Bidadari Kecil, Saghirah

“Saghirah, hari ini sekolah ya nak. Ibu tak mau gara-gara ibu, Saghirah ga sekolah.” ucap ibu Fitri yang masih terbaring lesu setelah di tabrak lari oleh sebuah mobil sedan dua bulan yang lalu yang membuat kedua kakinya tak dapat digerakkan lagi. Ibu muda beranak dua tersebut sudah dua tahun terakhir menjadi tonggak dalam keluarganya setelah suaminya meninggal dunia karena infeksi di kakinya.
“Iya, bu.” Jawab Saghirah. Matanya berkaca, namun ia tetap tersenyum.
“Maafkan Ira, bu. Ira ga mau ibu sedih kalau tau sebenarnya Ira sudah tidak sekolah, Bu.” lirih Saghirah dalam hati. Rasa tak tega yang membuat semua ini terjadi.
“Ibu, minum obat dulu ya.” Ira duduk sembari merapikan tempat tidur ibunya yang lusuh.
“Kamu dapat obat dari mana sayang?”
“Eu… Di kasih sama dokter Hani, bu.”
Sejenak Ira terdiam. Ia merasa bersalah telah berulang kali terpaksa melakukan hal yang menurutnya konyol itu.
“Siapa beliau itu, nak?” Tanya Ibu Fitri lagi. Kondisi kakinya yang masih membengkak dan tidak mendapatkan perawatan yang berarti membuatnya tak bisa memenuhi kewajibannya sebagai ibu sekaligus bapak bagi kedua anaknya.
“Beliau dokter di kampung sebelah, bu.” Kali ini dia tak berbohong. Namun, bukanlah kebaikan dokter Hani yang memberikannya obat setiap hari, tapi hasil keringatnya lah yang membuat obat itu menjadi miliknya sekarang.

Seperti dijanjikan, ia pamitan untuk sekolah. Melihat penampilannya selaku siswa, tak ada yang menyangka apa sebenarnya telah berlaku terhadap si kecil Saghirah. Ia masih berseragam sekolah sampai ke sebuah gerbang, gerbang dimana tak seharusnya ia berada. Dan, tak ada yang menduga kalau sejatinya ia sekarang sudah menjadi salah satu murid di ‘sekolah alam’, TPA, Tempat Pembuangan Akhir, tersebut. Hal itu sudah dilakoninya semenjak kecelakaan ibunya, namun baru minggu ini ia mulai dari pagi, setelah dia di vonis untuk tidak dapat lagi mengikuti pembelajaran oleh kepala sekolahnya.

Disana ia belajar menjadi seorang ibu, bapak, atau penanggung jawab keluarga. Sampah-sampah yang menurut kita kotor dan jijik adalah ‘mutiara’ dimatanya sekarang dan mutiara itu menjadi buku serta mata pelajarannya, sedang panas dan peluh adalah gurunya. Di sana ia berlomba dengan serombongan ‘murid-murid’ sekolah terbaiknya saat itu. Ia harus berlomba mencari ‘mutiara’ yang bisa di daur untuk di tukar dengan Rupiah. Tak ada harapan muluk setelah seharian dia disana. Ia hanya berharap untuk bisa terus melanjutkan hidup bersama ibu dan adik semata wayangnya.
“Ya Allah, Ira hanya ingin ibu cepat sembuh. Ira ga tega melihat ibu terbaring tak berdaya. Ira pengen beli obat agar ibu sehat, ya Allah…” Doa tulus dan polos dari bibir mungilnya di pagi ini. Walau perasaan tak enak selalu menghantuinya, gelisah, khawatir akan kondisi ibunya yang tak stabil ditinggalnya sendiri di rumah. Sedang adiknya yang masih kelas dua Sekolah Dasar belum bisa diharapkan apa-apa. Ia bisa sekolah dan jajan ringan tiap harinya saja telah cukup bagi Ira.

Hari berganti, pekan mulai menutup masa, dan bulan ketiga pun menyambut. Niatnya menabung untuk kembali bisa sekolah terpaksa diurungkannya. Dipikirannya kesehatan ibunya adalah utama. Walau kadang ia merasa iri melihat teman sebayanya yang masih bisa sekolah dengan nyamannya. Tak jarang juga ia minder untuk itu. Namun ia bertekad akan berjuang, walau mungkin ia hanya bisa jadi murid di ‘sekolah alam’ itu, namun ia tetap menyempatkan diri dengan berbekal seragamnya ia pura-pura menjadi murid yang hampir tiap hari hanya study tour, beberapa sekolah ia sambangi untuk bisa belajar walau hanya dua hari dalam seminggu. Tak ada yang menduga ia demikian. Sungguh Saghirah luar biasa.

Tuntutan untuk saling mengenal antara dia dan beberapa jajaran guru di sekolah Menengah Atas Swasta di Kota Bekasi yang ia kunjungi kembali memaksanya untuk berbohong.
“Maaf, bu, pak, kalau saya berbohong.” lirihnya dalam hati. Walau sejatinya berbohong adalah hal yang paling tidak bisa diterima hatinya.

Keesokan harinya, Ibu Aisyah, seorang guru di sekolah yang baru ia kunjungi tanpa sengaja bertemu Saghirah tak di sekolah seperti apa yang dia katakan kemarin hari. Tak ayal, beliau mendapati Saghirah dengan ketegarannya menjalani hidup. Ia memperhatikan apa yang seakan tak dipercayainya. Saghirah mengganti seragam sekolahnya dan menuju sekolah alamnya. Tiga jam berlalu. Saghirah membersihkan ‘mutiara’ hasil jerihnya di sekitar semak TPA itu. Sesekali ia merenung dengan raut gelisah. Kemudian ia memboyongnya dengan mengangkat sekarung ‘mutiara’ untuk dijadikan Rupiah. Ibu Aisyah tak kuasa menahan air matanya. Kemudian Saghirah kembali mengganti seragamnya dan pulang dari ‘sekolah’nya. Di jalan ia sempatkan diri untuk ke pasar menukar lembaran lusuh itu dengan seliter beras dan ke apotik langganannya. Ibu Aisyah yang menyamar menatapnya dengan mata sembab. Kemudian beliau mengikutinya sampai ke rumah. Saghirah masuk, namun tak lama kemudian ia kembali keluar dengan membawa drigen tiga puluhan liter untuk mengisi air di mushalla seberang jalan depan rumahnya. Ibu Aisyah terharu dengan apa yang tampak dimatanya. Menurutnya Saghirah begitu tegar. Dan semua beban itu tak pantas ada dipundaknya yang masih kecil dan lemah itu.

Dengan susah payah Saghirah memboyong air tiga puluh liter itu kerumahnya. Kemudian ia memapah ibunya ke kamar mandi di sebelah rumahnya. Tak ada raut mengeluh atau terpaksa dalam melakukan ini semua. “Tapi apa benar Saghirah sekolah di sekolah itu, atau…..?” Pertanyaan tak butuh jawaban menari sekelabat di hati ibu Aisyah. Namun, tak lama, ia masih terpana dengan apa yang tampak dihadapannya itu.

Tak lama kemudian Saghirah kembali memapah ibunya Ke dalam rumah. Rasa ingin tahu lebih dalam tentang seorang yang cerdas namun misterius itu menyesaki ruang hatinya. Ia begitu menarik untuk diperhatikan, menurutnya. Tak sadar sudah hampir setengah hari ibu Aisyah mengikuti Saghirah secara mengendap-endap. Ia bahkan lupa akan jadwal rapat di sekolahnya.

Saghirah kembali dengan kesibukannya di dalam rumah. Ia membalut luka yang masih belum kering dan menempel obat ramuan tradisional yang dibuatnya sendiri. Tak ada pilihan lain yang dapat membantunya sekarang selain dirinya yang melakukan ini semua. Semua keluarganya jauh di Madura sana.

Selesai Saghirah menanak nasi, ia kebingungan. Uangnya sudah ia belanjakan semua, sedangkan untuk lauk makan siang itu belum ada sama sekali. Kemudian ia mendiamkan nasi hasil masaknya dari tungku kayu yang dibuatnya selama ibunya sakit. Ia harus berhemat untuk menggunakan dapur gas. Dengan berbekal nasi putih dan garam dapur, ia mencoba menghidangkannya untuk ibunya.
“Maafin Ira, Bu. Ira belum bisa berbuat apa-apa untuk ibu, ini ada sedikit riski dari Allah untuk kita makan hari ini, tapi…” Ia tak berani untuk melanjutkannya.
“Sudah. Seharusnya ibu yang minta maaf. Ini adalah kewajiban ibu, nak. Bagi ibu, bisa melihat anak ibu sekolah dan tersenyum itu sudah lebih dari cukup, Nak.” Ira hanya tersenyum walau hatinya tak sejalur dengan apa yang ibunya katakan, matanya kembali berkaca, hati kecilnya tak kuat, tak tega dengan selalunya membohongi ibunya, namun sementara waktu itulah yang terbaik menurutnya. Kemudian ia menyuapkan nasi putih yang ditaburi garam dapur untuk ibunya. Walau nafsu makan kurang, ibunya berusaha untuk menelan suapan dari putri tersayangnya. Setidaknya hal tersebut akan membuat saghirah bahagia. Hanya itu harapan ibu yang semakin lama semakin terlihat tua ketimbang umurnya yang masih berkepala tiga. “Nak, kamu kerja apa? Ibu merasa ada yang kamu sembunyikan dari ibu. Tiap hari kamu membawa ibu makanan lezat ini dan obat untuk ibu. Siapa yang membantu kita? Ibu ingin berterima kasih banyak padanya.” Ibunya penasaran dengan apa yang dilakukan Saghirah sehingga setiap pulang sekolah ia membawa seliter beras dan sebungkus obat untuk dirinya.
“Euuu… I.. Ira ga bekerja, Bu. Ira tiap hari sekolah. Riski kan kata ibu ada yang mengaturnya, jadi Ira ga perlu pusing untuk itu.” Ibunya terharu mendengar kata tulus dan tinggi dari anak kebanggaannya tersebut. Namun hatinya seakan tak percaya dengan semua itu.
“Trus siapa yang tiap hari bersedia memberi kita beras dan obat itu, Ra?”
“Ada, nanti ibu pasti bisa ketemu sama orangnya.” Hibur Saghirah. Kemudian ia memeluk ibunya. Air matanya tumpah. Dalam hati ia menyumpahi dirinya sendiri. Keharuan dan kesyahduan melanda hati mereka. Dan, doa adalah hasil dari kesyahduan tersebut.
“Ya Allah, selamatkanlah Jiwa raga kami, berikanlah rizki yang cukup dan halal bagi kami. Selamatkanlah ya Allah anak-anak hamba yang merupakan titipan dari-Mu. Ya Allah, hamba menerima semua apa yang menjadi kehendak-Mu. Hamba sudah tak bisa mengawasi anak-anak hamba, hamba serahkan semuanya pada-Mu ya Allah.” doa yang disertai air mata itu begitu mengharukan jiwa. Andai Saghirah mendengarnya.

“Erni, kamu tau kabar tentang Shagirah?” Tanya Andi, selaku Ketua Osis di sekolahnya.
“Eu… Ga tau, tuh.” Jawab Erni singkat, walau sebenarnya dia sedikit tahu perihal yang terjadi dengan Saghirah. Namun pesan Saghirah untuk menyembunyikan ini semua membuat ia bungkam. Andi merasa ada yang tidak beres dengan kehilangan Saghirah, murid teladan yang merupakan mantan wakil ketua Osis di sekolah tersebut. Seminggu lebih ia mencari informasi tentang keberadaan Saghirah, namun sayang, ia tak berhasil. Erni saja yang merupakan teman dekat Saghirah hanya tahu ia pindah sekolah.

Keesokan harinya Andi mencari tahu alamat Saghirah, dan hanya Erni yang pernah kerumahnya. Kemudian Andi memaksa Erni untuk mengantarkannya kerumah Saghirah. “Assalamu’alaikum…” Erni memberi salam.
“Wa’alaikum salam, siapa ya?” Jawab ibunya Saghirah dari kamarnya.
“Erni, Bu. Saghirah ada?”
“Erni…? Masuk nak. Saghirahnya sedang sekolah.”
Mereka dipersilahkan untuk masuk ke kamar. Setelah masuk dan basa-basi, Erni baru sadar, ternyata ibunya Ira yang dulu segar-bugar kini lemas tak berdaya. Kemudian mereka mengutarakan hajat mereka.
“Loh, bukannya Erni ini sekelas dengan Saghirah?” Tanya bu Fitri kemudian. Erni merasa ada yang tidak beres dengan Saghirah. Menurut cerita ibunya, setiap hari ia sekolah dengan seragam yang sama dengan dirinya. Tapi di sekolah ia tak pernah tampak sudah dua minggu.
“I… Iya, tapi tadi pagi belum datang, makanya kita kesini.” Erni membuat skenario. Sedang Andi semakin bingung. Namun, ia hanya diam saja walau keningnya mengernyit.
“Ya, ibu juga ga tau. Semoga ga apa-apa dengan dia.” Mendengar Saghirah belum ada di sekolahnya pagi ini membuat air bening tanda khawatir sekaligus kasih sayang itu mengalir lembut. Tak lama kemudian mereka pamitan.

“Kamu tau kalo ibunya Ira sakit?” Tanya Andi seakan menyalahkan Erni yang tak memberi tahunya.
“Ga, Aku ga tau kalo ibunya sakit. Dulu pernah cerita, tapi dah lama banget. Kirain ga separah itu.” Jawab Erni.
“Trus apa maksudmu Ira belum datang tadi pagi?” Tanya Andi.
“Eu… Gini, Ira keknya lagi ada masalah besar yang membuat dia ga sekolah lagi. Dari rumah ia tiap hari sekolah, tapi kemana kita ga tau. Tadi tuh maksudnya biar ibunya ga merasa bahwa Ira selama ini ga sekolah. Kasian dia.”
“Trus, tadi cuma boongan doang?”
“Ya iya, Ndi. Gimana sih. Apa kamu tega liat ibunya yang sedang tak berdaya itu puyeng gara-gara Ira ga ke sekolah?”
“Iya juga sih. Tapi gua harus tau. Ira sekarang sekolah dimana.”
“Iya. Mungkin besok pagi kita bisa buntuti dia.”
“Okey, sip. Tar kita SMS-an aja ya.”
“Sip.”

Masih seperti kemarin. Ira berseragam dan menuju TPA, Andi dan Erni membuntutinya dari belakang. Saghirah tak menyadari.
“Loh, kok dia menuju TPA, ngapain?” Andi seakan tak sabar karena sebentar lagi bel di sekolahnya berbunyi.
“Sabar aja. Kita liat, kali aja bukan kesana.” Jawab Erni santai.
Namun lain dari ucapan Erni. Saghirah segera menggantikan seragamnya. Namun ia tetap menggunakan jilbab dan terlihat ayu. Karena menurutnya, menjalankan Agama Allah adalah kewajiban mutlak yang merupakan kebutuhan bagi setiap individu. Dan, kedua pasang mata itu terbelalak. Seakan mereka tak percaya melihat apa yang terjadi. Dengan ketegarannya, Saghirah mengambil perlengkapan seadanya dan menuju tumpukan ‘mutiara’. Dua pasang mata itu tak henti menatap, dan mulai ia berkaca-kaca. “Ya Allah, jadi selama ini Ira mencari duit untuk menafkahi ibu dan adiknya disini.” ucap Erni terbata. Ia tak kuasa melihat teman sejawatnya itu berkelakar dengan sampah. Ia tak sampai hati melihat dimana ia mengganti seragam sekolahnya dengan baju kumal dan bau itu. “Ya Allah, Ndi. Ira…” Erni tak sanggup lagi melanjutkannya.
Begitu juga Andi. Ia tak sanggup berucap, dihatinya dipenuhi rasa iba yang menyesakkan dada.
“Ya Allah, betapa kejamnya kehidupan.” Andai bisa dirubah, ia mau menggantikan posisi Ira. Itulah humanity-nya.

Jam menunjukkan jam tujuh tiga puluh, Andi dan Erni segera meluncur ke sekolahnya. Sampai di sekolah Andi menceritakan apa yang tadi pagi dilihatnya dengan mata berkaca-kaca, dan rata-rata teman Osis seakan tak percaya. “Tapi, pasti ada yang tidak beres di sekolah. Aku sangat kenal pribadinya Ira, ia tak mungkin putus sekolah tanpa sebab yang jelas dan parah.” timpal Rahmat, mantan Ketua Osis dimana Saghirah sebagai wakilnya.
“Ya, sejauh ini kita belum ada informasi. Mungkin kita selidiki lebih lanjut nantinya.” Pungkas Andi yang di iya kan seluruh team work nya. Begitu juga dengan teman sekelas Saghirah. Mereka mengenal Saghirah adalah tipe gadis periang yang tak ada setitik beban terlihat di wajah ayu nya. Dan, mereka tak sadar kalau itu adalah cara lain Saghirah agar teman-temannya tak menjadi sedih dengan apa yang menimpanya. Bahkan di hari terakhir ia sekolah, ia hanya memberi tahukan Erni. Walau ia sadar hal tersebut akan menyakitkan temannya. namun, lagi-lagi menurutnya itu adalah cara terbaik untuk sekarang ini. “Masa’ sih? Kasian banget Ira, gimana dong?” Timpal Dewi, salah satu teman yang lumayan akrab dengan Saghirah.
“Ya… Andi dan teman-teman Osis lagi ngusahain untuk cari tahu penyebabnya. Kita sabar aja dulu, tunggu hasil dari usaha mereka, baru kita bisa gerak.” Ucap Erni yang sesaat ia menjadi komando dadakan.

Andi dan teman sesama Osisnya mencari akar perkara yang membuat Ira berhenti dari sekolah tersebut. Andi menemui guru BP; “Pak, bapak tau ga si Ira?” Tanya Andi dengan nada santai agar guru BP tersebut tak menyadari bila Andi sebenarnya sedang menyelidiki.
“Iya, kenal. Yang juara olimpiade itu bukan?”
“Iya. Hemmm… Denger-denger, dia di keluarin ya dari sini?” selidik Andi dengan cara menyergap dari depan.
“Sebenarnya kita juga kurang mengerti, kan kamu tau sendiri kepala sekolah kita sekarang. Orangnya pendiam, mukanya killer dan banyak hal misterius dengan dia.”
“Oya, memangnya benar Ira di keluarin, Pak?” Andi mulai terlihat serius.
“Kata Ibu Salamah sih begitu.”
“Trus, pasti ada sebabnya dong.”
“Iya, katanya Ira belum bayar SPP selam lima bulan ini.”
Andi tersentak mendengarnya. “Seorang yang juara olimpiade Fisika tingkat Provinsi bisa di skor untuk berhenti dari sekolah hanya gara-gara SPP? Ya Allah, kejam hidup ini.” Andi bergumam dalam hati.
“Ya udah makasih banyak, pak.” Ucap Andi lantas pergi meninggalkan guru BP tersebut sendiri.
“Sama-sama.”

“Jadi hanya karena SPP?” Rahmat kaget mendengarnya dari Andi.
“Iya, kak.”
“Semakin ga beres ini kepala sekolah kita. Kayaknya kita perlu bertindak lebih lanjut.”
“Setuju…!” jawab seluruh anggota Osis dan sebagian anak kelas XII IPA A, dimana Ira dan Erni berada. Kemudian Rahmat membisikkan sesuatu ke kuping Andi. Andi juga membisikkan ke yang lain sampai seluruh yang hadir dalam rapat tak teroganisir tersebut mengetahuinya.

Selanjutnya mereka mengatur strategi. Semua anggota Osis dan seluruh ketua kelas dikumpulkan secara diam-diam untuk mengomandoi. Rahmat yang menjadi dalangnya, sedang Andi dan Erni menyiapkan kebutuhan lainnya.

Hari yang dijadwalkan. Semua siswa dikomandoi untuk datang lebih telat dari biasanya, dan Rahmat menjadi penanggung jawabnya. Jam sembilan tepat. Sekolah SMAN 1 Percontohan kota Bekasi masih sepi dari siswa. Tak ada satupun siswa yang sudah hadir. Semua guru-guru hanya saling berbagi kebingungan. Bahkan ada yang menduga bahwa hari ini adalah tanggal merah. Beberapa menit kemudian, seluruh siswa datang berbarengan dengan membawa seluruh atribut demo. Ternyata rencana Rahmat mendalangi seluruh siswa untuk berdemo kepada kepala sekolahnya berjalan sempurna. Namun, mereka tetap memilih jalur damai. Seluruh siswa berseragam rapi. Hanya saja membawa baliho dan spanduk yang bertuliskan, “SELAMATKAN ASET SEKOLAH KITA” “APA ARTINYA SPP KETIMBANG ASET” diiringi teriakan massa dari seluruh siswa di sekolah yang terkenal terfavorit di kota mereka.
“Kami tak menerima Ira harus berhenti sekolah.” Ucap salah satu dari anggota Osis.
“Kami juga tidak menerima seorang juara olimpiade harus jadi pemulung.” Teriak siswa lainnya. Dari ribuan Siswa, terdapat pula beberapa kotak amal bertuliskan, “SPP UNTUK SAGHIRAH” di lain sudut ada juga yang bertuliskan, “SPP UNTUK SANG JUARA”. Dengan raut serius dan berduka, tak sedikit dari peserta demo berurai air mata. Bahkan guru yang mengetahui perihal tersebut merasa haru dan bangga dengan kebersamaan dan kesetia kawanan yang mereka miliki. Sedang di sana, di sekolah Alam, Ira sibuk dengan dulangan mutiara. Dan, Ibu Aisyah dari Sekolah Swasta yang sempat Ira kunjungi menceritakan hal serupa kepada seluruh guru dan kepala sekolah. Dan, kepala sekolah tersebut menyarankan agar Ira resmi pindah sekolah dengan biaya seratus persen di tanggung olehnya.

Setelah demo berlansung, Rahmat, Andi dan Erni ke rumah Ira. Namun sayang, mereka tak dapat menemui Ira, ia sudah berangkat ke ‘sekolah’ nya. Sebentar mereka di rumah Ira, selanjutnya mereka bertiga menuju TPA, sedangkan hasil sumbangan semua diberikan kepada ibunya Ira. “Ira…” Panggil Erni. Saghirah melihat dengan tatapan biasa. Namun setelahnya ia tersentak dan kaget. Bagaimana tidak, Erni datang dengan siswa pilihan yang merupakan siswa paling disegani di sekolahnya, Rahmat dan Andi. Kemudian Ira mendekat dengan pakaian kumalnya. Rahmat tak kuasa melihat sahabat terbaiknya itu bergumul dengan sampah. Tak hanya berkaca-kaca, air matanya tumpah. Namun tetap ia paksakan untuk tersenyum menyambut senyumnya Ira.
“Dari mana kalian tahu Ira disini?” tanya Ira bahagia, ia merasa begitu diperhatikan oleh teman-temannya.
“Dari kemarin-kemarin kita sudah melihat kamu disini, kok” Sahut Erni belagak. Ira hanya tersenyum melihat temannya yang selalu membuatnya bisa tertawa.
Kemudian Ira di ajak pulang.
“Ga bisa sekarang. Ira harus beresin itu dulu semuanya, habis tu baru bisa pulang. Mau tunggu?”
“Ah, ga mau nunggu. Mau bantu aja, boleh?” tanya Erni.
“Eee… Ga usah, tar seragamnya kotor lagi.”
“Ayooo… Siapa juga yang takut kotor. Hemmm..” Erni dengan nada centilnya.
“Kangen tau ditinggalin lama banget.” Seloroh Erni sambil jalan menuju tumpukan sampah daur ulang hasil jerihnya Ira pagi ini. Rahmat dan Andi mengikuti di belakang.
“Ira juga kangen ma kalian semua.” Ucap Saghirah dengan mata berkaca. Kemudian, sambil membersihkan sampah-sampah tersebut, Ira diminta untuk menceritakan seluruh kejadian yang menimpanya.
“Jadi, hampir seluruh profit dari hasil Olimpiade itu di sita kepala sekolah?”
“Iya, tapi, ya… Lupakan lah.” Ucap Saghirah ikhlas.
“Ga.. Ga.. Ga.. Ga boleh gitu. Itu udah korupsi plus menipu namanya. Benar-benar bangsat dia. Kurang ajar.” Rahmat geram.
Andi menunggu kata-kata inspiratif yang biasanya muncul kala geram menerpa Rahmat.
“Gua laporin ke KPK tau rasa dia.”
“Aha, tepat. Kita ga usah repot-repot. KPK jawabannya.” jawab Andi menemukan ide.
“Udahlah, jangan. Kasian dia.” timpal Ira kemudian.
“Yah, gimana nanti aja.” Jawab Rahmat.
Kemudian dengan semangat Andi dan Rahmat membantu mengangkat ‘mutiara’ milik Ira menuju tempat ia menukar menjadi Rupiah. Sedang Ira mengganti seragamnya kembali. Erni hanya menunggu sambil menghayal akan hal indah besok hari yang akan diterima Ira, sahabatnya. Sambil pulang, seperti biasa, Ira menyempatkan diri untuk beli beras dan obat. Andi dan Rahmat yang sebenarnya sudah membawa kebutuhan-kebutuhan untuk Ira juga hanya diam. Ia tak mau merubah apa yang menjadi kebiasaan yang memang dinikmati Saghirah.

Sampai di rumah, Ira kaget dengan semua ini. Disana baru Erni menceritakan apa yang sudah Andi dan teman-teman Osis perbuat demi dirinya. Ira terisak. Menangis haru. Kemudian ia tersenyum bangga dan memeluk Erni seraya berterima kasih tak terhingga bagi Rahmat, Andi, rekan Osis, dan semua siswa.
“Allah pasti membalas niat baik kalian, Ira belum bisa berbuat lebih untuk kalian.”
“Sudahlah, lupakanlah.” Ucap Andi.
“Terima kasih banyak, Nak. Ibu hanya bisa berdoa, semoga kalian semua diberkahi Allah.”
“Iya, Bu. Terima kasih doanya. Itu sudah lebih dari cukup bagi kami yang memang hanya melakukan kewajiban kami.” Jawab Rahmat yang memang berdiri dekat ranjang ibunya Saghirah. Tak lama kemudian, dari luar terdengar ketukan pintu.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam.” Jawab Ira dan Teman sekolahnya. Ira membuka pintu.
“Ibu Aisyah? Ya Allah. Silahkan masuk, Bu.”
“Iya Saghirah, terima kasih. Tapi ibu ga sendiri. Ibu sama guru-guru lainnya.”
“Hah…?” Ira baru sadar.
“Ya Allah… silahkan masuk bu, pak.” sambung Ira ramah. Lalu sebagian dari guru-guru dari dua sekolah itu masuk untuk menjenguk ibu Saghirah secara bergantian. Rasa bahagia yang dirasakan Ira memuncak. Dan, buliran itu tak pernah luput untuk mengapresiasikan kebahagiaan yang melanda hatinya. Sebelumnya ia tak pernah merasa se berharga hari ini. Walau ketika Ia memenangkan Olimpiade sekalipun.

Sore harinya rumah Ira disesaki oleh teman-teman dari kedua sekolah juga.
“Kami sangat berterima kasih sama Ira, Bu. Karena dia sekolah kita bisa jadi sekolah favorit.” Ucap salah satu teman yang sekelas dengan Saghirah.
“Kami juga berterima kasih kepada Ira. Karena dia, kebusukan yang terpendam dalam diri kepala sekolah kami jadi terbongkar. Semoga ia taubat. Amin.” Ucap guru BP sekolah Saghirah yang diamini Ibu Fitri dan seluruh siswa yang berada dalam kamar itu.
“Nak, kenapa kamu harus menutup ini semua sama ibu?” Pertanyaan polos dan sangat dalam itu keluar dari mulut ibu Fitri yang masih terbaring lesu.
Saghirah tak sanggup menjawab. Air matanya berurai.
“Maafkan Ira, bu. Ira ga tega kalo ibu harus mengetahuinya waktu itu.” Lantas ia memeluk ibunya. Suasana haru menyelimuti ruangan sederhana itu.
“Ibu bangga dengan mu, nak.” Ucap ibu Fitri tulus. Linangan air mata tak sanggup dibendungnya.
“Mulai besok kamu tak perlu lagi ke TPA, nak. Semua biaya hidup kita sudah di tanggung oleh Kepala Sekolah SMA Islam Modern Kota Bekasi selama ibu belum bisa bekerja. Dan biaya sekolah kamu sudah di tanggung guru-guru sekolah kamu. Keluarga Erni juga membiayai seluruh biaya pengobatan ibu.” Lanjut ibunya. Saghirah kaget dan melepaskan pelukannya. Aura bahagia memancar dari wajah lusuh ibu Fitri.
“Ya Allah. Terima kasih atas rahmat-Mu ini.” Ucap Saghirah dengan bersujud syukur. Isaknya terdengar. Sebuah isakan bahagia.
“Terima kasih banyak, Er. Kamu sahabat terbaikku.” Ujar Saghirah sambil mendekati dan memeluknya yang membuat linangan baru di mata Erni.
“Sama-sama Ira. Justru aku lah yang seharusnya bereterima kasih. Karena kamu ayah Erni terinspirasi untuk membuat sekolah gratis untuk semua golongan. Terima kasih banyak.” Seluruh temannya menyaksikan haru dan khidmat.

Hari pertama sekolah kembali.
Ira kaget dengan apa yang Rahmat, Andi dan rekan Osis rencanakan.
“Kita sambuuut… Saghirah…” Ucap Andi yang ditemani Rahmat yang memang telah merencanakan syukuran keberhasilan mereka. Tepukan kebanggaan yang diselimuti bahagia menyeruak menghangatkan suasan pagi itu. Semua siswa bahagia dengan kembalinya sang Juara ke sekolah mereka.
Air mata bahagia masih melekat di kelopak mata Saghirah. “Terima kasih tak terhingga untuk Kak Rahmat, Andy serta staf Osisnya, seluruh jajaran guru yang sangat Ira cintai, Erni dan rekan-rekan. Terima kasih juga yang sebesar-besarnya atas kerja keras teman-teman semua. Ira takkan bisa seperti ini tanpa kalian semua.” Begitulah sekelumit sambutan dari Saghirah yang mendadak menjadi pusat perhatian.

Hari-hari selanjutnya Saghirah dapat kembali sekolah dengan tenangnya. Seminggu kemudian Kepala Sekolah diganti, karena Kepala Sekolah yang lama menjadi tersangka korupsi dana Olimpiade tahun lalu. Dan, namanya juga telah didaftarkan untuk ikut olimpiade tingkat Nasional tahun depan. Luar biasa. “Ira, engkau bidadari kecil yang selalu mengajarkan ibu untuk tegar. Kau telah membuat ikon baru dalam kehidupan ibu dan teman-temanmu. Lihatlah disana, mereka semua mengikuti gaya baikmu. Mereka semua memakai kerudung dan baju yang sopan dan menjadi wanita shalehah yang tegar sepertimu. Nak, ibu bangga denganmu… Semoga Allah menyelamatkan kita semua. Amin Ya Rabbal ‘alamin”

Tamat

..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )


Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDULKARYA
(Serigala Putih) Daun Dari AnginRenaisan Salman
1 Cinta di Antara 3 PilihanOctavia Anizar
2,5 Persen SajaDidin Syamsudin
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa VersikuAkri Midwife Stalker
5 TahunChristian Boham
Abdiku Untukmu Keluarga KecilkuRizky Dwi Utami
Abdiku Untukmu, IbuDestia Eka Putri
AbsurdityNadila Aprilianda
Acara Festival Yang Tak TerlupakanRahman Ditisiyah
ActFor (Anti Conspiration Force)Mamat Fiction
Ada Apa Dengan Sikap AyahHerlina
Ada Teman di Balik PelangiSenja Nilasari
Akibat Jajan SembaranganAdinta Asfiratun Husna
Akibat ParzinahanNeni Indriani
Aksara Tak BisuOan Wutun
Aku Adalah AkuGraciella Eunike Satriyo
Aku Bisa Sendiri!Namira Assyifa Prasetio
Aku Bukan Gadis Menjijikan!Zee Choco
Aku Bukanlah SegalanyaNita Durotul Husna
Aku dan OrganisasikuErvina
Aku Dia Tak SamaRully Prameisti Audhina
Aku Harus BerusahaNenda Wulandari
Aku Ibu dan PianoAntonia Luisa
Aku Juga WanitaKang Zaen
Aku Sebutir PasirSelmi Fiqhi
Aku Tidak Berasal dari Buah yang Bagus, Tapi Pasti Akan Menjadi Buah yang BergunaKinanti Tiara Dewi
Aku Tidak Punya TemanRossa Kurnia Sasongko
Aku, Pilihanku, Serta Pejuang Berbaju Coklat KecilkuJoko Susilo
AlhamdulillahAtikah
Allah SWT Memang Maha AdilNurannisa Widiawati
Angklung and The TwinsSalsabila Putri Rulia
Antara Aku, Tukang Cukur dan TuhanWahyu Tio
Artca Penyelamat BudayaResty Gessya Arianty
Arti SahabatPurnawan
Arti Sebuah KehidupanTyaz Hastishita
AyahRiza Fahriza
Ayah kami bukan kriminalRifky Adni
Ayah, Aku Bangga Padamu! Catatan Putra Seorang KoruptorMisteradli
Bagaikan Pelangi Setelah HujanNuril Agri Famela
Bahagia Hidup PesantrenPraditiyo Ikhram
Balai HujanAl iz Kusuma
BangkitAlfred Pandie
BapakBanyu Ozora
Bawalah Terbang Ikan IniAris Rizka Fauzi
Belajar Untuk Lebih BersyukurPatra
Beliau Itu IbukuPutri Setiowati
Bella si Mak ComblangNita Setiawan
Benarkah Kak?Siti Muyasaroh
Berantem Sama Teman Waktu SDShandi Dwipermana
Berbagai Rintangan Menuju SekolahAldi Rahman Untoro
Berbahagialah!Fitri Oktavia Annaja
Berbuat Sesuatu Untuk MimpiSiti Nurjanah Septiani
BerjuanglahIevfa
Berkat Gunung MerapiAliyah Revitaningrum
Berkat Lori Aku Bisa Sekolah LagiAyu Soesman
Berkat TaugeDesi Melati
Bermain MonopoliDeviance Ramadhana Saragih Sitio
Bersahabat Bermodal Kebijakan dan Takdir TuhanVeren Chandra
Bersamamu Ku Gantungkan MimpikuAde Zetri Rahman
Best of The Best My Best FriendMuhammad Nuh Nurkholid
BianglalaYeni Ayu Wulandari
Bidadari Kecil, SaghirahMuallim
Bintang BenderangNi Made Eva Yuliantari
Bintang LapanganAmbarnia
Bolehkah Aku Membenci Ayah?Abdul Rahman Sinaga
Buah KesabaranIbnu Rafif
Bukan Punguk Yang Merindukan RembulanAya Emsa
Bukti KecantikanFariska Hurun In
C3 (Cinta Chandra dan Citra)Yuliatul Mawaddah
Cahaya Untuk IchaAulia Farhah FA
Cangkir Tindih Merah PutihDian Faiqotul Hikmah
CantikDina Istiqomah
Cause of My Parent’s LieJoe Fatrah
CCCCC (Cinta Cenat Cenut Cemungudth Celamanya)Listya Adinugroho
Cerita Kakek HanifEdi Warsidi
Cewek itu LianiRizka Aprilliani
CintaImelda Oktavera
Cinta MonyetTala Nour
Cinta Nggak BisuUpik Junianti
Cinta RayaKarina Dwi Latri Juliani
Cinta Tapi BedaAthe Celiona
Cinta, Cita dan KitaFariska Hurun In
Cintaku Kini Telah PergiRandi Pratama
Cintaku Setahun JagungRamlis Harman Susanto
Cita-Cita AshleyAnastacia Esterliana
Cita-Cita Sang BonekaFinsa Permatasari
Cukuplah Allah Bagiku maka Cukuplah AkuNira Nurani Teresna Dewi
Dad Is My HeroEster Chaterine Sara
Daddy O DaddyPebri Pele
Dance it’s my LifeKarina Dwi Latri Juliani
DeadlineCynthia Lantriana
Demi BoybandMuhammad Sulaiman
Demi Hari yang Menanti di Ujung HarapanAhmad Hafizin
Demi IbuFadillah Amalia
Demi Idola TercintaAnis Puspita Sari
Demi MasaRirin Nurpi Herwanti
Deret Tinta Untuk NegeriIlma Ainunisa
Desainer MudaFadillah Amalia
Detektif KacaMuhammad Septian Rachmandika
Di Balik Sebuah PayungHesty Juwita Sari
Di Hatiku Ada NamamuAnitrie Madyasari
Di Seberang Padang Rumput IlalangLoli Asmara dewi
Dia Adalah SorbonneRail Rahardian
Dia Bisa, Mengapa Aku Tidak?Hana Sausan
Dia IbukuNeneng Lestari
Dia SemangatkuDina Aulia
Dia.. BintangkuDebi Zahirah Hariwijaya
Diantara Mahasiswa dan DosenNita Setiawan
Diary Ana 1Aghna Asbar
Diary Sahabatku DindaGaluh Ayu
Diary Untuk LangitErika Andini
Dibalik Duka ku ada Duka yang lainZakia She Azhura
Dibalik Senyum TulusmuSofia Octaviana
Dik AnahMuhammad Sofyan Arif
Dirindu DinginnyaAna Marieza Widiawati
Disiplin Itu Penting Untuk KehidupanNovita Indriyani
Ditooo… Apa Lagi (Part 1)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 2)Axas
Ditooo… Apa Lagi (Part 3)Axas
Don’t Judge The Book by The CoverRahmi (Adhe Amii)
Dua Doa Satu CintaNina Noichil
Dunia Baru dalam Kertas LipatEka Ferdianti
Emak, Gue Jadi Artis!Aisyah Hudabiyah
EvanityFirman Nuryadi
FakirBergman Siahaan
Festival Musik dan idolaFadel Mochammad Ibrahim
Filosofi HatiRuri Alifia R
Gadis Berjilbab PilihanChoirul Imroatin
Gadis di Kaki Bukit ProloYeni Ayu Wulandari
Gadis TompelDwi Putri Fw
Gang SetanHotma Lam Uli Marbun
Ganti Kacamata, Gessss!Icetea
Gengsi itu Sama Dengan MiskinImam Prayugo
Get SpiritEcha Nurrizqi
Gifts For GladysNamira Assyifa Prasetio
Gila RamalanOcta Rina
Gitar Tua JokoSeptian Joko Sulistyo
GubukRika Alif Firda
Gulali ChacaTifa Raisandra
Guruku dan BungakuRahmi (Adhe Amii)
HadiahMuggi S Prasetyo
Hadiah dari KakekDwiyanto S
Hadiah Kecil untuk ShyrenaPuspita Sandra Dewi
Hal Yang Membuat Kita BerbedaArif Nurhidayat
HampaAfra Zahirah
Hanya ini Yang Ku PunyaWahyudi Warsaintia
HarapanSeya Zunya Uchiwa
Harapan BaruMuhammad Toriq
Hari KartiniMugito Guido
Hari Terakhir Untuk SalmaAya Lukluk
Harus Kuat Sebagai UlatHeru Prasetyo
Hidup Berawal dari MimpiJaja Nurjaman
Hidupku Tak Sepahit Jamu IbukuChoirul Imroatin
Hikmah Dalam HidupkuSintiya Nuri
Hinaanmu Jadikan Motivasi UntukkuSari Sustianto
Hitam Putih PergaulanAulia Farhah FA
Hujan Dalam Satu HarapanAkmal Farid
Hujan PertamaYudik Wergiyanto
Hukuman yang Tak AdilHidayatulloh Handoyo
Hutang Tingkat DewaWayan Widiastama
I Can’t Take it AnymoreLyna Audiena Wijayanti
I Heart YouRusyda Andini
I Love Mom and DadReyhana Amalia
I’m is Reporter (Part 1)Dziky Iskandar
I’m Sure, I Can Do It!Elfina Astin
IbuNadia Safarah
Ibuku Arti SahabatkuMutiara Devit Merlinda
Identitas GulaRizqi Ardiansyah Tindaon
Ifa Yang di Dunia Maya Bukan Ifa Yang SebenarnyaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Ikatan TerkuatkuApp
Ilalang dan Rumah Laba LabaChoirul Imroatin
ImpianQisthi Zulfa
Impian Anak KampungJohan Syah
Impian Anak PemulungGleam Pratama
Impian Angsa KecilLina Purniawati
Impian Hati menjadi HabibieDiyah Ayu Rahmatika
Impian KayraSharifa Hasna Mahira
In My LifeMasita Rais
In O2SN SemarangLena Sutanti
Indahnya KebersamaanAlfan Fadilah
Ini Berlian… Bukan SampahFadillah Amalia
Inilah Saat yang Kami TungguSlamet Samsoerizal
Inner BeautyGiselle Iona Rachel Tuelah
Inspirasi Dalam GelapAffiantara Marsha Yafenka
Inspirasiku Lewat MusikAan
It’s My PassionSadryna Evanalia
Jalan HidupkuNur Isna Aulya
Jangan Ikut-ikutanLalia Oktiarisqa
Jangan Marah Dong PutriNizahsy Lubis
Jangan MenyerahAuliya Fatimah Nur
Jatuh 7 KaliHernita Sari Pratiwi
Jejak TerakhirMuhammad Septian Rachmandika
Jejak-Jejak Keajaiban MimpiAbdus Salim
Jemari Tuhan Telah MerangkulnyaRahimah Permata Sari
Jilbab dari SahabatkuAnita Avianti
Jiwa Pramuka YudiYulian Rahma
Jl. Flamboyan No. 9Dicky Cahyo
Joni dan Galah IstimewaMuhammad Labib Naufaldi
Just Carry OnWilliam Kamarullah
Kado Terbaik Untukku DariNyaBondan Ratnasari
Kakakku TersayangAngel Lika. S.
Kami Tak BerwajahAhmad Alkadri
Kapsul Cita-CitaNatasha Cynthia
Karena Aku Atau Pencak Silat?Dealya Adira
Karena di Atas Langit Masih Ada LangitAdinta Asfiratun Husna
Karena kau, Sahabat!Tutut Setyorinie
Kaset PenyemangatSalsabila Prameswari
Kau Tetap SahabatkuJuwita Palvin
Ke Rumah PresidenMiga Imaniyati
Keajaiban Saat PesimisReimut
Kebahagiaan Kita SemuaGaluh Rengganis Nugrahaini
Keberanian NadhiaMurni Oktarina
Kebohongan Yang IndahRosmania Robbi C
Kecurigaan DeandraRegita Aryaputri Lesmana
Kedamaian DuniaFadillah Amalia
Keikhlasan Hati AmirManda Ms
Keluarga itu, Keluarga BaitiSlamet Mulyani
Keluargaku MotivasikuM. Hasan Basri
Kematian Tanpa SesalAnteng Maya Surawi
Kembalinya Seorang AktivisMagvirasari Lestari Linra
Kenangan Emak TikHendrawan Ardiansyah
Kenapa Harus AkuYoshe Azura
Kesabaran Dan Perjuangan PutriMega Ayuna Rizki
Kesatria Dari Ujung DesaMuhammad Suhendar
Kesederhanaan Sebuah Cita-CitaDiana Margareta
KesedihankuFairuz Zakyal 'Ibad
Kesuksesan Tuhan Yang AturJhumar Masadian
Keteguhan HatiSyamkhan Habibi
Ketika Hancur Hati IbuRosmania Robbi Chatun
Kisah Cintaku Yang PertamaAgus Purnamasari
Kolak Pelangi dan Sholat DhuhaFarhan Ramadhan
KolaseZainuddin Muza
Kopi PendingFinlan Adhitya Aldan
Kotak Cinta Untuk IbuChoirul Imroatin
Kotak ImpianM Yusuf
Kristal BeningUlfa Nurul Hidayah
Ku Kayuh Ribuan MimpiSriami Wulandari
Kuihat Lirihan SuaraHenydria
Kupu Kupu MalamHari N. M
Kupu-Kupu di Dalam HujanSelmi Fiqhi
Kura-kura dan KudaSiti Ainun Pratiwi Indra
Kutukan PurnamaKachonk Rofiqz
Langit ituAzzam Azizah Fiqli
Lantunan Sendu Melodi BiolakuRiska Putri Meiyana
Lara Prihatini Si Gadis PrihatinDona Ariani
Laron Juga Ingin PacaranShalahuddin
Layangan BumiAnnisa Mauliddina
Lebih Dari SatpamRized Wiasma
Lelaki Paruh Baya di Sekolah TuaNilma Yuliza
Lelaki Tua yang Merindukan BintangAdri Wahyono
Lelucon TakdirIfarifah
Lembaran Kertas HijauHaryanti
Lentera Tak BerujungSintyawati
Lidah DoniWilly Sitompul
Lihat Semangat KamiAndi
Lili (Menjadi Diri Sendiri)Okty Imagine
Lilin HarapanAmalia Septiani Radiva
Lintang KemukusYosi Prastiwi
Lobang Hidung LohiWilly Sitompul
Loper CilikNurvita Rachmadania Winanti
LorongAditya Prana Iswara
Lorong GelapPatrick Hariadi
Love In BostonDian Setianingsih
Ludah Untuk Si CerminHari Arianto
Luka Tak BerdarahZ.Hilmiah
Makna di Hari Raya Idul FitriGaluh Rengganis Nugrahaini
Malaikat Pun Menangis AyahDiandra Aini
Mama dan AkuRani Putri
Manusia-Manusia TrotoarMuhammad Edgar Hamas
Markonah dan Uang Lima RibuanWilly Sitompul
Masa Depan Anak Seorang PemulungWahyu Rizky Ramadhan
Matahari pun Tak BosanDanil Gusrianto
MataharikuAsri Nur Aisyah
Matematika is My LifeVindasya Almeira
Matematika? Siapa Takut!Fitri Rosadela
Mati Dalam Angan (Part 1)Affiantara Marsha Yafenka
Mati Dalam Angan (Part 2)Affiantara Marsha Yafenka
Mawar Terakhir Dari BundaDevi Upi Lestari
May Day (Perjuangan Tanpa Akhir)Wahyudi Warsaintia
Mbah MinRiza Fahriza
Melawan Rasa TakutMiftahul Farhani Isty
Menanam Seribu PohonVindasya Almeira
Menanti LaraR. Ayu Chairunnisya
Menebus MimpiNayudin Hanif
Menggenggam ImpianUmmie Sakdiah Babers
Menghitung HariAyu Sari Listianda
Menjadi Yang KuinginkanNurdiyansah
Menjaring MatahariLedy Triananda
Menjelang Ujian Tengah SemesterRifky Adni
Menyesal TanpamuNona Nada Damanik
Merdeka Atau Tidak Sama SekaliRiky Fernandes
Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)Wulan Puspa Indah
Mereka Bilang Aku Gila (Part 2)Wulan Puspa Indah
Mesin Pemahat MimpiAjeng Laksmi
Meski Tanpa AyahKharisma Titah Utami
Metamorfosa Malaikat Tanpa SayapAmbiwwa Novita
Milikku Milikmu Milik KitaListya Adinugroho
MimpiFarah Fakhirah
Mimpi Secarik KertasUlfah Heroekadeyo
Mimpi Si Anak KambingNurhikmah Hakiki
Mimpi untuk DuniaNurul Ramadhaniah
Miracle Of Giving FoolKinanti Tiara Dewi
Miskin “Bermanfaat” Kaya “Bermartabat”Fajar Rofinanda
Miss Culun Menjadi Miss BeautyAdhenna Zakia A
Miss Eum nya Tak Mau Neneng FotoAde Qisti
Misteri Gadis Kecil di Rumah KosongPingkan Aulia Samara
Move OnSiska Pratiwi
Mrs. PerfectNova Seflylya
Mutiara HatiSilmi Kaffah
Mutiara Tanpa CelaFaddilatusolikah
My Book DiaryOldheva Genisa
My Dream Comes TrueBadriyah
My Freaks HolidayUrai Benny Novriady
My Heart For The ChildrenWidya Laksari Sastri
My Life Without SoundChick-A-Dee
My Love is REAL!App
My MistakesFilla Giani
My PromiseAch. Arya Muhammad
Nasihat AyahMusrinah
Nay, Sang TerataiAya Emsa
Nenek ku PahlawankuAhmat Rasyid
Nenek Tua di Sisi KotaTutut Setyorinie
Nyanyian Pagi di VictoriaRan Azlaff
Obat Alami LayilaNaila Izzati Mushafa
One By OneMuhyiddin El Febiens
One Day To RememberDjunita
Padamu Wanita IndonesiaAnnisa Yuni Thorika
Pagelaran TerakhirBolok Sitompul
Pahlawan KecilkuErna Hidayanti
Pahlawan SenjaAstrid Septiani Wulandari
Pandangan MayaFitri Nur Faizah
Panggil Aku Pahlawan PenghianatImron Supriyadi
Pantang MenyerahKhoirul Umam
Pedang KehidupanGede Agus Andika Sani
Pelangi Sesudah HujanRahimatus Sania
Peleburan RasaYeni Ayu Wulandari
Pelita Hati yang KerontangKhoirur Rozikin
Pelita HidupkuSuci Lestari
PembuktianTriyana Aidayanthi
PenalunaAnne Widy
PengabdiankuAnnisa Mega
Pengamen JalananErni Ristyanti
Penggemar RahasiaMuhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Pengorbanan Cinta SejatiIrene Lie
Penyair dan MusisiDhika Zakaria
PenyesalanJuanti
Penyesalan TerdalamAndias Putri
Penyesalan TerlambatLaila Insyafah
Perbedaan Itu Mampu Menembus Dunia KelamkuBestiani Mustikaningsih
Perbedaan Jadi Tidak BerartiSri Siswati Tahir
Perjuangan Agar Bisa Menghafal PantunGiselle Iona Rachel Tuelah
Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut IlmuSupardin
Perjuangan IbuUlfa Nurul Hidayah
Perjuangan RevitaMila Dita Khotimah
Perjuangan Tanpa Pandang BuluSekar Arum Purbarani
Perpisahan AkhirGea Septa
Persahabatan Chintya dan SiscaAbdullah
Persahabatan yang AbadiAnnisa Berliana Dewi
Persembahan Buat Mama (Part 2)Rita Lestari
Persiapkan DirimuAgus Purnamasari
Pertemuan 5 SahabatIsnaifa
Perubah Hidup Pemulung CilikErdin Suharyadi
Pesan Yang KurangNika lusiyana
Pesawat KertasPutri Novitasari
Pianis PesimisDandi Tri Dirgantara
Pirate KingDini Aprilia Purnamasari
PlatinumTara Rahendya Elfrida
Pohon Mangga Mbah KartoRoni Istianto
Pompom Girls Cheerleaders TeamSyahla Varelya Threonizzahra
Positif KecanduanAna Rifqi Jamil
Pribadi Lebih BaikFadillah Amalia
Pulau HamilSiswari
Putri Bulan dan Dewa LautRibka Sepatia
Rahasia Bintang KelasAldi Rahman Untoro
Rahasia Sebuah PeristiwaAhmad Ghulam Azkiya
Rembulan di Kolong LangitNurlaela A. Awalimah
Rencana Allah Pasti IndahArif Syahertian
RenungkanAlfred Pandie
Rintihan LidahSelmi Fiqhi
Roh Penunggu HutanRendy Mahendra
Romansa KehancuranRiky Fernandes
Saat Nisa Mengatakan BisaNur Faisah
Sacrifice of LoveSalsa Hanifa
Sahabat SejatiSarah Aprilia Andini
Sahabat Yang PertamaGiselle Iona Rachel Tuelah
Sajadah Buat EmakR. Marena
Saksi Bisu Pengorbanan GuruChick-A-Dee
Salah SiapaNi Made Eva Yuliantari
Sandiwara CintaAhmad Azwar Avisin Alhaidar
Satirung PesegYuni Maulina
Say No To DrugsCindy Amanda N
Say Nothing Of Sorry and LoveSherly Yulvickhe Sompa
Sebuah AsaSimah Ayu Lestari
Sebuah Jawaban diujung JurangBryan Adams
Sebuah Karma di 2017Kariza Rai Shafira
Sebuah Nama, Sebuah MisteriGatut Putra
Secret (Rahasia)Alif Kurniawan
SedekAH membawa berkAH untuk semuanyAH…. AH… AH… AHAgung Yansusan
Seekor Makhluk Sebuah DesaGuido Gusthi Abadi
Sehari Sebagai PatriotYustina Rena Oktaviana
Sekuntum Bunga KambojaMila Karlina
Selalu Ada JalanYudha Purwanda Azis
Selamat Jalan SahabatNursyamsi Syam
Semangat Juang Anak CacatWahyu Rizky Ramadhan
Semangat Pagi GurukuNurhikmah Hakiki
Semangat RanikaSelviana
Semangat Yang Tak TerkalahkanMuhammad Jaenal
Semua Akan Indah Pada WaktunyaSultan Oka
Semua Karena KauRirih Rakati Rigarimas
Semua Kerena-NyaAnitrie Madyasari
Semua Untuk AyahVivi Alviani
Semut Yang Pindah RumahDevi Yulia Rahmi
Senandung Indah Untuk TiaraRienz Gladies
Senja dan Catatan Tentang KitaYeni Ayu Wulandari
Senja di Tepi PantaiYuli setiawati
Senja Dipadang IlalangDamayanti Childiesh
Senyuman di Langit AwanggaDwi Surya Ariyadi
Sepasang Teratai MudaPuspita Sandra Dewi
Sepeda Kenangan Dari AyahGisca Ulfa Afiatika
Sepeda KumbangDeska Apriadi
Sepenggal LorosaePrabu Awang
Setangkai Bunga di Tebing GunungNuril Agri Famela
Seuntai Kalung Mutiara FatimahNamira Assyifa Prasetio
Si DogolMuhamad Rafael
Si Gadis KecilIndri Triyas Merliana
Si Kakek dan AkuImelda Oktavera
Si PintarAnnida Hasan
Si Siro Anak Musik RockExtrix Mangkepriyanto
Siapa yang Bersabar Pasti Akan BeruntungAnnida Hasan
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 1)Nurul Fitrah Hafid
Sikapku Untuk Bangsaku (Part 2)Nurul Fitrah Hafid
Sisa HarikuJhaka Sena Putra Jala
Space Time (Perjalanan Ruang dan Waktu)Aliffiandika
StarAry Qmtonk
Story About Me and FriendsNamira Assyifa Prasetio
Stuck dan StagnanYeva Fadhilah Ashari
Suara Bintang Terdengar Hingga ke JepangSigit Pamungkas
Suara Sang KertasHalimatus Sa'adah
Suara SumbangNada Aisyah
Sunset IndrayantiFa Adzkiya
Sweet Seventeen KelabuAmanah D'penzy
SyukurkuUzmilatul Khoiroh
Tak Ada Prediksi Sukses Namun Masih Ada JalanAnisa Catteleya
Tak Ada Yang Berubah Meski Sayap Telah PatahAulia Farhah FA
Tak DisangkaDea firmansyah
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 1)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 2)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 3)Puspa Allamanda
Tak Lekang Oleh Waktu (Part 4)Puspa Allamanda
Tak Seperti Dongeng “Gadis Penjual Korek Api”Selly Miarani
Tak UbahSelmi Fiqhi
Takdir SukriWahyudi Warsaintia
Taman DianPanji Asuhan
Tangan Yang DiatasMultazam
Teater NahkodaRafi Putri
Tekad NayyifFitri Ayu
TemanEdi Warsidi
Tembang KematianMuhammad Adhimas P
TentangTriyana Aidayanthi
Tentangku dan Ratusan OpiniEltio Atsiil
Terima Kasih 10 Tahun LaluHotma Lam Uli Marbun
Terima Kasih SahabatkuRahardian Shandy
Terima KasihkuFarhan Ramadhan
Terimakasih MotivatorkuFitri Melani
Terimakasih RatihWidyadewi Metta
Tetap Semangat Demi Kain KafanArif AlfanZa
Text Me, Please!Annisa Berliana Dewi
The CompetitionPuji Ratnataliasih
The Dark Fire (Part 2) Green Fire Death FireSelmi Fiqhi
The Gift of LoveDwipayana K
The Grondey and The First Experience (Part 2)Selmi Fiqhi
The Journey of LifeYuliyana
The Last Song For MomNadiyah Rahmah
The One to be BlamedS4stika
Tianna Dan Peri Yang DikutukVirtania Altariel
Time to Come a Freedom for PalestinaAghna Asbar
Tong TongDina Az zakie
Tuhan Membawamu KembaliSifandrea
Tujuan Hidup Seorang Gadis KecilAnti Dwi Putri
Tunanetra? Aku Bisa!Silvia Mayningrum
Uang Untuk Operasi IstrikuGaddang Arief
Ujung Jalan SunyiDira W
Untuk SahabatDestini
Untukmu…Firdausi As-Syuja'y
Usaha dan DoakuTuti Febrina Waruwu
Usaha dan Kerja KeraskuAldi Masda
Usaha Membeli LaptopNafa Putri Maharani
Usaha Membuahkan KeberhasilanDevelyne de Meichella
Valerie OliverianaTheresia Okvitawati
Waktuku Tak Menunggu Harapanku, Ibu.. AyahLiya Utari
Wanita KertasLuay Zahirul Ginting
Warna-Warni HujanTiara Purnamasari
Wayang IndonesiaSierra Aulia Shabihah
Weekend Bersama Alam PapandayanRusmiyati Suyuti
When The Caterpillar FlyIfarifah
Why Do We Break Up?Charlly Sermatan
Yang Bukan SegalanyaAsri Nur Aisyah
Yang Istimewa Belum Tentu SempurnaJade Elisa Putri
Yang Kau Pinjam Dari GarudaNadira Mufti
Yang Mengikutiku
Yang Tak Kan TerlupakanAmbiwwa Novita
Yang TerbaikRifqi M Rifai
You Are Inspiration in My LifeSierra Aulia Shabihah
ZawiaFairuz Zakyal 'Ibad


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.196.18.46
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia