Kho Ping Hoo - BKS#04 - Mutiara Hitam
Mutiara Hitam

Seri : Bu Kek Siansu #04

Karya : Asmaraman S Kho Ping Hoo

Jalan kecil itu menuju ke kota Tai-goan. Jalan yang buruk dan becek, apalagi karena waktu itu musim hujan telah mulai. Udara selalu diliputi awan mendung, kadang-kadang turun hujan rintik-rintik, sambung menyambung menciptakan hawa dingin. Seperti biasa, segala keadaan di dunia ini selalu men­datangkan untung dan rugi, dipandang dari sudut kepentingan masing-masing. Para petani menyambut hari-hari hujan dengan penuh kegembiraan dan harapan, karena banyak air berarti berkah bagi mereka. Akan tetapi di lain fihak, para pedagang dan pelancong mengomel dan mengeluh karena pekerjaan atau per­jalanan mereka terganggu oleh jatuhnya hujan rintik-rintik yang tak kunjung henti.

Hujan rintik-rintik membuat jalan kecil itu sunyi. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang yang melakukan per­jalanan melalui jalan kecil itu lebih suka menunda perjalanan, beristirahat di warung-warung sambil minum arak ha­ngat, di kuil-kuil atau setidaknya di bawah pohon rindang, pendeknya asal mereka dapat terlindung dari hujan. Kalaupun ada yang melakukan perjalanan melalui jalan kecil itu di waktu hujan rintik-rintik menambah dingin hawa udara pagi itu, mereka tentu bergesa-gesa agar cepat tiba di tempat tujuan. Beberapa ekor kuda dibalapkan lewat, jupa serom­bongan kereta lewat dengan cepatnya melalui jalan kecil, sejenak memecahkan kesunyian dengan suara roda kereta, derap kaki kuda dan cambuk, diseling suara pengendara yang menyumpah jalan buruk dan hawa dingin.

Akan tetapi pada pagi hari itu, se­ekor kuda kurus berjalan perlahan me­lalui jalan kecil itu. Kuda yang kurus dan buruk, berjalan seenaknya seakan-­akan menikmati air hujan yang berjatuhan jarang di atas kepalanya. Warna kulit kuda ini agaknya dahulunya merah, kini penuh debu basah sehingga warnanya menjadi coklat dan kotor. Penunggangnya sama dengan kudanya dalam menghadapi gangguan hujan. Tidak merasa terganggu sama sekali. Duduk di atas punggung kuda sambil meniup suling! Aneh, mana ada orang lain berhujan-hujan meniup suling?

Laki-laki itu tinggi tegap, usianya tentu mendekati lima puluh tahun. Raut wajahnya tampan dan gagah, pandang matanya sayu namun bersinar tajam. Kepalanya terlindung sebuah topi lebar, terbuat dari anyaman rumput dan sudah butut, robek-robek pinggirnya. Pakaiannya longgar dan amat bersih, akan tetapi sudah terhias tambalan di beberapa tempat. Biarpun keadaan orang dan ku­danya membayangkan kemelaratan dan sama sekali tidak menarik, namun suara sulingnya luar biasa sekali. Sayang bahwa tiupan suling seindah itu tidak pernah terdengar orang karena setiap kali ber­temu orang, laki-laki di atas kuda kurus ini selalu menghentikan tiupan sulingnya. Agaknya ia tidak suka kalau tiupan su­lingnya didengar orang.

Setelah keluar dari sebuah hutan kecil yang gelap, laki-laki itu menghentikan kudanya. Sepasang mata yang terlindung topi lebar itu memandang ke kanan kiri. Hutan terganti kebun dan sawah. Be­berapa orang petani sibuk bekerja di ladang, agak jauh dari jalan kecil itu. Laki-laki itu tampak tertarik dan sejenak wajah yang tampan itu berseri. Kemudian ia menarik perlahan kendali kudanya. Binatang kurus itu berjalan lagi, seenak­nya. Hujan gerimis sudah mereda, tinggal kecil dan jarang, sebentar lagi juga ber­henti. Di timur, sinar matahari mulai menerobos awan tipis mengusir dingin. Laki-laki itu sejenak memandang ke arah matahari yang belum menyilaukan mata, lalu mulutnya bernyanyi!

"Syarat memimpin negara dan dunia

adalah sembilan kebenaran

memperbaiki diri sendiri

menghargai orang bijak dan pandai

mencinta sanak keluarga

menghormat pembesar tinggi

mengasihi pembesar rendah

mencinta rakyat seperti anak

mengundang ahli-ahli bangunan

menghibur pengunjung dari jauh

mengikat persahabatan dengan negara lain!”

Sambil bernyanyi, laki-laki itu me­lakukan gerakan-gerakan aneh dengan sulingnya. Setiap kata-kata ia barengi dengan gerakan suling yang kalau diperhatikan merupakan gerakan menulis kata-kata itu, menulis di udara dan sungguh aneh, setiap gerakan menulis ini meng­akibatkan suara angin melengking yang berbeda-beda! Andaikata pada waktu itu terdapat seorang ahli silat tinggi yang menyaksikan gerakan-gerakan ini, tentu dia akan terheran-heran dan merasa ka­gum karena selain melihat gerakan luar biasa, juga akan merasa betapa dari gerakan ini keluar hawa pukulan mujijat! Akan tetapi, kalau gerakan-gerakan sambil bernyanyi itu terlihat oleh orang biasa, tentu ia akan mengira bahwa laki-­laki berkuda itu seorang yang miring otaknya.

Melihat keadaannya yang melarat, tak seorang pun akan mengira bahwa laki­-laki ini sesungguhnya adalah seorang pendekar besar, seorang pendekar sakti yang pada belasan tahun yang lalu amat terkenal dan sukar dicari tandingnya. Jarang ada orang yang mengetahui namanya, dan para tokoh dunia persilatan hanya mengenalnya sehagai SULING EMAS. Telah belasan tahun dunia persilatan kehilangan tokoh ini dan tidak seorang pun tahu ke mana perginya. Dahulu orang mengenal Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas) sebagai seorang laki-laki yang tinggi tegap dan tampan gagah, pakaiannya terbuat daripada su­tera halus berwarna hitam, dengan sulaman benang emas menggambarkan bulan dan sebatang suling di bagian dadanya. Dahulu, belasan tahun yang lalu, sepak terjangnya amat mengagumkan kawan maupun lawan. Mulia seperti malaikat bagi yang tertolong, hebat mengerikan seperti iblis bagi penjahat yang dibasminya. Itulah dia Suling Emas!

Akan tetapi laki-laki setengah tua yang menunggang kuda kurus itu, yang pakaiannya membuat ia lebih patut di­sebut jembel, sama sekali tidak memper­lihatkan bekas bahwa dialah sesungguhnya Suling Emas. Jauh bedanya bagaikan bumi dengan langit. Suling yang tadi ditiupnya kini berselubung tembaga di luarnya, merupakan suling biasa. Hanya seorang ahli kalau melihat gerakan-gerakannya sambil bernyanyi tadi, akan mendapat kenyataan bahwa selama be­lasan tahun bersembunyi ini, kepandaian Suling Emas tidaklah mundur, bahkan makin hebat. Gerakan-gerakannya tadi­ sama sekali bukan gerakan seorang gila hendak menari, melainkan gerakan Ilmu Silat Hong-in-bun-hoat, yaitu Ilmu Silat Sastra Awan dan Angin yang berdasarkan gerakan penulisan huruf-huruf dari kitab Tiong-yong! Nyanyiannya tadi adalah ayat-ayat dari kitab Tiong-yong. Jangan dikira bahwa gerakan-gerakan itu hanyalah gerakan sembarangan, karena setiap huruf yang ditulis, merupakan gerakan lihai sekali, baik dalam bentuk serangan maupun dalam bentuk tangkisan.

Kuda kurus itu berjalan terus. Sinar matahari pagi kini mencipta suasana cerah dan indah. Burung-burung berkicau menambah keindahan suasana. Lalu lintas mulai ramai setelah kini hujan berhenti dan tembok kota Tai-goan sudah tampak dari jauh, Suling Emas tidak bernyanyi lagi, tidak pula meniup sulingnya. Bahkan sulingnya, kini tersembunyi di balik baju­nya yang penuh tambalan. Ia menunduk, tidak memperhatikan orang-orang yang lewat dan bersimpang jalan dengannya. Sudah terlalu lama ia mengasingkan diri, perhatiannya terhadap manusia dan dunia menipis. Kadang-kadang ketenangannya terganggu oleh batuk. Apabila serangkai­an batuk menyerangnya, mulutnya membayangkan rasa nyeri yang ditahan-tahan. Dan rangkaian batuk yang menyesakkan dada ini membuat ia kecewa.

Suling Emas kecewa akan dirinya sendiri. Percuma saja belasan tahun ia menyembunyikan diri. Ia dapat bersembunyi daripada dunia ramai, namun ia tidak dapat bersembunyi daripada pikiran dan hatinya sendiri! Kemanapun juga ia pergi, ke puncak-puncak gunung yang sunyi, ke dalam guha-guha yang sepi di mana tidak nampak bayangan manusia lain, pikiran dan perasaan hatinya selalu mengejarnya. Bayangan wajah wanita-wanita yang pernah merampas hatinya, selalu menggodanya. Ia mempergunakan kekuatan dan kekerasan hati, menekan semua itu, namun hasilnya merusak jantungnya sendiri. Suling Emas selama belasan tahun hidup bersengsara, hidup nelangsa, hidup menyiksa batin sendiri, korban asmara!

Ketika kudanya berjalan perlahan, bermacam kenangan memenuhi kepalanya, kenangan yang timbul dari serangkaian batuk yang menyerangnya tadi. Karena serangan batuk ini mengingatkannya kembali akan keadaan dirinya. Teringatlah ia akan nasib ayah bundanya, nasib gurunya. Mereka itu, orang-orang tua yang tidak sempat ia balas dengan kebaktian itu, yang telah lama meninggalkannya seorang diri di dunia ini, juga mengalami nasib buruk dalam cinta kasih. Ayah bundanya gagal dalam cinta kasih se­hingga bercerai sampai mati. Kemudian gurunya yang tercinta, gurunya yang menjadi pula pengganti ayah bundanya, mengalami kegagalan asmara yang lebih pahit pula. Kasihan gurunya Kim-mo-Taisu, pendekar sakti yang patah hati!

Suling Emas kembali menarik napas panjang, tangan kirinya membenamkan topinya makin dalam. Matahari di se­belah kanannya mulai menyilaukan mata dan topinya amat baik untuk melindungi matanya dari sinar matahari. Ia terme­nung kembali, tampaknya melenggut ngantuk di atas punggung kudanya. Be­tapapun sengsara orang tua dan gurunya menjadi korban asmara gagal, jika diban­dingkan dengan apa yang ia alami, me­reka itu masih mendingan! Terbayang wajah wanita yang menjadi cinta per­tamanya, gadis yang terjungkal ke dalam jurang dan tewas pada saat mereka ber­dua sedang bertunangan! Kemudian wajah cintanya yang kedua, yang kini menjadi nyonya pangeran, hidup mewah dan mulia ­bersama suami dan anak-anaknya! Akhirnya terbayang pula wajah cintanya yang ketiga, atau yang terakhir, wajah Kam Lin Lin, atau lebih tepat sekarang di­sebut Ratu Yalina, ratu suku bangsa Khitan di utara!

“Ahh, bodoh!” Suling Emas menyendal kendali kudanya merasa gemas kepada dirinya sendiri yang ia anggap amat lemah. “Engkau sudah tua bangka ber­pikir yang bukan-bukan!” Di dalam hati­nya ia menyumpahi diri sendiri. Lamunan-lamunan, kenangan-kenangan, dan pikiran macam itulah yang selalu mengejar dan menggodanya, kemanapun juga ia pergi, sehingga akhirnya timbul batuk yang menggeroti dadanya.

Kalau sudah terganggu oleh kenang­-kenangan seperti itu hatinya serasa di­remas, terasa sakit dan perih, semangat­nya melemah dan seluruh tubuhnya lelah, membuat ia malas dan satu-satunya ke­inginan hanya tidur, kalau mungkin tidur selamanya tanpa sadar lagi! Sebuah kuil tua di pinggir jalan, di luar kota Tai-goan menarik hatinya karena ia melihat tempat mengaso yang enak dalam kuil tua itu, di mana ia dapat mengaso dan tidur memenuhi keinginan hatinya. Di­belokkannya kuda kurus itu ke kiri me­masuki pekarangan kuil tua yang penuh rumput, seperti juga kuilnya sendiri yang sudah kosong dan tidak terpelihara, pe­karangan itupun kotor penuh rumput. Akan tetapi hal ini menguntungkan bagi kuda kurus yang terus saja melahap rum­put hijau di depan kuil. Kuda itu dilepas begitu saja oleh Suling Emas yang me­masuki kuil dengan mata setengah tidur! Tanpa menoleh ke kanan kiri tanpa mempedulikan beberapa orang pengemis yang duduk di sudut ruangan depan, ia terus melangkah ke dalam, mengebut-ngebutkan ujung baju membersihkan lantai di sudut yang kosong, lalu duduk bersandar din­ding, terus melenggut tidur! Hanya de­ngan istirahat beginilah batuk yang me­nyerangnya menjadi berkurang.

Mengapa pendekar sakti seperti Suling Emas sampai menjadi begini? Padahal, kalau ia menghendaki kedudukan, Kerajaan Sung akan membuka kesempatan sebesarnya kepada Suling Emas, tokoh yang sudah banyak dikenal, bahkan Kaisar sendiri memberi penghargaan kepada Suling Emas, memberi izin istimewa kepada Suling Emas, untuk memasuki istana setiap saat sesuka hatinya! Selain ini, juga para pimpinan Beng-kauw yang menjadi orang-orang paling berpengaruh di samping Kaisar Nan-cao, juga akan me­nerimanya dengan tangan terbuka. Betapa tidak? Suling Emas adalah cucu kepo­nakan dari ketua Beng-kauw! Mengapa ia menolak semua kemuliaan ini dan me­milih penghidupan miskin, terlantar, patah hati dan terserang penyakit?

Para pembaca cerita “SULING EMAS” dan cerita “CINTA BERNODA DARAH” tentu masih ingat betapa parah cinta kasih yang gagal merobek hati Suling Emas.

Cintanya yang terakhir lebih-lebih lagi menghancurkan hatinya. Ikatan cinta kasih antara dia dan Ratu Yalina, amat­lah erat. Masing-masing telah saling mencinta, bahkan Ratu Yalina tadinya rela mengorbankan kedudukannya untuk menjadi isterinya. Namun, Suling Emas terpaksa menolaknya. Menolak karena pertama, Suling Emas sebagai seorang tokoh besar di dunia kang-ouw tentu saja dimusuhi banyak orang, apalagi karena mendiang ibunya sewaktu hidupnya telah mengakibatkan banyak permusuhan dengan orang-orang dunia persilatan. Ia tidak mau menyeret Yalina dalam hidup penuh bahaya dan permusuhan. Kedua, Yalina adalah puteri angkat ayahnya, jadi masih adik angkatnya sendiri, sehingga kalau mereka berdua berjodoh, tentu akan menjadi bahan ejekan dan cemoohan, mencemarkan nama baik keluarganya. Ketiga, suku bangsa Khitan amat mem­butuhkan bimbingan Ratu Yalina untuk memperkuat kembali suku bangsa itu. Inilah sebabnya mengapa ia rela berpisah dari kekasihnya itu, rela hidup merana dan menderita tekanan batin.

Hampir dua puluh tahun ia menyem­bunyikan diri semenjak berpisah dari Ratu Yalina. Musuh-musuh ibunya akhirnya merasa bosan mencari-carinya untuk dimintai pertanggungan jawab akan sepak terjang ibunya puluhan tahun yang lalu. Akhirnya ia, Suling Emas, dilupakan orang!

Benarkah itu? Benarkah Suling Emas dilupakan orang? Mudah-mudahan demi­kian, pikir Suling Emas sambil meleng­gut. Mudah-mudahan dunia sudah lupa kepada Suling Emas! Lebih dilupakan lebih baik! Siapa yang akan mengenal Suling Emas yang sekarang telah menjadi seorang jembel setengah tua? Gurunya dahulu pernah hidup sebagai seorang jembel. Malah jembel yang gila! Berpikir sampai di sini, senyum pahit menghias mulutnya dan ia membuka sedikit mata­nya. Kebetulan sekali ia melihat dua orang pengemis tua yang tadi duduk melenggut di sudut luar, kini keduanya saling berbisik dan menoleh kepadanya. Kemudian, aneh sekali, dua orang penge­mis tua itu menghampirinya dan kedua­nya membuat gerakan aneh, yaitu tangan kiri menekan dada kiri arah tempat jan­tung, dan tangan kanan diangkat ke atas membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari tengah.

Apa artinya itu? Mengapa mereka memberi salam seaneh itu? Suling Emas tidak mengenal siapa mereka, juga yakin bahwa tidak mungkin mereka mengenal­nya. Akan tetapi mereka itu sudah me­nyalamnya, biarpun salam yang lucu dan aneh. Agaknya mereka itu memberi sa­lam karena mengira dia pun seorang pe­ngemis, jadi segolongan. Dan agaknya pa­ra pengemis di daerah ini sudah lajim menyalam seorang “rekan” secara itu. Untuk menjaga jangan sampai dua orang itu tersinggung Suling Emas lalu meniru gerakan mereka, membalas salam itu dengan gerakan yang sama, lalu ia me­ramkan mata dan melenggut pula, tidak memperhatikan lagi dua orang itu yang wajahnya sejenak berubah girang sekali ketika melihat balasan salamnya.

Agaknya seorang di antara dua pengemis tua itu hendak bicara dan Suling Emas diam-diam merasa geli hati­nya, akan tetapi mendadak mereka ber­dua itu sudah meloncat dan di lain saat sudah mendengkur lagi sambil duduk ber­sandar tembok. Gerakan mereka begitu cepat sehingga diam-diam Suling Emas tercengang, maklum bahwa dua orang pengemis itu bukanlah pengemis semba­rangan, melainkan pengemis kang-ouw yang berilmu tinggi! Selagi ia terheran mengapa mereka tidak jadi bicara dan bersikap seaneh itu, tiba-tiba di luar terdengar suara langkah kaki orang di­susul suara dalam bahasa Khitan yang dimengerti pula oleh Suling Emas.

“Tidak salah lagi. Dia tentu berada di dalam kuil ini. Lihat itu kudanya, aku mengenal kuda kurus ini!” Demikian suara itu dan diam-diam Suling Emas terkejut. Ia teringat bahwa kemarin ia melihat tiga orang laki-laki bangsa Khitan yang berpakaian seperti perwira, menunggang kuda dengan membalap. Me­reka itu ketika bersimpang jalan, me­mandang penuh perhatian kepadanya. Me­lihat perwira-perwira Khitan ini, Suling Emas teringat kepada kekasihnya, Ratu Yalina. Akan tetapi karena pada masa itu Kerajaan Sung bersahabat dengan Kerajaan Khitan dan adanya orang-orang Khitan di wilayah Kerajaan Sung bukanlah hal aneh lagi, maka Suling Emas tidak menaruh perhatian lagi. Siapa kira, tiga orang itu agaknya menyusul dan mencarinya sampai di sini!

Sedikit pun Suling Emas tak dapat menduga mengapa ada perwira-perwira Khitan mencarinya dan mulai timbul dugaan bahwa tentu mereka itu salah lihat, mengira dia orang lain, maka ia tetap saja duduk dengan sikap tenang. Tiga orang Khitan itu segera muncul di ruangan dalam kuil itu. Seorang diantara mereka, yang menjadi pemimpin, bertubuh gemuk dengan kumis melintang tebal. Si Kumis Tebal inilah yang sekarang berdiri dan menjura kepadanya, memandang tajam, penuh selidik ke arah wajah di bawah topi sambil berkata,

“Taihiap (Pendekar Besar), kami menjalankan perintah Ratu kami yang minta dengan hormat agar Taihiap suka pergi berkunjung sekarang juga bersama kami ke Khitan.”

Jantung Suling Emas berdebar keras. Baru sekali ini setelah belasan tahun ia mengalami ketegangan batin. Ratu Khitan Yalina mengundangnya? Apa yang dikehendaki oleh Lin Lin? Mengapa ingin bertemu? Pertemuan yang tentu hanya akan membuat luka di hatinya menjadi makin parah saja. Di saat itu juga, ia sudah mengambil keputusan untuk menolak undangan ini. Akan tetapi ia tidak ingin pula lain orang mengetahui bahwa dia Suling Emas. Bagaimana perwira Khitan ini dapat mengenalnya?

“Apa.... apa yang kaumaksudkan? Aku tidak mengerti omonganmu!” Ia menjawab lirih, pura-pura tidak mengerti kata-kata tadi yang diucapkan dalam bahasa Khitan. Si Kumis Tebal itu saling lirik dengan dua orang temannya, pada wajahnya terbayang keheranan dan keraguan. Ia segera berkata dalam bahasa Han.

“Kami diutus junjungan kami untuk mengundang Taihiap berkunjung ke Khitan sekarang juga bersama kami.”

Tentu saja Suling Emas maklum bahwa Lin Lin atau Sang Ratu Yalina yang mengundangnya, akan tetapi ia pura-pura tidak tahu. Diam-diam ia kagum dan heran sekali akan kecerdikan orang-orang Khitan sehingga berhasil mengenal dan mendapatkannya. “Ah, apa artinya ini? Aku sama sekali bukan Taihiap, dan aku tidak mengenal siapa itu junjunganmu di Khitan.”

Kembali wajah gemuk itu dibayangi keraguan. “Harap Taihiap jangan berpura-pura lagi. Junjungan kami adalah Sang Ratu yang mulia di Khitan. Menurut petunjuk yang saya terima, tidak salah lagi Taihiap orangnya. Kuda kurus itu.... dan bentuk tubuh Taihiap. Perintah junjungan kami merupakan perintah besar yang harus dilaksanakan sampai berhasil, dan kami sudah bertahun-tahun dalam usaha mencari Taihiap!”

Diam-diam Suling Emas merasa ter­haru. Kembali terbayang wajah Lin Lin, terbayang semua peristiwa yang lalu. Lin Lin adalah puteri angkat ayahnya yang ternyata kemudian sebagai Puteri Mah­kota Khitan. Mereka saling mencinta, namun tak mungkin menjadi suami isteri. Ia telah memenuhi hasrat hatinya, me­menuhi permohonan Lin Lin sebelum ber­pisah sampai kini dari wanita yang tercinta itu. Ia telah secara diam-diam dan rahasia berkunjung di istana Sang Ratu Yalina, berdiam sampai satu bulan di dalam kamar Sang Ratu, hidup sebagai suami isteri penuh cinta kasih, penuh ke­mesraan selama sebulan, suami isteri di luar pernikahan yang tak mungkin dilaku­kan! Mereka berdua runtuh oleh gelora cinta dan nafsu. Namun hal itu tak da­pat dipertahankan terus. Demi menjaga nama baik Yalina sebagai Ratu, dan demi untuk menjaga nama baik keluarga. Terpaksa Suling Emas harus meninggalkan Khitan meninggalkan dengan keputusan hati takkan kembali lagi, takkan bertemu lagi dengan wanita yang dikasihinya, hanya dengan hiburan bahwa wanita yang dicintanya itu juga mencintanya sepenuh jiwa raga. Mereka bersumpah takkan menikah dengan orang lain.

Belasan tahun hal itu terjadi dan telah lalu. Hampir dua puluh tahun. Dan sekarang tiba-tiba Sang Ratu Yalina mengutus perwira-perwiranya untuk mencarinya sampai dapat, untuk mengundangnya ke Khitan. Apa perlunya? Bukankah kesemuanya itu sudah musnah habis?

“Aku yakin bahwa kalian tentu salah kira dan menganggap aku orang lain. Kalian mengira aku ini siapakah?” Suling Emas masih berusaha mempertebal keraguan orang.

“Siapa lagi Taihiap ini kalau bukan Kim-siauw-eng?”

“Aiiihhh....!“ Teriakan tertahan ini terdengar dari sudut ruangan di mana dua orang kakek pengemis tadi duduk bersandar.

Berdebar keras jantung Suling Emas. Celaka, benar-benar orang-orang Khitan ini bermata tajam. “Ah, apa-apaan ini?” teriaknya. “Kalian benar-benar salah me­lihat orang! Aku bukan Taihiap, bukan pula Kim-siauw-eng, kalian lekas pergi saja jangan menggangguku.”

“Taihiap, salah atau tidak, kami harus melakukan kewajiban kami! Petunjuk yang baru kami terima kemarin dari atasan kami tak salah lagi. Berpakaian sebagai pengemis, bertopi lebar butut, menunggang kuda kurus. Tidak salah lagi, Harap Taihiap tidak membikin repot kami dan suka, kami antar ke Khitan sekarang juga.”

“Hemmm.... kalau aku tidak mau?”

“Kami mendapat perintah untuk mengawal Taihiap ke Khitan, mau atau tidak, karena kami sudah mendapat wewenang, kalau perlu kami akan memaksa Taihiap.” Sambil berkata demikian, Si Kumis Tebal itu mengepal tinju dan me­langkah dekat. Akan tetapi jelas bahwa ia gelisah sehingga dahinya penuh ke­ringat.

“Waahh...., jangan menghina kaum jembel....!”

Kiranya dua orang pengemis tua itu sudah berdiri menghadang di depan tiga orang perwira Khitan dengan sikap melindungi Suling Emas. Di tangan kanan mereka tampak tongkat pengemis.

Perwira Khitan yang gemuk itu memandang dengan mata melotot, lalu mem bentak.

“Jembel-jembel tua bangka, kalian mau apa mencampuri urusan kami?”

Kakek pengemis yang punggungnya bongkok tersenyum lebar, lalu berkata.

“Melihat sekaum dihina orang, bagaimana kami dapat tinggal diam? Apalagi kalau yang kalian hina adalah saudara tua kami yang terhormat.” Kemudian kakek bongkok itu menoleh ke arah Suling Emas lalu menjura. “Tianglo yang mulia silakan beristirahat yang enak, biarlah kami ber­dua mewakili Tianglo memberi hajaran kepada anjing-anjing Khitan ini!” Setelah berkata demikian, kembali ia menghadapi para perwita Khitan dan berkata meng­ejek, “Saudara tua kami tidak suka me­nerima undangan Ratu Khitan, mengapa memaksa? Sungguh Ratu kalian tak tahu malu!”

“Keparat, berani menghina....?” Per­wira gemuk itu segera menghantam ke arah dada pengemis bongkok. Hantaman yang amat kuat sehingga mengeluarkan hawa pukulan yang menyambar keras. Si Pengemis Bongkok maklum akan kekuatan lawan, maka ia cepat mengelak. Dua orang perwira lain yang memegang toya juga segera menyerbu dan terjadilah perkelahian seru di dalam kuil tua ini.

Ketika Suling Emas menyaksikan sikap kedua orang pengemis tua itu terhadap­nya, menjadi makin terheran-heran. Kalau para perwira Khitan itu dengan tepat dapat mengenal atau setidaknya menyangkanya Suling Emas, adalah para pengemis ini mengira dia orang lain dan menyebutnya Tianglo! Tentu dia dianggap seorang tokoh pengemis yang mereka hormati. Tidak beres kalau begini, pikirnya. Namun, masih mending dianggap seorang tokoh pengemis daripada dikenal sebagai Suling Emas! Ia merasa kesal melihat dirinya dijadikan sebab perkelahi­an, maka melihat lima orang itu bertan­ding seru, ia lalu menggunakan kepandai­annya, sekali berkelebat ia sudah lenyap dari tempat itu, meloncat keluar kuil dan di lain saat ia sudah menunggang kudanya yang kurus. Akan tetapi sekali ini, kuda kurus itu memperlihatkan ke­asliannya ketika Suling Emas menarik kendali dan menendang perutnya, karena kuda kurus itu berlari amat cepatnya dan melihat gerakan kakinya jelas bahwa kuda kurus itu adalah seekor kuda pi­lihan!

Biarpun para perwira Khitan itu tiga orang mengeroyok dua orang pengemis tua yang tubuhnya kurus kering malah seorang diantaranya bongkok, namun mereka itu segera mendapat kenyataan bahwa dua orang jembel tua itu benar-­benar amat lihai! Untung bagi orang-­orang Khitan itu bahwa dua orang jembel tua itu agaknya memang hanya ingin mempermainkan mereka. Seperti telah disebutkan tadi, pada masa itu, diantara Kerajaan Sung dan Kerajaan Khitan ter­dapat persahabatan. Orang-orang Khitan tentu saja masih dianggap bangsa yang “liar” akan tetapi karena orang-orang Khitan itu selalu membuktikan disiplin yang baik dan tidak pernah melakukan kejahatan di wilayah Sung, maka rakyat pun tidak membenci mereka. Hal ini terjadi setelah suku bangsa Khitan dipim­pin oleh Ratu Yalina yang mengeluarkan peraturan-peraturan keras untuk rakyat­nya. Karena inilah, agaknya dua orang pengemis yang terang bukan orang-orang sembarangan itu juga enggan untuk men­celakai tiga orang perwira Khitan itu, melainkan hanya ingin mencegah mereka memaksa pengemis aneh yang mereka sangka seorang “saudara tua” tadi.

“Eh, ke mana perginya Tianglo....?” Tiba-tiba Si Bongkok berseru kaget dan keduanya segera menghentikan pertem­puran, bahkan tanpa berkata sesuatu dua orang pengemis itu sudah meloncat keluar dan sebentar saja lenyap dari situ. Perwira gemuk itu mengejar bersama dua orang temannya, namun setiba me­reka di luar kuil, keadaan sepi saja. Tak nampak seorang pun manusia. Juga kuda kurus tidak berada pula di depan kuil. Perwira gemuk berkumis tebal itu me­ngerutkan keningnya, meraba-raba dagu lalu berkata,

“Sungguh meragukan apakah benar dia tadi Suling Emas. Terang dia menolak, dan dua orang jembel tua bangka tadi sungguh menjemukan, membikin sukar pelaksanaan tugas kita yang tidak mudah. Kalian lekas beri laporan kepada pusat markas penyelidik di Tai-goan, katakan betapa lihainya dua orang pengemis tua bangka tadi. Kalau dia tadi betul Suling Emas dan sampai lolos, tentu kita semua akan menerima hukuman berat! Lekas berangkat, aku akan mencoba mengikuti jejaknya....“

Dua orang perwira bawahan itu cepat pergi menunggang kuda mereka menuju ke Tai-goan, sedangkan Si Perwira Ge­muk juga membalapkan kuda melakukan pengejaran ke arah timur setelah me­neliti jejak kaki kuda yang ditunggangi Suling Emas. Betapa heran hatinya ketika melihat jejak kaki kuda itu tak pernah berhenti biarpun ia mengikutinya sampai matahari condong ke barat. Mungkinkah kuda kurus kering mau mati itu dapat melakukan perjalanan sebegitu jauhnya dan melihat jejaknya selalu berlari ce­pat? Diam-diam Si Perwira Gemuk me­ngeluh dan mengomel. Sudah lebih dari lima tahun ia ditugaskan mencari seorang yang bernama Suling Emas! Membawa pasukan, bahkan kemudian akhir-akhir ini pencaharian dan penyelidikan diperhebat dengan datangnya para pengawal jagoan dari Khitan yang berpusat di Tai-goan. Namun selama ini, penyelidikannya selalu sia-sia belaka. Suling Emas yang di­maksudkan ratunya itu seakan-akan le­nyap ditelan bumi, atau memang orang itu tidak pernah ada!

Kemarin, dia menerima berita dari seorang di antara penyelidik yang disebar di mana-mana, bahwa seorang penung­gang kuda kurus yang perawakannya sama dengan orang yang selama ini di­cari-cari. Dengan penuh semangat dia bersama dua orang pembantunya melaku­kan penyelidikan dan akhirnya bertemu dengan Suling Emas di dalam kuil itu. Aneh sekali caranya orang itu melenyapkan diri, pikir Si Perwira Gemuk sambil mengepal tinju. Mengapa tidak seorang pun di antara mereka ada yang tahu? Pa­dahal, dua orang pengemis tua itu jelas memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Namun mereka pun tidak melihat pergi­nya orang yang disangka Suling Emas itu. Hal ini hanya berarti bahwa orang itu memiliki ilmu kepandaian hebat. Cocok dengan gambaran tentang diri Suling Emas yang oleh para pengawal istana disohorkan memiliki kepandaian seperti dewa! Sekali ini harus berhasil, pikirnya. Harus berakhir pengejaran dan penyeli­dikan yang bertahun-tahun ini!

Suling Emas membalapkan kudanya dan baru ia membiarkan kudanya me­ngaso dan berjalan perlahan setelah lewat tengah hari. Ia tidak jadi pergi ke Tai-goan. Ia harus melarikan diri, tak peduli ke mana, asal jangan sampai ber­temu dengan orang-orang Khitan itu. Kembali jatuh hujan rintik-rintik, akan tetapi ia tidak peduli. Mengapa, Lin Lin berusaha keras untuk mengundangnya ke Khitan? Apakah selama ini Lin Lin juga hidup menderita batin seperti dia? Ka­sihan Lin Lin! Ia tahu betapa mendalam cinta kasih Lin Lin kepadanya dan be­tapa perpisahan itu akan membuat Lin Lin hidup sebagai Ratu Yalina, terkurung dalam istana, yang keras dan sunyi!

“Oughhh....!” Kembali serangkaian batuk menyerang Suling Fmas. Selalu ia terserang batuk kalau pikirannya menge­nang masa lalu yang menimbulkan duka. Agaknya serangan batuk kali ini hebat sehingga ia terbatuk-batuk dan tubuhnya berguncang-guncang di atas kuda, wajah­nya menjadi pucat, napasnya terengah­-engah. Sudah lama ia terserang penyakit, bertahun-tahun sudah, akan tetapi ia tidak pernah mempedulikannya, tidak mau mencari obat. Biarlah demikian pikirnya setiap kali timbul keinginan me­ngobati penyakitnya, kalau penyakit ini mengakibatkan kematian alangkah baik­nya. Bebas daripada duka nestapa dan derita batin!

Betapa besar kekuasaan asmara! Kuasa menciptakan sorga maupun neraka dalam penghidupan manusia! Suling Emas yang dahulu terkenal gagah perkasa, tahu akan segala filsafat hidup, menguasai berbagai ilmu yang tinggi dan pelik-pelik, namun sekali tercengkeram asmara, men­jadi lemah seperti seorang yang bodoh dan tidak mengerti apa-apa, menjadi begitu lemah sehingga tidak mampu me­nguasai dirinya sendiri!

Betapa ingin hatinya bertemu kembali dengan Ratu Yalina! Betapa ingin hatinya dapat memandang wajah wanita yang di­kasihinya itu, dapat memegang tangannya. Ah, akan tetapi bagaimana mungkin? Dia sudah tua, juga Lin Lin bukan­lah orang muda lagi. Dahulupun di waktu mereka masih muda, hal ini tak mungkin dilakukan tanpa mengakibatkan noda nama. Apalagi sekarang, Lin Lin adalah seorang ratu yang disembah rakyatnya, sedangkan dia.... dia seorang sebatang kara dan miskin. Betapa mungkin ia menjerat Lin Lin ke dalam kehinaan?

“Tidak!” Suara hati terucapkan bibirnya. “Aku harus bertahan! Dia tidak boleh merendahkan diri, tidak boleh bertemu denganku!” Keputusan ini membuat Suling Emas seketika mengeluarkan sebuah saputangan lebar dan ditutupnyalah se­bagian mukanya dengan saputangan. Jangan sampai orang-orang Khitan itu me­ngenalku!

Akan tetapi, keputusan yang amat berlawanan dengan hasrat hati ini makin memayahkan keadaannya. Serasa ditusuk-tusuk jantungnya sehingga tubuhnya ma­kin lemah. Ia terbatuk-batuk lagi dan akhirnya ia terguling roboh dari atas punggung kudanya, jatuh dan rebah di atas tanah tak sadarkan diri! Kudanya mengeluarkan suara meringkik perlahan, berhenti dan membalikkan tubuh. Dengan hidungnya kuda kurus itu mendengus-­dengus menciumi kepala Suling Emas. Biasanya kalau ia melakukan hal ini, majikannya lalu mengelus-elus kepala dan lehernya. Akan tetapi sekarang, majikan­nya diam saja tak bergerak. Hal ini me­nyusahkan hati si Kuda, yang kembali meringkik dan menjauhkan diri, berlin­dung di bawah pohon dari serangan hujan yang makin menderas sambil makan ujung-ujung rumput hijau.

Suling Emas tidak tahu berapa lama ia rebah pingsan di tempat itu. Pakaian­nya basah kuyup, topi dan saputangannya masih menutupi mukanya. Ketika ia siuman kembali, ia mendengar suara orang-orang bergerak di dekatnya. Cepat Suling Emas membuka mata sambil me­nahan batuk yang mulai menyerangnya lagi. Kiranya dua orang kakek pengemis yang tadi bertempur melawan orang-­orang Khitan di dalam kuil telah berada di dekatnya! Mereka itu berlutut di kanan kirinya dengan sikap hormat sekali, dan kakek yang bongkok berkata,

“Tianglo, maafkan kami yang baru sekarang dapat bertemu dengan Tianglo, sehingga Tianglo mengalami keadaan begini sengsara....”

“Hemmm...., kaukira aku ini....?” Suling Emas bertanya perlahan akan tetapi tidak melanjutkan kata-kata­nya karena kembali ia terbatuk-batuk.

“Ahh...., Tianglo, kali ini kami tidak akan salah lihat! Engkau Yu Kang Tiang­lo yang mengenal baik tanda rahasia dengan tangan dari perkumpulan kita, Khong-sim Kai-pang! Tianglo .... “

“Aku bukan Yu Kang Tianglo....!” Suling Emas memotong dengan suara keras. Ia sudah mengenal siapa Yu Kang Tiang­lo. Dahulu pernah ia bekerja sama, de­ngan Yu Kang, tiga puluh tahun yang lalu. Ketika itu Yu Kang adalah seorang tokoh dari Khong-sim Kai-pang berusia tiga puluh tahun, yang berusaha mem­balas dendam kematian ayahnya di ta­ngan seorang di antara Enam Iblis Dunia bernama It-gan Kai-ong. Karena ketika itu It-gan Kai-ong merupakan seorang tokoh jahat, Suling Emas lalu turun tangan, membantu Yu Kang merobohkan It-gan Kai-ong sehingga Yu Kang dapat membalas dendam (baca cerita SULING EMAS).

Aneh sekali, pikirnya. Biarpun Yu Kang dan dia memang memiliki bentuk tubuh yang hampir sama, akan tetapi se­ingatnya, Yu Kang dahulu lebih tua dari padanya. Sedikitnya lebih tua lima tahun! Agaknya, Yu Kang juga seperti dia, me­ngasingkan diri sehingga para pengemis ini tidak dapat membedakan antara dia dan Yu Kang.

“Harap Tianglo mengingat akan perkumpulan kita dan menaruh kasihan ke­pada kami! Semenjak merobobkan It-gan Kai-ong tiga puluh tahun yang lalu, Tianglo menghilang. Kami mengira bahwa Tianglo khawatir akan pembalasan It-gan Kai-ong maka sengaja mengasingkan diri. Akan tetapi setelah belasan tahun yang lalu It-gan Kai-ong tewas mengapa Tianglo masih juga mengasingkan diri?

Apakah Tianglo tidak kasihan kepada saudara-saudara kita yang sudah terlalu lama kehilangan pemimpin yang bijak­sana?”

Selagi pengemis bongkok itu bicara dengan penuh permohonan, diam-diam Suling Emas berpikir. Hemm, mengapa tidak? Biarlah Yu Kang menyembunyikan diri dan dia yang menggantikannya! Per­tama, karena ia tahu bahwa perkumpulan Khong-sim Kai-pang adalah perkumpulan baik-baik sehingga sudah sepatutnya kalau ia bela. Kedua, dengan menyamar menjadi Yu Kang, Ia dapat menyembunyikan diri daripada pengejaran Lin Lin.

Pada saat itu, hujan turun lagi dengan derasnya dan pengemis tua yang memegang tongkat berseru, “Ah, dasar bandel monyet gendut itu! Dia berani muncul lagi!”

Suling Emas kaget dan segera bangun berdiri. “Saudara-saudara, biarkanlah aku sendiri menghadapinya.” Ia berkata ketika melihat dua orang pengemis tua itu de­gan marah hendak menerjang maju. Men­dengar ini., dua kakek itu menjadi girang dan menanti di kanan kiri.

Perwira Khitan yang gemuk itu me­langkah lebar menghampiri tempat itu, menempuh hujan. Ketika melihat orang yang dicarinya berdiri di depannya de­ngan muka sebagian tertutup saputangan sedangkan dua orang pengemis tua yang lihai tadi berdiri di kanan kirinya. Ia terkejut. Akan tetapi segera ia menye­ringai dan berkata. “Terpaksa saya harus mengikuti Taihiap sampai di manapun juga. Saya mempertaruhkan nyawa untuk tugas ini!”

Suling Emas bertanya. “Tugasmu ada­lah mencari orang yang berjuluk Kim­-siauw-eng, bukan?”

“Betul, Taihiap.”

“Dan engkau mengira bahwa akulah orang yang kaucari itu?”

“Tidak bisa salah lagi, beginilah me­nurut petunjuk.”

“Apakah engkau pernah bertemu de­ngan Suling Emas?”

“Waah.... belum pernah. Akan tetapi, petunjuknya cocok, dan akan ada seorang atasanku yang pernah bertemu dan akan mengenal Taihiap.”

“Kalau begitu, jangan membandel. Katakan kepada atasanmu bahwa yang kausangka Suling Emas itu sebetulnya adalah Yu Kang Tianglo, ketua dari Khong-­sim Kai-pang! Sudah, jangan engkau mengganggu kami lagi!” Ia menoleh ke­pada dua orang pengemis tua sambil berkata, suaranya memerintah, “Mari kita pergi!”

Si Perwira Khitan yang gendut itu terkejut dan meragu. Ia melangkah maju.... tetapi....,”

Baru sampai sekian ucapannya, Suling Emas mengulurkan tangannya dan perwira itu tiba-tiba berdiri kaku tak bergerak. Ia telah menjadi korban totokan yang luar biasa sekali! Melihat ini, dua orang pengemis tua yang sudah kegirangan itu menjadi kagum sekali lalu mereka berdua menjatuhkan diri berlutut di depan Suling Emas sambil berkata, “Pangcu (Ketua)....!”

Di balik saputangan, Suling Emas ter­senyum masam, lalu mengibaskan tangan baju dan berkata karena,.”Bangunlah dan mari kita pergi.”

Dengan muka gembira dan taat sekali, dua orang pengemis tua itu bangkit dan pergilah mereka bertiga menempuh hujan meninggalkan perwira Khitan yang masih berdiri seperti patung. Ketika hujan mulai berhenti, mereka sudah ber­teduh di dalam sebuah gubuk petani di tengah ladang. Kuda kurus tunggangan Suling Emas tadi berjalan mengikuti ma­jikannya yang memanggilnya Siauw-ma, dan kini makan rumput di pinggir jalan ketika majikannya duduk di dalam gubuk bersama dua orang kakek pengemis.

“Dan sekarang, ceritakanlah siapa kalian, dan apa sebabnya kalian memaksa aku yang sudah puluhan tahun mengasing­kan diri dan tidak mau mencampuri urus­an kai-pang (perkumpulan pengemis) atau mengapa kalian mengganggu kete­nanganku hidupku?”

Ketika dua orang kakek pengemis itu secara bergantian mulai bercerita, Suling Emas mendengarkan penuturan yang amat menarik hatinya sehingga ia menaruh perhatian. Tak disangkanya bahwa selama ia mengasingkan diri telah terjadi banyak hal hebat di dunia. kang-ouw.

Selama puluhan tahun, ketika dunia kang-ouw dikuasai oleh Enam Iblis Bumi Langit, dunia pengemis juga terlanda malapetaka karena seorang di antara Enam Iblis, yaitu It-gan Kai-ong, merajai dunia pengemis. Setelah akhirnya It-gan Kai-ong tewas, dunia pengemis yang sudah terbebas dari kekuasaan jahat itu menjadi kacau, kehilangan pimpinan dan terpecah-pecah karena terjadi perebutan kekuasaan antara golongan pengemis yang baik dan golongan pengemis yang jahat. Golongan lain di dunia kang-ouw telah mendapatkan pimpinan-pimpinan baru dan fihak yang jahat dapat dibersihkan. Akan tetapi hanya golongan pengemis saja yang belum mempunyai pemimpin yang kuat sehingga fihak yang jahat selalu menimbulkan kekacauan dan terjadilah pertentangan-pertentangan hebat di an­tara mereka sendiri. Melihat kelemahan dunia pengemis ini maka orang-orang jahat yang terusir dan tidak mendapatkan tempat di dalam golongan lain, lalu me­nyelundup masuk ke dalam dunia penge­mis untuk mencari kedudukan.

Khong-sim Kai-pang adalah sebuah perkumpulan pengemis yang besar dan berpengaruh, berpusat di kota Kang-hu. Sejak puluhan tahun yang lalu Khong-­sim Kai-pang termasuk golongan partai bersih yang mengutamakan kebenaran dan selalu memusuhi kejahatan. Akan tetapi karena sudah puluhan tahun tidak mem­punyai ketua yang pandai Khong-sim Kai­-pang kehilangan pengaruhnya sebagai perkumpulan besar sehingga tidak dapat menjadi peranan penting dalam dunia pe­ngemis. Namun karena dahulu pernah di­pimpin oleh orang-orang bijaksana seperti Yu Kang Tianglo, mendiang ayah Yu Kang, para anggautanya masih setia dan mereka inilah yang merasa prihatin me­lihat keadaan dunia pengemis yang mulai dicengkeram oleh golongan hitam.

Beberapa kali para tokoh Khong-sim Kai-pang berusaha untuk membersihkan dunia pengemis daripada pengaruh oknum-­oknum jahat, akan tetapi setiap kali usaha mereka gagal, bahkan banyak di antara mereka yang tewas dalam ben­trokan itu. Akhirnya, dari banyak tokoh Khong-sim Kai-pang hanya tinggal dua orang tokoh yang termasuk orang-orang tingkat tinggi di perkumpulan itu. Me­reka ini adalah Gak-lokai si kakek jem­bel bongkok dan Ciam-lokai si kakek jembel bertongkat. Dua orang kakek ini maklum bahwa kalau Khong-sim Kai­pang tidak segera mendapat pimpinan yang tepat dan bijaksana, akan rusaklah keadaannya, tidak hanya keadaan per­kumpulan mereka, juga dunia pengemis akan terjatuh ke tangan orang jahat. Mereka teringat akan Yu Kang yang puluhan tahun lamanya tak pernah mun­cul. Hanya putera mendiang Yu Jin Tianglo itulah kiranya yang akan dapat membangun kembali Khong-sim Kai-pang. Maka mulailah mereka berdua merantau dan mencari Yu Kang Tianglo sampai mereka berjumpa dengan Suling Emas dan mengira bahwa pendekar ini adalah orang yang mereka cari-cari.

“Demikianlah Pangcu. Tanpa mengenal lelah kami berdua mencarimu sampai belasan tahun. Kami mendengar bahwa Tianglo merantau ke dunia barat. Kami telah menyusulmu ke sana, hampir celaka di negeri asing itu. Akan tetapi di sana kami mendengar bahwa Tianglo telah kembali ke timur sehingga kami kembali menyusul ke sini, untung dapat bertemu dengan Tianglo di kuil rusak. Agaknya Tuhan memang telah memanggil kembali Tianglo untuk memimpin dunia pengemis, karena kalau Tianglo tidak menaruh ka­sihan, tentu dunia pengemis akan ter­jatuh ke tangan iblis-iblis baru dan ter­seret ke dalam golongan hitam!” Demi­kian mereka berdua menutup penuturan mereka.

Suling Emas termenung sejenak. Ia mempertimbangkan keadaannya, kemudian menarik napas panjang dan berkata, “Apa­kah kalian hendak menarik aku mendu­duki kursi ketua Khong-sim Kai-pang? Aku yang sudah biasa merantau bebas seperti burung di udara, bagaimana bisa terikat dan terkurung? Sungguh tak mungkin dapat kulakukan!” Ia meng­geleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.

“Tidak usah sampai begitu, Pangcu!” kata kakek bongkok yang bernama Gak­lokai cepat-cepat. “Cukup asal pangcu memperkenalkan diri sebagai ketua Khong-sim Kai-pang dan menghadiri per­temuan besar para ketua perkumpulan-­perkumpulan pengemis yang akan diada­kan di permulaan musim semi. Pertama untuk membangun kembali semangat para anggauta Khong-sim Kai-pang, kedua untuk mencegah dunia pengemis terjatuh ke tangan kaum sesat. Mohon kiranya pangcu tidak akan tega membiarkan kehancuran Khong-sim Kai-pang dan dunia pengemis umumnya.” Setelah berkata de­mikian kedua orang kakek itu kembali menjatuhkan diri berlutut di depan Suling Emas.

Diam-diam Suling Emas terkenang kepada Yu In Tianglo, seorang tokoh Khong-sim Kai-pang yang bijaksana dan putera ketua ini, Yu Kang, seorang pengemis yang gagah perkasa. Ayah dan anak ini adalah orang-orang gagah yang sudah sepatutnya dibela. Memang kasihan dan sayang sekali kalau perkumpulan pengemis yang sudah terkenal sebagai golongan kaum bersih ini sampai terseret ke dalam lembah kejahatan. Selain ini, juga ia mendapat kesempatan untuk me­nyembunyikan diri dari kejaran orang-­orang Khitan! Kalau ia sudah mengaku sebagai ketua Khong-sim Kai-pang, mus­tahil kalau para petugas yang diutus Lin Lin itu akan mengejarnya lagi dan me­nyangkanya Suling Emas!

“Baiklah,” Akhirnya ia berkata. “Akan kucoba sekuat tenagaku mencegah kaum sesat menguasai dunia pengemis. Akan tetapi aku hanya mau menjadi pangcu dari Khong-sim Kai-pang dengan syarat, pertama apabila semua sudah beres, aku tidak mau tetap tinggal di satu tempat. Urusan kai-pang boleh kalian urus sedang­kan aku tetap akan melakukan perantau­an seperti biasa, tanpa ada yang meng­ganggu. Kedua, aku tidak ingin memperkenalkan mukaku kepada orang lain se­hingga dalam kedudukan sebagai pangcu, aku akan selalu menutup mukaku. Kalian pun harus bersumpah bahwa kau tidak pernah melihat mukaku. Mengerti?”

Dua orang kakek pengemis yang merasa yakin bahwa pendekar ini tentulah Yu Kang Tianglo menjadi gembira se­kali. Dengan bercucuran air mata saking girangnya mereka menyanggupi semua permintaan Suling Emas.

“Cukup, sekarang pergilah kalian. Tunggu kedatanganku di Kang-hu waktu bulan purnama yang akan datang. Bukan­kah pusat Khong-sim Kai-pang masih berada di kuil tua, di luar kota Kang­-hu?”

Dua orang kakek itu makin girang dan tidak ragu-ragu lagi mereka sekarang bahwa orang ini tentulah Yu Kang pu­tera mendiang ketua Yu Jin Tianglo yang lenyap ketika berusia tiga belas tahun dan ketika Khong-sim Kai-pang diserbu penjahat. Mereka mengangguk-angguk dan dengan mata basah air mata saking ter­harunya kakek bongkok berkata, “Tentu saja masih di sana, Pangcu. Siapa dapat melupakan kuil itu?

Suling Emas menarik napas panjang memberi tanda dengan tangan agar kedua orang kakek itu pergi. Setelah mereka pergi, baru ia melompat ke atas punggung kudanya menepuk-nepuk leher kuda­nya sambil berkata lirih,

“Siauw-ma, mau tak mau kita harus mengalami hal-hal baru di antara para pengemis itu. Terpaksa Siauw-ma, ter­paksa....! Ataukah.... lebih baik ke Khitan....? Ah, tidak....! Jangan! Biarlah untuk sementara aku menjadi ketua pengemis!”

Berjalanlah kuda itu perlahan-lahan. Hujan telah berhenti dan tak lama kemudian terdengarlah suara suling di­tiup, suaranya mengalun dan mengharu­kan, menggetarkan jiwa tertekan dan batin menderita.

***

Pada masa itu, Kerajaan Sung dipim­pin oleh kaisarnya yang ke dua, yaitu Sung Thai Cung. Sungguhpun kemajuan di jaman Kerajaan Sung ini tidak dapat menandingi kerajaan-kerajaan yang lalu sebelum jaman Lima Wangsa, namun jika dibandingkan dengan jaman pemerintahan Sung Thai Cu kaisar pertama Kerajaan Sung, maka pemerintahan kaisar ke dua ini boleh dibilang mengalami kemajuan. Hasil yang dicapai lebih besar. Ia telah berhasil menjatuhkan Kerajaan Hou-han di Shan-si, Kerajaan Wu-yue di selatan, dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya, ke­mudian memasukkan daerah kerajaan-­kerajaan yang ditaklukkan ini ke dalam wilayah Sung.

Namun harus diakui bahwa terhadap dua buah kerajaan, yaitu kerajaan bangsa Khitan di timur laut yang terutama, dan Kerajaan Nan-cao di daerah Yu-nan, Kaisar Sung Thai Cung tidak berdaya. Mula-mula memang diusahakannya untuk menaklukkan dua buah kerajaan ini, namun selalu gagal. Bahkan berkali-kali bala tentara Sung terpukul mundur sehingga akhirnya kaisar tidak mendesak lagi. Hanya perang dan bentrokan kecil-kecilan terjadi di perbatasan, namun tidak ada artinya. Bahkan akhirnya, Kerajaan Sung mengambil sikap dan politik lunak, mendekati dua kerajaan ini dan bahkan me­ngirim upeti-upeti sebagai tanda persa­habatan!

Tidaklah amat mengherankan apabila ditinjau keadaan dua kerajaan di sebelah utara dan sebelah selatan itu. Semenjak dipegang oleh Ratu Yalina, Kerajaan Khitan menjadi sebuah kerajaan yang amat kuat sehingga sukar dikalahkan, bahkan bangsa Khitan telah menaklukkan bangsa-bangsa nomad lain yang berkeliar­an di daerah utara sehingga kerajaannya menjadi makin besar. Adapun Kerajaan Nan-cao, sungguhpun hanya merupakan kerajaan kecil, namun yang berkuasa di situ adalah kaum Agama Beng-kauw yang mempunyai banyak orang pandai, setia dan berdisiplin.

Karena cerita ini banyak menyangkut keadaan Kerajaan Khitan, maka marilah kita menjenguk keadaan kerajaan di se­belah utara dan timur laut itu. Bangsa Khitan adalah bangsa nomad yang besar, terdiri dari orang-orang gagah perkasa dan ulet. Keadaan hidup mereka yang selalu berpindah-pindah untuk mencari tempat yang lebih baik dan untuk me­nyesuaikan diri dengan iklim yang buruk, kesukaran hidup berjuang dengan alam, membuat mereka menjadi bangsa yang ulet, tabah dan pantang mundur.

Semenjak bangsa Khitan dipimpin oleh Ratu Yalina, kerajaan ini mengalami kemajuan pesat. Di dalam cerita CINTA BERNODA DARAH, diceritakan betapa Ratu Yalina ini di waktu keciinya diang­kat sebagai anak oleh seorang jenderal besar bangsa Han, dan di waktu remaja menerima gemblengan ilmu silat dari orang-orang pandai. Bahkan sebelum menjadi ratu, secara kebetulan sekali ia telah menemukan sebuah pusaka pening­galan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan ketua Beng-kauw di Nan-cao, yaitu catatan ilmu yang dahsyat, yang dirahasiakan. Setelah mewarisi ilmu yang disebut Cap­-sha-sin-kun (Tiga Belas Jurus Ilmu Silat Sakti) inilah maka ilmu kepandaian Ratu Yalina amat hebat dan sukar dicari tan­dingannya.

Di waktu masih remaja, Ratu Yalina ini pernah mengalami derita batin yang takkan dapat ia lupakan selama hidup. Antara dia dan Suling Emas, terjalin kasih asmara yang amat mendalam. Ke­adaanlah yang memaksa mereka berpisah, yang tidak memungkinkan perjodohan di antara mereka. Apa sebabnya? Bukan lain oleh karena kebetulan sekali bahwa Suling Emas adalah “kakak angkatnya” sendiri, putera kandung ayah angkatnya, Jenderal Kam! Sebetulnya hal ini bukan­lah menjadi halangan benar bagi Puteri Yalina yang ketika itu belum menjadi ratu. Akan tetapi Suling Emas yang berkeras tidak mau, bukan hanya karena masih saudara angkat, juga terutama sekali karena Yalina amat diperlukan oleh bangsanya untuk menjadi Ratu se­hingga Suling Emas mengalah dan pergi!

Akan tetapi, sebelum mereka saling berpisah untuk puluhan tahun lamanya itu, Suling Emas telah memenuhi permohonan Ratu Yalina untuk tinggal di dalam istananya selama sebulan. Menjadi suami di luar nikah! Biarpun tidak berhasil menjadi suami isteri, namun mereka telah saling menumpahkan cinta kasih mereka yang mendalam, tak kuasa menahan rindu hati yang tak tercapai karena halangan ke­adaan lahir.

Betapa tersiksa dan menderita batin Ratu Yalina ketika kekasihnya sudah pergi, ia mendapat kenyataan bahwa ia mengandung! Peristiwa yang bagi setiap orang isteri merupakan kebahagiaan mu­tlak ini, bagi Ratu Yalina bahkan me­rupakan derita dan siksa batin! Betapa tidak? Ia seorang ratu! Seorang ratu dan bukan seorang isteri. Ia tidak bersuami. Ia secara resmi masih seorang gadis! Dan ia mengandung! Kalau saja Ratu Yalina tidak teringat akan kedudukannya, tidak ingat akan bangsanya yang dikasihinya, tentu ia sudah melarikan diri dari Khi­tan, melarikan diri untuk mencari Suling Emas, kekasih dan.... suaminya, biarpun hanya suami tidak sah!

Ratu Yalina merasa tersiksa. Ia ber­duka dan juga malu. Bagaimana kalau nanti bangsanya mengetahui bahwa ratu­nya yang masih belum menikah itu me­ngandung? Hampir saja Ratu Yalina pu­tus asa. Lebih baik mati membunuh diri daripada menanggung aib yang hebat! Akan tetapi, untung baginya bahwa pang­limanya, orang yang paling dipercayanya karena panglima ini diam-diam juga mencintainya tahu akan rahasianya. Panglima ini Panglima Kayabu namanya, seorang Khitan yang gagah perkasa, tahu bahwa antara ratunya dan Suling Emas terjalin cinta kasih yang mendalam. Tahu pula bahwa demi bangsanya, ratunya rela ber­korban perasaan, berpisah dari kekasih­nya. Ia tahu pula bahwa Suling Emas di­tahan dalam istana ratunya sampai se­bulan sebelum mereka berdua saling ber­pisah. Kemudian ia tahu pula bahwa ratunya telah mengandung!

Secara rahasia, dijumpailah Ratu Ya­lina. Pada saat itulah terbukti kesetiaan Panglima Kayabu. Karena panglima ini telah dapat menduga kesemuanya, sambil menangis Ratu Yalina membuka rahasia­nya dan menyerahkan nasibnya ke tangan panglimanya yang juga menjadi sahabat satu-satunya dalam menghadapi peristiwa hebat ini. Kayabu menghiburnya dan memberi usul bahwa Sang Ratu seyogianya memelihara kandungannya dan secara rahasia kelak melahirkan anak. Semen­tara itu, dia sendiri secara serentak akan memillh seorang gadis Khitan dan mengawininya, kemudian kelak kalau Sang Ratu melahirkan anak, anak itu akan di­akuinya sebagai anaknya sendiri! Tentu saja ia akan menyuruh isterinya itu ber­sikap seolah-olah mengandung sehingga kelak tidak akan mencurigakan kalau “melahirkan” anak.

Rahasia yang hebat! Akan tetapi, karena tidak ada jalan lain, demi untuk menjaga nama baiknya sebagai ratu, dan demi menjaga agar bangsanya tidak men­jadi kacau, Ratu Yalina melakukan sandiwara ini sesuai dengan rencana Panglima Kayabu! Panglima ini, yang tentu saja luka dan patah hatinya, memaksa diri me­milih dan mengawini seorang gadis Khitan yang cantik.

Semua berjalan sesuai dengan rencana, yaitu Ratu Yalina dapat menyembunyikan keadaannya yang mengandung dari mata rakyatnya. Di lain fihak, isteri Panglima Kayabu “pura-pura mengandung”. Akan tetapi, ketika. tiba waktunya Sang Ratu melahirkan, di dalam kamar rahasia dan secara rahasia dihadiri oleh isteri Panglima Kayabu dan seorang dukun beranak, terjadilah hal yang sama sekali di luar dugaan mereka. Sang Ratu Yalina me­lahirkan sepasang anak kembar! Pertama seorang bayi laki-laki dan kedua seorang bayi perempuan!

Kalau saja kelahiran macam ini tidak terjadi di Khitan, tentu tidak akan men­datangkan kebingungan. Akan tetapi, telah menjadi kepercayaan umum di Khi­tan bahwa kembar laki-laki dan perem­puan merupakan pertanda bahwa kedua anak itu adalah titisan atau penjelmaan suami isteri, dan karenanya, kedua orang anak itu harus dipisahkan dan kelak ha­rus dijodohkan sebagai suami isteri! Ke­tika dukun beranak dan isteri Panglima Kayabu menyatakan hal ini, yang di­ngerti pula oleh Ratu Yalina, ratu yang malang ini menangis sedih dan roboh pingsan. Isteri Panglima Kayabu menjadi sibuk dan cepat-cepat memberi laporan secara diam-diam kepada suaminya. Panglima Kayabu cepat memasuki kamar itu dan untung Ratu Yalina sudah siuman dan kini ratu itu menangis terisak-isak di atas pembaringan.

“Harap Paduka jangan gelisah.” pang­lima yang setia itu menghibur.

“Aduh.... Kayabu.... lebih baik mati saja aku kalau begini....!” Yalina menangis. “Kayabu, kautolonglah aku.... kau­carilah dia, suruh datang ke sini, biar dia yang akan memutuskan keadaan ini....”

Panglima Kayabu mengerutkan kening­nya. Ia maklum siapa yang dimaksudkan ratunya itu. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, kalau mencari dan memanggil Suling Emas, bukan merupakan hal yang baik. Kalau terpaksa rahasia ini dibuka, tentu akan timbul kegemparan di kalang­an rakyat, tentu akan menimbulkan aib dan hal ini amat merugikan karena pada waktu itu, Khitan dikepung musuh dari selatan dan dari barat.

“Harap Paduka tenang saja. Biarlah hamba mengakui anak laki-laki ini seba­gai putera hamba, sedangkan anak perem­puan ini, secara diam-diam kita singkir­kan agar dipelihara orang lain dan kelak kalau mereka berdua sudah besar, mudah saja hamba menariknya sebagai mantu.”

Ucapan ini mengiris jantung Yalina. Dengan sepasang mata penuh air mata dan dengan muka pucat ia mengulurkan kedua tangan ke depan dan berkata ke­pada dukun beranak yang sedang mengu­rus dua orang anak yang menangis nya­ring seperti berlumba itu.

“Ke sinikan anak-anakku.... biarlah aku melihat mereka.... biarkan aku mencium dan memeluk mereka.... ahhh .... !” Ia menangis tersedu-sedu. Isteri Panglima Kayabu ikut menangis, demikian pula dukun beranak, wanita tua itu yang mera­sa terharu sekali. Kayabu sendiri, se­orang panglima gagah perkasa yang pan­tang mengeluarkan air mata, merasa betapa sepasang matanya panas dan jan­tungnya serasa diremas. Wanita yang pernah menjatuhkan hatinya itu kini demi­kian sengsara, sama sekali tidak seperti seorang ratu yang berwibawa, sama se­kali bukan seperti seorang wanita yang ia tahu amat perkasa dan sakti, melainkan seperti seorang wanita yang lemah, se­orang wanita yang ditinggalkan kekasih, seorang ibu yang rindu akan anak-anaknya!

“Anakku.... anakku.... ! Bagaimana aku dapat berpisah dari mereka ini....“ Ratu Yalina mencium kedua anaknya. Hampir ia pingsan saking sedihnya ketika melihat bahwa anaknya yang laki-laki memiliki mata dan hidung kekasihnya! “Anakku­-anakku.... di mana Ayahmu.... ? Anak­-anakku.... bagaimana kalian tega meninggalkan Ibumu....?” Ratu Yalina mencium lagi, kemudian menjerit lirih dan roboh pingsan sambil memeluk kedua anaknya yang mulai menangis lagi.

“Cepat-cepat, bawa pulang anak laki-­laki itu!” kata Panglima Kayabu kepada isterinya. Untung bahwa peristiwa kela­hiran itu terjadinya pada waktu tengah malam sehingga tidak sampai diketahui orang lain. “Dan kau, Bibi, dapatkah engkau membantu? Aku harus dapat menyerahkan anak perempuan ini kepada seorang yang boleh dipercaya!”

“Hamba.... hamba sanggup membantu.... hamba.... mempunyai keponakan. Biarlah puteri ini dipeliharanya, hamba tanggung takkan bocor rahasia ini....“ kata Si Dukun Beranak sambil terisak menangis.

“Tentu saja jangan sampai bocor. Kalau bocor, engkau sekeluargamu akan di­jatuhi hukuman mati!” Kata Kayabu yang diam-diam merasa girang bahwa anak perempuan itu ada yang megurusnya. Tentu saja tidak sukar baginya memerin­tahkan siapa saja memelihara anak itu, akan tetapi justeru sukarnya, jangan sampai ada yang tahu akan rahasia besar ini.

Lewat tengah malam, kamar Ratu Yalina menjadi sunyi kembali. Kedua orang anak yang baru lahir itu sudah dibawa pergi dari kamar. Yang laki-laki dibawa oleh isteri Panglima Kayabu, se­dangkan yang perempuan dibawa pergi ­oleh dukun beranak yang keluar dari istana melalui pintu rahasia di sebelah belakang, lalu nenek tua itu menghilang di dalam gelap.

Akan tetapi pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali para penjaga istana men­jadi gempar ketika menemukan nenek dukun beranak itu menggeletak tak bernyawa lagi di sebelah belakang istana!

Tentu saja Panglima Kayabu yang men­dengar laporan ini merasa seakan-akan dicabut jantungnya saking kaget dan heran. Cepat ia sendiri mendatangi tem­pat pembunuhan itu, sehingga para peng­awal menjadi heran mengapa panglima besar mereka begitu menaruh perhatian atas kematian seorang nenek dukun ber­anak.

“Pembunuhan terjadi di dekat is­tana, hal ini amat gawat demi keselamatan Ratu.” kata panglima yang cerdik ini.

Lebih-lebih kaget dan herannya ketika memeriksa keadaan mayat dukun beranak itu. Panglima Kayabu mendapat kenyataan bahwa tubuh itu tidak terluka sama sekali, akan tetapi tanda-tanda biru di pelipis menyatakan bahwa nenek ini menderita luka hebat di dalam kepala akibat pukulan yang dahsyat, mengandung hawa sakti, pukulan seorang ahli yang memiliki kepandaian tinggi. Tentang anak perempuan yang baru dilahirkan semalam, tidak ada tanda-tanda dan bekas-bekasnya sama sekali!

Kematian nenek ini sebenarnya malah melegakan hati Kayabu karena lenyaplah kekhawatiran akan bocornya rahasia besar itu. Akan tetapi kalau ia mengingat akan lenyapnya anak perempuan. Ia mengerutkan keningnya dan menjadi bingung! Tak mungkin ia dapat meng­umumkan kehilangan anak perempuan itu dan menyuruh anak buahnya menyelidiki atau mencari. Maka secara diam-diam ia sendiri melakukan penyelidikan dan men­cari, namun sia-sia belaka. Anak perem­puan itu lenyap tak meninggalkan bekas sama sekali, bahkan di seluruh Khitan tidak terdapat seorang anak bayi perem­puan yang baru dilahirkan. Jelas bahwa anak itu dibawa oleh pembunuh nenek dukun, dibawa keluar dari Khitan atau dibawa sembunyi di tempat rahasia. Akan tetapi siapakah pembawanya?

Hal ini menjadi rahasia dan teka­-teki yang tak terpecahkan. Dan tentu saja hal ini menambah kesengsaraan hati Ratu Yalina. Memang agak terhibur hatinya melihat Talibu, yaitu putera kan­dungnya yang menjadi putera Panglima Kayabu. Ketika Talibu berusia lima ta­hun, secara resmi ia diangkat anak oleh Ratu Yalina! Upacara pengangkatan ini dilakukan secara resmi dan dirayakan oleh semua orang Khitan. Gembiralah hati bangsa Khitan yang tadinya merasa prlhatin melihat ratu mereka yang ter­kasih itu tidak mau menikah. Akan tetapi setelah melihat Sang Ratu itu meng­angkat putera, dan putera itu pun bukan anak orang biasa melainkan putera Panglima Besar Kayabu, legalah hati mereka. Kini mereka telah mempunyai seorang pangeran mahkota! Tentu saja tak seorang pun di antara mereka tahu betapa hati Sang Ratu itu jauh lebih lega dan bahagia daripada mereka. Diam-diam hati Ratu Yalina bahagia sekali karena pengangkatan Talibu sebagai puteranya itu merupakan Pesta pertemuan dan berkum­pulnya kembali secara resmi antara se­orang ibu dan anak kandungnya!

Pada waktu itu panglima Kayabu sendiri telah mempunyai seorang anak perempuan terlahir ketika Talibu berusia dua tahun. Anak perempuan yang cantik ini bernama Puteri Mimi yang menjadi “adik kandung” dan teman bermain Pa­ngeran Talibu sejak kecil. Kalau melihat keadaan Puteranya yang kini benar-benar telah menjadi puteranya, bahkan men­jadi putera mahkota, bahagialah hati Ratu Yalina. Akan tetapi makin besar anak itu, makin gelisah dan prihatin hati­nya. Bagaimana ia tidak akan merasa gelisah dan prihatin kalau mengingat bahwa puteranya ini telah kehilangan saudara kembarnya, telah kehilangan calon “jodohnya”? Bagaimana takkan ge­lisah dan bingung hatinya karena menurut kepercayaan bangsanya, anak kembar laki perempuan kalau tidak dijodohkan, tentu akan hidup menderita dan mengalami malapetaka? Kalau teringat akan hal ini, Ratu Yalina menjadi sedih sekali dan teringat kekasihnya, Suling Emas, ayah daripada kedua orang anaknya itu!

Kekhawatiran akan hilangnya anak perempuannya itulah yang membuat akhirnya Ratu Yalina berkeras memberi perintah kepada Panglima Kayabu untuk berusaha mencari dan memanggil Suling Emas ke Khitan. Apapun yang terjadi, ayah dari anak-anaknya itulah yang harus mengambil keputusan! Ayah kan­dung anak-anak itu sendiri yang harus menentukan nasib sepasang anak kembar yang terpisah secara ajaib itu. Dan Panglima Kayabu hanya mentaati perin­tah, mengirim pasukan dan pembantu­pembantunya yang cukup pandai untuk mencari dan memanggil Suling Emas. Bahkan setelah bertahun-tahun gagal menjumpai Suling Emas dan Pangeran Talibu sudah makin besar, Ratu Yalina menulis segulung surat untuk diberikan kepada Suling Emas kalau orang-orangnya berhasil menjumpai pendekar itu.

Sementara itu, Pangeran Talibu makin besar makin gagah dan tampan. Semua rakyat mencinta pangeran ini. Selain tampan, juga putera mahkota ini digem­bleng ilmu surat dan ilmu silat. Tidak hanya Panglima Kayabu yang menurunkan kepandaiannya kepada putera mahkota, juga Sang Ratu Yalina sendiri menurunkan ilmu silat saktinya Yaitu Khong-in­-ban-kin dan Khong-in-liu-san. Adapun ilmu silat ajaib Cap-sha-sin-kun ia ajar­kan pula secara hati-hati dan perlahan­-lahan karena ilmu ini bukan ilmu sem­barangan dan kalau belum matang keadaan seorang ahli silat, tak mungkin dapat mempelaiarinya dengan sempurna.

Sebelum kita melanjutkan cerita ini, lebih baik kita menengok keadaan anak perempuan yang lenyap tanpa bekas itu. Ke manakah menghilangnya anak perem­pan itu, adik kembar Pangeran Talibu? Dan apakah yang terjadi lewat tengah malam itu di belakang istana Ratu Ya­lina?

Ketika itu, nenek dukun beranak memondong bayi perempuan yang dibungkus­nya dengan selimut. Ia bergegas keluar dari pintu rahasia yang membawanya keluar dari istana dan muncul diluar taman bunga. Nenek ini tersenyum-se­nyum girang. Peristiwa aneh yang ia alami di dalam istana ini tak dapat tidak akan mendatangkan untung besar kepadanya. Betapa tidak? Rahasia Sang Ratu berada di tangannya. Yang dibungkus se­limut ini merupakan sebagian rahasia besar itu. Sebagai orang yang mengetahui rahasia itu tentu hidupnya terjamin. Dan juga keponakannya akan hidup mewah dan mulia kelak, sebagai pengasuh dan pemelihara puteri Sang Ratu! Nenek ini sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi ada bayangan berkelebat mengikutinya.

Tiba-tiba nenek itu berhenti melang­kah, kaget memandang ke depan. Di depannya telah berdiri sesosok bayangan orang. Malam itu bulan sepotong menyi­narkan cahayanya yang suram, akan te­tapi cukup untuk membuat ia dapat me­lihat orang yang seperti setan tiba-tiba saja berdiri di depannya. Seorang perem­puan! Seorang perempuan berpakaian serba putih! Tubuhnya ramping padat, dengan lekuk-lengkung mencolok. Pendek­nya tubuh seorang wanita muda yang montok, tubuh yang sedang mekar dalam usia muda. Akan tetapi muka dan kepala wanita muda ini tertutup anyaman be­nang sutera hitam Membuat wajahnya hanya nampak bayangannya saja, bayang­an seram sekali karena sepasang matanya mengeluarkan sinar seperti bukan mata manusia! Lebih tepat kalau mata itu di­miliki iblis, atau setidaknya sepasang mata harimau liar!

“Apa... eh, siapa...?” Nenek ini tergagap dan ketakutan.

“Hi-hik!” Wanita aneh itu terkekeh dan sekali tangannya merenggut, anak dalam buntalan selimut itu telah berada di tangannya. Nenek dukun beranak ter­kejut dan kemarahannya mengatasi takut­nya, kedua tangannya diulur hendak me­rampas kembali anak itu.

“Huh, macam engkau mana ada harga merawat anak Lin Lin?” Tangan kirinya menyambar ke depan. Terdengar bunyi “krekk!” dan tubuh nenek itu terguling tak bernyawa lagi! Sambil tertawa-tawa yang mengatasi tangis anak perempuan itu, wanita aneh itu sekali berkelebat lenyap ke dalam gelap. Suara ketawanya yang nyaring melengking amat menyeramkan, memecah kesunyian malam dan pasti akan membuat hati orang yang bagaimana tabahnya tergetar.

Siapakah wanita aneh yang menye­ramkan ini? Melihat gerak-geriknya ia seorang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa hebatnya. Larinya amat cepat, seperti terbang saja sehingga ketika fajar menyingsing keesokan harinya, ia sudah berada di tempat yang ratusan li jauhnya dari Kota Raja Khitan. Ketika itu ia masih berlari terus memasuki sebuah hutan lebat, jauh di sebelah selatan. Orang tentu akan heran sekali melihat bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda, belum tiga puluh tahun usianya! Wajahnya cantik jelita, tubuhnya ramping padat, pakaiannya serba putih terbuat dari sutera halus yang membung­kus ketat tubuhnya, membayangkan leng­kung lekuk tubuhnya yang menggairahkan. Anehnya muka dan kepalanya tersem­bunyi di belakang kain penutup atau “tirai” sulaman benang sutera hitam se­hingga garis-garis mukanya yang cantik hanya nampak remang-remang. Akan tetapi, sepasang mata di balik tirai itu jelas tampak berkilat-kilat menakutkan, mata yang jeli dan indah, namun dengan sinar mata yang liar dan mengerikan.

Wanita ini sesungguhnya bukan orang asing bagi Ratu Yalina. Dia ini adalah kakak angkatnya sendiri, puteri ayah angkatnya. Mendiang ayah angkat Ratu Yalina, yang bernama Jenderal Kam Si Ek, seorang jenderal dari Hou-han yang perkasa dan pandai, mula-mula menikah dengan puteri Beng-kauwcu, yang bernama Liu Lu Sian yang berjuluk Tok­-siauw-kwi (Iblis Cilik Beracun) dan berputera Suling Emas! Kemudian Jenderal Kam bererai dari Liu Lu Sian, menikah lagi dan mempunyai dua orang anak. Pertama adalah Kam Bu Sin yang kini menjadi mantu dari ketua Beng-kauw yang baru dan bersama istrinya tinggal di selatan. Adapun yang kedua adalah Kam Sian Eng, seorang anak perempuan yang cantik. Sayang sekali bahwa, seperti juga halnya Ratu Yalina, Kam Sian Eng ini gagal dalam asmara dan mengalami penderitaan batin yang lebih parah lagi. Gadis yang bernasib malang ini telah menjatuhkan cinta kasihnya kepada se­orang laki-laki yang jahat, putera pangeran dan bernama Suma Boan. Dapat dibayangkan betapa hancur hatinya ketika Kam Sian Eng akhirnya mendapat kenya­taan betapa laki-laki yang dicintainya itu membalasnya dengan kekejian, bahkan memperkosanya. Kehancuran cinta kasih yang diinjak-injak oleh kekasihnya ini membuat Kam Sian Eng menjadi tertekan batinnya yang membuatnya seperti gila! (Baca cerita CINTA BERNODA DARAH)

Secara kebetulan, Kam Sian Eng me­nemukan kitab-kitab pusaka peninggalan Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian (Ibu kandung Suling Emas) dalam istana bawah tanah.

Dalam keadaan setengah gila ia mem­pelajari semua kitab-kitab itu setelah berhasil membunuh Suma Boan bekas ke­kasihnya itu. Ia menyembunyikan diri dan tekun mempelajari kitab-kitab pusaka, yaitu kitab-kitab pusaka yang dahulu dicuri dari partai-partai persilatan besar oleh Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian. Tentu saja Kam Sian Eng yang memang tadinya sudah memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi, makin lama menjadi makin hebat kepandaiannya sehingga sukar untuk di­ bayangkan lagi. Hebat dan juga mengerikan karena pikirannya yang setengah gila itu membuat ia kadang-kadang mem­pelajari ilmu kesaktian secara keliru yang akibatnya membuatnya menciptakan ilmu-ilmu yang dahsyat seperti ilmu iblis!

Wanita aneh yang muncul di Khitan dan menculik anak perempuan Ratu Yalina itu bukan lain adalah Kam Sian Eng! Tadinya, selagi pikirannya waras dan ia terkenang kepada adik angkatnya di Khi­tan, Kam Sian Eng bermaksud mengun­jungi adiknya yang kini menjadi ratu itu. Secara kebetulan sekali ia tiba di Khi­tan pada malam hari dan dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi ia memasuki istana dan alangkah herannya ketika ia melihat betapa dalam kamar rahasia itu adik angkatnya yang menjadi Ratu Khi­tan sedang melahirkan!

Bagaikan disambar petir rasa hati Kam Sian Eng. Dengan air mata bercucuran ia melihat keadaan adik angkatnya dari tempat sembunyinya di atas genteng. Terbayanglah ia akan pengalaman­nya sendiri. Seperti adik angkatnya ini, ia pun pernah melahirkan anak tanpa ayah! Perbuatan Suma Boan terhadap dirinya telah membuatnya mengandung. Inilah sebetulnya yang membuat batinnya tertekan, membuat ia menjadi makin gila, membuat ia menyembunyikan diri dari dunia ramai, seorang diri di dalam istana bawah tanah. Di situ pula ia seorang diri melahirkan seorang anak laki-laki! Hal itu telah terjadi setahun yang lalu. Dan untuk merawat anaknya terpaksa ia pergi menculik seorang wanita yang mempunyai anak kecil dan memaksa wanita itu un­tuk selamanya tinggal di dalam istana bawah tanah untuk menyusul dan me­rawat anaknya! Betapa sedih hati ibu muda yang diculik itu, sukarlah untuk diceritakan. Ia dipaksa iblis betina itu bercerai dari anaknya yang baru berusia dua bulan, untuk dikeram dan hidup di bawah tanah! Akan tetapi, Kam Sian Eng bersikap baik kepadanya dan anak kecil yang mungil itupun sedikit banyak meng­hibur hatinya, menjadi pengganti anaknya sendiri, seorang anak laki-laki yang entah kapan dapat ia lihat kembali.

Kenangan yang pahit itu membuat penyakit gila Sian Eng kambuh pada saat ia mengintai di kamar Ratu Yalina. Ia mendengarkan semua percakapan, kemudian membatalkan pertemuannya dengan Ratu Yalina dan mengikuti nenek dukun beranak, membunuhnya dan menculik anak perempuan adik angkatnya! Ia sama sekali tidak peduli bahwa perbuatannya ini tentu akan menghancurkan hati Ya­lina yang kehilangan seorang diantara anak kembarnya!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan heran hati ibu muda yang merawat anak Kam Sian Eng ketika pada hari itu wa­nita yang dianggapnya iblis betina, amat ditakuti akan tetapi diam-diam juga amat dikasihinya itu tiba-tiba pulang membawa seorang anak perempuan yang masih merah kulitnya!

“Ya Tuhan! Kouwnio (Nona), apa pula yang kaulakukan ini? Anak siapa ini? Mana Ibunya ... ?” Wanita itu berseru sam­bil membelalakkan matanya. Bahkan Su­ma Kiat, anak laki-laki berusia setahun yang digendongnya juga memandang de­ngan mata terbelalak kepada bayi yang dipondong ibunya.

Kam Sian Eng tertawa. Berhadapan dengan orang luar, wanita ini tidak per­nah tertawa, akan tetapi terhadap wanita yang diculik dan dipaksanya merawat anaknya itu ia bersikap seperti saudara. Hal ini tidak mengherankan oleh karena memang hanya Phang Bi Li ibu muda inilah yang menjadi temannya di dalam tempat rahasia di bawah tanah.

“Hi-hik! Enci Bi Li, kau kubawakan seorang keponakan baru, seorang bayi perempuan yang mungil untuk menjadi teman bermain Kiat-ji (Anak Kiat) kelak. Kaulihat, lucu dan mungil, bukan? Nama­nya... hemm, coba kucarikan yang baik... Kwi Lan, ya... Kwi Lan. Kam Kwi Lan. Hi-hi-hik!”

Wanita itu segera menerima anak pe­rempuan tadi dari tangan Sian Eng. Me­mang benar, anak itu mungil dan cantik sekali. Phang Bi Li menahan isak ter­ingat akan anaknya sendiri yang diting­galkan dalam usia dua bulan! Segera Kwi Lan, anak itu merampas hatinya dan dirawatnya penuh cinta kasih seperti anak­nya sendiri. Juga Kam Sian Eng biarpun kadang-kadang kumat gilanya, tak pernah lupa akan segala keperluan Kwi Lan se­hingga karena Bi Li sudah tidak menyusui Kiat-ji lagi, wanita aneh itu lalu merampas lembu betina, dibawa masuk ke dalam istana bawah tanah dan dipelihara untuk diambil air susunya.

Karena tempat persembunyian itu merupakan gudang pusaka-pusaka berupa kitab pelajaran pelbagai ilmu silat yang tinggi dan aneh-aneh, maka kedua anak itu, Kiat-ji dan Kwi Lan, semenjak kecil digembleng oleh Kam Sian Eng. Bahkan Bi Li, wanita dusun yang tadinya hanya seorang wanita muda yang lemah, karena setiap hari berkumpul dengan Sian Eng, mulai pula memperhatikan dan belajar ilmu silat!

Setelah dua orang anak itu mulai besar, berusia sepuluh tahun, Phang Bi Li menyatakan kekhawatirannya. “Sian-kouw­nio, aku tidak peduli kalau kau akan mengeram dirimu selama hidup dalam ge­dung kuburan ini! Juga aku tidak me­mikirkan lagi diriku sendiri yang sudah kaupaksa tinggal bersamamu di sini. Aku anggap diriku sudah mati seperti engkau sendiri mati dari dunia luar. Akan tetapi, engkau harus ingat kepada puteramu! Juga harus ingat kepada Kwi Lan. Dua orang anak itu, anak-anak yang tidak punya dosa, yang tidak tahu apa-apa, mengapa hendak kau kubur hidup-hidup di tempat ini? Mereka berhak menikmati hidup di atas tanah di dunia ramai se­perti semua anak lain di dunia ini !”

“Hik-hik, engkau salah besar, Enci Bi Li! Tempat ini aman tentram, penuh damai dan di sini kita tidak usah meng­khawatirkan apa-apa. Sekali kita muncul di atas tanah dan bertemu dengan orang, akan timbullah keributan dan malapetaka. Bergaul dengan manusia di dunia ramai berarti terjun ke dalam jurang penuh keributan dan penderitaan!” Setelah berkata demikian, tiba-tiba Sian Eng menangis tersedu-sedu dan tidak mau bicara lagi kepada Bi Li!

Akan tetapi, berbulan-bulan lamanya Bi Li tidak pernah bosan untuk membujuk dan membujuk lagi. Apa yang keluar dari mulut wanita ini memang sesungguhnya suara yang keluar dari hatinya. Ia sudah putus asa untuk dirinya sendiri. Ia sudah tidak ingin bertemu dengan keluarganya, karena oleh suami dan keluarganya tentu ia dianggap seorang wanita durjana yang meninggalkan anak yang masih kecil. Selain itu! ia pun, amat mencintai Kwi Lan yang dianggapnya anak sendiri. Ia tidak suka kepada Suma Kiat sungguhpun ketika masih kecil anak itu menyusu dadanya. Anak ini amat nakal.

“Tidak! Aku tidak sudi hidup di atas tanah bergaul dengan dunia ramai yang palsu dan keji!” Sian Eng berkali-kali menjerit marah kalau dibujuk oleh Bi Li.

“Kalau kau tidak mau aku pun tidak memaksa atau menyuruhmu keluar dari kuburan ini Sian-kouwnio”. Aku hanya menuntut untuk dua orang anak itu. Kenapa engkau begini angkuh? Kalau kita mem­buat bangunan sederhana di atas kuburan ini, dan memembiarkan dua orang anak ini hidup di udara bebas, dan engkau sendiri sembunyi di sini, bukankah bagimu sama juga? Kalau kau ingin bertemu dengan kami bertiga tinggal panggil saja dan kami tentu sewaktu-waktu akan turun ke sini. Sian-kouwnio! biarpun engkau tidak pernah bercerita aku tahu bahwa engkau adalah seorang wanita sakti keturunan orang gagah yang berkedudukan tinggi. Aku dapat menduga bahwa dahulu kau telah mengalami tekanan batin dan menderita patah hati. Akan tetapi, mengapa karena itu engkau lalu hendak menghukum puteramu sendiri dan Kwi Lan yang tidak dosa?”

Akhirnya dibujuk oleh Bi Li yang diperkuat oleh kedua anak itu yang selalu rewel minta diperbolehkan melihat keadaan di luar, terpaksa Sian Eng mengalah.

“Akan tetapi aku pesan, tidak boleh kalian meninggalkan hutan di atas Istana ini. Kalau melanggar aku takkan mengampuni nyawa kalian. Biar Kiat Ji sendiri akan kubunuh mampus kalau berani melanggar!” ancamnya dengan suara bengis dan mata bersinar ganas.

Akan tetapi ancaman yang akan membuat orang lain merasa ngeri ini, seperti tidak didengar oleh Phang Bi Li, Suma Kiat dan Kwi Lan. Mereka bertiga sudah menjadi girang sekali. Segera mereka dibantu pula oleh Sian Eng yang masih terus mengomel sepanjang hari keluar dari pintu rahasia dan mulai membangun sebuah pondok sederhana di dalam hutan di atas istana bawah tanah itu.

Cara Kam Sian Eng menggembleng ilmu silat kepada dua orang anak itu amat luar biasa, Mula-mula ia mengajar­kan dasar-daser ilmu silat disamping me­ngajar ilmu membaca. Setelah kedua orang anak itu berusia sepuluh tahun dan pandai membaca, ia menyuruh mereka membaca kitab-kitab pusaka yang berisi ilmu-ilmu silat tinggi, peninggalan Tok­-siauw-kwi. Kitab-kitab ini adalah kitab­-kitab rahasia yang mengandung pelajaran pelik dan gawat, bukan ilmu silat biasa.

Tentu saja kedua orang anak itu, ter­utama sekali Suma Kiat yang otaknya tidak begitu cerdas, amat sukar menyelami isinya. Dan celakanya, ketika me­reka bertanya kepada Sian Eng, mereka mendapat penjelasan yang sebenarnya menyimpang daripada pelajaran sesung­guhnya. Sian Eng sendiri melatih diri dengan ilmu-ilmu silat tinggi secara keliru sehingga ilmu silat tinggi yang di­

ciptakan orang-orang sakti itu berubah menjadi ilmu dahsyat seperti ilmu cipta­an iblis sendiri! Dengan bekal ilmu pe­ngetahuan yang amat kurang ditambah sukar dan tingginya isi kitab-kitab pu­saka, kemudian digembleng oleh seorang yang sudah sesat ilmunya seperti Kam Sian Eng, tentu saja kedua orang anak itupun menjadi pelajar-pelajar ilmu sesat. Namun karena mereka memang berbakat, mereka berhasil memiliki ilmu-ilmu yang amat hebat dan mengerikan.

Diam-diam Kam Sian Eng merasa kagum kepada Kwi Lan. Anak ini amat cerdas, jauh lebih cerdas daripada puteranya sendiri. Kwi Lan mempunyai watak haus akan pelajaran, tidak takut akan kesukaran sehingga diantara kitab-kitiab Pusaka itu, Kwi Lan memilih yang sukar-sukar. Justru sifat kitab-kitab pusaka itu, makin sukar dimengerti, makin sukar dipelajari, makin tinggilah mutunya! Juga Kwi Lan amat tekun berlatih sehingga Suma Kiat yang usianya setahun lebih tua itu tertinggal olehnya.

Semenjak Kwi Lan pandai bicara, menyuruh anak itu menyebut bibi kepadanya. Karena kurang pergaulan dengan anak-anak lain, ketika masih kecil, Kwi Lan tidak dapat membedakan mengapa Suma Kiat yang ia sebut suheng (kakak seperguruan) itu menyebut ibu sedangkan ia sendiri menyebut bibi kepada wanita yang ia anggap sebagai orang paling baik di dunia ini setelah Bibi Bi Li. Memang Phang Bi Li amat kasih kepada Kwi Lan, menganggap anak itu anak kandungnya sendiri. Akan tetapi Sian Eng juga amat baik terhadapnya. Biarpun wataknya ka­dang-kadang aneh, namun terhadap Kwi Lan ia tidak pernah marah-marah.

Ketika Kwi Lan berusia dua belas tahun dan sudah dua tahun lamanya ting­gal di pondok di atas tanah, mulailah Kwi Lan melihat perbedaan-perbedaan. Mulailah ia bertanya-tanya kepada Bi Li tentang perbedaan-perbedaan itu.

“Bibi, kenapa Kiat-suheng menyebut Ibu kepada Bibi Sian?” demikian tanyanya pada suatu sore ketika mereka berdua pergi memetik bunga dalam hutan. Ke­tika itu Suma Kiat turun ke bawah, di­panggil ibunya.

“Kenapa? Ah, Lan Lan, alangkah anehnya pertanyaanmu ini. Tentu saja karena Kiat-li memang anaknya!” Karena tidak kuasa menyelami hati dan pikiran Kwi Lan, maka Bi Li menganggap perta­nyaan itu wajar-wajar tapi bodoh.

Kwi Lan masih tetap memilih dan memetik bunga, membantu Bi Li.

“Kalau aku, kenapa aku harus menyebut Bibi Sian kepadanya?”

Masih tidak sadar akan nada suara aneh dalam pertanyaan ini, Bi Li men­jawab.

“Anak bodoh, tentu saja engkau menyebut Bibi karena engkau bukan anaknya.”

Kwi Lan menggigit bibirnya yang tiba-tiba gemetar. Setelah menekan hati­nya, ia berkata lagi.

“Bibi Bi Li, kau dulu pernah bilang ketika Kiat-suheng bertanya tentang ayahnya bahwa dia boleh bertanya kepa­da Bibi Sian. Bibi Sian marah-marah ketika ditanya dan memaki-maki, bilang bahwa ayah Kiat-suheng sudah mampus. Kemudian Bibi Sian menangis menggerung-gerung. Semenjak itu, Kiat-suheng tidak berani bertanya-tanya lagi tentang ayahnya. Benarkah, Bibi, bahwa Ayah Kiat-suheng telah mati?”

Bi Li mengerutkan keningnya, lalu ber­kata sambil menarik napas panjang, “Bibi Sian-mu itu memang aneh. Aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi kalau dia bilang demikian, agaknya memang benar bahwa ayah Kiat-ji telah meninggai dunia.”

Hening sejenak dan mereka melanjut­kan pekerjaan memetik bunga.

“Bibi Bi Li.... kalau.... Ayah dan Ibu­ku.... siapakah mereka? Di mana mere­ka....?”

Bi Li tersentak kaget bagaikan di­sengat lebah. Cepat ia menoleh dan me­lihat betapa wajah Kwi Lan menjadi pu­cat, sepasang matanya memandang tajam kepadanya, bibirnya yang pucat menggigil dan anak itu hampir menangis! Barulah tahu Bi Li bahwa sejak tadi, terjadi hal-hal yang hebat dalam hati dan pikir­an anak yang amat disayangnya itu. Baru terbuka matanya bahwa anak ini mulai mengerti dan mencari ayah bundanya. Ia menjadi terharu, mengeluh perlahan lalu merangkul Kwi Lan. Tak tertahan lagi air matanya menetes-netes ketika ia mencium pipi Kwi Lan dan menariknya duduk di atas rumput.

“Lan Lan, Anakku sayang.... kau.... kau.... adalah Anakku, Lan Lan.”

Kwi Lan balas pelukan dan ciuman wanita yang semenjak ia kecil telah merawatnya penuh kasih sayang itu. Ke­mudian ia berkata, ada suaranya mende­sak. “Bibi Bi Li, kalau engkau Ibuku, me­ngapa selama ini aku dibohongi? Dan kalau benar aku anak kandungmu, menga­pa aku tidak menyebut Ibu, melainkan Bibi kepadamu? Bibi Bi Li, harap jangan membohongi aku lagi, aku sudah besar dan dapat membedakan kebohongan atau bukan. Bibi, katakanlah, siapakah Ayah Bundaku dan di mana mereka sekarang? Mengapa aku bisa terpisah dari mereka dan berada di sini?”

Tiba-tiba Bi Li menangis sedih. Ter­ingat ia akan keadaannya sendiri. Dia sendiri dipaksa berpisah dari suami­nya dan dari anaknya yang baru berusia dua bulan! Sedangkan Kwi Lan ini dibawa datang oleh Sian Eng sejak masih bayi, agaknya dipaksa berpisah dari ibu kandungnya!

“Aku tidak tahu, Anakku.... aku sendiri sama sekali tidak tahu tentang dirimu sedangkan aku sendiripun dipaksa berpisah dari suami dan anak....”

Kwi Lan tercengang. Ia merangkul wanita itu dan bertanya “Apa yang terjadi, Bibi?”

Setelah mengeringkan air mata dan berkali-kali menghela napas Bi Li lalu bercerita. “Suamiku seorang penebang pohon dan kami hidup bahagia di dalam dusun. Ketika itu, aku baru berusia dua bulan, melahirkan seorang anak laki-­laki. Pagi hari itu, selagi suamiku pergi menebang pohong datang Sian-kouwnio, menangkap dan membawaku pergi me­ninggalkan Anakku dibawa ke sini.... sampai sekarang....”

“Apa....?” Kwi Lan membelalakkan matanya yang jeli. “Mengapa....?”

Bi Li tersenyum pahit. “Untuk mera­wat dan menyusui Kiat-ji.”

“Anak kandungnya sendiri? Mengapa? Mengapa harus engkau yang menyusuinya, Bibi?”

Bi Li menggeleng-geleng kepalanya. “Entahlah. Selamanya Bibimu Sian itu seorang aneh luar biasa. Klat-ji memang anak kandungnya, akan tetapi ia menyu­ruh aku menyusui dan merawatnya. Ahhh, nasibku sama dengan si Belang....“

Kwi Lan makin heran. Si Belang adalah nama lembu betina yang dipelihara di bawah tanah dan sekarang sudah sangat tua.

“Apa maksudmu, Bibi Bi Li?”

Dengan senyum pahit di bibir, Bi Li menjawab, “Aku dipaksa ke sini untuk menyusui Kiat-ji, sedangkan si Belang dipaksa ke sini untuk menyusui engkau, Kwi Lan. Setahun setelah aku berada di sini, si Belang didatangkan oleh Sian­-kouwnio untuk diambil air susunya un­tukmu.”

“Dan.... aku.... dari manakah aku, Bibi....?” Wajah Kwi Lan pucat dan sua­ranya mengandung isak.

“Aku tidak tahu, Anakku. Aku tidak tahu apa-apa.”

Tiba-tiba Kwi Lan menjatuhkan semua kembang yang dipegangnya. Kini wajahnya menjadi merah, matanya mengeluar­kan kilat dan kedua tangannya yang kecil dikepal. Wajahnya yang cantik mungil itu kini nampak beringas mengancam.

“Kalau begitu Bibi Sian jahat sekali! Kau dipaksa berpisah dari suami dan anak, sedangkan aku dipaksa berpisah dari Ayah dan Ibu! Sekarang juga aku akan bertanya kepadanya, Bibi. Dia harus memberi keterangan sejelasnya!”

“Ssttt, anak bodoh, apa yang hendak kau lakukan ini?” Bi Lian memeluknya erat-erat dengan wajah penuh kekhawa­tiran. “Apakah engkau masih belum me­lihat betapa Bibimu Sian itu seorang yang amat luar biasa wataknya? Kau tidak boleh bertanya apa-apa kepadanya, tidak boleh membikin susah atau marah kepa­danya.”

“Mengapa tidak boleh, Bibi?” Kwi Lan bertanya kecewa, akan tetapi mulai membayang pula di hatinya kini rasa takut dan jerih terhadap bibinya yang selalu bersembunyi di bawah tanah itu.

“Kwi Lan, apapun juga yang telah terjadi dengan kita, namun engkau sen­diri tentu telah merasa betapa baiknya sikap Sian-kouwnio terhadap kita. Segala kebutuhan kita dicukupi, bahkan engkau dianggap seperti anak sendiri, dirawat dan dididik tiada bedanya dengan Kiat-­ji, putera kandungnya. Aku pun telah mendapat perlakuan yang amat baik se­hingga harus kuakui bahwa keadaan hi­dupku di sini jauh lebih baik daripada ketika masih tinggal di dusun yang ka­dang-kadang menderita kurang makan. Makan pakaian cukup, aku pun diberi kebebasan, dan bahkan dilatih ilmu silat. Karena kebaikannya yang ia limpahkan kepada kita inilah, maka sekali-kali kita tidak boleh membikin susah hatinya. Aku tahu, dibalik keadaannya yang serba aneh luar biasa itu, tersembunyi penderitaan batin yang amat hebat pada diri Sian-­kouwnio. Ia patut dikasihani. Agaknya ia menculik kita berdua bukan karena jahat, melainkan terpaksa. Ia menculikku karena ia membutuhkan air susuku untuk meme­lihara puteranya. Kemudian ia menculik­mu karena.... agaknya, dia ingin putera­nya mendapatkan teman bermain-main.”

“Tapi ia tidak peduli betapa anak kandungmu sendiri kehilangan Ibu, dan betapa Ayah-bundaku kehilangan anak!” Kwi Lan membantah.

“Benar, akan tetapi memang demikianlah watak sebagian besar manusia. Kepentingan sendiri selalu menutupi ke­pentingan lain orang.” Bi Li menarik napas panjang. “Kita pun tidak boleh membikin marah kepadanya, karena dia seorang aneh luar biasa, kalau sekali ia marah, agaknya ia tidak akan segan-se­gan untuk sekali turun tangan membunuh kita berdua!” Bi Li bergidik ngeri. Akan tetapi Kwi Lan sama sekali tidak merasa takut, bahkan bertanya dengan suara menuntut.

“Bibi, kalau kau melarang aku membikin susah dan membikin marah Bibi Sian, habis apakah aku harus tinggal diam saja dipaksa berpisah dari Ayah Bunda kandungku?” Kini Kwi Lan tidak menangis lagi karena kemarahan meme­nuhi hatinya.

Bi Li memeluknya dan mengelus-elus rambutnya. “Anakku yang baik, sama sekali bukan begitu maksudku. Kau harus bersabar, Anakku. Kau tahu bahwa yang tahu akan rahasia dirimu hanyalah Sian­-kouwnio seorang. Hanya dari dialah eng­kau akan dapat mengetahui siapa Ayah Bundamu. Karena itu, engkau harus ber­sabar. Kalau sekarang kautanyakan hal itu kepadanya dan dia tidak mau menga­ku malah marah, engkau akan bisa ber­buat apakah? Jangan-jangan engkau ma­lah akan dibunuhnya! Lebih baik engkau tekun belajar, memperdalam kepandaian­mu karena kepandaian silat itu merupa­kan bekalmu kelak kalau Sian-kouwnio tidak mau mengaku, untuk kaupakai men­cari sendiri orang tuamu.”

Terbukanya rahasia tentang keadaan dirinya inilah yang membuat Kwi Lan, makin tekun dan giat belajar. Dia seorang gadis yang keras hati, yang tahan menderita. Biarpun setiap saat pertanya­an tentang ayah ibunya sudah berada di ujung lidah, namun ia dapat selalu menekan dan menelannya kembali, tidak mau bertanya akan hal itu kepada Sian Eng yang makin lama menjadi makin ka­gum saja akan keadaan keponakan dan muridnya ini Semua kitab simpanan “dilalap” habis oleh Kwi Lan bahkan kitab-ki­tab yang oleh Sian Eng sendiri kurang di­mengerti. oleh Kwi Lan dihafal di luar kepala! Memang seperti tidak ada guna­nya baginya, karena tidak ada yang me­nerangkan artinya, juga Sian Eng tidak mengerti. namun Kwi Lan menghafalnya di luar kepala dengan keyakinan bahwa kelak tentu ada gunanya. Dalam hal kemajuan ilmu silat, Suma Kiat tertinggal jauh oleh Kwi Lan sehingga kadang-ka­dang Sian Eng merenung seorang diri.

“Tidak aneh! Kwi Lan keturunan se­orang sakti seperti Suling Emas, sedangkan Kiat-ji anak bajingan macam Suma Boan!” Lalu ia menangis seorang diri, menangisi kematian Suma Boan, putera pa­ngeran yang amat dikasihinya, juga amat dibencinya sehingga kedua tangannya sendirilah yang membunuh Suma Boan.

Dua tahun kemudian ketika Kwi Lan telah berusia empat belas tahun pada suatu pagi gadis cilik ini bersama Phang Bi Li mencari kembang seperti dua tahun yang lalu di dalam hutan, tidak jauh dari pondok mereka.

“Bagaimana kalau sekarang aku bertanya kepada Bibi Sian tentang orang tuaku, Bibi Bi Li?”

Bi Li menggeleng kepala. “Belum waktunya, Kwi Lan. Sedikitnya lima ta­hun lagi, kalau engkau sudah betul-betul kuat, baru kau boleh bertanya.”

Selagi Kwi Lan hendak bicara lagi, tiba-tiba Bi Li memandangnya dan me­naruh telunjuk di bibir. “Ssshh, tidakkah kau mendengar sesuatu?”

Kwi Lan mendengarkan penuh perhatian. “Ada orang bertempur....!” Akhirnya ia berkata.

Bi Li mengangguk. “Agaknya tidak jauh dari sini. Mari kita lihat, akan te­tapi kita harus bersembunyi.”

Berlari-larianlah mereka ke arah suara beradunya senjata tajam. Tak lama kemudian sampailah mereka ke tempat bertempur tadi, di pinggir hutan. Mereka bersembunyi di balik pohon-pohon sambil mengintai.

Kiranya yang bertanding itu adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, berpakaian seperti seorang jembel miskin sekali, pakaiannya penuh tambalan dan amat butut, mela­wan pengeroyokan empat orang lain yang pakaiannya juga penuh tambalan. Hanya bedanya, kalau orang pertama yang di­keroyok itu pakaiannya butut dan kotor, adalah pakaian empat orang yang menge­royok ini, biarpun penuh tambalan, amat bersih dan tambalannya juga berkembang­kembang.

Ilmu kepandaian pengemis butut itu lumayan demikian Kwi Lan yang menon­ton berpikir. Senjatanya hanya sebatang tongkat, akan tetapi gerakannya gesit dan tenaganya besar. Betapapun juga, menghadapi pengeroyokan empat orang pengemis bersih ia nampak repot. Empat orang lawannya itu memegang tongkat yang lebih besar dan panjang, dan biar­pun gerakan mereka tidak secepat gerakan Si Pengemis butut, namun ilmu silat mereka lihai dan tenaga mereka tidak kalah besarnya. Selain ini, tempat per­tandingan itu dikurung oleh belasan orang pengemis baju bersih yang bersorak men­jagoi empat orang kawan mereka dan mengejek Si Pengemis baju butut. Agak­nya pertandingan itu sudah berlangsung cukup lama dan tampak betapa pengemis berpakaian butut itu sudah payah. Tubuh­nya penuh luka-luka dan napasnya sudah terengah-engah pucat. Namun masih te­rus melawan penuh semangat.

“Aiihhh....!”

Seruan ini mengagetkan hati Kwi Lan. Ketika ia menoleh ke kiri, ia melihat betapa Bi Li memandang dengan mata, terbelalak dan muka pucat sekali ke arah pertempuran. Kemudian, nyonya itu melon­cat ke depan bagaikan seekor harimau betina, langsung menerjang tempat per­tandingan dan begitu kaki tangannya ber­gerak, empat orang pengeroyok itu ter­lempar ke empat jurusan Phang Bi Li cepat menghadapi pengemis baju butut itu sambil berseru suaranya gugup.

“Kau.... kau.... bukankah engkau Tang Sun....?”

Pengemis baju butut itu terhuyung-­huyung saking lelahnya, mengeluh panjang ketika memandang Bi Li, kemudian ber­kata lemah.

“Bi Li.... ! Kau... Bi Li....? Ah, tidak mungkin....”

Sepasang mata Bi Li sudah bercucur­an air mata. “Aku betul Bi Li isterimu!”

Pengemis itu terbelalak memandang, napasnya serasa terhenti. “Bi Li....? Aduh.... Hauw Lam.... Hauw Lam.... di mana­kah engkau....? Ini Ibumu, Nak....!” Penge­mis bernama Tang Sun itu terguling dan roboh pingsan! Untung Bi Li cepat me­loncat dan menubruknya sehingga ia tidak sampai terbanting, akan tetapi alangkah kaget hati Bi Li ketika melihat dia ternyata telah terluka hebat, bahkan tulang iganya ada yang patah-patah. Kiranya laki-laki yang ternyata adalah suaminya ini tadi melakukan perlawanan mati-matian dan nekat dalam keadaan terluka parah mendekati mati! Cepat ia merebahkan suaminya, memanggil-manggil namanya dan menangis.

Sementara itu, sejenak para pengemis baju bersih yang belasan orang jumlahnya tercengang menyaksikan betapa sekali bergerak, wanita setengah tua itu telah membuat empat orang kawan mereka terlempar dan jatuh terbanting tidak mampu bangkit lagi, hanya mengaduh-aduh karena tulang lengan dan kaki me­reka patah-patah! Kini melihat betapa pengemis baju butut roboh pingsan dan wanita itu berlutut menangis, timbul kegarangan mereka.

“Perempuan liar darimana berani mengganggu kami?” bentak seorang di antara mereka yang bermuka bopeng koban penyakit cacar. “Hayo hajar dia!” perintah Si Muka Bopeng ini dengan sua­ra keras. Enam orang pengemis yang tubuhnya tinggi besar dan agaknya men­jadi jagoan mereka di samping empat orang pengeroyok yang sudah roboh oleh Bi Li, kini menerjang maju dengan senjata mereka yang sama, yaitu tongkat sebesar lengan setinggi orang.

Saat itulah Kwi Lan turun tangan. Sekali ia menggerakkan kakinya, ia telah melompat dan bukan main kagetnya enam orang pengemis tinggi besar melihat bayangan berkelebat seperti seekor burung terhang dan tahu-tahu seorang gadis remaja yang cantik jelita telah berdiri di depan mereka sambil bertolak pinggang! Akan tetapi setelah melihat bahwa yang muncul menghadang hanyalah seorang gadis cilik belum dewasa dan bertangan kosong pula, mereka memandang rendah dan tertawa.

“Ho-ho-ha-ha! Cucuku yang mungil. Minggirlah, Engkongmu (Kakekmu) tidak ada waktu untuk melayanimu.” teriak seorang di antara mereka yang kepalanya gundul.

“Eh, Nona cilik yang manis. Apakah engkau menantang berpacaran? Minggir­lah lebih dulu, tunggu kalau aku selesai membikin mampus anjing betina tua itu, baru aku layani kau, heh-heh-heh!” kata seorang pengemis tinggi bermuka hitam.

Kwi Lan semenjak kecil berwatak riang gembira, jenaka dan pandai bicara. Hal ini diketahui baik oleh Phang Bi Li, apalagi oleh Suma Kiat yang selalu kalah berdebat. Dan hanya di depan Sian Eng saja gadis ini tunduk dan berubah pendiam. Kini menghadapi orang-orang yang menimbulkan kemarahan di hatinya itu, muncul pula sikapnya yang ugal-ugalan, Sambil tersenyum mengejek ia berkata.

“Wah, kalian ini sekumpulan monyet tua tidak tahu malu, berhati palsu, curang dan selayaknya dihajar! Melihat pakaian kalian, jelas bukan orang miskin, akan tetapi sengaja ditembel-tembel biar dianggap pengemis. Ini tandanya kalian bukan pengemis karena keadaan melain­kan orang-orang berjiwa pengemis! Lalu mengandalkan jumlah banyak mengeroyok orang malah menghina wanita, ini tandanya kalian berwatak rendah, hina, dan curang! Paling akhir, pandang mata ka­lian dan ucapan-ucapan tadi menandakan bahwa kalian bersifat kurang ajar, tak tahu sopan santun, maka kalian sudah sepatutnya diberi hajaran biar kapok!”

“Mengapa melayani mulut seorang anak nakal? Tangkap dulu dia, kita bawa pulang!” teriak Si Muka Bopeng yang tertarik melihat kelucuan dan kecantikan Kwi Lan, juga berbareng mendongkol karena enam orang anak buahnya dija­dikan bahan mainan gadis cilik itu.

Serentak enam orang pengemis tinggi besar itu menerjang Kwi Lan. Mereka seperti berlumba, hampir berbareng tangan mereka diulur dan menubruk untuk menangkap Kwi Lan. Karena perintah kepala mereka bukan membunuh melainkan me­nangkap, pula karena mereka sendiri pun tidak ingin membunuh gadis cilik yang cantik ini, maka mereka tidak mengguna­kan tongkat untuk menerjang. Hal ini amatlah menguntungkan, bukan bagi Kwi Lan melainkan bagi enam orang pengemis itu sendiri! Karena sedangkan penyerangan sendiri! Karena sedangkan penyerangan dengan tangan kosong mereka itu saja sudah mendatangkan akibat yang hebat, apalagi kalau mereka menggunakan sen­jata, tak terbayangkan betapa hebat akibatnya.

Penyerangan itu bertubi-tubi datang­nya, saling susul. Akan tetapi, begitu ada tangan menjangkau ke arahnya, Kwi Lan hanya bergerak sedikit, menyambut dengan tangannya sendiri yang kecil dan.... “plaakk!” tangan yang besar ini membalik dan menghantam muka Si Penyerang sendiri. Suara “plakk” disusul “aduhh!” terdengar susul-menyusul dan enam orang itu sudah terhuyung-huyung, ada yang roboh dan mereka semua mengerang kesakitan karena yang paling ringan di antara mereka sudah remuk hidungnya, terkena hantaman tangan sendiri yang secara aneh telah membalik. Lebih hebat adalah Si Muka Hitam, karena tangannya tadi terbuka jari-jarinya hendak men­cengkeram dada Si Gadis Cilik, ketika membalik masih dalam keadaan men­cengkeram dan tak dapat dicegah lagi, mata kirinya tertusuk jari tangannya sehingga biji matanya tercokel keluar! Adapun Si Kepala Gundul, tepat kena hantaman kepalanya oleh tangannya sen­diri sehingga di kepalanya tumbuh tanduk dan ia roboh pingsan, agaknya mengalami gegar otak! Yang lain-lain, sebagian be­sar kehilangan hidung, atau setidaknya yang hidungnya agak mancung menjadi pesek karena ujungnya telah remuk berikut tulang muda batang hidung!

Semua pengemis baju bersih tertegun, apalagi ketika mendengar gadis cilik itu berkata mengejek, “Baru bisa mainkan sedikit ilmu silat Khong-thong-pai yang digerakkan secara ngawur saja kalian sudah sombong! Benar-benar tak tahu malu!”

Si Muka Bopeng cepat melompat maju dengan tongkat melintang. Wajahnya yang bopeng menjadi merah sekali, dan diam­-diam ia pun merasa heran. Tidak dapat disangkal lagi, ilmu silat yang dipelajari anak buahnya memang ilmu silat Kong­-thong-pai, karena dia adalah seorang murid pelarian dari Kong-thong-pai. Akan tetapi, ilmu tongkat dan ilmu silatnya sudah terkenal, sukar dicari bandingnya dan karena itu pula ia dipercaya oleh para pimpinan pengemis baju bersih untuk memimpin pasukan pengemis di daerah itu, mengepalai pasukan pengemis lima puluh orang banyaknya. Sekarang, bocah ini telah mengenal ilmu silat anak buahnya, tidak hanya mengenal, malah mengejek!

“Eh, bocah bermulut lancang den sombong! Kau tahu apa tentang Ilmu silat Kong-thong-pai?”

“Mengapa tidak tahu? Apa kaukira ilmu silat Kong-thong-pai yang paling hebat di muka bumi ini? Huh, ilmu silat Kong-thong-pai tidak banyak ragamnya, tidak menang banyak dengan jumlah bo­peng di mukamu.”

Saking marahnya, Si Muka Bopeng mencak-mencak dan membanting tongkat­nya sampai menancap setengahnya di atas tanah. “Keparat aku murid Kong­-thong-pai yang jagoan, tahu?”

Kwi Lan memang nakal. Ia membu­sungkan dada dan menghampiri tongkat itu. “Membanting tongkat seperti itu apa susahnya? Aku pun bisa. Lihat!” Ia menggunakan tangan kanan menangkap sisa tongkat yang tampak di atas tanah, diam-diam mengerahkan tenaga sakti lalu mengangkat terus membanting.

“Krakk.... cappp!” Tongkat itu ketika ia cabut telah patah di tengah-tengah­nya, tepat di permukaan tanah, kemudian ketika tongkat sepotong itu ia tancapkan, benda itu amblas ke dalam tanah tak tampak lagi!

Si Muka Bopeng melongo, juga anak buahnya berseru kaget. Hal ini membuat Si Muka Bopeng marah sekali. Sambil berseru keras ia menerjang dengan pu­kulan Serbu Masuk Guha Harimau. Pukul­an ini keras sekali dan mengarah dada Kwi Lan. Sebuah serangan keterlaluan bagi seorang laki-laki berusia empat puluh tahun terhadap seorang gadis ber­usia empat belas tahun. Selain serangan maut, juga tidak sopan. Akan tetapi Kwi Lan berseru sambil mengejek.

“Wah, Cim-jip-houw-hiat (Serbu Masuk Guha Harimau) yang buruk sekali!” Ia pun cepat melakukan gerakan yang sama. Akan tetapi jurus yang sama ini ia laku­kan dengan cara yang jauh berlainan, hanya gayanya saja yang sama akan te­tapi dasar dan isinya sudah berbeda jauh. Akan tetapi hebat akibatnya, karena ke­tika kepalan tangan Si Muka Bopeng itu bertemu dengan telapak tangan Kwi Lan, mendadak Si Muka Bopeng itu merasa betapa tangannya membalik tenaganya dan kepala tangannya seakan-akan sudah tak dapat ia kuasai lagi dan menyambar ke arah dadanya sendiri! Persis seperti yang dialami oleh enam orang anak buahnya tadi. Akan tetapi ia cukup lihai dan secepat kilat ia menggunakan tangan kirinya menangkis tangan kanannya sendiri sampai terdengar suara “dukkk!” karena beradunya kedua lengan. Ia meringis kesakitan, wajahnya makin merah. Jelas tadi ia melihat gadis cilik itu bergerak dalam jurus yang sama, akan tetapi mengapa amat berbeda? Memang tidak aneh sebetulnya. Seperti kita ketahui dari cerita SULING EMAS, mendiang Tok-siaw-kwi Liu Lu Sian telah berhasil mencuri banyak sekali kitab-kitab ilmu silat dari pelbagai perguruan silat dan partai-partai besar. Di antaranya, ia telah mencuri pusaka Kong-thong-pai. Kemudian semua kitab pusakanya terja­tuh ke tangan Kam Sian Eng, maka ten­tu saja sebagai muridnya yang amat rajin, Kwi Lan telah mempelajari pula ilmu silat dari kitab Kong-thong-pai ini. Seperti juga dengan ilmu-ilmu silat lain, penjelasan Sian Eng menyeleweng daripada ilmunya yang benar, maka menjadi ber­beda, bahkan ada yang terbalik sama sekali!

Mengapa ilmu yang dipelajari terbalik dan menyeleweng ini malah mengatasi ilmu yang aseli, yang telah dipelajari oleh Si Muka Bopeng? Hal itu pun tidak aneh. Biarpun telah mewarisi ilmu ber­macam-macam yang dipelajari secara menyeleweng, namun Sian Eng telah berhasil memiliki dan mencipta ilmu­-ilmu yang tinggi dan aneh, sehingga menyerupai ilmu ciptaan iblis sendiri. Muridnya Kwi Lan, memperoleh kepandai­annya dari Sian Eng, tentu saja juga mendapatkan pelajaran ilmu menghimpun hawa sakti yang mujijat. Hanya ketika sudah membaca kitab dan belajar sendiri kitab-kitab itu, penafsirannya berbeda dengan penafsiran gurunya sehingga da­lam ilmu-ilmu yang tinggi, terdapat perbedaan aneh di antara Kwi Lan, Suma Kiat, dan Sian Eng sendiri. Akan tetapi karena dasar-dasar pelajaran lwee-kang, khi-kang dan sin-kang diperoleh dari Sian Eng, maka dalam hal ini mereka bertiga memiliki dasar yang sama. Dibandingkan dengan Si Muka Bopeng, Kwi Lan jauh lebih menang tenaga dalamnya maka biarpun jurus yang ia mainkan itu tidak aseli, namun jauh lebih ampuh!

Si Muka Bopeng telah menerjang lagi kini dengan kedua tangan terbuka jari­-jarinya, karena ia bermaksud menangkap gadis cilik ini untuk ditawan dan kelak dipaksa mengaku darimana mempelajari ilmu silat Kong-thong-pai yang berubah aneh itu dan pula, biarpun gadis itu ma­sih terlalu muda setengah kanak-kanak, namun sudah kelihatan cantik manis se­hingga hati Si Muka Bopeng tertarik.

Bagi Kwi Lan, serangan lawan yang kasar ini bukan apa-apa dan sama sekali ia tidak menjadi gentar, malah tertawa mengejek, “Hi-hik, kaugunakan jurus Hek­houw-phok-sai (Macan Hitam Menubruk Tahi)? Busuk dan bau sekali!” Gadis cilik yang nakal ini sengaja merobah nama jurus itu yang sebetulnya adalah Hek­houw-phok-thouw (Macan Hitam Me­nubruk Kelinci).

Si Muka Bopeng mengeluarkan ge­rengan marah sambil menubruk, seperti seekor harimau tulen. Kwi Lan sama sekali tidak mengelak, malah memba­rengi gerakan lawan dengan jurus yang sama akan tetapi diam-diam ia menyalurkan hawa sakti ke arah kedua telapak tangannya dan tercimlah ganda wangi karena gadis cilik ini telah memperguna­kan Ilmu Siang-tok-ciang (Tangan Racun Wangi). Ilmu ini adalah ciptaan Sian Eng sendiri yang mempergunakan sari kembang beracun yang amat wangi dan ke­tika berlatih ilmu ini, kedua telapak tangan digosok-gosok racun kembang ini sehingga hawa beracun yang berbau harum masuk ke dalam kedua telapak tangan. Jika dalam keadaan biasa, kedua telapak tangan tidak berbau harum dan racunnya juga tidak keluar, akan tetapi apabila dipakai untuk bertanding dan dari dalam dikerahkan lwee-kang ke arah kedua tangan, maka hawa yang wangi beracun itu akan keluar dari telapak tangan.

Si Muka Bopeng menjadi girang melihat gadis cilik itu menyambut serang­anya dengan jurus yang sama dan memapaki kedua tangannya yang menubruk. Diam-diam ia mengerahkan tenaganya dan mukanya menyeringai. Gadis cilik sombong ini tentu akan mudah ditawan kalau kedua tangannya dapat ia tangkap. Bau wangi yang menyambar hidungnya tidak membuat Si Muka Bopeng sadar, bahkan makin girang mendapat kenyataan bahwa gadis cilik itu demikian wangi!

“Plak-plak!” Kedua pasang tangan bertemu dan beradu telapak tangan. Si Muka Bopeng mengeluarkan pekik aneh dan tubuhnya terlempar ke belakang, terbanting roboh telentang dan tidak bergerak lagi. Kedua lengannya masih berkembang seperti akan menubruk, akan tetapi lengan itu kaku dan telapak ta­ngannya terdapat warna merah dan ke­biruan, matanya mendelik napasnya pu­tus!

Sisa para pengemis baju bersih men­jadi kaget dan jerih. Wanita setengah tua yang kini menangisi pengemis baju butut tadi sudah hebat, kiranya gadis cilik ini lebih hebat lagi, dalam segebrakan mam­pu menewaskan pimpinan rombongan mereka! Dengan ketakutan, sembilan orang pengemis itu cepat menyeret te­man-teman mereka yang luka dan meng­angkut mayat Si Muka Bopeng, lalu melarikan diri dari tempat itu sambil se­bentar-sebentar menoleh ketakutan melihat ke arah Kwi Lan yang tertawa­tawa sambil bertolak pinggang!

Setelah semua pengemis pergi, Kwi Lan baru sadar akan suara Bi Li yang menangis terisak-isak. Ia cepat mem­balikkan tubuh dan melihat Bi Li ber­lutut di depan pengemis baju butut yang dikeroyok tadi, ia cepat menghampiri. Kini pengemis itu sudah bangkit duduk, bersandar pada batang pohon, napasnya terengah-engah, kedua lengannya meme­luk pundak Bi Li yang berlutut di depan­nya. Melihat keadaan mereka, Kwi Lan menjadi heran bukan main, akan tetapi ia tidak mau bertanya karena merasa jengah. Kenapa Bibi Bi Li mau dipeluk laki-laki jembel itu? Sebagai seorang gadis cilik yang belum pernah menyaksikan orang berpelukan, Ia tidak tahan untuk melihat lebih lama lagi, maka ia lalu membalikkan tubuhnya membelakangi mereka. Akan tetapi ia mendengar suara mereka ketika mereka bicara.

“Suamiku.... mana dia? Mana Hauw Lam anak kita....?” terdengar Bi Li ber­kata menahan isak. Mendengar ini, Kwi Lan makin kaget. Suami? Jembel itu suami Bibi Bi Li? Rasa heran dan kaget membuat ia kembali membalik dan me­mandang pengemis itu lebih teliti. Se­orang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, pakaiannya lapuk dan kotor, pakaian seorang jembel. Akan tetapi mukanya bersih terpelihara, muka yang pucat karena menderita luka parah, namun masih membayangkan ketampanan laki-­laki.

“Bi Li.... isteriku, kenapa engkau me­ninggalkan aku? Kenapa engkau tega pergi meninggalkan kami, suamimu dan anak kita? Apakah kesalahanku kepada­mu sehingga engkau begitu kejam?” Suaranya ini penuh pertanyaan, penuh tuntutan dan tangis Bi Li makin tersedu-sedu. Di antara isak tangis, istri yang malang ini lalu bercerita dengan singkat betapa ia diculik dan dipaksa pergi oleh Kam Sian Eng untuk menyusui dan merawat anaknya yang baru terlahir, men­ceritakan betapa Kam Sian Eng adalah seorang yang berilmu tinggi dan betapa dia tidak berdaya.

“Demikianlah, Suamiku. Kuharap eng­kau suka mengampunkan aku, akan teta­pi.... sungguh aku tidak berdaya.... sampai sekarang pun aku tidak mungkin bisa pergi meninggalkan Sian-kouwnio....”

Laki-laki itu makin pucat jelas ia menahan sakit sambil menggigit bibir. “Ah, engkau terluka hebat.... mari kubawa ke pondok kami, biar kuminta Kouw­nio memberi obat kepadamu....“

“Tidak perlu lagi!” Laki-laki itu yang bernama Tang Sun, suami dari Phang Bi Li, mencegah sambil mengangkat tangan, kemudian karena tidak tahan bersandar dan duduk, ia lalu merebahkan diri lagi, dibantu isterinya. “Lukaku amat parah, kurasa ada perdarahan di dalam dada­ku, sakit sekali.... ougghh.... tak mungkin dapat diobati. Akan tetapi, terima kasih kepada Thian.... mati pun aku tidak pena­saran, sudah dapat bertemu denganmu.... tapi sayang.... Hauw Lam.... di mana engkau, Anakku....?”

Mendengar disebutnya nama anaknya, Bi Li lupa akan penderitaan suaminya yang sudah menghadapi maut. Sambil memegang lengan suaminya ia berseru keras, “Dimana Hauw Lam? Dimana dia?”

Suara Tang Sun makin lemah, bahkan agak menggigil dan pelo, akan tetapi lancar dan tidak terputus-putus lagi. Pe­rubahan ini tidak diketahui Bi Li yang amat ingin mendengar cerita tentang puteranya.

“Sepeninggalmu, kubawa dia pergi mencarimu dan hidup menderita. Ketika dia berusia lima tahun. kuserahkan dia kepada ketua kelenteng di puncak Gu­nung Kim-liong-san yang kutahu seorang berilmu tinggi. Aku sendiri lalu melanjut­kan perjalanan mencarimu, Bi Li, me­nempuh seribu satu macam kesukaran!”

Cerita ini terputus sebentar oleh tangis Bi Li penuh keharuan sambil me­meluk leher suaminya. Kwi Lan yang berdiri tak jauh dari situ, merasa betapa jantungnya seperti disayat-sayat saking terharu, namun ia dapat menekannya dan tidak sebutirpun air mata menetes turun. Di dalam hatinya, ia makin menyesalkan perbuatan Kam Sian Eng yang telah me­misahkan suami isteri ini dan menimbulkan kesengsaraan dalam kehidupan dua orang, bahkan mungkin tiga orang dengan anak mereka yang agaknya tidak dike­tahui pula di mana adanya.

“Akan tetapi sekarang aku tidak me­nyalahkan engkau, isteriku, setelah aku tahu betapa engkau pun menderita dan tidak berdaya. Aku lalu hidup sebagai pengemis dan akhirnya aku tertarik akan sepak terjang Khong-sim Kai-pang yang adil dan gagah, maka aku masuk menjadi anggauta Khong-sim Kai-pang. Khong­-sim Kai-pang termasuk perkumpulan pe­ngemis golongan bersih yang ditandai de­ngan pakaian kotor, dan pada waktu ini golongan bersih sedang berusaha mem­basmi pengemis-pengemis golongan kotor yang ditandai dengan pakaian bersih. Se­telah menjadi anggauta Khong-sim Kai­pang, banyak teman-temanku membantu­ku mencarimu. Dan beberapa hari yang lalu, seorang temanku melihat engkau di depan pondok. Karena dia tidak menge­nalmu akan tetapi merasa heran melihat seorang wanita dan dua orang anak tang­gung tinggal bersunyi diri didalam hutan, ia lalu menceritakannya kepadaku. Nah, hari ini aku datang ke sini menyelidik, siapa kira, di sini aku bertemu dengan belasan orang pengemis golongan hitam yang mengeroyokku....”

“Dan Hauw Lam, Anakku.... dia bagai­mana.... ?” Bi Li mendesak, tidak sadar bahwa kini wajah suaminya yang pucat itu sudah mulai agak kebiruan.

“Dia.... dia....“ Kini napas Tang Sun mulai tersendat-sendat, “Dia, kini tentu sudah dewasa.... hampir lima belas tahun.... akan tetapi ketika aku datang menjenguk ke sana.... hwesio tua itu telah meninggal dunia dan.... dan Hauw Lam.... dia....” Sukar sekali ia melanjutkan kata-katanya.

Barulah Bi Li sadar akan keadaan suaminya. Ia menjerit dan memeluk, melihat suaminya meramkan matanya, ia menciuminya dan memanggil-manggil namanya, kini tidak peduli lagi akan anaknya. Kwi Lan yang berdiri termangu-­mangu cepat menggunakan punggung tangan kirinya menghapus dua butir air mata yang tak tertahankan lagi menetes turun ke atas pipinya.

Tang Sun membuka matanya, lalu ter­senyum dan membelai rambut isterinya. Wajahnya membayangkan kepuasan, akan tetapi kembali keningnya berkerut ketika ia berkata, “....Hauw Lam.... dia.... pergi dari sana.... tak seorang pun tahu ke mana. Isteriku, kau.... kaucarilah dia....” Tangan yang membelai rambut itu lemas dan terkulai.

Bi Li menjerit dan roboh pingsan sambil memeluk mayat Tang Sun yang masih hangat!

“Bibi Bi Li....! Bibi Bi Li....!” Kwi Lan memanggil-manggil sambil mengguncang-­guncang tubuh Bi Li. Wanita itu akhirnya siuman dan dengan muka merah mata berapi-api ia meloncat bangun, membalikkan tubuhnya dan mencabut pedang yang tergantung di pinggang. Bi Li memang memiliki kepandaian yang khusus ia pelajari dari Sian Eng, yaitu bermain pe­dang, bahkan ia menerima hadiah se­batang pedang indah dari Sian Eng. Kini dengan pedang di tangan, matanya ter­belalak memandang kanan kiri, mulutnya menantang-nantang.

“Pengemis-pengemis busuk, jembel-jembel terkutuk! Hayo majulah semua, akan kubunuh kalian sampai habis!”

Kwi Lan maklum bahwa bibinya ini amat marah dan sakit hati karena ke­matian suaminya. Suami yang terpisah darinya, selama belasan tahun, dan yang kini begitu berjumpa terus meninggal dunia!

“Perempuan setan, berani kau mem­bunuh saudara kami?” Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan muncullah tiga orang kakek berpakaian pengemis. Me­reka adalah tiga orang kakek tinggi ku­rus yang memegang tongkat butut, se­butut pakaian mereka.

Begitu melihat tiga orang kakek pengemis ini, sambil berseru marah Bi Li maju menerjang dengan pedangnya. Gerakannya secepat kilat, pedangnya berkelebat seperti halilintar menyambar.

“Tranggg....!” Pedang itu terpental dan hampir terlepas dari pegangan Bi Li ketika tertangkis sebatang tongkat butut yang dipegang oleh kakek pengemis yang bertahi lalat besar di bawah hidungnya.

Bi Li makin marah. Kakek pengemis ini kiranya lihai sekali, tidak boleh di­samakan dengan para pengemis yang tadi mengeroyok suaminya. Maka ia lalu mengeluarkan seruan keras sambil memutar pedangnya dan mengerahkan tenaga, me­nerjang dengan cepat sekali. Menghadapi serangan yang begitu dahsyat, kakek pengemis itu terkejut dan cepat memutar tongkat melindungi tubuhnya. Kemudian terjadilah pertandingan hebat di antara Bi Li dan kakek pengemis.

Dua orang kakek pengemis lain segera melangkah maju mendekati mayat Tang Sun. Melihat ini, Kwi Lan menjadi curiga dan membentak, “Jembel-jembel busuk, mundurlah kalian!” Gadis cilik ini menerjang maju dengan pukulan kedua tangan­nya yang mendorong.

Karena melihat bahwa yang mener­jang mereka hanyalah seorang gadis cilik berusia empat belas tahun, dua orang kakek jembel itu tersenyum tenang, bah­kan mengulur tangan untuk menangkap pundak Kwi Lan. Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika tangan mereka bertemu dengan tangan Kwi Lan, tubuh mereka terdorong mundur dan hampir saja mereka terbanting roboh! Baiknya keduanya adalah tokoh-tokoh lihai, cepat dapat menekan tanah dengan ujung tong­kat sehingga dapat menguasai keseimbangan tubuh lagi. Sejenak mereka saling pandang dengan muka merah, lalu me­natap wajah Kwi Lan dengan sikap ter­heran-heran. Namun mereka merasa pe­nasaran. Mungkinkah bocah perempuan ini memiliki tenaga yang sedemikian dahsyatnya? Karena merasa malu untuk menghadapi seorang anak-anak dengan senjata tongkat mereka, keduanya lalu menyelip­kan tongkat di ikat pinggang lalu me­langkah maju mengulur tangan.

“Bocah setan, mau lari kemana kau?”

Melihat dirinya diserang dengan jangkauan tangan hendak menangkap, Kwi Lan tertawa mengejek, “Lari ke mana? Untuk apa lari menghadapi dua ekor babi tua macam kalian?” Dan dengan gerakan yang indah namun gesit bukan main, Kwi Lan sudah dapat mengelak, lolos dari tu­brukan mereka, kemudian cepat ia mem­balik dan mengirim pukulan ke arah punggung mereka!

“Wuuuttt!” Dua orang pengemis tua itu berseru kaget dan cepat melompat jauh ke depan sehingga terhindar dari­pada pukulan maut tadi. Wajah mereka menjadi pucat dan keringat dingin me­menuhi jidat. Sebagai orang-orang yang ahli, mereka cukup maklum betapa pu­kulan kedua tangan bocah ini tadi me­ngandung tenaga Iweekang yang hebat dan dapat mematikan! Berubahlah pan­dangan mereka. Kiranya bocah ini gerakannya jauh lebih hebat daripada wanita yang bertanding melawan saudara me­reka. Tanpa malu-malu lagi keduanya lalu mencabut tongkat.

“Hi-hik, kalian mau lari ke mana?” Kwi Lan mengejek. Akan tetapi cepat gadis cilik ini menggerakkan kaki untuk berkelit karena melihat dua sinar tongkat sudah meluncur dengan hebat. Selanjut­nya, Kwi Lan harus mempergunakan ke­lincahannya untuk menghindarkan diri daripada kurungan sinar kedua tongkat itu.

Diam-diam anak ini kaget juga. Ki­ranya dua orang pengeroyoknya ini benar-benar amat tangguh sehingga te­kanan kedua tongkat itu mengurung dirinya, membuat ia tidak mampu balas me­nyerang. Dia tidak tahu bahwa dua orang kakek itu jauh lebih kaget dan heran daripadanya. Selama mereka hidup, sudah hampir enam puluh tahun, baru kali ini mereka menghadapi peristiwa yang begini aneh dan memalukan. Mereka terkenal sebagai ahli-ahli silat kelas tinggi, hanya orang-orang pilihan saja di dunia kang-­ouw yang setanding dengan mereka. Akan tetapi kini, dengan maju berdua dan me­megang tongkat pula, mereka tidak mampu mengalahkan seorang gadis cilik yang bertangan kosong! Sebetulnya ting­kat ilmu silat anak itu belumlah matang dan tidaklah seberapa tinggi, akan tetapi gerakannya amat aneh luar biasa sekali dan sukar diduga karena jauh berbeda de­ngan dasar-dasar ilmu silat yang lazim!

Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring sekali, datangnya dari jauh akan tetapi amat jelas seakan-akan yang berkata berada di belakang mereka, “Enci Bi Li! Kwi Lan! Mundur....!”

Tentu saja Bi Li dan Kwi Lan me­ngenal baik suara ini dan mereka cepat meloncat mundur tanpa menoleh. Tiga orang pengemis yang tidak mendengar seruan tadi, mendesak maju. Akan tetapi tiba-tiba tampak bayangan putih berke­lebat dan.... tiga orang kakek itu berhenti bergerak dan telah menjadi kaku seolah-olah mereka berubah menjadi arca batu! Tanpa dapat mereka lihat, jalan darah mereka telah ditotok oleh ujung lengan baju Sian Eng yang kini sudah berdiri di depan mereka dengan sikap bengis!

Pada saat itu, terdengar bunyi angin menyambar. Belasan buah senjata rahasia berbentuk piauw (pisau) dan besi bintang menyambar ke arah Bi Li, Kwi Lan, Sian Eng, dan juga ke arah tiga orang penge­mis yang berdiri kaku. Bi Li dan Kwi Lan melihat datangnya senjata rahasia yang membawa angin ini, maklum bahwa senjata itu digerakkan oleh tangan yang lihai, maka tidak berani menyambut dan cepat mengelak. Akan tetapi Sian Eng lalu mengebutkan kedua tangannya ke depan dan.... belasan batang senjata raha­sia yang menyambar ke arahnya dan ke arah tiga orang pengemis tua runtuh ter­pukul oleh hawa pukulan kedua tangannya!

Dari balik pohon meloncat keluar lima orang kakek pengemis pula, akan tetapi mereka ini berbeda dengan yang tiga tadi. Kalau tiga orang kakek per­tama berpakaian butut kotor, adalah lima orang ini berpakaian bersih, sungguhpun bertambal-tambalan seperti halnya para pengemis yang mengeroyok Tang Sun.

“Wanita iblis, berani kau....” Hanya sampai sekian saja bentakan seorang di antara mereka karena tiba-tiba tubuh Sian Eng lenyap berkelebat ke depan dan lima orang itu menggerakkan kaki tangan hendak melawan bayangan yang tiba-tiba menyambar, namun sia-sia belaka karena tahu-tahu mereka ini pun sudah berdiri kaku seperti patung, persis se­perti keadaan tiga orang kakek baju butut!

Melihat munculnya lima orang penge­mis baju bersih ini, baru Bi Li sadar akan perbedaan antara lima orang penge­mis ini dan tiga orang pengemis yang tadi datang lebih dulu. Pakaian mereka! Pakaian lima orang pengemis yang da­tang belakangan ini serupa dengan pakaian para pengemis yang mengeroyok­nya, yang membunuh suaminya. Adapun pakaian tiga orang pengemis yang mengeroyoknya, sama butut dengan pakaian suaminya. Teringatlah ia akan cerita suaminya tentang golongan putih yang berpakaian butut dan golongan hitam yang berpakaian bersih. Kini melihat Kam Sian Eng memandang kepada tiga orang pengemis baju butut dengan mata beringas, ia cepat meloncat maju dan berkata.

“Sian-kouwnio....! Jangan.... jangan bunuh mereka ini....“

Kam Sian Eng tanpa menoleh ber­tanya, suaranya dingin dan ketus, “Apa yang terjadi di sini?”

Bi Li yang teringat kembali kepada suaminya, tidak menjawab melainkan ber­lutut lagi di depan mayat suaminya sam­bil menangis. Kwi Lan maklum bahwa bibinya dan juga gurunya itu sedang marah, maka ia cepat maju mewakili Bi Li dan bercerita singkat.

“Bibi Bi Li dan aku sedang memetik bunga ketika kami mendengar suara orang bertempur di sini. Ternyata yang bertempur adalah.... suami Bibi Bi Li dikeroyok pengemis-pengemis baju bersih sampai terluka dan tewas. Bibi Bi Li dan aku berhasil mengusir dan membunuh beberapa orang pengemis baju bersih, dan sebelum mati suami Bibi Bi Li sempat bercerita bahwa dia adalah anggauta pe­ngemis baju butut. Kemudian muncul tiga orang kakek pengemis baju butut ini yang lancang menyerang Bibi Bi Li dan aku. Agaknya mereka bertiga ini masih segolongan dengan suami Bibi Bi Li. Dan lima orang kakek yang datang belakangan ini agaknya hendak membalaskan kematian anak buah mereka.”

Sian Eng mendengar ini, melirik ke arah Bi Li dengan wajah yang tertutup tirai sutera itu sedikit pun tidak ber­ubah, tetap dingin dan keras. Tiba-tiba tangannya bergerak ke punggung, sinar terang berkelebatan disusul jerit-jerit ke­sakitan dan.... delapan orang pengemis yang masih berdiri kaku itu kini telah buntung semua tangan kanannya! Entah kapan Sian Eng menggunakan pedang, entah kapan mencabutnya, dan menya­rungkannya kembali, tak dapat diikuti pandang mata para pengemis itu sehingga biarpun mereka menanggung luka hebat dan nyeri, mereka masih terbelalak kaget dan gentar. Tiga orang pengemis tua baju butut itu adalah tokoh-tokoh Khong-­sim Kai-pang sedangkan lima orang pe­ngemis baju bersih itu adalah tokoh-tokoh terkemuka pula dari perkumpulan golongan hitam. Di dalam dunia kang-ouw, terutama dunia para pengemis kang-ouw, mereka delapan orang ini merupa­kan orang-orang terkenal dengan ilmu silat mereka yang tinggi. Akan tetapi kini, dalam tangan wanita berkerudung yang cantik dan aneh itu, mereka sama sekali tidak berdaya, dipermainkan se­perti tikus-tikus dipermainkan kucing!

“Ohh, Kouwnio, jangan....!” Bi Li yang mendengar jerit mereka dan mengangkat muka, segera meloncat bangun. “Tiga orang Lo-kai ini adalah orang-orang segolongan mendiang suami saya....“

Sian Eng mendenguskan suara dari hidung. “Hemmm....!”

Kwi Lan segera berkata, “Bibi Bi Li, tiga orang jembel tua ini biarpun se­golongan dengan suamimu, namun mereka datang-datang menyerang kita. Pasti bukan orang baik-baik! Sudah sepatutnya Bibi Sian memberi hukuman.”

Kakek pengemis baju butut yang ber­tahi lalat di bawah hidungnya, terdengar menarik napas panjang. Delapan orang ini biarpun tertotok tak mampu bergerak, akan tetapi yang kaku hanyalah kaki tangan, sedangkan anggauta tubuh yang lain tidak, sehingga mereka masih mam­pu bicara.

“Kami tiga orang tua bangka memang telah berlaku ceroboh, tidak mengenal orang dan tidak dapat membedakan mana kawan mana lawan. Kehilangan tangan ini sudah sepantasnya....!”

“Kouwnio, harap sudi mengampuni mereka. Tentu tadi mereka menyangka bahwa sayalah yang membunuh saudara mereka ini, padahal dia.... dia ini...., Tang Sun, suamiku....“

“Hemmm....! Kwi Lan bebaskan me­reka!” Sian Eng menggerakkan kepalanya ke arah tiga orang pengemis baju butut. Sebagai seorang murid yang amat tekun dan amat cerdik, tentu saja Kwi Lan sudah pula membaca dan mempelajari isi kitab Im-yang-tiam-hoat, sebuah kitab pusaka dari Siauw-lim-pai yang dahulu dicuri oleh Tok-siauw-kwi dan terjatuh ke tangan Sian Eng. Dan tentu saja ia dapat pula membebaskan pengaruh totok­an ilmu menotok jalan darah ini. Diham­pirinya tiga orang kakek itu dan dengan sebuah jari telunjuk kanan, ditotoknya punggung belakang pusar mereka sambil tangan kirinya tidak lupa menampar belakang kepala. Sebetulnya tamparan be­lakang kepala ini tidak ada hubungannya dengan pembebasan totokan, anak tetapi dasar anak nakal, ia hendak melampias­kan kemendongkolan hatinya kepada tiga orang kakek pengemis itu dalam kesem­patan ini!

Kembali tiga orang kakek ini terkejut sekali. Mereka adalah ahli-ahli silat ting­kat tinggi dan tahu banyak tentang seluk-beluk Ilmu Tiam-hiat-hoat (Menotok Jalan Darah). Akan tetapi selama hidup mereka, baru sekali ini mereka tahu ada ilmu menotok jalan darah yang pembebas­annya diharuskan menempiling kepala segala! Makin gentarlah mereka terhadap Sian Eng, dan cepat-cepat mereka meng­gunakan tangan kiri untuk menotok lengan kanan, menghentikan jalan darah agar darah yang mengalir keluar dari pergelangan tangan yang buntung itu berhenti. Kemudian, sejenak mereka me­mandang kepada Sian Eng, dan pengemis tua bertahi lalat segera menjura, diturut dua orang temannya dan bertanya,

“Kami bertiga dari Khong-sim Kai­-pang telah menerima petunjuk Kouwnio (Nona), semoga lain kali kami akan dapat membalas kebaikan ini. Sudilah Kouwnio memberitahukan nama yang mulia dan tempat tinggal.”

Sian Eng tersenyum, senyum yang dingin dan mendirikan bulu roma. Suara­nya halus merdu akan tetapi juga me­ngandung hawa dingin yang menyeramkan ketika ia berkata, “Aku Kam Sian Eng dan tinggal di hutan ini. Kalau belum puas, boleh suruh ketua Khong-sim Kai­-pang datang! Pergilah!”

Tiga orang pengemis tua itu menjura lalu menghampiri mayat Tang Sun, akan diambilnya. Bi Li maju hendak mencegah akan tetapi Sian Eng menghardiknya, “Enci Bi Li, mundur kau!” Bi Li terkejut sekali dan segera meloncat mundur, wa­jahnya pucat dan air matanya bercucuran ketika ia melihat mayat suaminya dibawa pergi oleh tiga orang kakek pengemis itu. Tiga orang ini memandang sebentar kepada Bi Li dengan pandang mata ka­sihan, lalu menghela napas dan pergi dari tempat itu dengan langkah lebar sambil membawa mayat Tang Sun.

Lima orang pengemis tua baju bersih itu tadinya terkejut dan khawatir sekali mendengar bahwa anggauta Khong-sim Kai-pang yang terbunuh adalah suami wanita yang tak tertutup mukanya. Akan tetapi, melihat sikap Bi Li dan mende­ngar bentakan wanita yang berkerudung dan mengaku bernama Kam Sian Eng itu, mereka menjadi lega hati. Jelas bahwa biarpun wanita yang ke dua itu mem­punyai suami anggauta Khong-sim Kai­-pang, namun si wanita aneh yang sakti itu sama sekali tidak bersahabat dengan Khong-sim Kai-pang. Biarpun tubuh mereka masih kaku dan tak mampu ber­gerak, namun pengemis yang tertua di antara mereka, yang hidungnya bengkok seperti hidung kukuk beluk berkata me­rendah,

“Mohon maaf sebanyaknya kepada Cianpwe yang mulia. Karena tidak tahu dan belum mengenal, boanpwe berlima berani mati lancang memasuki wilayah Cianpwe. Hendaknya Ciancwe memaklumi bahwa boanpwe berlima adalah pimpinan perkumpulan pengemis Hek-peng Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Garuda Hitam) yang masih berada di bawah lindungan yang mulia Bu-tek Siu-lam! Maka boanpwe berlima mengharap sudilah kira­nya Cianpwe melihat muka Ciangbujin (Pemimpin Besar) Bu-tek Siu-lam untuk mengampuni dan membebaskan boanpwe berlima!”

Sian Eng mengerutkan keningnya. Diam-diam ia merasa geli mendengar betapa lima orang kakek itu menyebut­nya cianpwe, sebutan bagi tokoh-tokoh tinggi dunia persilatan dan menyebut diri boanpwe, sikap yang amat merendahkan sekali. Akan tetapi ia heran mendengar nama Bu-tek Siu-lam (Laki-laki Tampan Tanpa Tanding). Siapakah itu? Sudah terlalu lama ia mengasingkan diri sehing­ga tidak melihat perubahan di dalam dunia kang-ouw, tidak mengenal tokoh-tokoh barunya.

Siapakah dia yang berjuluk Bu-tek Siu-lam itu?” tanyanya tanpa disengaja karena pertanyaan dalam hati ini ter­lontar keluar melalui bibirnya.

Lima orang pengemis tua baju bersih itu saling pandang dengan heran dan juga kecewa. Benarkah ada orang di dunia kang-ouw ini yang belum mengenal nama Bu-tek Siu-lam? Dan wanita aneh ini demikian sakti! Tapi mungkin belum me­masuki dunia kang-ouw. Karena ini, Si Hidung Bengkok segera berkata, sengaja mengangkat-angkat nama besar Bu-tek Siu-lam untuk menimbulkan kesan men­dalam.

“Beliau adalah tokoh tertinggi di dunia kang-ouw yang datang dari dunia barat. Semua perkumpulan pengemis baju bersih berada dibawah perlindungan beliau, dan boanpwe yakin bahwa kelak beliaulah yang akan menjadi pemimpin besar se­mua kai-pang! Juga dalam pemilihan tokoh-tokoh terbesar untuk memilih jago­an yang Thian-he-te-it (di Seluruh Dunia Nomor Satu) yang akan diadakan di pun­cak Cheng-liong-san pada malam tahun baru nanti, sudah dapat dipastikan bahwa Ciangbujin Bu-tek Siu-lam yang akan keluar sebagai juara, jagoan di antara segala datuk! Tapi.... eh, kecuali........ ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Kho Ping Hoo - BKS#01 - Bu Kek Siansu
Kho Ping Hoo - BKS#02 - Suling Mas
Kho Ping Hoo - BKS#03 - Cinta Bernoda Darah
Kho Ping Hoo - BKS#04 - Mutiara Hitam
Kho Ping Hoo - BKS#05 - Istana Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#06 - Pendekar Bongkok
Kho Ping Hoo - BKS#07 - Pendekar Super Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#08 - Sepasang Pedang Iblis
Kho Ping Hoo - BKS#09 - Kisah Sepasang Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#10 - Jodoh Rajawali
Kho Ping Hoo - BKS#11 - Suling Emas Dan Naga Siluman
Kho Ping Hoo - BKS#12 - Kisah Para Pendekar Pulau Es
Kho Ping Hoo - BKS#13 - Suling Naga
Kho Ping Hoo - BKS#14 - Kisah Si Bangau Putih
Kho Ping Hoo - BKS#15 - Si Bangau Merah
Kho Ping Hoo - BKS#16 - Si Tangan Sakti
Kho Ping Hoo - BKS#17 - Pusaka Pulau Es


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 107.22.127.78
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia