalanan berliku, menantang seribu bahaya...."

Gadis yang menyebut dirinya Luhjelita ini menarik nafas panjang. Sesaat dia perhatikan sosok Hantu Bara Kaliatus lalu mencibir. Dia bangkit berdiri. Sebelum keluar dari goa dia tendang lebih dulu kaki kiri Latandai. Lalu berkelebat pergi sambil tertawa cekikikkan. Di satu tempat gadis itu menyelinap ke balik pohon-pohon besar tumbuh rapat berjejeran. Di balik pepohonan mendekam seekor kura-kura raksasa berwarna coklat.

Tidak seperti kura-kura biasa, binatang yang satu ini memiliki dua buah sayap yang bisa dilipat dan direntangkan. Si gadis melompat naik ke atas kura-kura raksasa lalu mengetuk punggung binatang ini tiga kati.

Kura-kura keluarkan kepalanya, sayap di kiri kanan direntang lebar. Sesaat kemudian binatang aneh ini melayang terbang di udara meninggalkan puncak Gunung Latinggimeru. Sementara itu di dalam goa, tak lama setelah gadis berpakaian jingga berlalu Hantu Bara Kaliatus mulai siuman. Dia keluarkan keluhan pendek. Tubuhnya menggeliat. Sesaat kemudian dia bangun dan langsung melompat bangkit. Empat bola matanya menyorot memandang berkeliling. Dia lari ke mulut goa. Memandang ke seantero kawah Gunung Latinggimeru.

"Aku tertipu!" ucap Hantu Bara Kaliatus sadar. "Gadis jahanam! Aku ingat sekarang! Gadis itu berpakaian warna jingga! Cahaya sakti yang tadi melesat di udara menyelamatkan Luhsantini juga berwarna jingga! Jangan-jangan dia yang punya perbuatan menolong Luhsantini! Kurang ajar! Aku tertipu oleh kecantikan dan keelokan tubuh serta tutur bicaranya yang pandai merayu! Waktu lari tadi.... Gila! Mengapa sekarang aku baru sadari Aku berlari sekencang angin! Dan dia mampu mengikuti aku!" Hantu Bara Kaliatus bantingbanting kakinya. "Kalau bertemu akan kukuliti sekujur tubuhnya!"

Saking marahnya Hantu Bara Kaliatus tendang batu di mulut goa hingga hancur berantakan.*

* *4GEMURUHNYA ARUS SUNGAI TERASA menyeramkan di telinga Wiro. Naga Kuning dan Setan Ngompol yang berada di atas telapak tangan kanan Lakasipo. Lakasipo sendiri saat itu duduk di atas sebuah batu besar sambil merendam sepasang kakinya yang terbungkus dua batu besar berbentuk bola yang di seantero Negeri Latanahsilam kini telah dikenal dengan sebutan Bola Bola Iblis. Bahkan banyak pula yang menjuluki Lakasipo sebagai Hantu Kaki Batu. Sejak dia membunuh Lahopeng, pemuda jahat yang hendak mencelakai dirinya, penyebab kematian istrinya Luhrinjani serta perampas kedudukannya sebagai Kepala Negeri Latanahsilam, hampir seluruh penduduk menginginkannya kembali menjadi Kepala Negeri. Namun Lakasipo telah kepalang kecewa. Walau kini dia telah meninggalkan Latanahsilam dia belum tahu kemana dia hendak pergi. Sementara itu rasa suka dan persahabatannya terhadap Wiro dan dua kawannya semakin terasa erat. (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Bola Bola Iblis")

Lakasipo memetik selembar daun di tepi sungai. Ketiga orang itu diletakkannya di atas daun, lalu daun itu diturunkannya ke air. Dengan ukuran tubuh mereka yang kecil maka bagi Wiro dan dua temannya daun itu sama besarnya dengan sebuah rakit. Begitu berada di atas air daun segera dihanyutkan arus.

"Hai! Hendak kau apakan kami?!" teriak Wiro. Naga Kuning mencengkeram daun sekuat-kuatnya sementara Setan Ngompol Jatuhkan diri tertelentang sambil menahan kencing.

Lakasipo tertawa lalu mencebur masuk ke dalam sungai hingga daun di mana Wiro dan kawan-kawan berada terlempar ke atas bersama muncratan air tak ampun lagi ketiganya amblas masuk ke dalam air. Sambil tertawa-tawa Lakasipo selidupkan tangan kirinya ke dalam air, menangkap ketiga orang yang sudah megap-megap itu.

" "Dia hendak membunuh kita!" teriak Naga Kuning dengan muka pucat."

"Bagaimana kau bisa berbuat sejahat ini Lakasipo?!" ujar Setan Ngoropol seraya mengusap wajah yang basah dengan tangan kanan sementara tangan kiri menekan bagian bawah perutnya yang tak dapat lagi menahan kencing.

"Lakasipo apa maksudmu rnembenamkan kami ke dalam air?" Wiro akhirnya ikut bertanya.

Lakasipo dekatkan telapa tangan kiri ke mukanya.

"Selama beberapa hari ini kita berempat tak pernah mandi-mandi. Kebetulan bertemu sungai airnya jernih, bersih dan sejuk. Apa salahnya pergunakan kesempatan untuk mandi wahai tiga kawanku? Apalalagi kawanmu kakek bermata jereng berkuping lebar ini. Bau Pesingnya sudah tidak ketelengan!"

"Kalau kau memang mau memandikan kami bukan begini caranya! Kami bertiga bisa mati tenggelam!" ujar Setan Ngompol lalu mengomel panjang pendek.

"Air sungai bagimu sejuk tapi bagi kami sama saja tenggelam dalam es! Kami bertiga bisa mati kedinginan!" teriak Naga Kuning.

"Kalian bertiga memang makhluk seperti kutu cebol. Tapi aku tahu kalian memiliki ilmu kepandaian tinggi! Anggap saja kalian sedang mendapat gemblengan!"

kata Lakasipo lalu tertawa gelak-gelak hingga ketiga orang itu terbanting di atas telapak tangannya dan dekap, telinga masing-rnasing agar tidak kesakitan.

"Saatnya, kita melanjutkan perjalanan kata Lakasipo kernudian. Lalu dia bersuit keras.. Laekakienam, kuda hitam raksasa berkaki enam yang jadi tunggangan Lakisipo dan saat itu! tengah mahdi di sebelah hilir. segera melompat dan berenang rnendapatkan tuannya. Suara binatang ini merancah air sungai membuat Wiro dan kawan-kawannya menahan nafas karena ngeri sementara air..sungai bermuncratan kian kemari laksana sambaran-ombak.

"Tunggu dulu Lakasipo!" berkata Wiro. "Kau mau bawa,kami kemana?"

" Wahai Wiro, bukankah aku sudah mengatakan Padamu dan Naga Kuning serta Setan Ngompol bahwa akan membawamu ke Bukit Latinggihijau untuk melihat makam istriku?!"

Pendekar 212 garuk-garuk kepalanya. "Kami memang senang kau bawa ke sana," katanya menyahuti walau dalam hati dia berkata, "kenal saja aku tidak pernah. Lagipula pada akhir hayatnya perempuan itu mengkhianati Lakasipo. Perlu apa pergi ke sana?" Wiro lalu berkata lagi "Tapi Lakasipo! Sebelum pergi ke Bukit Latinggihijau bagaimana kalau kita mencari dulu Batu Sakti Pembalik Waktu yang hilang itu?"

"Ah, kau tidak kerasan lama-lama di Latanahsilam "Bukan begitu. Kami suka tinggal di sini. Tapi alam sini sangat berbeda dengan alam kami di tanah Jawa. Marabahaya senantiasa membayangi kami dan muncul tidak terduga. Bukan.karena orang-orang di sini ingin mencelakai karni, tapi karena keadaan tubuh kami kecil begini yang menjadi sumber malapetaka! Bayangkan kalau kami sampai dipatuk burung atau ayam raksasa, atau dirubung semut atau disengat tawon. Bayangkan kalau kami sampai terinjak anjing atau kambing atau jadi permainan kucing, dicakar dan digigit!"

"Kalian bertiga tak perlu khawatir wahai para kutu Cebol sobat-sobatku! Bukankah aku akan melindungi dan membawa kalian bertiga kemana aku pergi?"

"Aku percaya pada dirimu Lakasipo. Tapi kami lebih suka jika bisa kembali ke alam kami..." kata Naga Kuning pula. "Antarkan kami ke kawasan rerumputan itu mencari. Batu Sakti Pembalik Waktu.!"

"Kita sudah pernah ke sana. Kalian sendiri dan juga aku telah menyelidik. Tapi batu tujuh warna itu tidak ditemukan...."

"Batu itu pasti ada di sana. Kita mencarinya terburuburu saat itu. Karena, hampir malam!" kata Setan Ngompol.

Lakasipo gelengkan kepala. "Betapapun kecilnya benda itu, walau hari hampir gelap tapi mataku tak bisa ditipu. Aku pasti akan menemukannya jika batu itu benar-benar ada di sana...."

"Kalau kau memang bersahabat dengan kami, kau harus mau mengantarkan kami ke sana. sekali lagi. Kita habiskan satu hari penuh untuk mencari batu itu!" kata Pendekar 212 Wiro Sableng.

Lakasipo menyeringai. "Persahabatan bukan berarti harus melakukan sesuatu yang mustahil wahai sobatku Wiro Sableng. Kita pergi ke Bukit Latinggihijau dulu. Soal batu itu kita urus kemudian...."

Lakasipo mengusap kepala kuda hitam berkaki enam yang kini tegakdi sampingnya. Ketika dia hendak, naik ke punggung binatang ini Wiro berkata. "Lakasipo, tunggu! Kalau kau tidak mau mengantarkan kami ke kawasan rerumputan itu, apa kau juga tidak mau menolong kami mencari Hantu Tangan Empat?"

"Makhluk satu ini.... Dia sulit sekali dicarinya, wahai Wiro."

"Seluas-luasnya Negeri Latanahsilam ini Hantu Tangan Empat pasti punya tempat kediaman. Kalau kita pergi ke sana masakan tidak bertemu?!" berkata Naga Kuning.

"Kalian bertiga tidak tahu siapa adanya Hantu Tangan Empat. Dia jarang berada di tempat kediamannya. Selain itu dia berada di bawah pengaruh Hantu Muka Dua yang selalu memberinya perintah ini itu. Kalau dia pergi bisa satu dua tahun. Apa yang bisa kalian harapkan?"

Wiro garuk-garuk kepalanya. Setan Ngompol.berbisik.

"Aku yakin satu tahun di negeri celaka ini tidak sama dengan satu tahun di negeri kita. Mungkin satu atau dua tahun di sini hanya satu atau dua bulan saja di alam kita. Buktinya orang di sini bisa berusia sampai tiga ratus tahun!"

Saat rtu Lakasipo telah melompat naik ke punggung kuda hitam kaki enam. Sebelum dia memasukkan ketiga orang itu ke dalam kocek jerami di pinggang kanannya Naga Kuning berseru.

"Lakasipo! Bagaimana kalau aku tidak ikut kau tapi antarkan saja mencari seorang anak perempuan...."

"Seorang anak perempuan?" Lakasipo mengulang heran. Sementara Wiro dan Setan Ngompol memandang lekat-lekat penuh tanda tanya pada si bocah.

"Memangnya kau ada kenalan anak perempuan di Latanahsilam ini? Aku tidak tahu. Tidak aku mengerti! Anak siapa, anak yang mana?"

"Aku melihat anak itu di tepi tanah lapang luas. Sewaktu terjadi perkelahian antara kau dengan Lahopeng," menerangkan Naga Kuning.

"Kau ini aneh Naga Kuning. Ada puluhan bahkan ratusan anak perempuan di negeri yang luas ini. Kau tahu nama anak itu? Kau ini ada-ada saja Naga Kuning. Bocah sebesarmu sudah tahu perempuan!" Wiro hendak mengatakan sesuatu tapi Naga Kuning cepat kedipkan mata sambil berbisik. "Jangan kau berani membuka rahasia sobat sendiri Wiro!" ucapan itu membuat murid Sinto Gendeng jadi garuk-garuk kepala. Naga Kuning pencongkan mulut lalu berkata menjawab pertanyaan Lakasipo tadi. "Aku hanya kenal muka, tapi tidak kenai nama anak itu...."

"Mungkin aku bisa membantu!" tiba-tiba Setan Ngompol berkata. "Aku juga memang tidak tahu nama anak perempuan itu. Tapi aku ingat betul ciri-cirinya!"

"Hemm.... Coba kau beri tahu aku ciri-ciri anak itu wahai kakek mata jereng kuping lebar!" kata Lakasipo pula.

Setan Ngompol menyeringai. Dia mengerling dulu pada Naga Kuning baru menjawab. "Anak perempuan itu seingatku hanya mengenakan pakaian dari kulit kayu di sebelah bawah. Di sebelah atas polos. Dadanya lumayan montok. Sekujur tubuhnya penuh koreng. Lalu di atas bibirnya ada dua jalur ingus yang mengambang terus menerus. Naik kalau disedot, turun lagi kalau dibiarkan...."

"Tua bangka bermulut jahat!" teriak Naga Kuning seraya menarik kolor si kakek ke bawah hingga auratnya menongol! "Bukan gadis itu yang aku maksudkan!"

"Bocah kurang ajari Kau boleh marah! Tapi jangan main tarik kolorku! Lihat! Terong peot dan kantong menyanku berojolan kemana-mana!" Setan Ngompol marah sekali dan cepat-cepat tarik kolor bututnya ke atas.

Sambil menahan tawa Lakasipo berkata. "Naga Kuning, kalau kau masih ingat ciri-ciri gadis itu, katakan padaku."

"Anaknya putih. Rambutnya dikuncir kepirangpirangan. Dia memiliki sepasang kaki yang bagus. Pahanya putih sekali. Pakaiannya agak tersingkap di bagian dada. Aku benar-benar tidak bisa melupakannya! Aku ingin sekali bertemu lagi dengan dia. Ah...."

"Bocah ini sudah ketiban sakit mala rindu tak tahu juntrungan!" Setan Ngompol mengejek. ‘Tapi sebagai sahabat yang nyasar ke negeri asing, aku tidak keberatan menemaninya...."

"Apa maksudmu kakek cebol?' tanya Lakasipo.

"Kalau bocah ini melihat anak perempuan itu, aku juga melihat sorang nenek berbadan molek. Dia mengenakan pakaian kulit kayu yang dililit sepanjang badan. Di sebelah atas pakaiannya itu seperti kemben. Kulihat ternyata dadanya putih dan masih kencang. Hik... hik... hik!"

"Di Latanahsilam hanya ada satu nenek seperti yang kau sebutkan itu. Namanya Luhlampiri. Dia sudah kawin sembilan kali. Setiap kawin suaminya menemui ajal dalam waktu tiga puluh hari!"

Setan Ngompol terkejut dan langsung terkencing mendengar keterangan Lakasipo itu sementara Wiro senyum-senyum dan Naga Kuning tertawa haha-hihi sambil cibirkan bibir.

"Kau masih ingin mengincar nenek itu, wahai sobatku Setan Ngompol?!" bertanya Lakasipo.

"Aku terpaksa berpikir dulu sampai tujuh kali. Tapi kalau cuma sekadar bertemu saja apa salahnya! Bermain cinta tapi tak perlu kawin! Apa ada aturan yang melarang perbuatan seperti itu di Negeri Latanahsilam ini, wahai sobatku Lakasipo?" bertanya Setan Ngompol.

"Tidak, memang tidak ada aturan yang melarang wahai Setan Ngompol. Juga tidak ada aturan yang melarang kalau satu ketika, akibat kelakuanmu itu terong peot dan kantong menyanmu tahu-tahu pindah ke jidat!" Lakasipo tertawa gelak-gelak yang membuat tangan kanannya berguncang-guncang hingga Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol yang ada di atas telapak tangan itu berjatuhan tumpang tindih.

Naga Kuning yang masih penasaran pada Setan Ngompol cepat bangkit dan berkata. "Setan Ngompol! Kalaupun nenek bernama Luhlampiri itu mau dikawin olehmu, apa yang bisa kau lakukan dengan terong peotmu yang baginya cuma sebesar jarum karatan! Sekali kau kena kentutnya, anumu bisa mental dan remuk tak karuan rupal Hik... hik... hik!"

Setari Ngompol jadi naik darah. Dia membentak marah. Namun sebelum ucapannya keluar dia sudah tcrkencing duluan!

"Wahai kalian bertiga para sahabatku! Saatnya untuk berangkat ke Bukit Latinggihijau. Kalian akan kumasukkan dulu ke dalam kocek jerami." Baru saja Lakasipo hendak membuka penuiupkocek di pinggang kanannya tiba-tiba ada satu sosok besar melesat keluar dari hutan di seberang sungai. Gerakan makhluk itu membuat dua pohon besar yang terlanggar tubuhnya berderak patah dan bertumbangan. Dilain kejap makhluk ini telah berdiri tegak di atas sebuah batu besar di tengah sungai.

Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol Langsung tercekat pucat menyaksikan sosok yang berada di tengah sungai itu. Bahkan Lakasipo ikut tersirap kaget.

"Berulang kali aku mendengar ceritanya. Baru sekali ini aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri! Benarbenar mengerikan..." kata Lakasipo dengan hati bergetar.*

* *5SOSOK YANG TEGAK DI ATAS BATU BESAR DI tengah sungai bukan lain adalah Latandai alias Hantu Bara Kaliatus. Sepasang matanya masingmasing memiliki dua bola mata berwarna merah seperti bara menyala menatap angker ke arah Lakasipo. Saat itu Lakasipo masih duduk di atas punggung Laekaki enam kuda tunggangannya yang berkaki enam. Sementara Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol masih berada dalam genggaman tangannya, belum sempat dimasukkan ke dalam kocek jerami.

"Makhluk apa ini gerangan..." kata Naga Kuning.

"Kepalanya seperti pendupaan! Ada bara menyala!"

menjawab! Wiro. Sementara Setan Ngompol berdiam diri sambil menekap bagian bawah perutnya karena ngeri melihat sosok Hantu Bara Kaliatus. Udara di sekitar sungai yang tadinya sejuk kini berubah menjadi panas oleh hawa yang keluar dari bara menyala di kepala dan tubuh Hantu Bara Kaliatus.

"Lihat matanya!" Naga Kuning kembali berucap.

"Setiap mata ada dua bola mata!"

"Ya, aku juga sudah melihat. Jangan-jangan makhluk ini punya empat biji di kantong menyairnya!" kata Wiro pula sambil tertawa cekikikan.

"Kalian jangan bergurau saja!" membentak Setan Ngompol. "Aku punya firasat bahaya besar mengancam Lakasipo, berarti mengancam kita bertiga!"

"Wahai orang berkaki batu berkuda kaki enam!"

Hantu Bara Kaliatus berseru dari tengah sungai. "Walau rambutmu gondrong riap-riapan, muka tertutup kumis, Janggut dan cambang bawuk tebali Tapi aku masih mengenali siapa dirimu! Dan aku memang sudah lama mencarimu I Bukankah kau manusianya yang bernama Lakasipo dan kini dijuluki Bola Iblis alias Hantu Kaki Batu?."

Lakasipo tidak segera menyahut. Dia perhatikan sekali orang di tengah sungai itu. "Lama sudah kudengar kedahsyatan keadaan dirimu! Jika aku tidak salah menduga bukankah kau Latandai, kerabat dari Latanahsilam yang kini terkenal dengan julukan Hantu Bara Kaliatus?!"

Hantu Bara Kaliatus tertawa bergelak. "Dulu kita sama-sama tinggal di Latanahsilam, saling bersahabat saling berkerabat! Tapi keadaan kini telah menentukan lain! Aku memanggul tugas membunuh dirimu Lakasipo!"

Terkejutlah Lakasipo mendengar ucapan Hantu Bara Kaliatus itu. Dalam genggamannya Setan Ngompol langsung terkencing. Naga Kuning gemetaran sedang Wiro walaupun tampak tenang tapi hatinya jadi berdebar. Jika terjadi perkelahian antara Lakasipo dengan orang yang kepala dan tubuhnya dipenuhi bara menyala itu, niscaya keselamatan mereka ikut terancam.

"Latandai, hampir delapan puluh tahun kita tidak pernah bertemu! Sekali bersua kau berniat hendak membunuhkul Siapa yang memberi tugas gila itu padamu! Mengapa dia menginginkan jiwaku?!" tanya Lakasipo alias Hantu Kaki Batu dengan suara lantang.

"Aku tidak ditugaskan untuk bertanya jawab. Tapi mungkin aku bisa memperpanjang saat-saat kematian mu. Asalkan kau bersedia menjawab pertanyaanku!"

"Manusia gendeng! Hendak membunuh orang tapi mau bertanya dulu!" memaki Naga Kuning.

"Hantu Bara Kaliatus! Belum pagi berganti sore ucapanmu sudah ngaco bertolak belakang! Tadi kau bilang tidak ingin bertanya jawab. Tapi sekarang kau mau mengajukan pertanyaan!"

Tampang Hantu Bara Kaliatus jadi berubah. Bara api di atas kepalanya mengepulkan asap merah. Tidak mengacuhkan ejekan Lakasipo dia berkata. "Aku mencari seorang bernama Lasingar. Aku juga mencari seorang perempuan bernama Luhsantini. Terakhir sekali aku bertemu orang-orang itu sekitar seratus tahun lalu. Lalu ada seorang lelaki bernama Lamatahati yang usianya sekitar delapan puluh tahunan. Di mana mereka sekarang, apakah kau bisa memberi tahu?"

"Aku pernah mendengar sedikit riwayatmu di masa lalu. Luhsantini bukankah dia istrimu dan Lamatahati bukankah dia anakmu? Aku menaruh curiga kau punya niat jahat terhadap kedua orang itu. Juga terhadap Lasingar! Aku tak mungkin memberi tahu! Apalagi kau punya maksud hendak membunuhku!"

Hantu Bara Kaliatus perlihatkan wajah sedih. "Yang lalu biarlah berlalu. Walau bagaimanapun Luhsantini adalah istriku. Lamatahati adalah anakku dan Lasingar adalah kerabatku! Aku rindu ingin bertemu dengan mereka."

Lakasipo terdiam beberapa ketika. Akhirnya dia menjawab. "Istrimu kudengar kabar menyepi diri di satu tempat di sebuah pertapaan di sebelah selatan Gunung Labatuhitam. Lasingar kalau tak salah menetap di Bukit Latinggibiru. Mengenai anakmu Lamatahati tidak pernah kuketahui. Mungkin dia berada di alam lain sebelum kita atau alam seribu dua ratus tahun setelah kita."

Hantu Bara Kaliatus tatap muka Lakasipo beberapa saat seolah hendak meneliti apakah keterangannya bisa dipercaya. Kemudian manusia ini sunggingkan seringai. "Wahai Lakasipo! Ternyata kau tidak bakal mati sia-sia! Kau mati dengan menanam budi padaku! Semoga para Dewa dan para Peri memberikan tempat paling hnflua begini di alam atas langit! Tiba saatnya aku membunuhmu wahai Hantu Kaki Batu"

Habis berkata begitu Hantu Bara Kaliatus sentakan lehernya. Kepalanya bergoyang keras. Sebuah bara menyala melesat dari atas kepala orang ini, menyambar ke arah kepala Lakasipo. Secepat kilat Lakasipo tundukkan kepala. Melompat ke kiri, mencebur ke dalam sungai. Bara menyala lewat setengah jengkal disamping paha kirinya, menebar hawa panas yang sempat menghanguskan cambang bawuknya. Bara menyala sesaat kemudian menghantam sebuah batu besar di tepi sungai sehingga meledak dan hancur berkeping-keping!

Hantu Bara Kaliatus tertawa bergelak. "Gerakanmu lumayan cepat Hantu kaki Batu. Aku ingin melihat kehebatan sepasang kaki batumu!"Hantu Bara Kaliatus lalu sentakkan otot di perutnya. Dua buah bara menyala melesat menyerang Lakasipo. Lebih cepat dan lebih ganas! Lakasipo yang masih berada dalam sungai membentak keras lalu melesat ke udara. Pada saat dua bara menyala menyambar dan hanya tinggal satu langkah dari perut dan dadanya, Lakasipo tendangkan kedua kakinya.

"Byaaarrr!"

"Byaaarrr!"

Percikan lidah api mencuat di atas sungai. Membakar daun-daun pepohonan. Lakasipo terdorong keras ke belakang tapi masih sanggup menjejakkan dua kaki batunya di tepi sungai. Rasa sakit menjalar dari kaki sampai ke pinggang. Kalau tidak cepat mengimbangi diri dan pasang kuda-kuda niscaya dia akan jatuh terhenyak di tanah. Di atas batu di tengah sungai Hantu Bara Kaliatus tegak dengan tubuh tergontaigontai. Sesaat mukanya seolah tak berdarah ketika menyaksikan bagaimana dua bara yang dihantamkannya ke arah lawan hancur berantakan ditangkis Bola Bola Iblis di kaki Lakasipo!

Lakasipo sendiri tampak berkerut keningnya ketika melihat bagaimana hantaman dua keping batu bara merah yang hanya sebesar ibu jari kaki itu membuat dua kakinya yang terbungkus batu laksana dirajam dalam api. Ketika dia memperhatikan ternyata dua batu di kakinya telah gompal! Padahal selama ini tidak satu senjata atau kekuatan sakti puri sanggup merusak dua batu bulat itu!

Mendadak Lakasipo merasa ada tusukan halus di tangan kanannya. Tusukan itu sebenarnya adalah gigitan yang dilakukan Wiro untuk menarik perhatian Lakasipo. Hal ini menyadarkan Lakasipo bahwa sampai saat itu dia masih menggenggam ketiga orang Itu di tangan kanannya. Wiro lambaikan tangan berulang kali. Melihat tanda ini Lakasipo segera dekatkan tangan kanannya ke telinga. Wiro cepat membuka mulut.

"Lakasipo! Lekas masuk kedalam sungai. Manusia bara menyala itu pasti tidak berani mengejar. Seluruh bara menyala di kepala dan tubuhnya pasti akan mati kena air. Di dalam air kau punya kesempatan bertahan dan menyerang!"

"Kau cerdik!" ujar Lakasipo. Lalu sambil terus menggenggam Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol dengan cepat dia mencebur masuk ke dalam sungai. Air sungai muncrat sampai beberapa tombak. Wiro dan dua temannya yang masih berada dalam genggaman tangan kanan Lakasipo jadi gelagapan begitu mereka ikut tenggelam masuk ke dalam air.

Di atas batu di tengah sungai Hantu Bara Kaliatus menyeringai lebar. "Aku tahu apa yang ada di benakmu Hantu Kaki Batu! Kau kira aku takut turun ke air! Aku masih belum puas kalau tidak menjajal seluruh kesaktianmu sebelum menamatkan riwayatmu!" Setelah berucap Hantu Bara Kaliatus lantas melompat masuk ke dalam sungai.

"Byuuurrr!"

Sosok Hantu Bara Kaliatus lenyap di dalam air. Di permukaan sungai mengepul asap kelabu. Tiba-tiba sosok Hantu Bara Kaliatus muncul kembali. Astaga! Semua bara menyala yang ada di atas kepala dan menempel di tubuhnya ternyata masih menyala! Tidak mati walau terkena air!

"Hantu Kaki Batu! Perlihatkan kehebatanmu!"

Hantu Bara Kaliatus tanggalkan sebuah bara menyala dari atas kepalanya. Sesaat bara itu ditimangtimangnya. Di saat yang sama Lakasipo ingat akan orang-orang yang ada di tangan kanannya. Dengan cepat dia keluarkan tangan kanan dari dalam sungai. Wiro dan Naga Kuning muntah-muntah semburkan air. Setan Ngompol muntah atas bawah. Walau keadaannya saat itu megap-megap seperti orang mau sekarat tapi Wiro masih sempat mengintip dari sela jari Lakasipo dan dia menyaksikan sendiri bagaimana bara menyala di kepala dan tubuh lawan tidak menjadi mati walau terkena air!

"Lakasipo.... Huekkk!" Wiro muntah lagi. "Sulit bagimu mengalahkan makhluk bara itu. Kau harus menyelinap ke belakangnya. Totok urat besar dipangkal leher sebelah kanan. Tubuhnya pasti kaku tak bisa bergerak!"

"Kau memang pernah bilang mengenai ilmu totok itu! Tapi mana aku paham melakukannya!" jawab Lakasipo seraya mendekatkan tangan kanannya ke dekat, kepala.

"Luruskan dua jari tangan kirimu! Kerahkan tenaga dalam lalu tusukkan ke pangkal leher! Ingat, aku pernah menunjukkan caranya beberapa hari lalu! Kau harus melakukan sekarang sebelum dia menyerang!"

Apa yang dikatakan Wiro tidak mudah bagi Lakasipo melakukannya. Bukan saja karena dia tidak pernah mengenal ilmu totokan itu tetapi saat itu Hantu Bara Kaliatus telah melemparkan bara api yang tadi ditimang nya di tangan kanan.

"Wuussss!"

Batu bara menyala seolah berubah menjadi sinar merah panjang, melesat di atas permukaan air sungai menyambar ke arah dada Lakasipo. Lakasipo membuang dirinya ke samping sambil melepaskan pukulan Lima Kutuk Dari Langit Lima larik sinar hitam berkiblat memapasi sambaran bara menyala.

"Taar! Taarr! Taarr! Taarr! Taarr!"

Lima letusan keras menggetarkan udara. Sinar hitam dan kilatan nyala api bertaburan. Air sungai bergejolak ke atas antara dua lawan yang tengah bertempur itu hingga untuk beberapa saat lamanya mereka tak dapat saling melihat. Lakasipo merasa sakit dan panas pada pinggang sebelah kiri. Namun tidak diacuhkannya karena dia ingin mempergunakan kesempatan untuk melakukan apa yang diberitahu Wiro tadi. Yakni menotok tubuh lawan. Tapi celakanya Lakasipo lupa bagian mana dari tubuh Hantu Bara Kaliatus yang harus ditotoknya. Sebelum tubuhnya masuk ke dalam air dia angkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan bertanya. "Wiro, bagian mana dari tubuh Hantu Bara Kaliatus yang harus aku tutuk!"

Saat itu dalam genggaman tangan kanan Lakasipo Wiro terjepit di sebelah bawah. Walau dia bisa mendengarpertanyaan Lakasipo namun dia tak bisa menjawab.Sebaliknya Naga Kuning berada di sebelah atas antara dua celah jari tangan. Enak saja bocah ini berteriak.

"Totok saja selangkangannya sebelah kanan! Kau harus menyelami Lakukan cepat sebelum muncratan air turun!"*

* *6TANPA PIKIR PANJANG LAKASIPO SEGERA menyelam lalu bergerak cepat mendekati lawan dengan dua jari tangan kiri terpentang lurus. Hantu Bara merasa dan mendengar ada herrtakanhentakan keras di dasar sungai yakni hentakan Bola Bola Iblis atau dua kaki Lakasipo yang terbungkus batu. Ketika dia menyadari lawan menyusup dalam air dan mendekatinya dengan cepat keadaaan sudah kasip.

Tubuh Hantu Bara menggeletar ketika satu tusukan keras menghantam pangkal paha kanan sebelah atas!

Hantu Bara Kaliatus pukulkan tangan kanannya ke dalam air namun Lakasipo telah lebih dulu menyelinap. Sesaat kemudian dia melesat ke tebing sungai dan berlindung di balik sebuah batu besar. Dari balik batu itu dia memperhatikan apa yang terjadi atas diri Latandai alias Hantu Bara Kaliatus. Pada saat bersamaan Lakasipo ingat lagi akan tiga sahabatnya yang terbawa menyelam dan masih berada dalam genggaman tangan kanannya. Cepat-cepat Lakasipo buka tangannya lalu meletakkan ketiga orang itu di tanah.

"Celaka.... Jangan-jangan mereka mati semua. Wahai sahabatku!" kata Lakasipo dalam hati sewaktu dilihatnya Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol tak satupun yang bergerak! Lakasipo cepat tengkurapkan ketiga orang itu. Lalu hati-hati dan perlahan sekali, dengan mempergunakan ujung jarinya ditekannya punggung dan pantat ketiga orang itu. Air sungai yang memenuhi perut Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol menyembur keluar. Sesaat kemudian ketiganya tampak menggerakkan kaki dan tangan. Walau mereka masih tertelungkup begitu rupa dan nafas agak megap-megap namun masing-masing sudah bisa membuka mata hingga menyaksikan apa yang terjadi dengan diri Hantu Bara Kaliatus seperti yang juga disaksikan oleh Lakasipo.

Saat itu di tengah sungai Hantu Bara Kaliatus berhasil menguasai diri hingga getaran yang menjalari tubuhnya segera lenyap. Namun begitu getaran hilang tiba-tiba dia merasakan ada satu kelainan pada bagian tubuh di bawah perut. Rasa berat yang amat sangat. Saat itu dia tidak lagi ingat untuk mencari tahu di mana adanya Lakasipo. Terbungkuk-bungkuk orang ini merambah air. menuju tepian sungai lalunaik ke daratan.

Begitu sampai di dataran dan memandang kebawah. Seruan tertahan keluar dari mulut Hantu Bara Kaliatus!

Matanya membeliak seperti mau melompat dari sarangnya sedang mukanya pucat memutih! Celana yang dikenakan Hantu Bara, yang terbuat dari kulit kayu robek besar di bagian bawah perut. Dari robekan itu mencuat keluar anggota rahasianya yang telah berubah bentuk menjadi bengkak membesar!

"Demi para roh!" jerit Hantu Bara Kaliatus. "Apa yang terjadi dengan diriku! Wahai para Dewa dan Peri! Tolong diriku!" Setengah meratap Hantu Bara sambar serumpunan dedaunan lalu ditutupi auratnya dengan daun-daun itu.

Di balik batu Pendekar 212 Wiro Sableng,. Naga Kuning dan Setan Ngompol berusaha bangkit dari saling pandang.

"Kau lihat barusan anunya Hantu Bara...?" tanya Setan Ngompol pada Wiro.

Wiro mengangguk.

"Aku heran apa yang terjadi atas dirinya. Sampai kantong menyannya bengkak besar begitu rupa. Dan bukan cuma kantong menyannya saja! Tongkat Gandaruwonya juga..." Setan Ngompol tidak teruskan ucapannya.

Kakek bermata jereng ini melirik pada Naga Kuning lalu mengerling ke arah Wiro. "Hemmmm..." Setan Ngompol bergumam. "Ini pasti pekerjaan salah satu dari kalian! Memberi kisikan gila pada Lakasipo! Kalau tidak ada yang menotok urat sembung di selangkangannya tidak nanti dia jadi begitu. Lihat, berdiri saja dia seperti tidak mampu. Yang di bawah bengkak membesar. Yang di atas menunjuk kurang ajar!"

Pendekar 212 garuk-garuk kepala. "Aku memang mengajari Lakasipo untuk menotok. Tapi menotok urat besar di leher atas! Bukan di leher bawah!"

"Hik... hik... hik!" Naga Kuning tekap mulutnya menahan ketawa.

"Bocah geblek! Pasti kau yang mengajari!" kata Setan Ngompol pula pada Naga Kuning. Saat itu Lakasipo rundukkan kepalanya ke tanah.

Perlahan sekali dia berkata. "Wahai Naga Kuning, kalau kita tidak membebaskan tutukan...."

"Totokan! bukan tutukan!" sergah Naga Kuning tapi sambil senyum-senyum.

‘Terserah! Kau menyebut totokan, aku tutukan. Karena totokan dalam bahasa di Negeri Latanahsilam berarti payudara perempuan!"

Setan Ngompol tertawa cekikikan hingga kencingnya terpancar. Wiro garuk-garuk kepala sambil menyengir sedang Naga Kuning tertawa terpingkal-pingkal.

"Kalau kita tidak membebaskan tutukannya, seumur-umur dia akan menderita seperti itu...."

"Dia perlu celana baru yang gombrang di sebelah bawah! kata Wiro. "Atau sarung!"

"Mana ada sarung di negeri gila ini!" tukas Setan Ngompol.

"Siapa yang berani menolongnya?! Sekali mendekat pasti mati kita dihantamnya!" kata Naga Kuning.

"Lakasipo, bukankah kau yang menotok selangkangannya? Jadi kalau kau mau berbaik hati kau saja yang melepas totokannya. Tusuk sekali lagi selangkangannya! Hik... hik... hik!"

Saat itu Hantu Bara Kaliatus duduk tergeletak di tanah. Dia tak habis pikir apa yang terjadi dengan dirinya. Memandang berkeliling dia tidak melihat siapasiapa. Tapi hatinya mulai curiga. Tertatih-tatih orang ini bangkit berdiri. Sambil melangkah pergi dia berkata.

"Lakasipo manusia jahanam! Akan kucari kau sampai ke ujung dunia! Pasti kau yang punya pekerjaan! Jahanam!" Saking marahnya Hantu Bara tinggalkan dua bara menyala dari perutnya lalu di lemparkan ke depan. Dua bara menyala ini menghantam, pohon besar. Begitu tembus masuk ke batang pohon, pohon ini meledak dan tumbang hancur berentakan.

"Siapa sebenarnya makhluk yang mata dan tubuhnya ditempeli bara menyala itu?!" Naga Kuning bertanya.

"Panjang ceritanya wahai tiga saudaraku! Tapi jika kalian ingin tahu biar aku ceritakan sedikit." Lakasipo lalu menuturkan siapa adanya Hantu Bara Kaliatus.

"Peristiwanya terjadi sekitar hampir delapan puluh tahun silam. Dimulai ketika Latandai kabur dari Latanahsilam sementara istrinya hamil besar. Setelah bayinya hampir berusia empat puluh hari Latandai tidak pernah pulang, maka Luhsantini meninggalkan rumah mencari suaminya itu. Di Latanahsilam ada semacam adat jika pada saat seorang bayi mencapai usia empat puluh hari dan ayahnya tidak hadir untuk satu upacara pengusapan ubun-ubun, penyentuhan tubuh serta menciumanaknya, maka anak itu dianggap tidak memiliki ayah, sekaligus tidak punya ibu dan jadilah dia semacam anak haram yang dikucilkan...."

"Adat aneh!" ujar Pendekar 212.

"Negeri ini memang diselimuti seribu satu macam keanehan. Latandai dan Luhsantini jelas-jelas dikawinkan secara syah. Masakan karena ayahnya tidak mengusap ubun-ubunnya saja dia lalu jadi anak haram. Dikucilkan...."

‘Terus terang memang banyak keanehan terutama menyangkut adat yang tidak aku sukai di Negeri Latanahsilam ini," kata Lakasipo pula. "Tapi bagaimana mau mengikisnya? Siapa saja yang berani merubah adat dan aturan akan dicap sebagai pengkhianat besar. Hukumannya direbus dalam sebuah belanga besi selama empat puluh hari sampai daging dan tulang belulangnya hancur larut dalam air!"

"Menurutmu putera Luhsantini dikucilkan lalu diusir dari Negeri Latanahsilam. Kemana minggatnya anak itu, apa dia tidak bisa kembali ke sini? Tidak ingin membalas dendam?"

"Putera Luhsantini itu tidak bisa disebut sebagai anak lagi. Saat ini usianya paling tidak sekitar delapan puluh tahunan. Kemana perginya sulit diketahui. Tapi aku menduga kemungkinan masuk ke dalam negeri asal kalian. Kabar terakhir, sebelum dia lenyap dari sini diketahui dia telah mendapat julukan Hantu Balak Anam!"

"Apa?!" Tiga mulut yakni Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol berseru berbarengan.

. "Wahai tiga saudaraku! Melihat raut muka dan seruan kagetmu tadi aku menaruh sangka kau kenal atau pernah tahu dengan Hantu Balak Anam?!" ujar Lakasipo.

"Orangnya tinggi besar, berambut lurus ke atas seperti ijuk. Alisnya panjang bersambung jadi satu. Lalu di keningnya ada enam buah lobang hitam. Di pipi kiri dan kanan masing-masing ada tiga lobang hitam serupa. Itukah orangnya?!" tanya Wiro.

"Tepat! Memang dia wahai saudaraku Wiro! Mungkin ukuran tubuhnya saja yang tidak sesuai dengan ukuran tubuh kami di sini! Tapi lain dari itu sangat cocok!"

"Dia berada di tanah Jawa. Terakhir sekali dia berada di Telaga Gajahmungkur...." (Mengenai "Hantu Balak Anam" harap baca serial Wiro Sableng berjudul "Pedang Naga Suci 212" yang merupakan Episode ke-4 dari 11 Episode)

"Ah, dugaanku tidak meleset. Jadi memang ke sanalah diamengucilkan dirL Apakah dia menjadi hantu jahat atau hantu baik di negeri kalian?' tanya Lakasipo.

"Walau dia banyak berpihak pada orang-orang golongan putih, namun dia tidak bisa dikatakan termasuk golongan putih. Yang jelas dia bukan golongan hitam," jawab Wiro.

"Aku tidak mengerti. Apa yang kau maksudkan dengan golongan putih dan golongan hitam," ujar Lakasipo pula.

Wiro tersenyum lalu menceritakan apa arti golongan putih dan golongan hitam di rimba persilatan di tanah Jawa.

Sambil garuk-garuk kepala Wiro kemudian berkata. "Kalau kau tidak setuju dengan adat negeri ini, berarti kau menyadari bahwa Lasingar dan Luhsantini serta Lamatahati sama sekali tidak bersalah. Lalu mengapa kau memberi tahu di mana orang-orang itu berada? Hantu Bara Kaliatus pasti akan mencari Lasingar dan Luhsantini. Lalu membunuh kedua orang itu. Lamatahati mungkin selamat karena menurutmu. dia berada di alam lain...."

Lakasipo jadi terkejut mendengar ucapan Wiro Sableng itu. "Astaga, kau benar..." katanya dengan suara bergetar. "Aku membuat kesalahan besar. Aku harus menolong mereka...."

"Tapi apa kau bisa menduga siapa di antara Lasingar dan Luhsatini yang akan lebih dulu didatangi Hantu Bara Kaliatus?!"

"Kukira dendam Latandai sangat besar terhadap Luhsantini. Gara-gara perempuan itulah maka dia menerima bala kutukan. Pasti dia akan membunuh jandanya itu lebih dulu!"

"Kalau kau yakin hal itu, berarti perempuan itu yang harus diselamatkan lebih dulu! Kau tahu tempatnya! Mengapa tidak segera berangkat ke sana!" ujar Naga Kuning.

"Aku.... Aku harus menyambangi makam istriku lebih dulu di Bukit Latinggihijau!" kata Lakasipo pula.

"Istrimu sudah meninggal, Lakasipo!" kata Wiro.

"Tidak ada satu bahaya pun mengancam dirinya dibanding dengan perempuan bernama Luhsantini itu! Dia yang harus didatangi dan diselamatkan lebih dulu!"

"Lalu bagaimana dengan Hantu Santet Laknat! Aku juga punya urusan yang belum selesai dengan dukun keparat itu! Gara-gara dia sepasang kakiku jadi begini!"

"Bagaimanapun.keadaan kakimu, yang jelas kau kini malah memiliki ilmu kesaktian yang hebatl Lupakan makam istrimu! Lupakan dulu Hantu Santet Laknat Malah kami bertiga untuk sementara bersedia melupakan mencari Batu Sakti Pembalik Waktu dan mencari Hantu Tangan Empat! Asalkan kau mau menyelamatkan perempuan bernama Luhsantini itu!"

Mendengar ucapan Wiro itu Lakasipo alias Hantu Kaki Batu menjadi bimbang. Saking gemesnya Wiro memberi isyarat pada Naga Kuning dan Setan Ngompol. Ketiga orang ini serentak menggigit telapak tangan Lakasipo. Walau gigitan itu tidak melukainya namun rasa sakit seperti ditusuk membuat Lakasipo tersentak.

"Kalian nakal semua!" Mengomel Lakasipo. Lalu ketiga orang itu dimasukkannya ke dalam kocek jerami. Sekali lompat saja dia sudah berada di punggung kuda hitam kaki enam.

* *7LAPANGAN KECIL DI BUKIT LATINGGISUBUR pagi itu dipenuhi oleh para penyabung ayam, mereka yang bertaruh atau hanya sekedar menonton. Ketika ayam milik Lakabil dan Latondang sedang hebathebatnya berlaga tiba-tiba sebuah benda melayang di udara dan jatuh di tengah lapangan. Dua ayam yang bertarung berkotek keras lalu kabur. Orang yang ada di tempat itu serta merta dilanda kegemparan. Betapa tidak. Benda yang bergelimpang ditanah lapang itu adalah sesosok tubuh bergelimpang darah mulai dari kepala sampai ke badan. Dalam keadaan seperti itu dari balik semak belukar sekonyong-konyong keluar sesosok tubuh tinggi besar. Saat itu juga tempat itu diselimuti hawa panas serta bau aneh seperti daging terpanggang.

Kalau tadi semua orang dilanda kegegeran maka kini mereka dicekam ketakutan setengah mati. Mereka tidak tahu pasti makhluk apa yang sebenarnya tegak di depan mereka saat itu. Sosok tinggi besar ini tegak kaki terkembang tubuh agak terbungkuk seolah menahan sesuatu yang berat di bawah perutnya. Di atas kepalanya ada puluhan bara menyala. Bara yang sama juga menempel di dada dan perut. Di bawah pinggang makhluk ini mengenakan jerami kering dan daundaunan demikian rupa sengaja menutupi bagian tubuhnya yang besar gembung menonjol.

"Roh jahat kesasar..." bisik seseorang.

"Hantu lapar turun dari langit!" kata yang lain dengan suara bergetar.

"Lihat tubuhnya sebelah bawah. Besar nian. Sebesar kelapa!"

"Aneh dan seram! Dia memiliki empat buah bola mata!"

"Wahai, agaknya dia yang barusan melempar orang bergelimang darah itu! Dia sengaja melempar ke hadapan Lakabil!" kata seorang lainnya.

"Lasingar!" Tiba-tiba orang menyeramkan di tengah lapangan berteriak keras. Tanah lapang terasa bergetar. Daun-daun pepohonan bergemerisik. "Buka matamu lebar-lebar! Apa kau masih mengenali siapa adanya manusia yang menggeletak sekarat di depanmu itu?! Apa kau juga mengenali siapa diriku?!"

Orang bernama Lakabil melangkah mundur dengan muka pucat ketakutan. Matanya memandang berganti-ganti dari si makhluk seram yang bukan lain adalah Latandai alias Hantu Bara Kaliatus lalu pada sosok yang tergeletak di tanah.

"Lasingar! Jawab pertanyaanku!" Terbungkuk bungkuk keberatan dia maju dua langkah mendekati Lakabil.

Seseorang di tepi lapangan beranikan diri berkata. "Wahai makhluk yang kepalanya menjunjung bara menyala! Orang yang kau ajak bicara itu bernama Lakabil. Bukan Lasingar."

"Benar! Dia Lakabil! Tak ada orang bernama Lasingar di sini."

Hantu Bara Kaliatus melirik tajam pada dua orang yang barusan bicara itu. "Kalian berdua berbanyak mulut! Kalian tahu apa!" Tiba-tiba Hantu Bara Kaliatus menyergap. Dua tangannya bergerak.

"Bukkk!"

"Bukkk!"

Dua orang yang tadi bicara menjerit keras. Tubuh mereka terpental. Jatuh bergedebukan di tanah dengan mulut hancur.

"Ada lagi yang mau bicara?!" sentak Hantu Bara Kaliatus.

Tak ada yang menjawab. Tak ada yang berani bergerak. Hantu Bara Kaliatus melangkah ke hadapan orang bernama Lakabil tapi yang dipanggilnya dengan Lasingar.

"Kau pandai berpura-pura. Tak mau menjawab. Seolah tidak mengenal siapa manusia satu ini! Dia adalah kerabatmu Latorikl Penduduk Negeri Latanahsilam. Sekitar delapan puluh tahun silam dia yang menangkap basah dirimu sewaktu berada di atas ranjang bersama Luhsantini!"

Pucatlah wajah Lakabil. Dalam hati dia membatin.

"Walau kini aku berhadap-hadapan, tapi apa benar makhluk aneh ini Latandai adanya.... Celaka, bagaimana dia tahu aku tinggal di sini!"

"Kerabat," kata Lakabil. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan...."

Hantu Bara Kaliatus menyeringai. "Kau masih meneruskan kepura-puraanmu! Aku adalah Hantu Bara Kaliatus! Luhsantini adalah istriku yang telah kau cabuli hingga hamil. Ingatanmu sudah terang sekarang Lasingar?!

Atau perlu kubelah batok kepalamu, kukeluarkan otakmu dan kucuci di sungai Lapanjangbiru?"

"Han.... Hantu Bara Kaliatus.... Kau... kau adalah Latandai!" ujar Lakabil dengan suara tercekat Hantu Bara Kaliatus tertawa bergelak. "Sekarang otakmu mulai jernih rupanya! Apa kau juga sudah ingat bahwa namamu sebenarnya Lasingar? Bukan Lakabil yang kau palsukan sejak puluhan tahun bersembunyi di Bukit Latinggisubur ini?"

Dalam takut yang amat sangat, semua orang yang mendekam di tempat itu merasa heran apa sebenarnya yang dibicarakan makhluk seram itu dengan kerabat yang selama ini mereka kenal bernama Lakabil. Tapi si makhluk seram menyebutnya sebagai Lasingar.

"Latandai.... Perihal kejadian delapan puluh tahun silam itu, aku tidak melakukannya. Aku...."

Hantu Bara Kaliatus menggembor keras. Dia menunjuk pada orang yang terkapar di tanah. "Latorik saksi mata. Saksi hidup yang sebentar lagi akan meregang nyawa! Dia yang melihat kau dalam keadaan bugil di atas ranjang bersama Luhsantini! Di atas anjungan rumah kediaman orang tua gadis itu!"

"Latandai aku bersumpah.... Demi para Dewa dan para Peri. Aku tidak menggauli calon istrimu Luhsantini. Aku berada dirumahnya untuk berobat, aku tidak tahu...tidak mengerti mengapa hari itu tahu-tahu aku berada di atas ranjang bersama Luhsantini dalam keadaan tidak berpakaian...."

"Jahanam pendusta! Setelah merambas tanaman muda kau tidak berani mengakui perbuatan kejimu! Dengar baik-baik Lasingar! Ketika Luhsantini kukawini, gadis itu sudah tidak perawan lagi! Kau melakukan kebejatan itu bukan cuma sekali! Pasti berulang-ulang! Alasan sakit hanya tipu muslihatmu semata agar bisa mendekati Luhsantini! Jahanam terkutuk!"

"Demi para Dewa dan para Peri. Demi para arwah ke dua orang tuaku! Aku bersumpah, Latandai! Aku tidak melakukan semua yang kau tuduhkan itu!"

"Lasingar! Ternyata kau bukan saja seorang laknat Tapi berani bersumpah palsu menyebut para Dewa dan para Peri! Bahkan menyebut roh orang tuamu!

Kalau kau benar tidak melakukan perbuatan terkutuk itu mengapa melarikan diri?! Bersembunyi tinggal di Bukit Latinggisubur ini selama puluhan tahun?! Menukar nama menjadi Lakabil!"

"Latandai.... Aku saat itu berada dalam keadaan tidak mungkin membela diri. Kalau benar orang itu Latorik, apa yang disaksikannya mungkin karangan belaka! Mungkin saja seseorang menyuruh atau memaksanya berbuat begitu. Memberi kesaksian palsu...."

"Bukkkk!"

Kaki kanan Hantu Bara Kaliatus mendarat telak di dada Lasingar. Orang ini terpental dan ambruk di bawah sebatang pohon. Darah segar mengucur dari mulutnya. Nafasnya sesak, nyawanya seolah terbang. Dia mengerang dengan sekujur tubuh bergeletar. Hantu Bara Kaliatus menyeret sosok berdarah ke hadapan Lasingar. Orang yang berada dalam keadaan luka parah itu dijambaknya lalu membentak. "Latorik! Sebelum kau keburu mampus katakan apa yang kau lihat delapan puluh tahun silam di atas ranjang di anjungan rumah kediaman Luhsantini! Kalau kau mati para Dewa dan para Peri akan mengampuni segala dosamu karena kau telah berbuat baik, memberi kesaksian yang benar!"

Orang yang bergelimang darah itu tidak segera menjawab. Mungkin dia tidak lagi mampu bersuara. Hantu Bara Kaliatus menggoncang kepala Latorik.

"Bicara! Atau kugeprak pecah kepalamu saat ini juga!" teriak Hantu Bara Kaliatus.

"A... aku...." Latorik bersuara walau perlahan. "Del...delapan puluh tahun silam.... Suatu pagi, seperti biasa aku membawa satu bumbung berisi air ke rumah orang tua Luhsantini. Tanpa sengaja aku.... Aku menjenguk ke anjungan. Aku melihat dia...."

"Dia siapa?! Sebutkan nama!" bentak Hantu Bara Kaliatus.

"Dia..., dia Lasingar... aku melihat Lasingar dan Luhsantini saling berpelukan. Keduanya dalam pulas tertidur. Keduanya tidak berpakaian...."

"Latorik jahanam! Kau mengarang cerita memfitnah diriku! Bejat sekali pekertimu!" Teriak Lakabil alias Lasingar menggeledek. Dari pinggangnya dihunusnya sebilah parang batu lalu ditusukannya ke dada Latorik, tepat di arah jantung hingga orang ini tewas seketika!

Kalau semua orang tersentak kaget melihat apa yang dilakukan Lasingar itu, sebaliknya Hantu Bara Kaliatus tertawa bergelak. Dia tadi sengaja tidak mencegah pembunuhan itu. Jambakannya di rambut Latorik dilepaskan hingga sosok tak bernyawa ini tergelimpang di tanah.

"Lasingar manusia terkutukl Kau terlambat membungkam mulut Latorik! Dia keburu memberi kesaksian! Didengar oleh para Dewa dan Peri serta para roh! Termasuk roh orang tuamu! Disaksikan pula oleh kerabat sepenyabungahmu! Sekarang giliranmu menyusul ke alam langit ke tujuh!"

Hantu Bara Kaliatus tanggalkan, sebuah bara menyala di dadanya lalu dilemparkan ke arah Lasingar. Lasingar tak tinggal diam. Parang batu berdarah yang masih dipegangnya dipergunakan untuk menangkis.

"Traaanggg!"

Parang batu hancur berantakan. Lasingar menjerit. Suara jeritannya lenyap begitu bara menyala menembus keningnya lalu meledak menghancurkan sebagian tubuhnya mulai dari kepala sampai ke dada!

Hantu Bara Kaliatus memandang berkeliling. Tak seorang pun masih terlihat di tempat itu. Ternyata semua orang telah kabur melarikan diri karena takut akan menjadi korban keganasan makhluk bara menyala itul

Hantu Bara Kaliatus putar langkah hendak meninggalkan tempat itu. Namun gerakannya tertahan ketika di langit dilihatnya ada satu cahaya biru sebesar ujung jari kelingking. Makin lama cahaya ini semakin membesar, menukik ke bawah. Bertambah besar dan terang. Sepuluh tombak di atas kepala Hantu Bara Kaliatus cahaya tadi berubah membentuk satu sosok tubuh seorang perempuan. Bersamaan dengan itu bau harum mewangi menebar di tempat tersebut.8MELIHAT SIAPA YANG MUNCUL DI ATASNYA itu Latandai alias hantu Bara Kaliatus jadi tercekat. Buru-buru dia menjatuhkan diri ber-lutut seraya dalam hati membatin. "Gerangan pesan apa yang dibawanya padaku. Berkah atau hukuman. Kalau dia sampai melihat keadaanku seperti ini...."

Hantu Bara Kaliatus mendongak ke atas dan letakkan dua tangan yang dirapatkan di .atas kepala.

"Wahai Peri Bunda, Simpul Agung Dari Segala Peri, Peri Junjungan Dari Segala Junjungan, Berkah apakah yang hendak kau berikan padaku hingga tidak biasanya kau menampakkan diri seperti ini...."

Angin bertiup sejuk beberapa saat lamanya. Di atas sana bayangan biru berbentuk sosok seorang perempuan memandang sayu pada hantu Bara Kaliatus. Sosok yang disebut Peri Bunda ini berwajah seorang perempuan separuh baya cantik, agung dan anggun. Di kepalanya ada sebentuk mahkota bertabur batu-batu permata berkilau-kilau. Tubuhnya terbungkus selendang tipis warna biru bergulung-gulung panjang. Demikian panjangnya seolah ujung pakaian ini tergantung sampai ke langit.

"Wahai manusia bernama Latandai," Peri Bunda berkata dari atas sana. Suaranya walau, lembut tapi mengiang keras masuk ke telinga Hantu Bara Kaliatus.

"Aku datang bukan membawa berkah! Kami para Peri di angkasa raya merasa sedih. Karena sejak kau keluar, dari kawah Gunung Latinggimeru, maka di Negeri Latanahsilam telah bertambah satu lagi Hantu yaitu Hantu Bara Kaliatus. Hantu yang perwujudannya adalah bagaimana keadaan dirimu sendiri saat ini.... Kami ingin melenyapkan semua Hantu yang ada, malah kini ketambahah satu lagi. Kami tahu ada Hantu baik dan ada Hantu jahat di antara kalian. Selama puluhan tahun kami para Peri telah mengikuti perjalanan hidupmu. Ternyata kau bukan termasuk golongan Hantu baik. Di tubuhmu sebelumnya ada dua ratus bara merah menyala. Kini bara itu telah banyak berkurang. Berarti belasan bara maut telah kau pergunakan untuk membunuh manusia lainnya!' Ketahuilah Latandai, membunuh adalah sesuatu yang tidak diizinkan kecuali dalam membela diri, keluarga.dan para kerabat. Tapi seperti yang aku saksikan sendiri hari ini kau telah menjadi penyebab kematian dua orang. Pertama Latorik. Walau bukan tanganmu yang menghabisinya tapi kematiannya berpangkal sebab pada perbuatanmu. Kedua Lasingar. Kau membunuhnya atas dasar kesaksian yang diragukan. Tidak ada pembuktian yang sempurna. Semurah itukah nyawa manusia di matamu...?"

Untuk beberapa saat lamanya Latandai alias Hantu Bara Kaliatus diam tertunduk masih berlutut dan dua tangan masih di atas kepala.

"Latandai, dari tadi kulihat kau berlutut terus. Berdirilah dan bicara secara wajar. Aku bukan sebangsa Peri gila hormat..."

Latandai alias Hantu Bara Kaliatus jadi bingung dan kecut. Kalau dia berdiri, Peri Bunda pasti akan melihat kelainan keadaan auratnya sebelah bawah.

"Wahai Latandai, apakah kau tidak mendengar. Berhentilah berlutut. Bicara dengan berdiri padaku." kata Peri Bunda.

Perlahan-lahan, terbungkuk-bungkuk Hantu Bara Kaliatus bangkit berdiri. Celakanya ketika berdiri, celananya yang sudah tidak karuan rupa merosot ke bawah. Cepat-cepat Latandai memegangi, menariknya ke atas dan membenahi dedaunan yang dipakainya untuk melindungi anggota rahasianya.

Meskipun semua itu dilakukan dengan cepat oleh Latandai, namun Peri Bunda masih sempat melihat. Sang Peri langsung tersentak dan palingkan mukanya yang serta merta menjadi sangat merah. Latandai kembali jatuhkan diri mengambil sikap berlutut agar tubuh sebelah bawahnya yang menggembung tersingkap tidak kelihatan dari atas sana.

"Wahai Peri Bunda, Simpul Agung Dari Segala Peri, Peri Junjungan Dari Segala Junjungan. Tiada niat membunuh orang tidak berdosa. Latorik terpaksa saya aniaya. Karena semula dia tidak mau memberi keterangan atas apa yang dilihatnya...."

"Apa yang dilihat seseorang belum tentu apa nyatanya. Begitu juga dengan Latorik...."

"Mengenai Lasingar.... Dia lelaki terkutuk yang mempergunakan kesempatan untuk merayu dan meniduri calon istriku! Mana mungkin aku mengakui Lamatahati sebagai anakku padahal dia lahir dari benih yang ditanamkan manusia mesum itu ke dalam rahim Luhsantini!" kata-kata Latandai jadi keras dan kasar.

Peri Bunda tersenyum rawan dan gelengkan kepalanya.

"Latandai.... Hidup di alammu penuh teka teki. Apa yang terlihat belum tentu itu yang terjadi. Apa yang terjadi belum tentu itu nyatanya. Kami para Peri tahu kalau otakmu sudah dicuci oleh Hantu Santet Laknat. Kau telah dijadikan boneka penurut kemauannya. Kau berada dalam kekuasaannya. Kami para Peri masih menaruh kasihan serta harapan padamu. Kau belum lama tersesat. Masih ada jalan kembali. Jangan teruskan menebar maut. Apa kau hendak menghabiskan sisa bara menyala di kepala, dada dan perutmu untuk membunuh orang? kembali ke puncak Gunung Latinggimeru. Campakkan batu-batu bara menyala itu ke dasar kepundan. Hiduplah sebagai Latandai kembali....Bila tiba saatnya apa yang sebenarnya terjadi akan tersingkap."

"Peri Bunda, saya menghormatmu seribu hormat. Namun apa yang kau katakan tidak dapat saya lakukan...."

"Aku tidak mengatakan apa-apa wahai Latandai.

Aku memberi perintah padamu!" kata Peri Bunda pula.

"Maafkan diri saya Peri Bunda. Ampuni dirikul Sekali ini saya terpaksa tidak mampu mematuhi perintahmu. Jika Peri Bunda memang berniat baik, mengapa diriku yang menjadi incaran. Bukankah banyak Hantu lain di Negeri ini yang malang melintang berbuat kejahatan. Misalnya Hantu Santet Laknat. Hantu Muka Dua! Mengapa bukan mereka yang dihukum...?!"

"Wahai Latandai, jangan menganggap kami para Peri bodoh dan memilih-milih. Kau adalah manusia yang tersesat terakhir kali. Jadi masih ada kesempatan untuk memperbaiki dirimu. Hantu-Hantu lainnya akan menerima giliran. Biar kami para Peri dan para Dewa yang mengatur.... Satu hal lagi wahai Latandai. Aku melihat ada yang tidak beres di antara kedua kakimu! Binatang berbisa apa gerangan yang telah menggigitmu hingga auratmu menjadi bengkak seperti itu...?"

"Wahai Peri Bunda, saya tidak tahu jelas apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ini saya alami setelah saya berkelahi dengan Lakasipo alias Hantu Kaki Batu alias Bola Bola Iblis."

"Latandai, menurut penglihatanku seseorang telah menutukmu. Tapi ilmu tutukan tidak dikenal di Negeri Latanahsilam. Berarti ada orang luar yang menyusup masuk ke Negeri ini !"

"Saya tidak tahu Peri Bunda sejak kedua kakinya dibungkus Bola Bola Iblis, Lakasipo memiliki beberapa keanehan. Peri Bunda, saya gembira bertemu denganmu. Semoga pertemuan ini ada hikmahnya. Jika kau mau memberi izin saya akan meninggalkan tempat ini...."

"Jika itu katamu, terpaksa aku menghalangi wahai Latandai! Karena aku tahu kau akan membunuh lagi beberapa orang yang belum tentu berdosa!"

Peri Bunda kembangkan dua tangannya. Pakaian birunya bergulung-gulung di udara. Perlahan-lahan sosok tubuhnya turun mendekati Latandai. "Peri Bunda, jangan terlalu memaksa. Aku bisa bertindak nekad!" Latandai alias Hantu Bara Kaliatus berteriak. Peri Bunda hanya tersenyum dan terus melayang turun. Hantu Bara Kaliatus ambil sebuah bara menyala di atas kepalanya lalu dilemparkan ke arah Peri Bunda.

"Wussss!"

Bara menyala itu menembus sisi kiri pakaian Peri Bunda hingga berlubang dan terbakar.

"Luar biasa! Hebat sekali!" Seru Peri Bunda sambil memperhatikan pakaiannya yang berlubang dan terbakar. Dia meniup satu kali. Kobaran api serta merta padam. Pakaian yang berlobang kembali utuh seperti semula. Peri Bunda memandang sayu pada Hantu Bara Kaliatus. "Petunjuk sudah kuberikan. Peringatan sudah kusampaikan. Kau nekad menempuh jalan hidup menurut gerak hati dan denyut jantung serta otakmu yang terbungkus bara api. Padahal ketahuilah wahai Latandai. Otakmu sebenarnya sudah dicuci oleh Hantu Santet Laknat. Kau telah dijadikannya boneka penurut perintahnya. Kau telah dikuasai oleh nenek jahat itu. Sekarang terserah padamu. Kau akan merasakan sendiri akibatnya kelak wahai Latandai. Namun aku masih mau memberi petunjuk terakhir bagi keselamatan dirimu. Jika kau tidak mau kembali ke Gunung Latinggimeru untuk membersihkan semua bara menyala di kepala, muka dan tubuhmu maka carilah Luhsantini.

Minta maaf dan minta ampun padanya. Minta dia mencabut sumpah dan kutuk yang telah dijatuhkannya atas dirimu. Karena akibat kutukannya, ilmu yang kau dapat dari Hantu Santet Laknat telah berubah menjadi malapetaka seumur hidupmu! Temui Luhsantini. Maka kau akan selamat dan kembali ke keadaan serta kehidupan semula...."

Perlahan-lahan sosok Peri Bunda melayang naik ke atas udara, makin tinggi, makin tinggi dan akhirnya lenyap seolah menerobos ke balik langit.

"Luhsantini...." Hantu Bara Kaliatus kepalkan tinju kanannya. "Kekasih gelapmu sudah kubunuh! Sekarang giliranmu kuhabisi! Karena kutuk sumpahmu aku jadi begini! Berpantang bagiku untuk minta maaf dan ampun pada perempuan! Akan kuhabisi kau Luhsantini!"9PERJALANAN MENUJU GUNUNG LABATUHITAM di kawasan selatan bukan perjalanan mudah. Walau Lakasipo alias Hantu Kaki Batu menunggangi Laekakienam, kuda raksasa berkaki enam namun mereka harus melewati kawasan berbukitbukit, lembah tandus, menyeberangi sungai serta menembus rimba belantara yang nyaris jarang dilewati manusia. Selama perjalanan Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol lebih banyak berada di dalam kocek jerami sehingga keadaan mereka bertiga cukup menderita.

Memasuki malam Lakasipo hentikan kudanya di bibir sebuah lembah berbatu-batu. Wiro dan dua kawannya dikeluarkan dari dalam kocek lalu diletakkan di atas sebuah batu datar. Lakasipo meletakkan sepotong kecil jambu hutan untuk santapan ketiga orang itu. Walau sangat kecil tapi bagi Wiro dan kawankawannya sepotong jambu hutan itu hampir seukuran besar tubuh mereka hingga ketiganya tak sanggup menghabiskan.

Sementara Lakasipo membaringkan tubuhnya di tanah, Wiro, Naga Kuning dan Setan Ngompol bercakap-cakap.

"Berapa lama lagi kita berada dalam keadaan seperti ini?" Setan Ngompol berbaring di batu sambil usap-usap perutnya.

"Begitu Lakasipo berhasil menyelamatkan Luhsantini, kita harus memaksa dia mencari Hantu Tangan Empat atau mendapatkan kembali Batu Sakti Pembalik Waktu itu! Aku ingin segera kembali ke tanah Jawa."

"Lalu bagaimana dengan gadis di Latanahsilam yang sekali melihat membuat kau tergila-gila itu?'tanya Setan Ngompol sambil menyeringai.

Naga Kuning terdiam. Dia berpaling pada Pendekar 212 yang duduk bertopang dagu. "Apa yang kau pikirkan Wiro?" Tanya Naga Kuning.

"Aku ingat orang-orang di alam jauh di sana. Guruku Eyang Sinto Gendeng, sobatku si Bujang Gila Tapak Sakti, lalu Kakek Segala Tahu. Gadis berambut panjang pirang bernama Bidadari Angin Timur itu..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.198.245.233
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia